Anda di halaman 1dari 14

Filsafat Komunikasi Berdasarkan ilai Filosofis Etnis Minangkabau

Oleh Emeraldy Chatra 2011


I. Pendahuluan Orang Minangkabau yang memahami ajaran adatnya akan memandang bahasa dan budi itu berada pada derajat yang sama. Dalam mamangan (ungkapan-ungkapan berisi kearifan) adat Minangkabau dikatakan bahwa yang baik adalah budi, yang indah adalah bahasa atau ucapan (nan kuriak iyolah kundi, nan merah iyolah sago/ nan baiak iyolah budi, nan endah iyolah baso). Melalui tutur kata yang disampaikan seseorang kepada orang lain dapat dilakukan penilaian terhadap budi mereka. Budi tidak hanya berkaitan dengan etika, tapi juga dengan akal pikiran atau kecerdasan dan kesadaran sebagai manusia dan bagian dari sebuah komunitas. Norma tentang cara berbicara dan penilaian-penilaian kultural terhadap praktik penggunaan bahasa dapat menjadi titik berangkat untuk memahami lebih jauh bagaimana etnis Minangkabau membangun konsep filosofis tentang komunikasi. Konsep tersebut menjadi bagian dari filsafat hidup atau alam pemikiran orang Minangkabau terhadap hubungan antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Dengan komunikasi maka konstruksi alam pemikiran tersebut diwariskan dari satu generasi ke generasi lain, agar konseptualiasi hubungan tadi tidak mengalami kehancuran. Orang Minangkabau akan kehilangan esensi kulturalnya apabila mereka sudah melepaskan diri dari keterikatan yang kental dengan alam, karena dalam prinsip hidup mereka alam itu adalah guru (alam takambang jadi guru, alam terkembang jadi guru). Bagi orang Minangkabau, komunikasi itu suatu kegiatan yang sangat kompleks. Paling tidak komunikasi berkaitan dengan delapan aspek, sebagaimana akan diuraikan dalam makalah ini. Komunikasi juga disangkutkan dengan kegiatan rohaniah yang disebut raso jo pariso (rasa dan periksa), yang menjadi sumber dari tahu di nan ampek (memahami empat perkara), yaitu tahu di diri (kenal pada diri sendiri), tahu di urang (memahami orang lain), tahu di alam (memahami alam), tahu di Tuhan (menyadari adanya Tuhan)1. Dalam makalah ini penulis berusaha menjelaskan filsafat komunikasi etnis Minangkabau berdasarkan ontologi, epistemologi dan aksiologinya. Namun sebelum itu penulis akan lebih dulu memberikan kasar tentang eksistensi etnis Minangkabau dari aspek sejarah dan kebudayaannya, agar lebih mudah memahami filsafat komunikasi mereka. II. Deskripsi Singkat Etnis Minangkabau Menurut legenda yang disampaikan secara turun temurun, etnis Minangkabau adalah keturunan Iskandar Zulkarnain (Alexander The Great). Iskandar mempunyai tiga orang putra yaitu Depang, Alif dan Diraja. Ketiganya mengarungi lautan. Ketika kapal

Lihat Ilyas, A. (2010), an Empat, Dialektika, Logika, Sistematika Alam Terkembang, tanpa kota, Lembaga Kekerabatan Datuk Soda

kandas, Diraja mendaulat dirinya menjadi raja di Minangkabau dengan gelar Maharaja Diraja. Saudaranya Alif pergi ke negeri matahari terbenam, mendaulat dirinya jadi Raja Turki. Sedang Depang pergi ke negeri matahari terbit, mendaulat dirinya jadi Raja Jepang (Peters-Golden, 2006: 153, Kahn, 1980: 8)2. Etnis Minangkabau adalah kelompok dominan penduduk Provinsi Sumatera Barat. Oleh sebab itu provinsi tersebut juga disebut sebagai Ranah Minang, yang artinya tanahnya orang Minangkabau. Saat ini diperkirakan jumlah orang Minangkabau yang tinggal di Sumatera Barat lebih kurang 4 juta jiwa, hampir 700 ribu diantaranya tinggal di Padang, ibu kota Provinsi Sumatera Barat. Kira-kira sebanyak itu pula yang berada di perantauan atau di berbagai daerah di luar Sumatera Barat. Sebagai etnis yang sangat gemar merantau, orang Minangkabau bertebaran sampai ke Amerika Serikat dan Eropa. Orang Minangkabau sangat dikenal di Indonesia karena keterlibatan sejumlah tokoh terpelajarnya dalam merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah (Belanda dan Jepang), seperti Proklamator Kemerdekaaan dan Wakil Presiden RI pertama Muhammad Hatta, Perdana Mentri Sutan Sjahrir dan Muhammad Natsir, tokoh komunis Tan Malaka, tokoh pers Djamaludin Adinegoro, tokoh agama Buya Hamka, ahli hukum Muhammad Yamin, tokoh perfilman Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik, tokoh perempuan Rangkayo Rasuna Said, dan lain-lain. Nama-nama mereka terpatri di jalanjalan raya di berbagai kota di Indonesia. Secara kultural, etnis Minangkabau sangat unik dibandingkan etnis lain di Indonesia karena menganut sistem matrilineal, yaitu pola pewarisan harta pusaka (tinggi) mengikuti garis ibu. Sekalipun orang Minangkabau mengatakan bahwa satu-satunya agama yang mereka anut adalah Islam, mereka tidak serta-merta meninggalkan sistem matrilineal yang merupakan warisan tradisi pra-Islam. Untuk pewarisan pusaka rendah (harta pencarian) orang Minangkabau mengadopsi sistem hukum Islam (hukum faraidh), tapi untuk pewarisan harta pusaka tinggi (kekayaan kolektif warisan nenek moyang), digunakan hukum adat yang bersandar kepada garis keturunan ibu (Agustar, 2008) Orang Minangkabau hidup berkelompok-kelompok yang dapat dibedakan atas tiga sistem adat (kelarasan), yaitu Koto Piliang, Bodi Caniago, dan Lareh Nan Panjang. Dalam banyak hal ketiga kelarasan ini mempunyai kemiripan, namun mempunyai perbedaan dalam prinsip-prinsip kepemimpinan. Kelarasan Koto Piliang menganut azas menitik dari langit yang berarti jabatan penghulu kaum (kepala kelompok terkecil dari kelarasan) diwariskan oleh penghulu sebelumnya kepada kemenakan, anak saudara perempuan, yang ia tunjuk. Sistem ini sering disandingkan dengan sistem otokratikfeodalistik. Sedang Kelarasan Bodi Caniago menganut azas menyembur dari bumi (mambusek dari bumi) yang berarti penghulu dipilih oleh anggota kaum melalui musyawarah. Oleh sebab itu, tradisi Bodi Caniago sering disandingkan dengan demokrasi modern. Kelarasan terakhir, Lareh Nan Panjang tidak menganut azas sendiri. Sebagai kelompok minoritas, cara-cara penggantian penghulu di kelarasan ini mengikuti pola kelompok dominan. Bila yang dominan di sebuah nagari (teritori adat, kini menjadi daerah pemerintahan terendah di Sumatera Barat) adalah Koto Piliang, maka pola yang digunakan akan mengikuti pola Koto Piliang. Begitu pula kalau yang dominan di nagari itu Bodi Caniago. Selain dapat dilihat dari aspek kelarasan, pengelompokan orang Minangkabau juga dapat dilihat dari besaran kelompoknya. Kelompok terbesar disebut nagari. Tiap nagari
2

Legenda ini banyak dikritisi karena Alexander the Great hanya mempunyai seorang anak dari Roxana yang dinikahinya dalam ekspedisi ke Asia Tengah (Budge, E. A. W, 1896).

minimal dihuni oleh empat suku. Tiap suku terbagi lagi atas beberapa payuang atau suduik. Tiap suduik terbagi atas beberapa kaum. Tiap kaum terdiri dari beberapa rumah. Rumah merupakan kelompok orang-orang yang mempunyai ikatan geneologis atau nenek yang sama. Kepemimpinan nagari3 bermula dari kepemimpinan geneologis yang berkembang menjadi kepemimpinan teritorial. Adanya pembagian wilayah dalam nagari berupa jorong, kampuang (kampung) dan taratak bukan berarti pola kepemimpinan geneologis tidak lagi digunakan. Jorong (dalam istilah lain: koto) dan kampuang (bagian dari jorong4) terbentuk atas dasar konsentrasi pemukiman penduduk yang didalamnya terdapat komunitas yang memiliki hubungan darah. Komunitas ini hidup bersama dengan komunitas lain di atas prinsip kesetaraan hak dan kewajiban politis. Masing-masing komunitas dipimpin oleh tungganai (pemimpin rumah), penghulu andiko (pemimpin kaum), penghulu payuang atau penghulu kaampek suku (pemimpin dari beberapa kaum), dan penghulu suku. Didasari oleh adanya prinsip kesetaraan tadi, pada akhirnya setiap jorong memerlukan pemerintahan tersendiri di bawah sebuah dewan permufakatan tingkat jorong (Rapek Jorong) yang dipimpin oleh seorang kapalo (kepala) atau wali jorong yang tidak harus berstatus penghulu. Tapi jorong, kampuang dan taratak tidak seluruhnya muncul setelah nagari ada. Justru kalau diurut dari proses awal pembentukan nagari, taratak, kampuang dan jorong adalah cikal bakal nagari. Setelah nagari terbentuk barulah jorong dan kampung-kampung lain dibentuk. Taratak yang baru itu muncul karena sebagian warga pusat nagari membentuk komunitas kecil di luar pusat nagari untuk dapat membuka hutan (manaruko) dan membuat lahan pertanian baru. Komunitas ini selanjutnya berkembang dan taratak berubah jadi koto atau jorong. Penduduk jorong ini suatu ketika mungkin pula pindah ke kawasan lain dan membentuk kawasan pemukiman baru yang kelak jadi jorong pula bahkan tidak tertutup kemungkinan menjadi sebuah pusat nagari baru. Dengan demikian pertumbuhan jorong dalam sebuah nagari terjadi melalui suatu proses evolusi yang terutama sekali ditentukan oleh tingkat mobilitas penduduknya. Dalam struktur pemerintahan nagari menurut adat (untuk membedakan dengan pemerintahan nagari sekarang ini, yang telah disesuaikan dengan tata pemerintahan Republik Indonesia), para penghulu pucuak5 berfungsi sebagai pemimpin Rapek Nagari, sekaligus sebagai anggotanya. Kekuasaan tertinggi tidak terletak pada individu penghulu pucuak, dan tidak pula dibagi-bagi di antara individu penghulu payuang atau suku. Kekuasaan berada pada institusi Rapek Nagari yang didalamnya berhimpun para penghulu. Berarti setiap individu tanpa mengenal status harus tunduk pada setiap keputusan (mufakat) yang dihasilkan Rapek Nagari. Tak seorang penghulu pun dapat membuat peraturan atau undang-undang menurut kemauannya sendiri. Penghulu pucuak tidak menjadi personifikasi lembaga musyawarah tersebut, meskipun dalam prakteknya mungkin terjadi perbedaan-perbedaan antara satu nagari dengan nagari lain.

Luas wilayah sebuah nagari sangat variatif, bisa lebih sempit dari sebuah kecamatan, tapi bisa juga bisa meliputi dua kecamatan. Dalam konsep teritorial, kampuang adalah pemukiman yang lebih luas daripada jorong yang didalamnya tinggal lebih dari satu suku (superclan). Penghulu suku yang berkedudukan paling tinggi, memimpin para penghulu kaum atau penghulu andiko. Lihat Tabel.

Tabel Struktur Pemerintahan Nagari

Level Nagari

Sebutan untuk Pemimpin Pucuak (Penghulu Pucuak) atau Tiang Panjang6, Sandi Padek, Rajo Adat7 Penghulu/ Datuak Nan Kaampek Suku8 Kapalo Payuang/Penghulu Payuang/ Penghulu Suku/ Penghulu Kampuang/ Gadang Tuah9 Penghulu Andiko10 Tungganai/Mamak Kapalo Warih

Payuang/suku/kampuang

Paruik/jurai Mande/kaum

III.

Filsafat Komunikasi Etnis Minangkabau a. Ontologis: Apa hakekat komunikasi dalam masyarakat Minangkabau? Sudah tentu komunikasi adalah istilah baru bagi orang Minangkabau. Namun hal itu tidak berarti fenomena dan pikiran-pikiran yang berkaitan dengan komunikasi absen dari kebudayaan mereka. Justru orang Minangkabau menempatkan komunikasi sebagai bagian yang sangat penting dalam kebudayaannya, dengan menggunakan istilah khusus kato yang lebih kurang maknanya adalah komunikasi. Namun kato juga dapat bermakna sebagai kata, kalimat atau bahasa. Penjelasan lebih rinci tentang kato ini penulis sampaikan di bagian bawah. Dalam kebudayaan Minangkabau, praktik komunikasi melibatkan sepenuhnya aspek kesadaran (psikologis) dan berbagai varian aspek sosiologis seperti status, stratifikasi sosial dan ekspresi, aspek moral, estetika, serta ruang dan waktu. Oleh sebab itu, praktik komunikasi yang bernilai tinggi menjadi sesuatu yang menuntut pemahaman kultural secara lebih dalam. Mereka yang mampu melakukan komunikasi dengan baik dengan sendirinya dapat mengangkat derajat mereka di mata orang lain, demikian pula sebaliknya. Oleh karena itulah, kemampuan seseorang dalam berkomunikasi dikaitkan dengan budi pekerti yang mencakup akal pikiran, hati nurani dan sejarah hidup orang tersebut.

Dt.Sangguno Dirajo (1987: 122) Biro Bina Pemerintahan Desa Kantor Gubernur KDH Tk.I Sumatera Barat (1985: 32) Jong, P.E. (1980: 53) Ibid, hal 121 Lihat Dt.Sangguno Dirajo, ibid hal 120-123. Lihat juga Amran (1985 :192)

7 8 9 10

Telah disinggung sebelumnya, aspek kesadaran yang diperlukan dalam berkomunikasi menurut kebudayaan Minangkabau disebut dengan tahu di nan ampek (memahami empat perkara), yaitu tahu di diri (kenal pada diri sendiri), tahu di urang (memahami orang lain), tahu di alam (memahami alam), tahu di Tuhan (menyadari adanya Tuhan). Untuk tahu yang pertama, yaitu tahu di diri, orang harus mengenali dirinya sebagai manusia yang mempunyai empat jenis nafsu, yaitu nafsu mutmainah, supiah, amarah, dan lawwamah. Secara garis besar nafsu manusia dibagi atas dua jenis yaitu keinginan atau syahwat dan kemurkaan atau ghodob. Syahwat dibagi atas mutmainah (keinginan berbuat baik) dan supiah (keinginan seksual). Kemurkaan dibagi atas ammarah (kemarahan) dan lawwamah atau keinginan mencela (Ilyas, 2010: 77 - 78). Dengan memahami hakekat nafsu, orang tahu dalam kondisi seperti apa ia melakukan komunikasi dengan orang lain. Pengetahuan tersebut membuahkan kemampuan mengontrol diri dan ucapanucapan sehingga terjauh dari berbagai akibat yang merugikan bagi dirinya sendiri. Mereka juga harus tahu menggunakan empat jenis kato (komunikasi), yaitu kato mendata (kata mendatar) , kato malereang (kata melereng), kato mandaki (kata mendaki), dan kato manurun (kata menurun). Hakekat dari kato mandata adalah berkomunikasi dengan orang lain yang usianya sama, seperti teman sepergaulan atau sepermainan. Biasanya di dalam komunikasi tersebut bercampur antara tawa, gurauan dan lelucon. Kato malereang adalah komunikasi orang dewasa dengan orang yang disegani seperti ipar, besan, menantu atau mertua. Kato mandaki digunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih dihormati. Kalimatnya harus teratur, formal dan sopan. Kato manurun adalah komunikasi dengan orang yang statusnya lebih rendah (ibid: 85 - 86). Tahu di urang (memahami orang lain) berarti mengerti bahwa manusia itu terbagi atas empat kelompok: nan lumpuh (yang lumpuh), nan kuat (yang kuat), nan kurang (yang kurang), dan nan cerdik (yang cerdik) (ibid, 98)11. Pembagian seperti ini dapat menjadi reference bagi seseorang dalam menyampaikan pesanpesan komunikasinya. Kepada orang lumpuh sampaikan pesan-pesan yang sesuai dengan kodratnya, jangan berikan perintah untuk melakukan hal-hal yang tidak mungkin dia laksanakan. Kepada nan kuat sampaikan pesan-pesan yang membuatnya sudi menggunakan kekuatannya untuk tujuan-tujuan mulia, jangan untuk tujuantujuan yang merusak. Kepada nan kurang sampaikan pesan berdasarkan kekurangannya itu. Orang buta misalnya, dapat disuruh meniup lesung 12. Orang tuli dapat diminta untuk menembak dengan bedil. Kepada nan cerdik (punya kecerdikan atau panjang akal) tidak hanya pesan-pesan berbau perintah yang dapat disampaikan, tapi juga dapat diminta pendapat dan saran dari orang tersebut.

11

Sumber lisan mengungkapkan bahwa pembagian tersebut masih dapat diperluas menjadi nan buto (yang buta), nan pakak (yang tuli), nan kurang aka (kurang akal/idiot). Maksudnya mengerjakan sesuatu yang bagi orang normal dapat menimbulkan rasa perih di mata.

12

Tahu di alam atau memahami alam berarti memahami sifat-sifat alam, seperti mengetahui empat penjuru mata angin (timur, barat, utara dan selatan), empat tanda berhitung (tambah, kurang, kali dan bagi), dan empat pembagian waktu berdasarkan pemanfaatannya oleh manusia (waktu menerima kenikmatan, waktu menerima kesengsaraan, waktu menjalani ketaatan, dan waktu menjalani kemaksiatan) (ibid:131 148). Tahu di Tuhan atau menyadari adanya Tuhan direfleksikan ke dalam kesadaran bahwa manusia itu mengalami empat proses hidup dan mati. Mati pertama adalah saat manusia berada di alam ruh. Hidup pertama adalah saat manusia berada di kandungan ibu, dilahirkan dan hidup di dunia. Mati kedua adalah kematian yang telah dikenal selama ini, yaitu ketika terpisahnya ruh dari jasad. Sedang hidup kedua adalah hidup di padang mahsyar, ketika manusia dibangkitkan kembali oleh Allah SWT. Dengan kesadaran akan proses tersebut akan muncul kesadaran berikutnya bahwa nasib manusia terbagi empat. Pertama susah di dunia, celaka di akhirat. Kedua, senang di dunia, celaka di akhirat. Ketiga, susah di dunia, selamat di akhirat, dan keempat, senang di dunia, selamat di akhirat. Pengetahuan tentang empat jenis nasib ini juga menjadi reference bagi seseorang dalam berkomunikasi. Ia dapat menentukan apatah ia akan menyampaikan sesuatu yang dapat menyenangkan dirinya di dunia kepada orang lain, tapi dengan resiko celaka di akhirat, atau menyampaikan sesuatu yang membuatnya harus menderita di dunia, namun selamat di akhirat. b. Epistemologi: Bagaimana memahami filsafat komunikasi Minangkabau? Dari mana sumber-sumber pemahaman itu Sumber filsafat komunikasi orang Minangkabau adalah Islam dan adat. Sebelum menerima Islam sebagai satu-satunya agama yang dianut, etnis Minangkabau hidup di bawah aturan norma-norma dan hukum adat. Setelah Islam masuk, orang Minangkabau tetap mempertahankan sebagian besar adatnya dan dengan cerdiknya mengkombinasikan aturan adat dengan Islam, sehingga kini keduanya bersatu dalam sebuah sebutan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi ka Kitabullah (Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi ke Kitabullah) yang disingkat ABS-SBK. Artinya, adat Minangkabau berperan sebagai praktik kebudayaan sehari-hari, yang menjadikan syariat sebagai rujukannya, dan syariat itu asalnya dari Quran atau kitabullah. Adat adalah sumber nilai yang penting disamping Islam. Oleh sebab itu, untuk memahami filsafat komunikasi etnis Minangkabau tidak cukup hanya dengan mempelajari Islam. Bahkan, dalam pengamatan awal yang penulis lakukan, adat lebih banyak berperan dalam membentuk filsafat komunikasi orang Minangkabau dibandingkan Islam. Sebabnya, sebagai ajaran yang datang belakangan Islam hanya mengisi ruang-ruang kosong -- dan menggantikan aturan-aturan yang dianggap menentang aqidah -- dari sistem sosial orang Minangkabau yang telah berusia sangat tua. Adat Minangkabau terdiri atas empat tingkatan, sbb.13:
13

Buku-buku atau referensi tentang adat Minangkabau pada umumnya menjelaskan keempat adat ini. Untuk tulisan ini, penulis merujuk kepada beberapa tulisan antara lain Abbas, A.

1. Adat nan Sabana Adat atau adat yang azazi, yaitu kenyataan atau peraturan yang berlaku dalam alam yang merupakan ketentuan Allah, yang didasarkan berdasarkan ajaran Islam (syarak) misalnya adat api membakar, adat air membasahi, adat ayam berkokok, adat murai berkicau, adat laut berombak (adaik api mambaka, adaik aie mambasahi, adaik ayam bakokok, adaik murai bakicau, adaik lauik baombak). Adat nan Sabana Adat ini juga merupakan adat yang tetap, kekal, tidak terpengaruh oleh tempat dan waktu atau keadaan. Sebab itu dikiaskan dengan indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan (tidak meranggas karena panas, tidak lapuk karena hujan). Dengan demikian Adat nan Sabana Adat merupakan ketentuan yang bersifat multlak, mengikuti alua jo patuik (alur dan kepatutan) menurut hukum-hukum alam, hukum agama, prinsip perikemanusiaan, atau menurut aturan tempat waktu. Hukum waris yang mengikuti garis ibu (matrilineal) juga dianggap sebagai Adat nan Sabana Adat. 2. Adat nan Diadatkan atau adat yang ditetapkan oleh dua orang arsitek adat Minangkabau: Datuk Perpatih nan Sabatang dan Datuk Ketumanggungan, yaitu sesuatu aturan hidup bersama yang didasarkan atas mufakat, dan mufakat ini harus pula didasarkan atas alur dan patut. Adat ini merupakan sesuatu yang dirancang dan dijalankan, serta diteruskan oleh nenek moyang yang mula-mula menempati Minangkabau untuk menjadi peraturan bagi kehidupan masyarakat dalam segala bidang. Adat nan Diadatkan melingkupi seluruh segi kehidupan, terutama segi kehidupan sosial, budaya dan hukum. Keseluruhannya tersimpul dalam Undang-Undang yang Duapuluh (Undang-Undang an Duo Puluah) dan Cupan yang Dua (Cupak an Duo)14. Kata undang berarti aturan yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota masyarakat dengan sanksi yang dikenakan oleh pimpinan masyarakat terhadap anggota yang melanggar. Cupak artinya alat penakar. Maksudnya, norma yang dijadikan standar untuk mengukur atau menilai tindakan seseorang dalam bermasyarakat yang mana telah dimufakati bersama. Misalnya, pada upacara perkawinan haruslah mempelai wanita (anak daro) dan mempelai lakilaki memakai pakaian menurut yang dilazimkan pada saat acara perkawinan. 3. Adat Teradat, yaitu kebiasaan setempat yang dapat bertambah pada suatu tempat dan dapat pula hilang menurut kepentingan. Merupakan penyesuaian2 dengan keadaan sekeliling

F. (tanpa tahun), Konsepsi Dasar Adat Minangkabau, makalah Pembekalan Kuliah Kerja Sosial Keluarga Mahasiswa Minang Korkom UIN Syarif Hidayatullah di Nagari VII Koto Talago, Kecamatan Guguk, Kab.50 Kota-Sumbar, artikel-artikel yang dimuat di website, antara lain palantaminang, Nilai Dasar Adat Minangkabau (http://palantaminang.wordpress.com/sejarah-alam-minangkabau/j-nilai-dasar-adat-minangkabau/).
14

Cupak terdiri dari Cupak Usali (Aturan Asli) dan Cupak Buatan (Aturan yang dibuat kemudian). Lihat http://minang.wikia.com/wiki/Adat

Bila dibandingkan antara Adat nan Teradat dengan Adat nan Diadatkan, terlihat perbedaannya dari segi keumuman yang berlaku. Adat nan Diadatkan bersifat umum pemakaiannya pada seluruh negeri yang terlingkup dalam satu lingkaran adat di seluruh lingkungan Minangkabau. Umpamanya Adat Matrilokal (suami tinggal di keluarga pihak isteri) yang berlaku dan diakui di seluruh Minangkabau. Walaupun kemudian mungkin mengalami perubahan, namun perubahan itu berlaku dan merata di seluruh negeri. Pelaksanaan adat matrilokal dapat berbeda antara negeri yang satu dengan yang lain. Umpamanya, malam yang keberapa sesudah nikah suami diantarkan ke rumah isterinya, atau malam yang keberapa anak daro harus datang dan bermalam di rumah orang tua suami (istilahnya manjalang mintuo), atau kamar deretan mana yang harus ditempati penganten baru dan lain tata cara yang menyangkut pelaksanaan adat matrilokal tersebut. Jadi, Adat nan Teradat yang dipakai bisa saja berbeda-beda dari suatu nagari ke nagari yang lain. 4. Adat Istiadat, yaitu kebiasaan dalam suatu nagari atau golongan yang berupa kesukaan dari sebagian masyarakat tersebut, seperti kesenian, olah raga, seni suara, seni lukis, dan bangunan-bangunan dan lain-lain. Masyarakat Minangkabau mempunyai tradisi lisan yang sangat kuat. Oleh sebab itu, banyak sekali aturan-aturan atau pemikiran tentang adat maupun perpaduan adat dengan Islam yang belum ditulis dengan baik, sehingga tidaklah mudah bagi para pemula untuk dapat memahami filsafat komunikasi etnis Minangkabau. Selain harus mempelajari berbagai buku-buku yang pernah ada, dan harus dengan jeli melakukan analisis, pembelajar harus pula mampu memanfaatkan keterangan-keterangan dari sumber-sumber lisan yang dapat menyederhanakan konsep-konsep yang relatif rumit. Bagi para pembelajar yang harus menggunakan filsafat komunikasi Minangkabau untuk kehidupan sehari-hari, jalur pemahaman di mulai dari lingkungan keluarga terkecil (ibu dan ayah), kemudian keluarga luas (extended family) yang anggotanya antara lain uwo dan inyiak/ungku (kakek dan nenek), mamak (saudara laki-laki ibu), etek atau mak tuo (saudara perempuan ibu15), kemudian saudara-saudara ayah seperti pak etek (adik laki-laki ayah), pak tuo (kakak laki-laki ayah), saudara perempuan ayah, sampai kepada sumando (suami saudara perempuan). Unsur-unsur keluarga luas inilah yang akan memberikan pemahaman kepada pembelajar secara bertahap mulai sejak ia belajar berkomunikasi dengan orang lain. Bagi pembelajar yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin kaum (penghulu andiko) diberikan perlakuan khusus oleh pemimpin kaum yang masih menjabat, diajari bagaimana berkomunikasi menurut aturan adat, seperti penggunaan petatah petitih, mamangan, pantun atau kiasan-kiasan. Kemampuan berkomunikasi dalam style adat sangat penting dikuasai seorang penghulu karena dalam masa tugasnya ia akan menghadapi banyak sekali even komunikasi seperti berunding menyelesaikan pertikaian, berunding untuk pernikahan, memberi petuah-petuah adat, dan sebagainya.

15

Sebutan yang sama juga berlaku untuk saudara perempuan ayah. 8

c. Aksiologi: Bagaimana nilai-nilai etis dari komunikasi Minangkabau? Dari berbagai sumber yang tersedia, baik tertulis maupun lisan, penulis mengidentifikasi sebanyak 37 unsur nilai etis (patut/tidak patut, sopan/tidak sopan, tepat/tidak tepat) yang harus diperhatikan oleh pembelajar untuk dapat mendekati kesempurnaan dalam menerapkan filsafat komunikasi etnis Minangkabau. Artinya, apabila unsur-unsur tersebut diabaikan, maka individu yang berkomunikasi akan mendapat nilai negatif dan tidak akan mendapatkan penghargaan yang selayaknya dari partner komunikasi. Ke-37 unsur tersebut terdapat dalam tujuh aspek yaitu hierarki, status, ruang, waktu, estetis, moral dan ekspresi. 1. Aspek hierarki: komunikasi dibedakan berdasarkan hirarki penghormatan terhadap pasangan berkomunikasi, yaitu a. Kata Mendaki (kato mandaki), diaplikasikan dalam komunikasi dengan orang yang dihormati seperti orang tua, penghulu, atau guru. Komunikasi dengan kato mandaki cenderung formal. b. Kata Menurun (kato manurun), diaplikasikan dalam komunikasi dengan orang yang status sosialnya lebih rendah seperti pesuruh atau anak buah. c. Kata Mendatar (kato mandata), diaplikasikan dalam komunikasi dengan orang sepantaran, seperti teman-teman sepermainan. Komunikasi dengan kato mandata cenderung informal, lugas, dan santai. d. Kata Melereng (kato malereng), diaplikasikan dalam komunikasi dengan orang tertentu yang disegani seperti sumando, mamak rumah, ipar, mertua, atau menantu. 2. Aspek status: a. Pangulu atau Penghulu. Dalam status sebagai kepala kaum, payuang atau suku, maka komunikasi penghulu lebih bersifat penegasan dan penugasan (kato manitah) atau berupa keputusan (kato mamutuih) kepada yang dipimpinnya (kemenakan). b. Ulama. Tugas ulama adalah menyampaikan syiar Islam kepada segenap anggota kaum. Maka ucapan-ucapan ulama (kato tuanku/ungku/guru) tidak boleh lepas dari tuntunan Quran dan hadis nabi Muhammad SAW. Karena itu konten dari kato tuanku/ungku/guru selalu berkaitan dengan aqidah, syariat dan akhlak ul karimah (akhlak mulia). Dalam penyampaiannya, ulama mengacu kepada gaya komunikasi para penghulu. c. Dubalang. Sebagai orang dekat sekaligus tangan kanan penghulu komunikasi dubalang dengan anggota kaum bersifat memperkuat apa yang dikatakan penghulu. Oleh karena dubalang boleh bersuara keras dengan ekspresi meluap tidak seperti penghulu yang harus bicara lemah lembut tapi tegas dan tidak boleh membentak, maka kalimatkalimat yang diucapkan dubalang disebut sebagai kato dubalang (kato dubalang).

d. Bundo kanduang. Bundo kanduang atau ibu yang melahirkan adalah pendidik pertama bagi seorang anak dalam berkomunikasi, yang harus menyampaikan kata-katanya penuh kasih sayang. Ia pun harus bicara lembut, tegas dan mengandung pengetahuan. Inilah yang disebut sebagai kato bundo atau kata ibu. e. Orang-orang tua. Mereka ini adalah generasi sebelumnya, mulai dari ayah ibu sampai kakek dan tidak harus punya hubungan darah dengan individu yang berkomunikasi dengannya. Kata-kata mereka umumnya berisi pesan-pesan kearifan yang berangkat dari pengalaman hidup, kejayaan dan penderitaan, dan pesan mereka dikenal sebagai ucapan orang-orang tua (kato urang tuo-tuo). f. Pasangan. Bagi pasangan yang menikah dibolehkan mengucapkan kata-kata yang khusus dan bersifat sensual, yang disebut kata suami istri (kato laki bini).

g. Anak-anak. Anak-anak biasanya mengucapkan kata-kata yang sesuai dengan usianya, yang disebut ucapan anak-anak (kato paja-paja). Orang dewasa yang berkomunikasi dengan menggunakan gaya komunikasi kekanak-kanakan dianggap berbuat tidak pada tempatnya, dan kato paja-paja digunakan sebagai kalimat sindiran agar yang bersangkutan segera merubah gayanya. 3. Aspek ruang: a. Ruang kecil dan terbatas (biliak ketek). Pengertian biliak atau ruang dalam hal ini dapat berbentuk kongkret, tapi bisa juga abstrak. (artinya untuk kalangan terbatas). Intinya, komunikasi di biliak ketek adalah komunikasi yang membicarakan berbagai hal yang tidak patut diketahui orang banyak atau yang tidak punya urusan. Misalnya masalah suami istri, masalah-masalah harta kaum, dan sebagainya. b. Ruang besar dan publik (biliak gadang). Biliak gadang adalah sinonim dari ruang publik. Di sini orang dapat membicarakan berbagai isyu yang terkait dengan kepentingan publik. Adalah tidak pantas bagi individu untuk membicarakan apa yang seharusnya dibicarakan di biliak ketek disampaikan pula di biliak gadang. c. Pasar (balai). Pasar adalah arena yang relatif bebas, karena itu komunikasi di lingkungan pasar juga mempunyai ciri-ciri kebebasan. Ekspresi dan penggunaan kata-kata yang tidak lazim digunakan di tempat tertentu, justru boleh di lingkungan pasar. Penggunaan kata caruik (kata jorok yang berbau seks dan biasanya untuk mengungkapkan kejengkelan) relatif dibenarkan di lingkungan pasar. Sekalipun banyak orang tidak menyukainya, namun dapat memaklumi. d. Balai adat, adalah tempat dimana para penghulu melakukan perundingan adat. Komunikasi di balai adat ditandai dengan formalitasnya yang sangat tinggi. Bahasanya pun khusus, dan tidak semua masyarakat dapat memahami. Kalimat-kalimatnya jarang yang bersifat langsung, melainkan penuh pantun, petahah-petitih, mamangan, atau qiyas.

10

e. Mesjid adalah tempat dimana isyu-isyu keagamaan menjadi bagian penting dari komunikasi. Bukan tidak ada orang membicarakan masalah adat di mesjid, tapi itu hanya dilakukan sambil lalu. Isyu pokoknya tetap pada masalah Islam. 4. Aspek waktu: a. Waktu lapang (ukatu lapang) adalah komunikasi yang dilakukan dalam waktu senggang, santai, dan tidak terburu-buru. Di waktu lapang orang bisa bercanda atau mengurangi efisiensi penggunaan kalimat. b. Waktu sempit (ukatu sampik) adalah komunikasi pada saat momen bicara sangat terbatas, sehingga isyu yang dapat dibicarakan pun sangat terbatas. c. Waktu senang (ukatu sanang) adalah komunikasi ketika perasaan gembira, sehingga orang dapat melepaskan canda atau joke-joke, termasuk joke yang bersifat menyudutkan. d. Waktu sedih (ukatu sadiah), bertolak belakang dari waktu senang, saat ini orang merasakan kedukaan, seperti waktu kematian, kehilangan/kecurian, atau kerugian. Komunikasi di ukatu sadiah harus jauh dari kalimat-kalimat berbau canda, bahkan tawa pun jadi tindakan terlarang. Orang yang dianggap tepat dapat memberikan petuah-petuah keagamaan untuk menyenangkan hati mereka yang sedang dilanda kesedihan. 5. Aspek estetis: a. Berpantun artinya kalimat-kalimat yang digunakan dalam berkomunikasi menggunakan pantun. Kalimat urang mangecek berpantun-pantun (orang bicara berpantun-pantun) dapat diartikan orang sedang melakukan pembicaraan formal. Tidak hanya pantun yang digunakan, tapi juga petatah-petitih, mamangan, dan sebagainya. b. Tak berpantun, lawan dari yang sebelumnya, yaitu berkomunikasi secara informal. c. Kasar (caruik/indak babudi) adalah gaya komunikasi orang yang tidak berpendidikan, yang tidak tahu adat. Oleh sebab itu diksinya pun mencerminkan watak dan martabatnya, suka kepada kata-kata yang berkononatasi jorok atau caruik. d. Halus (sopan jo santun/babudi), kebalikan dari kasar. Gaya komunikasi seperti ini khas para penghulu dan orang-orang yang berpendidikan bagus. 6. Aspek moral a. Ucapan awal (kato daulu) adalah ucapan yang lebih awal dikemukakan, dianggap mengandung kejujuran. Dalam mamangan dikatakan: kato daulu pandapatan. Artinya, kalimat pertama mengandung arti sesungguhnya.

11

b. Ucapan kemudian (kato kudian) adalah kalimat atau ucapan yang disampaikan belakangan, yang disertai alasan-alasan untuk membantah sendiri kato dahulu yang telah disampaikan. Karena itu, kato kudian dianggap mempunyai kejujuran rendah. Dalam mamangan dikatakan: kato kudian kato dicari. Artinya, kalimat yang muncul belakangan bukan lagi mengacu kepada yang sesungguhnya, tapi sudah dicari-cari, dibuat-buat atau dikarang-karang. c. Pongah adalah sikap yang tidak baik dalam berkomunikasi. Orang yang pongah dikatakan sebagai orang yang suka bicara diatas-atas (bakato diateh-ateh atau meninggi), menganggap orang lain bodoh, tidak berkelas, dsb. Orang yang suka berbicara sambil memamerkan kehebatan dan kekayaan pribadi dan keluarganya juga dianggap pongah. d. Merendah (di bawah-bawah/marandah) adalah sifat dan gaya berkomunikasi orang yang berilmu. Dalam pepatah dikatakan orang yang suka merendah adalah mereka yang memakai ilmu padi: makin barisi makin marunduak (makin berilmu makin merunduk). e. Jujur (luruih) adalah sifat yang terpuji dalam berkomunikasi. Namun terdapat paradoks yang mengatakan luruih bana kuruih (terlalu lurus, kurus). Artinya, orang tidak boleh terlalu jujur, lurus seperti tabung yang tidak bersekat, atau tidak punya filter dalam berbicara. Sehingga apa yang tidak pantas disampaikan kepada orang lain, ia sampaikan juga. Masalah hubungan dengan suami atau istri, misalnya, yang hanya boleh disampaikan di antara mereka berdua, disampaikan juga kepada orang lain saking jujurnya. Jujur seperti ini justru tidak baik. f. Bohong (duto) adalah sifat yang tidak terpuji dalam berkomunikasi. Orang yang berbohong tentu saja tidak dapat dipercaya. Adat Minangkabau sangat melarang orang berbohong karena sekali saja berbohong untuk selanjutnya orang tidak lagi percaya. Mamangannya, Sakali lancuang kaujian, saumua iduik urang ndak picayo (sekali berlaku tidak jujur, seumur hidup orang tak lagi percaya)

7. Aspek Ekspresi a. Verbal (lisan) yaitu ekspresi yang menggunakan kata-kata, baik yang bersifat kasar, halus, berpantun, tidak berpantun, menggunakan katakata yang berkonotasi meninggi, dsb. b. Gesture (garik), yaitu ekspresi yang disertai dengan gerakan tubuh tertentu dengan makna-makna tertentu pula. c. Tanda (tando) atau clue yang bersifat spesifik, seperti tidak memperhatikan lawan bicara, menarik napas dalam, dsb. d. Tersirat (tasirek) adalah penggunaan kalimat-kalimat yang sulit ditangkap maknanya, menggantung atau hanya ada sampiran kalau menggunaan pantun, tapi jelas mengungkapkan sesuatu yang penting.

12

e. Tertulis (tasurek) adalah ekspresi yang menggunakan media tulisan seperti surat, tanda-tanda di dinding, dan sebagainya. f. Suara keras (hariak) adalah ekspresi dengan menggunakan volume suara tinggi, seperti bentakan, yang menggambarkan rasa marah. Tapi dalam konteks lain hariak juga dapat dimaknai sebagai ekspresi kegembiraan yang tinggi, misalnya di antara dua orang yang bertemu kembali setelah lama berpisah.

g. Suara sangat halus (bisiak) adalah ekspresi dari orang yang tidak ingin apa yang dia sampaikan didengar oleh orang lain, karena sifatnya rahasia atau tidak ada hubungannya dengan orang lain disekitarnya. IV. Penutup Filsafat komunikasi memberikan landasan yang paling bawah, paling fundamental kepada aktivitas komunikasi manusia, terutama sekali dalam konteks budaya. Pada landasan itulah terdapat kerangka nilai, yang kelak digunakan untuk mengukur kepantasan atau kualitas komunikasi. Beragamnya budaya di dunia ini menyebabkan filsafat komunikasi juga sangat banyak ragamnya. Bagi orang Minangkabau, filsafat komunikasinya tidak pernah dapat dilepaskan dari dua sistem nilai yang tertanam sejak lama, yaitu Islam dan adat. Namun sekarang, dengan terbukanya komunikasi di tingkat nasional maupun global, pergeseran mungkin mulai terjadi. Sebagian orang Minangkabau mungkin telah mengadopsi nilai-nilai dari sumber lain, seperti nilai-nilai yang datang dari Barat. Filsafat komunikasi etnis Minangkabau yang sangat kompleks, sebagaimana telah penulis coba jelaskan dalam bentuk kasarnya, adalah filsafat yang jarang sekali ditulis orang secara utuh dan komprehensif. Akibatnya, rujukan yang dapat digunakan dalam pengkajian akademis juga jadi sangat terbatas. Apa yang telah penulis sampaikan di atas dapat dikatakan sebagai langkah awal untuk memulai diskusi lebih serius tentang filsafat komunikasi etnis Minangkabau. V. Referensi Abbas, A. F. (tanpa tahun), Konsepsi Dasar Adat Minangkabau, makalah disampaikan untuk Pembekalan Kuliah Kerja Sosial Keluarga Mahasiswa Minang Korkom UIN Syarif Hidayatullah di Nagari VII Koto Talago, Kecamatan Guguk, Kab.50 KotaSumbar. Agustar, Ria (2008) Pelaksanaan Pembagian Warisan Atas Harta Pencarian Dalam Lingkungan Adat Minangkabau Di Kecamatan Lubuk Kilangan Kota Padang, Tesis, Semarang, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. Amran, Rusli (1985), Sumatera Barat Plakat Panjang, Jakarta, Sinar Harapan. Biro Bina Pemerintahan Desa Kantor Gubernur KDH Tk.I Sumatera Barat (1985), Proses Lahirnya Perda o.13 tahun 1983 tentang agari sebagai Kesatuan Masyarakat Hukum Adat dalam Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Barat, Padang, Juni. Budge, E. A. W (1896), The Life and Exploit of Alexander the Great, London, CJ Clay and Sons Dt.Sangguno Dirajo (1987), Curaian Adat Alam Minangkabau, Bukittinggi, Pustaka Indonesia

13

Hadler, J. (2010), Sengketa Tiada Putus: Matriarkat, Reformisme Agama, dan Kolonialisme di Minangkabau, Jakarta, Freedom Institute Ilyas, A. (2010), an Empat, Dialektika, Logika, Sistematika Alam Terkembang, tanpa kota, Lembaga Kekerabatan Datuk Soda Jong, P.E. de Josselin de (1980), Minangkabau and egri Sembilan, Socio-Political Structure in Indonesia, S-Gravenhage, Martinus Nijhoff, Kahn, J.S. (1980), Minangkabau Social Formations: Indonesian Peasants and the WorldEconomy, Cambridge, Cambridge University Press Peters-Golden, H. (2006), Culture Sketches, Case Studies in Anthropology, New York, McGraw-Hill, Inc. Palantaminang, ilai Dasar Adat Minangkabau dalam http://palantaminang.wordpress.com/sejarah-alam-minangkabau/j-nilai-dasar-adat-minangkabau/

****
Emeraldy Chatra adalah mahasiswa program doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung

14