Anda di halaman 1dari 12

STEROID PADA INVERTEBRATA (TERIPANG)

I. TAKSONOMI Teripang atau ketimun Laut atau seacucumber adalah kelompok hewan invertebrata laut dari Filum Echinodermata kelas Holothuroidea, satu keluarga besar dengan bintang laut dan bulu babi. Echinodermata berasal dari kata echinos yang berarti landak dan dermo berarti kulit. Hal ini disebabkan adanya permukaan tubuh atau kulitnya seperti berduri. yang dapat dilihat jelas pada bulu babi. Tetapi pada teripang, duri-duri tersebut berupa spikul yang terdapat di dalam tubuh. Echinodermata hanya dapat ditemukan di laut terdapat mulai dari daerah litoral sampai tempat yang dalam (6000 m). Teripang ini edible atau dapat dimakan.

Bintang laut

bintang ular

mentimun laut

landak laut

Klasifikasi echinodermata : Ada 6 kelas dalam Phyllum Echinodermata (Barnes, 1987) yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kelas Crinoidea Kelas Ophiuroidea Kelas Echinoidea Kelas Asteroidea Kelas Concentricycloidea Kelas Holothuridea Hewan jenis ini kulit durinya halus, sehingga sekilas tidak tampak sebagai jenis Echinodermata. Tubuhnya seperti mentimun dan disebut mentimun laut atau disebut juga teripang. Hewan ini sering ditemukan di tepi pantai. Gerakannya tidak kaku, fleksibel,

lembut dan tidak mempunyai lengan. Rangkanya direduksi berupa butir-butir kapur di dalam kulit. Mulut terletak pada ujung anterior dan anus pada ujung posterior (aboral). Di sekeliling mulut terdapat tentakel yang bercabang sebanyak 10 sampai 30 buah. Tentakel dapat disamakan dengan kaki tabung bagian oral pada Echinodermata lainnya. Tiga baris kaki tabung di bagian ventral digunakan untuk bergerak dan dua baris di bagian dorsal berguna untuk melakukan pernafasan. Selain itu pernafasan juga menggunakan paru-paru air.

Teripang / mentimun laut (Thyone briareus)

Kebiasaan hewan ini meletakkan diri di atas dasar laut atau mengubur diri di dalam lumpur/pasir dan bagian akhir tubuhnya diperlihatkan. Jika Anda mengganggunya biasanya ia mengkerut. Teripang tersebar luas di lingkungan laut (marine) diseluruh dunia, mulai dari zona pasang surut sampai laut dalam terutama di lautan India dan lautan Pasifik Barat. Tidak kurang sekitar 1250 jenis teripang telah didiskripsikan, dibedakan dalam enam bangsa (ordo) yaitu Dendrochirotida, Aspidochirotida, Dactylochirotida, Apodida, Molpadida, dan Elasipoda. Beberapa jenisnya hidup mebenamkan diri dalam pasir dan hanya menampakan

tentakelnya. Sedang jenis-jenis teripang komersil biasanya hidup pada substrat pasir, substrat keras, substrat kricak karang dan substrat lumpur. Produk teripang umumnya berasal dari jenis-jenis teripang yang hidup di perairan dangkal, sampai kedalaman 50 meter. Semua jenis teripang komersil, khususnya dari daerah tropika, termasuk dalam bangsa (ordo) Aspidochirotida dari suku (family) Holothuriidae dan Stichopodidae, yang meliputi marga (genus) Holothuria, Actinopyga, Bohadschia, Sekitar 25 jenis dari jenis teripang perairan berasal sepuluh karang Thelenota di dan Stichopus. berpotensi komersil Indonesia nilai

diidentifikasikan (Darsono,1995),

diantaranya

mempunyai

komersil baik disajikan dibawah ini Jenis-jenis teripang berpotensi komersil diidentifikasikan dari perairan Indonesia. Jenis (Specis) Nama daerah Nilai pasar Aspidochirotida Actinopyga miliaris* Teripang lotong Sedang A. lecanora* Teripang batu Sedang A. echinites* Teripang batu Sedang A. mauritiana* Teripang bilalo Ssedang 1) Holothuriidae Holothuria (Metriatyla) scabra* Teripang pasir, teripang putih Mahal H. (Microthele) nobilis* Teripang susuan hitam Mahal H. (Microthele) fuscogilva* Teripang susuan putih Mahal H. (Halodeima) atra Teripang keling Murah H. (Halodeima) edulis Teripang dada merah Murah H. (Acanthotrapeza) coluber Teripang tali jangkar Murah H. (Mertensiothuria) leucospilota Teripang hitam Murah H. (Mertensiothuria) pervicax Teripang karang Kurang H. (Mertensiothuria) fuscocinarea Teripang karang Kurang H. (Thymiosycia) gyrifer Teripang karang Kurang

H. (Thymiosycia) hilla Teripang karang Kurang H. (Thymiosycia) impatiens Teripang karang Kurang H. (Lessonothuria pardalis Teripang karang Kurang Bohadschia argus* Teripang mata kucing Sedang B.graeffei B. marmorata Teripang getah putih Murah 2) Stichopodidae Stichopus chloronotus Teripang belimbing Murah S. horrens Kurang S. variegates* Teripang kasur Sedang Thelenota ananas* Teripang nenas Mahal T. anax Murah Ket. * bernilai komersil sedang dan mahal II. DESKRIPSI STERIOD SECARA UMUM Definisi, Struktur steroid Steroid merupakan metabolit sekunder hewan / tumbuhan. Asal usul biogenetik mengikuti pola reaksi pokok sama, menghasilkan kerangka dasar sama =SIKLOPENTANO PERHIDROFENANTREN

Teripang mengandung steroid glikosida berupa saponin. Saponin adalah metabolit sekunder yang banyak terdapat di alam, terdiri dari gugus gula yang berikatan dengan aglikon atau sapogenin. Senyawa ini bersifat racun bagi binatang berdarah dingin. Oleh karena itu dapat digunakan untuk pembasmi hama tertentu.

SIFAT-SIFAT SAPONIN 1. 2. 3. 4. 5. merah. 6. 7. 8. III. Tidak beracun bagi binatang berdarah panas. Mempunyai sifat anti eksudatif. Mempunyai sifat anti inflamatori Berasa pahit. Berbusa dalam air. Mempunyai sifat detergen yang baik. Beracun bagi binatang berdarah dingin. Mempunyai aktivitas haemolisis, merusak sel darah

MANFAAT Berdasarkan sifat-sifat tersebut, senyawa saponin mempunyai kegunaan yang sangat luas, antara lain: 1. Pembasmi hama udang. 2. Sebagai detergen pada industri tekstil. 3. Pembentuk busa pada alat pemadam kebakaran. 4. Pembentuk busa pada sampo. 5. Dalam industri farmasi. Saponin adalah senyawa surfaktan. Dan berbagai hasil penelitian disimpulkan, saponin bersifat hipokolesterolemik, imunostimulator, dan anti karsinogenik. Mekanisme antikoarsinigenik saponin meliputi efek antioksidan dan sitotoksik langsung pada sel kanker Saponin memberikan rasa pahit pada bahan pangan nabati. Saponin dapat menghambat pertumbuhan kanker kolon dan membantu kadar kolesterol menjadi normal. Tergantung pada jenis bahan makanan yang dikonsumsi, seharinya dapat mengkonsumsi saponin sebesar 10-200 mg. Beberapa jenis teripang yang telah dimanfaatkan adalah sebagai berikut(Conand, 1991) :

1. Bernilai ekonomi tinggi : Holothuria scabra, H. scabra versicolor, H. fuscogilva, Thelenota ananas, Stichopus chloronatus, S. hermanii, S. variegatus 2. Bernilai ekonomis sedang : H. nobilis, Actinopyga lecanora, A. mauritinia, A. miliaris, Bohatchia marmorata (marmorata), B. marmorata (vatiensis) 3. Bernilai ekonomis rendah : H. edulis, T. anax, B. argus, B. argeffei, H. vagabunda, H. vatiensis, H. marmorata A. INDUSTRI FARMASI Di bidang farmasi teripang banyak manfaatnya. Actynopyga agassizii digunakan sebagai hemolotik dan anti kanker dari produk holothurinnya (Soediro dan Padmawinata, 2000). Nigrelli et al. (1955) dalam Doezema (1969) mengidentifikasi holothurin, suatu toksin yang terdapat pada mentimun laut Actynopyga agassizii, dikenal sebagai steroid glycoside atau saponin. Zat tersebut dihidrolisis dan difraksinasi kedalam campuran beberapa steroid aglycone dan gula. Terdapat 4 steroid aglycone yang masing-masing mempunyai cincin quinovose, 3-0-methyl glucose, glucose dan xilose. Xylose terikat pada molekul steroid yang diduga hydroxyl group pada C3. Meskipun saponin biasanya merupakan produk tumbuhan, mentimun laut dikenal sebagai hewan pertama yang menghasilkan saponin ini. Holothurin bersifat stabil terhadap panas, saponin steroid aktif yang terdapat pada cuverian organ dan jaringan lain pada mentimun laut dari Bahama ( Boolothian, 1966 dalam Fnge, 1969) Actynopyga agassizii. Bahan bioaktif yang sama juga ditemukan pada beberapa jenis mentimun laut yang lain (Arvy, 1954 dalam Fnge, 1969). Berat molekul holothurin berkisar 1150. Zat ini bersifat sangat toksik bagi hewan lain dan mempunyai efek antitumor (Fnge, 1969) dan mempunyai sifat hemolitik kuat. Saponin juga terdapat pada kulit mentimun laut

jenis H. atra dan cuverian tubule dari Bohadschia sp. di Laut Pasifik (Adam, untuk 1993). Selanjutnya dikatakan, dengan beragamnya jenis mentimun laut ini maka akan menarik bioprospektor menggali kemungkinan dimanfaatkannya mentimun laut ini untuk menghasilkan zat-zat yang berguna bagi farmakologi. Percobaan penggunaan holothurin yang diambil dari cairan mentimun laut telah dilakukan oleh Fao (1990). Holothurin bersifat thermo-stabil dan digunakan sebagai anti fungi pada ikan tilapia. B. INDUSTRI MAKANAN Teripang (sea cucumber) merupakan salah satu sumber hayati laut yang banyak manfaatnya. Di pasar komersial, teripang dikenal sebagai beche-de-mer (Jepang : iriko, China : Hai-som), merupakan produk perikanan yang mempunyai harga yang tinggi di negara-negara Paifik Selatan dan Asia (Morgan dan Archer, 1999). Beche-de-mer merupakan produk olahan dari teripang yang dikonsumsi dalam berbagai bentuk. Di Jepang dan Korea, dinding tubuh teripang dikonsumsi mentah atau dalam bentuk pickle (acar) dan produk-produk khusus lainnya yang diproduksi dari gonad, pohon respirasi (organ respirasi) dan saluran pencernaannya (Mottet, 1976; Conand and Sloan, 1989). Konowata, perut atau usus yang di acar atau difermentasi, dan kuchiko, gonad kering, merupakan delicacy (hidangan) yang sangat disukai dan berharga mahal di Jepang. Otot teripang sering digunakan sebagai pengganti daging kerang di asia dan Amerika (Mottet, 1976) dan sering dikonsumsi sebagai tablet. Di Australia, teripang dimanfaatkan sebagai food supplement yang mempunyai zat anti-inflammatory (Morgan dan Archer (1999) dan di China, teripang telah dikenal sebagai salah satu aphrodisiac food.

C.

INDUSTRI KOSMETIK Mentimun laut Cucumaria sp. selain dipergunakan sebagai

makanan, di Rusia, juga digunakan dalam bidang farmakologi, karena mengandung triterpene glycoside yang mempunyai kemampuan biologis sebagai obat pada hewan dan zat tambahan pada pasta gigi dan krim kosmetik (Levin dan Stonik, 1994 dalam Levin, 1995). Ekstrak dari teripang yang direbus dimanfaatkan sebagai tonik di Malaysia (Subasinghe, 1992). IV. 1. TEKNIK PENYARIAN (EKSTRAKSI) Pengambilan sampel Sampel bahan laut yang akan digunakan sebagai bahan ekstrak diperoleh dari laut dengan cara menyelam pada kedalam laut tertentu. 2. baik. Rendam sampel dengan etanol untuk Bersihkan sampel secara berulang Sampel yang telah dibersihkan mengendapkan garamnya. Pengolahan sampel Sampel yang diperoleh dari laut sebelum dibersikan, terlebih dahulu disortir atau dipilih yang

dimasukkan kedalam blender untuk kemudian dihaluskan dengan derajat kehalusan tertentu 3. Sampel Metode ekstraksi yang telah diblender ditambahkan kloroform dan metanol dengan perbandingan 2 : 1

bening.

Dimasukkan kedalam alat sochletasi

untuk selanjutnya diekstraksi selama 24 jam atau sampai Ekstak ditambah kloroform / methanol Ekstrak yang diperoleh kemudian

dipekatkan. Pemekatan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara terbuka dengan water bath pada temperatur 40-50C, atau cara tertutup dengan menggunakan evaporator. dengan etil asetat Pekatkan fraksi etil asetat, siap dianalisis kandungan steroidnya V. CARA IDENTIFIKASI Identifikasi dapat dlakukan dengan metode atau reaksi : Reaksi Lieberman buchardat Uji Salkowski KLT (+) warna merah-ungu (+) cincin merah (+) noda warna ungu Sabunkan dengan KOH etanolik Fraksi tak tersabunkan diekstraksi

fase diam : silika gel 60 F254 fase gerak : CHCl3 : Etil asetat (2:1) deteksi dapat dilakukan pada panjang golombang : UV 254 nm : fluorescensi lemah UV 366 nm : tidak berfluorescensi

penampak bercak dapat dilihat dengan penyemprotan anisaldehid sulfat dan setelah dipanaskan pada temperatur 1050C 2-5 menit), menunjukkan noda warna ungu s/d biru ungu VI. TEKNIK ISOLASI DAN PENENTAPAN KADAR (UJI KUANTITATIF) Ekstrak kental/kering ditambahkan air kloroform (1:1) menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama

enam jam pertama kemudian dibiarkan selama 18 jam atau semalam. Selanjutnya Pisahkan ekstrak kloroformnya, ambil 1 ml untuk kemudian diuji dengan pereaksi Lieberman buchardat. Jika menghasilkan warna merah-ungu, diteruskan untuk mengetahui kadar saponin dengan mengukur serapannya dengan spektroskopi visibel pada panjang gelombang 614,6 nm. Dan sisa ekstrak diuapkan diatas penangas air untuk selanjutnya dilakukan kolom kromatografi preparatif atau kromatografi lapis tipis preparatif (KLTP).

LAMPIRAN TEKNIK PENYARIAN (EKSTRAKSI) TERIPANG Disortir dan dibersihkan Direndam dengan etanol Bersihkan kembali Diblender TERIPANG HALUS + kloroform & metanol (2:1) Disoxletasi 24 jam/bening FILTRAT / EKSTRAK CAIR dipekat
TERBUKA TERTUTUP

water bath 40-50C

evaporator

EKSTRAK KENTAL

Disabunkan dgn KOH etanolik


FRAKSI TAK TERSABUNKAN FRAKSI TERSABUNKAN

diekstraksi dengan etil asetat


EKSTRAK CAIR

Dipekatkan EKSTRAK KENTAL

dianalisis kandungan steroidnya CARA IDENTIFIKASI EKSTRAK ETIL ASETAT Uji KLT fase diam : silika gel 60 F254 fase gerak : CHCl3 : Etil asetat (2:1)

UV 254 nm fluorescensi lemah

UV 366 nm tak berflouresensi Semprot dgn anisaldehid sulfat dipanaskan pd1050C 2-5 menit

NODA WARNA UNGU S/D BIRU UNGU

TEKNIK ISOLASI DAN PENENTAPAN KADAR (UJI KUANTITATIF) EKSTRAK KENTAL + air kloroform (1:1) dlm labu bersumbat sambil dikocok dibiarkan semalam.

LAP. KLOROFORM

LAP.AIR

1 ML + Liebermann Burchard 6,0 ml SPEKTROSKOPI Diukur serapannya dengan spektrofotometri visibel pada = 614,6 nm KADAR STEROID

SISA Diuapkan di atas penangas air hingga kering KLTP