Anda di halaman 1dari 39

Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 1

FS 01 Apa Itu Filsafat?


Tujuan Instruksional
Anda dapat membedakan metode filsafat dan metode ilmu-ilmu lain
Anda dapat menjelaskan ringkasan sejarah filsafat
Anda dapat menjelaskan cabang-cabang filsafat sistematik

Apa yang dicari para filsuf?
Kebanyakan orang tenggelam dalam keseharian dan percaya begitu saja akan
permukaan realitas (data indrawi, pesona penampakan, pragmatisme bisnis, urusan-
urusan praktis-teknis dst.)
Mereka yang disebut filsuf itu tidak mau ditipu oleh permukaan; mereka masuk ke
akar-akar gejala; mereka ingin menjelaskan segalanya dari akar-akar itu.


A philosopher is a blind man in a dark cellar at midnight looking for a black cat that isnt
there. He is distinguished from a theologian in that the theologian (assumes to) find the cat
Anecdote
Arche:
Kata Yunani arche menjelaskan apa yang mereka cari itu.
Menjelaskan segala sesuatu dari arche ini berarti memandang segalanya secara radikal
dari hakikat kenyataan itu sendiri.

Beberapa Contoh
Plato dan Ajaran tentang Idea
Schopenhauer dan Kehendak Metafisis

Kita semua berpikir dan percaya.
Berpikir dengan Percaya
Percaya dengan Berpikir
Jika kepercayaan kita menghalau pemikiran, itupun sebuah
pikiran melawan pikiran.
Jika pikiran kita menghalau kepercayaan, itu juga sebuah
kepercayaan yang menghalau kepercayaan.
Kepercayaan mencari pengetahuan, dan pengtahuan
mengokohkan kepercayaan.

Berapa Usia Filsafat Barat?
Kira-kira baru 2500 tahun, jika momen Thales meramalkan gerhana matahari (th. 600-an
SM) kita jadikan patokan kelahirannya.
The unexamined life is not worth living -
Socrates
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 2
Dalam dua setengah milenium itu, filsafat sudah memiliki 4 periode besar:
1. Filsafat Antik :kosmosentrisme
2. Filsafat Abad Pertengahan: Teosentrisme
3. Filsafat Modern: Antroposentrisme
4. Filsafat Kontemporer: Logosentrisme

Pohon Filsafat:
Filsafat tidak hanya satu, melainkan banyak: [1] banyak menurut bidang kajiannya; [2]
banyak menurut aliran-alirannya.
Bayangkan filsafat sebagai pohon, maka kita akan melihat banyak cabang dan ranting
padanya.
Akarnya: Persoalan realitas sebagai totalitas
Batangnya: Persoalan pengetahuan dan kebenaran
Cabangnya: Persoalan wilayah-wilayah realitas
Ranting, Daun dan buahnya: Persoalan praktis
Akarnya Persoalan realitas
Metafisika
Kosmologi
Teodisea
Batangnya Persoalan pengetahuan Epistemologi, logika
Cabangnya
Persoalan wilayah-wilayah
realitas
Antropologi, Filsafat
Sosial, Estetika
Ranting,
daun,
buahnya
Persoalan praktis
Etika, Filsafat
Pendidikan

Dua Macam Filsafat
Bisa juga dilihat begini: Jika filsafat merenungkan hal-hal yang konkret praktis, kita sebut
filsafat praktis. Bila ia merenungkan perkara-perkara abstrak, kita sebut filsafat
teoretis

Tempat Filsafat Ilmu Pengetahuan
Filsafat ilmu pengetahuan adalah perkembangan lebih lanjut dari teori pengetahuan atau
epistemologi
Objeknya: Metode ilmu-ilmu
Duduk Perkaranya: Sejauh manakah metode ilmiah dapat menghasilkan pengetahuan
yang benar tentang realitas?; benar dalam arti (1) korespondensi; (2) koherensi; (3)
pragmatis; (4) performatif; (5) konsensual

Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 3
FS 03 Apakah Sains itu?
Sains dan Praksis: Konsep-konsep Kunci Filsafat Sains
Dr. F. Budi Hardiman
Tanah Air Ilmu Pengetahuan: Akal Sehat
Ilmu pengetahuan berpangkal dari praktik-praktik manusia dan sikap-
sikap pra-reflektif manusia dalam kehidupan sehari-hari yang disebut
akal sehat
Ilmu pengetahuan adalah hasil pengambilan distansi secara
metodologis dari akal sehat itu.

Mengapa Membahas Praksis?
Semua upaya manusia untuk mengetahui dunia bukanlah sebuah aktivitas kontemplatif
belaka yang bersih dari keterlibatan praktisnya dengan dunia (Heidegger: Besorgen),
melainkan justru berasal dari keterlibatan praktisnya. Karena itu pengetahuan berasal
dari praksis dan kembali pada praksis lagi yang sudah tercerahkan.


Sikap-sikap Reflektif dalam Riset Ilmu-ilmu Alam
1. Sikap distansi penuh terhadap objeknya (mis: sel, larutan, benda jatuh dst.)
2. Menghadapi objeknya sebagai fakta netral (dari impian, nafsu, kepentingan, penilaian
moral dst.)
3. Memanipulasi objek itu dengan skema kausalitas
4. Tujuan manipulasi: Memperoleh pengetahuan tentang hukum-hukum alam dengan
struktur jika, maka.

Praksis Pengetahuan
Kepercayaan
Tradisi-tradisi
Nilai-nilai
pengetahuan
sehari-hari
Opini umum
Pikiran kolektif
Praktik-praktik
spontan
dll
Kandungan Akal Sehat
Objek
Persepsi
Data Indra
Realitas yang
tak terkatakan
?
Akal
Sehat
Akal sehat adalah pengetahuan spontan tentang realitas;
Realitas itu sendiri melampaui akal sehat (tak terkatakan)

Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 4
Bahasa Ilmiah sebagai Bentuk Distansi:
Pengalaman empiris tetap kabur sampai subjek mampu merumuskannya secara
linguistis. Jadi, bahasa merupakan bentuk distansi atau refleksi atas objek.
Pemakaian bahasa berkorelasi dengan ciri objeknya atau sikap terhadap objek itu. Ada
fungsi (1) deskriptif; (2) normatif; dan (3) ekspresif.
Yang sesuai untuk distansi ilmiah adalah bahasa dengan fungsi deskriptif.

Perbandingan


Konsep Lebenswelt
Edmund Husserl memakai term Lebenswelt (Dunia-Kehidupan/
Lifeworld) untuk menjelaskan adanya suatu dunia penghayatan yang
belum ditafsirkan oleh ilmu-ilmu pengetahuan dan filsafat. Lebenswelt
ini lama kelamaan hilang oleh timbunan interpretasi-interpretasi ilmiah.
Term ini menjelaskan lebih tajam lagi apa itu dunia akal sehat.

Lebenswelt adalah suatu Dunia
Lebenswelt bukan kekacaubalauan atau chaos, melainkan suatu dunia
Konsep dunia mengandaikan bahwa hal-hal di dalamnya tertata dalam aturan tertentu
yang membedakan diri dengan hal-hal lain di luarnya. Misal: dunia artis, dunia mimpi,
dunia wanita, dunia politis dst.
Dunia itu terbuka untuk diakses; artinya, dunia menunggu untuk dikenali.
Demikian juga dengan Lebenswelt.

Ciri-ciri Lebenswelt
1. Pra-reflektif, yakni manusia lebih menghayati daripada memikirkan dunia itu
2. Taken for granted, yaitu: kita tidak mempersoalkan hal-hal di dalamnya
3. Repetitif, yakni: hal-hal di dalamnya terjadi lagi dan lagi (maka tak dipersoalkan)
4. Antisipatoris, yakni: kita dapat berekspektasi bahwa hal-hal itu akan terjadi lagi dan lagi
di masa depan.
5. Semua praksis keseharian kita bergerak di dalam Lebenswelt itu, karena hanya lewat
eksistensinya, dunia sosial itu mungkin.
Bahasa Ilmiah
Non-evaluatif/deskriptif
Presisi dalam formulasi
Sistem
tautologis/tertutup
Penjelasan lewat bahasa
sehari-hari
Bahasa Sehari-hari
Evaluatif/preskriptif
Penuh ambiguitas
Sistem terbuka
Menjelaskan dirinya
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 5
Dua Wilayah Ilmu Pengetahuan

Apa Isi Wilayah-wilayah Itu?
1. Wilayah Ilmu-ilmu Alam: Komponen-komponen Lebenswelt yang berupa objek-objek
alamiah dan hal-hal yang dapat dimanipulsi dengan tindakan-tindakan instrumental
2. Wilayah ilmu-ilmu Sosial: Komponen-komponen Lebenswelt yang dihayati oleh manusia,
seperti: struktur-struktur simbolis yang memungkinkan komunikasi intersubjektif
Logika sebagai Alat Riset:
Hal-hal dalam wilayah ilmu-ilmu alam dapat dimanipulasi secara kausal, jika riset
mampu merumuskan suatu pengetahuan instrumental murni tentang hal-hal dalam
wilayah itu.
Rumusan pengetahuan instrumental itu adalah logika riset
Logika adalah rumusan linguistis tentang bagaimana hal-hal beroperasi dalam wilayah
ilmu-ilmu alam itu.

Logika Riset:
Disebut juga Silogisme hipotetis:
1. DEDUKSI (MODUS PONENDO PONENS):
Jika p, maka q; dan p; jadi q terjadi
2. No Name:
Jika p, maka q; dan tidak p; jadi??? (tak sahih)
3. INDUKSI:
Jika p, maka q,; dan q; jadi, ??? (juga tak sahih)
4. DEDUKSI (MODUS PONENDO PONENS):
Jika p, maka q; dan bukan q; jadi, bukan p

Apa Asumsi Epistemologis Logika Riset?
Bahwa ada hal-hal dalam Lebenswelt yang beroperasi secara teratur dan mekanis
Bahwa hal-hal itu hanya dapat diketahui lewat pemakaian bahasa yang mekanistis dan
instrumental (yaitu logika riset itu), dan bukan bahasa subjektif (ekspresif) ataupun
intersubjektif (normatif).

Lebenswelt
Wilayah
Ilmu-ilmu Alam
Wilayah
Ilmu-ilmu Sosial
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 6
Konteks-konteks Riset dan Lebenswelt:









Dan Tentang Wilayah Lain?
Wilayah lain dari Lebenswelt yang menjadi konteks praktis riset ilmu-ilmu alam itu adalah
masyarakat dan kebudayaan.
Wilayah lain ini menjadi objek ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan.

Berbedakah Cara Pendekatannya?


Jawaban dari Positivisme
Tidak perlu ada perbedaan sikap terhadap objek itu
Jadi, juga tak perlu ada distingsi metodologis antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial
Kedua ilmu itu menghadapi objeknya sebagai fakta (data indrawi), maka metode ilmu-
ilmu alam dapat diterapkan di dalam wilayah sosial juga.

Positivisme dalam Ilmu-ilmu Sosial
1. Prosedur metodologis ilmu-ilmu alam dapat langsung diterapkan pada ilmu-ilmu sosial
(maka subjektivitas harus dieliminasi)
2. Hasil riset adalah hukum-hukum seperti hukum-hukum alam
3. Ilmu-ilmu sosial harus bersifat teknis, yakni menyediakan pengetahuan instrumental
murni yang value free.

Natural
Sciences
Mengobjektifkan
dan memanipulasi
Memahami dan
berpartisipasi
Lebenswelt
Logika
Riset
Context of justification
Context of discovery
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 7
Jawaban dari Hermeneutik
Wilhelm Dilthey, pendiri pendekatan hermeneutik ilmu-ilmu sosial, berpendapat bahwa
1. Pendekatan kedua ilmu berada pada taraf epistemis yang berbeda, maka metode harus
berbeda
2. Karena objeknya juga berbeda secara ontologis
3. Naturwissenschaften dengan metode Erklaeren; Geisteswissenschaften dengan metode
Verstehen

Distingsi Metodologis

Persoalannya
Bukankah tujuan ilmu pengetahuan adalah prediksi/prognosis atas hal-hal yang akan
datang? Lalu, bagaimana bila ilmu-ilmu sosial (misalnya: manajemen, pendidikan,
sosiologi) hanya memahami makna simbolis? Bukankah tak ada prediksi di situ?
Diskusikanlah: Pro-kontra aplikasi metode ilmu-ilmu alam dalam ilmu-ilmu sosial.

Letak Masalah Positivisme
Jrgen Habermas menunjukkan letak masalah positivisme adalah bahwa positivisme
telah menggantikan pengetahuan reflektif (Reflexionswissen) dengan pengetahuan
instrumental (Verfgungswissen).
Artinya: Wilayah yang seharusnya didekati dengan saling mengerti justru didekati dengan
kontrol dan manipulasi.












Erklren (Explanation)
Menjelaskan hubungan sebab akibat
Bersih dari subjetivitas (distansi
penuh) karena objek itu eksternal
Verstehen (Understanding)
Memahami makna simbolisnya
Intersubjektif (partisipasi) karena
objek itu internal
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 8
FS 03 Asal-usul Sains dan Metodenya

Pengertian Sains:
Sains , berasal dari bahasa Latin scientia yang berarti pengetahuan, merupakan seluruh usaha
sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagain segi
kenyataan dalam alam manusia.
Perkembangan Sains Berkaitan dengan munculnya Unnatural Thinking:
Menurut Lewis Wolpert, sains muncul hanya ketika ada pemisahan antara natural dan unnatural
thinking dimana unnatural thinking dimulai pada masa Thales di Yunani dan berhubungan dengan
keterputusan arti antara keingintahuan akal sehat dan keingintahuan ilmiah.
Sains Modern Bertentangan dengan Metafisika dan Agama:
Kekuasaan gereja Kristen spiritual, idelogi dan politik-berkembang pada semua aspek kehidupan
Gereja menetapkan batas-batas metafisika pada sains serta menjadi gudang pengetahuan -
termasuk pengetahuan ilmiah.
Kasus Galilio Galilei:
Gelileo Galilei Pandangan Gereja
Mendukung Copernicus yang berkata
bahwa bumi beredar mengelilingi
matahari
Berkata bahwa bulan itu kasar dan tidak
rata seperti permukaan bumi
Semakin berat suatu benda semakin
cepat ia jatuh
Bumi adalah pusat tata surya, bulan,
matahari, planet dan bintang bergerak
mengelilingi bumi. Bukti dari penggeraknya,
yaitu Tuhan.
Bulan itu adalah bola sempurna
Benda yang berlainan berat akan jatuh ke
bumi dengan kecepatan yang sama (pada
tekanan udara yang sama)

Kasus Charles Darwin:
Darwin menulis teori Evolusi dimana semua species berhubungan satu sama lain dan mempunyai
"common ancestor" (berasal dari satu garis keturunan) dan melalui mutasi species baru muncul.
Ia yakin akan kebenaran evolusi, namun ia sadar bahwa transmutasi spesies dihubungkan
dengan penyangkalan terhadap Tuhan serta dengan para agitator demokratis di Britania yang
berusaha menggulingkan masyarakat.

Postivisme dalam Sains:
Menurut Auguste Comte, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan
berdasarkan sains
Dapat disimpulkan positivisme memiliki 5 prinsip:
1. Kesatuan metode ilmiah - yaitu, logika penyelidikan adalah sama di semua ilmu (sosial dan
alam)
2. Tujuan penyelidikan adalah untuk menjelaskan dan memprediksi.
3. Pengetahuan ilmiah dapat diuji
4. Sains tidak sama dengan akal sehat. Para peneliti harus berhati-hati untuk tidak membiarkan
akal sehat bias dengan penelitian mereka.
5. Hubungan teori untuk praktek - ilmu harus bernilai senetral mungkin, dan tujuan akhir ilmu
pengetahuan adalah untuk menghasilkan pengetahuan, meskipun ada politik, moral, atau
nilai-nilai yang dipegang oleh mereka yang terlibat dalam penelitian. Sains harus dinilai
dengan logika, dan idealnya menghasilkan syarat-syarat yang universal.

Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 9
Perkembangan Postivsme:
Dimulai oleh Auguste Comte yang ingin menggantikan Catholicism dengan Postivisme, sebagai
usaha untuk menggabungkan resep moral dengan sains yang rasional
Diformulasikan oleh Emile Durkheim
Pada awal abad 20 doktrin ini ditolak oleh Max Weber dan Georg Simmel yang membangun
tradisi antipositivist pada sosiologi
Kemuadian antipostivist dan teori kritik mengasosiasikan positivisme dengan saintisme, dimana
sains sebagai ideologi.
Pada abad 20, positivisme logika berkembang dan menolak spekulasi metafisika dan
menggantinya dengan logika murni untuk kemudian berkembang menjadi post-positivisme

Perbedaan antara Hukum, Teori dan Observasi & Hipotesis:
Hukum Teori Observasi dan Hipotesis
an analytic
statement,
usually with an
empirically
determined
constant
a collection of concepts, including
abstractions of observable phenomena
expressed as quantifiable properties,
together with rules (called scientific
laws) that express relationships
between observations of such concepts.
A scientific theory is constructed to
conform to available empirical data
about such observations, and is put
forth as a principle or body of principles
for explaining a class of phenomena.[1]
Observation is either an activity of a
living being, such as a human,
consisting of receiving knowledge of
the outside world through the
senses, or the recording of data
using scientific instruments
Hyphothesis is a proposed
explanation for a phenomenon.
Scientists generally base scientific
hypotheses on previous
observations that cannot
satisfactorily be explained with the
available scientific theories.

Pengertian Teori menurut para Ahli:
JONATHAN H. TURNER:
Teori adalah sebuah proses mengembangkan ide-ide yang membantu kita menjelaskan
bagaimana dan mengapa suatu peristiwa terjadi
LITTLEJOHN & KAREN FOSS:
Teori merupaka sebuah sistem konsep yang abstrak dan hubungan-hubungan konsep tersebut
yang membantu kita untuk memahami sebuah fenomena
KERLINGER:
Teori adalah konsep-konsep yang berhubungan satu sama lainnya yang mengandung suatu
pandangan sistematis dari suatu fenomena.
NAZIR:
Teori adalah pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa atau
kejadian.
STEVENS:
Teori adalah suatu pernyataan yang isinya menyebabkan atau mengkarakteristikkan beberapa
fenomena
FAWCETT:
Teori adalah suatu deskripsi fenomena tertentu, suatu penjelasan tentang hubungan antar
fenomena atau ramalan tentang sebab akibat satu fenomena pada fenomena yang lain.

Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 10
TRAVERS:
a theory consist of generalizations intended to explain phenomena and that the generalizations
must be predictive. Teori terdiri dar generalisasi yang dimaksudkan untuk menjelaskan dan
memprediksi sebuah fenomena
EMORY COOPER:
Teori merupakan suatu kumpulan konsep, definisi, proposisi, dan variable yang berkaitan satu
sama lain secara sistematis dan telah digeneralisasikan , sehingga dapat menjelaskan dan
memprediksi suatu fenomena (fakta-fakta) tertentu
CALVIN S. HALL & GARDNER LINZEY:
Teori adalah hipotesis (dugaan sementara) yang belum terbukti atau spekulasi tentang
kenyataan yang belum diketahui secara pasti
KING:
Teori adalah sekumpulan konsep yang ketika dijelaskan memiliki hubungan dan dapat diamati
dalam dunia nyata
MANNING:
Teori adalah seperangkat asumsi dan kesimpulan logis yang mengaitkan seperangkat variabel
satu sama lain. Teori akan menghasilkan ramalan-ramalan yang dapat dibandingkan dengan pola-
pola yang diamati.

Hubungan antara Hukum, Teori dan Observasi & Hipotesis:


Hipotetiko-Deduktif dalam Sains Modern:
Deduktif : berpikir Rasional.
Hipotetiko Deduktif menerapkan prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan.
Konsep ini lebih dianggap benar, karena memiliki landasan pemikiran yang dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dengan kata lain bahwa Hipotesis deduksi
ini merupakan identifikasi fakta-fakta apa saja yang dapat kita lihat didalam dunia
fisik yang nyata, dalam hubungannya pada hipotesis yang diajukan.

Masalah Induksi dalam Ilmu Sains:
Induksi adalah pengambilan kesimpulan secara umum dengan berdasarkan pengetahuan yang
diperoleh dari fakta-fakta khusus. Sifatnya khusus, faktanya terbatas dalam mencapai kesimpulan
umum.
Deduksi adalah pengambilan kesimpulan untuk suatu atau beberapa kasus khusus yang didasarkan
kepada suatu fakta umum.
Kesimpulan yang diambil dalam metode induksi ini mencakup hal yang lebih luas
dari fakta-fakta sebelumnya sehingga berpotensi salah.




Teori
Observasi
&
Hipotesis
Hukum
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 11
FS 04 Langkah langkah Riset Ilmiah

Tujuan Instruksional Khusus :
Mahasiswa dapat menjelaskan perbedaan hakiki antara hukum ilmiah dan teori ilmiah
Pembicara :
Florentina Endang
Natali Kristin Sibarani

Hubungan antara observasi, interpretasi dan konstruksi pikiran:



Hipotesis:
Hypothesis is a two way streets, extending back to explain the past and forward to
predict the future.
Hypothesis is to explain some otherwise unexplained happenings by inventing a plausible
story, a plausible description or history of relevant portions of the world.
Merupakan kesimpulan sementara yang masih harus dibuktikan.
Satu asumsi atau praanggapan yang berperan sebagai penjelasan tentatif.

Five virtues that a hypothesis may enjoy in varying degrees:
Conservatism
The hypothesis may have to conflict with some of our previous beliefs, but the fewer the
better. The less rejection of prior beliefs required the more plausible the hypothesis.
Modesty
If the hypothesis is weaker in a logical sense, its implied by the other without implying it.
Simplicity
There is a nagging subjectivity. This subjectivity of simplicity is puzzling, if simplicity in
hypothesis is to make for plausibility.
Generality
The wider the range of application of a hypothesis, the more general it is. Generality
makes a hypothesis interesting and important if true.
Refutability
Some imaginable event, recognizable if it occurs must suffice to refuse the hypothesis.
Observation is either an activity of a living
being, such as a human, consisting of
receiving knowledge of the outside world
through the senses, or the recording of data
using scientific instruments
Interpretation is an
attempt to make clear, to
make sense of an object
of study.
When what is observed is characterized so differently as 'young
woman or 'old woman', is it not natural to say that the observers
see different things? Or must 'see different things' mean only 'see
different objects'?
Observers make the same observation since they begin from the
same visual data. But they interpret what they see differently.
They construe the evidence in different ways. The task is then to
show how these data are moulded by different theories or
interpretations or intellectual construction.
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 12
Ciri-ciri Hipotesis yang baik:
Hipotesis ilmiah harus memenuhi syarat sebagai berikut:
Hipotesis harus dapat diuji kebenarannya (testable)
Hipotesis harus sederhana (simple)
Hipotesis harus bersifat umum (general)
Hipotesis harus dapat menjelaskan fakta-fakta (plausible)

Hipotesis dan Hukum Ilmiah:



Perbedaan Hukum Empiris dan Hukum Teoretis:


Hypothesis
A rational explanation of a single event
or phenomenon based upon what is
observedphenomenon based upon what
is observed, but which has not been
proved. Most hypotheses can be
supported or refuted by experimentation
or continued observation.
Scientific Law
Scientific laws dont really need any
complex external proofs; they are accepted
at face value based upon the fact that they
have always been observed to be true.
Specifically, scientific laws must be simple,
true, universal, and absolute. They
represent the cornerstone of scientific
discovery, because if a law ever did not
apply, then all science based upon that law
would collapse.
Example : the law of gravity, Newton's laws of
motion, the laws of thermodynamics, Boyle's
law of gases, the law of conservation of mass
and energy, and Hooks law of elasticity.
Empirical Laws

Empirical Laws are laws that
can be confirmed directly by
empirical observations (laws
about observable)
Containing terms either directly
observable by the senses or
measurable by relatively simple
technique
Include qualitative and
quantitative laws
Even its a tentative hypothesis
(confirmed only to a low degree)
still be an empirical law
Scientist makes repeated
measurement, find regularities
and express them in a law.
Example : Ohms law, pressure,
volume and temperature of gases.
Theoretical Laws

Called abstract or hypothetical
laws
Non-observable
Is distinguished by the fact that
if contains terms of a different
kind
More general than empirical
laws
Example :
The laws about molecule, atoms,
electron, proton, electromagnetic
field.
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 13
Hubungan antara hukum ilmiah dan teori ilmiah:
Both a scientific theory and a scientific law are accepted to be true by the scientific
community as a whole and are used to make predictions of events.
Both are used to advance technology.
A theory is developed only through the scientific method, meaning it is the final result of
a series of rigorous processes.
Scientific laws must exist prior to the start of using the scientific method because laws
are the foundation for all science.
Some laws, such as the law of gravity, can also be theories when taken more generally.
For example, the law of gravity is expressed as a single mathematical expression and is
presumed to be true all over the universe and all through time. Without such an
assumption, we can do no science based on gravity's effects. But from the law, we
derived the theory of gravity which describes how gravity works, what causes it, and how
it behaves. We also use that to develop another theory, Einstein's General Theory of
Relativity, in which gravity plays a crucial role. The basic law is intact, but the theory
expands it to include various and complex situations involving space and time.

Context of Discovery dalam Sains:



Riset Ilmiah
Ilmuwan menemukan kejanggalan-kejanggalan yang muncul
dalam hidup sehari-hari yang merupakan masalah / problem
Context of discovery adalah proses mengidentifikasi masalah
berdasarkan munculnya anomali-anomali atau problem dan
menyusun hipotesis untuk memecahkannya
Terkait dengan: sejarah ilmu pengetahuan , temuan (inovasi) yg
muncul dalam proses kegiatan ilmiah dan munculnya teknologi yg
dipakai dalam kehidupan manusia (teknologi tepat guna)
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 14
Context of Justification:


Context of discovery Vs Context of Justification:


Ilmuwan mencoba mencari pendasaran/alasan rasional dari
hipotesis-hipotesisnya dengan bukti-bukti empiris.
Context of justification adalah proses memberikan pendasaran-
pendasaran logis dari hasil-hasil temuan (proses reasoning)
Terkait dengan pikiran dan penalaran yg valid , ilmu
pengetahuan metodologi dan metode , Objek (yang ingin
diteliti) dalam sebuah penelitian , kebenaran/ objektivitas
dari realitas
Context of Justification

Ilmu pengetahuan harus bebas nilai
Ilmu pengetahuan tidak terikat
dengan nilai-nilai di luar ilmu
pengetahuan tetapi berdasar bukti
empiris dan kebenaran hipotesa.
Context of Discovery

Ilmu pengetahuan tidak
bebas nilai
Ilmu pengetahuan harus
peduli terhadap nilai-nilai
di luar ilmu pengetahuan
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 15
FS 05 Ilmu Sosial sebagai Sains

Contoh Ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan:
Antropologi manusia pada umumnya, dan khususnya antropologi budaya, yang
mempelajari segi kebudayaan masyarakat
Ekonomi produksi dan pembagian kekayaan dalam masyarakat
Geografi lokasi dan variasi keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas
permukaan bumi
Hukum sistem aturan yang telah dilembagakan
Linguistik aspek kognitif dan sosial dari bahasa
Pendidikan masalah yang berkaitan dengan belajar, pembelajaran, serta
pembentukan karakter dan moral
Politik pemerintahan sekelompok manusia (termasuk negara)
Psikologi tingkah laku dan proses mental
Sejarah masa lalu yang berhubungan dengan umat manusia
Sosiologi masyarakat dan hubungan antar manusia di dalamnya

Ilmu Sosial vs Ilmu Alam
The Ground of Comparison
1. Ketetapan dalam pengamatan
2. Objektivitas dalam pengamatan dan penjelasan
3. Pemastian untuk hipotesis
4. Ketepatan penemuan
5. Pengukuran fenomena
6. Adanya hubungan numerik yang konstan
7. Meramalkan kejadian masa depan
8. Jarak dari pengalaman sehari-hari
Kriteria perbandingan ilmu sosial dan ilmu alam
Are the Social Sciences really Inferior?
- Fritz Machlup-

1. Ketetapan dalam pengamatan
Heinrich Rickert :
o Generalisasi ilmu alam
o Individualistis ilmu fenomena budaya
o Ada perbedaan sejumlah faktor dalam ilmu sosial dan ilmu alam yang relevan akan
digunakan untuk menjelaskan atau memprediksi peristiwa yang terjadi di dunia nyata

2. Objektivitas dalam pengamatan dan penjelasan
o Ilmu alam harus obyektif dan tidak terpengaruh perkembangan nilai. Namun, sudah
menjadi sifat Ilmu sosial untuk peduli dengan nilai-nilai, sehingga mereka kurang
ketertarikan pada objektivitas ilmu alam
o Fenomena sosial harus dijelaskan sebagai hasil dari tindakan manusia yang
termotivasi

Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 16
3. Pemastian untuk hipotesis
Verifikasi tidak mudah dalam ilmu sosial, sedangkan hal ini merupakan hal yang
utama untuk para peneliti ilmu alam
Hambatan dalam ilmu sosial :
Ketidakmungkinan dalam mengontrol eksperimen
Jumlah yang relatif besar dari variabel-variabel yang relevant

4. Ketepatan penemuan
o Keberadaan sistem teoritis ada dalam ilmu biologi dan ilmu ekonomi
o Dalam ilmu sosial keberadaan sistem teori tersebut lebih sedikit dibandingkan ilmu
alam

5. Pengukuran fenomena
Ilmu Alam Ilmu Sosial
Kuatnya fakta-fakta alam
Dapat diukur (skala, speedometer,
termometer)
Pengalaman indrawi (sense) ilmuwan
alam mengacu pada data
Lemahnya fakta-fakta dalam
masyarakat
Tidak bisa diukur
Penafsiran akal oleh ilmuwan sosial
dari pengalaman yang khas dalam
anggota masyarakat mengacu pada
bermacam-macam variabel

6. Adanya hubungan numerik yang konstan
Keberadaan ketetapan, mendalilkan atau empiris, ada dalam ilmu fisika dan ilmu alam
lainnya, sedangkan tidak ada ketetapan numerik yang dapat ditemukan dalam studi
masyarakat.

7. Meramalkan kejadian masa depan
Ilmu Alam Ilmu Sosial
Para ahli dalam ilmu alam biasanya tidak
mencoba untuk melakukan apa yang
mereka tahu bahwa mereka tidak bisa
melakukan (meteorologi ramalan cuaca)
Ilmuwan sosial diharapkan dapat
meramalkan masa depan dan mereka
merasa buruk jika gagal (inflasi, pengaruh
import, export ataupun pajak )

8. Jarak dari pengalaman sehari-hari
o Ilmuwan alam lebih banyak membicarakan tentang nukleus, galaksi, kromosom, fosil
atau segala sesuatu yang mungkin orang biasa akan terheran-heran, karena ternyata
ada yang mempedulikan hal-hal tersebut.
o Ilmuwan sosial lebih banyak berbicara tentang manusia dan dunia sosialnya, justru
seringkali lebih banyak berbicara tentang diri mereka sendiri
o Dalam ekspresi bahasa, ilmu sosial lebih dekat dengan bahasa yang hampir ilmiah

Conceptualising a social science:
Naturalisme
Metode kesatuan
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 17
Naturalisme berarti bahwa manusia merupakan bagian dari tatanan alam yang objektif
dan bahwa dunia sosial merupakan kelanjutan yang berkembang dari dunia fisik.
Naturalisme secara historis mengambil beberapa bentuk dalam ilmu sosial, seperti
positivisme dan realisme dan secara epistemologis dicerminkan dalam ilmu alam
Sifat-sifat dari dunia fisik, dapat diketahui secara obyektif oleh pengamat, tetapi sifat-
sifat yang berasal dari dunia sosial harus dipelajari secara subyektif melalui strategi
penafsiran

Penemuan di dunia sosial
Dunia sosial sebuah konstruksi teoritis dari ilmuwan sosial atau filsuf
Orang tidak membedakan secara jelas antara karakteristik dunia sosial dengan dunia fisik
Bahasa yang digunakan setiap hari adalah bahasa sebab akibat.
Ilmuwan sosial menyebut bahwa dunia sosial sering memiliki sifat fisik yang diproduksi
atau ditafsirkan dalam kehidupan sosial.




Laws , Causes, and Association

Salah satu ciri psikologis manusia adalah mencari keteraturan.

Pencarian atas keteraturan

Regularities which are discovered to hold at all the time and in all circumstances are laws of
nature and the aspiration of many supporters of naturalistic social science is to be able to
identify their social equivalent (Hempel 1994).

Sementara hukum fisika bisa dikembangkan, digantikan, atau terkadang salah, hukum-
hukum sosial seringkali perdebatan.

MENGAPA ?
1. Hukum sosial mengacu pada fenomana dalam sejarah atau konteks sosial tertentu.
2. Hukum sosial hanya berlaku secara umum, tidak spesifik.

Suatu kejadian atau kumpulan kejadian-kejadian dapat dikatakan memberi pengaruh jika
ada hukum yang berlaku umum, yang mengkaitkan kondisi sebelum kejadian dengan kondisi
sesudah kejadian.

Dengan bantuan Laws kita bisa mempunyai gambaran tentang sebuah kejadian, serta
menjelaskan pengaruh dan akibat dari kejadian tersebut. eg. HUKUM PERMINTAAN (dalam
Ilmu Ekonomi)

Jadi, hukum dalam ilmu sosial dibutuhkan jika ada kejadian sosial. Kejadian-kejadian sosial
inilah yang disebut CAUSES (penyebab).

Sebenarnya kenyataan ini bukanlah suatu yang baik bagi ilmu sosial. Banyak ilmuwan yang
menyatakan bahwa, karena berbagai alasan, hukum dalam ilmu sosial bisa saja tidak
berlaku.

Hukum sosial CONTINGENT mungkin, tidak pasti.
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 18
Mengapa:
1. Manusia mempunyai free will
2. Tidak ada yang bisa menentukan kehidupan sosial akan menjadi sebuah kondisi tertentu.

Tidak ada keteraturan universal dalam kehidupan sosial, semua tergantung waktu dan
tempat.

Laws can refer to a correlation of facts about the world.

Hukum-hukum dalam ilmu fisika, dalam kondisi tertentu, bisa saja tidak berlaku.
Zat cair dipanaskan akan memuai; TELOR ?
Semua logam adalah padat; AIR RAKSA ?

Melihat kondisi tersebut, maka bisa pula dibangun hukum dalam ilmu sosial.
1. Hukum sosial dapat mengkaitkan suatu sejarah dan wujud kebudayaan tertentu, dan
ini pada akhirnya bisa mewujudkan suatu hukum yang lebih umum (Grand Theory),
yang menyatukan hal-hal khusus tersebut.
2. Hukum sosial, memang seakan-akan bersifat probabilitas, yang bisa menjelaskan
perilaku umum, tapi tidak bisa menentukan tindakan individu-individu secara
peribadi.
3. Suatu kejadian tertentu bisa saja tidak sesuai dengan suatu hukum sosial, tapi
kejadian tersebut tidak bisa membuat hukum sosial tidak berlaku

Sebagaimana teori, hukum hanyalah generalisasi, yaitu pengkaitan alasan-alasan atas suatu
kejadian.

Dalam prinsip Kausalitas (sebab-akibat), dikenal adanya sebuah kejadian yang didahului oleh
suatu kejadian lain. Dengan kata lain kejadian pertama, menyebabkan terjadinya kejadian
kedua.



Inilah yang dimaksud dengan ASOSIASI
Asosiasi dari beberapa variabel membentuk generalisasi
(-baca HUKUM)
eg.

Dalam ilmu fisika:
- Air minum dipanaskan menguap
- Air sumur dipanaskan menguap
- Air laut dipanaskan menguap_____
Zat cair dipanaskan menguap.
Bagaimana dengan telur ?

Event 1 Event 2
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 19
Dalam ilmu sosial:
- Andi, SMP, kemampuan ekonomi lemah
- Budi, SMA, kemampuan ekonomi menengah
- Charlie, Sarjana, kemampuan ekonomi tinggi
Tingkat pendidikan berbanding lurus dengan tingkat kemampuan ekonomi.
Tapi ada Doni (SD) tingkat kemampuan ekonomi tinggi?

Summary :



Theories, Measurement and Explanation, Interpretation

Teori, Pengukuran dan Penjelasan, Interpretasi

Dalam sejarah perkembangan ilmu sosial, Grand Theory telah mendominasi , sangat
mempengaruhi penelitian empiris.
Teori Fungsi Parson : Amerika tahun 50-an
Teori Marx : Eropa tahun 60-70 an

Walaupun demikian kuatnya kaitan Grand Theory dengan Ilmu Sosial Empiris tergantung
pada disiplin ilmunya.
LAW
Association
Causes
Event A Event B
Event P Event Q
Event X Event Y
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 20
- Sosiologi kaitannya lemah, Unrt Robert Merton diperlukan adanya Teori
penghubung yang menjembatani dengan suatu Hipotesis Teori Fungsi.
- Ekonomi dianggap sebagai Ilmu Sosial yang paling ilmiah, kaitan antara Grand
Theory dengan Hipotesisa sangat kuat.

Hampir semua Ilmu Sosial mengacu Tindakan & Struktur.
- Teori Klasik Durhein: Struktur Sosial mempengaruhi tindakan dan karakter individu
individu.
- Teori Weber: Kehidupan Sosial dibentuk oleh individu melalui tindakan yang
mengacu pada pemahaman atas dunia.
- Gidden , Buordien, Haberances: Sruktur Soisal terbentuk dan diubah oleh individu
individu.
- Teori Tindakan Rasional: Sruktur Sosial merupakan hasil dari kebiassaaan rasional
dari individu individu.

Ketidaksesuaian dengan teori , dalam ilmu sosial, tidak mengurangi Validitas Penelitan
Empiris, karena:
1. Dalam beberapa disiplin ilmu sosial, banyak penelitian yang tidak bermaksud
menguji teori .
Penelitian Kuantitatif mempunyai dua bentuk:
- Pengumpulan Data yang sangat besar, yang diperoleh dari hasil Survey atau
sensus hanya bertujuan untuk mendapatkan Data bagi Pengambil , bukan
untuk menguji teori.
- Survey atas topik tertentu Survey Of Sexual Atitudes and Lifestyles ddi
Inggris. Tidak ada teori yang diuji, mencari bentuk bentuk praktek sesual dan
keyakinan tentang Sex, yang pada akhirnya menghasilkan Strategi untuk
mengurangi resiko tertular AIDS.

2. Banyak juga penelitian sosial yang tidak dipengaruhi oleh Grand Theory
Penelitian dipengaruhi oleh tindakan dan struktur tapi tidak mengacu pada teori.

Ilmu sosial mencari penjelasan atas sebanyak mungkin situasi.

Variabel dalam ilmu alam bisa dibuat konstan (suhu, tekanan) walau terkadang mungkin
ddilakukan dalam ilmu sosial , hal ini juga jarang dilakukan karena kita tidak bisa
mengontrol ssemua variabel, bahkan seringkali kita tidak tahu variabel apa saja yang
mempengaruhi penelitian tersebut.

Strateginya :
- Pada waktu T1: 2 kelompok responden disurvey. Variabel variabel yang diukur pada
dua kelompok tersebut adalah sama.
- Pada waktu T2: Salah satu kelompok mengalami perubahan yang bisa diukur dan
dibandingkan dengan kelompok yang tidak mengalami perubahan tersebut.

Variabel: suatu cara atau karakteristik yang dapat dijelaskan dan diukur.

Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 21
Variabel bisa bermacam dan bisa memiliki lebih dari satu atau kategori kategori
didalamnya.

Teori menjelaskan apa saja yaang termasuk variabel dan konstanta.

Pengukuran Variabel:
= B1 Variate: 2 Variabel
= Multivariate: banyak variabel yang diteliti dalam waktu bersamaan.
Menghasilkan penjelasan atas suatu kejadian, mungkin tidak fokus, tetapi memberikan
peluang bagi penelitian lanjutan yang lebih fokus.

Hasil dari pengukuran ini merupakan penjelasan dari suatu penelitian.

Usaha untuk mengerti eksplanasi Interpretasi.

Manusia memiliki kemampuan untuk mengerti atau setidaknya berusaha untuk
mengerti tindakan yang dilakukannya melalui intropeksi, manusia juga mampu alasan
seseorang melakukan sesuatu.

Bagi para anti-naturalis dalam usaha memahami, tidak perlu membuat penjelasan atau
prediksi.

Dari sudut pandang ilmiah, metode interprataativ merupakan pra-ilmiah, karena
memberikan Hipotesis yang bisa diuji.

Summary :
Proses pemahaman interpretasi
Variabel diukur
Hasil pengukuran atas variabel merupakan
penjelasan atas fenomena
penelitian
perlu teori
Fenomena /
Kejadian
Teori
- Variabel 1
- Variabel 2
- Variabel 3

Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 22
FS 05 POSITIVISME DALAM ILMU-ILMU SOSIAL
Oleh:
Elisabeth Endah Susanti
Lakasianus Tamnau


Sejarah Positivisme:
O Aliran positivisme muncul pada abad XIX.
O Aliran ini muncul berbarengan dengan dua aliran besar yakni Idealisme Jerman dan
Materialisme.
O Tokoh-tokoh penting aliran positivisme adalah Auguste Comte (1798-1857), John Stuart
Mill (1806-1873) dan Herbert Spencer(1820-1903)
O Comte adalah orang yang bertanggung jawab atas penerapan positivisme dalam filsafat

Dasar filsafat Positivisme:
O Filsafat kuno: Comte meminjam pengertian Aristoteles tentang filsafat, yaitu konsep-
konsep teoritis yang saling berkaitan satu sama lain dan teratur.
O Sains modern: Comte menggunakan ide positivistik ala Newton, yakni metode filsafati
yang terbentuk dari serangkaian teori yang memiliki tujuan mengorganisasikan realitas
yang tampak.

Konsep Positivisme oleh Aguste Comte:
Cara pandang dalam memahami dunia berdasarkan sains.
Manusia tidak pernah mengetahui lebih dari fakta-fakta (yang nampak)/manusia tidak
pernah mengetahui sesuatu di balik fakta.
Tugas ilmu pengetahuan dan filsafat adalah menyelidiki fakta-fakta bukan menyelidiki
sebab-sebab terdalam dari realitas. Positivisme menolak metafisika.

LAW OF THREE STAGES:
Comte berpendapat bahwa dari hasil studi tentang perkembangan intelektual manusia
sepanjang sejarah, kita bisa menemukan hukum yang mendasarinya. Hukum ini, yang
kemudian dikenal sebagai Law of Three Stages yakni:
1. Kondisi teologi yang bercorak fiktif.(titik awal dalam memahami dunia)
2. Kondisi metafisis yang bercorak abstrak (tahap transisi)
3. Saintifik atau Positive. (tahap akhir dan definitif dari intelektualitas manusia)

Perbedaan antara Positivisme dan Empirisme:
Positivisme hanya menerima pengalaman objektif atau fakta-fakta yang ada dalam diri
manusia, sedangkan Empirisme adalah filsafat yang berdasarkan pengalaman dan fakta
yang dihadapi dalam kehidupan sosial.

Isi ajaran Neo-Positivisme
(Lingkungan Wina)
Menolak pembedaan ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial
Menganggap pernyataan yang tak dapat diverifikasi seperti etika, estetika dan metafisika
sebagai pernyataan yang tak bermakna/nonsense
Berusaha menyatukan semua ilmu pengetahuan ke dalam satu bahasa ilmiah universal
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 23
Memandang tugas filsafat sebagai kata-kata/pernyataan.
Jadi inti utama dari para pemikir positivisme logis adalah suatu pernyataan hanya
bermakna, jika pernyataan tersebut dapat diverfikasi dengan data inderawi, dengan kata
lain, jika suatu pernyataan tidak dapat dibuktikan secara inderawi, maka pernyataan
tersebut adalah tidak bermakna.

Kritik Popper atas inti ajaran Lingkungan Wina:
Popper menentang prinsip demarkasi antara ilmu yang bermakna dan tidak, berdasarkan
metode verifikatif induktif. Dia mengusulkan suatu demarkasi lain yaitu demarkasi antara
ilmu yang ilmiah dan tidak, berdasarkan tolak ukur pengujian deduktif.
Metode verifikasi induktif diganti dengan metode falsifikasi deduktif.(Melihat dari sudut
pandang kesalahan; dengan menganggap sebuah teori salah dan dengan segala upaya
dibuktikan kesalahan tersebut hingga mutlak salah, dibuatkan teori yang baru untuk
menggantikannya.

Ilmu-ilmu sosial itu bebas nilai (value free):
Ilmu harus bebas dari pengandaian-pengandaian yaitu bebas dari pengaruh eksternal
seperti: faktor politis, ideologi, agama, budaya, dan unsur kemasyarakatan lainnya.
Perlunya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin.
Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering dituding menghambat
kemajuan ilmu, karena nilai etis itu sendiri bersifat universal.
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 24
Problem Mutakhir Keabsahan Pengetahuan
Dr. F. Budi Hardiman

Agenda:
1. Pengetahuan dan Keilmiahan (K.R. Popper)
2. Pengetahuan dan Ideologi (P. Feyerabend)
3. Pengetahuan dan Bahasa (R. Rorty)

Sejarah Objektivitas Pengetahuan:
Sejak ajaran Plato tentang doxa dan episteme, filsafat mencari objektivitas pengetahuan:
Bacon (idola), Descartes (cogito), Locke (pengelaman), Comte (fakta)

Apa itu Objektif?
1. Tak berkaitan dengan subjek (bukan subjek)
2. Tak ada tambahan apapun dari subjek (interpretasi)
3. Berada di luar subjek sebagai entitas otonom.

Keilmiahan
Jika sains adalah bentuk pengetahuan metodologis, keilmiahan terkait dengan:
1. Ketepatan metodis
2. Objektivitas pengetahuan
3. Pembuktian empiris
4. Correspondence theory of truth.

Duduk Perkara: Bagaimana mencapai pengetahuan ilmiah?

Karl R. Popper
Lahir di Wina 28.7.1902
Tak puas dengan Gymnasium, ia belajar di rumah, lalu masuk Uni Wina
1918
Bergabung dengan politik kiri dan Marxis, tapi lalu meninggalkan haluan ini
1925 ia mendapat diploma untuk mengajar di SD dan 1928 meraih gelar
Ph.D. dalam filsafat.
Pernah bergabung dengan Vienna Circle (Carnap, Neurath, Kraft, Hahn,
Feigl), namun lalu mengkritiknya.
1937 mengajar filsafat di New Zealand
1946 mengajar di LSE
1949 profesor di Uni London
Penulis, penyiar, dosen ini meninggal 1994


Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 25
Demarkasi Ilmu dan Non-Ilmu:
o Popper tak setuju dengan demarkasi antara meaningful dan meaningless dari
Lingkungan Wina.
o Ia setuju dengan Hume bahwa induksi tidak sahih, namun a juga menunjukkan bahwa
ilmuwan tidak memakainya.
o Tak ada observasi empiris murni, melainkan selalu bermuatan teori.
o Induksi bukanlah pembeda antara sains dan non-sains, karena tak ada metode khas
untuk sains; sains hanyalah bagian dari praktik manusia untuk memecahkan masalah
o Sains mulai dari problem, bukan dari observasi
o Alih-alih induksi, ia menerima deduksi sebagai logika ilmu.
o Jadi, demarkasi itu dibatasi oleh asas falsifikasi



Falsifikasi
o Setiap pengujian ilmiah berupa falsifikasi, yaitu membuktikan suatu hipotesis sebagai
salah. Jika hipotesis itu tidak gugur, ia diteguhkan sampai ia gugur dalam falsifikasi lain.

Falsifikasi = Deduksi
Modus tollendo tollens
Jika p, maka q
Dan bukan q
Maka bukan p

Yang Tidak Ilmiah /Non-Sains
Metafisika/teologi
Psikoanalisis
Estetika
Etika
Astrologi
Mengapa? Karena mereka tidak dapat difalsifikasi (secara empiris).

Bagaimana Sains berkembang?
= Melalui problem-problem yang harus dipecahkan
= Teori adalah masalah kreativitas, bukan logika semata
= Lewat pengujian deduktif atas teori
= Hipotesis difalsifikasi/diteguhkan
= Aplikasi empris teori

Non-ilmiah
Falsifiability
Ilmiah
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 26
Gambaran Popperian tentang Sains:
Sains bukanlah produk ksimpulan induktif atau pembuktian deduktif lewat eksperimen,
melainkan semua pengetahuan itu hipotetis, provisional, conjectural.
Teori-teori ilmiah tak dapat secara final dibuktikan; yg dpt dilakukan adalah
memfalsifikasi mereka atau meneguhkannya (secara sementara)
Perkembangan sains terjadi lewat kritik dan falsifikasi, bukan verifikasi; kritik adalah
hakikat rasionalitas
Makin informatif suatu teori, makin prediktif ia, tapi juga teori ini makin terbuka pada
falsifikasi. Jadi, makin informatif, makin kurang mentaklah (probable) teori itu. Mengapa?
Karena makin banyak cara untuk memfalsifikasi teori itu.
Artinya: Suatu teori makin ilmiah, jika makin banyak cara untuk memfalsifikasi teori itu
Suatu teori yang sulit difalsfikasi justru tidak ilmiah

Kebenaran:
= Asas falsifikasi dalam sains menyiratkan bahwa kebenaran tidak pernah dicapai secara
final. Popper sendiri enggan memakai kata kebenaran; ia memakai kata corroborated
(diteguhkan).


Pengetahuan dan Ideologi

Paul Feyerabend



Feyerabend dan Warisan Pencerahan:
o Pemisahan sains dan mitos sebagai warisan Pencerahan patut dire-evaluasi: Tidakkah
sains menempati posisi monopoli tafsir yang dulu ditempati mitos?
o Setuju dengan Mazhab Frankfurt: Sains memiliki karakter sebuah ideologi dalam
masyarakat modern
o Lawan sains (mitos, agama, tahayul dst.) tetap vital

Karakter Ideologis Sains:
1. Metode sains penuh dengan asumsi-asumsi kosmologis. Misal: falsifikasionisme
mengandaikan bahwa hukum-hukum alam itu jelas; atau empirisme mengandaikan
bahwa pengalaman indrawi adalah cermin alam.
2. Sains tidak meyakinkan para lawannya, melainkan menekan mereka dengan kekerasan
dan bukan argumen
3. Munculnya sains modern bersesuaian dengan kolonisasi kebudayaan-kebudayaan non-
barat oleh para kolonial Barat. Hal ini juga merupakan penindasan intelektual (mereka
kehilangan otonomi intelektual karena dianggap invalid). Pengobatan alternatif,
perdukunan, astrologi dianggap irrasional dst.
Lahir di Wina 1924
1943 ibunya bunuh diri
1951 doktor filsafat
1952 murid Popper di LSE
1975 Against Method
1994 mati di Zurich
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 27
4. Otoritas sains dalam masyarakat modern melampaui otoritas-otoritas lain (mirip seperti
Gereja Katolik ), sehingga seperti agama (Katolik) para ilmuwan juga meyakini extra
scientiam nulla salus; sains adalah pemegang monopoli kebenaran.
5. Sains itu unggul bukan karena kebenarannya, melainkan karena sukses propaganda para
pendukungnya dan koersi institusionalnya.

Jalan Keluar Feyerabend:
Ada dua jalan:
(1) Anti-metode;
(2) Anti-Sains.

Anti-Metode
o Klaim bahwa sains memiliki satu metode universal dan berlaku terus adalah tidak
realistis dan jahat.
o Tak realistis, karena sains bertolak dari konteks kehidupan yang kompleks
o Jahat, karena memaksakan hukum-hukum yang mempertaruhkan kualitas kemanusiaan
kita
o Asas pengembangbiakan: Tidak menindas produk pemikiran manusia yang paling aneh
sekalipun; tiap orang boleh melakukan kecenderungannya.
o Asas Anything goes: Semua metode yang paling jelas sekalipun terbatas; satu-satunya
aturan yang berlaku dalam sejarah adalah apapun boleh.

Anarkhisme Epistemologis
Tak selalu memusuhi (juga loyal atas) negara, kuasa, ideologi; anarkhis epistemologis
mirip seorang Dadais: ia dadais sekaligus antidadais.
Jadi, anarkhis epistemologis bisa saja mirip anarkhis politis dalam perlawanannya
terhadap sains, namun sekaligus ia mendapat Nobel karena kegigihannya menjaga
kemurnian sains.
Anarkhis epistemologis tak sama dengan skeptikus yang menyangsikan suatu
pandangan; anarkhis ini bisa saja membela pandangan yang sudah basi sekalipun.
Tujuan sesungguhnya anarkhisme: terapi atas sakit epistemologis akibat kekakuan
metodis sains; menciptakan masyarakat bebas yang lebih manusiawi.

.
.
.
.
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 28
The Rise of Reason: Rationalism
Lecture 5
Coordinator: Dr. F. Budi Hardiman


Could you comment this picture? What is it, if it symbolize certain situation of knowledge?

Ignorance
Blindness
Unconsciousness
Emptiness
Nothingness
.(say something)

Watch this picture. Could you interpret its meaning?


Light
Illumination
Enlightenment
Knowledge
Revelation
..(give your opinion)

If the light means knowledge, where does it come from?



The Rise of Reason
In the beginning of 17
th
Century people in the West started to question their tradition,
history and religion that served as foundations of knowledge. Instead of the use of the
power of tradition and religious dogmas they preferred to use reason alone to explain
world, self and society.

Mystical
origin?
Or follow the tradition?
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 29
The preference for reason to explain all things could be shown in the arguments of Rene
Descartes. He is the father of Western rationalism because he convinced us to take reason as
the only reliable foundation of our knowledge

Biographical Notes


What happens, if I doubt everything?
Our knowledge comes from tradition, authority, socialization
etc. Is it fictitious or real? If we doubt the mathematical axioms,
metaphysical claims, religious beliefs or everything in our
experience or sense of perception, then we stay in an situation
in which we loss all certainty. The dream or fiction cannot be
differed from the reality. Descartes provoked us to assume that
the material world is only an impression that is produced by a
genius malignus (an intelligent devil).

Cogito or The Result of the Doubt about the Doubt
If we doubt everything, i.e. the material world outside or the spiritual world inside, we
reach the point in which we are doubting cannot be doubted anymore. So, the fact
that we are doubting is not doubtful, but certain. It is not refutable.
Descartes concludes that I doubt or I think (Latin: cogito) is the certain and solid
foundation of our knowledge.

Je pense donc je suis
I think cannot be refused. It
means also that I think exists. In
other words, my consciousness that
I am thinking now demonstrates
that I exist as a thinking being.
Descartes says shorter: Je pense
donc je suis (I think therefore I am/
Cogito ergo sum).
1596: born on 31
st
March in La Haye Touraine
1604: entered the Jesuit College in La Fleche, studied
natural sciences and philosophy of scholastics i
1613: studied law Poitiers
1615: studied mathematics in Paris
1617: Military service in Bavaria, Germany
1621: Traveled to Swiss, Poland, Italia
1625: lived in Paris
1629: emigrated to Netherland
1637: published Discours de la Methode
1641: published Meditationes de prima Philopophia,
debated with Gassendi, Hobbes and Mersenne
1644: published Principia Philosophiae
1650: was dead in Stockholm
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 30
The Consequences of the These on Cogito
The reality outside of us is constructed by our thought. As a construction of our
consciousness it depend on our subjectivity.
The reason, i.e. our faculty of thinking, is the only source of human knowledge. It is a
priori in character, i.e. the knowledge does not come from the experience, but from the
logical principles of our reason.
These consequences are very critical, because they test belief, dogma or authority under
the control of reason.

Clara et distincta
Why the rational knowledge is reliable in comparison say with religious belief,
tradition or other source of knowledge?
Because it is clear and distinct.
Clear = our reason knows the reality by making clear definition of it and this definition is
regarded as coextensive with it.
Distinct = reliable knowledge is achieved by making distinction between different
realities (like matter and spirit, body and mind etc.).

So, modern Western thought as expressed in modern sciences operates with concepts and
rational distinctions.

The Doctrine of Innate Ideas:
Where do the I think come from? Descartes answers this question that *1+ the faculty
of thinking is inherent to us. It is an innate idea that we have since we were born.
There are another innate ideas, i.e. [2] the idea of extension through which we know our
body and the material reality outside of us and [3] the idea of God by which we strive to
perfection.

Rationalism
Cartesian argumentation provided a basis for a way of knowing the reality that is called
rationalism. According to this way of knowing, source of knowledge is not our sense-
experience but our reason. Reason is the only source of knowledge that assures truth.
So, rationalism used deductive logics as procedure of reasoning. The ultimate true
knowledge is mathematics, because it gains its knowledge deductively.

Western thought is basically rationalist since it presupposes that reason (not tradition or
revelation) is the source of our knowledge. So, rationalism gave way to the development
of rational knowledge.

Cogito ergo sum means that only our consciousness assures our existence.
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 31
Foundation of Science: Empiricism
Dr. F. Budi Hardiman


What is it?
How do you know it?
Is it real?
What does real mean?

How do we know a table as it is?
o The rationalist answered that the table is already in our head as an idea. Without the
idea of table (extension) the external reality seems to us as a chaotic landscape. The idea
structures it as a form of table.
o The empiricist found the other answer: We cannot have the idea of table in our head, if
we dont touch or experience the table outside our head. The objective world is real and
not only our rational construction. It exists, therefore it has an ontological status.

What is it?
How do you know it?
Is it real?
What do you mean
with real?

Without experience we cannot know the
world outside ourselves. To know something
we must open the windows of knowledge in
us, that is our senses.

The external world must be presupposed as
real, that is independent of our thought and
enters our thought through our senses.

Some people indeed experience Kuntilanak,
but they experience
Subjectively that means that she is not in the
external world of material objects but in the
internal world of feeling, imagination, illusion
etc.

So,
this object is not real in empirical
sense.
We cannot observe, smell, taste,
touch it
So, it isnt an object of empirical
sciences

Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 32
Searching the Objective World
o Western thought since Democritus und Leucippus (atomists, 5 Century BC) conceives
that the reality outside ourselves (the external world) is real and isnt products of our
consciousness.
o In empiricism this view is continued: We know something in the outside world means
that our sense perceptions only adapt to the world of material objects.
o Western thought found the justification of this form of knowledge, empirical knowledge,
in the theory of Francis Bacon and John Locke.

Biographical Note
Biografi
= 1632: born on 29
th
August in Wrington/Somerset
= 1652: worked in Oxford
= 1662: lectured in philosophy in Oxford, polemics on
tolerance
= 1667: moved to London and served Lord Earl of
Shaftesbury
= 1668: Member of Royal Society with his contributions
in economics and natural sciences
= 1675: lived in France.
= 1679: back to London
= 1683: imigrated to Netherland because of political conflict
= 1689: back to England, refused a governmental position
= 1689: published Epistola de tolerantia, and An Essay Concerning Human Understanding.
= 1690: published Two tratises of Government
= 1704: dead in Oates/Essex on 28th October.

Critique on the Cartesian Doctrine of Innate Ideas
o Locke disagreed on cartesian doctrine that derives our knowledge from the a priori
principle in human reason. According to him our reason must be considered as a blank
white paper (tabula rasa) that is filled with sense-data or empirical experiences.
o The innate ideas that Descartes propagates have not their own content, because they
originate from our perception and sensation.

The Process of Knowledge
1. The table is perceived by our senses; then the externality of this material thing is the
object of our SENSATION, whereas the operation of our mind knowing it is called
REFLECTION.
2. From sense-data we get in our mind simple ideas such as brown, wood, big or table.
3. We observe also many kinds of table so that we get in our mind some simple ideas of
table
4. From these simple ideas our mind connects them. This process is called abstraction.
5. The result of abstraction is complex ideas such as substance, relation or mode.




Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 33
Primary and secondary Qualities of an Object
o Locke made an important distinction between primary and secondary qualities.
o Primary qualities are the objective side of an observed object like its wideness,
movement or mass. They are inherent in the object.
o But secondary qualities are the subjective side of an observed object. They are the
conditions of the observing subject itself like sweetness, redness, warmness etc.

The Ontological Status of External World
With his view on primary qualities Locke assumed that the world outside of us exist
objectively and external to us. It is not mere our rational construction or our imagination. It
is real and has an ontological status as material beings.

Empiricism and the Rise of modern Sciences
o Locke was a pioneer of modern empiricism, the view that teaches that our knowledge is
gained through experience, especially sense experience.
o The modern sciences assume the existence of external world that is separated from our
consciousness.
o In animism or fetishism man cannot differ external and internal world, so that the limits
between fiction and reality are blurred.






Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 34
The Power of The Factual: Positivism
Dr. F. Budi Hardiman


One of the main characteristics of Western thought is its concern for material reality, and
this concern find its expression in the institution of modern sciences. Sciences do not
originate in the East, since the Eastern way of thinking dont concern for material reality but
for supernatural values. The concern of Western thought for the material world was
indicated in the positivism of 19
th
century. The background of its origin was French history.

French After the Revolution
The Intellectual Background of Positivism is the efforts in the rehabilitation of the social
order after the French Revolution 1789. There are two mainstreams:
1. They who will return to the traditional society (political romanticists)
2. They who seek the new values of modernity and dream of future of the scientific
industrial society (positivists)

What is Positivism?
An epistemological doctrine that the true knowledge is only about the fact. The fact or
the factual is an object that can be observed empirically with our senses.
The term positive doesnt mean normatively, but descriptively. It means the factual.
So, we can say that positivism is the radicalization of Western thought that since the
Greek philosophy gives many efforts to find the objective truth.
Positivism is a teaching in Western thought that claims to find that objective truth in the
concept of fact.

Fact as Reality:
The concept of fact presupposes that there is no the reality beyond or outside of the
observable world. So, the positivists refused the metaphysics or views that there is
reality beyond the factual.
The real is the factual. What does it mean? It mean that the only reality is the factual. So,
the positivists dont accept the Kantian doctrine of two realities (noumenon and
phenomenon). For them the phenomenon or observable reality is real, whereas the
noumenon is only the product of imagination and not real.

In which sense could an object be called a fact?
1. The object (e.g. human event, part of nature, history, culture, etc.) is external to our
mind or it isnt a part of our thinking. It isnt an addition of our subjective interpretation.
2. It is an observable phenomenon, i.e. we can smell, taste, hear, see and touch it, and the
other people too observe it in the same manner. It is a sense-datum.
3. Its characteristics are perceived the same way by different people. It is undisputable or
evident.

Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 35
Which is fact and which is not fact?
The content of our imagination
Our dream
Opinion of your friend about your
behavior
The last score of World Cup
Sun as center of solar system
God always helps us in difficult
situations
The beauty of women
2 + 3 = 5
J.F. Kennedy was murdered.
The cause of her sickness is the work of
demons
The pest epidemic was God
punishment

According to positivism (Comte) Western thought needed many centuries to develop so that
it affirms the factual or sense-data as truth.

Positivism sketched the development of Western ways of thinking in three stages:
theological, metaphysical and positive stages.

Three Stages of intellectual development of human mind


Theological Stage:
Man searched the causes of natural phenomena behind the empirical world and found
the superhuman forces like idols (fetishism), gods (polytheism) and God (monotheism).
There was a progress of knowledge from the knowledge of impersonal forces to personal
God.
The social organization was absolutism
But this stage can be compared with the infantile stage of human person.

Metaphysical Stage
In this stage the natural forces were not imagined as superhuman forces. They were
grasped with abstract concepts like cause, ether , being, substance etc. There was
no more God in this stage, because God was conceptualized as an abstract entity.
The social organization was laws oriented society
This stage is comparable with the stage of adolescence of human person.

Positivist Stage
Man explains the natural phenomena factually, i.e. he doesnt try to explain them
through theological or metaphysical causes. So, the fall of an apple is not cause by God
Theological stage
Metaphysical stage
Positive stage
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 36

Taraf
positivitas
Teol
ogis
Fiksi
Metafis
is
Abstra
ksi
Positif
Observa
si
Sosiologi
Biologi
Kimia
Fisika
Astronomi
Matematika
or by the primal cause, but by gravitation. We can observe neither God nor primal
cause. They are not facts. Only fact is observable.
The social organization is industrial society
In this stage the mankind reach the stage of maturity of his knowledge.

With that three-stages development of society Comte and the positivists not only convince
us to accept knowledge of the factual as undisputable truth. They also want to criticize the
former forms of knowledge, i.e. myths and philosophies, as fancies or mere speculative.


Of course he developed his historical view according to certain ideological
framework, i.e. the positivist ideology. In this ideology it is presupposed that only
the positivism is mature stage of knowledge. And the positivist society is
designed at least theoretically as the purpose of human history.

The Hierarchy of Sciences:
According to Comte the mathematics is
the fundamental of all sciences. So, the
mathematics is the basis of the modern
astronomy, and the mathematics and
astronomy are the basis of modern
physics. These three sciences are the
basis of the chemistry, and biology. The
complete and last science is sociology
that assumes the other five sciences.


The Positivist Religion:
In the spirit of positivism Comte will construct a new religion like Rousseaus civil
religion. This positivist religion, so imagined Comte, imitates the catholic Church but
without personal God. The god of positivist Religion is called grand etre (supreme
being). So, Comtes Religion has its own priests, calendar, saints etc.

A Class Discussion
Please, draw a conclusion. In which sense is Western thought able to characterize as
positivistic? Is positivism different from empiricism? Why?
Could you mention ways of thinking in our society that are
comparable with those three stages elaborated by Auguste
Comte? What is your opinion: In which stage of knowledge
development is our society? Give some reasons!
Is Comtes History factual?
Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 37
FS 06 Kepentingan Praktis Ilmu Sosial
Presented by:
Devina Fransisca

Pelopor pendekatan hermeneutik ilmu-ilmu sosial

William Dilthey (1833-1911),
German philosopher




Karakteristik Ilmu sosial

+ Pendekatan dengan metode Verstehen (memahami)
Apa yang ingin dipahami ??
Ekspresi-ekspresi kehidupan:
a. Ekspresi lingustik (bahasa sehari-hari)
b. Ekspresi tindakan dengan maksud tertentu
c. Ekspresi pengalaman (reaksi psikis seperti keceriaan wajah, mimik, tawa, tangis, bhs
tubuh,dsb). Tidak bisa dinilai benar salahnya melainkan dinilai asli atau palsu.

+ Mengobjektivasikan pengalaman (Erlebnis) seutuhnya tanpa pembatasan
Pengalaman bukan fenomena fisis melainkan realitas mental. Caranya dengan
mentransposisi diri sendiri ke dalam sesuatu yang eksternal secara reproduktif.
Objek empati : proses kreasi suatu karya.

+ Objek tidak berbeda secara ontologis dengan ilmu alam, tetapi berbeda secara
epistemologis
Yang menimbulkan perbedaan adalah orientasi subjek terhadap objek.
Co/ objek manusia:
Ilmu alam (fisiologi) mempelajari manusia sebagai makhluk alamiah
Ilmu sosial (sejarah) mempelajari manusia sebagai makluk sosiohistoris

+ Subjek berpartisipasi dengan objeknya (inter-subjektif maupun intrasubjektif)
- Dalam ilmu budaya, baik subjek maupun objek mempunyai kodrat yang sama yaitu
makhluk historis Objek ilmu sosial tidak terpisah dari subjeknya.
- Objek ilmu sosial bersifat internal terhadap subjeknya
- Agar mencapai saling pemahaman (konsensus), maka diperlukan interaksi/partisipasi
berupa tindakan komunikatif untuk memungkinkan bentuk konsensus yang bebas
dari paksaan.
(Kepentingan PRAXIS)





Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 38
FS 07 KEPENTINGAN KOGNITIF DALAM SAINS
Oleh :
Lusiana Kusuma Dewi
Linawaty

Juergen Habermas
- Most influential thinker in Germany (1970-1980)
- He used social science, social theory, history and ideas
to support critical theory of knowledge and cognitive
interest
- According to him, cognitive interest generates
knowledge

KEPENTINGAN KOGNITIF



Work Knowledge
- refers to the way one controls and manipulates one's environment
- commonly known as instrumental action -- knowledge is based upon empirical
investigation and governed by technical rules
- e.g. Physics, Chemistry and Biology


Practical Knowledge
- identifies human social interaction or 'communicative
action'
- Social knowledge is governed by binding consensual
norms, which define reciprocal expectations about
behavior between individuals
- social science, history, aesthetics, legal, ethnographic
literary and so forth


Emancipatory Knowledge
- identifies 'self-knowledge' or self-reflection
- 'interest in the way one's history and biography has expressed itself in the way one sees
oneself, one's roles and social expectations
- feminist theory, psychoanalysis and the critique of ideology

Kristian Tarigan Filsafat Sains Resume UTS Page 39
Three Domains of Knowledge


Positivisme
- Positivisme adalah naturalisme
- Sebuah dogmatisme bentuk baru
- Sebuah cara berpikir, cara memandang dunia dan kehidupan yang dianut oleh
masyarakat modern.

BERBAHAYA
Masyarakat dan kebudayaan terancam
keterpecahan umat manusia ke dalam 2 kelas :
Kaum rekayasawan sosial.
Vs
Para penghuni institusi institusi yang menindas.