Anda di halaman 1dari 2

HUBUNGAN PENGGUNAAN MARIYUANA DAN INSIDEN TUMOR SEL GERMINAL TESTICULAR

LATAR BELAKANG: Insiden tumor sel germinal testikular telah meningkat dalam 4 6 dekade terakhir; akan tetapi, penelitian yang menilai hal ini tidak diketahui. Penggunaan mariyuana juga meningkat dalam periode yang sama, dan penggunaan mariyuana dalam masa yang lama telah menimbulkan efek yang tidak dinginkan pada sistem endokrin dan reproduksi manusia. Dalam penelitian ini, pengarang menguji hipotesis tentang penggunaan mariyuana sebagai faktor resiko terjadinya tumor sel germinal testikular. METODE: penelitian case-control yang berbasis populasi dari 369 laki-laki berumur 18 44 tahun yang didiagnosa dengan tumor sel germinal testikular mulai dari Januari 1999 sampai Januari 2006 yang dilakukan di distrik King, Pierce, dan Snohomish di negara bagian Washington. Setiap jawaban peserta penelitian terhadap pertanyaan tentang lamanya penggunaan mariyuana dibandingkan dengan jawaban dari 979 laki-laki pada umur yang sama yang tinggal di 3 distrik yang sama selama periode penegakkan diagnosa. HASIL: laki-laki dengan tumor sel geminal testikular yang masih mengisap mariyuana pada tanggal referensi di bandingkan dengan kelompok kontrol (odds ratio [OR], 1.7; 95% interval confidence [95% CI], 1.1 2.5). Pada analisis yang berdasarkan tipe histologi, sebagian besar hubungan antara penggunaan mariyuana saat ini dan tumor sel germinal testikular yang diteliti adalah tumor tipe nonseminoma/campuran (yang menggunakan saat ini: OR, 2.3; 95% CI, 1.34.0). Kapan pertama kali menggunakan (usia <18 tahun [OR, 2.8] vs usia >18 tahun [OR, 1.3]) dan frekuensi penggunaan (setiap hari atau setiap minggu [OR, 3.0] vs kurang dari sekali seminggu [OR, 1.3]) memperlihatkan adanya modifikasi resiko. KESIMPULAN: hubungan yang diamati antara penggunaan mariyuana dan kejadian tumor sel germinal testikular nonseminoma. Studi tambahan tentang tumor sel germinal testikular akan dibutuhkan untuk menguji hipotesis ini, termasuk analisis molekuler reseptor kanabinoid dan sinyal endokanaboid, yang bisa memberikan petunjuk mekanisme biologi tumor sel germinal testikular. Cancer 2009;115:121523. 2009 American Cancer Society. Tumor sel germinal testikular adalah keganasan yang paling sering ditemukan pada pria berusia 15 dan 34 tahun di Amerika. Tumor ini dahulunya dibagi dalam 2 kelompok besar: seminoma murni (60%) dan nonseminoma (40%). Nonseminoma termasuk tumor yang memiliki elemen

nonseminomatous murni (seperti karsinoma embrional) yang juga memiliki elemen seminomatous dan nonseminomatous. Puncak kejadian onseminoma 10 tahun lebih cepat (usia 20-35 tahun) dibandingkan dengan seminoma (usia 30-45 tahun). Pada separuh akhir abad ke-20, insiden tumor ini meningkat 3-6% tiap tahunnya di US seperti halnya di Eropa, Australia, Selandia Baru, dan Kanada. Peningkatan ini terjadi pada kedua tipe tumor ini. Ada beberapa faktor resiko tumor sel germinal testikular seperti kriptorkidisme, disgenesis gonad, usia, ras, dan riwayat keluarga; sebagian besar penelitian tidak membedakan 2 tipe histologi tumor ini dalam penentuan faktor resiko. Paradigma bahwa penyakit ini dimulai pada awal kehidupan fetus, ketika beberapa sel germinal primordial gagal berdiferensiasi, bertahan dan diperkirakan bertransformasi menjadi keganasan, dan berkembang menjadi karsinoma in situ. Perkembangan neoplasma menjadi invasif diyakini sebagai pengaruh hormon steroid dewasa dan/atau gonadotropin. Peningkatan insiden tumor ini diperkirakan karena laki-laki dewasa muda telah terpapar 1 atau lebih faktor penyebab. Satu paparan telah menyebabkan peningkatan di Amerika dan selama periode yang sama di Eropa peningkatan insiden tumor ini dikarenakan penggunaan mariyuana. Penggunaan mariyuana yang kronis akan melipatgandakan efek yang tidak diinginkan pada sistem endokrin dan reproduksi. Sebagai contoh, penggunaan mariyuana yang lama berkaiatan dengan penurunan fungsi hipotalamus dalam mengeluarkan hormon releasing gonadotropin, penurunan kadar gonadotropin di dalam plasma (follicle-stimulating hormone, lutenizing hormone, dan prolaktin) dan testosteron, penurunan spermatogenesis, impotensi pada pria. Pada tikus percobaan, senyawa seperti kanabis yang berikatan dengan reseptor kanabinoid di sel leydig dan sel sertoli, mempengaruhi sekresi testosteron dan masa hidup sel sertoli. Infertilitas pria dan kualitas sperma yang rendah juga berkaiatan dengan resiko tumor sel germinal testikular. Oleh karena itu, kami menguji hipotesis tentang penggunaan mariyuana sebagai faktor resiko tumor sel germinal testikular menggunakan data dari studi Adult Testicular cancer Lifestyle and Blood Specimen (ATLAS), penelitian case-control berbasis populasi di daerah Seattle/Puget Sound, Washington.