Anda di halaman 1dari 9

THE HISTORY OF ENGLAND IN 17TH CENTURY

CHAPTER I ENGLAND POLITICAL TRADITION A. MAGNA CARTA DAN PARLEMEN Selama pemerintahannya kombinasi pajak yang lebih tinggi, perang tidak berhasil dan konflik dengan Paus telah membuat Raja John tidak populer dengan para baron, dan pada tahun 1215 beberapa yang paling penting memutuskan untuk memberontak melawan dia. Dia bertemu dengan para pemimpin mereka bersama dengan sekutu mereka di Prancis dan Scot Runnymede, dekat London pada 15 Juni 1215 untuk menandatangani The Great Charter (Magna Carta dalam bahasa Latin), yang membatasi kekuatan hukum yang dikenakan pada kekuatan pribadi raja. Kesepakatan ini merupakan simbol penting dari kebebasan berpolitik. Raja menjanjikan perlindungan untuk seluruh freemen dan hak yang adil dalam pengadilan. Pada saat itu hanya kurang dari seperempat orang Inggris adalah freemen, sementara kebanyakan sisanya tidak bebas, budak atau lebih buruk. Ratusan tahun kemudian Magna Carta digunakan parlemen untukl berlindung dari raja yang bersifat absolut. Padahal sebenarnya, Magna Carta tidak memberikan kebebasan nyata untuk mayoritas orang di Inggris. Para bangsawan yang menulis dan memaksa raja John untuk menandatangani sama sekali tidak memiliki tujuan untuk hal itu. Mereka hanya punya satu tujuan utama: untuk membuat raja John yakin tidak melampaui hak-haknya sebagai raja yang feodal. Magna Carta menandai tahap yang jelas dalam runtuhnya feodalisme Inggris. Masyarakat feodal selalu dihubungkan dengan tautan antara penguasa dan budak. Dalam Runnymede, para bangsawan tidak digolongkan pada tingkat bawah, tetapi masuk kepada sebuah kelas. Mereka membentuk komite dua puluh empat bangsawan untuk memastikan raja John menepati janjinya. Itu bukan sebuah hal feodal untuk dilakukan. Selain itu, para bangsawan juga bekerjasama dengan para kaum pedagang. Para bangsawan tidak membiarkan penerus raja John melupakan isi Magna Carta dan janji-janjinya. Setiap raja mengakui Magna Carta, sampai akhir dari middle age hingga muncul sebuah system monarki baru pada abad ke-16. Ada tanda kecil lainnya yang menandakan bahwa feodalisme telah berubah. Selama raja pergi berperang, ia mendapat hak 40 hari untuk bertempur. Tapi 40 hari tidaklah cukup untuk berperang di Perancis. Para bangsawan menolak untuk berperang lebih lama lagi, sehingga raja dipaksa membayar tentara untuk berjuang untuknya. Pada saat yang sama, banyak penguasa yang lebih suka budaknya untuk membayar dalam bentuk uang daripada jasa. Para budak secara perlahan mulai

berubah menjadi penyewa. Feodalisme mulai melemah, tapi butuh tiga ratus tahun untuk membuatnya menghilang sama sekali. 1 B. COMMON LAW Adat istiadat tua Anglo-Saxon yang telah menjadi dasar hukum telah merosot menjadi sebuah formalitas kuno, yang sangat bervariasi dalam hamper setiap shire, mau tak mau diabaikan karena sulit dimengerti. Begitu banyak yang telah bercampur dengan prinsip-prinsip yang diambil dan dihidupkan kembali dari hukum Romawi serta adat-adat Perancis dan Normandy. Aturan hukum tersebut diuraikan oleh pengadilan dan diterapkan oleh hakim di seluruh tempat, sehingga menjadi sebuah common law di Inggris. Disebut common karena aturn hukum tersebut tidak bersifat local dan keprovinsian. Satu langkah besar telah diambil dalam pembentukan bangsa Inggris, ketika pengadilan melampaui batas atas yurisdiksi popular dan feodal lokal, dimasukkan ke dalam pangsa Anglo-Saxon bersama konsep hukum lainnya: penggugat, terdakwa, pemeliharaan, livery, kepemilikan, property, surat pengesahan hakim, pemulihan, pelanggaran, pengkhianatan, kejahatan, denda, pengadilan, pemeriksaan, hakim, keadilan, vonis, perpajakan, kebebasan, charter, perwakilan, parlemen, dan konstitusi.2 Common Law dijadikan sumber hukum utama selama beberapa ratus tahun sebelum parlemen memperoleh kekuasaan legislatif untuk membuat peraturan perundang-undangan. Hal ini penting untuk memahami bahwa Common Law adalah sumber hukum yang lebih tua dan tradisional, dan kekuasaan legislatif hanyalah lapisan yang diterapkan diatas dasar Common Law.

David McDowall, an illustrated history of Britain, (Edinburgh Gate, Harlow: Pearson Education Limited, 2006), h. 33. 2 A. F. Pollard, The History of England: A Study in Political Evolution, (Dodo Press, 2007), h. 18

CHAPTER II PARLIAMENTS AGAINST THE CROWNS A. JAMES VS PARLIAMENTS Tanda-tanda pertama munculnya konflik antara kerajaan dan parlemen muncul pada 1601, ketika rakyat marah atas kebijakan monopoli perdagangan oleh ratu Elizabeth. Tapi parlemen tidak menuntut perubahan apapun, parlemen tidak ingin membuat marah seorang ratu yang disegani dan ditakuti. Seperti Elizabeth, James I mencoba berkuasa tanpa parlemen sedapat mungkin. Ia takut parlemen akan mengganggu, dan ia lebih suka memerintah dengan dewan kecil. James adalah raja yang pintar dan berpendidikan. Sebagai orang Skotlandia, ia pernah diculik oleh kaum bangsawan, dan telah dipaksa untuk menyerah pada Kirk. Karena pengalaman itu, ia telah mengembangkan pendapat dan keyakinan yang kuat.yang terpenting adalah hak seorang raja, ia oercaya bahwa raja dipilih oleh Tuhan dan oleh karena itu ia percaya hanya Tuhan yang bisa menghakiminya. Ide James memang tidak berbeda dari para monarki dan raja lain sebelumnya di Eropa. Ia menyatakan dengan terbuka pendapat ini, bagaimanapun, dan hal ini menyebabkan masalah dengan parlemen. James memiliki kebiasaan mengatakan sesuatu yang benar atau cerdas pada waktu yang salah dan tidak tepat. Raja Perancis menjuluki James sebagai the wisest fool in Christendom. Hal itu kasar, tetapi benar. James, untuk semua kepandaiannya, tampaknya telah kehilangan akal sehat yang membantunya di Skotlandia. Ketika Elizabeth meninggal, ia meninggalkan James bersama beban hutang yang sangat besar, lebih besar dari total pendapatan kerajaan selama setahun. James telah meminta parlemen menaikkan pajak untuk membayar hutang. Parlemen menyetujuinya, tapi sebagai imbalan, parlemen bersikeras mendapatkan hak untuk mendiskusikan kebijakan luar negeri. James, bagaimanapun, bersikeras bahwa ia sendiri memiliki divine tight untuk membuat keputusan. Parlemen setuju, dan itu didukung oleh hukum. James telah membuat kesalahan dengan menunjuk Sir Edward Coke sebagai Chief Justice. Coke membuat keputusan berdasarkan hukum yang membatasi kekuasaan raja. Dia menilai bahwa raja tidak di atas hukum dan bahkan lebih penting, bahwa raja dan dewannya tidak bisa membuat hukum baru. Hukum hanya bisa dibuat oleh undang-undang parlemen. James disingkirkan Coke dari posisi kepala kehakiman. Dan sebagai Chief Justice, Coke terus membuat masalah. Dia memperingatkan parlemen tentang Magna Carta. Menafsirkannya sebagai piagam terbesar kebebasan Inggris. Meskipun tidak benar, klaimnya secara politis berguna bagi parlemen. Ini pertentangan pertama antara James dan parlemen, dan itu memulai keadaan buruk yang berlangsung selama masa kekuasaannya, bahkan berlanjut hingga masa anaknya, Charles. James berhasil memerintah tanpa parlemen antara 1611 dan 1621. Tapi itu hanya memungkinkan saat Inggris dalam keadaan damai. James tidak bisa membiayai tentara. Pada 1618, di awal Thirty Years War di Eropa, parlemen menginginkan

untuk berperang melawan katolik. James tidak akan setuju. Sampai kematiannya pada tahun 1625, James selalu bertengkar dengan parlemen atas uang dan atas keinginan untuk memainkan bagian dalam kebijakan luar negerinya.3 B. CHARLES VS PARLIAMENTS Charles I sendiri bertentangan dengan Commons bahkan lebih pahit dari yang ayahnya lakukan, terutama dalam hal ekonomi. Akhirnya ia berkata Parliaments are altogether in my poweras I find the fruits of them good or evil, they are to continue or not to be., Charles membubarkan parlemen. Kebutuhan Charles akan uang, bagaimanapun, memaksanya untuk membentuk ulang parlemen, tapi tiap kali dia melakukannya, dia bertentangan dengan itu. Ketika ia mencoba mendapatkan uang dari luar parlemen, dengan meminjam dari pedagang, banker dan bangsawan pemilik tanah, parlemen memutuskan untuk membuat Charles setuju dengan parliamentary rights. Parlemen berharap Charles tidak dapat mendapat uang tanpa bantuannya, dan pada tahun 1628 ini terjadi. Sebagai imbalan atas uang yang Charles sangat butuhkan, ia berjanji bahwa ia hanya akan mengembangkan ekonomi dengan Undang-Undang parlemen, dan bahwa ia tidak akan memenjarakan siapa pun tanpa alasan yang bisa diterima hukum. Hak-hak tersebut, yang dikenal sebagai Hak Petisi, membentuk sebuah aturan penting tentang pemerintahan, karena Charles telah menyetujui bahwa parlemen mengontrol baik uang negara, anggaran nasional, dan hukum. Charles menyadari bahwa petisi membuat divine tight menjadi omong kosong. Charles memutuskan untuk mencegah hal itu menjadi dimanfaatkan dengan membubarkan parlemen di tahun berikutnya. Charles mengejutkan semua orang dengan mampu berhasil memerintah tanpa parlemen. Dia menyingkirkan banyak ketidakjujuran yang telah dimulai pada periode Tudor dan selama masa pemerintahan ayahnya, James. Charles mampu menyeimbangkan anggaran dan mengefisienkan administrasi. Charles tidak melihat alasan untuk menjelaskan kebijakannya atau metode memerintah kepada siapapun. Pada tahun 1637 ia berada pada puncak kekuasaannya. Otoritasnya telah benar-benar diterima daripada otoritas raja Inggris lainnya. Itu juga mengakibatkan parlemen tidak pernah terbentuk lagi.4

3 4

David McDowall, op. cit., h. 88-89 Ibid., h. 89

CHAPTER III THE ENGLAND CIVIL WAR Peristiwa di Skotlandia membuat Charles bergantung pada parlemen, tetapi peristiwa di Irlandia justru mengakibatkan perang sipil. James telah melanjutkan kebujakan Elizabeth dan telah mengkolonisasi Ulster, bagian utara dari Irlandia. Pada 1641, ketika Charles sangat membutuhkan suatu periode tenang, Irlandia meledak dalam pemberontakan melawan para pemukim Inggris dan SkotlandiaProtestan. Sebanyak 3000 orang pria, wanita, dan anak-anak tewas, kebanyakan dari mereka berada di Ulster. Di London, Charles dan parlemen bertengkar tentang siapa yang harus mengontrol pasukan untuk mengalahkan para pemberontak. Banyak yang percaya bahwa Charles hanya ingin mengembangkan militer dalam rangka untuk membubarkan parlemen secara paksa lalu berkuasa sendiri lagi. Kedekatan Charles dengan gereja Katolik meningkatkan ketakutan kaum protestan. Sudah beberapa pemberontak irlandia mengaku memberontak melawan parlemen-protestan Inggris, tapi tidak kepada kerajaan. Pada 1642, Charles mencoba untuk menahan 5 perdana menteri di parlemen. Walaupun tidak berhasil, hal itu meyakinkan parlemen dan seluruh pendukungnya di seluruh Inggris bahwa mereka punya alasan kuat untuk takut. Gerbang London dikunci untuk kerajaan, dan Charles pindah ke Nottingham, dimana ia mengumpulkan orang untuk mengalahkan anggota parlemen yang menentangnya. Perang sipil telah dimulai. Kebanyakan orang, baik yang di desadesa ataupun yang di perkotaan, tidak ingin berada di satu sisi atau yang lain. Bahkan, tidak lebih dari 10 persen penduduk yang terlibat. Tapi, kebanyakan dari house of Lord dan Commons mendukung Charles. Para Royalis, yang dikenal sebagai Cavaleries, menguasai sebagian besar bagian utara dan barat. Tapi parlemen mengontrol East Anglia dan bagian tenggara, termasuk London. Tentara parlemen pada awalnya terdiri dari kelompok-kelompok bersenjata London. Ciri khas mereka yang berambut pendek memberi mereka julukan Roundheads. Hanya kecuali jika para Royalis bisa menang dengan cepat, pasti parlemen akan menang pada akhirnya. Parlemen didukung oleh angkatan laut dan oleh sebagian besar pedagang serta penduduk London. Hal itu dengan demikian mengontrol sumber pendapatan nasional dan intertasional yang paling penting. Para Royalis, di sisi lain, tidak punya cara untuk mengumpulkan uang. Pada 1645, tentara Royalis belum dibayar, sebagai hasilnya, tentara lari atau mencuri dari desa dan petani local. Pada akhirnya, mereka kehilangan keberanian untuk melawan parlemen. Dan di Naseby pada tahun 1645, tentara Royalis akhirnya dikalahkan.5

Ibid., h. 91

CHAPTER IV THE CROWN AND THE NEW CONSTITUTIONAL MONARCHY Charles menginginkan perdamaian antara perbedaan grup agama. Dia ingin mengizinkan Puritan dan Katolik yang tidak menyukai Anglikan untuk bertemu secara bebas. Tapi parlemen yg merupakan Anglikan, tidak mengizinkan hal ini. Sebelum perang sipil, Puritan meminta perlindungan parlemen terhadap kerajaan, sekarang, mereka berharap agar kerajaan mau melindungi mereka dari parlemen. Charles sendiri tertarik kepad gereja Katolik.parlemen mengetahui hal ini dan takut Charles akan menjadi Katolik. Untuk alasan ini, parlemen mengeluarkan Test Act pada1673, yang mencegah Katolik memegang kekuasaan public. Ketakutan akan ketertarikan Charles pada gereja Katolik dan monarki menjadi terlalu kuat, juga menghasilkan partai politik pertama di Inggris. Satu dari partai itu adalah sekumpulan perdana menteri yang popular dengan sebutan Whigs. Whigs takut akan monarki absolute dan kepercayaan Katolik yang berhubungan dengannya. Tanpa memedulikan ketakutan mereka terhadap raja Katolik, Whigs mempunyai keyakinan kuat dalam mengizinkan kebebasan beragama. Karena Charles dan istrinya tidak mempunyai anak, Whigs takut bahwa tahta akan jatuh ke saudara Charles yang Katolik. Mereka ingin mencegah hal ini, tapi mereka tidak memutuskan siapa yang akan menjadi raja. Whigs bertentangan dengan grup lainnya, dijuluki Tories. Secara umum, tories memegang otoritas atas tahta dan gereja, dan pewaris dari posisi Royalis. Whigs tidak bertentangan dengan tahta. Tapi mereka percaya bahwa otoritasnya bergantung pada persetujuan parlemen. Sebagai pewari dari parlemen, mereka merasakan toleransi terhadap sekte Protestan yang baru, yang sangat tidak disukai gereja Anglikan. Dua parta tersebut, menjadi dasar dari system dua partai parlemen Inggris. Krisis antara Katolik dan kerajaan terjadi ketika terdengar berita ada rencana Katolik untuk membunuh Charles dan meletakkan saudaranya, James, kedalam tahta kerajaan. Faktanya, rencana itu tidak pernah ada. Isu tersebut disebarkan sebagai trik untuk menakuti masyarakat dan untuk memastikan bahwa James dan Katolik tidak akan berkuasa. Trik itu berhasil. Parlemen mengeluarkan sebuah undang-undang yang melarang seorang Katolik untuk menjadi bagian dari Commons atau Lords. Hal itu tidak berhasil, bagaimanapun juga untuk mencegah James dari mewarisi tahta. Charles tidak mengizinkan gangguan apapun dalam hak saudaranya untuk menjadi raja. James II menjadi raja setelah kematian Charles pada1685. The Tories dan Anglikan merasa senang, tapi tidak untuk waktu yang lama. James telah menunjukkan ketidak sukaannya pada Protestan semenjak ia menjadi gubernur di Skotlandia. Tentaranya telah membunuh banyak orang presbiterian. Periode ini masih diingat di sebagian Skotlandia sebagai the killing times.

James kemudian mencoba untuk menghapus hukum yang menghentikan Katolik dari mengambil posisi di pemerintahan dan parlemen. Dia juga mencoba untuk membawa kembali gereja Katolik, dan mengizinkan keberadaannya disamping gereja Anglikan. James hampir secara pasti percaya bahwa ini akan menghasilkan keuntungan yang banyak untuk gereja Katolik. Tapi parlemen sangat marah, terutama Tories dan Anglikan yang telah mendukungnya melawan Whigs. James mencoba untuk meloloskan diri dari Tories yang sangat bertentangan dengan dirinya. Dia menghapus tiga perempat dari seluruh JP dan menggantikannya dengan orang dari kelas sosial yang lebih rendah. Dia mencoba untuk menyatukan Katolik dan Puritan, sekarang biasa disebut nonconformists karena mereka tidak akan setuju dengan conform kepada gereja Anglikan. Tanpa memedulikan kemarahan mereka, Tories, Whigs, dan Anglikan tidak melakukan apa-apa karena mereka dapat melihat kedepan kepada kesuksesan saudara James, Mary. Mary adalah seorang Protestandan menikah dengan seorang penguasa Protestan, William of Orange. Tapu harapan ini hancur ketika sebuah berita di bulan Juni 1688 mengatakan bahwa anak dari James telah lahir. Tories dan Anglikan kemudian bergabung dengan Whigs dalam rangka menyelamatkan Protestan. Mereka mengundang William untuk menyerbu Inggris. Itu adalah hal berbahaya bagi William, tapi ia telah dalam kondisi perang dengan Perancis dan ia butuh bantuan ekonomi dan militer Inggris. Dalam situasi penting ini, keputusan James menggagalkannya. William memasuki London, tapi tahta kerajaan ditawarkan kepada Mary. William mengatakan ia akan meninggalkan Inggris kecuali dia juga menjadi raja. Parlemen tidak mempunyai pilihan kecuali menawarkan tahta kepada William dan Mary. Bagaimanapun juga, ketika William telah mendapat tahta, parlemen juga memenagkan sebuah poin penting. Setelah ia melarikan diri dari Inggris, parlemen memutuskan bahwa James II kehilangan haknya terhadap tahta kerajaan. Itu memberikan alasan bahwa ia telah mencoba mengikis konstitusi kerajaan dengan mematahkan kontrak asli antara raja dan rakyat. Seluruh ide tentang kontrak antara penguasa dan yang dikuasa bukanlah sesuatu yang baru. Semenjak restorasi Charles II pada 1660 sudah terdapat beberapa teori tentang pemerintahan. Pada 1680, dua dari beberapa teori penting, Algernon Sidney dan John Locke, berpendapat bahwa pemerintah berdasar pada kekuatan raja haruslah terbatas secara keras. Konklusi yang logis dari ide tersebut adalah bahwa persetujuan rakyat diwakilkan oleh parlemen, dan sebagai hasilnya parlemen, bukan raja, harus memegang kekuasaan penuh dalam sebuah negara. Pada 1688 teori tersebut terpenuhi. Seperti perang sipil pada 1642, the glorious revolution, sebagai hasil politik dari kejadian tahun 1688, secara total tidak direncanakan dan dipersiapkan. Itu merupakan sebuah revolusi, lebih dari coup detat dengan kelas penguasa. Tapi faktanya bahwa parlemen menjadikan William sebagai raja, tidak dengan pewarisan tapi dengan pilihan, sangatlah revolusioner. Parlemen sekarang telah melampaui kekuatan raja, dan akan tetap demikian. Kekuatannya terhadap

monarki telah ditulis ke dalam Bill of Rights pada 1689. Sekarang kerajaan tidak berhak menaikkan pajak atau mempunyai tentara tanpa persetujuan parlemen, atau beraksi melawan perdana menteri atas apa yang ia lakukan atau katakana dalam parlemen. Pada 1701 parlemen akhirnya mengeluarkan Act of Settlement, untuk memastikan hanyalah seorang Protestan yang dapat mewarisi tahta kerajaan. Hal itu menyatakan bahwa jika Mary tidak punya anak, maka tahta akan jatuh ke saudaranya, Anne. Jika Anne juga mati tanpa anak, tahta akan jatuh pada cucu dari James I. The Act of Settlement sangatlah penting, dan selalu tetap mengikat, walaupun the Stuarts telah mencoba tiga kali untuk mendapatkan kembali tahtanya. Bahkan hari ini, jika seorang anak anggota keluarga kerajaan menjadi seorang Katolik, ia tidak dapat mewarisi tahta kerajaan.6

Ibid., h. 94-96

CHAPTER V THOMAS HOBBES A. THOMAS HOBBES: LEVIATHAN Hobbes (1588-1679) adalah seorang filsuf yang sulit untuk diklasifikasikan. Dia adalah seorang empiris, seperti Locke, Berkeley, dan Hume, tapi tidak seperti mereka, ia adalah seorang pengagum metode matematika, tidak hanya dalam matematika murni, tetapi juga dalam aplikasi. Solusinya logis dalam memecahkan maslah, tapi dicapai dengan menghilangkan fakta canggung. Dia kuat, tapi kasar; ia menggunakan kapak lebih baik dari ahlinya. Walaupun demikian, teorinya tentang negara layak untuk dipertimbangkan dengan cermat. Teorinya lebih modern dari teori-teori sebelumnya, bahkan lebih dari Machiavelli. Pendapat politiknya dituangkan ke dalam Leviathan, yang royalis dalam keekstriman, hal itu dipegang teguh Hobbes dalam waktu yang lama. Poin lain dimana ajaran Hobbes terlalu terbatas adalah dalam hubungan antara negara yang berbeda. Tidak ada satupun kata dalam Leviathan yang menyinggung hubungan antar dua negara kecuali tentang perang dan penaklukan. Berikut ini, menurut pendapatnya, dari tidak adanya pemerintahan internasional, bahwa hubungan antar negara masih dalam kondisi alami, yang merupakan perang secara keseluruhan. Jadi selama ada anarki internasional, itu tiak berarti menjelaskan bahwa peningkatan efisiensi di negara yang terpisah adalah demi kepentingan umat manusia, karena itu meningkatkan keganasan dan kedestruktifan perang. Seriap argument yang ia kemukakan dalam dukungannya kepada pemerintah, sejauh itu berlaku pada semua, berlaku juga dalam mendukung pemerintah internasional. Selama negara-negara ada dan saling melawan satu sama lain, hanya inefisiensi yang dapat menyelamatkan umat manusia. Meningkatkan kualitas perang antar negara tanpa ada maksud untuk mencegah perang adalah sebuah jalan menuju kehancuran universal.7

Bertrand Russell, a History of Western Philosophy, (London: George Allen & Unwin Limited, 1961), h. 557