Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Laut merupakan ekosistem dan habitat terbesar bagi berbagai jenis mahluk hidup di bumi. Lebih dari 70% bagian bumi dikelilingi oleh lautan, sehingga terdapat asumsi bahwa kehidupan di bumi bermula dari laut. Laut memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya yaitu sebagai reservoir atau penampung panas radiasi sinar matahari ke bumi, karena fungsinya ini sehingga laut dapat mempertahankan iklim baik secara lokal maupun global (Nerangel, 2010). Sejak penghujung abad ke-20, perubahan iklim akibat pemanasan global (global warming) sudah menjadi isu yang merisaukan. Perubahan iklim adalah sebuah fenomena pemanasan global yakni peningkatan suhu bumi yang disebabkan oleh meningkatnya gas rumah kaca yang bersumber dari emisi karbon CO2, CH4 dan CFC di atmosfer. Peningkatannya cenderung terus meningkat yang sebagian besar dihasilkan oleh kegiatan industri, transportasi, pembukaan dan kebakaran hutan. Pemanasan suhu bumi atau pemanasan global ini kemudian berdampak pada perubahan iklim (climate change). Perubahan iklim mengakibatkan perubahan fisik lingkungan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, berupa instrusi air laut ke darat, gelombang pasang banjir, kekeringan, genangan di lahan rendah dan erosi pantai. Selanjutnya, perubahan fisik lingkungan tersebut berdampak perubahan morfologi pantai, ekosistem alamiah, pemukiman, sumber daya air, infrastruktur, perikanan, pertanian,

kesehatan, pariwisata di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang pada gilirannya akan menimbulkan penurunan keanekaragaman hayati dan mengancam ketahaanan pangan atau bahkan dapat mengakibatkan hilangnya sebagian pulaupulau kecil berdaratan rendah. Tentu saja perubahan iklim akan berimbas ke berbagai sector kehidupan dan penghidupan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil (Baaka, 2011). Terjadinya perubahan lingkungan yang secara teoritis diakibatkan oleh naiknya permukaan air laut, akan menimbulkan pengaruh yang besar terhadap masyarakat, terutama yang bertempat tinggal di sekitar pantai. Hal ini menyebabkan isu kenaikan muka air laut menjadi salah satu isu utama dalam perubahan iklim global karena memiliki dampak ekonomi nasional yang besar (Mansawan, 2010).

1.2 Tujuan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain: 1. Untuk mengetahui serta memahami definisi dari hidrotermodinamika yang terjadi di wilayah pesisir. 2. Mengetahui dampak dari hidrotermodinamika/perubahan suhu air laut di daerah pesisir.

1.3 Manfaat Sebagai sumber informasi kepada pembaca mengenai dampak

hidrotermodinamika atau perubahan suhu air laut yang terjadi pada wilayah pesisir.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Hidrotermodinamika Ilmu termodinamika adalah ilmu yang mempelajari hubungan panas dengan kerja. Dua besaran tersebut adalah sangat penting untuk dipahami karakeristiknya untuk pemahaman dasar keteknikan. Jadi jelas pengetahuan dasar termodinamika sangat penting, karena dipakai untuk menganalisa kondisi operasi berbagai alat atau mesin yang berhubungan dengan panas dan kerja (Basyirun dkk, 2008). Hidro dari kata hydro = air, Termo dari kata Therm = suhu dan dinamika dari kata Dynamic = berubah-ubah/perubahan. Jadi secara kaidah bahasa,

hidrotermodinamika adalah suhu air yang berubah-ubah atau perubahan suhu air laut (Yanto, 2010). Perubahan suhu air laut disebabkan oleh terjadinya perubahan iklim yang terjadi secara perlahan dalam jangka waktu yang cukup panjang, antara 50-100 tahun. Meskipun perlahan, dampaknya sebagian besar permukaan bumi menjadi panas. Perubahan iklim merupakan sesuatu yang sulit untuk dihindari dan memberikan dampak terhadap berbagai segi kehidupan. Dampak ekstrem dari perubahan iklim terutama adalah terjadinya kenaikan temperatur serta pergeseran musim.

2.2 Pengertian Perubahan Iklim Perubahan iklim adalah perubahan veriabel iklim, khususnya suhu udara dan curah hujan yang terjadi secara berangsur-angsur dalam jangka waktu yang panjang antara 50 sampai 100 tahun (inter centenial). Disamping itu harus dipahami bahwa perubahan tersebut disebabkan oleh kegiatan manusia (anthropogenic), khususnya yang berkaitan dengan pemakaian bahan bakar fosil dan alih-guna lahan. Kegiatan manusia yang dimaksud adalah kegiatan yang telah menyebabkan peningkatan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer, khususnya dalam bentuk karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrous oksida (N2O). Gas-gas inilah yang selanjutnya menentukan peningkatan suhu udara, karena sifatnya yang seperti kaca, yaitu dapat meneruskan radiasi gelombang-pendek yang tidak bersifat panas, tetapi menahan radiasi gelombang-panjang yang bersifat panas. Akibatnya atmosfer bumi makin memanas dengan laju yang setara dengan laju perubahan konsentrasi GRK. Hasil kajian Intergovermental Panel on Climate Change/IPCC (2007) memastikan bahwa perubahan iklim global terjadi karena atmosfer bumi dipenuhi oleh GRK yang dihasilkan oleh manusia. Atmosfer bumi dilapisi oleh gas rumah kaca. Ketika matahari memancarkan radiasinya ada dua proses alami yang terjadi. Pertama, sebagian radiasi matahari itu tertahan gas rumah kaca dan dipantulakan ke luar angkasa. Besarnya radiasi matahari (infra red) yang dipantulkan dan tidak sampai di permukaan bumi mencapai 103 watt/m2. Proses kedua, sisa dari radiasi matahari menerobos gas rumah kaca menuju permukaan bumi. Menurut perhitungan, radiasi netto matahari yang masuk hingga ke bumi mencapai 240

watt/m2. Pada proses inilah bumi menyerap radiasi dan menghangatkannya. Selanjutnya oleh bumi, radiasi tersebut diubah menjadi panas yang menyebabkan emisi gelombang panjang (infra red). Gelombang panjang ini lalu dipancarkan menuju atmosfer. Dalam kondisi normal, gelombang panjang secara bebas menuju luar angkasa. Namun ketika konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer berlimpah, maka gelombang panjang ini tertahan oleh gas rumah kaca. Gelombang panjang tersebut tidak lagi mampu menerobos ke luar angkasa. Ironisnya, gelombang panjang yang tertahan oleh gas rumah kaca akan dipantulkan kembali menuju bumi. Secara otomatis bumi akan menerima lebih banyak panas hasil dari pantulan gelombang panjang. Fenomena inilah yang membuat suhu permukaan bumi mengalami kenaikan, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Diagram neraca radiasi matahari global (http://www.bom.gov.au/info/climate/change/gallery, 2010)

BAB III DAMPAK PERUBAHAN IKLIM

3.1 Kenaikan Suhu Permukaan Bumi Perubahan iklim sering dicirikan oleh berubahnya nilai rata-rata atau median dan keragaman dari unsur iklim. Apabila dalam periode waktu yang panjang terjadi kenaikan data suhu dari waktu ke waktu dan atau fluktuasinya (naikturunnya) semakin membesar atau kejadian anomali iklim semakin sering terjadi dibandingkan periode waktu sebelumnya, maka dapat dikatakan bahwa perubahan iklim sudah terjadi.

Gambar 2. Efek peningkatan GRK terhadap total radiasi sinar matahari (http;//www.bom.gov.au/info/climate/change/gallery)

Hal yang paling mudah untuk mengamati kenaikan suhu adalah dengan melihat fenomena di wilayah kutub yang selalu menyelimuti bumi. Nasional centre for scientific Research (CNRS) yang berbasis di Paris (Perancis) seperti yang dikutip Kantor Berita AFP (24/1/2008) dalam Diposaptono et al (2009) melaporkan, sepanjang dua tahun terakhir, wilayah Artik di Kutub Utara kehilangan lapisan es seluas dua kali wilayah Perancis atau sepuluh kali luas wilayah Pulau Jawa. Menurut Jean Claude Gascard, direktur CNRS hampir seluruh wilayah Artik mengalami pelelehan es secara terus-menerus. Dalam 20 tahun terakhir, sudah 40 % lapisan es yang meleleh. Para ilmuwan memprediksi, lapisan es di Kutub Utara benar-benar hilang pada musim panas tahun 2008. Namun, dengan simulasi iklim yang lebih canggih berbasis computer, kondisi tersebut diperkirakan akan terjadi lebih cepat, yaitu antara tahun 3020-2050. Pada September 2007, tebal lapisan es di permukaan perairan Artik mencapai rekor terendah. Lapisan es akan kembali menebalo pada saat musim dingin, bahkan pada puncaknya Maret 2008 lebih luas dari cakupan es setahun sebelumnya. Namun, walaupun bertambah, yang terbentuk adalah lapisan es muda berusia setahun yang lebih mudah meleleh. Smentara itu, lapisan es abadi cenderung terus berkurang. Pecahan-pecahan es yang terlepas dari induknya itu sekarang bergerak ke laut. Maka laju mencairnya bongkahan es akan semakin cepat jika berada di perairan yang hangat. Berbagai peristiwa ini member pengaruh yang sangat besar terhadap volume air laut di seluruh dunia.

Dampak lain dari perubahan iklim yaitu perubahan pola curah hujan. Perubahan iklim mengakibatkan perubahan pola curah hujan. Perubahan itu ditandai dengan terlambatnya awal musim hujan. Sedangkan akhir musim hujan terjadi lebih cepat. Akhir-akhir ini hampir semua media massa di negeri ini memberitakan kondisi iklim yang tidak menentu. Tiap hari hujan lebat melanda Pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya. Gelombang laut yang tingginya berkisar 3-5 meter dan badai terjadi di Laut Jawa, Laut Cina Selatan, Banda, Flores dan perairan lainnya di Indonesia. Akibatnya, mengganggu arus pelayaran antarpulau di Indonesia dan nelayan takut melaut. Kapal dan perahu pun diparkir di tepi pantai. Berbagai ahli klimatologi mensinyalir kondisi alam ini akibat perubahan iklim global.

Gambar 3. Contoh dampak dari pemanasan global

3.2 Kenaikan Suhu Pemukaan air Laut Meningkatnya suhu air laut sebesar 0,2 hingga 2,50C akan mempengaruhi pertumbuhan dan kecepatan reproduksi organisme yang hidup di daerah laut tropis. Hal ini berdampak pada terjadinya kerusakan terumbu karang berupa pemutihan karang (coral bleaching). Padahal karang memegang peranan penting dalam daur hidup spesies laut dan mempengaruhi habitat laut. Kenaikan suhu air laut, pertama, memengaruhi ekosistem terumbu karang yang menjadi fishing ground dan nursery ground ikan yang hidup di wilayah itu. Ikan-ikan yang hidup di daerah karang akan mengalami penurunan populasi. Hasil penelitian Ove Hoegh-Guldberg yang dipublikasikan di jurnal Science edisi Desember 2007 meramalkan bahwa akibat pemanasan global pada tahun 2050 akan mendegradasi 98 persen terumbu karang dan 50 persen biota laut. Bahkan, memprediksikan apabila suhu air laut naik 1,5 0C setiap tahunnya sampai 2050 akan memusnakan 98 persen terumbu karang di Great Barrier Reef, Australia. Barangkali nantinya di Indonesia kita tak akan lagi menikmati lobster, cumi-cumi dan rajungan. Kedua, terputusnya rantai makanan. Gretchen Hofmann (2008), Profesor Biologi dari University of California, Santa Barbara menjustifikasi bahwa pemanasan global (peningkatan suhu dan keasaman) akan berdampak pada hilangnya rantai makanan yang berperan sebagai katastropik yakni organisme pteropoda. Dampak selanjutnya memengaruhi populasi ikan salmon, mackerel, herring, dan cod, karena organisme itu sebagai sumber makanannya. Sementara itu, kenaikan permukaan air laut berdampak luas terhadap aktivitas nelayan budi daya di wilayah pesisir.

Peningkatan suhu air laut diantaranya juga akan mempengaruhi sirkulasi air, memutuskan rantai makanan, yang pada akhirnya akan mengurangi produktifitas sumber daya laut. Ketika suhu laut meningkat terjadi perubahan pola migrasi biota laut, munculnya jenis-jenis biota competitor, predator dan penyakit baru, sementara itu terjadi kematian pada biota laut yang bersifat menetap (sesile). Selanjutnya, perubahan pola upwelling akan mempengaruhi siklus produktivitas perairan hingga mempengaruhi rantai makanan pada wilayah tertentu. Banyak biota laut yang akan kelaparan hingga mengalami kematian. Perubahan yang terjadi pada habitat laut akan mempengaruhi ekosistem pantai sehingga mempengaruhi ketersediaan ikan-ikan spesies tertentu dan berdampak pada hasil tangkapan nelayan-nelayan. 3.3 Kenaikan Muka air Laut

Gambar 4. Mencairnya es di daerah Artik

Salah satu dampak dari perubahan iklmi global yang cukup fenomenal adalah kenaikan paras muka air laut. Kenaikan muka air laut adalah salah satu perubahan iklim yang diakibatkan oleh kenaikan suhu badan air dan es yang mencair di daerah kutub. Menurut Gunawan (2008), fenomenaa kenaikan muka air laut

10

merupakan issue yang mengemuka seiring dengan terjadinya persoalan pemanasan global (global warming). Pemanasan global yang terjadi akan menyebabkan kenaikan suhu permukaan laut yang kemudian mengakibatkan terjadinya pemuaian air laut. Pemanasan global juga akan menyebabkan mencairnya es abadi di pegunungan serta di daerah Artik dan Antartik. Dikatakan oleh para ahli bahwa ada kaitan antara kenaikan muka air aut dengan peningkatan suhu udara dunia. Beberapa indikasi dari meningkatnya muka air laut antara lain adalah garis pantai yang makin naik, kawasan pantai yang makin berkurang, hilangnya sebagian kawasan hutan bakau serta terjadinya abrasi dan sedimentasi. Penyebabkan kenaikan paras muka air laut relatif itu sacara umum mencakup enam faktor yang setiap lokasi memiliki keunikan tersendiri. Keenam faktor itu adalah: 1) Kenaikan eustatis muka air laut dunia 2) Penurunan kerak bumi (crustal subsidence) atau naiknya permukaan tanah akibat aktivitas tektonik baru (neotectonic) 3) Penurunan seismik permukaan tanah alibat adanya gempa bumi 4) Penurunan yang terjadi secara alami akibat adanya konsolidasi atau pemampatan tanah yang masih labil atau sedimen lunak di bawah permukaan 5) Penurunan akibat aktivitas manusia karena adanya pembuatan struktur (beban bangunan), pengambilan air tanah, serta ekstraksi minyak dan gas 6) Variasi yang disebabkan oleh fluktuasi iklim sebagai konsekuensi faktor samudera seperti El-Nino dan La-nina

11

Dari keenam penyebab kenaikan paras muka air laut tersebut, hanya kenaikan eustatis yang bersifat universal. Faktor-faktor lainnya akan memberikan pengaruh dalam berbagai proporsi yang berbeda-beda. Pemanasan global yang menyebabkan naiknya muka air laut menimbulkan dampak (Aninomous 2008 dalam Dasmasela dan Pedai, 2009) antara lain: 1. Kenaikan muka air laut selain mengakibatkan perubahan arus laut pada wilayah pesisir juga mengakibatkan rusaknya ekosistem karang. 2. Selain itu kenaikan muka air laut juga mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove, yang pada saat ini saja kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Luas hutan mangrove di Indonesia terus mengalami penurunan dari 5.209.543 ha (1982) menurun menjadi 3.235.700 ha (1987) dan menurun lagi hingga 2.496.185 ha (1993). Dalam kurun waktu 10 tahun (1982-1993), telah terjadi penurunan hutan mangrove 50% dari total luasan semula. Apabila keberadaan mangrove tidak dapat dipertahankan lagi, maka : abrasi pantai akan kerap terjadi karena tidak adanya penahan gelombang, pencemaran dari sungai ke laut akan meningkat karena tidak adanya filter polutan, dan zona budidaya aquaculture pun akan terancam dengan sendirinya. 3. Meluasnya intrusi air laut selain diakibatkan oleh terjadinya kenaikan muka air laut juga dipicu oleh terjadinya land subsidence akibat penghisapan air tanah secara berlebih. Sebagai contoh, diperkirakan pada periode antara 2050 hingga 2070, maka intrusi air laut akan mencakup 50% dari luas wilayah Jakarta Utara. 4. Gangguan terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang terjadi diantanya adalah: (a) gangguan terhadap jaringan jalan lintas dan kereta api di Pantura

12

Jawa dan Timur-Selatan Sumatera; (b) genangan terhadap pemukiman penduduk pada kota-kota pesisir yang berada pada wilayah Pantura Jawa, Sumatera bagian Timur, Kalimantan bagian Selatan, Sulawesi bagian Barat Daya, dan beberapa spot pesisir di Papua; (c) hilangnya lahaan-lahan budidaya seperti sawah, payau, kolam ikan dan mangrove.. 5. Terancam berkurangnya luasan kawasan pesisir dan bahkan hilangnya pulaupulau kecil yang dapat mencapai angka 2000 hingga 4000 pulau, tergantung dari kenaikan muka air laut yang terjadi. Dengan asumsi kemunduran garis pantai sejauh 25 meter, pada akhir abad 2100 lahan pesisir yang hilang mencapai 202.500 ha. 6. Bagi Indonesia, dampak kenaikan muka air laut dan banjir lebih diperparah dengan pengurangan luas hutan tropis yang cukup signifikan, baik akibat kebakaran maupun akibatkan penggundulan. Data yang dihimpun dari The Georgetown International Environmental Law Review (1999) menunjukkan bahwa pada kurun waktu 1997 1998 saja tidak kurang dari 1,7 juta hektar hutan terbakar di Sumatra dan Kalimantan akibat pengaruh El Nino. Bahkan WWF (2000) menyebutkan angka yang lebih besar, yakni antara 2 hingga 3,5 juta hektar pada periode yang sama. Apabila tidak diambil langkah-langkah yang tepat maka kerusakan hutan khususnya yang berfungsi lindung akan menyebabkan run-off yang besar pada kawasan hulu, meningkatkan resiko pendangkalan dan banjir pada wilayah hilir , serta memperluas kelangkaan air bersih pada jangka panjang.

13

3.3.1 Proses Kenaikan Muka Air Laut Kenaikan muka air laut terjadi melalui beberapa proses sebagai dampak dari fenomena pemanasan global. Peningkatan tinggi muka air laut 30 % berasal dari pencairan es dan sisanya berasal dari pemuaian air laut akibat peningkatan

temperatur. Akibat dari perubahan iklim, lapisan salju melebur dan tanah akan lebih banyak menyerap panas matahari. Umpan balik dari peleburan lapisan salju tersebut akan meningkatkan pemanasan global. Demikian pula halnya terhadap hamparan es dan glasier, yang akhirnya akan berakibat terhadap kenaikan permukaan air laut. Ketika atmosfer mengahambat lapisan permukaan lautan juga akan menghambat sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tingkat permukaan laut.

3.3.2 Faktor Penyebab Terjadinya Kenaikan Muka Air Laut Pemanasan Global (Global Warming) telah menjadi masalah dunia dan menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia, terutama Negara yang mengalami industralisasi dan pola konsumsi tinggi (gaya hidup konsumtif). Berbagai aktivitas manusia seperti pembakaran bahan kayu, batu bara, minyak, gas dan gasoline menyebabkan gas rumah kaca yang diemisikan terus meningkat. Hal ini mengakibatkan radiasi yang dipantulkan bumi terhambat sehingga radiasi terakumulasi di atmosfer yang menyebabka suhu rata-rata di seluruh permukaan bumi dan laut meningkat. Peristiwa inui disebut dengan Pemanasan Global.

14

Pemanasan Global juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland sehingga memperbanyak volume air laut. Tinggi muka air laut diseluruh dunia telah meningkat 10-25 cm selama abad 20. Apabila separuh es di Greenland dan Antartika meleleh maka terjadi kenaikan permukaan laut di dunia rata-rata setinggi 6-7 meter. Tinggi kenaikan rata-rata permukaan laut di ukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi. Menurut Subandono dkk (2009), penyebab terjadinya kenaikan muka air adalah karena faktor lingkungan setempat seperti penurunan tanah akibat penyedotan air tanah berlebihan. Penyebab lainnya yaitu, adanya beban bangunan konsilidasi alami atau pemampatan tanah yang masih labil dan pengambilan air tanah yang berlebihan.

15

BAB IV DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP PESISIR PANTAI

4.1 Pengaruh Kenaikan Muka Air Laut Terhadap Pesisir Pantai Subondono (2009), melaporkan bahwa pengaruh kenaikan muka air laut sebagai dampak dari pemanasan global pada gilirannya akan memberi pengaruh negative terhadap beberapa ekosistem pantai seperti, ekosistem terumbu karangg, mangrove, dan lamun. a. Dampak terhadap Terumbu Karang Perubahan iklim global mengakibatkan terumbu karang sulit beradaptasi. Pengaruh perubahan iklim terhadap terumbu karang dibedakan atas perubahan fenomena fisik kimia perairan seperti kenaikan permukaan laut, kenaikan temperature, penurunan laju klasifikasi, perubahan pola sirkulasi samudra, dan peningkatan frekuensi kejadian badai. Sisi negative dari salah satu perubahan tersebut yaitu naiknya paras muka air laut adalah cahaya yang masuk ke terumbu karang semakin berkurang. Padahal biota ini jelas membutuhkan sinar matahari yang cukup untuk melakukan proses fotosintesis. Akibatnya laju perkembangan terumbu karang terhambat. Sumber utama hancurnya terumbu karang akibat naiknya paras muka iar laut adalah sedimentasi. Sedimentasi ini berasal dari kian tingginya erosi pantai karena meningkatnya energy gelombang akibat perubahan iklim. Akibatnya terubu karang sakit dan mati terselimutu lumpur sedimen. Pemanasan global menyebabkan naiknya suhu dan permukaan air laut. Dasar lautan yang semakin dalam menyebabkan sinar matahari semakin sulit untuk menjangkau tempat hidup Algae dan coral. Hal ini tentu akan.menganggu kemampuan zooxanthellae untuk berfotosintesis, yang akhirnya berdampak pada

16

pasokan nutrisi dan warna karang serta dapat memicu produksi kimiawi berbahaya yang merusak sel-sel mereka. Coral akan mati meninggalkan bongkahan kalsium kapur (CaCO3) berwarna putih jika perairan tidak segera mendingin sesuai batasan hidupnya (Jones et al., 1998; Hoegh-Guldberg dan Jones, 1999). Naiknya suhu dan permukaan air laut pada dasarnya merupakan dua kendala yang menjadi penyebab kerusakan dan kepunahan terumbu karang. Kedua kendala tersebut juga memberikan dampak serius pada ekologi samudera dan yang paling penting ekosistem terumbu karang yang merupakan tempat tinggal berbagai macam mahluk hidup samudera. Hewan karang akan menjadi stres apabila terjadi kenaikan suhu lebih dari 2-3 derajat celcius di atas suhu air laut normal. Pada saat stress, pigmen warna (Alga bersel satu atau zooxanthellae) yang melekat pada tubuhnya akan pergi ataupun mati sehingga menyebabkan terjadinya bleaching (pemutihan). Sebanyak 70-80 persen karang

menggantungkan makanan pada alga tersebut, jadi mereka akan mengalami kelaparan ataupun kematian. Bila penyebab stress tidak segera ditangani, maka akan menimbulkan kematian secara besar-besaran terhadap terumbu karang tersebut.faktor-faktor penyebab pemucatan karang. Faktor-faktor tersebut meliputi: kenaikan suhu air laut, penurunan suhu air laut, radiasi sinar matahari (termasuk sinar ultraviolet dan PAR), kombinasi antara kenaikan suhu dan radiasi sinar matahari, penurunan salinitas dan infeksi bakteri. Perubahan salinitas yang drastis dan pendedahan terhadap logam tertentu atau bahan beracun juga dapat menyebabkan pemucatan karang (Hoegh-Guldberg 1999).

17

Mayoritas pemutihan karang secara besar-besaran dalam kurun waktu dua dekade terakhir ini berhubungan dengan peningkatan suhu permukaan laut (SPL) dan khususnya pada HotSpots (Hoegh-Guldberg, 1999). HotSpot adalah daerah dimana SPL naik hingga melebihi maksimal perkiraan tahunan (suhu tertinggi pertahun dari rata-rata selama 10 tahun) dilokasi tersebut (Goreau dan Hayes, 1994). Apabila HotSpot dari 1C diatas maksimal tahunan bertahan selama 10 minggu atau lebih, pemutihan pasti terjadi. Dampak gabungan dari tingginya SPL dan tingginya tingkat sinar matahari (pada gelombang panjang ultraviolet) dapat mempercepat proses pemutihan dengan mengalahkan mekanisme alami karang untuk melindungi dirinya sendiri dari sinar matahari yang berlebihan. (Glynn, 1996; Schick et al., 1996; Jones et al., 1998). Peristiwa pemutihan karang dalam skala besar dipengaruhi oleh naikturunnya SPL, dimana pemutihan dalam skala kecil seringkali disebabkan karena tekanan langsung dari manusia (contohnya polusi) yang berpengaruh pada karang dalam skala kecil yang terlokalisir. Pada saat pemanasan dan dampak langsung manusia terjadi bersamaan, satu sama lain dapat saling mengganggu. Koloni karang yang telah memutih, baik yang mati seluruhnya atau hanya sebagian, lebih rapuh (rentan) terhadap perkembangan Algae yang berlebihan, penyakit dan organisme karang yang menjangkiti kerangka dan melemahkan struktur terumbu karang. Hasilnya adalah bilamana kematian tinggi, terumbu yang memutih berubah secara cepat dari warna putih salju menjadi abu-abu kecoklatan pupus seiring dengan perkembangan Algae menutupi mereka.

Bila dampak pemutihan yang terjadi sangat parah, alga yang berkembang secara ekstensif dapat mencegah rekolonisasi karang-karang baru yang secara dramatis

18

merubah pola-pola keanekaragaman jenis karang dan menyebabkan restrukturisasi komunitas tersebut.

b. Dampak terhadap Mangrove dan Lamun Perubahan iklim juga menghimbas daerah rawa dan perairan payau. Kedua kawasan ini merupakan daerah ragam hayati yang sangat kaya. Dengan kenaikan peras muka air laut setinggi satu meter maka daerah tersebut kemungkinan besar akan hilang. Begitu juga dengan hutan mangrove. Pada umuumnya di zona bagian depan adalah tanaman mangriov yang lebih tahan terhadap lingkungan asin seperti mangrove dari jenis pohin api api. Setelah itu lapisan berikutnya yang lebih ke daratan adalah pohon mangrove yang kurang terhadap air asin. Jadi, kenaikan muka air laut berdampak pada dua hal. Pertama ,pohon mangrove yang kurang tahan terhadap air asin terdesak kearah barat bermigrasi ke darat, kedua, pohon mangrove itu mati lantaran tak menemukan habitat yang sesuai dengan pertumbuhannya. Selain bermigrasi mangrove juga skan beradaptasi terhadap perubahan salinitas. Beberapa spesies khusus yang tidak toleran terhadap salinitas tinggi akan mengalami masalah atau bahkan mati. Penggenangan juga akan mengubah transportasi sedimen dan mangrove dengan akar nafas seperti jenis api-api (Avicenniia sp) akan terganggu. Pada

19

kondisi ini jenis mangrove yang masih dapat bertahan hidup adalah mangrove dari jenis akar tunjang seperti Rhizopora sp. Apabila salinitas di tingkatkan maka konduktivitas stomata dan air dalam jaringan sel mangrove bersifat negative karena mengandung lebih ion klorida. Perbedaan respond an kemampuan beradaptasi terhadap salinitas tentu saja akan berpontensi untuk mengubah komposisi dan dominasi dari ekosistem mangrove. Perubahan iklim juga akan mengkibatkan perubahan pola, frekwensi, dan kekuatan kejadian ekstrim seperti gelombang pasang dan badai. Mangrove merupakan salah satu ekosistem yang rentan terhadap hempasan angin kencang dampak ini akan semakin diperburuk dengan adanya kenaikan paras muka air laut. Selain mangrove, komunitas lamun (seagrass) juga sangat peka terhadap cahaya dan kualitas air. Kenaikan paras muka air setinggi 1 meter tidak terlalu merubah pertumbuhan hidupnya. Ancaman lainnya terhadap pertumbuhan lamun adalah beberapa dampak lain yang diakibatkan oleh perubahan iklim seperti pola cuaca dan peningkatan frekwensi badai.

4.2 Perubahan Profil Pantai Akibat Kenaikan Muka Air Laut Kenaikan muka air laut akibat iklim, memberikan pengaruh yang buruk pula terhadap struktur pantai. Besar kecilnya variasi kenaikan paras muka air laut ini tergantung banyak hal seperti letak lintang dan bujur dari kawasan pantai. Dua indikator tersebut mengakibatkan perubahan fisik lingkungan. Akibat kenaikan paras muka laut maka fisik lingkungan berubah. Perubahan itu meliputi: 1) Terjadinya gelombang ekstrim dan banjir. 2) Intrusi air laut ke sungai dan tanah.

20

3) Kenaikan muka air sungai di muara karena terbendung oleh paras muka air yang naik. 4) Perubahan pasang surut dan gelombang 5) Perubahan pola endapan sedimen Dari berbagai perubahan fisik lingkungan tersebut, dampak terparah dialami pada wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Dampak itu mengancam morfologi pantai, ekosistem alamiah, pemukiman, sumberdaya air, infrastruktur, perikanan, pertanian dan pariwisata bahari. Hal ini dapat dimaklumi karena wilayah pesisir merupakan kawasan pertemuan antara darat dan laaut.

21

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Hidrotermodinamika yaitu suhu air yang berubah ubah atau perubahan suhu air laut. Kenaikan muka air laut memberi dampak negatif bagi beberapa ekosistem pantai, seperti ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, dan ekosistem lamun. Perubahan iklim menyebabkan perubahan fisik lingkungan di wilayah pesisir.

5.2 Saran Indonesia sebagai salah satu Negara yang rentang terhadap perubahan iklim maka perlu melakukan pengkajian dan pemetaan terhadap kerentanan dan adaptasi dari perubahan iklim tersebut.

22

DAFTAR PUSTAKA

Baaka, Semuel. 2011. Dampak Perubahan Iklim Global Sebagai salah Satu Faktor Penyumbang Tingkat Kemiskinan Masyarakat Nelayan Tradisional di Papua. Makalah. Manokwari. Basyirun. 2008. BUKU AJAR Mesin Konversi Energi. UNNES. Semarang. Dasmasela, H.,Pedai, J. 2009. Kajian Kerentanan Terhadap Genangan Akibat Kenaikan Muka Laut di Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat. Laporan APN. Manokwari. Diposaptono, S.,Budiman, Agung, F. 2009. Menyiasati Perubahan Iklim di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Penerbit Buku Ilmiah Populer. Bogor. Gunawan, Budhi. 2008. Kenaikan Muka Air Laut dan Adaptasi Masyarakat. http://one.indoskripsi.com/node/5912. Diunduh 9 September 2011. Mansawan, A.A. 2010. Pengaruh Kenaikan Muka Air Laut Terhadap Pesisir Pantai. Makalah. Manokwari. Nerangel. 2010. Pengaruh Perubahan Iklim Global Terhadap Produktivitas Primer dan Kehidupan di Laut. http://my.opera.com/Nerangel/blog/pengaruh-perubahan-iklim-globalterhadap-produktivitas-primer-dan-kehidupan-di-l. Diunduh tanggal 9 September 2011. Yanto, E. 2010. Definisi Termodinamika. http://eritristiyanto.wordpress.com/2010/01/21/definisi-termodinamika/. Diunduh Tanggal 9 September 2011.

23