Anda di halaman 1dari 4

FGD 1 : Alur 1 (Cerdas) Materi : Memperluas Pikiran dan Memperkokoh Pijakan Metode : Ceramah +Diskusi Keterangan: FGD 2 (Alur

I) merupakan tahap memberikan pemahaman kepada mahasiswa baru mengenai bagaimana pola pikir dan mental yang mencerminkan seorang mahasiswa yang ideal. Mahasiswa seharusnya dapat berpikir dari berbagai sudut pandang yang berbeda sehingga dapat memutuskan sesuatu dengan tepat dan bijaksana. Mahasiswa seharusnya tidak memiliki mental yang mudah terpengaruh dengan sesuatu yang belum pasti kebenarannya. Jadi, tahap ini bertujuan untuk membentuk mahasiswa yang mampu berpikir kritis dan solutif, berhati-hati dalam setiap tindakannya, dan mempercayai apa yang yang dilihat dan didengar sendiri. Untuk itu, FGD 2 ini dikemas dengan metode ceramah dan kemudian diskusi. Mahasiswa baru terlebih dahulu dijelaskan mengenai materi dan kemudian saling memberikan feedback demi kejelasan materi ini. Teknik Penyampaian Materi: 1. Mentor/ Fasilitator maupun mahasiswa baru saling menyampaikan kabar masing-masing. 2. Mentor/ Fasilitator menyampaikan materi. Memperluas Pikiran dan Memperkokoh Pijakan Life is a game ... play it Life is a struggle ... face it Life is a beauty ... praise it Life is a puzzle ... solve it Life is opportunity ... take it Life is sorrowful ... experience it Life is a song ... sing it Life is a goal ... achieve it Life is a mission ... fulfill it (Unknown)

Mahasiswa yang ideal adalah mahasiswa yang mempunyai pola pikir atau pandangan yang luas sehingga bisa berpikir lebih maju dari pola pikir mahasiswa lain pada zamannya, serta memiliki mental pengubah. Ia mau mendengarkan, tidak menutup mata terhadap apa yang terjadi di lingkungannya, mau menganalisis masalah yang terjadi, mencermati peluang-peluang yang ada, dan mau mengambil tindakan dengan apa yang bisa dia kerjakan. Mahasiswa sejati bukanlah orang yang diam di saat dia tahu ada yang harus diperbaiki dari lingkungannya. Sebagaimana Soekarno dan rekan-rekannya berpikir bagaimana caranya memerdekakan Indonesia di saat pemuda-pemuda pada zamannya masih bermain dan bersuka cita bersama teman-temannya. Contoh lain, ketika Tan Malaka telah memimpikan sebuah Republik Indonesia sementara pemuda-pemuda seumurnya masih bingung ingin berbuat apa, bahkan hanya bisa diam. Atau Kartini yang sedari kecil telah merasakan kesalahan dari paham feodalis yang dianut masyarakat Indonesia terdahulu. Dengan melihat dan memperhatikan kondisi lingkungannya maka seseorang bisa mengenal medan yang harus ditempuh sehingga mempunyai pijakan yang kokoh dalam melangkah. Untuk mencapai hal itu, yang bisa dilakukan oleh mahasiswa antara lain: 1. Berusaha untuk terus menambah wawasan. Jadi, ia berusaha menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk menambah investasi wawasan yang dibutuhkannya. Misalnya dengan memperbanyak diskusi. Tri Shubhi A., Koordinator DISC Masjid UI dan Aktivis HMI, menyebutkan tiga makna diskusi. Pertama, diskusi sebagai pendidikan emansipatoris dimana transfer pengetahuan, egaliterianisme, dan dialektika dilaksanakan. Kedua, diskusi sebagai bagian dari tradisi keilmuan dimana metode, teori, dan berbagai perihal tentang ilmu dibicarakan. Ketiga, diskusi berarti perlawanan. Hal ini dapat dilacak dari para pembangkang yang terus membahas kebobrokan sistem. Tanpa ragu dan tanpa rasa takut. Yang dimaksudkan disini adalah perlawanan terhadap suatu masalah. Kemudian, wawasan juga dapat diperoleh melalui buku bacaan, analisis kasus, organisasi, mengikuti acara-acara seminar, kajian, dll. Hal ini secara langsung dan tidak langsung dapat membuat seseorang mampu berpikir dari berbagai sudut pandang yang berbeda sehingga dapat memutuskan sesuatu dengan tepat dan bijaksana.

2. Bersikap kritis atau tidak membiarkan dirinya mudah terpengaruh dengan sesuatu yang belum pasti kebenarannya. 3. Siap mengemban amanah. Bagi mahasiswa, amanah adalah kesempatan emas untuk mengukir dedikasi terbaik yang dapat memberikan manfaat bagi sekitarnya, dengan melihat kesanggupan dirinya. Untuk itu, mahasiswa harus mempersiapkan diri dengan memperdalam kualitas dan kemampuan dirinya. 4. Rendah hati. Mahasiswa meyakini kemampuan yang ada pada dirinya bukanlah miliknya atau berdasarkan hasil usahanya semata, melainkan anugerah Tuhannya yang diberikan kepada dirinya sehingga mahasiswa ideal senantiasa memperkokoh hubungan dengan Tuhannya dan meyakini bahwa yang dapat menjadikannya mampu dan kuat tidak lain karena hubungan yang kuat pula pada Tuhannya. Selain itu, menjadikan dedikasi yang dilakukan sebagai rasa syukur atas pemberian Tuhan tersebut. 5. Mau berteman dengan siapa saja dan saling mendukung kegiatan positif dari teman tersebut sehingga dapat bertukar pikiran demi memperluas wawasan dan memperkokoh pijakan dalam menjalankan kehidupan kampus. 6. Dll. 3. Mahasiswa baru sharing pengetahuan mengenai bagaimana cara memperluas pikiran dan memperkokoh pijakan. 4. Mentor/ Fasilitator menyampaikan materi. Sebuah contoh klasik tentang berpikir lebih besar adalah atlet besar Inggris bernama Roger Bannister, orang pertama yang berlari sejauh satu mil (1,6 km) dalam waktu kurang dari empat menit. Sebelum meraih prestasi ini, semua mengira tak mungkin bagi manusia untuk berlari sejauh satu mil dalam waktu kurang dari empat menit. Beberapa orang bahkan mengira jantungmu akan meledak jika mencobanya! Tapi, Bannister bukan salah satu dari mereka. Usai ribuan atlet berlatih selama beberapa dekade tanpa berhasil memecahkan catatan waktu empat menit, Bannister memutuskan untuk melakukannya dan mencengangkan dunia dengan catatan waktu 3 menit dan 59,4 detik. Banyak yang bilang itu kebetulan---bahwa dia manusia super dan bahwa tak akan ada yang bisa melakukannya lagi. Tapi, satu bulan kemudian, rekor Bannister dipatahkan oleh

pelari Australia. Tak lama kemudian, banyak orang sanggup berlari sejauh satu mil hanya dalam waktu kurang dari empat menit. Apa yang berbeda? Kejadian apa yang tiba-tiba menghapuskan batasan waktu empat menit? Apakah sepatu baru dengan kantung udara keren, atau karena obat penambah kekuatan? Tidak. Pelari hanya punya anutan untuk mengembangkan pikiran dan melihat segala sesuatunya dari berbagai sudut pandang. Sesuai dengan Teori Berpikir Kuantum oleh Bobbi DePorter, yaitu berpikir bahwa selalu ada cara lain, selalu ingin tahu, cari sebanyak mungkin ide, cari contoh, dan tatap fokus pada siapa diri kita dan apa yang kita inginkan maka akan mempengaruhi sudut pandang dan emosi kita terhadap sesuatu dan menguatkan pegangan-pegangan kita sehingga yakin dengan pilihan yang diambil, tidak mudah terpengaruh oleh orang lain, berpikir netral sesuai dengan kebenaran. 5. Mahasiswa baru sharing pengalaman atau bercerita mengenai materi ini. 6. Mentor/ Fasilitator memotovasi/ sharing pengalaman dan pengetahuannya mengenai pentingnya wawasan yang luas dan pijakan yang kokoh di kampus kepada mahasiswa baru. Daftar Pustaka DePorter, Bobbi. Quantum Thinker: Melatih Otak, Berpikir Efektif dan Kreatif. Terj. Loveli. Bandung: Kaifa, 2009. Evita E. dan Soetarlinah Sukadji. Sukses Belajar di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Panduan, 2006. (Dan berbagai sumber lainnya).