Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM PERBENGKELAN PERTANIAN ( Las Listrik dan Las Asitelyn )

Oleh : Kelompok :5

Shift / Hari / Tanggal : B2, Kamis, 28 April 2011 Nama : 1. Rikky Triyadi 2. Mulyati 3. Lia Apriliani 4. Farid Baraba 5. Abdul Gofur Assisten : 1. Wony Andika B 2.Mardhika Lunaria J 3. Aditya M 4. Taufik Asidik 5. M. Adrian Munaf (97001) (97002) (97003) (97004) (97005)

LABORATORIUM PERBENGKELAN PERTANIAN JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Proses penyambungan pada suatu benda kerja dapat dilakukan dengan berbagai cara, tergantung sifat bahan dan kekuatan yang diinginkan. Selain itu dalam penentuan jenis sambungan yang akan dipih pun perlu memperhatikan biaya dan kemudahannya serta sifat benda kerja setelah pengyambungan. Salah satu teknik penyambungan yang relative mudah pengerjaannya dan dapat digunakan pada berbagai bentuk yang tidak dapat dilakukan dengan metode penyambungan lainnya adalah metode penyambungan dengan teknik pengelasan. Dalam dunia perbengkelan banyak terdapat benda kerja yang dalam proses penyambungannya sulit dilakukan dengan menggunakan paku rivet atau mur dan baut tetapi harus dilas. Salah satu contohnya pada penyambungan pipa gas dimana sambungan tersebut tidak boleh ada celah untuk menghindari kebocoran, sehingga harus digunakan teknik pengelasan. Dengan demikian pengelasan ini merupakan solusi untuk penyambungan benda kerja yang memerlukan kerapatan pada sambungannya. Dalam dunia teknik pertanian pengtahuan las tersebut sangat penting guna menunjang dan mempermudah dalam pembuatan mesin pertanian serta infrastrukur pertanian berupa saluran irigasi tertutup dengan menggunkan pipa besi. Oleh karena itu, praktikum ini sangat diperlukan oleh mahasiswa teknik pertanian yang akan bermanfaat dalam perancangan mesin pertanian atau hal lain yang memerlukan pengetahuan dasar pengelasan.

1.2 Tujuan Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut 1. Mahasiswa dapat mengetahui bagian-bagian mesin yang digunakan untuk mengelas dan menggunakan mesin las listrik dan las asitilen 2. Mahasiswa dapat melakukan pengerjaan mengelas dengan baik dan benar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Las Mengelas adalah suatu proses penyambungan logam dengan logam lainnya dengan mengikutsertakan energi panas, dengan atau tanpa tekanan, dengan atau tanpa logam pengisi. Berdasarkan definisi dari DIN (Deutch Industrie Normen) las adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam paduan yang dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair. Cara lain dalam penyambungan logam dikenal dengan : 1. Penyambungan logam dengan mur -baut 2. Penyambungan logam dengan paku keling 3. Penyambungan logam dengan pasak 4. Penyambungan logam dengan patri 5. Penyambungan logam dengan lipatan Penyambungan logam dengan cara pengelasan akan berbeda dengan cara penyambungan logam yang lainnya karena tidak menggunakan energi panas. Dengan pengertian di atas, maka penyambungan logam dengan

pengelasan dapat dibedakan menjadi pengelasan dengan asetilen dan pengelasan dengan listrik.

2.2 Las Asetilen Las Gas asitilen/Karbit adalah proses penyambungan logam dengan logam (pengelasan) yang menggunakan gas karbit (gas aseteline=C2H2) sebagai bahan bakar, prosesnya adalah membakar bahan bakar gas dengan O2 sehingga menimbulkan nyala api dengan suhu yang dapat mencairkan logam induk dan logam pengisi. Sebagai bahan bakar dapat digunakan gas-gas asetilen, propana atau hidrogen. Ketiga bahan bakar ini yang paling banyak digunakan adalah gas asetilen, sehingga las gas pada umumnya diartikan sebagai las oksi-asetelin. Karena tidak menggunakan tenaga listrik, las oksiasetelin banyak dipakai di lapangan walaupun pemakaiannya tidak sebanyak las busur elektroda terbungkus.

Pengelasan dengan gas asetilen atau dikenal pula dengan las karbit, dimana gas asetilen yang ditampung di dalam suatu abung besi. Gas yang lain adalah gas oksigen yang ditampung di dalam tabung besi pula dan memiliki tekanan yang tinggi. Kedua gas tersebut selanjutnya disalurkan dan dicampur di dalam brander, maka campuran kedua macam gas tersebut akan mudah terbakar. Dari proses pembakaran campuran gas asetilin dengan oksigen pada brander, maka ada beberapa kualitas nyala api yang dihasilkan dan dapat diatur dan dapat digunakan untuk melelehkan logam, antara lain : Nyala api netral untuk melapis agar

Nyala api netral digunakan untuk proses pengelasan

permukaan logam menjadi bertambah keras. Tanda-tanda dari api netral adalah nyala api inti atau nyala api kerucut dalam berwarna putih dan bersinar, tanpa diikuti nyala api kerucut antara, selanjutnya diikuti nyala api kerucut luar yang berwarna kuning.

Gambar 1 nyala api netral Nyala api oksigen lebih :

Nyala api oksigen adalah nyala api las yang berlebihan gas oksigennyaKualitas api semacam ini dapat diperoleh dengan cara mengurang jumlah gas asetilinnya setelah dicapai nyala netral. Nyala api las ini digunakan untuk proses pengelasan pada bahan kuningan dan perunggu. Tanda-tanda dari nyala api oksidasi ini antara lain nyala apinya berbentuk pendek dan berwarna ungu, kemudian disusul dengan nyala api kerucut luar yang juga terbentuk pendek.

Gambar 2 nyala api oksigen

Nyala asetilen lebih

Nyala api asetilin lebih atau karburasi adalah nyala api las yang berlebihan gas asetilinnya. Hal dapat diperoleh melalui cara, setelah nyala api netral dicapai katup bukaan asetilen diperbesar, sehingga komposisi gas menjadi kelebihan gas asetilen. Nyala karburasi dicirikan oleh nyala api inti atau nyala api kerucut dalam memiliki warna yang keruh, kemudian diikuti oleh nyala api kerucut antara berikutnya, dan diikuti lagi oleh nyala api ekor (luar) yang berwarna biru.

Gambar 3 nyala api asetilin lebih

Nyala Oksiasetilen
o

Dalam proses ini digunakan campuran gas oksigen dengan gas asetilen. Suhu nyalanya bisa mencapai 3500 C. Pengelasan bisa dilakukan dengan atau tanpa logam pengisi. Oksigen berasal dari proses hidrolisa atau pencairan udara. Oksigen disimpan dalam silinder baja pada tekanan 14 MPa. Gas asetilen (C2H2) dihasilkan oleh reaksi kalsium karbida dengan air dengan reaksi sebagai berikut: C2H2 + 2 H2O Ca(OH)2 + C2H2 Kalsium karbida air Kapur tohor gas asetilen

Bentuk tabung oksigen dan asetilen diperlihatkan pada gambar berikut.

Gambar.4 Tabung asetilen dan oksigen untuk pengelasan oksiasetilen. Agar aman dipakai gas asetilen dalam tabung tekanannya tidak boleh melebihi 100 kPa dan disimpan tercampur dengan aseton. Tabung asetilen diisi dengan bahan pengisi berpori yang jenuh dengan aseton, kemudian diisi dengan gas asetilen. Tabung asetilen mapu menahan tekanan sampai 1,7 MPa. Skema nyala las dan sambungan gasnya bisa dilihat pada gambar berikut.

Gambar. 5 Skema nyala las oksiasetilen dan sambungan gasnya Pada nyala gas oksiasetilen bisa diperoleh 3 jenis nyala yaitu nyala netral, reduksi dan oksidasi. Nyala netral diperlihatkan pada gambar dibawah ini.

Gambar. 6 Nyala netral dan suhu yang dicapai pada ujung pembakar Pada nyala netral kerucut nyala bagian dalam pada ujung nyala memerlukan perbandingan oksigen dan asetilen kira-kira 1 : 1 dengan reaksi serti yang bisa dilihat pada gambar. Selubung luar berwarna kebiru-biruan adalah reaksi gas CO atau H2 dengan oksigen yang diambil dari udara. Nyala reduksi terjadi apabila terdapat kelebihan asetilen dan pada nyala akan dijumpai tiga daerah dimana antara kerucut nyala dan selubung luar akan terdapat kerucut antara yang berwarna keputih-putihan. Nyala jenis ini digunakan untuk pengelasan logam Monel, Nikel, berbagai jenis baja dan bermacam-macam bahan pengerasan permukaan nonferous. Nyala oksidasi adalah apabila terdapat kelebihan gas oksigen. Nyalanya mirip dengan nyala netral hanya kerucut nyala bagian dalam lebih pendek dan selubung luar lebih jelas warnanya.Nyala oksidasi digunakan untuk pengelasan kuningan dan perunggu.

Prinsip Kerja Alat Prinsip kerja alat ini berdasarkan proses pembakaran campuran gas asetilen dan oksigen yang bertekanan dengan perbandingan yang sesuai dengan cara mengaturnya melalui katup pada alat pembakarnya (brander). Brander berfungsi mengatur campuran gas yang dikeluarkan melaui saluran nosel, sehingga intensitas panas dari api hasil pembakaran campuran gas dapat diatur dengan memilih jenis nosel yang digunakan pada pengelasan.

Persyaratan Alat

Untuk memenuhi prinsip kerja alat pengelas seperti diuraikan di atas, maka perangkat alat las ini memerlukan persyaratan sebagai berikut : 1. Hindarkan tabung asetilen yang mudah terbakar ini dari sengatan terik matahari. 2. Penyaluran gas hendaknya selalu melalui alat pengatur (regulator) 3. Lepaskan regulator jika tidak sedang digunakan. 4. Tempatkan tabung pada posisi tegak Jika tabung asetilen menjadi panas

Bagian-bagian dari perkakas las asetilen dan fungsinya :

Gambar 7 Perlengkapan Las asitelin Tabung gas asetilin, terbuat dari bahan baja yang dicirikan dengan warna cat merah, biasanya memiliki kapasitas 40 60 L, dan memiliki bentuk pendek dan gemuk. Tekanan isinya mencapai 15 kg/cm2 Jika tabung ini akan dipergunakan maka katup penutupnya dibuka dengan menggunakan kunci sok. Baut dan mur pengikatnya menggunakan sistem ulir kiri. Tabung gas oksigen terbuat dari bahan baja, dengan bentuk tinggi ramping. Tabung ini memiliki tekanan isi 150 kg/cm2, dengan katup pembuka dengan sistem ulir kanan. Kapasitasnya mencapai 40 60 L, dengan warna catbiru. Perbedaan lain yang tampak nyata adalah model konstruksi alapengatur atau regulatornya Brander atau alat pembakar campuran gas, merupakan alat

untukmencampur dan alat pengatur pengeluaran campuran gas asetilin dan gasoksigen di dalam bagian yang disebut injektor.

Gambar 8 Brander

a. Nosel atau mulut brander : untuk mengatur laju aliran campuran gasuntuk dibakar. Ada 3 ukuran mulut nosel, yaitu kecil (S), sedang (M) dan besar (L). Yang kecil untuk mengelas bahan-bahan yang tipis atau kecidan yang besar untuk mengelas bahan yang tebal atau besar. b. Injektor : bagian dari brander yang berfungsi untuk mencampur gas asetilin dan gas oksigen c. Katup gas oksigen : untuk mengatur aliran gas oksigen yang memasuk bagian injektor d. Katup gas asetilen : untuk mengatur aliran gas asetilen yang memasuk bagian injektor e. Klem pengikat slang gas asetilen : agar hubungan antara selang penyalur gas asetilin dengan brander tidak timbul kebocoran. f. Klem pengikat slang gas oksigen : agar hubungan antara selang

penyalur gas oksigen dengan brander tidak timbul kebocoran.

2.3 Las Listrik Las listrik termasuk suatu proses penyambungan logam dengan menggunakan tenaga listrik sebagai sumber panas. Jadi sumber panas pada las listrik ditimbulkan oleh busur api arus listrik, antara elektroda las dan benda kerja. Benda kerja merupakan bagian dari rangkaian aliran arus listrik las. Elektroda mencair bersama-sama dengan benda kerja akibat dari busur api arus listriik. Gerakan busur api diatur sedemikian rupa, sehingga benda kerja dan elektroda yang mencair, setelah dingin dapat menjadi satu bagian yang sukar

dipisahkan. Jenis sambungan dengan las listrik ini merupakan sambungan tetap. Penggolongan macam proses las listrik antara lain, ialah : 1. Las listrik dengan Elektroda Karbon, misalnya las listrik dengan elektroda karbon tunggal dan Las listrik dengan elektroda karbon ganda.

Gambar 9 Las dengan elektroda karbon Pad las listrik dengan elektroda karbon, maka busur listrik yang terjadi diantara ujung elektroda karbon dan logam atau diantara dua ujung elektroda karbon akan memanaskan dan mencairkan logam yang akan dilas. Sebagai bahan tambah dapat dipakai elektroda dengan fluksi atau elektroda yang berselaput fliksi. 2. Las Listrik dengan Elektroda Logam, misalnya : a. Las listrik dengan elektroda berselaput, b. Las listrik TIG (Tungsten Inert Gas), c. Las listrik submerged. a. Las listrik dengan elektroda berselaput Las listrik ini menggunakan elektroda berelaput sebagai bahan tambahan.

Gambar 10 Las dengan elektroda selaput

Busur listrik yang terjadi di antara ujung elektroda dan bahan dasar akan mencairkan ujung elektroda dan sebagaian bahan dasar. Selaput elektroda yang turut terbakar akan mencair dan menghasilkan gas yang melindungi ujung elekroda kawah las, busur listrik terhadap pengaruh udara luar. Cairan selaput elektroda yang membeku akan memutupi permukaan las yang juga berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruh luar. Perbedaan suhu busur listrik tergantung pada tempat titik pengukuran, missal pada ujung elektroda bersuhu 3400 C, tetapi pada benda kerja dapat mencapai suhu 4000 C. b. Las Listrik TIG Las listrik TIG (Tungsten Inert Gas = Tungsten Gas Mulia) menggunakan elektroda wolfram yang bukan merupakan bahan tambah. Busur listrik yang terjadi antara ujung elektroda wolfram dan bahan dasar merupakan sumber panas, untuk pengelasan. Titik cair elektroda wolfram sedemikian tingginya sampai 3410 C, sehingga tidak ikut mencair pada saat terjadi busur listrik. Tangkai listrik dilengkapi dengan nosel keramik untuk penyembur gas pelindung yang melindungi daerah las dari luar pada saat pengelasan. Sebagian bahan tambah dipakai elektroda tampa selaput yang digerakkan dan didekatkan ke busur yang terjadi antara elektroda wolfram dengan bahan dasar. Sebagi gas pelindung dipakai argin, helium atau campuran dari kedua gas tersebut yang pemakainnya tergantung dari jenis logam yang akan dilas. Tangkai las TIG biasanya didinginkan dengn air yang bersirkulasi.

Gambar 11 pendinginan Tangkai las TIG Pembakar las TIG terdiri dari :

1) Penyedia arus 2) Pengembali air pendingi, 3) Penyedia air pendingin, 4) Penyedia gas argon, 5) Lubang gas argon ke luar,

6) Pencekam elektroda, 7) Moncong keramik atau logam, 8) Elektroda tungsten, 9) Semburan gas pelindung.

Gambar 12 Pembakar las TIG c. Las Listrik Submerged Las listrik submerged yang umumnya otomatis atau semi otomatis menggunakan fluksi serbuk untuk pelindung dari pengaruh udara luar. Busur listrik di antara ujung elektroda dan bahan dasar di dalam timnunan fluksi sehingga tidak terjadi sinar las keluar seperti biasanya pada las listrik lainya. Operator las tidak perlu menggunakan kaca pelindung mata (helm las). Pada waktu pengelasan, fluksi serbuk akan mencir dan membeku dan menutup lapian las. Sebagian fluksi serbuk yang tidak mencair dapat dipakai lagi setelah dibersihkan dari terak-terak las. Elektora yang merupakan kawat tampa selaput berbentuk gulungan (roll) digerakan maju oleh pasangan roda gigi yang diputar oleh motor listrik yang dapat diatur kecepatannya sesuai dengan kebutuhan pengelasan.

Gambar 13 Las Listrik Submerged d. Las Listrik MIG

Seperti halnya pad alas listrik TIG, pad alas listrik MIG juga panas ditimbulkan oleh busur listrik antara dua electron dan bahan dasar. Elektroda merupakan gulungan kawat yang berbentuk rol yang geraknya diatur oleh pasangan roda gigi yang digerakkan oleh motor listrik. Gerakan dapat diatur sesuai dengan keperluan. Tangkai las dilengkapi dengan nosel logam untuk menghubungkan gas pelindung yang dialirkan dari botol gas melalui slang gas. Gas yang dipakai adalah CO2 untuk pengelasan baja lunak dan baja. Argon atau campuran argon dan helium untuk pengelasan aluminium dan baja tahan karat. Proses pengelasan MIG ini dadpat secara semi otomatik atau otomatik. Semi otomatik dimaksudkan pengelasan secara manual, sedangkan otomatik adalah pengelasan yang seluruhnya dilaksanakan secara otomatik. Elektroda keluar melalui tangkai bersamasama dengan gas pelindung.

Gambar 14 Las Listrik

BAB III METODELOGI

3.1 Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut: 1. Mesin las listrik 2. Elektroda 3. Besi plat 4. Peralatan las asitelin 5. Kacamata las 6. Tabung Gas Asetilen 7. Tabung Gas Oksigen 8. Regulator Asetilin 9. Regulator Oksigen 10. Brander 11. Selang penyalur gas asitelin dan oksigen

3.2 Prosedur Percobaan Prosedur pelaksanaan praktikum pengerjaan las ini adalah sebagai berikut: a. Las listrik

1) Memasang peralatan mengelas Memeriksa seluruh peralatan, sarung tangan bersih dari minyak atau kotoran lainnya Memeriksa helm las yang amsih layak dipakai

2) Meletakan besi siku yang akan dilas pada meja kerja dan menjepitnya dengan tang penjepit 3) Menetukan besar arus dan tegangan listrik 4) Mengores-gores elektroda pada plat yang telah tergantung dengan tang massa 5) Melakukan las titik untuk mengunci sambungan besi siku yang akan dilas 6) Melakukan pengelasan dengan ayunan elektroda yang benar dan tepat 7) Sudut elektroda 70 o 80 o terhadap bidang datar kerja

8) Membersihkan terak dengan menggunakan palu terak 9) Merapihkan bentuk akhir besi siku yang telah dilas dengan menggunakan palu

b. Las asitilen 1) Membuka katup atau kran tabung gas asetilin dengan bukaan diatur agar tekanan keluarannya menunjukkan 5 kg/cm2 dan katup atau kran tabung gas oksegen dengan menunjukkan 25 kg/cm2 2) Memuka katup asetilen pada brander secukupnya jangan terlalu besar atau terlalu kecil 3) Menyalakan api di depan mulut brander tadi, sehingga timbul nyala api 4) Membuka katup oksegen pada brander, atur dari kecil sampai cukup besar dan perhatikan apakah nyalanya berupa nyala api netral, nyala api oksigen lebih atau nyala api asetilin lebih 5) Mendekatkan nyala api ke bahan kerja yang akan disambungkan dan atur pengelasannya disertai dengan menggunakan kawat lasnya 6) Bila sudah dianggap selesai katup oksigen ditutup dahulu kemudian katup asetilin di tutup, sehingga nyala api padam. 7) Bila kegiatan sudah dianggap selesai tutup pula katup atau kran pada kedua tabung gasnya bukaan diatur agar tekanan keluarannya

Nama : Rikky Triyadi NPM : 240110097001

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil praktikum

Gambar 15 Hasil las listrik

Gambar 16 Proses Las asitelin

4.2 Pembahasan pada praktikum kali ini dilakukan dua cara pengelasan untuk menyambung besi siku dan plat. Penyambungan besi siku pada rangka dilakukan dengan menggunakan las listrik sedangkan las asitelin digunakan pada penyambungan plat. Pengelasan dengan Las Listrik Hasil benda kerja yang disambung dengan menggunkan las listrik ini relatif lebih bersih dibandingkan dengan menggunakan las asitelin. Namun pengerjaannya lebih sulit karena percikan cahaya las listrik lebih terang sehingga harus menggunakan kaca mata las yang sangat hitam yang mengurangi penglihatan praktikan, akibatnya proses penyambungan terkadang

Nama : Rikky Triyadi NPM : 240110097001 meleset dan menyebabkan cacat pada benda kerja yang terkesan tidak rapi. Karena elektoda pada mesin las listrik sangat panas tanpa adanya keterampilan dapat menyebabkan benda kerja menjadi bolong ikut meleleh dengan elektroda. Dengan susahnya penglihatan akibat kaca mata yang sangat hitam menyebabkan hasil penyambungan kurang maksimal dan menyebabkan kekuatan las pun kurang terkadang terjadi kegagalan dan adanya bagian benda kerja yang terkena percikan las. Kendala penglihatan pada pengelasan listrik ini dapat diatasi dengan cara melakukan pengelasan ditempat yang terang atau dapat juga dilakukan pada luar ruangan yang mendapatkan cahaya matahari lebih sehingga kurangnya daya penglihatan akibat pemakaian kaca mata las dapat diminimalisasi. Pengelasan dengan las asitelin Berbeda halnya dengan las listrik, las asitelin mengunakan gas oksigen dan asitein sebagai bahan untuk pemanasan logam yang akan dilelehkan untuk membuat sambungan antara dua buah benda kerja. Perbedaannya hanya pada sumber energinya, pada prinsipnya pengelasan dengan las asitilen sama dengan las listrik, yaitu menyambungkan dua buah benda dengan lelehan logam. Las asitein ini proses pengerjaannya lebih rumit dan bagian peralatannya pun lebih kompleks dibandingkan dengan las listrik. Meskipun pada prinsipnya pengerjaannya sama namun hasil pengelasannya berbeda. Hasil las asitelin cenderung benda kerjanya kotor yang dihasilkan dari asap pembakaran. Namun demikian proses pengelasan deangan las asitelin ini lebih mudah dibandingkan dengan las listrik. Selain itu, las asitelin pancaran cahayanya tidak terlalu terang sehingga pada penyambungan praktikan masi dapat melihat benda kerja dengan jelas meskipun menggunakan kaca mata khusus las ini. Menurut pengamatan praktikan hasil pengelasan dengan las listrik lebih kuat dibandingkan dengan las asitelin karena menggunakan las listrik suhunya lebih panas sehingga elektroda dan benda kerja akan mencair dan menyatu setelah dingin yang mengakibatkan terbentuknya sambungan yang relative lebih kuat. Pad alas asitelin terdapat dua kali pengerjaan panas, yaitu

Nama : Rikky Triyadi NPM : 240110097001

pertama pada saat pemanasan benda kerja dan yang kedua adalah pemanasan timah sehingga pada saat pemanasan timah, benda kerja yang telah dipanaskan suhunya akan turun kembali jika pemanasan timah berlangsung lama. Hal tersebut mengakibatkan sat timah meleleh benda kerja tidak pada suhu optimal sehingga penyambungan tidak sempurna. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dari segi penggunaan las asitelin lebih mudah tetapi dari segi kekuatannya sambungan dengan las listrik relatif lebih kuat. Tetapi disarankan untuk penyambungan plat dengan ketebalan yang cukup besar lebih baik menggunakan las listrik karena jika menggunakan las asitelin prosesnya akan lebih lama terutama saat pemanasan benda kerjanya. Dari segi keamanan pada kedua pengerjaan las ini mempunyai resiko masing-masing. Pada las listrik apabila tidak menggunakan alat pelindung diri yang memadai dapat mengakibatkan ganguan penglihatan yang bersifat sementara yang ditandai adanya perih di mata dan mata kelihatan merah. Selain itu, pada las listrik juga dihasilkan gas buang yang dapat mengganggu pernapasan praktikan. Sedangkan pada pengelasan asitilen terdapat bahaya lain yang tidak terdapat pad alas listrik, yaitu adanya kemungkinan terjadi luka bakar terutama pada saat penyalaan.

Nama : Rikky Triyadi NPM : 240110097001 BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, praktikum pengelasan ini dapat disimpulkan sebagai berikut 1. Hasil benda penyambungan dengan las listrik relative lebih rapih dan bersih sedangkan hasil pengelasan dengan las asitelin relative kotor 2. Dalam proses pengerjaannya pengelasan dengan las listrik lebih praktis dari pad alas asitelin 3. Kekuatan hasil sambungannya lebih kuat dengan mengunakann las listrik 4. Pengelasan dengan las listrik berisiko terhadap gangguan mata karena cahayanya sangat terang sedangkan dengan las asitelin pada asapnya yang lebih berbahaya 5. Waktu pengerjaannya las listrik lebih cepat dibandingkan las asitelin

5.2 Saran Adapun saran yang dapat disampaikan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut 1. Pada pengelasan dengan menggunakan las listrik dan las asitelin sangat diperlukan pemakaian sarung tangan dan kaca mata las serta masker 2. Pengerjaan las dilakukan pada ruangan yang cukup terang agar penggunaan kaca mat alas tidak mengganggu penglihatan terutama pada benda kerja yang akan dilas terlihat jelas 3. Peletakan tang masa sejauh mungkin dari titik yang akan dilas untuk menghindari kontak langsung dengan elektroda yang dapat

menyebabkan kerusakan pada mesil las 4. Pada saat menggunakan las asitilen perlu diperhatikan ukuran nozzle yang sesuai dengan pekerjaan yang diinginkan

Nama : Rikky Triyadi NPM : 240110097001

5. Saat pemanasan timah letak api tidak terlalu tinggi dari benda kerja yang akan disambung agar panasnya tetap terjaga untuk menghasilkan sambungan yang baik

DAFTAR PUSTAKA

Bintaro,A. Gatot. 1999. Dasar-dasar Pekerjaan Las, Kanisius, Yogyakarta. Daryanto,Drs.1993.Dasar-dasar Teknik Mesin.Penerbit Rineka Cipta:Jakarta Dendi.2008.TeknikPengelasan:http://indonesiamekanikal.blogspot.com/2008/05/t eknik-pengelasan-welding-bag-1.html. Diakses tanggal 3 Mei 2011 pukul 20.00 WIB Nawawi Gunawan.2001.Penanganan Perkakas dan Alat Ukur Perbengkelan. Jakarta :Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan http://id.wikipedia.org/wiki/Las_karbit. Diakses tanggal 3 Mei 2011 pukul 20.15 WIB http://domba-bunting.blogspot.com/2009/06/mengenal-kerja-las-listrik.html. Diakses tanggal 3 Mei 2011 pukul 20.30 WIB

LAMPIRAN