Anda di halaman 1dari 2

ANALISA ARTIKEL SOSIAL-POLITIK

Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang menggunakan prinsip demokrasi. Demokrasi berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata Demos yang berarti rakyat dan Kratos yang berarti pemerintahan. Jadi, demokrasi adalah, pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Salah satu penerapan demokrasi di Indonesia adalah dengan diadakannya pemilihan umum atau sering diesbut dengan pemilu. Tidak hanya pemimpin negara yang dipilih langsung oleh rakyat, sejak bulan Juni 2005 pemimpin daerah pun mulai dipilih berdasarkan suara rakyat yang sering disebut dengan Pilkada. Untuk menjamin pelaksanakan suatu pemilu atau pilkada dibentuklah penyelenggara pemilihan umum yang bernama Komisi Pemilihan Umum (KPU). KPU yang berada di masing-masing daerah disebut KPUD. Kemudian sebagai badan pengawas kinerja KPU, pemerintah pun membuat Badan Pengawas Pemilihan Umum atau Bawaslu. Sebagai lembaga yang berwenang menyelenggarakan pilkada, seharusnya KPU dapat menjamin pemilihan umum yang tertib dan aman. Sedangkan sebagai pengawas, Bawaslu seharusnya dapat mengontrol kinerja KPU, agar perselisihan yang terjadi di pilkada dapat diminimalisir. Akan tetapi dalam pelaksanaan Pilkada selalu saja ada masalah yang timbul. Sering kali ditemukan pemakaian ijazah palsu oleh bakal calon. Hal ini sangat memprihatinkan. Biaya untuk menjadi calon juga tidak sedikit, jika tidak ikhlas ingin memimpin maka tindakannya adalah mencari cara bagaimana agar uangnya dapat segera kembali atau balik modal, ini tentu sangat berbahaya. Tidak hanya itu, seringkali pihak yang kalah, tidak dapat menerima kekalahannya dengan lapang dada. Sehingga dia akan mengerahkan massa untuk mendatangi KPUD setempat. Selain masalah dari para bakal calon, terdapat juga permasalahan yang timbul dari KPUD dan Bawaslu setempat. Seringkali terlihat banyak oknum KPUD dan Bawaslu setempat yang terlibat kasus politik uang. Oknum-oknum tersebut diduga melakukan kecurangan dengan menghalangi seseorang yang tidak dipihaknya menjadi calon kepala daerah dan memaksakan seseorang yang tidak memenuhi persyaratan agar bisa menjadi calon kepala daerah . Hal itu tentu membuat adanya pihak yang merasa dirugikan dengan dihilangkannya hak mereka. Pihak-pihak tersebut menghalalkan segala cara untuk bisa memenangkan Pilkada. Tak hanya mengerahkan massa, para kandidat yang kalah pun tidak segan mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) dengan cara biasa ataupun yang

berlebihan agar bisa mempengaruhi MK dan tidak jarang cara mereka berhasil. Maraknya gugatan sengketa pilkada ke Mahkamah Konstitusi muncul karena masalah independensi KPUD serta Bawaslu yang tidak bisa melepaskan diri dari penguasa lokal. Dapat dilihat bahwa kinerja KPU dan Bawaslu buruk karena kedua lembaga tersebut tidak netral dalam menyelenggarakan pilkada. Dalam banyak kasus pilkada, mereka terlihat berpihak kepada salah satu kandidat atau parpol MK merasa geram atas isu dihilangkannya hak calon pemimpin daerah sehingga mereka tidak mempunyai posisi hukum. MK akan mengancam KPUD setempat. Akan tetapi sikap MK juga terkesan tidak konsisten dalam menyelesaikan isu tersebut. MK dinilai tidak bisa membuat keputusan yang sesuai dengan hukum yang ada. Ketidakpastian keputusan MK juga sangat mempengaruhi ketidak konsistenan keputusannya. Untuk itu sebaiknya diadakan pengadilan khusus pemilu. Putusan pengadilan pemilu mengikat penyelenggara pemilu sehingga ada jaminan bagi calon kepala daerah. UndangUndang mengenai Pemilu sangat perlu untuk direvisi, karena terlalu banyak kebijakankebijakan yang terlalu sulit untuk diterapkan di kalangan politik pemilu Indonesia. Begitu juga dengan peran calon kepala daerah sangat penting dan juga krusial, pendidikan politik bagi para calon kepala daerah menjadi jalan utama yang mesti dikembangkan untuk menjadikan pilkada yang dapat di teladani oleh masyarakat. Sudah seharusnya sudah tertanam kepada tokoh-tokoh politik, masyarakat, dan penyelenggara, bahwa pilkada itu adalah untuk proses demokratisasi bukan hanya ajang kontestasi.

Anda mungkin juga menyukai