Anda di halaman 1dari 3

SRI MULYATUN, Dra.

,MM UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

SISTEM BILANGAN

Bilangan adalah sebuah aksioma, sehingga tidak perlu didefinisikan. Untuk menyatakan sebuah bilangan digunakan lambang bilangan, yang berupa himpunan benda sejenis yang ada di sekitar kita. Misalnya bilangan lima, dapat dilambangkan oleh lima jari atau lima buah benda sejenis. Untuk keperluan perhitungan, digunakan gambar lambang bilangan yang dinamakan dengan angka. 1. Struktur Bilangan Bilangan dapat dikelompokan atas himpunan, yaitu : 1). Bilangan asli : {1 , 2 , 3 , . . . } 2). Bilangan cacah : {0 , 1 , 2 , 3 , . . . } 3). Bilangan prima, yaitu bilangan yang hanya habis dibagi oleh dirinya sendiri. Misal : 2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, . . . 4). Bilangan bulat : { . . . , -3 , 2 , -1 , 0 , 1 , 2 , 3 , . . . } ,Bilangan yang berada di sebelah kiri 0 atau bilangan yang lebih kecil dari 0, dinamakan bilangan negatif. Yang di kanannya atau bilangan yang lebih besar dari 0, dinamakan bilangan positif. 5). Bilangan real yang terdiri atas bilangan rasional dan bilangan irasional. Bilangan rasional adalah bilangan yang dapat disajikan dalam bentuk , b tidak sama dengan 0 (ditulis b 0), dengan a dan b bilangan bulat. Bilangan rasional jika disajikan dalam bilangan desimal, yaitu bilangan yang disajikan dengan menggunakan tanda koma (,) jika nilainnya antara 0 dengan 1. Maka pada desimalnya (bilangan disebelah kanan tanda koma) terjadi pengulangan bilangan atau terhentipada 0. Misalnya, 0,285714285714... 6). Bilangan kompleks, yaitu bilangan yang disajikan oleh : a + ib dengan a dan b bilangan real, i = yang dinamakan bilangan imaginer. Pada sajian ini a

dinamakan bagian real dan b bagian imaginer. Jika dinotasikan, N = himpunan bilangan asli, C = himpunan bilangan cacah, Z = himpunan bilangan bulat, Q = himpunan bilangan rasional, I = himpunan bilangan irasional, R = himpunan bilangan real, dan K = himpunan bilangan kompleks, maka berlaku hubungan, 1. C = N {0} 2. Q I = 3. R = Q I

SRI MULYATUN, Dra.,MM UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

4. N C Z R K

2. Operasi dalam sistem bilangan real memiliki sifat : 1. Tertutup. Jika a dan b bilangan real, maka a x b (ditulis ab) dan a + b juga bilangan real. 2. Komutatif. Jika a dan b bilangan real, maka ab = ba , dan a + b = b + a . 3. Asosiatif. Jika a , b , dan c bilangan real, maka a(bc) = (ab)c , dan a + (b + c) = (a + b) 4. Distributif. Jika a , b , dan c bilngan real, maka a(b + c) = ab + ac Sifat asosiatif dan distributif menyatakan bahwa operasi dalam tanda kurung harus selalu didahulukan. 5. Trikhotomi. Jika a dan b bilangan real, maka hanya satu dari tiga hubungan di bawah ini yang berlaku. 1) a = b, 2) a > b yang berarti : a b positif ( a b > 0), 3) a < b yang berarti : a b negatif ( a b < 0), Sebagai implikasi dari sifat trikhotomi, maka berlaku hubungan A) a + b > 0, jika a > 0, b > 0, a + b < 0, jika a < 0, b < 0, ab > 0, jika a > 0, b > 0, atau a < 0, b< 0 ab < 0, jika a > 0, b < 0, atau a < 0, b > 0. B) untuk setiap bilangan real c, (1) a + c > b + c, jika a > b, (2) a + c < b + c, jika a < b, (3) jika a > b, maka ac > bc, jika c > 0. Dan ac < bc, jika c < 0, sebaliknya, jika a < b, maka ac < bc, jika c > 0. Dan ac > bc, jika c < 0.

SRI MULYATUN, Dra.,MM UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

6. Adanya unsur satuan Definisi s dinamakan unsur satuan dari x terhadap operasi *, jika s*x = x atau x*s = x. Dalam sistem bilangan real, unsur satuan terhadap perkalian (x) adalah 1, dan terhadap perjumlahan (+) adalah 0. 7. Adanya unsur kawan Definisi k dinamakan unsur kawan dari x terhadap operasi *, jika k*x = s atau x*k = s, s unsur satuan. Dalam sistem bilangan real, unsur kawan dari x terhadap perkalian adalah : Dan terhadap perjumlahan : x. Berdasarkan unsur kawan ini, berlaku pernyataan