Anda di halaman 1dari 24

Yang

Terdalam
Aditya Kurnia Deni Tri Hartanto Fajar Sugih
Gabroni Ade Arbi Sagala Giovano Martland
Lia Puspitasari Malassa Nedya Farisia
XI IA 1

SEKOLAH MENEGAH ATAS NEGERI 1 DEPOK


2005//2006
PARA PEMAIN
Aditya Kurnia
sebagai Akur

Deni Tri Hartanto


sebagai Sembah

Fajar Sugih
sebagai Jeki

Gabroni Ade Arbi S


sebagai James Kwik Kian, Orang di Terminal 1

Giovano Martland
sebagai Aat

Lia P Malassa
sebagai Imah, Orang di Terminal 2

Nedya Farisia
sebagai Mak Enah, Orang di Terminal 3

2
PENOKOHAN
Aat
Tidak memiliki pendirian yang kuat, pemalas dan ceroboh. Tetapi
ketika ia sudah sukses di Jakarta, ia melupakan Mak Enah, Imah,
Akur dan desa tempat tinggalnya dulu. Ia berubah menjadi orang
yang sombong dan merubah namanya menjadi Giovano. Akhirnya
sadar dan menjadi orang yang bijaksana serta ramah.

Akur
Pemaaf, pekerja keras, optimistis, sederhana serta memiliki
pendirian yang teguh.

Imah
Penyabar, ramah, perhatian dan sederhana. Mencintai Aat dengan
sepenuh hati dan amat terpukul tatkala Giovano (Aat) menjadi
sombong ketika ia telah sukses.

Mak Enah
Keibuan dan amat sayang kepada anak semata wayangnya, Aat.
Memiliki tubuh yang lemah dan sakit-sakitan. Sangat kecewa ketika
tahu bahwa Giovano (Aat) sudah melupakan dirinya.

Sembah
Pemberani, tidak berpikir panjang. Pada awalnya ia suka mabuk-
mabukan dan seorang pemakai narkoba, kemudian bertobat dan
menjadi orang yang saleh.

Jeki
Suka mencuri dan mabuk-mabukan, emosinya labil dan agresif.
Akhirnya sadar dan menjadi orang yang memiliki loyalitas tinggi
terhadap teman dan pekerjaannya.

James Kwik Kian


Angkuh, serakah, egois dan materialistis. Bersifat persuasif dan
sering memaksa orang lain untuk melakukan kehendaknya.

3
SINOPSIS
Aat, Akur dan Imah bersahabat baik. Mereka tinggal di sebuah
desa terpencil yang mengalami kemarau sepanjang tahun.
Orangtua Akur dan Imah sudah meninggal karena dehidrasi,
sedangkan Aat tinggal berdua dengan Mak Enah, ibunya yang sakit-
sakitan sejak ayahnya meninggal karena tertabrak truk. Setiap hari
mereka bertiga bermain dan bersenda gurau bersama.
Waktu demi waktu berlalu, mereka menjadi dewasa. Aat dan
Akur yang sadar bahwa kualitas hidup mereka tidak akan
bertambah baik jika mereka hanya bersawah di tanah yang kering-
kerontang, memutuskan untuk merantau ke Jakarta demi
meningkatkan kualitas hidup mereka. Tangis penuh rindu Imah dan
Mak Enah mengantarkan kepergian mereka.
Setibanya di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta, nasib
malang menghampiri. Tas dan dompet mereka satu-satunya dicopet
orang. Karena mereka amat lelah setelah pergi jauh, mereka tidur di
sana.
Mereka lalu dibangunkan secara paksa oleh preman yang
bernama Sembah. Setelah menceritakan permasalahannya,
Sembah pun memaklumi mereka dan menjadi teman sepekerjaan,
yaitu sebagai pengamen jalanan. Mereka dikenalkan kepada Jeki,
teman Sembah.
Lama-kelamaan mereka menjadi teman akrab. Akur pun sadar
bahwa Sembah dan Jeki memiliki kebiasaan yang buruk yaitu suka
minum minuman keras dan mengonsumsi narkoba. Akur mengajak
Aat meninggalkan mereka, tetapi Aat menolak. Rupanya ia sudah
terjerumus kedalam dunia kehidupan malam terminal karena
pengaruh Sembah dan Jeki. Akhirnya Akur meninggalkan mereka,
sendirian.

4
Keberuntungan menghampiri Aat, Sembah dan Jeki karena
mereka ditawari rekaman oleh James Kwik Kian, seorang bos
perusahaan rekaman ”UNIPERSAL” yang kagum akan kekompakan
suara dan penampilan mereka yang inovatif setiap mengamen.
Mereka lalu membentuk boyband yang bernama ”JOKER” (Jomblo
Keren). Sementara Akur menjadi tukang pel di kantor UNIPERSAL.
Seperti yang telah diperkirakan James sebelumnya, JOKER
menjadi band yang terkenal. Aat menjadi orang yang sombong, ia
bahkan mengganti namanya yang dianggapnya kampungan
menjadi Giovano, nama artis telenovela kesukaannya. Mak Enah
dan Imah yang datang ke Jakarta, ditolaknya mentah-mentah
karena ia malu memiliki ibu yang tua renta dan sakit-sakitan. Mak
Enah yang sangat kecewa, meninggal karena depresi.
Giovano yang sadar bahwa ibunya telah meninggal karena
kecewa dengannya menjadi frustasi dan masuk rumah sakit jiwa.
Sementara reputasi JOKER menjadi buruk. Hingga tanpa disengaja
Akur, teman mereka dulu ditunjuk oleh James untuk menggantikan
Giovano ketika sedang mengepel lantai. Sembah dan Jeki kemudian
bertobat. Reputasi JOKER pun kembali bersinar dengan
bergabungnya Akur sebagai pengganti Giovano.
Sedangkan Giovano yang sakit, di rawat jalan dengan penuh
perhatian dan kasih sayang oleh Imah hingga ia kembali normal,
kemudian bergabung dengan teman-temannya dan mengubah
nama boybandnya menjadi ”Monkey Lovers”. Kemudian Giovano
dan Imah hidup bahagia bersama.

SCENE 1 : DESA

Di sebuah desa yang damai dan kering kerontang, hiduplah tiga


anak yang bersahabat
baik. Suatu hari, mereka sedang bermain petak umpet di sekitar
gubuk...
Imah : Aku hitung ya..1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9... (mencari) (tiba-
tiba terjatuh)
Aduh....kakiku!
Aat : (Tiba-tiba keluar dari balik gubuk) Kenapa Mah? (melihat
Imah sedang
memegangi kakinya, kemudian menghampirinya)
Imah : Kakiku... aku jatuh dan kayaknya kakiku terkilir...

5
Aat : Sini aku obati... (mengurut kaki Imah)
Akur : (Keluar dari dalam gubuk) Imah? Kaki kamu kenapa?
Imah : Tadi aku jatuh terus kakiku terkilir... sekarang lagi
diobatin Aat.
Aat : Nah, sekarang sudah sembuh. (tampak puas)
Imah : Iya, sepertinya agak baikan. (tampak senang)
Akur : Sini aku bantu berdiri. (mengulurkan tangan)
Imah : Nggak usah Kur, aku sudah baikan kok. Makasih ya At.
Aat : Sama-sama, Imah.

Sejak saat itu, Imah menyimpan rasa suka yang sangat dalam
kepada Aat. (jeda) Lima tahun kemudian, desa itu masih kering
kerontang. Bantuan dari pemerintah tidak kunjung sampai.
Aat : Kur, kamu pernah mikir nggak kalo begini terus, kapan
hidup kita bisa
lebih baik? Tiap hari nanemin sawah kering.
Akur : Benar juga. Emangnya kamu mau ngapain?
Aat : Kita ngerantau ke Jakarta yuk?
Akur : Kapan?
Aat : Besok.
Akur : Memangnya kamu mau ngapain di Jakarta? Di sana kan
apa-apa mahal.
Aat : Yang aku dengar dari orang-orang kampung yang sudah
pernah ke Jakarta,
katanya Jakarta itu kota metropolitan, kota modern, kita
bisa dapat
pekerjaan dan uang banyak di sana.
Akur : Emangnya kita berdua punya bekal yang cukup?

Aat : Itu sih gampang, nanti aku minta emak aku masak yang
semur jengkol
yang banyak untuk bekal di Jakarta.

6
Akur : Lho? Bukan itu maksudku, kita kan nggak punya bekal
pendidikan yang
cukup.
Aat : Benar juga ya, tapi kita coba aja dulu. Siapa tahu kita
bernasib mujur. Aku
ingin sekali membahagiakan emakku. (jeda sebentar)
Akur : Kamu enak ya, masih punya orangtua. (menengok ke
samping, bengong)
Aat : Maaf Kur, aku nggak bermaksud ngingetin kamu dengan
kedua
orangtuamu yang sudah meninggal saat paceklik enam
tahun lalu...
Akur : Ah, nggak usah dipikirin, santai aja. Bagaimana nih,
besok jadi kan kita
pergi ke Jakarta, aku juga udah bosen nanem padi.
Sepertinya seru juga
kalau kita merantau ke Jakarta.
Aat : Ya udah, sekarang kita siap-siap. Besok aku tunggu
kamu di rumahku jam
7 pagi, setelah pamit dengan emakku, kita berangkat ke
Jakarta.
Akur : (sok paskib) Siapp!!
(Mereka berdua lalu berjalan keluar sambil berangkulan dan
berteriak ”Tunggu Kami Jakarta!!!”)

SCENE 2 : PERGI KE JAKARTA

Keesokan harinya...di rumah Aat


Aat : Doakan Aat dan Akur ya mak! (bersimpuh)
Mak Enah : Ya anakku...emak pasti akan selalu mendoakan kalian,
tapi sebelum engkau

7
pergi, emak ingin bertanya sesuatu kepada kamu.
Aat : Apa Mak?
Mak Enah : Apa kamu sudah siap lahir batin untuk merantau ke
Jakarta? Emak nggak
mau kamu ngalamin hal-hal yang buruk, seperti
bapakmu yang tertabrak
truk tujuh tahun yang lalu. Emak takut.. kehilangan
kamu. Hanya kamu
satu-satunya anak emak...
Aat : Emak! (Nangis)

Ditengah jalan, Akur yang sedang menuju ke rumah Aat bertemu


dengan Imah.
Imah : Akur, kamu mau kemana? Kok bawa tas besar begitu?
Akur : Apa Aat belum ngomong sama kamu Mah?
Imah : Ngomong apa Kur?
Akur : Aku dan Aat berniat merantau ke Jakarta, kami berdua
ingin mengadu
nasib disana.
Imah : Jadi kalian ingin merantau ke Jakarta dan meninggalkan
aku berdua
Mak Enah disini? Kalian jahat! Egois!
Akur : (kikuk) Aduh, aku nggak bisa ngejelasin disini. Sebaiknya
kamu ikut aku ke
rumahnya Aat, nanti Aat yang jelasin.

Mereka pun pergi ke rumah Aat.


Akur : Aat!!!
Aat : Ya Kur, masuk aja. Aku lagi siap-siap.
Aat : (kaget ngeliat Imah) Imah? Ngapain kamu disini?

8
Imah : Kamu jahat At, kok nggak bilang sih ke aku kalau kamu
mau merantau ke
Jakarta sama Akur? Kamu sebenarnya nganggap aku
sahabat bukan sih?
Aat : Mah, maafkan aku. Aku bukannya nggak mau ngasih tau
kamu soal ini.
Nanti kamu malah nggak ngebolehin aku dan Akur pergi.
Aku juga nggak
mau kamu sedih Mah. Tolong, ngertiin kami...
Imah : (nangis)
Akur : Iya Mah, kami berdua janji apabila kami telah sukses
kami akan
mengajakmu dan Mak Enah tinggal di Jakarta.
Imah : (masih agak nangis) Janji ya...
Akur dan : Iya.
Aat
Aat : Ya udah, kami berangkat dulu ya. Aku titip emak sama
kamu. Aku percaya
kamu bisa ngejaga emak dengan baik.
Imah : Aku pasti bakalan kangen sama kamu dan Akur..
Aat : (tersenyum pasrah) Mak, Aat berangkat ya...
Mak Enah : Jaga diri ya, anakku...
Akur : Mak, saya berangkat dulu ya...
Mak Enah : Titip Aat ya Kur.
Akur : Iya Mak.
Akur dan : Assalamu’alaikum...
Aat
Imah dan : Wa’alaikumsalam...hati-hati ya!
Mak Enah

SCENE 3 : DI JAKARTA

9
Akhirnya mereka sampai di Terminal Kampung Rambutan.
Akur : Aduh, aku kebelet nih. Kamu tunggu bentar disini ya At,
aku cari WC
dulu. Jagain tas sama dompetnya.
Aat : Cepetan!!
Akur : Iya...

Ditengah keramaian terminal, ternyata Jeki sedang mengintai Aat.


Jeki lalu mengambil tas dan dompet yang sedang dijaga oleh Aat.
Aat : Copet!!!! Tolong...copet!!! (mengejar Jeki tapi kalah
cepat)
(beberapa saat kemudian)
Akur : (tiba-tiba datang) Aat mana ya? Susah banget sih
bilangin dia, disuruh
nunggu malah kelayapan!! (melihat Aat yang lesu) Lho?
Kenapa At?
Aat : Kur, aku minta faap ya...
Akur : Minta maaf....kenapa?
Aat : Dompet dan tas kita...(terdiam)
Akur : Gua nggak mau denger kalo barang-barang kita ilang.
Aat : (tertunduk, terdiam)
Akur : Jawab dong!! Jangan diem aja, nggak ilang kan?
Aat : Kur. Aku kecopetan barusan...
Akur : Elo ini laki-laki bukan sih. Masa baru gua tinggal
sebentar udah
kecopetan!! Jawab!! Jangan kayak patung doang!!
Aat : Kur...udah dong. Aku tahu, aku salah, aku bodoh. Tapi
jangan marahin
aku kayak gitu dong!

10
Akur : Orang bodoh (mendorong kepala Aat) kayak elo
(menuding Aat) emang
harus dimarahin terus, gimana dong nasib kita kalau
udah kecopetan
begini mau nyari kerja dimana? Duit nggak ada, belum
makan lagi.
Aat : (terdiam, menunduk)
Akur : Susah ngomong sama patung, nggak ada gunanya!!
(pergi, mencari tempat
untuk tidur)
Aat : (masih menunduk, kayaknya nangis)
Sembah : (tiba-tiba datang) Hei, ngapain elo berdua disini! Yang ini
lagi, malah tidur!
Woi, bangun lo!!! (nendang Akur)
Akur : (terbangun) Eh siapa lo, seenaknya aja ngusir-ngusir
gua! (kesal)
Sembah : Gua pengamen sekaligus preman yang nguasain ni
tempat!
Akur : Eh, maaf Bang, maaf.
Sembah : Elo kalo mau tidur disini harus bayar uang sewa ke gua.
Akur : Wah, saya nggak ada duit sama sekali Bang..
Sembah : Terus, lo mau gratis?? Enak aja!! Kencing aja musti
bayar, bisa-bisanya lo
mau tidur gratis!!
Akur : Tapi saya nggak ada duit sama sekali Bang, tadi saya
dan teman saya abis
kecopetan..
(hening sejenak)
Sembah : Ya udah, elo ikut ngamen aja ama gua. Hasilnya gua
bagi 60-40 ama elo.
Akur : Yah, kok nggak adil sih Bang?

11
Sembah : Lo udah gua tolongin masih bawel juga?! Lama-lama gua
cukil mata lo!!
Akur : Iya Bang, maaf..
Sembah : Ya udah! Mau nggak lo?
Akur : (berpikir sejenak) Ya udah deh, yang penting bisa
makan.
Sembah : Ayo ikut gua!
Akur : Ya Bang...

Setelah berjalan agak lama..


Sembah : Temen lo nggak diajak?
Akur : (memukul dahi) Astagfirullah, gua lupa...(balik ke tempat
Aat) At, ikut aku
yuk! At? (mengguncang bahu) At! Jangan bengong aja…

Aat : Aku masih merasa bersalah, Kur..seharusnya aku tadi


lebih ati-ati, sehingga
nggak kecopetan, maaf ya Kur..
Akur : Ya, aku dah maafin kamu. Sekarang, yang penting kita
kerja dulu, nyari
duit!
Aat : Emangnya kamu dah ada kerjaan?
Akur : Udah, tadi ada pengamen yang nawarin kerjaan.
Aat : Kerja apaan?
Akur : Kerjaannya pengamen apa coba?
Aat : Ngamen.
Akur : Ya gitu loh.
Aat : Yah.. masa kita jauh-jauh jalan ke Jakarta cuma buat
ngamen sih, mana
bisa dapet duit banyak..
Akur : Emangnya mau kerja apaan, kerja kantoran??
Aat : Hah, iya...iya aku mau tuh..

12
Akur : Emang kamu bisa baca?
Aat : Nggak.
Akur : Ya udah, belajar baca dulu gih, baru kerja kantoran.
Sekarang biar kita bisa
makan, bisa tetep idup harus nyari duit dulu, betul
nggak?
Aat : (ngangguk) Iya ya..
Akur : Makanya, sekarang kita ngamen aja dulu.
Aat : Ya udah deh...yuk!
Sembah : (tiba-tiba datang) Elo berdua ngapain sih, kok lama
banget! Jadi ikut
ngamen nggak sih?
Akur : Iya Bang, kita berdua mau ikut ngamen.
Sembah : Ya udah, let’s go.

Mereka lalu berjalan ke rumah Sembah untuk mengambil gitar dan


peralatan lain yang akan digunakan untuk mengamen.
Akur : Oh iya Bang, kita belum kenalan.
Sembah : Kenalin, nama gua Sembah.
Akur : Saya Akur Bang, ini Aat.
Aat : Tinggal ama siapa Bang?
Sembah : Ama temen gua, dia pengamen juga kayak gua.
Aat : Ooo..(ngangguk-ngangguk)
Sembah : Eh iya ngomong-ngomong gimana sih lo kok bego
banget bisa sampe
kecopetan begitu?
Aat : Yah, maklum Bang, kita orang dari desa, baru pertama
kali ke Jakarta, aku
kan nggak tahu kalo di Jakarta itu banyak copetnya.
Sembah : Ya elah.. makanya lain kali lo hati-hati. (menepuk bahu
Aat) Sekarang lo

13
udah tahu kan kerasnya kehidupan Jakarta? Nah itu dia
rumah gua.
(menunjuk) Gua panggil temen gua dulu ya.
Jek..Jeki...gua pulang neeh.
Jeki : Ya tunggu bentar. (keluar) Tumben lu jam segini udah
balik, emangnya
udah berapa supir yang lo palak?
Sembah : Baru dikit sih. Jek, kenalin nih, temen gua, Aat ama Akur.
Akur : (salaman) Akur...
Jeki : (salaman) Jeki...
Aat : (salaman) Aat...(mikir bentar) Eh, tunggu bentar,
kayaknya aku pernah
ngeliat wajah kamu...
Jeki : Ah, perasaan lo doang kali. Kita kan belom pernah
ketemuan.
Aat : Bener ah! (mikir bentar) Oh ya! Lo pasti yang nyopet tas
ama dompet gua
kan?
Jeki : Ehhh...jangan nuduh sembarangan lo!!
Aat : (menarik kerah baju Jeki) Ngaku aja deh lo, nggak usah
bohong!! Iya kan?
Sembah : (menuding Aat) Eh, jangan seenaknya lo nuduh temen
gua!
Aat : Bener kok, saya inget Bang, dia tadi yang ngambil
barang-barang saya.
(nunjuk-nunjuk Jeki)
Sembah : (menatap Jeki dengan dalam sambil megang bahunya,
Aat melepaskan
cengkeramannya) Jek, lu sekarang jujur ama gua. Bener
gak lu yang nyopet
nih orang punya dompet ama tas?
Jeki : (pucat dan gugup) Ngg...nggak kok. Nggak.

14
Aat : Maling mana ada yang ngaku!! Sini gua geledah rumah
lo!

Maka Aat dan Akur menggeledah rumah Sembah dengan teliti dan
tak lama kemudian..
Aat : (Aat dan Akur membawa barang-barang mereka) Ini
barang-barang kita,
betulkan lo yang nyopet! Argh, gua hajar juga nih! (mau
meninju, Jeki
berusaha melindungi diri)
Sembah : Gua kecewa Jek. Gua nggak nyangka kalo elo nggak
cuma malak, lo juga
nyopet!
Jeki : Eh, inget kan, (nunjuk Sembah) lu yang ngajarin
ilmunya?
Sembah : Iya gua tahu, tapi kalo lo mau nyopet tahu sikon juga
dong! Masa orang
yang baru datang dari kampung gini masih lo copetin
juga. Nyusahin
orang aja kerjaan lo Jek!
Akur : Udah, Bang, tenang dulu. (melihat ke arah Jeki) Bang,
barang-barang saya
sama Aat kami ambil lagi.
Jeki : (kesal) Ya udah! Ambil sana gih! Gua nggak perlu, lagi,
semur jengkol ama
duit dikit begitu!
Aat : Kalo begitu kenapa lo ambil?
Jeki : Abis tasnya gede, dompet tebel, gua kira isinya banyak!
Gak taunya cuma
semur jengkol ama duit cepekan lecek!
Akur : Ya udah Bang, daripada begini terus, mendingan kita
ngamen aja dulu yuk?

15
Nanti semur jengkolnya kita makan bareng-bareng deh!
Sembah : Yuk cabut! (mengajak)

SCENE 4 : ROCKING AAT

Tanpa kita sadari, waktu berlalu dengan cepat. Sudah tiga tahun
berlalu sejak Aat dan Akur datang ke Jakarta. Mereka kini telah
menjadi pengamen yang disegani bersama-sama dengan Sembah
dan Jeki, yang telah menjadi sahabat mereka. Tetapi masih ada sisi
gelap mereka yang belum disadari Aat dan Akur... dan perlahan-
lahan Aat mulai terjerumus!
Akur : (lagi nyapu sambil nyanyi-nyanyi tiba-tiba mendengar
suara-suara ganjil)
Sembah : Aaaaahh...... I belieeeve.... I can fly......Aaahhh...
Akur : Mbah? Lo lagi ngapain sih?
Sembah : Fly.... fly.... fly..... inilah surga!!
Akur : Kayaknya nggak beres nih. (menghampiri Sembah) Ya
Allah....
astagfirullah... Mbah... gila lo... lo make?
Sembah : (lagi sakaw) He..he..he...gokil asik abess, mau nyoba gak
lo? Nyesel elo
kalo nggak nyoba!
Akur : Gila lo!! Ini udah gak bener!! Itu haram, Mbah!!
(tiba-tiba)
Jeki dan Aat : Kami pulaaaaanggggg...... (datang dengan botol-
botol minuman keras di
tangan)
Jeki : Mbah, ini minumnya gua sisain buat elo!!
Akur : Ya Allah... Jeki? Aat? Kalian pada ngapain sih?
Aat : Minum coy... minum.. tadi abis pesta kita....

16
Akur : Pes..pesta? Pesta apaan? Kayaknya gak ada kondangan
hari ini?
Jeki : Pesta... itu tuh.... (melirik Aat) he..he..he..
Aat : Pesta bareng cewek-cewek!! (cekikikan lagi bersama
Jeki)
Akur : Na’udzubillahi min dzalik... Kalian pesta seks?? (marah)
Ini udah gak bener
ini. Kalian semua tobat, gua gak pengen kalian semua
kesesat ke jalan
setan!
Sembah : (menenggak botol minuman di tangan Jeki) Hari gini
tobaaat? Bodo
amaaat!!! Kita toast dulu dong! (toast dengan Jeki dan
Aat terus minum)
Akur : Aat, gua minta lo pergi bareng gua, tinggalin mereka
sekarang juga!
Jeki : Jangan At, enak kan maen ama kita-kita? Nanti gua
kenalin lo ke lebih
banyak cewek lagi, lo seneng kan?
Aat : Gua setuju ama lo, Jek! Hidup cewek seksi! (toast lagi)
Akur : (geleng-geleng kepala, menggumamkan sesuatu) Gua
dah muak! Gua
pergi! (pergi keluar)
Aat : Pergi aja sana! Jauh-jauh! Gak ada yang butuh lo ini!!!
(diiringi tawa Jeki,
Sembah dan Aat)

SCENE 5 : UNIPERSAL RECORDS

Akur yang tidak tahu kemana ia harus tinggal, menumpang di


mesjid. Pada suatu hari yang terik...

17
Aat, Jeki dan : (sedang mengamen, mereka memainkan alat
musik sambil menari-nari.
Sembah Begitu selesai, orang-orang memberikan sedikit uang)
James : (tepuk tangan) Hebat sekali, kalian benar-benar
kompak!
Jeki : (bisik-bisik) Mbah, ini temen lo ya?
Sembah : Bukan, gua kagak kenal!
James : Kenalkan, nama saya James Kwik Kian, Bos
perusahaan rekaman
UNIPERSAL RECORDS!
Aat : Eh? UNIPERSAL RECORDS yang kaset-kaset itu yak?
James : Iya, itu saya.
Sembah : Ada apaan nih Bos?
James : Begini, saya melihat penampilan kalian tadi itu
keren sekali. Benar-benar
kompak. Saya yakin, kalian dapat dijual!
Jeki : Dijual? Maksud lo, kita dijadiin budak ya? Eh, sori ya, gua
nggak mau!
James : Bukan, maksud saya kalian bisa jadi artis ngetop!
Mau nggak?
Aat, Jeki dan : HAH? Artis?! (berpandangan)
Sembah
James : Iya, duitnya banyak loh! Nanti banyak yang suka
juga, sama kalian!
Aat, Jeki dan : (tanpa pikir panjang) Mau, Bos!! Mau!!
Sembah
James : Baik, sekarang kalian ikut saya ke kantor! (Aat, Jeki
dan
Sembah mengekor James)

18
SCENE 6 : GIOVANO

Singkat kata, sekarang Aat, Jeki dan Sembah telah menjadi artis
terkenal. Sangat terkenal. Mereka tergabung dalam boyband JOKER
(Jomblo Keren), yang digandrungi oleh para remaja putri dan ibu-ibu
rumah tangga, meski anggota JOKER sombong-sombong. Aat
bahkan mengganti namanya yang dianggapnya kampungan
menjadi Giovano, nama bintang telenovela kesukaannya.

Sementara Akur, hanyalah menjadi tukang pel di kantor UNIPERSAL.


Tiap kali ia berpapasan dengan para sahabat lamanya itu, mereka
selalu membuang muka dan memperlakukannya bagaikan budak!

Bagaimana dengan Mak Enah dan Imah di desa?


Imah : Mak, katanya orang-orang kampung, sekarang si Aat
dah jadi artis Mak!
Jadi orang kaya!
Mak Enah : Benarkah itu? Tapi, kenapa dia tidak pernah kirim surat
ya? Padahal emak
kangen sekali sama dia. Si Akur juga. Tidak ada
kabarnya.
Imah : Iya, mak, mungkin dia sibuk ya? Saya juga kangen sama
dia. (jeda) Kalau
begitu, kita ke Jakarta saja yuk Mak! Cari Aat!
Mak Enah : Baiklah...

Di aula sebuah gedung mewah, JOKER sedang mengadakan konser


tunggalnya.
Tiba-tiba...

Mak Enah : (berlari menghampiri Giovano) Aat!! Anakku!!!


Jeki : Siapa nenek tua itu No? Nyokap lo? (nunjuk-nunjuk)

19
Giovano : (pucat, mendorong Mak Enah) Siapa elo? Gua nggak
kenal!! Dan lagi,
nama gua Giovano, bukan Aat!!
Imah : (muncul) Aat! Kenapa kamu jahat begitu sama emak
kamu! Beliau kan
yang ngelahirin kamu, bla bla bla...
Mak Enah : (kecewa, mengajak Imah pergi) Sudah, Imah, biarkan
saja dia begitu.
Mungkin emak salah orang, tapi emak yakin seorang Ibu
tidak akan salah.
(menengok ke arah Giovano dengan senyum satir) Emak
kecewa, sama
kamu, At...
Imah : Aat! Aku benci sama kamu!!
James : (tiba-tiba muncul) Ada apa ini??! (melihat ke arah
Mak Enah dan Imah)
Siapa orang-orang udik ini? Pergi kalian!! (mendorong
Mak Enah dan
Imah)
(tiba-tiba)
Mak Enah : *BRUGG* (pingsan)
Imah : Mak? Mak Enah?!
Mak Enah : (diam, karena sudah mati)
Imah : Aat... Mak Enah udah meninggal, At! Meninggal!
Giovano : (berlari ke arah mereka) Emaaakkkk!!!!!! (nangis)
James : Ada apa lagi ini sekarang!! Giovano!! Benar ini
emak kamu?
Giovano : (masih nangis sambil teriak-teriak)
James : Giovano!!! Jawab pertanyaan saya!!! Atau kamu
saya pecat!!
Imah : Benar pak, ini I...(terpotong oleh ucapan James)
James : Saya tanya ke Giovano!! Bukan ke kamu!!!

20
Giovano : (masih nangis sambil teriak-teriak)
James : Baik, kamu saya pecat!!! (kesal, marah-marah)
Apa? Kenapa yang lain pada
ngeliatin?! Ayo, the show must go on!! (pergi)
(tapi pertunjukan nggak berlanjut, dan Giovano masih teriak-teriak)

SCENE 7 : NASIB JOKER

Esoknya, di koran-koran terpampang headline ”GIOVANO, ANGGOTA


JOKER YANG DURHAKA MASUK RUMAH SAKIT JIWA!!” dan reputasi
JOKER pun menurun. James yang frustasi, asal menunjuk seseorang
yang sedang mengepel lantai untuk menggantikan Giovano. Orang
itu, tak lain adalah...

Akur : Hah? Saya pak?


James : Iya, kamu!! Atau kalau nggak mau ya udah siapa
aja! Tukang mi ayam di
depan aja kalau kamu nggak mau! Pokoknya reputasi
JOKER harus naik,
biar saya bisa dapet banyak duit lagi!! Sekarang panggil
Jeki dan Sembah
kesini!!
(kemudian Akur datang bersama Jeki dan Sembah)
Jeki dan : Kenapa bos?!
Sembah
James : Nih!! Penggantinya Vano! Saya nggak mau tahu,
pokoknya mulai sekarang
kalian harus tingkatin lagi reputasi kalian dan duit yang
mengalir!! Terserah
gimana caranya!! Sekarang, pergi!!! (ngusir)

21
Sembah : (sambil jalan) Gua nggak nyangka, bakalan ketemu lagi
sama lo, Kur.
Akur : Bukannya hampir tiap hari kita ketemuan?
Jeki : Iya sih. Eh, ngomong-ngomong, gua mau nanya sesuatu
ama lo.
Akur : Apaan Jek?
Jeki : Kalo gua tobat, kira-kira Tuhan bakal ngampunin dosa
gua nggak ya?

Akur : Insya Allah, kalo lo ngelakuinnya dengan ikhlas dan


sungguh-sungguh. Lo
mau tobat?
Jeki : Iya nih Kur, lama-lama gua bosen juga dengan
kehidupan gua selama ini,
gua ngerasa, gila dosa gua banyak banget!!
Sembah : Gua juga nih. Apalagi sejak gua ngelihat sinetron yang
waktu itu, tentang
orang jahat gitu matinya nggak asyik banget...
Jeki : Yah elu! Seleranya sinetron!
Sembah : Biarin! Gua kan cinta produk dalam negeri!
Akur : Eh, ngomong-ngomong dah pada jenguk Giovano
belom?
Jeki : Belum tuh....
Sembah : Ya udah, kita jenguk dia yo!
Akur dan : Ayo…
Jeki

SCENE 8 : FINALE

Reputasi JOKER meningkat seiring berlalunya waktu, begitu juga


dengan keadaan Giovano yang dirawat oleh Imah.

22
Hingga pada suatu hari, Giovano kembali tenang pikirannya. Dan
JOKER mengajaknya untuk bergabung kembali.

James : Kamu benar ingin gabung lagi? Kamu beneran


sudah sehat?
Giovano : Iya pak, saya sudah sehat...
James : Baik, kalau begitu kamu saya terima bergabung
kembali. Selamat,
Giovano!!
Jeki : Artinya anggota JOKER sekarang ada empat orang dong?
Sembah : Ya iyalah! Eh, tapi kayaknya nama JOKER udah gak
cocok lagi deh...
Semua : Kenapa??
Sembah : Anggota barunya... bukan jomblo kan??
Semua : Hah?? Iya??? (menengok ke arah Giovano yang
sedang mesem-mesem)
(kecuali Giovano)
Imah : (baru datang) Vano! Udah belum? Pulang sekarang yuk?
Nanti telat, loh,
kan dah janji mau nonton bareng...
Semua : (senyum-senyum gak jelas) Cieee.....
(kecuali Giovano)
Jeki : Nah, sekarang gua tau nama yang cocok buat kita!
Yang lainnya : Apaan?
Jeki : Monkey Lovers! Nah, keren kan?
Yang lainnya : (ada yang nyeletuk) Ah, iya, keren banget tuh
(yang lainnya berceloteh
sendiri)

23
***

24