Anda di halaman 1dari 17

Page 1 of 17

Naskah Drama Pendek TERSESAT DI HUTAN

Page 2 of 17

Pengarang : Siti Adinda Dihar Indahwati Caronge MTsN Model Makassar Kelas VIII-1 HP:08152558792 EMAIL: dcadinda5@gmail.com

Di bantu oleh: -Nurfitrah Aliyah Fauzi -Moh. Ibnu Rusyd Halim -Nur Resky Inayah -Resky Alif Sulaiman -Ainun Dwiyanti

MAKASSAR 2011

Page 3 of 17

Tema : Petualangan Judul :

Tersesat Di hutan
Plot Cerita -Siswa-Siswi MTsN Model Makassar pergi berkemah -Pada siang harinya, diadakan mencari jejak dihutan yang telah dipasang batas -Kelompok Harimau tidak sengaja keluar dari batas jalur dan semakin jauh kehutan -Mereka menemukan pohon buah dan berhenti sebentar untuk makan -Ketika menemukan jalan bercabang, mereka berselisih -Kelompok Harimau berpisah-pisah dan menuju jalur berbeda -Rupanya, jalur tersebut menyatu kembali pada ujungnya, mereka berdamai dan melanjutkan perjalanan bersama kembali -Setelah melewati jalan berliku, dan mereka berhasil menemukan kembali batas jalur mencari jejak -Mereka kembali ke perkemahan dengan selamat Tokoh-Tokoh 1. Moh. Ibnu Rusyd Halim (Ibnu) Siswa kelas VIII, putih, cerdas, blak-blakan, tidak mau diatur 2. Nurfitrah Aliyah Fauzi (Eka) Siswi kelas VIII, tinggi, penakut, pesimis, selalu sejalan dengan Ibnu 3. Nur Resky Inayah (Inayah) Siswi kelas VIII, agak tomboy, kurus, pemberani, optimis, suka berdebat, 4. Resky Alif Sulaiman (Resky) Siswi kelas VIII, putih, berwibawa, bersemangat, siap siaga, teliti, peduli sesama 5. Ainun Dwiyanti (Ainun)

Page 4 of 17

Siswi kelas VIII, agak kurus, lemah lembut, sabar, kutu buku, berkacamata 6. Siti Adinda Dihar Indahwati Caronge (Dinda) Siswi kelas VIII, agak tinggi, berpembawaan santai, kocak, agak linglung

Page 5 of 17

Naskah: Babak 1 Sebuah bus melaju dengan lancar, membawa serombongan siswa-siswi kelas VIII-1 MTsN Model Makassar menuju tempat kemping di sebuah hutan terdekat. Didalam bus, anak-anak menyanyi Naik-Naik Kepuncak Gunung dengan riangnya. Mereka semua sangat berbahagia, karena ini kemping pertama mereka. Semuanya:Naik-naik kepuncak gunung, tinggi-tinggi sekali! Kiri-kanan kulihat saja, banyak pohon cemara, kiri-kanan kulihat saja banyak pohon cemara Resky :Wah, aku sudah tidak sabar nih! Ingin rasanya cepat-cepat sampai! Inayah :Ya-ya-ya. Tapi, kita juga setidaknya menikmati pemandangan indah ini terlebih dahulu! Dinda :Tuh, cobalah dengarkan wahai kawan! Ibu Guru Inayah sedang berbicara mengenai indahnya alam ini! Eka :Ah, dasar kamu! Dimana pun dan kapan pun, selalu saja bercanda! Ibnu :Yah, seperti kamu tidak kenal Dinda saja, Eka! Dari kelas satu selalu begitu. Bawaanya santai! Ainun :Tidak ada perubahannya sedikitpun. Eh, lihat kita sudah hampir sampai (Menunjuk umbul-umbul diluar jendela kaca) Mereka semua sampai di tempat kemping dengan selamat. Setelah menurunkan semua barang bawaan, dan mendengarkan sedikit instruksi dari guru mereka, semua kelompok membangun sendiri-sendiri tenda mereka di tempat-tempat yang menurut mereka nyaman dan mereka sukai.

Page 6 of 17

Ainun Ibnu Nah,

:Ini bagaimana cara pasangnya? :Oh, kalau yang ini, masukkan kedalam lubang diatas, lihat?

begini, kemudian, pasang sambungannya dengan kuat, jadi tidak roboh jika terkena senggolan Ainun :Tolong bantu dong, ini keras sekali, Ibnu :Jelas keras, putarnya kekiri! Bukan kekanan! Nih, seperti ini! Resky :Yang didalam, sudah selesai belum?! Cepat sedikit, kami sudah berhasil mengumpulkan pasak-nya! Ibnu :Ya, kami sudah selesai! Eka :Aduh, kita harus pakai palu untuk menanamkan pasaknya. Nanti, kalau tangan kita kena, bagaimana? Resky :Ah, Eka. Pelan-pelan dong. Lihat, setelah menyambungkan tali dari tenda, pasangkan seperti ini. Lalu, pas-kan ditanah, dan pukul dengan palu pelan-pelan saja Inayah :Kalian kerja yang bagian sini, biar aku dan Dinda yang mengerjakan bagian satu lagi Dinda :Inayah, ini bagaimana? Kok susah sekali, Inyah :Aduh! Kok pasak yang kamu pegang pendek sekali? Barusa kamu apakan? Dinda :Patah sewaktu aku memukulnya dengan palu-palu untuk menanamnya kedalam tanah Inayah :Ya ampun. Ini, pakai yang baru, dan lihat caraku mengerjakannya, Mereka semua mengerjakannya dengan sangat teliti. Ketika sudah selesai, mereka menempatkan semua barang bawaan mereka kedalam tenda dan segera berkumpul di tempat yang sedikit lebih banyak pepohonan untuk menerima instruksi selanjutnya dari guru mereka.

Page 7 of 17

Babak 2 Pukul 07.00 WITA keesokan paginya, ketika semua peserta yang berjumlah 40 orang telah siap untuk pencarian jejak mereka berkumpul didekat pohon cemara yang sangat besar sambil sarapan bersama, mereka makan jagung, sosis, kentang, dan lain-lain serta mendengarkan beberapa teman-teman mereka ber-story telling bertema hantu yang dibawakan oleh lima regu lainnya. Tidak lama lagi, kegiatan pencarian jejak akan segera diberlangsungkan. Ainun :Hmmm, cerita hantu barusan hanya untuk membohongi anak kecil. Sama sekali tidak menyeramkan. Kesannya mengada-ngada saja. Aku tidak merasa takut sedikit pun, malah ingin tertawa Dinda :Hahahah, benar sekali. Tidak menyeramkan. Mengada-ngada saja. Hantu kok keluar dari oven? Mbok ya lebih kreatif dong. Hantu yang keluar dari kamar mandi kan, masih masuk akal. Oven? Hahahah! Ibnu :(Menunjuk Eka yang menutupi mukanya) Kenapa si Eka? Kok ketakutan sekali? Inayah :Ya ampun Eka, itukan hanya cerita karangan dari Regu Badak saja, kenapa harus takut? Eka :Aku takut, dirumahku ada oven. Nanti, kalau aku buat kue, terus menyalakan oven tiba-tiba muncul hantu, bagaimana? Resky :Eka, hantu itu bisa dimana saja, asalkan kita percaya Allah kita pasti terlindungi kok! Sudah, kenapa juga harus takut,

Page 8 of 17

Dinda keluar kelaparan Ibnu Hahahah!

:Iya, lho! Apalagi, hantunya keluar dari oven. Mana ada hantu dari oven. Hihihih Lucu. Taruhan, pasti hantunya hantu yang tidak pernah makan kue, :Atau keluar dengan muka perot-merot belepotan bahan kue!

Seru juga, tuh, Semua :Hahahahah! Akhirnya, waktu pencarian jejak tiba. Semua kelompok diberikan peta rute perjalanan mereka. Dengan batasnya, coretan cat tembok berwarna merah di pohon-pohon. Kalau melewati batas itu, bisa tersesat masuk kedalam hutan. Kelompok yang pertama masuk Regu Badak, diikuti Elang, Bunga Mawar, Bunga Lily, Gajah, dan terakhir Regu Harimau. Eka :(Sambil mencengkram tangan Resky) Hutan ini ternyata menyeramkan sekali. Aku takut, dan aku jadi teringat semua cerita horor yang dibawakan barusan Resky :Ayolah Eka, ini hanya hutan. Dan lagi, lepaskan cengkraman tanganmu. Sakit, tahu! Dinda :Oh, ayolah Eka. Tidak perlu ketakutan seperti itu. Nikmati saja, yah anggaplah kita berenam lagi jalan-jalan melepas penat, asyik lho! Inayah :Kita juga sudah diberikan peta jalur! Tenanglah! Ayo, semangat! Ainun :Awas, kalau pagi-pagi, hutan biasanya agak licin. Hati-hati, lho! Apalagi rute kita ini banyak batu-batu besarnya, bisa lebih licin lagi, Ibnu :Wow, iya juga sih. Aku malah baru tahu. Kok kamu bisa tahu banyak

Page 9 of 17

begitu, sih Ainun? Inayah :Aku malah tidak heran. Ainun kan kutu buku. Sudah pasti wawasannya luas, dong! Ainun :Ah, tidak juga kok, Dinda :Dia hanya merendah saudara-saudari sebangsa se-tanah air sekalian, Resky :Di peta ini, kita harus berbelok sekitar 4 meter lagi, dijalur yang tidak ada tumpukan batu-batu yang dicat merah. Kok belum terlihat, ya? Ibnu :Apa sudah kita lewati? Mungkin saja kita sudah dijalur yang benar, Eka :Yeah? Tapi, bagaimana kalau kita malah tersesat? Dinda :Hmmm. Thats a big deal. Tapi, aku yakin kok kalau kita semua, anggota Regu Harimau sudah di jalur yang benar, Eka :Owh, kamu sih enak. Berpembawaan santai. Apapun yang terjadi kamu bisa saja santai begitu, Dinda :Masa? Padahal aku agak khawatir juga, lho! Ainun :Raut mukamu tidak menunjukkan seperti itu. Yah, kamu memang begitu adanya. Mau bagaimana lagi? Inayah :Ah, sudah. Ayo kita lanjut lagi saja, Mereka mengikuti rute tersebut. Tanpa mereka sadari, mereka sebenarnya telah jauh keluar dari batas pelacak jejak. Ketika mereka berhadapan dengan sebuah lembah, mereka bingung sendiri. Karena, di rute peta, tidak melewati lembah. Ibnu :Inikan lembah. Tapi, kok bisa? Di peta kan tidak ada lembah, Eka :Hah? Aduh bagaimana ini?

Page 10 of 17

Dinda :(Melempar sebuah batu kedalam lembah) Waw, dalam sekali! Kalau jatuh, bisa mati mugkin ya? Resky :Apa boleh buat, kita kembali lagi saja, Babak 3 Mereka kembali ke tempat semula, namun semakin lama, pohon semakin banyak. Mereka semakin tersesat. Bahkan, sebuah jalur dengan tanda pohon pinus besar-tinggi sudah mereka putari beberapa kali. Ainun :Lho, pohon pinus ini lagi? Berarti kita sudah melewati jalan ini, kan? Kok sampai lagi? Inayah :Tapi, kalau menurut peta benar kok, nih! Resky :Waaaah! Gawat ini! Ibnu :(Memandang teman-temannya) Apa jangan-jangan kita semua sekarang ini. Eh, tapi masa, sih? Dinda :Yah, kamu benar Ibnu. Kata yang pantas kita sandang saat ini hanya satu, Tersesat. Sekarang, kita harus benar-benar fokus dengan ingatan. Darimana dan mau kemana? Serta, mengingat-ingat beberapa petunjuk dijalan sebelumnya, Eka :Hah? (Dengan ekspresi mau menangis) kita tersesat? Haduh, bagaimana ini? Inikan dihutan? Bagaimana kalau kita tidak bisa kembali? Bagaimana kalau kita bertemu binatang buas? Atau bagaimana kalau kita tidak bisa keluar selamanya dan Berakhir disini? Atau

Page 11 of 17

Resky :Cukup! (Setengah membentak) Kita harus tenang oke? Kalau kita tidak tenang, kita tidak bisa menemukan ide untuk kembali. Sekarang, semua tenang, bisa? Inayah :Bagaimana, kalau kita maju, dan memberi tanda jalur yang kita lewati dengan sesuatu misalnya? Ainun :Aha! Ide bagus, kebetulan aku punya kapur ini, bisa dipakai (menggoreskan kapur di sebuah batang pohon yang besar bertuliskan We Was Here) Mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Sedikit-demi sedikit, hari mulai beranjak siang, perut mereka semua mulai keroncongan. Walaupun mereka baru 2 jam mengitari hutan. Tetapi, perut kecil mereka benar-benar tidak bisa ditawar lagi. Dinda :Ah, disaat genting begini, perutku malah konser Keroncongan SiangSiang! Menyebalkan! Inayah :Sama Dinda, perutku juga melakukan konser, Ainun :Tunggu sebentar, aku ingat-ingat dulu. Mungkin di sekitar sini ada yang bisa dimakan. Coba tunggu sebentar (Memutari beberapa pohon). Ah, ada, ini! Ini! Rupanya ada beberapa pohon buah disini! Resky :Yang benar? Oh, syukurlah. Sekarang, kita harus memanjat pohon dulu, Eka :Panjat? Tapi, kita kan pakai rok. Nanti kalau kita jatuh bagaimana? Ibnu :Aaah! Iya aku tahu! Biar aku yang panjat! Kalian lupa, ada laki-laki disini, ya?

Page 12 of 17

Inayah

:Tidak, kami tidak lupa. Kamu laki-laki, tentu saja, Ibnu memanjat pohon-pohon buah dengan cekatan, ketika selesai, mereka semua makan bersama. Kemudian, melanjutkan perjalanan kembali. Babak 4 Mereka berjalan dan terus berjalan. Hari sudah beranjak semakin siang. Sekarang, waktu telah menunjukkan pukul 11.45 WITA. Hanya saja, batas jalur belum terlihat sama-sekali. Dalam keputus asaan, mereka kembali dihadapkan dengan rintangan. Jalan didepan mereka semua bercabang dua. Ainun :Oh, tadi lembah, jalur yang sama berulang dilewati, kenapa sekarang malah jalan bercabang? Eka :Sampai kapan kita harus tetap berjalan, sih? Aku sudah tidak sanggup lagi, badanku kaku semua! Resky :Masalahnya satu, jalur mana yang harus kita pilih sekarang? Dinda :Wahai jalur yang bercabang! Kemanakah jalan yang harus kami pilih agar dapat kembali keperkemahan? Beritahukanlah kepada kami! Wahai jalur bercabang! Ibnu :Dinda, ini pesoalan serius. Jangan bercanda disaat-saat seperti ini. Oke, aku pilih jalur kanan, Inayah :Kanan? Tapi aku merasa, sebaiknya kita pilih jalur kiri, Eka :Aku pilih kanan saja, sama dengan Ibnu, Resky :Bukankah sebaiknya kiri saja? Kenapa harus kanan terus? Dinda :Aku pilih kiri saja. Setiap kali barangku disembunyikan, aku selalu mendapatinya di sebelah kiri. Semoga saja feelingku benar, Ainun :Bukannya kanan biasanya menunjukkan kebaikan? Siapa tahu saja

Page 13 of 17

Inayah Ibnu tetap mau

jalur kanan yang benar? :Siapa tahu-kan? Kalau yang benar yang kiri bagaimana? :Oke-oke, sekarang sebaiknya kita kemana? Yang jelas, aku

kekanan saja, Resky :Halooo, bisakah kita lewat kiri dulu? Ibnu :Ohya, lalu kalau kita tambah tersesat bagaimana, hmmm? Kamu mau menanggung semuanya? Eka :Sudah-sudah cukup! Masa saat-saat seperti ini kita harus bertengkar? Ibnu :(Membalikkan badan) Aku akan tetap kekanan, Resky :Baik, aku kekiri, Dinda :Lha-lha, kok pisah begini. Ibnu? Eh, Resky. Waduh gawat. Eh, tunggu, jangan tinggalkan aku dong! Ibnu, Eka, dan Ainun memilih jalan kekanan, sementara Resky, Dinda, dan Inayah memilih jalur kiri. Regu Harimau terpecah dua, karena ego mereka yang tinggi. Babak 5 Ibnu, Eka, dan Ainun yang memilih jalan kanan, mendapat rintangan berupa pohon-pohon dan semak-semak tinggi yang mencapai dada mereka. Kesulitan bergerak, mereka hanya bisa pasrah saja. Eka :Kenapa kita pada akhirnya harus berpisah begini? Bagaimana yang lainnya nanti? Ainun :Kalau jalan kita benar dan mereka salah, bagaimana? Ibnu :Bisa juga sebaliknya! Ah! Bodoh sekali aku! Kenapa tadi terpancing emosi? Huh! Kacau semua! Eka :Tidak perlu menyesali yang sudah terjadi, sekarang kita berdoa saja supaya Resky, Dinda, dan Inayah selamat. Begitu pula kita,

Page 14 of 17

Ainun Ibnu

:Yah, kupikir itu pemikiran bagus, :Oh, aku berharap bisa bertemu mereka lagi, Sementara itu, Resky, Dinda, dan Inayah yang memilih jalur kiri mendapat rintangan berupa pohon-pohon bersulur panjang dan menghalangi pandangan mereka. Ditambah bebatuan runcing yang siap merobek sol sepatu mereka secara berkala bila mereka tidak memperhatikan jalan. Dinda :Batu-batu ini lucu juga. Runcing-runcing bagaimana, begitu. Sepertinya seru juga untuk dijadikan mainan-entah-apa, Resky :Dinda, ini bukan saatnya membicarakan mainan, Inayah :Kira-kira, bagaimana keadaaan Ibnu, Eka, Ainun, dan yang diperkemahan, ya? Resky :Oh, kenapa tadi aku terbawa emosi? Oh Dinda :Sudahlah Resky. Berpikirlah sedikit optimis. Jika mereka mendapat bantuan tengah jalan, pasti mereka akan meminta tolong untuk mencari kita juga. Dan coba lihat sulur-sulurnya. Sepertinya, seru juga untuk main Tarzan-Tarzanan, Inayah :Ayolah Dinda, ini bukan waktunya bercanda, Resky :Benar, tapi apa yang kamu katakan ada benarnya. Semoga kita bisa berkumpul lagi, Setelah satu jam mengitari jalur masing-masing dan berbelok satu kali, secara amat-sangat kebetulan, mereka berenam kembali bertemu. Semuanya:HAAAAH? Dinda :Ini bukan fatamorgana, kan? Inayah :Fatamorgana hanya ada di padang pasir, Ainun :Jadi ini nyata? Semuanya:Syukurlah! Ibnu :Semuanya, maaf ya, tadi aku terbawa emosi. Maaf sekali,

Page 15 of 17

Resky :Aku juga, maaf sekali, Dinda :Nah, begitu dong. Dan aku rasa, hutan ini tidak setuju kita berpisah, Ainun :Sekali lagi, bisakah kamu tidak bercanda disaat begini? Ibnu :Memang, tapi kurasa, ada benarnya juga, jika bersama, pasti semuanya akan lebih mudah, Eka :Dan aku sangat setuju mengenai ini, Babak 6 Mereka kembali berjalan. Dan hari benar-benar sudah beranjak sore. Lalu, samar-samar telinga mereka semua mendengar suara gemericik air. Itu sungai! Mereka cepat-cepat berlari kesumbernya. Dan benar! Anak sungai lebar yang jernih berarus agak deras mengalir disana! Eka :Tunggu dulu-tunggu dulu (Membuka peta), ya! Tidak salah lagi, kita hampir dekat keperkemahan! Ainun :Benarkah? Mana? Mana? Eka :Ini, ini! Tapi, kita harus melewati sungai yang arusnya agak deras ini, Inayah :Kenapa saat kita tinggal selangkah menuju semuanya harus begini? Ibnu :Jangan putus asa dulu. Cari batangan kayu kuat sekarang! Semuanya mencari batangan kayu secepat mungkin, kemudian mengumpulkannya untuk dipilah. Ibnu :Pakai yang ini dan ini. Kumpulkan tambang kalian, sekarang! Resky :Kamu mau apa sebenarnya? Dinda :Ah, aku mengerti, kita akan menyebrang memakai kayu dan tambang ini, bukan? Ibnu :Rupanya si Ling-Lung mengerti juga, Inayah :Tapi, caranya bagaimana, Ibnu?

Page 16 of 17

Ibnu :Tenang Inayah, ikuti instruksiku. Dan kita akan sampai dengan selamat keperkemahan, Ibnu menyambung-nyambung tambang kuat-kuat sampai menjadi panjang, dan mengikatkan salah satu ujungnya pada sebuah batang kayu. Dan ujung lainnya pada batang kayu lain. Menancapkan batang satu batang kayu ditanah dengan kuat, dan menyuruh Eka, menyebrang duluan sambil membawa batang kayu lainnya. Jika sudah sampai, Eka harus menancapkan batang kayu yang dibawanya diseberang. Disusul Resky, Ainun, Inayah, Dinda, dan terakhir Ibnu yang membawa batangan kayu yang satu. Ketika sampai diseberang, mereka membereskan tambang mereka dan membuka peta kembali. Inayah :Ya, tinggal melewati gundukan batu ini, kita bisa masuk lagi ke jalur perkemahan kita, Dinda :Berarti, kita harus mencari pohon mahoni tua ini dulu, Ainun :Tidak perlu susah-payah. Karena pohon itu, hanya berjarak semeter dari tempat kita sekarang, Ibnu :Waw, apa jadinya Regu kita tanpamu? Ainun :Ah, tidak ini biasa saja, Resky :Ayo cepat! Ini sudah hampir malam! Eka :Bisa gawat kalau kemalaman! Ayo semua! Semuanya berlari menuju gundukan batu, dengan teliti dan siaga mereka melewati tanda-tandanya. Dan akhirnya, mereka kembali keperkemahan dengan selamat. Semuanya menyambut dengan sukacita kepulangan mereka. Dengan begini, kelas VIII-1 MTsN Model Makassar lengkap kembali. TAMAT

Page 17 of 17