Anda di halaman 1dari 5

TUGAS MATA KULIAH : METODE PENELITIAN HUKUM

JUDUL : ASAS PRADUGA SAH DALAM MENILAI AKTA NOTARIS

Nama No. NIM Dosen Pengasuh

: Toni Marsi : 10 20 11 50 37 : Prof. DR. Saldi Isra, SH. M.PA

PROGRAM PASCA SARJANA KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2011

ASAS PRADUGA SAH DALAM MENILAI AKTA NOTARIS


Notaris1 seabgai pejabat2 umum mempunyai kewenangan3 membuat akta otentik. 4 akta notaris sebagai akta otentik harus dianggap sah jika dalam pembuatan akta notaris tersebut dibuat atas dasar kewenangan dan sesuai dengan aturan hukum tentang pembuatan akta notaris. 5 akta notaris sebagai produk dari pejabat umum, maka penilaian terhadap akta notaris harus dilakukan dengan asas praduga sah (vermocden van rechtmatigheid) 6 atau presumption instae cause7. asas8 hukum ini dapat dipergunakan untuk menilai akta notaris yaitu9 akta harus dianggap sah sampai ada pihak yang menyatakan akta tidak sah dengan gugatan ke pengadilan umum. 10 selama dan sepanjang gugatan berjalan sampai dengan ada keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap11, maka akta
Undang-Undang Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris Pasal 1 angka (1) memberikan pengertian Notaris adalah pejabat umum yang berwenangan untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam UUJN. 2 Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (NKRI) dengan putusannya Nomor 009014/pUU-III/2005, tanggal 13 September 2005 mengistilahkan Pejabat Umum sebagai Publik Official. 3 Kewenangan Merupakan suatu tindakan hukum yang diatur dan diberikan kepada suatu jabatan berdasarkan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku yang mengatur Jabatan yang bersangkutan. Habib Adjie, Hukum Notaris Indonesia, Tafsir Tematik terhadap UU no. 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, PT. Refika Aditama, 2009, hal 77 4 Akta Autentik (authentieke akta) menurut Pasal 1868 KUHPerdata suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan dalam undang-undang oleh/atau dihadapan pejabat umum yang berwenang untuk maksud itu, ditempat dimana akta dibuat Tan Thong Kie, Studi Notariat, serba-serbi praktek notariat, PT. Ictiar Baru Van Hocva, Jakarta 1994, hal 214 5 Habib Adjie, Sanksi Perdata dan Administratif terhadap Notaris sebagai Pejabat Publik, PT. Refika ADitama, 2009, hal 79 6 Menurut Philips M. Hadjon, Asas vermaoden van rechtmatigheid, setiap tindakan pemerintah selalu dianggap rechtmatig sampai ada pembatalannya, Philips M. Hadjon, Pemerintah menurut uokum, cetakan pertama, yuridika, Surabaya, 1993, hal 5 7 Berdasarkan asas ini, bahwa keputusan tata usaha Negara harus dianggap sah selama belum dibuktikan sebaliknya atau disebut juga dengan asas praduga tidak bersalah. Rozali Abdullah, Hukum Acara Peradilan TUN Raga Grafindo Persada, 1992, hal 5 8 Asas hukum merupakan pikiran dasar yang terdapat di dalam dan dibelakang sistem hukum masing-masing dirumuskan dalam aturan-aturan perundang-undangan dan putusan hakim, yang berkenaan dengan ketentuan-ketentuan dan keptuusan-keputusan individual dapat dipandang sebagai penjabarannya, Paul Scholten dikutip dalam J.J Bruggink, Refleksi tentang hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999, hal 119-120 9 Habib Adjie, op.cit., hal 80 10 Gugatan ke Pengadilan umum oleh pihak yang terikat dengan akta tersebut merupakan konsekuensi dari karakter yuridis akta notaris merupakan kehendak para penghadap dan notnaris hanya mencatat keinginnan para penghadap yang dikemukakan dihadapan notaris, Habib Adjie, Beda karakter yuridis antara notaris dan PPAT serta akta Notaris dan PPAT dalam memahami hokum dari konstruksi sampai implementasi, Rajawali Pers, 2009, hal 546 11 di Belanda dikenal dengan istilah gewijsde yaitu putusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang pasti, yang disebut juga dengan Uiterlijk gewijsde, Supikno Mertokusumo,
1

notaris tetap sah dan mengikat para pihak atau siapa saja yang berkepentingan dengan akta tersebut. 12 Dalam gugatan untuk menyatakan akta notaris tidak sah, maka harus dibuktikan ketidakabsahan dari aspek lahiriah, 13 formal14 dan materil15 akta notaris. jika tidak dapat dibuktikan maka akta yang bersangkutan tetap sah mengikat para pihak atau siapa saja yang berkenpentingan dengan akta tersebut. Asas praduga sah tidak dapat dipergunakan untuk menilai akta batal demi hukum16. Karena batal demi hukum dianggap tidak pernah ada. dengan alas an tertentu, maka kedudukan akta notaris; oleh para pihak sendiri,
22 18 17

Dengan demikian

dapat dibatalkan, 19 batal demi

hukum, 20 mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan, 21 dibatalkan dibatalkan oleh putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan tetap karena penerapan asas praduga sah. 23 Pembatalan akta otentik yang dibuat notaris secara ex oficio, 24 hakim tidak dapat melakukan pembatalan kalau tidak dimintakan pembatalan25 karena hakim tidak berwenang memutuskan apa yang tidak digugat oleh pihak.
26

Namun bila diminta

Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty Yogyakarta, 1993, hal 117 12 Habib Adjie, Loc.cit., hal 80 13 Aspek lahiriah akta notaris disebut juga sebagai kekuatan pembuktian laharia (uitwendige bewijskracht) merupakan kekuatan pembuatan dalam artian kemampuan dari akta itu sendiri untuk membuktikan dirinya sebagai akta otentik; Abdul Ghafur Anshori, lembaga kenotariatan Indonesia, Perspektif Hukum dan Etika, UII Press, 2009, hal 19 14 Kekuatan pembuktian formal (formale bewijskracht) kebenaran formal dari akta tersebut sebagai yang disaksikan, yakni diikat, didengar, dan dilakukan sendiri oleh notaris sebagai pejabat umum dalam menjalankan jabatannya, Ibid., hal 80 15 Kekuatan pembuktian material (material bewijskracht), yaitu apa yang tercatat dalam akta merupakan pembuktian yang sah terhadap pihak-piahk yang membuat Akta, Ibid., hal 80 16 Habib Adjie, Hukum Notaris Indonesia, Loc.cit., hal 141 17 Subekti, Hukum Perjanjian, PT. Intermasa, 2002, hal 22 18 Habib Adjie, op.cit., hal 141 19 H.P Pangabean. Penyalahgunaan keadaan (misbruik Van Omstandigheden) sebagai alas an (baru) untuk pembatalan perjanjian (berbagai perkembangan hokum di Belanda dan Indonesia) Liberty yogyakarta, 1992, hal 39 20 Subekti, dikutip dalam H.P. Pangabean, Ibid., hal 17 21 M. Nurung, Pencatuman Hari Kehadiran Antara Penghadap di dalam Akta yang tidak sesuai dengan fakta mempengaruhi keotentikan akta notaris atau PPAT, Renvoi Nomor 8.44.IV Januari 2007, hal 68 22 Subekti, op.cit., hal 20 23 Habib Adjie, Hukum Notaris Indonesia, lot.cit., hal 141 24 Ex Oficio, merupakan kehendak lahirnya akta otentik merupakan kemauan para pihak dan kehendak para pihak yang berkepentingan, notaris hanya menuangkan kedalam akta sesuai dengan undang undang. 25 Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 702 K/SIP/1973, tanggal 5 September 1973 26 Pembatalan karena ada permintaan dari pihak yang berkepentingan seperti orang tua, wali atau pengampu disebut pembatalan yang relatif atau tidak mutlak, pembatalan relatif dibagi dua (2), yaitu:

pembatalan oleh pihak, hakim pada dasarnya dapat membatalkan akta notaris bila ada bukti lawan.
27

Hakim pada dasarnya dapat membatalkan akta notaris jika ada bukti
33

lawan.28 Dalam penjelasan umum UUJN disebutkan bahwa29 akta notaris merupakan akta otentik30 memiliki kekuatan sebagai alat bukti tertulis31 yang terkuat32 dan terpenuh. Dengan demikian apa yang dinyatakan dalam akta notaris harus dapat diterima kecuali pihak yang berkepentingan dapat membuktikan hal yang sebaliknya secara memuaskan dihadapan persidangan pengadilan.

a. Pembatalan atas kekuatan sendiri, maka atas permintaan orang tertentu dengan mengajukan gugatan atau perlawanan agar hakim menyatakan batal (nietig verklaard) suatu perjanjian, contoh jika tidak dipenuhi syarat subjektif (pasal 1446 BW) b. Pembatalan oleh hakim dengan putusan membatalkan suatu perjanjian dengan mengajukan gugatan, contoh pasal 1449 BW. Wirjono Prodjodkoro, asas-asas hukum perjanjian, Balk Bandung Sumur Bandung, Bandung, 1989, hal 121 27 Sudikno Mertokusumo, op.cit., hal 10 28 Abdul Ghofur Anshori, Lembaga Kenotariatan Indonesia, op.cit., hal 19 29 Penjelasan umum Undang Undang Jabatan Notaris( UU no 30 tahun 2004) 30 Tan Thong Kie, Lot.cit., hal 214 31 Sudikno Mertokusumo, op.cit., hal 120 32 Akta Otentik memiliki arti terkuat diartikan, dimana akta tersebut dibuat dalam bentuk yang sudah ditentukan Undang-Undang (Pasal 38 UUJN), dibuat dihadapan pejabat-pejabat (pegawai uum) yang diberi wewenang dan ditempat dimana akta tersebut dibuat, Habib Adjie, Sanksi Perdata dan Administratif terhadap Notaris sebagai Pejabat Publik, op.cit., hal 49 33 Akta Notaris mempunyai kekuatan penuh diartikan bahwa, akta notaris mempunyai kekuatan yang sempurna, kesempurnaan akta notaris sebagai alat bukti; maka akta tersebut harus dilihat apa adanya, tidak perlu dinilai atau ditafsirkan lain, selain yang tertulis dalam akta tersebut, Habib Adjie, Ibid., hal 141

DAFTAR PUSTAKA Buku


Anshori, Ghafur, Abdul., Lembaga kenotariatan Indonesia, Perspektif Hukum dan Etika, UII Press, 2009 Abdullah, Rozali, Hukum Acara Peradilan TUN, Raja Grafindo Persada, 1992 Adjie Habib, Hukum Notaris Indonesia, Tafsir Tematik terhadap UU no. 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, PT. Refika Aditama, 2009 ____________, Beda karakter yuridis antara notaris dan PPAT serta akta Notaris dan PPAT dalam memahami hukum dari konstruksi sampai implementasi, Rajawali Pers, 2009 ____________, Sanksi Perdata dan Administratif terhadap Notaris sebagai Pejabat Publik, PT. Refika Aditama, 2009 Bruggink, J.J., Refleksi tentang Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999 Hadjon, Philips M., Pemerintah menurut Hukum, Cetakan pertama, Yuridika, Surabaya, 1993 Kie, Thong, Tan, Studi Notariat, serba-serbi praktek Notariat, PT. Ictiar Baru Van Hocva, Jakarta 1994 Mertokusumo, Sudikno, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty Yogyakarta, 1993 Pangabean, H.P., Penyalahgunaan keadaan (misbruik Van Omstandigheden) sebagai alasan (baru) untuk pembatalan perjanjian (berbagai perkembangan hokum di Belanda dan Indonesia) Liberty yogyakarta, 1992 Prodjodkoro, Wirjono, Asas-Asas Hukum Perjanjian, Balk Bandung Sumur Bandung, Bandung, 1989 Subekti, Hukum Perjanjian, PT. Intermasa, 2002 Nurung, M., Pencatuman Hari Kehadiran Antara Penghadap di dalam Akta yang tidak sesuai dengan fakta mempengaruhi keotentikan akta notaris atau PPAT, Renvoi Nomor 8.44.IV Januari 2007 Undang-Undang Undang-Undang Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris Pasal 1 angka (1) memberikan pengertian Notaris adalah pejabat umum yang berwenangan untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam UUJN. Putusan Mahkamah Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (NKRI) dengna putusannya Nomor 009-014/pUUIII/2005, tanggal 13 September 2005 mengistilahkan Pejabat Umum sebagai Publik Official. Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 702 K/SIP/1973, tanggal 5 September 1973