Kumpulan Syair karya Chairil Anwar

AKU Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu-sedan itu Aku ini binatang jalan Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi PRAJURIT JAGA MALAM Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ? Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam Mimpinya kemerdekaan bintangbintangnya kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini Aku suka pada mereka yang berani hidup Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ! MALAM Mulai kelam belum buntu malam kami masih berjaga --Thermopylae?- jagal tidak dikenal ? tapi nanti sebelum siang membentang kami sudah tenggelam hilang

KRAWANG-BEKASI Kami yang kini terbaring antara KrawangBekasi tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi. Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, terbayang kami maju dan mendegap hati ? Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu. Kenang, kenanglah kami. Kami sudah coba apa yang kami bisa Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa Kami cuma tulang-tulang berserakan Tapi adalah kepunyaanmu

Lawan banyaknya seratus kali. teruskan jiwa kami Menjaga Bung Karno menjaga Bung Hatta menjaga Bung Sjahrir Kami sekarang mayat Berikan kami arti Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian Kenang. kenanglah kami yang tinggal tulang-tulang diliputi debu Beribu kami terbaring antara KrawangBekasi DIPONEGORO Di masa pembangunan ini tuan hidup kembali Dan bara kagum menjadi api Di depan sekali tuan menanti Tak gentar. MAJU Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu. Punah di atas menghamba Binasa di atas ditindas Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai Maju Serbu Serang Terjang PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji Aku sudah cukup lama dengan bicaramu dipanggang diatas apimu. kenanglah kami Teruskan. Pedang di kanan. MAJU Bagimu Negeri Menyediakan api. Sekali berarti Sudah itu mati.Kaulah lagi yang tentukan nilai tulangtulang berserakan Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan atau tidak untuk apa-apa. Kami tidak tahu. keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati. 17 Agustus 1945 Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu Aku sekarang api aku sekarang laut Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat . digarami lautmu Dari mulai tgl. kami tidak lagi bisa berkata Kaulah sekarang yang berkata Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak Kenang.

Tuhanku di pintuMu aku mengetuk aku tidak bisa berpaling SAJAK PUTIH Bersandar pada tari warna pelangi Kau depanku bertudung sutra senja Di hitam matamu kembang mawar dan melati Harum rambutmu mengalun bergelut senda Sepi menyanyi. Menanti. Menanti.Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh DOA kepada pemeluk teguh Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut namamu Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh cayaMu panas suci tinggal kerdip lilin di kelam sunyi Tuhanku aku hilang bentuk remuk Tuhanku aku mengembara di negeri asing PENERIMAAN Kalau kau mau kuterima kau kembali Dengan sepenuh hati Aku masih tetap sendiri Kutahu kau bukan yang dulu lagi Bak kembang sari sudah terbagi Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani Kalau kau mau kuterima kembali Untukku sendiri tapi Sedang dengan cermin aku enggan berbagi. malam dalam mendoa tiba Meriak muka air kolam jiwa Dan dalam dadaku memerdu lagu Menarik menari seluruh aku . HAMPA kepada sri Sepi di luar. Tambah ini menanti jadi mencekik Memberat-mencekung punda Sampai binasa segala. Tak satu kuasa melepas-renggut Segala menanti. Sepi. Belum apa-apa Udara bertuba. Sepi menekan mendesak. Lurus kaku pohonan. Tak bergerak Sampai ke puncak. Sepi memagut. Dan menanti. Setan bertempik Ini sepi terus ada.

pintu terbuka Selama matamu bagiku menengadah Selama kau darah mengalir dari luka Antara kita Mati datang tidak membelah. dalam diriku jika kau datang CINTAKU JAUH DI PULAU Cintaku jauh di pulau. Tiada lagi. ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan! YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS kelam dan angin lalu mempesiang diriku. Di air yang tenang.. laut terang. rimba jadi semati tugu di Karet. desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan.Hidup dari hidupku.a. gadis manis.. rumah tua. sedu penghabisan bisa terdekap aku tidak 'kan sampai padanya. masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat. Berjalan menyisir semenanjung. MALAM DI PEGUNUNGAN Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin. SENJA DI PELABUHAN KECIL buat: Sri Ajati Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang. menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin. di perasaan penghabisan segala melaju Ajal bertakhta. di angin mendayu. Ada juga kelepak elang menyinggung muram. tapi terasa .d) sampai juga deru dingin aku berbenah dalam kamar. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak. bulan memancar. perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Kapal. di Karet (daerahku y. sekarang iseng sendiri Perahu melancar. angin membantu. sambil berkata: "Tujukan perahu ke pangkuanku saja. kalau 'ku mati. di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar. malam tambah merasuk. dia mati iseng sendiri. pada cerita tiang serta temali." Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh! Perahu yang bersama 'kan merapuh! Mengapa Ajal memanggil dulu Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?! Manisku jauh di pulau. Aku sendiri. Jadi pucat rumah dan kaku pohonan? Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin: Eh.

dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu. ada yang tetap tidak terucapkan sebelum pada akhirnya kita menyerah . tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang tubuhku diam dan sendiri. cerita dan peristiwa berlalu beku DERAI DERAI CEMARA cemara menderai sampai jauh terasa hari akan jadi malam ada beberapa dahan di tingkap merapuh dipukul angin yang terpendam aku sekarang orangnya bisa tahan sudah berapa waktu bukan kanak lagi tapi dulu memang ada suatu bahan yang bukan dasar perhitungan kini hidup hanya menunda kekalahan tambah terasing dari cinta sekolah rendah dan tahu.

 f ©f  °f ff ff°–¯ °nfn°f f°ff– f°– ¯ff ½f fn f f°–¾ f ¯f f½f ½ ff f f ¯ °– ¯ ¾  ff¯¯ ¯½ nff¯f ½f   ¯¾¯ ¯½ n ½f f¯  f©–f   ½f f°– ¯ °°––°–¯f¯  ¾ff  °f°– ¯ ° ¯ ©½f°–fff°f° @ f – f f°°f°f f°f f°–¯ f   @f ff– ¾ °   ©ff° ¯ °¾¾ ¯ °f°©°– ¯f¾½ °–f½ff½ ¾ f f ©°– f°¾ ff°¾ f¯f ©ff° f½f°f ¯½f ¾ ½ °–f ¾f° ¾f   f½  .

-@DD9DD  .

f°¾©f ½f  ff ¯f  f¯f¾ °–¾ °    .°f©f ½f  –f ¾¯f°¾ ¾ ff°–¾ °–¾ °   9 f¯ f°nf  f°¯ ¯f°nf    f°–f°   f¾½fnf  f°–°¯ ¯ f° f f°– f½ f¾f f f f°¾f¯½f½f f°f   ff°– °f°–  f°–°¯ ° f  ½ f¾ff°½ °–f ¾f°¾ –ff¯ f© ©f ff ¾f¯  ff  @©f°½ f ½f°–f°¾f©f   ¯ "ff°¾ f f° ¯½" 9 ff°– ¾f¯f f°¯ f½" .9D-D--   ½  f°°ff°–¯ ¯ ° °–°  f ½nf¯f f°f½°f°"  f°f f¾f°–f f½f©ff   ½°–°   f f nfn¯f° ©ff° °–f° ff°–f°" -@.. °–f½f©f¯ ¯f°––   ¯¾ ¯½f ½  °–f°n°f""  .9--9D@D   f¯ f°f°–°f¯ ¯½ ¾f°–   ¯ °–––©–ff°– ¯f°f ff°– °–°  ¯ff¯f¯ f¯ f¾ ¯ f©f ¾ ¯f –  f   f % f f f %¾f¯½f ©–f  °–°  f  °f ff¯f¯f  ff¯  ©ff ff°– .

f°f ¾ff– ½f¾f°¾f f ½f f¯  f½°f°ff°–f°f°– – f f°f°–    f¯ f°¾ °  n f f° ½ ¾f f   .

.  n ¯ff¯ ° f¾f¯½f©f  f¾ffff°©f ¯ff¯ f f f½f ff° °–f½¯ f½ ½f°–°f°– ½ ° f¯  f¾ ff°–f°–°f ¾fff° ¾ f f½ff f°f°ff– f½ ¯ ¯f°–f f¾f ff° f°– f° f¾f½ °–f°°   ½f°f¯ °° f fff° f¯ f f¾°– fn°f¾ f ° f f°f f ff°– f½ f nf½f° ¾ ¯½f ff°ff¯ ° f  .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful