Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang Batuan adalah benda padat yang terbentuk secara alamiah dan tersusun

atas kumpulan dari mineral baik yang sejenis maupun yang tidak sejenis, dan mempunyai susunan kimia yang konstan. Batuan terbagi menjadi tiga jenis yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Batuan beku adalah batuan yang terbentuk langsung dari pembekuan magma. Pembekuan magma adalah suatu proses dimana terjadi perubahan fase magma dari cair menjadi padat. Pembekuan magma akan menghasilkan kristalkristal mineral primer ataupun gelas. Proses pembekuan magma akan sangat berpengaruh terhadap tekstur dan struktur primer batuan. Berdasarkan teksturnya batuan beku ini bisa dibedakan lagi menjadi batuan beku plutonik dan vulkanik. Perbedaan antara keduanya bisa dilihat dari besar mineral penyusun batuannya. Batuan beku plutonik umumnya terbentuk dari pembekuan magma yang relatif lebih lambat sehingga mineral-mineral penyusunnya relatif besar. Sedangkan batuan beku vulkanik terbentuk dari pembekuan magma yang relatif lebih cepat sehingga menghasilkan mineralmineral yang bertekstur halus. Tekstur inilah yang digunakan sebagai dasar oleh Wells dan Dally dalam pengelompokkan kekerabatan batuan beku. Konsep kekerabatan batuan ini secara umum didasarkan pada kesamaan atau mendekati sama dari komposisi kimia dan mineraloginya. Dalam kekerabatan ini tidak dibedakan apakah proses

pembekuannya terjadi di permukaan berupa vokanik atau di kedalaman, berupa hipabisal maupun plutonik. Untuk lebih jelasnya, konsep kekerabatan batuan ini akan dibahas pada bab selanjutnya.

I.2

Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan paper tentang kekerabatan batuan ini

adalah untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Petrografi semester IV di Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran.

I.3

Rumusan Masalah Konsep kekerabatan batuan yang dikemukakan oleh Wells dan Dally ini

membagi batuan menjadi lima kelompok kekerabatan, yaitu kerabat gabro, kerabat gabro alkali, kerabat ultramafik dan lamprofir, kerabat diorit, monzonit, dan syenit, serta kerabat granodiorit, adamelit, dan granit. Kelima kelompok kekerabatan inilah yang akan menjadi pembahasan pada paper ini.

BAB II ISI

1. KERABAT GABRO Batuan beku basa Plutonik Hypabisal Vulkanik : gabro : diabas : basalt

Indeks warna batuan tersebut adalah 40. Terbagi menjadi 2 jenis : Calc alkali banyak didapat dan terdiri atas plagioklas, augit, hyperstein dan kadang olivin. Sebagian mengandung kuarsa dan k-feldspard (<10%). Alkali gabro mengandung alkali feldspar atau foid (biasanya nefelin, leucit atau analsit).

Basalt dan diabas Calc alkali banyak didapat sebagai batuan volkanik. Persamaannya adalah diabas yang biasanya berupa sill, dike, dan sebagai intrusi dangkal. Ada 2 jenis calc alkali basalt dan diabas : Tidak jenuh : mengandung olivin, merupakan lava gunug api laut dan biasanya dengan batuan yang alkali seperti traktit dan fonolit. Jenuh : mengandung kuarsa dan miskin olivin, disebut tholeitte yang umumnya sebagai lava plateau. Biasanya tholeitic basalt bersama-sama dengan batuan calc alkali andesit, dasit dan riolit, dan tholeitic diabas biasanya mengandung kuarsa dan alkali feldspar berupa urat-urat dan lensa.

Tekstur :

Olivine Basalt dan Diabis Olivin basalat adalah lava yang berasal dari gunungapi perisai. Batuan ini porfiritik dengan matrik intergranular atau intersertal. Olivin sebagai fenokris berjumlah sekitar 50% dari seluruh fenokris. Fenokris plagioklas berzona dari An80-An50 berjumlah 25% dan augit mengandung Ca sekitar 15% lebih. Massadasar terdiri atas plagioklas sebagai mikrolit, piroksen klino dan sedikit olivin magnetite, ilmenit, apaptit dan gelas. Massadasar kurang mengandung Ca dibanding fenokrisnya. Adanya akumulasi olivin pada bagian dasar dari sill atau lava yang tebal menghasilkan batuan yang disebut picrite basalt dengan fenokris olivin sekitar 2050%. Olivin pada basalt ditandai ubahan ke iddingsit atau bowlingsit yang disertai oleh magnetit dan hematit. Beberapa basalt olivin mengandung hyperstein selain klino piroksen sebagai penokris. Opal, kalsedon dan zeolit mengisi rongga-rongga batuan. Perbedaan antara basalt dengan andesit : Lava yang mengandung olivin cenderung ke basalt Basalt mempunyai plagioklas yang lebih basa dari An50 Andesit lebih asam dari An50 (lebih banyak Na)

Apabila silika <52% disebut lava basalt dan indeks warnanya lebih dari 40. Apabila ragu-ragu maka dapat dinyatakan basalt-andesit atau andesit-basalt. Olivin diabas secara mineralogi dan tekstur tidak banyak berbeda. Pada sill dan dike yang tebal, ukuran butir biasanya lebih besar dari lava umumnya dan sering didapatkan tekstur ophitic dan poikilitic. Karena pendinginan yang lambat, eksolusi tumbuh bersama dari mineral bijih (ilmenit-magnetit) dan antara klino dan ortho piroksen lebih sering di dapat pada diabas. Zeolit kadang didapat sebgai mineral deuteric. Tholeitic Basalt dan Diabas Batuan mengandung terutama labradorit, klino piroksen dan mineral bijih. Umumnya olivin tidak ada, kalau ada jumlahnya hanya sedikit. Biasanya dekat pada dasar lava. Pada aliran yang berbutir kasar dan pada tholeitic diabas, pigeonit yang hampir bersumber satu ditemani ophitic dan subophitic diopsid-augit (2v=45-550). Untuk berbutir halus, biasanya hanya mengandung satu jenis piroksen yaitu augit (2v=30-450), apatit dan mineral bijih sebagai aksesoris. Tekstur tholeitic basalt berkisar dari glossy sampai holokristalin, intergranular, intersertal dan ophitic. Bila tholeitic basalt lapuk pada tempat yang sedikit air dan bersifat alkali maka gelas dan mineral bijih akan menjadi montmorilonit yang berwarna kuning dan hijau. Pada kondisi sirkulasi air yang baik dan larutannya asam, selain montmorilonit didapat pula kaolinit dan halloisite merupakan ubahan dari feldspar. Air yang netral cenderung membentuk lempung yang mengandung besi dan air alkalin menyebabkan terbentuknya mineral baru seperti zeolit, kalsit dan klorit. Tholeitic diabas : didekat dasar dari sill yang tebal meningkat menjadi yang kaya akan olivin. Pembekuan yang cepat pada tepi intrusi menunjukan tekstur intergranular atau intersetral. Mengarah ke tengah teksturnya berubah menjadi kasar dan lebih ophitic dan kadang diabase bertekstur porfiri. Karena adanya differensiasi pada tholeitic sill, maka jumlah mineralnya akan beragam dari lapisan satu ke lapisan yang lain.

Kandungan mineral pada tholeitik diabas adalah plagioklas (An50-An60) 40-55%, piroksen (augit, pigeonit dan ortho piroksen) 35-45%, mineral bijih yang tumbuh bersama antara ilmenit dan magnetit atau hematit, 8% dengan sedikit biotit, ampibol dan apaptit. Gabro dan batuan sejenisnya Gabro berbutir kasar dan menengah (microgabro). Mineralnya adalah plagioklas lebih klasik dari pada An50. Mineral maficnya adalah augit, hyperstein dan olivin. Gabro jarang mengandung hornblende dan biotit. Indek warnanya 7040 dan di bawah 40 berupa diorit. Normal gabro terdiri atas labradorit, augit atau diallag. Gabro yang banyak mengandung hyperstein daripada piroksen klino disebut norit. Plagioklas lebih kalsik daripada labradorit disebut eucrite. Troctolite hampir seluruhnya terdiri dari olivin dan labradorite atau bytownit. Piroksen gabro akan menjadi anarthosite dengan kurangnya indek warna menjadi di bawah 10. Bila volume kuarsa mendekati 10% disebut gabro kuarsa dan norit kuarsa. Dengan bertambahnya indek warna menjadi lebih dari 70, gabro dan norit menjadi melanogabro dan melanorit. Gabro yang mengandung olivin atau gabro olivin mengandung bilah-bilah labradorite + 60%, augit +27%, olivin 10% dan apatit serta mineral bijih 3% karena olivin mengkristal sebelum piroksen, maka bentuknya euhedral dan ditutupi oleh piroksen. Gabro olivin yang mengandung hyperstein dan piroksen dominan disebut norit olivin. Kebanyakan olivin bertekstur kilyptic yang terjadi akibat reaksi dengan Ca feldspar tidak pada waktu proses magmatik tetapi kemudian ketika batuan telah padat tetapi masih mengandung uap air. Reaksinya dimulai dari pembentukan piroksen atau ampibol di sekitar piroksen. Normal gabro bertekstur hypidiomorf, plagioklasnya dari jenis labradorit berbentuk subhedral-anhedral kebanyakan dengan kembar albit dan periklin.

Pada beberapa gabro feldsparnya jernih, inklusi rutil, hematit, amfibol, ilmenit atau piroksen. Bila terubah akan membentuk zoisit, klino zoisit, atau epidot bersama dengan albit, kuarsa, kalsit, klorit kadang garnet. Ortoklas, Biotit coklat, dan anorthoklas kadang dijumpai dengan jumlah sedikit, biasanya mempunyai reaksi tepi mineral bijih. Mineral aksesoris berupa spinel, apatit, rutil, dan zircon, magnetit, ilmenit serta kromit. Norit bertekstur hypidiomorf atau allotriomorf. Feldsparnya labradorit atau bytownit. Kadang didapat zona bronzit dan hyperstein meruapakn mineral hitam yang banyak jumlahnya. Mafic mineral yang jumlahnya sedikit adalah hornblende dan biotit. Mineral aksesorisnya adalah kuarsa, k feldspar, apatit, magnetit dan ilmenit, kadang mengandung kordierit, spinel, silimanet dan garnet. Gabro hornblende, mineral mafic utamanya hornblende coklat atau coklat kehijauan. Plagioklasnya lebih kalsic dari An50 indek warna lebih dari 60. Kuarsa, k feldspar dan biotit lebih banyak dibanding gabro normal sedangkan olivin lebih sedikit. Anorthosite bertekstur kasar, hypidio-allotriomorf. Mineral yang banyak terdapat pada anorthosit adalah Ca plagioklas biasanya labradorit. Kadang lebih Ca. Mineral lain hornblende dan augit atau bronzit. Mineral maficnya tidak lebih dari 10%. Augit kaya alumina biasanya berwana ungu kecoklatan dan hyperstein merupakan mineral yang umum di dapat; hornblende dan biotit sedikit biasanya sebagai rims pada piroksen. Pyrop dan spinel kadang dijumapai. Mineral aksesori yang lain titano magnetit, ilmenit, kalkopirit, besi dan rutil. Zircon dan apatit jarang. 2. KERABAT GABRO ALKALI Batuan ini miskin silica namun kaya akan mineral alkali. Sebagian memiliki indeks warna lebih dari 70 dan termasuk ke kerabat ultra basa. Biasanya

ditemukan di batuan hypabisal seperti sill.

Mineralogi Plagioklas mempunyai ciri khusus yaitu plagioklas yang berzona dan corroded. Mineral ferromagnesia yang ada seperti augit olivine, hornblende alkali, dan biotit. Sedangkan mineral alkali nya seperti ortoklas, perthite, nefelin, sodalit, hauyne dan nosean. Untuk mineral aksesorisnya terdapat apatit, sphene, magnetit dan ilmenit. Berdasarkan besar butirnya, dibagi menjadi 2 jenis yaitu : 1. Berbutir Halus a. TRACHY BASALT Ciri khasnya adalah adanya aliran dan augit, plagioklas lebih banyak mengandung Ca daripada andesine. Biasanya berasosiasi dengan trachyte, phonolit, dan olivine basalt. Untuk mineral K-Feldsparnya biasanya lebih dari 10%. Piroksennya biasanya dari jenis augit. Sebagian mengandung enstatit dan sebagiannya lagi mengandung hornblende coklat atau biotit. Mineral bijih berupa magnetit dan titano megnetit. b. SPILIT Merupakan hasil dari intrusi dan biasanya berupa aliran. Ditemukan dalam bentuk sill dan aliran keratofir. Diendapkan di bawah laut namun terkadang dijumpai di darat. Feldsparnya bersifat soda (albit, oligoklas) dan jumlah silikanya rendah sekitar 50%. Tekstur pada bagian tepi batuan ekstrusif terdiri dari sideromelane atau palagonit yang berukuran besar dan hitam. Sedangkan bagian dalamnya baik sill maupun aliran lava bertekstur intersertal. Spilit terdiri atas albit atau oligoklas, sebagian bongkah, dan ilmenit. c. BASANIT TEPHRITE Lava basa dengan kandungan plagioklas (foid) lebih dari 10%. Pada tephrite kandungan olivine sedikit sedangkan pada basa olivine cukup banyak.

Ada 2 generasi Kristal leucite pada basanite dan tephrite, yaitu yang pertama sebagai fenokris dengan kembar polisintetik dan yang kedua sebagai massa dasar berbutir halus dan isotrop. Terdapat 2 lava menengah yaitu : Orvielit Kandungan plagioklas 32%, sanidin 29%, augit 40%, biotit dan olivine sekitar 5%, biji besi dan apatit 3%. Vicolit Kandungan fenokris leucite 40%, plagioklas 20%, sanidin 20%, augit dan olivine sekitar 15%, nefelin 5%. Olivin dalam basanit mengandung Mg lebih banyak. Untuk biotit dan hornblende jarang dijumpai.

d. NEFELINIT LEUCITE Merupakan lava, intrusi dangkal dan piroklastik. Biasanya tidak mengandung feldspar. Selain sebagai lava juga ditemukan dalam bentuk plug dan dike.

Nefelinit Kebanyakan fenokrisnya adalah nefelin dan diopsid. Massa dasarnya terdiri atas mineral yang sama ditemani oleh mineral bijih, apatit, sphene, perouskit, dan jarum-jarum aegirin.

Leucitit Fenokris dan massadasar leucite lebih banyak. Kadang dijumpai melilit. Variasi dari leucitit adalah italit.

2. Berbutir Kasar a. KENTALLENIT Bentuknya menengah sampai kasar. Indeks warna lebih dari 60 dan jumlah silikanya rendah. Plagioklas dan ortoklas hadir dengan jumlah yang hampir sama. Mineral aksesorisnya berupa apatit dan bijih besi.

b. SHONKINIT Syenit basa yang mengandung nefelin, miskin silica dan kaya akan mineral mafic. Plagioklas sedikit dan feldsparnya berjumlah nya. Potash feldspar sebagai mikrolit, nefelin,sodalite hadir dengan jumlah yang relative sedikit. Mineral mafic diopsid augit hadir antara 25% 40%.

c. MALIGNIT Mengandung aegirin augit sekitar 50%. Ortoklas dan nepheline 20%. Sisanya berupa apatit, melanit dan biotit. Kadang dijumpai poikilitik ortoklas yang menutupi Kristal nisean euhedral dan hauyne serta mineral mafic yang dominan adalah soda diopsid.

d. ESSEXITE dan THERALIT ESSEXITE Mengandung potas feldspar yang sama, tetapi essexite lebih banyak mengandung plagioklas dan sedikit foid. Hornblende yang mengandung natrium atau titan didapat dari jumlah yang beragam. Biotit hanya sebagai aksesoris.

THERALIT lebih banyak mengandung soda daripada essexite. Karakteristik theralit adalah mengandung banyak soda. Mineraloginya augit 38%, ortoklas 20%, nefelin 14%, apatit, zeolit, dan cancrinit.

3. KEKERABATAN ULTRAMAFIK DAN LAMPROFIR Ultramafik Ultrabasa atau ultramafik yang mengandung silika 45%. Indeks warnanya lebih dari 70 dan dicirikan dengan sedikit atau tidak k.feldspar. Berdasarkan butirnya ultrabasa dibedakan menjadi 2 macam, yaitu berbutir halus dan berbutir kasar. Mineralogi batuan ini secara umum adalah : Olivin: banyak didapat dalam batuan ini, sebagian serpentin pseudomorf olivine jumlahnya tak kurang dari >30% dalam peridotit. Jenis olovinnya yang kaya akan Mg. Tetapi dalam hartonlit dunit sebaliknya. Bentuk anhendral kecuali dalam kimberlit. Inklusi bijih besi. Olovin ini tidak bewarna sampai kehijauan. Terubah menjadi serpentin, talk dan tremolit. Piroksen ortho: enstatit paling banyak dalam batuan ultrabasa; meskipun jarang terdapat dalam batuan menengah atau basa. Kristalisasinya kemudian setelah olivine. Mineral tersebut tidak bewarna, tidak ada inklusi. Hipersten didapat pula pada peridotit dan piroksenit. Piroksen klino: Diallag merupakan jenis piroksen klino yang terdapat dalam batuan ultrabasa peridotit. Kadang menutupi olivin dan kadang bersosiasi dengan hypersten atau enstatit titanaugit didapat dalam batuan ultra basa alkali misalnya piorite. Aegirin didapat dalam batuan jacupirangit (ultrabasa alkali) Amfibol : dari jenis hornblende; didapat dengan jumlah yang sedikit pada banyak batuan ultrabasa. Dalam peridotit dan piroksenit umumnya hornblende bewarna coklat. Tremolit dan anthofilit didapat dengan jumlah sedikit. Sering mengalih tempat olivine.

Biotit : agak umum didapat sebagai mineral asesoris dalam peridotit. Biasanya tidak bewarna sampai kekuningan, sehingga disebut phlogopit. Pada beberapa peridotit, merupakan mineral utama, missal Kimberlit. Mineral asesoris : yang umum adalah kromit dan spinel. Magnetit agak banyak. Perouskit merupakan mineral yang khas dalam kimberlit. Yang lain garnet, grafit, intan dan korondum. Kyanit didapat pula dalam Kimberlit. Plagioklas sebagai mineral yang jumlahnya sedikit dalam batuan ultrabasa. Ada 2 macam kelompok batuan ultramafik berdasarkan besar butirnya, yaitu: Berbutir halus Berbutir kasar

1.kelompok yang berbutir halus: Batuan ultramafik tidak banyak ditemukan sebagai batuan efusif dan intrusi dangkal. Terdapatnya pada bagian bawah dari sill dan aliran magma basa yang ditempat itu terakumulasi olivine dan piroksen. PICRITE DAN ANKEMARITE Dalam picrite, olivin berjumlah setengah hingga tiga perempat dari volume. Plagioklas Ca antara 10-26%. Piroksen dari jenis augit dan pigeonit atau hypersten kadang bersama-sama dengan hornblende, berjumlah sedikit. Piorite yang berasosiasi dengan basalt alkali diabas, jenis piroksennya adalah titan augit, sering dikelilingi oleh aegirin augit dan amfibolnya dari jenis berkevikit dan arfvedsonit. Ankaramit umumnya terdiri atas fenokris berukuran kasar dari diopsid sugit yang bewarna hijau, atau titar, augit. Bilah-bilah labradorit atau

bitownit,biotit,mineral bijih, apaitit, karbonat, sedikit k-felspar dan gelas merupakan masa dasar.

LIMBURGIT Berupa aliran, dike, sill dan plugs. Biasanya berasosiasi dengan batuan basa alkali terutama analsit dan basanit. Warnanya gelap, kaya akan gelas, biasanya ubahan dari feldspar, mengandung sedikit soda plagioklas atau nefelin. Fenokris piroksen klino euhedral banyak jumlahnya yaitu diopsid-augit dengan gelang titan augit. Fenokris olivin juga banyak. Matrik terdiri atas gelas yang kaya akan Na, piroksen berbentuk jarum, kalsit, analsit. Jenis yang kaya akan Foid: Katungit: adalah batuan yang kaya akan melilit, olivine, leucite dan tidak mengandung piroksen. Kandungan silika sekitar 35%. Fenokrisnya meilit dan olivine menempati 2/3 dari batuan. Apaiti, titaiti, titonomagnetit, perovskit banyak didapat; sedangkan biotit, kaliophylite, leucite dan nefelin sedikit. Ugandite: merupakan batuan yang banyak mengandung olovin, leucitite tetapi tanpa melilit. Batuannya terdiri atas olivine,augit,leucite, perovskit, mineral bijih, biotit dan tertanam dalam matrik gelas yang hitam. Melilitites dan Nephelinite: batuan ini tidak menganduk plagioklas. Setemgahnya terdiri atas olivine dan 1/3nya melilit. Mineral asesoris termasuk nefelin,apatit, perovskit, kalsit dan titanomagnetit. Nephelinite biasa nya tidsk menganduk melilit. Mengandung banyak titan augit, dan nefelin. Masa dasarnya nefelin, olovin yang terseprntinisasi, biotit dan asesorinya apatit, perovskit dan titanomagnetit kadang didapat sedikit Ca. plagioklas. 2. Jenis yang berbutir kasar. DONIT Batuan ini hampir seluruhnya terdiri atas olivine. Umumnya berbentuk sill. Juga sebagai lensa, retas dan lapolit. Kromit dan picotite umum didapat pada dunit. Sebagai asesoris adalah spinel,enstatit, dan diallag.

PERIDOTIT Seperti dunit, mineral utamanya olivin, tetapi mengandung mineral mafic lainnya seperti piroksen ortho (enstatit, bronsit, hyperstein). Asesorisnya : kromit, diopsid, diallag, bijih besi dan sedikit plagioklas. PERIDOTIT HORNBLENDE Dikarakteristik oleh hornblende yang poiklilitik bewarna hijau muda sampai coklat muda. Mineral ini menutupi piroksen orto dan klino. Olivine yang terserpentinisasi berbentuk membulat. PERIDOTIT MIKA (KKIMBERLIT)

terdiri atas olivine, serpentin, biotit, ilmenit dan perovskit. Kadang mengalami serpentinisasi dan karbonatisasi kuat kaya akan xenoliths dari lempung batugamping, batubara, kadang mengandung banyak phlogopit. PIROKSENIT Batuan kasar, allotriomorf, terutama terdiri atas piroksen. Batuan ini sebagian merupakan intrusi, sebagian merupakan tepi suatu pluton yang bersifat basa menengah terutama yang dekat dengan batugamping yang juga merupakan sill dan lopolit. SERPENTINIT Serpentinit terjadi akibat ubahan hydrothermal dari intrusi dunit dan peridotit. Sebagian serpentinit terbentuk karena ubahan deutario aau metamorfosa regional dari batuan yang terdapat dibagian tepi intrusi basa ultrabasa. Batuan hampir seluruhnya terdiri atas grup serpentin, asesorinya adalah talk. Peridotit umumnya terubah menjadi serpentinit yaitu olivine berubah seluruhnya menjadi serpentin oksida besi yang di jumpai adalah magnetit yang terdapat pada pecahan dan belahannya dan juga disekitar butir mineralnya.

Biasanya piroksen agak sulit terubah pada keadaan tertentu ubahan olivin dan piroksen masih dapat dikenali dari jejak belahan dan pecahannya. Pada serpentin dari jenis crysotil akan membentuk bilah-bilah yang radier sebagai masa serpentin atau sebagai vein-vein yang saling memotong tegak lurus atau sejajar. Dari jenis tremolit dan anthofilit, sering didapat sebagai serabut atau prisma pada tepi olivin. Talk juga didapat sebagai ubahan olivin. Karbonat sebagai ubahan, kadang mengalih tempat sekuruh peridotit atau serpentin. Mineral barharga yang dihasilkan dari peridotit dan kerabatnya adalah asbesm kromit, magnesit, nikel, platina dan intan. Asbes merupakan serabut-serabut berupa retas dalam peridotit. Kromit ada 2 jenis: 1. Sebagai Kristal yang disseminated yang terbentuk pada kristalisasi pertama. 2. Sebagai retas atau kantong-kantong yang memotong batuan ultrabasa. Terdapatnya setempat-setempat. Terbentuknya pada kristalisasi akhir.

Kemungkinan terbentuk sejak kristalisasi awal sampai terjadi serpentinisasi. Platina terdapat pada peridotit, pada batuan ultrabasa yang berlapis (banded complex) bushueld complex dan pada batuan dunit hartonalit. Nikel juga dapat berasal dari hasil lapukan peridotit. Biasanya nikel berasosiasi dengan olivin. Pelapukan menyebabkan silika dan unsur lain hilang dan menyebabkan terkumpulnya nikel ini magnesit merupakan mineral yang mengalih tempat serpentin.

LAMPROFIR Lamprofir adalah batuan dike yang bewarna hitam meskipun hanya beberapa yang termasuk ke ultramafic. Teksturnya porfiritik dan panidiomorf. Batuan tersebut mengandung mafic mineral yang euhendral. Biasanya terjadi pada dua generasi. Banyak yang tidak mengandung feldspar dan sebagian lamprofir kehadiran feldsparnya hanya terbatas pada masadasar saja. Beberapa lamprofir secara genetik berhubungan dengan batuan pluton yang lain berhubungan dengan batuan volkanik yang membentuk dike yang parallel atau radial di sekitar gunungapi. Magma yang menghasilkan laprofir, kaya akan CO2 sulfur. Fospor dan uap air sehingga dapat menghasilkan dan mengandung karbonat, sulfide dan apatit serta mineral hydrous seperti serpentin, klorit dan zeolit. Lamprofir biasanya kaya akan barium dan stronsium atau sua-duanya. Lamprofir yang banyak mengandung potas seperti minette dan kersantit mengandung banyak xenokris kuarsa. Kuarsa dalam batuan ini dapat juga sebagai spherulit. Batuan tersebut merupakan sebagian dari asimilasi granit dengan magma basa. Kebanyakan lamprofir yang mengandung melilit seperti alnoit sering berasosiasi dengan batuan karbonat yang terbentuk akibat reaksi magma basalt dengan dinding batugamping dan dolomite. Mineral yang umum terdapat dalam lamprofir adalah: Olivin biotit piroksen plagioklas ortoklas

kuarsa minette soda minette kersantit,alnoit Camptonit dll kebanyakan lamprofir telah berubah kuat, sehingga lunak, hijau, sering kaya akan karbonat. Karbonat, serisit dan kloritmerupakan mineral hasil ubahan. Amphibol yang berserabut jarang didapat, yang sering didapat albit. Olivin menjadi serpentin ; piroksen ke uralit atau klorit; hornblende ke klorit; feldspar kemika putih, albit, sausurit atau karbonat. Lamprofir sendiri tidak merupakan sumber bagi mineral yang berguna (kecuali kimberlit sebagai lamprofir). Lamprofir-lamprofir dengan endapan emas dan metal yang lain. Hubungannya dengan mineralisasi tidak jelas, kadang memotong tubuh lamprofir dan terbentuk setelah terbentuknya ratas yang mengandung bijih, kadang terbe

4. Kerabat Diorit, Monzonit, dan Syenit


Kerabat batuan ini termasuk ke dalam batuan menengag karena kandungan silikanya antara 52%-66%. 1. Diorit

Batuan ini mengandung plagioklas dengan kadar An kurang dari 50. Batuan ini bertekstur hypidiomorf, sebagian allotriomorf, atau porfiritik, jenis feldsparnya adalah oligoklas dan andesine, terdapat hornblend dan biotit, sedikit ortoklas dan kuarsa. Diorit adalah batuan yang mengandung 1/8 potasium feldspar dan kandungan silikanya diatas atau dibawah 66%. Apabila kuarsa lebih dari 10% disebut diorite kuarsa atau tonalit. Diorit dan diorite kuarsa terdapat dibagian luar dari suatu pluton granodiorit yang besar atau sebagai stock yang relative kecil. Kemungkinan kebanyakan diorite merupakan hybrid, yaitu akibat asimilasi dari material SiAl dengan magma basa atau karena kontaminasi magma asam dengan batuan yang lebih basa. Diorit kuarsa adalah batuan yang bersifat asam, dari komposisinya dimasukkan ke diorite karena mengandung sedikit atau tidak ortoklas. Terdiri dari hampir 2/3 plagioklas.

2. Monzonit

Merupakan batuan menengah. Jumlah plagioklas dan potassium feldsparnya hampir sama. Biasanya terdapat sedikit kuarsa (tidak pernah lebih dari 10%), terdapat sedikit olivine. Bila terdapat banyak kuarsa, batuan ini disebut adamelit. Kebanyakan monzonit terdapat pada bagian tepi dari diorit atau granodiorit. Jumlah plagioklas sekitar 33%, ortoklas 32%, augit dan hornblend 24%, lepidomelan 5%, mineral bijih, apatit, zircon, sphene (titanite) dan kuarsa sekitar 5%. Bertekstur poikilitik, tekstur ini ditandai dengan adanya inklusi-inklusi mineral secara random dalam suatu mineral yang besar.

3. Syenit

Batuan ini berbutir menengah sampai kasar, Alkali feldspar lebih dari 2/3 feldspar, kuarsa tidak lebih dari 10%. Ada dua jenis syenit, yaitu alkali syenit dan alkali line syenit.

a. Alkali syenit Mengandung kurang dari 5% plagioklas dari seluruh feldspar. Biasanya berasosiasi dengan alkali granit atau dengan batuan pluton yang mengandung feldspathoid. Batuan jenis ini yang mengandung kuarsa disebut nordmakite, kuarsanya sekitar 5%-8%. Alkali syenit sering menunjukkan tekstur pertit. Mineral mafic-nya umumnya biotit yang kaya akan besi dan yang lainnya adalah hornblend. b. Alkali line syenit Jumlah potassium feldspar paling tidak dua kali jumlah plagioklasnya. Umumnya jenis plagioklasnya adalah oligoklas atau andesine. Mineral utamanya adalah ortoklas, anortoklas. Mineral mafic-nya hornblend hijau atau biotit coklat. Mineral aksesoris umumnya apatit, sphene, zircon dan mineral bijih magnetit.

Batuan kerabat diorite, monzonit, dan syenit apabila berubah maka: 1. Plagioklas akan berubah menjadi sausurit, serisit, karbonat dan zeolit, kadang digantikan oleh alkali-feldspar. 2. Ortoklas, mikroklin, dan pertit dapat terubah menjadi mika putih atau mineral lempung. Akan terjadi albitisasi apabila mengalami ubahan metasomatosa. 3. Piroksen berubah menjadi amfibol, klorit, karbonat dan kadang epidot. 4. Amfibol kadang digantikan oleh klorit an kadang sebagian menjadi biotit. 5. Biotit mudah terubah menjadi klorit, kadang menjadi epidot. 6. Olivin terubah menjadi serpentin atau karbonat dan oksida besi. Ubahan yang umum terjadi pada batuan ini yang berkaitan dengan endapan mineral bijih diantaranya silisifikasi, karbonatisasi, kloritisasi, argilisasi atau penggantian mineral-mineral oleh biotit, ortoklas atau albit. Dike dari diorite atau monzonit bertekstur porfiritik, dengan fenokris plagioklas, hornblend dan piroksen, sering disebut porfirit.

5. Kerabat Granodiorit, Adamelit dan Granit


Batuan kerabat ini merupakan batuan asam. Semua mengandung kuarsa lebih dari 10% dan mengandung alkali feldspar > 1/8 jumlah feldspar. Berdasarkan pada perbandingan alkali feldsparnya dengan plagioklasnya maka dapat dibagi menjadi: Kasar Halus Granodiorit Dasit Adamelit Rhyodasit Granit Rhyolit

Mineraloginya terbagi atas : Plagioklas : kecuali untuk batuan yang bersifat alkali, plagioklas merupakan mineral yang jumlahnya banyak. Jenisnya dari albit sampai andesin. Soda oligoklas : merupakan tipe mineral dalam granit. Zoning yang kuat sering didapat dalam diorit kuarsa dan granodiorit. Feldspar alkali : dalam granit yang normal, alkali feldspar berupa pertit mikroklin, ortoklas dan pertit ortoklas banyak didapat dalam granit, monsonit kuarsa (adamelit) dan granodiorit. Albit : didapat sebagai hasil albitisasi dari mineral-mineral tersebut. Intergrowth pertit didapat dansangat tidak beraturan, kadang sempurna kadang hanya sebagai lensa-lensa dari albit. Tuttlel & Bowen (1058) membagi granit dengan sekitar 80% ortoklas + albit + kuarsa normatif menjadi 2 bagian : 1. Granit Hipersolvus, yaitu granit yang plagioklasnya didapat hanya sebagai intergrowth pertit. 2. Granit Subsolvus, yaitu granit yang mengandung plagioklas dan pertit yang terpisah.

Klasifikasi yang sama berlaku pula terhadap syenit dan syenit nefelin. Alkali feldspar yang berukuran besar sering mengandung inklusi berupa plagioklas, ferromagnesian, dan mineral-mineral assesories. Kuarsa : kecuali dalam porfiris dan pada granit rapakivi, kuarsa umumnya anhedral. Inklusi banyak didapat. Yang karakteristik adalah inklusi gelembung dengan bentuk tak teratur. Inklusi cairan juga didapat dalam granit. Mereka terlihat berupa serabut, acicular. Kemungkinan rutil. Inklusi turmalin dan apatit jarang didapat. Juga mika, amphibol, kadang amphibol dan biotit intergrowth dengan kuarsa. MINERAL FERROMAGNESIA Yang umum dijumpai adalah hornblend dan biotit. Piroksen didapat pada diorit kuarsa, granodiorit dan pada batuan yang lebih basa (kalsil). Biasanya mengandunhg inklusi. Biotit merupakan mineral karakteristik dalam granit yang normal. Hornblend lebih karakteristik dalam diorit kuarsa dan granodiorit meskipun banyak didapat dalam granit. Biotit berwarna coklat atau hijau kecoklatan dan biasanya mengandung inklusi apatit, zircon, sphene. Hornblend hijau tua banyak mengandung inklusi mineral assesories. Sebagian hornblend dibagian tepinya ditempati oleh biotit. Bila ada diopsid, bagian tepinya dikelilingi oleh hornblend. Piroksen alkali : akmit, aegirin augit terbatas adanya dalam granit.alkali amphibol seperti riebekit merupakan hasil ubahan dari piroksen. MINERL LAINNYA Muskovit, umumnya terdapat dalam granit dan jenis batuan yang lebih asam. Kebanyakan terlihat seperti hasil ubahan dari plagioklas.

Topas, fluorit dan turmalin juga umumnya didapat dalam batuan ini. Seperti muskovit, mereka mungkin hasil kristalisasi langsung dari magma asam yang basah (mengandung gugusan OH). Mika, yang mengandung litium seperti lepidolit, zinnwaldit ditemukan dalam beberapa granit umumnya dalam pegmatit. Epidot, juga mineral yang sering dijumpai, merupakan hasil ubahan dari plagioklas. Selain itu apatit yang berbentuk euhedral atau anhedral dan zircon yang umumnya berasosiasi dengan biotit dan kuarsa. Sphene sebagai mineral assesoris yang karakteristik untuk diorit kuarsa dan granodiorit. Berasosiasi dengan biotit dan dengan mineral feromagnesian yang lain. Rutil, juga sebagai assesoris, sebagai inklusi dalam biotit dan kuarsa. Monasit sering didapat dalam granit, dibedakan dengan zircon pada warnanya yang kuning dan bersumbu 2. Mineral assesoris yang opak termasuk magnetit, ilmenit, hematit. Beberapa mineral yang tidak selalu didapat akibat asimilasi dengan sedimen yang banyak mengandung aluminium adalah grafit, silimanit, cordierit, andalusit, garnet. Garnet juga sebagai hasil dari rekristalisasi dari granit selama metamorfosa. Kerabat granodiorit, adalemit dan granit dibagi menjadi 2 jenis, yaitu : 1. JENIS YANG BERBUTIR HALUS Yang berbutir halus adalah dasit, rhyodasit dan rhyolit. Batuan tersebut mempunyai tekstur yang berbeda-beda dari holokristalin samapi holohyalin. Pilotaksitik, sering mengandung banyak gelas, sehingga teksturnya menjadi vitrophyri dan hyalopilitik.

Pembekuan yang cepat menyebabkan terbentuknya gelas yang disebut dengan obsidian; apabila kandungan airnya sekitar 1%. Bila kandumgan air lebih dari beberapa %, maka disebut perlit. Dan bila lebih dari 10% disebut pitohstone. DASIT : Batuan ini berbutir halus, ekstrusif dari granodiorit (jumlah silika dalam dasit lebih besar sedikit dari pada dalam andesit). Kebanyakan dasit mempunyai fenokris plagioklas, kuarsa, ortoklas atau sanidin. Biasanya mengandung sedikit piroksen, hornblend atau biotit. Masadasar umumnya gelas, hyalopilitik. Gelas mencapai sekitar 1/3 atau lebih dan mengandung lebih dari 10% kuarsa. Masadasar sering mengandung tridimit dan K-feldspar atau plagioklas yang lebih asam dari pada fenokrisnya. Fenokris plagioklas berjenis labradorit sampai oligoklas dan jarang berjenis bitownit. Tetapi, kebanyakan jenis plagioklasnya adalah andesin basa sampai labradorit asam. Kristal yang besar menunjukkan zoning sedangkan kuarsa dari jenis kuarsa dan dan dapat juga kristal bipiramid yang mengalami korosi. Ortoklas atau sanidin jarang didapat. Mafic mineral diopsid augit dan hyperstein sering ditemukan. Pada beberapa dasit, fenokris hornblend mempunyai inti cummingtonit. Olivin dari jenis fayalit. Mineral assesoriesnya berupa apatit; mineral bijih, kadang garnet dan kordierit. RHYODASIT : Batuan yang banyak mengandung gelas sulit dibedakan dengan rhyolit. Lebih banyak mengandung potas feldspar dan plagioklasnya biasanya lebih bersifat soda. Mineral mafic dominan hornblend dan biotit daripada piroksen. Beberap rhyodasit mengandung garnet yang dikelilingi oleh ortoklas dan albit oligoklas. RHYOLIT : Batuan ini dapat dibagi dua jenis yaitu potas rhyolit dan soda rhyolit. Potas rhyolit, terutama mengandung biotit. Ortoklas dan sanidin mmerupakan feldspar yang utama sedangkan mikroklin jarang didapat. Plagioklas jarang dan biasanya terdapat di masadasarnya. Yang sebagai fenokris kadang berzona dari jenis andesin dan oligoklas.

Biotit umumnya didapat juga amphibol. Pada batuan yang holokristalin didapat juga piroksen. Topas, fluorit dan muskovit kadang dijumpai. Mineral assesories yang selalu ada berupa zircon, sphene dan mineral bijih (magnetit). Masadasar biasanya mengandung gelas. Soda rhyolit ; mudah dibedakan dengan adanya soda feldspar, soda sanidin, anortoklas atau albit. Kuarsa yang berbentuk bipiramid mendekati 10%. Pada batuan yang holokristalin, didapat banyak kuarsa yang granular dalam masadasarnya. Tridimit, kristobalit dan opal serta kalsedon. Mafic mineral berupa soda amphibol dan piroksen. Mineral assesoriesnya berupa sphene, bijih besi dan apatit, aegirin. Ubahan dari rhyolit biasanya dimulai dari masadasar dan kemudian menjalar ke fenokris. Dengan adanya larutan asam, feldspar terubah menjadi kaolin. Larutan alkali akan menghasilkan monmorilonit, serisit dan kadang bersama pirit. Didaerah fumarola, dan mata air panas, tridimit kuarsa sekunder, dan feldspar alkali merupakan ubahan masadasar. Mineral mafic terubah menjadi klorit dan mineral bijih.

2. JENIS YANG BERBUTIR MENENGAH DAN KASAR Yang banyak adalah granodiorit, adalemit dan granit, berbentuk sebagai batolit dan terdapat pada jalur orogen. Lindgren memberi nama granodiorit untuk batuan antara adamelit dan diorit kuarsa. Batuan tersebut mengandung plagioklas (andesin asam) 40, kuarsa 21, ortoklas 18, hornblend 17 dan mineral assesories; biotit, apatit, sphene 4, augit sedikit. Plagioklas berbentuk euhedral atau subhedral, zoning normal umumnya didapat dibagian tengah Anzo bagian tepi Anzo. Ortoklas jarang sebagai fenokris. Bagian tengah pluton granodiorit tidak berstruktur makin keluas, perlapisan yang planar dan inklusi basa (basic cloth) menjadi banyak. ADAMELIT :

Disebut juga monsonit kuarsa mengandung lebih banyak alkali feldspar. Biotit jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan hornblend. Jenis plagioklasnya oligoklas dan jarang andesin. Ortoklas membentuk lebih dari 1/3, oligoklas membentuk 1/3 dan kuarsa 1/4. Mineral mafic berupa biotit, hornblend dan mineral assesories berupa apatit, zircon dan bijih besi. GRANIT : Batuan ini bertekstur hypidiomorf. Plagioklas dan mineral mafic berbentuk euhedral. Alkali feldspar berbentuk subhedreal sedangkan kuarsa berbentuk anhedral. Kadang granit bertekstur porfiritik dengan fenokris alkali feldspar. Inti dari pluton granit tidak menunjukkan orientasi mineralnya tetapi didekat tepinya sering menunjukkan pengarahan pada mineral-mineral yang panjang. Pada graphic granit dari granofir, tekstur yang karakteristik adalah

intergrowth antara kuarsa dan potasi feldspar (biasanya mikroklin). Jumlah kuarsa lebih sedikit daripada dalam granit. Mineralogi granit, paling banyak alkali feldspar yang jumlahnya lebih dari 2/3. Selama tahap kristalisasi akhir akan terbentuk ortokas dan plagioklas dan mineral yang bagian tengaj alkali feldspar sedangkan bagian tepinya plagioklas. Dalam granit, soda feldspar membentuk pertit terutama dalam alakali granit. Pertit lebih sedikit didapat dalam diorit kuarsa dan granodiorit daripada dalam granit. Kuarsa umumnya berpemadaman bergelombang. Anortoklas jarang ada kecuali pada alkali granit. Albit sering didapat terutama oligoklas. Myrmekit tidak jarang didapat pada granit, apalagi bila mengalami kontaminasi karena asimilasi dengan material basa. Kuarsa sekitar 10%-30% dapat mengandung inklusi gas atau cairan, rutil dan apatit yang berbutir halus.

Mineral maficnya berupa biotit coklat, dengan inklusi apatit, zircon, allanit dan bijih besi. Pada zircon sering didapat pleochroic halus. Biotit dapat terubah menjadi klorit dan sphene. Muskovit dan lepidolit dijumpai terutama pada granit yang mengandung silika tinggi seperti granit aplit dan pegmatit. Pada calc-alkali granit amphibolnya adalah hornblend hijau dan biotit. Piroksen jarang didapat. Pada alkali granit jenis amphibolnya hastingsit, riebeckit dan arfvedsonit yang berbentuk anhedral. Aegirin-augit, aegirin akmit mmengkristal pada tahap akhir. Enstatit dan hyperstein dadapat dalam potas granit. Mineral assesoriesnya : apatit, sphene, zircon, magnetit. Apatit, sphene dan zircon terutama dalam calcalkali granit. Pada granit aplit dan pegmatit dijumpai andalusit silimanit yang mengandung inklusi corundum. Pada granit yang mengalami proses pneumatolitik juga dijumpai andalusit, silimanit dan tourmalin serta topas. Ubahan dan deuteric pada granit : Selama proses magmatik akhir, granit terubah oleh larutan residu dan uap yang merubah mineral-mineral yang telah terbentuk menjadi mineral tourmalin, topas, fluorit, muskovit, mika yang mengandung lithium, kasiterit dan wolfranit. Sebagian toumalin mengkristal selama proses magmatis. Greisen : Batuan ini pneumatolisa yang terdapat dibagian tepi granit pluton. Biasanya membentuk vein dan alur dengan tebal beberapa inci sampai beberapa kaki. Sebagian hampir terdiri atas kuarsa dan mika saja. Feldspar yang biasa terdapat dalam granit digantikan oleh muskovit atau lepidolit. Topas selalu ada. Minneral assesories : tourmalin, flourit, apatit, rutil, kasiterit dan worfranit.

Aplit asam dan pegmatit : Aplit dikarakteristikkan oleh butir yang tidak lebih dari 2 mm, allotriomorf. Tekstur grafik sering dijumpai. Batuan ini kaya akan kuarsa, alkali feldspar, muskovit dan mineral pneumatolit. Aplit tebalnya beberapa inci sampai beberapa kaki, tetapi pegmatit dapat mencapai ratusan meter. Pegmatit lebih bervariasi karena pembekuannya yang lambat, mengandung volatil yang tinggi dan adanya rekristalisasi dan

replacement dari mineral yang terbentuk lebih dahulu oleh yang terbentuk kemudian (yang lebih muda). Kebanyakan aplit dan pegmatit terdiri atas kuarsa, alkali feldspar dan muskovit. Pada aplit, mineral assesoriesnya adalah almandin, spessartit, zircon, tourmalin, topas, lepidolit, spodumen, spidot dan allanit. Sebagian pegmatit mengandung mineral yang sama dengan aplit ditambah beryl, apatit, fluorit, wofranit, kasiterit, columbit, tantolit, lithiophilite, ambylgonit. Andalusit, silimanit, kyanit dan corundum merupakan mineral yang tidak umum didapat dalam pegmatit. Terbentuknya sebagian oleh kristalisasi primer dari larutan yang mengandung alumina yang tinggi, dan sebagian lagi akibat reaksi dengan batuan dinding (batuan induk) yang mengandung alumnina dan xenolith. Jadi kandungan mineral dalam pegmatit tergantung pada sifat dan atau jenis batuan dindingnya. Secara definisi, pegmatit berbutir kasar. Pegmatit yang tebal, biasanya berzona: 1. Zona tepi, berbutir halus dibanding dengan zona lain terdapat pada batas kontak dengan batuan induk. 2. Zona dinding, lebih kasar butirannya lebih tebal dari zona tepi. 3. Zona menengah, berbutir kasar tidak semuanya. 4. Inti, sangat kasar butirannya sering mengandung mineral jarang.

Kerabat diorit kuarsa, granodiorit dan granit apabila terubah maka plagioklas terubah ke sausurit dan serisit. Bila komposisi plagioklas bersifat menengah maka akan menjadi muskovit dan serisit. Monzonit dan granodiorit sebagian berasosiasi dengan endapan tembaga porfir. Pada batuan hypabisal dari kerabat ini, plagioklas yang menengah sebagian dialih tempat oleh alkali feldspar. Albitisasi juga sering dijumpai. Ubahan dari plagioklas ke mineral lempung tidaklah umum, sering berasosiasi dengan mineralisasi dimana argilisasi sangat menonjol. Alkali feldspar kurang terubah dibanding dengan plagioklas basa dan menengah. Albit menjadi mika putih, ortoklas dan mikroklin hampir bebas mengalami ubahan, hanya terlihat menjadi buram (berawan) karena adanya mineral lempung yang berbutir halus. Mineral lempung dihasilkan oleh pelapukan dari feldspar. Mereka juga sebagai hasil dari proses hydrothermal. Biotit terubah menjadi klorit, epidot dan anggota epidot yang lain sering bersama-sama dengan klorit. Hornblend sering terubah menjadi klorit. Piroksen apabila ada terubah ke uralit atau klorit. Karbonatisasi sebagai hasil ubahan dari granit. Tourmalin sebagai mineral sekunder, terutama dalam granit bersama-sama dengan retas-retas timah, emas. Diorit, kuarsa dan monzonit kuarsa merupakan batuan induk dari endapan tembaga porfir yang terdiri atas tembaga yang tersebar dalam batuan dan sufida besi dalam rekah-rekah dan stock batuan yang telah terubah dan porfir. Endapan tembaga terdiri atas vein yang kaya endapan yang terdapat dalam batuan pluton yang bersifat menengah sampai asam. Molybdenit merupakan mineral bijih yang terdapat dalam granit. Timah juga didapat sebagai butir-butir yang tersebar dalam pegmatitdan granit yang terubah dan dalam vein dekat pada stock granit.

Kuarsa porfir sebagian diorit kuarsa atau granodiorit kadang sebagian batuan induk bijih emas. Pegmatit membawa berbagai macam mineral yang kebanyakan

mempunyai arti ekonomi. Muskovit, lithium dihasilkan dari spodumen, ambylgonit dan lepidolit yang ada dalam pegmatit. Uranium, thorium juga didapat dalam pegmatit. Mineral lain termasuk molybdenit, kasiterit, kalkopirit, sphalerit, pirit, pyrholit, apatit, beryl, columbite dan tantalit yang banyak didapat dan merupakan mineral yang mempunyai arti komersial.

BAB III REFERENSI

www.kosmix.com/topic/wehrlite http://brasil.cel.agh.edu.pl/~09sjzdera/english/skaly/opis.html http://www.encyclopedia.com/topic/Gabbro.aspx http://geology.csupomona.edu/alert/igneous/peridotite.htm http://www.mineralatlas.eu/lexikon/index.php/RockData?rock=Foidhaltiger%20Monzonit http://sites.google.com/site/geologybase/home/petrology/kinds-of-rocks/igneousrocks/gabbro-clan http://chestofbooks.com/science/geology/Intro/IV-The-Gabbro-Family.html http://www.utm.edu/departments/caas/agnr/geosciences/docs/igrocktable.htm Blatt, H and Tracy, R.J . 1996. Petrology : Igneous, Sedimentary, and Metamorphic. WH. Freeman and Company : New-York. Williams, Howel, Francis J. Turner and Charles M. Gilbert, Petrography : An Introduction to the Study of Rocks in Thin Sections, 1954, W.H. Freeman and Company, San Fransisco Prodjosumarto, Parwoto dan Mega Fatimah Rosana, Diktat Kuliah : PETROGRAFI, 1999, Edisi kedua, Bandung.

TUGAS PETROGRAFI KEKERABATAN BATUAN Disusun oleh : Adinda Kinasih 270110090092 Kelas C

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2010/2011