Kriteria Evaluasi Penyakit TBC

Kriteria Evaluasi Penyakit TBC

Oleh: Asysyifa Fathi Rabbani (1006672195)

Kasus: Seorang perempuan berusia 37 tahun, dirawat di ruang penyakit dalam dengan diagnosis medis TBC. Saat ini klien masuk RS dengan keluhan sesak nafas, batuk yang tidak sembuh-sembuh sejak tiga minggu yang lalu, dan batuk berdarah serta demam bila malam hari. Dan hasil pengkajian didapatkan, satu tahun yang lalu klien pernah mendapat pengobatan TBC, tetapi setelah tiga bulan pengobatan ia tidak lagi minum obat karena sudah tidak batuk lagi. Ia adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal bersama keluarga besarnya (suami, anak, ayah, ibu, adik, dan kakak) di daerah padat penduduk. Pada pemeriksaan fisik saat ini didapatkan frekuensi nafas 30 kali/menit, nadi 88 kali/menit, tekanan darah 100/60 mmHg, berat badan 35 kg, dengan tinggi badan 155 cm, klien tampak lemah dan terpasang oksigen nasal kanul 4 liter/menit. Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya, terutama meningen, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Suzanne dan Brenda, 2001). Untuk menentukan klasifikasi penyakit TBC, ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu sebagai berikut:
1. 2. 3.

Organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru Hasil pemeriksaan dahak Basil Tahan Asam (BTA): positif atau negatif Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat

Pengkajian pasien dapat dimulai dari melihat riwayat penyakit, gejala saat ini meliputi keluhan utama seperti adanya dyspnea, batuk, pembentukan sputum, hemoptysis, mengi, dan nyeri dada, serta analisis gejala seperti pada saat seperti apa gejala timbul mengacu pada temoat dan waktu, persepsi klien, kualitas dan kuantitas keluhan yang dialami, lokasi, faktor yang memperburuk, faktor yang meradakan, dan manifestasi yang berkaitan. Pengkajian selanjutnya dapat dilihat dari aspek psikososial yang mencakup lingkungan, pekerjaan, letak geografis, kebiasaan, nutrisi, dan riwayat merokok. Lakukan pemeriksaan fisik setelah pemeriksaan kesehatan selesai dengan menggunakan teknik inspeksi, palpasi, dan auskultasi.

Luas lesi. 4. Pada kasus terjadi TBC paru batuk aktif. yaitu terdapatnya infiltrat dan kapitas yang melebihi keadaan pada moderateli advanced tuberculosis. For advanced tuberculosis. yaitu adanya kapitas dengan diameter tidak lebih dari 4 cm. Kategori II : ditujukan terhadap kasus kambuh dan kasus gagal dengan sputum BTA positif. batuk darah. Pembagian secara patologis. . dan penurunan berat badan. Berdasarkan terapi WHO. Berdasarkan aspek kesehatan masyarakat. Kategori IV : ditujukan terhadap TB kronik. Moderateli advanced tuberculosis. BTA positif atau BTA negatif. gejala respiratoik dan gejala sistemik. yaitu terinfeksi tuberculosis dan sakit. 6. Kategori I. disini riwayat kontak positif. TBC minimal. Kategori O. jumlah infiltrat bayangan halus tidak lebih dari satu bagian paru. Enderita pada kasus masuk kategori II dan atau mungkin IV. 5. BTA negatif. pada kasus terjadi TBC dewasa atau TBC post primer. yaitu terdapatnya sebagian kecil infiltrat non kapitas pada satu paru maupun kedua paru. TBC anak atau TBC dewasa. 2. Kategori III : ditujukan terhadap kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas dan kasus TB ekstra paru selain dari yang disebut dalam kategori I. yaitu terpajan TBC tetapi tidak tebukti adanya infeksi. tapi jumlahnya tidak melebihi satu lobus paru. keringat malam. anoreksia. Secara aktifitas radiologis.Terdapat beberapa klasifikasi TBC: 1. Klien pada kasus menunjukkan gejala pada kedua aspek. dan batuk aktif yang mulai sembuh. yaitu tidak pernah terpajan dan tidak terinfeksi. non aktif. Berdasarkan pemeriksaan dahak. yaitu terinfeksi tuberculosis tapi tidak sakit. TBC paru aktif. Kategori I : ditujukan terhadap kasus baru dengan sputum positif dan kasus baru dengan batuk TB berat. riwayat kontak tidak pernah. Kategori II. 3. Gejala respiratorik meliputi batuk. sesak napas. Bila bayangannya kasar tidak lebih dari satu pertiga bagian satu paru. Sedangkan gejala sistemik meliputi demam. BTA negatif. Gambaran klinik TBC paru dapat dibagi menjadi 2 golongan. dan nyeri dada. Kategori III. Penderita pada kasus masuk ke dalam kategori III.

Nilai ulang test resistensi kuman terhadap obat. ganti dengan paduan obat yang masih sensitif. radiologis. keluhan hilang sama sekali. program pengobatan. atau menganggap penyakitnya . Intinya. namun sumbernya masih ada dan sewaktu-wajtu bisa kumat. Teruskan pengobatan lama ± 3 bulan dengan evaluasi bakteriologis tiap-tiap bulan. Pengobatan baru dapat dihentikan setelah pemeriksaan penunjang menunjukkan bahwa penderita sudah benar-benar sembuh. Identifikasi adanya penyakit yang menyertai (demam. Rontgen paru sebagai evaluasi. Dibutuhkan kesabaran untuk tekun berobat. fungsi pernapasan yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan individu. dan perubahan perilaku untuk memperbaiki kesehatan. 4. Jangka resistensi terhadap obat. bakteriologis Evaluasi keberhasilan pengobatan dilihat dari kebersihan jalan napas. Pemberian obat mungkin hingga 2 tahun untuk mencegah terjadinya kekambuhan. berat badan bertambah. alkoholisme / steroid jangka lama) 5. Pada penderita kambuh (sudah menjalani pengobatan teratur dan adekuat sesuai rencana tetapi dalam kontrol ulang BTA ( +) secara mikroskopik atau secara biakan) 1. nafsu makan meningkat. tidak sabar. Mungkin bisul aneh itu sudah sembuh. perilaku atau pola hidup yang berubah dalam pencegahan infeksi.Penanggulangan pasien TBC terhadap penderita yang riwayat pengobatannya tidak teratur: 1. Selama penyakit TBC paru masih ada di dalam tubuh. biakan dan resistensi 3. penjalaran penyakit TBC akan terus berpotensi merajalela. Pengobatan penyakit TBC perlu waktu yang lama. Berikan pengobatan yang sama dengan pengobatan pertama 2. 2. Pengobatan yang tidak tertib dan tidak tuntas akan menyulitkan penyembuhan penyakit TBC. kebtuhan nutrisi yang adekuat seperti berat badan yang meningkat dan tidak terjadinya malnutrisi. Lakukan pemeriksaan BTA mikroskopik 3 kali. dan pemeriksaan dahak pada tahap akhir menunjukkan hasil negatif. Sesuatu obat dengan tes kepekaan / resistensi Evaluasi ulang setiap bulannya : pengobatan. 3. Kebanyakan penderita penyakit TBC tidak menyelesaikan pengobatan karena alasan keuangan. serta pemahaman pasien tentang respon penyakit.

Sylvia Anderson. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI Media Aescullapius Nadesul. Jakarta: EGC .com/2011/07/satuan-acara-penyuluhan-sap-tbc. (1999). Jakarta: Buku Kedokteran EGC Dewanti. (2001). Jakarta: EGC Underwood. (2005). Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan Edisi 2. Lynda Juall. Onaria. J. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 2. Satuan Acara Penyuluhan (SAP) TBC http://kumpulansapdanleaflet.sudah sembuh. Diunduh pada 1 Oktober pukul 07. (1999). Referensi: Asih. Niluh Gede Yasmin & Effendy. (2011). (2009).blogspot.dkk. Jakarta: EGC Smeltzer.html . Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. (1998). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. Jakarta : EGC Knowupdate.C. (2004). Keperawatan Medikal Bedah: Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan.com/doc/17186413/askep-TBC .16 Doengoes.48 Mansjoer. Jakarta: BPK Gunung Mulia Price. Asuhan Keperawatan dengan Klien TBC http://www. Jakarta: EGC Carpenito. (2009). (1999). basil penyakit TBC dapat menjadi kebal terhadap obat-obat selanjutnya dan harus mengkonsumsi obat yang lebih kuat. Suzanne C. Jika pengobatan tidak dilanjutkan. Christantie. Dari Balik Kamar Praktik Dokter. Brenda G. Arif . Standar Perawatan Pasien. Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth Volume 1. Patologi Umum dan Sistematik Volume 2.E. (1999). Diunduh pada 1 Oktober 2011 pukul 10. Marilynn E. Handrawan. & Bare. Jakarta: EGC Tucker dkk.scribd.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful