Anda di halaman 1dari 23

Membangun Sendiri Pemancar FM Komunitas

Sumber: Onno W. Purbo Pada masa lalu, para aktifis harus berfikir dua kali sebelum membangun pemancar FM karena kemungkinan besar akan di sweeping aparat. Berkat perjuangan rekan-rekan bawah tanah aktifis radio FM komunitas yang terkait pada banyak jaringan radio di Indonesia akhirnya pemerintah mengeluarkan Undang-Undang no. 32 tahun 2002 tentang penyiaran yang mengakui keberadaan lembaga penyiaran komunitas pada bagian enam pasal 22 sampai dengan pasal 24. Komunitas disini dapat berupa sekolah, tempat ibadah (masjid / gereja), RT, RW, karang taruna dll. Ijin radio komunitas dapat dimintakan ke Komite Penyiaran Indonesia (KPI) yang detail formulir maupun alamatnya dapat di lihat di Web KPI http://www.kpi.go.id. Pengalaman beberapa rekan di Jakarta ijin radio komunitas relatif mudah dan tidak mengeluarkan biaya. Tapi beberapa rekan di daerah, tampaknya masih memperoleh kesulitan dengan KPI daerah baik dari sisi prosedur maupun dari sisi setoran. Detail teknis pemancar FM komunitas dijelaskan dengan lebih rinci pada Keputusan Menteri Perhubungan no. 15 tahun 2003 yang di tanda tangani oleh Pak Agum Gumelar. Beberapa hal yang penting yang perlu di perhatikan, kuat daya pancar maksimum 25Watt (kira-kira equivalen dengan ERP di antenna maksimum 50Watt). Dengan ketinggian tower maksimum 20 meter. Jangkauan maksimum yang di ijinkan hanya 2.5km atau 1-2 Rukun Warga saja. Polarisasi antenna bisa vertikal, horizontal maupun sirkular. Channel yang dapat digunakan untuk radio komunitas hanya 107.7MHz, 107.8MHz, 107.9MHz. Di Jakarta mungkin agak berbeda sedikit karena 107,8MHz digunakan oleh radio milik POLDA, maka rekan-rekan komunitas FM banyak menggunakan 107.6, 107.7 dan 107.9MHz.
Pemancar FM Broadcast Komunitas

Frekuensi Max Power Ijin

107.7, 107.8 & 107.9MHz 50 Watt ERP harusnya GRATIS dari KPI

Tinggi Tower 20 meter

Bagaimanakah bentuk pemancar FM komunitas? Berapa investasinya? Dimana memperoleh peralatan tersebut? barangkali pertanyaan-pertanyaan praktis ini banyak di cari jawabnya oleh banyak rekan pemula radio.

Blok diagram pemancar FM Komunitas sangat sederhana sekali. Pada gambar di bawah tampak blok sebuah pemancar FM komunitas sederhana, Sebuah pemancar FM komunitas menerima masukan dari Mixer berupa audio stereo dengan keluaran berupa sinyal radio yang di masukan ke antenna melalui kabel coax. Suara dan musik dimasukan ke mixer sebelum di masukan ke pemancar FM. Minimal sekali kita memerlukan beberapa microphone (mike) untuk penyiar berbicara, di samping itu akan membantu jika kita mempunyai semacam MP3 Player. Dengan semakin murahnya harga komputer, pada hari ini kebanyakan pemancar FM akan menggunakan komputer untuk memutarkan lagu karena stok / perpustakaan lagi menjadi sangat banyak sekali. Untuk sebuah sistem yang sederhana anda dapat menggunakan MP3 Player di komputer seperti Winamp (di Windows) atau XMMS (di Linux). Lagu-lagu dapat di peroleh dari CD-CD MP3 yang banyak di jual oleh pengecer CD, memang harus di akui bahwa sebagian besar CD tersebut adalah bajakan.

Bagi mereka yang ingin lebih profesional, saya sarankan untuk menggunakan Linux Ubuntu dan menginstalasi software campcaster yang merupakan software untuk broadcast radio komunitas yang dapat secara gratis di ambil di http://www.campcaster.org. Teknik instalasi Campcaster memang bukan untuk pemula anda memerlukan pengetahuan tentang Linux untuk dapat menginstall Campcaster dengan baik. Pertanyaan praktis, dimanakah memperoleh peralatan ini?

Mixer saya biasanya membeli di toko elektronik sekitar Kembang Sepatu di daerah Senen Jakarta. Jangan membawa mobil kesana, karena memang tidak ada tempat parkir. Sebuah mixer paling kecil dengan empat (4) channel dapat di beli seharga Rp. 350.000,- , Mixer yang agak lumayan untuk radio komunitas biasanya sekitar delapan (8) channel yang harganya sekitar Rp. 450.000,- di Pasar Kembang Sepatu. Tentunya anda harus pandai memilih dan menawar untuk memperoleh harga sedemikian rendah. Pada gambar tampak mixer dan komputer Linux Ubuntu dengan campcaster pada Kerm.IT FM, yang di operasikan oleh Kelompok Remaja Melek IT (Kerm.IT) di kemayoran Jakarta. Kabel-kabel audio untuk mikrofon maupun untuk sambungan dari mixer ke berbagai peralatan audio maupun ke pemancar yang bagus biasanya menggunakan kabel buatan

Jepang. Harga kabel audio stereo antara Rp. 3000-5000 / meter biasanya bisa di beli di Glodok yang lama.

Terakhir adalah Pemancar FM Boardcast komunitas. Pengalaman saya kalau mencari di Jakarta biasanya harganya lumayan mahal. Tampaknya banyak pembuat pemancar FM boardcast di Jawa Timur. Hal ini dapat anda deteksi dengan mudah melalui situs BEKAS.COM http://www.bekas.com pada kategori alat komunikasi pada bagian Radio Amatir. Dari sekian banyak pembuat radio pemancar FM boardcast yang relatif murah tapi masih berkualitas tampaknya saudara Dwi Hartanto, yang beralamat di Jl. Sultan Hasanudin III/16 , Tulungagung 66224, Jawa Timur yang dapat dihubungi melalui e-mail ke info@aircom-rf.com atau dwi_hartanto@telkom.net . Produk Pemancar FM boardcastnya dapat di lihat di situs beliau http://www.aircom-rf.com. Jika kita lihat peralatan di dalam-nya sebetulnya relatif sederhana sekali. Sebuah pemancar FM komunitas hanya terdiri dari pembangkit frekuensi tinggi yang dapat diatur frekuensinya, sebuah power amplifier 25 Watt dan sebuah stereo enkoder.

dari kiri ke kanan, Rachmat, Zaenal, Andi sedang memasang antenna Karena ketinggian tower di batasi hanya 25 meter, cara paling sederhana untuk menaikan antenna bagi pemancar FM komunitas ini adalah dengan memasang antenna panjang gelombang pada pipa ledeng. Cara paling mudah adalah mengikatkan terlebih dulu antenna ke pipa ledeng, baru di tegakan pipa ledeng tersebut. Tampak pada gambar beberapa anggota Kerm.IT (Kelompok Remaja Melek IT) di kemayoran Jakarta seperti Zaenal, Rahmad, dll. sedang menaikan antenna radio pemancar FM stereo-nya. Total biaya pembuatan sebuah stasiun pemancar FM komunitas sama sekali tidak mahal. Pemancar FM stereo 25Watt beserta antenna panjang gelombang dan ongkos kirim dari Tulungagung dapat di peroleh dengan biaya Rp. 1.8 juta-an, Mixer dapat di peroleh sekitar Rp. 350-450.000,- di Kembang Sepatu Senen. Dengan kabel-kabel mikrofon, kabel coax dan pipa ledeng akan menghabiskan sekitar Rp. 2.5-3 juta sebuah pemancar FM stereo 25 Watt untuk komunitas dapat memancar.

Mudah-mudahan tulisan ini dapat menggugah anda semua untuk mulai memberdayakan lingkungan sekitar kita di sekolah, di RW, di majid atau tempat peribadatan untuk siaran radio. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat.

[edit] Pranala Menarik


http://txfm.blogspot.com http://www.aircom-rf.com http://www.campware.org/en/camp/campcaster_news/

[edit] Pranala Menarik


Software Untuk Pemancar FM Broadcast Komunitas Campcaster Jantung Pemancar FM Komunitas Perijinan Radio Komunitas Linux Howto Teknik Broadcasting

Software Untuk Pemancar FM Broadcast Komunitas


Untuk menjalankan lagu-lagu di sebuah pemancar FM broadcast komunitas, kita sebetulnya mempunyai banyak pilihan. Beberapa pilihan yang ada adalah menggunakan,

MP3 Player, kita mempunyai keterbatasan menyimpan jumlah lagu. Komputer Windows, dengan Winamp. Tidak mempunyai fasilitas database. Komputer Linux, dengan XMMS yang mirip dengan Winamp juga tidak mempunyai database. Komputer Linux, dengan Campcaster.

Campcaster adalah software yang di rancang khusus untuk stasiun broadcasting komunitas yang hanya dapat di operasikan di Linux. Pertama-tama tentunya kita harus mendapatkan CD / DVD sistem operasi linux dan belajar menginstal-nya di komputer. Bagi anda yang benar-benar masih pemula, situs yang baik untuk belajar Linux dalam bahasa Indonesia adalah

http://www.ubuntu-id.org http://opensource.telkomspeedy.com/wiki/index.php/Linux_Howto

Tempat diskusi Linux yang baik antara lain di


tanya-jawab@linux.or.id http://opensource.telkomspeedy.com/forum/

Saran-nya menggunakan Linux Ubuntu yang relatif mudah, stabil dan tidak rewel.

Campcaster Jantung Pemancar FM Komunitas


Barangkali open source software terbaik untuk menjalankan stasiun pemancar radio FM komunitas adalah Campcaster. Software ini mempunyai banyak fasilitas, seperti,

Database lagu & file audio wawancara / sandiwara radio. Manajemen Metadata lagu. Bisa di remote melalui Web. Bisa melakukan scheduling. dll.

Campcaster biasanya di operasikan di Ubuntu Linux. Campcaster sendiri dapat di ambil di situs-nya yang berlokasi di http://www.campcaster.org. URL penting dari situs Campcaster.org ini adalah,

http://www.campware.org/en/camp/campcaster_news/648/ - untuk download. http://code.campware.org/manuals/campcaster/1.1/ - manual campcaster.

Perijinan Radio Komunitas


Sumber: http://deeto88.wordpress.com/2010/06/08/perijinan-radio-komunitas/ Salah satu pertanyaan yang umum ditanyakan oleh rekan-rekan melalui SMS atau telepon atau pun email adalah mengenai bagaimana proses seputar regulasi stasiun radio komunitas. Berikut ini, LAMBDA coba untuk menjelaskan secara garis besar bagaimana regulasi tersebut dan bagaimana mengurus perijinan stasiun radio komunitas. Seperti yang kita ketahui bersama, setiap stasiun radio komunitas wajib hukumnya untuk mengurus perijinan siar dan legalitasnya. Tahap pertama yang harus dilalui adalah mengurus prosesnya melalui Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (sesuai propinsi masing masing). Untuk mengajukan aplikasi permohonan perijinan, pada awalnya rekan-rekan broadcaster harus menyelesaikan terlebih dahulu proses internal keradioan, antara lain :

Pembentukan Dewan Penyiaran Komunitas Copy Dukungan 250 Lembar KTP warga sekitar Pembuatan Akta Notaris (Badan Hukumnya Perkumpulan) Pembuatan IMB Studio Radio Pembuatan HO (Hinder Ordonantie)

Setelah detail-detail di atas selesai diurus, langkah berikutnya adalah dengan KPID setempat. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : 1. Pengambilan Buku Panduan 2. Penyerahan Kelengkapan Berkas Pemohon 3. Verifikasi Administratif 4. Verifikasi Faktual 5. Evaluasi Dengar Pendapat KPID 6. Evaluasi Internal KPID 7. Forum Rapat Bersama KPI Pusat dan Pemerintah 8. Masa Uji Coba Siaran 9. Evaluasi Masa Uji Coba Siaran 10. Penetapan Izin Penyelenggaraan penyiaran Hal berikutnya adalah seputar biaya. Untuk proses perijinan di KPID sifatnya adalah GRATIS kecuali 5 item pada bagian sebelumnya. Dalam berurusan dengan pihak KPID, LAMBDA menyarankan agar rekan-rekan broadcaster melakukannya secara lebih serius, berkomitmen dan positive thinking karena tidak semua tahapan dapat dilalui hanya sekali jalan. Kelancaran proses perijinan di KPID juga sangat bergantung pada bagaimana koordinasi rekan-rekan broadcaster dengan KPID. Satu hal yang harus dicatat pula, kita harus proaktif, jangan hanya sekali kirim terus selesai. Jadi, jangan pernah menyerah untuk mewujudkan mimpi rekan-rekan broadcaster untuk memajukan Indonesia lewat radio broadcasting. Salam,

LAMBDA Team Dito Anggodo

Telekomunikasi Point-To-Point atau Point-To-Multipoint (Terrestrial Fixed Services)

Fixed Services didefinisikan sebagai servis komunikasi radio antara titik-titik tertentu yang tetap, yang juga meliputi system radio point-to-point serta point-to-multipoint digunakan untuk Transmisi Suara, Video dan Informasi Data. Di Indonesia penggunaan system radio fixed services point-topoint atau point-to-multipoint dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu :

Sistem Komunikasi Radio HF. Sistem Komunikasi Radio VHF/UHF. Sistem Komunikasi Radio Microwave Link.

Sistem Komunikasi Radio HF. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.53 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit pasal 22, permohonan izin stasiun radio untuk komunikasi

point-to-point dengan lingkup terbatas tidak perlu menyertakan izin penyelenggaraan telekomunikasi.

Untuk hubungan komunikasi radio yang dapat melintasi batas wilayah negara, harus dilakukan terlebih dahulu koordinasi frekuensi dengan negara lain. Sebagai contoh adalah penggunaan frekuensi HF yang dapat menjangkau ribuan kilometer, sehingga dapat menjangkau negara lain. Komunikasi radio HF menggunakan gelombang langit (skywave) yang bergantung pada kondisi ionosfir yang bervariasi dari siang dan malam, waktu ke waktu serta posisi pemancar dan penerima. Diperlukan sejumlah frekuensi yang berbeda untuk system komunikasi radio HF yang baik. Sistem Komunikasi Radio VHF/UHF. Digunakan untuk penyelenggaraan Telekomunikasi Khusus, untuk keperluan sendiri oleh badan hukum baik BUMN maupun perusahaan swasta. Sebelum UU No.36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi ditetapkan, istilah yang digunakan adalah Radio Konsesi. Pada beberapa pita frekuensi, digunakan pula untuk penyelenggaraan telekomunikasi Bergerak Terrestrial seperti Radio Trunking dan Radio Paging yang memiliki wilayah layanan dan alokasi pita frekuensi Eksklusif. Dirjen Postel tidak akan memberikan izin baru untuk izin stasiun radio konsesi / telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri tersebut. Sistem Komunikasi Radio Microwave Link.

Sistem komunikasi radio microwave link beroperasi pada pita frekuensi radio 1 s/d 60 GHz. Pita frekuensi di bawah 12 GHz, umumnya digunakan untuk aplikasi Radio-relay jarak jauh karena karakteristik propagasi yang mendukung. Sebagai konsekuensinya, pita frekuensi ini sangat padat digunakan, terutama di kota-kota besar.

Sebagai tambahan, bahwa pada pita frekuensi 1-3 GHz juga digunakan untuk sistemsistem Komunikasi Tetap, Bergerak maupun Satelit. Misal GSM 1800, WLL, CDMA 1900, IMT 2000, Satelit Broadcasting Cakrawarta I. Karena itu Dirjen Postel tidak akan menetapkan izin baru bagi microwave link di pita 1-3 GHz tersebut. Sejumlah pengguna microwave link yang telah beroperasi sejak tahun 1990-an pita 1-3 GHz, akan sedikit demi sedikit dikurangi dan tidak diperpanjang izinnya lagi.

by Enj.Ambang Purwadi

FM RADIO TECHNOLOGY (Bagian 1)

Sejak pertama kali mengudara sampai sekarang ini, radio broadcasting sebagai salah satu media penyiaran, menempati posisi cukup penting dalam ikut mencerdaskan kehidupan umat manusia. Radio semakin dirasakan sebagai sarana yang efektif untuk menyampaikan berita-berita maupun informasi penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Radio semakin dapat dijadikan saksi untuk berbagai peristiwa dalam interaksi kehidupan umat manusia modern. Salah satu penyebabnya adalah semakin berkembangnya perangkat penerima (radio receiver) yang berkualitas, namun harga

semakin terjangkau, sehingga hampir semua lapisan masyarakat, baik yang hidup di kota-kota besar, di daerah pinggiran kota maupun di pedesaan dan bahkan di daerah pegunungan mampu untuk memilikinya. Untuk penggunaan standar pre-emphasis di sisi transmitter, para broadcaster di negara kita lebih banyak mengacu pada rekomendasi CCIR, yaitu menggunakan pre-emphasis 50 s, namun biasanya perangkat FM transmitter yang ada di pasaran, selalu dilengkapi dengan minimal 3 pilihan pre-emphasis yaitu berturut-turut 0 (OFF), 50 s dan 75 s. Pre-emphasessignal to noise ratio agar audio yang diproses / ditransmisikan relatif tidak terpengaruh oleh noise bila ditransmisikan pada gelombang FM, yang memiliki frekuensi relatif tinggi. Hal ini perlu dilakukan karena semakin tinggi frekuensi, akan semakin tinggi pula kemungkinan timbulnya noise. Proses deemphasis dilakukan pada sisi pesawat penerima (receiver) untuk mengembalikan audio pada amplitudo aslinya sebelum diteruskan kepada system pengolah / penguat audio (audio amplifier). Pemilihan pre-emphasisde-emphasis yang sesuai perlu dilakukan, untuk mencegah timbulnya cacat pada sisi penerima (receiver). Penggunaan pre-emphasis yang tidak sesuai akan berpengaruh pada frequency response, khususnya akan dapat dirasakan di sisi pesawat penerima. adalah suatu proses pengolahan (penguatan) signal audio yang dilakukan
sebelum sinyal audio dimodulasi, yang bertujuan untuk meningkatkan dan

Komponen Utama FM Transmiter Agar dapat memancar teruskan informasi yang akan disiarkan, perangkat FM transmitter terdiri dari beberapa sub system yang masing-masing memiliki fungsi tersendiri dan dapat dikelompokkan menjadi :
1.

FM exciter, berfungsi untuk merubah dan memodulasi sinyal audio menjadi sinyal RF (Radio Frequency) yang

sudah termodulasi (modulated) dan siap ditransmisikan. Biasanya output dari FM exciter ini berdaya keluaran sekitar 30 100 Watt saja.
2.

Intermediate Power Amplifier (IPA), merupakan pre-amplifier yang dibutuhkan pada pemancar sebagai penguat awal untuk meningkatkan tingkat daya RF agar cukup siap dikuatkan oleh Power Amplifier. Power Amplifier merupakan penguat akhir sebelum sinyal ditransmisikan, yang berfungsi meningkatkan power output dari sinyal, sesuai yang dibutuhkan, untuk dipancarkan melelui FM antenna. Besar kecilnya Power Amplifier disesuaikan dengan kebutuhan daerah yang akan di cakup (coverage area) oleh siaran FM ini. Power Supply, merubah input power dari sumber arus listrik AC menjadi tegangan dan arus DC atau AC yang dibutuhkan oleh tiap sub-system pemancar.

3.

4.

5.

Transmitter Control System, berfungsi untuk mengontrol,

memonitor, melindungi dan memberikan perintah bagi tiap sub system sehingga mereka dapat saling bekerja sama sesuai dengan kebutuhan dan memberikan hasil yang diinginkan.
6.

RF band pass filter membatasi / memfilter frekuensi yang tidak diingikan dari output pemancar sehingga yang diteruskan ke antenna hanya frequency yang diinginkan saja.

7. Dan komponen pendukung lainnya.

FM RADIO TECHNOLOGY (Bagian 2)

Dewasa ini Radio broadcasting sebagai salah satu media penyiaran, menempati posisi cukup penting dalam ikut mencerdaskan kehidupan umat manusia. Radio baik yang bermodulasi AM (Amplitude Modulation) maupun FM (Frequency Modulation) semakin dirasakan sebagai sarana yang efektif untuk menyampaikan beritaberita maupun informasi penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Radio semakin dapat dijadikan saksi untuk berbagai peristiwa dalam interaksi kehidupan umat manusia modern. Salah satu penyebabnya adalah semakin berkembangnya perangkat penerima (radio receiver) yang berkualitas, namun harga semakin terjangkau, sehingga hampir semua lapisan masyarakat, baik yang

hidup di kota-kota besar, di daerah pinggiran kota maupun di pedesaan dan bahkan di daerah pegunungan mampu untuk memilikinya, semakin tinggi populasi penyebaran pesawat penerima radio maka dengan sendirinya akan memperluas daerah cakupan dan akan meningkatkan pangsa pasar bisnis siaran radio (radio broadcasting) ini. Kualitas suara radio FM lebih baik

Kita mengetahui bahwa kualitas suara radio FM lebih baik dibanding radio AM. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh proses modulasi non linear (non linear modulation) yang diterapkan dalam radio FM membuatnya lebih tahan terhadap gangguan noise. Disamping itu, FCC (Federal Communications Commission) telah mengijinkan penggunaan transmisi stereo (stereophonic transmission) untuk pita siaran FM komersial, yang mengalokasikan lebar pita (bandwidth) sebesar 15KHz, lebih lebar dibanding AM yang hanya 5 kHz. Dengan menggunakan transmisi stereophonic ini, signal informasi secara longgar dibagi ke dalam dua audio channel kiri (left / L) plus kanan (Right / R) dengan rentang 50 Hz sampai 15kHz dilengkapi dengan 19kHz stereo pilot tone untuk keperluan identifikasi di sisi penerimaan. Agar pendengar dapat memperoleh kualitas stereo secara optimal, maka dalam sistem transmisi FM stereo dimungkinkan suatu proses

dimana suara L dan R secara utuh dapat dipancar terimakan. Caranya adalah dengan mengikutsertakan pengiriman sinyal (L-R) sedemikian rupa, sehingga di sisi pesawat penerima (receiver) dapat dilakukan proses rekonstruksi audio L dan R melalui proses matrix, dengan hasil yang lebih sempurna. Proses yang dilakukan adalah dengan me-multiplexing sinyal (L-R) ke dalam carrier utama dan menggunakannya untuk memodulasi suatu SUB carrier yang ditempatkan pada frequency 38 kHz. Teknik modulasi seperti ini dikenal dengan istilah Double Side Band Suppressed Carrier (DSBSC). Cara ini memberikan suatu tambahan sinyal lower side band dari 23 kHz sampai 38 kHz (20 Hz di bawah 38kHz) dengan lebar pita 15kHz. Suatu pilot carrier pada frekuensi 19kHz memungkinkan pesawat penerima me recover fasa frekensi dengan tepat pada 38kHz sehingga proses recovery sinyal L dan R secara langsung dari composite stereo (L+R) + pilot carrier 19kHz + (L-R) dapat dilakukan. Disamping itu, beberapa stasiun radio siaran juga mentransmisikan extra carrier 67 kHz berupa sinyal Subsidiary Communications Authorization (SCA) audio yang menempati spectrum frekuensi 60 74 (81) kHz. Bila para pendengar radio hanya memiliki mono receiver, maka walaupun total baseband (50Hz 53kHz) dapat diterima, namun hanya channel spectrum 50 15 kHz (L+R) (mono) saja yang dikuatkan dan dikirim ke speaker. Stereophonic receiver menyediakan demodulator stereo dengan lebar kanal 23 53 kHz (L-

R), dua audio amplifier yang terpisah L dan R dan mengirim singal audio secara terpisah ke masing-masing speaker L dan R (Stereo Audio). by Satryo Dharmanto

Kits Price FM Radio Transmitter: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Modulator FM 88 108 MHz with PLL (Output Max 1 ) Rp. 900.000,00 Stereo Encoder 38Khz (kristal) Rp. 450.000,00 Power Supply (Switching) Rp. 900.000,00 Antena 5/8 Lambda aluminium Rp. 600.000,00 Antena 7/8 Lambda Stainless Steel Rp. 8.500.000,00 Kabel koaksial RG-8 (per meter) 5/8 Lambda Rp. 28.000,00 Kabel koaksial RG-8 (per meter) 7/8 Lambda Rp. 38.000,00

Per Moduls Price of FM Radio Transmitter: 1. Exciter FM 88 108 MHz 7 Watt + box (built-in stereo encoder, PLL, amplifier 7W, power supply, with Digital Display) 2. Amplifier RF (Booster) assembled in box (built-in power supply & fan cooler)

Rp. 5.500.000,00

30 Watt 50 Watt 100 Watt 200 Watt 300 Watt 500 Watt

Rp. 2.000.000,00 Rp. 2.500.000,00 Rp. 4.000.000,00 Rp. 7.000.000,00 Rp.13.500.000,00 Rp.29.000.000,00

Packet of FM Radio Transmitter 1. FM Radio Transmitter 30 Watt include :


Rp. 6.000.000,00

Exciter FM 88 108 MHz 7 Watt Booster RF 30 Watt (solid state) Antenna Omnidireksional 5/8 Lambda Coaxial Cable RG-8 (30 m) Switching PSU Box + Fan Rp. 7.000.000,00

2. FM Radio Transmitter 50 Watt Include:


Exciter FM 88 108 MHz 7 Watt Booster RF 50 Watt (solid state) Antenna Omnidireksional 5/8 Lambda Coaxial Cable RG-8 (30 m) Switching PSU Box + Fan

3. FM Radio Transmitter 100 Watt Rp. 8.500.000,00 Include:

Exciter FM 88-108 MHz 7 Watt Booster FM 100 Watt (solid state) Antenna Omnidireksional 5/8 Lambda Coaxial Cable RG-8 (30 m) Switching PSU Box + Fan

4. FM Radio Transmitter 180 Watt Rp. 13.000.000,00 Include:


Exciter FM 88 108 MHz 7 Watt Booster FM 180 Watt (solid state) Antenna Omnidireksional 5/8 Lambda Coaxial Cable RG-8 (30 m) Switching PSU Box + Fan Rp. 32.000.000,00

5. FM Radio Transmitter 300 Watt


Exciter FM 88 108 MHz 7 Watt Booster FM 300 Watt (solid state) Antena 4 Bay 7/8 Lambda Kabel koaksial 7/8 Lambda RG-8 (30 m) Switching PSU Box + Fan Rp. 42.500.000,00

6. FM Radio Transmitter 500 Watt Include:


Exciter FM 88 108 MHz 7 Watt Booster FM 500 Watt (solid state) Antena 4 Bay 7/8 Lambda Kabel koaksial 7/8 Lambda RG-8 (30 m) Switching PSU Box + Fan

7. FM Radio Transmitter 1000 Watt (tube transistor) Rp. 63.500.000,00 meliputi:


Transmitter FM 1000 Watt (tube transitor) Antena 4 Bay 7/8 Lambda Kabel koaksial 7/8 Lambda RG-8 (30 m) Switching PSU

Box + Fan

8. FM Radio Transmitter 2000 Watt (tube transistor) Rp. 112.800.000,00 meliputi:


Transmitter FM 2000 Watt (tube transitor) Antena 4 Bay 7/8 Lambda Kabel koaksial 7/8 Lambda RG-8 (30 m) Switching PSU Box + Fan

9. FM Radio Transmitter 4000 Watt (tube transistor) Rp. 168.300.000,00 meliputi:


Transmitter FM 4000 Watt (tube transitor) Antena 4 Bay 7/8 Lambda Kabel koaksial 7/8 Lambda RG-8 (30 m) Switching PSU Box + Fan

10. FM Radio Transmitter 5000 Watt (tube transistor) Rp. 236.000.000,00 meliputi:

Transmitter FM 5000 Watt (tube transitor) Antena 4 Bay 7/8 Lambda Kabel koaksial 7/8 Lambda RG-8 (30 m) Switching PSU Box + Fan

Information: