Anda di halaman 1dari 7

Menggagas Padang Seawall untuk Membendung Serangan Tsunami ke Kota Padang

Oleh Emeraldy Chatra

Kekuatiran akan datangnya serangan tsunami hingga kini tetap menyelimuti warga Kota Padang, khususnya yang berada di Zona Bahaya, Zona Satu dan Zona Dua. Setiap waktu masyarakat hidup dalam kecemasan yang tinggi, sehingga orang bersikap sangat reaktif dan panik ketika terjadi gempa. Sebagian warga yang mempunyai uang berusaha menghilangkan kekuatiran dengan menjual murah rumahnya yang terletak di zona tidak aman dan membeli rumah dengan harga sangat mahal di zona aman. Kekuatiran akhirnya menghadapkan masyarakat kepada tekanan ekonomi. Meskipun kekuatiran masyarakat telah terbentuk dan terus berkembang sejak terjadinya tsunami Aceh tahun 2004, hingga tahun 2007 ini masih belum jelas juga usaha dari Pemerintah Kota Padang untuk mengurangi perasaan kuatir tersebut. Gagasan membuat jalur-jalur evakuasi yang sudah digulirkan sejak tahun 2005 hingga kini masih jadi wacana. Belum satupun ruas jalan yang akan dijadikan jalur evakuasi itu yang benar-benar siap menampung luapan pengungsi. Belakangan muncul pula gagasan untuk membangun shelter, yaitu bangunan tinggi tempat masyarakat mengungsi ketika terjadi serangan tsunami. Gagasan ini sepertinya lebih sulit direalisasi karena kapasitas shelter sangat kecil dibandingkan jumlah orang yang mencari perlindungan. Apalagi bila dihadapkan kepada masalah finansial dan ketersediaan lahan untuk bangunan shelter. Padang Seawall Agar korban jiwa tidak terlalu banyak ketika diserang tsunami, kota Padang harus membangun seawall (dinding laut). Bangunan

yang saya namakan Padang Seawall (Dinding Laut Padang) ini adalah sebuah dinding pemisah antara daratan dengan lautan. Ia berkonstruksi beton yang dirancang tahan gempa hingga 10 skala Richter. Tingginya 10 meter atau lebih, lebarnya sekitar 20 meter. Padang Seawall terentang dari Gunung Padang sampai 25 km ke arah utara (sampai batas kota). Dinding kiri dan kanannya dari beton yang tebal dan sangat kuat. Ditengahnya tanah padat, sehingga di bagian atasnya bisa dibuat sebuah jalan. Sekilas ia seperti Great Wall, tembok Cina yang panjangnya 6.400 km dan dibangun 5 abad sebelum Masehi. Mungkin juga mirip seawall yang dibuat untuk melindungi Kobe City, Jepang, dari serangan tsunami1. Meskipun sama-sama berfungsi mengamankan warga kota dari amukan air laut, Padang Seawall agak berbeda dengan seawall yang mengelilingi kota Male, ibu kota Maladewa. Seawall di Male yang dibuat Jepang dan terbukti ampuh memperkecil korban jiwa ketika diserang tsunami tahun 2004 itu sebagian besar terletak di laut. Dibandingkan tembok Cina, Padang Seawall diimpikan lebih kokoh karena dibangun di era kecanggihan teknologi modern. Jalan di atas tembok dinding itu akan menjadi obyek wisata tersendiri bagi masyarakat kota, bahkan dunia. Siapapun yang membangunnya pastilah akan dikenang dalam waktu yang sangat panjang. Apalagi kalau tsunami tidak pernah datang dan Padang Wall bertahan selama berabad-abad. Dengan teknologi yang sudah demikian maju, sebuah rancangan konstruksi yang mampu menahan serangan tsunami berkecepatan 500 km/jam sekalipun pasti dapat dibuat. Di tiap muara sungai dibuat semacam klep yang akan menutup secara otomatis jika datang tekanan sangat kuat dari laut, sehingga air laut tidak naik ke darat melalui muara. Mungkin ia sebuah klep beton dengan ketebalan dan massa tertentu, atau berupa bolabola beton yang bergerak dinamis membuka dan menutup sesuai tekanan arus. Silakan para perancang memikirkannya.

Sebenarnya seawall sudah banyak dibuat untuk menangkal serangan tsunami. Di Galveston, Texas, AS, sudah dimulai puluhan tahun yang lalu. Demikian juga di San Francisco, AS.

Mega Proyek Memang ini mega proyek. Tapi sebaiknya tidak hanya menghitung financial cost saja. Hitung juga social and psychological cost warga saat ini dan social and psychological benefit yang diterima warga jika Padang Seawall benar-benar terwujud. Juga bandingkan biayanya dengan biaya pembuatan jalur evakuasi yang diperkirakan menelan biaya Rp 800 M. Belum lagi biaya pemindahan sejumlah kantor pemerintah yang tidak kurang Rp 10 M per unit bangunan. Katakalanlah biayanya Rp 3 T atau Rp 5 T. Apakah itu terlalu mahal dibandingkan ribuan nyawa yang terus-menerus terancam oleh hantaman tsunami? Apakah itu terlalu mahal pula dibandingkan Padang Bay City yang digagas oleh Pemerintah Kota Padang? Berapapun biayanya, sekaranglah momen yang paling tepat untuk merancang dan membangunnya karena dunia pun tahun Padang sedang terancam luluh lantak dan ratusan ribu nyawa berada dalam bahaya. Dengan dalih menyelamatkan nyawa ribuan manusia bantuan keuangan dari luar negeri akan lebih mudah diperoleh. Padang Seawall vs Jalur Evakuasi Dibandingkan gagasan membuat jalur evakuasi saya kira gagasan membangun Padang Seawall masih lebih mumpuni dan perlu diberi prioritas. Sebab, jalur evakuasi belum tentu efektif ketika tsunami benar-benar siap menyerang. Pengalaman selama ini semua orang panik dan tidak sabar, jalan raya menjadi macet dalam waktu singkat, banyak kecelakaan, sehingga sebagian besar warga tidak mampu mencapai tempat yang lebih tinggi dalam waktu 30 menit. Hemat saya, mempersiapkan jalur-jalur evakuasi dan memindahkan kantor pemerintah ke kawasan By Pass mengandung persoalan sosial yang lebih besar ketimbang membangun Padang Seawall. Jalur evakuasi tidak akan mampu mengurangi tingkat kecemasan secara signifikan, terutama di kalangan masyarakat yang tidak berkendaraan bermotor, atau kendaraan mereka tidak mampu membawa serta seluruh anggota keluarga dalam keadaan darurat.

Kalaupun sebuah keluarga mempunyai kendaraan siapa dapat memastikan kendaraan itu berada di rumah ketika bahaya tsunami telah di depan mata? Dengan demikian dorongan untuk pindah ke arah timur tetap kuat, tidak terbendung oleh adanya jalur evakuasi, sementara kemampuan ekonomi masyarakat mewujudkan keinginan itu tidak sama. Perasaan tidak mampu dan tidak mendapat perlidungan akan semakin mendera warga berekonomi lemah. Meskipun demikian saya tidak bermaksud mengecilkan gagasan yang sudah digelar sebelumnya, seperti membangun jalur evakuasi atau shelter. Alangkah akan lebih nyamannya tidur warga kota Padang kalau semua perangkat pengaman itu, ternasuk Padang Seawall benar-benar jadi kenyataan. Peranan Universitas Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang, dua perguruan tinggi besar di Padang dapat menjadi inisiator dan perancang Padang Seawall. Gagasan ini secara institusional diserahkan kepada Pemerintah Kota dan Provinsi, DPRD Kota Padang dan DPRD Sumatera Barat untuk mendapatkan dukungan. Agar Padang Seawall benar-benar terwujud, Universitas Andalas musti mengawal gagasan ini sampai benarbenar terealisasi. Bila perlu kedua universitas berkolaborasi membentuk sebuah tim teknis yang bertugas melakukan lobi-lobi ke sumber keuangan yang akan mendanai proyek. Keberhasilan mewujudkan Padang Seawall akhirnya akan menumbuhkan citra yang sangat positif bagi Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang. Kedua perguruan tinggi ini akan dipandang sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai kepekaan tinggi terhadap nasib ratusan ribu warga kota, termasuk mahasiswanya, serta mempunyai kepakaran dalam merancang seawall yang belum pernah dibuat di Indonesia.

Catatan:
Gagasan ini telah dilontarkan tahun 2005 melalu harian Padang Ekspres. Kini di Padang sudah terbentuk Forum Dinding Laut yang bergerak untuk merealisasikannya. Emeraldy Chatra adalah mahasiswa Program Doktor di Universitas Padjadjaran, Bandung

Lampiran: Contoh-contoh seawall yang pernah dibuat di dunia Male Seawall


(dibangun 1987 dengan biaya $US 6 Juta)

The Great Sea Wall, Galveston, Texas

Kobe Seawall

San Francisco Seawall