Anda di halaman 1dari 7

Filsafat Sains: Sintesis Modern, Tesis Paritas, dan Interaksionisme

Minggu, 25 September 2011 - Orang bilang kecerdasan itu 50% gen, 50% lingkungan. Ada juga ahli yang bilang kalau kecerdasan itu 100% lingkungan, ada yang bilang 100% gen, dan bahkan ada yang bilang 100% gen-lingkungan. Pendapat-pendapat ini tidak dapat ditentukan kebenarannya oleh sains. Ia masuk ke ranah filsafat tentang perdebatan masalah naturenurture. Ada tiga mazhab filsafat biologi yang memperdebatkan masalah ini: Sintesis Modern, Tesis Paritas, dan Interaksionisme.

Sintesis Modern memandang gen adalah segalanya, ia disebut juga genosentrisme. Tanpa gen, seberapapun kuat lingkungan, ia tidak berpengaruh. Seberapapun diajarkan, kalau gennya tidak mendukung, ia tetap bodoh. Itu kata Sintesis Modern, pihak yang mengatakan kalau kecerdasan itu 100% gen. Pendukung Sintesis Modern seperti Maynard Smith mengizinkan proses perkembangan dan morfogenetik dapat dipengaruhi, bahkan dengan kuat, oleh kendala non genetik. NeoDarwinisme tidak melarang hal ini, karena premis dasar Sintesis Modern adalah hanya perubahan-perubahan yang diwariskan oleh DNA dapat diturunkan pada keturunan tidak ditentang. Tesis Paritas mengatakan kalau gen dan lingkungan tidak dapat dipisahkan. Dialah pihak yang mengatakan kalau kecerdasan itu 100% gen-lingkungan. Teori Sistem Perkembangan mendahului Tesis Paritas dalam usahanya menawarkan alternatif menyeluruh atas Sintesis Modern dengan menghadapi berbagai tantangannya dan menawarkan kerangka konseptual yang baru. Formulasi dominan mengenai Tesis Paritas menyatakan kalau kita tidak dapat secara prinsip membedakan antara ciri berbasis nature (yaitu berbasis gen) dan berbasis nurture (yaitu berbasis lingkungan) dalam perkembangan mahluk hidup karena informasi yang dibutuhkan untuk karakteristik yang dihasilkan terkandung baik dalam lingkungan maupun gen. Karenanya, gen (yaitu molekul DNA) hanyalah bagian dari proses perkembangan, dan dikotomi nature/nurture runtuh karena nature mewakili fenotipe perkembangan, bukannya determinan sebab akibat. Fenotipe hanyalah bagian dari konstruksi perkembangan. Karenanya, informasi genetika tidak pernah dikirim dari satu molekul master dalam nutfah terisolasi namun selalu di konstruksi ulang dalam perkembangan, dan tugas ahli biologi adalah memecahkan sandi ontogeni informasi demikian. Dengan kata lain, evolusi adalah sebuah perubahan dalam distribusi dan konstitusi sistem perkembangan (organismelingkungan), bukan semata perubahan dalam frekuensi gen sebagaimana dinyatakan oleh genosentrisme yang berbasis Sintesis Modern. S. Oyama, pendukung paling gigih Tesis Paritas, menekankan kalau fenotipe selalu dikonstruksi secara perkembangan. Ini tidak memungkinkan partisi antara lingkungan dan gen karena keduanya perlu namun merupakan bagian independen dari perkembangan (begitu juga morfogenesis) yang dapat dianalisis secara demikian (dimana pengaruh gen memang dapat ditemukan dalam sebagian kasus). Dengan kata lain, tesis paritas tidak menuju pada

interaksionisme konvensional yang menerima kategori tradisional nature dan nurture, biologi dan budaya bahkan bila keduanya penting dan berinteraksi. Karenanya, konsekuensi dari karakterisasinya pada perbedaan antara karakteristik yang diwarisi dan diperoleh dari lingkungan ditekankan untuk membuat point yang jauh lebih kuat dari bahkan versi paling liberal dari interaksionisme, yang, berbeda dengan interaksionisme konvensional, memperlakukan nature dan nurture sebanding. Beliau menulis tidak ada perbedaan nyata antara karakteristik yang diwarisi (biologis, berbasis genetik) dan yang didapatkan (dimediasi lingkungan) Begitu perbedaan antara yang diwariskan dan yang didapatkan terhapus, bukan semata dalam hal ekstrim (ujung), namun juga dalam hal kontinuum, evolusi tidak dapat dikatakan tergantung pada perbedaan. Interaksionisme seperti telah dibahas di atas, mengatakan kalau gen dan lingkungan saling berinteraksi, keduanya dapat dipisahkan, mungkin 50% gen 50% lingkungan. Ada juga yang mendukung minoritas yaitu 100% lingkungan, tetapi mazhab ini telah berhasil dijamah sains dan tidak mampu berdiri kokoh, walaupun memang ada organisme yang 100% gennya tidak berperan untuk perkembangannya. Organisme itu adalah siliata. Bukti drastis untuk ketidakmampuan gensentrisme atau nutfahsentrisme adalah pewarisan struktural protozoa siliata, dimana molekul DNA dan RNA tidak berperan signifikan sama sekali. Dalam hal ini, pengendalian bidang seluler morfogenetik mengendalikan pewarisan maupun morfogenesis. Begitu juga, beberapa struktur non genetik sungguh diwariskan oleh mekanisme epigenetika. Karena sel dapat berbeda dalam fenotipenya sementara genotipenya dapat identik, mekanisme replikasi DNA belum cukup untuk menjelaskan perkembangan maupun pewarisan organisme. Sumber Perovic, S., Radenovic, L. Is Nativism in Psychology Reconcible with the Parity Thesis in Biology? Referensi lanjut Frenkel, J. 1989. Pattern Formation: Ciliate Studies and Models. Oxford: Oxford University Press. Maynard Smith, J. 1998. Shaping Life: Genes, Embryos, and Evolution. London: Weidenfeld and Nicholson. Oyama, S. 2000. The Ontogeny of Information: Developmental Systems and Evolution. Duke University Press. Oyama, S. 2000. Causal Democracy and Causal Contributions in Developmental Systems Theory. Philosophy of Science, 67, Supplement, Proceedings of the 1998 Biennial Meeting of the Philosophy of Science Association, Part II: Symposia Papers, 332-347. Oyama, S. 2001. What Do You Do When All the Good Words Are Taken? Cycles of Contingency: Developmental Systems and Evolution, ed. S. Oyama, P.E. Griffiths, and R.D. Gray, Massachusetts Institute of Technology, 177-195

Sterelny, K., Griffiths, P.E. 1999. Sex and Death: An Introduction to the Philosophy of Biology. Chicago: University of Chicago Press.

Ritme Otak adalah Kunci untuk Pembelajaran


Selasa, 27 September 2011 - Selagi tikus masih mempelajari labirin, para peneliti melihat semburan aktivitas ventral striatum dalam rentang frekuensi gamma, lama sebelum tikus berhasil keluar dari labirin.

Para ahli saraf telah lama mengetahui keberadaan gelombang otak fluktuasi irama aktivitas listrik yang diyakini merefleksikan keadaan otak. Sebagai contoh, selama istirahat, aktivitas otak melambat ke irama alfa sekitar delapan hingga 10 hertz, atau siklus per detik. Belum diketahui pasti apakah gelombang-gelombang ini memainkan peran dalam fungsi kognitif seperti pembelajaran dan memori. Tapi sekarang, sebuah penelitian dari para ahli saraf MIT menunjukkan bahwa peralihan antara dua ritme sangat penting untuk perilaku kebiasaan belajar. Dalam makalah yang muncul minggu ini dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), para peneliti melaporkan bahwa saat tikus belajar melewati labirin, aktivitas di area otak yang mengontrol pembentukan kebiasaan bergeser dari ritme cepat yang kacau ke ritme yang lebih lambat, pada kecepatan yang lebih sinkron. Peralihan tersebut, yang terjadi saat tikus mulai menguasai labirin, memberi sinyal bahwa kebiasaan telah terbentuk, kata Profesor Institut MIT, Ann Graybiel, penulis senior makalah PNAS. Ini adalah petunjuk utama pada bagaimana otak mereorganisasi sendiri selama pembelajaran, kata Graybiel, yang juga peneliti utama di Institut McGovern untuk Riset Otak di MIT. Irama di otak Beberapa gelombang otak pada frekuensi yang berbeda telah diobservasi pada manusia dan hewan lainnya. Makalah ini difokuskan pada gelombang beta, yang berkisar antara 15-28 hertz, dan gelombang tinggi gamma, berkisar 70-90 hertz. Irama beta terkait dengan kurangnya gerakan, sedangkan gamma terkait dengan keadaan-keadaan yang sangat atentif. Graybiel beserta mahasiswa pascasarjana Mark Howe, penulis utama makalah, memulai dengan melihat apakah mereka bisa menghubungkan kedua ritme ini dengan perubahan pada keadaan otak yang menyertai pembelajaran. Laboratorium Graybiel sebelumnya telah menunjukkan bahwa pola-pola aktivitas listrik di bagian otak yang dikenal sebagai basal ganglia sangat penting dalam pembentukan kebiasaan. Kebiasaan dimulai ketika Anda memperoleh beberapa manfaat untuk mengambil tindakan tertentu, tapi akhirnya perilakunya menjadi mendarah daging dan Anda melakukannya bahkan ketika Anda tidak lagi memperoleh imbalan. Dalam kasus ekstrim, ini seperti terus menggaruk bagian tubuh tertentu bahkan setelah tidak lagi terasa gatal, misalnya.

Dalam studi ini, Howe melihat ritme otak di suatu wilayah pada bagian paling bawah ganglia basal, yang dikenal sebagai ventral striatum. Area ini diperlukan untuk merespon rasa sakit atau kesenangan, dan juga sangat terlibat dalam hal kecanduan. Aktivitas otak diukur saat tikus memasuki labirin berbentuk T, di mana mereka harus belajar untuk berbelok ke kiri atau kanan dalam menanggapi suatu suara. Jika mereka berbelok ke arah yang benar dan mencapai akhir labirin, maka mereka menerima imbalan: susu cokelat. Pada perjalanan pertama, selagi tikus masih mempelajari labirin, para peneliti melihat semburan aktivitas ventral striatum dalam rentang frekuensi gamma, lama sebelum tikus berhasil keluar dari labirin. Aktivitas ini tersebar di seluruh ventral striatum: Sel-selnya disinkronkan dengan ritme pada waktu yang berbeda, dengan cara yang cukup terkoordinasi. Ketika tikus mulai mengerti bagaimana memperoleh imbalan, aktivitas gamma memudar dan berganti dengan semburan pendek aktivitas beta, frekuensi yang lebih rendah, hanya setelah mereka keluar dari labirin. Aktivitas ini juga menjadi jauh lebih terkoordinasi di seluruh ventral striatum. Memperkuat kebiasaan Untuk memperoleh tampilan yang lebih dalam pada apa yang terjadi selama pergeseran frekuensi ini, para peneliti juga mengukur aktivitas neuron tunggal dalam ventral striatum, dan menemukan bahwa aktivitas pada dua kelompok neuron terkoordinasi dengan osilasi. Neuron output, yang mengontrol komunikasi ventral striatum dengan bagian otak lainnya, bergelombang tajam selama puncak dari osilasi gamma maupun beta. Sedangkan jenis lainnya, yang menghambat neuron output, bergelombang pada lembah osilasi. Kapanpun Anda mengalami ritme yang kuat, kedua populasi neuron ini berosilasi pada arah yang berlawanan, kata Howe. Temuan ini menunjukkan bahwa, selagi tikus mempelajari perilaku baru, aktivitas frekuensi tinggi pada neuron output dalam ventral striatum mengirimkan pesan ke seluruh otak untuk mempelajari perilaku baru, diperkuat oleh imbalan cokelat. Kemudian, setelah perilaku dipelajari dan kebiasaan terbentuk, pesan-pesan tersebut tidak lagi diperlukan, dan dimatikan oleh neuron penghambatan selama osilasi beta. Seperti halnya tikus yang sedang belajar, sinyal penguatan tersebut menghilang, karena Anda benar-benar tidak membutuhkannya, kata Graybiel. Hal ini bermanfaat bagi otak karena begitu kebiasaan terbentuk, apa yang ingin Anda lakukan adalah sedikit membebaskan otak sehingga Anda bisa melakukan sesuatu yang lain membentuk kebiasaan baru atau memikirkan suatu gagasan besar, katanya. Para peneliti, termasuk Howe, Graybiel, dan anggota-anggota laboratorium lainnya, Hisyam Attalah, Dan Gibson serta Andrew McCool, kini tengah berencana menyelidiki apakah pembentukan kebiasaan akan terganggu jika mereka mengubah ritme otak pada ventral striatum. Mereka juga ingin lebih spesifik mengidentifikasi neuron-neuron yang terlibat. Mengidentifikasi dan mengendalikan neuron-neuron tersebut mungkin menawarkan cara baru untuk membantu memerangi kecanduan suatu bentuk perilaku kebiasaan yang ekstrim.

Kredit: Massachusetts Institute of Technology Jurnal: Mark W. Howe, Hisham E. Atallah, Andrew McCool, Daniel J. Gibson, Ann M. Graybiel. Habit learning is associated with major shifts in frequencies of oscillatory activity and synchronized spike firing in striatum. Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), 26 September 2011; DOI: 10.1073/pnas.1113158108