Anda di halaman 1dari 23

BAB I Pendahuluan

1. Latar Belakang Menurut Liesegang (2003), glaukoma adalah sekumpulan gejala dengan tanda karakteristik berupa adanya neuropati optik glaukomatosa bersamaan dengan defek atau gangguan penyempitan lapang pandang (visual field) yang khas, disertai dengan kenaikan tekanan bola mata. Glaukoma adalah penyebab nomor dua kebutaan yang terjadi di dunia. Sekitar 1,25 juta penduduk Amerika didiagnosis menderita glaukoma namun sekitar 1 juta lainnya juga menderita penyakit tersebut namun mereka tidak menyadarinya. 1,2,3 Glaukoma terdiri dari dua tipe utama yaitu glaukoma sudut terbuka dan sudut tertutup. Berdasarkan etiologinya, glaukoma dibagi menjadi glaukoma primer dan glaukoma sekunder. Glaukoma primer merupakan glaukoma yang tidak berhubungan dengan penyakit atau keadaan okular yang menyebabkan peningkatan tahanan aliran cairan akuos atau penutupan sudut. Jika ada

penyakit atau keadaan yang mendasari yang dapat menyebabkan peningkatan TIO maka glaukoma diklasifikasikan glaukoma sekunder. 1,4-5 Salah satu penyebab glaukoma sekunder adalah katarak matur atau hipermatur. Kondisi ini dikenal dengan istilah glaukoma fakolitik. Glaukoma fakolitik merupakan suatu bentuk glaukoma sudut terbuka sekunder yang berkaitan dengan katarak matur atau hipermatur dimana terjadi kebocoran dari material lensa ke dalam bilik mata depan sehingga protein-protein lensa yang

mencair masuk ke bilik mata depan. Jalinan trabekular menjadi edematosa dan tersumbat oleh protein-protein lensa dan menimbulkan peningkatan mendadak tekanan intraokular.1,3,4-7 Glaukoma fakolitik pertama kali dikenali oleh Flocks et al pada tahun 1955. Frekuensi terjadinya glaukoma fakolitik jarang ditemukan di negaranegara maju, hal ini karena banyaknya pusat pelayanan kesehatan mata dan adanya kesadaran dari penderita terhadap penyakit ini. Glaukoma fakolitik lebih sering terjadi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dimana penanganan katarak sering terlambat sampai pada stadium hipermatur yang belum ditangani.1-3,5-9 Pada sebuah studi di India dilaporkan 115 kasus glaukoma fakolitik dari 27.073 penderita dengan katarak.7-9 Penatalaksanaan Glaukoma fakolitik sama dengan penatalaksanaan glaukoma sekunder lainnya dengan menangani kasus penyebabnya. Pada keadaan fakolitik maka harus segera dilakukan ekstraksi katarak. Bedah kombinasi trabekulektomi dan ekstraksi katarak dengan disertai atau tanpa dilakukan penanaman IOL juga menjadi prosedur alternatif untuk glaukoma sekunder.7

2. Tujuan Laporan kasus ini bertujuan untuk melaporkan suatu kasus glaukoma fakolitik yang di tatalaksana dengan bedah kombinasi (triple procedure).

BAB II Laporan Kasus

1. Identifikasi Seorang wanita, umur 70 tahun, tidak bekerja, alamat luar kota, berobat ke poli mata RSMH Palembang pada tanggal 19 Juli 2010

2. Anamnesis : (autoanamnesis tanggal 19 Juli 2010) 2.1. Keluhan Utama : Nyeri pada mata kiri

2.2. Riwayat Perjalanan Penyakit : Sejak satu tahun yang lalu, penderita mengeluh pandangan kedua mata kabur dan terasa berasap. Mata kiri lebih parah dibandingkan mata kanan. Mata merah tidak ada, penglihatan seperti melihat terowongan dan melihat benda terbang tidak ada. Penderita tidak berobat. Enam bulan yang lalu, penglihatan mata kiri terasa makin kabur, pandangan berasap dirasakan semakin tebal. Penderita dibawa berobat ke dokter umum dan dikatakan menderita katarak. Pandangan mata kiri penderita makin kabur sejak 3 bulan yang lalu, penderita hanya mampu melihat dari jarak 1 meter. Penglihatan mata kanan masih dirasakan cukup baik. Penderita akhirnya berobat ke dokter spesialis mata dan disarankan untuk dilakukan operasi katarak pada mata kiri. Namun penderita tetap menolak.

Dua minggu yang lalu, penderita mengeluh adanya nyeri berpusat pada mata kiri dan terasa menjalar ke daerah sekitar mata hingga ke kepala bagian kiri. Penglihatan mata kiri juga dirasakan makin kabur, penderita hanya mampu melihat cahaya. Satu minggu yang lalu, penderita kembali berobat ke dokter, diberi obat tetes tutup warna hijau (c-timol 0.5% ED) dan dirujuk ke RSMH.

2.3. Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga disangkal Riwayat mata merah berulang disangkal Riwayat penyakit kencing manis dan darah tinggi disangkal Riwayat kaca mata disangkal Riwayat trauma disangkal

3. Pemeriksaan Fisik 3.1. Status generalis : Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Pernafasan Temperatur : Baik : Kompos mentis : 110/80 mmHg : 84x/menit : 20x/menit : 37 C

3.3. Status Oftalmologikus Mata Kanan Mata Kiri

Visus Tekanan Intra Okular Kedudukan bola mata Gerakan bola mata Palpebra Konjungtiva Kornea Bilik Mata Depan Iris Pupil Lensa Segmen Posterior RFODS FODS

6/60 ph (-) 18.6 mmHg

1/~ PSB 49.8 ~50.6 mmHg dengan Timolol 0.5 % ED Ortoforia

Baik ke segala arah Tenang Tenang Jernih Sedang, jernih Gambaran baik B,C,RC(+), 3 mm Keruh, ST (+), Nuklearis (+) warna merah normal, c/d 0.3, a/v 2:3, neural rim baik Makula : RF(+)N Retina : Kontur pembuluh darah baik, tigroid appearance (+)

Baik ke segala arah Tenang Hiperemis Jernih, KP (-) Sedang, flare (+) Iridoplegia, sinekia (-) Middilatasi, RC(-), 5 mm Keruh, ST (-) (-)

Papil : Bulat, batas tegas, Tidak tembus

Pemeriksaan gonioskopi ODS : Mata kanan Schwalbes line Trabecular meshwork Scleral spur Iris perifer Pigmentasi PAS Neovaskularisasi Mata kiri inferior Schwalbes line Trabecular meshwork Scleral spur Iris perifer Pigmentasi PAS Neovaskularisasi V V V superior v v v v nasal v v v v temporal v v v inferior V V V V superior v v v v nasal v v v v temporal v v v v -

Kesan : Sudut terbuka ODS Hasil USG : Mata kiri Kesan : Vitreous : Echo free Retina : Intak Koroid : Tidak menebal

Hasil Perimetri OD

OD: dalam batas normal

OS: tidak bisa dinilai

4. Diagnosis Kerja Glaukoma Fakolitik OS + katarak matur OS + katarak nuklearis OD

5. Penatalaksanaan

Informed consent MRS Asetazolamid 3 x 250 mg Preparat kalium 1 x 1 tablet Timolol 0,5% ED 2 x 1 tts OS Brinzolamide ED 3 x 1 tts OS Betametason, neomisin , polimiksin ED 4 x 1 tts OS Pro Trabekulektomi dan Ekstraksi Katarak Ektra kapsularis ( EKEK) OS Pro periksa laboratorium dan konsul bagian Ilmu Penyakit Dalam (PDL)

6. Prognosis Quo ad vitam Quo ad functionam : bonam : dubia ad malam

Follow up, 20 Juli 2010 S : Mata kiri masih terasa nyeri Mata Kanan Mata Kiri

Visus Tekanan Intra Okular Kedudukan bola mata Gerakan bola mata Palpebra Konjungtiva Kornea Bilik Mata Depan Iris Pupil Lensa Segmen Posterior RFODS FODS

6/60 ph (-) 18.5 mmHg

1/~ PSB 42.1 ~ 43.4 mmHg dengan 3 macam obat Ortoforia

Baik ke segala arah Tenang Tenang Jernih Sedang, jernih Gambaran baik B,C,RC (+), 3 mm Keruh, ST (+), Nuklearis

Baik ke segala arah Tenang Hiperemia Jernih, KP (-) Sedang, flare (+) Iridoplegia, sinekia (-) Middilatasi, RC (-), 5 mm Keruh, ST (-)

(+) warna merah normal, c/d 0.3, a/v 2:3, neural rim baik Makula : RF(+)N Retina : Kontur pembuluh darah baik, tigroid appearance (+)

(-)

Papil : Bulat, batas tegas, Tidak tembus

Diagnosis Penatalaksanaan

Glaukoma fakolitik OS + katarak matur OS + Katarak nuklearis OD Pro trabekulektomi dan EKEK OS

Asetazolamid 3 x 250 mg Brinzolamide ED 3 x 1 tts OS Preparat kalium 1 x 1 tablet Timolol 0,5% ED 2 x 1 tts OS Betametason, neomisin , polimiksin ED 4 x 1 tts OS Gliserin 3 x 100 ml PO Follow up ketat TIO

Follow up, 21 Juli 2010 S : Nyeri pada mata kiri dirasakan berkurang Mata Kanan Mata Kiri

Visus Tekanan Intra Okular Kedudukan bola mata Gerakan bola mata Palpebra Konjungtiva

6/60 ph (-) 18.5 mmHg

1/~ PSB 18.5 mmHg dengan 4 macam obat Ortoforia

Baik ke segala arah Tenang Tenang

Baik ke segala arah Tenang Hiperemia

Kornea Bilik Mata Depan Iris Pupil Lensa Segmen Posterior RFODS FODS

Jernih Sedang, jernih Gambaran baik B,C,RC (+), 3 mm Keruh, ST (+), Nuklearis

Jernih, KP (-) Sedang, flare (+) Iridoplegia, sinekia (-) Middilatasi, RC (-), 5 mm Keruh, ST (-)

(+) warna merah normal, c/d 0.3, a/v 2:3, neural rim baik Makula : RF(+)N Retina : Kontur pembuluh darah baik

(-)

Papil : Bulat, batas tegas, Tidak tembus

Diagnosis Penatalaksanaan

Glaukoma fakolitik OS + katarak matur OS + Katarak nuklearis OD Pro trabekulektomi dan EKEK OS Asetazolamid 3 x 250 mg Brinzolamide ED 3 x 1 tts OS Preparat kalium 1 x 1 tablet Timolol 0,5% ED 2 x 1 tts OS Betametason, neomisin , polimiksin ED 4 x 1 tts OS Gliserin 3 x 100 ml PO stop

10

Laporan Operasi tanggal 21 Juli 2010 penderita dalam posisi terlentang dalam keadaan anestesi retrobulbar dengan lidokain HCl 2% dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya daerah operasi dipersempit dengan doek bolong steril dipasang blefarostat dan dipasang teugel rektus superior dilakukan pembuatan flap konjungtiva dengan forniks based arah jam 11-9 dilanjutkan dengan dilakukan pembuatan flap sklera berbentuk segiempat ukuran 4x4 mm dilakukan peritomi dari jam 3 ke jam 11 dilakukan grooving di daerah peritomi dilakukan penembusan di jam 12 dilakukan pemberian viscoelastis dilakukan capsulotomi anterior secara can opener dilakukan pengguntingan di daerah grooving dilakukan ekspresi lensa, tampak zonula zinii masih cukup baik sehingga diputuskan untuk dilakukan triple procedure, dengan dilanjutkan penanaman IOL (lensa tanam) dilakukan penjahitan kornea di jam 12, 2 dan jam 9 dilakukan irigasi dan aspirasi sisa korteks jahitan jam 12 dilepas, dilakukan penanaman IOL 21.0 D in the bag dilakukan penjahitan kornea jam 12,11 dan jam 1

11

dilakukan penembusan daerah blue line dengan menggunakan punch dilakukan iridektomi di arah jam 11 flap sklera dijahit dengan nylon 10.0 sebanyak 2 jahitan flap konjungtiva dijahit dengan nylon 10.0 sampai tidak ada sklera yang eksposure dilakukan injeksi deksametason-gentamisin 0,5 cc subkonjungtiva diberi salep kloramfenikol dan ditutup dengan kassa steril

Follow up, 23 Juli 2010 Keluhan : Nyeri pada mata kiri (-) Mata Kanan Mata Kiri

Visus Tekanan Intra Okular Kedudukan bola mata Gerakan bola mata Palpebra Konjungtiva

6/60 ph (-) 18.6 mmHg

1/300 proyeksi baik 10.9 mmHg Ortoforia Baik ke segala arah Tenang perdarahan subkonjungtiva (+), jahitan baik, sekret (-), bleb belum terbentuk

Baik ke segala arah Tenang Tenang

Kornea Bilik Mata Depan Iris Pupil

Jernih Sedang, jernih Gambaran baik B,C,RC (+), 3 mm

Edema sentral, DF (+), jahitan baik Sedang, jernih Iridektomi jam 11 B,C,RC (-), 4 mm

12

Lensa Segmen Posterior RFODS FODS

Keruh, ST (+), Nuklearis

IOL sentral

(+) warna merah normal, c/d 0.3, a/v 2:3, neural rim baik Makula : RF(+)N Retina : Kontur pembuluh darah baik

(+)

Papil : Bulat, batas tegas, Detail sulit dinilai

Diagnosis Penatalaksanaan

Paska bedah Triple procedure OS hari II + katarak nuklearis OD Siprofloksasin 2 x 500 mg Asam mefenamat 3 x 500 mg Polimiksin-neomisin-deksametason ED 4 x 1 tts OS Rawat jalan

13

BAB III Diskusi

Glaukoma fakolitik adalah suatu glaukoma sekunder sudut terbuka, juga suatu inflammatory glaucoma, yang terjadi pada katarak stadium matur atau hipermatur. Glaukoma ini sering disebut juga sebagai suatu komplikasi dari katarak stadium matur atau hipermatur. Hal ini disebabkan oleh karena obstruksi trabekular oleh suatu high molecular weight soluble protein yang bocor melalui kapsul lensa yang intak dan masuk ke dalam akuos humor.1,2,3 Sesuai patofisiologi, glaukoma fakolitik terjadi oleh karena pada lensa dewasa komposisi protein akan berubah dimana konsentrasi molekul protein lensa akan meningkat. Pada katarak stadium lanjut, protein lensa dapat dilepaskan melalui pori-pori yang sangat halus melalui kapsul lensa. Presipitat protein menimbulkan reaksi inflamasi, dimana makrofag akan memfagositosis sebagian dari protein, sehingga terbentuk inflammatory debris yang dapat menyumbat trabecular meshwork.1,2,3,5,6 Gambaran klinis biasanya ditemukan pada penderita katarak yang terlambat ditangani, dimana sebelumnya terdapat keluhan tajam penglihatan yang memburuk perlahan. Pasien biasa datang berobat dengan keluhan nyeri dan mata merah sebagai keluhan utama. Pada pemeriksaan terdapat peningkatan tekanan intra okular (30 50 mmHg atau lebih), hiperemi konjungtiva, edema kornea, terdapat sel dan flare pada BMD, sudut bilik mata

14

yang dalam, dan tidak terdapat keratic precipitates (KPs). Tidak adanya KPs merupakan tanda yang membedakan antara glaukoma fakolitik dan reaksi fakoanafilaktik. Pada bilik mata terdapat debris seluler (kumpulan partikel protein lensa dalam akuos humor) dan pada kasus lanjut kumpulan partikel protein ini dapat membentuk suatu pseudohipopion walaupun jarang.3,7,9,10 Pada gonioskopi menunjukan suatu sudut terbuka. Pemeriksaan slitlamp menunjukkan suatu katarak matur-hipermatur. Pada katarak stadium lanjut terjadi pengerutan kapsul lensa anterior oleh karena volume yang berkurang akibat keluarnya material lensa.1-3,5-9 Penanganan awal yang dilakukan adalah dengan memberikan obat obat antiglaukoma yang ditujukan untuk menurunkan tekanan intra okular, kortikosteroid topikal untuk mengatasi inflamasi yang terjadi, kemudian dilakukan tindakan operatif ekstraksi lensa ekstra kapsuler yang bila perlu dapat dilakukan implantasi lensa intra okular.10,11 Pada kondisi adanya katarak dan glaukoma dibutuhkan suatu

penanganan pendekatan terapi bedah. Prosedur bedah tersebut dapat berupa bedah ekstraksi katarak dengan atau tanpa bedah filtrasi. Pilihan bedah ekstraksi katarak atau biasa dikenal dengan single surgery tanpa dilakukan bedah filtrasi adalah pada kondisi glaukoma fakolitik dengan durasi singkat (7 hari) dan TIO terkontrol dengan 1 macam obat anti glaukoma. Pada suatu penelitian yang dilakukan oleh Braganza et al di India, penderita dengan periode glaukoma fakolitik yang lama (durasi lebih dari 7 hari), menunjukkan tetap adanya peningkatan TIO paska bedah ekstraksi

15

katarak, dimana pada beberapa kasus peningkatan TIO ini berlangsung lama sehingga pada akhirnya dibutuhkan suatu tindakan bedah filtrasi. Braganza et al juga menjelaskan bahwa pada kasus-kasus ini, adanya sumbatan pada trabekular meshwork dalam waktu mingguan hingga beberapa bulan dapat

menyebabkan terjadinya kerusakan pada trabekular meshwork yang bersifat irrreversibel. Adanya hipotesis ini menjelaskan bahwa tindakan melakukan ekstraksi katarak saja tidak cukup untuk memperbaiki TIO pada penderita dengan prolonged glaukoma fakolitik.7 Bila penatalaksanaan medika mentosa menimbulkan banyak komplikasi atau bahkan tidak respon sama sekali maka dipertimbangkan untuk terapi bedah filtrasi dengan EKEK. Pada sebuah studi eksperimental yang dilakukan oleh Epstein et al menunjukkan bahwa pada mata yang telah dilakukan enukleasi, sumbatan pada trabekular meshwork oleh material protein lensa tidak dapat dilewati oleh aliran humor akuos. 1,5,7,13-14 Tindakan bedah kombinasi dilakukan pada kasus-kasus katarak dengan: Glaukoma yang terkontrol dengan batas ambang TIO normal meskipun dengan toleransi maksimal obat Glaukoma dengan TIO terkontrol adekuat namun memiliki efek samping obat yang bermakna Glaukoma tak terkontrol obat 7,10-14 Mohinder Singh et al dalam sebuah jurnal di tahun 2002 pernah melakukan studi mengenai outcome dari implantasi IOL pada penderita dengan glaukoma fakolitik. Penelitian serupa juga pernah dilakukan oleh Gurdeep

16

Singh et al, mereka melakukan long-term follow up pada pasien-pasien dengan glaukoma fakolitik yang dilakukan tindakan bedah kombinasi dengan implantasi IOL. Indikatornya adalah tajam penglihatan dan reaksi inflamasi paska glaukoma fakolitik. Mandal AK et al, Center for Glaucoma Care, Hyderabad, India, melakukan sebuah studi dengan membandingkan hasil dari terapi bedah kombinasi dengan penanaman IOL dan tanpa penanaman IOL. Dari beberapa penelitian menjelaskan bahwa implantasi IOL aman dan efektif dalam memperbaiki tajam penglihatan walaupun di akhir penelitiannya, Mandar AK et al menjelaskan bahwa pilihan penanaman IOL tetap tergantunng dari pilihan operator. Beberapa operator memilih untuk menunda penanaman IOL dengan alasan menunggu reaksi inflamasi mereda. 7,10-14 Dari anamnesis dikeluhkan suatu nyeri yang dirasakan pada daerah sisi mata yang telah memburuk fungsi ketajaman penglihatan sejak sebelumnya. Penderita mempunyai riwayat pemeriksaan mata yang sakit tersebut

sebelumnya oleh dokter spesialis mata dan dinyatakan katarak serta dianjurkan untuk operasi, tapi pasien tidak mau sehingga timbul keluhan yang sudah lebih buruk pada mata tersebut sehingga penderita diberikan obat tetes tutup warna hijau. Hal ini sesuai dengan literatur dimana dikatakan pasien dengan glaukoma fakolitik biasanya didahului oleh adanya katarak matur ataupun hipermatur. Dari pemeriksaan fisik status oftalmologis pada mata kiri penderita, menunjukkan tanda- tanda dari glaukoma sekunder yang diinduksi oleh lensa (glaukoma fakolitik) seperti visus yang sangat jelek atau semakin memburuk (poor or worsening vision) yaitu 1/~ PSB, TIO yang meningkat yaitu 49.8 ~50.6

17

mmHg tanpa obat , konjungtiva hiperemi, pada iris ditemukan iridoplegia, pupil middilatasi dengan RC (-), lensa keruh menyeluruh serta pada gonioskopi ditemukan sudut bilik mata yang terbuka. Pemeriksaan fundus okuli segmen posterior tidak bisa dievaluasi, oleh karena kekeruhan media refraksi. Pada mata kanan didapatkan pemeriksaan tajam penglihatan 6/60 ph (-), segmen anterior dalam batas normal kecuali lensa didapatkan keruh dengan tipe katarak nuklearis. Pemeriksaa fundus okuli segmen posterior didapatkan papil, makula dan retina dalam batas normal. Pada mata kanan juga dilakukan pemeriksaan gonioskopi dimana didapatkan sudut bilik mata yang terbuka. Pemeriksaan penunjang lainnya juga dilakukan kampimetri pada mata kanan juga tidak didapatkan adanya defek lapang pandang. Pemeriksaan gonioskopi dan kampimetri pada mata kanan ini dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinkan adanya primary angle closure glaucoma. Pada penderita ini tidak dilakukan diagnosis banding pada lens-induced glaucoma, seperti lens particle glaucoma dan glaukoma anafilaktik dikarenakan dari anamnesis, tidak terdapat riwayat operasi dan trauma sebelumnya. pemeriksaan fisik didapatkan katarak matur dengan kapsul anterior lensa masih intak, sedangkan pada lens particle glaucoma dan glaukoma anafilaktik didapatkan kapsul anterior telah robek. Hal ini terjadi karena adanya massa partikel lensa yang keluar melalui robekan tersebut akibat riwayat operasi bedah katarak sebelumnya ataupun riwayat trauma tembus pada mata.1 Penanganan awal terutama ditujukan untuk mengontrol TIO dengan medikamentosa, tetapi terapi definitif dalam kasus seperti ini adalah ekstraksi

18

katarak. Pada penderita telah diberikan beberapa kombinasi preparat antiglaukoma dari golongan -blocker (Timolol maleat 0,50% ED 2 x gtt I) dan golongan carbonic anhydrase inhibitor (Brinzolamide ED 3xgtt I & Asetazolamid / Diamox 3 x 250mg). -blocker menurunkan TIO dengan cara menurunkan sekresi akuos humor, dan dengan efek yang kecil pada tekanan vena episkleral atau pada uveoscleral outflow. Sedangkan carbonic anhydrase inhibitors (CAIs) menurunkan TIO dengan mengurangi sekresi akuos humor melalui penghambatan langsung pada enzim carbonic anhydrase. Disebutkan bahwa CAIs merupakan suatu golongan antiglaukoma yang sangat poten oleh karena mekanisme kerja obat ini secara langsung. Tapi oleh karena efek diuretik dari CAIs yang dapat saja menyebabkan terjadinya hipokalemia sehingga perlu diberikan suplemen kalium (Aspar-K) untuk mengimbangi pemakaian

antiglaukoma CAIs ini. Kortikosteroid topikal diberikan untuk mengatasi reaksi inflamasi yang terjadi pada segmen anterior.5-7,10-13 Penderita ini dilakukan bedah Trabekulektomi dan EKEK disertai dengan penanaman IOL. Penatalaksanaan awal dipilih tindakan double procedure yaitu suatu tindakan bedah filtrasi dengan EKEK. Tindakan ini dipilih dengan pertimbangan pada usia tua, zonula zinii sudah lemah, serta mudah terjadi robekan pada kapsul posterior. Namun pada saat intraoperatif, operator dapat melakukan kapsulorhexis secara can opener dengan baik, dan saat dilakukan ekspresi lensa, tampak zonula zinii masih cukup baik dan kuat serta kapsul posterior masih intak sehingga diputuskan untuk dilakukan penanaman IOL dengan ukuran 21.0 D. Penderita ini dilakukan bedah Trabekulektomi dan

19

EKEK + IOL dengan hasil terjadi penurunan TIO tanpa obat dan nyeri yang hilang. Tindakan trabekulektomi dilakukan setelah tindakan EKEK terlebih dahulu namun pembuatan flap konjungtiva tetap dilakukan. Biasanya dilakukan di daerah superior arah jam 11.5-9 Setelah flap selesai dilanjutkan dengan pembuatan flap di sklera. Pembuatan flap sklera dapat dilakukan secara flap limbal atau flap forniks. Setelah flap konjungtiva dan sklera dibuat dilakukan dulu EKEK dengan tata cara yang biasa dilakukan. Setelah lensa

diekspresikan dan dilakukan penanaman IOL baru dilakukan penjahitan dan pembuatan window dengan punch. Kemudian dilanjutkan dengan Iridektomi tepat di jam 11. Pengamatan paska bedah ini dilakukan dengan menilai TIO , proses peradangan dan pembentukan bleb. Bleb biasanya terbentuk dalam minggu pertama paska bedah. Bleb sering juga tak terbentuk dikarenakan skar dan vaskularisasi yang ditimbulkan oleh fibrosis episklera dan konjungtiva.5,14 Pengelolaan paska bedah berupa terapi medikamentosa obat tetes steroid dan antibiotik 4x/hari selama 1 minggu, kemudian 3x/hari selama 1 mingggu, 2x/hari selama 1 minggu dan 1x/hari selama 1 minggu.14 Pada penderita ini, hari ke-2 paska bedah, keluhan nyeri pada mata menghilang, tidak ditemukan tanda-tanda inflamasi, TIO terkontrol, walaupun untuk evaluasi tajam penglihatan belum maksimal dikarenakan adanya edema dan descemet fold pada kornea. Evaluasi tanda-tanda adanya perubahan pada diskus optikus atau perubahan neural rim akibat peningkatan TIO belum dapat dinilai, karena segmen posterior masih sulit dinilai.

20

Follow up pada penderita ini disarankan 1 minggu lagi untuk menilai tajam penglihatan, pengukuran TIO, adanya tanda-tanda inflamasi,

pembentukan bleb serta evaluasi segmen posterior. Sayangnya, pada penderita ini tidak datang kembali untuk kontrol sehingga evaluasi post operasi belum dapat dinilai. Pada mata kanan penderita dengan katarak nuklearis disarankan untuk kontrol teratur, sehingga dapat di evaluasi tingkat kekeruhan dari lensa agar terhindar dari kemungkinan juga mengalami glaukoma fakolitik. Prognosis quo ad functionam adalah dubia ad malam, mengingat pada katarak dengan komplikasi glaukoma sekunder adanya kemungkinan

perubahan dari

diskus optikus

akibat peningkatan

TIO belum dapat

disingkirkan, periode mulai terjadinya peningkatan TIO juga tidak diketahui serta adanya kerusakan trabekular meshwork akibat dari material protein lensa yang menyumbat juga dapat terjadi.

21

BAB IV Kesimpulan

Telah dilaporkan sebuah kasus glaukoma sekunder et causa glaukoma fakolitik OS pada seorang wanita usia 70 tahun yang datang berobat di Poli Mata RS. Moch. Hoesin. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis serta pemeriksaan status oftalmikus yang baik, sehingga diperoleh informasi mengenai gejala dan tanda yang utama atau khas, yang mendukung diagnosis tersebut. Penanganan awal ditujukan untuk mengontrol tekanan intra okular yang meningkat dengan obat-obat antiglaukoma, kemudian dilakukan tindakan Trabekulektomi dan EKEK+IOL mata kiri dengan hasil berupa tekanan intraokular yang dapat terkontrol tanpa obat dan hilangnya rasa nyeri. Pilihan tindakan bedah dilakukan setelah terapi medikamentosa tidak dapat meregulasi tekanan intraokular dan periode glaukoma fakolitik sudah berlangsung cukup lama.

22

Daftar Pustaka

1. Liesegang JT, Skuta L.Gregory, Cantor B.Louis. American Academy of Ophthalmology. Glaucoma. 2005-2006:3,114 2. Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. New Delhi. 2007.p 214-225 3. NK Dutta, Dutta LC, Secondary Glaucoma ,Modern Ophthalmology. 3rd ed. Jaypee. 2005; 2; 536 4. Pavan-Langston Deborah, Brauner C.Stacey, Grosskreutz L.Cynthia. Glaucoma. In Manual of Ocular Diagnosis and Therapy. Philadelphia. 2008. p259-278Foster 5. Lestari YD, Risriwani D, Sumantri I, in: Sihotang AD et all. Full papers 2. the 11th congress and 32nd annual meeting. IOA. Medan. 2006; p.494-99. 6. Rhee DJ, Pyfer MF. The wills eye manual. Office and emergency room diagnosis and treatment of eye disease. Ed-3. Philadelfia.Lippincot williams &wilkins.1999;p246-8 7. A Braganza, R Thomas, T George, A Mermoud, Management of phacolytic glaucoma : Experience of 135 cases, Indian Journal of Ophthalmology, vol.46.1998 8. Shields text book of glaucoma, Lippincott willias and wilkis, Edition V 2003: 403-06, 662-4, 526 9. Addick EM, Quigley HA, Green WR et al, Histologic characteristic of filtering blebs in glaucomatous eyes. Arch Ophthalmol 1983;101;795 10. Skuta GL, Parrish II RK. Wound healing in glaucoma filtering surgery. Survey of Ophthalmology 1987; 32(3): 149-66 11. J.Paul, Thomas Ravi . Glaucoma Care in Developing Countries of Asia. In glaucoma Essensials in Ophthalmology. Germany .2006 p 110-121 12. Glaucoma tersedia pada: file:///D:/Glaucoma - Wikipedia, the free encyclopedia.htm 13. M Ciancaglini et al, Br J Ophthalmol 2009 93: 1204-1209 originally published online June 30, Conjunctival characteristics in primary open-angle glaucoma and modifications induced byTrabeculectomy with mitomycin C: an in vivo confocal microscopy study 14. Indonesia Ophthalmology Meeting on World Glaucoma Day 2010, March 13-14, 1020; hal.47-56

23