Anda di halaman 1dari 32

1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pernapasan berarti pergerakan oksigen dari atmosfer menuju kesel-sel dan keluarnya karbondioksida dari sel-sel ke udara bebas. Proses pernapasan terdiri dari beberapa langkah dimana sistem pernapasan, sistim syaraf pusat dan sistem kardiovaskular memegang peranan yang sangat penting. Sistem pernapasan terdiri dari suatu rangkaian saluran udarayang menghantarkan udara luar agar bersentuhan dengan membran kapiler alveoli yaitu pemisah atara sistem pernapasan dan sistem kardiovaskuler. Sistem syaraf pusat memberikan dorongan ritmin dari dalam untuk untuk napas dsn secara refleks merangsang otot-otot diagframa dab dada yang akan memberikan tenaga pendoong gerakan udara. Sistem kardiovaskuler menyediakan pompa, jaringan pembuluh darah yang diperlukn untuk mengangkut gas dari paruparu kesel tubuh. Hemoglobin yang berfungsi baik dalam jumlah cukup diperlukan untuk mengangkut gas-gas tersebut. Saluran pernafasan dari atas kebawah dapat dirinci sebagai berikut : Rongga hidung, faring, laring, trakea, percabangan brokus, Paru-paru (brokiolus, alveolus) Penyakit saluran pernapasan yang tidak spesifik (cara = chronic aspesific repiratory affection) yaitu mencakup semua penyakit saluran pernapasan dengan :

penyumbatan (obstruksi) bronchi pengembangan mukosa (udema) sekresi dahak (sputum) yang berlebihan Sistem peredaran oksigen yang diperlukan oleh tubuh manusia bisa mengalami

gangguan atau kelainan disertai penjelasan pengertian atau definisi singkat yaitu : 1. Kelainan/Gangguan/Penyakit Saluran Pernapasan

2
2. 3. Kelainan/Gangguan/Penyakit Dinding Alveolus Kelainan/Gangguan/Penyakit Sistem Transportasi Udara

B.

Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk untuk lebih mengetahui serta

membahas : 1. 2. 3. Salah satu jenis penyakit pada saluran pernapasan atas dan penanggulangannya Cara Absorpsi Faktor-faktor yang mempengaruhinya

C.

Rumusan Masalah
Seperti yang disebutkan pada pendahuluan bahwa penggolongan penyakit

pernapasan terbagi akan 3, maka terkait dengan judul yaitu saluran pernapasan atas maka kami akan membahas salah satu penyakitnya yaitu Sinusitis dan cara pengobatannya melalui intranasal

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Saluran Pernapasan
Saluran pnghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung, faring, laring, trakea, bronkus & bronkiulus. Saluran pernapasan dari hidung sampai bronkiolus dilapisi oleh membra mukkosa yang bersilia . Ketika udara masuk kedalam rongga hidung, tersebut disaring, dihangatkan dan dilembabkan. Hidung adalah bagian yang paling menonjol di wajah, yang berfungsi menghirup udara pernafasan, menyaring udara,menghangatkan udara pernafasan, juga berperan dalam resonansi suara. Hidung merupakan alat indera manusia yang menanggapi rangsang berupa bau atau zat kimia yang berupa gas.di dalam rongga hidung terdapat serabut saraf pembau yang dilengkapi dengan sel-sel pembau.setiap sel pembau mempunyai rambut -rambut halus (silia olfaktori)di ujungnya dan diliputi oleh selaput lendir yang berfungsi sebagai pelembab rongga hidung. Hidung adalah tempat dimulainya proses pernapasan. Di hidung terdapat Rambut-rambut halus dan selaput lendir yang berfungsi untuk menyaring udara yang masuk ke hidung agar udara tersebut bersih dan tidak kotor, sedangkan partikel halus akan terjerat dalam mukus keposterior didalam rongga hidung, dan kesuperior didalam sistem pernapasan bagian bawah menuju ke faring. Pada lapisan ini mukus akan tertelan atau dibatukkan keluar . Gangguan pada hidung biasanya disebabkan oleh radang atau sakit pilek yang menghasilkan lendir atau ingus sehingga menghalangi bau mencapai ujung saraf pembau. gangguan lain juga bisa disebabkan oleh adanya kotoran pada hidung dan bulu hidung yang terlalu banyak.kita harus selalu membersihkan hidung dari kotoran dan merapikan bulu-bulunya supaya penciuman kita tidak terganggu

Pada tenggorokan terdapat batang tenggorokan, di batang tenggorokan tersebut terdapat katup yang berfungsi untuk membuka dan menutup saluran pernapasan. tenggorok adalah bagian dari leher yang terdiri dari faring dan laring. Tenggorok memiliki sebuah selaput otot yang dinamakan epiglottis yang berfungsi untuk memisahkan esofagus dari trakea dan mencegah makanan dan minuman untuk masuk ke saluran pernapasan. Tenggorok itu terdiri dari 2 bagian:

1. 2.

Jalan makan (kerongkongan): Orofaring, hipofaring dan esofagus Jalan napas (tenggorok): Hidung, Faring, laring dan trakea

Tenggorokan (faring) terletak di belakang mulut, di bawah rongga hidung dan diatas kerongkongan dan tabung udara (trakea). Tenggorokan terbagi lagi menjadi: nasofaring (bagian atas), orofaring (bagian tengah), hipofaring (bagian bawah. Tenggorokan merupakan saluran berotot tempat jalannya makanan ke kerongkongan dan tempat jalannya udara ke paru-paru. Tenggorokan dilapisi oleh selaput lendir yang

5
terdiri dari sel-sel penghasil lendir dan silia. Kotoran yang masuk ditangkap oleh lendir dan disapu oleh silia ke arah kerongkongan lalu ditelan. Tonsil (amandel) terletak di mulut bagian belakang, sedangkan adenoid terletak di rongga hidung bagian belakang. Tonsil dan adenoid terdiri dari jaringan getah bening dan membantu melawan infeksi. Ukuran terbesar ditemukan pada masa kanak-kanak dan secara perlahan akan menciut. Pada puncak trakea terdapat kotak suara (laring), yang mengandung pita suara dan berfungsi menghasilkan suara. Jika mengendur, maka pita suara membentuk lubang berbentuk huruf V sehingga udara bisa lewat dengan bebas. Jika mengkerut, pita suara akan bergetar, menghasilkan suara yang bisa dirubah oleh lidah, hidung dan mulut sehingga terjadilah percakapan. Epiglotis merupakan suatu lembaran yang terutama terdiri dari kartilago dan terletak di atas serta di depan laring. Selama menelan, epiglotis menutup untuk mencegah masuknya makanan dan cairan ke dalam trakea. Batang tenggorokan kemudian terbagi menjadi dua yang disebut dengan bronkus, bronkus berfungsi sebagai jalannya udara menuju paru-paru. Di paru-paru, bronkus berkambang menjadi lebih banyak, atau disebut juga bronkiolus. Bronkiolus berakhir alveolus atau gelembung paru-paru. Di alaveolus atau gelembung paru-paru terjadi pertukan oksigen dan karbondioksida. Alveolus sang mudah robek karena hanya terdiri dari satu pembuluh darah. Faring digunakan sebagai alat pernafasan dan pencernaan. Pada manusia faring juga digunakan sebagai alat artikulasi bunyi. Laring, atau kotak suara (voicebox), adalah organ pada leher mamalia yang melindungi trakea dan terlibat dalam produksi suara. Laring mengandung pita suara (vocal cord) dan berada pada daerah di mana rongga atas terpisah menjadi trakea dan esofagus. Struktur laring umumnya terdiri dari tulang rawan yang diikat oleh ligamen dan otot. Peradangan atau infeksi pada laring disebut laringitis.

B.

Penyakit Saluran Pernapasan


Sistem peredaran oksigen yang diperlukan oleh tubuh manusia bisa mengalami

gangguan atau kelainan disertai penjelasan pengertian atau definisi singkat yaitu : 1. Kelainan/Gangguan/Penyakit Saluran Pernapasan

a. Penyempitan saluran pernafasan akibat asma atau bronkitis. Bronkis disebabkan oleh bronkus yang dikelilingi lendir cairan peradangan sedangkan asma adalah penyempitan saluran pernapasan akibat otot polos pada saluran pernapasan mengalami kontraksi yang mengganggu jalan napas. b. Sinusitis, adalah radang pada rongga hidung bagian atas. c. Renitis, adalah gangguan radang pada hidung. d. Pembengkakan kelenjar limfe pada sekitar tekak dan hidung yang mempersempit jalan nafas. Penderita umumnya lebih suka menggunakan mulut untuk bernapas. e. Pleuritis, yaitu merupakan radang pada selaput pembungkus paru-paru atau disebut pleura.

7
f. Bronkitis, adalah radang pada bronkus.

2.

Kelainan/Gangguan/Penyakit Dinding Alveolus

a. Pneumonia / Pnemonia, adalah suatu infeksi bakteri diplococcus pneumonia yang menyebabkan peradangan pada dinding alveolus. b. Tuberkolosis / TBC, merupakan penyakit yang disebabkan oleh baksil

yangmengakibatkan bintil-bintil pada dinding alveolus. c. Masuknya air ke alveolus. 3. Kelainan/Gangguan/Penyakit Sistem Transportasi Udara

a. Kontaminasi gas CO / karbon monoksida atau CN / sianida. b. Kadar haemoglobin / hemoglobin yang kurang pada darah sehingga menyebabkan tubuh kekurangan oksigen atau kurang darah alias anemia

C.

Obat Saluran Pernapasan


Obat saluran nafas atau obat yang bekerja pada sistem pernafasan terbagi dari 3

golongan yaitu :

1.

Obat saluran nafas golongan antiasma/ obat asma dan PPOK Asma adalah suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami penyempitan

karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan; dimana penyempitan ini bersifat sementara. PPOK singkatan dari Penyakit Paru Obstruktif Kronis, artinya penyakit paru yang menghambat kerja paru-paru secara normal yang menahun. Dua bentuk utama dari penyakit PPOK ialah Bronkhitis kronis dan Emfisema, Pada kenyataannya kedua bentuk

8
itu sering bersamaan dan disebut sebagai Bronkhitis Emfisema. Bronkhitis Kronis maksudnya adalah peradangan saluran napas kronis ditandai dengan batuk berdahak minimal tiga bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya dua tahun berturut-turut dan bukan disebabkan oleh penyakit lain.

Sedangkan Emfisema adalah pelebaran gelembung-gelembung paru disertai kerusakan dindingnya sehingga beberapa gelembung paru menjadi satu. Keluhan dan gejala utama PPOK adalah sesak napas yang menetap dan makin lama makin berat. Gambaran kliniknya, biasanya orang berusia di atas 45 tahun dengan riwayat merokok atau bekas perokok dan merasa cepat capai bila berjalan cepat, naik tangga. Pada penderita PPOK yang sudah berat dapat dilihat pada dada yang menggembung (seperti gentong) dan batuk yang selalu bereak. Bentuk sediaan obat saluran nafas untuk asma dan PPOK saat ini sudah sangat beragam sehingga lebih memudahkan dan meningkatkan kedisiplinan penggunanya. Mulai dari tablet atau kapsul lepas lambat, inhaler, diskhaler, rotahaler bahkan ada yang tetes untuk bayi bagi yang tidak punya alat nebulizer. Obat asma untuk mengendalikan serangan asma berbeda dengan obat asma rutin untuk mencegah serangan.

9
Obat asma sendiri dapat dibagi berdasarkan golongannya sebagai berikut : 1. Obat asma golongan agonis reseptor beta-adrenergik Merupakan obat asma terbaik untuk mengurangi serangan asma yang terjadi secara tiba-tiba dan untuk mencegah serangan yang mungkin dipicu oleh olahraga atau aktivitas fisik. Obat asma jenis ini merangsang pelebaran saluran udara oleh reseptor beta-adrenergik dengan cepat hanya beberapa menit tetapi efeknya hanya berlangsung selama 4-6 jam saja. 2. Obat asma golongan theophylline

Obat asma jenis ini biasanya diberikan per-oral (ditelan); tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari tablet dan sirup short-acting sampai kapsul dan tablet long-acting. Pada serangan asma yang berat, bisa diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah). 3. Obat asma golong kortiko steroid Obat asma golongan ini digunakan untuk menghalangi respon peradangan dan sangat efektif dalam mengurangi gejala asma. Jika digunakan dalam jangka panjang, secara bertahap obat asma ini akan menyebabkan berkurangnya kecenderungan terjadinya serangan asma dengan mengurangi kepekaan saluran udara terhadap sejumlah rangsangan. 4. Obat asma golongan antikolinergik

Obat asma ini bekerja dengan menghalangi kontraksi otot polos dan pembentukan lendir yang berlebihan di dalam bronkus oleh asetilkolin. Lebih jauh lagi, obat ini akan menyebabkan pelebaran saluran udara pada penderita yang sebelumnya telah mengkonsumsi agonis reseptor beta2-adrenergik.

10
Suatu serangan asma harus mendapatkan pengobatan sesegera mungkin untuk membuka saluran pernafasan. Obat yang digunakan untuk mencegah juga digunakan untuk mengobati asma, tetapi dalam dosis yang lebih tinggi atau dalam bentuk yang berbeda. Agonis reseptor beta-adrenergik digunakan dalam bentuk inhaler (obat hirup) atau sebagai nebulizer (untuk sesak nafas yang sangat berat). Nebulizer mengarahkan udara atau oksigen dibawah tekanan melalui suatu larutan obat, sehingga menghasilkan kabut untuk dihirup oleh penderita. Pengobatan asma juga bisa dilakukan dengan memberikan suntikan epinephrine atau terbutaline di bawah kulit dan aminophylline (sejenis theophylline) melalui infus intravena. Penderita yang mengalami serangan hebat dan tidak menunjukkan perbaikan terhadap pengobatan lainnya, bisa mendapatkan suntikan corticosteroid, biasanya secara intravena (melalui pembuluh darah). Pada serangan asma yang berat biasanya kadar oksigen darahnya rendah, sehingga diberikan tambahan oksigen. Salah satu pengobatan asma yang paling efektif adalah inhaler yang mengandung agonis reseptor beta-adrenergik. Penggunaan inhaler yang berlebihan bisa menyebabkan terjadinya gangguan irama jantung. Jika pemakaian inhaler bronkodilator sebanyak 2-4 kali/hari selama 1 bulan tidak mampu mengurangi gejala, bisa ditambahkan inhaler corticosteroid, cromolin atau pengubah leukotrien. Jika gejalanya menetap, terutama pada malam hari, juga bisa ditambahkan theophylline peroral. Penggunaan dan isi sediaan dari obat asma bisa kombinasi dari golongan di atas. Adapun bentuk sediaan dari obat asma bermacam-macam pula diantaranya: 1. Obat asma yang ditelan (tablet, sirup dan kapsul) 2. Obat asma hirup (inhaler, rotahaler, diskhaler dsb) 3. Obat asma suntik/injeksi Dengan obat asma yang tepat penderita asma/bengek dapat menjalani kehidupan normal.

11

2.

Obat batuk dan pilek Untuk permasalahan batuk dan pilek, banyak sekali sediaan obat saluran nafas

golongan ini dan mereknya yang dijual bebas di pasaran Indonesia. Sehingga dibutuhkan ketelitian pembeli dalam memilih obat saluan nafas ini. Yang perlu diperhatikan adalah jenis batuk penderita apakah batuk kering atau batuk berdahak. Untuk masalah pilek yang perlu diperhatikan apakah yang mengandung zat yang mengurangi konsentrasi atau tidak, saat ini sudah ada dalam satu kemasan dua macam obat untuk waktu beraktivitas dan waktu istirahat. Baik batuk maupun pilek merupakan suatu gejala, bukan penyakit. Batuk adalah suatu refleks pertahanan tubuh untuk mengeluarkan dahak, riak, dan benda asing (misal kacang, dsb) dari saluran nafas, sedangkan pilek adalah suatu gejala adanya cairan encer atau kental dari hidung yang disebut ingus. Obat batuk dan pilek digunakan untuk menghilangkan gejala penyakit sehingga disebut simtomatik. Batuk dan pilek menyerang saluran pernapasan bagian atas dan seringkali mengganggu aktivitas sehari-hari. Obat batuk dan pilek dapat digunakan bila dirasakan gejala sudah mengganggu. Batuk terdiri dari 2 jenis, yaitu batuk kering (non produktif) dan batuk berdahak (produktif). Untuk mengobati batuk tergantung dari jenis batuk yang diderita. Obat batuk dibagi menjadi: 1. Anti-tusif: dekstrometorfan dan difenhidramin 2. Ekspektoran: guaifenesin, gliseril guaikolat, ammonium klorida, bromheksin dan succus liquiritiae Antitusif digunakan untuk mengobati batuk kering, sedangkan ekspektoran untuk mengobati batuk berdahak. Antitusif bekerja dengan menekan rangsangan batuk di

12
pusat batuk yang terletak di sumsum lanjutan (medulla), sedangkan ekspektoran bekerja dengan memperbanyak produksi dahak encer yang menyebabkan kekentalannya mengurangi sehingga mempermudah pengeluarannya dengan batuk. Obat pilek dibagi menjadi 2 macam, yaitu: 1. Antihistamin: klorpeniramin, difenhidramin, feniramin dan tripolidin. 2. Dekongestan: pseudoefedrin, efedrin, fenilefrin dan fenilpropanolamin. Pilek dapat juga disebabkan alergi. Antihistamin (AH1) berguna untuk pengobatan simtomatik berbagai penyakit alergi dan mencegah atau mengobati mabuk perjalanan. Penyakit alergi tipe eksudatif akut dapat diobati oleh AH1 tetapi efeknya hanya membatasi dan menghambat efek histamin yang dilepaskan pada saat reaksi antigen-antibodi terjadi. Sebelum memutuskan untuk mencari pengobatan, sebaiknya dicari dahulu penyebab pilek dan batuk tersebut. Untuk pilek dan batuk yang disebabkan oleh alergi sebaiknya menghindari zat penyebab alergi tersebut. Untuk mengobati batuk, penting untuk mengidentifikasi jenis batuk penderita apakah batuk kering atau batuk berdahak. Antihistamin memiliki efek samping dapat menimbulkan kantuk, sehingga

penggunaannya disesuaikan dengan aktivitas.

3.

Obat saluran nafas golongan dekongestan dan obat hidung lain Obat saluran nafas golongan dekongestan digunakan dengan tujuan untuk

memperlancar pernafasan di hidung. Bentuk sediaan yang tersedia bisa tablet lepas lambat, sirup dan drop, balsam, inhaler, tetes hidung atau semprot hidung. Untuk pemakaian semprot hidung . Dekongestan bekerja dengan menimbulkan venokonstriksi (penyempitan

pembuluh vena) dalam mukosa hidung sehingga mengurangi volume mukosa dan

13
akhirnya dapat mengurangi penyumbatan hidung. Obat saluran nafas golongan dekongestan digunakan dengan tujuan untuk memperlancar pernafasan di hidung. Bentuk sediaan yang tersedia bisa tablet lepas lambat, sirup dan drop, balsam, inhaler, tetes hidung atau semprot hidung. Untuk semprot hidung baiknya konsultasi dulu ke dokter. Adapun mekanisme pemberian obat yang dapat dilakukan untuk pengobatan : Mekanisme absorpsi obat dalam berbagai rute pemberian 1. Rute bukal (sublingual) Penempatan di bawah lidah memungkinkan obat berdifusi ke dalam anyaman kapiler dan secara langsung masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Keuntungannya adalah obat melakukan bypass melewati usus dan hati dan tidak diinaktivasi oleh metabolisme. Pemberian ini hanya mungkin untuk obat yg dapat diabsorpsi dengan mudah dan tidak untuk obat yang memiliki rasa tidak enak. 2. Rute oral Cara pemberian yang paling sering dengan berbagai alasan . Beberapa obat diabsorpsi di lambung, namun duodenum sering merupakan jalan masuk utama sirkulasi sistemik karena permukaan absorpsinya lebih besar. Metabolisme langkah pertama oleh usus atau hati membatasi efikasi banyak obat ketika diminum per oral. Makanan dalam lambung memperlambat waktu pengosongan lambung sehingga obat dihancurkan oleh asam. Pada usus luas permukaan penyerapan memungkinkan penyerapan (absorpsi) dapat lebih cepat dan sempurna, karena dicapai melalui lipatan mukosa, jonjot mukosa, dan kripta mukosa serta mikrovili. 3. Rute rektal Lima puluh persen aliran darah dari rektum memintas sirkulasi portal (melalui hati & biasanya pada rute oral), sehingga biotransfortasi obat oleh hati dikurangi. Bagian obat yang diabsorpsi dalam 2/3 bagian bawah rektum langsung mencapai vena cava

14
inferior dan tidak melalui vena porta. Keuntungan pemberian melalui rektal (juga sublingual) dl mencegah penghancuran obat oleh enzim usus atau pH dalam lambung. Rute rektal juga berguna untuk obat yang menginduksi muntah jika diberikan secara oral atau jika penderita mengalami muntah-muntah. 4. Rute intravaskular (IV) Obat menghindari saluran cerna dan oleh karena itu menghindari metabolisme first pass oleh hati. Obat langsung masuk ke dalam sistemik dan mencapai target site, oleh karena itu obat yang disuntukkan tidak dapat diambul kembali misalnya dengan emesis sehingga rentan terjadi over dosis. Selain itu memiliki resiko hemolisis, kontaminasi, dan reaksi tidak diinginkan karena pemberian obat konsentrasi tinggi ke dalam plasma. 5. Rute intramuskular (IM) Umumnya obat berupa larutan dalam air atau preparat depo khusus sering berupa suspensi dalam vehikulum. Absorpsi obat dalam air cepat, sedangkan absorpsi preparat depo lambat. Setelah vehikulum berdifusi keluar dari otot, obat tersebut mengendap pada tempat suntikan. Kemudian obat melarut perlahan-lahan memberikan suatu dosis sedikit demi sedikit untuk waktu yang lebih lama. 6. Rute subkutan (SC) Hanya boleh digunakan untuk obat yang tidak menyebabkan iritasi jaringan. Absorpsinya biasanya terjadi secara lambat dan konstan sehingga efeknya bertahan lama. Mengurangi resiko yang berhubungan dengan suntikan intravaskular. 7. Inhalasi (melalui paru-paru) Inhalasi (umumnya berupa aerosol) memberikan pengiriman obat yang cepat melewati permukaan luas dari saluran nafas dan epitel paru-paru, yang menghasilkan efek hampir sama cepatnya dengan IV. Cocok untuk zat dalam bentuk gas. Dengan luas perukaan alveolar besar (70 100 m2), selain mengabsorpsi zat berupa zat dapat

15
juga mengabsorpsi cairan dan zat padat. Utamanya untuk terapi lokal dalam daerah saluran pernafasan. 8. Intranasal (lewat hidung) Mukosa hidung yang memiliki sifat absorpsi yang baik seperti mukosa mulut, cocok untuk pemakaian obat menurunkan pembengkakan mukosa secara topikal pada rinitis. Perlu dipertimbangkan bahwa akibat absorpsi juga dapat terjadi di efek sistemik, misalnya kenaikan tekanan darah dan takikardia pada bayi yang memakai tetes hidung yang mengandung alfa-simpatomimetik. 9. Intratekal (intraventrikular) Yaitu langsung disuntikkan ke dalam cairan serebrospinal, seperti metotreksat pada leukimia limfositik akut. 10. Topikal (kulit) Pemberian melalui kulit memiliki sawar karena kulit memiliki beberapa lapisan. Sawar absorpsi yang paling berperan adalah stratum korneum. Stratum korneum tidak mengandung kapiler dengan kandungan air yang sedikit (sekitar 10%) merupakan sawar absorpsi dan sekaligus tanon absorpsi. Zat yang lebih banyak terabsorpsi melalui pemeberian topikal adalah zat yang terutama larut dalam lemak yang masih menunjukkan sedikit larut dalam air.

16

BAB III PEMBAHASAN


A. SINUSITIS
Sinusitis adalah peradangan yang terjadi pada rongga sinus Sinusitis adalah suatu peradangan pada sinus yang terjadi karena alergi atau infeksi virus, bakteri maupun jamur. Sinusitis banyak ditemukan pada penderita hay fever yang mana pada penderita ini terjadi pilek menahun akibat dari alergi terhadap debu dan sari bunga. Sinusitis juga dapat disebabkan oleh bahan bahan iritan seperti bahan kimia yang terdapat pada semprotan hidung serta bahan bahan kimia lainnya yang masuk melalui hidung. Jangan dilupakan kalau sinusitis juga bisa disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Sinus sendiri adalah rongga udara yang terdapat di area wajah yang terhubung dengan hidung. Fungsi dari rongga sinus sendiri adalah untuk menjaga kelembapan hidung & menjaga pertukaran udara di daerah hidung. Rongga sinus sendiri terdiri dari 4 jenis, yaitu :

Sinus Frontal, terletak di atas mata dibagian tengah dari masing-masing alis Sinus Maxillary, terletak diantara tulang pipi, tepat disamping hidung Sinus Ethmoid, terletak diantara mata, tepat di belakang tulang hidung Sinus Sphenoid, terletak dibelakang sinus ethmoid & dibelakang mata

Didalam rongga sinus terdapat lapisan yang terdiri dari bulu-bulu halus yang disebut dengan cilia. Fungsi dari cilia ini adalah untuk mendorong lendir yang di produksi didalam sinus menuju ke saluran pernafasan. Gerakan cilia mendorong lendir ini berguna untuk membersihkan saluran nafas dari kotoran ataupun organisme yang mungkin ada. Ketika lapisan rongga sinus ini membengkak maka cairan lendir yang ada tidak dapat bergerak keluar & terperangkap di dalam rongga sinus.Jadi sinusitis terjadi apabila terdapat peradangan didaerah lapisan rongga sinus yang menyebabkan lendir terperangkap di rongga sinus & menjadi tempat tumbuhnya bakteri.

17

Penyebab
Sinusitis dapat terjadi akibat dari beberapa faktor dibawah ini :

Bulu-bulu halus didalam rongga sinus (cilia) tidak bekerja secara maksimal akibat kondisi medis tertentu Flu & alergi menyebabkan lendir diproduksi secara berlebih atau menutupi rongga sinus Adanya kelainan pada sekat rongga hidung, kelainan tulang hidung ataupun polip pada hidung dapat menutupi rongga sinus Selain hal tersebut diatas, apapun yang dapat menyebabkan bengkak pada lapisan rongga sinus ataupun menahan cilia untuk mendorong lendir dapat menyebabkan sinusitis. Hal ini biasanya disebabkan oleh perubahan pada suhu & tekanan udara. Alergi, penggunaan penyemprot hidung secara berlebihan, merokok, berenang atau menyelam dapat meningkatkan resiko terkena sinusitis.Ketika sinusitis terjadi karena infeksi bakteri ataupun virus, maka akan terjadi infeksi pada rongga sinus. Kadangkala infeksi sinus terjadi setelah kita mengalami flu. Virus flu tersebut akan menyerang lapisan rongga sinus, menyebabkan lapisan sinus bengkak & rongga sinus menjadi mengecil. Tubuh bereaksi terhadap virus tersebut dengan memproduksi lebih banyak lendir. Tetapi karena rongga sinus mengecil maka lendir terperangkap didalam rongga sinus & menjadi tempat tumbuhnya bakteri. Bakeri tersebutlah yang menyebabkan terjadinya infeksi sinus.

18 Type-type
Type sinusitis akut: 1. Infeksi virus. Sinusitis akut bisa terjadi setelah suatu infeksi virus pada saluran pernafasan bagian atas (misalnya pilek). 2. Bakteri. Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae). Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus, sehingga terjadi infeksi sinus akut. 3. Infeksi jamur. Kadang infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut. Aspergillus merupakan jamur yang bisa menyebabkan sinusitis pada penderita gangguan sistem kekebalan. Pada orang-orang tertentu, sinusitis jamur merupakan sejenis reaksi alergi terhadap jamur. 4. Peradangan menahun pada saluran hidung. Pada penderita rinitis alergika bisa terjadi sinusitis akut. Demikian pula halnya pada penderita rinitis vasomotor. 5. Penyakit tertentu. Sinusitis akut lebih sering terjadi pada penderita gangguan sistem kekebalan dan penderita kelainan sekresi lendir (misalnya fibrosis kistik). Penyebab sinusitis kronis: 1. 2. 3. Asma Penyakit alergi (misalnya rinitis alergika) Gangguan sistem kekebalan atau kelainan sekresi maupun pembuangan lendir..

19 Gejala
Gejala dari sinusitis adalah :

Rasa sakit atau adanya tekanan di daerah dahi, pipi, hidung & diantara mata Sakit kepala Demam Hidung mampet Berkurangnya indra penciuman Batuk, biasanya akan memburuk saat malam Nafas berbau (halitosis) Sakit gigi Selain gejala tersebut diatas, salah satu gejala sinusitis akut pada orang dewasa adalah adanya flu yang tidak membaik atau memburuk setelah 5-7 hari. Gejala pada sinusitis kronis sama seperti diatas tetapi cenderung terlihat lebih ringan & bertahan selama lebih dari 8 minggu. Gejala sinusitis pada anak-anak meliputi :

Timbul flu atau penyakit pernafasan yang makin memburuk Demam tinggi disertai dengan adanya lendir pernafasan yang berwarna gelap Adanya lendir pernafasan dengan atau tanpa adanya flu yang hadir lebih dari 10 hari & tidak membaik

Sinusitis

akut dan kronis memiliki gejala yang sama, yaitu nyeri tekan dan

pembengkakan pada sinus yang terkena, tetapi ada gejala tertentu yang timbul berdasarkan sinus yang terkena: 1. Sinusitis maksilaris menyebabkan nyeri pipi tepat di bawah mata, sakit gigi dan sakit kepala. 2. Sinusitis frontalis menyebabkan sakit kepala di dahi.

20
3. Sinusitis etmoidalis menyebabkan nyeri di belakang dan diantara mata serta sakit kepala di dahi. Peradangan sinus etmoidalis juga bisa menyebabkan nyeri bila pinggiran hidung di tekan, berkurangnya indera penciuman dan hidung tersumbat. 4. Sinusitis sfenoidalis menyebabkan nyeri yang lokasinya tidak dapat dipastikan dan bisa dirasakan di puncak kepala bagian depan ataupun belakang, atau kadang menyebabkan sakit telinga dan sakit leher. Gejala lainnya adalah: tidak enak badan, demam, letih, lesu, batuk, yang mungkin semakin memburuk pada malam hari, hidung meler atau hidung tersumbat. Demam dan menggigil menunjukkan bahwa infeksi telah menyebar ke luar sinus. Selaput lendir hidung tampak merah dan membengkak, dari hidung mungkin keluar nanah berwarna kuning atau hijau..

Diagnosa
Untuk penetapan diagnosa sinusitis, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan berikut :

Mencari tanda adanya polip di hidung Menyinari rongga sinus dengan cahaya (transiluminasi) untuk melihat adanya peradangan Mengetuk rongga sinus untuk melihat adanya infeksi Melihat kedalam rongga sinus melalui pemeriksaan fiberoptik (disebut juga dengan endoscopy atau rhinoscopy) dapat juga digunakan untuk mendiagnosa sinusitis. Hal ini biasanya dilakukan oleh dokter spesialis THT.

Bila perlu CT scan dapat juga dilakukan untuk mendiagnosa adanya sinusitis. Apabila sinusitis diduga terkait karena tumor atau infeksi jamur, maka MRI terhadap rongga sinus dapat dilakukan. Jika anak anda menderita sinusitis kronis atau yang berulang (sering kambuh)

maka tes-tes berikut perlu juga dilakukan :

21

Tes alergi Tes HIV atau tes untuk melihat rendahnya fungsi imun Tes untuk melihat fungsi cilia Cytology hidung Cystic fibrosis

Komplikasi
Komplikasi yang serius jarang terjadi, namun kemungkinan yang paling gawat adalah penyebaran infeksi ke otak yang dapat membahayakan kehidupan.

B.

Pengobatan Sinusitis
Pengobatan yang biasa dilakukan untuk sinusitis meliputi :

Suntikan anti alergi Menghindari pencetus alergi Semprotan hidung yang mengandung kortikosteroid untuk membantu mengurangi bengkak di rongga sinus, terutama karena adanya polip ataupun karena alergi Sinusitis akut sebaiknya diberikan pengobatan selama 10-14 hari, sedangkan

sinusitis kronis sebaiknya diberi pengobatan untuk 3-4 minggu. Bagi beberapa penderita sinusitis kronis mungkin diperlukan pengobatan untuk mengobati infeksi jamur. Tindakan operasi untuk membersihkan & mengeringkan rongga sinus mungkin diperlukan terutama bagi pasien yang mengalami peradangan yang berulang. Pemberian antibiotika biasanya tidak diperlukan untuk mengobati sinusitis akut, karena biasanya infeksi akan sembuh dengan sendirinya. Tetapi antibiotika dapat diberikan apabila terjadi hal-hal berikut ini :

22

Anak dengan kondisi pilek biasanya disertai dengan batuk yang tidak kunjung membaik setelah 2-3 minggu Demam dengan suhu tubuh lebih dari 39C Adanya bengkak yang parah di area sekitar mata Sakit kepala atau sakit di daerah wajah

Untuk sinusitis akut biasanya diberikan: Dekongestan untuk mengurangi penyumbatan Antibiotik untuk mengendalikan infeksi bakteri Obat pereda nyeri untuk mengurangi rasa nyeri. Dekongestan dalam bentuk tetes hidung atau obat semprot hidung hanya boleh dipakai selama waktu yang terbatas (karena pemakaian jangka panjang bisa menyebabkan penyumbatan dan pembengkakan pada saluran hidung). Untuk mengurangi penyumbatan, pembengkakan dan peradangan bisa diberikan obat semprot hidung yang mengandung steroid. Sinusitis kronis Diberikan antibiotik dan dekongestan (Untuk mengurangi peradangan biasanya diberikan obat semprot hidung yang mengandung steroid. Jika penyakitnya berat, bisa diberikan steroid per-oral (melalui mulut). Hal-hal berikut bisa dilakukan untuk mengurangi rasa tidak nyaman: - Menghirup uap dari sebuah vaporizer atau semangkuk air panas - Obat semprot hidung yang mengandung larutan garam - Kompres hangat di daerah sinus yang terkena.

23
Jika tidak dapat diatasi dengan pengobatan tersebut, maka satu-satunya jalan untuk mengobati sinusitis kronis adalah pembedahan. Pada anak-anak, keadaannya seringkali membaik setelah dilakukan pengangkatan adenoid yang menyumbat saluran sinus ke hidung. Pada penderita dewasa yang juga memiliki penyakit alergi kadang ditemukan polip pada hidungnya. Polip sebaiknya diangkat sehingga saluran udara terbuka dan gejala sinus berkurang. Teknik pembedahan yang sekarang ini banyak dilakukan adalah pembedahan sinus endoskopik fungsional

Pada sinusitis akut Over the counter (OTC) pengobatan seperti acetaminophen dan ibuprofen dapat meredakan beberapa gejala yang berhubungan dengan sinusitis, seperti sakit kepala, tekanan, kelelahan dan sakit. Sebagian besar kasus sinusitis yang disebabkan oleh virus etiologi dan dengan demikian menyelesaikan tanpa antibiotik. Namun, jika gejala tersebut berkepanjangan

24
amoxicillin adalah pilihan pertama yang masuk akal dengan amoxicillin / clavulanate (Augmentin) yang diindikasikan untuk pasien yang gagal amoxicillin sendirian. Fluoroquinolones, dan beberapa yang lebih baru macrolide antibiotika seperti klaritromisin, dan doxycycline, digunakan pada pasien yang alergi terhadap penisilin. [15] Namun, 60 hingga 90% dari orang-orang yang tidak mengalami gejala resolusi dengan antibiotik. [ Akan tetapi, antibiotik biasanya tidak efektif dan secara keseluruhan mungkin tidak lebih efektif dibandingkan dengan plasebo. Antibiotik mungkin tidak meningkatkan jangka panjang untuk hasil klinis sinusitis. Ketika digunakan kursus pendek (3-7 hari) yang antibiotik tampaknya cukup bagi pasien yang sekarang tanpa penyakit parah atau faktor rumit. kortikosteroid belum ditemukan untuk menjadi lebih baik dibandingkan plasebo, baik sendiri atau dalam kombinasi dengan antibiotik. sinusitis kronis Nasal irigasi dapat membantu dengan gejala sinusitis kronis. Pendekatan medis. Untuk sinusitis kronis atau rutin, rujukan ke otolaryngologist dapat diindikasikan untuk lebih spesialis penilaian dan pengobatan, yang dapat meliputi operasi hidung. Namun, bagi sebagian besar pasien pendekatan bedah tidak lebih unggul daripada perawatan medis yang sesuai. Pembedahan hanya boleh dipertimbangkan untuk pasien yang tidak mengalami pemulihan cukup dari pengobatan yang optimal. Sebuah kemajuan yang relatif baru dalam pengobatan sinusitis adalah jenis operasi yang disebut fungsional endoskopik bedah sinus (FESS), dimana izin dari normal sinus dipulihkan dengan menghapus obstruktif patologi anatomis dan variasi yang predisposisi sinusitis. Ini menggantikan teknik sebelumnya yang memerlukan wajah terbuka atau lisan refocuses insisi dan teknik untuk bukaan alami sinus bukan mempromosikan drainase oleh gravitasi, gagasan di atas mana pembedahan CaldwellLuc didasarkan. Metode ini, mirip dengan angioplasti balon digunakan untuk "unclog" arteri dari jantung, memanfaatkan balon dalam upaya untuk memperluas bukaan sinus dalam cara yang kurang invasifAkhirnya peran dalam pengobatan penyakit sinus masih dalam perdebatan, tetapi tampaknya menjanjikan. Sejumlah pendekatan bedah dapat

25
digunakan untuk mengakses sinus dan ini umumnya bergeser dari eksternal / extranasal pendekatan untuk intranasal endoskopik yang. Manfaat dari Bedah Sinus Endoskopi Fungsional FESS adalah kemampuannya untuk memungkinkan pendekatan yang lebih ditargetkan kepada para korban sinus, mengurangi gangguan jaringan, dan meminimalkan komplikasi pasca operasi. Untuk terus-menerus gejala dan penyakit pada pasien yang telah gagal medis dan endoskopik fungsional pendekatan, teknik yang lebih tua dapat digunakan untuk mengatasi sinus berkenaan dgn rahang atas seperti Caldwell-Luc antrostomy radikal (misalnya insisi di atas karet, pembukaan di dinding anterior antrum, pembuangan seluruh berpenyakit berkenaan dgn rahang atas mukosa sinus dan drainase yang dibolehkan masuk meatus inferior atau menengah dengan menciptakan jendela besar di dinding hidung lateral.)

C.

Terapi Intra Nasal


Pemberian obat secara nasal sekarang ini adalah cara yang popular untuk

menangani penyakit pernafasan dan juga mengatur pemberian obat-obatan bebas (OTC) pada kondisi sinus, seperti hidung mampet atau alergi. Semprotan nasal, botol tekan, atau obat tetes hidung adalah sebagian dari metode pemberian obat langsung yang umum dan biasanya dipilih oleh konsumen pada swamedikasi ataupun pada obat resep untuk pilek atau alergi. Untuk pasien yang tidak menyukai cara spray/semprot kedalam hidung atau bagi pasien yang tidak memungkinkan adanya terapi nebulisasi, dapat digunakan cara oles/swab. Beberapa pabrik obat sedang mengembangkan cara penggunaan aplikator dosis tunggal, yang dapat melapisi lubang hidung dengan cairan atau gel. Pada pilek, selain untuk mengobati, swab juga dapat terserap oleh saluran hidung. Pada intinya, pemberian obat langsung ke hidung/daerah nasal adalah dosis yang digunakan adalah seminimal mungkin, karena tidak sperti oral, yang harus memperhatikan metabolisme lintas pertama di hati. Alat penyemprot/sprayer juga memiliki peranan penting. Penggunaan sprayer tradisional akan memiliki perbedaan jika

26
digunakan oleh remaja dan orang tua, karena kekuatan penyemprotan yang berbeda. Untuk itu, banyak perusahaan farmasi yang mengembangkan alat yang dapat mengukur jumlah obat yang dikeluarkan secara simultan. NDA (New Drug Application) menentukan bahwa pemberian obar nasal untuk gejala ataupun penyakin radang selaput lendir, hanya untuk pasien 12 tahun ke atas. Pada pemberian obat nasal menggunakan spray yang biasa, cairan berfungsi sebagai pembawa, obat/zat aktif hanya sebagian kecil dari total keseluruhan cairan tersebut. Tantangan formulasinya adalah mencari formula yang tidak akan merugikan pasien dan dapat diabsorpsi dengan baik oleh hidung, tetapi secara efektif dapat dipompa oleh pompa mekanik reguler. Tantangan selanjutnya adalah membuat sediaan nasal yang juga dapat melewati sawar darah otak. Umumnya, tradisional spray nasal, hanya mencapai sepertiga mukosa nasal, untuk itu banyak perusahaan farmasi yang mengembangkan sistem dispersi yang dapat memungkinkan obat dapat mencapai seluruh permukaan mukosa nasal hingga paranasal. Teknologi seperti ini juga dapat digunakan untuk obat topikal agar dapat berpenetrasi lebih dalam dan obat oral agar dapat diasorpsi lebih baik lagi. Saat ini banyak dikembangkan obat nasal tanpa pengawet, yang dapat mengiritasi hidung dan mukosa. Selain itu, dikembangkan juga alat yang dapat mengirimkan obat menggunakan aktuator samping (side actuator), bukan melaui bagian atas alat tersebut. Drug delivery system intranasal atau sistem penghantaran obat intranasal adalah suatu teknologi penyampaian obat yang khas, diciptakan agar obat dapat mencapai tempat kerja di intranasal lebih optimal. Perbedaan DDS intranasal dengan sediaan oral untuk penyakit nasal adalah tanpa proses ADME (absorbsi, distribusi, metabolisme, eksresi), sehingga efek obat akan cepat tercapai, karena pemberiannya yang langsung mencapai tempat kerjanya.

27
KELEBIHAN DDS INTRANASAL DIBANDINGKAN SEDIAAN KONVESIONAL 1. Dapat digunakan untuk berbagai macam terapi pengobatan, seperti:

2. Target pemberian obat pada penanganan penyakit melalui daerah sekitar saluran nasal

28
3. Pada bentuk obat konvensional, kerja tidak langsung pada tempatnya

4. Jatuhnya obat langsung pada tempat kerja

Alat DDS nasal modern (jatuhnya obat di tengah meatus) Alat DDS nasal konvensional (obat harus di girup terlebih dahulu, jadi obat tidak menuju tempat kerja langsung)
5. Dosis obat dapat diabsorbsi pada saluran nasal dengan maksimum (> 90%)

29 D. Contoh Obat

Nasodren : Conceptual breakthrough in Rhinosinusitis theraphy Konseptual terobosan dalam terapi Rhinosinusitis Informasi terbaru tentang penyembuhan sinusitis dari Hartington Pharmaceutical. "Nasodren" semprot hidung klaim untuk dapat memberikan terobosan terapi untuk Rhinosinusitis. Ini adalah larutan alami mengandung ekstrak cyclamen dan dikelola oleh penyemprotan ke dalam lubang hidung. Sebagai terobosan terbaru dalam penelitian ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka mengklaim telah menemukan yang tepat Rhinosinusitis obat untuk penyakit. menginduksi efek mekanis pada lendir yang terkumpul untuk memudahkan pengusiran mereka.

Nasodren adalah produk alami yang tidak mengandung hormon atau bahan pengawet. Nasodren adalah ekstrak alami lyophilized cyclamen europeum L Nasodren hanya mempunyai efek lokal, yang berarti tidak diserap ke dalam aliran darah dan tidak menyebabkan iritasi sisa selaput lendir.

30

Nasodren adalah sangat efektif dengan kejadian yang sangat rendah efek samping. * * Semprot hidung Nasodren diindikasikan untuk membersihkan dan mengeringkan lendir dipertahankan dalam rongga hidung dan saluran pernapasan bagian atas, memberikan bantuan gejala di hidung tersumbat.

Nasodren secara signifikan mengurangi gejala hidung tersumbat setelah 3-4 dosis. Satu pak Nasodren adalah cukup untuk satu perawatan

31

BAB IV PENUTUP

A.

Kesimpulan
Saluran pernapasan atas meliputi : Hidung, Faring, laring dan trakea. Sinus

sendiri adalah rongga udara yang terdapat di area wajah yang terhubung dengan hidung. Fungsi dari rongga sinus sendiri adalah untuk menjaga kelembapan hidung & menjaga pertukaran udara di daerah hidung. Rhinosinusitis, atau sinusitis, adalah suatu kondisi yang melibatkan peradangan pada satu atau lebih dari sinus paranasal. Sinusitis adalah peradangan akut biasanya disebabkan oleh infeksi yang berlangsung kurang dari 4 minggu. Sinusitis akut biasanya sembuh dengan terapi medis, termasuk antibiotik. Kronis sinusitis adalah peradangan sinonasal abadi selama lebih dari 12 minggu dan dapat menyebabkan oleh beberapa faktor. Terapi medis termasuk sinonasal irigasi, antibiotik dan steroid nasal sering digabungkan dengan novel lain terapi untuk memperbaiki atau menghilangkan gejala sinonasal. Pembedahan diindikasikan untuk pasien dengan sinusitis persisten meskipun terapi medis yang memadai dan polip hidung yang parah yang disebabkan oleh peradangan kronis. Drug delivery system intranasal atau sistem penghantaran obat intranasal adalah suatu teknologi penyampaian obat yang khas, diciptakan agar obat dapat mencapai tempat kerja di intranasal lebih optimal. Perbedaan DDS intranasal dengan sediaan oral untuk penyakit nasal adalah tanpa proses ADME (absorbsi, distribusi, metabolisme,

32
eksresi), sehingga efek obat akan cepat tercapai, karena pemberiannya yang langsung mencapai tempat kerjanya. "Nasodren" semprot hidung klaim untuk dapat memberikan terobosan terapi untuk Rhinosinusitis. Ini adalah larutan alami mengandung ekstrak cyclamen dan dikelola oleh penyemprotan ke dalam lubang hidung mereka mengklaim telah menemukan yang tepat Rhinosinusitis obat untuk penyakit. menginduksi efek mekanis pada lendir yang terkumpul untuk memudahkan pengusiran lendir.

B.
-

Daftar Pustaka
Mutscheler, E., 1999, Dinamika Obat, Penerbit ITB, Bandung Shargel, Leon, Andrew B.C., 1985, Biofarmasetika dan Farmakokinetika

Terapan, 1st ed,, diterjemahkan oleh Dr. Fasich dan Dra. Siti Sjamsiah, Universitas Airlangga Surabaya Sylvia A. Price, Patofisiologi Konsep klinis Proses-proses Penyakit Corwin,Elisabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : Buku Penerbit

Kedokteran. Wikipedia Medicastore