Anda di halaman 1dari 3

BAB II

PEMBAHASAN

A. SUMBER HUKUM YANG TIDAK DISEPAKATI ULAMA


1. Istihsan
a. Pengertian Istihsan Menurut bahasa istihsan berarti menganggap baik. Sedang menurut istilah ahli ushul yang dimaksud dengan istihsan ialah berpindahnya seorang mujtahid dari hukum yang dikehendaki oleh qiyas jaly (jelas) kepada hukum yang dikehendaki oleh qiyas khafy (samar-samar), atau dari hukum kully (umum) kepada hukum yang bersifat khusus dan istinai (pengecualian), karena ada dalil syara yang menghendaki perpindahan itu. b. Macam-macam Istihsan Dari pengertian diatas jelas bahwa istihsan itu ada dua, yaitu: 1) Menguatkan qiyas khafy atas qiyas jaly dengan dalil. Misalnya, menurut ulama Hanafiyah bahwa wanita yang sedang haid boleh membaca Al-Quran berdasarkan istihsan tetapi haram menurut qiyas. 2) Pengecualian sebagian hukum kully dengan dalil. Atau meninggalkan hukum kully kepada hukum istihsan.

2. Istishab
a. Pengertian Istishab Yang di maksud dengan istishab ialah mengambil hukum yang telah ada atau di tetapkan pada masa lalu dan tetap di pakai hingga masa-masa selanjutnya sebelum ada hukum yang mengubahnya.

b. Macam-macam Istishab 1) Istishab kepada hukum akal dalam hukum ibadah atau baraatul ashliyah (kemurnian menurut aslinya). 2) Istishab kepada hukum syara yang sudah ada dalilnya dan tidak ada suatu dalil yang mengubahnya c. Kedudukan Istishab Sebagai Sumber Hukum Islam Para ulama berbeda pendapat tentang ke hujjahan istishab: 1. Menjadikan istishab sebagai pegangan dalam menentukan hukum sesuatu peristiwa yang belum ada hukumnya baik dalam Al-Quran, As-Sunah maupun Ijma 2. Menolak istishab sebagai pegangan dalam menetapkan hukum.

3.

Mashalih Al-Mursalah
Mashalih bentuk jamak dari maslahah, yang artinya ke maslahatan, kepentingan. Mursalah

a. Pengertian Mashalih Al-Mursalah


berarti terlepas. Dengan demikian mashalih al-mursalah berarti kemaslahatan yang terlepas. Maksudnya ialah penetapan hukum berdasarkan kepada kemaslahatan, yaitu manfaat bagi manusia atau menolak ke madaratan atas mereka, sedangkan dalam syara(nash) belum atau tidak ada ketentuannya. Al-Khawarizmi menyatakan bahwa mashalah ialah menjaga tujuan syara dengan jalan menolak mafsadat (kerusakan) atau mudharat dari makhluk.

b. Syarat-Syarat Berpegang Kepada Mashalih Al-Murshalah


1) Maslahat itu harus jelas dan pasti dan bukan hanya berdasarkan kepada prasangka. 2) Maslahat itu bersifat umum, bukan untuk kepentingan pribadi. 3) Hukum yang ditetapkan berdasarkan maslahat itu tidak bertentangan dengan hukum atau prinsip yang telah ditetapkan dengan nash atau ijma.

4.

Al-Urf
Yang dimaksud dengan urf ialah segala sesuatu yang sudah dikenal dan dijalankan oleh

a. Pengertian Al-Urf

suatu masyarakat secara turun-temurun dan sudah menjadi adat istiadat, baik berupa perkataan (qauly) maupun perbuatan (amaly). Menurut ahli-ahli syari bahwa antara adat istiadat dengan urf amali itu tidak ada bedanya. Diantara contoh urf amali adalah jual beli yang di lakukan berdasarkan saling pengertian dan tidak mengucapkan sighat yang di ucapkan. Contoh urf qauly ialah orang telah mengetahui bahwa kata al-rajul itu untuk laki-laki bukan untuk perempuan. b. Macam-macam Al-Urf Secara garis besar urf itu di bagi menjadi 2 yaitu: 1) Urf Shahih 2) Urf Fasid

5.

Syaru Man Qoblana


Yang di maksud dengan syaru man qablana ialah syariat yang di turunkan kepada orang-

a. Pengertian Syaru Man Qablana

orang sebelum kita, yaitu ajaran agama sebelum datangnya agama Islam. b. Pembagian Syaru Man Qablana Secara garis besar syariat sebelum kita dapat di kelompokan menjadi 3, yaitu: 1) Apa yang di syariatkan kepada mereka juga di tetapkan kepada kita umat Nabi Muhammad SAW. 2) Apa yang disyariatkan kepada mereka tidak di syariatkan lagi kepada kita.

3) Apa yang di syariatkan terdahulu itu di kisahkan dalam Al-Quran, akan tetapi tidak dinyatakan secara jelas oleh syariat Nabi Muhammad SAW bahwa syariat terdahulu itu wajib di ikuti umat Islam atau tidak, maka para ulama berbeda pendapat.

6.

Saddu Al-Dzariah
Dzarai jama dari kata dzariah yang artinya jalan. Saddu al-dzariah berarti menutup jalan.

Menurut istilah ulama ushul fiqih bahwa yang di sebut dengan dzariah ialah:

Artinya: Masalah yang lahirnya boleh (mubah), tetapi dapat membuka jalan untuk melakukan perbuatan yang dilarang. Dengan demikian sadd al-dzariah berarti melarang perkara-perkara yang lahirnya boleh, karena ia membuka jalan dan menjadi pendorong kepada perbuatan-perbuatan yang di larang oleh agama. Seperti melarang perbuatan atau permainan judi tanpa uang.

7.

Madzhab Shahabi
Yang di maksud dengan madzhab shahaby ialah fatwa-fatwa para sahabat mengenai berbagai

masalah yang dinyatakan setelah rasulullah SAW wafat. Fatwa-fatwa mereka itu ada yang telah di kumpulkan sebagai mana mereka mengumpulkan hadist-hadist rosul. Fatwa-fatwa sahabat ini ada yang berdasarkan kepada sabda dan perbuatan rasul dan ada juga berdasarkan ijtihad mereka yang terbagi menjadi 2; ijtihad yang di sepakati (ijma) dan ijtihad yang tidak di sepakati.

8.

Dalalat Al-Iqtiran
Yang di maksud dengan dalalat al-iqtiran ialah dalil-dalil yang menunjukan persamaan

hukum terhadap sesuatu yang di sebutkan bersamaan dengan sesuatu yang lain.