Anda di halaman 1dari 19

PENDAHULUAN

Dinamakan gangguan psikosomatik pertama kali oleh Johann Christian Heinroth pada tahun 1818 yang kemudian dipopulerkan oleh Maximilian Jacobi, seorang dokter psikiatrik Jerman. Psikosomatik adalah gabungan dan kata psyce (interaksi jiwa) dan soma (tubuh) yang menekankan kesahuin kau5atif atau pendekatan holistik terhadap kedokteran, karen seria penyakit dipengaruhi olph aktor psikoIogis, suatu hubungan yang telah digali oleh berbagai bidalig kedokteran alfernatif.1 Bila terjadi suatu konflik maka timbullah gejala-gejala holistik pada manusia. Bila hal ini herlangsung sedikit lama dan berlebihan niaka tejadilah nerosa yaitu gejaia-gejalanya terletak pada bidang kejiwaan seperti: nerosa cemas, nerosa histerik, nerosa fobik, nerosa obsesif-kompulsif dart nerosa depresi. Akan tetapi di samping koniponen psikologik mi hampir terjadi juga gangguan fungsi badaniah (karena manusia bereaksi secara holistik). Sering terjadi perkembangan nerotik yang memperlihatkan gejala-gejala yang sebagian besar atau semata-mata karenna gangguan fungsi alat-alat tubuh yang dikuasai oleh susunan. saraf vegetatif. Perkembangan nerotik inilah yang disbut gangguan psikosomatik atu psikofisiologik (karena biasanya hanya fungsi faaliyah yang terganggu). Kdokteran psikosomatik menyadari kesatuan dan pikiran dan tubuh dan interaksi antara keduanya. Pada umumnya, keyakinannya ialah faktor psikologis adalah penting dalam perkembangan semua penyakit.

Ardani, Tristiadi Ardi. 2008. Psikiatri Islam: 268


1

PEMBAHASAN

A. Pengertian Psikosomatis ialah kondisi dimana konflik-konflik psikis atau psikologis dan kecemasan-kecemasan menjadi sebab timbulnya macam-macam penyakit jasmani, atau justru membuat penyakit jasmani yang sudah ada menjadi semakin parah.2 Konflik sebenarnya merupakan suatu persaingan antara impuls-impuls dan keinginan-keinginan yang bertegangan sehingga menimbulkan ketegangan jiwa dengan perasaan yang sangat tidak enak. Bila terjadi suatu konflik, maka timbulah gejala-gejala holistik pada manusia. Bila hal ini berlangsung sedikit lama dan belebihan, maka terjadilah nerosa, yaitu gejalagejalanya sebagian besar terletak pada bidang kejiwaan, seperti: cemas, fobik, obsesifkompulsof dan depresi.3 Banyak hal (fenomena) dalam dunia kesehatan yang tidak bisa dijelaskan dengan pengetahuan ilmu kedokteran saja. Bagaimana seseorang yang mengalami penyakit lambung akut dapat berangsur membaik ketika menjalani puasa Ramadhan; mengapa seorang penderita HIV/AIDS dapat bertahan hidup lebih lama dari vonis dokter bila tidak diasingkan, mendapat reaksi yang normal dan tetap berhubungan dengan keluarga mereka. Mengapa dalam lingkungan fisik yang serba sama kelompok anak ayam dengan induk secara rata-rata tumbuh lebih baik daripada kelompok lain yang tidak mempunyai induk atau mengapa toxisitas amfetamin yang disuntikkan pada tikus menjadi 10x lipat bila tikus itu dikurung bersepuluh daripada bila dikurung sendirian. Hal-hal dan faktor-faktor psikologis serta sosial ini dapat mengganggu manusia dengan cara yang sama seperti faktor-faktor yang dapat dilihat dengan secara kasat mata. Dan faktor-faktor ini hanya dapat dimengerti oleh penderita dilihat sebagai manusia yang memiliki rumah dan keluarga, yang mengalami kesukaran dan kecemasa, yang menghadaapi kesulitan ekonomi, yang mempunyai masa lalu dan masa yang akan datang, pekerjaan yang akan dipertahankan atau akan ditinggalkan. Cara orang tersebut menyelesaikan konfliknya, cara menysuaikan diri tergantung pada emosi, inteligensi dan kepribadiannya. Kegagalan dalam melakukan penyesuaian terhadap berbagai persoalan bukan hanya menimbulkan gangguan psikis atau mental saja. Gejala gagal dalam melakukan
2 3

Kartono, Kartini. 2002. Patologi Sosial 3: 137 Maramis, W.F. 2004. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa: 340
2

penyesuaian bisa muncul dalam bentuk gangguan-gangguan yang bersifat ketubuhan/fisik karena pada dasamya antara badan dan jiwa merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, sehingga gangguan terhadap salah satu di antananya menimbulkan gangguan pada lainnya. Jnilah yang kemudian sening disebut sebagai gangguan psikosomatik. Penyakit-penyakit psikosomatik menupakan gangguan kesehatan yang bukan saja umum dijumpai dalam populasi, tapi sering menimbulkan kesalahpahaman di bidang medis. Medikasi sering memberi kesembuhan secara cepat, namun bukan berarti pensoalannya menjadi beres karena sening kali penyakit tensebut kambuh kembali berulang-ulang. Ini benkaitan karena sumbemya bukan pada tubuh yang sakit, melainkan pada persoalan mental yang belum terselesaikan. Penemuan-penemuan terbaru berkaitan dengan kerja otak semakin menambah keyakinan akan hubungari yang erat antara fisik dan mental. OIeh karena itu penyembuhan penyakit-penyakit psikosomatik perlu melibatkan interaksi fisik mental.

Hubungan Emosi dan Faal Badan Secara singkat dapat dijelaskan bahwa antara badan dan jiwa terdapat hubungan yang sangat erat. lni berlainan dengan pandangan dualisme yang menyatakan bahwa antara badan dan jiwa terpisah dan bisa dibedakan. Berdasarkan penelitian, otak temyata merupakan pusat integrasi dari badan dan jiwa ini. Otak manusia selain merupakan pusat pikir (otak besar) yang merupakan pusat kesadaran, juga merupakan pusat emosi (otak kecil maupun hatang otak). Jadi sebenamya antara pikiran dan emosi terdapat jalinan yang sangat erat karena semuanya terjadi di otak. Berdasarkan anatomi seperti inilah, maka muncul istilah kecerdasan emosi, yaitu bagaimana orang bisa mengelola emosinya sehingga berguna untuk meningkatkan kualitas hidup. Emosi pada gilirannya akan memengaruhi kerja sistem saraf, hormonal maupun fungsi otak lainnya. Orang yang cerdas secara ernosi akan mampu mengintegrasikan kerja seluruh bagian otaknya sehingga manipu berftingsi secara optimal. Misalnya, ketika menghadapi suatu persoalan, otak kecil dan batang otak akan bereaksi sehingga memacu pengeluaran hormon yang ada di otak. Hormon ini pada gilirannya akan memengaruhi kerja kelenjar hormon lain yang ada di tubuh, misalnya seperti kelenjar adrenal yang terdapat di ginjal. Bagian dalam kelenjar adrenal memproduksi hormon adrenalin yang menyebabkan reaksi emosi takut dan hormon noradrenalin yang menyebabkan emosi marah. Karena rangkaian seperti inilah maka kita bisa merasakan emosi marah atau takut dan berbagai macam emosi lainnya dalam jangka waktu yang agak lama. Apalagi karena
3

hormon-hormon tersebut diserap oleh tubuh dengan perlahan-lahan. Hormon-hormon ini pada giliranriya akan memengaruhi reaksi saraf otonom dalam jangka waktu yang agak lama juga. Inilah sebabnya mengapa orang yang mengalami stres atau emosi yang tinggi dalam jangka waktu yang lama akhirnya mudah menjadi sakit. mi disebabkan fungsi organ tubuh yang tidak seimbang lagi (mengalami ketegangan dalam jangka waktu yang lama) sehingga mengganggu metabolisme maupun daya tahan tubuh. Kecerdasan emosi pada dasarnya membantu individu untuk menemukan cara-cara yang konstruktif untuk menguatkan hubungan!jalur antara otak besar (yang berfungsi sebagai pusat berpikir) dengan pusat emosi sehingga individu tidak hanya menggunakan otak kecil maupun batang otak (pusat emosi) untuk melakukan reaksi terhadap peristiwa-peristiwa yang dihadapi. Bukti bahwa emosi dapat memengaruhi badan ialah bila airmata mengalir sewaktu sedih, roman muka menjadi merah sewaktu malu atau orang menjadi pucat dan begemetar sewaktu ketakutan. Pada umumnya penderita dengan gangguan psikosomatik dapat dibagi menjadi tiga golongan:4 1. Mengeluh tentang badannya, tetapi tidak terdapat penyakit badaniah yang dapat menyebabkan keluhan-keluhan ini, tidak ditemukan kelainan organik. 2. Terdapat kelainan organik, tetapi yang primer yang menyebabkannya ialah faktor psikologis. 3. Terdapat kelainan organik, tetapi terdapat juga gejala-gejala lain yang timbul bukan sebab penyakit organik tesebut, akan tetapi karena faktor psikologis; faktor psikologis ini mungkin timbul sebab penyakit organik tadi, seperti keceemasa. Jelas bahwa emosi dapat menimbulakan kelainan psikologis (fungsional) ataupun kelainan organik (struktural). Sebaliknya, bahwa jiwa dapat terganggu oleh suatu penyakit badaniah, terutama yang berat, sudah lama dikenal.

B. Sebab Timbulnya Gangguan dan Gejala Banyak sekali sebabnya. mengapa perkembangan nerotik sebagian besar menjadi manifest pada badan. Mudah-sukarnya tirnbul gangguan tergantung sebagian besar pada kematangan kepribadian individu, tetapi juga pada berat dan lamanya stres itu. Adapun sebab-sebabnya antara lain:

Maramis, W.F. 2004. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa: 342


4

1. Penyakit organik yang dulu pernah diderita dapat menimbulkan pre-disposisi untuktimbulnya gangguan psiksomatik padabagian rubuh yang pernah sakit itu. Umpamanya pernah ada trauma kepala, sehingga menderita sakit kepala sesudabnya, lalu kelak bila terjadi konflik, rnaica rnungkin tirnbul lagi sakit kepala; asthma bronkiale karena alergi sering disertai keluhan tentang pernapasan bila terjadi stres; dulu pernah menderita disentri, lalu kemudia dalam keadaan emosi tertentutimbullah keluhan pada saluran.pencernaan. 2. Penderita itu sangat merasakan penyakit orang lain yang secaratidak sadar diidentifikasikannya. Umpamanya string sakit perut sesudah usus bunu anaknya dioperasi, isteri mengeluh tentang pernapasan sesudah suaminya meninggal karena the paru-paru; sering sakit kepala waktu saudaranya dirawat di rumah sakit karena memingo-ensefalitis. 3. Tradisi ketuarga dapat mengarahkan emosi kepada fungsi tertentu. Umpamanya bila menu dan diit terlalu diperhatikan, maka mungkin nanti sering mengeluh tentang lambung; bila sering ditakut-takuti tentang hal sexual, dan konflik tidak dapat diselesaikan dengan baik, maka mungkin timbul impotensi, eyakulasio prekox atau dismenorea. 4. Suatu emosi menjelma secara simbolik elementer menjadi suatu gangguan badaniah tertentu. Umparnanya bila seorang cemas, maka timbul keluhan dari pihak jantung seperti sebaliknya sakit jantung rnenimbulkan kecemasan; rasa benci menimbulkan rasa muntah; emosi dan afek yang salah terhadap kesucian dapat mengakibatkan impotensi atau frigiditas. 5. Dapat ditentukan juga oleh kebiasaan, anggapan dan kcpercayaan masyarakat di sekitarnya. Umpamanya anggapan bahwa klimakterium menyebabkan wanita itu sakit, maka nanti ia mengeluh juga waktu klimaktrium; bila dianggap bahwa dokter hanya dapat menolong penyakit-penyakit badaniah, maka yang dikeluhkan ialah tentang badannya saja. Etilogi 5 1. Faktor biologis Satu bidang baru riset neuroilmiah dasar yang mungkin rekvan dengan gangguan sornatisasi dan gangguan somatoform iainnya inemperrnasalahkan sitokrn (cytokines). Sitokin adalah molekul pembawa pesan (messenger molecules) yang
5

Ardani, Tristiadi Ardi. 2008. Psikiatri Islam: 270


5

digunakan oleh sistem kekebalan i.mtuk berl:omunikasi dalam dirinya sendiri dan berkomunikasi dengan sistem saraf, termasuk otak (contohnya: interleukin, faktor nekiosis tumor, dan interferon) Beberapa penelitian mengarah pada dasar neuropsikologis untuk gangguan somatisasi. Penelitian tersebut mengajukan bahwa pasien memiliki ganggguari perhatian dan kognitif karakteristik yang dapat menyebabkan persepsi dan penilaian yang salah terhadap masukan (input) sornatosensorik. 2. Faktor psikologis a. Stres umum Suatu peristiwa atu situasi kehidupan yang penuh dengan stres internal atau eksternal, aku atau kronis menciptakan tantangan di mana organisme tidak dapat biespon srara adek.iat. Peneijtjan tcrakhjr telah meniemukan bahwa orang yang menghadapi stress umum secara optimis cerideruig tidak mengalarni gangguan psikosomatik Jika mereka mengalarninya mereka mudah pulih dan gangguan. Contoh dan stres umum adalah: perceraian, kematian pasangan, bencana, dan lainlain. b. Stres spesifik lawan nonspesifik Stres psikis spesifik dapat didefinisikan sebagai kepribadian spesifik atau konflik bawah sadar yang menyebabkan ketidakseimbangan yang berperan dalarn perkernbangan gangguan psikosomatik, konflik bawah sadar spesifik adalah berhubungan dengan gangguan psikosomatik spesifik (sebagai contohnya, konflik ketergantungan yang tidak disadaii mempresdiposisjkan seseorang pada ulkus peptikum). Selain itu stres nonspesifik yang kronik, biasanya dengan variabel kecemasan yang mengelilinginya, dikornbinasjkan telah dengan diperkirakan kerentanan memiliki atau korelasi debilitas psikologis organ yang

genetik,

mempredisposisikan orang tertentu kepada gangguan psikosomatik. Orang aleksitimik yaitu orang yang tidak mampu membaca emosinya sendiri, mereka memilki kehidupan fantasi yang miskin dan tidak menyadari konflik emosionalnya, gangguan psikosomatik mungkin berperan sehagai jalan keluar untuk ketegangan mereka yang terkumpul.

3. Faktor sosial Gangguan melibatkan interpretasi gejala sebagai suatu tipe komunikasi sosial, hasilnya adalah menghindari kewajiban (sebagai contohnya, mengerjakan pekerjaari yang tidak disukai), mengekspresikan emosi (sebagai contohnya kernarahan pada pasangan), atau untuk mensimbolisasikan snat perasaan atau keyakinan (sebagai contohnya nyeri pada usus seseorang). Gangguan psikosomatik pada orang yang tidak stabil, dapat disebabkan bukan saja oleh stres yang luar biasa, tetapi juga oleh kejadian-kejadian dan keadaan sehari-hari, seperti: 1. Faktor sosial dan ekonomi: kepuasan dalam peketaan; kesukaran ekonomi; pckerjaan yang tidak tentu; hubungan dcngan keluarga dan orang lain; minatnya; pekerjaan yang terburu-buru; kurang istirahat. 2. Faktr perkawinan : perselisihan, perceraian dan kckecewaan dalam hubungan sexual; anak-anak yang nakal dan menyusahkan. 3. Faktor keschatan: pcnyakit-pcnyakit yang nienabun; pernah macuk rumah sakit, pernah dioperasi; adiksi terhadap obac-obat, tcmbakau dan lain-lain. 4. Faktor psikologik: stres psikologik; keadaan jiwa waktu dioperasi, waktu haniil, waktu penyakit herat; status di dalam keluarga dan stres yang timbul karenaini.

C. Jenis-jenis Gangguan Psikosomatik Setiap fungsi oiganis/somatis yang terganggu oleh emosi-emosi yang kuat (yaitu oleh konflik-konflik dan kecemasan-kecemasan hebat) bisa menjadi basis bagi timbulnya bermacam-macam gangguan psikosomatis. Gangguan-gangguan tersebut secara garis besar ialah: hypertension, effort syndrome dan peptic ulcer. 6 Hypertension atau Supertension (Tekanan Darah Tinggi) Hypertension adalah: tekanan darah tinggi dengan ketegangan yang tinggi. Emosi-emosi sangat kuat dan kecemasan-kecemasan hebat yang berkelanjutan menjelma jadi reaksi-somatisnze itu langsung mengenai sistem peredaran darah, sehingga mempengaruhi detak jantung dan tekanan darah. Eksperimen-eksperimen menunjukkan bahwa ketakutan-ketakutan, kecemasan-kecemasan dan kemarahankemarahan/agresi itu selalu cenderung mempertinggi tekanan darah, dan mempercepat detak jantung yang normal.
6

Kartono, Kartini. 2002. Patologi Sosial 3


7

Jika ketegangan-ketegangan emosional berlangsung dalam waktu yang lama, dan kronis sifatnya, kemudian tidak bisa diredusi dan dikurangi dengan jalan penyesuaian din dan mekanisme lain yang efektif maka kejadian tersebut pasti akan menyebabkan timhulnya penyakit hypertension atau tekanan darah tinggi. Hypertension ini merupakan penyakit jasmaniah yang sangat berbahaya; dan banyak rnenyebabkan kssus kematian. Efort Syndrome dan Post Power Syndrome Effort syndrome adalah: reaksi somatisasi dalam bentuk sekelompok tandatanda dan simptom-simptom penyakit, luka-luka atau kerusakan, dengan gejala pengeluaran tenaga fisik yang sangat sedikit saja sudah menyebabkan bertambah cepatnya detak jantung, disertai kesukaran bernafas dan perasaan seperti mau pingsan. Simptom tersebut pada dasarnya, disebabkan oleh kecernasan-kecemasan dan ketakutan-ketakutan mengenai aktivitas jasmaniah, yang sering disertai perasaanperasaan berdosa; atau diikuti kecemasanketakutan terhadap mmpuls-impuls agresivitas sendiri. Post-power syndrome atau sindrom purna-kuasa ialah reaksi somatisasi dalam bentuk sekumpulan simptom penyakit, luka-luka dan kerusakan fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang progresif sifatnya, disebabkan oleh karena pasien sudah pensiun, atau sudah tidak mempunyai jabatan dan kekuasaan lagi. Kerja dan bekerja itu merupakan aktivitas dasar, dan dijadikan bagian esensial kehidupan manusia. Seperti bermain-main bagi kanak-kanak, maka kerja memberikan kesenangan dan arti tersendiri bagi kehidupan manusia dewasa. Karena itu Iingkungan-kerja merupakan sentrum-sosial. Sedang bekerja menjadi aktivitas sosial yang memberikan pada individu: penghargaan atau respek, status sosial dan prestise sosial. Tiga unsur tersebut merupakan faktor paling kritis-gawat dan terpenting bagi kesejahteraan lahir-batmn manusia. Sebenarnya, yang menjadi kriterium pokok itu bukan kondisi dan situasi pensiun dan menganggur itu in-concreto, akan tetapi bagaimana caranya seseorang menghayati dan merasakan keadaannya yang baru itu. Kondisi mental dan tipe kepribadiannya sangat menentukan mekanisme reaktif seseorang menanggapi masa pensiunnya. Jika dia tidak atau belum mampu menerima kondisi baru itu, dan merasa sangat kecewa serta pedih, maka bisa timbul banyak konflik batin, ketakutan, kecemasan dan rasa rendah diri. Jika semuanya berlangsung berlarut-larut, maka akan mengakibatkan proses dementia yang pesat sekali, dan merusak fungsi-fungsi organis,
8

serta mengakibatkan macam- macam gangguan mental lain, yang mendekatkan diri pada kematian atau akhir hayatnya. Peptic ulcer (penyakit lambung, maagZweer) Peptic ulcer adalah: borok bernanah atau etterende zweer pada alat pencernaan. Peptic ulcer ini asal mulanya berupa peradangan, disebabkan oleh telampau banyaknya asam-lambung dengan konsentrasi yang sangat kuat (hyperacidity) dalam usus 12 jari atau deodenum. Sehingga terjadi penggerogotan terhadap usus-usus; menimbulkan luka-luka, yang kemudian menjadi borok-borok bernanah pada usus dan lambung. Borok ini betvariasi; dari tingkat paling ringan berupa peradangan pada tempat-tempat tertentu yang terpencar-pencar dengan rasa sakit dan nyeri; sampai dengan borok bernanah yang besar menganga, berat disentai pendarahan, yang menembus dinding-dinding lambung dan usus. Sebab-sebab peptic ulcer antara lain: infeksi, penyakit, konstitusi fts!i yang lemah, dan lain-lain. Akan tetapi sebab terutama ialah: reaksi-reaksi emosional yang sangat kuat dan lama, sebagai akibat dari konflik-konflik psikis, sikap bermusuh dan sikap nnenolak, ketakutan-ketakutan dan kecemasan-kecemasan kronis. Penyelidikanpenyelidikan membuktikan bahwa orang-orang yang mengidap peptic ulcer ini adalah pribadi-pribadi sebagai berikut: a. Terlalu bergantung pada orang lain; b. Individu yang sering bersikap bermusuhan atau khoieris; c. Suka mengingkari kebutuhan biologisnya; d. Selalu menekan agrisivitasnya.

Konflik dan gangguan jiwa dapat menirnbulkan gangguan badaniah yang terus menerus, biasanya hanya pada satu alat tubuh saja, tetapi kadang-kadang juga berturutrurut acau serentak beberapa organ yang tcrganggu. Untuk kiasifikasi maka jenis gangguan dibagi rnenurut organ yang paling terkena, yaitu kulit, otot dan rulang, saluran pernapasan, sistem kardiovaskuler, saluran pencernaan, alat urogenital dan sistem endokrin.7 1. Kulit Bahwa emosi dapat menimbulkan gangguan pada kulit telah lama diketahui. Baru ditahun-tahun belakangan mi dperhati1can dan diselidiki hubungan antara
7

Maramis, W.F. 2004


9

tinibulnya pruritus, nerodermatoses, hiperhidrosis, dan reaksi kulit lain dcngan kesukaran pcnycsuaian din terhadap strcs dalam hidup manusia. Beberapa kliiiik dnnatologi di USA mencatat bahwa pada 75% atau lebih dan pcnderita mereka, faktor psikologik memegang peranan yang sangat penting, Menurut Williams difinisi alergi ialah: suatu predisposisi kongenital terhadap disfungsi otonomik lokal yang ditimbulkan oleh serat-serat kolinergik susunan saraf vegeratif Pada orang yang normal reaksi mi timbul hanya bila ada stimulus yang keras, pada orang yang peka, yang mempunyai alergi, reaksi mi sudah timbul dengan stimulus yang rendah. Kombinasi antigen-antibodi hnya merupakan salah sam stimulus yang dapat mengganggu keseimbangan fisiologik mi, yang dapat mcnimbulkan reaksi alergi. 2. Otot dan tulang Dalam praktek sehari-hari sering terdapat keluhan tentang otot dan tulang. Ada yang primer somatogenik, tetapi tidak sedikit juga yang - prinr psikogenik. Bila sudah benlangsung lama, maka sukar untuk dibedakan manakah yang primer dan kedua faktor itu sangat erat saling mempengaruhi. Artritis rematoid merupakan salah satu contoh gangguan psikosomatik yang timbul bukan saja pada sendi, tetapi juga di banyak janingan lain. Pcnyel yang sebenarnya belum diketahui, kadang-kadang rupanya ada pengar keradangan. Penderita artritis rematoid cenderung ke arah masoKlstlk, pengorbanan c konformist, tahu-diri, terhambat, kompulsif, tenlalu aktif berkenaan den, gangguan dan berminat pada olah-raga. Nyeri otot acau mialgi sering terdapat dalam praktek (baca: kehidupan seharihari). Kecuali hawa (kondisi udara) dan pckerjaan, maka faktor emosi memegang peranan yang penring dalam menimbulkannya- Karena tekanan psikologik, maka tOfluS Otot meninggi dan pcnderita -mcngeluh nyeri kepala, (mialgi kepala, seperti rerdapat suatu benda yang berat di atas kepala, seperti sedang memakai surban atau helm), kaku kuduk (mialgi kuduk) dan nycri punggung bavah. Ketegangan otot dapat nienyebabkan keregangan sekitar sendi dan xnenimbulkaa nyeri sendi atau artralgi. Gangguan-gangguan mi dibedakan dengan gangguan rematik (terdapat tanda-tanda inflarnasi) yang juga sangar crat hubungannya dengan stres psikologik.

10

3. Saluran pernapasan Gangguan psikosomatik yang sering timbul dan saluran pernapasan ialah sindroma hiperventilasi dan astma bronkiaie dengan hermacam-macam keluhan yang rncnyertainya. Sindroma biperventilasi sening terdapat dalarn praktek. Banyak mekanisme fisiologik yang turut serta. Bagian-bagian sindroma mi dahulu dinamakan soldiers heart, cardiac neurosis atau neurocirctilatory asthenia. Menurur Rice (USA) 10% dan 1000 orang yang datang berobat ke prakteknya mendenita sindroma mi. McKeil mendapat 5,8% sindroma mi pada 500 orang yang mempunyai keluhan dan saluran pencernaan. Patogenesa: hiperventilasi dapat menjadi suatu kcbiasaan, seperti ada orang yang mengisap rokok bila ia regang, yang lain mulai bernapas panjang. Hal mi tenjadi secara tidak disadani. Kadang-kadang juga terjadi hipervenrilasi nonpsikogenik sebagai reflex, umpamanya pada infeksi, intoxikasi, panas tinggi, penyakit pada susunan saraf pusat yang menycbabkan retensio unina akut. Hiperventilasi biasanya merupakan tarikan napas panjang, tapi mungkin juga orang itu menguap, mendengus, batuk kering, mendeham-deharn atau mengangkat dada. Gejala-gejala yang lain mengenai simdroma hiperventilasi ialah : mulut da tcnggorok kering, sehingga sering orang itu menelan dan timbullah disfa faringitis menahun. Sering hawa juga ditlan (erofagi) yang menyebabkan rasa penuh di lambung, perut gembung, perut tidak enak sehingga terjadi anorexia kadang-kadang terasa panasdingin, sering kencing dan nyeri pada otot-otot. Astima bronkiale: kecemasan dapat mengganggu ritme pernapasan dan diketahui bahwa stres juga dapat menimbulkan serangan asmia. Faktor emosi penting juga biarpun konsep asnna sekarang ialah alergi. Stimuli emosi bersama dengan alergi peridcrita menirnbuikan konstriksi bronkioli bila sistem saraf vegetatif juga tidak stabil dan mudah tcrrangsang. Sering terdapat keadsan rumah tangga yang tidak memuaskan. 4. Jantung dan pembuluh darah Hipertensi esensial juga dapat merupakan suatu gejala gangguan

psikosornatik. Ketegangan emosi dapat menyebabkan vasokonstriksi dan bila keadaan ini berlangsung lama, maka terjadi fiksasi pada hipertensi itu. Pada permulan juga terdapat gejala-gejala gastrointestinal, sakit kepala dan kelelahan, bukan karena
11

hipertensi itu, tetapi karena faktor emosi yang juga menyebabkan hipertensi itu. Bila penderita tahu bahwa ia mendenita hipertensi tanpa diberi keterangan apa-apa, maka olh karena ia mengetahui ini mungkin timbul gejala-gejala: sesudah mengetahui baru ia mulai mengeluh tentang sakit kepala, palpitasi dan sebagainya. Sakit kepala vaskuler terjadi karena teajadi pelebaran (dilatasi) atau pengecilan (konstniksi) pembuluh darah. Rasa nyeri biasanya berdenyut-denyut dan bila keras, maka diikuti juga oleh gejala-gejala yang lain mengenai gangguan saraf vegetatif, seperti berkeringat dingin, rasa mual sampai muntah, matanya seperti mau keluar dati kepala, keluan air mata, palpitasi dan sebagainya. Sakit kepala vasospastik (karena vasokonstriksi), terasa berkurang bila bcrtaring atau bila kepala lebih rendah atau dikompres dengan air hangar dan diberi obat vasodilatator (analgetika kurang menolong). Sakit kepala vasotonik (karcna vasodilatasi) rerasa berkurang bila duduk (bila kepala lebih rendah sakitnya lebih kcras) atau dikompres dengan air dingin, diberi obat vasokonstriktor dan analgetika. Migaen (migraine) ialah sakit kepala vaskuler pada separuh kepala. Terjadi dilatasi pada pembuluh darah (tidak jarang didahului oleh vasokonstniksi yang menyebabkan prodroma daripada migren, umpamanya melihat api-apian, mata berkunang-kunang dan kadang-kadang timbul parese otot-otot mata (migren oftalmoplegik). Timbulnya scrangan migren dipengaruhi oleh perubahan suhu; sering timbul pada wanita waktu rnenstruasi dan pada arnarah yang tak tersalurkan. Rinitis vasomotorika ialah pelebaran pembuluh darah selaput lendir hidung bila terjadi perubahan hawa panas ke dingin, umpamanya sewaktu bangun pagi keluar dan kamar tidur. Penderita bersin terus menerus 5 - 10 x atau lebih dan dari hidung kcluar lendir yang encer.

Emosi dan jantung Jantung yang Cemas Peneliti-peneliti menghubungkan kecemasan fobik, suatu tipe kecemasan yang ditandai dengan ketakutan dan perasaan panik tanpa sebab, dengan risiko kematian pada pria sebagai akibat ritme jantung yang tak beraturan. Penelitian terhadap 34.000 pria, tidak satu pun dan mereka yang didiagnosis berpenyakit jantung koroner pada awal penelitian, menunjukkan bahwa mereka yang skornya tinggi path suatu indeks keceniasan fobik mempunyai kernungldnan 6 kali lebih besar untuk menderita
12

serangan jantung dalam periode 2 tahun dibandingkan dengan mereka yang tidak terlatu cemas (Hilchey, 1994; Kawachi dkk., 1994). Para penetiti menduga bahwa tingkat kecemasan yang tinggi dan persisten menghasilkan badai-badai elektrik pada jantung, menyebabkan ritme jantung tidak beraturan yang dapat menyebabkan kematian mendadak karena serangan jantung. Untungnya, jumlah kematian yang berhubungan dengan jantung selama 2 tahun periode penelitian relatif sedikit (hanya 16 dad 34.000). Peneliti lain juga merighubungkan keadaan cemas dan tegang dengan meningkatnya risiko kematian dan simtom koroner pada mereka yang sudah merigidap CHD8 (DenolLet dkk., 1996; Gultette dkk., 1997). Para penetiti juga menemukan hubungan antara kecemasan pada pria setengah baya dengan risiko berkembangnya hipertensi, faktor risiko utama untuk CHD (Markovitz dkk., 1993). Pria-pria yang kecemasannya tinggi mempunyai kemungkinan dua kali lebih besar untuk mengembangkan hipertensi dibandingkan pria-pria yang lebih santal. Kita belum tahu apakah hubungan ml juga berlaku pada wanita. Kemarahan dan Hostilitas Perasaan marah yang terjadi sewaktu-waktu tidak merusak jantung orang yang sehat, tetapi kemarahan yang kronisjenis kemarahan yang Anda tihat terjadi pada orangorang yang tampak marah sepanjang waktuberhubungan dengan meningkatnya dsiko CHD dan bahkan dapat menjadi risiko yang membahayakan seperti halnya merokok, kegemukan, riwayat keluarga, atau diet tinggi-Lemak (Brody, 1996c; Clay, 2001a; I.E. Williams dkk., 2000). I<emarahan berkaitan erat dengan hostititassuatu sikap yang ditandai dengan kecenderungan untuk menyalahkan orang lain dan menilai dunia dengan pandangan negatif (Eckhardt, Barbour & Stuart, 1997). Orang dengan hostilitas akan cepat marah dan menjadi tebih sering dan lebih intens marahnya dad pada orang yang tidak hostile, bfta mereka merasa diperlakukan tidak adil atau dipermainkan. Remaja yang tingkat hostilitasnya tinggi, mempunyai risiko lebih tinggi untuk mengembangkan tanda-tanda awal penyakit jantung koroner (Clay, 2001a; Matthews dkk., 2000). Meskipun kernarahan bukan sebab langsung dad penyakit jantung, tapi kemarahan itu berhubungan dengan meningkatnya risiko

Coronary Heart Desease

13

kematian yang disebabkan penyakit kardiovaskutar (Suinn, 2001). TerLebih lagi, episode kerriarahan yang akut dapat mencetuskan seranyan jantung dan kematian mendadak karena serangan jantung pada orang-orang yang memang sudah menderita penyakit jantung (Clay, 2001b). Menghubungkan Emosi dengan Jantung Masih perlu dilakukan lebih banyak penelitian untuk dapat Lebih memahami mekanisme hubungan antara emosi negatif dengan penyakit jantung, tetapi para peneliti rnenduga bahwa hormon stre5 efinefrin dan norefinefrin memainkan peranan yang signifikan (Januzzi & DeSanctis, 1999; Metani, 2001). Kemarahan dan kecemasan memicu ketenjar adrenal untuk metepas hormon-hormon tersebut, yang kemudian rnenggerakkan sumber-sumber tubuh untuk inengatasi situasi yang mengancam. Mereka meningkatkan detak jantung, frekuensi pernafasan, dan tekanan darah, yang mana kemudian meningkatkan aliran darah yang kaya-oksigen ke otot untuk mempersiapkan tindakan pertahanantawan atau lad (fight or flight) menghadapi stresor yang mengancam. Apabila orang terus-menerus atau berulangulang mengatami kegelisahan dan keniarahan, tubuh tetap dalam keadaan keterangsanqan dalam waktu yang larna, petepasan hormon-hormon stres terus berlanjut, yang akhirnya dapat menimbulkan kerusakan pada jantung dan pembuluh darah. Hormon stres juga meningkatkan kepekatan faktor pembekuan darah, sehingga dapat rneningkatkan kemungkinan terbentuknya sumbatan yang membahayakan datam pembuluh darah (Januzzi & DeSanctis, 1999). Kecemasan dan kemarahan juga niembahayakan sistem kardiovaskular melalui peningkatan kadar kolesterol dalam darah, zat lernak yang menyumbat arted dan meningkatkan risiko serangan jantung (Suinn, 2001). Orang yang tingkat hostilitasnya tebih tinggi cenderung memitiki tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tingkat hostilitasnya tebih rendah (Raikkonen dkk., 1999). Tekanan darah tinggi (hipertensi) merupakan faktor risiko utama serangan jantung dan stroke. Penelitian menenjukan hubungan tambahan antara penyakit jantung koroner dengan bentuk Lain dad stres emosional, termasuk depresi (Carney, Freedland, & Jaffe, 2001; Ferketich dkk., 2000; OrthGomer dkk., 2000) Pada penelitian yang baru dilakukan, orang yang tidak menderita penyakit jantung yang mengalami depresi mayor kemungkinannya untuk meninggal karena periyakit yang benhubungari dengan
14

jantung, empat kali tebih besar dadpada orang yang tidak depresi selama pedode penetitian 4 tahun (Penninx dkk., 2001). 5. Saluran pencernaan Sindroma asam lanbung mempunyai gejala-gejala yang mirip dengan gejalagejala ulkus ventrikuli. Perasaan tidak enak dan sakit pada epigastrium Sering discbabkan karena kelainan fungsi lambung sekresi asarn lambung yang berlebihan metilitas dan tonus yang meninggi pada otot-otet dinding lambung. Gcjala initas lambung oleh suatu zat atau makanan tertentu hampir sama dengan gejala ulkus. Gejala-gejala sindroma asam larnbung biasanya merupakan perasaan tidak enak atau nyeri pada epigastnium, pedas atau keluar rasa asam ke dalam rnulut. Gejala-gejala bertambah bila penderita lelah atau susah, makan tidak teratur dan mungkin juga bila terjadi infeksi jalan napas bagian atas. Gangguan psikosomatik saluran penccrnaan dapat menimbulkan bcrbagai gejala yang sening ditemukan dalam praktelc sehari-hari, Nafsu makan berasal dari susunan saraf pusat dan timbul karena ingatan dan asesiasi, tetapi rasa lapar juga mungkin rimbul karena gerakan saluran pencemaan yang agak keras. Anorexia timbul sebab, inhibisi psikologik melalui susunan saraf pusat atau melalui sirnpatikus sehingga motilitas lambung berkurang. Anorexia sekunder terjadi karena penyakit organik, diit yang salah atau obat-obat yang mcngganggu alat pencernaan. Anorexia nervosa adalah gangguan makan berupa tidak mau makan atau selalu muntah setiap kali selesai makan. Akibatnya, badan penderita menjadi sangat kurus dan dalam kasus ekstrem dapat mengakibatkan kernatian karena kelaparan atau kegagalan fungsi organ-organ vital tertentu seperti jantung. Gangguan mi lebih sering dialami oleh wanita daripada pria dengan perbandingan mencapai angka 20 lawan 1.9 Beberapa ciri gangguan ini antara lain sebagai berikut: penderita biasanya berasal dan kias sosial menengah-atas; lebih sering menimpa kaurn remaja atau kaum dewasa muda. Penderita biasanya memiliki riwayat kebiasaan makan yang susah atau tidak teratur. Penderita memiliki pandangan yang cenderung negatif tentang tubuhnya, misalnya merasa terlalu gemuk, serta memiliki sifat-sifat terlalu perasa, tergantung, introvert, rnudah cemas, perfeksionistik, mementingkan diri, dan herwatak keras.

Supratiknya. 2000. Mengenal Perilaku Abnormal: 50


15

Gangguan ini dapat berawal dan usaha melakukan diet untuk mengurangi berat badan. Selain itu, penderila biasanya mengalami konflik batin antara hasrat untuk rnandiri dan perasdan takut bila surigguh-sungguh rnendapatkan peran dan status sebagai orang dewasa yang otonom. Maka, untuk menolongnya, konflik mi harus terlebih dulu dipecahkan. Obesitas scbagian besar karena orang itu makan terlalu banyak, biarpun penderita mengatakan ia makan hanya sedikit sekali. Mungkin juga karena kelainan endokrin atau hipotalamus. Pada obesitas yang hebat sering didapati faktor psikologik. Suatu stres jiwa dapat menimbulkan anorexia pada beberapa orang, tetapi orang lain bereaksi dengan makan lebih banyak. Tidak diketahui mengapa. Faktor psikologik, mulai dan ketegangan yang ringan sampai dengan suatu nerosa yang hebat, dapat menyebabkan makan berlebihan, Kadang-kadang orang yang merasa tidak bahagia mencari kesenangan dalam makanan. Mungkin bila ia mengalami banyak kekecewaan dalam pekerjaan atau kehidupan sexual, makanan bukan saja dapat merupakan pembelaan atau hiburan, tetapi juga dapat merupakan substitusi. Dan terjadilah lingkaran setan : ia menjadi gemuk lantas kurang bergerak, sebab kurang bergerak ia menjadi tarnbah gemuk. Obesitas dapat mengakibatkan sesak napas bila bekerja, mengganggu pergerakan, memperhebat gangguan muskuloskeletal umpamanya artrosis. Obesitas juga memberi predisposisi untuk hipertensi dan diabetes mellitus, serta dapat memperberat penyakit kardiovaskuler.

D. Pengobatan Gangguan Psikosomatik 1. Farmakoterapi Susunan saraf vegetatif yang sangat kacau dapat diatur dan ditenangkan dengan obat-obat sehingga dengan demikian penderita menjadi Iebih tenang dan dapat menerima psikoterapi dengan lebih baik. Obat-obat yang dapat dipergunakan adalah, obat yang dapat menstabilkan fungsi susunan saraf vegetatif secara umum ataupun pada organ tertentu, neroleptika ataupun tranquilaizer. Adapun tujuan dan pengobatan ialah untuk menghilangkan gejala-gejala, agar gejala-gejala tetap menghilang maka tujuan yang lebih dalam tentu ialah mengembalikan kestabilan emosi dan menuju pada kematangan kepribadian. Akhirnya bila ternyata bahwa kita tidak dapat menyembuhkan semua pasien maka janganlah

16

lekas kecewa atau putus asa sekurang-kurangnya kita dapat meringankan penderitaan dan selalu dapat menyenangkan penderita. 2. Psikoterapi Psikoterapi dapat dilakukan untuk membantu seseorang dalam

mengekspresikan emosi yang menthi.sari dan untuk mengembangkan strategi alternatif untuk mengekspresikan perasaan mereka, tiap da1...at dilakukan secara individu atau kelompok. Secara tradisional, psikoanalisis dan psikoterapi telah digunakan untuk mengobati gangguan psikosomatik. Dalarn dua dekade terakhir, telah dikembangkan teknik modifikasi prilaku (teori belajar) untuk terapetik yang menekankan modifikasi perilaku adalah terapi relaksasi otot, biofeedback, hipnosis, pernafasan terkendali, yoga, dan pijat. Adapun tujuan pri1ku tersebut dan modalitas psikoterapetik yang biasa adalah untuk memperbaiki keseimbangan psikosomatik.

17

KESIMPULAN
Psikosomatik adalah penyakit fisik yang timbul karena adanya gangguan-gangguan psikologis, atau penyakit yang timbul karana ketengangan atau stres akibat penyakit yang sudah ada sebelumnya. Hubungan antara emosi (kejiwaan) manusia dengan badan (faal) manusia terbukti ketika seseorang menangis karena sedih, detak jantung yang semakin cepat ketika marah, muka yang memerah ketika merasa malu dll. Gangguan psikosomatik dapat timbul karena faktor biologis, psikologis dan sosial. Jenis gangguan psikosomatis secara garis besar antara lain: hypertension, effort syndrome dan peptic ulcer. Selain itu dapat timbul penyakit pada kulit, otot dan tulang, pernapasan, jantung, pencernaan dll. Gangguan psikosomatik dapat diobati dengan farmakologi dan psikoterapi.

18

DAFTAR PUSTAKA

Ardani, Tristiadi Ardi. 2008. Psikiatri Islam. Yogyakarta: UIN Malang Press. (PU. Qory) Maramis, W.F. 2004. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabay: Airlangga University Press. Siswanto. 2007. Kesehatan Mental; Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: C. V Andi Offet. (pny. Qory) Supratiknya. 2000. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta: Penerbit Kanisius (pu. rere) Nevid, Jeffrey S. Rathus, Spencer A. Greene, Beverly. 2009. Psikologi Abnormal/Edisi kelia/Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga. Kartono, Kartini. 2002. Patologi Sosial 3: gangguan-gangguan Kejiwaan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

19