Anda di halaman 1dari 29

KEBIJAKAN FISKAL DALAM PERADABAN ISLAM I.

PENDAHULUAN
I. PENDAHULUAN

Kemandirian negara tergantung dari kemampuan pemerintahannya untuk mengumpulkan pemasukan-pemasukan yang diperlukan dan mendistribusikannya untuk kebutuhan bersama. Kebijakan fiskal merupakan alat yang digunakan untuk melaksanakan hal tersebut, karena kebijakan fiskal merupakan kebijakan untuk mengatur penerimaan dan pengeluaran Negara. Mannan mengatakan bahwa, prinsip Islam tentang kebijakan fiskal bertujuan untuk mengembangkan suatu masyarakat yang didasarkan atas distribusi kekayaan berimbang dengan menempatkan nilai-nilai material dan spiritual dalam tingkat yang sama (Mannan:1997, hlm 230) Kebijakan fiskal dalam ekonomi Islam merupakan kebijakan yang sangat penting dibandingkan kebijakan moneter. Islam memandang penting kebijakan fiskal karena kebijakan ini sangat erat dengan kegiatan ekonomi riil, sehingga kebijakan yang tepat akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan kegiatan ekonomi di sektor riil. Hal tersebut berbeda dengan kebijakan moneter yang mengatur masalah peredarang uang. Larangan bunga yang diberlakukan pada tahun ke empat hijriyah telah mengakibatkan sistem ekonomi Islam yang dilakukan nabi bersandar pada kebijakan fiskal. Melalui kebijakan ini negara melakukan tugasnya mensejahterakan rakyat yang menjadi tanggung jawabnya. Kesejahteraan tersebut tidak dapat dilepaskan dari tujuan syariat Islam. Muhammad Husain Abdullah menyebutkan ada delapan tujuan luhur syariat Islam, yaitu; memelihara keturunan, akal, kemuliaan, jiwa, harta, agama, ketentraman/keamanan, dan memelihara negara. Sementara itu dalam konteks kebijakan keuangan negara, Zallum sangat menekankan bahwa kebijakan keuangan negara Islam bertujuan untuk mencapai kemaslahatan kaum Muslimin, memelihara urusan mereka, menjaga agar kebutuhan hidup mereka terpenuhi, tersebarnya risalah Islam dengan dakwah dan jihad fi sabililillah. Salah satu tujuan kebijakan fiskal Islam adalah menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap warga negara (Muslim dan non Muslim/kafir dzimmi) dan mendorong mereka agar dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan
SPEI halaman- 1

sekunder dan tersiernya sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Inilah yang menjadi garis dasar kebijakan fiskal Islam dan akan sangat terlihat dalam fungsi alokasi dan distribusi. Kebijakan fiskal meliputi kebijakan pendapatan, dalam kebijakan pendapatan negara mencari sumber-sumber pendapatan yang dapat dikumpulkan untuk menyelenggaraan pemerintahan. Terdapat elastisitas yang besar dalam sistem keuangan negara dan perpajakan Islam. Hal ini disebabkan karena Al-Quran tidak menyebutkan tentang biaya yang dikenakan pada berbagai milik kaum muslimin dan juga karena sejarah dini administrasi keuangan Islam sendiri (Mannan:1997, hlm 232) Ajaran Islam merupakan ajaran yang lengkap dimana di dalamnya terdapat perintah dan tuntunan tentang kebijakan negara untuk memperoleh pendapatan. Diantara instrument pendapatan yang diwajibkan adalah zakat, selain itu masih banyak instrumen-instrumen lain yang diatur Islam dan dapat digunakan sebagai sumber pendapatan negara seperti ghanimah, fai, kharaz, ushr, jizyah, dan berbagai sumber lainnya. Kebijakan pengeluaran adalah unsur kebijakan fiskal dimana pemerintah atau negara membelanjakan pendapatan yang telah dikumpulkan tadi. Dengan kebijakan pengeluaran inilah negara dapat melakukan proses distribusi pendapatan kepada masyarakat, dan dengan kebijakan ini pula maka negara bisa menggerakan perekonomian yang ada di masyarakat Pemerintah diharapkan dapat menggunakan keuangan tersebut dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat dan meningkatkan ketakwaan. Kebijakan pengeluaran harus bisa menjamin pemenuhan kebutuhan pokok yang ditujukan kepada seluruh warga negara tanpa memandang agama, warna kulit, suku bangsa, dan status sosial. Hanya saja intervensi negara melalui kebijakan fiskal diperlukan, berupa jaminan pemenuhan akan pangan, sandang dan papan, khusus ditujukan kepada warga negara miskin yang kepala keluarga dan ahli warisnya tidak mampu lagi memberikan nafkah yang memadai untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya. Sedangkan warga negara yang berasal dari keluarga mampu tidak mendapatkan subsidi negara. Selanjutnya intervensi negara dalam pengadaan jaminan dan pelayanan keamanan, kesehatan dan pendidikan (public utilities) secara cuma-cuma ditujukan kepada seluruh warga negara tanpa memandang apakah warga tersebut dari golongan kaya atau tidak. Artinya dalam katagori
SPEI halaman- 2

ini subsidi diberikan kepada seluruh rakyat. Negara Islam wajib mengadakan fasilitas umum dan pelayanan publik yang sangat dibutuhkan oleh warga masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, sehingga berbagai kepentingan dan urusan masyarakat terpenuhi dengan lancar. Keberhasilan negara untuk melakukan kebijakan pengeluaran sesuai tujuan yang disyaratkan syariah akan menciptakan kesejahteraan masyarakat. Ini karena kebijakan pengeluaran tersebut adalah suatu proses distribusi pendapatan kepada masyarakat. Kegagalan pemerintah dalam melakukan distribusi anggaran negara dapat mengancam keberadaan negara seperti yang terjadi dalam sejarah peradaban Islam, dimana kesalahan dalam melakukan kebijakan anggaran menyebabkan kemunduran dan kehancuran negara, baik karena menyebabkan negara menjadi lemah, juga karena terjadinya pertikaian intern. Kebijakan fiskal sudah dilakukan semenjak Islam pertama kali lahir, terutama sejak terselenggaranya negara Madinah dimana Nabi Muhamad adalah seorang nabi sekaligus kepala pemerintahan. Kebijakan fiskal tersebut terus berkembang sesuai dengan perkembangan Islam. Situasi negara, perluasan wilayah kekuasaan yang berkembang mempengaruhi kebijakan fiskal yang diambil oleh pemerintahan Islam. Demikian pula dengan munculnya fukaha-fukaha yang juga ahli ekonomi turut memberikan sumbangan pemikiran di bidang ekonomi dan memberikan warna bagi perkembangan kebijakan fiskal sepanjang peradaban Islam

II. PEMBAHASAN II.a PEMIKIRAN PARA FUKAHA TENTANG KEBIJAKAN FISKAL

Dalam beberapa literatur sejarah pemikiran Islam terdapat beberapa fukaha yang sangat peduli terhadap masalah fiskal. Mereka adalah ahli fikih yang juga ahli pada bidang lainnya, diantaranya dalam bidang ekonomi. Banyak ulasan-ulasan yang dilakukan terhadap pemikiran para fukaha tersebut, diantaranya adalah Abu Yusuf dan Ibn Taimiyah.

SPEI

halaman- 3

II.a.1.Abu Yusuf (113H-182H) Abu Yusuf, yaitu Yaqub bin Ibrahim. Beliau lahir pada masa akhir kekhalifahan Bani Umayyah, kemudian dewasa pada masa kekhalifahan Bani Abbasiyah (132 H s.d 656 H). Abu Yusuf memperoleh penerimaan di kalangan para khalifah Bani Abbas, dan menduduki posisi hakim agung pada masa kekuasaan Al-Mahdi, Al-Hadi dan Harun Ar-Rasyid. Pada masa Harun Ar-Rassyid dia memperoleh posisi yang amat kuat. Ibnu Abdul Barr mengatakan Abu Yusuf adalah hakim pada masa pemerintahan tiga khalifah. Dia menduduki posisi hakim agung pada sebagian masa pemerintahan Al-Mahdi, kemudian pada pemerintahan Al-Hadi dan juga pada masa pemerintahan Ar-Rasyid. Harun Ar-Rasyid amat menghormati dan memuliakannya. Dia mempunyai kedudukan yang kuat di sisi Harun Ar-Rasyid.(www.al-shia.com) Abu Yusuf banyak memberikan pemikiran terkait sumber-sumber penerimaan negara, diantaranya dengan menghasilkan kitab yang sangat terkenal yaitu kitab Al-Kharaj. Kitab ini mencakup berbagai bidang antara lain tentang pemerintahan, keuangan negara, pertanahan, perpajakan dan peradilan (P3I UII:2008, hlm 107). Terkait keuangan negara, di dalam kitab ini terdapat pembahasan ekonomi publik, khususnya tentang perpajakan dan peran negara dalam pembangunan ekonomi. Al-Kharaj ini ditulis atas permintaan Harun Ar-Rasyid dan dipergunakan sebagai pedoman dalam menghimpun pemasukan dan pendapatan negara dari kharaj, ushr, zakat dan jizyah. Abu Yusuf melihat bahwa sektor negara sebagai suatu mekanisme yang memungkinkan warga negara melakukan campur tangan atas proses ekonomi. Bagaimana mekanisme pengaturan tersebut dalam menentukan : (1) tingkat pajak yang sesuai dan seimbang dalam upaya menghindari perekonomian negara dari ancaman resesi, dan (2) sebuah arahan yang jelas tentang pengeluaran pemerintah untuk tujuan yang diinginkan oleh kebijaksanaan umum. Pengaturan tersebut bergantung pada beberapa aspek penting sebagai variabel yang mesti dibenahi ; income, expenditure dan mekanisme pasar. Mekanisme yang dikembangkan Abu Yusuf adalah :
1.

Menggantikan Sistem Wazifah dengan Sistem Muqosomah Wazifah dan Muqosomah merupakan istilah dalam membahasakan sistem pemungutan pajak. Wazifah memberikan arti bahwa sistem pemungutan yang ditentukan berdasarkan nilai tetap, tanpa membedakan
SPEI halaman- 4

ukuran tingkat kemampuan wajib pajak atau mungkin dapat dibahasakan dengan pajak yang dipungut dengan ketentuan jumlah yang sama secara keseluruhan, sedangkan Muqosomah merupakan sistem pemungutan pajak yang diberlakukan berdasarkan nilai yang tidak tetap (berubah) dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan dan persentase penghasilan atau pajak proporsional. (Nazori:2003, hlm 78-79) Untuk membangun sebuah tatanan perekonomian yang baru, Abu Yusuf memandang perlu mengganti sistem Wazifah yang berlaku pada masanya dan masa sebelumnya dengan Muqosomah. Hal ini dalam pandangan beliau merupakan bagian dari upaya mencapai keadilan ekonomi dan pajak di tengah individu, masyarakat dan negara. Berdasarkan penelitian beliau di lapangan tentang permasalahan pajak dan perekonomian di tengah masyarakat, beliau mendapati bahwa kharaj dengan sistem wazifah membebani masyarakat karena beban pajak yang ditanggung atas tanah produktif sama dengan beban pajak pada tanah yang tidak produktif. Masyarakat menghendaki agar dibedakan pajak antara tanah subur dan tanah yang tidak subur. Inilah yang melandasi pemikiran Abu Yusuf untuk mengubah sistem wazifah dengan Musaqomah. Pemikiran Abu Yusuf tadi diaplikasikan oleh para khalifah Abbasiyah dalam kebijakan pemungutan kharaj, para khalifah melakukannya dengan tiga cara:
a.

Al-Muhasabah, atau penaksiran luas areal tanah dan jumlah pajak yang harus dibayar dalam bentuk uang Al-Muqasamah atau penetapan jumlah tertentu (prosentase) hasil yang diperoleh Al-Muqathaah atau penetapan hasil bumi terhadap para jutawan berdasarkan persetujuan pemerintah yang bersangkutan

b.

c.

2.

Membangun Fleksibilitas Sosial

Abu Yusuf memberikan perhatian terhadap wacana tentang muslim dan non muslim. Beliau berusaha memberi pemahaman keseimbangan persamaan hak dan kewajiban terhadap kelompok Harbi, Musta'min dan kelompok Zimmi. Kelompok Harbi adalah kelompok asing bagi muslimin, Apabila terjadi kontak senjata (perang) antara kaum muslimin dan kelompok ini, Al-Quran dengan tegas menyatakan hukuman mati pada mereka karena
SPEI halaman- 5

termasuk orang musyrik. Sementara Musta'min dan Zimmi adalah kelompok asing yang berada di wilayah kekuasaan Islam dan membutuhkan perlindungan keamanan dari pemerintahan Islam, serta tunduk dengan segala aturan hukum yang berlaku. Ketiga kelompok tersebut mendapat perhatian khusus dari Abu Yusuf. Beliau berusaha memberikan pandangan pemahaman dan keseimbangan serta persamaan hak terhadap mereka di tengah masyarakat. Kemudian diatur dengan beberapa ketetapan khusus yang berkenaan dengan status kewarganegaraan, sistem perekonomian dan perdagangan, serta ketentuan hukum lainnya Pengaturan khusus terlihat dalam penetapan bagi kaum non muslim yang diwajibkan membayar jizyah, namun jika mereka meninggal, maka jizyah tersebut tidak boleh dibayar oleh ahli warisnya. Jizyah dalam terminologi konvensional disebut dengan pajak perlindungan, yakni jasa keamanan yang diberikan negara Islam kepada kaum non muslim. Mengenai pertanyaan kritis tentang bagaimana jika mereka tidak membayar jizyah ? Abu Yusuf mengatakan : "Tidak boleh melakukan kekerasan terhadap fisik, seperti memukul, menjemur mereka di terik matahari atau bentuk-bentuk lain yang sifatnya menyiksa, untuk mendapatkan jizyah dari mereka, dianjurkan memperlakukan mereka secara manusiawi bahkan sebagaimana layaknya teman". Sedangkan bagi kaum non muslim yang ikut berperang, maka bagi mereka tidak dibebankan untuk membayar jizyah. Berdasarkan klasifikasi strata masyarakat maka jizyah bagi golongan kaya sebesar 4 dinar, golongan menengah 2 dinar dan kelas miskin 1 dinar. Kebijakan ini memberikan pengaruh positif dengan bertambahnya simpati kaum non muslim terhadap Islam. 3. Membangun Sistem dan Politik Ekonomi yang Transparan

Abu Yusuf memandang sangat penting sistem dan politik ekonomi yang transparan. Dengan adanya transparansi, maka akan terlihat peran dan hak asasi masyarakat dalam menyikapi tingkah laku dan kebijakan ekonomi, baik yang berkenaan dengan nilai-nilai keadilan (al-Adalah), kehendak bebas (al-Ikhtiyar), keseimbangan (al-Tawazun) dan berbuat baik (alSPEI halaman- 6

Ikhsan). yaitu:
1.

Abu Yusuf memandang terdapat dua sifat penerimaan negara,

Penerimaan yang bersifat insidental; ghanimah dan fai Penerimaan yang bersifat insidental diinterpretasikan dari al-Qur'an dalam surat al-Anfal ayat 41 :

" ketika engkau mengambil setiap barang rampasan, seperlima darinya adalah milik Allah dan Rasul, saudara-saudara dekatnya, anak yaitm, orang-orang miskin dan musafir.." 2. Penerimaan yang bersifat permanen ; kharaj, jijyah, ushr, dan sadaqah/zakat.

II.a.2. Ibnu Taimiyyah (661-728 H) Nama lengkap Ibnu Taimiyah adalah Taqi al-Din Ahmad Bin Abd AlHalim Bin Abd Salam bin Taimiyah lahir di Harran 22 Januari 1263. Beliau hidup semasa Daulah Abbasiyah II yang berkedudukan di Kairo Mesir, mulai Khalifah Al-Hakim I (660/1262) sampai khalifah Al-Mustakfi I(701/1302). Salah satu pemikiran Ibnu Taimiyah di bidang fiskal diantaranya adalah pemikiran beliau tentang sistem perpajakan. Ibnu Taimiyah sangat menentang sistem perpajakan yang tidak adil serta sumber-sumber pendapatan negara lainnya yang bersifat tidak legal. Menurut pendapatnya dalam buku Iqtidaal-sirat al mustaqim (Demand and the straight path) beliau mengatakan bahwa negara banyak melakukan kebijakan yang tidak adil dengan membuat peraturan perpajakan yang tidak didasarkan ketentuan syariah untuk meningkatkan pendapatan. Kebijakan ini terkait pula dengan pemborosan serta pengeluaran yang tidak perlu yang dilakukan oleh para penguasa. Menurutnya jika pemerintah melakukan sistem pengeluaran yang
SPEI halaman- 7

tepat maka pajak yang berbasis syariah yaitu ghanimah, ushr dan fai cukup untuk memenuhi pembiayaan negara. Beliau juga menyoroti masalah penghindaran pajak, dikatakan bahwa terjadi ketidakadilan baik dari pihak pemungut pajak maupun dari pihak subjek pajak, menurutnya umumnya ketidakadilan dilakukan oleh pihak otoritas sama halnya dengan yang dilakukan subjek pajak. Otoritas menghendaki sesuatu yang tidak adil, sementara yang terakhir menghindari kewajibannya. Sarannya adalah supaya penguasa menetapkan pajak sesuai dengan porsinya. Intinya Ibnu Taimiyah menentang penghindaran pajak, meskipun pajak tersebut bersifat tidak adil sepanjang kebijakan pajak tersebut diterapkan dalam suatu masyarakat tertentu. Alasan beliau adalah jika seseorang menghindari kewajiban pajaknya, maka kewajiban tersebut akan beralih ke anggota masyarakat lainnya, sehingga ada sebagian masyarakat menanggung lebih besar dari yang seharusnya. Kebijakan Pendapatan Negara Ibnu Taimiyah membagi sumber penerimaan menjadi tiga kelompok yaitu ghanimah, zakat dan fai. Untuk ghanimah dan zakat sumbernya sudah jelas, karena diatur secara rinci dalam Al-Quran, sementara fai adalah segala macam penerimaan diluar zakat dan ghanimah. 1. Zakat

Zakat Pembayaran zakat mulai efektif setelah terbentuknya negara Madinah. Pada masa itu zakat selain menjadi salah satu pilar agama Islam juga menjadi sember utama pendapatan negara Madinah. Orang-orang yang beriman dianjurkan untuk membayar sejumlah tertentu dari hartanya dalam bentuk zakat. Kewajiban ini berlaku bagi setiap muslim yang telah dewasa, merdeka, zakat dikenakan atas harta kekayaan berupa : emas, perak, barang dagangan, binatang ternak tertentu, barang tambang, harta karun dan hasil panen.

2. Ghanimah Ghanimah merupakan jenis barang bergerak yang bisa dipindahkan yang diperoleh dalam peperangan melawan musuh. Anggota pasukan akan
SPEI halaman- 8

mendapat bagian sebesar empat per lima. Ghanimah merupakan sumber yang berarti bagi negara Islam pada waktu itu, karena pada masa itu sering terjadi perang suci. Perintah persoalan ghanimah turun setelah perang Badar pada tahun ke dua setelah hijrah ke Madinah.
3.

Fai

Bagi Ibnu Taimiyah (Muhamad:2003, hlm 201)seluruh penerimaan selain ghanimah dan zakat bisa masuk katagori fai, dengan demikian fai mencakup harta atau barang yang berasal dari:

Jizyah, yaitu pajak yang dibayarkan oleh non muslim khususnya ahli kitab ,untuk jaminan perlindungan jiwa ,harta atau kekayaan , ibadah, bebas dari nilai-nilai dan wajib militer. Jizyah ini dalam Islam dikenakan kepada seluruh non muslim dewasa, laki-laki, yang mampu membayarnya. Orang-orang miskin, penganggur, pengemis tidak diwajibkan membayar jizyah. Hasil dari pengumpulan dana jizyah digunakan untuk membiayai kesejahteraan umum.
a.

Kharaj atau pajak tanah dipungut dari non muslim . Kharaj dalam pelasanaannya dibedakan menjadi dua, yaitu proporsional dan tetap. Secara proporsional artinya dikenakan sebagai bagian dari total dari hasil produksi pertanian, seperti seperempat, seperlima atau seterusnya. Secara tetap artinya pajak tetap atas tanah. Kharaz diperkenalkan pertama kali setelah perang Khaibar, ketika Rasulullah membolehkan orang-orang Yahudi Khaibar untuk kembali mengelola tanahnya dengan syarat mau membayar separuh dari hasil panennya kepada pemerintah Islam.
b.

Ushr adalah bea impor yang dikenakan kepada semua pedagang, dibayar sekali dalam setahun
c. d. e.

Khumus atas rikaz harta karun temuan pada priode sebelum islam

Amwal fadhila yang berasal dari harta benda kaum muslimin yang meninggal tanpa waris, atau berasal dari barang-barang seorang muslim yang meninggalkan negerinya. Nawaib yaitu pajak yang jumlahnya cukup besar yang dibebankan kepada kaum muslimin yang kaya dalam rangka menutupi pengeluaran negara selama periode darurat.
f. SPEI halaman- 9

g. Bentuk lain sadaqah seperti qurban dan kafarat.

Kebijakan Pengeluaran Negara Menurut Ibnu Taimiyah, prinsip dasar dari pengelolaan pengeluaran adalah, pendapatan yang berada di tangan pemerintah atau negara merupakan milik masyarakat sehingga harus dibelanjakan untuk kebutuhan masyarakat sesuai dengan pedoman Allah SWT. Ia sangat tegas menolak pembelanjaan yang bertentangan dengan syariah misalkan kegiatan prostitusi atau hiburan yang tidak Islami. Saat membelanjakan uang masyarakat maka harus di prioritaskan kepada hal-hal yang penting. Dalam pandangannya, pembelanjaan utama adalah: - Kaum miskin dan yang membutuhkan
-

Pemeliharaan tentara untuk jihad dan pertahanan

- Pemeliharaan ketertiban dan hukum internal - Pensiun dan gaji pegawai - Pendidikan - Infrastruktur - Kesejahteraan umum Dalam pengalokasian sumber penerimaan terhadap pengeluaran tidak serta merta dilakukan untuk pengeluaran tersebut di atas. Ada pengaturan dan penyesuaian antara sumber pendapatan dengan pengeluaran. Untuk penerimaan dari zakat dan ghanimah peruntukannya sudah ditentukan secara jelas dalam Al-Quran, sedangkan fai pemanfaatannya lebih fleksibel untuk mengcover pengeluaran public lainnya. Pengeluaran dana zakat ditetapkan Al-Quran kepada delapan asnaf yaitu (1) fakir (2) miskin (3) amilin (4) mualaf (5) al-riqab (6) orang yang berhutang (7) fisabilillah (8) ibnu sabil. Sedangkan untuk ghanimah ditentukan 4/5 bagian untuk yang pergi berperang, sedangkan 1/5 bagian
SPEI halaman- 10

untuk Allah dan Rasulnya dalam hal ini adalah negara untuk dibelanjakan bagi kebutuhan umat. Pengeluaran dana fai menurut Ibnu Taimiyah diantaranya untuk dua tujuan yaitu pertama melindungi kehidupan masyarakat dari serangan baik dari dalam maupun dari luar. Pertahanan terhadap serangan luar sangat penting terkait dengan baru usainya perang salib dan perang melawan serangan bangsa Mongol. Sementara untuk menghindari gangguan keamanan dari dalam maka dana fai dipergunakan untuk membayar tenaga keamanan dalam negeri seperti polisi. Kedua untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Jika zakat dan ghanimah tidak cukup untuk membiayai kebutuhan orang miskin dapat dibiayai dari fai. Sedangkan biaya pengeluaran lainnya menurut Ibnu Taimiyah (Abul Hasan: 1992, hlm150) meliputi:
-

Biaya pejabat pemerintah seperti gubernur, menteri yang dibiayai oleh fai. Menggaji qadi, hakim sebagai petugas yang menjaga keadilan. Fasilitas pendidikan dan tenaga guru untuk menciptakan masyarakat yang baik dan terdidik Fasilitas publik, infrastruktur dan kebutuhan yang tidak dapat disediakan secara individu harus disediakan oleh negara seperti jembatan, bendungan dan lain-lain yang harus dibiayai oleh fai.

II.b PELAKSANAAN KEBIJAKAN FISKAL DALAM PERADABAN ISLAM

Kebijakan fiskal yang dilakukan oleh pemimpin umat Islam dalam memimpin negaranya mengalami perkembangan dari masa ke masa sesuai kompleksitas yang dihadapi negara yang dipimpinnya. Pada saat negara Islam masih berupa negara kecil maka sistem keuangan dan belanja negara masih sangat sederhana, tetapi seiring dengan perluasan wilayah kekuasaan Islam, maka masalah fiskal menjadi kompleks. Ini tentu saja sesuai dengan kebutuhan negara dalam menjalankan pemerintahan yang meliputi wilayah kekuasaan demikian luas, sehingga diperlukan inovasi kebijakan fiskal baik dari kebijakan pemasukan maupun kebijakan pengeluaran.
SPEI halaman- 11

II.b.1.Zaman Rasulullah Pada awal-awal pemerintahan Rasulullah pendapatan dan pengeluaran hampir tidak ada. Rasulullah sebagai pemimpin melaksanakan tanggung jawab pemerintahan tanpa mendapatkan upah dari negara maupun masyarakat, kecuali hadiah kecil berupa makanan. Sumber pendapatan negara diperoleh dari kontribusi sukarela untuk membiayai pertempuranpertempuran dan biaya sosial lainnya. Selanjutnya seiring dengan berjalannya waktu serta melalui petunjuk Allah SWT dalam wahyuNya, negara mulai mendapatkan penghasilan, berupa: Anfal (rampasan perang). Turunnya surah ini pada waktu antara perang Badar dan pembagian rampasan perang yaitu pada tahun kedua Hijriyah. Hukum dasar anfal dinyatakan dalam Al-Quran (8:1) dan diterangkan oleh nabi Muhamad saw. Ditentukan bahwa khumus (seperlima) dari anfal harus dikhususkan untuk baitul mal (kas negara). Dengan cara ini, khumus menjadi sumber pemasukan negara yang rutin.
-

Shadaqah fitrah/zakat fitrah diwajibkan pada tahun kedua Hijriyah, shadakah fitrah ini besarnya satu sha kurma, gandum, tepung keju atau kismis, atau setengah sha gandum untuk setiap muslim, budak atau orang bebas. Sebelum diwajibkan, zakat bersifat sukarela dan belum ada ketentuan hukumnya. Baru pada tahun ke sembilan Hijriyah zakat diwajibkan.
-

Waqaf, mulai muncul pada zaman Rasulullah berdasarkan kejadian pelanggaran terhadap perjanjian kesepakatan antara Rasulullah dengan Bani Nadir. Akibat pelanggaran tersebut Bani Nadir kemudian meninggalkan Madinah dengan membawa harta yang bisa dibawa. Tanah yang ditinggalkan kemudian menjadi milik Rasulullah menurut ketentuan Al-Quran (QS.59-2).
-

SPEI

halaman- 12

Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Harta tersebut kemudian dibagikan kepada kaum muslimin yang miskin. Seorang rabi Bani Nadir, Mukhairik, yang masuk Islam memberikan tujuh kebunnya yang kemudian oleh Rasulullah dijadikan tanah sadaqah. Inilah wakaf Islam yang pertama.

jizyah (pajak karena syarat tertentu/pool tax), jizyah dikenakan oleh Nabi Muhammad saw kepada orang-orang Kristen dan Magian sebesar satu dinar per tahun bagi orang dewasa yang mampu membayarnya. Pembayaran tidak harus berupa uang tetapi juga bisa dalam bentuk barang atau jasa, seperti yang disebutkan Baladhuri dalam kitab Futuh-alBuldan, ketika menjelaskan perjanjian Rasulullah dengan orang-orang Najran yang dengan jelas dikatakan:
-

setelah dinilai, dua ribu pakaian/garmen masing-masing bernilai satu aukiyah, seribu gamen dikirim pada bulan Rajab tiap tahun, seribu lagi pada Safar tiap tahun. Tiap garmen bernilai satu aukiyah, jadi bila ada yang bernilai lebih atau kurang dari satu aukiyah, kelebihan dan kekurangannya itu harus diperhitungkan. Nilai dari kurma, kuda atau barang yang digunakan untuk substitusi garmen harus diperhitungkan.
SPEI halaman- 13

Usyur (pajak cukai sepersepuluh) yang dikenakan kepada pedagang non muslim atas barang-barang yang lebih dari 200 dirham. Tingkat bea orang-orang yang dilindungi adalah 5% dan pedagang muslim 2,5%
-

Pendapatan dari zakat dan usyur dikenakan terhadap: 1. Benda logam yang terbuat dari emas seperti koin, perkakas, ornament atau bentuk lainnya. 2. Benda logam dari perak 3. Binatang ternak: unta, sapi, domba, kambing 4. Berbagai jenis barang dagangan termasuk budak dan hewan 5. Hasil pertanian termasuk buah-buahan
6.

Luqta, harta benda yang ditinggalkan musuh

7. Barang temuan Pendapatan tersebut menjadi pendapatan fiskal utama dalam masa pemerintahan Rasululla, selain beberapa pendapatan sekunder berupa uang tebusan tawanan perang, khumus, zakat fitrah, amwal fadhila, nawaib, kafarat.

Kebijakan Pengeluaran Zaman Rasulullah Tidak ada catatan mengenai pengeluaran secara rinci, tetapi secara garis besar pengeluaran negara pada zaman Rasul adalah sebagai berikut (Adiwarman;hlm.36): Kebijakan primer - Biaya pertahanan, seperti persenjataan, unta, kuda dan persediaan - Penyaluran zakat dan ushr kepada yang berhak menerimanya sesuai ketentuan Al-Quran

SPEI

halaman- 14

- Pembayaran gaji untuk wali, qadi, guru, imam, muadzin, dan pejabat negara lainnya. - Pembayaran upah para sukarelawan - Pembayaran utang negara - Bantuan untuk musafir (dari daerah Fadak) Pengeluaran sekunder - Bantuan untuk orang yang belajar agama di Madinah - Hiburan untuk para delegasi keagamaan - Hiburan untuk para utusan suku dan negaraserta biaya perjalanan mereka. - Hadiah untuk pemerintahan negara lain - Pembayaran denda atas mereka yang terbunuh secara tidak sengaja oleh pasukan muslim - Pembayaran utang orang yang meninggal dalam keadaan miskin - Pembayaran tunjangan untuk orang miskin - Tunjangan untuk sanak saudara Rasulullah - Pengeluaran rumah tangga Rasulullah (hanya sejumlah kecil, 80 butir kurma dan 80 butir gandum untuk setiap istrinya). - Persediaan darurat (sebagian dari pendapatan pada pedang Khaibar)

II.b.2.Kekhalifahan Khulafaur Rasyidin Khalifah Abu Bakar As Shidiq Abu Bakar As Shidiq diangkat sebagai khalifah pertama sepeninggal Rasulullah. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, beliau harus menghadapi pembangkangan kepada negara diantaranya adalah penolakan untuk membayar zakat kepada negara, bahkan ada salah satu suku yang memungut dan mendistribusikan diantara mereka sendiri tanpa sepengetahuan Abu Bakar. Langkah yang dilakukan pertama kali oleh Khalifah adalah penumpasan pemberontakan tersebut melalui peperangan yang disebut perang Riddah (perang melawan kemurtadan). Langkah tersebut salah satu kebijakan Abu Bakar untuk melakukan penegakan hukum kepada pihak yang tidak mau membayar pajak atau zakat. Pada masa itu kebijakan pengelolaan anggaran yang dilakukan Abu Bakar adalah dengan langsung membagi habis harta baitul maal. Kebijakan dimana berapapun pemasukan yang diperoleh negara langsung didistribusikan, termasuk ketika baitul maal menerima uang sebesar 80.000 dirham dari Bahrain. Sistem pendistribusian seperti ini melanjutkan apa yang dilakukan pada masa Rasulullah, sehingga pada saat beliau wafat
SPEI halaman- 15

hanya ada satu dirham yang tersisa dalam perbendaharaan keuangan. Oleh karena itu Abu Bakar sebelum wafatnya berpesan supaya semua fasilitas yang pernah diterimanya dialihkan kepada penggantinya, yaitu khalifah Umar. Selama Abu Bakar memerintah sebagai khalifah, kebutuhan beliau beserta keluarga dipenuhi oleh harta dari Baitul Maal ini untuk mencukupi kebutuhan beliau karena keterbatasan penghasilan Abu Bakar sebagaimana dikatakan Siti Aisyah Umatku telah mengetahui yang sebenarnya bahwa hasil perdagangan saya tidak mencukupi kebutuhan keluarga, tetapi sekarang saya dipekerjakan untuk mengurusi kaum muslimin. Oleh karena itu menurut beberapa keterangan, beliau diperbolehkan mengambil dua setengah atau dua tiga per empat dirham setiap hari dari baitul maal dengan tambahan makanan berupa daging domba dan dan pakaian biasa. Setelah berjalan beberapa waktu, ternyata tunjangan tersebut kurang mencukupi sehingga ditetapkan 2000 atau 2500 dirham dan menurut keterangan lain 6000 dirham per tahun (Muhamad:2002).

Khalifah Umar Bin Khattab Pada masa Khalifah Umar, wilayah kekuasaan Islam semakin luas, diantaranya meliputi Syria, Mesir, Sawad, sehingga pendapatan negara semakin besar. Sebelum kekhalifahan Umar bin Khatab, penerimaan negara dibelanjakan seluruhnya untuk kebutuhan umat Islam, baik untuk meningkatkan kesejahteraan umat maupun kebutuhan biaya perang melawan musuh dalam rangka ofensif maupun defensif. Pada saat kekhalifahan Umar bin Khatab, Umar mengambil kebijakan yang berbeda dengan para pendahulunya dalam mengelola baitul maal. Kebijakan yang diambil adalah tidak menghabiskan seluruh pendapatan negara secara sekaligus, melainkan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan, sebagian diantaranya digunakan untuk dana cadangan. Pada tahun 16 H, Abu Haraira, Amil Bahrain, mengunjungi kota Madinah dan membawa 500.000 dirham kharaj. Jumlah ini merupakan jumlah yang besar sehingga kemudian khalifah mengadakan pertemuan dengan majelis syura untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dari hasil pertemuan tersebut kemudian diputuskan bahwa dana tersebut tidak akan didistribusikan melainkan disimpan untuk cadangan darurat, membiayai angkatan perang dan kebutuhan umat.
SPEI halaman- 16

Untuk mengelola dana tersebut Umar membangun baitul maal dan mengembangkannya sehingga menjadi lembaga yang permanen, serta mendirikan cabang-cabang baitul maal di tiap provinsi. Baitul maal berada dibawah seorang bendahara yang wewenangnya diluar otoritas eksekutif. Baitul maal secara tidak langsung menjadi pelaksana kebijakan fiskal negara Islam, dan khalifah yang berkuasa penuh atas dana tersebut, tetapi khalifah tidak boleh menggunakan harta baitul maal untuk keperluan pribadi. Kebijakan pendapatan
-

Umar melakukan sistemisasi dalam pemberlakuan pungutan jizyah kepada ahlu dzimmah (penduduk suatu negara yang memiliki perjanjian damai dengan negara Islam) dalam tiga tingkatan sesuai kemampuan membayar yaitu: (a) 12 dirham setiap tahun bagi pekerja manual dan orang miskin; (b) 24 dirham atas kelompok berpenghasilan menengah; (c) 48 dirham atas orang kaya, seperti pemilik kebun, pedagang dsb (Karnaen,2007 hlm72). Melakukan restrukturisasi sumber dan sistem ekonomi baru yang belum pernah ada sebelumnya, seperti memungut pajak di pos-pos perbatasan. Yaitu pajak bagi para pedagang dari wilayah harbi yang tidak memiliki perjanjian damai dengan negara Islam, dan wilayah dzimmah yang memiliki perjanjian damai dengan negara Islam, saat mereka melewati Negara Islam.( Karnaen,2007 hlm72).

- Memungut zakat atas kuda, yang pada saat itu sudah diternakan dan diperdagangkan dalam jumlah besar.
-

Melakukan kebijakan terhadap tanah wilayah penaklukan dengan jalan damai yang mencakup wilayah yang besar dari kerajaan Roma dan Sassanid, Umar menjadikannya sebagai fai. Atas tanah tersebut Umar menetapkan beberapa peraturan berikut (Nazori:2003, hlm.191)
-

Wilayah yang ditaklukan dengan kekuatan menjadi milik muslim, sedangkan yang melalui perjanjian damai tetap menjadi milik pemilik asal. Tanah yang tidak ditempati atau yang diklaim kembali (seperti Basra) bila ditanami oleh kaum Muslim diperlakukan sebagai tanah Ushr.
halaman- 17

SPEI

Di Sawad, Kharaj dibebankan sebesar satu dirham dan satu rafiz (satu ukuran lokal) gandum dan barley, dengan anggapan tanah tersebut dapat dilalui air, sementara terhadap rempah dan perkebunan kharajnya lebih tinggi Di Mesir menurut perjanjian Amar, dibebankan dua dinar untuk setiap minyak, cuka dan madu yang telah disetujui khalifah

- Perjanjian Damaskus (Syria) menetapkan pembayaran tunai, pembagian tanah dengan kaum Muslim. Beban per kepala sebesar satu dinar dan beban jarib(unit berat) yang diproduksi per jarib tanah. Kebijakan Pengeluaran Dalam melaksanakan anggaran pengeluaran negara, khalifah Umar menekankan prinsip keutamaan dalam mendistribusikan kekayaan yang berhasil dikumpulkan dalam baitul maal. Dana pada baitul maal adalah milik kaum muslim sehingga menjadi tanggung jawab negara menjamin kesejahteraan rakyatnya. Pada saat itu negara mulai menjalankan fungsinya sebagai penjamin kesejahteraan rakyat khususnya bagi orang miskin dengan program jaminan sosial. Orang-orang Mekkah (bukan muhajirin) diberi tunjangan 800 dirham, warga Madinah 25 dinar, muslim di Yaman, Syria, Iraq 200 sampai 300 dirham, anak yang baru lahir dan yang tidak diakui masing-masing 100 dirham. Tambahan pensiun untuk kaum muslim adalah gandum, minyak, madu, cuka dalam jumlah tetap. Kuantitas dan jenis barang berbeda-beda di tiap wilayah.(Adiwarman:2002) Ini pertama kali dalam sejarah dimana negara menyandang tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan makanan dan pakaian bagi warga negaranya. Hal ini mengundang kekaguman tetapi juga mengundang kritikan, seperti yang dilakukan Hakim bin Hizam dengan mengatakan Amirul Muminin, orang Quraisy adalah pedagang dan apabila kau memberikan tunjangan, mereka akan meninggalkan perdagangan. Mungkin akan tiba saatnya nanti pemimpin mereka menghentikan tunjangan, sementara mereka telah berhenti berdagang. Dapat dibayangkan bagaimana nasib mereka. Dan hal ini terbukti pada saat tunjangan diberhentikan oleh pemerintahan Abbasiyah. Kebijakan ini tidak sempat diperbaiki oleh Umar, karena beliau telah lebih dahulu terbunuh.

SPEI

halaman- 18

Kontribusi Umar yang paling besar dalam menjalankan roda pemerintahan adalah membentuk perangkat administrasi yang baik. Untuk mendistribusikan harta baitul maal, Umar membuat beberapa departemen yaitu:
-

Departemen Pelayanan Militer, yang berfungsi untuk menyalurkan dana bantuan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam peperangan Departemen Kehakiman dan Eksekutif, yang bertanggung jawab akan pembayaran gaji para hakim dan pejabat eksekutif Departemen Pendidikan dan Pengembangan Islam, yang bertugas untuk mendistribusikan dana kepada penyebar dan pengembang agama Islam Departemen Jaminan Sosial, berfungsi untuk menyalurkan dana bagi kaum fakir miskin dan orang-orang yang menderita. (Euis:2007, hlm.36)

Sedangkan alokasi pendapatan Negara dibagi menjadi empat bagian yaitu Pendapatan zakat dan usyur(pajak tanah) didistribusikan dalam tingkat lokal jika ada kelebihan maka akan disimpan di baitul maal dan akan dibagikan kepada delapan asnaf - Pendapatan khumus dan sedekah, didistribusikan kepada kaum miskin tanpa diskriminasi apakan dia muslim atau non muslim - Pendapatan kharaj, fai, jizyah, usyur (pajak perdagangan) dan sewa tanah digunakan untuk membayar dana pensiun, dana bantuan, serta menutupi biaya administrasi, kebutuhan militer dan lain sebagainya - Pendapatan lain-lain untuk membayar para pekerja, pemeliharaan anak-anak terlantar dan dana sosial lainnya.
-

Khalifah Usman Bin Affan Khalifah Usman adalah salah seorang dari beberapa orang terkaya diantara beberapa sahabat nabi. Beliau tidak mengambil upah dari baitul maal, sebaliknya Usman malah menyimpan uangnya di bendahara negara. Hal ini menimbulkan kesalahfahaman antara khalifah dan Abdullah Bin Arqam, salah satu sahabat nabi terkemuka, yang berwenang melaksanakan kegiatan baitul maal pusat. Konflik ini tidak hanya membuatnya menolak untuk menerima upah dari pekerjaannya (sebagai pelayanan kaum muslimin untuk kepentingan Tuhan) tetapi juga menolak hadir dalam pertemuan
SPEI halaman- 19

publik yang dihadiri khalifah. Pada perkembangan berikutnya keadaan ini bertambah rumit bersamaan dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan lain yang menimbulkan kontroversi mengenai ketidakhati-hatian pengeluaran uang baitul maal. Ada beberapa kebijakan pengeluaran kontroversial yang dilakukah khalifah yang menimbulkan kericuhan di kalangan umat Islam, seperti yang dilakukan oleh khalifah Usman yaitu: Kebijakan untuk memberikan kepada kerabatnya harta dari baitul maal. Dalam hal ini Usman mengatakan dalam pidatonya Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar tidak mengambil hak mereka. Namun saya mengambil apa yang menjadi hak saya dan saya bagikan kepada saudara-saudara dekatku. Ini berbeda dengan yang dilakukan para khalifah sebelumnya. - Menggunakan dana zakat untuk pembiayaan perang atau pembiayaan lainnya. Kebijakan ini dianggap kurang tepat oleh sahabat karena menyalahi aturan Allah dalam distribusi zakat sebagaimana yang diperintahkan dalam QS At-Taubah: 60. Kebijakan ini menimbulkan kesulitan bagi pemerintahannya sendiri karena jatah zakat yang seharusnya diberikan kepada fakir miskin dialihkan untuk pembiayaan lain, maka terjadi kesenjangan antara kaya dan miskin - Kebijakan Usman ra untuk memberikan tambahan gaji bagi para pejabat negara, beberapa diantaranya memiliki hubungan kekerabatan dengannya.
-

Kebijakan ini menimbulkan kericuhan dalam enam tahun terakhir masa kekhalifahannya. Tentu saja walaupun begitu kebijakan tersebut masih tidak sebanding dengan kemuliaan yang dilakukan khalifah Usman selama menjadi khalifah.(Karnaen:2007,hlm.77) Hal lainnya adalah dalam penaklukan wilayah dimana sampai dengan 30 tahun setelah hijrah, tidak ada armada laut muslim kemudian berubah pada saat kekhalifahan Usman Bin Affan. Pada masa kekhalifahan Usman, umat Islam mulai menaklukan wilayah dengan melintasi laut. Penaklukan tersebut diantaranya dibawah pimpinan Muawiyyah, sehingga wilayah Islam meliputi wilayah Mediterania. Laodicea dan wilayah di semenanjung Syria, Tripoli, dan Barca di Afrika Utara menjadi pelabuhan pertama Negara Islam. Dengan adanya penaklukan melintasi laut tersebut membuat biaya pemeliharaan angkatan laut sangat tinggi, yang semuannya menjadi bagian
SPEI halaman- 20

dari beban pertahanan di periode ini. Untuk meningkatkan pengeluaran pertahanan dan kelautan, meningkatkan dana pensiun dan pembangunan di wilayah taklukan baru, dibutuhkan dana tambahan. Untuk itu khalifah membuat beberapa perubahan administrasi tingkat atas dan mengganti gubernur Mesir, Busra, Assawad, dan lain lain, digantikan dengan orangorang baru. Dengan restrukturisasi tersebut diharapkan penerimaan negara menjadi meningkat. Restrukturisasi tersebut kemudian diubah kembali pada saat pemerintahan Khalifah Ali. Khalifah Ali Bin Abi Thalib Ali Bin Abi Thalib menjadi khalifah setelah Usman terbunuh. Ali berkuasa selama lima tahun. Setelah pengangkatan dirinya, Ali kemudian melaksanakan kebijakan untuk mengganti pejabat-pejabat yang korup yang ditunjuk Usman, membuka kembali tanah-tanah perkebunan yang diberikan kepada orang-orang kesayangan Usman, serta mendistribusikan pendapatan sesuai dengan yang diatur Umar. Kebijakan ini mendapat perlawanan dari sebagian orang diantaranya adalah Muawiyah di Syria. Inilah awal dari pemberontakan Muawiyah terhadap pemerintahan Ali Bin Abi Thalib. Ali hidup sangat sederhana dan sangat ketat dalam melaksanakan keuangan Negara. Ali tidak sepaham dengan Umar dalam masalah pendistribusian harta Baitul Maal. Keputusan Umar dalam pertemuan dengan majelis syura yang menetapkan bahwa sebagian dari harta baitul maal dijadikan cadangan, tidak sejalan dengan pendapat Ali, sehingga pada saat Ali diangkat menjadi Khalifah, kebijakan yang dilakukan berubah. Ali mendistribusikan seluruh pendapatan Baitul Maal yang ada di Madinah, Kufah dan Busra. Dalam alokasi pengeluaran, yang dilakukan hampir sama dengan yang dilakukan khalifah Umar. Pengeluaran untuk angkatan laut yang ditambah jumlahnya pada masa Usman, oleh Ali dihilangkan, karena daerah sepanjang garis pantai seperti Syria, Palestina dan Mesir berada di bawah kekuasaan Muawiyah, sementara Muawiyah memberontak kepada Ali dengan memproklamirkan dirinya sebagai penguasa indipenden di Syria. Sedangkan fungsi baitul maal masih tetap seperti sebelumnya. Pada masa ini tidak ada perubahan yang berarti.

II.b.3.Daulah Bani Umayyah (661M-750M)


SPEI halaman- 21

Dinasti ini bernama Umayyah, didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan. Umayyah berkuasa selama dua periode di Suriah selama hampir 90 tahun (661 M-750M) dan di Spanyol selama 275 tahun (756 M- 1031M). Setelah berkuasa, para khalifah Umayyah melanjutkan perluasan wilayah yang terhenti pada masa khalifah Usman dan Ali. Muawiyah berhasil menaklukan seluruh kerajaan Persia dan sebagian kekaisaran Byzantium. Abdul Malik , khalifah ke-5, menundukan daerah daerah Asia Tengah, Khalifah Al-Walid I, khalifah ke-6, berhasil melakukan ekspansi ke Barat. Dengan keberhasilan ini daerah kekuasaan Islam di bawah pemerintahan dinasti Umayyah meliputi wilayah yang sangat luas dan menjadikannya sebuah kekhalifahan yang besar Perkembangan perekonomian berkembang sejalan dengan meluasnya wilayah kekuasan dinasti Umayyah tersebut, hal ini tentu berpengaruh pula terhadap kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil khalifah, hanya saja sedikit literature yang mengungkapkan secara detail mengenai kebijakan fiskal yang dilakukan, beberapa hal yang tercatat dalam sejarah adalah sebagai berikut
-

Pada masa khalifah Muawiyyah, khalifah mengeluarkan kebijakan untuk menetapkan anggaran gaji tetap kepada tentara, mencetak mata uang, melakukan pengembangan birokrasi seperti fungsi pengumpulan pajak dan administrasi dan mendirikan dinas pos beserta dengan berbagai fasilitasnya, disamping itu juga menertibkan angkatan perang.

Pada masa Khalifah Al Walid I (705 M-715 M) kekhalifahan Umayyah mencapai puncaknya. Pada zaman itu beliau banyak membangun jalan raya, pabrik, gedung, masjid, dan panti asuhan untuk orang cacat. Ilmu pengetahuan dan ilmu agama juga mengalami kemajuan pesat yang melahirkan banyak ilmuwan ternama. Namun setelah pemerintahan AlWalid kekuasaan Umayyah mulai menurun karena gaya hidup mewah di Istana telah membuat kalangan keluarga khalifah menjadi lemah serta mengundang protes bahwa mereka telah melupakan cara hidup Islami.

Umar Bin Abdul Azis adalah khalifah ke-8 dinasti Ummayyah (99102H/717-720) yang dikenal adil, bijak dan jujur. Khalifah ini sangat konsisten melaksanakan ajaran Islam dan Sunnah Nabi SAW, walaupun masa pemerintahan Umar relatif singkat yaitu hanya 2,5 tahun ia sangat
halaman- 22

SPEI

berperan dalam mendamaikan berbagai perselisihan internal umat Islam terutama dengan kaum Syiah. Sebelum Umar menjadi seorang khalifah, dia adalah seorang yang terkenal dengan gaya hidup mewah dan berfoya-foya, akan tetapi hal itu berubah setelah Umar menjadi khalifah. Sebagai khalifah, beliau dikenal sangat amanah dan anti korupsi, jujur dan tidak suka menggunakan harta negara untuk kepentingan pribadi. Diriwayatkan suatu ketika Umar sedang bekerja di kantornya pada suatu malam untuk urusan negara, putranya datang untuk urusan keluarga maka lampu di ruangan kerjanya langsung ia padamkan karena minyak yang digunakan untuk lampu menggunakan uang uegara dan uang negara berarti uang rakyat. Dia tidak ingin menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan keluarganya. Umar sangat memperhatikan kesejahteraan masyarakatnya, pada saat dinobatkan sebagai khalifah ia menyatakan bahwa akan melakukan perbaikan dan peningkatan kesejahteraan negeri yang berada dalam wilayah Islam dari pada menambah perluasannya. Ini berarti prioritasnya adalah pembangunan dalam negeri. salah satu yang dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan melindungi kepentingan rakyat melalui kebijakan fiskal berupa peningkatan kemakmuran dengan mengurangi pajak yang dipungut dari kaum Nasrani dan menghentikan pajak dari umat Islam. Di masanya Umar menetapkan otonomi daerah. Kebijakan lain yang dilakukan beliau adalah:
-

Menetapkan gaji para pejabat sebesar 100 hingga 200 Dinar, dengan gaji sebesar itu maka para pejabat dilarang melakukan pekerjaan sampingan dan harus fokus pada pekerjaannya.

- Membasmi cukai dan kerja paksa - Memperbaiki tanah-tanah pertanian, irigasi, penggalian sumur-sumur, pembangunan jalan - Menyediakan penginapan bagi musafir dan menyantuni fakir miskin.

II.b.4.Daulah Abbasiyyah

SPEI

halaman- 23

Para pendiri dinasti ini adalah keturunan Abbas, paman nabi Muhammad SAW, sehingga dinamakan Dinasti Abbasiyyah. Diantara khalifah-khalifah yang berkuasa pada Dinasti Abbasiyah, dalam sejarah tercatat kecemerlangan di bidang kemajuan ekonomi dan kemakmuran dicapai pada khalifah Harun Al- Rasyid. Pada masa ini khalifah melakukan diversifikasi penerimaan negara untuk memperoleh penerimaan yang optimal. Sumber pendapatan pada masa pemerintahan diperoleh dari kharaj, jizyah, zakat, fai, ghanimah, usyur harta lain seperti wakaf, sedekah, dan harta warisan yang tidak mempunyai ahli waris. Keuangan Negara dilakukan baitul maal yang dikelola oleh seorang wazir. Khalifah Harun Al Rasyid sangat memperhatikan masalah perpajakan sebagai salah satu sumber pendapatan negara. Hal ini karena kebijakan khalifah dipengaruhi oleh seorang fukaha yang Islam yaitu Abu Yusuf melalui bukunya Al-Kharaz. Kitab Al-Kharaz merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan Khalifah Harun Al-Rasyid mengenai keuangan publik Islam baik dari sisi penerimaan maupun dari sisi pendapatan. Kondisi perekonomian zaman Khalifah Abbasiyyah mengalami kemunduran bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga baitul maal penuh dengan harta. Pertambahan dana yang besar diperoleh dari al-Kharaj, semacam pajak hasil bumi. Setelah mencapai jaman kejayaan, Dinasti Abbasiyah pelan-pelan mengalami kemunduran, pendapatan negara menurun, sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat, diperingannya pajak serta banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Penerimaan negara yang makin berkurang tersebut tidak sejalan dengan pengeluaran membengkak yang antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah, jenis pengeluaran makin beragam, dan para pejabat melakukan korupsi. Hal ini secara bersama-sama dengan konflik politik menyebabkan Dinasti mengalami kemunduran.

III.
SPEI

PENUTUP
halaman- 24

Dari pembahasan di atas terlihat bahwa kebijakan fiskal mempunyai peran yang sangat strategis dalam penyelenggaraan negara. Pemimpin yang dapat melakukan kebijakan fiskal dengan benar dan tepat, akan membawa negara kearah kejayaan seperti yang dilakukan oleh Rasulullah serta khalifah setelahnya. Ini karena kebijakan fiskal adalah alat yang dimiliki negara untuk menghasilkan penerimaan, menggerakan perekonomian dan mendistribusikan pendapatan ke masyarakat. Sebaliknya kesalahan atau kegagalan dalam melakukan kebijakan fiskal akan membawa negara kepada kemiskinan serta kehancuran, seperti yang dialami oleh dinasti-dinasti Islam. Diantara kegagalan tersebut adalah pemimpin yang menyalahgunakan kekuasaannya untuk memanfaatkan sumber-sumber keuangan negara. Kesalahan dalam kebijakan fiskal bersama-sama dengan kemelut politik telah membawa negara Islam kepada jurang kehancurannya. Dari sejarah tersebut seyogianya dapat ditarik pelajaran oleh pemerintah negara Muslim agar kembali kepada nilai-nilai Islam dalam melakuka pengeloaan keuangan negara, agar tercipta masyarakat yang sejahtera.

SPEI

halaman- 25

DAFTAR PUSTAKA

Amalia, Euis, M.Ag. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam dari Masa Klasik hingga Kontemporer, Granada Press, 2007 Karim, Adiwarman, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, The International Institute of Islamic Thought (IIIT), Indonesia, Jakarta, 2002

Majid, M. Nazori, Pemikiran Ekonomu Islam Abu Yusuf Relevansinya dengan Ekonomi Kekinian, Pusat Studi Ekonomi Islam, 2003

Mannan, Prof M. Abdul, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, Dana Bhakti Wakaf, 1997

SPEI

halaman- 26

Muhamad, Kebijakan Fiskal dan Moneter dalam Ekonomi Islam, Salemba Empat, Jakarta, 2002

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam UII Yogyakarta, Ekonomi Islam, Raja Grafindo Persada, 2008 Perwataatmadja, H. Karnaen, Rekonstruksi Pemikiran Ekonomi Islam dari Masa Rasulullah sampai Masa Kini, bahan ajar mata kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, 2007

Sadeq, Abul Hasan M., Reading In Islamic Economic Thought, Longman Malaysia SDN, BHD, 1992

SPEI

halaman- 27

Agar efek fiskal berdampak positif bagi peningkatan taraf hidup masyarakat secara luas dan menyeluruh, pemerintah harus mengembangkan pola-pola kebijakan (skema) mikro yang bottom up dengan menyesuaikannya dengan potensi, kondisi, dan aspirasi warga masyarakat. Dari sisi permodalan negara dapat mengembangkan pola pinjaman tanpa bunga, subsidi, atau pola patnership seperti mudharabah dan musyarakah. Di sisi lain negara juga harus menyediakan infrastruktur, sarana dan pra sarana yang menunjang kegiatan produksi, jasa dan perdagangan masyarakat, seperti listrik, sarana komunikasi, jalan umum dan sarana transportasi, serta bangunan pasar. Juga negara harus memberikan kemudahan akses bahan baku, menyediakan informasi dan membantu pemasaran, termasuk memperkerjakan tenaga ahli dan konsultan untuk melatih dan membentuk jiwa wira usaha (interprenurship) ataupun keahlian teknis bagi para pekerja.

Dalam Tujuan kebijakan ekonomi Abu Yusuf adalah untuk mencapai Maslahah 'Ammah. Maslahah adalah kesejahteraan yanng sifatnya individu
SPEI halaman- 28

(mikro) maupun golongan (makro). Secara mikro, diharapkan manusia dapat menikmati hidup secara berarti dan penuh makna (meaning full). Secara makro juga diharapkan agar masyarakat dapat menikmati kedamainan dan ketenangan dalam hubungan interaksi sosial antar sesama, dan diatur dengan tatanan masyarakat yang saling menghargai antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya. Lebih lanjut alat ukur untuk mencapai Maslahah tersebut adalah : 1. Keseimbangan (al-Tawazun); 2. Kehendak bebas (al-Ikhtiyar) 3. Tanggungjawab/keadilan (al-Adalah); dan 4. Berbuat baik (al-Ikhsan).

SPEI

halaman- 29