Anda di halaman 1dari 24

1. Latar Belakang Metafora adalah ungkapan kebahasaan yang telah lama digunakan.

Teori-teori mengenai metafora menyebutkan bahwa metafora memiliki dua pengertian, yaitu metafora dalam arti luas dan dalam arti sempit. Untuk dapat memahami metafora dalam arti luas dan dalam arti sempit, ada baiknya dipahami terlebih dahulu klasifikasi majas yang dikemukakan Moeliono ( 1989: 175-177). Menurut Moeliono, seluruh jenis majas dapat dibagi menjadi tiga Kelompok, yaitu majas pembandingan yang terdiri perumpamaaan, (1) kiasan/metafora,

penginsana/personofikasi; (2) majas pertentangan yang terdiri dari hiperbola, litotes, irono; dan (3) amjas pertautan yang meliputi metonimia, sinekdoke, kilatan serta eufemisme. Metafora dalam arti luas dapat mencakup semua jenis majas dalam klasifikasi Moeliono diatas, sedangkan metafora dalam arti sempit dalah salah satu bagian dari majas perbandingan dalam klasifikasi moeliono diatas, yaitu perbandingan yang implicit, tanpa menggunakan kata seperti, sebagai, umpama, laksana, dan serupa diantara dua hal yang dibandingkan. Contoh: (1) The tongue is a fire lidah adalah api (2) They are all sitting on a keg of dynamite mereka semua sedang duduk diatas satu tong dinamit

Dalam penelitian ini metafora digunakan dalam arti sempit. Pendukung konsep metafora dalam arti sempit antara lain adalah Beekman dan Callow (1974), Fraser (1979), Larson (1984), dan Moeliono (1989). Menurut Beekman dan Callow (19740, contoh (1) diatas dapat dijelaskan sebagaia berikut tongue lidah pada contoh itu dibandingkan dengan fire api karena anggapan tentang adanya kemiripan anyara lidah dan api dalm kebudayaan tertentu. Lidah, melalui kata-katanya dapat mengahancurkan seperti halnya api menghancurkan bendabenda yang dilalapnya. Dengan demikian, titik kemiripan (point of similarity) antara lidah dan api adalah dapat menghancurkan. Sebagai bagian dari sebuah metafora, tongue lidah pada metafora (1) diatas disebut topik, yaitu benda yang dibicarakan, sedangkan fire api disebut citra (image), yaitu unsur yang digunakan untuk menjelaskan atu mendeskripsikan topik secara metaforis. Dengan demikian, sebuah metafora memiliki tiga bagian, yaitu topik, citra, dan titik kemiripan. Lebih lanjut Beekman dan Calloow (1974: 127), menjelaskan bahwa metafora terbentuk karena adanya ketidakcocokan kololaksi . Ketidakcocokan kolokasi tersebut dapat dibagi kedalam dua kelompok, yaitu ketidakcocokan kolokasi yang jelas (overt collocational clash) dan ketidakcocokan kolokasi tersembunyi (covert collocation clash). Ketidakcocokan kolokasi yang jelas adalah ketidakcoccokan kolokasi yang dapat langsung dikenali dalam satu kalimat tanpa perlu membandingkannya dengan konteks yang lebih luas, sedangkan ketidakcocoka kolokasi tersembunyi baru dapat diketahui setelah membandingkannya metafora teresbut dengan konteksnya. Contohnya adalah metafora (1) dan (2) diatas. Pada metafora (1)terdapat ketidakcocokan kolokasi yang jelas antara topik tongue lidah dengan citra fire api. Lidah adalah organ tubuh manusia, bukan api. Pada contoh (2) ketidakcocokan kolokasi teersebut tidak terlihat dalam satu kalimat. Penyimpangan kolokasi itu baru diketahui setelah membandingkan metafora tersebut dengan konteks yang lebih luas. Menurut konteksnya, they mereka yang menjadi topik metafora diatas, tidak benar-benar sedang duduk diatas satu tong dinamit, tetapi sedang menghadapi keadaan yang berbahaya. Keberbahayaan duduk di atas satu tong dinamit

digunakan untuk menggambarkan betapa berbahayanya keadaaan yang sedanhg mereka hadapi. Metafora baik dalam arti luas maupun dalam arti sempi. Merupakan jenis majas yang sangat sering digunakan komunikasi kebahasaan, seperti dan dapat ditemukan dalam berbagai bentuk dalam percakapan sehari0har, iklan, artikel, dan filosifis (1976:1) yang juga

dalam sutrat kabar, tulisan ilmiah tersbar dalam bernbagai disiplin ilmu

mengemukakan alas an-alasan mengapa metafora begitu banyak digunakan dan Makalah ini bertujuan membahas metafora dari segi penerjemahanya. Oleh karena itu, akn dibicarakan beberapa hal yang berkaitan denga teori dan masalah penerjemahan. Menurut Nida dan Taber (1974:12), menerjemahkan berarti mengalihkan pesan yang terdapat dalam bahas sumber (Bsu) ke dalam bahasa sasaran (Bsa) sedemikian rupa sehingga orang yang membacanya (atau mendengar) pesan itu dalam Bsa kesannya sama dengan orang yang membaca (tau mendengar) pesanitu dalam Bsu. Selain itu, pesan yang terdapat dalam Bsu harus diungkapkan sewajar mungkin dalam Bsa. Terjemahan yang demikian disebut terjemahan yang sepadan. Jadi sepadan tidak berarti sama. Kesepadanan adalah kesrupaan pesan yang diterima, disatu pihak dalam Bsu, dan dilain pihak oleh penerima dalam Bsa. Dengan demikian, kesepadanan tidak hanya diukur berdasarkan makna unsure bahasa yang bersangkutan, tetapi juga dengan pemahaman suatu unsur terjemahan oleh epnerimanya. Keserupaan pesan yang diterima oleh pembaca Bsu dan Bsa disebut kesepadaanan dinamis (dynamic equivalence). Sementra itu Larson (1984:17) berpendapat bahwa penerjemahan adalah pengalihan pesan dari Bsu ke Bsa dengan menggunakan struktur gramatikal dan leksikon ayng sesuia dalam bahasa sasaran dan konteks budayanya. Berdasarka definisi yang dikemukakan oleh Nida dan Taber serta Larson diatas, dapat dilihat bahwa penerjemahan melibatkan dua bahasa yang berbeda yang harus memiliki pesan yang serupa. Perbedaan antara Bsu dan Bsa itu dapat menimbulkan sejumlah masalah dalam penerjemahan Menurut Mouin (1963:189), secara teoritis penerjemahan itu tidak mungkin dilaksanakan karena terdapat banyak perbedaan diantara bahasa-

bahasa yang meliputi segi system dan struktur segi semantic serta kebudayaan yang melatarbelakangi bahasa-bahasa tersebut. Selain itu , (Catford 1965:49) juga mengemukakan bahwa setiapa bahasa itu bersifat sui generic, yaitu bahwa kaidahkaidahnya ditetapkan atas dasar bahas itu sendiri, sehingga teks sasasaran (Tsa) jarang sepenuhnya dapat mengganti teks sumber (Tsu) . Meskipun demikian, Mounin mengemukakan bahwa berkat danay sifat-sifat universal sebagian unsureunsur bahasa, yang ditunjang oleh adanya konvergensi kebudayaaan-kebudayaan di dunia, penerjemahan itu dapat dilakukan dengan cara mencari dan emnemukan padanan dalam Bsa. Merafora dalah makana yang merupakan hadsil dari pembandingan antara suatu topic yang dibicarakan denga citra yang diberikan kepada topic itu. Citra sebuah metafora terkait erat dengan kebudayaan yang melatarinya. Dalam kaitannya dengan penerjemahan, hal ini sering menimbulkan masalah. Contoh: (3) She is cat Dia (adalah) kucing. Topik metafora diatas adalah dia dan citranya adalah kucing. Menurut SnellHornby(1988:57), kesulitan menerjemahkan metafora disebabkan oleh perbedaan kebudayaan, konsep, dan symbol. Dalam bahasa Inggris, She is a cat Dia kucing bermakna pendendam dan iri hati. Dalam bahasa Jerman, katze kucing tidak diasosiasikan dengan dendam atau iri hati, tetapi dengan keapikan atau ketangkasan sehingga penerjemahan secara harfiah dari bahasa Inggris ke bahsa Jerman tidak dapat mengungkap makn metamorforisnya. Newmark (1988:104) juga menagkui bahwa metafora merupakan salah satu masalah yang sering timbul ditemukan dalam penerjemahan. Masalah tersebut muncul karena metafora sering tidak dapat diterjemahkan secara harfiah . Menurut Larson (1984:293), jika metafora diterjemahkan secara harfiah atau diterjemahkan secara kata demi kata sering menimbulkan salah pengertian. Lebih lanjut Larson menjelaskan beberapa alas an mengapa metafora sulit ditafsirkan dan tidak dapat diterjemahkan secara harfiah, yaitu : (1) citra yang digunakan dalam metafora mungkin tidak dikenal dalam bahasa sasaran; (2) topic metafora yang tidak diungkapkan denagn jelas ; (3) titik kemiripan yang implicit dan sulit dikenal; (4) titik kemiripan dapat ditafsirkan secara berbeda-beda dalam

kebudayaan yang berbeda-beda; (5) bahsa ssaran tidak membuat perbandingan seperti dalam metafora teks sumber; dan (6) tiap bahas berbeda vdalam frekuensi pemakian ametafotra dan cara menciptakanya. Ada beberapa bahasa yang jarang menciptakan metafora baru sehingga menerjemahkan metafora ke dalam bahas tersebut merupakan masalah yang serius. Untuk mencapai kesepadanan dalam penerjemahan metafora Tsu ke Tsa, Beekman dan callow (1974:144-149) mengemukakan beberapa cara. Cara-cara tersebut antara lain adalah menerjemahkan metafora menjadi salah satu bentuk berikut, yaitu metafora, simile dan bentuk nonfiguratif. Hampir sama dengan yang diungkapkan oleh Beekman dan Callow diatas , Larson (1984: 265-266) mengemukakan lima bentuk yang dapat menjadi padanan metafora Bsu, yaitu: (1) Bentuk metafora yang dipertahankan jika kedengarannya wajar dan jelas bagi pembacanya; (2) Simile, yaitu dengan menyebutkan perbandingannya secara eksplisit; (3) Metafora Bsa yang mempunyai makna yang sama sebagai pengganti metafora Bsu; (4) Metafora ditambah keterangan mengenai maknanya atau topic dan titik kemiripannya (5) Bentuk nonfigurative, dalam arti makna metafora dapat dijelaskan tanpa menggunakan citra metamorfosisnya

Pakar lain yang mengemukakan bentuk-bentuk yand dapat dijadikan padanan metafora adalah Newmark (1988: 89-91). Menurut Newmark, ada tujuh bentuk yang dapat digunakan sebagai padanan metafora. Lima diantaranya sama dengan yang dikemukakan oleh Larson diatas, Dua bentuk lainnya dari Newmark adalah:

(1)simile ditambah poenjelasannya (2) metafora yang dilesapkan, yakni jika suatu metafora terdapat berulang-ulang dalam sebuah teks, dalam penerjemahannya metafora tersebut dapat dilesapkan, dengan catatan bahwa teks bukanlah teks ekspresif1. Pelesapan metafora ini dilakukan jika penerjemah menilai bahwa metafora tersebut tidak begitu penting dan fungsi metafora tersebut sudah terpenuhi pada bagian lain dari teks sumber. Selain dengan menggunakan bentuk-bentuk terjemahan di atas, kesepadanan metafora Tsu dan Tsa juga dapat diperoleh dengan menggunakan prosedur penerjemahan. Beberapa pakar di antaranya Catford (1965), Nida (1982), Newmark (1988), dan Machali (1996) telah merngemukakan berbagai jenis prosedur penerjemahan. Prosedur tersebut antara lain adalah transferensi, naturalisasi, padanan cultural, padanan fungsional, sinonimi, transposisi, modulasi, kompensasi, analisis komponen, dan pemdanan berkonteks, dijelaskan secara ringkas. Transposisi dikemukakan oleh Catford (1996:73-82). Prosedur transposisi dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu pergeseran tataran dan pergeseran . Pergeseran tataran terjadi bila transposisi menghasilakana unsure Bsa yang berbeda tataranya, yaitu tataran fonologi, grafologi, gramatikal, dan leksikal dengan unsur Bsu. Pergeseran kategori terjadi bila transposisi menghasilakn unsure Bsa yang berbeda dari segi struktur, kelas kata, unit, dan sistemnya. Prosedur modulasi dijelaskan antara lain oleh Hoed ( 1993) dan Machali (1996:72). Kedua pakar ini mengemukakan prosedur modulasi yang berbeda. Menurut Hoed (1993), modulasi dapat dibagi atas dua kelompok yaitu penggeseran sudut pandang dan penggeseran cakupan makna. Penggeseran sudut pandang terjadi apabila unsure Bsu memperoleh padanan Bsa yang berbeda sudut pandangnya. Penggerseran cakupan makna terjadi jika unsure Bsa memperoleh padanan Bsa yang berbeda cakupan maknanya. Sementara itu, Machali (1996:72) membagi modulasi menjadi modulasi wajib dan modulasi bebas. Modulasi wajib dilakukan apabila suatu kata, frasa, atu struktur, tidak ada padanannya dalam Bsa, sehingga perlu dimunculkan. Modulasi bebas adalah

prosedur penerjemahan yang dilakukan karena alas an nonlinguistic, misalnya untuk memperjelas makan, menimbulkan kesetalian dalam Bsa, dan mencari padanan yang terasa alami dalam Bsa. Dua prosedur penerjemaham lain adalah pemadanan berkonteks ( contextual conditioning) dan transferensi ( transference). Pemadanan berkonteks adalah penempatan suatu informasi dalam konteks agar maknanya jelas bagi si penerima informasi atu berita (Nida 1982). Transferensi adalah pengalihan nilai-nilai yang terdapat dalam Bsu melalui unsure bahasa yang digunakan untuk mewakilinya dalam Bsa. Salah satunya adalah berupa pemindahan unsur Bsu ke dalam Bsa seperti apa adanya. Kata-kata yang dipindahkan tersebut, kemudian menjadi kata pinjaman dalam Bsa ( Newmark 1988:81) Pada tataran teks, kesepadanan dapat dinilai berdasarkan kesesuaian antara metode yang digunakan penerjemah dari jenis teks yang diterjemahkan. Metode penerjemahn menurut Newmark ( 1988:45-52) dapat dibedakan atas metode yang berorientasi pada Bsu dan metode yang berorientasi pada Bsa. Metode yang berorientasi pada Bsu adalh metode penerjemahan kata demi kata, penerjemahn harfiah, penerjemahdan setia, dan penerjemahan semantic. Metode yang berorientasi pada Bsa adalh yang adptasi, penerjemahan bebas, penerjemahan idiomatic, dan pernerjemahan komunikatif. Jenis-jenis teks menururt Newmark (1988:39-43), dapat dibedakan berdasarkan fungsinya, yaitu teks dengan fungsi ekspresif, informative, vokatif, estetis, fatis, dan metalingual. Uraian secara rinci mengenai metode penerjemahan dan jenis-jenis teks dapat dilihat pada Bab III tentang kerangka teori tesis ini. Dengan memperhatikan pandangan Larson (1984:293) dan Newmark (1988:104) bahwa metafora tidak selalu dapat diterjemahkan secara harfiah atau diterjemahkan secara kata per kata, dan konsep kesepadanan dinamis yang dikemukakan oleh Nida dan Taber (1972:12), saya bermaksud melakukan penelitian atas terjemahan metafora dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dengan data yang berasal dari novel berbahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahsa Indonesia. Rumusan Masalah

Pada bagian latar belakang telah dijelaskan ketidakcocokan kolokasi dan tipe pembandingan yang dapat dimiliki oleh sebuah metafora. Dari segi penerjemahannya, Larson (1984:293) menjelaskan bahwa ada enam alasan mengapa metafora tidak bisa diterjemahkan secara harfiah. Snell-Hornby( 1988:57) menyebutkan terdapat pengaruh budaya yang terkait dengan unsur metaforis yang digunakan dalam Tsu sehingga jika unsur tersebut diterjemahkan secara harfiah ke dalam Tsa dapat saja berbeda maksudnya dengan makna metaforisnya dalam Tsu. Selain itu, juga dijelaskan, seperti bahwa untuk mencapai kesepadanan ada beberapa bentuk terjemahna metafora yang dapat digunakan, seperti yang dikemukakan Beekman dan Callow(1974), Larson (1984) dan Newmark (1988). Kesepadanan juga dapat dicapai dengan menggunakan prosedur penerjemahan. Selain itu, pada tataran teks harus disesuaikan metode yang dugunakan dengan jenis teks yang diterjemahkan. Berdasarkan dari kenyataan di atas, dari data yang diteliti ingin diketahui: (1) Metafora dengan ketidakcocokan kolokasi dan tipe pembandingannya yang terdapat dalam Tsu (2) Bentuk terjemahan yang digunakan dalam penerjemahan metafora Tsu ke dalam Tsa (3) Sepadan tidaknya metafora Tsu dengan terjemahannya dalam Tsa (4) Prosedur penerjemahan yang digunakan dalam penerjemahan metafota Tsu ke dalam Tsa (5) Faktor-faktor yang menyebabkan tercapai tidaknya kesepadanan dalam penerjemahan metafora Tsu ke dalam Tsa (6) Ke penerjemahan yang digunakan penerjemah dalam penerjemahan teks sumber (Tsu) ke teks sasaran (Tsa). Ada tidaknya kesesuaian antara metode penerjemahan dengan jenis teks yang diterjemahkan.

Tujuan Penelitian ini bertujuan mengungkapkan kesepadanan metafora Tsu dengan terjemahannya dalam Tsa. Selain itu, penelitian ini ditujukan untuk mengungkapkan factor-faktor yang menyebabkan tercapai tidaknya kesepadanan antara metafora Tsu dan terjemahanya dalam Tsa, yang dapat mencakupi bentuk terjemahan, prosedur penerjemahan maupun struktur semantik metafora yang diterjemahkan

BAB II KERANGKA TEORI

2.1 Klasifikasi Majas Sebelum menjelaskan klasifikasi metafora berdasarkan cakupannya, yaitu metafora dalam arti luas dan dalam arti sempit, berikut ini adalah klasifikasi mjas yang dikemukakakn oleh Moeliono (1989). Dengan memperhatikan klasifikasi itu, perbedaan antara metafora dalam arti luad dan etafora dalam arti sempit menjadi lebih jelas. Moeliono ( 1989) mengklasifikasikan majas kedalam tiga kategori, yaitu majas perbandingan, pertentangan, dan majas pertautan. Ketiga majas tersebut dapat dibagi lagi kedalam subkategori sebagai berikut. a. Majas perbandingan ( i ) perumpamaan Pembandingan dua hal yang sebenarnya berbeda tetapi sengaja dianggap Sama. Pembandingan tersebut dinyatakan secara eksplisit dengan menggunakan kata seperti ibarat, bak, umpama, laksana, dan serupa. Contoh: seperti cacing kepanasan ( ii) kiasan/metafora Pembandingan yang kiasan/ metafora dinyatakan secara implisit, jadi tanpa kata seperti atau sebagai diantara dua hal yang berbeda Contoh: anak emas (iii) penginsanan/ personifikasi Jenis majas yang melekatkan sifat-sifat insani kepada barang yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak Contoh: angin yang meraung

b. Majas pertentangan Majas pertentangan memiliki 3 subkategori yaitu hiperbola, litotes, dan ironi.

( i ) Hiperbola Ungkapan yang melebihkan apa yang sebenarnya dimaksudkan, yaitu jumlahnya, ukurannya atau sifatnya. Misalnya: sejuta kenangan indah (ii) Litotes ( understatement) Majas yang dalam pengungkapannya menyatakan sesuatu yang positif dengan bentuk yang negatif atu bentuk yang bertentangan. Litotes mengurangi atau melemahkan kekuatan Misal...... (iii) Ironi Majas yang menyatakan makna yang bertentangan dengan maksud berolok-olok. Maksud itu dapat dicapai dengan mengemukakan (1) makna yang berlawanan dengan makna yang sebenarnya, (2) ketaksesuaian antara kenyataan dan harapan, (3) ketaksesuaian antara suasana yang diketengahkan dan kenyataan yang mendasarinya c. Majas pertautan Kategori ini terdiri atas 4 subkategori, yaitu sinekdoke, kilatan, dan eufemisme yang akan dijelaskan sebagai berikut. ( i ) metonimia Pemakaian nama dari atau hal yang ditautkan dengan orang, barang, atau hal sebagai gantinya. Kita dapat menyebut pencipta atau pembuatnya jika yang kita maksudkan ciptaan atau buatannya, ataupun kita menyebut bahannya jika kita maksud barangnya. Contoh: (karya) Ernest Hemingway masih dapat kita nikmati saat ini Amir hanya dapat (medali) perunggu (ii) sinekdoke Majas yang menyebut nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhannya, atau sebaliknya pernyataan yang sebenarnya.

Contoh: 3 atap (rumah), (kesebelasan) jakarta VS jayapura (iii) kilatan Menunjuk secara tidak langsung ke suatu peristiwa atau tokoh berdasarkan peranggapan adanya pengetahuan bersama yang dimiliki oleh pengarang dan pembaca dan adanya kemampuan pada pembaca untuk menangkap pengacuan itu. Misalnya: apakah peristiwa poso akan terjadi lagi? (kilatan yang mengacu ke peristiwa kerusuhan) (iv) eufimisme Ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar, yang dianggap merugikan, atau yang tidak menyenangkan. Misal: meninggal, tinja, tuna karya. Namun eufimisme dapat juga dengan mudah melemahkan kekuatan diksi karangan misalnya: kemungkinan kekurangan maka dan lain-lain. 2.2 Klasifikasi Teori Metafora Berdasarkan Cakupan Pengertiannya Berdasarkan jenis majas yang dicakupinya, pengertian metafora dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok, yaitu metafora dalam arti sempit dan dalam arti luas. Dengan berpedoman pada klasifikasi majas yang dikemukakan oleh Moeliono pada bagian 2.1 di atas, cakupan metafora dalam arti luas dan dalam arti sempit da[at dijelaskan sebagai berikut. Metafora dalam artis sempit mencakupi satu jenis majas saja dalam klasifikasi yang dikemukakan oleh Moeliono di atas, yaitu salah satu subkategori majas perbandingan. Dengan demikian, metafora dalam arti sempit adalah majas perbandingan yang diyatakan secara implisit tanpa kata seperti atau sebagai dalam bahasa indonesia atau kata as atau like dalam bahasa Inggris, di antara dua hal yang dibandingkan. Metafora dalam arti luas dapat mencakupi semua jenis majas yang terdapat dalam klasifikasi Moeliono di atas. Namun, perlu diperhatikan bahwa untuk dapat diklasifikasikan sebagai teori yang menempatkan

metafora dalam arti luas, suatu teori tidak harus tidak harus memasukan keseluruhan jenis majas yang terdapat dalam klasifikasi Moeliono ke dalam pengertian metafora dalam arti luas, misalnya teori pragmatis, menyatakan bahwa hanya metafora ( seperti yang diklasifikasikan Moeliono di atas), metonimia, dan sinekdoke yang termasuk ke dalam metafora; sedangkan teori lainnya seperti teori antropologi menyatakan bahwa personifikasilah yang dapt dikelompokkan ke dalam metafora. Dengan demikian, batasan metafora dalam arti luas dan dalam arti sempit dapat dipertegas dengan menyatakan bahwa metafora dalam arti sempit hanya mencakupi satu jenis majas saja dalam klasifikasi Moeliono, yaitu majas pembandingan yang dinyatakan secara implisit, sedangkan metafora dalam arti luas mencakupi lebih dari satu jenis majas yang terdapat dalam klasifikasi tersebut. Berikut ini diuraikan teori-teori yang tergolong ke dalam metafora dalam arti luas dan dalam arti sempit. 2.2.1 Metafora dalam Arti Luas Para pakar yang menempatkan metafora dalam arti luas antara lain adalah mereka yang dapt dikelempokkan ke dalam penganut teori konotasi, teori interaksi, teori pragmatis, dan teori antropologi. Teori-teori tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

2.2.1.1 Metafora dalam Teori Konotasi Menurut teori konotasi, arti kata yang digunakan secara metaforis dapat dijelaskan dengan dasar makna konotasinya. Beradsley, seorang pakar teori konotasi yang paling menonjol, seperti dikutip oleh Mooij (1976:82-83), menyatakan bahwa suatu kata memiliki makna standar, yaitu makna kata yang didasarkan atas penunjukan yang lugas pada sesuatu di luar bahasa yang didasarkan atas konvensi tertentu. Selain dari makna standar, seduah kata juga memiliki makna konotatif, yaitu nilai rasa yang melekat pada satuan

bahasa sebagai hasil pertautannya dengan pengalaman pemakai bahasa, baik itu pengalaman pribadi, pengalaman kelompok, atau pengalaman masyarakat. Contoh yang diberikan Beardsley adalah kata laut . Pada sekelompok masyarakat bahasa tertentu, kata tersebut mengandung konotasi sesuatu yang membahayakan

Teori Pembandingan

Dilihat dari tipe pembandingnya, menurut Beekman dan Callow, metafora dapat dibagi atas dua tipe, yaitu metafora dalam perbandingan penuh (full comparison) dan metafora dengan perbandingan tak penuh (abbreviated comparison). Metafora dengan perbandinga penuh adalah metafoora yang ketiga bagiaanya, yaitu topic, citra, dan titik kemiripan,, disebutkan secara eksplisit, sedangakan metafora dalam perbandinagan tak penuh adalah metafora yang memiliki bagian yang implicit yang terdiri dari empat tipe, yaitu metafora dengan (1) titik kemiripan implicit, (2) topic dan titik kemiripan implicit, (3) topic implicit, dan (4) titik kemiripan dan sebagian citra implicit Menurut teori pembandinga, metafora adalah salah satu bagian dari majas pembandingan yang dibentuk berdasarkan kriteria kesamaan. Noth (1995:128) menyatakan bahwa teori pembandingan menempatkan metafora dalam arti sempit, yaitu suatu bentuk figuratif khusus diantara bentuk-bentuk figuratif yang lain seperti sinekdoke, metonimia, dan hiperbole. Para pakar yang menganut pandangan metafora dalam arti sempit adalah Beekman dan Callow (1974), Fraser (1979), Miller ( 1979), Larson ( 1980), dan Moeliono (1989). Pendapat para pakar di atas dapat diuraikan sebagai berikut. Definisi metafora menurut Beekman dan Callow (1974:127), larson (1984:249), Miller (1976:226), Fraser (1979:177), dan Moeliono (1989:175) adalah suatu pembandingan yang implisit, tanpa menggunakan kata like atau as dalam bahasa Inggris, atau kata sebagai, seperti, ibarat, laksana, umpama, bak, dan serupa dalam bahasa Indonesia. Contoh yang diberikan beekman dan Callow adalah: (1) The watchmen are all dumb dogs, they cannor bark. Penjaga-penjaga itu adalah anjing-anjing yang bisu, yang tudap dapat menyalak. (2) The tongue is a fire Lidah adalah api Pada contoh (1) di atas, terlihat ada dua unsur yangdibandingka, yaitu the watchmen penjaga-penjaga itu dengan dogs anjing-anjing. Pembandingan itu didasarkan atas titik kemiripan antara the watchmen penjaga-penjaga dengan dogs anjing, yaitu dumb bisu disebutkan secara eksplisit. Pada contoh (2), lidah dibandingkan dengan api.Kemiripan antara lidah dan api dalah lidah

melalui kata-kata yang dihasilkannya dapat menghancurkan seprti halnya api dapat menghancurkan benda-benda yang dilalapnya. Dengan demikian, titik kemiripan antara lidah dan api adalah dapat menghancurkan. Pada contoh (2) dia tas, titik kemiripan itu tidak disebut secara eksplisit. Menurut Fraser (1979:176), metafora disusun olen unsur-unsur yang memperlihatkan ketidaksesuaian semantis secara harfiah tidak berterima. Dengan kata lain, jika dipahami secara harfiah metafora itu tidak bermakna. Sejalan dengan Fraser di atas, Beekman dan Callow (1974:127) menyatakan bahwa metafora muncul dalam bentuk ketidakcocokan kolokasi. Sebelum menguraikan ketidakcocokan kolokasi yang dapat membentuk sebuah metafora, maka terlebih dahulu akan diberikan penjelasa singkat mengenai kolokasi. Menurut Palmer (1981:75-78), kolokasi adalah asosiasi semantis antara dua kata atau lebih. Kolokasi itu dapat dibedakan atas tiga kelompok. Kelompok pertama adalah kolokasi yang benar-benar didasarkan pada kenyataan yang ditunjukkan oleh makna kata-kata yang membentuknya. Misalnya kolokasi white chocolate coklat gelap. Kata chocolate dapat berkolokasi dengan jenis warna, yaitu white putih karena dalam kenyataan, memang ada coklat yang berwarna putih. Akan tetapi, dalam bahasa Inggris tidak ditemukan kolokasi blue goat kambing biru karena dalam kenyataan memang tidak pernah ditemukan kambing berwarna biru. Kelompok kedua adalah kolokasi yang didasarkan pada rentangan kolokasi ( collocational range), yaitu suatu kata dapat berkolokasi dengan setiap anggota dari kelompok kata yang memiliki ciri semantis yang sama. Misalnya, penutur suatu bahasa mengetahui nomina apa yang dapat digunakan bersama dengan verba atau adjektiva tertentu sehingga ia dapat menolak atau menerima kolokasi tetentu yang tidak pernah didengarnya berdasarkan pengetahuannya mengenai rentangan kolokasi. Contohnya, preety cantik hanya berkolokasi dengan makhluk berjenis kelamin perempuan sehingga dapat ditemukan kolokasi pretty girl gadis cantik atau pretty woman wanita cantik tetapi tidak ditemukan kolokasi pretty boy anak laki-laki yang cantik, kecuali dengan maksud menyindir.

Kelompok ketiga adalah kolokasi yang lebih sempit, yaitu kolokasi yang terbentuk karena kebiasaan suatu masyarakat bahasa tertentu dalam menggunakann bahasanya.contoh dalam bahasa Inggris addled. Kata tersebut hanya berkolokasi dengan kata egg dan brain. Menurut Moeliono (1988:61), kolokasi dalam bahasa Indonesia disebut juga sanding kata. Contoh kolokasi yang lazim dalam bahasa Indonesia menurut Moeliono adalah berkata dengan atau mengadakan kepada tetapi tidak lazim digunakan berkata kepada. Ketidakcocoikan kolokasi, menurut Beekman dan Callow ( 1974: 162), adalah ketidakcocokan komponen makna suatu kata dengan komponen makna lainnya yang terdapat bersama-sama dalam suatu teks. Ketidakcocokan itu tidak disebabkan oleh kesalahan tata bahasa, tetapi kesalahan dalam pemilihan kata. Contohnya: the silent smile senyuman bisu. Pada ungkapan itu terdapat ketidakcocokan kolokasi yang disebabkan oleh ketidakcocokan koponen makna kata silent bisu. Smile senyum tidak memiliki komponen dapat bersuara yang mengeluarkan suara adalah mulut; sehingga tidak mungkin dikatakan bisu. Lebih lanjut, Beekman dan Callow menjelaskan bahwa ketidakcocokankolokasi yang dapat membentuk metafora dapat dibagi ke dalam Dua kategori, yaitu ketidakcocokan kolokasi yang jelas (overt collocational clash) dan ketidakcocokan kolokasi yang tersembunyi (covert collocational clash). Ketidakcocokan kolokasi yang jelas adalah ketidakcocokan kolokasi yang langsung diketahui dalam suatu kalimat tanpa perlu diletakkan dalam konteks yang lebih luas. Contoh yang diberikan Beekamn dan Callow untuk ketidakcocokan kolokasi yang jelas adalah: (3) He is a choosen vessel Dia adalah bejana yang terpilih (4) You are the salt of the earth Kalian adalah garam dunia Ketidakcocokan kolokasi pada contoh itu secara berturut-turut dapt dijelaskan sebagai berikut. Subjek pada contoh (3) dan (4), yaitu he dia dan you kalianmengacu kepada manusia dan manusia jelas bukan benda mati yang dapat berupa bejana atau garam.

Ketidakcocokan kolokasi yang tersembunyi hanya dapat diketahui dengan membandingkan metafora itu dengan konteks yang lebih luas. Pada awalnya mungkin saja metafora ini adpat dipahani secara harfiah. Contoh: (5) Tsu: Their tongues melted my skin (SHV: 1) Tsa: Lidah mereka melelehkan kulitku (BKU: 1) Citra.............................................................. Menurut Miller (1979:227-229) ada tiga langkah yang dapt diambil untuk dapat memahami metafora, yaitu (a) pengenalan (recognition) , (b) rekonstruksi, dan (c) interpretasi. Pada langkah pengenalan, pembaca menyadari bahwa konsep yang diperolehnya dari teks berbeda dengan fakta yang terjadi pada dunia nyata. Berarti, pembaca menyadari bahwa ada sesuatu yang salah, atau sesuatu yang tidak berhubungan dengan konteks, kemudian memeriksanya, lalu memutuskan bahwa bentuk tersebut adalah metafora. Langkah kedua dalah rekonstruksi. Rekonstruksia dari pembandingan yang implisit merupakan langkah yang sangat penting dalam memahami metafora. Karena Miller beranggapan bahwa metafora merupakan simile yang diringkaskan, langkah rekonstruksi yang dikemukakan Miller merupakan proses terbentuknya metafora yan berasal dari simile.Rekonstruksi ini, menurut Miller dapat dilakukan dengan dua cara: (a) Metafora dapat diperoleh dengan mengganti unsur yang menunjukan pengeksplisitan pembandingan, yaitu is like sehingga menjadi implisit dengan menggunakan is. Contoh: (6)That child is like a greedy little pig Anak itu seperti babi kecil yang rakus Contoh (6) di atas dapat dijadikan metafora dengan mengganti is like menjadi is sehingga pernyataan di atas berbunyi : That child is a greedy little pig Anak itu adalah babi kecil yang rakus

(b) Jika unsur yang dibandingkan itu merupakan klausa atau kalimat, penggantian is like dengan is tidak selalu dapat dilakukan. Contoh: (7)The crowd rushed through the door like a river bursting through a damn. Kerumunan orang-orang berdesak-desakan keluar dari pintu seperti air sungai keluar dari bendungan Pernyataan (7) yang merupakan pembandingan yang eksplisit, tidak dapat diubah menjadi metafora dengan menghilangkan like. Dalam kasus seperti ini, metafora dapat dihasilkan dengan menominalkan kalimat pertama sehingga menjadi : (8) The crowd rushing through the door was a river bursting through a damn Kerumunan orang yang berdesak-desakan keluar dari pintu adalah air sungai yang keluar dari bendungan Selanjutnya, Miller mengingatkan bahwa metafora berkaitan dengan pernyataan pembandingan, tetapi tidak semua pernyataan pembandingan yang menggunakan kata as atau like dalam bahasa Inggris dapat diubah menjadi metafora. Pembandingan sejati seperti Encylopedias are like dictionaries Ensiklopedi seperti kamus tidak dapat menjadi metafora jika kata like dihilangkan. Langkah ketiga, menurut Miller adalah interpretasi. Interpretasi merupakan proses pencarian latar yang mendasari pembandingan yang terdapat dalam suatu metafora. Untuk itu, perlu dilihat konteks yang digunakan oleh penulis untuk membnadingkan suatu hal dengan hal lain. Contoh: (9) Sam is a wirewolf Sam adalah manusia serigala Dari metafora (9) di atas, dapt dipahami bahwa ada beberapa ciri yang dimiliki oleh serigala yang juga dimiliki oleh Sam. Namun, jika metafora di atas berdiri sendiri,a gak sulit bagi pembaca untuk menentukan dalam hal apa John dan serigala memiliki persamaan. Untuk itu, diperlukan pengetahuan mengenai konteks tempat metafora tersebut terdapat. Adakalanya langkah rekonstruksi yang telah dikemukakakan di atas, yang dapat dilakukan bebas konteks, tidak berterima. Pemisahan antara proses rekonstruksi dan interprestasi, menurut Miller,

bukanlah merupakan dikotomi yang tajam melainkan perbedaan dalam hal penekanan. Bagian-bagian Metafora dan Tipe Pembandingannya Menurut Beekman dan Callow (1974: 127) metafora terdiri atas tiga bagian, yaitu (a) topik : benda atau hal yang dibicarakan; (b) Citra1 : bagian metaforis dari majas tersebut yang digunakan untuk mendeskripsikan topik dalam rangka pembandingan; (c) titik kemiripan : bagian yang memperlihatkan persamaan antara topik dan citra. Ketiga bagian metafora tersebut dapat dilihat pada contoh (1) di atas. Topik metafora pada contoh (1) di atas adalah the watchmen penjaga-penjaga itu; citranya adalah dogs anjing, dan titik kemiripannya adalah dumb, cannot bark bisu, tidak dapat menyalak. Di atas memperhatikan definisi metafora yang telah diuraikan pada bagian 3.1 di atas, seta bagian-bagian metafora tersebut, dapat disimpulkan bahwa suatu ungkapan kebahasaaan dapat disebut metafora jika ungkapan itu memiliki dua unsur yang dibandingkan atas dasar kemiripan tertentu. Unsur yang dibicarakan disebut topik, sedangkan unsur yang dugunakan untuk mendeskripsikan topik tersebut secara metaforis disebut citra. Lebih lanjut, Beekman dan Callow menjelaskan bahwa ketiga bagian yang menyusun metafora tidak selalu disebutkan secara eksplisit. Berdasarkan bagian yang dinyatakan secara eksplisit, metafora dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu metafora dengan pembandingan penuh ( full comparison) dan metafora Dengan pembandingan tak penuh (abbreviated comparison). Metafora dengan pembandingan penuh terjadi jika ketiga bagian yang membangun metafora tersebut yaitu topik, citra, dan titik kemiripan disebutkan secara eksplisit. Beekman dan Callow memrinci empat tipe metafora dengan pembandingan tak penuh yaitu: (a) titik kemiripan tidak disebutkan Untuk mengetahui titik kemiripan diperlukan pengetahuan tentang konteks tempat metafora tersebur berada atau pemahaman terhadap makna simbol dalam

masyarakat Bsa. Menurut Beekman dan Callow (1974:129), tipe pembandingan tidak hanya dimiliki oleh metafora tetapi juga dimiliki oleh simile. (b) topiknya tidak disebutkan Contoh yang diberikan oleh Beekman dan Callow untuk metafora jenis ini diambilnya dari kitab injil, yaitu: (10) The sheep will be scattered Domba-domba itu akan tercerai-berai (Markus 14:27) Dalam contoh (10) shepp domba adalah citra; will be scattered akan terceraiberai adalah titik kemiripannya; dan diciplines murid adalah topik yang disebutkan secara eksplisit. Sebagaimana domba tercerai-berai jika gembalanya terbunuh, seperti itu pula murid-murid Kristus tercerai-berai. (c) titik kemiripan dan topik tidak disebutkan Contoh: I am not necessarily looking for an empty throne to occupy Aku tidak perlu mencari singgasana kosong untuk diduduki Pada contoh di atas hanya citranya an empty thrones singgasana kosong yang disebutkan secara eksplisit . Berdasarkan konteksnya dapat diketahui bahwa singgasana kosong digunakan untuk menjelaskan topik yaitu kedudukan dalam sebuah perusahaan. Titik kemiripan antara citra singgasana kosong dan topik yaitu kedudukan tidak disebutkan secara eksplisit. (d)titik kemiripan dan sebagian citra tidak disebutkan Metafora dengan tipe ini agak berbeda dengan ketiga tipe yang telah dijelaskan di atas. Pada setelah member yang menjadi pusat perhatian adalah kejadian. Contoh: Quench not the spirit jangan padamkan semangat Citra pada contoh( ) di atas adalah quench padamkan; jika disebutkan secara lengkap, citra dari kalimat di atas adalah people quench fire orang memadamkan api dan topiknya adalah people the spirit orang semangat. Titik kemiripan antara api dan semangat kedua-duanya dapat dipadamkan . Dengan melihat keempat jenis metafora tak penuh di atas, dapat disimpulkan bahwa citra

merupakan bagian essensial dalam metafora yang selalu disebutkan secara eksplisit.

Jenis-jenis Metafora
Berdasarkan peranan citra dalam sebuah metafora Beekman dan Callow (1974: 131-136) membedakan metafora menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah metafora yang dapt dimengerti oleh penutur asli setelah memberi perhatian khusus kepada makna primer dari kata-kata yang digunakan secara metaforis. Kedua, metafora yang dapat dimengerti oleh penutur asli secara langsung, tanpa member perhatian khusus kepada makna primer dari kata-kata yang dugunakan secara metaforis. Metafora kelompok pertama disebut metafora hidup (live metaphor) dan metafora kelompok kedua disebut klise ( dead metaphor). Contoh metafora hidup: ( ) Marrys marriage is an icebox perkawinan marry adalah lemari es Untuk dapat mengerti metafora di atas, penutur asli perlu member I perhatian khusus pada makna primer icebox lemari es, yaitu alat pendingin untuk menyimpan makanan agar tidak cepat membusuk. Dengan membandingkan makna primer dari citra ice box lemari es dengan topik dari metafora tersebut yaitu perkawinan Marry penutur asli dapat menangkap makna tersebut bahwa perkawinan mary tidak bahagia karena perkawinan tersebut dingin (seperti lemari es) tidak ada kehangatan interpersonal dalam perkawinan tersebut. Perbedaaan

pemahaman klise dan metafora hidup dijelaskan oleh Beekman dan Callow dengan menggunakan segitiga yang diadaptasi dari Odgen dan Richard (1952). Untuk memahami segitiha ini, ada beberapa konsep yang perlu dipahami, yaitu simbol, referensi (reference), dan acuan (referent). Simbol adalah kata yang ditulis atau diucapkan; referensi adalah konsep yang muncul dalam pikiran seseorang ketika ia mendengar atau membaca kata tersebut. Acuan adalah unsur luar bahasa yang ditunjuk oleh unsur bahasa. Contoh: benda yang disebut buku adalah acuan dari kata buku. Segitiga tunggal memperlihatkan proses pemahaman klise, idiom, dan kata apapun yang tidak digunakan sebagai figur yang hidup.

Gambar 1: Proses pemahaman klise makna

simbol ------------------------------------

acuan

Diadaptasi dari: Odgen dan Richard oleh Beekman dan Callow (1974) Gambar 2 : Proses pemahaman metafora hidup makna primer makna figuratif

referen primer simbol dari metafora hidup Dari: Beekman dan Callow (1974:132) Gambar (2) di atas memperlihatkan seorang penutur asli yang mendengar atau membaca metafora hidup denagn cara tidak langsung menangkap apa yang dimaksud oleh metafora itu, tetapi perlu memberi perhatian sebentar pada acuan primer dari kata-kata yang digunakan secara metaforis, sebaliknya klise dapat langsung dipahami tanpa perlu memberi perhatian khusus pada acuan primer dari kata-kata yang digunakan secara metaforis. Dengan demikian, dasar yang dapat digunakan untuk membedakan antara klise dan metafora hidup menurut Beekman dan Callow adalah kebergantungan makna figuratif suatu kata yang terdapat pada makan primernya. Jika makna figuratif suatu kata yang terdapat pada suatu metafora bergantung pada makna primernya, metafora itu adalah metafora hidup referen figuratif