Anda di halaman 1dari 24

TUGAS KASUS GAMBARAN KASUS ORTHOPEDI : POST OPERASI AFF PLATE, REMOVE SEQUESTRUM TIBIA DEXTRA, EKSTERNAL FIKSASI

PROKSIMAL TIBIA DAN DISTAL TIBIA Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah Lanjut II Oleh : Kelompok 2

PROGRAM MAGISTER ILMU KEPERAWATAN (KMB) FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA 2011 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Saat ini pembangunan dalam bidang transportasi dan lalu lintas berkembang dengan pesat, diantaranya pembangunan sarana dan prasarana transportasi yang memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat. Namun disisi lain keadaan itu menyebabkan angka kecelakaan lalu lintas semakin bertambah. Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat tahun 2009 terdapat lebih dari 7 juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan dan sekitar 2 juta orang mengalami

kecacatan fisik. Salah satu insiden kecelakaan yang memiliki prevalensi cukup tinggi yakni insiden fraktur ekstremitas bawah yakni sekitar 46,2% dari insiden kecelekaan yang terjadi. Fraktur merupakan suatu keadaan dimana terjadi diistegritas tulang. Penyebab terbanyak adalah insiden kecelakaan, tetapi faktor lain seperti proses degeneratif juga dapat berpengaruh terhadap kejadian fraktur (Depkes RI, 2009). Prinsip menangani fraktur meliputi: (1) reduksi yaitu memperbaiki posisi fragmen yang terdiri dari reduksi tertutup (tanpa operasi) dan reduksi terbuka (dengan operasi), (2) mempertahankan reduksi (immobilisasi) yaitu tindakan untuk mencegah pergeseran dengan traksi terus-menerus, pembebatan dengan gips, pemakaian penahan fungsional, fiksasi internal dan fiksasi eksternal, (3) memulihkan fungsi yang tujuannya adalah mengurangi oedem, mempertahankan gerakan sendi, memulihkan kekuatan otot dan memandu pasien kembali ke aktifitas normal (Apley dan Solomon, 1995). Immobilisasi dengan internal fiksasi adalah: (1) plate and screws, (2) cortical bone graft and screws, (3) intra medular nail, (4) screw plate and screws, (5) nail plate, (6) oblique transfixion srews, (7) circumferential wire band (Adams, 1992). Insiden fraktur dapat diatasi dengan baik apabila dilakukan tindakan segera. Kesembuhan pada penderita fraktur dipengaruhi oleh keadaan fraktur, pemenuhan nutrisi yang baik, adanya perawatan yang baik dan adanya kondisi psikologis yang baik dari penderita fraktur sendiri. Perawat diharapkan bisa memberikan asuhan keperawatan yang baik agar proses penyembuhan tulang baik dan pasien dapat terhindar dari komplikasi akibat fraktur. B. Tujuan Penulisan Setelah menyelesaikan makalah ini mahasiswa diharapkan memahami tentang asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami fraktur dengan tindakan ORIF (Open Reduction Internal Fixation). 2. Tujuan Khusus Setelah menyelesaikan makalah ini, mahasiswa diharapkan mampu: a. Memahami pengkajian keperawatan pada pasien yang mengalami fraktur dengan pendekatan teori Henderson. b. Menganalisa kasus fraktur dengan tindakan ORIF.

1. Tujuan Umum

c. Menganalisa intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mengatasi masalah keperawatan yang terjadi pada klien yang mengalami fraktur dengan tindakan ORIF. C. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan makalah ini terdiri dari empat bab, yaitu: BAB I : Pendahuluan terdiri dari latar belakang, tujuan dan sistematika penulisan. BAB II : Tinjauan Teori. BAB III: Analisa Kasus. BAB IV: Penutup.

BAB 2 TINJAUAN TEORI FRAKTUR A. PENGERTIAN Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan, baik yang bersifat total maupun sebagian ( Chairudin Rasjad, 1998 ). Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa ( Muttaqin : 2008). Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang ( Carpenito: 1999 ).

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur klavikula ( tulang kolar ) merupakan cedera yang sering terjadi akibat jatuh atau hantaman langsung ke bahu ( Smeltzer: 2002). Fraktur adalah patahnya atau adanya gangguan kontinuitas dari tulang (Ignatavicius & Workman: 2006; Black & Wawks: 2009). B. KLASIFIKASI 1.
a.

Berdasarkan sifat fraktur. Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi.
b.

Fraktur Terbuka (Open/Compound),

bila terdapat hubungan antara

antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit. 2. a. b. 1) 2) 3) 3. trauma. a. b. c. Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang merupakan akibat trauma angulasi atau langsung. terhadap sumbu tulang dan merupakan akibat trauma angulasi juga. disebabkan trauma rotasi. Berdasarkan komplit atau ketidak komplitan fraktur. Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang Fraktrur Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang Hair Line Fraktur (patah retidak rambut). Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto. tulang seperti:

dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya.

d. e. 4. a. b. c. 5. a. b. 1) 2) 3)

Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau Berdasarkan jumlah garis patah. Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak Berdasarkan pergeseran fragmen tulang. Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap tetapi kedua Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut). Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling

yang mendorong tulang ke arah permukaan lain. traksi otot pada insersinya pada tulang.

berhubungan. berhubungan. pada tulang yang sama.

fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh. juga disebut lokasi fragmen, terbagi atas: sumbu dan overlapping).

menjauh). 6. 7. tulang. Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu: 1. 2. Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak sekitarnya. Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan. Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang. Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis

3. 4.

Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam dan pembengkakan. Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan ancaman sindroma kompartement.

C. ETIOLOGI 1. Trauma. a. Trauma langsung. Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang. Hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya fraktur pada daerah tertekan. b. Trauma tidak langsung. Apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, trauma tersebut disebut trauma tidak langsung. Misalnya, jatuh dengan ekstensi dapat menyebabkan fraktur klavikula. Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh. 2. Stress. a. b. Disebabkan oleh tekanan yang berulang ulang. Metabolic bone disease, misalnya: Osteoporosis. Fraktur dapat terjadi

karena trauma minor akibat kerapuhan tulang. D. Faktor Predisposisi 1. Osteopenia, disebabkan oleh pengunaan obat steroid atau karena penyakit cussing syndrome. 2. Osteogenesis imperfect , penyakit congenital pada tulang yang ditandai oleh adanya kecacatan kolagen oleh osteoblast. Tulang mudah patah dan rapuh. 3. Neoplasma, dapat melemahkan tulang dan menyebabkan mudah fraktur. 4. Post menepouse pada wanita, karena menurunnya hormone estrogen sehingga masa tulang menurun dan resiko fraktur meningkat. 5. Aktivitas-aktivitas yang beresiko tinggi terhadap terjadinya fraktur, misalnya: panjat tebing, skate boarding. 6. Bencana alam.

E. MANIFESTASI KLINIS 1. Adanya deformitas dari tulang, pembengkakan akibat perdarahan local menyebabkan deformitas pada sisi frektur. Spasme otot menyebabkan pemendekan ekstremitas, deformitas rotasional atau angulasi. Untuik mengetahui adanya deformitas, pemeriksa membandingkan dengan sisi yang sehat. 2. Edema, tampak cepat akibat dari akumulasi cairan serosa pada bagian yang fraktur dan ekstravasasi darah kedalam jaringan yang mengelilingi daerah faraktur. 3. 4. 5. Ekimosis, terjadi karena perdarahan subkutan pada lokasi fraktur. Spasme otot, sering terjadi secara tidak disadari yang menurunkan pergerakan pada daerah fraktur. Nyeri, nyeri biasanya terus menerus, skalanya meningkat sampai fraktur diimobilisasi. Nyeri dapat terjadi karena spasme otot dan kerusakan struktur jaringan. 6. 7. 8.
9.

Tenderness Penurunan fungsi, terjadi pada bagian yang fraktur dan penurunan dari fungsi persendian pada bagian yang fraktur. Krepitasi, manifestasi ini disebabkan karena adanya gerakan pada fragmen tulang yang patah. Perubahan neurovaskuler, terjadi kerusakan pada syaraf perifer dan vascular pada bagian yang fraktur. Perubahan neurovaskuler ini ditunjukkan dengan adanya perasaan baal atau kesemutan. Nadi bagian distal tidak teraba apabila sudah terjadi gangguan neurovaskuler lanjut akibat fraktur (Compartement Syndrome).

F.

Komplikasi 1. Compartment syndrome Setelah terjadi fraktur terdapat pembengkakan yang hebat di sekitar fraktur yang mengakibatkan penekanan pada pembuluh darah yang berakibat tidak cukupnya supply darah ke otot dan jaringan sekitar fraktur.

2. Neurovascular injury Pada beberapa fraktur yang berat dapat mengakibatkan arteri dan saraf disekitarnya mengalami kerusakan. 3. Post traumatic arthritis Fraktur yang berhubungan dengan sendi (intra artikuler fraktur) atau fraktur yang mengakibatkan bertemunya tulang dengan sudut abnormal di dalam sendi yang dapat mengakibatkan premature arthritis dari sendi. 4. Growth abnormalities Fraktur yang terjadi pada open physis atau growth plate pada anak anak dapat menyebabkan berbagai macam masalah. Dua dari masalah ini adalah premature partial atau penutupan secara komplit dari physis yang artinya salah satu sisi dari tulang atau kedua sisi tulang berhenti tumbuh sebelum tumbuh secara sempurna. Jika seluruh tulang seperti tulang panjang berhenti tumbuh secara premature dapat mengakibatkan pendeknya salah satu tulang panjang dibandingkan tulang panjang lainnya, membuat salah satu tulang kaki lebih pendek dibandingkan tulang kaki lainnya. G. Penyembuhan Abnormal Pada Fraktur 1. Malunion Malunion adalah keadaan dimana fraktur menyembuh pada saatnya, tetapi terdapat deformitas yang terbentuk angulasi, varus / valgus, rotasi, kependekan atau union secara menyilang misalnya pada fraktur radius dan ulna. 2. Delayed Union Delayed union adalah fraktur yang tidak sembuh setelah selang waktu 3 -5 bulan (3 bulan untuk anggota gerak atas dan 5 bulan untuk anggota gerak bawah).

3. Non Union Disebut nonunion apabila fraktur tidak menyembuh antara 6 8 bulan dan tidak didapatkan konsolidasi sehingga didapat pseudoarthrosis (sendi palsu). Pseudoarthrosis dapat terjadi tanpa infeksi tetapi dapat juga terjadi sama sama dengan infeksi disebut infected pseudoarthrosis.

H. Proses Penyembuhan Tulang Fase penyembuhan tulang terdiri dari 5 fase, yaitu: 1. Fase hematoma Apabila tejadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh darah kecil yang melewati kanalikuli dalam system haversian mengalami robekan dalam daerah fraktur dan akan membentuk hematoma diantara kedua sisi fraktur. Hematoma yang besar diliputi oleh periosteum. Periosteum akan terdorong dan mengalami robekan akibat tekanan hematoma yang terjadi sehingga dapat terjadi ekstravasasi darah kedalam jaringan lunak. Osteosit dengan lakunannya yang terletak beberapa millimeter dari daerah fraktur akan kehilangan darah dan mati, yang akan menimbulkan suatu daerah cincin avaskular tulang yang mati pada sisi sisi fraktur segera setelah trauma. Waktu terjadinya proses ini dimulai saat fraktur terjadi sampai 2 3 minggu. 2. Fase proliferasi seluler subperiosteal dan endosteal Pada saat ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi penyembuhan. Penyembuhan fraktur terjadi karena adanya sel sel osteogenik yang berproliferasi dari periosteum untuk membentuk kalus eksterna serta pada daerah endosteum membentuk kalus interna sebagi aktivitas seluler dalam kanalis medularis. Apabila terjadi robekan yang hebat pada periosteum, maka penyembuhan sel berasal dari diferansiasi sel sel mesenkimal yang berdiferensiasi kedalam jaringan lunak. Pada tahap awal dari penyembuhan fraktur ini terjadi penambahan jumlah dari sel sel osteogenik yang memberi penyembuhan yang cepat pada jaringan osteogenik yang sifatnya lebih cepat dari tumor ganas. Jaringan seluler tidak terbentuk dari organisasi pembekuan hematoma suatu daerah fraktur. Setelah beberapa minggu, kalus dari fraktur akan membentuk suatu massa yang meliputi jaringan osteogenik. Pada pemeriksaan radiologist kalus belum mengandung tulang sehingga merupakan suatu daerah radioluscen. Fase ini dimulai pada minggu ke 2 3 setelah terjadinya fraktur dan berakhir pada minggu ke 4 8. 3. Fase pembentukan kalus (Fase union secara klinis)

Setelah pembentukan jaringan seluler yang tumbuh dari setiap fragmen sel dasar yang berasal dari osteoblast dan kemudian pada kondroblast membentuk tulang rawan. Tempat osteoblas diduduki oleh matriks interseluler kolagen dan perlekatan polisakarida oleh garam garam kalsium pembentuk suatu tulang yang imatur. Bentuk tulang ini disebut woven bone. Pada pemeriksaan radiolgis kalus atau woven bone sudah terlihat dan merupakan indikasi radiologik pertama terjadinya penyembuhan fraktur. 4. Fase konsolidasi (Fase union secara radiology) Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan lahan diubah menjadi tulang yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang menjadi struktur lamellar dan kelebihan kalus akan di resorpsi secara bertahap. Pada fase 3 dan 4 dimulai pada minggu ke 4 8 dan berakhir pada minggu ke 8 12 setelah terjadinya fraktur. 5. Fase remodeling Bilamana union telah lengkap, maka tulang yang baru akan membentuk bagian yang meyerupai bulbus yang meliputi tulang tetapi tanpa kanalis medularis. Pada fase remodeling ini perlahan lahan terjadi resorpsi secara osteoklastik dan tetapi terjadi osteoblastik pada tulang dan kalus eksterna secara perlahan lahan menghilang. Kalus intermediet berubah menjadi tulang yang kompak dan berisi system haversian dan kalus bagian dalam akan mengalami peronggaan untuk membentuk susmsum. Pada fase terakhir ini, dimulai dari minggu ke 8 12 dan berakhir sampai beberapa tahun dari terjadinya fraktur.

I.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan Tulang Waktu penyembuhan fraktur bervariasi secara individual dan berhubungan dengan beberapa factor penting pada penderita, antara lain: 1. Umur penderita

Waktu penyembuhan tulang pada anak anak jauh lebih cepat pada orang dewasa, hal ini disebabkan karena aktivitas proses osteogenesis pada daerah periosteum dan endoestium dan juga berhubungan dengan proses remodeling tulang pada bayi pada bayi sangat aktif dan makin berkurang apabila unur bertambah 2. Lokalisasi dan konfigurasi fraktur Lokalisasi fraktur memegang peranan sangat penting. Fraktur metafisis penyembuhannya lebih cepat dari pada diafisis. Disamping itu konfigurasi fraktur seperti fraktur tranversal lebih lambat penyembuhannya dibanding dengan fraktur oblik karena kontak yang lebih banyak. 3. Pergeseran awal fraktur Pada fraktur yang tidak bergeser dimana periosteum intak, maka penyembuhannya dua kali lebih cepat dibandingkan pada fraktur yang bergeser. Terjadinya pergeseran fraktur yang lebih besar juga akan menyebabkan kerusakan periosteum yang lebih hebat. 4. Vaskularisasi pada kedua fragmen Apabila kedua fragmen memiliki vaskularisasi yang baik, maka penyembuhan biasanya tanpa komplikasi. Bila salah satu sisi fraktur vaskularisasinya jelek sehingga mengalami kematian, maka akan menghambat terjadinya union atau bahkan mungkin terjadi nonunion. 5. Reduksi dan Imobilisasi Reposisi fraktur akan memberikan kemungkinan untuk vaskularisasi yang lebih baik dalam bentuk asalnya. Imobilisasi yang sempurna akan mencegah pergerakan dan kerusakan pembuluh darah yang akan mengganggu penyembuhan fraktur. 6. Waktu imobilisasi Bila imobilisasi tidak dilakukan sesuai waktu penyembuhan sebelum terjadi union, maka kemungkinan untuk terjadinya nonunion sangat besar. 7. Ruangan diantara kedua fragmen serta interposisi oleh jaringan lemak. Bila ditemukan interposisi jaringan baik berupa periosteal, maupun otot atau jaringan fibrosa lainnya, maka akan menghambat vaskularisasi kedua ujung fraktur.

8.

Adanya infeksi Bila terjadi infeksi didaerah fraktur, misalnya operasi terbuka pada fraktur tertutup atau fraktur terbuka, maka akan mengganggu terjadinya proses penyembuhan.

9.

Cairan Sinovial Pada persendian dimana terdapat cairan sinovia merupakan hambatan dalam penyembuhan fraktur.

10. Gerakan aktif dan pasif anggota gerak Gerakan pasif dan aktif pada anggota gerak akan meningkatkan vaskularisasi daerah fraktur tapi gerakan yang dilakukan didaerah fraktur tanpa imobilisasi yang baik juga akan mengganggu vaskularisasi. J. Penatalaksanaan Fraktur Beberapa penatalaksanaan fraktur antara lain: 1. Reposisi Reposisi bertujuan untuk mengembalikan fragmen ke posisi anatomi. Macam-macam reposisi meliputi fiksasi eksterna, traksi (kulit, sekeletal). Indikasi: a. Reposisi tertutup gagal. b. Fragmen bergeser dari apa yang diharapkan. c. Mobilisasi dini. d. Fraktur multiple. e. Fraktur Patologis. 2. Imobilisasi / Fiksasi Tujuan fiksasi adalah untuk mempertahankan posisi fragmen post reposisi sampai union.

Jenis Fiksasi: a. Eksternal (OREF) 1) Gips 2) Traksi : Traksi gravitasi, skin traksi, sekeletal traksi.

b. Internal (ORIF) 1) 2) 3) 4) 5) ORIF K- wire Plating Screw K-nail

DAFTAR PUSTAKA http://ifan050285.wordpress.com/2010/02/21/penyembuhan-fraktur/

BAB 3 Tinjauan kasus A. Gambaran Kasus

Dirawat di RS Fatmawati Gedung GPS SMF Orthopedi, Tn.H usia 29 tahun, MRS melalui UGD tanggal 27 Januari 2011 dengan rujukan dari RSU. Tangerang dengan kondisi Osteomielitis post ORIF dan OREF di Tibia fibula. Pasien mempunyai riwayat kecelakaan bulan Mei 2010 dengan fraktur femur dextra gr II dan tibia dan fibula st III b, dipasang ORIF DAN OREF di tibia fibula. Tanggal 10 Nopember 2010 dilakukan operasi External Fixasi karena adanya osteomielitis dan plat expose lalu dilakukan ORIF dan Cross plat gagal tg 27 desember 2010 release cross plap+ STSG- back slab. Di RS Fatmawati akan direncanakan operasi aff plate, remove squestrum, eksternal fiksasi I lizase Hasil arteriografi : Prosedur dimulai pukul 14.16 s.d 15.05. dipasang shcath 5FR di arteri femoralis kiri tanpa hambatan. Dimasukkan diagnostic catheter judgkins Right 3,5/5 FR dengan bantuan Guide Wine 0,035 terumo berjalan lancar sampai arteri illiaka dextra. Fluoro time : 3,24 menit. Hasil : A.Iliaka Communis Dextra : Normal A.Femoralis communis Dextra : normal A.Femoralis Superficialis Dextra : Normal A. Poplitea Dextra: Normal A.Tibialis Anterior: Normal A.Dorsalis Pedis Dextra: normal Distal mengisi A.Tibialis dan A.Peronal secara retrograde sampai dengan setinggi mallelolus Truncus tibioperoneal ; normal A.Tibialis Posterior Dextra : total oklusi di medial A.Peroneal Dextra : total oklusi di medial Wilayah medial artei tibialis posterior dextra dan arteri peroneal dextra diperdarahi oleh kolateral-kolateral

Wilayah distal ke -2 arteri tersebut diperdarahi oleh arteri dorsalis pedis secara retrograde. B. Pengkajian Aplikasi pengkajian Model Virginia Henderson
1. Pengkajian Fraktur Femur ( Mutakin 2008)

Core/inti: Identitas klien Tn.H usia 29 tahun, pendidikan S1 tekhnik mesin, agama Islam, masuk RS melalui UGD tanggal 27 Januari 2011 dengan rujukan dari RSU. Tangerang, Dx. Osteomielitis post ORIF dan OREF di Tibia fibula
2. Pengkajian Fraktur dengan menggunakan rumus PQRST : a.

Provoking incident : hal yang menjadi faktor presipitasi nyeri adalah

trauma pada Femur karena . Kecelakaan bln mei 2010 dengan fr tl femur dextra gr II dan tl tibia dan fibula sr III b dipasang ORIF DAN OREF di tibia fibula
b.

Quality of pain : klien merasakan nyeri yang bersifat menusuk ketika Region, radiation, relief : nyeri kadang dapat reda, nyeri dapat

kaki kanan digerakkan


c.

menyebar atau menjalar dan sampai ujung jari kaki yang fraktur
d. e.

Severity(scale) of pain : nyeri dengan skala 5-6 pada rentang 0-10 Time : saat bergerak nyeri berlangsung dan luka dibersihkan

3. Komponen kebutuhan dasar manusia / pasien meliputi: a.

Pernafasan, dapat dipengaruhi oleh nyeri yang terjadi akibat fraktur dan orif yang terpasang namun saat dikaji P 18-20 per menit, teratur dan tidak ada keluhan sesak

b. Kebutuhan makan dan minum tidak terganggu, makan selalu habis dengan

porsi yang disediakan, minum cukup banyak sampai 3 liter per hari, Tak ada riwayat minum-minuman keras atau alkohol tidak mengkonsumsi NAPZA.
c.

Eliminasi baik, di RS dibantu oleh istri tidak ada gangguan

d.

Posisioning, klien dapat melakukan berdiri dengan 1 kaki dengan pegangan bergantung, dengan 1 kaki yang fraktur terpasang Orif di tempat tidur dapat melakukan duduk di tempat tidur.

e. f.

Kebutuhan tidur dan istirahat; tidur malam hari cukup istirahat siang hari kurang . Kebutuhan dalam berpakaian; dapat memakaikan pakaian bagian atas namun bagian bawah dibantu istri nya.

g. Cara mempertahankan suhu tubuh dan memodifikasi lingkungan. Suhu klien

normal, minum cukup dengan mengenakan pakaian kaos jenis katun h. i. j. k. l. Kebersihan tubuh: cukup baik mandi dan gosok gigi dibantu oleh istri Kondisi lingkungan cukup baik Komunikasi: dengan keluarga maupun tenaga kesehatan cukup kooperatif Ibadah dan keyakinan; ibadah sejak sakit agak terganggu karena keterbatasan dengan kaki kanan klien yang fraktur Pekerjaan sehari-hari, sejak sebelum sakit klien belum bekerja karena baru lulus lalu kecelakaan sampai dirawat m. Kebutuhan bermain dan rekreasi; hanya dilakukan dengan istri dan teman sebelahnya dengan bercanda kecil dan membaca koran atau mendengan musik dari Hp n. Kebutuhan belajar dan menggunakan fasilitas keseahatan dengan hanger Pemeriksaan fisik
1)

belajar

berdiri menggunakan 1 kaki dengan ke2 tangan menggantung di mangky

Keadaan umum baik Tanda-tanda vital 120/70 mmHg, N 100 B1 (breathing) tidak ditemukan adanya kelainan sistem B2 (blood); tidak ada iktus jantung, nadi meningkat. S1 dan s2 B3 (brain); tingkat kesadaran compos mentis, tidak terdapat

x/menit, S: 36,2oC, R : 18 x/menit 2) pernafasan 3)


4)

reguler, mur-mur tidak ada. refleks patologis,

5)

Daya raba pada fraktur femur berkurang terutama pada bagian B4 (bladder) dan B5 (bowel); pada klien fraktur femur tidak B6 (bone); pada fraktur femur akan terganggu secara lokal baik a) Inspeksi (look)

distal fraktur, timbul rasa nyeri akibat fraktur. 6) 7) ditemukan adanya kelainan sistem ini fungsi motorik, sensorik dan peredaran darah. Pada sistem integumen terdapat eritema, suhu disekitar daerah utama meningkat, bengkak, edema dan nyeri tekan, adanya sindrom kompartemen pada bagian distal femur dengan tanda khas seperti perfusi yang tidak baik pada bagian distal, bengkak, adanya keluhan nyeri pada tungkai dan timbul bula yang banyak menyelimuti bagian bawah fraktur. Ketidakmampuan menggerakkan tungkai dan penurunan kekuatan otot tungkai melakukan pergerakan b) c) Palpasi (feel) Pergerakan (move) adanya keterbatasan gerak tungkai, ketidak mampuan Kaji adanya keterbatasan nyeri (tenderness) dan krepitasi pada daerah femur Didapatkan dalam

menggerakkan kaki dan penurunan kekuatan otot ekstremitas bawah dalam melakukan pergerakan Pengkajian lanjutan: a. Riwayat kesehatan masa lalu 1) Riwayat penyakit sebelumnya (termasuk kecelakaan) Klien mengalami kecelakaan ketika naik motor ditabrak oleh truk besar, penyakit lain tidak ada 2)
3)

Riwayat alergi (obat, makanan, binatang, lingkungan) Tidak mempunyai riwayat alergi obat, makanan dan lingkungan. Riwayat pemakaian obat sebelum sakit belum pernah minum obat apapun b. Riwayat penyakit keluarga Tidak mempunyai anggota kelarga yang menderita penyakit apapun. c. Riwayat psikososial dan spiritual

1)

Orang terdekat dengan klien dengan istrinya.

Pola komunikasi terbuka, pembuatan keputusan adalah diskusi keluarga Klien mengatakan dampak penyakit terhadap keluarga adalah keluarga terasa sangat direpotkan karena sakitnya. 2) Mekanisme koping terhadap stress cukup baik Klien memecahkan setiap masalah dengan cara musyawarah dengan istri. 3) Persepsi klien terhadap penyakitnya a) Hal yang sangat dipikirkan saat ini: Klien mengatakan agar rencana operasinya berjalan dengan lancar dan pulang ke rumah secepatnya serta ingin cepat sembuh. b) Harapan setelah menjalani perawatan: Klien mengatakan sangat berharap untuk sembuh dan dapat beraktivitas mandiri secara bertahap dan berjalan dengan bantuan alat kesehatan c) Perubahan yang dirasakan setelah sakit: Klien mengatakan tidak mampu berjalan dengan mandiri. 4) Pola aktivitas dan latihan Di rumah: tidak bekerja,baru lulus kuliah, klien belum sempat melamar kerja karena kecelakaan. Sistem penglihatan Sisi mata simetris, kelopak mata normal, pergerakan bola mata normal, konjungtiva merah muda, tidak ada tanda-tanda injury fisik pada klien seperti memar, luka.

Sistem pendengaran Daun telinga normal, kondisi telinga normal, tidak ada cairan dari telinga, , tidak terjadi tinnitus, fungsi pendengaran normal, tidak terjadi gangguan keseimbangan dan tidak memakai alat bantu. Sistem wicara

Sistem wicara klien normal, tidak ada gangguan dalam komunikasi. d. Sistem Kardiovaskuler 1) Sirkulasi Peripher Nadi klien .... x/menit, irama teratur, denyut nadi kuat, tekanan darah: 120/70 mmHg, tidak terdapat distensi vena jugularis, temperature kulit hangat, warna kulit kemerahan, pengisian capilary refill <3 detik, tidak ada edema. 2) Sirkulasi Jantung Kecepatan denyut apical: x/menit, irama teratur, tidak ada kelainan bunyi jantung, tidak ada sakit dada. e. Sistem Hematologi Tidak pucat, tidak ada perdarahan. f. Sistem Syaraf Pusat Tidak ada keluhan sakit kepala, tingkat kesadaran compos mentis, GCS 15, tidak ada peningkatan TIK, tidak ada gangguan sistem persyarafan, reflek fisiologis normal, terdapat sensasi sensorik dan motorik pada kedua kaki, tidak ada reflek patologis. g. Sistem Pencernaan Tidak menggunakan gigi palsu, tidak ada stomatitis, lidah tidak bersih, salifa normal, tidak ada muntah, tidak ada nyeri daerah perut, bising usus: /menit, tidak diare, abdomen lembek h. Sistem Endokrin Tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid, nafas tidak berbau keton, tidak terdapat luka gangren, klien mengalami poliuri. i. Sistem Urogenital Balance cairan intake .....ml/hari, output ..... ml/hari. Tidak ada perubahan pola berkemih, tidak ada distensi kandung kemih, tidak mengalami keluhan sakit pinggang, tidak mengalami nyeri saat berkemih. j. Sistem Integumen Turgor kulit kurang baik, temperature kulit hangat , warna kulit kemerahan, terdapat luka insisi operasi dan ulkus, ada tanda-tanda infeksi (tumor, dolor, kalor, rubor, fungsiolesia), klien terpasang infusan

Sistem Muskuloskeletal Data tambahan (pemahaman tentang penyakit) 1. Pemeriksaan penunjang


a. Hasil pemeriksaan Laboratorium

Hasil pemeriksaan Laboratorium tanggal Kultur dan resistensi aerob : 27-01-2011 Hasil : ditemukan E.Coli, dan Pseudomonas aeruginosa Uji sensisitivitas : resisten terhadap Amoxyclav, ampicillin, cefuroxime, ceftazidine, cefotaxime, ceftriaxone, cefepime, Gentamicine, kanamycin, ciprofloxacine, ofloxacine, levofloxacine, chloramphenicol. Hasil hematologi : Tanggal 27 Januari 2011 (pre op) Hematologi Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit Eritrosit LED 11,8 g/dL 37 % 12.100/uL 446.000/uL 4,78 juta/uL 91 mm/jam

Tanggal 25 Februari 2011 Hematologi Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit Eritrosit 10,9 g/dL 34 % 16.500/uL 311.000/uL 3,78 juta/uL

b. Hasil Rontgen (terlampir)

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN NIC NOC PRIORITAS KEPERAWATAN : 1. 2. 3. 4. Menurunkan nyeri Mencegah komplikasi Mencegah kerusakan jarigan yang lain Memberikan informasi tentang kondisi, prognosis dan perawatan yang diperlukan

TUJUAN PEMULANGAN : 1. 2. 3. Fraktur stabil Kontrol nyeri Komplikasi bisa diminimalkan atau dicegah

4.

Kondisi perawatan, prognosis bisa dipahami.

Diagnosa keperawatan : 1. Nyeri b.d terpasangnya peralatan ORIF plat screw 2. Resiko disfungsi neurovaskular perifer b.d terhambatnya aliran darah akibat oklusi arteri di area tibia 3. Resiko perluasan infeksi 4. Keterbatasan mobilitas fisik b.d terpasangnya ORIF plat screw Intervensi keperawatan No Dx DX 1 NOC Pain Level: Mengungkapkan secara verbal penurunan nyeri Pain Control: Melakukan tehnik relaksasi sesuai indikasi NIC Pain Management
a. Pertahankan

Rasional Menurunkan nyeri dan bone displacement

immobilisasi bagian tubuh yang terpasang ORIF b. Pertahankan linen tidak terlipat dan bersih dan hindari linen yang terbuat dari plastik c. Evaluasi nyeri, skala, lokasi, pencetus d. Berikan tindakan alternatif untuk rasa nyaman cth: massage, backrub, perubahan posisi e. Kolaborasi : pemberian medikasi jika dibutuhkan

Bisa meningkatkan ketidaknyamanan akibat panas yang meningkat Meningkatkan efektifitas intervensi Meningkatkan sirkulasi, menurunkan tekanan di area lokal yang terkena

Menurunkan nyeri dan spasme otot.

DX 2

Perfusi jaringan perifer : Mempertahankan perfusi jaringan dengan cek pulsasi, kulit hangat, sensasi normal, TTV stabil, urin output adekuat

Circulatory Precaution a. Evaluasi kualitas nadi injuri, bandingkan dengan yang tidak injuri Circulatory Care: Insufisiensi arteri a. tinggikan ekstremitas yang mengalami injur
b. motivasi pasien untuk

Nadi yang tidak teraba vascular

perifer yang mengalami menandakan adanya injury

Meningkatkan aliran di arteri /menurunkan edema Meningkatkan sirkulasi di eksrtemitas bawah Sirkulasi yang tidak adekuat menandakan adanya perfusi jaringan yang tidak adekuat.

latihan ROM rutin c. monitor TTV, catat adanya sianosis, akral dingin, DX 3 Status infeksi: Luka bebas purulen, afebris Pencegahan perluasan infeksi:

a. Observasi luka : adanya Antisipasi terbentuknya infeksi bullae, drainase yang berbau tidak sedap b. Monitor TTV : demam, malaise Hipotensi, bingung bisa terlihat pada gas gangrene, takikardi dan demam bisa terjadi sepsis gas gangrene

DX 4

Tingkat Mobilisasi: Mempertahankan mobilisasi pada level tertinggi Pertahankan posisi Tingkatkan fungsi/kekuatan

Bed Rest Care: a. Kaji derajat imobilisasi dan persepsi pasien tentang imobilisasi b. Bantu pasien untuk ROM aktif atau pasif Pasien mungkin merasa dibatasi dengan keterbatasan fisiknya, meningkatkan fungsi ekstremitasnya yang sehat Meningkatkan aliran darah ke tulang dan otot, mepertahankan

bagian tubuh yang terkena c. Motivasi untuk latihan isometrik dimulai pada ekstremitas yang mengalami masalah d. Berikan footboard e. Monitor TD

mobilitas sendi dan massa tulang Isomatris membuat otot berkontraksi dan membantu kekuatan otot. Latihan ini kontraindikasi bila ada edema Mempertahankan fungsional dari ekstremitas Hipotensi postural menjadi masalah utamapada kondisi bedrest