Anda di halaman 1dari 24

KEMAMPUAN MEMAHAMI KEPEMIMPINAN BISNIS

Konsep Dasar Kewirausahaan


ANGGRI SEKAR SARI, S.Pd. & EKA APRILIANTY, S.P.

A. PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
DEFINISI KEPEMIMPINAN Menurut sejarah, masa kepemimpinan muncul pada abad 18. Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. Namun demikian, semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama. Ada beberapa pengertian kepemimpinan, antara lain: 1. Sarros dan Butchatsky (1996), "leadership is defined as the purposeful behaviour of

influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". Menurut definisi tersebut, kepemimpinan
dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. 2. Anderson (1988), "leadership means using power to influence the thoughts and

actions of others in such a way that achieve high performance".


3. Tannebaum, Weschler and Nassarik (1961, 24), Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu. 4. Shared Goal, Hemhiel & Coons (1957, 7), Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. 5. (Rauch & Behling, 1984, 46), Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama. 6. Kepemimpinan adalah kemampuan seni atau tehnik untuk membuat sebuah kelompok atau orang mengikuti dan menaati segala keinginannya. 7. Jacobs & Jacques, 1990, 281), Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan. Banyak definisi kepemimpinan yang menggambarkan asumsi bahwa kepemimpinan dihubungkan dengan proses mempengaruhi orang baik individu maupun masyarakat. Dalam kasus ini, dengan sengaja mempengaruhi dari orang ke orang lain dalam susunan aktivitasnya dan hubungan dalam kelompok atau organisasi. John C. Maxwell mengatakan bahwa inti kepemimpinan adalah mempengaruhi atau mendapatkan pengikut. Berdasarkan definisi-definisi di atas, kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. 1. kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain, yaitu para karyawan atau bawahan (followers). Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. 2. Seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan.
Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 1

Menurut French dan Raven (1968), kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari:

Reward power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai
kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya.

Coercive power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin


mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya

Legitimate power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin


mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya.

Referent power, yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap


sosok pemimpin. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya, reputasinya atau karismanya.

Expert power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah
seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya.

3. Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity), sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion), pengetahuan (cognizance), keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment), kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management), kedua konsep tersebut berbeda. Perbedaan antara pemimpin dan manajer dinyatakan secara jelas oleh Bennis and Nanus (1995). Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat ("managers are people who do things right and leaders are people who do the

right thing"). Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok
secara tepat, sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin. PENGERTIAN PEMIMPIN Pemimpin adalah inti dari manajemen. Ini berarti bahwa manajemen akan tercapai tujuannya jika ada pemimpin. Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mempengaruhi pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menanyakan alasan-alasannya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama (Panji Anogara, Page 23).

Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 2

TUGAS DAN PERAN PEMIMPIN Menurut James A.F Stonen, tugas utama seorang pemimpin adalah: 1. Pemimpin bekerja dengan orang lain Seorang pemimpin bertanggung jawab untuk bekerja dengan orang lain, salah satu dengan atasannya, staf, teman sekerja atau atasan lain dalam organisasi sebaik orang diluar organisasi. 2. Pemimpin

adalah

tanggung

jawab

dan

mempertanggungjawabkan

(akontabilitas).
Seorang pemimpin bertanggungjawab untuk menyusun tugas menjalankan tugas, mengadakan evaluasi, untuk mencapai outcome yang terbaik. Pemimpin bertanggung jawab untuk kesuksesan stafnya tanpa kegagalan. 3. Pemimpin menyeimbangkan pencapaian tujuan dan prioritas Proses kepemimpinan dibatasi sumber, jadi pemimpin harus dapat menyusun tugas dengan mendahulukan prioritas. Dalam upaya pencapaian tujuan pemimpin harus dapat mendelegasikan tugas-tugasnya kepada staf. Kemudian pemimpin harus dapat mengatur waktu secara efektif,dan menyelesaikan masalah secara efektif. 4. Pemimpin harus berpikir secara analitis dan konseptual Seorang pemimpin harus menjadi seorang pemikir yang analitis dan konseptual. Selanjutnya dapat mengidentifikasi masalah dengan akurat. Pemimpin harus dapat menguraikan seluruh pekerjaan menjadi lebih jelas dan kaitannya dengan pekerjaan lain. 5. Manajer adalah seorang mediator Konflik selalu terjadi pada setiap tim dan organisasi. Oleh karena itu, pemimpin harus dapat menjadi seorang mediator (penengah). 6. Pemimpin adalah politisi dan diplomat Seorang pemimpin harus mampu mengajak dan melakukan kompromi. Sebagai seorang diplomat, seorang pemimpin harus dapat mewakili tim atau organisasinya. 7. Pemimpin membuat keputusan yang sulit Seorang pemimpin harus dapat memecahkan masalah. Menurut Henry Mintzberg, Peran Pemimpin adalah : 1. Peran hubungan antar perorangan, dalam kasus ini fungsinya sebagai pemimpin yang dicontoh, pembangun tim, pelatih, direktur, mentor konsultasi. 2. Fungsi Peran informal sebagai monitor, penyebar informasi dan juru bicara. 3. Peran Pembuat keputusan, berfungsi sebagai pengusaha, penanganan gangguan, sumber alokasi, dan negosiator

Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 3

PRINSIF-PRINSIF DASAR KEPEMIMPINAN Prinsip, sebagai paradigma terdiri dari beberapa ide utama berdasarkan motivasi pribadi dan sikap serta mempunyai pengaruh yang kuat untuk membangun dirinya atau organisasi. Menurut Stephen R. Covey (1997), prinsip adalah bagian dari suatu kondisi, realisasi dan konsekuensi. Mungkin prinsip menciptakan kepercayaan dan berjalan sebagai sebuah kompas/petunjuk yang tidak dapat dirubah. Prinsip merupakan suatu pusat atau sumber utama sistem pendukung kehidupan yang ditampilkan dengan 4 dimensi seperti; keselamatan, bimbingan, sikap yang bijaksana, dan kekuatan.

Karakteristik seorang

pemimpin didasarkan kepada prinsip-prinsip (Stephen R. Coney) sebagai berikut: 1. Seorang yang belajar seumur hidup
Tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga diluar sekolah. Contohnya, belajar melalui membaca, menulis, observasi, dan mendengar. Mempunyai pengalaman yang baik maupun yang buruk sebagai sumber belajar.

2. Berorientasi pada pelayanan


Seorang pemimpin tidak dilayani tetapi melayani, sebab prinsip pemimpin dengan prinsip melayani berdasarkan karir sebagai tujuan utama. Dalam memberi pelayanan, pemimpin seharusnya lebih berprinsip pada pelayanan yang baik.

3. Membawa energi yang positif


Setiap orang mempunyai energi dan semangat. Menggunakan energi yang positif didasarkan pada keikhlasan dan keinginan mendukung kesuksesan orang lain. Untuk itu dibutuhkan energi positif untuk membangun hubungan baik. Seorang pemimpin harus dapat dan mau bekerja untuk jangka waktu yang lama dan kondisi tidak ditentukan. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus dapat menunjukkan energi yang positif, seperti ;

a. Percaya pada orang lain


Seorang pemimpin mempercayai orang lain termasuk staf bawahannya, sehingga mereka mempunyai motivasi dan mempertahankan pekerjaan yang baik. Oleh karena itu, kepercayaan harus diikuti dengan kepedulian. b. Keseimbangan dalam kehidupan Seorang pemimpin harus dapat menyeimbangkan tugasnya. Berorientasi kepada prinsip kemanusiaan dan keseimbangan diri antara kerja dan olah raga, istirahat dan rekreasi. Keseimbangan juga berarti seimbang antara kehidupan dunia dan akherat.

c. Melihat kehidupan sebagai tantangan


Kata tantangan sering di interpretasikan negatif. Dalam hal ini tantangan berarti kemampuan untuk menikmati hidup dan segala konsekuensinya. Sebab kehidupan adalah suatu tantangan yang dibutuhkan, mempunyai rasa aman yang datang dari

Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 4

dalam diri sendiri. Rasa aman tergantung pada inisiatif, ketrampilan, kreatifitas, kemauan, keberanian, dinamisasi dan kebebasan.

d. Sinergi
Orang yang berprinsip senantiasa hidup dalam sinergi dan satu katalis perubahan. Mereka selalu mengatasi kelemahannya sendiri dan lainnya. Sinergi adalah kerja kelompok dan memberi keuntungan kedua belah pihak. Menurut The New Brolier

Webster International Dictionary, Sinergi adalah satu kerja kelompok, yang mana
memberi hasil lebih efektif dari pada bekerja secara perorangan. Seorang pemimpin harus dapat bersinergis dengan setiap orang atasan, staf, teman sekerja.

e. Latihan mengembangkan diri sendiri


Seorang pemimpin harus dapat memperbaharui diri sendiri untuk mencapai keberhasilan yang tinggi. Jadi dia tidak hanya berorientasi pada proses. Proses daalam mengembangkan diri terdiri dari beberapa komponen yang berhubungan dengan: (1) pemahaman materi; (2) memperluas materi melalui belajar dan pengalaman; (3) mengajar materi kepada orang lain; (4) mengaplikasikan prinsipprinsip; (5) memonitoring hasil; (6) merefleksikan kepada hasil; (7) menambahkan pengetahuan baru yang diperlukan materi; (8) pemahaman baru; dan (9) kembali menjadi diri sendiri lagi. Mencapai kepemimpinan yang berprinsip tidaklah mudah, karena beberapa kendala dalam bentuk kebiasaan buruk, misalnya: (1) kemauan dan keinginan sepihak; (2) kebanggaan dan penolakan; dan (3) ambisi pribadi. Untuk mengatasi hal tersebut, memerlukan latihan dan pengalaman yang terusmenerus. Latihan dan pengalaman sangat penting untuk mendapatkan perspektif baru yang dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan.

B. PERILAKU KEPEMIMPINAN
Banyak studi mengenai kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang dibahas dari berbagai perspektif yang telah dilakukan oleh para peneliti. Analisis awal tentang kepemimpinan, dari tahun 1900-an hingga tahun 1950-an, memfokuskan perhatian pada perbedaan karakteristik antara pemimpin (leaders) dan pengikut/karyawan (followers). Karena hasil penelitian pada saat periode tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat satu pun sifat atau watak (trait) atau kombinasi sifat atau watak yang dapat menerangkan sepenuhnya tentang kemampuan para pemimpin, maka perhatian para peneliti bergeser pada masalah pengaruh situasi terhadap kemampuan dan tingkah laku para pemimpin. Studi-studi kepemimpinan selanjutnya berfokus pada tingkah laku yang diperagakan oleh para pemimpin yang efektif. Untuk memahami faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkah laku para pemimpin yang efektif, para peneliti menggunakan model kontingensi (contingency model). Dengan model kontingensi tersebut para peneliti menguji
Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 5

keterkaitan antara watak pribadi, variabel-variabel situasi dan keefektifan pemimpin. Studistudi tentang kepemimpinan pada tahun 1970-an dan 1980-an, sekali lagi memfokuskan perhatiannya kepada karakteristik individual para pemimpin yang mempengaruhi keefektifan mereka dan keberhasilan organisasi yang mereka pimpin. Hasil-hasil penelitian pada periode tahun 1970-an dan 1980-an mengarah kepada kesimpulan bahwa pemimpin dan kepemimpinan adalah persoalan yang sangat penting untuk dipelajari (crucial), namun kedua hal tersebut disadari sebagai komponen organisasi yang sangat komplek. Dalam perkembangannya, model yang relatif baru dalam studi kepemimpinan disebut sebagai model kepemimpinan transformasional. Model ini dianggap sebagai model yang terbaik dalam menjelaskan karakteristik pemimpin. Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan watak, gaya dan kontingensi. Berikut ini akan dibahas tentang perkembangan pemikiran ahli-ahli manajemen mengenai model-model kepemimpinan yang ada dalam literatur. 1. Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Pada umumnya studi-studi kepemimpinan pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin, seperti misalnya: kecerdasan, kejujuran, kematangan, ketegasan, kecakapan berbicara, kesupelan dalam bergaul, status sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960, Stogdill 1974). Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut, yaitu kapasitas, prestasi, tanggung jawab, partisipasi, status dan situasi. Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa faktor-faktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain. Disamping itu, watak pribadi bukanlah faktor yang dominant dalam menentukan keberhasilan kinerja manajerial para pemimpin. Hingga tahun 1950-an, lebih dari 100 studi yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi watak atau sifat personal yang dibutuhkan oleh pemimpin yang baik, dan dari studi-studi tersebut dinyatakan bahwa hubungan antara karakteristik watak dengan efektifitas kepemimpinan, walaupun positif, tetapi tingkat signifikasinya sangat rendah (Stogdill 1970). Bukti-bukti yang ada menyarankan bahwa "leadership is a relation that exists

between persons in a social situation, and that persons who are leaders in one situation may not necessarily be leaders in other situation" (Stogdill 1970). Apabila kepemimpinan
didasarkan pada faktor situasi, maka pengaruh watak yang dimiliki oleh para pemimpin mempunyai pengaruh yang tidak signifikan. Kegagalan studi-studi tentang kepimpinan pada periode awal ini, yang tidak berhasil meyakinkan adanya hubungan yang jelas antara watak pribadi pemimpin dan kepemimpinan, membuat para peneliti untuk mencari faktor-faktor lain

Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 6

(selain faktor watak), seperti misalnya faktor situasi, yang diharapkan dapat secara jelas menerangkan perbedaan karakteristik antara pemimpin dan pengikut. 2. Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan. Studi tentang kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien. Dan juga model ini membahas aspek kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya, bukan lagi hanya berdasarkan watak kepribadian pemimpin. Hencley (1973) menyatakan bahwa faktor situasi lebih menentukan keberhasilan seorang pemimpin dibandingkan dengan watak pribadinya. Menurut pendekatan kepemimpinan situasional ini, seseorang bisa dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung pada situasi atau keadaan yang dihadapi. Banyak studi yang mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik situasi khusus yang bagaimana yang mempengaruhi kinerja para pemimpin. Hoy dan Miskel (1987), misalnya, menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kinerja pemimpin, yaitu sifat struktural organisasi (structural properties of the organisation), iklim atau lingkungan organisasi (organisational climate), karakteristik tugas atau peran (role characteristics) dan karakteristik bawahan (subordinate characteristics). Kajian model kepemimpinan situasional lebih menjelaskan fenomena kepemimpinan dibandingkan dengan model terdahulu. Namun demikian model ini masih dianggap belum memadai karena model ini tidak dapat memprediksikan kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang mana yang lebih efektif dalam situasi tertentu. 3. Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif. Tingkah laku para pemimpin dapat dikatagorikan menjadi dua dimensi, yaitu struktur kelembagaan (initiating structure) dan konsiderasi (consideration). Dimensi struktur kelembagaan menggambarkan sampai sejauh mana para pemimpin mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka pencapaian tujuan organisasi serta sampai sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka. Dimensi ini dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi. Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya, dan sampai sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan sosial dan emosi bagi bawahan seperti misalnya kebutuhan akan pengakuan, kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja mereka dalam organisasi. Dimensi konsiderasi ini juga dikaitkan dengan adanya pendekatan kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model watak

Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 7

kepemimpinan yang mengutamakan komunikasi dua arah, partisipasi dan hubungan manusiawi (human relations). Halpin (1966), Blake and Mouton (1985) menyatakan bahwa tingkah laku pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja yang tinggi terhadap dua aspek di atas. Mereka berpendapat bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata kelembagaan organisasinya secara sangat terstruktur, dan mempunyai hubungan yang persahabatan yang sangat baik, saling percaya, saling menghargai dan senantiasa hangat dengan bawahannya. Secara ringkas, model kepemimpinan efektif ini mendukung anggapan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dapat menangani kedua aspek organisasi dan manusia sekaligus dalam organisasinya. 4. Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin, tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional. Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan tipe kepemimpinan yang berbeda, maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas, yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987). Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the

favourableness of the situation) yang dihadapinya. Menurut Fiedler, ada tiga faktor utama
yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations), struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power). Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan, dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku. Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan, promosi dan penurunan pangkat (demotions).Model kontingensi yang lain, Path-Goal Theory, berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh interaksi antara

Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 8

tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House 1971). Menurut House, tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok:

supportive

leadership

(menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat), directive leadership (mengarahkan bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan, prosedur dan petunjuk yang ada), participative leadership (konsultasi dengan bawahan dalam pengambilan keputusan) dan achievement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan perlunya kinerja yang memuaskan). MenurutPath-Goal Theory, dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi, namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi, tingkah laku pemimpin dan variabel situasional. 5. Model Kepemimpinan Transaksional Kepemimpinan transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi dan legitimasi di dalam organisasi. Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. Disamping itu, pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi. Untuk memotivasi agar bawahan melakukan tanggungjawab mereka, para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya. Hubungan antara pemimpin transaksional dangan bawahan terjadi jika: 1. Mengetahui apa yang diinginkan bawahan dan berusaha menjelaskan bahwa mereka akan memperoleh apa yang diiginkan apabila kinerja mereka memenuhi harapan. 2. Memberikan / menukar usaha-usaha yang dilakukan bawahan dengan imbalan atau janji memperoleh imbalan. 3. Responsif terhadap kepentingan pribadi bawahan selain kepentingan pribadi itu sepadan dengan nilai pekerjaan yang telah dilakukan oleh bawahan. Kepemimpinan transaksional menekankan pada transaksi atau pertukaran yang terjadi antar pemimpin, rekan kerja dan bawahannya. Pertukaran ini didasarkan pada diskusi pemimpin dengan pihak-pihak terkait untuk menentukan apa yang dibutuhkan dan bagaimana spesifikasi kondisi dan upah/hadiah jika bawahan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Karakteristik kepemimpinan transaksional ditunjukkan dengan gambaran perilaku atasan sebagai berikut:

Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 9

1. Imbalan Kontinjen (Contingensi Reward). Pemimpin melakukan kesepakatan tentang hal-hal apa saja yang dilakukan oleh bawahan dan menjanjikan imbalan apa yang akan diperoleh bila hal tersebut dicapai. 2. Manajemen dengan eksepsi (Manajemen By exception). Pada manajemen eksepsi pemimpin memantau deviasi dari standar yang telah ditetapkan dan melakukan tindakan perbaikan. Selain secara aktif, manajemen dengan eksepsi juga bisa dilakukan secara pasif. 6. Model Kepemimpinan Transformasional (Model

of

Transformational

Leadership)
Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. Burns (1978) merupakan salah satu penggagas yang secara eksplisit mendefinisikan kepemimpinan transformasional. Menurutnya, untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang model kepemimpinan transformasional, model ini perlu dipertentangkan dengan model kepemimpinan transaksional. Burns menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan, mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi, dan bawahan harus menerima dan mengakui kredibilitas pemimpinnya.Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa "the dynamic of transformational leadership involve strong personal identification with the leader, joining in a shared vision of the future, or goingbeyond the self-interest exchange of rewards for compliance". Dengan demikian, pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Pemimpin transformasional juga harusmempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya, serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan. Menurut Yammarino dan Bass (1990), pemimpin transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. Yammarino dan Bass (1990) juga menyatakan bahwa pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik, menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual, dan menaruh parhatian pada perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh bawahannya. Dengan demikian, seperti yang diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990), keberadaan para pemimpin transformasional mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi maupun pada tingkat individu. Dalam buku mereka yang berjudul "Improving Organizational Effectiveness through

Transformational

Leadership",

Bass

dan

Avolio

(1994)

mengemukakan

bahwa

kepemimpinan transformasional mempunyai empat dimensi yang disebutnya sebagai "the

Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 10

Four I's". Dimensi yang pertama disebutnya sebagai idealized influence (pengaruh ideal). Dimensi yang pertama ini digambarkan sebagai perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya mengagumi, menghormati dan sekaligus mempercayainya. Dimensi yang kedua disebut sebagai inspirational motivation (motivasi inspirasi). Dalam dimensi ini, pemimpin transformasional digambarkan sebagai pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi bawahan, mendemonstrasikan komitmennya terhadap seluruh tujuan organisasi, dan mampu menggugah spirit tim dalam organisasi melalui penumbuhan entusiasme dan optimisme. Dimensi yang ketiga disebut sebagai intellectual stimulation (stimulasi intelektual). Pemimpin transformasional harus mampu menumbuhkan ide-ide baru, memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahanpermasalahan yang dihadapi bawahan, dan memberikan motivasi kepada bawahan untuk mencari pendekatan-pendekatan yang baru dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi. Dimensi yang terakhir disebut sebagai individualized consideration (konsiderasi individu). Dalam dimensi ini, pemimpin transformasional digambarkan sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan bawahan dan secara khusus mau memperhatikan kebutuhan-kebutuhan bawahan akan pengembangan karir. Walaupun penelitian mengenai model transformasional ini termasuk relatif baru, beberapa hasil penelitian mendukung validitas keempat dimensi yang dipaparkan oleh Bass dan Avilio di atas. Banyak peneliti dan praktisi manajemen yang sepakat bahwa model kepemimpinan transformasional merupakan konsep kepemimpinan yang terbaik dalam menguraikan karakteristik pemimpin (Sarros dan Butchatsky 1996). Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatanpendekatan watak (trait), gaya (style) dan kontingensi, dan juga konsep kepemimpinan transformasional menggabungkan dan menyempurnakan konsep-konsep terdahulu yang dikembangkan oleh ahli-ahli sosiologi (seperti misalnya Weber 1947) dan ahli-ahli politik (seperti misalnya Burns 1978). Beberapa ahli manajemen menjelaskan konsep-konsep kepimimpinan yang mirip dengan kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan yang karismatik, inspirasional dan yang mempunyai visi (visionary). Meskipun terminologi yang digunakan berbeda, namun fenomenafenomana kepemimpinan yang digambarkan dalam konsepkonsep tersebut lebih banyak persamaannya daripada perbedaannya. Bryman (1992) menyebut kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan baru (the new leadership), sedangkan Sarros dan Butchatsky (1996) menyebutnya sebagai pemimpin penerobos (breakthrough leadership). Disebut sebagai penerobos karena pemimpim semacam ini mempunyai kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan yang sangat besar terhadap individu-individu maupun organisasi dengan jalan: memperbaiki kembali (reinvent) karakter diri individuindividu dalam organisasi ataupun perbaikan organisasi, memulai proses penciptaan inovasi,

Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 11

meninjau kembali struktur, proses dan nilai-nilai organisasi agar lebih baik dan lebih relevan, dengan cara-cara yang menarik dan menantang bagi semua pihak yang terlibat, dan mencoba untuk merealisasikan tujuan-tujuan organisasi yang selama ini dianggap tidak mungkin dilaksanakan. Pemimpin penerobos memahami pentingnya perubahan-perubahan yang mendasar dan besar dalam kehidupan dan pekerjaan mereka dalam mencapai hasilhasil yang diinginkannya. Pemimpin penerobos mempunyai pemikiran yang metanoiac, dan dengan bekal pemikiran ini sang pemimpin mampu menciptakan pergesaran paradigma untuk mengembangkan Praktekorganisasi yang sekarang dengan yang lebih baru dan lebih relevan. Metanoia berasaldari kata Yunani meta yang berarti perubahan, dan nous/noos yang berarti pikiran. Dengan perkembangan globalisasi ekonomi yang makin nyata, kondisi di berbagai pasar dunia makin ditandai dengan kompetisi yang sangat tinggi (hyper-competition). Tiap keunggulan daya saing perusahaan yang terlibat dalam permainan global (global game) menjadi bersifat sementara (transitory). Oleh karena itu, perusahaan sebagai pemain dalam permainan global harus terus menerus mentransformasi seluruh aspek manajemen internal perusahaan agar selalu relevan dengan kondisi persaingan baru. Pemimpin transformasional dianggap sebagai model pemimpin yang tepat dan yang mampu untuk terus-menerus meningkatkan efisiensi, produktifitas, dan inovasi usaha guna meningkatkan daya saing dalam dunia yang lebih bersaing. Proses transformasi dapat dicapai melalui salah satu dari tiga cara berikut: 1. Mendorong dan meningkatakan kesadaran tentang betapa pentingnya dan bernilainya sasaran yang akan dicapai kelak menunjukkan cara untuk mencapainya. 2. Mendorong bawahan untuk mendahulukan kepentingan kelompok daripada kepentingan pribadi. 3. Meningkatkan orde kebutuhan bawahan / memperluas cakupan kebutuhan tersebut. Pemimpin transformasional bertujuan untuk menghasilkan suatu hasil yang superior dengan perilaku salah satu atau lebih faktor-faktor berikut: 1. Simulasi individu (Individual Stomulation). Pemimpin transformasional menstimulasi usaha bawahannya untuk berlaku inovatif dan kreatif dengan mempertanyakan asumsi, pembatasan masalah dan pendekatan dari situasi lama dengan cara yang baru. 2. Konsiderasi Individual (Individual Consideration). Pemimpin transformasional memiliki perhatian khusus terhadap kebutuhan individu dalam pencapaiannya dan pertumbuhan yang mereka harapkan dengan berperilaku sebagai pelatih atau mentor. 3. Motivasi Inspirasional (Inspirational Motivation). Pemimpin transformasional berperilaku dengan tujuan untuk memberi motivasi dengan inspirasi terhadap orang-orang disekitarnya.

Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 12

4. Pengaruh Idealis (Idealized Influence). Pemimpin Transformasional berperilaku sebagai model bagi bawahannya. Pemimpin sepeRti ini biasanya dihormati dan dipercaya.

C. PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Kepemimpinan sangat besar peranannya dalam setiap pengambilan keputusan, sehingga membuat keputusan dan bertanggung jawab terhadap hasilnya adalah salah satu tugas pemimpin. PENGERTIAN KEPUTUSAN Menurut Ralp C. Davis, Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus dapat menjawab pertanyaan tentang apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan. Keputusan dapat pula berupa tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpang dari rencana semula. Menurut Mary Follet, Keputusan adalah suatu atau sebagai hukum situasi. Apabila semua fakta dari situasi itu dapat diperolehnya dan semua yang terlibat, baik pengawas maupun pelaksana mau mentaati hukumnya atau ketentuannya, maka tidak sama dengan mentaati perintah. Wewenang tinggal dijalankan, tetapi itu merupakan wewenang dari hukum situasi. Menurut James A. F. Stoner, keputusan adalah pemilihan diantara alternatifalternatif. Definisi ini mengandung tiga pengertian, yaitu: a. Ada pilihan atas dasar logika atau pertimbangan. b. Ada beberapa alternatif yang harus dan dipilih salah satu yang terbaik. c. Ada tujuan yang ingin dicapai, dan keputusan itu makin mendekatkan pada tujuan tersebut. Menurut Prof. Dr. Prajudi Atmosudirjo, S.H., keputusan adalah suatu pengakhiran proses pemikiran tentang suatu masalah atau problema untuk menjawab pertanyaan apa yang harus diperbuat guna mengatasi masalah tersebut, dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif. Kesimpulannya, keputusan merupakan proses pemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif tindakan untuk mengatasi masalah. PENGERTIAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN Menurut George R. Terry, pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada. Menurut S.P. Siagian, pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.
Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 13

Menurut James A. F. Stoner, pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah. Kesimpulannya, pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah. FUNGSI PENGAMBILAN KEPUTUSAN Pengambilan keputusan sebagai tindak lanjut dari pemecahan masalah mempunyai fungsi sebagai berikut: a. Pangkal permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar dan terarah, baik secara individu maupun secara kelompok. b. Sesuatu yang bersifat futuristik, artinya berhubungan dengan masa yang akan datang, dimana efeknya atau pengaruhnya berlangsung cukup lama. TUJUAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN Tujuan pengambilan keputusan dapat dibedakan sebagai berikut: a. Tujuan yang bersifat tunggal, terjadi apabila keputusan yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah, artinya sekali diputuskan tidak akan ada kaitannya dengan masalah lain. b. Tujuan yang bersifat ganda, terjadi apabila keputusan yang dihasilkan itu menyangkut lebih dari satu masalah, artinya bahwa satu keputusan yang diambil itu sekaligus memecahkan dua masalah (atau lebih). DASAR-DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN Dasar-dasar pengambilan keputusan bermacam-macam tergantung dari permasalahannya. Menurut George R. Terry, dasar-dasar pengambilan keputusan yang berlaku adalah sebagai berikut: a. Intuisi Pengambilan keputusan berdasarkan atas intuisi atau perasaan. Pengambilan keputusannya bersifat subjektif, sehingga mudah terkena pengaruh. Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi ini mengandung beberapa kebaikan dan kelemahan. Kebaikannya: Waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif lebih pendek. Untuk masalah yang pengaruhnya terbatas, pengambilan keputusan akan memberikan kepuasan pada umumnya. Kemampuan mengambil keputusan dari pengambil keputusan itu sangat berperan, dan perlu dimanfaatkan dengan baik.

Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 14

Kelemahannya: Keputusan yang dihasilkan relatif kurang baik. Sulit mencari alat pembandingnya, sehingga sulit diukur kebenaran dan keabsahannya. Dasar-dasar lain dalam pengambilan keputusan seringkali diabaikan. keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi b. Pengalaman Pengambilan pengetahuan praktis. Karena pengalaman seseorang dapat memperkirakan suatu keadaan, dapat memperhitungkan untung ruginya, baik buruknya, keputusan yang akan dihasilkan. Karena pengalaman seseorang yang menduga masalahnya walaupun hanya dengan melihat sepintas saja mungkin sudah dapat menduga cara penyelesaiannya. c. Fakta Pengambilan keputusan berdasarkan fakta dapat memberikan keputusan yang sehat, solid, dan baik. Dengan fakta, maka tingkat kepercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat menerima keputusan-keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada. d. Wewenang Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang juga memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya: Penerima keputusan adalah bawahan, sehingga bisa saja menerima keputusan tersebut secara terpaksa. Keputusannya dapat berlaku dalam jangka waktu yang cukup lama. Memiliki keotentikan. Dapat menimbulkan sifat rutinitas. Mengasosiasikan dengan praktek diktatorial. Sering melewati permasalahan yang seharusnya dipecahkan sehingga dapat menimbulkan kekaburan. e. Rasional Pengambilan keputusan yang bersifat rasional, keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih transparan, konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan. Pada pengambilan keputusan secara rasional ini terdapat beberapa hal, sebagai berikut: Kejelasan masalah: tidak ada keraguan dan kekaburan masalah. Orientasi tujuan: kesatuan tujuan yang ingin dicapai.

Kelemahannya:

Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 15

Pengetahuan alternatif: seluruh alternatif diketahui jenisnya dan konsekuensinya. Preferensi yang jelas: alternatif bisa diurutkan sesuai kriteria. Hasil maksimal: pemilihan alternatif terbaik berdasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal.

Pengambilan keputusan secara rasional ini berlaku sepenuhnya dalam keadaan ideal. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN Menurut Iqbal Hasan (2002) pengambilan keputusan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: a. Posisi/Kedudukan b. Masalah Masalah adalah apa yang menjadi penghalang untuk tercapainya tujuan, yang merupakan penyimpangan dari apa yang diharapkan, direncanakan atau dikehendaki dan harus diselesaikan. Masalah tidak selalu dapat dikenal dengan segera, ada yang memerlukan analis, adapula yang memerlukan riset tersendiri. Masalah dibagi dalam dua jenis, yaitu sebagai berikut: Masalah terstruktur (well structure problems), masalah yang logis dikenal dan mudah diidentifikasi. Masalah tidak terstruktur (ill structure problems), yaitu masalah yang masih baru, tidak biasa, dan informasinya tidak lengkap. Masalah dapat juga digolongkan sebagai berikut: Masalah rutin; masalah yang sifatnya sudah tetap, selalu dijumpai dalam hidup sehari-hari. Masalah insidentil; yaitu masalah yang sifatnya tidak tetap, tidak selalu dijumpai dalam hidup sehari-hari. c. Situasi Situasi adalah keseluruhan faktor-faktor dalam keadaan yang berkaitan satu sama lain, dan yang secara bersama-sama memancarkan pengaruh terhadap kita beserta apa yang hendak kita perbuat. Faktor-faktor itu dapt dibedakan atas dua, yaitu sebagai berikut: Faktor-faktor yang konstan, faktor-faktor yang sifatnya tidak berubah-ubah atau tetap keadaanya. Faktor-faktor yang tidak konstan, yaitu faktor-faktor yang sifatnya selalu berubahubah, tidak tetap keadaannya. d. Kondisi Kondisi adalah keseluruhan dari faktor-faktor yang secara bersama-sama menentukan daya gerak, daya berbuat atau kemampuan kita. Sebagian besar faktorfaktor tersebut merupakan sumberdaya-sumberdaya.

Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 16

e. Tujuan Tujuan yang hendak dicapai, baik tujuan perorangan, tujuan unit (kesatuan), tujuan organisasi, maupun tujuan usaha, pada umumnya telah tertentu/telah ditentukan. Tujuan yang ditentukan dalam pengambilan keputusan merupakan tujuan antara atau objektive. Pendapat lain menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan adalah: a. Keadaan intern organisasi Keadaan intern organisasi berhubungan dengan apa yang ada di dalam organisasi terbut, antara lain meliputi: dana yang tersedia, keadaan sumberdaya manusia, kemampuan karyawan, kelengkapan dari peralatan organisasi, struktur organisasi. b. Keadaan ekstern organisasi Keadaan ektern organisasi berhubungan dengan apa yang ada diluar organisasi, antara lain meliputi: keadaan ekonomi, sosial, politik, hukum, budaya, dan sebagainya. Keputusan yang diambil harus memperhatikan situasi ekonomi, jika keputusan tersebut ada sangkut pautnya dengan ekonomi. Keputusan yang diambil tidak boleh bertentangan dengan norma-norma, undang-undang, hukum yang berlaku dan peraturan-peraturan. Keputusan yang diambil jika ada kaitannya, baik langsung maupun tidak langsung dengan bidang politik, tidak bertentangan dengan pola kebijakan pemerintah. Jika keputusan yang diambil ada kaitannya dengan budaya, sebaiknya memperhatikan keadaan budaya setempat dan sebagainya. c. Tersedianya informasi yang diperlukan Pengambilan keputusan hendaknya dilengkapi dengan informasi yang lengkap, sehingga keputusan yang dihasilkan berkualitas dan baik. Sifat-sifat informasi itu antara lain sebagai berikut: Akurat; informasi harus sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

Up to date; informasi tepat waktu. Komprehensip; informasi harus dapat mewakili. Relevan; ada hubungannya dengan masalah yang akan diselesaikan.
Memiliki tingkat kesalahan yang kecil. dan kecakapan pengambil keputusan meliputi; penilaiannya,

d. Kepribadian dan kecakapan pengambil keputusan Kepribadian kebutuhannya, intelegensinya, keterampilannya, kapasitasnya, dan sebagainya. Nilainilai kepribadian dan kecakapan ini turut juga mewarnai tepat tidaknya keputusan yang diambil. Jika pengambil keputusan memiliki kepribadian dan kecakapan yang kurang, maka keputusan yang diambil juga akan kurang, demikian pula sebaliknya.

Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 17

Menurut George R. Terry, faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan adalah sebagai berikut: a. Hal-hal yang berwujud dan tidak berwujud, yang emosional maupun yang rasional. b. Tujuan organisasi; setiap keputusan harus dapat dijadikan pencapaian tujuan organisasi. c. Orientasi; keputusan yang diambil tidak berorientasi pribadi semata, tetapi harus lebih berorientasi pada kepentingan organisasi. d. Alternatif-alternatif tandingan; jarang sekali ada satu pilihan yang betul-betul memuaskan, karenanya harus dibuat alternatif-alternatif tandingan. e. Tindakan; pengambilan keputusan merupakan tindakan mental, karenanya harus diubah menjadi tindakan fisik. f. Waktu; pengambilan keputusan yang efektif memerlukan waktu dan proses yang lebih lama. g. Kepraktisan; dalam pengambilan keputusan diperlukan pengambil keputusan yang praktis untuk memperoleh hasil yang lebih baik. h. Lembaga; setiap keputusan yang diambil harus dilembagakan, agar dapat diketahui tingkat kebenarannya. i. Kegiatan berikutnya; setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian mata rantai kegiatan berikutnya. Menurut John D. Miller, faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan oleh pemimpin adalah sebagai berikut: a. Pria dan Wanita Pria umumnya bersifat lebih tegas atau berani dan cepat mengambil keputusan dan wanita umumnya relatif lebih lambat dan sering ragu-ragu. b. Peranan Pengambil Keputusan Peranan bagi pengambil keputusan perlu diperhatikan, mencakup kemampuan mengumpulkan informasi, kemampuan menganalisis dan menginterpretasikan, kemampuan menggunakan konsep yang cukup luas tentang prilaku manusia secara fisik untuk memperkirakan perkembangan-perkembangan di masa mendatang. c. Keterbatasan Kemampuan Perlu disadari adanya kemampuan yang terbatas dalam pengambilan keputusan di bidang manajemen, yang dapat bersifat institusional ataupun bersifat pribadi. JENIS-JENIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN Berdasarkan kriteria yang menyertainya, pengambilan keputusan dapat diklasifikasikan atas beberapa jenis, yaitu sebagai berikut:

Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 18

a. Pengambilan keputusan berdasarkan programnya, dapat dibedakan menjadi dua kelompok, sebagai berikut: Pengambilan keputusan terprogram; sifatnya rutinitas, berulang-ulang, dan cara menanganinya telah ditentukan. Digunakan untuk menyelesaikan masalah terstruktur melalui hal-hal berikut: Prosedur, yaitu serangkaian langkah yang berhubungan dan berurutan yang harus diikuti oleh pengambil keputusan Aturan, yaitu ketentuan yang mengatur apa yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh pengambil keputusan. Kebijakan, yaitu pedoman yang menentukan parameter untuk membuat keputusan. Pengambilan keputusan tidak terprogram; sifatnya unik sehingga memerlukan pemecahan yang khusus. Digunakan untuk menyelesaikan masalah yang tidak terstruktur. b. Pengambilan keputusan berdasarkan lingkungannya, dibedakan menjadi empat kelompok, sebagai berikut: Pengambilan keputusan dalam kondisi pasti; berlangsung hal-hal berikut: Alternatif yang harus dipilih hanya memiliki satu hasil. Ini berarti hasil dari setiap alternatif tindakan tersebut dapat ditentukan dengan pasti. Keputusan yang akan diambil didukung informasi/data yang lengkap, sehingga dapat diramalkan secara akurat hasil dari setiap tindakan yang dilakukan. Dalam kondisi ini, pengambil keputusan secara pasti mengetahui apa yang akan terjadi. Biasanya selalu dihubungkan dengan keputusan yang menyangkut masalah rutin, karena kejadian tertentu di masa mendatang dijamin terjadi. Pengambilan keputusan dalam kondisi beresiko; berlangsung hal-hal berikut: Alternatif yang harus dipilih mengandung lebih dari satu kemungkinan hasil. Pengambilan keputusan memiliki lebih dari satu alternatif tindakan. Diasumsikan bahwa pengambil keputusan mengetahui peluang yang akan terjadi terhadap berbagai tindakan dan hasil. Resiko terjadi karena hasil pengumpulan keputusan tidak dapat diketahui dengan pasti, walaupun diketahui nilai probabilitasnya. Pada kondisi ini, keadaan alam sama dengan kondisi tidak pasti, bedanya dalam kondisi ini, ada data atau informasi yang akan mendukung dalam mebuat keputusan, berupa besar atau nilai peluang terjadinya bermacammacam keadaan.

Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 19

Pengambilan keputusan dalam kondisi tidak pasti; Tidak diketahui sama sekali hal jumlah kondisi yang mungkin timbul serta kemungkinan-kemungkinan munculnya kondisi-kondisi itu. Pengambil keputusan tidak dapat berbagai kondisi atau hasil yang keluar. Yang diketahui hanyalah kemungkinan hasil dari suatu tindakan, tetapi tidak dapat diprediksi berapa besar probabilitas setiap hasil tersebut. Hal yang akan diputuskan biasanya relatif belum pernah terjadi. Tingkat ketidakpastian keputusan semacam ini dapat dikurangi dengan beberapa cara, antara lain: mencari informasi lebih banyak, melalui riset atau penelitian, dan penggunaan probabilitas subyektif. Pengambilan keputusan dalam kondisi konflik; Kepentingan dua atau lebih pengambil keputusan saling bertentangan dalam situasi persaingan. Pengambil keputusan saling bersaing dengan pengambil keputusan lainnya yang rasional, tanggap dan bertujuan untuk memenangkan persaingan tersebut. menentukan probabilitas terjadinya

PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN Proses pengambilan keputusan merupakan tahap-tahap yang harus dilakukan atau digunakan untuk membuat keputusan. Tahap-tahap ini merupakan kerangka dasar, sehingga setiap tahap dapat dikembangkan lagi menjadi beberapa sub tahap yang lebih khusus dan lebih operasional. Identifikasi masalah Mendefinisikan masalah Memformulasikan dan mengembangkan alternatif Implementasi keputusan Evaluasi keputusan

D. EMOTIONAL QUOTIENT (EQ) KEPEMIMPINAN


Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20% dan sisanya yang 80% ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional. IQ mengangkat fungsi pikiran, EQ mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat.

Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 20

EQ merupakan kemampuan untuk mengenali emosi diri sendiri, kemampuan untuk mengelola dan mengekspresikan emosi diri sendiri dengan tepat, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, kemampuan untuk mengenali orang lain dan kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain (Peter Salove dari Universitas Harvard dan John Mayer dari Unuversitas New Hamshire). Penelitian mengatakan bahwa kecerdasan ini lebih menentukan kesuksesan seseorang. Kualitas atau kriteria EQ menurut John Mayer: Empati Mengungkapkan dan memahami perasaan Mengendalikan amarah Kemandirian Kemampuan menyesuaikan diri Disukai Kemampuan memecahkan masalah antar pribadi Ketekunan Kesetiakawanan Keramahan Sikap hormat Daniel Goleman dkk (2002) menyatakan bahwa dalam sebuah survey besar pada ratusan perusahaan besar Amerika, diselidiki factor-faktor apa yang membuat seseorang pimpinan atau manajer menjadi jauh lebih berhasil dari yang lain. Ternyata bukanlah perbedaan kemampuan teknis atau kemampuan analisa yang penting, tapi justru hal-hal yang berkaitan dengan emosi dan perasaan dan hubungan personal. Empat hal yang paling menonjol adalah: Kemauan dan keuletan untuk mencapai tujuan, kamauan mengambil inisiatif baru, kemampuan bekerjasama, dan kemampuan memimpin tim. Secara umum ada enam tipe kepemimpinan: 1) Visionary, Kepemimpian dengan Visi, yang mampu membawa orang pada tujuan impian bersama. Tipe ini dibutuhan pada saat terjadinya ketidakpastian atau dibutuhkannya perubahan. 2) Coaching, Gaya Pembinaan, yang lebih mengutamakan hubungan inter-personal untuk mencapai tujuan organisasi, lebih pas untuk melestarikan kemapanan. 3) Affiliate, Kepemimpinan Kerja sama, yang lebih mengutamakan harmoni, sangat bagus untuk masa-masa susah dan memotivasi tim yang sedang dalam krisis. 4) Democratic, Kepemimpinan Demokrasi, mengedepankan pendapat dan pandangan semua orang, keinginan bersama adalah pendapat tertinggi.

Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 21

5) Pacesetting, Kepemimpinan Memacu Kemajuan, sangat dibutuhkan untuk memotivasi tim dalam mengejar ketinggalan atau untuk mencapai target yang luar biasa. 6) Commanding, atau Kepemimpian Otoriter, yang lebih umum dipakai untuk mengatasi kemelut internal. Dari enam tipe kepemimpian itu, empat yang pertama lebih mementingkan Emotional

Intelligence, dan lebih sering berhasil dari pada dua yang terakhir. Pemakaian dua tipe
terakhir haruslah dijalankan dengan sangat berhati-hati, karena dalam pelaksanaanya sering membawa hasil buruk. Hanya pada situasi khususlah kedua tipe tersebut boleh digunakan dengan hati-hati. Seorang pemimpin dapat saja memiliki dan memakai beberapa tipe gaya kepemimpinan yang berbeda untuk keadaan dan saat yang berbeda. Kepemimpian dapat diajarkan dan dilatih, dan bukan didapat sejak dari lahir. Hal ini sering diperdebatkan, dan secara ilmiah telah dibuktikan pada banyak survey bahwa dengan pelatihan dan dalam iklim yang menunjang, seseorang dapat berkembang dan menjadi pemimpin yang baik. Ada lima langkah untuk seseorang dapat maju menjadi pemimpin yang lebih baik: 1) Pertama dia harus mempelajari impian ideal tentang dirinya sendiri. Ini dapat dilakukan dengan misalnya mencoba secara serius berpikir apa yang ingin dicapai lima belas tahun yang akan datang. Memikirkan segala aspek secara detail, terutama tentang kualitas kepemimpinannya. 2) Kedua, melihat dirinya sendiri saat ini secara jujur dan terbuka. Bercermin dan menganalisa secara kritis akan dirinya. Dan mulai menulis kualitas apa saja yang belum dipunyai dengan membandingkan keadaan impian dengan kenyataan sekarang. 3) Ketiga mulai membuat agenda kerja tentang apa yang harus dipelajari dan dilatih untuk mencapai idealnya. 4) Keempat mulai melangkah dan melakukan langkah-langkah tersebut baik melalui pelatihan, pemikiran, penajaman perasaan dan penyempurnakan diri. 5) Kelima mencari orang yang dapat diajak untuk membantu memperlancar dan mengawasi perubahan dirinya menuju perbaikan tersebut. Motivasi untuk mau berubah adalah sebuah kunci yang perlu ada. Orang tidak akan bisa berubah kalau tidak ada kemauan keras untuk itu. Sering dibutuhkan sebuah kejadian besar dalam perjalanan hidup seseorang untuk dapat merasakan kebutuhan akan perubahan dalam dirinya. Harus ada sebuah harapan impian yang memang benar-benar diinginkannya untuk membuat seseorang mau melewati kesakitan dan beratnya beban perbaikan. Pemimpin sering dikelilingi oleh kepalsuan yang diciptakan oleh bawahannya yang sekedar ingin menyenangkan pimpinan saja. Dibutuhkan sebuah kemauan untuk melihat dirinya secara lebih jujur dan terbuka untuk menyadarkan seseorang. Untuk dapat memiliki kompetensi dalam Kepemimpinan Emotional Intelligence, perlu dimulai dengan penyadaran diri dan melakukan manajemen diri sendiri secara sadar.

Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 22

Menyadari akan emosi-emosi, dan secara tepat menilai emosi diri serta memiliki kepercayaan diri untuk melakukan perbaikan. Mulai dari kontrol diri sendiri, bersikap tenang dalam situasi apapun, memiliki keterbukaan dan kejernihan emosi, serta kemampuan adaptasi terhadap lingkungan dan tetap fokus pada hal-hal yang positif. Optimisme dan kemauan melakukan inisiatif penting untuk dapat mencapai kemajuan pribadi dan menghasilkan pancapaian yang maksimal. Dalam hubungan dengan sekeliling, seorang pemimpin perlu memiliki empati, kemampuan menangkap dan menyelaraskan emosi dengan emosi orang lain atau lingkungannya. Memiliki keterbukaan dan kepekaan akan sekeliling, dan mau memberikan layanan emosi pada sekeliling. Kemampuan pemimpin menjadi inspirasi bagi bawahan, kemampuan memberi dampak positif dan kemampuan untuk membimbing dan menumbuhkan jiwa bawahan. Penyelesaian pertikaian yang adil dan baik, membuat kerja tim menjadi lebih efektif dan kemampuan menjadi katalis perubahan dalam organisasi adalah tanda kematangan dalam kepemimpinan. Pemimpin yang baik harus dapat mengambil emosi-emosi yang baik dari bawahan dan perusahaan dan memperpanjang gaungnya serta menyelaraskan seluruh iklim budaya organisasinya pada nilai-nilai positif dari emosi-emosi tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Hasan, Iqbal. 2002. Pokok-pokok Materi Teori Pengambilan Keputusan. Jakarta: Indonesia. Ghalia

Prawirosentono, Suyadi. Bahasan Komprehensif: Strategi Pengambilan Keputusan Bisnis. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Veithzal, Rivai. 2003. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. http://www.tanadisantoso.com/v50/BookReview/index.php?act=detail&rid=23 http://ivanishadi.blogspot.com/2009/06/gaya-kepemimpinan-emotional.

Kemampuan Memahami Kepemimpinan Bisnis 23