PERENCANAAN ELEMEN MESIN III

SISTEM TRANSMISI GEAR BOX
Disusun oleh :
Nama : Panji Prasetya
No. Mhs : 210003048
Jenjang Studi : Strata Satu ( S-I )
Program Studi : Teknik Mesin
JURUSAN TEKNIK MESIN
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL
YOGYAKARTA
2009
HALAMAN PERSETUJUAN
Makalah Elemen Mesin ini disusun sebagai salah satu syarat untuk
memenuhi kurikulum dalam studi jurusan Teknik Mesin S-1 Sekolah Tinggi
Teknologi Nasional Yogyakarta
Disusun Oleh :
Nama : Panji Prasetya
No. Mhs : 210003048
Jenjang Studi : Strata Satu ( S-I )
Program Studi : Teknik Mesin
Yogyakarta, 09 Juli 2009
Mengetahui Disetujui dan disahkan
Ketua Jurusan Teknik Mesin Dosen Pembimbing
Sutrisna. ST, MT Ir. Sri Yatno
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL
YOGYAKARTA
JURUSAN TEKNIK MESIN
TUGAS ELEMEN MESIN III
No. Soal : 13-KS/STTNAS/TM/EM3/III/2007
Nama : PANJI PRASETYA
No. Mahasiswa : 210003048
Soal : Rencanakan Kotak Roda Gigi Untuk Mentransferkan
Daya 60 Pk Dengan Putaran Input 1500 Rpm dan
Putaran Output 15 Rpm.
Yogyakarta, 09 Juli 2009
Dosen Pembimbing
( Ir. Sriyatno )
MOTTO
➢ Mulailah dari diri kita sendiri. Mulailah dari yang terkecil dan mulailah dari
yang sekarang.
➢ Tidak ada usaha yang gagal, kegagalan adalah usaha untuk mencapai
kemenangan.
➢ Jika kamu gagal yang ketujuh kali cobalah untuk yang ke delapan kali.
➢ Jangan kecewa bila dunia tidak mengenal anda tetapai kecewalah bila
anda tidak mengenal dunia.
➢ Berkerjalah untuk duniamu dan beramallah untuk akhiratmu.
➢ Persiapan yang baik untuk masa depan ialah tugas yang terakhir
dikerjakan dengan sebaik-baiknya.
➢ Kejujuran dan kesabaran adalah harta orang yang bijak.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
banyak rahmat serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
Laporan Seminar Perancangan Elemen mesin III dengan judul ”Sistem
Transmisi Gear Box” dapat terselesaikan dengan baik dan sesuai waktu yang
ditentukan.
Seminar Perancangan Elemen mesin III ini merupakan salah syarat yang
harus dipenuhi oleh mahasiswa jurusan Teknik Mesin Strata Satu Sekolah
Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta.
Tersusunnya laporan ini tidak lepas dari partisipasi dan bantuan dari
semua pihak, pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Bapak dan Ibu, serta keluarga tercinta yang telah memberikan
dukungan dan dorongan baik berupa material maupun spiritual.
2. Bapak Ir. H. R. Soekrisno, MSME, Ph.D selaku ketua Sekolah
Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta.
3. Bapak Sutrisna, ST. MT, selaku ketua jurusan Teknik Mesin
4. Bapak Ir.Sri Yatno, Selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan pengarahan, motivasi dan bimbingan.
5. Semua pihak yang telah banyak membantu secara langsung
maupun tidak langsung sehingga terselesaikannya laporan Tugas
Akhir ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi
kita semua dan dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Yogyakarta, , 09 Juli 2009

Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL.............................................................................i
HALAMAN PERSETUJUAN..............................................................ii
HALAMAN SOAL...............................................................................iii
MOTTO ..............................................................................................iv
KATA PENGANTAR..........................................................................v
DAFTAR ISI........................................................................................vi
DAFTAR TABEL.................................................................................viii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah.....................................1
1.2 Tujuan dan Manfaat Perencanaan.....................1
1.3 Batasan Masalah................................................2
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Pendahuluan......................................................3
2.2 Roda Gigi............................................................4
2.2.1 Roda Gigi lurus........................................7
2.2.2 Roda Gigi Cacing....................................7
2.3 Poros..................................................................10
2.3.1 Klasifikasi Poros............................10
2.4 Pasak..................................................................11
2.4.1 Klasifikasi Pasak...........................11
2.5 Bantalan..............................................................13
2.5.1 Klasifikasi Bantalan.......................13
2.5.2 Kelakuan Pada Bantalan..............15
2.5.3 Sistem Pelumasan Pada Bantalan 16
BAB III PERHITUNGAN PERENCANAAN
3.1 Perhitungan Roda Gigi Lurus.............................19
3.2 Perhitungan Roda Gigi Cacing...........................30
3.3 Perhitungan Poros..............................................41
3.4 Perhitungan Pasak.............................................62
3.5 Perhitungan Bantalan Rol Kerucut.....................68
BAB IV SISTEM PERAWATAN DAN PELUMASAN
4.1 Perawatan Mesin................................................80
4.1.1 Pengertian Perawatan.............................80
4.1.2 Perawatan Transmisi Roda gigi cacing. . .81
4.1.3 Pelumasan...............................................82
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan.........................................................85
5.2 Saran..................................................................92
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Lampiran
Tabel 1 Kasifikasi Roda Gigi....................................................................I
Tabel 2 Harga Modul Standar...................................................................II
Tabel 3 Tegangan Lentur yang Diijinkan Pada Bahan Roda GigiI.........III
Tabel 4 Sudut Tekanan Normal................................................................IV
Tabel 5 Faktor Ketahanan Terhadap Keausan.........................................V
Tabel 6 Sudut Kisar...................................................................................VI
Tabel 7 Baja Karbon Cor...........................................................................VII
Tabel 8 Ukuran dan Standart Pasak........................................................VIII
Tabel 9 Bantalan Rol Kerucut...................................................................IX
Tabel 10 Konversi Satuan...........................................................................X
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari tidak ada suatu masalah atau
pekerjaan yang dilakukan tanpa melalui sebuah perencanaan. Sebenarnya
apakah arti dari merencana atau perencanaan itu sendiri. Merencana
berarti merumuskan suatu rencana sebelum menyelesaikan masalah atau
pekerjan dalam memenuhi kebutuhan manusia.
1.1.Latar Belakang Masalah
Sejalan dengan perkembangan teknologi dewasa ini, banyak
dijumpai berbagai peralatan rumah tangga, permesinan dan suku cadang
yang sudah modern dan sangat canggih. Tujuan dari perkembangan yang
demikian maju ini adalah untuk membantu manusia dalam menjalankan
kehidupan sehari-hari, meningkatkan mutu produksi serta kemampuan
untuk menghasilkan produk dengan biaya ekonomis dan bermutu tinggi.
Melihat keadan ini penulis mencoba ikut serta merencanakan
sebuah perencanaan sistem reduksi roda gigi berdaya 60 HP dengan
putaran input (n
in
) sebesar 1500 rpm hingga putaran output (n
out
) sebesar
15 rpm. Adapun dalam perencanan ini perbandingan reduksi yang
digunakan adalah dengan transnmisi roda gigi.
1.2. Tujuan dan Manfaat Perencanaan
Adapun manfaat dari perencanaan ini adalah:
1. Sebagai salah satu persyaratan tugas seminar elemen
mesin.
2. Meningkatkan pengetahuan tenteng system transmisi roda
gigi.
3. Adanya modifikasi atau perencanaan ulang pada transmisi roda gigi
diharapkan dapat tercipta sebuah system transmisi yang lebih baik,
lebih kuat, dan tahan lama namun dngan harga yang ekonomis.
4. Mampu menganalisa serta memahami dari cara kerja sistem
transmisi roda gigi.
1.1.Batasan Masalah
Batasan masalah yang akan dibahas dalam perencanaan ini adalah
bagaimana merencanakan sistem reduksi menggunakan transmisi roda
gigi. Dimana dari transmisi tersebut didapat daya maksimum dan putaran
yang diinginkan.
Dalam perencanaan ini penulis hanya merencanakan susunan
transmisi roda gigi yang akan dibagi menjadi tiga tingkat adapun jenis roda
gigi yang digunakan adalah roda gigi lurus dan roda gigi cacing. Untuk
mendapatkan hasil yang baik dalam perencanaan ini, maka perlu
dilakukan survei atau penelitian langsung yang berhubungan dengan
perencanaan tersebut.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Pendahuluan
Reduksi adalah perbandingan transmisi dari suatu alat
yang digunakan untuk meneruskan putaran atau daya dari
elemen mesin ke elemen mesin lainnya. Karena pentingnya
elemen ini maka cara yang dipakai disesuaikan dengan
fungsinya. Ada beberapa cara dalam mentransmisikan putaran
yaitu dengan sabuk, rantai, roda gesek, dan roda gigi, kabel, atau
tali. Akan tetapi kabel atau tali hanya dipakai untuk maksud
khusus.
Jika dari dua buah roda berbentuk silinder atau kerucut yang
saling bersinggungan pada kelilingya salah satu diputar maka
yang lain akan ikut berputar pula. Alat yang menggunakan cara
kerja semacam ini untuk mentrasmisikan daya disebut roda gigi.
Cara ini cukup baik untuk meneruskan daya kecil dengan putaran
yang tidak perlu tepat.
Guna mentransmisikan daya besar dan putaran yang
tepat tidak dapat dilakukan dengan roda gesek. Untuk ini, kedua
roda tersebut harus dibuat bergigi pada kelilingnya sehingga
penerusan daya dilakukan oleh gigi-gigi kedua roda yang saling
terkait. Roda bergigi semacam ini, yang dapat berbentuk silinder
atu kerucut, disebut roda gigi.
Di luar cara transmisi diatas, ada pula cara lain untuk
meneruskan daya, yaitu dengan sabuk atau rantai. Namun
demikian, transmisi roda gigi mempunyai keunggulan dibanding
sabuk atau rantai karena lebih ringkas, putaran lebih tinggi dan
tepat, dan daya lebih besar. Kelebihan ini tidak selalu
menyebabkan dipilihnya roda gigi disamping cara yang lain,
karena memerlukan ketelitian lebih besar dalam pembuatan,
pemasangan, maupun pemeliharaannya. Pemakaian roda gigi
sebagai alat transmisi menduduki tempat yang terpenting
disegala bidang selama 200 tahun terakhir ini. Penggunaanya
dimulai dari alat pengukur yang kecil dan teliti seperti jam
tangan, sampai roda gigi reduksi pada turbin besar yang berdaya
puluhan megawatt.
Dalam bab ini akan, dibahas terlebih dahulu penggolongan roda
gigi, dan kemudian akan diuraikan nama setiap bagian roda gigi,
cara menyatakan ukuran roda gigi, dan peristilahan, untuk roda
lurus yang merupakan roda gigi yang paling dasar diantara
lainnya. Dalam hal profil gigi, di sini hanya akan dibicarakan profil
gigi involut atau evolven saja, karena hal ini hanya satu-satunya
yang dipakai secara umum. Dalam hal “roda gigi dengan
perubahan kepala” (atau modifikasi kepala) dan perhitungan
kekuatan roda gigi, akan diperkenalkan metode perencanaan
terbaru secara terperinci, dengan bantuan diagram aliran.
2.2. Roda Gigi
Roda gigi dengan poros sejajar adalah roda gigi di mana
giginya berjajar pada dua bidang silinder (disebut “bidang jarak
bagi”); kedua bidang silinder tersebut bersinggungan dan yang
satu menggelinding pada yang lain dengan sumbu sejajar. Roda
gigi lurus (a) merupakan roda gigi paling dasar dengan jalur gigi
yang sejajar poros. Roda gigi miring (b) mempunyai roda gigi
yang berbentuk ulir pada silinder jarak bagi. Pada roda gigi
miring ini, jumlah pasangan gigi yang saling membuat kontak
serentak (disebut”perbandingan kontak”) adalah lebih besar dari
pada roda gigi lurus sehingg perpindahan momen atau putaran
melalui gigi tersebut dapat berlangsung dengan halus. Sifat ini
sangat baik untuk mentransmisikan putaran tinggi dan beban
besar. Namun roda gigi miring memerlukan bantalan aksial dan
kontak roda gigi yang lebih kokoh, karena jalur roda gigi yang
terbentuk ulir tersebut menimbulkan gaya reaksi yang sejajar
dengan poros. Dalam hal roda gigi miring ganda (c) gaya aksial
yang timbul pada gigi yang mempunyai alur berbentuk V
tersebut akan saling meniadakan. Dengan roda gigi
ini,perbandingan reduksi, kecepatan keliling, dan daya yang
terus diinginkan alat transmisi dengan ukuran kecil dengan
perbandingan reduksi besar,karena pinion terletak pada roda
gigi. Batang gigi (e) merupakan dasar profil pahat pembuat gigi.
Pasangan antara batang gigi dan pinion di pergunakan untuk
merubah gerakan putar menjadi lurus atau sebaliknya.
Dalam hal roda gigi kerucut, bidang jarak bagi merupakan
bidang kerucut yang puncaknya terletak di titik potong sumbu
poros. Roda gigi kerucut (f) dengan gigi lurus, adalah yang paling
mudah di buat dan paling sering di pakai. Tetapi roda gigi ini
sangat berisik karena perbandingan kontaknya yang kecil. Juga
kontruksinya tidak memungkinkan pemasangan bantalan pada
kedua ujung poros-porosnya. Roda gigi kerucut spiral (g), karena
mempunyai perbandingan kontak yang lebih besar, dapat
meneruskan putaran tinggi dan beban besar. Sudut poros kedua
roda gigi kerucut ini biasanya di buat 90.
Dalam golongan roda gigi poros bersilang,terdapat roda
gigi miring silang (i), roda gigi cacing (j and k), roda gigi hipoid
(i), dll. Roda gigi cacing meneruskan putaran dengan
perbandingan reduksi besar. Roda gigi macam (j) mempunyai
cacing dalam bentuk silinder dan lebih umum di pakai. Tetapi
untuk beban besar, cacing globoid atau cacing selubung ganda
(k) dengan perbandingan kontak yang lebih besar dapat di
gunakan. Roda gigi hipoid adalah seperti yang di pakai pada roda
gigi diferensial otomobil, Roda gigi ini mempunyai jalur gigi
berbentuk spiral pada bidang kerucut yang sumbunya bersilang,
dan pemindahan gaya pada permukaan gigi berlangsung secara
meluncur dan menggelinding.
Roda-roda gigi yang telah di sebut di atas semuanya
mempunyai perbandingan kecepatan sudut cepat antara kedua
poros. Tetapi disamping itu terdapat pula roda gigi yang
perbandingan kecepatan sudutnya bervariasi, seperti misalnya
roda gigi eksentris, roda gigi bukan lingkaran, roda gigi lonjong
seperti seperti pada meteran air, dll. Ada pula putaran roda gigi
yang putus-putus dan roda gigi geneva, yang dipakai misalnya
untuk menggerakan film pada proyektor bioskop.
Dalam teori roda gigi pada umumnya di anut anggapan
bahwa roda gigi merupakan benda kaku yang hampir tidak
mengalami perubahan bentuk untuk jangka waktu lama. Namun
pada apa yang disebut transmisi harmonis di pergunakan
gabungan roda gigi yang bekerja dengan deformasi elastis dan
tanpa deformasi.
Menurut Sularso dalam bukunya “ Dasar Perencanaan Dan
Pemilihan Elemen mesin” ,2004, bahwa roda gigi diklasifikasikan
menurut letak poros, arah putaran dan bentuk jalur gigi seperti
pada (Gambar 2.1) yaitu :
Gambar 2.1 Macam-macam roda gigi
(Sularso, 2004)
2.2.1.Roda Gigi Lurus
Gambar 2.2 Nama-nama bagian roda gigi.
(Sularso, 2004)
Roda gigi lurus merupakan salah satu komponen mesin
yang dapat digunakan untuk mentransmisikan daya. Roda
gigi lurus pada kelilingnya dibuat bergerigi, sehingga
penerusan daya dilakukan oleh gigi-gigi kedua roda yang
saling terkait. Gigi-gigi ini memiliki bentuk silinder atau
kerucut. Transmisi roda gigi lurus dibandingkan transmisi
sabuk atau rantai memiliki beberapa keunggulan, antara lain:
bentuk lebih ringkas, daya lebih besar, putaran lebih tinggi
dan tepat.
2.2.2.Roda Gigi Cacing
Pasangan roda gigi cacing terdiri dari sebuah poros
yang mempunyai ulir luar dan sebuah roda cacing yang
berkait dengan poros cacing tersebut. Perbandingan
transmisi roda gigi cacing dapat dibuat hingga perbandingan
reduksi 1 : 100 dan cara kerjanya halus atau hampir tanpa
bunyi. Namun, pada umumnya transmisi tidak dapat dibalik
untuk menaikkan putaran, yakni pada roda cacing ke cacing.
Adapun kekurangan dari transmisi roda gigi cacing adalah
memiliki efisiensi mekanis
( ) η
yang rendah, terutama jika
sudut kisarya
( ) γ
kecil. Dalam kerjanya, cacing dan roda
cacing terjadi gesekan yang cukup besar sehingga dapat
menimbulkan banyak panas, oleh sebab itu kapasitas
transmisi roda gigi sering dibatasi jumlah panas yang timbul.
Gambar 2.3. Nama-nama bagian roda gigi
(Sularso, 2004)
Keterangan :
D
1 C
= diameter inti cacing
D
2 C
= diameter jarak bagi cacing
D
C
= diameter luar cacing
D
1 RC
= diameter lingkaran kaki roda cacing
D
2 RC
= diameter jarak bagi roda cacing
D
3 RC
= diameter tenggorok roda cacing
D
RC
= diameter luar roda cacing
Z
C
= jumlah kisar cacing efektif
C
P
= jarak kisar cacing
ϕ
RC
= sudut lengkung roda cacing
γ
C
= sudut kisar cacing
h
k
= tinggi kepala cacing
h
f
= tinggi kaki cacing
a = jarak sumbu roda cacing dan sumbu cacing
2.3. Poros
Poros merupakan salah satu bagian yang terpenting dari
setiap mesin, hampir semua mesin meneruskan tenaga bersama-
sama dengan putaran utama dalam transmisi yang dipegang oleh
poros.
2.3.1 Klasifikasi Poros
Menurut pembebanannya poros untuk meneruskan daya
dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1). Poros transmisi (line shaft)
Poros ini mendapat beban putir dan lentur. Daya
ditransmisikan pada poros ini melalui kopling, roda gigi, puli
sabuk, rantai, dll.
2). Spindel (Spindle)
Poros yang pendek, seperti poros utama mesin perkakas,
dimana beban utamanya berupa puntiran. Syarat yang harus
dipenuhi poros ini adalah deformasinya harus kecil dan
bentuk serta ukurannya harus teliti.
3). Gandar (axle)
Poros ini biasanya dipasang diantara roda-roda kereta api,
dimana poros tidak mendapat beban puntir dan tidak
berputar. Poros ini hanya mendapat beban lentur, kecuali
bila digerakkan oleh penggerak mula dimana akan
mengalami beban puntir juga.
4). Poros (shaft)
Poros yang ikut berputar untuk memindahkan daya dari
mesin ke mekanisme yang digerakkan. Poros ini mendapat
beban puntir murni dan lentur.
Poros yang digunakan pada dongkrak elektrik ini yaitu
poros cacing, poros ini meneruskan daya dari roda gigi lurus
yang terhubung dengan motor listrik ke roda gigi cacing.
2.4. Pasak
Pasak adalah suatu elemen mesin yang dipakai untuk
menetapkan bagian-bagian seperti roda gigi, sprocket, puli,
kopling, dan yang lainnya. Bahan pasak yang digunakan lebih
lemah dari bahan poros, sehingga pasak akan lebih dulu rusak dari
pada poros atau nafnya. Lebar pasak sebaiknya antara 25%-30%
dari diameter poros, dan panjang pasak jangan terlalu panjang
dibandingkan dengan diameter poros antara 0,75-1,5 diameter
poros.
Pasak menurut letak pada porosnya dapat dibedakan
antara pasak pelana, pasak rata, pasak benam, dan pasak
singgung, yang umumnya berpenampang segiempat. Disamping
beberapa macam pasak diatas ada pula pasak tembereng dan
pasak jarum.
Gambar 2.8 Macam-Macam Pasak
(Sularso, 2004)
2.4.1 Klasifikasi Pasak :
1. Pasak tembereng
Pasak tembereng memiliki bentuk setengah lingkaran,
pada penerapannya pasak ini menghasilkan sambungan
pasak yang paling murah dan paling sedikit membutuhkan
pengerjaan akhir. Khususnya digunakan pada mesin perkakas
dan juga pada kendaraan yang mempunyai momen putar
tidak terlalu besar.
2. Pasak rata
Pasak ini mempunyai bentuk bujur sangkar, dan pada
semua sisinya rata. Pada sambungan pasak ini, perlemahan
poros karena perataan tidak sebesar perlemahan karena alur.
3. Pasak benam
Pasak benam mempunyai bentuk penampang segi empat
dimana terdapat bentuk prismatis dan tirus yang kadang-
kadang diberi kepala untuk memudahkan pencabutannya.
4. Pasak singgung
Pada pasak ini, poros dan naf ditegangkan pada arah
kelilingnya sehingga dalam pemasangan pasak ini bebas
kelonggaran.
Pasak yang digunakan pada dongkrak elektrik ini adalah
pasak benam yang dipasang pada kerangka. Pasak ini
berfungsi untuk menahan poros ulir tidak ikut berputar saat
mesin dioperasikan, sehingga gerakan poros ulir hanya naik-
turun.
2.5. Bantalan
Bantalan adalah suatu elemen mesin yang menumpu poros
beban, sehingga putaran atau gerakan bolak-balik dapat
berlangsung secara halus, aman, dan panjang umur. Bantalan
harus cukup kokoh untuk memungkinkan poros serta elemen
mesin lainnya bekerja dengan baik. Jika bantalan tidak berfungsi
dengan baik maka sistem kerja seluruh unit mesin akan menurun
atau tidak dapat bekerja dengan semestinya.\
2.5.1 Klasifikasi Bantalan
Bantalan gelinding mempunyai keuntungan dari gesekan
gelinding yang sangat kecil dibandingkan dengan bantalan
luncur. (Gambar 2.10) Elemen gelinding seperti bola atau rol
dipasang antara cicin luar dan dalam. Dengan memutar salah
satu cicin tersebut, bola atau rol akan melakukan gerakan
gelinding sehingga gesekan akan jauh lebih kecil. Pada
bantalan ini terjadi gesekan gelinding antara bagian yang
berputar dengan bagian yang diam melalui elemen gelinding
seperti bola (peluru), rol atau rol jarum, dan rol bulat.
Untuk bola atau rol, ketelitian tinggi dengan bentuk dan
ukurannya merupakan suatu keharusan. Karena luas bidang
kontak antara bola dan rol dengan cincin sangat kecil, maka
besarnya beban yang dipakai harus memiliki ketahanan dan
kekerasan yang sangat tinggi.
Gambar 2.10 Macam-Macam Bantalan Gelinding
(Sularso, 2004)
Menurut bentuk elemen gelindingnya, dapat pula dibagi
atas bantalan bola dan bantalan rol. Demikian pula dapat
dibedakan menurut banyaknya baris dan konstruksi dalamnya.
Bantalan yang cincin dalam dan cincin luarnya dapat saling
dipisahkan disebut macam pisah.
Menurut diameter luar atau diameter dalamnya, bantalan
gelinding dapat dibagi atas:
- Diameter luar lebih dari 800 (mm) Ultra besar
- Diameter luar 180-800 (mm) Besar
- Diameter luar 80-180 (mm) Sedang
- Diameter dalam 10 (mm) atau lebih, dan Kecil
diameter luar sampai 80 (mm)
- Diameter dalam kurang dari 10 (mm),dan Diameter kecil
diameter luar 9 (mm) atau lebih
- Diameter luar kurang dari 9 (mm) Miniatur
Menurut pemakaianya, dapat digolongkan atas bantalan
otomobil, bantalan instrumen, bantalan mesin. Bantalan
gelinding biasa terdapat dalam ukuran metris dan inch, dan
distandarkan menurut ISO dengan nomor kode international
menurut ukurannya. Namun demikian perlu diketahui bahwa
bantalan otomobil dapat mempunyai ukuran khusus dengan
pemakainya.
2.5.2 Kelakuan Pada Bantalan
1. Membawa beban aksial
Bantalan radial mempunyai sudut kontak yang besar
antara elemen dan cincinnya, dapat menerima sedikit beban
aksial. Bantalan bola macam alur dalam, bantalan bola
kontak sudut, dan bantalan rol kerucut merupakan bantalan
yang dibebani gaya aksial kecil.
2. Kelakuan terhadap putaran
Diameter (d) (mm) dikalikan dengan putaran permenit
(n) (rpm) disebut harga d atau n. Harga ini untuk suatu
bantalan yang mempunyai bantalan empiris, yang besarnya
tergantung pada macamnya dan cara pelumasannya.
3. Kelakuan gesekan
Bantalan bola dan bantalan rol silinder mempunyai
gesekan yang relatif kecil dibandingkan dengan bantalan
yang lainnya. Untuk alat-alat ukur, gesekan bantalan
merupakan penentuan ketelitiannya.
4. Kelakuan dalam bunyi dan getaran.
Hal ini dipengaruhi oleh kebulatan bola dan rol,
kebulatan cincin, kekerasan elemen-elemen tersebut,
keadaan sangkarnya, dan kelas mutunya. Faktor lain yang
mempengaruhi adalah ketelitian pemasangan, konstruksi
mesin (yang memakai bantalan tersebut), dan kelonggaran
dalam bantalan.
2.5.3 Sistem Pelumasan Pada Bantalan
Dalam penggunaan bantalan pada suatu mesin, haruslah
memperhatikan sistem pelumasan yang akan digunakan.
Pemilihan cara pelumasan sangat perlu diperhatikan bentuk,
kondisi kerja, dan letak bantalan menjadi pertimbangan dalam
pemilihan. Sehingga tempat pelumasan, bentuk serta
kekerasan alur minyak juga merupakan faktor-faktor penting.
Dalam pelumasan bantalan, dikenal bermacam-macam cara,
antara lain :
1. Pelumasan tangan
Cara ini sesuai pada beban ringan, kecepatan rendah,
atau kerja yang tidak terus-menerus. Kekurangannya adalah
bahwa aliran pelumasan tidak selalu tetap, atau pelumasan
menjadi tidak teratur.
2. Pelumasan tetes
Dari sebuah wadah, minyak diteteskan dalam jumlah
yang banyak dan teratur melalui sebuah katup jarum.
3. Pelumasan sumbu
Cara ini menggunakan sebuah sumbu yang dicelupkan
dalam mangkok minyak sehingga minyak terisap oleh sumbu
tersebut. Pelumasan ini dipakai seperti dalam hal pelumasan
tetes.
4. Pelumasan percik
Dari suatu bak penampung, minyak dipercikkan. Cara ini
digunakan untuk melumasi torak dan silinder motor bakar
torak yang berputar tinggi.
5. Pelumasan cincin
Pelumasan ini menggunakan cincin yang digantungkan
pada poros sehingga akan berputar bersama poros sambil
mengangkat minyak dari bawah. Cara ini dipakai untuk
beban sedang.
6. Pelumasan pompa
Pelumasan pompa dipergunakan untuk mengalirkan
minyak ke dalam bantalan. Cara ini dipakai untuk melumasi
bantalan yang sulit letaknya, seperti pada bantalan utama
motor putaran tinggi dan beban besar.
7. Pelumasan grafitasi
Pada bantalan diletakkan sebuah tangki, minyak dialirkan
oleh gaya beratnya. Cara ini dipakai untuk kecepatan sedang
dan tinggi pada kecepatan keliling sebesar 10-15 m/s.
8. Pelumasan celup
Sebagian dari bantalan dicelupan dalam minyak. Cara ini
cocok untuk bantalan dengan poros tegak, seperti pada
turbin air. Disini perlu diberikan perhatian pada besarnya
gaya gesekan, karena tahanan minyak, kenaikan temperatur
dan kemungkinan masuknya kotoran atau benda asing.
Bantalan adalah elemen mesin yang menumpu poros
berbeban, sehingga putaran atau gerakan bolak-baliknya
dapat berlangsung dengan halus, aman dan berumur
panjang (Sularso, 2004). Bantalan dalam permesinan seperti
halnya dalam pondasi bangunan. Artinya apabila bantalan
tidak berfungsi dengan baik, maka system tidak dapat
bekerja sebagaimana mestinya.
Dalam memilih bantalan yang akan digunakan, perlu
diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Tinggi rendahnya putaran poros
2. Jenis bahan yang dikenakan
3. Besar-kecilnya beban yang dikenakan
4. Ketelitian elemen mesin
5. Kemudahan perawatannya.
BAB III
PERHITUNGAN PERENCANAAN
3.1. Perhitungan Roda Gigi Lurus
3.1.1. Perhitungan Roda Gigi Lurus I dan II
Direncanakan:
- Daya motor (P
m
) = 60 HP = 44,76
kW
- Putaran motor yang ditransmisikan (n
1
) = 1500
rpm
- Perbandingan Reduksi (i) = 2
- Jarak sumbu poros (a) = 180 mm
- Modul (m) = 4 mm
1) Diameter lingkar jarak bagi roda gigi dengan jarak
sumbu poros (d
g
) :
d
g
=
( ) i
a
+

1
2
...........................................................
1
maka :
d
g1
=
( ) 2 1
. 2
+
a
d
g1
=
a ⋅
3
2
d
g1
=
180
3
2

d
g1
= 120 mm
dan :
1 Ibid, hal. 214
d
g2
=
( ) i
i a
+
⋅ ⋅
1
2
..........................................................
2
maka :
d
g2
=
( ) 2 1
2 2
+
⋅ ⋅ a
d
g2
=
( ) 2 1
. 4
+
⋅ a
d
g2
=
180
3
4

d
g2
= 240 mm
2) Mencari jumlah gigi (z
g
) :
z
g
=
m
d
g
1
..............................................................
3
maka:
z
g1
=
m
d
g
1
z
g1
=
4
120
z
g1
= 30 gigi
2 Ibid, hal. 214
3 Ibid, hal. 214
dan :
z
g2
=
m
d
g
2
z
g2
=
4
240
z
g2
= 60 gigi
3) Mencari diameter luar roda gigi (d
kg
) :
d
kg
= ( z
g
+ 2 ) · m...............................................
4
maka :
d
kg1
= ( z
g1
+ 2 ) · m
d
kg1
= ( 30 + 2 ) · 4
d
kg1
= 128 mm
dan :
d
kg2
= ( z
g2
+ 2 ) · m
d
kg2
= ( 60 + 2 ) · 4
d
kg2
= 248 mm
4) Mencari tinggi kepala gigi pada roda gigi (h
kg
) :
h
kg
= m...............................................................
5
maka :
4 Ibid, hal. 219
5 Ibid, hal. 219
h
kg
= 4 mm
5) Mencari tinggi kaki gigi (h
fg
) :
h
fg
= k.m + c
k
.m................................................
6
maka :
h
fg
= (1 · 4) + (0,16 · 4)
h
fg
= 4,64 mm
keterangan:
k : Faktor kepala yang besarnya adalah 1
c
k
: Kelonggaran puncak yang besarnya adalah
0,16 . m
6) Mencari tinggi gigi (h
g
) :
h
g
= 2 · m + c
k
· m..............................................
7
maka :
h
g
= (2 · 4) + (0,16 · 4)
h
g
= 8,64 mm
7) Mencari jarak bagi lingkar (t
g
) :
t
g
= π · m............................................................
8
maka :
t
g
= 3,14 · 4 mm
t
g
= 12,56 mm
6 Ibid, hal. 220
7 Ibid, hal. 220
8 Ibid, hal. 220
8) Mencari diameter dalam (Dd
g
) pada roda gigi :
Dd
g
= dk
g
– 2 · h
g
..................................................
9
maka :
Dd
g1
= dk
g1
– 2 · h
g
Dd
g1
= 128 – 2 · 8,64
Dd
g1
= 110,72 mm
dan :
Dd
g2
= dk
g2
– 2 · h
g
Dd
g2
= 240 – 2 · 8,64
Dd
g2
= 230,72 mm
9) Jadi perbandingan reduksi (i
g
) untuk roda gigi
adalah :
i
g
=
1
2
Zg
Zg
............................................................
10
diketahui :
- Zg
1
jumlah gigi = 30
- Zg
2
jumlah gigi = 60
- Daya motor (P
in
) = 44,76 Kw
- Putaran motor(n
1
) = 1500 rpm
i
g
=
1
2
Zg
Zg
maka :
9 Ibid, hal. 220
10 Ibid, hal. 238
i
g
=
2
30
60
·
10) Putaran reduksi (n) :
n
2
................................................................=
i
n
1
11
maka :
n
2
=
·
2
1500
750 rpm
11) Gaya tangensial pada roda gigi lurus (F
tg
) :
F
tg
=
v
Pm 102
........................................................
12
keterangan :
P
m
= Daya motor = 44,76 kW
v = Kecepatan roda gigi lurus (m/detik)
maka :
v =
1000 . 60
. dg .
2 2
n π
..................................................
13
=
1000 . 60
750 240⋅ ⋅ π
= 9,42m/det
jadi gaya tangensial roda gigi :
11 Ibid, hal. 238
12 Ibid, hal. 238
13 Ibid, hal 238
F
tg
=
det / 42 , 9
76 , 44 102
m

= 484,66 kg
3.1.2. Perhitungan Roda Gigi Lurus III
Direncanakan:
- Daya motor (P
m
) = 60 HP = 44,76
kW
- Putaran motor yang ditransmisikan (n
1
) = 750 rpm
- Perbandingan Reduksi (i) = 2,5
- Jarak sumbu poros (a) = 420 mm
- Modul (m) = 4 mm
1) Diameter lingkar jarak bagi roda gigi dengan jarak
sumbu poros (d
g
) :
d
g
=
( ) i
a
+ 1
. 2
diketahui :
d
g2
= 240 mm
maka :
d
g3
=
( ) i
i a
+
⋅ ⋅
1
2
d
g3
=
( ) 5 , 2 1
5 , 2 2
+
⋅ ⋅ a
d
g3
=
( ) 5 , 2 1
. 5
+
⋅ a
d
g3
=
420
5 , 3
5

d
g3
= 600 mm
2) Mencari jumlah gigi (z
g
)

:
z
g
=
m
d
g
1
diketahui :
d
g3
= 600 mm
d
g2
= 240 mm
z
g2
= 60 mm
maka :
d
g3
= z
g3
· m
z
g3
=
m
d
g
3
z
g3
=
4
600
z
g3
= 150 gigi
3) Mencari diameter luar roda gigi (d
kg
) :
d
kg
= ( z
g
+ 2 ) · m
diketahui :
d
kg2
= 248 mm
maka :
d
kg3
= ( z
g3
+ 2 ) · m
d
kg3
= ( 150 + 2 ) · 4
d
kg3
= 608 mm
4) Mencari tinggi kepala gigi pada roda gigi (h
kg
) :
h
kg
= m
maka :
h
kg
= 4 mm
5) Mencari tinggi kaki gigi (h
fg
) :
h
fg
= k.m + c
k
.m
maka :
h
fg
= (1 · 4) + (0,16 · 4)
h
fg
= 4,64 mm
keterangan:
k : Faktor kepala yang besarnya adalah 1
c
k
: Kelonggaran puncak yang besarnya adalah
0,16 . m
6) Mencari tinggi gigi (h
g
) :
h
g
= 2 · m + c
k
· m
maka :
h
g
= (2 · 4) + (0,16 · 4)
h
g
= 8,64 mm
7) Mencari jarak bagi lingkar (t
g
) :
t
g
= π · m
maka :
t
g
= 3,14 · 4 mm
t
g
= 12,56 mm
8) Mencari diameter dalam (Dd
g
) pada roda gigi :
Dd
g
= dk
g
– 2 · h
g
diketahui :
Dd
g2
= 230,72 mm
d
kg3
= 608 mm
maka :
Dd
g3
= dk
g3
– 2 · h
g
Dd
g3
= 608 – 2 · 8,64
Dd
g3
= 592,72 mm
9) Jadi perbandingan reduksi (i
g
) untuk roda gigi
adalah :
i
g
=
2
3
Zg
Zg
diketahui :
- Zg
2
jumlah gigi = 60
- Zg
3
jumlah gigi = 150
- Daya motor (P
in
) = 44,76 Kw
- Putaran motor(n
2
) = 750 rpm
maka :
i
g
=
2
3
Zg
Zg
i
g
=
5 , 2
60
150
·
10) Putaran reduksi (n)
n
3
=
i
n
2
maka :
n
3
=
·
5 , 2
750
300 rpm
11) Gaya tangensial pada roda gigi lurus (F
tg
) :
F
tg
=
v
Pm 102

keterangan :
P
m
= Daya motor = 44,76 kW
v = Kecepatan roda gigi lurus (m/detik)
v =
1000 . 60
. dg .
3 3
n π

=
1000 . 60
300 600⋅ ⋅ π
= 9,42m/det
jadi gaya tangensial roda gigi :
F
tg
=
det / 42 , 9
76 , 44 102
m

= 484,66 kg
3.2. Perhitungan Roda Gigi Cacing
Dalam perencanaan roda gigi cacing ini diketahui data-data
sebagai berikut :
– Daya yang ditransmisi (P
m
) = 44,76 kW
– Putaran input (n
3
) = 300 rpm
– Perbandingan transmisi (i) = 20
1) Mencari putaran output (n
4
) :
i =
4
3
n
n
...............................................................
14
maka :
n
4
=
i
n
1
14 G. Neiman. Machine Element, hal. 180
=
20
300
= 15 rpm
2) Modul aksial (m) :
m =
28 , 6
7 , 12 . 2
2
+

Z
a
....................................................
15
dimana :
a = jarak sumbu poros = 500 mm
z
2
= jumlah gigi roda cacing
= i x z
1
..........................................................
16
= 20 x 1
= 20
maka :
m =
28 , 6 20
7 , 12 500 . 2
+

= 37,57 mm
3) Diameter inti cacing (Dc
1
) :
Dc
1
= 0,6 x a
0,85
..................................................
17
dimana :
a = jarak sumbu poros = 300 mm
maka :
Dc
1
= 0,6 x 500
0,85
= 118 mm
15 Sularso, Elemen Mesin, hal 277
16 Ibid, h 276
17 Ibid, hal 185
4) Diameter jarak bagi gigi cacing (Dc
2
) :
Dc
2
= Dc
1
+ 2,4 · m..............................................
18
= 118 + (2,4 x 37,57)
= 208 mm

5) Faktor profil gigi (z
f
) :
z
f
=
m
Dc
2
..........................................................
19
=
57 , 37
208
= 5,5 mm
6) Sudut kisar cacing adalah (
m
) :
= arc tg
F
z
z
1
.....................................................
20
= arc tg
5 , 5
1
= 10,3º


7) Modul normal (m
n
) :
m
n
= m cos 
m
....................................................
21
= 37,57 x cos 10,3º
= 37 mm
8) Kelonggaran puncak (c) :
18 G. Neimen, Machine Element, hal 180
19 Ibid, hal 180
20 Ibid, hal 180
21 Sularso, Elemeen Mesin, hal 277
c = 0,157 m
n
..................................................
22
= 0,157 x 37
= 5,8 mm
9) Tinggi kepala (hk) :
hk .......................................................................=
m
n

23
= 37 mm
10)Tinggi kaki (hf) :
hf = 1,157 x m
n
................................................
24
= 1,157 x 37
= 42,8 mm
11)Tinggi gigi (h) :
h = 2,157 x m
n
................................................
25
= 2,157 x 37
= 79,8 mm
12) Diameter luar cacing (Dc) :
Dc = Dc
2
+ 2 hk.................................................
26
= 208 + (2 x 37)
= 282 mm
13) Diameter jarak bagi roda cacing (dm
2
) :
D
RC2
= 2·a - Dc
2
.......................................................
27
= (2 x 500) – 208
= 792 mm
14) Diameter inti roda cacing (D
RC1
) :
22 Ibid, hal 277
23 Ibid, hal 277
24 Ibid, hal 277
25 Ibid, hal 277
26 G. Nieman, Machine Element, hal.186
27 Ibid, hal 180
D
RC1
= D
RC2
– 2,4 · m .............................................
28
= 792 – (2,4 x 37,57)
= 701,8 mm
15) Diameter tenggorok roda cacing (dk
2
) :
D
RC3
= D
RC2
+ 2 h
f
...................................................
29
= 792 + (2 x 42,8)
= 877,6 mm
16) Diameter luar roda cacing (D
RC
) :
D
RC
= D
RC2
+ 3 · m..................................................
30
= 792 + (3 x 37,57)
= 904,7 mm
17) Nomor gigi cacing (Zm
2
) :
Zm
2
=
m
RC2
D
.........................................................
31
=
57 , 37
792
= 21,08 mm
18) Lebar gigi cacing (b
1
) :
b
1
= 2,5 · m
2
2
+ zm
.......................................
32
28 G. Nieman, Machine Element, hal 180
29 Ibid, hal 186
30 Ibid, hal 186
31 Ibid, hal 186
32 Ibid, hal 186
= 2,5 x 37,57
2 08 , 21 +
= 451 mm
19) Lebar roda cacing (b
2
) :
b
2
=
35 , 6 )
cos
( 38 , 2 +
γ
π mn
.........................................
33
= 2,38·
35 , 6
3 , 10 cos
37 14 , 3
+

,
_

¸
¸ ⋅
o
= 287,4 mm
20)Lebar sisi gigi efektif (be) :
be ....................................................................= Dc
· sin
)
2
(
φ

34
dimana :
φ .......................................... = sudut yang
dibentuk lengkungan gigi rata cacing = 60
o
= 282 · sin
)
2
60
(
= 141 mm
21)Jari-jari kelengkungan puncak roda cacing (rt) :
33 Sularso, Elemen Mesin, hal 277
34 Ibid, hal 277
rt =
hk −
2
Dc2
....................................................
35
=
37
2
208

= 67 mm
22)Jarak bagi (H) :
H = π · m · z
1
................................................
36
= 3,14 x 37,57 x 1
= 117,97 mm
23) Kisar (L) :
L = 2 x H ......................................................
37
= 2 x 117,97
= 235,94 mm
24) Sudut kontak (tgα ) :
tg....................................................................=
γ
α
cos
n tg

38
dimana:
α n adalah sudut kontak normal = 20º
maka
:
35 Ibid, hal 277
36 G. Nieman, Machine Element, hal 180
37 Sularso, Elemen Mesin, hal 276
38 G. Mieman, Machine Element, hal 180
α = arctg
3 , 10 cos
20 tg
α = 20,3
o
25)Koefisien fiskositas (Fn) :
Fn =
85 , 0
2
2
Vf +
.....................................................
39
dimana :
Vf = kecepatan sleding gigi
Vf =
γ cos 19100
Dc
2 2

⋅n
.................................................
40
=
3 , 10 cos 19100
300 208


= 3,2 m/s
maka :
Fn =
85 , 0
2 , 3 2
2
+
Fn = 0,37
26)Koefisien umur dari roda cacing adalah (fh) :
39 Ibid, hal 196
40 Ibid, hal 196
fh =
3
Lh
12000
........................................................
41
dimana :
Lh = Kondisi operasi tersebut adalah 8 jam perhari
dan bekerja selama 365 hari pertahun serta
direncanakan umur roda gigi adalah 10 tahun,
maka harga Lh didapat:
Lh = 8 x 365 x 10
= 24000 jam
maka :
fh =
3
24000
12000
= 0,79
Koefisien beban fw diambil = 1 untuk beban dianggap konstan, maka
τ grentz = Ko x fn x fh x fw........................................
42
dimana :
Ko = 0,8 (Tabel 24/5 buku Machine Element, G. Neiman)
fn = koefisien fiskositas = 0,37
fh = koefisien umur roda gigi cacing = 0,79
fw = koefisien beban = 1
maka :
τ grentz = 0,8 x 0,37 x 0,79 x 1
= 0,23 kg/mm
2
41 Ibid, hal 196
42 Ibid, hal 196
27) Tegangan izin permukaan gigi adalah (τ zul) :
Bila sf adalah angka keamanan sisi gigi diambil 1,25
τ zul =
sf
grentz τ
.............................................................
43
=
25 , 1
23 , 0
= 0,184 kg/mm
2
28)Beban lentur yang diizinkan (Fab) :
Fab = ba x be x m
n
x Y ...............................
44
dimana :
σ ab = tegangan lentur diizinkan untuk bahan perunnggu = 11
kg/mm
2
be = lebar sisi gigi efektif = 141 mm
m
n
= modul normal = 37 mm
Y = faktor bentuk gigi = 0,421 (Tabel 6.5 Sularso)
maka :
Fab = 11 x 141 x 37 x 0,421
= 24159,93 kg.
29)Beban permukaan yang diizinkan (Fac) :
Fac ....................................................................= K
c
x D
RC2
x be x K
γ

45
43 Ibid, hal 196
44 Sularso, Elemen Mesin, hal 279
45 Ibid, hal 279
dimana :
K
c
= faktor tahan aus = 0,056
D
RC2
= diameter jarak bagi roda cacing = 792 mm
be ....................................................................=
lebar sisi gigi efektif = 141 mm
K ....................................................................
= faktor sudut kisar untuk γ > 10
o
= 1,25
maka :
Fac = 0,085 x 792 x 141 x 1,25
= 11865,15 kg
Harga terkecil diantara Fab dan Fac diambil sebagai Fmin
Fmin = 11865,15 kg
30)Beban tangensial (Ft) :
Ft
RC
=
v
Pm 102
dimana :
Pm = daya yang ditransmisikan
= 44,76 kw
v = kecepatan keliling
v =
1000 . 60
. D .
3 2 RC
n π

=
1000 . 60
15 792⋅ ⋅ π
= 0,62 m/det
jadi :
Ft
RC
=
62 , 0
76 , 44 102×
= 7363,74 kg
Fmin

Ft
RC
11865,15 kg

7363,74 kg, sangat baik
31)Gaya pada permukaan cacing
Koefisien fiskositas cacing
( ) Fn
= 0,37
Tangensial sudut maju cacing
( ) β Tg
,
Tg
β
=
C
D
H
⋅ π
=
282
97 , 117
⋅ π
= 0,13 mm
32)Sudut maju cacing
( ) β
,
( ) β
= Arc tg 0,13
= 7,4

.
33)Gaya pada permukaan cacing (Fc),
Fc =
( )
β β
β β
sin . cos
cos sin .
⋅ −
⋅ +
Fn
Fn F
TRC
=
( )
 
 
4 , 7 sin 37 , 0 4 , 7 cos
4 , 7 cos 37 , 0 4 , 7 sin 7363,74
⋅ −
⋅ + ⋅ kg
= 3866,78 kg.
3.3.Perhitungan Poros
3.3.1. Perencanaan Pada Poros Gigi I
1) Analisa beban kerja
Pada roda gigi I
- Beban vertikal (FV),
V = Gaya tangensial roda gigi (Ftg) = 484,66 kg
- Beban horizontal (FH),
H = Gaya tangensial roda gigi (Ftg) = 484,66 kg
jadi :
- Beban Gabungan (F),
F =
2 2
FH FV +
F

=
2 2
kg 484,66 kg 484,66 +
= 685,4 kg
- Berat sendiri poros relatif kecil, sehingga diabaikan.
2) Statika
a. Pembebanan pada poros gigi I


ΣMB = 0
R
AV
. 289,2 – 685,4 · 144,6 = 0
R
AV
=
2 , 289
6 , 144 685,4⋅
R
AV
= 342,7 kg (↑)
ΣMA = 0
R
BV
. 289,2 – 685,4 · 144,6 = 0
R
BV
=
2 , 289
6 , 144 685,4⋅

R
BV
= 342,7 kg (↑)
R
AV
+ R
BV
= F
342,7 kg + 342,7 kg = 685,4 kg
685,4 kg = 685,4 kg
Momen yang terjadi adalah :
MA = 0
MB = 0
MC = 0
L3 = 237,75 mm L1 = 144,6 mm
D
C
A B
L= 526,95 mm
L2 = 144,6 mm
F = 685,4 kg
MD = 342,7 kg · 144,6 mm
= 49554,42 kg·mm

RAV =
342,7 kg
L3 = 237,75 mm
L1 = 144,6 mm
RBV =
342,7 kg
( - )
L=526,95 mm
L2 = 144,6 mm
D C A B
SFD
(↑)
342,7 kg
685,4 kg (↓)
( + )
F1 = 685,4 kg
(↑)
342,7 kg

Gambar 3.1 Diagram Gaya Geser dan Diagram
Momen Lentur
3) Torsi pada poros gigi I :
T = 9,74 x 10
5

1
n
Pd
...............................................
46
= 9,74 x 10
5

1500
76 , 44
= 29064,16 kg.mm
4) Tegangan geser ijin bahan (τ a) :
Bahan poros yang diambil adalah SF 60 JIS G 3210, dari
Tabel 3.7 (lampiran) diketahui :
- Kekuatan Tarik (σ
b
) = 70 kg/mm
2
- Faktor Keamanan Sf
1
= 6
46 Sularso, Elemen Mesin, hal. 7
MD =
49554,42 kg.mm
( + )
BMD
MC = 0 MA = 0 MB = 0
- Faktor Keamanan Sf
2
= 2
- Daya motor transmisi (P
in
) = 44,76 kW
- Momen lentur maksimum (M) = 49554,42 kg.mm
- Torsi pada poros gigi I = 29064,16 kg
mm
- Faktor koreksi karena pembebanan momen lentur
tetap dengan tumbukan ringan (K
m
), dipakai 2
- Faktor koreksi karena pembebanan momen puntir
dengan beban sedikit kejutan (K
t
), dipakai 1,5
maka :
τ a =
2 1 sf sf
b

σ
..........................................................
47
τ a =
2 . 6
70
= 5,83 kg/mm
2
5) Diameter poros gigi I (ds) :
ds =
3
1
2
t
2
a
) T x K ( ) M x Km (
1 , 5
1
1
]
1

¸

+

,
_

¸
¸
τ
........................
48
dimana :
Km = faktor koreksi
untuk momen lentur = 2
Kt = faktor koreksi untuk momen puntir = 1,5
47 Sularso, Elemen Mesin, hal. 7
48 Sularso, elemen Mesin, hal. 18
M = Momen lentur maksimum = 49554,42
kg.mm
T = Torsi pada poros gigi I = 29064,16
kg.mm
ds
≥ 3
1
2 2
) 29064,16 5 , 1 ( ) 49554,42 2 (
83 , 5
1 , 5
1
]
1

¸

× + ×
,
_

¸
¸

≥ 3
1
1900632142 9822562166 (
83 , 5
1 , 5
1
]
1

¸

+
,
_

¸
¸
≥ 3
1
08 1172319431
83 , 5
1 , 5
1
]
1

¸

,
_

¸
¸

64,15 mm
maka diameter poros (ds) yang dipakai = 65 mm
6) Perhitungan defleksi puntiran :
θ = 584
4
ds G
L T
×
×
49
= 584
4 3
) 65 ( 10 3 , 8
2 , 289 29064,16
⋅ ⋅

= 0,033
o
(baik)
dimana batas defleksi putaran = 0,25
o

49 Ibid, hal 18
3.3.2. Perencanaan Poros Pada Gigi II
1) Analisa beban kerja
Pada roda gigi II
- Beban vertikal (FV),
V = Gaya tangensial roda gigi (Ftg) = 484,66 kg
- Beban horizontal (FH),
H = Gaya tangensial roda gigi (Ftg) = 484,66 kg
jadi :
- Beban Gabungan (F),
F =
2 2
FH FV +
F

=
2 2
kg 484,66 kg 484,66 +
= 685,4 kg
2) Statika
Pembebanan pada poros gigi II


L1 = 130 mm
C A B
L= 260 mm
L2 = 130 mm
F = 685,4 kg
ΣMB = 0
R
AV
. 260 – 685,4 · 130
R
AV
=
260
130 685,4⋅
R
AV
= 342,7 kg (↑)
ΣMA = 0
R
BV
. 260 – 685,4 · 130
R
BV
=
260
130 685,4⋅
R
BV
= 342,7 kg (↑)
R
AV
+ R
BV
= F
342,7 kg + 342,7 kg = 685,4 kg
685,4 kg = 685,4 kg
Momen yang terjadi adalah :
MA = 0
MB = 0
MC = 342,7 kg · 130 mm
= 44551 kg·mm

BMD
RAV =
342,7kg
L1 = 130 mm
C
A
MC = 0
RBV =
342,7 kg
MA = 0
B
SFD
(↑)
342,7kg
685,4kg (↓)
MC =
44551 kg.mm
( + )
( - )
L=260mm
L2 = 130 mm
F1 = 685,4kg
(↑)
342,7kg
( + )


Gambar 3.2 Diagram Gaya Geser dan Diagram
Momen Lentur
3) Torsi pada poros gigi II :
T = 9,74 x 10
5

n
Pd

= 9,74 x 10
5

750
76 , 44
= 58128,32 kg.mm
4) Tegangan geser ijin bahan (τ a) :
Bahan poros yang diambil adalah SF 60 JIS G 3210, dari
Tabel 3.7 (lampiran) diketahui :
- Kekuatan Tarik (σ
b
) = 70 kg/mm
2
- Faktor Keamanan Sf
1
= 6
- Faktor Keamanan Sf
2
= 2
- Daya motor transmisi (P
in
) = 44,76 kW
- Momen lentur maksimum (M) = 44551 kg.mm
- Torsi pada poros gigi II = 58128,32 kg
mm
- Faktor koreksi karena pembebanan momen lentur
tetap dengan tumbukan ringan (K
m
), dipakai 2
- Faktor koreksi karena pembebanan momen puntir
dengan beban sedikit kejutan (K
t
), dipakai 1,5
maka :
τ a =
2 1 sf sf
b

σ

τ a =
2 . 6
70
= 5,83 kg/mm
2
5) Diameter poros gigi II (ds) :
ds =
3
1
2
t
2
a
) T x K ( ) M x Km (
1 , 5
1
1
]
1

¸

+

,
_

¸
¸
τ
dimana :
Km = faktor koreksi
untuk momen lentur = 2
Kt = faktor koreksi untuk momen puntir =
1,5
M = Momen lentur maksimum = 44551 kg.mm
T = Torsi pada poros gigi II = 58128,32
kg.mm
ds
≥ 3
1
2 2
) 58128,32 5 , 1 ( ) 44551 2 (
83 , 5
1 , 5
1
]
1

¸

× + ×
,
_

¸
¸

≥ 3
1
7602528569 7939166404
83 , 5
1 , 5
1
]
1

¸

+
,
_

¸
¸
≥ 3
1
3 1554169497
83 , 5
1 , 5
1
]
1

¸

,
_

¸
¸
≥ 3
1
47 , 122240
83 , 5
1 , 5
1
]
1

¸


,
_

¸
¸

45,96 mm
maka diameter poros (ds) yang dipakai = 60 mm
6) Perhitungan defleksi puntiran :
 = 584
4
ds G
L T
×
×
= 584
4 3
) 60 ( 10 3 , 8
260 58128,32
⋅ ⋅

= 0,082º (baik)
dimana batas defleksi putaran = 0,25º
3.3.3. Perencanaan Poros Gigi Cacing
1) Analisa Beban Kerja
a. Pada lokasi cacing
- Beban vertikal-1 (V
1
),
V
1
= Gaya permukaan cacing (Fc) = 3866,78 kg
- Beban horizontal-1 (H
1
),
H
1
= Gaya permukaan cacing (Fc) = 3866,78 kg
jadi :
- Beban Gabungan-1 (F
1
),
F
1
=
2
1
2
1
H V +
F
1
=
2 2
3866,78 3866,78 +
= 5468,46 kg
- Beban aksial (F
A
),
F
A
= Gaya tangensial pada roda cacing (F
TRC
) =
7363,74 kg
b. Pada lokasi pada roda gigi
- Beban vertikal-2 (V
2
),
V
2
= Gaya tangensial pada roda gigi (Ft) = 660,71
kg
- Beban horizontal-2 (H
2
),
H
2
= Gaya tangensial pada roda gigi (Ft) = 660,71
kg
jadi :
- Beban Gabungan-2 (F
1
),
F
2
=
2
2
2
2
V H +
F
2
=
2 2
660,71 660,71 +
= 934,38 kg
c. Beban poros
- Berat poros sendiri relatif kecil, sehingga diabaikan.
2) Statika
Pembebanan pada poros cacing


ΣMB = 0
R
AV
. 1000 – 5468,46 · 475 + 934,38 · 197,5 = 0
R
AV
=
950
5 , 197 934,38 475 5468,46 ⋅ − ⋅
L3 = 197,5 mm L1 = 475 mm
D
C
A B
L= 1147,5 mm
L2 = 475 mm
F2 = 934,38 kg F 1= 5468,46 kg
R
AV
=
950
05 , 184540 5 , 2597518 −
R
AV
= 2539,978 kg (↑)
ΣMA = 0
R
BV
. 1000 – 934,38 · 1147,5 – 5468,46 · 475 = 0
R
BV
=
950
475 · 5468,46 1147,5 · 934,38 +
R
BV
=
950
5 , 2597518 05 , 1072201 +
R
BV
= 3862,86 kg (↑)
R
AV
+ R
BV
= F
1
+ F
2
2539,978 kg + 3862,86 kg = 5468,46 kg +
934,38 kg
6402,84 kg =
6402,84 kg
Momen yang terjadi adalah :
MA = 0
MB = - 934,38 kg · 197,5 mm
= - 184540,05 kg.mm
MC = 0
MD = 2539,978 kg · 475 mm
= 1206489,55 kg.mm

( + )
BMD
RAV =
2539,978 kg
L3 = 197,5 mm
L1 = 475 mm
D C A
RBV =
3874,17 kg
B
SFD
(↑)
2539,978 kg
934,38 (↑)
5468,56 kg (↓)
( + )
( - )
L=1147,5 mm
L2 = 475 mm
F2 = 934,38 kg F1 = 5468,56 kg
(↑)
3862,86 kg


Gambar 3.3 Diagram Gaya Geser dan Diagram
Momen Lentur
3) Torsi pada poros cacing :
T = 9,74 x 10
5

3
n
Pd

= 9,74 x 10
5

300
76 , 44
= 145320,8 kg.mm
4) Tegangan geser ijin bahan (τ a) :
MB =
- 184540,05 kg·mm
MC = 0 MA = 0
( - )
MD =
1206489,55 kg.mm
( + )
Bahan poros yang diambil adalah SF 60 JIS G 3210, dari
Tabel 3.7 (lampiran) diketahui :
- Kekuatan Tarik (σ
b
) = 70 kg/mm
2
- Faktor Keamanan Sf
1
= 6
- Faktor Keamanan Sf
2
= 2
- Daya motor transmisi (P
in
) = 44,76 kW
- Momen lentur maksimum (M) = 1206489,55 kg.mm
- Torsi pada poros cacing = 145320,8 kg
mm
- Faktor koreksi karena pembebanan momen lentur
tetap dengan tumbukan ringan (K
m
), dipakai 2
- Faktor koreksi karena pembebanan momen puntir
dengan beban sedikit kejutan (K
t
), dipakai 1,5
maka :
τ a .......................................... =
2 1 sf sf
b

σ
a ..........................................=
2 . 6
70
= 5,83 kg/mm
2
5) Diameter poros cacing (ds) :
ds =
3
1
2
t
2
a
) T x K ( ) M x Km (
1 , 5
1
1
]
1

¸

+

,
_

¸
¸
τ
dimana :
Km = faktor koreksi untuk momen lentur = 2
Kt = faktor koreksi untuk momen puntir = 1,5
M = Momen lentur maksimum = 1206489,55
kg.mm
T = Torsi pada poros cacing = 145320,8 kg.mm
ds
≥ 3
1
2 2
) 145320,8 5 , 1 ( ) 1206489,55 2 (
83 , 5
1 , 5
1
]
1

¸

× + ×
,
_

¸
¸

≥ 3
1
44 , 3 4751580355 81 , 036 5822468137
83 , 5
1 , 5
1
]
1

¸

+
,
_

¸
¸
≥ 3
1
25 , 590 5869983940
83 , 5
1 , 5
1
]
1

¸

,
_

¸
¸
≥ 3
1
974 , 2422804
83 , 5
1 , 5
1
]
1

¸


,
_

¸
¸

122,36 mm
maka diameter poros (ds) yang dipakai = 130 mm
6) Perhitungan defleksi puntiran :
 = 584
4
ds G
L T
×
×
= 584
4 3
) 130 ( 10 3 , 8
5 , 1147 145320,8
⋅ ⋅

= 0,041º

(baik)
dimana batas defleksi putaran = 0,25º
3.3.4. Perencanaan Poros Pada Roda Cacing
1) Analisa beban kerja
Pada roda cacing
- Beban vertikal (FV),
V = Gaya tangensial roda gigi (Ft
RC
) = 7363,74 kg
- Beban horizontal (FH),
H = Gaya tangensial roda gigi (Ft
RC
) = 7363,74 kg
jadi :
- Beban Gabungan (F),
F =
2 2
FH FV +
F

=
2 2
kg 7363,74 kg 7363,74 +
= 10414 kg
2) Statika
Pembebanan pada roda poros cacing


C B
L1 = 512,9 mm L2 = 361,075 mm
A
F = 10414 kg
L3 = 361,075 mm
D
ΣMB = 0
R
AV
· 722,15 – 10414 · 361,075
R
AV
=
15 , 722
075 , 361 10414⋅
R
AV
= 5207 kg (↑)
ΣMA = 0
R
BV
· 722,15 – 10414 · 361,075
R
BV
=
15 , 722
075 , 361 10414⋅
R
BV
= 5207kg (↑)
R
AV
+ R
BV
= F
5207 kg + 5207kg = 685,4 kg
10414 kg = 10414 kg
Momen yang terjadi adalah :
MA = 0
MB = 0
MC = 0
MD = 5207 kg · 361,075 mm
= 1880117,525 kg·mm
L= 1235,05 mm

BMD
RAV =
5207 kg
L2 = 361,075 mm
D
A
MB = 0
RBV =
5207 kg
MC = 0
B
SFD
(↑)
5207 kg
10414 kg (↓)
( + )
( - )
L=1235,05 mm
L3 = 361,075 mm
F1 = 10414 kg
( + )
C
L1 = 512,9 mm
MA = 0
(↑)
5207 kg


Gambar 3.4 Diagram Gaya Geser dan Diagram Momen
Lentur
3) Torsi pada poros roda cacing :
T = 9,74 x 10
5

n
Pd

= 9,74 x 10
5

15
76 , 44
= 2906416 kg.mm
4) Tegangan geser ijin bahan (a) :
Bahan poros yang diambil adalah SF 60 JIS G 3210, dari
Tabel 3.7 (lampiran) diketahui :
- Kekuatan Tarik (σ
b
) = 70 kg/mm
2
- Faktor Keamanan Sf
1
= 6
- Faktor Keamanan Sf
2
= 2
- Daya motor transmisi (P
in
) = 44,76 kW
- Momen lentur maksimum (M) = 1880117,525 kg.mm
- Torsi pada poros roda cacing = 2906416 kg mm
- Faktor koreksi karena pembebanan momen lentur
tetap dengan tumbukan ringan (K
m
), dipakai 2
MD =
1880117,525.mm
- Faktor koreksi karena pembebanan momen puntir
dengan beban sedikit kejutan (K
t
), dipakai 1,5
maka :
a =
2 1 sf sf
b

σ

a =
2 . 6
70
= 5,83 kg/mm
2
5) Diameter poros roda cacing (ds) :
ds =
3
1
2
t
2
a
) T x K ( ) M x Km (
1 , 5
1
1
]
1

¸

+

,
_

¸
¸
τ
dimana :
Km = faktor koreksi
untuk momen lentur = 2
Kt = faktor koreksi
untuk momen puntir = 1,5
M = Momen lentur maksimum = 1880117,525
kg.mm
T = Torsi pada poros gigi II = 2906416 kg.mm
ds
≥ 3
1
2 2
) 2906416 5 , 1 ( ) 5 1880117,52 2 (
83 , 5
1 , 5
1
]
1

¸

× + ×
,
_

¸
¸

≥ 3
1
1376 1900632142 5025 , 1248 1413936763
83 , 5
1 , 5
1
]
1

¸

+
,
_

¸
¸
≥ 3
1
5025 , 2624 3314568905
83 , 5
1 , 5
1
]
1

¸

,
_

¸
¸
≥ 3
1
28 , 5757229
83 , 5
1 , 5
1
]
1

¸


,
_

¸
¸

162,8 mm
maka diameter poros (ds) yang dipakai = 170 mm
6) Perhitungan defleksi puntiran :
 = 584
4
ds G
L T
×
×
= 584
4 3
) 170 ( 10 3 , 8
15 , 722 2906416
⋅ ⋅

= 0,17º (baik)
dimana batas defleksi putaran = 0,25º
3.4. Perhitungan Pasak
3.4.1. Pasak Pada Roda Gigi III
Direncanakan :
– Daya motor transmisi (P
m
) = 44,76
kW
– Bahan poros SF 60 JIS G 3210 dengan:
- Kekuatan Tarik (σ
b
) = 70 kg/mm
2
- Bahan pasak adalah SF 60 JIS G 3210 dengan:
- Kekuatan Tarik (σ
b
) = 70 kg/mm
2
– Diameter poros cacing = 130
mm
– Faktor Keamanan Sf
1
= 6
– Faktor Keamanan Sf
2
= 2
Diketahui :
– Torsi pada poros cacing = 145320,8 kg
mm
– Gaya tangensial (F
t
) = 484,66 kg
Dari diameter pada poros = 130 mm maka dari Tabel 3.8
(lampiran) diperoleh ukuran pasak sebagai berikut :
- b × h = 32 × 18 mm
- Kedalaman alur pasak pada poros t
1
= 11 mm
- Kedalaman alur pasak pada poros t
2
= 7 mm
- Tekanan permukaan yang diijinkan (p
a
) = 32
kg/mm
2
- Faktor keamanan Sfk
1
= 6,0
- Faktor keamanan Sfk
2
= 2,0
1). Tegangan geser τ
k
(kg/mm
2
) yang ditimbulkan adalah
τ
k
=
l b
F
t
.
.................................................................
50
dimana :
l ` = Panjang pasak (antara 90 – 360 mm)
= diambil = 105 mm
b = lebar pasak = 32 mm
jadi
τ
k
=
90 32
484,66

τ
k
= 0,168

kg/mm
2
2). Tegangan geser yang diijinkan τ
ka
(kg/mm
2
)
τ
ka
=
( )
2 1
.Sf Sf
b
σ
........................................................
51
τ
ka
=
( ) 2 . 6
/ 70
2
mm kg
τ
ka
= 5,83 kg/mm
2
jadi τ
k

<
τ
ka,
maka pasak aman
3). Tekanan permukaan p (kg/mm
2
) adalah :
50 Ibid, hal. 25
51 Ibid, hal. 8
p =
( )
2 1
ataut t lx
F
t
........................................................
52
p =
11 90
484,66

p = 0,49 kg/mm
2
jadi p < p
a ,
maka pasak aman
3.4.2. Pasak Pada Poros Cacing
Direncanakan :
– Daya motor transmisi (P
m
) = 44,76
kW
– Bahan poros SF 60 JIS G 3210 dengan:
- Kekuatan Tarik (σ
b
) = 70 kg/mm
2
- Bahan pasak adalah SF 60 JIS G 3210 dengan:
- Kekuatan Tarik (σ
b
) = 70 kg/mm
2
– Diameter poros cacing = 130
mm
– Faktor Keamanan Sf
1
= 6
– Faktor Keamanan Sf
2
= 2
Diketahui :
– Torsi pada poros cacing = 145320,8 kg
mm
– Gaya tangensial (F
tRC
) = 7363,74 kg
Dari diameter pada poros = 130 mm maka dari Tabel 3.8
(lampiran) diperoleh ukuran pasak sebagai berikut :
- b × h = 32 × 18 mm
- Kedalaman alur pasak pada poros t
1
= 11 mm
52 Ibid, hal. 24
- Kedalaman alur pasak pada poros t
2
= 7 mm
- Tekanan permukaan yang diijinkan (p
a
) = 32
kg/mm
2
- Faktor keamanan Sfk
1
= 6,0
- Faktor keamanan Sfk
2
= 2,0
1). Tegangan geser τ
k
(kg/mm
2
) yang ditimbulkan adalah
τ
k
=
l b
F
tRC
.
dimana :
l ` = Panjang pasak (antara 90 – 360 mm)
= diambil = 105 mm
b = lebar pasak = 32 mm
jadi
τ
k
=
105 32
7363,74

τ
k
= 2,19

kg/mm
2
2). Tegangan geser yang diijinkan τ
ka
(kg/mm
2
)
τ
ka
=
( )
2 1
.Sf Sf
b
σ
τ
ka
=
( ) 2 . 6
/ 70
2
mm kg
τ
ka
= 5,83 kg/mm
2
jadi τ
k

<
τ
ka,
maka pasak aman
3). Tekanan permukaan p (kg/mm
2
) adalah :
p =
( )
2 1
ataut t lx
F
tRC
........................................................
p =
11 105
7363,74

p = 6,37 kg/mm
2
jadi p < p
a ,
maka pasak aman
3.4.3. Pasak Pada Poros Roda Cacing
Direncanakan :
– Daya motor transmisi (P
m
) = 44,76
kW
– Bahan poros SF 60 JIS G 3210 dengan:
- Kekuatan Tarik (σ
b
) = 70 kg/mm
2
- Bahan pasak adalah SF 60 JIS G 3210 dengan:
- Kekuatan Tarik (σ
b
) = 70 kg/mm
2
– Diameter poros cacing = 170
mm
– Faktor Keamanan Sf
1
= 6
– Faktor Keamanan Sf
2
= 2
Diketahui :
– Torsi pada poros roda cacing = 2906416 kg
mm
– Gaya tangensial (F
tRC
) = 7363,74 kg
Dari diameter pada poros = 160 mm maka dari Tabel 3.8
(lampiran) diperoleh ukuran pasak sebagai berikut :
- b × h = 32 × 18 mm
- Kedalaman alur pasak pada poros t
1
= 11 mm
- Kedalaman alur pasak pada poros t
2
= 7 mm
- Tekanan permukaan yang diijinkan (p
a
) = 32
kg/mm
2
- Faktor keamanan Sfk
1
= 6,0
- Faktor keamanan Sfk
2
= 2,0
1). Tegangan geser τ
k
(kg/mm
2
) yang ditimbulkan adalah
τ
k
=
l b
F
tRC
.
dimana :
l = Panjang pasak (antara 90 – 360 mm)
= diambil = 287,45 mm
b = lebar pasak = 32 mm
jadi
τ
k
=
45 , 287 32
7363,74

τ
k
= 0,8

kg/mm
2
2). Tegangan geser yang diijinkan τ
ka
(kg/mm
2
)
τ
ka
=
( )
2 1
.Sf Sf
b
σ
τ
ka
=
( ) 2 . 6
/ 70
2
mm kg
τ
ka
= 5,83 kg/mm
2
jadi τ
k

<
τ
ka,
maka pasak aman
3). Tekanan permukaan p (kg/mm
2
) adalah :
p =
( )
2 1
ataut t lx
F
tRC
p =
18 45 , 287
7363,74

p = 1,4 kg/mm
2
jadi p < p
a ,
maka pasak aman
3.5. Perhitungan Bantalan
3.5.1. Bantalan Pada Poros Gigi I
Diketahui perhitungan gaya (F) pada poros gigi I adalah =
685,4 kg
1). Beban aksial yang terjadi (F
a
)
F
a
= 0,6 × beban keseluruhan................................
53
F
a
= 0,6 × 685,4 kg
F
a
= 411,24 kg
2). Beban radial yang terjadi (F
r
)
F
r
= F
a
× jari-jari efektif / l......................................
54
F
r
= F
a
× (d
g1
/ 2) / l
F
r
= 411,24 × (120/2) /526,95
F
r
= 46,82 kg
Karena poros pada bantalan yang digunakan adalah
diameter 65 mm, maka dari Tabel 3.9 (lampiran)
bantalan yang digunakan adalah :
- Nomor bantalan = 30313
- Diameter dalam (d) = 65 mm
- Diameter luar (D) = 140
mm
- Lebar bantalan (B) = 35,5 mm
- Jari-jari fillet (r) = 3,5
- Kapasitas nominal dinamis spesifik (C) = 12500 kg
- Faktor beban diambil (ƒw) = 1,1-1,3
53 Ibid, hal. 135
54 Ibid, hal. 135
- Konstanta (e) = 0,35
- Faktor beban radial bekerja pada cincin dalam (V)
= 1
78 , 8
46,82 1
411,24
·

·

r
a
F V
F
Maka:

e
F V
F
r
a
>

, atau 8,78 > 0,35
Digunakan :
- Faktor X = 0,4
- Faktor Y = 1,9
3). Gaya radial yang terjadi pada bantalan (P) yaitu :
P
r
= X · V · F
r
+ Y · F
a
..................................................
55
P
r
= 0,4 · 1 · 46,82 + 1,7 · 411,24
P
r
= 717,87 kg
4). Faktor kecepatan (ƒ
n
)
ƒ
n
=
10 / 3
1
3 , 33
1
]
1

¸

n
............................................................................................................
56
Keterangan :
55 Ibid, hal. 136
56 Ibid, hal. 136
n
1
= Putaran pada poros cacing : 1500 rpm
ƒ
n
=
10 / 3
1500
3 , 33
1
]
1

¸

............................................................................................................
57
ƒ
n
= 0,32
5). Faktor umur bantalan (fh)
f
h
= f
n
· C/P
r
...........................................................
58
Dimana :
f
n
= faktor kecepatan
C = kapasitas dinamik spesifik (kg)
P = beban ekuivalen dinamis (kg)
f
h
= f
n
· C/P
r
f
h
= 0,32 × 12500 / 717,87
f
h
= 5,57
6). Umur nominal bantalan
Untuk bekerja dan pemakaian jarang, jam kerja
disyaratkan minimal 2000 jam
L
h
= 500 · ƒ
h
3,33
............................................................
59
= 500 · (5,57)
3,33
= 500 · 304,58
57 Ibid, hal. 136
58 Ibid, hal. 136
59 Ibid, hal. 136
= 152290 jam
Jadi :
152290 jam > 2000 jam
........................................
Baik
3.5.2. Bantalan Pada Poros Gigi II
Diketahui perhitungan gaya (F) pada poros gigi II adalah =
685,4 kg
1). Beban aksial yang terjadi (F
a
)
F
a
= 0,6 × beban keseluruhan
F
a
= 0,6 × 685,4 kg
F
a
= 411,24 kg
2). Beban radial yang terjadi (F
r
)
F
r
= F
a
× jari-jari efektif / l
F
r
= F
a
× (d
g2
/ 2) / l
F
r
= 411,24 × (240/2) / 260
F
r
= 189,8 kg
Karena poros pada bantalan yang digunakan adalah
diameter 60 mm, maka dari Tabel 3.9 (lampiran)
bantalan yang digunakan adalah :
- Nomor bantalan = 30312
- Diameter dalam (d) = 60 mm
- Diameter luar (D) = 130
mm
- Lebar bantalan (B) = 33 mm
- Jari-jari fillet (r) = 3,5
- Kapasitas nominal dinamis spesifik (C) = 10800 kg
- Faktor beban diambil (ƒw) = 1,1-1,3
- Konstanta (e) = 0,35
- Faktor beban radial bekerja pada cincin dalam (V)
= 1
17 , 2
189,8 1
411,24
·

·

r
a
F V
F
Maka:

e
F V
F
r
a
>

, atau 2,17 > 0,35
Digunakan :
- Faktor X = 0,4
- Faktor Y = 1,9
3). Gaya radial yang terjadi pada bantalan (P) yaitu :
P
r
= X · V · F
r
+ Y · F
a
P
r
= 0,4 · 1 · 189,8 + 1,7 · 411,24
P
r
= 775,028 kg
4). Faktor kecepatan (ƒ
n
)
ƒ
n
=
10 / 3
2
3 , 33
1
]
1

¸

n

Keterangan :
n
2
= Putaran pada poros cacing : 750 rpm
ƒ
n
=
10 / 3
750
3 , 33
1
]
1

¸

ƒ
n
= 0,39
5). Faktor umur bantalan (fh)
f
h
= f
n
· C/P
r
Dimana :
f
n
= faktor kecepatan
C = kapasitas dinamik spesifik (kg)
P = beban ekuivalen dinamis (kg)
f
h
= f
n
· C/P
r
f
h
= 0,39 × 10800 / 775,028
f
h
= 5,43
6). Umur nominal bantalan
Untuk bekerja dan pemakaian jarang, jam kerja
disyaratkan minimal 2000 jam
L
h
= 500 · ƒ
h
3,33
= 500 · (5,43)
3,33
= 500 · 279,82
= 139910 jam
Jadi :
139910 jam > 2000 jam
........................................
Baik
3.5.3. Bantalan Pada Poros Cacing
Diketahui perhitungan gaya (F) pada poros cacing adalah =
6402,84 kg
1). Beban aksial yang terjadi (F
a
)
F
a
= 0,6 × beban keseluruhan
F
a
= 0,6 × 6402,84 kg
F
a
= 3841,7 kg
2). Beban radial yang terjadi (F
r
)
F
r
= F
a
× jari-jari efektif / l
F
r
= F
a
× (Dc
1
/ 2) / l
F
r
= 3841,7 × (208/2) / 1147,5
F
r
= 348,18 kg
Karena poros pada bantalan yang digunakan adalah
diameter 130 mm, maka dari Tabel 3.10 (lampiran)
bantalan yang digunakan adalah :
- Nomor bantalan = 30226
- Diameter dalam (d) = 130
mm
- Diameter luar (D) = 230
mm
- Lebar bantalan (B) = 43 mm
- Jari-jari fillet (r) = 4
- Kapasitas nominal dinamis spesifik (C) = 24500 kg
- Faktor beban diambil (ƒw) = 1,1-1,3
- Konstanta (e) = 0,35
- Faktor karena radial bekerja pada cincin dalam (V) =
1
03 , 11
348,18 1
3841,7
·

·

r
a
F V
F
Maka:

e
F V
F
r
a
>

, atau 11,03 > 0,35
Digunakan :
- Faktor X = 0,4
- Faktor Y = 1,9
3). Gaya radial yang terjadi pada bantalan (P) yaitu :
P
r
= X · V · F
r
+ Y · F
a
P
r
= 0,4 · 1 · 348,18 + 1,7 · 3841,7
P
r
= 6670,16 kg
4). Faktor kecepatan (ƒ
n
)
ƒ
n
=
10 / 3
2
3 , 33
1
]
1

¸

n

Keterangan :
n
2
= Putaran pada poros cacing : 300 rpm
ƒ
n
=
10 / 3
300
3 , 33
1
]
1

¸

ƒ
n
= 0,517
5). Faktor umur bantalan (fh)
f
h
= f
n
· C/P
r
Dimana :
f
n
= faktor kecepatan
C = kapasitas dinamik spesifik (kg)
P = beban ekuivalen dinamis (kg)
f
h
= f
n
· C/P
r
f
h
= 0,517 × 24500 / 6670,16
f
h
= 1,9
6). Umur nominal bantalan
Untuk bekerja dan pemakaian jarang, jam kerja
disyaratkan minimal 2000 jam
L
h
= 500 · ƒ
h
3,33
= 500 · (1,9)
3,33
= 500 · 8,5
= 72712,7 jam
Jadi :
72712,7 jam > 2000 jam
........................................
Baik
3.5.3. Bantalan Pada Roda Cacing
Diketahui perhitungan gaya (F) pada poros roda cacing adalah =
10414 kg
1). Beban aksial yang terjadi (F
a
)
F
a
= 0,6 × beban keseluruhan
F
a
= 0,6 × 10414 kg
F
a
= 6248,4 kg
2). Beban radial yang terjadi (F
r
)
F
r
= F
a
× jari-jari efektif / l
F
r
= F
a
× (Dc
1
/ 2) / l
F
r
= 6248,4 × (208/2) / 1205,75
F
r
= 538,5 kg
Karena poros pada bantalan yang digunakan adalah
diameter 170 mm, maka dari Tabel 3.10 (lampiran)
bantalan yang digunakan adalah :
- Nomor bantalan = 30234
- Diameter dalam (d) = 170 mm
- Diameter luar (D) = 310 mm
- Lebar bantalan (B) = 53 mm
- Jari-jari fillet (r) = 4
- Kapasitas nominal dinamis spesifik (C) = 40500 kg
- Faktor beban diambil (ƒw) = 1,1-1,3
- Konstanta (e) = 0,35
- Faktor karena radial bekerja pada cincin dalam (V) =
1
6 , 11
538,5 1
6248,4
·

·

r
a
F V
F
Maka:

e
F V
F
r
a
>

, atau 11,6 > 0,35
Digunakan :
- Faktor X = 0,4
- Faktor Y = 1,9
3). Gaya radial yang terjadi pada bantalan (P) yaitu :
P
r
= X · V · F
r
+ Y · F
a
P
r
= 0,4 · 1 · 538,5 + 1,7 · 6248,4
P
r
= 10837,68 kg
4). Faktor kecepatan (ƒ
n
)
ƒ
n
=
10 / 3
2
3 , 33
1
]
1

¸

n

Keterangan :
n
2
= Putaran pada poros cacing : 15 rpm
ƒ
n
=
10 / 3
15
3 , 33
1
]
1

¸

ƒ
n
= 1,27
5). Faktor umur bantalan (fh)
f
h
= f
n
· C/P
r
Dimana :
f
n
= faktor kecepatan
C = kapasitas dinamik spesifik (kg)
P = beban ekuivalen dinamis (kg)
f
h
= f
n
· C/P
r
f
h
= 1,27 × 40500 / 10837,68
f
h
= 4,74
6). Umur nominal bantalan
Untuk bekerja dan pemakaian jarang, jam kerja
disyaratkan minimal 2000 jam
L
h
= 500 · ƒ
h
3,33
= 500 · (4,74)
3,33
= 500 · 178
= 89000 jam
Jadi :
89000 jam > 2000 jam
........................................
Baik
BAB IV
PERAWATAN DAN PELUMASAN
4.1 . Perawatan Mesin
4.1.1. Pengertian Perawatan
Perawatan adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk
menjaga atau memelihara fasilitas peralatan dan untuk
menjaga kondisi kerja mesin-mesin yang dilakukan secara
kontinyu sesuai petunjuk yang ada, hal ini dimaksudkan agar
mesin-mesin dalam kondisi siap pakai dan dapat digunakan
sesuai dengan umur pemakaianya, sehingga proses produksi
dapat berjalan dengan lancer dan memuaskan sesuai dengan
rencana.
Perawatan atau perbaikan yang dilakukan membutuhkan
pemahaman dari komponen-komponen yang dirawat, terutama
mengenai cara kerja dan sifatnya.
Dalam perawatan transmisi elevator misalnya, diperlukan
penjadwalan perawatan yang terencana dengan baik sehingga
operator dapat bekerja dengan baik dan dengan demikian
diharapkan dapat berdaya guna semaksimal mungkin. Ada dua
istilah atau pengertian dalam perawatan yaitu :
1. Preventive Maintenance.
Adalah pemeliharaan berkala yang dilakukan dengan
tujuan utama untuk menghindari terjadinya kerusakan dan
menjaga kondisi mesin agar tetap dalam kondisi baik.
Perawatan ini dilakukan secara kontinyu yaitu harian,
mingguan, bulanan dan tahunan, dengan demikian kerusakan
yang akan terjadi dapat diantisipasi sejak dini, sehingga
dapat memperlancar aktivitas.
2. Break Down Maintenance.
Adalah perawatan yang dilakukan setelah terjadi
kerusakan pada peralatan atau mesin. Kegiatan ini sebagai
konsekuensi dari kegiatan preventive maintenance yang
kurang berhasil selain karena faktor umur mesin atau
komponen mesin yang bersangkutan.
Beberapa hal yang menjadi tujuan perawatan antara lain :
– Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman.
– Memperpanjang umur
– Memelihara kontinyunitas operasi dari transmisi
– Menghemat biaya perbaikan
– Mengurangi terjadinya kerusakan
4.1.2. Perawatan Transmisi Roda Gigi Cacing
Setiap mesin maupun peralatan yang bekerja mutlak
adanya perawatan. Hal ini dilakukan untuk menjaga
kelangsungan dari mesin itu sendiri maupun terhadap aktivitas
pemakaian.
Pemeliharaan dan perbaikan transmisi roga gigi cacing
meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Cleaning
Adalah membersihkan bagian-bagian luar transmisi dan
mengeluarkan kotoran-kotoran yang ada. Pekerjaan ini
dilakukan bersamaan dengan oiling.
b.Oiling
Yaitu jenis pekerjaan pelumasan, sedangkan bahannya
berupa oil dan grease. Penggunaan bahan pelumas yang
sesuai untuk masing-masing peralatan adalah sangat
penting. Karena bahan pelumas sangat menentukan umur
dari peralatan atau mesin tersebut.
Transmisi roda gigi cacing ini menggunakan system
pelumasan minyak dengan cara dicelup seperempat atau
sebagian roda gigi cacing terjadi panas yang tinggi.
Pelumasan menggunakan kekentalan oli SAE 90 GL 2.
c. Scouring
Yaitu cleaning seperti pada point a, tetapi lebih
menyeluruh dan teliti. Dalam scouring elemem-elemen mesin
dapat dibuka dan dikeluarkan untuk dapat dibersihkan.
Penelitian ringan juga dilakukan dalam scouring ini seperti,
keadaan poros, bantalan dan komponen-komponen yang lain.
Dalam hal ini bila menemukan komponen yang rusak dann
perlu diganti maka harus diganti.
d.Overhoul
Yaitu pembongkaran secara menyeluruh dari suatu mesin
atau peralatan karena umur atau waktu bekerja dari mesin
tersebut. Pemeriksaan yang direncanakan harus dilakukan
untuk perawatan transmisi dengan didasarkan pada frekuensi
penggunaannya.
4.1.2.Pelumasan
a.Pelumasan pada bantalan
Pelumasan bantalan dimaksudkan untuk mengurangi
gesekan dan keausan antara elemen gelinding dengan cara
membuat lapisan film antara kedua permukaan benda yang
bergesekan. Membawa keluar panas yang terjadi, mencegah
korosi serta mencegah masuknya debu. Cara pelumasan ada
dua cara yaitu pelumasan gemuk (grease) dan pelumasan
minyak (oil)
Untuk mencegah terjadinya kebocoran pelumas dan
masuknya debu atau benda asing kedalam bantalan maka
ndigunakan sekat pelumas, dalam perencanaan ini sekat
pelumas yang digunakan adalah jenis seal minyak. Seal
minyak merupakan satu kesatuan yang terdiri atas karet
sintetis dengan bentuk penampang tertentu, cincin logam
dan cincin pegas. Keuntungan penggunaan seal minyak ini
adalah dapat digunakan untuk bantalan dengan kecepatan
keliling tinggi, tekan dari dalam tinggi serta tahan terhadap
lingkungan berdebu.
b.Pelumasan pada roda gigi
Pelumasan pada transmisi roda gigi yang digunakan
adalah system pelumasan celup yaitu dengan cara
memasukan 1/2 atau 1/3 bagian dari penampang gigi cacing
kedalam pelumas, sehingga saat gigi cacing berputar minyak
tersebut dapat terangkat oleh gigi cacing dan membasahi
serta melumasi tiap bagian roda gigi cacing dan elemen
pendukungnya.
Panas yang terjadi karena adanya gesekan lambat laun
akan mempeagaruhi minyak pelumas. Jumlah minyak
pelumas yang ada di penampang akan berkurang atau kotor,
oleh karena itupada jangka waktu tertentu minyak pelumas
harus ditambah.
Besarya beban permukaan roda gigi, permukaan yang
kasar dan kecepatan yang meluncur menghasilkan gesekan
yang besar dan pertambahan panas yang ditimbulkan, untuk
alas an tersebut maka oli roda gigi harus memenuhi syarat-
syarat sebagai berikut.
1. Kekentalannya sesuai
Dalam pemilihan oli roda gigi harus diperlihatkan tingkat
kekentalannya yaitu dengan cara melihat kondisi kerja
yang dialami roda gigi serta temperaturnya. Untuk kondisi
berat separti pada roda gigi cacing ini kekentalan yang
digunakan adalah SAE 90 GL. 2 kode ‘GL’ untuk klasifikasi
kualitas adalah kependekan daei Gear Lubrication yang
mempunyai arti oli untuk roda gigi, adapun angka ‘2’
adalah penunjukan dari kualitas oli yang dikhususkan
untuk roda gigi cacing.
2. Meredam getaran
Saat berhubungan antara satu dengan yang lainnya,
tekanan dan beban goncangan yang terjadi besar, untuk
itu oli roda gigi harusmampu memikul atau meredam
getaran yang dialami roda gigi tersebut.
3. Tahan terhadap panas dan oksidasi
Saat oli roda gigi memburuk akibat panas, kotoran dan
oksidasi kemampuan pelumasan akan menurun, bahkan
akibat oksidasi dapat menimbulkan kadar asam dalam oli
yang dapat menyebabkan karat yang berpengaruh pada
keawetan komponen. Untuk mengatasi hal itu maka
diperlukan oli roda gigi yang baik dan stabil terhadap
panas dan oksidasi.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Alat pendukung yang digunakan dalam proses perencanaan
transmisi gear box meliputi roda gigi lurus, roda gigi dan poros cacing,
poros, pasak, serta bantalan rol kerucut, . Transmisi utamanya adalah
roda gigi cacing sehingga tidak diragukan lagi kekuatannya untuk
menopang beban yang berat serta mereduksi putararan yang besar,
selain sudah dilakukan perencanaan, perancangan, dan perhitungan
melalui rumus-rumus dengan teliti.
Apabila terjadi pembebanan berlebih akan terjadi slip pada
transmisinya, Dari uraian perhitungan dan pembahasan dapat
dismpulkan sebagai berikut:
5.1.1. Roda Gigi Lurus
- Daya motor (P
m
) = 60 HP = 44,76
kW
- Putaran ditransmisikan antara gigi I dan II (n
1
) = 1500 rpm
- Putaran ditransmisikan antara gigi II dan III (n
2
) = 750 rpm
- Perbandingan reduksi gigi I dan II (i) = 1 : 2
- Perbandingan reduksi gigi II dan III (i) = 1 : 2,5
- Jarak sumbu gigi I dan II (a) = 180 mm
- Jarak sumbu gigi II dan III (a) = 420 mm
- Modul (m) = 4 mm
- Diameter jarak bagi roda gigi (d
g
)
- Pada roda gigi I (d
g1
) = 120 mm
- Pada roda gigi II (d
g2
) = 240 mm
- Pada roda gigi III (d
g3
) = 600 mm
- Jumlah gigi (z
g
)
- Pada roda gigi I (z
g1
) = 30 mm
- Pada roda gigi II (z
g2
) = 60 mm
- Pada roda gigi III (z
g3
) = 150 mm
- Mencari diameter luar roda gigi (d
kg
),
- Pada roda gigi I (d
kg1
) = 128 mm
- Pada roda gigi II (d
kg2
) = 248 mm
- Pada roda gigi III (d
kg2
) = 608 mm
- Tinggi kepala gigi pada roda gigi (h
kg
) = 4 mm
- Tinggi kaki gigi (h
fg
) = 4,64 mm
- Mencari tinggi gigi (h
g
) = 8,64 mm
- Mencari diameter dalam (Dd
g
)
- Pada roda gigi I (D
kd1
) = 110,72 mm
- Pada roda gigi II (D
kd2
) = 230,72 mm
- Pada roda gigi II (D
kd3
) = 592,72 mm
- Gaya tangensial pada roda gigi I dan II (F
t
) = 484,66 kg
- Gaya tangensial pada roda gigi II dan III (F
t
) = 484,66 kg
5.1.2. Roda Gigi Cacing dan Poros Cacing
- Putaran poros yang ditransmisikan(n
2
) = 300 rpm
- Jumlah ulir cacing (z
1
) = 1
- Jumlah gigi roda cacing (z
2
) = 20
- Sudut kisar (γ) = 10,3º
- Jarak sumbu poros = 500 mm
- Bahan untuk cacing = SF60
- Bahan untuk roda gigi cacing = FC20
- Perbandingan Reduksi (i) = 1 : 20
- Modul normal (m
n
) = 37
- Proporsi bagian cacing adalah:
- Diameter lingkaran jarak bagi (D
C2
) = 208 mm
- Tinggi kepala gigi cacing (h
k
) = 37 mm
- Tinggi kaki gigi cacing (h
f
) = 42,8 mm
- Kelonggaran puncak (c) = 5,8 mm
- Tinggi gigi (H) = 79,8 mm
- Diameter inti cacing (D
C1
) = 118 mm
- Diameter luar cacing (D
C
) = 282 mm
- Jarak bagi cacing (
a
t
) = 117,97 mm
- Proporsi roda gigi cacing untuk cacing adalah :
- Diameter jarak bagi roda cacing (D
RC2
) = 792 mm
- Diameter inti roda cacing (D
RC1
) = 701,8 mm
- Diameter tenggorok roda cacing (D
RC3
) = 877,6 mm
- Diameter luar roda cacing (D
RC
) = 904,7 mm
- Lebar sisi gigi roda gigi cacing (b) = 451 mm
- Lebar sisi gigi efektif (b
e
) = 141 mm
- Jari-jari lengkungan puncak roda cacing (r
t
) = 67 mm
- Jarak antar sumbu poros (a) = 500 mm
- Beban lentur yang diijinkan (F
ab
) = 24159,93 kg
- Beban permukaan gigi yang diijinkan (F
ac
) = 11865,15 kg
5.1.3. Poros
1. Beban Poros Gigi I
- Bahan = SF 60 JIS G 3210
- Gaya yang terjadi (F)
- Gaya pada titik A (R
Av
) = 342,7 kg
- Gaya pada titik B (R
Bv
) = 342,7 kg
- Gaya pada titik C = 0 kg
- Gaya pada titik D = 684,4 kg
- Momen yang terjadi (M)
- Momen dititik A (MA) = 0 kg.mm
- Momen dititik B (MB) = 0 kg.mm
- Momen dititik C (MC) = 0 kg. mm
- Momen dititik D (MD) = 49554,42 kg.mm
- Torsi yang terjadi (T) = 29064,16 kg mm
- Tegangan geser yang diijinkan (τ
a
) = 5,83 kg/mm
2
- Diameter minimal poros (ds) = 65 mm
- Defleksi pada poros (θ
ds
) = 0,033º
2. Beban Poros Gigi II
- Bahan = SF 60 JIS G 3210
- Gaya yang terjadi (F)
- Gaya pada titik A (R
Av
) = 342,7 kg
- Gaya pada titik B (R
Bv
) = 342,7 kg
- Gaya pada titik C = 685,4 kg
- Momen yang terjadi (M)
- Momen dititik A (MA) = 0 kg.mm
- Momen dititik B (MB) = 0 kg.mm
- Momen dititik C (MC) = 44551 kg. mm
- Torsi yang terjadi (T) = 58128,32 kg mm
- Tegangan geser yang diijinkan (τ
a
) = 5,83 kg/mm
2
- Diameter minimal poros (ds) = 60 mm
- Defleksi pada poros (θ
ds
) = 0,082º
3. Beban Poros Cacing
- Bahan = SF 60 JIS G 3210
- Gaya yang terjadi (F)
- Gaya pada titik A (R
Av
) = 2539,978 kg
- Gaya pada titik B (R
Bv
) = 3862,86 kg
- Gaya pada titik C = 934,38 kg
- Gaya pada titik D = 5468,46 kg
- Momen yang terjadi (M)
- Momen dititik A (MA) = 0 kg.mm
- Momen dititik B (MB) = - 184540,05
kg.mm
- Momen dititik C (MC) = 0 kg. mm
- Momen dititik D (MD) = 1206489,55 kg.mm
- Torsi yang terjadi (T) = 145320,8 kg mm
- Tegangan geser yang diijinkan (τ
a
) = 5,83 kg/mm
2
- Diameter minimal poros (ds) = 130 mm
- Defleksi pada poros (θ
ds
) = 0,041º
4. Beban Roda Gigi Cacing
- Bahan = SF 60 JIS G 3210
- Gaya yang terjadi (F)
- Gaya pada titik A (R
Av
) = 5207 kg
- Gaya pada titik B (R
Bv
) = 5207 kg
- Gaya pada titik C = 0 kg
- Gaya pada titik D = 10414 kg
- Momen yang terjadi (M)
- Momen dititik A (MA) = 0 kg.mm
- Momen dititik B (MB) = 0 kg.mm
- Momen dititik C (MC) = 0 kg. mm
- Momen dititik D (MD) = 1880117,525 kg.mm
- Torsi yang terjadi (T) = 2906416 kg mm
- Tegangan geser yang diijinkan (τ
a
) = 5,83 kg/mm
2
- Diameter minimal poros (ds) = 170 mm
- Defleksi pada poros (θ
ds
) = 0,17º
5.1.6. Pasak
1. Pada Roda Gigi III
- Bahan = SF 60 JIS G 3210
- Torsi yang terjadi (T) = 145320,8 mm
- Gaya tangensial (Ft) = 484,66 kg
- Tegangan geser (τ
k
) = 0,168

kg/mm
2
- Tegangan geser yang diijinkan (τ
ka
) = 5,83 kg/mm
2
- Tekanan permukaan (p) = 0,49 kg/mm
2
2. Pada Poros Cacing
- Bahan = SF 60 JIS G 3210
- Torsi yang terjadi (T) = 145320,8 mm
- Gaya tangensial (Ft) = 7363,74 kg
- Tegangan geser (τ
k
) = 2,19

kg/mm
2
- Tegangan geser yang diijinkan (τ
ka
) = 5,83 kg/mm
2
- Tekanan permukaan (p) = 6,37 kg/mm
2
3. Pada Poros Roda Cacing
- Bahan = SF 60 JIS G 3210
- Torsi yang terjadi (T) = 2906416 mm
- Gaya tangensial (Ft) = 7363,74 kg
- Tegangan geser (τ
k
) = 0,8

kg/mm
2
- Tegangan geser yang diijinkan (τ
ka
) = 5,83 kg/mm
2
- Tekanan permukaan (p) = 1,4 kg/mm
2
5.1.7. Bantalan
1. Pada Poros Gigi I
- Jenis bantalan = Bantalan rol kerucut
30313
- Beban aksial yang terjadi (Fa) = 411,24 kg
- Beban radial yang terjadi (Fr) = 46,82 kg
- Gaya radial yang terjadi (Pr) = 717,87 kg
- Faktor kecepatan (f
n
) = 0,32
- Faktor unur bantalan (f
h
) = 5,57
- Umur nominal bantalan (L
h
) = 152290jam
2. Pada Roda Gigi II
- Jenis bantalan = Bantalan rol kerucut
30312
- Beban aksial yang terjadi (Fa) = 286,77 kg
- Beban radial yang terjadi (Fr) = 189,8 kg
- Gaya radial yang terjadi (Pr) = 775,028 kg
- Faktor kecepatan (f
n
) = 0,39
- Faktor unur bantalan (f
h
) = 5,43
- Umur nominal bantalan (L
h
) = 139910 jam
3. Pada Poros Cacing
- Jenis bantalan = Bantalan rol kerucut
30226
- Beban aksial yang terjadi (Fa) = 3841,7 kg
- Beban radial yang terjadi (Fr) = 348,18 kg
- Gaya radial yang terjadi (Pr) = 6670,16 kg
- Faktor kecepatan (f
n
) = 0,517
- Faktor unur bantalan (f
h
) = 1,9
- Umur nominal bantalan (L
h
) = 72712,7 jam
4. Pada Roda Gigi Cacing
- Jenis bantalan = Bantalan rol kerucut
30234
- Beban aksial yang terjadi (Fa) = 6248,4 kg
- Beban radial yang terjadi (Fr) = 538,5 kg
- Gaya radial yang terjadi (Pr) = 10837,68 kg
- Faktor kecepatan (f
n
) = 1,27
- Faktor unur bantalan (f
h
) = 4,74
- Umur nominal bantalan (L
h
) = 89000 jam
5.2 Saran
1. Penggunaan alat hendaknya sesuai dengan ukuran dan daya yang
disarankan sehingga akan dapat bekerja dengan baik dan tidak mudah
rusak.
2. Penggunaan literatur buku sebaiknya digunakan yang terbaru.
3. Memungkinkan perencanaan alat ini dapat lebih dikembangkan dan
disempurnakan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Sularso dan Suga, K. 2004. Dasar Perencanaan Dan Pemilihan Elemen
Mesin. PT. Pradnya Paramita . Jakarta
Niemen G., 2000, Jilid II, Elemen Mesin, PT. Erlangga, Jakarta.
Takeshi Sato, G dan Sugiarto Hartanto, N. 1983. Menggambar Mesin
Menurut Standart ISO. PT. Pradnya Paramita. Jakarta.
LAMPIRAN
Tabel
LAMPIRAN I
Tabel 1 Klasifikasi Roda Gigi
Sularso,Suga K, 2004, Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin,edisi ke 12,
Jakarta.
LAMPIRAN II
Tabel 2 Harga modul standar
Seri ke-1 Seri ke-2 Seri ke-3 Seri ke-1 Seri ke-2 Seri ke-3
0,1
0,15
3,5
3,75
Letak poros Roda gigi Keterangan
Roda gigi dengan
poros sejajar
Roda gigi Miring, (a)
Roda gigi Lurus (b)
Roda gigi Miring ganda (c)
(Klasifikasi atas dasar bentuk alur gigi)
Roda gigi Luar
Roda gigi dalam dan pinyon (d)
Roda gigi dan pinyon (e)
Arah putaran berlawanan
Arah putaran sama
Gerakan lurus dan berputar
Roda gigi dengan
poros berpotongan
Roda gigi kerucut lurus, (f)
Roda gigi kerucut spiral, (g)
Roda gigi kerucut ZEROL
Roda gigi kerucut miring
Roda gigi kerucut miring ganda
(Klasifikasi atas dasar bentuk jalur
gigi)
Roda gigi permukaan dengan poros
berpotongan (h)
(Roda gigi dengan poros berpotongan
berbentuk istinewa)
Roda gigi dengan
poros silang
Roda gigi miring silang, (i)
Batang gigi miring silang
Kontak titik
Gerakan lurus dan berputar
Roda gigi cacing silindris, (j)
Roda gigi cacing selubung ganda
(globoid), (k)
Roda gigi cacing samping
Roda gigi hiperboloid
Roda gigi hipoid, (l)
Roda gigi permukaan silang
0,2
0,3
0,4
0,5
0,6
0,8
1
1,25
1,5
2
2,5
3
0,25
0,35
0,45
0,55
0,7
0,75
0,9
1,75
2,25
2,75
0,65
3,25
4
5
6
8
10
12
16
20
25
32
40
50
4,5
5,5
7
9
11
14
18
22
28
36
45
6,5
Sularso,Suga K, 2004, Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin,edisi ke12
Jakarta.
LAMPIRAN III
Tabel 3 Tegangan lentur yang diijinkan pada bahan roda gigi
Bahan roda gigi cacing Pembebanan satu arah Pembebanan dua arah
Besi cor 8,5 5,5
Perunggu untuk roda gigi
Perunggu antimon
Damar sintetis
17
10,5
3
11
7
2
Sularso,Suga K, 2004, Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin,edisi ke12
Jakarta.
LAMPIRAN IV
Tabel 4 Sudut Tekanan Normal
Sudut tekanan normal Faktor bentuk

14,5º
20º
25º
30º
0,100
0,125
0,150
0,175
Sularso,Suga K, 2004, Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin,edisi ke12
Jakarta.
LAMPIRAN V
Tabel 5 Faktor Ketahanan Terhadap Keausan K
C
Cacing Roda gigi cacing Kc (kg/mm
2
)
Baja (Kekerasan HB 250)
Baja celup dingin
Baja celup dingin
Baja celup dingin
Baja celup dingin
Perunggu fosfor
Besi cor
Perunggu fosfor
Perunggu fosfor yang dicil
Perunggu antimon
0,042
0,035
0,056
0,085
0,085
Besi cor Damer sintetis
Perunggu fosfor
0,087
0,106
Sularso,Suga K, 2004, Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin,edisi ke12
Jakarta.
LAMPIRAN VI
Tabel 6 Sudut Kisar K
y
Sudut kisar K
y
K
y
< 10º
K
y
= 10º - 25º
K
y
> 25º
1
1,25
1,50
Sularso,Suga K, 2004, Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin,edisi ke12
Jakarta.
LAMPIRAN VII
Tabel 7 Baja Karbon Cor ( JIS G 5101)
Lambang
Batas mulur (kg/mm
2
) Kekuatan tarik
(kg/mm
2
)
Keterangan
SC 37
SC 42
SC 46
SC 49
18
21
23
25
37
42
46
49
Untuk bagian motor
Untukkonstruksi
umum
Sularso,Suga K, 2004, Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin,edisi ke12
Jakarta.
LAMPIRAN VIII
Tabel 8 Ukuran dan standart pasak
*/ harus dipilih dari angka-angka berikut sesuai dengan daerah yang bersangkutan dalam tabel
6,8,10,12,14,16,20,22,25,28,32,36,40,45,50,56,63,70,80,90,100,110,125,140,160,180,200,220,250,280,320,360,400
Sularso,Suga K, 2004, Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin,edisi ke 12, Jakarta.
LAMPIRAN IX
(7 × 7)
8 × 7
10× 8
12× 8
14 × 9
7
8
10
12
14
7 7,2
0,25-
0,40

0,40-
0,60
0,69-
0,80
16-80
18-90
22-110
28-140
36-160
4,0
4,0
5,0
5,0
5,5
3,0 3,5 3.0
2,4
2,4
2,4
2,9
0,16-
0,25
0,25-
0,40
0,40-
0,60
Lebih dari 20-25
Lebih dari 25-30
Lebih dari 30-38
Lebih dari 38-44
Lebih dari 44-50
7
8
8
9
3,3
3,3
3,3
3,8
(15×10)
16×10
18×11
20×12
22×14
15
16
18
20
22
10 10,2 40-180
45-185
50-200
56-220
63-250
5,0
6,0
7,0
7,5
9,0
5,0 5,5 5,0
3,4
3,4
3,9
4,4
Lebih dari 50-55
Lebih dari 50-58
Lebih dari 58-65
Lebih dari 65-75
Lebih dari 75-85
Lebih dari 80-90
Lebih dari 85-95
Lebih dari 95-110
Lebih dari 110-135
10
11
12
14
4,3
4,4
4,9
5,4
(24×16)
23×14
28×16
32×18
24
25
28
32
16 16,2 70-280
70-280
80-320
90-360
8,0
9,0
10,0
11,0
8,0 8,5 8,0
4,4
5,4
6,4`
14
16
18
5,4
6,4
7,4
Ukuran
nominal
Pasak
b×l
Ukuran
Standart
Ukuran standar h C l
*
Ukuran
Standart
t1
Ukuran standart t2 r1
da
n
r2
Referansi
Pasak
prismatis
Pasak
luncur
Pasak
tirus
Pasak
prismatis
Pasak
luncur
Pasak
tirus
Diameter poros yang
dapat dipakai d
**
2 × 2
3 × 3
4 × 4
5 × 5
6 × 6
2
3
4
5
6
2
3
4
5
6
0,16-
0,25
6-20
6-36
8-45
10-56
14-70
1,2
1,8
2,5
3,0
3,5
1,0
1,4
1,8
2,3
2,8
0,5
0,9
1,2
1,7
2,2
0,08-
0,16
Lebih dari 6-8
Lebih dari 8-10
Lebih dari 10-12
Lebih dari 12-17
Lebih dari 17-22
Tabel 9 Bantalan Rol Kerucut
F
a
/ VF
r
≤ e F
a
/ VF
r
> e
X Y X Y
1 0 0,4 Y1
Harga e, Y1 dan Y0 dalam hubungannya dengan tabel dibawah
Nomor
Bantalan
Ukuran Luar (mm)
Faktor
beban
aksial
Konstanta
Kapasitas
nominal
dinamis
spesifik
(kg)
Kapasita
s
nominal
statis
spesifik
(kg)
d D T B b R r1 p Y1 Y0 e C Co
30302
30303
30304
30305
30306
30307
30308
30309
30310
30312
1
5
1
7
2
0
2
5
3
0
3
5
4
0
4
5
5
0
6
0
42
47
52
62
72
80
90
100
110
130
14,25
15,25
16,25
18,25
20,75
22,75
25,25
27,25
29,25
33,50
13
14
15
17
19
21
23
25
27
31
11
12
13
15
16
18
20
22
23
26
1,5
1,5
2
2
2
2,5
2,5
2,5
3
3,5
0,5
0,5
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
1
1,2
3,3
4,6
4,4
5,0
5,2
6,0
5,0
5,9
6,1
7,1
2,1
2,1
2,0
2,0
1,9
1,9
1,7
1,7
1,7
1,7
1,2
1,2
1,1
1,1
1,0
1,0
0,95
0,95
0,95
0,95
0,28
0,28
0,30
0,30
0,32
0,32
0,35
0,35
0,35
0,35
1640
2030
2490
3300
4200
5350
6100
7600
8900
11900
1000
1280
1670
2250
2970
3950
4750
6050
7150
9950
32304
32305
32305
32305
32305
32305
32305
2
0
2
5
3
0
3
5
4
0
4
5
5
0
52
62
72
80
90
100
110
22,25
25,25
28,75
30,75
35,25
38,25
42,25
21
24
27
31
33
36
40
18
20
23
25
27
30
33
2
2
2
2,5
2,5
2,5
3
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
1
8,2
9,5
9,7
12,1
12,3
12,5
13,7
2,0
2,0
1,9
1,9
1,7
1,7
1,7
1,1
1,1
1,0
1,0
0,95
0,95
0,95
0,30
0,30
0,32
0,32
0,35
0,35
0,35
3200
4400
5650
7000
8150
9850
12000
2350
3300
4500
5700
7000
8600
10800
Sularso,Suga K, 2004, Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin,edisi ke 12, Jakarta.
LAMPIRAN X
Tabel 10 Konversi satuan
Besaran Dari satuan Kesatuan metrik Kalikan dengan
1. Panjang mil
ft
in
mikron
km
m
mm
μm
1,609 344
0,304 8
25,4
1
2. Kecepatan mil/h
knot
(internasional)
ft/s
in/s
km/h
km/h
m/s
mm/s
1,609 344
1,851 999 8
0,304 8
25,4
3. Percepatan (mil/h)/s
ft/s
2
(km/h)/s
m/s
2
1,609 344
0,304 8
4. Luas in
2
ft
2
mil
2
m
2
m
2
km
2
0,000 645 16
0,092 903 04
2,589 998
5. Volume yd
ft
ft
in
in
m
m
3
l
cm
3
l
l
0,764 554 9
0,028 316 35
28, 316 85
16,387 06
0,016 387 06
3, 785 412
gal
6. Masa ton (long)
ton (short)
lb
slug
Mg,t
Mg,t
kg
kg
1,016 047
0,907 184 7
0,453 592 4
14,593 90
7. Masa per satuan
panjang
lb/ft
lb/yd
kg/m
kg/m
1,488 164
0,496 054 7
8. Masa per satuan
Luas
lb/ft
2
kg/m
2
4,882 428
9. Berat spesifik lb/ft
2
lb/ft
2
lb/gal
Kg/m
3
Kg/m
3
Kg/l
16,018 46
27676,90
0119 826 4
10. Volume aliran ft
3
/s
gal/m
m
3
/s
l/men
0,028 316 85
3,785 412
11. Laju aliran
masa
lb/men
lb/s
kg/men
kg/s
0,453 592 4
0,453 592 4
Besaran Dari satuan Kesatuan metrik Kalikan dengan
12. Gaya lbf
kgf
dyne
N
N
N
4,448 222
9,806 650
0,000 01
13. Tekanan lb/in
2
lb/ft
2
in Hg (60
0
F)
in H
2
O (60 F)
mm Hg (0 C)
kgf/cm
2
bar
atm (standar =760
torr)
lbf/in
Kpa
Kpa
Kpa
Kpa
Kpa
Kpa
Kpa
Kpa
Pa
6,894 757
0,047 880 26
3.376 85
0.248 84
0,133 322
98,066 5
100
101,325
6894,757
14. Energi,kerja, ft.lbf J 1,355 818
entalpy, kalor Btu
kkal
kW.h
hp.h
kJ
kJ
MJ
MJ
1,055 056
4.186 8
3,6
2.684 520
15. Energi
Spesifik
Btu/lb mol
Btu/lb mol
kal/g
Btu/lb
kal/gmol
J/gmol
J/g
kJ/kg
1/1,8
2,326
4,186 8
2,326
16. Daya kkal/s
Btu/men
PS (75 mkgf/s)
Hp (550 ft lbf/s
W
W
kW
kW
4148
17,572 504
0,735 499
0,745 699 9
17. Daya per
satuan luas
Btu/(ft
2
h) W/m
2
3,154 591
18. Momentum lb.ft/s kgm/s 0,042 14011
19. Momentum
sudut, Momen
momentum
lb.ft
2
/s Kgm
2
/s 0,042 140 11
20. Konstanta
pegas linear
lbf/in N/mm 0,175 126 8
21. Konstanta
pegas puntir
lbf.ft/der N.m/der 1.355 818
22. Momen gaya lbf.in
lbf.ft
kgf.cm
ozf.in
N.m
N.m
N.m
mN.m
0,112 984 8
1,355 818
0,098 066 5
7,061 552
23. Modulus
Elastisitas
lbf/in
2
Mpa 0,006 894 757
24. Modulus
Penampung
In
3
Mm
3
16387,06
Besaran Dari satuan Kesatuan metrik Kalikan dengan
25. Momen inersia lb.ft
2
kgm
2
0,042 140 11
26. Momen masa oz.in kg.mm 0,720 077 8
27. Temperatur
0
F
0
R
0
C
K
t0
C =
8 , 1
) 32 (
0
− F
t
8 , 1
0
R
K
T
·
τ
28. Selisih
temperature
0
F K 1K = 1
0
C = 1,8
0
F
29. Kalor spesifik Btu/(lb.
0
F) kJ/(kg.K) 4,186 8
30. Koefisien
perpindahan
kalor
Btu/(h.ft
2
.
0
F) W/(m
2
.K) 5,678 263
31. Konduktivitas
termal
Btu.ft/(hft
2
.
0
F) W/(m.K) 1,730 735
32. Pemakaian
bahan bakar
Mil/gal km/l 0,425 143 7
33. Pemakaian
bahan baker
Spesifik
g/(ps.h)
lb/(hp.h)
lb/(hp.h)
lb/(hpf.h)
g/(kW.h)
g/(kW.h)
g/MJ
kg/(kN.h)
1,359 6
608,277 4
168,965 9
101,971 6
34. Viskositas
dinamik
cP mPa.s 1
35. Viskositas
kinematik
cSt Mm
2
/s 1
36. Frekuensi Mc/s
Kc?s
Mhz
kHz
1
1
Catatan :
Percepatan grafitasi standar g = 9,806650 m/s
2
= 32, 1740 ft/s
2
1Pa = 1N/m
2
1J = 1N.m
1W = N.m/s = 1 J/s
1 atmosfir standar internasional 1 atmosfir teknik
= 0,101 325 MPa = 1 atm
= 1,013 25 bar = 0,980 67 bar
= 1,013 25 N/m
2
= 1kgf/cm
2
= 1,033 2 kgF/cm
2
= 1 kp /cm
2
= 14,697 lbf/in
2
= 144,223 lbf/in
2
= 735,6 mm.Hg
No. Simbol Nama satuan No. Simbol Nama satuan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
Btu
c
0
C
c/s
der
ft
0
F
g
gal
h
hp
Hz
in
in.Hg
British thermal unit
siklus
Derajat Celcius
siklus per detik
derajat
(1der=(
π
/180)rad )
kaki
derajat Fahrenheit
gram
gallon
jam
Horse power
Hertz
19. kgf kilogram-gaya
20. K derajat Kelfin
21. l liter(11=10
-3
m
3
22. lb pound
23. lbf pound-gaya
24. m meter
25. men menit
26. mil mil
(1mil = 1,609 344 km)
27. N Newton
28. ozf onz-gaya
29. P Poise
30. Pa Paskal
31. PS Daya kuda metric
(1PS = 75 m kgf/s)
15.
16.
17.
18.
19.
in H
2
O
J
kal
kc
W
inci
inci air raksa
inci air
Joule
kalori
kilosiklus
Watt
32.
0
R derajat Rankine
33. s detik
34. St Stokes
35. yd Yard
36. MPa Mega-Pascal
(Prof. DR. Aris Munandar, Guru besar STTNAS)

HALAMAN PERSETUJUAN Makalah Elemen Mesin ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi kurikulum dalam studi jurusan Teknik Mesin S-1 Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta

Disusun Oleh : Nama No. Mhs Jenjang Studi Program Studi : Panji Prasetya : 210003048 : Strata Satu ( S-I ) : Teknik Mesin

Yogyakarta, 09 Juli 2009

Mengetahui Ketua Jurusan Teknik Mesin

Disetujui dan disahkan Dosen Pembimbing

Sutrisna. ST, MT

Ir. Sri Yatno SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL

YOGYAKARTA JURUSAN TEKNIK MESIN

TUGAS ELEMEN MESIN III

No. Soal Nama

: 13-KS/STTNAS/TM/EM3/III/2007 : PANJI PRASETYA

No. Mahasiswa : 210003048 Soal : Rencanakan Kotak Roda Gigi Untuk Mentransferkan Daya 60 Pk Dengan Putaran Input 1500 Rpm dan Putaran Output 15 Rpm.

Yogyakarta, 09 Juli 2009 Dosen Pembimbing

( Ir. Sriyatno )

MOTTO

➢ Jika kamu gagal yang ketujuh kali cobalah untuk yang ke delapan kali. ➢ Jangan kecewa bila dunia tidak mengenal anda tetapai kecewalah bila anda tidak mengenal dunia. KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim . ➢ Persiapan yang baik untuk masa depan ialah tugas yang terakhir dikerjakan dengan sebaik-baiknya.➢ Mulailah dari diri kita sendiri. ➢ Berkerjalah untuk duniamu dan beramallah untuk akhiratmu. kegagalan adalah usaha untuk mencapai kemenangan. Mulailah dari yang terkecil dan mulailah dari yang sekarang. ➢ Tidak ada usaha yang gagal. ➢ Kejujuran dan kesabaran adalah harta orang yang bijak.

.....Sri Yatno......... Bapak Sutrisna. pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada: 1.Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan banyak rahmat serta hidayah-Nya.. Selaku dosen pembimbing yang telah memberikan pengarahan. ST...... Yogyakarta..i . 09 Juli 2009 Penulis DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL. ... H...... Bapak dan Ibu.... MSME.. MT. Ph. Tersusunnya laporan ini tidak lepas dari partisipasi dan bantuan dari semua pihak.D selaku ketua Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta...... 2.. 3.......... 5. selaku ketua jurusan Teknik Mesin Bapak Ir... Akhir kata.... penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat digunakan sebagaimana mestinya.. R...... Soekrisno.. serta keluarga tercinta yang telah memberikan dukungan dan dorongan baik berupa material maupun spiritual.... 4... Seminar Perancangan Elemen mesin III ini merupakan salah syarat yang harus dipenuhi oleh mahasiswa jurusan Teknik Mesin Strata Satu Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta... sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Seminar Perancangan Elemen mesin III dengan judul ”Sistem Transmisi Gear Box” dapat terselesaikan dengan baik dan sesuai waktu yang ditentukan......... Semua pihak yang telah banyak membantu secara langsung maupun tidak langsung sehingga terselesaikannya laporan Tugas Akhir ini... motivasi dan bimbingan.. Bapak Ir.

........v DAFTAR ISI.....................................ii HALAMAN SOAL....30 Perhitungan Poros........10 Pasak...2 Roda Gigi Cacing.....................................4 2.....68 16 .......................3 Sistem Pelumasan Pada Bantalan BAB III PERHITUNGAN PERENCANAAN 3..............................1 Batasan Masalah........1 Tujuan dan Manfaat Perencanaan.......HALAMAN PERSETUJUAN..........2 Pendahuluan....................................viii BAB I PENDAHULUAN 1.........3 Roda Gigi.....2....5.................................................................1 Klasifikasi Bantalan................vi DAFTAR TABEL................1 Klasifikasi Poros...................13 2.......................................................15 2................7 2.........5.....................1 3..10 2.......................................................................................................5 Poros...3 3..............................................................11 Bantalan..iii MOTTO ...............................................................41 Perhitungan Pasak............................................................13 2..................3.......................4 2.....................................................................2 1............................1 Klasifikasi Pasak...2...........7 2....2 3.......................3 Latar Belakang Masalah.....19 Perhitungan Roda Gigi Cacing...............1 1....................3 2...................................................................................................................iv KATA PENGANTAR..............................2 Kelakuan Pada Bantalan..62 Perhitungan Bantalan Rol Kerucut....5.....1 Roda Gigi lurus................4......5 Perhitungan Roda Gigi Lurus......................................................................1 2.....4 3.............11 2.....................2 BAB II LANDASAN TEORI 2....

.........92 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR TABEL Lampiran Tabel 1 Tabel 2 Kasifikasi Roda Gigi........................................1 Perawatan Mesin....................85 Saran....................................1 5.....................81 4..........................................II ................... .......1 Pengertian Perawatan.........I Harga Modul Standar.1....3 Pelumasan................. .............82 BAB V PENUTUP 5....80 4...1.........................2 Kesimpulan...1...2 Perawatan Transmisi Roda gigi cacing..80 4...........BAB IV SISTEM PERAWATAN DAN PELUMASAN 4..........................................................................................................

..... Sebenarnya apakah arti dari merencana atau perencanaan itu sendiri............................................................................................................................................................X BAB I PENDAHULUAN Dalam kehidupan sehari-hari tidak ada suatu masalah atau pekerjaan yang dilakukan tanpa melalui sebuah perencanaan..VII Ukuran dan Standart Pasak......................................VIII Bantalan Rol Kerucut............................................................................IX Tabel 10 Konversi Satuan.........................................V Sudut Kisar.........................III Sudut Tekanan Normal........................................Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tegangan Lentur yang Diijinkan Pada Bahan Roda GigiI......................VI Baja Karbon Cor..................................................IV Faktor Ketahanan Terhadap Keausan.......... Merencana ........

banyak dijumpai berbagai peralatan rumah tangga. 2.Batasan Masalah Batasan masalah yang akan dibahas dalam perencanaan ini adalah bagaimana merencanakan sistem reduksi menggunakan transmisi roda gigi. Mampu menganalisa serta memahami dari cara kerja sistem transmisi roda gigi. Adanya modifikasi atau perencanaan ulang pada transmisi roda gigi diharapkan dapat tercipta sebuah system transmisi yang lebih baik. 1.berarti merumuskan suatu rencana sebelum menyelesaikan masalah atau pekerjan dalam memenuhi kebutuhan manusia. Tujuan dari perkembangan yang demikian maju ini adalah untuk membantu manusia dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.1.2.1. 3. Meningkatkan pengetahuan tenteng system transmisi roda Sebagai salah satu persyaratan tugas seminar elemen . 1. 1. 4. Melihat keadan ini penulis mencoba ikut serta merencanakan sebuah perencanaan sistem reduksi roda gigi berdaya 60 HP dengan putaran input (nin) sebesar 1500 rpm hingga putaran output (nout) sebesar 15 rpm. lebih kuat. permesinan dan suku cadang yang sudah modern dan sangat canggih. gigi. Adapun dalam perencanan ini perbandingan reduksi yang digunakan adalah dengan transnmisi roda gigi. meningkatkan mutu produksi serta kemampuan untuk menghasilkan produk dengan biaya ekonomis dan bermutu tinggi.Latar Belakang Masalah Sejalan dengan perkembangan teknologi dewasa ini. dan tahan lama namun dngan harga yang ekonomis. Tujuan dan Manfaat Perencanaan Adapun manfaat dari perencanaan ini adalah: 1. mesin. Dimana dari transmisi tersebut didapat daya maksimum dan putaran yang diinginkan.

Pendahuluan Reduksi adalah perbandingan transmisi dari suatu alat yang digunakan untuk meneruskan putaran atau daya dari .1. Untuk mendapatkan hasil yang baik dalam perencanaan ini. BAB II LANDASAN TEORI 2. maka perlu dilakukan survei atau penelitian langsung yang berhubungan dengan perencanaan tersebut.Dalam perencanaan ini penulis hanya merencanakan susunan transmisi roda gigi yang akan dibagi menjadi tiga tingkat adapun jenis roda gigi yang digunakan adalah roda gigi lurus dan roda gigi cacing.

dan daya lebih besar. Pemakaian roda gigi sebagai alat transmisi menduduki tempat yang terpenting disegala bidang selama 200 tahun terakhir ini. Kelebihan ini tidak selalu menyebabkan dipilihnya roda gigi disamping cara yang lain. roda gesek. Roda bergigi semacam ini. kabel. Ada beberapa cara dalam mentransmisikan putaran yaitu dengan sabuk. Untuk ini. pemasangan. Guna mentransmisikan daya besar dan putaran yang tepat tidak dapat dilakukan dengan roda gesek. dan roda gigi. transmisi roda gigi mempunyai keunggulan dibanding sabuk atau rantai karena lebih ringkas. putaran lebih tinggi dan tepat. yaitu dengan sabuk atau rantai. Jika dari dua buah roda berbentuk silinder atau kerucut yang saling bersinggungan pada kelilingya salah satu diputar maka yang lain akan ikut berputar pula. Cara ini cukup baik untuk meneruskan daya kecil dengan putaran yang tidak perlu tepat. disebut roda gigi. maupun pemeliharaannya. ada pula cara lain untuk meneruskan daya. yang dapat berbentuk silinder atu kerucut. sampai roda gigi reduksi pada turbin besar yang berdaya puluhan megawatt. Karena pentingnya elemen ini maka cara yang dipakai disesuaikan dengan fungsinya. karena memerlukan ketelitian lebih besar dalam pembuatan. Akan tetapi kabel atau tali hanya dipakai untuk maksud khusus. kedua roda tersebut harus dibuat bergigi pada kelilingnya sehingga penerusan daya dilakukan oleh gigi-gigi kedua roda yang saling terkait. . Penggunaanya dimulai dari alat pengukur yang kecil dan teliti seperti jam tangan. rantai. atau tali.elemen mesin ke elemen mesin lainnya. Alat yang menggunakan cara kerja semacam ini untuk mentrasmisikan daya disebut roda gigi. Namun demikian. Di luar cara transmisi diatas.

Dalam bab ini akan. di sini hanya akan dibicarakan profil gigi involut atau evolven saja. Roda gigi lurus (a) merupakan roda gigi paling dasar dengan jalur gigi yang sejajar poros. Pada roda gigi miring ini. Dengan roda gigi ini. dan daya yang terus diinginkan alat transmisi dengan ukuran kecil dengan . cara menyatakan ukuran roda gigi. kedua bidang silinder tersebut bersinggungan dan yang satu menggelinding pada yang lain dengan sumbu sejajar. Roda gigi miring (b) mempunyai roda gigi yang berbentuk ulir pada silinder jarak bagi.2. Sifat ini sangat baik untuk mentransmisikan putaran tinggi dan beban besar. jumlah pasangan gigi yang saling membuat kontak serentak (disebut”perbandingan kontak”) adalah lebih besar dari pada roda gigi lurus sehingg perpindahan momen atau putaran melalui gigi tersebut dapat berlangsung dengan halus. kecepatan keliling. Dalam hal “roda gigi dengan perubahan kepala” (atau modifikasi kepala) dan perhitungan kekuatan roda gigi. Namun roda gigi miring memerlukan bantalan aksial dan kontak roda gigi yang lebih kokoh. karena jalur roda gigi yang terbentuk ulir tersebut menimbulkan gaya reaksi yang sejajar dengan poros. Roda Gigi Roda gigi dengan poros sejajar adalah roda gigi di mana giginya berjajar pada dua bidang silinder (disebut “bidang jarak bagi”). dan kemudian akan diuraikan nama setiap bagian roda gigi. Dalam hal profil gigi.perbandingan reduksi. dan peristilahan. 2. untuk roda lurus yang merupakan roda gigi yang paling dasar diantara lainnya. akan diperkenalkan metode perencanaan terbaru secara terperinci. Dalam hal roda gigi miring ganda (c) gaya aksial yang timbul pada gigi yang mempunyai alur berbentuk V tersebut akan saling meniadakan. dibahas terlebih dahulu penggolongan roda gigi. karena hal ini hanya satu-satunya yang dipakai secara umum. dengan bantuan diagram aliran.

Tetapi disamping itu terdapat pula roda gigi yang perbandingan kecepatan sudutnya bervariasi. roda gigi hipoid (i). Roda gigi hipoid adalah seperti yang di pakai pada roda gigi diferensial otomobil. cacing globoid atau cacing selubung ganda (k) dengan perbandingan kontak yang lebih besar dapat di gunakan. dll. Roda-roda gigi yang telah di sebut di atas semuanya mempunyai perbandingan kecepatan sudut cepat antara kedua poros. Tetapi roda gigi ini sangat berisik karena perbandingan kontaknya yang kecil. Roda gigi kerucut (f) dengan gigi lurus. dapat meneruskan putaran tinggi dan beban besar. Sudut poros kedua roda gigi kerucut ini biasanya di buat 90. Tetapi untuk beban besar. Batang gigi (e) merupakan dasar profil pahat pembuat gigi.karena pinion terletak pada roda gigi. Roda gigi cacing meneruskan putaran dengan perbandingan reduksi besar. Roda gigi ini mempunyai jalur gigi berbentuk spiral pada bidang kerucut yang sumbunya bersilang. Dalam hal roda gigi kerucut.perbandingan reduksi besar. roda gigi bukan lingkaran. karena mempunyai perbandingan kontak yang lebih besar. Pasangan antara batang gigi dan pinion di pergunakan untuk merubah gerakan putar menjadi lurus atau sebaliknya. roda gigi lonjong seperti seperti pada meteran air. dan pemindahan gaya pada permukaan gigi berlangsung secara meluncur dan menggelinding. dll. Roda gigi kerucut spiral (g). Ada pula putaran roda gigi . adalah yang paling mudah di buat dan paling sering di pakai. bidang jarak bagi merupakan bidang kerucut yang puncaknya terletak di titik potong sumbu poros. Dalam golongan roda gigi poros bersilang. seperti misalnya roda gigi eksentris.terdapat roda gigi miring silang (i). Juga kontruksinya tidak memungkinkan pemasangan bantalan pada kedua ujung poros-porosnya. roda gigi cacing (j and k). Roda gigi macam (j) mempunyai cacing dalam bentuk silinder dan lebih umum di pakai.

yang dipakai misalnya untuk menggerakan film pada proyektor bioskop. Namun pada apa yang disebut transmisi harmonis di pergunakan gabungan roda gigi yang bekerja dengan deformasi elastis dan tanpa deformasi.1) yaitu : Gambar 2. Dalam teori roda gigi pada umumnya di anut anggapan bahwa roda gigi merupakan benda kaku yang hampir tidak mengalami perubahan bentuk untuk jangka waktu lama.1 Macam-macam roda gigi . arah putaran dan bentuk jalur gigi seperti pada (Gambar 2.yang putus-putus dan roda gigi geneva. bahwa roda gigi diklasifikasikan menurut letak poros.2004. Menurut Sularso dalam bukunya “ Dasar Perencanaan Dan Pemilihan Elemen mesin” .

(Sularso. Gigi-gigi ini memiliki bentuk silinder atau .Roda Gigi Lurus Gambar 2.2. Roda gigi lurus pada kelilingnya dibuat bergerigi. (Sularso. 2004) 2. 2004) Roda gigi lurus merupakan salah satu komponen mesin yang dapat digunakan untuk mentransmisikan daya.2 Nama-nama bagian roda gigi.1. sehingga penerusan daya dilakukan oleh gigi-gigi kedua roda yang saling terkait.

cacing dan roda cacing terjadi gesekan yang cukup besar sehingga dapat menimbulkan banyak panas. Adapun kekurangan dari transmisi roda gigi cacing adalah memiliki efisiensi mekanis yang rendah.2. antara lain: bentuk lebih ringkas.3. Namun. Transmisi roda gigi lurus dibandingkan transmisi sabuk atau rantai memiliki beberapa keunggulan. oleh sebab itu kapasitas transmisi roda gigi sering dibatasi jumlah panas yang timbul.kerucut. yakni pada roda cacing ke cacing. Perbandingan transmisi roda gigi cacing dapat dibuat hingga perbandingan reduksi 1 : 100 dan cara kerjanya halus atau hampir tanpa bunyi. Dalam kerjanya. Nama-nama bagian roda gigi . putaran lebih tinggi dan tepat. terutama jika (η ) sudut kisarya (γ ) kecil. Gambar 2. 2.2. daya lebih besar.Roda Gigi Cacing Pasangan roda gigi cacing terdiri dari sebuah poros yang mempunyai ulir luar dan sebuah roda cacing yang berkait dengan poros cacing tersebut. pada umumnya transmisi tidak dapat dibalik untuk menaikkan putaran.

2004) Keterangan : D C1 = diameter inti cacing D C2 = diameter jarak bagi cacing D C = diameter luar cacing D RC 1 = diameter lingkaran kaki roda cacing D RC 2 = diameter jarak bagi roda cacing D RC 3 = diameter tenggorok roda cacing D RC = diameter luar roda cacing Z C = jumlah kisar cacing efektif = jarak kisar cacing PC ϕ = sudut lengkung roda cacing RC γ = sudut kisar cacing C h k = tinggi kepala cacing h f = tinggi kaki cacing .(Sularso.

3. Gandar (axle) Poros ini biasanya dipasang diantara roda-roda kereta api. Poros ini hanya mendapat beban lentur. Syarat yang harus dipenuhi poros ini adalah deformasinya harus kecil dan bentuk serta ukurannya harus teliti. Spindel (Spindle) Poros yang pendek. puli sabuk. dimana beban utamanya berupa puntiran. . Daya ditransmisikan pada poros ini melalui kopling. Poros transmisi (line shaft) Poros ini mendapat beban putir dan lentur.a = jarak sumbu roda cacing dan sumbu cacing Poros merupakan salah satu bagian yang terpenting dari 2.3. dimana poros tidak mendapat beban puntir dan tidak berputar.1 Klasifikasi Poros Menurut pembebanannya poros untuk meneruskan daya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1). seperti poros utama mesin perkakas. 2. kecuali bila digerakkan oleh penggerak mula dimana akan mengalami beban puntir juga. dll. 3). Poros ini mendapat beban puntir murni dan lentur. Poros (shaft) Poros yang ikut berputar untuk memindahkan daya dari mesin ke mekanisme yang digerakkan. Poros setiap mesin. Poros yang digunakan pada dongkrak elektrik ini yaitu poros cacing. hampir semua mesin meneruskan tenaga bersamasama dengan putaran utama dalam transmisi yang dipegang oleh poros. 2). rantai. 4). poros ini meneruskan daya dari roda gigi lurus yang terhubung dengan motor listrik ke roda gigi cacing. roda gigi.

2004) 2. pasak benam. Gambar 2. kopling.5 diameter poros. dan yang lainnya. dan panjang pasak jangan terlalu panjang dibandingkan dengan diameter poros antara 0.4.8 Macam-Macam Pasak (Sularso. sprocket. Disamping beberapa macam pasak diatas ada pula pasak tembereng dan pasak jarum.2. Bahan pasak yang digunakan lebih lemah dari bahan poros.4. Pasak menurut letak pada porosnya dapat dibedakan antara pasak pelana. sehingga pasak akan lebih dulu rusak dari pada poros atau nafnya. Lebar pasak sebaiknya antara 25%-30% dari diameter poros.1 Klasifikasi Pasak : . puli. Pasak Pasak adalah suatu elemen mesin yang dipakai untuk menetapkan bagian-bagian seperti roda gigi. yang umumnya berpenampang segiempat. dan pasak singgung.75-1. pasak rata.

Pasak yang digunakan pada dongkrak elektrik ini adalah pasak benam yang dipasang pada kerangka.1. aman. dan pada semua sisinya rata. perlemahan poros karena perataan tidak sebesar perlemahan karena alur. 3. poros dan naf ditegangkan pada arah kelilingnya sehingga dalam pemasangan pasak ini bebas kelonggaran. Pasak benam Pasak benam mempunyai bentuk penampang segi empat dimana terdapat bentuk prismatis dan tirus yang kadangkadang diberi kepala untuk memudahkan pencabutannya. pada penerapannya pasak ini menghasilkan sambungan pasak yang paling murah dan paling sedikit membutuhkan pengerjaan akhir. sehingga putaran atau gerakan bolak-balik dapat berlangsung secara halus.5. sehingga gerakan poros ulir hanya naikturun. Pasak rata Pasak ini mempunyai bentuk bujur sangkar. Pasak tembereng Pasak tembereng memiliki bentuk setengah lingkaran. 2. Pasak singgung Pada pasak ini. Khususnya digunakan pada mesin perkakas dan juga pada kendaraan yang mempunyai momen putar tidak terlalu besar. Pada sambungan pasak ini. 4. Bantalan . 2. Pasak ini berfungsi untuk menahan poros ulir tidak ikut berputar saat mesin dioperasikan. dan panjang umur. Bantalan Bantalan adalah suatu elemen mesin yang menumpu poros beban.

rol atau rol jarum.1 Klasifikasi Bantalan Bantalan gelinding mempunyai keuntungan dari gesekan gelinding yang sangat kecil dibandingkan dengan bantalan luncur. maka besarnya beban yang dipakai harus memiliki ketahanan dan kekerasan yang sangat tinggi. Untuk bola atau rol.5.harus cukup kokoh untuk memungkinkan poros serta elemen mesin lainnya bekerja dengan baik.10) Elemen gelinding seperti bola atau rol dipasang antara cicin luar dan dalam. bola atau rol akan melakukan gerakan gelinding sehingga gesekan akan jauh lebih kecil. ketelitian tinggi dengan bentuk dan ukurannya merupakan suatu keharusan. Pada bantalan ini terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan bagian yang diam melalui elemen gelinding seperti bola (peluru). (Gambar 2. dan rol bulat.\ 2. Jika bantalan tidak berfungsi dengan baik maka sistem kerja seluruh unit mesin akan menurun atau tidak dapat bekerja dengan semestinya. . Dengan memutar salah satu cicin tersebut. Karena luas bidang kontak antara bola dan rol dengan cincin sangat kecil.

bantalan instrumen.Diameter dalam kurang dari 10 (mm). Demikian pula dapat dibedakan menurut banyaknya baris dan konstruksi dalamnya.Diameter luar 80-180 (mm) . Menurut diameter luar atau diameter dalamnya.Diameter luar 180-800 (mm) . 2004) Menurut bentuk elemen gelindingnya.10 Macam-Macam Bantalan Gelinding (Sularso. bantalan gelinding dapat dibagi atas: .dan diameter luar 9 (mm) atau lebih .Gambar 2. Bantalan Menurut pemakaianya.Diameter dalam 10 (mm) atau lebih. Bantalan yang cincin dalam dan cincin luarnya dapat saling dipisahkan disebut macam pisah. dan diameter luar sampai 80 (mm) .Diameter luar kurang dari 9 (mm) otomobil. dapat digolongkan atas bantalan gelinding biasa terdapat dalam ukuran metris dan inch. bantalan Miniatur mesin. dapat pula dibagi atas bantalan bola dan bantalan rol.Diameter luar lebih dari 800 (mm) . dan Diameter kecil Ultra besar Besar Sedang Kecil .

. oleh kebulatan bola dan rol. Namun demikian perlu diketahui bahwa bantalan otomobil dapat mempunyai ukuran khusus dengan pemakainya. 2. Faktor lain yang mempengaruhi adalah ketelitian pemasangan. Kelakuan gesekan Bantalan bola dan bantalan rol silinder mempunyai gesekan yang relatif kecil dibandingkan dengan bantalan yang lainnya. Hal ini dipengaruhi cincin. yang besarnya tergantung pada macamnya dan cara pelumasannya. Bantalan bola macam alur dalam.2 Kelakuan Pada Bantalan 1. Harga ini untuk suatu bantalan yang mempunyai bantalan empiris. dan kelas mutunya. kebulatan kekerasan elemen-elemen tersebut. 2. gesekan bantalan merupakan penentuan ketelitiannya. Kelakuan terhadap putaran Diameter (d) (mm) dikalikan dengan putaran permenit (n) (rpm) disebut harga d atau n. 4. bantalan bola kontak sudut. Membawa beban aksial Bantalan radial mempunyai sudut kontak yang besar antara elemen dan cincinnya.5. Untuk alat-alat ukur. keadaan sangkarnya.distandarkan menurut ISO dengan nomor kode international menurut ukurannya. 3. dan kelonggaran dalam bantalan. konstruksi mesin (yang memakai bantalan tersebut). dan bantalan rol kerucut merupakan bantalan yang dibebani gaya aksial kecil. dapat menerima sedikit beban aksial. Kelakuan dalam bunyi dan getaran.

3. 5. Kekurangannya adalah bahwa aliran pelumasan tidak selalu tetap. Pelumasan percik Dari suatu bak penampung. Pelumasan cincin Pelumasan ini menggunakan cincin yang digantungkan pada poros sehingga akan berputar bersama poros sambil mengangkat minyak dari bawah. Pemilihan cara pelumasan sangat perlu diperhatikan bentuk. 4. dikenal bermacam-macam cara. Cara ini dipakai untuk beban sedang. atau kerja yang tidak terus-menerus. Pelumasan ini dipakai seperti dalam hal pelumasan tetes. 2. Dalam pelumasan bantalan. haruslah memperhatikan sistem pelumasan yang akan digunakan.2. minyak dipercikkan. kecepatan rendah. Cara ini digunakan untuk melumasi torak dan silinder motor bakar torak yang berputar tinggi. atau pelumasan menjadi tidak teratur. . antara lain : 1. Pelumasan tangan Cara ini sesuai pada beban ringan. bentuk serta kekerasan alur minyak juga merupakan faktor-faktor penting. Pelumasan sumbu Cara ini menggunakan sebuah sumbu yang dicelupkan dalam mangkok minyak sehingga minyak terisap oleh sumbu tersebut.3 Sistem Pelumasan Pada Bantalan Dalam penggunaan bantalan pada suatu mesin. Pelumasan tetes Dari sebuah wadah. minyak diteteskan dalam jumlah yang banyak dan teratur melalui sebuah katup jarum.5. Sehingga tempat pelumasan. kondisi kerja. dan letak bantalan menjadi pertimbangan dalam pemilihan.

seperti pada bantalan utama motor putaran tinggi dan beban besar. Cara ini cocok untuk bantalan dengan poros tegak. Cara ini dipakai untuk melumasi bantalan yang sulit letaknya. Besar-kecilnya beban yang dikenakan 4. Bantalan adalah elemen mesin yang menumpu poros berbeban. Disini perlu diberikan perhatian pada besarnya gaya gesekan. maka system tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya. Tinggi rendahnya putaran poros 2. . Kemudahan perawatannya. sehingga putaran atau gerakan bolak-baliknya dapat berlangsung dengan halus. perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Jenis bahan yang dikenakan 3. kenaikan temperatur dan kemungkinan masuknya kotoran atau benda asing. minyak dialirkan oleh gaya beratnya. karena tahanan minyak. 2004). Cara ini dipakai untuk kecepatan sedang dan tinggi pada kecepatan keliling sebesar 10-15 m/s. seperti pada turbin air. 7. Bantalan dalam permesinan seperti halnya dalam pondasi bangunan. 8.6. Artinya apabila bantalan tidak berfungsi dengan baik. Dalam memilih bantalan yang akan digunakan. Pelumasan pompa Pelumasan pompa dipergunakan untuk mengalirkan minyak ke dalam bantalan. Pelumasan celup Sebagian dari bantalan dicelupan dalam minyak. aman dan berumur panjang (Sularso. Ketelitian elemen mesin 5. Pelumasan grafitasi Pada bantalan diletakkan sebuah tangki.

....Jarak sumbu poros (a) ..... Perhitungan Roda Gigi Lurus I dan II Direncanakan: ..... Perhitungan Roda Gigi Lurus 3...1...........Modul (m) =2 = 180 mm = 4 mm = 1500 = 60 HP = 44.......BAB III PERHITUNGAN PERENCANAAN 3..a (1 + 2 ) dg1 = 2 ⋅a 3 dg1 = 2 ⋅180 3 dg1 = 120 mm dan : 1 Ibid.Perbandingan Reduksi (i) ...1... 214 .76 1) Diameter lingkar jarak bagi roda gigi dengan jarak sumbu poros (dg) : dg = 2⋅a (1 + i ) ....1..........Putaran motor yang ditransmisikan (n1) rpm ..1 maka : dg1 = 2..Daya motor (Pm) kW ......... hal..

...........dg2 = 2⋅ a ⋅i (1 + i ) ....2 maka : dg2 = 2⋅a⋅2 (1 + 2) dg2 = 4 ⋅ a............................... hal. hal. 214 ..............3 maka: zg1 = d g1 m zg1 = 120 4 zg1 = 30 gigi 2 Ibid...................................... 214 3 Ibid.................... (1 + 2 ) dg2 = 4 ⋅180 3 dg2 = 240 mm 2) Mencari jumlah gigi (zg) : zg = d g1 m ......

..............5 maka : 4 Ibid........ hal........4 maka : dkg1= ( zg1 + 2 ) · m dkg1 = ( 30 + 2 ) · 4 dkg1 = 128 mm dan : dkg2 dkg2 dkg2 = ( zg2 + 2 ) · m = ( 60 + 2 ) · 4 = 248 mm 4) Mencari tinggi kepala gigi pada roda gigi (hkg) : hkg = m........ 219 ............ 219 5 Ibid.....................dan : zg2 = dg2 m zg2 = 240 4 zg2 = 60 gigi 3) Mencari diameter luar roda gigi (dkg) : dkg = ( zg + 2 ) · m.......... hal..................................

....64 mm 7) Mencari jarak bagi lingkar (tg) : tg= π · m.................................m........56 mm 6 Ibid............ m 6) Mencari tinggi gigi (hg) : hg = 2 · m + ck · m... hal.......... 220 8 Ibid......7 maka : hg = (2 · 4) + (0.............16 · 4) hfg = 4.. 220 7 Ibid...... hal....... hal.. 220 ..............16 ...6 maka : hfg = (1 · 4) + (0..................16 · 4) hg = 8..........m + ck ..8 maka : tg = 3..14 · 4 mm tg = 12.......hkg = 4 mm 5) Mencari tinggi kaki gigi (hfg) : hfg = k........64 mm keterangan: k : Faktor kepala yang besarnya adalah 1 ck : Kelonggaran puncak yang besarnya adalah 0.

......76 Kw ........................64 Ddg2 = 230.Putaran motor(n1) ig = = 1500 rpm Zg 2 Zg1 maka : 9 Ibid. hal...........72 mm dan : Ddg2 = dkg2 – 2 · hg Ddg2 = 240 – 2 · 8...8) Mencari diameter dalam (Ddg) pada roda gigi : Ddg = dkg – 2 · hg......... hal......9 maka : Ddg1 = dkg1 – 2 · hg Ddg1 = 128 – 2 · 8......Zg1 jumlah gigi = 30 ..........72 mm 9) Jadi perbandingan reduksi (ig) untuk roda gigi adalah : ig = ....... 220 10 Ibid...Daya motor (Pin) = 44................. 238 ........Zg2 jumlah gigi = 60 ..10 Zg 2 Zg1 diketahui : .........64 Ddg1 = 110.

ig = 60 =2 30 10) Putaran reduksi (n) : n2 ..13 = π ⋅ 240⋅ 750 60 .................. hal 238 .....12 102Pm v keterangan : Pm v maka : v = π ...... hal.... dg 2 ..= n1 i 11 maka : n2 = 1500 = 2 750 rpm 11) Gaya tangensial pada roda gigi lurus (Ftg) : Ftg = .....1000 = 9.....1000 = Daya motor = 44........................................ 238 12 Ibid......... n2 60 ............76 kW = Kecepatan roda gigi lurus (m/detik) .42m/det jadi gaya tangensial roda gigi : 11 Ibid....................................................... 238 13 Ibid..... hal.............

Ftg = 102 ⋅ 44.Putaran motor yang ditransmisikan (n1) .Perbandingan Reduksi (i) .76 .Daya motor (Pm) kW .76 9.5 = 420 mm = 750 rpm = 60 HP = 44.1.42 m / det = 484. Perhitungan Roda Gigi Lurus III Direncanakan: .66 kg 3.Jarak sumbu poros (a) = 2.2.

- Modul (m)

= 4 mm

1) Diameter lingkar jarak bagi roda gigi dengan jarak sumbu poros (dg) : dg =
2.a (1 + i )

diketahui : dg2 = 240 mm maka : dg3 =
2 ⋅a ⋅i (1 + i )

dg3 =
2 ⋅ a ⋅ 2,5 (1 + 2,5)

dg3 =
5 ⋅ a. (1 + 2,5)

dg3 =
5 ⋅ 420 3,5

dg3 = 600 mm

2) Mencari jumlah gigi (zg) : zg =
d g1 m

diketahui : dg3 = 600 mm dg2 = 240 mm zg2 = 60 mm maka : dg3 = zg3· m zg3 =
dg3 m

zg3 =

600 4
zg3 = 150 gigi 3) Mencari diameter luar roda gigi (dkg) : dkg diketahui : dkg2 = 248 mm maka : dkg3 = ( zg3 + 2 ) · m dkg3 = ( 150 + 2 ) · 4 dkg3 = 608 mm 4) Mencari tinggi kepala gigi pada roda gigi (hkg) : = ( zg + 2 ) · m

hkg = m

maka : hkg = 4 mm 5) Mencari tinggi kaki gigi (hfg) : hfg = k.m + ck .m maka : hfg = (1 · 4) + (0,16 · 4) hfg = 4,64 mm keterangan: k ck 0,16 . m 6) Mencari tinggi gigi (hg) : h g = 2 · m + ck · m maka : hg = (2 · 4) + (0,16 · 4) hg = 8,64 mm 7) Mencari jarak bagi lingkar (tg) : tg = π · m maka : tg = 3,14 · 4 mm tg = 12,56 mm : Faktor kepala yang besarnya adalah 1 : Kelonggaran puncak yang besarnya adalah

Zg2 jumlah gigi = 60 .Daya motor (Pin) = 44.76 Kw .72 mm dkg3 = 608 mm maka : Ddg3 = dkg3 – 2 · hg Ddg3 = 608 – 2 · 8.Putaran motor(n2) maka : ig = = 750 rpm Zg3 Zg2 ig = 150 = 2.72 mm 9) Jadi perbandingan reduksi (ig) untuk roda gigi adalah : ig = Zg3 Zg2 diketahui : .64 Ddg3 = 592.5 60 .Zg3 jumlah gigi = 150 .8) Mencari diameter dalam (Ddg) pada roda gigi : Ddg = dkg – 2 · hg diketahui : Ddg2 = 230.

1000 Kecepatan roda gigi lurus (m/detik) = π ⋅ 600 ⋅ 300 60. n3 60 .76 kW v v = = π .5 300 rpm 11) Gaya tangensial pada roda gigi lurus (Ftg) : Ftg = 102Pm v keterangan : Pm = Daya motor = 44.66 kg .42m/det jadi gaya tangensial roda gigi : Ftg = 102 ⋅ 44.76 9.1000 = 9.42 m / det = 484. dg3 .10) Putaran reduksi (n) n3 = n2 i maka : n3 = 750 = 2.

.... hal.....3. Machine Element......2..... 180 ........................ Neiman. Perhitungan Roda Gigi Cacing Dalam perencanaan roda gigi cacing ini diketahui data-data sebagai berikut : – – – Daya yang ditransmisi (Pm) Putaran input (n3) Perbandingan transmisi (i) = 44..14 n3 n4 maka : n4 = n1 i 14 G.76 kW = 300 rpm = 20 1) Mencari putaran output (n4) : i = ......................

............ hal 277 16 Ibid..6 x 500 0.............17 = jarak sumbu poros = 300 mm .................... Elemen Mesin........= 300 20 = 15 rpm 2) Modul aksial (m) : m = 2 .......6 x a dimana : a maka : Dc1 = 0.................57 mm 3) Diameter inti cacing (Dc1) : Dc1 = 0.........7 20 + 6....28 = 37......85 .............85 = 118 mm 15 Sularso... hal 185 0... a − 12. h 276 17 Ibid..............16 = 20 x 1 = 20 maka : m = 2 ........28 ................ 500 − 12......15 dimana : a z2 = jarak sumbu poros = 500 mm = jumlah gigi roda cacing = i x z1...7 Z 2 + 6...........

.........18 = 118 + (2...4 x 37...................................5 mm 6) Sudut kisar cacing adalah (m) :  = arc tg ...4) Diameter jarak bagi gigi cacing (Dc2) : Dc2 = Dc 1 + 2.........4 · m......... hal 180 21 Sularso.20 z1 zF = arc tg 1 5..........................3º = 37 mm 8) Kelonggaran puncak (c) : 18 G.............19 Dc2 m = 208 37..... hal 180 19 Ibid.... hal 277 .......5 = 10................. Machine Element...............57 = 5......... Neimen............... hal 180 20 Ibid................... Elemeen Mesin..57 x cos 10.......21 = 37...3º 7) Modul normal (mn) : mn = m cos m.............57) = 208 mm 5) Faktor profil gigi (zf) : zf = ..

...157 mn.26 = 208 + (2 x 37) = 282 mm 13) Diameter jarak bagi roda cacing (dm2) : DRC2 = 2·a ...........186 27 Ibid........ hal 277 25 Ibid.................... hal 277 26 G............... hal 180 ........8 mm 11)Tinggi gigi (h) : h = 2...8 mm 9) Tinggi kepala (hk) : hk ..................................22 = 0. hal 277 23 Ibid......= mn 23 = 37 mm 10)Tinggi kaki (hf) : hf = 1...157 x 37 = 42...157 x mn ....27 = (2 x 500) – 208 = 792 mm 14) Diameter inti roda cacing (DRC1) : 22 Ibid.....................25 = 2........................157 x 37 = 79...................... Nieman.......24 = 1.......c = 0...8 mm 12) Diameter luar cacing (Dc) : Dc = Dc2 + 2 hk....................................................... hal 277 24 Ibid...157 x mn .....157 x 37 = 5..............Dc2 ...... hal................................................ Machine Element......

...........4 x 37. hal 186 31 Ibid....... hal 186 30 Ibid....... hal 186 .................... Machine Element..8) = 877.........28 = 792 – (2..7 mm 17) Nomor gigi cacing (Zm2) : Zm2 = ................ hal 186 32 Ibid......5 · m zm2 + 2 .....57) = 904..........31 D R C2 m = 792 37.............. Nieman.....32 28 G........57 = 21....08 mm 18) Lebar gigi cacing (b1) : b1 = 2............DRC1 = DRC2 – 2........6 mm 16) Diameter luar roda cacing (DRC) : DRC = DRC2 + 3 · m...................... hal 180 29 Ibid..............4 · m ......57) = 701...............30 = 792 + (3 x 37.29 = 792 + (2 x 42.................................................8 mm 15) Diameter tenggorok roda cacing (dk2) : DRC3 = DRC2 + 2 hf .......

......08 + 2 = 451 mm 19) Lebar roda cacing (b2) : b2 = 2..38·  3.33 π mn ) + 6...... hal 277 34 Ibid............38 ( ....................3o  + 6...................... = 282 · sin = sudut yang dibentuk lengkungan gigi rata cacing = 60o ( = 141 mm 60 ) 2 21)Jari-jari kelengkungan puncak roda cacing (rt) : 33 Sularso............35    = 287.....57 21..............= 2......5 x 37........ Elemen Mesin.. hal 277 ..............................14⋅ 37    cos10..4 mm 20)Lebar sisi gigi efektif (be) : be ..35 cos γ = 2....= Dc · sin 34 φ ( ) 2 dimana : φ ...........

..................57 x 1 = 117................ hal 180 37 Sularso............... Elemen Mesin...........14 x 37..94 mm 24) Sudut kontak (tgα ) : tg ............. Mieman.....................37 = 2 x 117.. hal 276 38 G......97 mm 23) Kisar (L) : L = 2 x H ....................97 = 235......= 38 tg αn cosγ dimana: α n adalah sudut kontak normal = 20º maka : 35 Ibid....36 = 3.......................rt = .......... Nieman. Machine Element............................... hal 277 36 G...35 Dc2 − hk 2 = 208 − 37 2 = 67 mm 22)Jarak bagi (H) : H = π · m · z1 .... hal 180 ................. Machine Element..............

85 ..........39 dimana : Vf Vf = kecepatan sleding gigi = Dc 2 ⋅n2 19100 ⋅ cos γ ............................2 m/s maka : Fn = 2 2 + 3.....3 α = 20...37 26)Koefisien umur dari roda cacing adalah (fh) : 39 Ibid.....3 = 3..........40 = 208 ⋅ 300 19100 ⋅ cos 10...85 Fn = 0..... hal 196 ...........20............... hal 196 40 Ibid..........α = arctg tg 20 cos 10...3o 25)Koefisien fiskositas (Fn) : Fn = 2 2 + Vf 0 .....

G.....37 = koefisien umur roda gigi cacing = 0........79 = koefisien beban = 1 . hal 196 42 Ibid..37 x 0..41 12000 Lh dimana : Lh = Kondisi operasi tersebut adalah 8 jam perhari dan bekerja selama 365 hari pertahun serta direncanakan umur roda gigi adalah 10 tahun.....fh = 3 ... Neiman) fn fh fw maka : τ grentz = 0.. maka harga Lh didapat: Lh = 8 x 365 x 10 = 24000 jam maka : fh = 3 12000 24000 = 0......8 (Tabel 24/5 buku Machine Element.......................................79 Koefisien beban fw diambil = 1 untuk beban dianggap konstan.......... dimana : Ko = 0. maka τ grentz = Ko x fn x fh x fw...........23 kg/mm2 41 Ibid.8 x 0...79 x 1 = 0........ hal 196 42 = koefisien fiskositas = 0....

....184 kg/mm2 28)Beban lentur yang diizinkan (Fab) : Fab dimana : σ ab = tegangan lentur diizinkan untuk bahan perunnggu = 11 kg/mm2 be mn Y maka : Fab = 11 x 141 x 37 x 0...........................25 τ zul = .....421 (Tabel 6........... 29)Beban permukaan yang diizinkan (Fac) : Fac .......................... hal 196 44 Sularso....... hal 279 ....................... Elemen Mesin... hal 279 45 Ibid......27) Tegangan izin permukaan gigi adalah (τ zul) : Bila sf adalah angka keamanan sisi gigi diambil 1.44 = lebar sisi gigi efektif = 141 mm = modul normal = 37 mm = faktor bentuk gigi = 0........= x DRC2 x be x Kγ 45 = ba x be x mn x Y ............421 = 24159..5 Sularso) Kc 43 Ibid....93 kg..............25 = 0.............23 1..... τgrentz sf 43 = 0...

.......... n3 60 ...........056 = diameter jarak bagi roda cacing = 792 mm be ............... = faktor sudut kisar untuk γ > 10o = 1......76 kw = kecepatan keliling = π .....................085 x 792 x 141 x 1..1000 = π ⋅ 792 ⋅15 60 .. DRC2 ........= lebar sisi gigi efektif = 141 mm K ....62 m/det jadi : ..............15 kg Harga terkecil diantara Fab dan Fac diambil sebagai Fmin Fmin = 11865..................dimana : Kc DRC2 = faktor tahan aus = 0..............25 = 11865.........15 kg 30)Beban tangensial (Ft) : FtRC = 102Pm v dimana : Pm v v = daya yang ditransmisikan = 44..........25 maka : Fac = 0.1000 = 0....

Tg = β = H π ⋅ DC 117. (β ) (β ) = Arc tg 0.74 kg Fmin ≥ FtRC 7363. sangat baik ≥ 11865.FtRC = 102× 44.74 kg.62 = 7363.13 mm 32)Sudut maju cacing .97 π ⋅ 282 = 0.15 kg 31)Gaya pada permukaan cacing Koefisien fiskositas cacing ( Fn ) = 0. .13 = 7.  33)Gaya pada permukaan cacing (Fc).76 0.37 Tangensial sudut maju cacing ( Tg β ) .4 .

4 − 0.Berat sendiri poros relatif kecil.66 kg jadi : .Beban Gabungan (F). H = Gaya tangensial roda gigi (Ftg) = 484.37 ⋅ cos 7.66 kg 2 = 685. Perencanaan Pada Poros Gigi I 1) Analisa beban kerja Pada roda gigi I .1.4 kg cos 7.3.66 kg 2 + 484.4 = 3866.3.74 ⋅ sin 7.4 + 0. ⋅ sin β = 7363.66 kg .Beban horizontal (FH).78 kg. F = FV 2 + FH 2 F = 484.Fc = FTRC .Beban vertikal (FV). ( ) 3. . Perhitungan Poros 3.4 kg . sehingga diabaikan. V = Gaya tangensial roda gigi (Ftg) = 484.( sin β + Fn ⋅ cos β ) cos β − Fn.37 ⋅ sin 7.

4 kg 342. 289.4 kg A D B C L1 = 144. 289.6 mm L= 526.4 kg 685. Pembebanan pada poros gigi I F = 685.2 RBV = 342.95 mm L3 = 237.2 – 685.4⋅ 144.7 kg (↑) ΣMA = 0 RBV .4 · 144.6 = 0 RAV = 685.75 mm ΣMB = 0 RAV .6 289.2 – 685.7 kg = 685.2) Statika a.4 · 144.7 kg + 342.6 = 0 RBV = 685.4 kg Momen yang terjadi adalah : MA MB MC =0 =0 =0 .6 mm L2 = 144.4⋅ 144.2 RAV = 342.7 kg (↑) RAV + RBV = = F 685.6 289.

7 kg (+) SFD 685.42 kg·mm F1 = 685.7 kg L1 = 144.6 mm L=526.4 kg (↓) (-) (↑) 342.MD = 342.7 kg .7 kg · 144.7 kg L2 = 144.4 kg A RAV = 342.75 mm C (↑) 342.6 mm D B RBV = 342.6 mm = 49554.95 mm L3 = 237.

..74 x 105 Pd n1 ......42 kg......Faktor Keamanan Sf1 46 Sularso....mm 4) Tegangan geser ijin bahan (τ a) : Bahan poros yang diambil adalah SF 60 JIS G 3210............7 (lampiran) diketahui : .mm Gambar 3.74 x 105 44.. 7 = 70 kg/mm2 =6 .BMD MA = 0 MB = 0 MC = 0 (+) MD = 49554.Kekuatan Tarik (σb) ... Elemen Mesin...16 kg....1 Momen Lentur Diagram Gaya Geser dan Diagram 3) Torsi pada poros gigi I : T = 9. hal......76 1500 = 29064.....46 = 9. dari Tabel 3....

.. hal.mm = 29064...........1   2 2   (Km x M ) + (K t x T )  τ   a     1 3 ............. elemen Mesin.Momen lentur maksimum (M) . Elemen Mesin......48 dimana : Km untuk momen lentur = 2 Kt = faktor koreksi untuk momen puntir = 1..83 kg/mm2 5) Diameter poros gigi I (ds) : ds =  5...Torsi pada poros gigi I mm =2 = 44....47 σb sf 1 ⋅ sf 2 τ a = 70 6.............Daya motor transmisi (Pin) ........ 7 48 Sularso.5 maka : τ a= ..Faktor koreksi karena pembebanan momen puntir dengan beban sedikit kejutan (Kt)...16 kg ....2 = 5.42 kg.....Faktor koreksi karena pembebanan momen lentur tetap dengan tumbukan ringan (Km)........5 = faktor koreksi 47 Sularso. dipakai 1. hal.....Faktor Keamanan Sf2 ...76 kW = 49554.. 18 .... dipakai 2 .

3 ⋅ 103 ⋅ (65) 4 = 0. hal 18 .25o 49 Ibid.mm ds = Momen lentur maksimum = Torsi pada poros gigi I = = 49554.83   1 3 ≥  5.mm T kg.5 × 29064.1    (9822562166+1900632142   5.42 ) 2 + (1.1    ( 2 × 49554.83   1 3 ≥  5.16 ⋅ 289.16 ≥  5.15 mm ≥ maka diameter poros (ds) yang dipakai = 65 mm 6) Perhitungan defleksi puntiran : θ = 584 49 T×L G × ds4 = 584 29064.033o (baik) dimana batas defleksi putaran = 0.M kg.16 ) 2    5.2 8.1    117231943108    5.83   1 3 64.42 29064.

Beban horizontal (FH).Beban Gabungan (F).Beban vertikal (FV). Perencanaan Poros Pada Gigi II 1) Analisa beban kerja Pada roda gigi II . F = FV 2 + FH 2 F = 484.66 kg jadi : .66 kg .4 kg 2) Statika Pembebanan pada poros gigi II F = 685.66 kg 2 = 685. H = Gaya tangensial roda gigi (Ftg) = 484.4 kg A C B L1 = 130 mm L= 260 mm L2 = 130 mm .2.3.3.66 kg 2 + 484. V = Gaya tangensial roda gigi (Ftg) = 484.

260 – 685.7 kg (↑) ΣMA = 0 RBV .7 kg + 342.4 · 130 RAV = 685.4⋅ 130 260 RBV = 342.ΣMB = 0 RAV . 260 – 685.7 kg = 685.4 kg 342.7 kg (↑) RAV + RBV = = F 685.4 kg 685.4⋅ 130 260 RAV = 342.7 kg · 130 mm = 44551 kg·mm .4 · 130 RBV = 685.4 kg Momen yang terjadi adalah : MA MB MC =0 =0 = 342.

4kg (↓) (-) (↑) 342.7kg L1 = 130 mm C B RBV = 342.7kg (+) SFD 685.4kg A RAV = 342.7 kg L2 = 130 mm L=260mm (↑) 342.mm .7kg BMD MA = 0 MC = 0 (+) MC = 44551 kg.F1 = 685.

74 x 105 Pd n = 9. dari Tabel 3.Faktor koreksi karena pembebanan momen lentur tetap dengan tumbukan ringan (Km).32 kg.Faktor koreksi karena pembebanan momen puntir dengan beban sedikit kejutan (Kt).5 = 70 kg/mm2 =6 =2 = 44. dipakai 2 .74 x 105 44.76 750 = 58128.Daya motor transmisi (Pin) .Momen lentur maksimum (M) .2 Momen Lentur Diagram Gaya Geser dan Diagram 3) Torsi pada poros gigi II : T = 9.7 (lampiran) diketahui : .Kekuatan Tarik (σb) .76 kW = 44551 kg.Faktor Keamanan Sf2 .mm 4) Tegangan geser ijin bahan (τ a) : Bahan poros yang diambil adalah SF 60 JIS G 3210.Faktor Keamanan Sf1 .mm = 58128.Torsi pada poros gigi II mm . dipakai 1.32 kg .Gambar 3.

32 ) 2    5.83   1 3 .2 = 5.mm ds ≥ = 44551 kg.1    7939166404+ 7602528569   5.5 × 58128.1   2 2   (Km x M ) + (K t x T )     τ a     dimana : Km untuk momen lentur = 2 1 3 = faktor koreksi = Kt = faktor koreksi untuk momen puntir 1.mm = 58128.83 kg/mm2 5) Diameter poros gigi II (ds) : ds =  5.32  5.5 M = Momen lentur maksimum T = Torsi pada poros gigi II kg.maka : τ a = σb sf 1 ⋅ sf 2 τ a = 70 6.1    (2 × 44551) 2 + (1.83   1 3 ≥  5.

83   1 3 ≥  5.32 ⋅ 260 8.≥  5.1    ⋅122240.96 mm ≥ maka diameter poros (ds) yang dipakai = 60 mm 6) Perhitungan defleksi puntiran :  = 584 T×L G × ds4 = 584 58128. Pada lokasi cacing .082º (baik) dimana batas defleksi putaran = 0.25º 3.83   1 3 45.47   5.3.1   3  1554169497    5. Perencanaan Poros Gigi Cacing 1) Analisa Beban Kerja a.3 ⋅ 103 ⋅ (60) 4 = 0.3.

46 kg . Pada lokasi pada roda gigi .. 1 V1 = Gaya permukaan cacing (Fc) = 3866.78 kg . F1 = V12 + H 12 F1 = 3866.78 2 + 3866.Beban aksial (F ).Beban Gabungan-1 (F1).Beban vertikal-2 (V ). 1 H1 = Gaya permukaan cacing (Fc) = 3866.78 2 = 5468. A F = Gaya tangensial pada roda cacing (F A ) = TRC 7363.Beban horizontal-2 (H ). 2 V2 = Gaya tangensial pada roda gigi (Ft) = 660.74 kg b.78 kg jadi : .71 kg .Beban vertikal-1 (V ). 2 .Beban horizontal-1 (H ).

71 2 = 934.38⋅ 197.Beban Gabungan-2 (F ).38 kg A D B C L1 = 475 mm L2 = 475 mm L= 1147.5 mm L3 = 197.38 · 197. sehingga diabaikan. Beban poros .38 kg c. 2) Statika Pembebanan pada poros cacing F 1= 5468.Berat poros sendiri relatif kecil.71 2 + 660.46⋅ 475 − 934.5 950 .5 mm ΣMB = 0 RAV . 1000 – 5468. 1 F2 = H 2 + V2 2 2 F2 = 660.46 kg F2 = 934.H2 = Gaya tangensial pada roda gigi (Ft) = 660.71 kg jadi : .46 · 475 + 934.5 = 0 RAV = 5468.

.mm =0 = 2539.38 kg · 197.05 kg.5+ 5468.46 kg .84 kg Momen yang terjadi adalah : MA MB MC MD =0 = .978 kg (↑) ΣMA = 0 RBV . 950 RBV = 3862.mm = RBV = = F1 + F2 + 2539.934.46· 475 950 RBV = 107220105 + 25975185 .38 kg 6402.RAV = 25975185 − 18454005 . .46 · 475 = 0 RBV = 934.978 kg · 475 mm = 1206489.55 kg.184540.84 kg 6402.978 kg + 3862.5 – 5468. 950 RAV = 2539.86 kg (↑) RAV + 934. 1000 – 934.38· 1147.86 kg 5468.5 mm = .38 · 1147.

F1 = 5468,56 kg

F2 = 934,38 kg

A
RAV = 2539,978 kg L1 = 475 mm

D

B
RBV = 3874,17 kg L2 = 475 mm L=1147,5 mm

C

L3 = 197,5 mm

(↑) 2539,978 kg

(+) (+) (-) (↑) 3862,86 kg 934,38 (↑)

SFD

5468,56 kg (↓)

BMD

MB =

-

184540,05 kg·mm

(-) MA = 0 MC = 0

(+)

MD = 1206489,55 kg.mm

Gambar 3.3 Momen Lentur

Diagram Gaya Geser dan Diagram

3) Torsi pada poros cacing : T = 9,74 x 105
Pd n3

= 9,74 x 105

44,76 300
= 145320,8 kg.mm 4) Tegangan geser ijin bahan (τ a) :

Bahan poros yang diambil adalah SF 60 JIS G 3210, dari Tabel 3.7 (lampiran) diketahui : - Kekuatan Tarik (σb) - Faktor Keamanan Sf1 - Faktor Keamanan Sf2 - Daya motor transmisi (Pin) - Momen lentur maksimum (M) - Torsi pada poros cacing mm - Faktor koreksi karena pembebanan momen lentur tetap dengan tumbukan ringan (Km), dipakai 2 - Faktor koreksi karena pembebanan momen puntir dengan beban sedikit kejutan (Kt), dipakai 1,5 maka : τ a .......................................... = = 70 kg/mm2 =6 =2 = 44,76 kW = 1206489,55 kg.mm = 145320,8 kg

σb sf 1 ⋅ sf 2
a ..........................................=
70 6.2

= 5,83 kg/mm2

5) Diameter poros cacing (ds) : ds =

 5,1   2 2   (Km x M ) + (K t x T )     τ a    

1

3

36 mm ≥ maka diameter poros (ds) yang dipakai = 130 mm 6) Perhitungan defleksi puntiran :  = 584 T×L G × ds4 = 584 145320.3 ⋅ 10 3 ⋅ (130) 4 = 0.8 kg.041º (baik) .5 1206489.44    5.dimana : Km = faktor koreksi untuk momen lentur = 2 Kt = faktor koreksi untuk momen puntir M kg.1   036 3  5822468137 .25    5.83   1 3 ≥  5.8) 2    5.5 ×145320.1    (2 × 1206489.5 8.8⋅ 1147.1    ⋅ 2422804.mm  5.83   1 3 ≥  5.55 = Momen lentur maksimum = Torsi pada poros cacing = = 145320.mm T ds ≥ = 1.81+ 4751580355 .974   5.83   1 3 ≥  5.55 ) 2 + (1.83   1 3 122.1   590  5869983940 .

25º 3.3. V = Gaya tangensial roda gigi (FtRC) = 7363.075 mm .4.dimana batas defleksi putaran = 0.9 mm L2 = 361.Beban vertikal (FV).74 kg 2 = 10414 kg 2) Statika Pembebanan pada roda poros cacing F = 10414 kg C A D B L1 = 512.Beban Gabungan (F). Perencanaan Poros Pada Roda Cacing 1) Analisa beban kerja Pada roda cacing . F = FV 2 + FH 2 F = 7363.74 kg jadi : .075 mm L3 = 361.Beban horizontal (FH).74 kg 2 + 7363.74 kg . H = Gaya tangensial roda gigi (FtRC) = 7363.

075 722.075 RAV = 10414⋅ 361.15 RBV = 5207kg (↑) RAV + RBV = = = F 685.4 kg 10414 kg 5207 kg + 5207kg 10414 kg Momen yang terjadi adalah : MA MB MC MD =0 =0 =0 = 5207 kg · 361.075 mm = 1880117.05 mm ΣMB = 0 RAV · 722.15 RAV = 5207 kg (↑) ΣMA = 0 RBV · 722.525 kg·mm .15 – 10414 · 361.075 722.15 – 10414 · 361.075 RBV = 10414⋅ 361.L= 1235.

9 mm A D B RBV = 5207 kg L2 = 361.F1 = 10414 kg C RAV = 5207 kg L1 = 512.05 mm L3 = 361.075 mm L=1235.075 mm (↑) 5207 kg (+) SFD 10414 kg (↓) (-) (↑) 5207 kg BMD MC = 0 MA = 0 MB = 0 (+) .

Momen lentur maksimum (M) .mm 4) Tegangan geser ijin bahan ( : a) Bahan poros yang diambil adalah SF 60 JIS G 3210.Kekuatan Tarik (σb) .4 Diagram Gaya Geser dan Diagram Momen Lentur 3) Torsi pada poros roda cacing : T = 9.74 x 105 44.Faktor Keamanan Sf2 .MD = 1880117.74 x 105 Pd n = 9.76 kW = 1880117.Faktor koreksi karena pembebanan momen lentur tetap dengan tumbukan ringan (Km). dari Tabel 3.525.7 (lampiran) diketahui : .mm = 2906416 kg mm .76 15 = 2906416 kg.Daya motor transmisi (Pin) . dipakai 2 .Faktor Keamanan Sf1 .mm Gambar 3.Torsi pada poros roda cacing = 70 kg/mm2 =6 =2 = 44.525 kg.

83 kg/mm2 5) Diameter poros roda cacing (ds) : ds =  5..525 = 2906416 kg.mm T = Torsi pada poros gigi II = Momen lentur maksimum 1 3 = = faktor faktor = koreksi koreksi 1880117.Faktor koreksi karena pembebanan momen puntir dengan beban sedikit kejutan (Kt).5 maka : a = σb sf 1 ⋅ sf 2 a = 70 6.1   2 2   (Km x M ) + (K t x T )     τ a     dimana : Km untuk momen lentur = 2 Kt untuk momen puntir = 1.mm .5 M kg. dipakai 1.2 = 5.

5025 +1900632142 1376  1413936763   5.1    (2 × 1880117.83   1 3 ≥  5.5 × 2906416 ) 2    5.83   1 3 162.5025   5.28   5.1    33145689052624. Perhitungan Pasak .4.1    ⋅ 5757229.25º 3.1   1248.17º (baik) dimana batas defleksi putaran = 0.8 mm ≥ maka diameter poros (ds) yang dipakai = 170 mm 6) Perhitungan defleksi puntiran :  = 584 T×L G × ds4 = 584 2906416 ⋅ 722.83   1 3 ≥  5.15 8.525) 2 + (1.ds ≥  5.83   1 3 ≥  5.3 ⋅ 103 ⋅ (170) 4 = 0.

Kekuatan Tarik (σb) – Diameter poros cacing mm – Faktor Keamanan Sf1 – Faktor Keamanan Sf2 Diketahui : – Torsi pada poros cacing mm – Gaya tangensial (Ft) = 484.76 .Faktor keamanan Sfk1 .Kedalaman alur pasak pada poros t1 .Kekuatan Tarik (σb) .0 = 2.Faktor keamanan Sfk2 = 6.0 = 32 × 18 mm = 11 mm = 7 mm = 32 = 145320.8 (lampiran) diperoleh ukuran pasak sebagai berikut : . Pasak Pada Roda Gigi III Direncanakan : – Daya motor transmisi (Pm) kW – Bahan poros SF 60 JIS G 3210 dengan: .b×h .1.Kedalaman alur pasak pada poros t2 .Bahan pasak adalah SF 60 JIS G 3210 dengan: .Tekanan permukaan yang diijinkan (pa) kg/mm2 .66 kg Dari diameter pada poros = 130 mm maka dari Tabel 3.4.3.8 kg =6 =2 = 70 kg/mm2 = 130 = 70 kg/mm2 = 44.

.............1).. Tegangan geser yang diijinkan τka (kg/mm2) τka = ..... 8 ............ hal.... maka pasak aman 3).......66 32 ⋅ 90 τk = 0..... Tekanan permukaan p (kg/mm2) adalah : 50 Ibid.168 kg/mm2 2)........83 kg/mm2 jadi τk < τka.......Sf 2 ) τka = 70kg / mm 2 ( 6 ... Tegangan geser τk (kg/mm2) yang ditimbulkan adalah τk = .........2 ) τka = 5................. 25 51 Ibid....... hal...........50 Ft b...........l dimana : l` b jadi τk = = Panjang pasak (antara 90 – 360 mm) = diambil = lebar pasak = 105 mm = 32 mm 484...........51 σb ( Sf1 ...

.66 90 ⋅ 11 p = 0...... maka pasak aman 3.74 kg Dari diameter pada poros = 130 mm maka dari Tabel 3....2..Kedalaman alur pasak pada poros t1 52 Ibid...p= ........b×h .....8 kg = 32 × 18 mm = 11 mm ...Bahan pasak adalah SF 60 JIS G 3210 dengan: ...49 kg/mm2 jadi p < pa ........ 24 = 44.... hal.....52 Ft lx( t1 ataut2 ) p= 484.8 (lampiran) diperoleh ukuran pasak sebagai berikut : ....Kekuatan Tarik (σb) .....76 = 70 kg/mm2 = 70 kg/mm2 = =6 =2 130 = 145320. Pasak Pada Poros Cacing Direncanakan : – Daya motor transmisi (Pm) kW – Bahan poros SF 60 JIS G 3210 dengan: .4......Kekuatan Tarik (σb) – Diameter poros cacing mm – Faktor Keamanan Sf1 – Faktor Keamanan Sf2 Diketahui : – Torsi pada poros cacing mm – Gaya tangensial (FtRC) = 7363...

19 kg/mm2 2).Sf 2 ) τka = 70kg / mm 2 ( 6 .0 32 1).2 ) τka = 5. Tegangan geser yang diijinkan τka (kg/mm2) τka = σb ( Sf1 .74 32 ⋅ 105 τk = 2. Tekanan permukaan p (kg/mm2) adalah : .83 kg/mm2 jadi τk < τka.Tekanan permukaan yang diijinkan (pa) kg/mm2 .Faktor keamanan Sfk2 = 7 mm = = 6. maka pasak aman 3).Faktor keamanan Sfk1 . Tegangan geser τk (kg/mm2) yang ditimbulkan adalah τk = FtRC b.l dimana : l` b jadi τk = = Panjang pasak (antara 90 – 360 mm) = diambil = lebar pasak = 105 mm = 32 mm 7363.Kedalaman alur pasak pada poros t2 .0 = 2..

.......76 ..3...p= ..74 105⋅ 11 p = 6...4.... Pasak Pada Poros Roda Cacing Direncanakan : – Daya motor transmisi (Pm) kW – Bahan poros SF 60 JIS G 3210 dengan: .............. FtRC lx( t1ataut2 ) p= 7363.Kekuatan Tarik (σb) ..........37 kg/mm2 jadi p < pa .....Bahan pasak adalah SF 60 JIS G 3210 dengan: = 44.Kekuatan Tarik (σb) – Diameter poros cacing mm = 70 kg/mm2 = 70 kg/mm2 = 170 .... maka pasak aman 3...........

74 32 ⋅ 287.Tekanan permukaan yang diijinkan (pa) kg/mm2 .74 kg Dari diameter pada poros = 160 mm maka dari Tabel 3.8 (lampiran) diperoleh ukuran pasak sebagai berikut : .Kedalaman alur pasak pada poros t2 .Kedalaman alur pasak pada poros t1 .Faktor keamanan Sfk2 = 6.45 mm = 32 mm τk = 0.Faktor keamanan Sfk1 .8 kg/mm2 .45 = Panjang pasak (antara 90 – 360 mm) = diambil = lebar pasak = 287.0 = 2. Tegangan geser τk (kg/mm2) yang ditimbulkan adalah τk = FtRC b.b×h .l dimana : l b jadi τk = 7363.– Faktor Keamanan Sf1 – Faktor Keamanan Sf2 Diketahui : – Torsi pada poros roda cacing mm – Gaya tangensial (FtRC) =6 =2 = 2906416 kg = 7363.0 = 32 × 18 mm = 11 mm = 7 mm = 32 1).

maka pasak aman 3).2). Tegangan geser yang diijinkan τka (kg/mm2) τka = σb ( Sf1 .Sf 2 ) τka = 70kg / mm 2 ( 6 .83 kg/mm2 jadi τk < τka.45 ⋅ 18 p = 1.2 ) τka = 5. maka pasak aman .74 287.4 kg/mm2 jadi p < pa . Tekanan permukaan p (kg/mm2) adalah : p = FtRC lx( t1ataut2 ) p = 7363.

. hal... 135 = 30313 = 65 mm = 140 = 35.. Bantalan Pada Poros Gigi I Diketahui perhitungan gaya (F) pada poros gigi I adalah = 685......24 kg 2).....53 Fa = 0.24 × (120/2) /526..6 × beban keseluruhan.Diameter dalam (d) .5.Kapasitas nominal dinamis spesifik (C) . hal.Diameter luar (D) mm ...9 (lampiran) bantalan yang digunakan adalah : ..4 kg 1). Beban aksial yang terjadi (Fa) Fa = 0....3.... Perhitungan Bantalan 3...Jari-jari fillet (r) ..............4 kg Fa = 411.....5 = 12500 kg = 1.82 kg Karena poros pada bantalan yang digunakan adalah diameter 65 mm..5 mm = 3.1-1...3 ..54 Fr = Fa × (dg1/ 2) / l Fr = 411..Nomor bantalan . maka dari Tabel 3...5....... 135 54 Ibid...1...Faktor beban diambil (ƒw) 53 Ibid.Lebar bantalan (B) .6 × 685. Beban radial yang terjadi (Fr) Fr = Fa × jari-jari efektif / l.95 Fr = 46..........

...........78 V ⋅ Fr 1 ⋅ 46..... 56 Keterangan : 55 Ibid.....9 3)............Faktor beban radial bekerja pada cincin dalam (V) =1 Fa 411..............78 > 0...... hal... atau 8....4 · 1 · 46......24 = = 8.35 ......... Gaya radial yang terjadi pada bantalan (P) yaitu : Pr = X · V · Fr + Y · Fa............... 136 56 Ibid. 136 . Faktor kecepatan (ƒn) ƒn =  33............4 .55 Pr = 0........7 · 411.24 Pr = 717.........87 kg 4)..........3     n1  3 / 10 .Faktor X = 0..Faktor Y = 1....35 Fa >e V ⋅ Fr Digunakan : ....................Konstanta (e) = 0........... hal..82 Maka: ....82 + 1......

......... 136 58 Ibid....59 = 500 · (5.........3  1500   3 / 10 ................. jam kerja disyaratkan minimal 2000 jam Lh = 500 · ƒh3.... Faktor umur bantalan (fh) fh = fn · C/Pr... 136 59 Ibid.. hal........................ 136 ...............n1 = Putaran pada poros cacing : 1500 rpm ƒn =  33..... Umur nominal bantalan Untuk bekerja dan pemakaian jarang......32 5).......... hal.........57)3...........58 Dimana : fn = faktor kecepatan C = kapasitas dinamik spesifik (kg) P = beban ekuivalen dinamis (kg) fh = fn · C/Pr fh = 0..87 fh = 5....................... 57 ƒn = 0..32 × 12500 / 717................57 6)....58 57 Ibid.......................33 = 500 · 304........................... hal............33.........

....24 × (240/2) / 260 Fr = 189..Baik 3.....Nomor bantalan .2..6 × 685....Diameter dalam (d) ..5.= 152290 jam Jadi : 152290 jam > 2000 jam..Diameter luar (D) mm = 30312 = 60 mm = 130 . Bantalan Pada Poros Gigi II Diketahui perhitungan gaya (F) pada poros gigi II adalah = 685.....8 kg Karena poros pada bantalan yang digunakan adalah diameter 60 mm. maka dari Tabel 3....9 (lampiran) bantalan yang digunakan adalah : ...24 kg 2).... Beban radial yang terjadi (Fr) Fr = Fa × jari-jari efektif / l Fr = Fa × (dg2/ 2) / l Fr = 411..4 kg 1)... Beban aksial yang terjadi (Fa) Fa = 0.......4 kg Fa = 411....6 × beban keseluruhan Fa = 0.

4 · 1 · 189.4 ..3 = 0.5 = 10800 kg = 1.Jari-jari fillet (r) .7 · 411.Lebar bantalan (B) .8 + 1.35 Fa >e V ⋅ Fr Digunakan : .9 3).24 Pr = 775.17 V ⋅ Fr 1 ⋅189.Faktor Y = 1.Faktor beban diambil (ƒw) .1-1. Gaya radial yang terjadi pada bantalan (P) yaitu : Pr = X · V · Fr + Y · Fa Pr = 0.Faktor X = 0.35 .8 Maka: .24 = = 2. Faktor kecepatan (ƒn) . atau 2.Faktor beban radial bekerja pada cincin dalam (V) =1 Fa 411.17 > 0.Kapasitas nominal dinamis spesifik (C) .028 kg 4).Konstanta (e) = 33 mm = 3.

3   750    3 / 10 ƒn = 0.33 = 500 · 279. jam kerja disyaratkan minimal 2000 jam Lh = 500 · ƒh3.3     n2  3 / 10 Keterangan : n2 = Putaran pada poros cacing : 750 rpm ƒn =  33.ƒn =  33.028 = 5.43)3.82 . Umur nominal bantalan Untuk bekerja dan pemakaian jarang. Faktor umur bantalan (fh) fh = fn · C/Pr Dimana : fn = faktor kecepatan C = kapasitas dinamik spesifik (kg) P fh fh fh = beban ekuivalen dinamis (kg) = fn · C/Pr = 0.33 = 500 · (5.43 6).39 5).39 × 10800 / 775.

84 kg Fa = 3841...... Beban aksial yang terjadi (Fa) Fa = 0......Baik 3........3...5.84 kg 1).....6 × beban keseluruhan Fa = 0......6 × 6402.... Beban radial yang terjadi (Fr) Fr = Fa × jari-jari efektif / l .. Bantalan Pada Poros Cacing Diketahui perhitungan gaya (F) pada poros cacing adalah = 6402.....7 kg 2)..= 139910 jam Jadi : 139910 jam > 2000 jam...

Diameter luar (D) mm .35 Fa >e V ⋅ Fr .Jari-jari fillet (r) .Nomor bantalan . atau 11.Lebar bantalan (B) .1-1.5 Fr = 348.Fr = Fa × (Dc1/ 2) / l Fr = 3841.7 × (208/2) / 1147.3 = 0.35 = 230 = 30226 = 130 .18 Maka: .Kapasitas nominal dinamis spesifik (C) .Faktor beban diambil (ƒw) .03 V ⋅ Fr 1 ⋅ 348.03 > 0.18 kg Karena poros pada bantalan yang digunakan adalah diameter 130 mm.10 (lampiran) bantalan yang digunakan adalah : .7 = = 11.Faktor karena radial bekerja pada cincin dalam (V) = 1 Fa 3841.Konstanta (e) = 43 mm =4 = 24500 kg = 1. maka dari Tabel 3.Diameter dalam (d) mm .

16 kg 4).Faktor X = 0. Gaya radial yang terjadi pada bantalan (P) yaitu : Pr = X · V · Fr + Y · Fa Pr = 0.Faktor Y = 1.3   300    3 / 10 ƒn = 0.7 Pr = 6670.4 .18 + 1.3     n2  3 / 10 Keterangan : n2 = Putaran pada poros cacing : 300 rpm ƒn =  33. Faktor umur bantalan (fh) fh = fn · C/Pr .Digunakan : .517 5).4 · 1 · 348.7 · 3841.9 3). Faktor kecepatan (ƒn) ƒn =  33.

...5 = 72712... jam kerja disyaratkan minimal 2000 jam Lh = 500 · ƒh3.. Umur nominal bantalan Untuk bekerja dan pemakaian jarang.......3......5...9)3.Baik 3.Dimana : fn = faktor kecepatan C = kapasitas dinamik spesifik (kg) P fh fh fh = beban ekuivalen dinamis (kg) = fn · C/Pr = 0.7 jam Jadi : 72712....16 = 1.9 6).33 = 500 · (1......7 jam > 2000 jam.517 × 24500 / 6670.......33 = 500 · 8.... Bantalan Pada Roda Cacing ....

35 .3 = 0.6 × 10414 kg Fa = 6248. Beban radial yang terjadi (Fr) Fr = Fa × jari-jari efektif / l Fr = Fa × (Dc1/ 2) / l Fr = 6248.Lebar bantalan (B) .5 kg Karena poros pada bantalan yang digunakan adalah diameter 170 mm.Jari-jari fillet (r) . maka dari Tabel 3.4 kg 2).1-1.Nomor bantalan .Diketahui perhitungan gaya (F) pada poros roda cacing adalah = 10414 kg 1). Beban aksial yang terjadi (Fa) Fa = 0.Konstanta (e) = 30234 = 170 mm = 310 mm = 53 mm =4 = 40500 kg = 1.Diameter dalam (d) .10 (lampiran) bantalan yang digunakan adalah : .75 Fr = 538.6 × beban keseluruhan Fa = 0.Diameter luar (D) .Kapasitas nominal dinamis spesifik (C) .Faktor karena radial bekerja pada cincin dalam (V) = 1 .Faktor beban diambil (ƒw) .4 × (208/2) / 1205.

4 · 1 · 538.4 .Fa 6248. Faktor kecepatan (ƒn) ƒn =  33.5 + 1.4 Pr = 10837.6 > 0.9 3).Faktor Y = 1.4 = = 11. Gaya radial yang terjadi pada bantalan (P) yaitu : Pr = X · V · Fr + Y · Fa Pr = 0.6 V ⋅ Fr 1 ⋅ 538.35 Fa >e V ⋅ Fr Digunakan : .5 Maka: .3     n2  3 / 10 Keterangan : n2 = Putaran pada poros cacing : 15 rpm .Faktor X = 0.7 · 6248. atau 11.68 kg 4).

Faktor umur bantalan (fh) fh = fn · C/Pr Dimana : fn = faktor kecepatan C = kapasitas dinamik spesifik (kg) P fh fh fh = beban ekuivalen dinamis (kg) = fn · C/Pr = 1.27 5). jam kerja disyaratkan minimal 2000 jam Lh = 500 · ƒh3. Umur nominal bantalan Untuk bekerja dan pemakaian jarang.74)3.68 = 4.ƒn =  33.33 = 500 · (4.3   15    3 / 10 ƒn = 1.74 6).33 = 500 · 178 = 89000 jam Jadi : .27 × 40500 / 10837.

Pengertian Perawatan Perawatan adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk menjaga atau memelihara fasilitas peralatan dan untuk menjaga kondisi kerja mesin-mesin yang dilakukan secara kontinyu sesuai petunjuk yang ada... terutama mengenai cara kerja dan sifatnya.1... sehingga proses produksi dapat berjalan dengan lancer dan memuaskan sesuai dengan rencana...1 .....Baik BAB IV PERAWATAN DAN PELUMASAN 4...... Ada dua istilah atau pengertian dalam perawatan yaitu : 1... Dalam perawatan transmisi elevator misalnya. Perawatan atau perbaikan yang dilakukan membutuhkan pemahaman dari komponen-komponen yang dirawat..... hal ini dimaksudkan agar mesin-mesin dalam kondisi siap pakai dan dapat digunakan sesuai dengan umur pemakaianya.. Adalah pemeliharaan berkala yang dilakukan dengan tujuan utama untuk menghindari terjadinya kerusakan dan .......... diperlukan penjadwalan perawatan yang terencana dengan baik sehingga operator dapat bekerja dengan baik dan dengan demikian diharapkan dapat berdaya guna semaksimal mungkin.1.. Preventive Maintenance... Perawatan Mesin 4...89000 jam > 2000 jam....

2. Cleaning Adalah membersihkan bagian-bagian luar transmisi dan mengeluarkan kotoran-kotoran yang ada. sehingga dapat memperlancar aktivitas. Pemeliharaan dan perbaikan transmisi roga gigi cacing meliputi hal-hal sebagai berikut : a. b. bulanan dan tahunan. dengan demikian kerusakan yang akan terjadi dapat diantisipasi sejak dini.menjaga kondisi mesin agar tetap dalam kondisi baik.1. Perawatan Transmisi Roda Gigi Cacing Setiap mesin maupun peralatan yang bekerja mutlak adanya perawatan.2.Oiling . Hal ini dilakukan untuk menjaga kelangsungan dari mesin itu sendiri maupun terhadap aktivitas pemakaian. Kegiatan ini sebagai konsekuensi dari kegiatan preventive maintenance yang kurang berhasil selain karena faktor umur mesin atau komponen mesin yang bersangkutan. Perawatan ini dilakukan secara kontinyu yaitu harian. Memperpanjang umur Memelihara kontinyunitas operasi dari transmisi Menghemat biaya perbaikan Mengurangi terjadinya kerusakan 4. Pekerjaan ini dilakukan bersamaan dengan oiling. Adalah perawatan yang dilakukan setelah terjadi kerusakan pada peralatan atau mesin. Beberapa hal yang menjadi tujuan perawatan antara lain : – – – – – Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. mingguan. Break Down Maintenance.

4. bantalan dan komponen-komponen yang lain.1.Yaitu jenis pekerjaan pelumasan.Pelumasan a. Dalam scouring elemem-elemen mesin dapat dibuka dan dikeluarkan untuk dapat dibersihkan. Cara pelumasan ada . Penelitian ringan juga dilakukan dalam scouring ini seperti. Karena bahan pelumas sangat menentukan umur dari peralatan atau mesin tersebut.2. keadaan poros. Transmisi roda gigi cacing ini menggunakan system pelumasan minyak dengan cara dicelup seperempat atau sebagian roda gigi cacing terjadi panas yang tinggi. Pemeriksaan yang direncanakan harus dilakukan untuk perawatan transmisi dengan didasarkan pada frekuensi penggunaannya.Pelumasan pada bantalan Pelumasan bantalan dimaksudkan untuk mengurangi gesekan dan keausan antara elemen gelinding dengan cara membuat lapisan film antara kedua permukaan benda yang bergesekan. Penggunaan bahan pelumas yang sesuai untuk masing-masing peralatan adalah sangat penting. d. mencegah korosi serta mencegah masuknya debu. Scouring Yaitu cleaning seperti pada point a. Dalam hal ini bila menemukan komponen yang rusak dann perlu diganti maka harus diganti. Membawa keluar panas yang terjadi. Pelumasan menggunakan kekentalan oli SAE 90 GL 2. tetapi lebih menyeluruh dan teliti. sedangkan bahannya berupa oil dan grease.Overhoul Yaitu pembongkaran secara menyeluruh dari suatu mesin atau peralatan karena umur atau waktu bekerja dari mesin tersebut. c.

dua cara yaitu pelumasan gemuk (grease) dan pelumasan minyak (oil) Untuk mencegah terjadinya kebocoran pelumas dan masuknya debu atau benda asing kedalam bantalan maka ndigunakan sekat pelumas. Besarya beban permukaan roda gigi. sehingga saat gigi cacing berputar minyak tersebut dapat terangkat oleh gigi cacing dan membasahi serta melumasi tiap bagian roda gigi cacing dan elemen pendukungnya. cincin logam dan cincin pegas. untuk alas an tersebut maka oli roda gigi harus memenuhi syaratsyarat sebagai berikut. Kekentalannya sesuai . dalam perencanaan ini sekat pelumas yang digunakan adalah jenis seal minyak. Jumlah minyak pelumas yang ada di penampang akan berkurang atau kotor. oleh karena itupada jangka waktu tertentu minyak pelumas harus ditambah. Keuntungan penggunaan seal minyak ini adalah dapat digunakan untuk bantalan dengan kecepatan keliling tinggi. b. tekan dari dalam tinggi serta tahan terhadap lingkungan berdebu. permukaan yang kasar dan kecepatan yang meluncur menghasilkan gesekan yang besar dan pertambahan panas yang ditimbulkan. Seal minyak merupakan satu kesatuan yang terdiri atas karet sintetis dengan bentuk penampang tertentu.Pelumasan pada roda gigi Pelumasan pada transmisi roda gigi yang digunakan adalah system pelumasan celup yaitu dengan cara memasukan 1/2 atau 1/3 bagian dari penampang gigi cacing kedalam pelumas. 1. Panas yang terjadi karena adanya gesekan lambat laun akan mempeagaruhi minyak pelumas.

Dalam pemilihan oli roda gigi harus diperlihatkan tingkat kekentalannya yaitu dengan cara melihat kondisi kerja yang dialami roda gigi serta temperaturnya. tekanan dan beban goncangan yang terjadi besar. untuk itu oli roda gigi harusmampu memikul atau meredam getaran yang dialami roda gigi tersebut. Untuk mengatasi hal itu maka diperlukan oli roda gigi yang baik dan stabil terhadap panas dan oksidasi. 2. 2 kode ‘GL’ untuk klasifikasi kualitas adalah kependekan daei Gear Lubrication yang mempunyai arti oli untuk roda gigi. 3. Tahan terhadap panas dan oksidasi Saat oli roda gigi memburuk akibat panas. Untuk kondisi berat separti pada roda gigi cacing ini kekentalan yang digunakan adalah SAE 90 GL. bahkan akibat oksidasi dapat menimbulkan kadar asam dalam oli yang dapat menyebabkan karat yang berpengaruh pada keawetan komponen. adapun angka ‘2’ adalah penunjukan dari kualitas oli yang dikhususkan untuk roda gigi cacing. . Meredam getaran Saat berhubungan antara satu dengan yang lainnya. kotoran dan oksidasi kemampuan pelumasan akan menurun.

5 = 180 mm = 420 mm = 4 mm = 60 HP = 44. Dari uraian perhitungan dan pembahasan dapat dismpulkan sebagai berikut: 5.1.1. Transmisi utamanya adalah roda gigi cacing sehingga tidak diragukan lagi kekuatannya untuk menopang beban yang berat serta mereduksi putararan yang besar. poros.Pada roda gigi III (zg3) = 30 mm = 60 mm = 150 mm = 120 mm = 240 mm = 600 mm = 1500 rpm = 750 rpm =1:2 = 1 : 2. dan perhitungan melalui rumus-rumus dengan teliti. roda gigi dan poros cacing.Jarak sumbu gigi I dan II (a) .Pada roda gigi II (dg2) . selain sudah dilakukan perencanaan.Jarak sumbu gigi II dan III (a) .Pada roda gigi I (zg1) .Diameter jarak bagi roda gigi (dg) . .Pada roda gigi II (zg2) .Jumlah gigi (zg) . Roda Gigi Lurus .Daya motor (Pm) kW .Pada roda gigi I (dg1) . serta bantalan rol kerucut.76 .Perbandingan reduksi gigi I dan II (i) .Putaran ditransmisikan antara gigi I dan II (n1) . perancangan. pasak.Putaran ditransmisikan antara gigi II dan III (n2) .Pada roda gigi III (dg3) .Perbandingan reduksi gigi II dan III (i) . Apabila terjadi pembebanan berlebih akan terjadi slip pada transmisinya.BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Alat pendukung yang digunakan dalam proses perencanaan transmisi gear box meliputi roda gigi lurus.Modul (m) .

1.Pada roda gigi II (Dkd2) .Putaran poros yang ditransmisikan(n2) .Diameter lingkaran jarak bagi (DC2) .2.Sudut kisar (γ) .Mencari diameter dalam (Ddg) .Diameter inti cacing (DC1) .Gaya tangensial pada roda gigi II dan III (Ft) 5.Mencari diameter luar roda gigi (dkg).8 mm = 118 mm = 282 mm = 300 rpm =1 = 20 = 10.Jarak sumbu poros .Perbandingan Reduksi (i) .66 kg = 128 mm = 248 mm = 608 mm = 4 mm = 4.Pada roda gigi II (dkg2) .Bahan untuk roda gigi cacing .Pada roda gigi I (Dkd1) .Proporsi bagian cacing adalah: .Jumlah gigi roda cacing (z2) .8 mm = 79.Bahan untuk cacing .Kelonggaran puncak (c) .Diameter luar cacing (DC) = 208 mm = 37 mm = 42.64 mm .8 mm = 5.72 mm = 592.Pada roda gigi I (dkg1) .Tinggi kaki gigi cacing (hf) .Gaya tangensial pada roda gigi I dan II (Ft) .Tinggi kepala gigi cacing (hk) .66 kg = 484. .3º = 500 mm = SF60 = FC20 = 1 : 20 = 37 = 110.Pada roda gigi II (Dkd3) .Jumlah ulir cacing (z1) . Roda Gigi Cacing dan Poros Cacing .64 mm = 8..Mencari tinggi gigi (hg) .72 mm = 230.Tinggi gigi (H) .Tinggi kepala gigi pada roda gigi (hkg) .Modul normal (mn) .Pada roda gigi III (dkg2) .Tinggi kaki gigi (hfg) .72 mm = 484.

- Jarak bagi cacing ( )

= 117,97 mm

ta
- Proporsi roda gigi cacing untuk cacing adalah : - Diameter jarak bagi roda cacing (DRC2) = 792 mm - Diameter inti roda cacing (DRC1) - Diameter luar roda cacing (DRC) - Lebar sisi gigi roda gigi cacing (b) - Lebar sisi gigi efektif (be) - Jari-jari lengkungan puncak roda cacing (rt) - Jarak antar sumbu poros (a) - Beban lentur yang diijinkan (Fab) - Beban permukaan gigi yang diijinkan (Fac) 5.1.3. Poros 1. Beban Poros Gigi I - Bahan - Gaya yang terjadi (F) - Gaya pada titik A (RAv) - Gaya pada titik B (RBv) - Gaya pada titik C - Gaya pada titik D - Momen yang terjadi (M) - Momen dititik A (MA) - Momen dititik B (MB) - Momen dititik C (MC) - Momen dititik D (MD) - Torsi yang terjadi (T) - Tegangan geser yang diijinkan (τa) - Diameter minimal poros (ds) - Defleksi pada poros (θds) 2. Beban Poros Gigi II = 0 kg.mm = 0 kg.mm = 0 kg. mm = 49554,42 kg.mm = 29064,16 kg mm = 5,83 kg/mm2 = 65 mm = 0,033º = 342,7 kg = 342,7 kg = 0 kg = 684,4 kg = SF 60 JIS G 3210 = 701,8 mm = 904,7 mm = 451 mm = 141 mm = 67 mm = 500 mm = 24159,93 kg = 11865,15 kg - Diameter tenggorok roda cacing (DRC3) = 877,6 mm

- Bahan - Gaya yang terjadi (F) - Gaya pada titik A (RAv) - Gaya pada titik B (RBv) - Gaya pada titik C - Momen yang terjadi (M) - Momen dititik A (MA) - Momen dititik B (MB) - Momen dititik C (MC) - Torsi yang terjadi (T) - Tegangan geser yang diijinkan (τa) - Diameter minimal poros (ds) - Defleksi pada poros (θds) 3. Beban Poros Cacing - Bahan - Gaya yang terjadi (F) - Gaya pada titik A (RAv) - Gaya pada titik B (RBv) - Gaya pada titik C - Gaya pada titik D - Momen yang terjadi (M) - Momen dititik A (MA) - Momen dititik B (MB) kg.mm - Momen dititik C (MC) - Momen dititik D (MD) - Torsi yang terjadi (T) - Tegangan geser yang diijinkan (τa) - Diameter minimal poros (ds) - Defleksi pada poros (θds)

= SF 60 JIS G 3210 = 342,7 kg = 342,7 kg = 685,4 kg = 0 kg.mm = 0 kg.mm = 44551 kg. mm = 58128,32 kg mm = 5,83 kg/mm2 = 60 mm = 0,082º

= SF 60 JIS G 3210 = 2539,978 kg

= 3862,86 kg = 934,38 kg = 5468,46 kg

= 0 kg.mm = 184540,05

= 0 kg. mm = 1206489,55 kg.mm = 145320,8 kg mm = 5,83 kg/mm2 = 130 mm = 0,041º

4. Beban Roda Gigi Cacing - Bahan - Gaya yang terjadi (F) - Gaya pada titik A (RAv) - Gaya pada titik B (RBv) - Gaya pada titik C - Gaya pada titik D - Momen yang terjadi (M) - Momen dititik A (MA) - Momen dititik B (MB) - Momen dititik C (MC) - Momen dititik D (MD) - Torsi yang terjadi (T) - Tegangan geser yang diijinkan (τa) - Diameter minimal poros (ds) - Defleksi pada poros (θds) 5.1.6. Pasak 1. Pada Roda Gigi III - Bahan - Torsi yang terjadi (T) - Gaya tangensial (Ft) - Tegangan geser (τk) - Tegangan geser yang diijinkan (τka) - Tekanan permukaan (p) = SF 60 JIS G 3210 = 145320,8 mm = 484,66 kg = 0,168 kg/mm2 = 5,83 kg/mm2 = 0,49 kg/mm2 = 0 kg.mm = 0 kg.mm = 0 kg. mm = 1880117,525 kg.mm = 2906416 kg mm = 5,83 kg/mm2 = 170 mm = 0,17º = 5207 kg = 5207 kg = 0 kg = 10414 kg = SF 60 JIS G 3210

2. Pada Poros Cacing - Bahan - Torsi yang terjadi (T) - Gaya tangensial (Ft) = SF 60 JIS G 3210 = 145320,8 mm = 7363,74 kg

Gaya tangensial (Ft) .028 kg .24 kg = 46. Bantalan 1. Pada Poros Roda Cacing .Tegangan geser yang diijinkan (τka) .Tegangan geser (τk) .87 kg = 0. Pada Poros Gigi I .Beban radial yang terjadi (Fr) .74 kg = 0.Jenis bantalan .Faktor kecepatan (fn) .19 kg/mm2 = 5.37 kg/mm2 = SF 60 JIS G 3210 = 2906416 mm = 7363.4 kg/mm2 = Bantalan rol kerucut 30313 = 411.83 kg/mm2 = 6.Tegangan geser yang diijinkan (τka) .82 kg = 717.Gaya radial yang terjadi (Pr) = Bantalan rol kerucut 30312 = 286.Beban aksial yang terjadi (Fa) .8 kg = 775.57 = 152290jam 2.Tekanan permukaan (p) 5..32 = 5.Beban radial yang terjadi (Fr) .77 kg = 189.83 kg/mm2 = 1.Faktor unur bantalan (fh) .Jenis bantalan .Beban aksial yang terjadi (Fa) .Bahan .Tekanan permukaan (p) 3.Gaya radial yang terjadi (Pr) . Pada Roda Gigi II .Torsi yang terjadi (T) .1.8 kg/mm2 = 5.Umur nominal bantalan (Lh) = 2.7.Tegangan geser (τk) .

5 kg = 10837.Faktor kecepatan (fn) .Faktor kecepatan (fn) .9 = 72712.16 kg = 0.Beban radial yang terjadi (Fr) . 3.Faktor unur bantalan (fh) . 2.Beban aksial yang terjadi (Fa) .43 = 139910 jam = Bantalan rol kerucut 30226 = 3841. Pada Roda Gigi Cacing .Gaya radial yang terjadi (Pr) .4 kg = 538. Penggunaan alat hendaknya sesuai dengan ukuran dan daya yang disarankan sehingga akan dapat bekerja dengan baik dan tidak mudah rusak.2 Saran 1. Penggunaan literatur buku sebaiknya digunakan yang terbaru. Pada Poros Cacing .Umur nominal bantalan (Lh) 4.Faktor unur bantalan (fh) .Umur nominal bantalan (Lh) = 0.27 = 4..Umur nominal bantalan (Lh) 3.517 = 1.Jenis bantalan .39 = 5. .Beban radial yang terjadi (Fr) .Faktor kecepatan (fn) .Beban aksial yang terjadi (Fa) .74 = 89000 jam 5.18 kg = 6670.68 kg = 1.Jenis bantalan .Faktor unur bantalan (fh) . Memungkinkan perencanaan alat ini dapat lebih dikembangkan dan disempurnakan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.Gaya radial yang terjadi (Pr) .7 kg = 348.7 jam = Bantalan rol kerucut 30234 = 6248.

DAFTAR PUSTAKA Sularso dan Suga. Pradnya Paramita . Elemen Mesin. N. 2004. Jakarta Niemen G. 2000. G dan Sugiarto Hartanto. PT. K. Takeshi Sato. Menggambar Mesin Menurut Standart ISO. 1983. Pradnya Paramita.. Dasar Perencanaan Dan Pemilihan Elemen Mesin. PT. Jakarta. Jilid II. . PT. Jakarta. Erlangga.

.

LAMPIRAN Tabel LAMPIRAN I Tabel 1 Klasifikasi Roda Gigi .

(a) Roda gigi Lurus (b) Roda gigi Miring ganda (c) Keterangan (Klasifikasi atas dasar bentuk alur gigi) Roda gigi dengan poros sejajar Roda gigi Luar Roda gigi dalam dan pinyon (d) Roda gigi dan pinyon (e) Roda gigi kerucut lurus.5 Seri ke-3 3. (f) Arah putaran berlawanan Arah putaran sama Gerakan lurus dan berputar Roda gigi dengan poros berpotongan Roda gigi kerucut spiral. 2004. (g) Roda gigi kerucut ZEROL Roda gigi kerucut miring Roda gigi kerucut miring ganda Roda gigi permukaan dengan poros berpotongan (h) Roda gigi miring silang.Letak poros Roda gigi Roda gigi Miring. (l) Roda gigi permukaan silang Sularso. (j) Roda gigi cacing selubung ganda (globoid).1 Seri ke-2 0.75 .edisi ke 12. LAMPIRAN II Tabel 2 Harga modul standar Seri ke-1 0. (k) (Roda gigi dengan poros berpotongan berbentuk istinewa) Kontak titik Gerakan lurus dan berputar (Klasifikasi atas dasar bentuk jalur gigi) Roda gigi dengan poros silang Roda gigi cacing samping Roda gigi hiperboloid Roda gigi hipoid. Jakarta. Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin.Suga K.15 Seri ke-3 Seri ke-1 Seri ke-2 3. (i) Batang gigi miring silang Roda gigi cacing silindris.

75 0.75 3 3.9 1 1.5 7 8 9 10 11 12 14 16 18 20 22 25 28 32 36 40 45 50 Sularso.5 6 6.7 0. 2004.Suga K.6 0.25 0.4 0.75 2 2.5 2.0.25 2.5 5 5.45 0.65 0.25 4 4.2 0. LAMPIRAN III Tabel 3 Tegangan lentur yang diijinkan pada bahan roda gigi Bahan roda gigi cacing Besi cor Pembebanan satu arah 8.35 0.55 0. Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin.8 0.5 Pembebanan dua arah 5.3 0.edisi ke12 Jakarta.5 0.5 1.5 .25 1.

2004. LAMPIRAN IV Tabel 4 Sudut Tekanan Normal .Suga K. Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin.Perunggu untuk roda gigi Perunggu antimon Damar sintetis 17 10.5 3 11 7 2 Sularso.edisi ke12 Jakarta.

Sudut tekanan normal 14.056 0. Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin.035 0. LAMPIRAN V Tabel 5 Faktor Ketahanan Terhadap Keausan KC Cacing Baja (Kekerasan HB 250) Baja celup dingin Baja celup dingin Baja celup dingin Baja celup dingin Roda gigi cacing Perunggu fosfor Besi cor Perunggu fosfor Perunggu fosfor yang dicil Perunggu antimon Kc (kg/mm2) 0.Suga K. 2004.175 Sularso.edisi ke12 Jakarta.150 0.042 0.085 .5º 20º 25º 30º Faktor bentuk 0.085 0.125 0.100 0.

2004.25º Ky > 25º Ky 1 1.Suga K.106 Sularso.25 1.edisi ke12 Jakarta.Besi cor Damer sintetis Perunggu fosfor 0.50 . LAMPIRAN VI Tabel 6 Sudut Kisar Ky Sudut kisar Ky < 10º Ky = 10º .087 0. Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin.

edisi ke12 Jakarta. Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin.Suga K.edisi ke12 Jakarta. LAMPIRAN VII Tabel 7 Baja Karbon Cor ( JIS G 5101) Lambang Batas mulur (kg/mm2) Kekuatan tarik (kg/mm2) 37 42 46 49 Keterangan SC 37 SC 42 SC 46 SC 49 18 21 23 25 Untuk bagian motor Untukkonstruksi umum Sularso. . 2004.Suga K. Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin. 2004.Sularso.

.

2 0.4 6.125.250.28.160.32.0 3.4 5.20.320.56.70.63.50.5 3.25 6-20 6-36 8-45 10-56 14-70 1.8.5 8.40- Lebih dari 50-55 Lebih dari 50-58 Lebih dari 58-65 Lebih dari 65-75 Lebih dari 75-85 Lebih dari 80-90 Lebih dari 85-95 Lebih dari 95-110 Lebih dari 110-135 (24×16) 23×14 28×16 32×18 24 25 28 32 16 14 16 18 16.9 1.0.8 2.0 4.40 Lebih dari 30-38 Lebih dari 38-44 Lebih dari 44-50 (15×10) 16×10 18×11 20×12 22×14 15 16 18 20 22 10 10 11 12 14 10.140.2 1. 2004.180.25.4 0.200.0 8.8 2.40 16-80 18-90 22-110 28-140 36-160 4.4` 0. Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin.0 4.4 2.25 Lebih dari 20-25 Lebih dari 25-30 0.0 5.220.5 5.5 0. Jakarta.9 5.0 5.3 2.5 9.69- 5.36.4 2.280.0 9.60 7.4 4.4 2.3 3.12.9 4.80 70-280 70-280 80-320 90-360 8.0 1.250.14.7 2.160.0 5.3 3.2 0.080.5 3.0 6.0 3.4 3.4 6.3 4.0 7.2 1.80.edisi ke 12.2 0.400. LAMPIRAN IX .4 1.45.0 10.0 5.4 3.0 3.16.400 Sularso.16 Lebih dari 6-8 Lebih dari 8-10 Lebih dari 10-12 Lebih dari 12-17 Lebih dari 17-22 LAMPIRAN VIII Tabel 8 Ukuran dan standart pasak */ harus dipilih dari angka-angka berikut sesuai dengan daerah yang bersangkutan dalam tabel 6.10.25(7 × 7) 8×7 10× 8 12× 8 14 × 9 7 8 10 12 14 7 7 8 8 9 0.110.8 0.160.9 0.4 5.22.0 2.90.360.3 3.0 4.100.40.0 11.4 8.0 7.0 5.5 1.2 40-180 45-185 50-200 56-220 63-250 0.60 Ukuran nominal Pasak b×l Ukuran Standart Ukuran standar h C l* Ukuran Standart t1 Ukuran standart t2 r1 da n Referansi r2 Pasak prismatis Pasak luncur Pasak tirus Diameter poros yang dapat dipakai d** Pasak prismatis Pasak luncur 2×2 3×3 4×4 5×5 6×6 2 3 4 5 6 2 3 4 5 6 Pasak tirus 0.4 7.5 3.Suga K.8 3.

1 1.9 1. Y1 dan Y0 dalam hubungannya dengan tabel dibawah Nomor Bantalan d 1 5 1 7 2 0 2 5 3 0 3 5 4 0 4 5 5 0 6 0 2 0 2 5 3 0 3 5 4 0 4 5 5 0 D 42 47 52 62 72 80 90 100 110 130 Ukuran Luar (mm) Faktor beban aksial r1 0.25 38.9 1.75 30.75 22.25 20.30 0.28 0.8 0.4 5.0 5.35 0.35 0.1 12.95 0.32 0.7 1.1 1.30 0.8 0.32 0.9 1.8 0.0 0.0 5.95 0.25 15.9 6.5 0.35 0.4 Y Y1 Harga e.25 28.7 12.7 Y0 1.32 0.5 9.5 2.25 25.1 1.95 Konstanta Kapasitas nominal dinamis spesifik (kg) C 1640 2030 2490 3300 4200 5350 6100 7600 8900 11900 T 14.2 9.28 0.5 2 2 2 2.25 21 24 27 31 33 36 40 18 20 23 25 27 30 33 2 2 2 2.75 25.1 Y1 2.32 0.7 1.6 4.95 0.0 1.5 1.5 2.25 18.5 13.0 2.75 35.25 16.0 1.0 1.5 0.25 42.3 4.8 0.5 2.0 0.5 3 0.35 3200 4400 5650 7000 8150 9850 12000 2350 3300 4500 5700 7000 8600 10800 .7 1.25 29.9 1.30 0.8 1 1.0 5.1 1.35 0.95 0.1 2.5 2.30 0.1 2.5 e 0.0 1.2 p 3.8 1 8.50 B 13 14 15 17 19 21 23 25 27 31 b 11 12 13 15 16 18 20 22 23 26 R 1.8 0.7 1.2 1.5 3 3.8 0.0 2.95 0.8 0.35 Kapasita s nominal statis spesifik (kg) Co 1000 1280 1670 2250 2970 3950 4750 6050 7150 9950 30302 30303 30304 30305 30306 30307 30308 30309 30310 30312 32304 32305 32305 32305 32305 32305 32305 52 62 72 80 90 100 110 22.3 12.1 7.7 2.25 27.2 1.35 0.95 0.8 0.8 0.25 33.8 0.Tabel 9 Bantalan Rol Kerucut Fa / VFr ≤ e X 1 Y 0 Fa / VFr > e X 0.2 6.7 1.7 1.

Panjang Dari satuan mil ft in mikron mil/h knot (internasional) ft/s in/s (mil/h)/s ft/s 2 Kesatuan metrik km m mm μm km/h km/h m/s mm/s (km/h)/s m/s 2 Kalikan dengan 1.764 554 9 0.000 645 16 0.4 1.589 998 2.edisi ke 12. 316 85 3 ft m 16.304 8 25.092 903 04 2. Luas in 2 m 2 ft 2 m 2 mil 2 km 2 5. LAMPIRAN X Tabel 10 Konversi satuan Besaran 1.Sularso.304 8 25.851 999 8 0. Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin.609 344 1.Suga K. 2004.609 344 0.387 06 0. 785 412 3 ft l cm in l in l . Jakarta.304 8 0. Volume yd m 0. Percepatan 4.609 344 0.4 1 1. Kecepatan 3.016 387 06 3.028 316 35 28.

Gaya 13.047 880 26 3. Berat spesifik lb/ft 2 Mg.355 818 .248 84 0. Masa per satuan lb/ft panjang lb/yd 8.453 592 4 0.453 592 4 Kalikan dengan 4.882 428 16.894 757 0.018 46 27676.028 316 85 3.133 322 98.488 164 0.t kg kg kg/m kg/m kg/m 2 1. ft.448 222 9.90 0119 826 4 Kg/m 3 lb/ft 2 Kg/m 3 10. Masa 9.325 6894.496 054 7 4.376 85 0.kerja.757 11.066 5 100 101. Laju aliran masa Besaran 12.016 047 0. Energi.907 184 7 0.t Mg. Tekanan gal/m lb/men lb/s Dari satuan lbf kgf dyne lb/in 2 l/men kg/men kg/s Kesatuan metrik N N N Kpa Kpa Kpa Kpa Kpa Kpa Kpa Kpa Pa lb/ft 2 in Hg (60 F) 0 in H2O (60 F) mm Hg (0 C) kgf/cm2 bar atm (standar =760 torr) lbf/in 14.785 412 0.453 592 4 14. Volume aliran lb/gal ft /s 3 Kg/l m /s 3 0. Masa per satuan lb/ft Luas 2 6.gal ton (long) ton (short) lb slug 7.806 650 0.000 01 6.lbf J 1.593 90 1.

ft/der lbf.K) W/(m.154 591 0.m Mpa Mm3 Kesatuan metrik kgm2 kg. Konstanta pegas puntir 22.720 077 8 t0 C= 23.326 4148 17. Selisih temperature 29.ft2/s lbf/in lbf.061 552 0.h hp.042 14011 0.entalpy.in 0 27.730 735 Btu/(lb.K) 1K = 10C = 1.042 140 11 0.m mN.8 28.06 Kalikan dengan 0.0F) Btu/(h.186 8 5.m/der N. Konstanta pegas linear 21.ft2 26. Kalor spesifik 30.8 2.042 140 11 0. Modulus In3 Penampung Besaran Dari satuan 25. Momen inersia lb.175 126 8 1.ft/(hft2.6 2. Konduktivitas termal 0 F K kJ/(kg. Daya per satuan luas 18. Momen momentum 20.0F) Btu.cm ozf. Momen masa oz. kalor 15.326 4.8 0F 4.h Btu/lb mol Btu/lb mol kal/g Btu/lb kkal/s Btu/men PS (75 mkgf/s) Hp (550 ft lbf/s Btu/(ft2h) lb.m N.098 066 5 7. Momentum sudut.m N.186 8 2. Momen gaya Btu kkal kW.006 894 757 16387.735 499 0.572 504 0. Temperatur F 0 R ( t 0 F − 32) 1.ft2. Daya 17.684 520 1/1.0F) .355 818 0.055 056 4. Energi Spesifik 16.mm 0 C K 1.186 8 3.ft kgf.745 699 9 3.678 263 1.in lbf/in2 kJ kJ MJ MJ kal/gmol J/gmol J/g kJ/kg W W kW kW W/m2 kgm/s Kgm2/s N/mm N.K) W/(m2. Modulus Elastisitas 24.355 818 0.in lbf.8 τ K= T0 R 1. Momentum 19.112 984 8 1. Koefisien perpindahan kalor 31.ft/s lb.

3. N ozf P Pa PS Nama satuan kilogram-gaya derajat Kelfin liter(11=10-3m3 pound pound-gaya meter menit mil (1mil = 1. Simbol 19. K 21.101 325 MPa = 1.033 2 kgF/cm2 = 14. 2.980 67 bar = 1kgf/cm2 = 1 kp /cm2 = 144. 10. 29. Pemakaian bahan bakar 33. 6. 4.h) mPa. Viskositas kinematik 36.h) cP cSt Mc/s Kc?s km/l g/(kW. men 26.Hg No.6 mm. mil 27. Pemakaian bahan baker Spesifik 34. m 25.h) lb/(hpf.277 4 168.223 lbf/in2 = 735.s Mm2/s Mhz kHz g = 9.806650 m/s2 = 32. 7. Frekuensi Mil/gal g/(ps.h) g/MJ kg/(kN.h) g/(kW.425 143 7 1. 13. l 22. Viskositas dinamik 35. 11. kgf 20. 28. 9. 30. Simbol Btu c 0 C c/s der ft 0 F g gal h hp Hz in in.013 25 bar = 1.359 6 608. 8.h) lb/(hp. lbf 24.013 25 N/m2 = 1.609 344 km) Newton onz-gaya Poise Paskal Daya kuda metric (1PS = 75 m kgf/s) . 12.965 9 101. 5.971 6 1 1 1 1 Catatan : Percepatan grafitasi standar 1Pa = 1N/m2 1J = 1N.m/s = 1 J/s 1 atmosfir standar internasional = 0.m 1W = N.32.697 lbf/in2 1 atmosfir teknik = 1 atm = 0. 1. 1740 ft/s2 0.Hg Nama satuan British thermal unit siklus Derajat Celcius siklus per detik derajat (1der=( /180)rad ) π kaki derajat Fahrenheit gram gallon jam Horse power Hertz No. 14. 31. lb 23.h) lb/(hp.

35. 36. in H2O J kal kc W inci inci air raksa inci air Joule kalori kilosiklus Watt 32. 16. 33. Aris Munandar. 17. 0 R s St yd MPa derajat Rankine detik Stokes Yard Mega-Pascal (Prof. 18. DR. 19. 34. Guru besar STTNAS) .15.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful