Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian Perusahaan keluarga (family business) merupakan suatu fenomena umum yang terjadi di mana-mana, sebagai respons kepala keluarga untuk menjamin kualitas hidup yang lebih baik bagi keluarganya dengan cara membuka unit usaha (Pramono,2006). Bentuk perusahaan keluarga merupakan pilihan yang dominan ketika seseorang mendirikan bisnis untuk pertama kalinya. Pramono (2006)

menyatakan bahwa alasan memilih lingkup keluarga sebagai dasar awal menjalankan bisnis adalah karena pemilik bisnis membutuhkan perasaan aman dalam menjalankan bisnis. Perasaan aman tersebut terbagi atas dua kategori, yakni kategori keterikatan emosional dan masalah penghargaan. Keterikatan emosional meliputi keyakinan pemilik bahwa anggota keluarga akan berbuat jujur dan tidak akan merusak sistem yang dibangun oleh pemilik perusahaan. Berkaitan dengan penghargaan, pemilik tidak akan terlalu merasa bersalah jika perusahaan masih dalam kondisi sulit pemilik memberikan gaji yang lebih kecil, atau tidak akan

keberatan memberikan penghargaan yang lebih tinggi jika kondisi perusahaan membaik, karena mereka adalah keluarga. Harian Kompas (11/07/2005)

menyebutkan bahwa 90% perusahaan di Indonesia merupakan perusahaan keluarga. Perusahaan keluarga di Indonesia mempunyai peran yang besar terhadap perekonomian nasional, yakni memperluas kesempatan kerja dan bertindak

sebagai pelaksana pembangunan bila iklimnya menguntungkan (Panglaykim, 1984). Hasil sensus ekonomi Indonesia tahun 1996 menunjukkan bahwa kontribusi perusahaan keluarga pada produk domestik bruto Indonesia mencapai 82,44% (Faustine, 2003), yang membuktikan bahwa perusahaan keluarga mempunyai

peran yang signifikan dalam perekonomian nasional. Mempertahankan dan mengembangkan perusahaan keluarga bukanlah pekerjaan yang mudah. Masalah utama yang dihadapi perusahaan keluarga adalah kemampuannya untuk menyiapkan dan memastikan kepemimpinan keluarga lintas generasi (Le Breton-Miller, Miller & Steier, 2004; Levitt, 2005). Hasil studi

beberapa peneliti sebagaimana tersaji pada tabel 1.1. menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan alih generasi dari generasi pertama adalah 30 prosen, sedangkan ke generasi ketiga hanya 10 15 prosen. Dengan demikian, permasalahan pertama dalam penelitian ini adalah rendahnya tingkat keberhasilan alih generasi perusahaan keluarga. Tabel 1.1 Ringkasan Tingkat Keberhasilan Alih Generasi Perusahaan Keluarga Peneliti Wharton Center for Applied Research Aronoff Lansberg Sumber Publikasi Francis, 1993 Grote, 2003 Lambrecht,2005 Prosentase Keberhasilan I ke II II ke III 0,30 0,15 0,30 0,30 0,10 0,15 0,10

Di Indonesia, beberapa perusahaan keluarga yang ternama namun gagal dalam melewati generasi kedua, misalnya bisnis keluarga Rahman Tamin, Dasaad Musin Concern, Kelompok Toko Dezon dan kelompok-kelompok yang bergerak di bidang batik dan rokok kretek. Kelompok perusahaan ini tidak meneruskan

usahanya karena mengalami perpecahan pada generasi kedua (Panglaykim,1984). Di sisi lain, Group Jayakarta (Kompas, 28/8/2003), Nyonya Meneer

(TokohIndonesia.Com, 2006) serta PT Hanjaya Mandala Sampoerna (Murwani, 2005) adalah perusahaan keluarga di Indonesia yang mampu melewati generasi ketiga dan keempat. Berhubung kelangkaan publikasi dan basis data tentang

proses alih generasi perusahaan keluarga di Indonesia, maka diperlukan suatu analisis deskriptif mengenai perencanaan suksesi yang dilakukan oleh perusahaanperusahaan yang berhasil dengan baik melaksanakan proses alih generasi. Proses untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan keluarga melalui pergantian pengelolaan dan kepemimpinan adalah masalah suksesi (Shepherd & Zacharakis, 2000). Agar suksesi berhasil, proses suksesi harus direncanakan dengan baik sejak awal, diantaranya dengan melibatkan suksesor pada bisnis sejak awal, ada berbagai pelatihan bagi suksesor, serta menciptakan berbagai sistem penghargaan yang menarik sehingga suksesor mempunyai keinginan yang kuat untuk menggantikan peran pendahulunya (Goldberg, 1991; Venter, Boshoff & Maas, 2005). Dengan demikian perencanaan suksesi merupakan masalah paling krusial dalam manajemen bisnis keluarga (Chua, Chrisman, & Sharma, 2003). Perusahaan yang dominan dimiliki dan dikelola oleh keluarga adalah perusahaan dalam skala kecil dan menengah. Berry, Rodriguez, & Sandea (2001) menyatakan bahwa pada negara yang sedang berkembang, usaha kecil dan menengah (UKM) mempunyai tiga peran. Pertama, UKM mempunyai kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan perusahaan skala mikro. Kedua, UKM sering

mencapai kenaikan produktivitas dalam jangka yang panjang melalui investasi dan

perubahan teknologi. Ketiga, UKM mempunyai keunggulan dalam hal fleksibilitas dibandingkan dengan perusahaan yang lebih besar. Hasil penelitian Brata (2004) menunjukkan bahwa pada masa krisis perusahaan skala kecil dan menengah Indonesia lebih mampu bertahan hidup dibandingkan perusahaan besar. Salah satu kawasan yang dapat menjelaskan fenomena perilaku

perencanaan suksesi pada perusahaan keluarga, adalah kawasan eks Karesidenan Surakarta, sebuah kawasan yang terdiri dari satu Kota besar (Surakarta) serta

enam Kabupaten (Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten). Pemerintah Propinsi Jawa Tengah mengelompokkan kawasan tersebut sebagai kawasan pertumbuhan paling besar dengan Kota Surakarta sebagai pusat aktivitasnya (Sunardianto, Mulyanto, Sumardi & Untoro, 2002). Kota Surakarta

adalah kota budaya di mana banyak perusahaan keluarga pada industri Batik yang berdiri dan menjadi besar hingga sekarang. Selain itu kawasan Surakarta dan

sekitarnya adalah kawasan industri dan perniagaan sehingga di wilayah seputar Surakarta banyak berdiri perusahaan-perusahaan yang sebagian besar adalah perusahaan keluarga. Menyadari besarnya peranan UKM dalam perekenomian nasional,

Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah menargetkan penambahan UKM baru dari tahun 2006 hingga tahun 2009. Untuk wilayah eks Karesidenan Surakarta, proyeksi penambahan UKM baru mulai tahun 2006 hingga tahun 2009 sebagaimana tersaji pada Tabel 1.2. Berdasarkan tabel tersebut,

terlihat bahwa ada tiga strategi penambahan UKM baru. Strategi pertama adalah pertumbuhan konstan, yakni jumlah yang sama setiap tahun. Termasuk dalam

kelompok ini adalah Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Sragen. Secara umum wilayah ketiga kabupaten ini adalah wilayah agraris. Strategi kedua adalah pertumbuhan moderat, yakni target penambahan UKM baru meningkat secara moderat dari tahun ke tahun. Termasuk dalam kelompok ini

adalah Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Wonogiri. Secara umum kedua wilayah ini adalah perpaduan antara wilayah agraris dan perniagaan. Strategi ketiga adalah pertumbuhan cepat. Kabupaten Klaten. perniagaan. Tabel 1.2. Rekapitulasi Sasaran Unit Usaha UMKM Baru Tahun 2006 s/d 2009 untuk Wilayah Eks Karesidenan Surakarta Kab/Kota Kab. Karanganyar Kota Surakarta Kab. Sukoharjo Kab. Wonogiri Kab. Boyolali Kab. Sragen Kab. Klaten Jumlah Target nasional untuk Jawa Tengah Prosentase 2006 5.339 8.590 4.727 4.145 11.160 4.969 21.863 60.793 Unit Usaha UMKM Baru 2007 2008 5.339 5.339 10.245 12.458 4.727 4.727 5.143 5.240 11.170 11.180 4.969 4.969 24.049 26.454 65.642 70.367 Jumlah 2009 5.339 16.246 4.727 5.348 11.190 4.969 29.099 74.262 21.356 47.899 18.908 19.876 44.700 19.876 101.465 271.064 897.000 30,21 Termasuk dalam kelompok ini adalah Kota Surakarta dan Kedua wilayah ini merupakan kawasan yang dominan

Sumber: Database Kantor Kementerian KUKM (2006).

Selain itu, dalam tabel tersebut juga terlihat bahwa Kawasan Eks Karesidenan Surakarta menyumbangkan angka pertumbuhan UKM baru sebesar 30,21%. Dengan demikian Kawasan Eks Karesidenan Surakarta merupakan

kawasan yang layak untuk lokasi penelitian UKM.

Walau pun Harian Kompas (11/07/2005) menyebutkan bahwa 90% perusahaan di Indonesia merupakan perusahaan keluarga dan peran perusahaan keluarga dalam perekonomian nasional sangat besar (Faustine, 2003), namun sejauh yang teramati penelitian mengenai bisnis keluarga di Indonesia masih jarang. Salah satu penelitian mengenai bisnis keluarga yang dipublikasi di internet adalah penelitian Muchtar (2001) mengenai peran perusahaan keluarga Cina dalam konsultasi perusahaan di Asia Tenggara. Berdasar pada latar belakang di muka, maka topik penelitian yang akan diangkat pada penelitian ini adalah perencanaan suksesi pada perusahaan keluarga dengan usaha skala kecil dan menengah di kawasan Eks Karesidenan Surakarta. Kesenjangan mengenai peran perusahaan keluarga (Panglaykim, 1984)

dan usaha skala kecil menengah di Indonesia (Berry et al., 2001) dengan tingkat keberhasilan alih generasi (Tabel 1.1.) menunjukkan bahwa masalah pertama dari perusahaan keluarga adalah rendahnya tingkat keberhasilan alih generasi. Penelitian terdahulu mengenai perencanaan suksesi pada perusahaan keluarga dibagi menjadi tujuh kelompok. Kelompok pertama adalah penelitian yang berkaitan dengan permasalahan dasar perencanaan suksesi, misalnya berbagai faktor yang mempengaruhi efektivitas suksesi pada perusahaan keluarga (Goldberg, 1991; Morris, William & Nel, 1996; Sharma, 2000), kesiapan melaksanakan suksesi (Feltham, Feltham & Barnett, 2001), profil perencanaan suksesi para pemilik perusahaan (Lee, Jasper & Goebel, 2003), serta hasil pengambilan keputusan suksesi pada perusahaan keluarga (Westhead, 2003). Kelompok kedua adalah

penelitian yang berkaitan dengan peran keluarga dalam perencanaan suksesi,

misalnya pengaruh keluarga pada proses suksesi (Davis & Harveston, 1998), peran ibu selama suksesi bisnis keluarga (Janjuha-Jivraj, 2004), serta tantangan anak perempuan dalam suksesi perusahaan keluarga (Vera & Dean,2005). Kelompok ketiga adalah keterkaitan antara suksesi perusahaan keluarga dengan kepemimpinan, misalnya keterkaitan antara kapabilitas kepemimpinan manajerial predesesor dan suksesor dengan kinerja organisasi (King, 1997), serta kualitas kepemimpinan suksesor pada perusahaan keluarga (Cater III, 2006). Kelompok keempat adalah suksesi pada berbagai negara atau kelompok masyarakat, misalnya perbandingan suksesi pada perusahaan Korea dan Amerika Serikat (Kuratko, Hornsby, & Montagno, 1993), Inggris (Brown & Coverly, 1999), Asia Selatan (Janjuha-Jivraj & Woods, 2002a), Kenya (Janjuha-Jivraj & Woods, 2002b), Finlandia (Malinen, 2001), China (Chung & Yuen, 2003). Kelompok kelima adalah penelitian yang berkaitan dengan karakteristik dan atribut suksesor, misalnya tentang hubungan interpersonal kunci anggota keluarga penerus pada perusahaan keluarga (Handler, 1991), cara persiapan suksesor oleh CEO perusahaan keluarga dan bukan keluarga (Fiegener, Brown, Prince, & File, 1996), atribut suksesor yang penting dalam perusahaan keluarga (Chrisman, Chua & Sharma, 1998), pengaruh faktor demografis pada keinginan menjadi suksesor (Stavrou,1999), pola sosialisasi suksesor dari generasi pertama ke kedua (Garcia-Alvarez, Lopez-Sintas, & Gonzalvo, 2002), serta kualitas suksesor yang efektif (Ibrahim, Soufani, &

Poutziouris, 2004). Kelompok keenam adalah konsekuensi atau hasil aktivitas suksesi, misalnya anteseden kepuasan terhadap proses suksesi (Sharma Chrisman, & Chua, 2003b),

faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan suksesi (Venter, Boshoff, & Maas, 2003), serta pengaruh faktor-faktor suksesor pada keberhasilan proses suksesi (Venter et al., 2005). Kelompok terakhir adalah aplikasi model teori pada perencanaan suksesi perusahaan keluarga. Sejauh yang teramati, hingga sat ini baru ada satu penelitian yang berkaitan dengan aplikasi model teori, yakni penelitian Sharma, Chrisman, & Chua (2003a) yang meneliti aplikasi Teori Planned Behavior (TPB) pada perencanaan suksesi perusahaan keluarga. Kondisi ini berlawanan dengan aplikasi teori penelitian perusahaan keluarga non suksesi, di mana telah banyak aplikasi model teori, misalnya teori sistem keluarga (Janjuha-Jivraj & Woods, 200b; Astrachan, Klein, & Smyrnios, 2002; Leenders & Waarts, 2003; dan Uhlaner, 2005), serta aplikasi teori keagenan (Gomez-Mejia, Nunez-Nickel, & Guterez, 2001; Westhead, Howorth, & Cowling, 2002; Mustakallio, Autio, & Zahra, 2002; Schultze, Lutbakin, & Dino, 2003a; 2003b; Randoy & Goel, 2003, Chua et al., 2003, Poza et al., 2004; serta Lubatkin, Schulze, Ling, & Dino, 2005). Berbasis pada telaah penelitian sebelumnya sebagaimana tersaji pada Lampiran 1, diketahui ada dua kesenjangan penelitian terdahulu (research gaps) dan satu kesenjangan teori (theory gap) yang bisa ditindaklanjuti untuk penentuan penelitian berikutnya. Pertama, sejauh yang teramati, belum ada publikasi penelitian berkaitan dengan perencanaan suksesi perusahaan keluarga dengan setting penelitian di Indonesia padahal berdasarkan hasil sensus ekonomi tahun 1996, kontribusi perusahaan keluarga pada PDB sebesar 82,44% (Faustine, 2003). Kedua, penelitian mengenai perencanaan suksesi pada perusahaan keluarga

didominasi penelitian yang bersifat deskriptif eksploratif, maupun kualitatif. Ketiga, penelitian Sharma et al. (2003a) merupakan satu-satunya penelitian mengenai perencanaan suksesi pada bisnis keluarga dengan menggunakan operasionalisasi teori spesifik, yaitu TPB. Penelitian tersebut hanya mampu membuktikan Selain hasilnya

signifikansi lima dari duabelas hipotesis yang dirumuskannya.

kurang memuaskan, model penelitian Sharma et al. (2003a) tersebut mengandung kelemahan konseptual karena model penelitian yang diajukan berbeda dengan model dasar TPB. Kelangkaan publikasi penelitian tentang perencanaan suksesi perusahaan keluarga di Indonesia menjadi alasan pertama memilih topik perencanaan suksesi perusahaan keluarga pada penelitian ini. Jika penelitian sebelumnya didominasi analisis yang bersifat deskriptif-eksploratif dan kualitatif, maka penelitian ini berupaya mengatasi kesejangan tersebut dengan membangun model penelitian yang sesuai dengan tingkat urutan penelitian (consecutive levels of research) berdasarkan perkembangan kajian teoritis mengenai perencanaan suksesi

perusahaan keluarga (Wallace, Jr., 1983). Berkaitan dengan pemilihan operasionalisasi teori, Sharma (2004)

menyatakan bahwa tujuan paling penting studi di bidang perusahaan keluarga saat ini adalah mengembangkan teori perusahaan keluarga. Sharma et al. (2003a)

menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada teori mengenai perencanaan suksesi perusahaan keluarga, di sisi lain Campbell (1990) menekankan pentingnya aplikasi teori dalam model penelitian. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, Sharma

(2004) mengusulkan pemaduan antara teori organisasional dan teori tentang

10

keluarga, untuk diuji tingkat kesahihannya ketika dua teori tersebut digabungkan. Sharma et al. (2003a) telah mengawali langkah tersebut dengan beberapa kelemahan, penelitian ini berupaya untuk menyempurnakan kelemahan penelitian Sharma et al. (2003a) berdasarkan saran-saran yang diberikan, yakni memperluas operasionalisasi TPB dengan pengukuran dan model yang berbeda, serta menambahkan unsur outcome dalam model penelitian. Ajzen (1991) menyatakan bahwa TPB adalah teori yang menjelaskan perilaku manusia pada kasus spesifik. Teori ini mengandung tiga unsur utama,

yakni pertimbangan (considerations), kehendak (intention) dan perilaku (behavior). Pertimbangan terdiri dari tiga dimensi, yakni sikap terhadap perilaku (attitude toward behavior), norma subyektif (subjective norm) serta persepsi pengendalian perilaku (perceived behavioral control). Ketiga dimensi ini berpengaruh pada kehendak, dan kehendak berpengaruh pada perilaku. Ajzen (1991) menambahkan bahwa persepsi pengendalian perilaku bisa berpengaruh langsung pada perilaku. Dalam konteks perencanaan suksesi pada perusahaan keluarga,

operasionalisasi perilaku sebagai konstruk terakhir TPB adalah keluasan aktivitas perencanaan suksesi yang dilaksanakan oleh perusahaan keluarga. Sharma et al. (2003b), dan Venter et al. (2003; 2005) Penelitian

membuktikan bahwa

keluasan perencanaan suksesi menjadi anteseden dari kepuasan proses suksesi. Selain itu, penelitian Sharma et al. (2003b) menunjukkan secara tidak langsung bahwa konstruk intention dalam perencanaan suksesi perusahaan keluarga terdiri dari dua konsep, yaitu kesediaan pemilik lama mengundurkan diri dan kesediaan suksesor mengambil alih perusahaan keluarga. Hasil penelitian tersebut juga

11

menunjukkan bahwa kedua konsep intention berpengaruh signifikan pada kepuasan proses suksesi. Berdasarkan kesenjangan yang teridentifikasi dari telaah penelitian

terdahulu, maka penelitian ini dilaksanakan dalam upaya mengatasi kesenjangankesenjangan tersebut dengan empat cara. Pertama, untuk mengatasi rendahnya tingkat keberhasilan proses alih generasi pada perusahaan keluarga, maka penelitian ini berupaya untuk mendeskripsikan proses suksesi pada perusahaanperusahaan keluarga yang terbukti berhasil melaksanakan alih generasi, sehingga hasil penelitian ini bisa dijadikan rujukan bagi perusahaan keluarga dalam mempersiapkan alih generasi. Kedua, mengingat pentingnya peran teori dalam model penelitian (Campbell, 1990), saran dari Sharma (2004) tentang penggabungan teori keluarga dengan teori organisasional sebagai langkah awal membangun teori perusahaan keluarga, serta kelemahan hasil penelitian Sharma et al. (2003a), maka penelitian ini tujuan utamanya adalah operasionalisasi TPB dengan pengukuran dan model yang

berbeda dengan yang dilakukan oleh Sharma et al. (2003a). Ketiga, adanya penelitian terbaru mengenai pengaruh variabel-variabel yang menyerupai konsep intention dan behavior dalam TPB (Sharma et al., 2003b; Venter et al., 2003; 2005) pada outcome sebagaimana saran dari Sharma et al. (2003a), maka fenomena ini membuka peluang untuk menguji perluasan TPB dengan cara menambahkan satu konstruk, yakni outcome setelah behavior. Keempat,

berhubung tujuan utama penelitian ini adalah menguji model berbasis teori, maka penelitian ini menggunakan teknik analisis Structural Equation Modelling (SEM).

12

Penggunaan SEM ini sekaligus diharapkan bisa mengatasi kesenjangan bahwa penelitian mengenai perencanaan suksesi pada perusahaan keluarga didominasi analisis deskriptif-eksploratori dan kualitatif. Perilaku suksesi merupakan istilah yang dipilih untuk menggambarkan

gabungan antara perencanaan suksesi melalui TPB dan konsekuensi proses suksesi, yaitu kepuasan proses suksesi.

1.2.

Perumusan Masalah Ferdinand (2006) menyatakan bahwa rumusan masalah diderivasi dari tiga

sumber, yaitu fenomena bisnis, kesenjangan penelitian terdahulu (research gaps) serta kesenjangan teori (theory gap). Berdasarkan uraian dalam latar belakang pernyataan masalah (research

masalah, maka dasar masalah, sumber rujukan,

statements) dan permasalahan penelitian ini (research problems) tersaji pada tabel 1.3. Tabel tersebut dipakai sebagai dasar perumusan pertanyaan penelitian

(research questions). Berdasarkan permasalahan-permasalahan penelitian (research problems) sebagaimana tersaji pada Tabel 1.3., maka pertanyaan penelitian (research questions) dirumuskan sebagai berikut: Berkaitan dengan deskripsi proses perencanaan suksesi, maka pertanyaan penelitiannya adalah: 1. Faktor-faktor apakah yang menentukan keberhasilan proses suksesi perusahaan keluarga? Tabel 1.3. Dasar Masalah, Sumber Rujukan dan Pernyataan Masalah

13

Berkaitan

dengan

masalah

operasionalisasi

TPB,

maka

pertanyaan

penelitiannya adalah: 2. Apakah dimensi-dimensi pertimbangan (considerations) suksesi yang terdiri dari sikap terhadap suksesi, norma subyektif suksesi, serta persepsi pengendalian suksesi berpengaruh pada dimensi-dimensi kehendak (intention) yang terdiri dari kesediaan pemilik lama mengundurkan diri dan kesediaan suksesor meneruskan perusahaan keluarga? 3. Apakah dimensi-dimensi kehendak (intention) berpengaruh pada konstruk perilaku (behavior) yang dioperasionalisasikan sebagai keluasan perencanaan suksesi? 4. Apakah persepsi pengendalian suksesi secara langsung berpengaruh pada

keluasan perencanaan suksesi?

14

Berkaitan dengan perluasan TPB, maka pertanyaan penelitiannya adalah: 5. Apakah perilaku (behavior) berpengaruh pada hasil (outcome) yang

dioperasionalisasikan sebagai kepuasan proses suksesi? 6. Apakah dimensi-dimensi kehendak (intention) berpengaruh langsung pada kepuasan proses suksesi?

1.3. Tujuan Penelitian Secara umum, tujuan penelitian ini ada tiga: pertama, mendeskripsikan faktor-faktor yang menentukan keberhasilan proses alih generasi perusahaan keluarga. Kedua, menguji operasionalisasi TPB; dan ketiga, menguji perluasan

model TPB dalam kasus perilaku suksesi perusahaan keluarga. Berkaitan dengan deskripsi proses perilaku suksesi, maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Menganalisis faktor-faktor yang menentukan keberhasilan proses alih generasi perusahaan keluarga. Berkaitan dengan pengujian operasionalisasi model TPB, tujuan penelitian ini secara khusus dirumuskan sebagai berikut: 2. Menguji dan menganalisis pengaruh dimensi-dimensi pertimbangan (sikap terhadap suksesi, norma subyektif suksesi, dan persepsi pengendalian suksesi) pada dimensi-dimensi kehendak (kesediaan pemilik lama mengundurkan diri dan kesediaan suksesor mengambil alih perusahaan keluarga). 3. Menguji dan menganalisis pengaruh dimensi-dimensi kehendak pada perilaku (keluasan perencanaan suksesi).

15

4. Menguji dan menganalisis pengaruh langsung persepsi pengendalian suksesi pada keluasan perencanaan suksesi. Berkaitan dengan pengujian perluasan TPB, tujuan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 5. Menguji dan menganalisis pengaruh perilaku (keluasan perencanaan suksesi) pada hasil (kepuasan proses suksesi). 6. Menguji pengaruh langsung dimensi-dimensi kehendak pada hasil.

1.4. Manfaat Penelitian 1. 4. 1. Manfaat Teoritis Jika seluruh tujuan penelitian tersebut tercapai, maka manfat teoritis penelitian ini adalah sebagai berikut; 1. Deskripsi mengenai faktor-faktor yang menentukan keberhasilan proses alih generasi perusahaan keluarga ini bisa dipakai menjadi rujukan awal untuk penelitian mengenai perilaku suksesi di Indonesia. 2. Operasionalisasi TPB pada perencanaan suksesi ini akan memperkuat kemampuan TPB dalam menjelaskan berbagai fenomena keterkaitan antara pertimbangan, keinginan dan perilaku (Ajzen,1991) khususnya pada

perencanaan suksesi perusahaan keluarga. 3. Hasil operasionalisasi TPB pada perencanaan suksesi ini sekaligus mengoreksi model operasionalisasi TPB pada perencanaan suksesi yang dikemukakan oleh Sharma et al. (2003a). Peneliti berikutnya bisa membandingkan kedua model

16

operasionalisasi tersebut kembali keduanya.

dan kemudian memilih salah satu, atau menguji

4. Penambahan konsep hasil (outcome) setelah perilaku serta penambahan pengaruh langsung dari keinginan pada hasil diharapkan memberi kontribusi yang signifikan terhadap pengembangan TPB. Salah satu kemungkinan yang terjadi adalah pengembangan konsep dari TPB menjadi Teori Planned BehaviorOutcome (TPB-O), sebagaimana TPB tersebut sebelumnya dikenal sebagai Teori Reasoned Action (Marcoux & Shope, 1997). 1.4.2. Manfaat Praktis 1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan tentang pentingnya suksesi dan bagaimana proses menyiapkan suksesi bagi para pemilik perusahaan keluarga serta para suksesor yang kelak akan menggantinya. Suatu suksesi perusahaan keluarga bisa berjalan lancar

apabila ada kesediaan pemilik lama mengundurkan diri dan kesediaan suksesor mengambil alih. TPB memberikan wawasan tentang pertimbangan apa saja yang bisa mempengaruhi kesediaan pemilik lama mengundurkan diri dan kesediaan suksesor mengambil alih pengelolaan perusahaan. Demikian halnya untuk melaksanakan suksesi yang baik, aktivitas apa saja yang harus dilaksanakan agar suksesi berhasil. 2. Bagi instansi pemerintah seperti Dinas Koperasi dan UKM dan Dinas Perindag, hasil penelitian ini bisa dipakai sebagai masukan dalam menyusun kebijakan pengembangan UKM, yang didominasi oleh perusahaan keluarga.

17

3. Bagi para peneliti yang tertarik pada kajian perusahaan keluarga, hasil penelitian ini bisa dipakai sebagai acuan primer, mengingat belum adanya hasil penelitian empiris tentang manajemen perusahaan keluarga di Indonesia. 4. Bagi pengelola pendidikan bisnis, hasil penelitian ini bisa dipakai sebagai acuan untuk menyusun kurikulum mata kuliah Manajemen Bisnis Keluarga, mengingat bisnis keluarga adalah fenomena yang signifikan terjadi di masyarakat, namun belum mendapatkan perhatian yang semestinya dari pengelola lembaga pendidikan bisnis (Nicholson, 2003).