MAKALAH DASAR-DASAR GEOGRAFI: ANTROPOSFER

2011

BAB II PEMBAHASAN
ANTROPOSFER adalah lapisan manusia yang merupakan tema sentral diantara sfera-ftera. Karena kajian geografi merupakan tema sentral, maka kajian geografis sering disebut antroposentris. Pengertian yang diperkenalkan oleh Eratosthenes, geografi merupakan ilmu yang mendeskripsikan manusia dengan lingkungan alam di wilayah-wilayah tertentu berdasarkan data dan informasi yang diperoleh. Pengkajian geografi berkaitan dengan aspek alam tentang tempat terjadinya gejala dan aspek manusia penghuni alam tersebut. Karl Ritter menyatakan bahwa geografi mempelajari bumi sebagai tempat tinggal manusia. Pengertian tersebut sudah termasuk aktivitas manusia untuk mempertahankan hidupnya, juga dianalisis penyebarannya, perkembangan, hubungan dan interaksinya secara keruangan. A. LEDAKAN JUMLAH PENDUDUK Pertumbuhan penduduk dunia sangat pesat tahun 1999 jumlahnya mencapai 6 milyar dan pada tahun 2005 mencapai 9 milyar. Pertumbuhan yang melesat ini dikenal sebagai ledakan jumlah penduduk. 1. Dampak Peledakan Penduduk A. Persaingan Lapangan Pekerjaan, semakin tinggi pertumbuhan penduduk semakin banyak orang memperebutkan lapangan pekerjaan. B. Persaingan untuk mendapat permukiman, kondisi ini biasanya terjadi di kota-kota besar, mereka yang tidak mendapatkan pemukiman yang terjangkau biasanya tinggal di kawasan kumuh. C. Kesempatan pendidikan, pertambahan penduduk yang tinggi tidak diimbangi dengan pembangunan sarana dan prasarana mengakibatkan tidak semua penduduk memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan yang layak.

1

kematian dan segala kejadian penting manusia. Insentif merupakan tunjangan biaya yang diberikan oleh pemerintah berwenang. dan dua puluh lima tahun. lima tahun. yakni sensus de facto dan de jure. Insentif dan sanksi. 2 . penduduk dapat dikelompokkan menurut ukuran rentang usia tertentu. KOMPOSISI PENDUDUK BERDASARKAN UMUR DAN JENIS KELAMIN 1. Berdasarkan jenis kelamin. Sanksi merupakan pembatasan tujangan yang diberikan pemerintah berwenang. Sensus penduduk Sensus penduduk dapat dibedakan atas dua macam. Pengendalian Peledakan Penduduk A. Pendidikan tentang keluarga berencana. Sensus de facto adalah penghitungan penduduk atau pencacahan penduduk yang dilakukan terhadap setiap orang yang pada waktu sensus diadakan berada dalam wilayah sensus. Registrasi Registrasi merupakan kumpulan keterangan mengenai kelahiran. 2. Menghitung Jumlah Penduduk a. Sementara berdasarkan umur. c. Survei Survei merupakan pencacahan penduduk dengan cara mengambil contoh daerah. b. misalnya perkawinan. Sementara sensus de jure adalah pencacahan yang hanya dikenakan pada penduduk yang benar-benar bertempat tinggal dalam wilayah sensus tersebut. pengangkatan anak dan perpindahan penduduk. B.MAKALAH DASAR-DASAR GEOGRAFI: ANTROPOSFER 2011 2. B. Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin Komposisi penduduk adalah pengelompokan penduduk atas dasar kriteria tertentu. penduduk dapat dikelompokkan menjadi penduduk lak-laki dan perempuan. perceraian. misalnya satu tahun.

C. a. Kelahiran bersifat menambah. MENGHITUNG PERTUMBUHAN PENDUDUK SUATU WILAYAH Pertumbuhan penduduk adalah keseimbangan dinamis antara kekuatankekuatan yang menambah dan kekuatan-kekuatan yang mengurangi jumlah penduduk. kelahiran dan kematian disebut faktor alami. Piramida penduduk muda menunjukkan bahwa penduduk suatu negara tersebut sedang mengalmai pertumbuhan. kematian. Piramida penduduk dapat digolongkan ke dalam tiga macam.MAKALAH DASAR-DASAR GEOGRAFI: ANTROPOSFER 2011 Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin dapat disajikan dalam bentuk tabel atau bentuk grafik. piramida penduduk stasioner. Migrasi yang bersifat menambah disebut migrasi masuk (imigrasi) dan migrasi yang bersifat mengurangi disebut migrasi keluar (emigrasi) 3 . dan migrasi. c. Piramida penduduk ini menunjukkan bahwa jumlah kelahiran dan kematian seimbang. b. Piramida penduduk Stasioner menunjukkan bahwa penduduk dalam suatu negara tersebut keadaan stasioner atau tetap. dan piramida penduduk tua. Piramida penduduk tua menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk suatu negara tersebut berada pada kelompok usia tua. Grafik susunan penduduk menurut umur dan jenis kelamin pada saat tertentu yang berbentuk piramida disebut piramida penduduk. yaitu kelahiran. Faktor migrasi dapat menambah atau mengurangi jumlah penduduk. Faktor pertumbuhan penduduk. sedangkan kematian bersifat mengurangi jumlah penduduk. sedang migrasi disebut faktor nonalami. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk. yaitu piramida penduduk muda.

000 = 6.000 ) + ( 2.000 jiwa. Pertumbuhan penduduk kota Bekasi tahun 2006 adalah 5.000 jiwa dan emigrasi 1.000 + 1. Mengukur Pertumbuhan Penduduk a. Pertumbuhan Penduduk Alami (natural increase) Pertumbuhan penduduk alami adalah selisih jumlah kelahiran dengan jumlah kematian. T = (L – M) Contoh : Diketahui jumlah kelahiran penduduk kota Bekasi pada tahun 2006 adalah 8.000 jiwa dan angka kematiannya 3. Pertumbuhan Penduduk Total Pertumbuhan penduduk total memperhitungkan migrasi (imigrasi dan emigrasi).MAKALAH DASAR-DASAR GEOGRAFI: ANTROPOSFER 2011 1.000 jiwa.000 – 3.000 – 1.000 jiwa b. Berapakah pertumbuhan totalnya ? T = ( 8.000 ) = 5. Proyeksi Penduduk Jumlah penduduk di masa yang akan datang dapat dihitung atau diproyeksikan mengenai jumlah penduduk masa yang akan datang sangat penting.000 – 3.000 ) jiwa = 5.000 jiwa. Jumlah Imigrasi 2.000 jiwa 2. T = (L – M) + (I – E) Contoh : Diketahui jumlah kelahiran penduduk kota Bekasi pada tahun 2006 adalah 8.000 jiwa. Berapakah pertumbuhan alaminya ? T = ( 8.000 jiwa Pertumbuhan penduduk total kota Bekasi tahun 2006 = 6. Pn = Po (1 + r)n 4 . dengan rumus sebagai berikut.000 jiwa dan angka kematiannya 3.

Kematian (mortalitas) a.MAKALAH DASAR-DASAR GEOGRAFI: ANTROPOSFER 2011 3. dengan rumus sebagai berikut. 5 . Faktor-faktor antimortalitas (a) tersedianya fasilitas kesehatan yang memadai. (c) adanya ajaran agama yang melarang bunur diri. Kelahiran (natalitas) a.000 penduduk setiap tahun. CBR = B x k P (2) Angka Kelahiran Menurut Umur Cara pengukuran kelahiran metode CBR seringkali kurang memuaskan karena tidak memperhatikan pembagian menurut jenis kelamin dan menurut golongan umur. dan (d) tingkat kesehatan masyarakat yang tinggi sehingga penduduk tidak mudah terserang penyakit. (1) Angka Kelahiran Kasar Angka kelahiran kasar (crude birth rate disingkat CBR) menunjukkan jumlah kelahiran tiap 1. Faktor-faktor antinatalitas (1) Pembatasan umur menikah (2) Program Keluarga Berencana (3) Pembatasan tunjangan anak (4) Anak merupakan beban Pengukuran kelahiran dapat dilakukan melalui beberapa cara . Faktor-faktor pronatalitas (1) Kawin usia muda (2) Tingkat kesehatan (3) Anggapan banyak anak banyak rezeki b. ASBR = Bx x k Px 4. (b) lingkungan yang bersih dan teratur.

PERSEBARAN DAN KEPADATAN PENDUDUK Faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran dan kepadatan penduduk tiaptiap daerah atau negara adalah sebagai berikut. dan angka perkawinan. peralatan kesehatan. dan obat-obatan.000 penduduk setiap tahun.MAKALAH DASAR-DASAR GEOGRAFI: ANTROPOSFER 2011 b. 1. cukup air. Pengukuran kematian dapat dilakukan melalui beberapa cara. tanah subur. tingkat kelahiran. (d) adanya bencana alam yang meminta korban jiwa. misalnya kurangnya rumah sakit. Faktor-faktor promortalitas (a) kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan. relief baik. Angka Kematian Kasar Angka kematian kasar (crude death rate / CDR) adalah angka yang menunjukkan jumlah kematian setiap 1. Angka Kematian Menurut Umur Angka kematian menurut umur (Age Specific Death Rate / ASDR) adalah angka yang menyatakan banyaknya kematian pada kelompok umur tertentu setiap 1. ASDR = Dx x k Px A.000 penduduk dalam kelompok umur yang sama. dengan rumus sebagai berikut. dan daerahnya aman. CDR =D x k P 2. strategis. (b) fasilitas kesehatan yang kurang memadai. (e) terjadinya peperangan. Faktor Fisiografis Penduduk selalu memilih tempat tinggal yang baik. a. (c) seringnya terjadi kecelakaan lalu lintas. 6 . b. Faktor Biologi Tingkat pertumbuhan penduduk di setiap daerah adalah berbeda-beda karena adanya perbedaan tingkat kematian.

dan keadaan pembangunan fisiknya maju akan tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan daerah yang terbelakang. Kepadatan penduduk dapat dibedakan atas dua macam. Kepadatan Penduduk Aritmatik = Luas wilayah (km²) Jumlah penduduk ( jiwa) 2) Kepadatan penduduk agraris. yaitu jumlah rata-rata penduduk setiap km2. Kepadatan Penduduk Agraris = Jumlah penduduk petani Luas lahan pertanian (km²) 7 . 1) Kepadatan penduduk aritmatik. pola berpikirnya bagus.MAKALAH DASAR-DASAR GEOGRAFI: ANTROPOSFER 2011 c. yaitu jumlah rata-rata penduduk petani setiap tahun luas lahan pertanian. Faktor Kebudayaan dan Teknologi Daerah yang masyarakatnya maju.

laboratorium. 3. Mencanangkan program wajib belajar dan orang tua asuh. Menjalankan Undang-Undang Dasar. 3) Menyelenggarakan penyuluhan kesehatan. dll. perpustakaan dan buku-buku pelajaran. puskesmas. 5. 5) Mengadakan Posyandu. MATA PENCAHARIAN. Membangun sekolah-sekolah baru terutama SD Inpres di daerah-daerah yang kurang jumlah sekolahnya. b. 8 suatu negara dikatakan berkualitas tinggi apabila tingkat kesehatannya juga tinggi. Kualitas Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Menurut tingkat pendidikannya. 2. pemerintah Indonesia mengambil langkah-langkah. 2) Menambah jumlah serta menaikan kualitas tenaga medis. Mengadakan perbaikan dan penambahan alat-alat pratikum. DAN PENDAPATAN a. Dalam upaya menaikkan tingkat kesehatan masyarakat. Beberapa hal yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia adalah sebagai berikut : 1. Kualitas Penduduk Menurut Tingkat Kesehatan Penduduk langkah-langkah : 1) Memperbanyak dan meningkatkan fungsi rumah sakit. 2. Untuk menaikkan tingkat pendidikan penduduk. 1. Pendapatan penduduk yang rendah menyebabkan anak tidak dapat melanjutkan sekolah karena tidak mempunyai biaya. Kurang dan tidak meratanya sarana pendidikan. KESEHATAN. Masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. antara lain sebagai berikut. Menambah dan meningkatkan kualitas guru. Memberikan beasiswa kepada murid-murid yang berprestasi. 6. penduduk dapat dikelompokkan menjadi penduduk yang buta huruf dan yang melek huruf. . KUALITAS PENDUDUK BERDASARKAN PENDIDIKAN. 3.MAKALAH DASAR-DASAR GEOGRAFI: ANTROPOSFER 2011 B. 4. 4) Mengadakan imunisasi massal secara murah atau gratis. dan lingkungan. gizi.

Makin tinggi penghasilan makin tinggi pula tarap hidupnya. DR = Jumlah penduduk usia muda + Jumlah penduduk usia tua Jumlah penduduk usia produktif Sedangkan Sex Ratio adalah suatu angka yang menunjukkan jumlah penduduk laki-laki dibandingkan jumlah penduduk perempuan di suatu wilayah. Persebaran penduduknya yang tidak merata 4. Arus urbanisasi tinggi. Jumlah penduduknya banyak 2. Rasio ketergantungan (dependency ratio) adalah suatu angka yang menunjukkan besar beban tanggungan atau besar angka ketergantungan dari kelompok usia produktif terhadap kelompok tidak produktif. Kualitas penduduk menurut mata pencaharian penduduk Dengan meningkatnya tingkat pendidikan. x 100 9 . Pertumbuhan penduduknya cepat 3. MASALAH KEPENDUDUKAN DI INDONESIA 1. maka kualitas tenaga kerja pun menjadi meningkat. sehingga lapangan kerja yang ada dapat terisi oleh tenaga kerja yang berkualitas baik. Kualitas penduduk menurut Pendapatan (Penghasilan) Besarnya penghasilan dapat mempengaruhi taraf hidup seseorang. Komposisi penduduk kurang menguntungkan 5. d.MAKALAH DASAR-DASAR GEOGRAFI: ANTROPOSFER 2011 c. SR = Jumlah penduduk laki – laki x100 Jumlah penduduk perempuan C. Pendapatan per kapita itu dipengaruhi oleh besar kecilnya pendapatan ekonomi nasional dalam satu tahun yang disebut GNP (Gross National Product) dan perkembangan jumlah penduduk.

pengaturan. dan pembatasan usia minimal pernikahan. pengaturan dan pembatasan kelahiran 3) Meratakan persebaran penduduk 4) Memperluas kesempatan kerja 5) Menyelenggarakan pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup 6) Intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian 7) Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi 8) Perluasan industrialisasi 9) Penggunaan tanah untuk pertanian. 1) Perencanaan. 2) Perencanaan. perindustrian.MAKALAH DASAR-DASAR GEOGRAFI: ANTROPOSFER 2011 Beberapa usaha untuk mengatasi permasalahan kependudukan dan lingkungan hidup. 10 .

.

                 WZY`aZY aS WZVaVa  S WZ_a_\WZVaVa WZ_a_\WZVaVaVS\S`VTWVSSZS`S_VaSSUS SZ_WZ_a_VWXSU`[VSZVW a^W WZ_a_VWXSU`[ SVSS\WZY`aZYSZ\WZVaVa S`Sa\WZUSUSSZ\WZVaVa SZY VSaSZ `W^SVS\ _W`S\ [^SZY SZY \SVS cS`a _WZ_a_ VSVSSZ TW^SVS VSS cS S _WZ_a_ WWZ`S^S _WZ_a_ VW a^W SVSS \WZUSUSSZ SZY SZ S VWZSSZ \SVS\WZVaVa SZYTWZS^TWZS^TW^`W\S``ZYYSVSScS S_WZ_a_`W^_WTa`  TWY_`^S_ WY_`^S_ W^a\SSZa\aSZ W`W^SZYSZ WZYWZSWS^SZWS`SZVSZ _WYSSWSVSZ\WZ`ZYSZa_S_SZ S\W^ScZSZ\W^UW^SSZ\WZYSZYS`SZSZS VSZ\W^\ZVSSZ\WZVaVa  Ua^bW a^bW W^a\SSZ \WZUSUSSZ \WZVaVa VWZYSZ US^S WZYST U[Z`[ VSW^S   [\[__ WZVaVaW^VS_S^SZa^VSZ WZ_ WSZ  [\[__ \WZVaVa SVSS \WZYW[\[SZ \WZVaVa S`S_ VS_S^ ^`W^S `W^`WZ`a W^VS_S^SZ WZ_ WSZ \WZVaVa VS\S` VW[\[SZ WZSV \WZVaVa SS VSZ \W^W\aSZ WWZ`S^S TW^VS_S^SZ aa^ \WZVaVa VS\S` VW[\[SZWZa^a`aa^SZ^WZ`SZYa_S`W^`WZ`a_SZ S_S`a`SaZS`SaZ VSZVaS\aaS`SaZ   .

    .

  .

.

     [\[__ \WZVaVa WZa^a` aa^ VSZ WZ_ WSZ VS\S` V_SSZ VSS TWZ`a `STW S`Sa TWZ`a Y^SX ^SX _a_aZSZ \WZVaVa WZa^a` aa^ VSZ WZ_ WSZ\SVS_SS``W^`WZ`a SZYTW^TWZ`a\^SVSV_WTa`\^SVS\WZVaVa ^SVS \WZVaVa VS\S` VY[[ZYSZ W VSS `YS SUS S`a \^SVS \WZVaVaaVS\^SVS\WZVaVa_`S_[ZW^VSZ\^SVS\WZVaVa`aS  S ^SVS \WZVaVa aVS WZaZaSZ TScS \WZVaVa _aS`a ZWYS^S `W^_WTa` _WVSZYWZYSS\W^`aTaSZ T ^SVS \WZVaVa `S_[ZW^ WZaZaSZ TScS \WZVaVa VSS _aS`a ZWYS^S `W^_WTa`WSVSSZ_`S_[ZW^ S`Sa`W`S\ ^SVS\WZVaVaZ WZaZaSZTScS aSWS^SZVSZWS`SZ_WTSZY U ^SVS\WZVaVa`aS WZaZaSZTScS_WTSYSZTW_S^\WZVaVa_aS`aZWYS^S `W^_WTa`TW^SVS\SVSW[\[a_S`aS     W^`aTaSZ \WZVaVa SVSS W_WTSZYSZ VZS_ SZ`S^S            WaS`SZWaS`SZ SZY WZSTS VSZ WaS`SZWaS`SZ SZY WZYa^SZY aS \WZVaVa VS TWTW^S\S XS`[^ SZY W\WZYS^a \W^`aTaSZ \WZVaVa S`a WS^SZ WS`SZ VSZ Y^S_ S`[^ \W^`aTaSZ \WZVaVa WS^SZ VSZ WS`SZ V_WTa` XS`[^ SS _WVSZY Y^S_ V_WTa` XS`[^ Z[ZSS WS^SZ TW^_XS`WZSTS_WVSZYSZWS`SZTW^_XS`WZYa^SZYaS\WZVaVa S`[^ Y^S_ VS\S` WZSTS S`Sa WZYa^SZY aS \WZVaVa Y^S_ SZY TW^_XS` WZSTS V_WTa` Y^S_ S_a Y^S_ VSZ Y^S_ SZY TW^_XS` WZYa^SZY V_WTa`Y^S_WaS^WY^S_           .

    .

  .

.

      WZYaa^ W^`aTaSZ WZVaVa S W^`aTaSZ WZVaVaSZS`a^SZU^WS_W W^`aTaSZ\WZVaVaSSSVSS_W_aSWS^SZVWZYSZaSWS`SZ  Ê  [Z`[ W`SaaSWS^SZ\WZVaVa[`SWS_\SVS`SaZ % cSVSZSZYSWS`SZZ S  Ê  cS SVSS  cS  SVSS cSW^S\SS\W^`aTaSZSSZ S %   W^`aTaSZ\WZVaVa[`SWS_`SaZ T W^`aTaSZ WZVaVa[`S W^`aTaSZ \WZVaVa `[`S W\W^`aZYSZ Y^S_ Y^S_ VSZ WY^S_VWZYSZ^aa__WTSYSTW^a`  Ê  Ê [Z`[ W`SaaSWS^SZ\WZVaVa[`SWS_\SVS`SaZ cSVSZSZYSWS`SZZ S  %       ^[ W_ WZVaVa aS\WZVaVaVS_S SZYSSZVS`SZYVS\S`V`aZYS`SaV\^[ W_SZ WZYWZSaS\WZVaVaS_S SZYSSZVS`SZY_SZYS`\WZ`ZY Z [ ^Z         SVSS%   cS aS Y^S_  cS cSVSZWY^S_  cSW^S\SS\W^`aTaSZ`[`SZ S Ê    cS   cS    Ê  W^`aTaSZ\WZVaVa`[`S[`SWS_`SaZ .

    .

  .

.

      WS^SZZS`S`S_ S S`[^XS`[^\^[ZS`S`S_   ScZa_SaVS  ZYS`W_WS`SZ  ZYYS\SZTSZ SSZSTSZ S^W W  T S`[^XS`[^SZ`ZS`S`S_   WTS`S_SZaa^WZS   ^[Y^S WaS^YSW^WZUSZS   WTS`S_SZ`aZSZYSZSZS  ZSW^a\SSZTWTSZ  WZYaa^SZWS^SZVS\S`VSaSZWSaTWTW^S\SUS^S  ZYS WS^SZ S_S^ ZYSWS^SZS_S^U^aVWT^`^S`WV_ZYS`WZaZaSZaS WS^SZ`S\  \WZVaVa_W`S\`SaZVWZYSZ^aa__WTSYSTW^a`      ZYS WS^SZ WZa^a`a^ S^S\WZYaa^SZWS^SZW`[VW_W^ZYSa^SZYWaS_SZS^WZS `VSW\W^S`SZ\WTSYSZWZa^a`WZ_WSZVSZWZa^a`Y[[ZYSZaa^        WS`SZ[^`S`S_ S S`[^XS`[^SZ`[^`S`S_ S`W^_WVSZ SXS_`S_W_WS`SZ SZYWSVS TZYaZYSZ SZYTW^_VSZ`W^S`a^ USVSZ SSS^SZSYSS SZYWS^SZYTaZa^V^VSZ V`ZYS`W_WS`SZS_ S^SS` SZY`ZYY_WZYYS\WZVaVa`VS aVS`W^_W^SZY\WZ S`       .

    .

  .

.

     T S`[^XS`[^\^[[^`S`S_ Sa^SZYZ SW_SVS^SZS_ S^SS`SSZ\WZ`ZYZ SW_WS`SZ TXS_`S_W_WS`SZ SZYa^SZYWSVS_SZ Sa^SZYZ S^aS _S`\W^SS`SZW_WS`SZVSZ[TS`[TS`SZ U_W^ZYZ S`W^SVWUWSSSZSaZ`S_ VSVSZ STWZUSZSSS SZYWZ`S[^TSZcS W`W^SVZ S\W\W^SZYSZ  WZYaa^SZWS`SZVS\S`VSaSZWSaTWTW^S\SUS^S ZYS WS`SZ S_S^ ZYSWS`SZS_S^U^aVWVWS`^S`WÈSVSSSZYS SZYWZaZaSZ aSWS`SZ_W`S\  \WZVaVa_W`S\`SaZVWZYSZ^aa__WTSYSTW^a`      ZYS WS`SZ WZa^a`a^ ZYSWS`SZ WZa^a`aa^YW \WUXUWS`S`W È SVSS SZYS SZY WZ S`SSZ TSZ SZ S WS`SZ \SVS W[\[ aa^ `W^`WZ`a _W`S\  \WZVaVaVSSW[\[aa^ SZY_SS                  S`[^XS`[^ SZY W\WZYS^a \WZ WTS^SZ VSZ W\SVS`SZ \WZVaVa `S\`S\ VSW^SS`SaZWYS^SSVSS_WTSYSTW^a`  S S`[^ _[Y^SX_ WZVaVa_WSaW`W\S``ZYYS SZYTS_`^S`WY_`SZS_aTa^^WWX TSUaa\S^VSZVSW^SZ SSSZ  T S`[^[[Y ZYS`\W^`aTaSZ\WZVaVaV_W`S\VSW^SSVSSTW^TWVSTWVSS^WZS SVSZ S\W^TWVSSZ`ZYS`WS`SZ`ZYS`WS^SZVSZSZYS\W^ScZSZ    .

    .

  .

.

     U S`[^ WTaVS SSZVSZWZ[[Y SW^S SZY S_ S^SS`Z S Sa \[S TW^\^Z S TSYa_ VSZ WSVSSZ \WTSZYaZSZ X_Z S Sa SSZ `aTa WT UW\S` VTSZVZYSZ VWZYSZ VSW^S SZY`W^TWSSZY  W\SVS`SZ\WZVaVaVS\S`VTWVSSZS`S_VaSSUS  W\SVS`SZ\WZVaVaS^`S` S`aaS^S`S^S`S\WZVaVa_W`S\   W\SVS`SZ WZVaVa^`S` aS_cS S% aS\WZVaVacS  W\SVS`SZ\WZVaVaSY^S^_ S`aaS^S`S^S`S\WZVaVa\W`SZ_W`S\`SaZ aS_SSZ\W^`SZSZ  W\SVS`SZ WZVaVaY^S^_ aS\WZVaVa\W`SZ  aS_SSZ\W^`SZSZ                      .

    .

  .

.

                                 S aS`S_ WZVaVa WZa^a`ZYS` WZVVSZ WZa^a` `ZYS` \WZVVSZZ S \WZVaVa VS\S` VW[\[SZ WZSV \WZVaVa SZY Ta`S a^aX VSZ SZY WW a^aX WTW^S\S S SZY WZ WTSTSZ ^WZVSZ S`ZYS`\WZVVSZV ZV[ZW_SSVSS_WTSYSTW^a`  S_a^SZYZ SW_SVS^SZS_ S^SS`SSZ\WZ`ZYZ S\WZVVSZ  WZVS\S`SZ\WZVaVa SZY^WZVSWZ WTSTSZSZS`VSVS\S`WSZa`SZ _W[SS^WZS`VSW\aZ STS S  a^SZYVSZ`VSW^S`SZ S_S^SZS\WZVVSZ  Z`a WZSSZ `ZYS` \WZVVSZ \WZVaVa \WW^Z`S WZYSTSZYSSZYSSZ`S^SSZ_WTSYSTW^a`   WTSZYaZ_W[S_W[STS^a`W^a`SS Z\^W_VVSW^SVSW^S SZYa^SZYaS_W[SZ S  WZYSVSSZ\W^TSSZVSZ\WZSTSSZSS`SS`\^S`aST[^S`[^a \W^\a_`SSSZVSZTaaTaa\WSS^SZ  WZSTSVSZWZZYS`SZaS`S_Ya^a  WZUSZSZYSZ\^[Y^ScSTTWSS^VSZ[^SZY`aSS_a  WTW^SZTWS__cSW\SVSa^Va^V SZYTW^\^W_`S_  WZSSZSZZVSZYZVSZYS_S^  T aS`S_ WZVaVa WZa^a`ZYS` W_WS`SZ WZVaVa _aS`a ZWYS^S VS`SSZ TW^aS`S_ `ZYY S\STS `ZYS` W_WS`SZZ S aYS `ZYY SS a\S S WZSSZ `ZYS` W_WS`SZ S_ S^SS` SZYSSZYS  W\W^TSZ SVSZWZZYS`SZXaZY_^aS_S`\a_W_S_V  WZSTSaS_W^`SWZSSZaS`S_`WZSYSWV_  WZ WWZYYS^SSZ\WZ aaSZW_WS`SZY VSZZYaZYSZ  WZYSVSSZaZ_S_S__S_WUS^Sa^SS`SaY^S`_  WZYSVSSZ [_ SZVa   ZV[ZW_S .

    .

  .

.

     U aS`S_\WZVaVaWZa^a`S`S\WZUSS^SZ\WZVaVa WZYSZWZZYS`Z S`ZYS`\WZVVSZSSaS`S_`WZSYSW^S\aZ WZSVWZZYS`_WZYYSS\SZYSZW^S SZYSVSVS\S``W^_[W`WZSYS W^S SZYTW^aS`S_TS V aS`S_\WZVaVaWZa^a` WZVS\S`SZ WZYS_SZ W_S^Z S\WZYS_SZVS\S`W\WZYS^a`S^SXVa\_W_W[^SZY SZ`ZYY \WZYS_SZSZ`ZYY\aS`S^S\Va\Z S WZVS\S`SZ\W^S\`S`a V\WZYS^a[WTW_S^WUZ S\WZVS\S`SZW[Z[ZS_[ZSVSS_S`a`SaZ SZYV_WTa`  ^[__ S`[ZS ^[VaU`VSZ\W^WTSZYSZaS \WZVaVa  S_[W`W^YSZ`aZYSZVW\WZVWZU ^S`[SVSS_aS`aSZYS SZYWZaZaSZ TW_S^TWTSZ`SZYYaZYSZS`SaTW_S^SZYSW`W^YSZ`aZYSZVS^W[\[a_S \^[Va`X`W^SVS\W[\[`VS\^[Va`X   WVSZYSZW S`[SVSS_aS`aSZYS SZYWZaZaSZaS\WZVaVa SSVTSZVZYSZaS\WZVaVa\W^W\aSZV_aS`acS S   aS\WZVaVaSÊS  aS\WZVaVa\W^W\aSZ            .

   aS\WZVaVaZ STSZ S  W^`aTaSZ\WZVaVaZ SUW\S`  W^_WTS^SZ\WZVaVaZ S SZY`VSW^S`S  [\[__\WZVaVaa^SZYWZYaZ`aZYSZ ^a_a^TSZ_S_`ZYY        aS\WZVaVaa_SaVS aS\WZVaVaa_S`aS   aS\WZVaVaa_S\^[Va`X   .

    .

  .

.

     WTW^S\S a_SS aZ`a WZYS`S_ \W^S_SSSZ W\WZVaVaSZ VSZ ZYaZYSZ Va\   W^WZUSZSSZ\WZYS`a^SZVSZ\WTS`S_SZa_SZS\W^ZSSZ  W^WZUSZSSZ\WZYS`a^SZVSZ\WTS`S_SZWS^SZ  W^S`SSZ\W^_WTS^SZ\WZVaVa  W\W^aS_W_W\S`SZW^S  WZ WWZYYS^SSZ\WZVVSZW\WZVaVaSZVSZZYaZYSZVa\  Z`WZ_XS_VSZW_`WZ_XS_\W^`SZSZ  WZYWTSZYSZa\WZYW`SaSZVSZ`WZ[[Y % W^aS_SZZVa_`^S_S_ % WZYYaZSSZ`SZSaZ`a\W^`SZSZ\W^ZVa_`^SZ         .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful