Anda di halaman 1dari 3

Angka Pernikahan Dini Tinggi, Rawan Cerai

By Republika Newsroom Jumat, 11 September 2009 pukul 06:25:00 JAKARTA--Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan angka pernikahan dini di Indonesia cukup tinggi. Pernikahan dini tersebut memberikan sejumlah dampak negatif, salah satunya cerai. Hal tersebut dikatakan oleh Ketua KPAI Hadi Supeno. Ia mengatakan jumlah sebenarnya jauh lebih besar dibanding yang muncul di permukaan. Menurut data dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dari 2 juta perkawinan sebanyak 34,5 persen kategori pernikahan dini. Data pernikahan dini tertinggi berada di Jawa Timur. Bahkan lebih tinggi dari angka rata-rata nasional yakni mencapai 39 persen. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susilahati, mengatakan angka pernikahan dini tidak hanya terjadi dikota tetapi mewabah didesa-desa. "Secara sosiologis, perempuan desa tidak seperti perempuan kota. Mereka tidak memiliki aktivitas dan visi yang muluk-muluk karena memang kondisinya tidak mendukung," katanya. Karena itu, pihak KPAI melarang adanya pernikahan dini. Pasalnya, pernikahan dini ini menimbulkan efek negatif. "Dari perspektif psikologis, pernikahan dini dapat menimbulkan disharmoni keluarga," ujarnya dalam Diskusi Publik Humanisasi Perkawinan: Transformasi Menuju Indonesia Zero Tolerance Perkawinan Usia Anak di Gedung KPAI Jakarta, Kamis (10/9). Hal ini terjadi karena emosi yang bersangkutan masih labil dan pola pikir yang masih belum matang. Melihat pernikahan dini dari berbagai aspeknya memang mempunyai banyak dampak negatifnya. "Oleh karenanya pemerintah hanya mentolerir pernikahan diatas umur 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita," ujar Susilahati. Dampak lainnya, kata Susilahati, perkawinan dini juga menyebabkan angka kematian ibu melahirkan meningkat secara signifikan. "Demikian pula pernikahan dini berkorelasi positif dengan meningkatnya angka kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, perdagangan manusia, jumlah anak terlantar, meningkatnya angka perceraian dan pengangguran," jelasnya.

Ditambah lagi ada dua hukum yang saling berlawan, yakni hukum agama dan hukum negara. Dimana pernikahan yang dilakukan melewati batas minimal Undang-undang perkawinan secara hukum negara tidak sah. Dalam negara pernikahan dini dibatasi umur. Sementara dalam kaca mata agama pernikahan dini, yakni pernikahan yang dilakukan oleh orang yang belum baligh. Karena itu, lanjut Susilahati, kita perlu menyikapi serius soal pernikahan dini. Pemerintah diharap mengawal ketat UU Perkawinan yang mengatur batas usia perkawinan. Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Aisyah Aminy, mengatakan terjadinya pernikahan dini juga tidak lepas dari keberadaan orang-orang yang berperan dalam pelaksanaan pernikahan tersebut. Orang-orang tersebut adalah orang yang menganggap perkawinan pada usia dini tidak melanggar aturan agama maka mereka dapat melaksanakan walaupun tidak sejalan dengan peraturan perundang-undangan apalagi ditambah dengan alasan daripada mereka melakukan zina. Aisyah mengakui dalam ayat Al-quran tidak ada batas umur untuk dapat menikah yang disebutkan secara tegas. Tak hanya itu di hadist Rasullulah pun tidak ada. "Adanya batasan umur 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan seperti yang tertuang dalam pasal 7 UU perkawinan adalah merupakan hasil kajian dan pertimbangan para tokoh masyarakat, ulama dan cendikiawan," ungkapnya. Aisyah mengajak masyarakat juga perlu meningkatkan pemahaman tentang peraturan perkawinan. Pasalnya, selama ini undang-undang tentang perkawinan belum sepenuhnya dimengerti dan dipahami. she/ah http://rol.republika.co.id/berita/75769/Angka_Pernikahan_Dini_Tinggi_Rawan_Cerai

Pernikahan Usia Dini Terbanyak di Jabar


BANDUNG--MI: Di antara lima provinsi di pulau Jawa, Jawa Barat menduduki peringkat pertama untuk urusan pernikahan dini. Hal tersebut berbanding lurus dengan tingginya angka kematian ibu melahirkan dan angka percerian di tanah Pasundan. Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jabar Rukman Heryana mengungkapkan, dari 1.000 perempuan subur usia 15 tahun-19 tahun di Jabar, yang menikah 100 orang atau 10%. Dari jumlah tersebut, sebanyak 80 orang hamil. Angka

itu cukup jauh dengan Jawa Tengah di diperingkat kedua, dimana dari 1000 perempuan usia subur, 80 orang di antaranya menikah, dan 50 orang hamil. Dimasukkan: 1 tahun 8 bulan 20 hari lalu oleh margareth http://www.lintasberita.com/Nasional/Berita-Lokal/pernikahan-usia-dini-terbanyak-dijabar