Anda di halaman 1dari 8

Trikoma

Trikoma merupakan salah satu alat tumbuhan atau derivate dari jaringan epidermis. Trikoma atau rambut daun banyak ditemukan di tulang helaian daun, di biji, dan ada juga yang terdapat di buah yang disebut dengan rambut buah. Berdasarkan ada tidaknya fungsi sekresi, trikoma dibedakan menjadi : Trikoma glanduler, yaitu trikoma yang memeiliki secret dan berfungsi untuk sekresi. Trikoma non glanduler, yaitu trikoma yang tidak memiliki secret dan tjuga tidak memiliki fungsi sekresi. Sedangkan berdasarkan jumlah sel penyusunnya, trikoma dibedakan menjadi : Uniseluler, umumnya trikoma uniseluler tidak bercabang. Namun adakalanya yang bercabang. Multiseluler, pada trikoma ini ada yang cabangnya seperti pohon, ada yang memanjang, dan ada juga yang mendatar. Trikomamemiliki fungsi spesifik terhadap masing-masing organ tumbuhan. Antara lain: Pada akar Berfungsi untuk menyerap air dan unsure-unsur hara. Pada epidermis daun Berfungsi untuk memgurangi besarnya penguapan. Rambut gatal yang berfungsi untuk mengurangi gangguan yang disebabkan oleh hewan maupun manusia. Pada biji Membuat biji menjadi ringan, sehingga memudahkan menerbangkan biji dan membantu penyerbukan. Karena mudah diserap air, sehingga mempercepat pertumbuhan biji, Mencegah serangga yang akan merusak biji. Pada bunga Nektaria, akan menghasilkan madu untuk menarik perhatian serangga yang nantinya akan membantu dalam penyerbukan, Pada kepala putik, akan mengekuarkan zat perekat sehingga serbuk sari akan mudah melekat. Pada batang Mengurangi besarnya penguapan air, Mempermudah untuk memanjat. Pada praktikumku di semester 2 ini, trikoma yang aku amati adalah trikoma yang letaknya di epidermis daun. Sehingga bagian yang nantinya akan disayat dan diamati adalah tulang helaian daun. Bahan-bahan yang dipergunakan antara lain sebagai berikut: Daun Hibiscus rosa-sinensis (Daun bunga sepatu) Daun Datura metel (Kecubung) Daun Vernonia cinerea (sejenis daun berbunga ungu) Daun Morus alba (Murbei) Daun Durio zibethinus (Daun durian) Daun Orthosiphon sp (Kumis Kucing) Daun Artocarpus communis (Daun Keluwih) Daun Arachis Hipogea (Daun Kacang Panjan g) Dari hasil pengamatan, diperoleh gambar sebagai berikut. Daun Hibiscus rosa-sinensis (Daun bunga sepatu) Daun Hibiscus rosa-sinensis memiliki bentuk trikoma jenis bintang yang multiseluler, di dalam selnya masing-masing terdapat sistolit yang berfungsi untuk fungsi sekresi. Sehingga

trikoma ini termasuk dalam trikoma glanduler. Selain itu, Daun bunga sepatu ini memiliki jenis trikoma lain, yaitu trikoma jenis rambut uniseluler. Daun Datura metel (Kecubung) Daun Datura metel memiliki jenis trikoma rambut yang multiseluler, dan di dalamnya terdapat sistolit seperti halnya yang terdapat pada Hibiscus rosa-sinensis. Trikoma ini berjenis glanduler. Selainitu juga ditemukan trikoma bentuk lain, yaitu trikoma bentuk globoid multiseluler yang bentuknya hampir bulat. Daun Vernonia cinerea (sejenis daun berbunga ungu) Daun ini memiliki trikoma bentuk T, namun di dalam sel trikoma tersebut tidak terdapat sistolit sehingga masuk dalam trikoma nongalanduler. Selain itu juga ditemukan trikoma bentuk rambut multiseluler dalam daun ini. Daun Morus alba (Murbei) Morus alba memiliki bentuk trikoma rambut uniseluler, dimana terdapat sistolit dalam sel trikomanya. Hal ini menandakan bahwa dia termasuk dalam trikoma jenis glanduler. Daun Durio zibethinus (Daun durian) Daun durian memiliki rikoma bentik sisik, dengan warna cokalat sedikit ke-oranye-an. Selnya termasuk multiseluler karena berjumlah banyak. Di dalam selnya tidak ditemukan adanya sistolit, sehingga termasuk dalam trikoma nonglanduler. Selain itu juga ditemukan trikoma bentuk bintang multiseluler, yang di dalamnya tidak ditemukan adanya sistolit juga. Daun Orthosiphon sp (Kumis Kucing) Daun orthosiphon sp memiliki bentuk trikoma rambut multiseluler. Di dalam preparat terlihat jelas bawa dalam satu sel tangkainya, terdapat 4 kepala, yang menandakan bahwa selnya adalah multiseluler. Selain itu juga ditemukan trikoma bentuk globoid yang juga multiseluler. Trikoma ini termasuk glanduler karena di dalam selnya terdapat sistolit. Daun Artocarpus communis (Daun Keluwih) Daun Keluwih memiliki bentuk trikoma rambut uniseluler, di dalamnya terdapat sistolit . Trikoma ini berjenis glanduler. Daun Arachis Hipogea (Daun Kacang Panjan g) Daun ini memiliki trikoma bentuk rambut, denga sel kepalanya yang berjumlah lebih dari satu. Sehingga termasuk dalam multiselulr. Selain itu juga terdapat trikoma bentuk globoid multiseluler. Kedua bentuk trikoma ini termasuk galanduler Karena memiliki sistolit di dalamnya.

STRUKTUR TUMBUHAN
Posted Mei 18, 2008 by khairuddinhsb in BIOLOGI. 8 Komentar BAB I STRUKTUR TUMBUHAN A. Jaringan pada Tumbuhan Berdasarkan Asal Pembentukannya 1. Jaringan Primer jaringan yang berasal dari titik tumbuh primer (Prokambium = meristem primer). Contoh jaringan primer misalnya epidermis, korteks, xilem primer, floem primer, kambium dan empulur. Pertumbuhannya disebutpertumbuhan primer, contohnya akar menjadi panjang, batang menjadi tinggi dan daun menjadi lebar. 2. Jaringan sekunder Jaringan ynag terbentuk akibat aktivitas titik tumbuh sekunder (meristem sekunder). Pertumbuhannya disebut pertumbuhan sekunder. Ada pada Gymnospermae dan dikotil. Titik tumbuh sekunder meliputi : a. Kambium vasis : ke arah luar membentuk floem sekunder fan ke arah dalam membentuk xilem sekunder. b. Kambium Intervasis : membentuk jari-jari empulur. c. Perikambium (perisikel): membentuk cabang pada akar dan batang. d. Kambium gabus (felogen) : berfungsi untuk menutup luka. B. Macam-macam jaringan Tumbuhan Berdasarkan Type Sel Penyusun 1. Jaringan Epidermis Jaringan epidermis adalah jaringan yang menutupi seluruh permukaan tubuh tumbuhan. a. Ciri-ciri epidermis: Letak sel rapat Selnya hidup Tidak berklorofil, kecuali sel penjaga dari stomata. Tidak dapat ditembus air dari luar, kecuali epidermis akar muda. Dapat ditembus udara. Dalam hal tertentu epidermis dapat menguapkan air. b. Fungsi epidermis: Sebagai pelindung. Tempat masuknya air dan mineral pada akar muda. Untuk keluar masuknya O2 dan CO2. Epidermis daun untuk trasnpirasi. c. Modifikasi epidermis: Stomata Bulu daun Bulu akar 2. Jaringan pengisi atau jaringan dasar (Parenkim) Jaringan yang menempati di berbagai organ atau jaringan lain dalam tubuh tanaman. a. Ciri-ciri jaringan parenkim: Selnya hidup Dinding sel tipis Letak sel tidak merapat Ukuran sel besar Contoh jaringan Parenkim adalah: Korteks batang dan akar yang terletak di sebelah dalam epidermis.

Klorenkim yaitu jaringan korteks berklorofil. Batang kaktus mempunyai klorenkim disebut juga dengan daging daun, terbagi atas: jaringan palisade (jaringan tiang/ pagar) dan jaringan spon (jaringan bunga karang). b. Fungsi Parenkim: Jaringan yang berklorofil untuk berfotosintesis. Untuk transportasi ekstrafasikuler Tempat penyimpanan makanan cadangan. 3. Jaringan penyokong atau jaringan penunjang Merupakan jaringan yang menyokong dan mengokohkan tubuh tumbuhan. Jaringan penyokong pada tumbuhan adalah: a. Jaringan Kolenkim: Selnya hidup Dindingnya selulosa Fungsinya mengokohkan batang yang muda yang belum berkayu. b. Jaringan sklerenkim: Selnya mati Dindingnya lignin (zat kayu). Jenis sklerenkim: 1. Sklereid (sel batu): Bentuk bulat pendek Tahan tekanan Lignin Misalnya pada tempurung kelapa dan tempurung kenari 2. Sklerenkim: Selnya mati Bentuknya panjang Tahan tarikan Misalnya pada permukaan batang. 4. Jaringan gabus Pada tumbuhan dikotil, jarinan ini dibentuk oleh kambium gabus (felogen). Ke arah luar membentuk felem (mati) dan ke arah dalam membentuk feloderm (hidup). Jaringan ini berfungsi untuk melindungi jaringan dibawahnya agar tidak kehilangan air terlalu banyak. 5. Jaringan Pengangkutan atau transportasi Jaringan pengangkut terdiri atas xilem (pembuluh kayu) dan floem (pembuluh tapis). Xilem tersusun oleh sel-sel: a. Tracheid: Selnya mati Dindingnya lignin Penyekatnya miring berpori b. Trachea: Selnya mati Dindingnya lignin Dinding melintangnya berdifusi (membaur) Fungsi Xilem : Alat transportasi zat anorganik (mineral ) dan air Mengokohkan tumbuhan Pembuluh floem (tapis): Selnya hidup tak berinti Berdinding selulosa

Sekatnya berpori Fungsi floem adalah sebagai alat transportasi zat anorganik (hasil asimilasi). Persatuan antara xilem dan floem akan berbentuk ikatan pembuluh. Type-type ikatan pembuluh: 1. Konsentris Amfivasal bila xilem mengelilingi floem. Amfkribal bila floem mengelilingi xilem contoh: pada akar dan batang tumbuhan paku. 2. Kolateral bila floem berada di sebelah luar dan xilem berada di sebelah dalam Kolateral tertutup, tersusun acak, pada batang monokotil. Kolateral terbuka, tersusun teratur, pada batang dikotil 3. Bikolateral bila xilem diapit oleh floem yaitu dengan xilem di tengan seperti bintang. contoh pada akar dikotil. 4. Radial bila letak xilem dan floem berselang-seling secara radial. contoh pada akar monokotil. BAB II ORGAN TUMBUHAN A. Batang Batang merupakan bagian dari tumbuhan yang amat penting, dan mengingat serta kedudukan batang bagi tubuh tumbuhan, batang dapat disamakan dengan sumbu tubuh tumbuhan. Pada umumnya batang mempunyai sifat-sifat berikut : 1. Umumnya berbentuk panjang bulat seperti silinder atau dapat pula mempunyai bentuk lain, akatetapi selalu bersifat aktinomorf 2. Terdiri atas ruas-ruas yang masing-masing dibatasi oleh buku-buku dan pada buku-buku inilah terdapat daun. 3. Biasanya tumbuh ke atas menuju cahaya atau matahari (bersifat fototrop atau heliotrop) 4. Selalu bertambah panjang di ujungnya, oleh sebab itu sering dikatakan, bahwa batang mempunyai pertumbuhan yang tidak terbatas. 5. Mengadakan percabangan dan selama hidupnya tumbuhan, tidak digugurkan, kecuali kadang-kadang cabang atau ranting yang kecil. 6. Umumnya tidak berwarna hijau, kecuali tumbuhan yang umurnya pendek, misalnya rumput dan waktu batang masih muda. Terdapat perbedaan antara batang dikotil dan monokotil dalam susunan anatominya. 1. Batang Dikotil Pada batang dikotil terdapat lapisan-lapisan dari luar ke dalam : a. Epidermis Terdiri atas selaput sel yang tersusun rapat, tidak mempunyai ruang antar sel. Fungsi epidermis untuk melindungi jaringan di bawahnya. Pada batang yang mengalami pertumbuhan sekunder, lapisan epidermis digantikan oleh lapisan gabus yang dibentuk dari kambium gabus. b. Korteks Korteks batang disebut juga kulit pertama, terdiri dari beberapa lapis sel, yang dekat dengan lapisan epidermis tersusun atas jaringan kolenkim, makin ke dalam tersusun atas jaringan parenkim. c. Endodermis

Endodermis batang disebut juga kulit dalam, tersusun atas selapis sel, merupakan lapisan pemisah antara korteks dengan stele. Endodermis tumbuhan Anguiospermae mengandung zat tepung, tetapi tidak terdapat pada endodermis tumbuhan Gymnospermae. d. Stele/ Silinder Pusat Merupakan lapisan terdalam dari batang. Lapis terluar dari stele disebut perisikel atau perikambium. lkatan pembuluh pada stele disebut tipe kolateral yang artinya xilem dan floem. Letak saling bersisian, xilem di sebelah dalam dan floem sebelah luar. Antara xilem dan floem terdapat kambium intravasikuler, pada perkembangan selanjutnya jaringan parenkim yang terdapat di antara berkas pembuluh angkut juga berubah menjadi kambium, yang disebut kambium intervasikuler. Keduanya dapat mengadakan pertumbuhan sekunder yang mengakibatkan bertambah besarnya diameter batang. Pada tumbuhan Dikotil, berkayu keras dan hidupnya menahun, pertumbuhan menebal sekunder tidak berlangsung terus-menerus, tetapi hanya pada saat air dan zat hara tersedia cukup, sedang pada musim kering tidak terjadi pertumbuhan sehingga pertumbuhan menebalnya pada batang tampak berlapis-lapis, setiap lapis menunjukkan aktivitas pertumbuhan selama satu tahun, lapis-lapis lingkaran tersebut dinamakan Lingkaran Tahun. 2. Batang Monokotil Pada batang Monokotil, epidermis terdiri dari satu lapis sel, batas antara korteks dan stele umumnya tidak jelas. Pada stele monokotil terdapat ikatan pembuluh yang menyebar dan bertipe kolateral tertutup yang artinya di antara xilem dan floem tidak ditemukan kambium. Tidak adanya kambium pada Monokotil menyebabkan batang Monokotil tidak dapat tumbuh membesar, dengan perkataan lain tidak terjadi pertumbuhan menebal sekunder. Meskipun demikian, ada Monokotil yang dapat mengadakan pertumbuhan menebal sekunder, misalnya pada pohon Hanjuang (Cordyline sp) dan pohon Nenas seberang (Agave sp). B. Daun Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari batang, umumnya berwarna hijau dan terutama berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari melalui fotosintesis. Daun merupakan organ terpenting bagi tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena tumbuhan adalah organisme autotrof obligat, ia harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui konversi energi cahaya menjadi energi kimia. Bentuk daun sangat beragam, namun biasanya berupa helaian, bisa tipis atau tebal. Gambaran dua dimensi daun digunakan sebagai pembeda bagi bentuk-bentuk daun. Bentuk dasar daun membulat, dengan variasi cuping menjari atau menjadi elips dan memanjang. Bentuk ekstremnya bisa meruncing panjang. Daun juga bisa bermodifikasi menjadi duri (misalnya pada kaktus), dan berakibat daun kehilangan fungsinya sebagai organ fotosintetik. Daun tumbuhan sukulen atau xerofit juga dapat mengalami peralihan fungsi menjadi organ penyimpan air Warna hijau pada daun berasal dari kandungan klorofil pada daun. Klorofil adalah senyawa pigmen yang berperan dalam menyeleksi panjang gelombang cahaya yang energinya diambil dalam fotosintesis. Sebenarnya daun juga memiliki pigmen lain, misalnya karoten (berwarna jingga), xantofil (berwarna kuning), dan antosianin (berwarna merah, biru, atau ungu, tergantung derajat keasaman). Daun tua kehilangan klorofil sehingga warnanya berubah menjadi kuning atau merah (dapat dilihat dengan jelas pada daun yang gugur). Anatomi daun dapat dibagi menjadi 3 bagian : 1. Epidermis Epidermis merupakan lapisan terluar daun, ada epidermis atas dan epidermis bawah, untuk mencegah penguapan yang terlalu besar, lapisan epidermis dilapisi oleh lapisan kutikula. Pada epidermis terdapat

stoma/mulut daun, stoma berguna untuk tempat berlangsungnya pertukaran gas dari dan ke luar tubuh tumbuhan. 2. Parenkim/Mesofil Parenkim daun terdiri dari 2 lapisan sel, yakni palisade (jaringan pagar) dan spons (jaringan bunga karang), keduanya mengandung kloroplast. Jaringan pagar sel-selnya rapat sedang jaringan bunga karang sel-selnya agak renggang, sehingga masih terdapat ruang-ruang antar sel. Kegiatan fotosintesis lebih aktif pada jaringan pagar karena kloroplastnya lebih banyak daripada jaringan bunga karang. 3. Jaringan Pembuluh Jaringan pembuluh daun merupakan lanjutan dari jaringan batang, terdapat di dalam tulang daun dan urat-urat daun.

Gbr. Jaringan daun. C. Akar Akar adalah bagian pokok di samping batang dan daun bagi tumbuhan yang tubuhnya telah merupakan kormus. Akar tersusun dari jaringan-jaringan berikut : 1. epidermis 2. parenkim 3. endodermis 4. kayu 5. pembuluh (pembuluh kayu dan pembuluh tapis) dan 6. kambium pada tumbuhan dikotil. Permukaan akar seringkali terlindung oleh lapisan gabus tipis. Bagian ujung akar memiliki jaringan tambahan yaitu tudung akar. Ujung akar juga diselimuti oleh lapisan mirip lendir yang disebut misel (mycel) yang berperan penting dalam pertukaran hara serta interaksi dengan organisme (mikroba) lain. Akar yang ditumbuhkan dalam hidroponik. Sifat-sifat akar: Merupakan bagian tumbuhan yang biasanya terdapat di dalam tanah, dengan arah tumbuh ke pusat bumi (geotrop) atau menuju ke air (hidrotrop), meninggalkan udara dan cahaya. tidak berbuku-buku, jadi juga tidak beruas dan tidak mendukung daun-daun atau sisik-sisik maupun bagian-bagian lainya. warna tidak hijau, biasanya keputih-putihan atau kekuning-kuningan. tumbuh terus pada ujungnya, tetapi umumnya pertumbuhannya masih kalah pesat jika dibandingkan dengan bagian permukaan tanah. bentuk ujungnya seringkali meruncing, hingga lebih mudah untuk menembus tanah. Fungsi akar bagi tumbuhan: memperkuat berdirinya tumbuhan. untuk menyerap air dan zat-zat makanan yang terlarut di dalam air tersebut dari dalam tanah.

mengangkut air dan zat-zat makanan yang sudah diserap ke tempat-tempat pada tubuh tumbuhan yang memerlukan. Secara umum, ada dua jenis akar yaitu: 1. Akar serabut. Akar ini umumnya terdapat pada tumbuhan monokotil. Walaupun terkadang, tumbuhan dikotil juga memilikinya (dengan catatan, tumbuhan dikotil tersebut dikembangbiakkan dengan cara cangkok, atau stek). Fungsi utama akar serabut adalah untuk memperkokoh berdirinya tumbuhan. 2. Akar tunggang. Akar ini umumnya terdapat pada tumbuhan dikotil. Fungsi utamanya adalah untuk menyimpan makanan. Modifikasi akar 1. Akar napas. Akar naik ke atas tanah, khususnya ke atas air seperti pada genera Mangrove (Avicennia, Soneratia). 2. Akar gantung. Akar sepenuhnya berada di atas tanah. Akar gantung terdapat pada tumbuhan epifit Anggrek. 3. Akar banir. Akar ini banyak terdapat pada tumbuhan jenis tropik. 4. Akar penghisap. Akar ini terdapat pada tumbuhan jenis parasit seperti benalu Duri sebagai modifikasi daun Pada kaktus dan beberapa tumbuhan daerah kering lainnya (xerofit), duri merupakan modifikasi dari daun. Fungsi metabolisme daun sepenuhnya dilakukan pada epidermis batang dan daun berubah menjadi duri untuk mengurangi transpirasi. DAFTAR PUSTAKA http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/Biologi%202.htm http://ilmupedia.com/ http://3gplus.wordpress.com/ Hidayat, Estiti, 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB Bandung Kartini, Endang, 2003. Anatomi Organ Vegetatif, Malang: UM Malang. Setjo, Susetyoadi, dkk, 2004. Anatomi Tumbuhan. Malang: JICA Tjitrosoepomo, 1989, Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Van Stooms, C.G.G.J, 1975. Flora untuk Sekolah di Indonesia. Jakarta Pusat: PT Pradya Paramita.

Anda mungkin juga menyukai