Anda di halaman 1dari 11

Struktur filsafat

Struktur filsafat yakni penemuan-penemuan dalam bidang filsafat yang telah disusun secara teratur . adapun yang dibicarakan dalam struktur filsafat tidak lain adalah isi filsafat para filsuf yang dibagi pada tiga cabang filsafat: Teori Pengetahuan, Teori Hakikat, dan Teori Nilai. Ketiga cabang besar ini melahirkan cabang-cabang baru yang merupakan anak-anak cabang dari ketiga cabang tadi. Teori Pengetahuan Membahas norma-norma atau teori tentang mendapatkan pengetahuan dan membicarakan bagaimana cara mengatur pengetahuan itu sehingga menjadi benar dan berarti. Yang terpenting dari teori ini adalah membicarakan tentang apa sebanarnya hakikat pengetahuan itu, cara berpikir dan hukum berpikir mana yang harus dipergunakan. Cabang dari teori pengetahuan adalah epistemology dan logika EPISTEMOLOGI Epistemology berasal dari bahasa Yunani, episteme yang berarti knowledge atau pengetahuan dan logy yang berarti teori. Oleh sebab itu epistemology diartikan sebagai teori pengetahuan, atau filsafat ilmu. Terdapat empat persoalan pokok dalam bidang ini: Persoalan pertama adalah tentang definisi pengetahuan. Louis Q.Kattsof mengatakan bahwa sumber pengetahuan manusia ada lima macam, yaitu: (1) Empiris yang melahirkan empirisme; (2) Rasio yang melahirkan aliran Rasionalisme; (3)Fenomena yang melahirkan aliran fenomenologi; (4) intuisi yang melahirkan aliran intusionisme; dan (5) metode ilmiah yang menggabungkan antara aliran rasionalisme dan empirisme. 1. Empirisme Seorang empirisis biasanya berpendapat bahwa kita dapat memperoleh pengetahuan melalui pengalaman. Menurut penganut empirisme, pengetahuan diperoleh dengan perantaraan indera. John Locke, Bapak empirisme dari Britania mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa). Dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi, dan seluruh sisa pengetahuan kita peroleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang dipeoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama dan sederhana. Ia memandang bahwa akal sebagai jenis tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. 2. Rasionalisme Rasionalisme berpendirian bahwa sumbet pengetahuan terletak pada akal.para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, bukannya di dalam diri suatu barang.

Descartes, Bapak dari rasionalisme, berusaha menemukan kebenaran yang tidak dapat diragukan, sehingga dengan memakai metode deduktif dapat disimpulkan semua pengetahuan kita.ia yakin kebenaran-kebenaran semacam itu ada dan bahwa kebenaran-kebenaran tersebut dikenal dengan cahaya yang terang dari akal budi yang tidak dapat diragukan. Dengan demikian akal budi dipahaminya: (1) sebagai jenis perantara khusus untuk mengenali kebenaran, (2)sebagai suatu teknik deduktif yang dapat menemukan kebenaran-kebenaran; artinya dengan melakukan penalaran. Spinoza juga memberikan gambaran yang paling tepat tentang apa yang dipikirkan oleh orang yang menganut rasionalisme. Ia mengatakan dalil-dalil ilmu ukur merupakan kebenarankebenaran yang tidak perlu dibuktikan lagi. Dapat dikatakan, bagi seorang penganut rasionalisme, pengetahuan diperoleh dari kegiatan akal pikiran atau akal budi ketika akal menangkap berbagai hal yang dihadapinya pada masa hidup seseorang. Selain itu dalam hal ini tidak ada penyimpulan yang begitu saja terjadi dari sesuatu yang diketahui seperti pengalaman. Pengalaman hanyalah pelengkap saja bagi akal. Seorang rasionalis tidak memandang pengalaman sebagai hal yang tidak mengandung nilai. Bahkan sebaliknya, ia mungkin mencari pengalaman-pengalanman lain selanjutnya sebagai bahan pembantu atau pendorong dalam penyelidikannya untuk memperoleh kebenaran. 3. Fenomenalisme Immanuel Kant, seorang filsuf Jerman abad ke-18 melakukan pendekatan kembali terhadap masalah sudut pandang yang bersifat empiris dan yang bersifat rasional. Kant membuat uraian lebih lanjut tentang pengalaman. Barang sesuatu bagaimana terdapat dalm dirinya sendiri (Das Ding an Sich) merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman, dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu, kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaan sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak pada kita, artinya pengetahuan tentang gejala (Phenomenon). 4. Intuisionisme Hanya dengan intuisi kita dapat memperoleh pengetahuan tentang kejadian yang langsug, yang mutlak, dan bukannya pengetahuan yang nisbi atau yang ada perantaranya. Intuisi mengatasi sifat lahiriah pengetahuan simbolis yang pada dasarnya bersifat analitis, dan memberikan kepada kita keseluruhan yang bersahaja, yang mutlak tanpa suatu ungkapan, terjemahan atau penggambaran secara simbolis. Salah satu di antera unsure-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang di hayati oleh indera. Dengan demikian, data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan yang dihasikan oleh penginderaan. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah yang menampak belaka, sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan.

Mereka mengatakan, barang sesuatu tidak pernah merupakan seperti yang tampak kepada kita, dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaan yang senyatanya. 5. Metode ilmiah Metode ilmiah mengikuti prosedur-prosedur tertentu yang sudah pasti digunakan dalam usaha memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dihadapi seorang ilmuwan. Metode ilmiah dimulai dengan pengamatan-pengamatan, dan sebagaimana kita lihat, berakhir pula dengan pengamatan-pengamatan. Tetapi permulaan dan akhir ini hanyalah merupakan pembagian yang bersifat nisbi. Dalam melakukan pengamatan, selalu ada masalah yang diamati. Bila suatu masalah sudah diajukan suatu penyelesaian yang dimungkinkan, maka penyelesaian yang diusulkan dinamakan hipotesis. Jadi, hipotesis ialah usulan penyelesaian yang berupa saran dan sebagai konsekuensinya harus dipandang bersifat sementara dan memerlukan verifikasi. Biasanya dimungkinkan adanya sejumlah saran itu. Dalam proses menemukan hipotesis dikatakan bahwa kegiatan akal bergerak keluar dari pengalaman, mencari suatu bentuk, katakanlah, untuk di dalamnya disusun fakta-fakta yang telah diketahui dalam suatu kerangka tertentu. Diharapkan jika fakta fakta yang telah diketahui itu cocok dengan hipotesis yang telah disarankan tersebut, maka segenap yang serupa pasti juga akan cocok dengan hipotesis tadi. Metode penalaran yang bergerak dari suatu perangkat pengamatan yang khusus kebenaran arah suatu pernyataan mengenai semua pengamatan pengamatan yang sama disebut deduksi. Seringkali deduksi dilakukan dengan memakai matematika. Jika suatu hipotesis tertentu benar, maka berarti ada hal0hal tertentu yang diramalkan dan harus demikian keadaannya. Dari sini kita melihat bahwa teknik deduksi yang pada hakikatnya bersifat rasionalistis itu merupakan suatu factor penting di dalam metode ilmiah. Ramalan (prediction), kajian terhadap hipotesis dimulai dengan ramalan yang dilakukan secara hati-hati, sistematis dan dengan sengaja terhadap ramalan-ramalan yang disimpulkan dari hipotesis tertentu. Sifat yang menonjol dari metode ilmiah ialah digunakannya akal dan pengalaman disertai dengan sebuah unsure baru, yaitu hipotesis. Bila suatu hipotesis dikukuhkan kebenarannya oleh conth-contoh yang banyak jumlahnya, maka hipotesis tersebut kemudian dapat dipandang sebagai hukum.

LOGIKA Dilihat dari segi etimologi, perkataan logika berasal dari bahasa Yunani logike (kata sifat), yang berhubungan dengan kata kata benda logo yang artinya pikiran atau kata sebagai pernyataan dari pikiran itu. Hal ini menunjukkan kepada kita adanya hubungan erat antara pikiran dengan kata yang merupakan pernyataannya dalam bahasa. Barpikir adalah suatu kegiatan jiwa untuk mencapai pengetahuan.

Logika secara terminologi mempunyai arti: ilmu yang memberikan aturan-aturan berpikir valid (sahih), artinya ilmu yang memberikan prinsip-prinsip yang harus diikuti supaya dapat berpikir valid (menurut aturan/sahih). Logika dapat digolongkan kebenaran dalm ilmu normative, karena ia tidak membicarakan berpikir sebagaimana seharusnya, juga mengetahui syarat-syarat apa yang harus dipenuhi dalam berpikir mencapai gagasan kebenaran itu. Pokok-pokok persoalan logika adalah pemikiran dan beberapa proses pembantunya. Kebenaran dalam logika dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu kebenaran bentuk dan kebenaran materi. Dari sini logika dibagi kebenaran dalam dua kategori pula; pertama, logika formal (formal logic), atau logika tradisional yang seringkali pula disebut silogisme, dan kedua, logika material (material logic). Kebenaran bentuk dibicarakan dalam logika formal, sedangkan kebenaran materi dibicarakan dalam logika material. Kebenaran bentuk artinya self consistency, maksudnya, bahwa di dalam pikiran itu sendiri tidak terdapat perentangan. Kebenaran materi artinya bahwa di antara pikiran dan benda-benda yang ada di atas dunia terdapat persesuaian. Sebuah argument dikatakan mempunyai kebenaran bentuk bila konklusinya kita tarik dengan aturan-aturan yang berlaku dalam argument tertentu. Dan suatu argument dikatakan mempunyai kebenaran materi jika proporsi-proporsi yang membentuk argument itu sesuai dengan kenytaan sebenarnya. Logika formal membicarakan ketepatan kesimpulan, logika material membuktikan isi keputusan itu. Teori Hakikat Hakikat artinya keadaan yang sebenarnya. Hakikat sebenarnya adalah keadaan sebenarnya dari sesuatu itu, bukan keadaan sementara yang selalu berubah. Teori Hakikat mempunyai cabang sebagai berikut:Ontologi, Kosmologi, Antropologi, Theodecia, Filsafat Agama, Filsafat Hukum, Filsafat Pendidikan, dan lain-lain. ONTOLOGI Ontologi membicarakan hakikat sesuatu yang ada. Ada empat aliran filsafat yang mencoba memberikan jawaban atas persoalan di atas: 1. Materialisme 2. Idealisme 3. Dualism 4. Agnosticisme 1. Materialisme Istilah materialisme dapat diberikan definisi dengan beberapa cara, di antaranya, pertama, materialisme adalah teori yang mengatakan bahwa atom materi yang berada sendiri dan merupakan unsure-unsur yang membentuk alam dan bawah akal dan kesadaran termasuk didalamnya segala proses fisikal merupakan mode materi tersebut dan dapat disederhanakan menjadi unsure-unsur fisik. Kedua, bahwa doktrin alam semesta dapat ditafsirkan seluruhnya dengan sains fisik.

Materialisme modern mengatakan bahwa alam itu merupakan kesatuan material yang tidak terbatas; termasuk di dalamnya segala materi dan energy selalu akan tetap ada, dan bahwa alam adalah realitas yang keras, dapat disentuh, material, objektif, yang dapat diketahui oleh manusia. Materi ada sebelum jiwa, dan dunia material adalah pertama,sedangkan pemikiran tentang dunia adalah kedua. 2. Idealisme Arti idealisme, pertama, seorang yang menerima ukuran moral yang tinggi, estetika, dan agama serta menghayatinya; kedua, orang yang dapat melukiskan dan menganjurkan sesuatu rencana atau program yang belum ada. Arti filsafat dari kata idealisme mengatakan bahwa realitas terdiri atas ide-ide, pikiranpikiran, akal atau jiwa dan bukan benda material dan kekuatan. Idealisme mengandalkan mind sebagai hal yang lebih dahulu daripada materi. Idealisme adalah suatu pandangan dunia atau matefisik yag mengatakan bahwa realitas dasar terdiri atas, atau sangat erat hubungannya dengan ide, pikiran atau jiwa. Kaum idealis menakankan kesatuan organic dari proses dunia. Keseluruhan dan bagianbagiannya tidak dapat dipisahkan kecuali dengan menggunakan abstraksi yang membahayakan, yakni yang memusatkan perhatian terhadap aspek-aspek tertentu dari benda yang mengesampingkan aspek-aspek lain yang sama pentingnya. 3. Dualisme Dualisme adalah aliran filsafat yang mencoba memadukan antara dua paham yang saling bertentangan, yaitu materialismee dengan idealismee. Materialisme mengatakan bahwa materi itulah yang hakikat, sedangkan idea tau ruh bukan hakikat. Sedangkan idealisme sebaliknya, justru ide-lah yang hakikat sedangkan materi bukan hakikat. Dualism mengatakan bahwa baik materi maupun ruh sama-sama hakikat. Materi muncul bukan karena adanya ruh, begitupun ruh bukan karena adanya materi. 4. Agnoticisme Agnoticisme adalah aliran yang mengatakan bahwa manusia tidak mungkin mengetahui hakikat sesuati dibalik kenyataan. Menurut paham ini kemempuan manusia sangat terbatas dan tidak mungkin tahu apa hakikat sesuatu yang ada, baik inderanya maupun oleh pikirannya. KOSMOLOGI Dalam pembicaraan kosmologi ini masalah perbincangan tentang hakikat terdalam dari kenyataan untuk sementara kita tinggalkan. Kita akan membicarakan segi kenyataan yang dinamakan alam fisik Alam fisik atau jagat raya merupakan objek penelitian ilmu-ilmu alam, khususnya fisika. Ini berarti bahwa kosmologi adalah penyelidikan tenteng jagat raya fisik, terdiri dari dua bagian: pertama, penyelidikan filsafat mengenai istilah-istilah pokok yang terdapat dalam fisika, seperti ruang, waktu, dan sebagainya; kedua, pra anggapan yang terdapat dalam fisika sebagai ilmu jagat raya. Terdapat pula segi ketiga dari filsafat fisika, yaitu berupa penyelidikan mengenai susunan ilmu fisika sebagai ilmu dan analisis terhadap metode-metode yang digunakan.

Pada intinya kosmologi ingin mengetahui haikat asal, susunan dan hakikat perubahan, serta hakikat tujuan akhir daripada jagat raya ini. ANTROPOLOGI Cabang antropologi ini akan membicarakan secara khusus tentang manusia. Manusia adalah bagian dari alam yang dipandangan sebagai satuan totalitas. Hakikat manusia adalah jasmani manusia itu sendiri dan bukannya ruhnya. Sebab ruh itu akan hilang apabila badan jasmani yang ditumpanginya telah hancur (mati). Hakikat manusia adalah manusia itu sendiri. Bukan ruh manusia, sebab ruh akan ada jika ada materinya. Adanya istilah ruh manusia karena diketahui adanya materi dinamakan demikian. Dengan demikian, materi itu ada sebelum ada ruhnya. THEODECIA Cabang ini membicarakan tentang dasar-dasar ketuhanan dan hubungan manusia dengan Tuhan berdasarkan logika atau pendapat akal manusia. Theodecia tidak membicarakan Tuhan dari segi agama. Dalam Islam, pembicaraan mengenai Ketuhanan dan Tuhan dengan menggunakan akal disebut kalam. Ilmu tentang Tuhan dan Ketuhanan tersebut ilmu kalam, ilmu tauhid, ilmu aqaid atatu ilmu ushuluddin. Dalam theodecia ini terdapat sejumlah aliran. Aliran-aliran tersebut meliputi aliran: Theisme Aliran ini percaya bahwa Tuhan merupakan pencipta dan pengurus alam ini. Tuhan adalah sebeb bagi yang ada di alam ini.segala-galanya bersanda pada sebab ini. Tuhan adalah dasar dari segala yang ada dan terjadi di alam ini. Monotheisme Monotheisme mengatakan bahwa di seluruh alam ini hanya ada satu Tuhan. Dia adalah pencipta dan pengatur segala yang ada di alam ini.Tidak ada lagi Tuhan selain Dia. Trinitheisme Trinitheisme mengajarkan bahwa Tuhan ada tiga. Ketiga Tuhan ini mempunyai tugas dan fungsi masing-masing. Ada Tuhan Pencipta, Tuhan Pemelihara, dan ada juga Tuhan Pemusnah. Politheisme Politheisme mengatakan bahwa Tuhan atau dewa itu banyak. Pada mulanya dewa-dewa atau Tuhantuhan dalam politheisme mempunya kedudukan yang hampr sama akan tetapi Karena beberapa hal, lambat laun beberapa di antara mereka ada yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggidari dewadewa atau tuahn lainnya Pantheisme Pan berarti seluruh, theis berarti Tuhan. Jadi, Pantheisme mengandung arti seluruh Tuhan. Pantheisme mengajarkan bahwa seluruh ala mini adalah tuhan. Semua yang ada dalam keseluruhannya adalah Tuhan, dan Tuhan adalah semua yang ada dalam alam secara keseluruhan.

Benda-benda yang dapat ditangkap oleh panca indra merupakan bagian dari Tuhan. Pantheisme juga mengajarkan pula bahwa Tuhan (Yang Maha Tinggi) hanya satu dan kekal. Atheisme A berarti tidak. Atheisme berarti (paham) tidak bertuhan. Atheisme mengatakan bahwa tuhan itu sebenarnya tidak ada. Seorang atheis menafikan adanya Tuhan, katena Tuhan tidak pernah menunjukkan dirinya dengan nyata dan jelas kepada manusia. Agnostisisme PahaM ini berada di tengah tengah, agnostisisme tidak menafikan Tuhan secara tegas dan juga tidak mengatakan bahwa Tuhan itu ada. FILSAFAT AGAMA Filsafat agama pokoknya adalah pemikiran filsafat tentang agama. Filsafat agama akan menerangkan masalah agama secara filosofis. Agama yang dimaksud tidak terikat pada satu macam agama saja melainkan agama secara keseluruhan. Filsafat agama membicarakan soal-soal yang secara umum berlaku atau diakui oleh semua agama, seperti soal Tuhan, Iman, dan Ibadat. Agama Agama tidak mudah diberi definisi atau dilukiskan, karena agama menyangkut beberapa bentuk yang bermacam-macam di antara suku-suku dan bangsa-bangsa di dunia. Setiap agama memiliki kesamaan tertentu tentang arti agama. Misalnya, agama ialah aturan Tuhan untuk manusia. Filsafat agama data menafsirkan mengapa agama itu harus merupakan aturan dari tuhan Tuhan Kepercayaan kepada Tuhan merupakan dasar utama dalam paham keagamaan. Sesuatu yang memiliki kekuatan gaib itu disebut Tuhan. Dalam setiap agama, Tuhan merupakan sentral atau pusat perhatian bagi pemeluknya. Iman Iman berarti percaya. Filsafat agama harus dapat memberikan jawaban apa sebenarnya hakikat iman. Perwujudan dari keimanan akan tampak dalam peribadatan-peribadatan yang cara dan bentuknya telah ditentukan oleh agama masing-masing. Ibadat Pada hakikatnya ibadat yang dilakukan oleh setiap pemeluk agama mempunyai tujuan yang sama, yaitu sebagai realisasi dari keimanan, dan pengabdian terhadap Tuhannya. Tugas filsafat agama adalah membahas tentang peranan agama bagi manusia diinjau dari sudut filosofis dan bukan dari sudut ajaran atau wahyu yang diajarkan oleh suatu agama.

FILSAFAT HUKUM Ilmu pengetahuan hukum hanya melihat apa yang dapat dilihat dengan panca indera, bukan melihat dunia hukum yang tidak dapat dilihat, yang tersembunyi di dalamnya. Ilmu hukum semata-mata melihat hukum dan sepanjang ia menjelma dalam perbuatan-perbuatan manusia, dalam kebiasaankebiasaan hukum, kaidah hukum, sebagai pertibangan nilai terletak di luar pandangannya. Ketika pekerjaan ilmu pengetahuan hukum berakhir, maka ketika itulah filsafat hukum mulai bekerja. Filsafat hukum mempelajari pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab oleh pengetahuan hukum. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa ahli filsafat hukum pada hakikatnya lebih suka mempelajari pertanyaan-pertanyaan yang terpenting. Apa yang dimaksud dengan hukum itu adalah merupakan pula suatu penilaian dalam mana pandangan seseorang penyelidik memegang peranan penting, keadaan waktu dapat mempengaruhi pandangan itu,pertanyaan-pertanyaan yang timbul mendesak pada tiaptiap manusia yang memikirkan keadilan dan ketidakadilan, dan yang juga dipelajari oleh ahli-ahli pikir yang besar pada setiap jaman. FILSAFAT PENDIDIKAN Dalam filsafat pendidikan kita tidak mengklasifiksaikan antara satu bentuk pendidikan dengan yang lainnya, tetapi kita membahasnya secara keseluruhan dan mendalam. Pada hakikatnya pendidikan merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih baik. Dengan demikian tujuan pendidikan tidak lain adalah demi terwujudnya manusia yang berkualitas dan baik. Teori Nilai Teori nilai merupakan kerangka ketiga dalam tiga kerangka besar filsafat: teori pengalaman, teori hakikat dan teori nilai. Teori nilai mencakup dua cabang filsafat yang cukup terkenal: etika dan estetika. Kedua-duanya membicarakan soal nilai. Nilai artinya harga. Pada umumnya orang mengatakan bahwa nilai pada benda, namun ada juga yang berpendapat bahwa nilai itu ada diluar benda. ETIKA Tugas Etika Etika merupakan penyelidikan filsafat mengenai kewajiban-kewajiban manusia serta tingkah laku manusia dilihat dari segi baik dan buruknya serta tingkah laku tersebut. Sifat Dasar Etika Etika mempunyai sifat yang sangat mendasar, yaitu sifat kritis. Etika mempersoalkan normanorma yang dianggap berlaku; menyelidiki dasar norma-norma itu; mempersoalkanhak dari setiap lembaga. Etika menuntut orang agar bersikap rasional terhadap semua norma. Etika akhirnya membantu manusia menjadi lebih otonom.

Objek Etika Objek penyelidikan etika adalah pernyataan moral yang merupakan perwujudan dari pandangan dan persoalan dalam bidang moral. Pdad dasarnya ada dua macarm pernyataan. Pertama, pernyataan tentang tindakan manusia. Kedua, pernyataan tentang manusia itu sendiri. Metode Etika Ada empat macam pendekatan dalam menilai suatu pendapat moral yaitu: 1. Pendekatan empiris desktiptif dapat menyelidiki, seperti apa pendapat umum d Indonesia, sejak kapan pendapat itu berlaku. Dapat pula menyelidiki cirri-ciri dalam jiwa orang-orang yang sependapat. Penyelidikan seperti itu diandaikan dalam etika khusus, yaitu yang mempersoalkan norma-norma moral tertentu, tetapi belum termasuk etka sendidi, melainkan merupakan tugas ilmu empiris yang bersangkutan seperti psikologi, sosiologi, antropologi, dan lain-lain. 2. Pendekatan fenomenologis memperlihatkan bagaimana kiranya kesadaran seseorang yang sependapat bahwa ia berkewajiban untuk pernikahannya. Fenomenologis kesadaran moral adalah dasar dari salah satu pokok etika. 3. Pendektan normative. Melalui pendekatan ini dipersoalkan apakah suatu norma moral yang diterima umum memang tepat ataukah sebetulnya tidak berlaku atau malah harus ditolak. 4. Pendekatan analisis bahasa moral, merupakan tugas dari apa yang disebut metaetka. Metaetika berusaha untuk mencegah kekeliruan dan kekaburan dalam penyelidikan fenomenologis dan normative dengan cara mempersoalkan arti tepat dari istilah moral. Etika Normatif Dalam uraian dibawah ini dibicarakan jawaban-jawaban pokok yang diajukan atas pertanyaan: menurut norma mana kita seharusnya bertindak? , untuk menjawab pertanyaan tersebut maka dikemukakan beberapa teori, yakni: Teori deontologist (kata ini berasal dari bahasa Yunani, deon= yag diharuskan, yang diwajibkan) mengatakan bahwa betul-salahnya sesuatu tindakan tidak dapat ditentikan dari akibat-akibat tindakan itu, melainkan ada cara bertindak yang begitu saja terlarang, atau begitu saja wajib. Teori teleologis(kata telos dalam bahasa Yunani berarti tujuan) mengatakan bahwa betultidaknya tindakan justru tergantung dari akibat-akibatnya; kalau akibat tindakan itu baik, maka boleh dilakukan, bahkan wajib dilakukan. Kalau akibat perbuatan tindakan itu buruk, maka perbuatan itu tidakboleh untuk dikerjakan. Teori egoism etis merupakan kelanjutan dari teleologis. Teori ini banyak menyoroti tentang akibat dari perbuatan bagi kepentingan pribadi, bukan kepentingan orang banyak. Untuk lebih mendalami teori egoism etis, mari kita bicarakan bidang-bidang khusus bahasan teori tersebut. a. Hedonism Aliran ini berpendapat bahwa yang dinilai baik itu ialah sesuatu yang dapat memberikan rasa nikmat bagi manusia. Kaidah dasar Hedonisme egosi berbunyi: bertindaklah sedemikian rupa sehingga engkau mencapai jumlah nikmat yang paling besar. Dan hindarilah segala macam yang bisa menimbulkan rasa sakit darimu.

b. Eudemonisme Eudemonisme mengajarkan bahwa segala tindakan manusia ada tujuannya. Ada tujuan yang dicari demi dirinya sendiri dan ada tujuan yag dicari demi suatu tujuan selanjutnya. Eudemonisme mengemukakan suatu kaidah dasar etikanya yang berbunyi: bertindaklah engkeu sedemikian rupa sehingga engkau mencapai kebahagiaan. Etika Utilitarisme Utilitarisme adalah teori teleologis universalis. Dikatakan teleologis karena utilitarisme menilai betul-salahnya tindakan manusia ditinjau dari segi manfaat akibatnya. Sifat utilitarisme adalah sifat universalis katena yang jadi penilaian norma-norma bukanlah akibat-akibat baik bagi dirinya sendiri melainkan juga baik bagi seluruh manusia. Dilihat dari jenisnya utilitarisme dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu: a. Utilitarisme Tindakan Utilitarisme tindakan mengajarkan bahwa manusia mesti bertindak sedemikian rupa sehingga setiap tindakannya itu menghasilkan suatu kelebihan akibat-akibat baik di dunia yang sebsarmungkin dibandingkan dengan akibat buruk. b. Utilitarisme Peraturan Utilitarisme peraturan mempunyai kaidah utama ajarannya sebagai berikut, bertindaklah selalu sesuai dengan kaidah-kaidah yang penetapannya menghasilkan kelebihan akibat-akibat baik di dunia yang sebesar mungkin dibandingkan dengan akibat-akibat buruk. Etika Teonom Teori ini dinamai teonom yang terdiri dari dua kata: theos yang berarti Allah dan nomos yang berarti hukum. a. Etika Teonom Murni Etika ini mengajarkan bahwa tindakan dikatakan benar bila sesuai dengan kehendak Allah, dan dikatakan salah apabila tidak sesuai, suatu tindakan wajib dikerjakan bila diperintahkan Allah. Menurut pendapat ini Allah itu sama sekali bebas dalam menentukan apa yang harus kita anggap buruk.tugas manusia adalah menerima apa yang dijelaskan Allah terhadapnya jangan sampai berpikir sendiri karena pikirannya tidak berdaya, atau sangat terbatas dayanya untuk memikirkan Allah. b. Teori Hukum Kodrat Teori ini mengatakan bahwa baik dan buruk ditentukan oleh Allah seakan-akan secara sewenang-wenang. Sesuatu dikatakan benar jika sesuai dengan tujuan manusia atau sesuai dengan kodrat manusia. Inti ajaran dari teori ini mengatakan,bertindaklah sesuai dengan kodratmu sebagai manusia, yaitu sempurnakanlah kemampuan-kemampuanmu, dan dengan ni engkau sekaligus akan mencapai kebahagiaan yang sebenarnya,serta mematuhu kehendak Allah. ESTETIKA Etetika membicarakan tentang nilai indah dan tidak indah. Nilai ini sering diterapkan kepada soal seni.

Teori lama tentang keindahan bersifat metafisik, sedang teori modern bersifat psikologis. Menurut Plato, keindahan adalah realitasyang sebenarnya dan tidak pernah berubah-ubah. Dari sini ia menyatakan bahwa keindahakn itu adalah sifat objektif barang yang dinilai. Kant memulai studi ilmiah psikologis tentang keindahan. Menirut pendapatnya, akal itu memiliki indera ketiga atas pikiran an kemauan, yaitu indera rasa. Indera rasa memiliki satu kekhususan, yaitu kesenangan estetika dengan tidak mengandung kepentingan. Menurut Kant, keindahan itu merupakan sifat bukan terletak pada subjek.