Anda di halaman 1dari 5

Review Jurnal

Reviewer Tanggal Topik Penulis

: Hanif Akhtar (10/300425/PS/05996) : 18 April 2011 : Gangguan perkembangan psikologi, gangguan belajar : John R. Kirby, Robert Silvestri, Beth H. Allingham, Rauno Parrila, Chantal B. La Fave

Tahun Judul

: 2008 : Learning Strategies and Study Approaches of Postsecondary Students With Dyslexia

Sumber

: Journal of Learning Disabilities

Volume dan halaman : Volume 41 Number 1 halaman 84-96 Website Diakses tanggal : http://ldx.sagepub.com/content/41/1/85 : 18 April 2011

Landasan teori:
Siswa dengan gangguan belajar yang melanjutkan ke sekolah tinggi kini jumlahnya lebih besar dibanding masa lalu (Vogel et al., 1998). Di Amerika serikat, Vogel et al. menemukan bahwa dari 147 sekolah tinggi di sana proporsi siswa dengan gangguan belajar adalah 0,69%. Bagaimanapun banyak siswa yang tidak mengungkapkan bahwa mereka mengalami gangguan belajar setelah masuk ke sekolah tinggi. Berdasarkan pada kurangnya keterbukaan itu, Horn dan Berktold (1999) memperkirakan proporsi siswa dengan gangguan belajar di Amerika Serikat menjadi 1,66%. Disleksia merupakan salah satu gangguan belajar yang nyata. International Dyslexia Association and the National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) menyatakan bahwa disleksia adalah ketidakmampuan seumur hidup, yang mana individu mengalami masalah dalam hal membaca dan menulis yang berlanjut ke kehidupan

dewasanya (International Dyslexia Association, 2001). Karena masalah kognitif seseorang dalam proses phonologi yang membuat kesulitan dalam hal pengenalan dan pengejaan kata, orang dewasa dengan penyakit disleksia akan kesulitan memenuhi tuntutan sekolah tinggi dalam hal pencatatan materi kuliah, penulisan esay, dan pemahaman tesk yang kompleks (Gilroy &

Miles,1996;Riddock, Farmer, & Sterling, 1997; Simmons & Singleton, 2000). Beberapa siswa sekolah tinggi yang memiliki penyakit disleksia, menggunakan strategi dan pendekatan belajar untuk menghindari kesulitan dalam membaca kata-kata (Lefly & Pennington, 1991; McLoughlin, 1997; McLoughlin, Fitzgibbon, & Young,1994). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan strategi pembelajaran dan pendekatan studi yang dilaporkan oleh siswa dengan dan tanpa disleksia dan meneliti hubungan karakteristik dengan kemampuan membaca. Sudut pandang teoritis tentang belajar dan strategi pembelajaran menyangkut strategi kognitif bahwa siswa menggunakan pembelajaran konteks. LASSI adalah 10-scale self-report assessment tentang kesadaran siswa dan penggunaan strategi belajar yang terkait dengan regulasi diri dan ketrampilan komponen strategis belajar. Skala LASSI yang terkait dengan komponen kehendak pembelajaran strategis adalah Sikap, Motivasi, dan Kecemasan. Empat skala LASSI mengukur komponen dari strategi belajar yaitu konsentrasi, manajemen waktu, self-testing, dan alat bantu pembelajaran. Ada beberapa studi yang menunjukan hubungan skala LASSI dengan performa akademik siswa sekolah tinggi. Sinkavich (1991) menemukan korfelasi yang signifikan antara skala motivasi LASSI kinerja siswa. Konsep tentang pendekatan belajar diperkenalkan oleh Marton dan Saljo (1976) dan berfokus pada interaksi antara siswa dan konteks pembelajaran.

Metode
Subjek total subjek dalam penelitian ini ada 102 individu. Siswa dengan disleksia (n=36) dan siswa normal (n=66) direkrut dari sekolah tinggi di Kanada. Sampel dengan disleksia terdiri peserta dengan usia rata-rata 22,60 tahun (SD = 5.22) dan rata-rata 16,70 tahun (SD = 3.12) pendidikan formal; 17 dari mereka adalah perempuan. Siswa dengan disleksia berasal dari Queens University (n =9), the University of Alberta (n=7), Loyalist Community College (n =10), and Trent University (n=10). Untuk menvalidasi diagnosis itu, siswa diminta catatan diagnosisnya atau mereka diminta menyelesaikan beberapa pengujian lebih lanjut. Grup control terdiri dari

partisipan dengan rata-rata umur 20.34 (SD=4.80) tahun dan rata-rata 14.95 (1.38) tahun sekolah formal. Mereka berasal dari Queens University (n =47) and volunteers from Loyalist Community College (n=8) and Trent University (n =11).

Manipulasi partisipan diberikan deskripsi singkat tentang penelitian. Kemudian setelah menandatangani formulir izin, partisipan mulai diuji dengan beberapa tes diantaranya The Nelson-Denny Reading Test, The Adult Reading History QuestionnaireRevised (ARHQ-R), The SPQRevised, dan The LASSI second edition. Setiap tes memiliki fungsi pengukuran yang berbeda-beda, seperti mengukur kecepatan membaca, pemahaman bacaan, dan sejarah membaca. Setelah semua partisipan diuji, hasilnya dibandingkan antara kelompok disleksia dan non-disleksia.

Instrument instrument yang digunakan dalam penelitian ini meliputi berbagai macam jenis tes diantaranya The Nelson-Denny Reading Test, The Adult Reading History QuestionnaireRevised (ARHQ-R), The SPQRevised, dan The LASSI second edition. Selain itu untuk mengukur mental ability partisipan juga digunakan beberapa tes lain seperti Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) dan Peabody Picture Vocabulary Testi (PPVT).

Analisis untuk memeriksa apakah ada perbedaan antara siswa disleksia dengan siswa non-dislekasia dalam hal kecepatan membaca, pemahaman bacaan, dan sejarah membaca, dianalisis dengan two-tailed t test, untuk independen sampel. Hasilnya menunjukan bahwa siswa non-disleksia mengungguli siswa disleksia dalam kecepatan membaca dan pemahaman. Dihubungkan dengan distribusi partisipan non-disleksia, partisipan disleksia nampak dari SD sampai lebih dari 2 SD dibawah rata-rata. Kedua grup kemudian dibandingkan dalam hal strategi belajar dan pendekatan belajar. Multivariate analysis of variance (MANOVA) digunakan untuk membandingkan dua group
dalam 10 skala.

Hasil
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa siswa sekolah tinggi dengan disleksia memiliki strategi belajar dan pendekatan belajar yang berbeda dengan teman sebayanya yang tidak disleksia. Meskipun sebagian bisa mengimbangi kekurangannya, tetapi penderita disleksia tetap kesulitan untuk menentukan ide pokok dalam suatu bacaan dan dalam persiapan tes. Kemampuan membaca yang berbeda paling mencolok adalah pada membaca kata dan membaca yang telah lalu. Perbedaan pada kecepatan membaca dan pemahaman lebih rendah, tetapi tetap saja masih besar. Siswa dengan disleksia lebih banyak menggunakan strategi Time Management dan Study Aids dan kurang menggunakan pemilihan ide pokok dan strategi Test Taking.

Kritik
Judul dari jurnal ini adalah Learning Strategies and Study Approaches of Postsecondary Students With Dyslexia. Saya pikir dalam jurnal ini akan banyak dijelaskan strategi

belajaryang baik bagi penderita disleksia, namun ternyata yang banyak dibahas dalam jurnal ini hanyalah perbandingan antara siswa disleksia dengan siswa non-disleksia. Meskipun tetap saja inti dari bahasan jurnal ini adalah seperti yang tertulis pada judulnya, tetapi bahasan dalam jurnal ini terkesan kurang focus. Akibatnya pembaca merasa manfaat yang didapat dari membaca jurnal ini kurang jika dibandingkan dengan membaca tentang strategi belajar penderita disleksia.Untuk metode penelitian yang digunakan pun sangat ribet. Terlalu banyak tes yang harus dilakukan. Memang hal itu membuat penelitian menjadi lebih teliti dan lebih valid, akan tetapi itu membuang-buang waktu, tenaga, dan biaya. Apalagi jika kita harus berhadapan dengan seseorang yang memiliki kekurangan, dalam hal ini disleksia. Tes-tes yang terlalu banyak bisa saja menjadi stressor tersendiri bagi penderita disleksia itu.

Saran untuk penelitian yang akan datang


Diusahakan lebih focus dalam bahasan. Lebih baik lagi jika bisa membuat penelitian yang memiliki efek positif bagi pembaca, tidak hanya membandingkan dan melihat perbedaan antara dua kelompok, yaitu disleksia dan non-disleksia. Akan lebih berguna jika jurnal itu nanti bisa menjadi teladan kita dalam kehidupan sehari-hari.Caranya mungkin adalah dengan penelitian kualitatif terhadap penderita disleksia yang sukses dalam kehidupannya. selain itu metode yang

digunakan akan lebih baik jika dibuat lebih efektif dan efisien, disesuaikan dengan kondisi subjek.