Anda di halaman 1dari 20

Diagnosis Pada Abses Peritonsiler

BAB I PENDAHULUAN
Abses peritonsil termasuk salah satu abses leher bagian dalam. Selain abses peritonsil, abses parafaring, abses retrofaring, dan angina ludovici (Ludwigs angina), atau abses submandibula juga termasuk abses leher bagian dalam. Abses leher dalam terbentuk di antara fascia leher dalam sebagai akibat perjalaran infeksi dari berbagai sumber seperti gigi, mulut, tenggorokan, sinus paranasal, telinga tengah dan leher. Penjalaran infeksi disebabkan oleh perembesan peradangan melalui kapsula tonsil. Peradangan akan mengakibatkan terbentuknya abses dan biasanya unilateral. Gejala dan tanda klinik setempat berupa nyeri dan pembengkakan akan menunjukkan lokasi infeksi. Abses peritonsil adalah kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang peritonsil. Kuman penyebab sama dengan penyebab tonsilitis, dimana dapat ditemukan kuman aerob dan anaerob. Tempat terjadinya abses biasanya adalah di bagian pillar tonsil anteroposterior, fossa piriform inferior, dan palatum superior. Abses peritonsil dapat terjadi pada umur 10-60 tahun, namun paling sering terjadi pada umur 20-40. Pada anak-anak jarang terjadi kecuali pada mereka yang menurun sistem immunnya, tapi infeksi bisa menyebabkan obstruksi jalan nafas yang signifikan pada anak-anak. Infeksi ini memiliki proporsi yang sama antara laki-laki dan perempuan. Di Amerika insiden tersebut kadang-kadang berkisar 30 kasus per 100.000 orang per tahun, kemungkinan hampir 45.000 kasus setiap tahun. Abses peritonsil terbentuk karena penyebaran organisme bakteri dari tonsil atau daerah lain di sekitarnya. Sumber infeksi dapat berasal dari penjalaran tonsilitis akut yang mengalami supurasi, menembus kapsul tonsil, maupun penjalaran dari infeksi gigi. Dalam hal ini infeksi telah menembus bagian kapsul tonsil, tetapi tetap dalam batas otot konstriktor faring. Manifestasi klinis abses peritonsiler biasanya berupa gejala dan tanda tonsilitis akut, yaitu demam tinggi, otalgia, nyeri menelan, nyeri tenggorok, muntah, mulut berbau, hipersalivasi, suara sengau, kadang-kadang sulit membuka mulut (trismus), serta pembengkakan dan nyeri tekan pada kelenjar submandibula.
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara 1

Diagnosis Pada Abses Peritonsiler Beberapa tahun terakhir ini penegakan diagnosis dan penanganan pada infeksi leher dalam telah memberi tantangan kepada para ahli untuk melakukan penelitian lebih dalam. Rumitnya dan dalamnya lokasi pada daerah ini membuat sulitnya ditegakkan diagnosis dan penanganan. Pada referat ini, penulis mencoba menguraikan tentang langkah-langkah apa saja yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa abses peritonsiler. Semoga bermanfaat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara 2

Diagnosis Pada Abses Peritonsiler

2.1 Anatomi Dan Fisiologi Tonsil

Tonsil terdiri dari jaringan limfoid yang dilapisi oleh epitel respiratori. Cincin Waldeyer merupakan jaringan limfoid yang membentuk lingkaran di faring yang terdiri dari tonsil palatina, tonsil faringeal (adenoid), tonsil lingual, dan tonsil tubal. A) Tonsil Palatina Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa tonsil pada kedua sudut orofaring, dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus). Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil. Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilar. Tonsil terletak di lateral orofaring. Dibatasi oleh: Lateral muskulus konstriktor faring superior
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara 3

Diagnosis Pada Abses Peritonsiler Anterior muskulus palatoglosus Posterior muskulus palatofaringeus Superior palatum mole Inferior tonsil lingual Permukaan tonsil palatina ditutupi epitel berlapis gepeng yang juga melapisi invaginasi atau kripti tonsila. Banyak limfanodulus terletak di bawah jaringan ikat dan tersebar sepanjang kriptus. Limfonoduli terbenam di dalam stroma jaringan ikat retikular dan jaringan limfatik difus. Limfonoduli merupakan bagian penting mekanisme pertahanan tubuh yang tersebar di seluruh tubuh sepanjang jalur pembuluh limfatik. Noduli sering saling menyatu dan umumnya memperlihatkan pusat germinal. Fosa Tonsil Fosa tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring, yaitu batas anterior adalah otot palatoglosus, batas posterior adalah otot palatofaringeus dan batas lateral atau dinding luarnya adalah otot konstriktor faring superior. Berlawanan dengan dinding otot yang tipis ini, pada bagian luar dinding faring terdapat nervus ke IX yaitu nervus glosofaringeal. Vaskularisasi Tonsil mendapat vaskularisasi dari cabang-cabang arteri karotis eksterna, yaitu : 1. Arteri maksilaris eksterna (arteri fasialis) dengan cabangnya arteri tonsilaris dan arteri palatina asenden; 2. Arteri maksilaris interna dengan cabangnya arteri palatina desenden; 3. Arteri lingualis dengan cabangnya arteri lingualis dorsal; 4. Arteri faringeal asenden. Kutub bawah tonsil bagian anterior diperdarahi oleh arteri lingualis dorsal dan bagian posterior oleh arteri palatina asenden,

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara 4

Diagnosis Pada Abses Peritonsiler diantara kedua daerah tersebut diperdarahi oleh arteri tonsilaris. Kutub atas tonsil diperdarahi oleh arteri faringeal asenden dan arteri palatina desenden. Vena-vena dari tonsil membentuk pleksus yang bergabung dengan pleksus dari faring. Aliran balik melalui pleksus vena di sekitar kapsul tonsil, vena lidah dan pleksus faringeal. Aliran getah bening Aliran getah bening dari daerah tonsil akan menuju rangkaian getah bening servikal profunda (deep jugular node) bagian superior di bawah muskulus sternokleidomastoideus, selanjutnya ke kelenjar toraks dan akhirnya menuju duktus torasikus. Tonsil hanya mempunyai pembuluh getah bening eferan sedangkan pembuluh getah bening aferen tidak ada. Persarafan Tonsil bagian bawah mendapat sensasi dari cabang serabut saraf ke IX (nervus glosofaringeal) dan juga dari cabang desenden lesser palatine nerves. Imunologi Tonsil Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit. Limfosit B membentuk kira-kira 50-60% dari limfosit tonsilar. Sedangkan limfosit T pada tonsil adalah 40% dan 3% lagi adalah sel plasma yang matang. Limfosit B berproliferasi di pusat germinal. Immunoglobulin (IgG, IgA, IgM, IgD), komponen komplemen, interferon, lisozim dan sitokin berakumulasi di jaringan tonsilar. Sel limfoid yang immunoreaktif pada tonsil dijumpai pada 4 area yaitu epitel sel retikular, area ekstrafolikular, mantle zone pada folikel limfoid dan pusat germinal pada folikel limfoid. Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama yaitu :
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara 5

Diagnosis Pada Abses Peritonsiler Menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif; Sebagai organ utama produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik. B) Tonsil Faringeal (Adenoid) Adenoid merupakan masa limfoid yang berlobus dan terdiri dari jaringan limfoid yang sama dengan yang terdapat pada tonsil. Lobus atau segmen tersebut tersusun teratur seperti suatu segmen terpisah dari sebuah ceruk dengan celah atau kantong diantaranya. Lobus ini tersusun mengelilingi daerah yang lebih rendah di bagian tengah, dikenal sebagai bursa faringeus. Adenoid tidak mempunyai kriptus. Adenoid terletak di dinding belakang nasofaring. Jaringan adenoid di nasofaring terutama ditemukan pada dinding atas dan posterior, walaupun dapat meluas ke fosa Rosenmuller dan orifisium tuba eustachius. Ukuran adenoid bervariasi pada masingmasing anak. Pada umumnya adenoid akan mencapai ukuran maksimal antara usia 37 tahun kemudian akan mengalami regresi. C) Tonsil Lingual Tonsil lingual terletak di dasar lidah dan dibagi menjadi dua oleh ligamentum glosoepiglotika. Di garis tengah, di sebelah anterior massa ini terdapat foramen sekum pada apeks, yaitu sudut yang terbentuk oleh papilla sirkumvalata.

2.2 Abses Peritonsiler 2.2.1 Definisi Abses peritonsil, yang sering disebut sebagai Quinsy, adalah suatu rongga yang berisi nanah didalam jaringan peritonsil yang terbentuk sebagai hasil dari tonsillitis supuratif.
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara 6

Diagnosis Pada Abses Peritonsiler

2.2.2

Epidemiologi Abses peritonsiler dapat terjadi pada umur 10-60 tahun, namun paling sering terjadi pada umur 20-40 tahun. Pada anak-anak jarang terjadi kecuali pada mereka yang menurun sistem immunnya, tapi infeksi bisa menyebabkan obstruksi jalan napas yang signifikan pada anak-anak. Infeksi ini memiliki proporsi yang sama antara laki-laki dan perempuan. Bukti menunjukkan bahwa tonsilitis kronik atau percobaan multipel penggunaan antibiotik oral untuk tonsilitis akut merupakan predisposisi pada orang untuk berkembangnya abses peritonsiler. Di Amerika insiden tersebut kadang-kadang berkisar 30 kasus per 100.000 orang per tahun, dipertimbangkan hampir 45.000 kasus setiap tahun.

2.2.3

Etiologi Infeksi tonsil berlanjut menjadi selulitis difusa dari daerah tonsil meluas sampai palatum molle. Kelanjutan proses ini menyebabkan abses peritonsil. Kelainan ini dapat terjadi cepat, dengan onset awal dari tonsillitis atau akhir dari perjalanan penyakit tonsilitis akut. Biasanya unilateral dan kuman penyebab sama

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara 7

Diagnosis Pada Abses Peritonsiler dengan tonsillitis, dapat ditemukan kuman aerob dan anaerob6. Kemungkinan abses peritonsil disebabkan oleh infeksi pada kripta difusa supra tonsil, dimana ukurannya besar, merupakan suatu kavitas seperti celah dengan tepi tak teratur dan berhubungan erat dengan bagian posterior dan bagian luar tonsil 11. Abses peritonsil juga terjadi sebagai akibat komplikasi tonsilitis akut atau infeksi yang bersumber dari kelenjar mukus Weber di kutub atas tonsil. Biasanya kuman penyebabnya sama dengan kuman penyebab tonsilitis. Biasanya unilateral dan lebih sering pada anak-anak yang lebih tua dan dewasa muda. Abses peritonsiler disebabkan oleh organisme yang bersifat aerob maupun yang bersifat anaerob. Organisme aerob yang paling sering menyebabkan abses peritonsiler adalah Streptococcus pyogenes (Group A Beta-hemolitik streptoccus), Staphylococcus aureus, dan Haemophilus influenzae. Sedangkan organisme anaerob yang berperan adalah Fusobacterium. Prevotella, Porphyromonas, Fusobacterium, dan Peptostreptococcus spp. Untuk kebanyakan abses peritonsiler diduga disebabkan karena kombinasi antara organisme aerobik dan anaerobik. Sedangkan virus yang dapat menyebabkan abses peritonsil antara lain eipstenbarr, adenovirus, influenza A dan B, herpes simplex, dan parainfluenza.

2.2.4 Patofisiologi

Patofisiologi abses peritonsiler belum diketahui sepenuhnya. Namun, teori yang paling banyak diterima adalah kelanjutan episode tonsillitis eksudatif menjadi peritonsillitis dan diikuti pembentukan abses. Berikut ini adalah tiga teori patogenesa terjadinya abses peritonsiler. Teori Parkinson (1970) Penyebaran abses ke ruang peritonsil oleh karena di dalam ruang peritonsil terdapat kelompok kelenjar yang terletak di permukaan superior dari
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara 8

Diagnosis Pada Abses Peritonsiler kapsul tonsil di pool atas. Kelompok kelenjar ini mudah mendapatkan infeksi dari tonsil. Bila kelompok ini terinfeksi mudah terjadi abses di dalam ruangan yang terisi jaringan ikat longgar. Daerah superior dan lateral fosa tonsilaris merupakan jaringan ikat longgar, oleh karena itu infiltrasi supurasi ke ruang potensial peritonsil tersering menempati daerah ini, sehingga tampak palatum mole membengkak. Abses peritonsil juga dapat terbentuk di bagian inferior, namun jarang. Teori Ballenger (1977) Perluasan infeksi ke ruang peritonsil, berasal dari kripte yang besar di pole atas yang merupakan celah yang berhubungan erat dengan bagian luar tonsil, sehingga infeksi yang terjadi pada kripte mudah menjalar ke atas belakang (superior posterior) dari ruangan peritonsil.

Teori Paparella (1980) Terjadinya abses oleh karena infeksi yang berasal dari proses akut tonsil dan menembus kapsul, sampai ke ruangan peritonsil tetapi masih dalam batas otot konstriktor faring.

Pada stadium permulaan (stadium infiltrat), selain pembengkakan tampak juga permukaan yang hiperemis. Bila proses berlanjut, daerah tersebut lebih lunak dan berwarna kekuning-kuningan. Tonsil terdorong ke tengah, depan, dan bawah, uvula bengkak dan terdorong ke sisi kontra lateral. Bila proses terus berlanjut, peradangan jaringan di sekitarnya akan menyebabkan iritasi pada m.pterigoid interna, sehingga timbul trismus. Abses dapat pecah spontan, sehingga dapat terjadi aspirasi ke paru. Selain itu, abses peritonsiler terbukti dapat timbul de novo
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara 9

Diagnosis Pada Abses Peritonsiler tanpa ada riwayat tonsillitis kronis atau berulang sebelumnya. Abses peritonsiler dapat juga merupakan suatu gambaran dari infeksi virus Epstein-Barr. Abses peritonsil yang timbul sebagai kelanjutan tonsilitis akut biasanya timbul pada hari ke 3 dan ke 4 dari tonsillitis akut. Sumber infeksi berasal dari salah satu kripta yang mengalami peradangan, biasanya kripta fossa supratonsil, dimana ukurannya besar, merupakan kavitas seperti celah dengan tepi tidak teratur, dan berhubungan erat dengan bagian posterior dan bagian luar tonsil. Muara dari kripta yang mengalami infeksi tersebut tertutup sehingga abses yang terbentuk di dalam saluran kripta akan pecah melalui kapsul tonsil dan berkumpul pada tonsil bed. Pus yang berkumpul pada fosa supratonsil tersebut akan menimbulkan penonjolan, pembengkakan dan edema dari palatum molle sehingga tonsil akan terdorong kearah medial bawah. Walaupun sangat jarang abses peritonsil dapat terbentuk di inferior. Abses peritonsiler juga bisa sebagai kelanjutan dari infeksi yang bersumber dari kelenjar mukus weber. Kelenjar ini berhubungan dengan permukaan atas tonsil lewat duktus dan kelenjar ini membersihkan area tonsil dari debris dan sisa makanan yang terperangkap di kripta tonsil. Inflamasi pada kelenjar weber dapat menyebabkan selulitis. Infeksi ini menyebabkan duktus sampai permukaan tonsil menjadi lebih terobstruksi akibat inflamasi sekitarnya. Hasilnya adalah nekrosis jaringan dan pembentukan pus yang menghasilkan tanda dan gejala abses peritonsil.

2.2.5

Gambaran Klinis Abses peritonsil akan menggeser kutub superior tonsil ke arah garis tengah dan dapat diketahui derajat pembengkakan yang ditimbulkan di palatum molle. Terdapat riwayat faringitis akut, tonsillitis, dan rasa tidak nyaman pada tenggorokan atau faring unilateral yang semakin memburuk. Keparahan dan

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara 10

Diagnosis Pada Abses Peritonsiler progresivitasnya ditunjukkan dari trismus. Kebanyakan pasien menderita nyeri hebat. Gejala yang dikeluhkan pasien antara lain panas sub febris, disfagia dan odinofagia yang menyolok dan spontan, hot potato voice, mengunyah terasa sakit karena m. masseter menekan tonsil yang meradang, nyeri telinga (otalgia) ipsilateral, foetor ex orae, perubahan suara karena hipersalivasi dan banyak ludah yang menumpuk di faring, rinolalia aperta karena udem palatum molle (udem dapat terjadi karena infeksi menjalar ke radix lingua dan epiglotis = udem perifokalis), trismus (terbatasnya kemampuan untuk membuka rongga mulut) yang bervariasi, tergantung derajat keparahan dan progresivitas penyakit, trismus menandakan adanya inflamasi dinding lateral faring dan m. Pterigoid interna, sehingga menimbulkan spasme muskulus tersebut. Akibat limfadenopati dan inflamasi otot, pasien sering mengeluhkan nyeri leher dan terbatasnya gerakan leher (torticolis).

2.2.6

Diagnosis banding Abses peritonsil harus dibedakan infiltrat peritonsil. Untuk membedakannya, pada stadium infiltrasi belum terdapat trismus, dan kejadiaanya baru berlangsung 1-3 hari. Untuk membedakannya dilakukan punksi percobaan dan hasil pungsi tidak didapatkan pus. Karsinoma tonsil dicurigai bila permukaan tonsil tidak rata atau permukaan bunga kubis dan ada jaringan nekrotik atau ulkus. Diagnosis banding adalah abses leher dalam lainnya yaitu abses retrofaring dan, abses parafaring. Gambaran infeksi ruang submaksila juga bisa seperti abses peritonsil. Infeksi ini biasanya terjadi akibat karies atau infeksi pada gigi molar. Pus dapat

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara 11

Diagnosis Pada Abses Peritonsiler mendorong otot-otot dalam ke arah konstriktor superior sehingga tonsil terdorong ke medial, seperti pada quinsy.

2.2.7

Diagnosis Diagnosis abses peritonsiler akan dibicarakan sendiri di bab berikutnya.

2.2.8

Penatalaksanaan Penanganan abses peritonsiler meliputi hidrasi, menghilangkan nyeri, dan antibiotik yang efektif mengatasi Staphylococcus aureus dan bakteri anaerob. Aspirasi needle merupakan penanganan yang efektif pada 75 % abses peritonsiler pada anak-anak dan dianjurkan sebagai terapi utama kecuali terdapat riwayat tonsilitis rekuren atau abses peritonsiler sebelumnya maka indikasinya adalah tonsilektomi dengan segera. Pada stadium infiltrasi, diberikan antibiotika dosis tinggi, dan obat simtomatik. Juga perlu kumur-kumur dengan cairan hangat dan compres dingin pada leher. Pemilihan antibiotik yang tepat tergantung dari hasil kultur mikroorganisme pada aspirasi jarum. Penisilin merupakan drug of chioce pada abses peritonsilar dan efektif pada 98% kasus jika yang dikombinasilakn dengan metronidazole. Dosis untuk penisilin pada dewasa adalah 600mg IV tiap 6 jam selama 12-24 jam, dan anak 12.500-25.000 U/Kg tiap 6 jam. Metronidazole dosis awal untuk dewasa 15mg/kg dan dosis penjagaan 6 jam setelah dosis awal dengan infus 7,5mg/kg selama 1 jam diberikan selama 6-8 jam dan tidak boleh lebih dari 4 gr/hari. Bila telah terbentuk abses, dilakukan pungsi pada daerah abses, kemudian diinsisi untuk mengeluarkan nanah. Tempat insisi ialah di daerah yang paling menonjol dan lunak, atau pada pertengahan garis yang menghubungkan dasar uvula dengan geraham atas terakhir. Intraoral incision dan drainase dilakukan dengan mengiris mukosa overlying abses, biasanya diletakkan di lipatan

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara 12

Diagnosis Pada Abses Peritonsiler supratonsillar. Drainase atau aspirate yang sukses menyebabkan perbaikan segera gejala-gejala pasien. Bila terdapat trismus, maka untuk mengatasi nyeri, diberikan analgesia lokal di ganglion sfenopalatum. Kemudian pasien dinjurkan untuk operasi tonsilektomi a chaud. Bila tonsilektomi dilakukan 3-4 hari setelah drainase abses disebut tonsilektomi a tiede, dan bila tonsilektomi 4-6 minggu sesudah drainase abses disebut tonsilektomi a froid. Pada umumnya tonsilektomi dilakukan sesudah infeksi tenang, yaitu 2-3 minggu sesudah drainase abses. Tonsilektomi merupakan indikasi absolut pada orang yang menderita abses peritonsilaris berulang atau abses yang meluas pada ruang jaringan sekitarnya. Abses peritonsil mempunyai kecenderungan besar untuk kambuh. Sampai saat ini belum ada kesepakatan kapan tonsilektomi dilakukan pada abses peritonsil. Sebagian penulis menganjurkan tonsilektomi 68 minggu kemudian mengingat kemungkinan terjadi perdarahan atau sepsis, sedangkan sebagian lagi menganjurkan tonsilektomi segera. Penggunaan steroids masih kontroversial. Penelitian terbaru yang dilakukan Ozbek mengungkapkan bahwa penambahan dosis tunggal intravenous dexamethasone pada antibiotik parenteral telah terbukti secara signifikan mengurangi waktu opname di rumah sakit, nyeri tenggorokan, demam, dan trismus dibandingkan dengan kelompok yang hanya diberi antibiotik parenteral.

2.2.9

Komplikasi Komplikasi abses peritonsil dapat berupa edema laring akibat tertutupnya rima glotis atau edema glotis akibat proses perluasan radang ke bawah. Keadaan ini membahayakan karena bisa menyebabkan obstruksi jalan napas. Abses yang pecah secara spontan terutama waktu tidur dapat mengakibatkan aspirasi

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara 13

Diagnosis Pada Abses Peritonsiler pneumonia dan piemia. Abses yang ruptur spontan biasanya pecah dari pilar anterior. Penjalaran infeksi dan abses ke daerah parafaring, sehingga dapat terjadi abses parafaring. Kemudian dapat terjadi penjalaran ke mediastinum menimbulkan mediastinitis. Bila terjadi penjalaran ke daerah intrakranial, dapat mengakibatkan trombus sinus kavernosus, meningitis, dan abses otak. Sekuele poststreptokokus (glomerulonefritis, demam reumatik) apabila bakteri penyebab infeksi adalah streptococcus Grup A. Kematian, walaupun jarang dapat terjadi akibat perdarahan atau nekrosis septik ke selubung karotis (carotid sheath). Dapat juga terjadi peritonsilitis kronis dengan aliran pus yang berjeda. Komplikasi juga terjadi akibat tindakan insisi pada abses akibat perdarahan yang terjadi pada arteri supratonsilar. Sejumlah komplikasi klinis lainnya dapat terjadi jika diagnosis PTA diabaikan. Beratnya komplikasi tergantung dari progresivitas penyakit. Untuk itulah diperlukan penanganan dan intervensi sejak dini.

2.2.10 Prognosis Abses peritonsoler hampir selalu berulang bila tidak diikuti dengan tonsilektomi. Tonsilektomi ditunda sampai 6 minggu setelah dilakukan insisi.

BAB III DIAGNOSIS PADA ABSES PERITONSILER


1. Anamnesis Informasi dari pasien (anamnesis) sangat diperlukan untuk menegakkan diagnosis abses peritonsiler. Adanya riwayat pasien mengalami nyeri pada tenggorokan adalah salah
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara 14

Diagnosis Pada Abses Peritonsiler satu yang mendukung terjadinya abses peritonsilar. Riwayat adanya faringitis akut yang disertai tonsilitis dan rasa kurang nyaman pada pharingeal unilateral. 2. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik, didapatkan tonsilitis akut dengan asimetri faring sampai dehidrasi dan sepsis. Didapatkan pembesaran dan nyeri tekan pada kelenjar regional. Pada pemeriksaan kavum oral terdapat eritema, asimetri palatum mole, eksudasi tonsil, dan pergeseran uvula kontralateral. Dan pada palpasi palatum molle teraba fluktuasi. Nasofaringoskopi dan laringoskopi fleksibel direkomendasikan pada pasien yang mengalami kesulitan bernapas, untuk melihat ada tidaknya epiglotitis dan supraglotis. Abses peritonsiler biasanya unilateral dan terletak di kutub superior dari tonsil yang terkena, di fossa supratonsillar. Mukosa di lipatan supratonsillar tampak pucat dan bahkan seperti bintil bintil kecil. Nasofaringoskopi dan laringoskopi fleksibel direkomendasikan untuk penderita yang mengalami gangguan pernafasan.

3. Pemeriksaan Laboratorium Yang merupakan gold standar untuk mendiagnosa abses peritonsiler adalah dengan mengumpulkan pus dari abses menggunakan aspirasi jarum. Pus kemudian dikultur dan dengan kultur ini dapat ditentukan organisme penyebab abses peritonsiler serta antibiotika yang tepat untuk penatalaksanaannya. Selain itu kultur, dapat juga dilakukan pemeriksaan hitung darah lengkap. Pada pasien dengan abses peritonsiler akan didapatkan leukositosis.
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara 15

Diagnosis Pada Abses Peritonsiler Aspirasi Jarum (Needle Aspiration) Aspirasi abses dapat dilakukan sebelum melakukan prosedur drainase. Tujuannya adalah untuk mengkonfirmasi apakah yang terbentuk adalah abses ataukah penyebab lainnya, misalnya keganasan. Lokasi yang akan diaspirasi dianestesi dahulu dengan menggunakan lidocaine dengan epinephrine dan jarum besar (berukuran 1618 gauge) yang biasa menempel pada syringe berukuran 10 cc. Jarum disuntikkan pada mukosa yang telah dianestesi sebelumnya. Aspirasi material yang bernanah (purulent) merupakan tanda khas, dan material dapat dikirim untuk dibiakkan.

4. Pemeriksaan Lainnya

Penunjang

a. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yaitu pemeriksaan laboratorium berupa hitung darah lengkap, pengukuran kadar elektrolit. Karena pasien dengan abses peritonsil seringkali dalam keadaan sepsis dan menunjukkan tingkat dehidrasi yang bervariasi akibat tidak tercukupinya asupan makanan. b. Pemeriksaan radiologi dapat membantu pada terapi abses peritonsil yang tidak mengalami perbaikan setelah dilakukan inspirasi dan drainase atau terdapat perburukan edema pada selulitis peritonsil yang telah diterapi. Pada kasus tertentu dimana ternyata absesnya
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara 16

Diagnosis Pada Abses Peritonsiler terdapat di tonsil itu sendiri dan atau sebagian abses tersembunyi pada inferior atau posterior tonsil. Foto polos dapat berupa pandangan jaringan lunak lateral dari nasofaring dan orofaring dapat membantu dokter dalam menyingkirkan diagnosis abses retropharyngeal. Pada posisi AP, terdapat distorsi jaringan lunak, tapi tidak begitu membantu dalam menentukan lokasi abses. c. Pada pasien yang sangat muda, evaluasi radiologi dapat dilakukan dengan CT-scan pada rongga mulut dan leher menggunakan kontras intravena. Ditemukan gambaran kumpulan cairan hipodens di apex tonsil yang terkena, dengan penyengatan pada perifer. Gambaran lainnya termasuk pembesaran asimetrik tonsil dan fossa sekitarnya. Intraoral ultrasonography merupakan teknik pencitraan yang simpel dan non-invasif, dapat membedakan selulitis dan abses.

BAB IV KESIMPULAN
Abses peritonsiler merupakan kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang peritonsil. Keadaan ini dapat terjadi pada umur 10-60 tahun, namun paling sering terjadi pada umur 20-40. Pada anak-anak jarang terjadi kecuali pada mereka yang menurun sistem immunnya. Patofisiologi abses peritonsiler belum diketahui sepenuhnya. Ada beberapa teori yang mengemukakan mengenai bagaimana proses pembentukan abses peritonsil, yaitu teori
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara 17

Diagnosis Pada Abses Peritonsiler Parkinson, teori Ballenger, dan teori Paparella. Namun pada prinsipnya, abses peritonsiler dapat terbentuk karena adanya penyebaran organisme bakteri dari tonsil atau daerah lain di sekitarnya. Sumber infeksi dapat berasal dari penjalaran tonsilitis akut yang mengalami supurasi, menembus kapsul tonsil, maupun penjalaran dari infeksi gigi. Dalam hal ini infeksi telah menembus bagian kapsul tonsil, tetapi tetap dalam batas otot konstriktor faring. Manifestasi klinis abses peritonsiler biasanya berupa gejala dan tanda tonsilitis akut, yaitu demam tinggi, otalgia, nyeri menelan, nyeri tenggorok, muntah, mulut berbau, hipersalivasi, suara sengau, kadang-kadang sulit membuka mulut (trismus), serta pembengkakan dan nyeri tekan pada kelenjar submandibula. Abses peritonsil harus dibedakan dengan infiltrat peritonsil, karsinoma tonsil, infeksi ruang submandibula, dan abses leher dalam lainnya, seperti abses retrofaring, dan abses parafaring. Diagnosis abses peritonsiler ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang lainnya, seperti pemeriksaan laboratorium dan pencitraan radiologi. Yang merupakan gold standar untuk mendiagnosa abses peritonsiler adalah dengan melakukan kultur dari hasil aspirasi jarum pada lokasi abses. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan untuk kasus abses peritonsiler adalah secara konservatif (medikamentosa) dengan antibiotika dosis tinggi dan terapi bedah (insisi abses, diikuti tonsilektomi). Komplikasi abses peritonsil dapat berupa obstruksi jalan napas akibat edema laring, aspirasi pneumonia dan piemia, abses parafaring, mediastinitis, trombus sinus kavernosus, meningitis, dan abses otak. Kematian, walaupun jarang dapat terjadi akibat perdarahan atau nekrosis septik ke selubung karotis (carotid sheath). Abses peritonsoler hampir selalu berulang bila tidak diikuti dengan tonsilektomi. Tonsilektomi ditunda sampai 6 minggu setelah dilakukan insisi.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara 18

Diagnosis Pada Abses Peritonsiler

DAFTAR PUSTAKA Soepardi, EA, dkk. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala dan leher. Edisi keenam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2009. peritonsillar abscess available at : http://emedicine.medscape.com/article/194863-overview#showall

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara 19

Diagnosis Pada Abses Peritonsiler

peritonsillar abscess in emergency medicine available at : http://emedicine.medscape.com/article/764188-overview#showall peritonsillar abscess available at : http://www.primehealthchannel.com/peritonsillar-abscesssymptoms-pictures-drainage-and-treatment.html Gambar ring of waldeyer available from : http://ethesis.helsinki.fi/julkaisut/laa/haart/vk/nieminen/review.html

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara 20