Anda di halaman 1dari 6

Kuliah Belajar dan Pembelajaran TH Ajaran 2011

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN DALAM PENDIDIKAN KEJURUAN Model pembelajaran dapat didefinisikan pula sebagai suatu pola mengajar yang menerangkan proses menyebutkan dan menghasilkan situasi lingkungan tertentu yang menyebabkan para siswa berinteraksi dengan cara terjadinya perubahan khusus pada tingkah laku mereka, dengan kata lain penciptaan suatu situasi lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Model pembelajaran sebagi suatu kerangka konseptual yang menggambarkan langkahlangkah pengorganisasian atau pengalaman belajar secara sistematis, pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran sebagai upaya pencapaian tujuan pembelajaran. PEMBELAJARAN DALAM PENDIDIKAN KEJURUAN A. Karakteristik Siswa pada Sekolah Kejuruan Dengan memperhatikan kesiapan karaktersitik siswa untuk program pembelajaran bidang kejuruan tujuan pendidikan kejuruan dapat menekankan bahwa pendidikan sebagai proses sosialisasi yang dapat mendidik siswa yang dapat menjaga kestabilan sosial dan budaya untuk mengembangkan masyarakat yang terkait dengan kebutuhan siswa yang memiliki kebutuhan dasar sebagai individu seperti yang dikemukaan Maslow, Malcolm S Knowles ada enam yang diperhatikan dalam proses Pendidikan yaitu : a. Kebutuhan physic (physical needs) b. kebutuhan Tumbuh ( growth needs) c. Kebutuhan keamanan (The need for security) d. Kebutuhan pengalaman baru (the need for experience) e. Kebutuhan kasih sayang (the need for affection) f. kebutuhan penghargaan (the need for recognition) Siswa pada pendidikan kejuruan saat ini harus menghadapi tantangan besar yang kompleks untuk meningkatkan nilai tambah (Added value), yaitu 1. Bagaimana meningkatkan nilai tambah kemampuan yang dimilikinya dapat meningkatkan produktivitas, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan kebutuhan individu dan masyarakat yang bekelanjutan. 2. Kemampuan untuk melakukan pengkajian secara komprehensif dan mendalam terhadap terjadinya transformasi (perubahan) struktur masyarakat, dari masyarakat yang agraris ke masyarakat industri yang menguasai teknologi dan informasi, yang implikasinya pada tuntutan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). 3. Kemampuan dalam persaiangan global yang semakin ketat dalam meningkatkan daya saing bangsa dalam meningkatkan karya-karya yang bermutu dan mampu bersaing sebagai hasil penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (ipteks). Kemajuan ini harus dapat diwujudkan dengan proses pembelajaran yang bermutu dan menghasilkan lulusan yang berwawasan luas, professional, unggul, berpandangan jauh ke depan (Visioner), memiliki percaya dan harga diri yang tinggi. Untuk mewujudkan hasil diatas diperlukan strategi yang tepat, diantaranya adalah bagaimana mengembangkan kompetensi siswa berdasarkan kemampuan, sikap, sifat serta tingkah laku siswa sehingga membuat siswa menyenangi proses pembelajaran. 1. Penerapan Teori belajar Setiap orang memiliki gaya belajar individual yang berbeda satu sama lainnya. Sebagian orang belajar dengan baik secara berkelompok. Sebagian yang suka belajar sambil duduk di kursi, sedangkan yang lain senang belajar sambil berbaring atau lesehan di karpet. Demikian juga sebagian orang lebih mudah belajar melalui melihat langsung gambar atau diagram yang disebuat dengan cara belajar visual. Sebagian yang lain lebih suka mendengarkan yang disebut gaya belajar auditorial. Sebagian lagi lebih senang belajar dengan cara menggunakan indra perasa atau menggerakkan tubuh yang dikenal dengan gaya belajar haptic/kinesthetic. Beberapa orang lebih suka pada teks tercetak atau buku dan yang lain lebih suka berkelompok yang saling berinteraksi. Perilaku-perilaku individu yang seperti inilah yang harus dicari jalan keluarnya sehingga gaya belajar individu dapat seperti itu dapat diwujudkan sehingga tercipta pembelajaran yang disenangi yang pada akhirnya terwujudnya masyarakat berpendidikan.

Belajar adalah suatu aktifitas mental atau psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatifkonstan dan berbekas. Ada beberapa defenisi tentang belajar, yaitu : Hilgard dan Bower, dalam buku Theories of Learning yang dikutip oleh Chalidjah Hasan (1994 : 85), mengemukakan : Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap suatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya berulangulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan dan keadaan-keadaan saat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat dan sebagainya). Gagne, dalam buku The Conditions of Learning yang dikutip oleh Chalidjah Hasan (1994 : 85), menyatakan bahwa : Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi tadi. Morgan, dalam bukunya Introduction to Psychology yang dikutip oleh Chalidjah Hasan (1994 : 86), mengemukakan : Belajar adalah setiap perubahan yang relative menetapkan dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan dan pengalaman. Witherington, dalam buku Educational Psychology yang dikutip oleh Chalidjah Hasan (1994 : 86), mengemukakan : Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian. Pada gilirannya dapat dikemukakan ada beberapa elemen yang penting yang mencirikan pengertian belajar itu sendiri, yakni : Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman; dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar; seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relative mantap; harus merupakan akhir dari pada suatu periode waktu yang cukup panjang. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti : Perubahan dalam pengertian pemecahan suatu masalah/berfikir keterampilan, kecakapan , kebiasaan, ataupun sikap. Dari beberapa pengertian tentang belajar diatas, dapat di simpulkan bahwa ada tiga pokok proses kerja dari belajar yang tidak dapat dipisahkan, yaitu : Bahwa belajar itu membawa perubahan (dalam arti behavioral changes, actual maupun potensi). Bahwa perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru. Bahwa perubahan itu terjadi karena usaha (dengan sengaja). a. Teori Tingkah Laku (Behaviorisme) Timbulnya paham Behaviorisme atau teori tingkah laku disebabkan adanya kekurangan pada paham-paham sebelumnya seperti strukturalisme dan Fungsionalisme, akibat yang paling parah dialami oleh paham strukturaliesme adalah mengabaikan arah yang ditempuh oleh para ahli psikologi yang mengutamakan penerapan yang salah satunya dengan menolak konsep evolusi. Kaum fungsionalisme yang membela pendapatnya bahwa psikologi hanya meliputi studi tingkah laku, fungsi proses mental dan hubungan antara pikiran-badan dan tidak termasuk digunakan dalam dunia

pembelajaran serta tidak mampu menyusun metoda penelitian yang tepat batasannya dan pokok kajiannya, sehingga membuat kedua paham ini berakhir, sehingga muncul paham baru yaitu, Behaviorisme. Dalam dunia pendidikan begitu banyak teori tingkah laku diantaranya yang sangat dikenal adalah teori Classical Conditioning dari Ivan Pavlov, Connectionism: dari E. L. Thorndike, Hypothetic Deductive dari Clark L. Hull dan Operant Conditioning dari BF. Skinner. 1. Classical Conditioning (Ivan Pavlov) Teori tingkah laku diawali oleh Ivan Pavlov dalam tahun-tahun akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 dengan teorinya Classical Conditioning yang menyatakan bahwa stimulus baru dapat dibuat untuk menimbulkan refleks tertentu. Dalam penelitiannya yang dilakukan pada seekor anjing, ia memperhatikan perubahan tingkah laku pada waktu tertentu. Dalam ekperimennya, menunjukkan bagaimana belajar dapat mempengaruhi perilaku yang selama ini disangka refleksif dan tidak dapat dikendalikan. Pentingnya studi yang dilakukan oleh Povlov terletak pada metoda yang digunakannya serta hasil yang diperolehnya. Sehingga eksperimen Pavlov dapat mengamati secara teliti dan mengukur respons-respons subjek dengan penekanan pada observasi dan pengukuran yang teliti dan eksplorasi secara sistematis tentang berbagai aspek belajar, dan menolong kemajuan studi ilmiah tentang belajar. 2. Connectionism (E. L. Thorndike) Dalam studi Thorndike, ia memandang perilaku sebagai suatu respons terhadap stimulusstimulus dan lingkungan, artinya stimulus-stimulus dapat memberikan respons sehingga teorinya dikenal dengan teori S-R (Stimulus-Respons). Thorndike menghubungkan perilaku pada rekleksrefleks fisik, sehingga ia menyatakan bahwa perilaku ditentukan secara refleksif oleh stimulus yang ada dan lingkungan, dan bukan oleh pikiran yang sadar atau tidak sadar. Dalam eksperimennya yang dilakukan pada kucing yang dimasukkan kedalam kotak. Dari eksperimennya mengembangkan tiga hukumnya, yaitu : Law of Effect yang menyatakan bila koneksi yang dapat dimodifikasi antara suatu situasi dan respons terbentuk dan disertai oleh keadaan yang memuaskan, kekuatan koneksi tersebut akan meningkat, bila koneksoi terbentuk dan disertai dengan suatu keadaan yang tidak menyenangkan maka kekuatan hubungan tersebut akan berkurang, Law of Exercise yang menyatakan bahwa kegiatan belajar terjadi selama aksi tertentu dipraktekkan. Law of Readiness yang menyatakan bahwa kesiapan individu yang dihubungkan dengan karakteristik tingkah laku untuk pencapaian tujuan utama. Thorndike juga mengembangkan 5 hukum tambahannya, yaitu : 1. Hukum Pengulangan Reaksi atau Reaksi Bervariasi, yang menyatakan bahwa bertahan pada suatu respons dan situasi yang baru maka sebagian objek akan menampilkan respon dan reaksi yang bervariasi. 2. Hukum Ketepatran, yang menyatakan bahwa reaksi individu terhadap kondisi yang dihadapi ditentukan oleh posisi dan karakter individu. 3. Hukum Bagian Aktivitas, yang menyatakan bahwa dalam suatu situasi ada bagian dari situasi yang berpengaruh khusus terhadap bagian atau seluruh tingkah laku individu. 4. Hukum Kesesuain atau Kesamaan, yang menyatakan tidak ada situasi yang sama, sehingga jika individu dihadapkan pada situasi baru yang hamper sama dengan kondisi masa lampau, maka ia akan memberikan reaksi yang sama dengan rekasi di masa lampau. 5. Hukum Tindakan Bersama, yang menyatakan bahwa reaksi yang sulit sekalipun akan dapat dilakukan jika ada kesatuan antara satu respon dengan yang lainnya. 3. Clark Hull Clark Hull dengan mertodenya Hypothetic Deductive dimaksudkan akan dapat ditemukan hokum-hukum dasar dalam bidang psikologi. Dalam teorinya, Hall berbendapat bahwa tingkah laku berfungsi menjaga agar organisme tetap berthan hidup, dengan konsep sentralnya adalah kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan, hal yang penting bagi kelangsungan hidup. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan dikonsepkan sebagai dorongan. Stimulus dikaitkan dengan dorongan primer yang mengakibatkan timbulnya tingkah laku.

4. B. F. Skinner Asas-asas Skinner tentang kondisioning operan memberikan pengaruh baru pada studi dan analisa tingkah laku. Landasan bagi asas-asas Skinner tantang kondisioning operan adalah kepercayaannya tentang sifat hakekat ilmu perilaku dan cirri-ciri tingkah laku hasil belajar. Sehingga ia mendefinisikan belajar itu merupakan tingkah laku dimana ketika subjek belajar, responnya meningkat dan bila terjadi sebaliknya responnya menurun. Menurut Skinner tujuan ilmu ialah menemukan hubungan yang ada hukumnya di antara kejadian-kejadian yang alami di dalam lingkungan. Asas-asas kondisioning operan yang dikembangkan oleh Skinner mengalihkan perhatian pada penerapan metodologi itu untuk di kelas. Ia menyarankan digunakannya asas-asas kondisioning operan untuk merancang program-program untuk mengembangkan respons-respons verbal dalam mata pelajaran-mata pelajaran di sekolah. b. Teori Perkembangan Inteleketual Teori perkembangan intelektual Piaget (Ratna Willis) mengatakan bahwa setiap individu mengalami perkembangan intelektual sebagai berikut: 1. Sensori Motor (0-2 tahun) 2. Pra-operasional (2-7 tahun) 3. Operasional Konkret (7-11 tahun) 4. Operasional formal 11 tahun- keatas Usia siswa pada sekolah kejuruan adalah 11 tahun keatas berada pada perkembangan intelektual operasional formal. Pendidikan kejuruan dapat juga dimulai pada umur 13 keatas pada tingkat sekolah menengah atas yang kini dikenal SMK. Anak-anak pada periode ini telah berpikir dewasa. Ia dapat berpikir pada satu seri dan dapat menyatakan operasi mentalnya dengan simbolsimbol. Jadi siswa dapat disini sudah dapat berpikir. Sehingga dalam kita merencanakan program pembelajaran Pendidikan kejuruan perlu diperhatikan karkteristik berpikir dari siswa. Flavel (1963) mengemukakkan pada periode berfikir operasional, pertama ia dapat merumuskan banyak alternatif hipotesis dalam menanggapi masalah, dan men cek data terhadap setiap hipotesis untuk membuat keputusan yang layak dan kedua pada periode ini dapat berfikir proposional. Hal inilah yang harus menjadi landasan dalam menyusun pembelajaran. Pada dasarnya menurut Piaget dari hasil penelitiannya mengatakan bahwa ada lima faktor penting yang menunjang perkembangan intelektual yaitu kedewasaan (maturation), pengalaman phisik (physical experience), pengalaman logiko matematik (logico mathematical), transmisi social (social transmission), proses keseimbangan (equilibration) atau pengaturan sendiri (self regulation). Proses pembelajaran pada pendidikan kejuruan yang dilakukan melalui harus dapat memahami minat yang sesuai dengan kebutuhan anak didik yang seimbang dengan umur dan kemampuan proses berpikir siswa. Jadi dalam pembelajaran pada Pendidikan kejuruan harus memperhatikan pengetahuan yang telah diperoleh siswa sebelumnya. Dengan demikian pembelajaran berdasarkan karakteristik siswa pendidik kejuruan adalah pembelajaran bukan sebagai proses di mana gagasangagasan guru dipindahkan pada siswa melainkan sebagai proses untuk mengubah gagasan siswa yang sudah ada, melalui pengetahuan yang telah dimiliki siswa . Teori belajar ini dikenal pendekatan konstrutivis yang dikemukan oleh Piaget dan para ahli paedogogis Teori belajar konstruktivisme beranjak dari psikologi perkembangan intelektual Piaget yang memandang belajar sebagai proses pengaturan sendiri (self regulation) yang dilakukan seseorang dalam mengatasi konflik kognitif. Konflik kognitif timbul pada saat terjadi ketidakselarasan (disequilibrium) antara informasi yang diterima siswa dengan struktur kognitif yang dimilikinya ( Hidayat dan Rahayu : 1999 ). Piaget ( dalam Dahar : 1998 ) menyimpulkan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran siswa. Pengetahuan fisik dan logika matematik tidak dapat secara utuh dipindahkan dari pikiran guru ke pikiran siswa. Setiap siswa harus membangun sendiri pengetahuan itu melalui operasi mental. Paul Suparno (1997) mengemukakan bahwa menurut pandangan konstruktivisme, belajar merupakan proses aktif pembelajar (siswa) mengkonstruk arti ( teks, dialog, pengalaman fisik dll ). Belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dipunyai seseorang sehingga

pengertiannya dikembangkan. Siswa adalah seorang pengkonstruk, seorang penjelajah yang aktif, selalu ingin tahu dan selalu menjawab tantangan lingkungan sesuai dengan interpretasinya tentang ciri ciri esensial yang ditampilkan oleh lingkungan tersebut. Secara singkat gagasan konstruktivisme mengenai pengetahuan dapat dirangkum sebagai berikut : 1. Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui objek. 2. Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep dan struktur yang diperlukan untuk pengetahuan. 3. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi membentuk pengetahuan bila konsepsi itu berlaku dalam berhadapan dengan pengalaman seseorang. ( Suparno : 1997 ). Dari beberapa pendapat di atas, guru harus bisa mengungkap pengetahuan awal siswa, sehingga proses belajar mengajar yang dilakukan akan mengacu pada karakteristik siswa. Belajar yang mengacu pada pandangan konstruktivisme menurut Chandra ( 1999 ) hendaknya menekankan langkah langkah sebagai berikut : 1. Guru hendaknya memilih pengalaman belajar yang mendukung konsep yang akan dipelajari siswa. 2. Siswa menyusun pengertian pribadinya terhadap pengalaman belajar, sehingga pengetahuan yang tersusun bermakna bagi siswa itu sendiri. 3. Pengetahuan yang telah dikonstruksi oleh siswa dievaluasi melalui diskusi, di mana masing masing siswa mengemukakan gagasannya dan guru berperan sebagai fasilitator. 4. Setiap siswa mengkonstruksi kembali pengertiannya dengan mengaitkan pengertian itu pada pengalaman masing-masing. Konstruktivisme merupakan suatu faham yang berpandangan bahwa manusia mengetahui sesuatu setelah ia membentuk pengetahuan itu sendiri (Giambatista Vico dalam Poedjiadi: 2002). Menurut pandangan konstruktivisme, otak anak tidak seperti gelas kosong yang siap diisi dengan air informasi yang dikonstruk anak itu sendiri pada saat berinteraksi dengan lingkungan/ peristiwa yang dialaminya. Bodner (1986) penelitiannya tentang bagaimana anak-anak memperoleh pengetahuan, J. Piaget sampai pada kesimpulan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. (Dahar: 1996). Lebih lanjut Piaget menjelaskan, bahwa seseorang dapat membangun pengetahuan melalui berbagai cara, diantaranya melalui membaca, menelusuri, melakukan eksperimen, bertanya, dan lain-lain (Poedjiadi: 2002). Proses memperoleh pengetahuan dalam pandangan konstruktivisme adalah dengan jalan mengkaitkan informasi baru kepada pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge) secara individual. Dengan demikian, pengetahuan baru diperoleh beragam tergantung pada bagaimana pengetahuan itu diperoleh. Internalisasi dari suatu pengetahuan terjadi bila seorang menangkap informasi baru. Jika dengan pengetahuan yang lama tidak cocok akan terjadi miskonsepsi, suatu kondisi disequilibrium. Dengan berbahasa, memberi dorongan orang untuk berpikir apa-apa, mengapa dan bagaimana keterkaitan suatu pengetahuan yang baru diperolehnya dengan pengetahuannya yang telah dimiliki sebelumnya. Belajar juga merupakan konteks sosial yang menstimulasi untuk mendapatkan kejelasan (Arifin: 2000). Dalam pandangan konstruktivisme, siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan serta dapat merespon situasi pembelajaran dengan membawa konsep awal sebelumnya. Proses belajar melibatkan proses aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan dan melibatkan negosiasi interpersonal dan sosial. Di pihak lain, pengajar juga membawa konsepsi awal dalam situasi pembelajaran, baik mengenai materi pelajaran, maupun pandangan mereka tentang pembelajaran. Pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas serta tatanan pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat berpikir secara ilmiah. Dengan demikian, dalam lingkungan belajar seperti ini kurikulum bukanlah sesuatu yang sekedar perlu dipelajari, melainkan meliputi seperangkat program pembelajaran, materi, sumber, serta pembahasan yang merupakan titik tolak siswa dalam mengkonstruk pengetahuan. (Indrawati: 1999). Tugas/latihan : 1. Jelaskan tentang pentingnya strategi pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar

2. Buatlah implemntasi teori belajar mata kuliah yang terkait dengan program studi saudara

Catatan : Tugas ibuat dalam bentuk paper ( 3 - 6 hal) -Permasalahan, Kajian Pustaka, Iimplentasi, kesimpulan dan saran -dikumpulkan secara kolektif pada tanggal 24-9-2011