P. 1
12

12

|Views: 65|Likes:
Dipublikasikan oleh Oskar Ibrahim Yahya

More info:

Published by: Oskar Ibrahim Yahya on Oct 12, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/17/2012

pdf

text

original

POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA THE FINANCING PATTERN FOR

MICRO BUSINESSES OF SEAWEED FARMING IN PENAJAM PASER UTARA REGENCY Muhamad Syafril, Elly Purnamasari, Gusti Haqiqiansyah dan Juliani
Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan, FPIK Universitas Mulawarman

ABSTRACT The purpose of this research was to identify the pattern of financing for micro business of seaweed farming by coastal society in Penajam Paser Utara Regency. Research activities conducted during the months of June to November 2009 in sub-district of Sungai Parit and NipahNipah of Penajam Paser Utara (PPU) regency. The results showed that: (1) PPU regency has the potency of land resources (coastal and marine waters) covering 4,185 ha and human resources for the development of seaweed farming. (2) The actual condition of seaweed farming is subsistence as real wide 0.25 ha per farmer (18 points, transects of 50 m), total production of dried seaweed per cycle (45 days) 576 kg and income for Rp.1.197.000 per cycle. (3) Based on the calculation of profit / loss, the economic scale seaweed farming is at a minimum land area of 0.5 ha per farmer, so the annual profit after tax for 5 years is Rp.19.583.228 per year per farmer. Micro business of seaweed farming has two actual financing pattern a) financing from middlemen to farmers, b) financing of branches of Bankaltim Penajam to farmers. The development of seaweed farming can be done of forms of partnership: (a) group of farmers + the cooperative - banks, and Credit Insurance Corporation, (b) group of farmers-cooperative-investors-banks, with credit guaranteed from the investors and the long-term purchase contract in writing from the investor. Key words : financing pattern, micro busines, seawed farming PENDAHULUAN Usaha budidaya rumput laut di wilayah pesisir Kabupaten PPU cukup berkembang. Beberapa faktor yang memotivasi animo masyarakat pesisir untuk menggiatkan usaha ini adalah sebagai berikut : 1. Modal investasi dan modal operasionalpemeliharaan yang dibutuhkan relatif kecil,. 2. Masa proses produksi rumput laut hingga pemasaran relatif singkat (sekitar 45 hari),. 3. Potensi bibit cukup tersedia karena dapat diproduksi sendiri. 4. Jumlah produksi yang diperoleh cenderung meningkat atau minimal konstan pada level di atas titik impas usaha. 5. Pemasaran relatif mudah dengan saluran cukup pendek 6. Adanya dukungan pemerintah daerah, pusat, swasta serta lembaga perbankan untuk mengembangkan usaha dalam bentuk penguatan modal maupun akses adopsi-inovasi teknologi. . Adapun multiplier effect ekonomi dari usaha budidaya rumput laut antara lain : 1. Meningkatkan dan mempertahankan kelestarian sumberdaya hayati laut. 2. Menciptakan lapangan kerja baru bersifat padat karya dengan teknologi sederhana. 3. Merupakan upaya peningkatan pendapatan pembudidaya dan mencukupkan kebutuhan masyarakat akan gizi dari protein nabati. 4. Meningkatkan devisa bagi negara melalui perdagangan internasional. Usaha budidaya rumput laut skala kecil yang umumnya dikelola masyarakat pesisir perlu terus dikembangkan ke arah usaha komersil dan bernilai ekonomis tinggi, sehingga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat dan regional (daerah). Upaya pengembangan usaha budidaya rumput laut secara massal dapat dilakukan melalui

Objek penelitian lainnya sebagai pendukung kegiatan usaha budidaya rumput laut dan alternatif pemberi fasilitas permodalan adalah lembaga perbankan. Subyek penelitian terdiri dari : pelaku usaha mikro atau usaha kecil yaitu nelayan/pembudidaya rumput laut yang masih eksis.  Sebelah Barat dengan Kabupaten Paser dan Kutai Barat  Sebelah Timur dengan Kota Balikpapan dan Selat Makassar Gambar 2. perbankan dan instansi HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Wilayah Penelitian Kabupaten PPU merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Paser. 7 tahun 2002 tentang pembentukan Kabupaten Panajam Paser Utara. Peta Wilayah Administrasi Kabupaten Penajam Paser Utara Wilayah perairan pesisir dan laut Kabupaten PPU merupakan satu di antara sasaran pembentukan sentra produksi rumput laut di Provinsi Kalimantan Timur.7 km.116o56’35” Bujur Timur.185 ha. sehingga diperkirakan luas lahan potensial untuk marikultur rumput laut mencapai 4. lembaga non pemerintah. Secara georafis terletak antara 00o48’29” .kemitraan dengan dukungan pembiayaan dari berbagai lembaga perbankan dan non perbankan.01o36’37” Lintang Selatan dan 115o19’30” . serta pelaku usaha menengah/besar yaitu pedagang perantara yang melakukan aktivitas pembelian produksi rumput laut yang dihasilkan oleh pembudidaya. dengan model yang telah ditetapkan berdasarkan suatu kajian ilmiah. dengan panjang garis pantai 83. Hal ini didukung oleh lahan budidaya yang tersedia di wilayah ini relatif luas. Lokasi budidaya harus terlindung dari hempasan langsung ombak yang kuat. . Beberapa persyaratan kondisi lingkungan fisik. METODE PENELITIAN Kegiatan penelitian dilakukan selama 8 bulan (April-November 2009) bertempat di kelurahan Sungai Parit dan Kelurahan Nipahnipah Kabupaten Penajam Paser Utara Provinsi Kalimantan Timur. sesuai dengan UU No. yang terbentang dari Perairan Pesisir Teluk Balikapan hingga Babulu Laut. Penelitian ini bertujuan melakukan identifikasi tentang pola pembiayaan terhadap usaha kecil budidaya rumput laut yang dilakukan oleh masyarakat di wilayah pesisir Kabupaten PPU.  Sebelah Selatan dengan Kabupaten Paser dan Selat Makasar. kimia dan biologi untuk budidaya rumput laut sebagai berikut : 1. Secara adminitratif memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :  Sebelah Utara dengan Kabupaten Kutai Kartanegara.

konsumsi. .. tali rapia. Wilayah Kabupaten PPU yang merupakan kawasan potensial untuk usaha budidaya rumput laut di antaranya (Dinas Pertanian. Produksi. Adapun deskripsi ekonomi dari kondisi aktual usaha budidaya rumput laut adalah sebagai berikut : Biaya Investasi Luas tanam rumput laut sekitar 0. 7. 4.775. Caulerpa. dan terpal. Musim penanaman tidak sepanjang tahun. Metode yang cocok adalah metode jalur.750. Dalam 1 tahun terdapat 6 siklus produksi. bibit.5 meter dan jarak antara bibit dalam setiap jalur 25 cm). Perikanan dan Kelautan Kabupaten PPU.000 atau ratarata per pembudidaya Rp. 5..  Perairan pantai Nipah-nipah 25 – 40 ha. tonggak ulin 10 batang. Para pembudidaya ini hanya mengandalkan nota pembelian bahan dan kuitansi pembayaran hasil penjualan produksi dari pedagang pengumpul sebagai alat kontrol dalam pengelolaan usaha. pH air antara 7 – 9 dengan kisaran optimum 7. Tingkat keterlindungannya cukup tinggi dari pengaruh gelombang besar Profil Ekonomi Usaha Budidaya Rumput Laut Usaha budidaya rumput laut yang telah dikelola oleh masyarakat lokal umumnya masih ditunjang dengan pembukuan yang cukup sederhana.466. Lokasi budidaya harus mempunyai gerakan air yang cukup.300. Musim penanaman tidak sepanjang tahun. karung.000. jarak setiap jalur 2. 11.912 kg masing-masing pada tahun ke 2 sampai ke 5. Hasil usaha dirasakan belum cukup membantu masyarakat dalam meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan keluarganya. Biaya Operasional Biaya operasional usaha budidaya rumput laut di wilayah ini meliputi : bensin. sehingga jumlah produksi per tahun yang mampu dicapai sebesar 6. Jumlah kebutuhan biaya investasi sebesar Rp. sehingga jumlah biaya operasional pertahun dalam satu kelompok pembudidaya Rp. Pada surut terendah lahan budidaya masih terendam air minimal 30 cm.. Suhu air berkisar 27 – 30o C dengan fluktuasi harian maksimal 4 derajat celcius 8. mesin ces.35 ha. 6. Metode yang cocok digunakan adalah Metode Jalur. Salinitas berkisar antara 30 – 35 ‰ (optimum sekitar 33 ‰). Jumlah biaya operasional per siklus produksi Rp. 20.09 Ha dengan metode long line (setiap unit konstruksi terdiri dari 18 jalur dengan panjang 50 m. Dalam satu tahun terdapat 6 kali siklus produksi. perahu.  Perairan sekitar hulu Teluk Balikpapan mulai dari Pantai Lango hingga Desa Mentawir. Lokasi dan lahan jauh dari pengaruh sungai dan bebas dari pencemaran. Terdapat areal pembibitan rumput laut. Sebaiknya dipilih perairan yang secara alami ditumbuhi berbagai jenis makro algae lain seperti Ulva. 1..441.023.  Perairan pantai Desa Sungai Parit seluas 20 .000. Dasar perairan budidaya adalah dasar perairan karang berpasir.000 per pembudidaya. 3. 9. 238. Hypnea dan lain-lain sebagai bioindikator. Relatif kecilnya kapasitas produksi riil (18 jalur) sangat berpengaruh terhadap pendapatan dan keuntungan yang diperoleh per siklus maupun per tahun. namun terdapat juga pembudidaya yang belum memiliki pembukuan usaha. Kecepatan arus yang cukup ± 20 – 40 cm/detik. 2009):  Perairan pantai Desa Nenang seluas 20 – 30 ha. 4.per kelompok (50 orang pembudidaya). 3.3 – 8.2. dan tenaga kerja untuk pemasangan bibit pada jalur yang dilakukan oleh kaum perempuan.000. Kejernihan air tidak kurang dari 5 m dengan jarak pandang secara horisontal.2 10. membutuhkan peralatan investasi yang meliputi konstruksi budidaya (tali nilon ukuran diameter 10 mm dan 6 mm.per pembudidaya atau Rp. Padina. Penerimaan dan Keuntungan Usaha Jumlah produksi rumput laut pada kondisi aktual per pembudidaya setiap siklus produksi sebesar 576 kg berat kering. pelampung dari botol minuman plastik).336 kg pada tahun ke 1 dan 6.

185 ha (dengan asumsi bahwa terdapat 50% dari panjang garis pantai yang sangat potensial sebagai media budidaya. diperkirakan jumlah produksi rumput laut kering jenis Euchema cottoni per ha luas lahan budidaya mencapai 12.7 km. Pola Pembiayaan dari Pedagang Pengumpul . usaha budidaya rumput laut memiliki dampak positif yang dapat dirasakan oleh berbagai pihak di antaranya : a. 1 Order Bayar (produk) Pembudi daya 3 Pedagang Pengumpul Pengiriman Barang 4 6 Pembayaran 5 Pembayaran Pedagang Besar di Balikpapan Gambar 1. Angka ini diyakini mampu mengisi peluang pasar nasional per tahun sebesar 48%. budidaya rumput laut dapat menjadi mata pencaharian alternatif. Berdasarkan analisis data aktual. Tenaga kerja ini bersumber dari masyarakat lokal atau luar daerah. usaha Kredit (natura) 2 c. f. sebagai wahana edukasi dalam pengenalan dan penerapan IPTEK bekerjasama dengan investor. dengan panjang garis pantai 83. Pola Pembiayaan Usaha Budidaya Rumput Laut Bank Indonesia (2006) menyatakan bahwa kegiatan produksi pada berbagai sektor ekonomi membutuhkan 3 aspek utama yaitu modal investasi. maka produksi rumput laut kering yang mampu dihasilkan oleh kabupaten ini mencapai 53. Pencapaian ketiga aspek tersebut membentuk pola pembiayaan usaha yang terpadu sampai di tingkat pemasaran. Bagi perguruan tinggi. sehingga diperkirakan luas lahan potensial untuk marikultur rumput laut mencapai 4. dapat menjadi instrumen penanggulangan pengangguran di wilayah pesisir. e. Bagi masyarakat lokal (para pembudidaya). d. Aspek Sosial Usaha Budidaya Rumput Laut Berdasarkan aspek sosial. b. terbentang dari Perairan Pesisir Teluk Balikapan (Desa Mentawir) hingga Babulu Laut. Bagi pemerintah.672 ton per tahun. modal kerja yang besar serta usaha yang relatif stabil. Bagi anggota masyarakat yang belum mengusahakan komoditi ini. apalagi didukung oleh adanya program pemerintah pusat dan daerah dalam mengembangkan budidaya rumput laut melalui kemitraan usaha antara usaha kecil dengan usaha menengah dan besar. 2) peningkatan peluang untuk melakukan diversifikasi usaha perikanan 3) peningkatan kepemilikan aset ekonomi bagi keluarga pembudidaya terutama dalam hal perbaikan tempat tinggal dan sarana pemukiman. Bagi investor/eksportir/industri pengolah. pengembangan usaha ini dapat menjamin kelancaran pasokan bahan baku rumput laut kering yang dibutuhkan untuk pengembangan industri pengolah.032 ton per tahun. usaha ini mampu memberikan dampak berupa 1) peningkatan ekonomi keluarga. serta usulan pola pembiayaan melalui kemitraan usaha (Gambar 3 dan 4) . Perkembangan usaha budidaya rumput laut di daerah ini mampu mencegah dan mengubah pola pemanfaatan sumberdaya perikanan laut berupa kegitan penangkapan yang destruktif (illegal fishing). Selama ini alternatif pekerjaan yang dilakukan oleh nelayan jika sedang tidak melaut adalah berkebun atau bertani.Peluang Pasar Bagi Produksi Rumput Laut Lahan budidaya yang tersedia di wilayah ini relatif luas. Berikut ini akan disampaikan pola pembiayaan aktual (Gambar 1 dan 2). dengan potensi lahan yang tersedia. dengan jarak vertikal dari tepi garis pantai kearah laut lepas sepanjang 1 km). Usaha marikultur rumput laut yang dikelola oleh setiap kelompok (50 orang pembudidaya) diperkirakan membutuhkan tenaga kerja sejumlah 100 orang.

Pola Pembiayaan Budidaya Rumput Laut dari BPR 8 Pemkab. RumLa 6 MoU/ PK Program Kemitraan 1 7 2 Usaha Besar (Investor) 5b 5a 4 b 1 3 Kelompok Kelompok Pembudidaya Pendampi ng Usaha Mikro/ Kecil Gambar 3.Kredit (Investasi & Modal Kerja BANKALTIM Pembayaran Angsuran Kredit PEMBUDIDAYA Gambar 2. Pola Pembiayaan Perbankan melalui Koperasi/Pedagang Pengumpul . PPU dan Distan 4 a 5c KBI Balikpapan (Fasilitator) MoU dan Perjanjian Kerjasama Kemitraan 9 BANK 1 2 MoU/ PK Penja minan 3 2 Penjamin Kredit Lembaga 1 Kop.

Faktor karakter. Perbankan meragukan itikad atau kemauan para nelayan/pembudidaya dalam membayar angsuran pinjaman kepada bank. Pola Pembiayaan Perbankan melalui Investor Persepsi terhadap Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Sektor Perikanan Persepsi perbankan Terdapat beberapa pertimbangan dari perbankan untuk turut serta memberikan kredit kepada pengusaha UMKM perikanan termasuk pembudidaya rumput laut di Kabupaten Penajam Paser Utara Provinsi Kalimantan Timur : a. Produk perikanan umumnya “invisible”. kondisi perairan. Agunan yang berupa aset usaha (kapal dan perahu). Keterbatasan dalam memberikan angunan yang layak.Pemkab PPU dan Dinas Pertanian MoU Kemitraa n 1 3 4 KBI Balikpapan (Fasilitator) 2 10 INVESTOR (Usaha Besar) Bank 6b 6a MoU dan Perjanjian Kerjasama 5 Kelompokkelompok pembudidaya 8 3 9 3 6b Koperasi Rumla 6b 7 10 Pendamping Usaha Mikro/ Kecil Gambar 4. berdampak pada rendahnya kualitas produk. g. b. menjadi kendala dalam penafsiran nilai produk yang dihasilkan dimasa panen. Ada sebentuk kebiasaan dari para nelayan/pembudidaya yang beranggapan bahwa “ pemberian kredit dari lembaga pemerintah dan atau swasta merupakan bantuan murni/hibah yang tidak perlu untuk dikembalikan. dan kurangnya dukungan infrastruktur wilayah (jalan) yang memadai. f. mengingat rumput laut . hama dan penyakit). cenderung tidak memenuhi persyaratan kelayakan ekonomi yang ditetapkan oleh bank e. c. Usaha belum memiliki produktivitas dalam menghasilkan produk yang berkualitas dalam skala ekonomi. Lokasi usaha relatif jauh dari kantor bank. berdampak terjadinya kemacetan angsuran pinjaman bulanan d. musim. Sistem penanganan pasca panen (pengolahan hasil perikanan) yang masih tradisional. sehingga sangat mempengaruhi omzet usaha. Umumnya para nelayan/pembudidaya tidak memiliki agunan yang layak bagi bank berupa sertifikat tanah dan bangunan. Usaha memiliki resiko kegagalan yang tinggi dikarenakan adanya faktor alam (cuaca.

suplai rumput laut dari petani selalu terserap oleh pasar b. Ada sebentuk ketergantungan pembudidaya lokal terhadap investor dalam hal pemasaran produk yang telah diikat oleh perjanjian dengan ketentuan hukm yang berlaku. Pengembangan usaha budidaya rumput laut tersebut dapat dilakukan secara massal melalui pengembangan 2 pola kemitraan yaitu : (a) kelompok pembudidaya-koperasi– bank. dengan jaminan kredit dari investor dan kontrak pembelian jangka panjang secara tertulis dari investor. Berdasarkan perhitungan rugi/laba. 2. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Bank Indonesia Balikpapan dan perguruan tinggi diharapkan dapat memfasilitasi pengembangan usaha budidaya rumput laut melalui pola kemitraan sebagaimana yang telah dimodelkan dalam laporan ini.185 ha dan sumberdaya manusia untuk pengembangan budidaya rumput laut. 19. lembaga bank dan non bank) perlu terus dilakukan di masa mendatang. 2.583. Ikatan kontrak kerjasama dalam hal penjualan dan pembelian yang sepenuhnya kurang terealisasi berdampak pada kerugian kedua belah pihak jika tidak tercapai kesepakatan dalam proses transaksi. Keuntungan usaha cenderung untuk dikonsumsi tanpa digunakan untuk penguatan modal yang mengarah pada diversifikasi usaha non perikanan.197. Pembudidaya memiliki kepastian suplai sarana produksi (bibit) dan investasi dari investor yang berdampak positif pada ketepatan siklus produksi. Upaya-upaya pengembangan budidaya rumput laut di Kabupaten Penajam Paser Utara melalui dukungan pembiayaan dari berbagai pihak terkait (pemerintah.228/tahun/pembudidaya. Untuk itu perlu dilakukan kajian kelayakan lingkungan budidaya dan pola kemitraan dalam bentuk kerjasama yang . dan (b) pembiayaan dari Bank Kaltim cabang Penajam kepada pembudidaya. Kelebihannya adalah sebagai berikut : a. sehingga perlu penanganan khusus ditingkat pengolah (pabrik) yang merupakan tugas dan keahlian dari investor. Dinas Pertanian.000 per siklus. Perikanan dan Peternakan Kabupaten PPU Pengembangan budidaya rumput laut melalui pola kemitraan memiliki kelebihan dan kekurangan. Pembudidaya wajib menjual produksinya kepada investor berdasarkan kesepakatan harga yang tidak menutup kemungkinan kurang merujuk pada fluktuasi harga pasar nasional. Kepastian pasar tinggi. Dinas Teknis Terkait. b. Kondisi aktual menunjukkan usaha budidaya rumput laut masih bersifat subsisten dengan luas tanam riil per pembudidaya 0. 4. Kabupaten Penajam Paser Utara memiliki potensi sumberdaya lahan (perairan pesisir dan laut) seluas 4. Manajemen keuangan masih subsisten. 3. Saran 1. melibatkan Lembaga Penjamin Kredit. Adapun kelemahan dari pola kemitraan adalah : a.5 Ha per pembudidaya. dan (b) kelompok pembudidayakoperasi-investor-bank. mengingat rumput laut merupakan produk yang relatif cepat mengalami penurunan kualitas.1. sehingga mampu mendatangkan keuntungan tahunan setelah pajak selama 5 tahun sebesar Rp. Masyarakat nelayan/pembudidaya cenderung menggabungkan pengelolaan keuangan usaha dan rumah tangga untuk konsumsi.merupakan produk yang mudah rusak (perishable food) h. Pemerintah Daerah. Usaha kecil budidaya rumput laut memiliki dua pola pembiayaan aktual yaitu : (a) pembiayaan dari pedagang pengumpul kepada pembudidaya sebagai anggota kelompok. panjang jalur 50 m). jumlah produksi rumput laut kering per siklus (45 hari) 576 kg dan pendapatanyang diperoleh sebesar Rp. skala ekonomi usaha budidaya rumput laut berada pada luas lahan minimal 0.25 Ha (18 jalur. dengan biaya yang relatif murah.

2008. 2006. Pola Pembiayaan Usaha Kecil Industri Paving Blok. Samarinda. Laporan Kegiatan Kerjasama BI Samarinda dengan FPIK Unmul. Budidaya Rumput Laut . BI. Cornell University Press. A. Bank Indonesia. Pembudidayaan. Jakarta Bank Indonesia.. S. Kajian Pembiayaan Usaha Budidaya Rumput Laut di Kabupaten Kutai Timur Bank Indonesia Samarinda dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman. 2006. S. The Policy Analysis Matrix For Agricultural Development. pengolahan pasca panen dan manajemen usaha (administrasi dan keuangan). Suatu Investasi yang Prosfektif.. 2008. khususnya yang berhubungan dengan penataan ruang pesisir dan laut yang multifungsi dan multistakeholder. E. 3. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Pengembangan Klaster Rumput Laut di Kabupaten Kutai Timur.menguntungkan dan program pembinaan yang merupakan sinergi antar stakeholder (Pemda. Investor. Bahan disampaikan pada Rapat Teknis Perencanaan Terpadu Departemen Kelautan dan Perikanan Monke. 2006. dan Pemasaran Komoditas Perikanan Potensial. 2005. Jakarta . Samarinda Bank Indonesia. 2007. Dokumen Suplemen Sasaran Produksi Perikanan Budidaya. Perlu peningkatan dukungan dan peran pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara dalam mengembangkan usaha budidaya rumput laut. Pengolahan. J. Istini. Badan Promosi dan Investasi Daerah Provinsi Kalimantan Timur. Purwoto. Petunjuk Pelaksanaan Penyaluran Dana Penguatan Modal Melalui Mekanisme Pinjaman bagi Pembudidaya Ikan Skala Kecil. 2006. Program dan Kebijakan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Tahun 2008. Dengan demikian usaha dapat berjalan pada skala ekonomi sebagaimana yang telah dimodelkan. Pola Pembiayaan Usaha Kecil Syariah Usaha Budidaya Ikan Kerapu Dengan Menggunakan Keramba Jaring Apung. Jakarta Bank Indonesia Samarinda dan Universitas Mulawarman.T. Perguruan Tinggi dll). Jakarta. Rumput Laut. London DAFTAR PUSTAKA Anggadiredja. 1989. yang berpotensi menimbulkan konflik vertikal ataupun horisontal. Dinas Teknis. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta Departemen Kelautan dan Perikanan. melalui berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat (pelatihan dan pendampingan).Z. Disamping itu perlu revitalisasi penguatan kelompok dan pembinaan teknis kepada kelompok pembudidaya tentang teknis budidaya. A and Pearson. Penebar Swadaya Seri Agribisnis.H. Direktorat Usaha Budidaya.R. 2005. Kajian Pola Pembiayaan Dalam Hubungan Kemitraan Antara UMKM dan Usaha Besar.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->