P. 1
04. PT JAMSOSTEK

04. PT JAMSOSTEK

|Views: 2,167|Likes:
Dipublikasikan oleh Dokter Mus Musculus

More info:

Published by: Dokter Mus Musculus on Oct 12, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/03/2013

pdf

text

original

BPK - RI LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN

PT JAMSOSTEK (PERSERO)
Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2004 dan 2003

Nomor Tanggal

: 14.A/Auditama V/GA/03/2005 : 31 Maret 2005

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Jln. Gatot Subroto No. 31 Jakarta Pusat 10210 Telp. (021)5738727 dan 5704395 s.d. 9 Pesawat 294 Fax. (021) 5700380

DAFTAR ISI

Halaman I II III Laporan Auditor Independen Dasar Penugasan Dan Ruang Lingkup Audit Laporan Keuangan Konsolidasian PT Jamsostek (Persero) Neraca Konsolidasian Laporan Laba-Rugi Konsolidasian Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasian Laporan Arus Kas Konsolidasian Catatan Atas Laporan Keuangan − Umum − Kebijakan Akuntansi − Penjelasan Pos-pos Neraca dan Laba-Rugi − Pengungkapan Laporan Laba Rugi JHT & Non JHT − Pengungkapan Perubahan Kewajiban Kepada Peserta Entitas Penyelenggara Jamsostek IV Lampiran 58 7 10 19 56 1 3 5 6 i iii

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 14.A/Auditama V/GA/03/2005 LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Kami telah mengaudit neraca konsolidasian PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Persero) (selanjutnya disebut PT Jamsostek) dan anak perusahaannya tanggal 31 Desember 2004 dan 2003, serta laporan laba-rugi, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas konsolidasian untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. Kami juga melakukan pengujian atas kepatuhan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan dan pengendalian intern. Laporan keuangan, kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan pengendalian intern adalah tanggung jawab manajemen perusahaan. Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan audit kami. Kami tidak mengaudit laporan keuangan PT Binajasa Abadikarya, suatu anak perusahaan yang 99,98% sahamnya dimiliki oleh PT Jamsostek, yang laporan keuangannya mencerminkan aktiva total sebesar Rp41,36 milyar dan Rp37,01 milyar atau 0,12% dan 0,14% dari aktiva total yang dikonsolidasikan pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003, dan jumlah laba bersih sebesar Rp0,15 milyar dan Rp2,43 milyar atau 0,03% dan 0,45% dari jumlah laba bersih yang dikonsolidasikan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan keuangan tersebut diaudit oleh auditor independen lain yang laporannya telah diserahkan kepada kami, dan pendapat kami, sejauh yang berkaitan dengan jumlah-jumlah untuk anak perusahaan, sematamata hanya didasarkan atas laporan auditor independen lain tersebut. Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Audit Pemerintahan yang diterbitkan Badan Pemeriksa Keuangan dan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh BPK-RI/AUDITAMA V

keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Selain itu audit mencakup pengujian atas kepatuhan perusahaan terhadap kontrak, persyaratan bantuan dan pasal-pasal tertentu peraturan perundang-undangan serta kepatuhan terhadap pengendalian intern. Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat. Menurut pendapat kami, berdasarkan audit kami dan laporan auditor independen yang kami sebut diatas, laporan keuangan konsolidasian yang kami sebut di atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan PT Jamsostek dan anak perusahaannya tanggal 31 Desember 2004, dan 2003, dan hasil usaha, serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Kepatuhan PT Jamsostek atas peraturan perundang-undangan dan pengendalian intern kami sajikan dalam Laporan Nomor : 14.B/Auditama V/GA/03/2005 yang bertanggal 31 Maret 2005 dan terpisah dari laporan ini. Auditor Utama Keuangan Negara V Penanggung jawab Audit,

Drs. Misnoto, Ak., MA Register Negara No. D-1416 Jakarta, 31 Maret 2005

ii

BPK-RI/AUDITAMA V

DASAR PENUGASAN DAN RUANG LINGKUP AUDIT 1. Dasar Penugasan a. Undang-undang Dasar 1945, pasal 23 E, 23 F dan 23 G; b. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1973 tentang Badan Pemeriksa Keuangan; c. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. d. Surat Tugas Badan Pemeriksa Keuangan No. 71/ST/VII-XV.3/10/2004 tanggal 5 Oktober 2004, perihal atas Laporan Keuangan PT Jamsostek (Persero), Program Kemitraan dan Bina Lingkungan, dan Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta Tahun Buku 2004 di Kantor Pusat Jakarta dan Kantor Wilayah/Cabang di Jakarta dan Daerah; e. Surat Tugas Badan Pemeriksa Keuangan No. 20/ST/VII-XV.3/01/2005 tanggal 19 Januari 2005, perihal penugasan untuk melakukan audit atas laporan keuangan PT Jamsostek (Persero) Tahun Buku 2004 serta Program Kemitraan dan Bina Lingkungan dan Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta Tahun Buku 2004 di Kantor Pusat Jakarta; Ruang Lingkup Audit. Audit ini bersifat general audit atas laporan keuangan PT Jamsostek untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003. Audit dilaksanakan dengan berpedoman pada Standar Audit Pemerintah yang diterbitkan Badan Pemeriksa Keuangan dan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Selain itu audit mencakup pengujian atas kepatuhan perusahaan terhadap kontrak, persyaratan bantuan dan pasalpasal tertentu peraturan perundang-undangan, serta kepatuhan terhadap pengendalian intern. Kontrak dan pasal-pasal tertentu peraturan perundang-undangan yang kami uji mencakup: a. Undang-undang No. 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja b. Undang-undang No. 1 tahun 1995 mengenai Perseroan Terbatas. c. Undang-undang No. 17 tahun 2000 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. d. Undang-undang No. 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta e. Undang-undang No. 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara f. Undang-undang No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. g. Undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. h. Peraturan Pemerintah No. 36 tahun 1995 tentang Penetapan Badan Penyelenggara Program Jamsostek

2.

iii

BPK-RI/AUDITAMA V

i. Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1996 tentang Pengelolaan dan Investasi Dana Program j. k. l. m. n. o. p. q.
Jaminan Sosial Tenaga Kerja Peraturan Pemerintah No. 12 tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan. Peraturan Pemerintah No. 22 tahun 2004 tentang Pengelolaan Dan Investasi Dana Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Anggaran Dasar PT Jamsostek (Persero). Risalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Jamsostek (Persero) tentang pengesahan rencana kerja dan anggaran perusahaan tahun buku 2003 tanggal 19 Desember 2002. Risalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Jamsostek (Persero) tentang pengesahan laporan keuangan tahun buku 2003 tanggal 23 Juni 2004. Keputusan-keputusan Komisaris PT Jamsostek. Keputusan-keputusan Direksi PT Jamsostek. Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan pihak ketiga dalam pengelolaan dana investasi, kegiatan operasional, serta pengadaan barang dan jasa PT Jamsostek (Persero).

Kami tidak mengaudit laporan keuangan PT Binajasa Abadikarya, suatu anak perusahaan yang 99,98% sahamnya dimiliki oleh PT Jamsostek, yang laporan keuangannya mencerminkan aktiva total sebesar Rp41,36 milyar dan Rp37,01 milyar atau 0,12% dan 0,14% dari aktiva total yang dikonsolidasikan pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003, dan jumlah laba bersih sebesar Rp0,15 milyar dan Rp2,43 milyar atau 0.03% dan 0,45% dari jumlah laba bersih yang dikonsolidasikan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan keuangan tersebut diaudit oleh auditor independen lain yang laporannya telah diserahkan kepada kami, dan pendapat kami, sejauh yang berkaitan dengan jumlah-jumlah untuk anak perusahaan, semata-mata hanya didasarkan atas laporan auditor independen lain tersebut. Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat. Pelaksanaan audit di lapangan mulai tanggal 8 Oktober 2005 sampai dengan 31 Maret 2005.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

iv

BPK-RI/AUDITAMA V

PT. JAMSOSTEK ( PERSERO ) NERACA KONSOLIDASIAN PER 31 DESEMBER 2004 DAN 31 DESEMBER 2003 (Dalam Rp) AKTIVA AKTIVA INVESTASI Bank Investasi Deposito On Call (DOC) Deposito Berjangka Intrumen Pasar Uang Lainnya Cad. Peny. Ins. Psr Uang Lainnya Saham Obligasi Cad. Peny. Obligasi Medium Term Note (MTN) Cad. Penyisihan MTN Reksa Dana Penyertaan Cad. Peny. Penyertaan Langsung Properti Akumulasi Penyusutan Properti TOTAL INVESTASI AKTIVA LANCAR Kas dan Setara Kas Deposit On Call (Doc) Non Investasi Piutang Iuran Akm. Penyisihan Piutang Iuran Piutang Usaha Penyisihan Piutang Usaha Pendapatan ymh Diterima Piutang Investasi Uang Muka Pajak Piutang Pegawai PSL Dibayar Dimuka Piutang Lain-Lain Uang Muka Pegawai Beban Usaha yang Dibayar Dimuka Perlengkapan Dan Alat Tulis Kantor TOTAL AKTIVA LANCAR AKTIVA TETAP Tanah Bangunan Kendaraan Peralatan Kantor Peralatan Komputer Peralatan Lain Jumlah H. Perolehan Aktiva Tetap Akumulasi Penyusutan Aktiva Tetap Total Aktiva Tetap Aktiva Lain-Lain TOTAL AKTIVA 5 5.1 5.2 5.3 5.4 5.5 5.6 5.7 4 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 4.7 4.8 4.9 4.10 4.11 4.12 4.13 Catatan 31 DES 2004 31 DES 2003

3 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 3.7 3.8 3.9 3.10

4,499,835,967 29,750,694,506 14,336,741,575,110 21,600,000,000 (21,600,000,000) 3,158,217,536,302 14,097,284,201,687 (67,000,000,000) 126,050,000,000 (60,307,643,360) 278,824,947,967 26,492,009,000 (18,466,453,510) 663,602,923,018 (45,423,819,856) 32,530,265,806,832

1,337,073,319 71,909,657,996 14,025,731,253,854 24,700,218,996 (21,600,000,000) 2,062,727,990,000 8,653,553,764,626 556,050,000,000 (60,307,643,360) 131,604,991,065 26,492,009,000 (18,466,453,510) 646,120,506,514 (22,299,391,151) 26,077,553,977,349

53,990,158,729 15,000,000,000 89,253,848,564 (23,937,306,045) 6,079,770,551 (5,416,275,000) 391,349,265,427 4,955,194,363 1,475,319,955 99,375,087 22,313,206,209 2,484,355,478 7,521,788,076 2,073,601,028 567,242,302,422

36,597,523,843 110,478,050,762 (96,754,212,357) 6,462,297,950 (5,208,610,250) 318,709,589,167 69,144,925,200 1,864,680,303 32,167,616 57,491,188,000 18,119,222,147 1,919,154,295 9,072,682,487 527,928,659,163

56,035,112,154 95,664,647,938 75,646,408,666 22,283,777,931 80,146,429,513 33,682,022,030 363,458,398,232 (177,566,160,077) 185,892,238,155 119,675,361,993 33,403,075,709,402

36,554,047,212 78,915,782,627 63,049,873,490 19,340,398,033 87,897,729,352 28,316,086,942 314,073,917,656 (155,911,977,987) 158,161,939,669 137,279,409,205 26,900,923,985,386

6

Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasian yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

PT. JAMSOSTEK ( PERSERO ) NERACA KONSOLIDASIAN PER 31 DESEMBER 2004 DAN 31 DESEMBER 2003 (Dalam Rp) KEWAJIBAN KEWAJIBAN KEPADA PESERTA Hutang Jaminan Hutang Jaminan Diestimasi Selisih Rekonsiliasi Iuran Hutang JHT Jatuh Tempo Hutang Jaminan Hari Tua Terinci Hutang Jaminan Hari Tua Dana Pengembangan Dana JHT Selisih Penilaian Efek Cadangan Teknis Total Kewajiban Kepada Peserta Kewajiban Lancar Hutang Usaha Hutang Pajak Beban yang Masih Harus Dibayar Kewajiban Lain ymh Dibayar Pendapatan Diterima Dimuka Hutang Investasi Kewajiban Lancar Lainnya Total Kewajiban Lancar Kewajiban Lainnya Total Kewajiban Hak Minoritas Ekuitas Modal Disetor Cadangan Umum Cadangan Tujuan Selisih Penilaian Efek Non JHT Laba Tahun Berjalan TOTAL EKUITAS TOTAL KEWAJIBAN DAN EKUITAS 10 11 11.1 11.2 11.3 11.4 11.5 9 8 8.1 8.2 8.3 8.4 8.5 8.6 8.7 21,449,636,950 170,731,664,925 83,648,265,958 2,619,241,471 9,953,638,595 968,859,998 12,228,863,209 301,600,171,106 20,190,912,866 31,451,346,226,500 3,972,895 15,147,895,060 4,362,791,182 87,468,322,424 2,195,073,525 3,336,399,769 9,082,944,413 121,593,426,373 10,969,567,861 25,599,119,201,091 4,196,743 Catatan 7 7.1 7.2 7.3 7.4 7.5 7.6 7.7 7.8 7.9 31 DES 2004 31 DES 2003

11,110,278,497 712,718,677 2,284,225,658 282,172,053,835 22,772,346,070,848 4,022,715,480,524 748,242,282,510 612,079,310,023 2,677,892,721,956 31,129,555,142,528

2,734,924,546 6,421,227,721 22,341,343,219,091 642,653,432,359 226,454,008,641 2,246,949,394,499 25,466,556,206,857

125,000,000,000 348,925,697,575 185,102,054,225 871,633,499,130 421,064,259,077 1,951,725,510,007 33,403,075,709,402

125,000,000,000 261,830,965,762 165,593,054,226 214,141,172,015 535,235,395,549 1,301,800,587,552 26,900,923,985,386

Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasian yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

PT. JAMSOSTEK

LAPORAN LABA RUGI - KONSOLIDASIAN
PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 (Dalam Rp) URAIAN PENDAPATAN IURAN Pendapatan Iuran JKK Pendapatan Iuran JKM Pendapatan Iuran JPK Pendapatan Iuran Jasa Kontruksi Pendapatan Iuran Sektor Informal Total Pendapatan Iuran Pendapatan Operasional PT Bijak Total Pendapatan Operasional Beban Jaminan Beban Jaminan Kecelakaan Kerja Beban Jaminan Kematian Beban Jaminan Pelayanan Kesehatan Beban Jaminan Jasa Konstruksi Beban Jaminan Sektor Informal Total Beban Jaminan Beban Cadangan Teknis Beban Cadangan Teknis JKK Beban Cadangan Teknis JKM Beban Cadangan Teknis JPK Beban Cadangan Teknis Jasa Konstruksi Beban Cadangan Katastrofa Total Beban Cadangan Teknis Pendapatan Bersih Iuran Pendapatan Investasi Realized Pendapatan Bunga Pendapatan Dividen Investasi Pendapatan Sewa Investasi Laba Pelepasan Investasi Rugi Pelepasan Investasi Pendapatan Investasi Lainnya Unrealized Keuntungan Atas Kenaikan Investasi Kerugian Atas Penurunan Nilai Investasi Total Penghasilan Investasi Beban Investasi Beban Pajak Atas Kegiatan Investasi Beban Administrasi Atas Kegiatan Investasi Beban Investasi Properti Beban Asuransi Investasi Beban Manager dan Konsultan Investasi Beban Investasi Lainnya Total Beban Investasi Pendapatan Bersih Investasi 17 17.1 17.2 17.3 17.4 17.5 17.6 16 16.1 16.2 16.3 16.4 16.5 16.6 16.7 16.8 2,705,097,347,209 97,303,252,135 37,919,883,218 502,778,019,545 (29,641,051,991) 15,444,247,550 230,990,311,424 (186,899,580,216) 3,372,992,428,874 3,006,142,771,917 54,486,320,995 25,255,863,760 410,793,071,997 (51,925,775,844) 33,458,960,776 61,517,260,968 (59,616,979,009) 3,480,111,495,560 14 (193,365,275,647) (70,276,100,000) (273,561,860,434) (10,443,940,572) (36,000,000) (547,683,176,653) 15 (265,162,720,146) (124,872,199,039) (2,757,214,607) (36,185,190,462) (1,966,003,200) (430,943,327,454) 228,250,563,152 (233,618,761,360) (104,926,655,481) (4,047,930,380) (33,318,331,799) (1,828,142,470) (377,739,821,490) 241,978,650,221 (186,847,529,035) (65,768,250,000) (227,287,184,028) (8,454,818,763) (488,357,781,826) Catatan 12 525,184,979,778 234,861,783,922 393,200,640,232 47,302,112,394 47,995,059 1,200,597,511,385 13 6,279,555,874 1,206,877,067,259 476,386,135,991 208,696,633,297 365,628,493,918 43,441,906,607 1,094,153,169,813 13,923,083,724 1,108,076,253,537 31 DES 2004 31 DES 2003

(49,586,318,169) (7,674,154,259) (43,932,462,136) (1,072,936,580) (645,575,000) (939,792,564) (103,851,238,708) 3,269,141,190,166

(95,155,544,351) (4,348,458,225) (40,924,619,292) (94,550,090) (10,221,747,091) (150,744,919,049) 3,329,366,576,511

Total Pendapatan Usaha 3,497,391,753,318 3,571,345,226,732 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasian yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

PT. JAMSOSTEK

LAPORAN LABA RUGI - KONSOLIDASIAN
PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 (Dalam Rp) URAIAN Beban Usaha Beban Manajemen Beban Operasional Beban Personil Beban Administrasi Dan Umum Beban Penyusutan Dan Amortisasi Beban Penyisihan Piutang Total Beban Usaha Pendapatan Lain-Lain Beban Lain-Lain Pendapatan Bersih Lain Lain Laba Kotor Sebelum Bagian Peserta Bagian Peserta Atas Hasil Inves Jht Laba Sebelum Pajak Taksiran Pajak Penghasilan Badan Pendapatan (Beban) Pajak Tangguhan Laba Bersih Setelah Pajak Hak Minoritas Laba Setelah Hak Minoritas 23 23 21 22 20 Catatan 18 18.1 18.2 18.3 18.4 18.5 18.6 31 DES 2004 31 DES 2003

(12,224,696,159) (85,296,737,645) (322,990,472,413) (117,238,061,964) (37,140,474,522) (23,937,306,014) (598,827,748,717) 85,062,881,806 (13,840,233,466) 71,222,648,340 2,969,786,652,941 (2,335,047,029,716) 634,739,623,225 (179,915,851,033) (33,759,484,111) 421,064,288,081 (29,004)

(9,956,550,502) (65,521,422,891) (285,695,315,419) (105,052,810,183) (36,986,866,199) (28,120,726,123) (531,333,691,317) 13,621,297,595 (2,955,175,318) 10,666,122,277 3,050,677,657,692 (2,518,451,716,329) 532,225,941,363 (1,097,402,900) 4,107,343,938 535,235,882,401 (486,852)

19.1 19.2

421,064,259,077 535,235,395,549 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasian yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

PT. JAMSOSTEK LAPORAN ARUS KAS - KONSOLIDASIAN UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR 31 DES 2004 DAN 31 DESEMBER 2003 A. ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI PENERIMAAN KAS Penerimaan Iuran Program Paket Penerimaan Jasa Penempatan Tenaga Kerja Penerimaan Hasil Investasi Pencairan Dana Investasi Penerimaan Pendapatan Lain-Lain Kas yang Dihasilkan Dari Aktivitas Operasi PENGELUARAN KAS Pembayaran Klaim Asuransi Pembayaran Beban Usaha Pembayaran Beban Investasi Penempatan Dana Investasi Pembayaran Lain-Lain Kas Yang Digunakan Untuk Aktivitas Operasi Arus Kas Bersih Yg Digunakan Untuk Akt. Operasi B. ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI 1 2 3 4 Pengembalian/Angsuran Hutang Pegawai Perolehan Harta Tetap Siap Pakai Pemberian Pinjaman Kepada Pegawai Persekot Kerja Arus Kas Bersih Yg Digunakan Untuk Akt. Investasi 29,704,405 (70,691,343,884) (5,537,391,348) (70,661,639,480) 133,695,589 (54,487,172,579) (27,586,520) (54,381,063,510) 31 DES 2004 (Dalam Rp) 31 DESEMBER 2003

1 2 3 4 5

1,181,156,945,833 16,437,896,911 3,308,077,903,296 67,134,576,668,499 8,977,801,062 71,649,227,215,600

1,064,445,343,820 9,764,246,020 3,349,817,768,334 45,454,101,855,082 223,647,428,467 50,101,776,641,723

1 2 3 4 5

(538,919,644,661) (426,943,558,784) (90,476,823,477) (72,509,769,594,175) (8,576,638,344) (73,574,686,259,441) (1,925,459,043,841)

(475,837,039,704) (378,448,097,040) (188,081,702,689) (50,585,943,636,984) (24,541,683,858) (51,652,852,160,275) (1,551,075,518,552)

C. ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN 1 2 3 4 Penerimaan Iuran JHT Pembayaran JHT Kepada Peserta Penyaluran Laba Pemegang Saham (Dividen) Pembayaran Aktivitas Pendanaan Lainnya 4.1 Cadangan Umum 4.2 Gratifikasi ymh Dibayar 4.3 Tantiem ymh Dibayar 4.4 Penyaluran Dana PKBL 4.5 Penyaluran DPKP 4.6 Dana Bina Lingkungan 4.7 Kewajiban Lainnya ymh Dibayar Arus Kas Bersih yang Digunakan Untuk Akt. Pendanaan KENAIKAN/ PENURUNAN DALAM SALDO KAS Saldo Kas Awal Periode Saldo Kas Akhir Periode TERDIRI DARI : Kas Setara Kas 4,327,298,291,655 (2,082,801,957,757) (133,808,849,000) 45,220,338,473 (76,274,042,683) (3,183,250,000) (14,986,591,000) (26,761,769,000) (10,704,708,000) (1,271,567,482) 2,022,725,895,205 21,067,820,535 66,140,614,160 87,208,434,695 3,822,373,959,380 (1,581,731,549,844) (336,533,083,800) (65,870,265,577) (2,899,389,206) (9,826,654,200) (211,195,619,500) (2,500,420,000) 1,611,816,977,253 6,360,395,191 59,780,218,969 66,140,614,160

58,489,994,696 28,718,440,000 87,208,434,696

37,934,597,160 28,206,017,000 66,140,614,160

Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasian yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

6

ENTITAS PENYELENGGARA JAMSOSTEK LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS KONSOLIDASIAN PER 31 DESEMBER 2004 DAN 31 DESEMBER 2003 (Dalam Rp) URAIAN Saldo pada tanggal 1 Januari 2003 disajikan kembali Penambahan/pengurangan selama tahun berjalan Ditentukan untuk cadangan umum Ditentukan untuk Dividen Ditentukan untuk cadangan tujuan Distribusi laba PT BIJAK (Gratifikasi/Tantiem) Pembagian laba tahun lalu Laba bersih selama tahun berjalan Saldo pada tanggal 31 Desember 2003 Penambahan/pengurangan selama tahun berjalan Pembagian laba tahun lalu Laba bersih selama tahun berjalan (363,480,540) (982,665,418,943) 535,235,395,549 Modal Saham Ditempatkan dan Disetor Penuh 50,000,000,000 75,000,000,000 Cadangan Umum Cadangan Tujuan Selisih Penilaian Efek Saldo Laba yang Belum Ditentukan Penggunaannya 982,665,418,943 Jumlah Modal

307,112,935,312 (45,146,341,951)

126,412,054,227

(100,529,000,028) 314,670,172,042 -

1,365,661,408,454 344,523,830,091 140,227,852,941 (140,000,000,000)

140,227,852,941 (140,000,000,000) 39,181,000,000

39,181,000,000 (363,480,540) (982,665,418,943) 535,235,395,549

125,000,000,000 -

261,830,965,762 11,490,418,264 75,604,313,549

165,593,054,227

214,141,172,014 657,492,327,116

535,235,395,549

1,301,800,587,552 668,982,745,379

19,509,000,000

(535,235,395,549) 421,064,259,077

(440,122,082,000) 421,064,259,077

Saldo pada tanggal 31 DES 2004 125,000,000,000 348,925,697,575 185,102,054,225 871,633,499,130 421,064,259,077 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasian yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

1,951,725,510,007

PT JAMSOSTEK (PESERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)

1. UMUM a. Induk Perusahaan (PT Jamsostek) Perusahaan Perseroan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PT Jamsostek), untuk selanjutnya disebut Perusahaan, didirikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tanggal 17 Pebruari 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja dan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1995 tanggal 22 September 1995 tentang Penetapan Badan Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Sebelum dikeluarkannya kedua peraturan perundangan ini, perusahaan bernama Perusahaan Perseroan Asuransi Sosial Tenaga Kerja (PT ASTEK) dan berdiri atas dasar Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1990. Akta pendirian perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta Notaris Imas Fatimah, Sarjana Hukum Nomor 45 tanggal 28 Mei 2002 yang telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia sesuai Keputusan Nomor C13776HT.01.04.TH.2002 tanggal 25 Juli 2002 dan diumumkan dalam Berita Negara RI Nomor 79 tanggal 1 Oktober 2002 Tambahan Berita Negara RI Nomor 11824. Berdasarkan anggaran dasarnya, tujuan perusahaan adalah mewujudkan peningkatan perlindungan dan kesejahteraan tenaga kerja beserta keluarganya melalui sistem jaminan sosial dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas. Untuk mencapai tujuan ini, perusahaan melaksanakan kegiatan usaha sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK); Jaminan Kematian (JKM); Jaminan Hari Tua (JHT); Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK).

Dengan mengindahkan kebijaksanaan dan program peningkatan perlindungan dan kesejahteraan tenaga kerja beserta keluarganya serta prinsip-prinsip pengelolaan yang sehat, perusahaan menyelenggarakan pengusahaan dan pengelolaan jaminan sosial tenaga kerja melalui cara: 1) 2) 3) 4) 5) Pendaftaran peserta sebagai dasar pembinaan administrasi peserta/tertanggung. Penerimaan iuran peserta sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pengelolaan dana yang terkumpul. Pembayaran hak-hak tertanggung/peserta sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pengadministrasian perusahaan sesuai dengan prinsip-prinsip pengelolaan yang baik.

PT JAMSOSTEK (PESERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)

Sesuai dengan Akta pendirian perusahaan terakhir, modal dasar perseroan sebesar Rp75.000.000.000 telah ditempatkan sebesar Rp50.000.000.000. Kemudian berdasarkan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham PT Jamsostek Nomor: KEP-13/MBU/2003 tanggal 27 Maret 2003, telah disetujui peningkatan Modal Dasar dari semula sebesar Rp75.000.000.000 menjadi sebesar Rp400.000.000.000 dan peningkatan Modal Ditempatkan dari semula sebesar Rp50.000.000.000 menjadi sebesar Rp125.000.000.000. Penambahan penyertaan modal Negara sebesar Rp75.000.000.000 kedalam modal saham Perusahaan tersebut telah ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah RI Nomor 4 Tahun 2003 tanggal 17 Januari 2003. Susunan pengurus perusahaan pada akhir tahun 2003 dan 2002 adalah sebagai berikut: Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan RI No. 437/KMK.05/2001 tanggal 23 Juli 2001, susunan Dewan Komisaris adalah sebagai berikut: Komisaris Utama : Prijono Tjiptoherijanto Komisaris-komisaris : Didin S. Damanhuri H. Suparwanto Sjukur Sarto Surjo B. Sulisto Berdasarkan Keputusan Menteri BUMN RI No. KEP-263/MBU/2003 tanggal 31 Juli 2003, terdapat pemberhentian dan pengangkatan anggota Direksi Perusahaan. Susunan Direksi yang diberhentikan dengan hormat adalah sebagai berikut: Direktur Utama : A. Djunaidi Direktur Keuangan dan Informasi : Lukman Nulhakim Direktur Operasi dan Pelayanan : Djoko Sungkono Dir. Perencanaan dan Perundangan Jaminan Sosial : Supriyono Direktur Umum dan Personalia : Bambang Purwoko Direktur Investasi : Andy R. Alamsyah Susunan Direksi yang diangkat adalah sebagai berikut: Direktur Utama Direktur Keuangan Direktur Operasi dan Pelayanan Dir. Perencanaan, Pengembangan dan Informasi Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia Direktur Investasi : : : : : : A. Djunaidi Widjokongko Puspoyo Djoko Sungkono B.M. Tri Lestari Sentot Widharto (Alm.) Samuel Tobing

PT JAMSOSTEK (PESERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)

Selanjutnya berdasarkan Keputusan Menteri BUMN RI Nomor : KEP-34/MBU/2004 tanggal 19 Maret 2004, terdapat pemberhentian dan pengangkatan anggota Direksi Perusahaan. Anggota Direksi yang diberhentikan dengan hormat adalah Direktur Operasi dan Pelayanan yaitu Sdr. Djoko Sungkono sedangkan anggota Direksi yang diberhentikan karena meninggal dunia adalah Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia yaitu Sdr. Sentot Widharto. Anggota Direksi yang diangkat adalah sebagai berikut : Direktur Operasi dan Pelayanan : Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia : Indra Haryadi Armon Arleg

Dengan adanya penggantian tersebut, susunan Direksi menjadi sebagai berikut : Direktur Utama : A. Djunaidi Direktur Keuangan : Widjokongko Puspoyo Direktur Operasi dan Pelayanan : Indra Haryadi Dir. Perencanaan, Pengembangan dan Informasi : B.M. Tri Lestari Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia : Armon Arleg Direktur Investasi : Samuel Tobing

b. Anak Perusahaan (PT BIJAK) PT Binajasa Abadikarya (PT BIJAK), untuk selanjutnya disebut Anak Perusahaan, yang anggaran dasarnya dituangkan dalam Akta Notaris Harun Kamil, Sarjana Hukum Nomor 1 tanggal 6 April 1994, sebagaimana telah diubah dengan Akta Nomor 22 tanggal 15 September 1998 dari Notaris Muhani Salim, Sarjana Hukum dan telah dimuat dalam Berita Negara RI Nomor 27 dan 29 tanggal 3 April 2000, merupakan anak perusahaan PT Jamsostek, dengan bidang usaha sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Jasa penyediaan dan penempatan tenaga kerja. Pendidikan dan pelatihan tenaga kerja. Transportasi, penampungan sementara, dan pelayanan jasa boga bagi tenaga kerja serta kebutuhan tenaga kerja lainnya. Pemasaran tenaga kerja di dalam dan luar negeri. Perlindungan tenaga kerja baik pra pemberangkatan, selama bekerja, dan purna kerja, namun tidak melakukan kegiatan usaha asuransi dan jaminan sosial tenaga kerja. Usaha lainnya dalam rangka penempatan tenaga kerja Indonesia.

PT JAMSOSTEK (PESERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)

Modal yang ditempatkan dan disetor penuh pada akhir tahun 2003 dan 2002 masing-masing berjumlah 5.000 saham dengan nilai nominal Rp1.000.000 per lembar, atau seluruhnya berjumlah Rp5.000.000.000. Dari jumlah ini. 4.999.999 lembar atau Rp4.999.000.000 dimiliki oleh perusahaan, sedangkan sisa 1 lembar atau Rp1.000.000 dimiliki oleh Koperasi Karyawan PT Jamsostek. Laporan Keuangan PT BIJAK dikonsolidasikan dengan laporan keuangan perusahaan. Transaksi dan saldo antar perusahaan dieliminasi dalam konsolidasi. 2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI. a. Dasar Penyajian Laporan Keuangan Konsolidasian Implementasi Kebijakan Akuntansi pada entitas Perusahaan selain mengacu kepada standar akuntansi yang berlaku umum sebagaimana yang telah diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) diterbitkan IAI, proses penyusunan laporan keuangan perusahaan juga mengacu kepada Pedoman Akuntansi Jamsostek (PAJASTEK 2002) yang disahkan berdasarkan SK Direksi Nomor : KEP/27/012003 tanggal 29 Januari 2003. Laporan keuangan konsolidasian disusun berdasarkan konsep biaya perolehan, kecuali untuk investasi dalam saham, obligasi, dan reksadana yang diperdagangkan dan tersedia untuk dijual. Investasi dalam kelompok ini disajikan di Neraca sebesar nilai pasarnya. Laporan keuangan konsolidasian disusun menggunakan dasar akrual (accrual basis), kecuali untuk laporan arus kas konsolidasi, denda atas keterlambatan pembayaran iuran dan bunga, serta penerimaan iuran dan pembayaran JHT. Laporan arus kas konsolidasian disusun dengan menggunakan metode langsung dan menyajikan perubahan dalam kas dan setara kas dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. Untuk tujuan penyusunan laporan arus kas konsolidasian, yang termasuk dalam kas dan setara kas adalah kas dan bank perusahaan dan anak perusahaan serta deposito anak perusahaan.

b. Investasi Investasi dilakukan pada beberapa instrumen dengan perincian sebagai berikut : 1) Deposito berjangka dan Deposit on call Investasi dalam deposito berjangka dan deposit on call disajikan sebesar nilai nominalnya.

PT JAMSOSTEK (PESERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)

2)

Saham, Reksadana, Obligasi dan MTN a) Investasi dalam saham, reksadana, obligasi dan MTN yang diperdagangkan dan tersedia untuk dijual disajikan sebesar harga pasarnya. Laba/rugi yang belum direalisasi akibat adanya perbedaan antara nilai pasar dan harga perolehan pada saham, reksadana, obligasi dan MTN yang dimiliki untuk diperdagangkan diakui sebagai penghasilan/beban tahun berjalan. Laba/rugi yang belum direalisasi akibat adanya perbedaan antara nilai pasar dengan harga perolehan pada saham, reksadana, obligasi dan MTN Non JHT tersedia untuk dijual dimasukan sebagai komponen ekuitas dan disajikan secara terpisah, sedangkan laba/rugi yang belum direalisasi pada saham, reksadana, obligasi dan MTN JHT tersedia untuk dijual dimasukkan sebagai komponen kewajiban kepada peserta dan disajikan secara terpisah. Kebijakan Akuntansi berkenaan dengan pencatatan laba/rugi yang belum direalisasi untuk saham, reksadana, obligasi dan MTN berdasarkan sumber dananya tersebut mengacu kepada Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) No. 5 yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. ISAK tersebut memuat interpretasi atas paragraf 14 PSAK 50 tentang Pelaporan Perubahan Nilai Wajar Investasi Efek Dalam Kelompok Tersedia Untuk Dijual. b) Obligasi dan MTN yang dimiliki hingga jatuh tempo dinilai berdasarkan harga perolehan setelah ditambah atau dikurangi dengan amortisasi diskonto dan premi. Diskonto atau premi yang diamortisasi tersebut dicatat sebagai pendapatan bunga dan merupakan penambah atau pengurang dari nilai tercatat. Diskonto merupakan selisih kurang nilai nominal obligasi dan MTN dengan harga perolehannya. Secara periodik diskonto diamortisasi dengan menggunakan metode garis lurus selama umur obligasi dan MTN hingga jatuh tempo. Premium merupakan selisih lebih antara nilai nominal dengan harga perolehan. Secara periodik premium diamortisasi dengan menggunakan metode garis lurus selama umur obligasi hingga jatuh tempo. c) Harga pokok penjualan saham dihitung dengan harga rata-rata, sementara harga pokok penjualan obligasi dan MTN menggunakan metode First In First Out.

3) Penyertaan langsung a) Penyertaan langsung pada perusahaan lain dinyatakan sebesar harga perolehan (cost method) apabila perusahaan tidak mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap kebijaksanaan usaha dan keuangan perusahaan, serta nilai penyertaan kurang dari 20%.

PT JAMSOSTEK (PESERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)

b) Penyertaan langsung pada perusahaan lain dengan nilai penyertaan lebih dari 20% dinilai dengan metode ekuitas (equity method) dan atas penyertaan lebih dari 50% sehingga perusahaan mempunyai pengaruh signifikan, maka laporan keuangannya dikonsolidasikan dengan laporan keuangan Perusahaan. 4) Properti a) Tanah dan Bangunan Tanah dan bangunan disajikan sebesar nilai perolehannya. Tujuan investasi pada bangunan adalah untuk disewakan, oleh karena itu dilakukan penyusutan. Penghitungan penyusutan menggunakan metode garis lurus dan besarnya prosentase penyusutan adalah 5% per tahun. b) Aktiva Properti Aktiva Properti merupakan beban yang ditangguhkan atas pengeluaran untuk keperluan pembuatan dan pemasangan Vertical Blind pada Gedung Menara Jamsostek yang dikapitalisir. Aktiva properti tersebut diamortisasi selama periode kontrak sewa untuk setiap penyewa. Aktiva properti disajikan sebagai bagian (akun tersendiri) dari kelompok pos investasi properti.

c. Piutang Iuran 1) Piutang iuran adalah iuran non JHT yang belum diterima pada tanggal neraca. Berdasarkan Keputusan Direksi Nomor : KEP/27/012003 tentang PAJASTEK, perlakuan akuntansi untuk Piutang Iuran pada tahun buku 2004 mengalami perubahan. Piutang Iuran yang diakru dan dicatat dalam laporan keuangan adalah piutang iuran yang berumur 1 s/d 12 bulan. Sementara untuk Piutang Iuran yang umurnya lebih dari 12 bulan tidak lagi dilaporkan dalam laporan keuangan pokok tetapi disajikan dalam catatan atas laporan keuangan sebagai Aktiva (Piutang) Kontijensi. Penjabaran lebih lanjut atas pengukuran, pengakuan dan penyajian Piutang Iuran ini terdapat dalam Surat Edaran Direksi Nomor : B / 448 / 012004 tanggal 15 Januari 2004. 2) Berdasarkan SK Direksi Nomor : KEP/27/012003 tentang PAJASTEK, untuk kepentingan penyajian laporan keuangan tanggal cut off Piutang Iuran Non JHT adalah tanggal akhir bulan pelaporan. 3) Berdasarkan Keputusan Direksi Nomor: KEP/20/022002 tanggal 21 Februari 2002, piutang iuran diklasifikasikan sebagai berikut :

PT JAMSOSTEK (PESERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)

-

Lancar, yaitu tunggakan iuran dari perusahaan aktif dengan umur piutang sampai dengan 3 bulan. Kurang lancar, yaitu tunggakan iuran dari perusahaan aktif dengan umur piutang di atas 3 bulan sampai dengan 6 bulan. Macet, yaitu tunggakan iuran dari perusahaan aktif dengan umur piutang di atas 6 bulan sampai dengan 12 bulan dan/atau tunggakan iuran dari perusahaan non aktif (pailit, bubar, tidak ditemukan alamatnya atau tidak ada kegiatan usahanya).

Terhadap kemungkinan tidak tertagihnya piutang iuran, pada akhir tahun dibentuk penyisihan yang besarnya sejumlah piutang iuran yang diklasifikasikan Kurang lancar dan Macet, baik macet aktif maupun non aktif.

d. Perlengkapan alat tulis kantor Pencatatan persediaan perlengkapan alat tulis kantor menggunakan metode periodik dan pengukurannya menggunakan metode rata-rata tertimbang sesuai dengan Keputusan Direksi Nomor : KEP/265/122003 tanggal 31 Desember 2003 tentang pedoman verifikasi laporan keuangan kantor daerah PT Jamsostek (Persero). e. Aktiva Tetap Aktiva tetap dinyatakan dengan harga perolehan. Penyusutan dilakukan secara tahunan dan penghitungan penyusutan untuk keperluan akuntansi menggunakan metode garis lurus. Besarnya prosentase penyusutan Perusahaan dan Anak Perusahaan adalah sebagai berikut : - Bangunan 5% - Kendaraan 20 % - Peralatan kantor 25 % - Peralatan komputer 25 % - Peralatan lain 25 % Masa penyusutan bagi aktiva yang baru diperoleh, dihitung 1 (satu) bulan penuh tanpa memandang tanggal pembeliannya.

PT JAMSOSTEK (PESERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)

f.

Aktiva Tidak Berwujud Aktiva tidak berwujud dinyatakan dengan harga perolehan. Amortisasi mulai dihitung pada saat aktiva tidak berwujud tersebut siap untuk digunakan. Besarnya prosentase amortisasi adalah 25%.

g. Hutang Jaminan Diestimasi Berdasarkan Keputusan Direksi No. KEP/27/012003 tentang PAJASTEK, terhitung sejak tahun 2004, selain menyajikan hutang jaminan juga harus menyajikan hutang jaminan diestimasi. Hutang Jaminan Diestimasi adalah seluruh klaim program Non JHT (JKK, JKM dan JPK) yang telah diterima dari peserta, dan jumlahnya sudah dapat diketahui secara andal, meskipun belum disetujui, ditetapkan atau diotorisasi oleh pejabat berwenang.

h. Hutang J H T dan Bagian Peserta atas Hasil Investasi JHT. Penerimaan Iuran JHT dari perusahaan peserta Jamsostek merupakan penambah hutang JHT sedangkan pembayaran JHT merupakan pengurang hutang JHT dan seluruh hasil pengembangan investasi JHT dikembalikan kepada peserta. Bagian peserta atas hasil investasi merupakan hak peserta atas hasil bersih investasi dana JHT tahun berjalan. Bagian peserta ini bukan merupakan beban atau pendapatan melainkan merupakan alokasi hasil investasi kepada peserta. Besarnya hak peserta atas hasil investasi JHT ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Bunga = X%.A + 0.5.X%.IJHT X% A IJHT = Besarnya tariff bunga JHT per tahun yang ditetapkan Perusahaan (Persero). = Saldo pos Hutang JHT awal periode = Iuran JHT yang diterima selama tahun berjalan.

Sesuai Keputusan Direksi PT Jamsostek (Persero) No. KEP/322/122004 tanggal 30 Desember 2004, besarnya pemberian hasil pengembangan dana untuk perhitungan saldo JHT tahun 2004 sebesar 8,50%.

PT JAMSOSTEK (PESERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)

Bagian peserta berdasarkan rumus di atas akan menambah saldo hutang JHT. Apabila bagian peserta atas hasil investasi JHT setelah dialokasikan kepada peserta masih terdapat saldo maka atas saldo tersebut menjadi dana pengembangan JHT yang diklasifikasikan dalam kewajiban kepada peserta.

i.

Hutang JHT Jatuh Tempo. Berdasarkan keputusan Direksi No.KEP/ 27/012003 tentang PAJASTEK mulai tahun buku 2004, harus menyajikan hutang JHT Jatuh Tempo. Hutang Jatuh Tempo berasal dari estimasi klaim peserta yang dalam jangka waktu satu tahun ke depan sejak tanggal penyusunan laporan keuangan mencapai usia 55 tahun.

j.

Cadangan Teknis 1) Cadangan Teknis untuk Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian dan Jasa Kontruksi dibentuk berdasarkan perhitungan aktuaria dengan metode prospektif sesuai dengan surat persetujuan Menteri Keuangan Nomor : S.1101/MK.17/1994 tanggal 21 Juli 1994 dengan asumsi aktuaria sebagai berikut : - Tingkat Bunga = 8,00 % - Faktor Quota Zillmer = 0,50 % - Tingkat Mortalita CSO 1958 - Masa Kepesertaan sampai dengan usia pensiun ( 55 Tahun ). 2) Sesuai Keputusan Direksi PT .Jamsostek Nomor : KEP/330/0997, cadangan jaminan JPK dihitung sebesar 10 % dari penerimaan iuran tahun berjalan dan tidak bersifat akumulatif, sedangkan cadangan katastrofa dihitung sebesar 0,5 % dari iuran tahun berjalan dan bersifat akumulatif. Beban cadangan tehnis JPK dan cadangan katastrofa dibebankan di Kantor Pusat.

k. Beban yang Ditangguhkan. Beban yang ditangguhkan dinilai berdasarkan pengeluaran yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi, dan diamortisasikan setiap tahun selama masa manfaat yang diharapkan.

PT JAMSOSTEK (PESERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)

l.

Program Pensiun dan Tunjangan Hari Tua Pegawai. Yayasan Dana Pensiun Pegawai Perum ASTEK yang didirikan dengan Akte Notaris Soetomo Ramelan, SH No. 6 tanggal 3 Desember 1983, sebelumnya menyelenggarakan program pensiun, program Tunjangan Hari Tua (THT) dan program Perkumpulan Kematian Karyawan (PKK) PT Jamsostek (Persero). Dengan adanya UU No. 11 tahun 1992 tentang dana pensiun maka Yayasan Dana Pensiun hanya diperkenankan mengelola program pensiun. Untuk melanjutkan Program THT dan PKK, Perusahaan membentuk Yayasan Kesejahteraan Karyawan PT Jamsostek dengan dasar pendirian Akte Notaris Harun Kamil, SH No. 1 tanggal 1 Agustus 1996. Mengingat UU No. 16 Tahun 2001 tentang Yayasan, tidak memperbolehkan penyelenggaraan program THT karyawan PT Jamsostek oleh Yayasan Kesejahteraan Karyawan maka Yayasan Kesejahteraan Karyawan PT.Jamsostek sejak tanggal 1 Juni 2004 mengalihkan pengelolaan THT dan PKK karyawan PT. Jamsostek ke PT. AIA Indonesia sesuai dengan perjanjian nomor : R/58/062004 tentang Program Asuransi Jiwa Care Pack. Iuran yang dihimpun dihitung berdasarkan prosentase berikut : 1) Disetor ke Dana Pensiun Karyawan ASTEK (DPKA) sebesar : - Iuran pensiun beban pegawai sebesar 5 % x Gaji - Iuran pensiun beban perusahaan sesuai hasil perhitungan dari Aktuaria 2) Disetor ke PT Asuransi AIA Indonesia sebesar : - Iuran THT beban pegawai sebesar 4 % x Gaji - Iuran THT beban perusahaan sebesar 4 % x Gaji DPKA dan PT asuransi AIA Indonesia menyelenggarakan administrasi serta mengelola dana yang terhimpun, untuk kemudian melaksanakan pembayaran kepada pegawai yang telah memasuki masa pensiun. Selain itu berdasarkan perhitungan Aktuaria setiap tahun dianggarkan dotasi atas kekurangan Past Service Liabilities (PSL). Iuran pensiun dan THT yang menjadi beban pegawai dicatat sebagai potongan (hutang) sedangkan beban perusahaan dicatat sebagai beban. Penyetoran iuran tersebut dilakukan secara sentralisasi melalui Kantor Pusat.

PT JAMSOSTEK (PESERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)

m. Pengakuan Pendapatan Dan Beban Perusahaan mengakui dan mencatat pendapatan dan beban berdasarkan sistem accrual basis kecuali untuk iuran dan jaminan JHT dan denda atas keterlambatan pembayaran iuran dan bunga, berdasarkan cash basis. n. Alokasi Biaya Usaha dalam Pelaporan Segmen JHT dan Non JHT Sesuai dengan Keputusan Direksi No. KEP/80/032005 dalam pelaporan segmen usaha JHT dan Non JHT proporsi alokasi biaya usaha menggunakan pendekatan rata-rata dana investasi Jamsostek yaitu dengan menggunakan rumus sebagai berikut : periode Rata-rata dana Program Prognosa periode Anggaran investasi sebelum periode laporan keuangan laporan keuangan JHT A B C=(A+B)/2 Non JHT D E F=(D+E)/2 Proporsi JHT= (C/(C+F))x100% Proporsi Non JHT = (F/(C+F))x100% Berdasarkan rumus seperti tersebut di atas, proporsi alokasi beban usaha tahun 2004 adalah 88 % untuk segmen usaha JHT dan 12 % untuk segmen usaha Non JHT. o. Koreksi Transaksi Periode Sebelumnya Sesuai Keputusan Direksi PT. Jamsostek (Persero) Nomor : KEP/279/112004 tentang Penetapan Materialitas Atas Koreksi Akuntansi Pada Cadangan Umum Laporan Keuangan PT. Jamsostek (Persero), maka koreksi kesalahan mendasar apabila bersifat material dibebankan pada cadangan umum, sedangkan apabila tidak material dibebankan pada laba rugi tahun berjalan. Materialitas sebagaimana dimaksud besarnya minimal 1% (satu persen) dari laba setelah pajak berdasarkan laporan gabungan dalam RKAP tahun berjalan. p. Transaksi Dan Saldo Mata Uang Asing. Transaksi dalam mata uang asing dijabarkan kedalam rupiah dengan menggunakan kurs pada saat transaksi dilakukan. Pada tanggal neraca, aktiva dan kewajiban moneter perusahaan dan anak perusahaan dalam mata uang asing dijabarkan kedalam Rupiah berdasarkan kurs tengah

PT JAMSOSTEK (PESERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)

Bank Indonesia yaitu Rp9.290,00 per US $ 1 per tanggal 31 Desember 2004 dan Rp8.465,00 per US $ 1 per tanggal 31 Desember 2003. Selisih kurs yang timbul dari penyelesaian atau penjabaran aktiva dan kewajiban moneter perusahaan dan anak perusahaan dibebankan dalam kegiatan usaha pada tahun berjalan.

q. Perhitungan Pajak Penghasilan Badan Perhitungan PPh Badan dilakukan sesuai dengan Ketentuan Undang-undang Pajak Penghasilan Nomor 17 tahun 2000 dan Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor : SE02/Pj.31/1996. Sesuai Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor : SE02/Pj.31/1996 tanggal 06 Mei 1996, unuk kepentingan fiskal PT. Jamsostek (Persero) diperkenankan membentuk dana cadangan yaitu : − Dana Cadangan Premi Tanggungan Sendiri yang merupakan premi yang sudah diterima atau diperoleh tetapi belum merupakan Penghasilan Besarnya Cadangan premi tersebut adalah 40 % dari jumlah yang sudah diterima/ diperoleh dalam tahun pajak yang bersangkutan dan merupakan penghasilan pada tahun berikutnya. Dana Cadangan Klaim tanggungan sendiri sebesar jumlah klaim yang sudah disepakati − tetapi belum dibayar dan klaim yang sedang dalam proses tetapi sudah dilaporkan. r. Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta. Sesuai dengan Surat Menteri Keuangan Nomor : S - 148 / MK.016 / 96 Perusahaan telah melakukan penyisihan dan pengeluaran Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta yang dibentuk dari distribusi laba dan dikelola secara ekstra komptabel. s. Dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan Sesuai dengan Surat Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : S - 366/MMBU/2002 Perusahaan telah melakukan penyisihan dan pengeluaran Dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan yang dibentuk dari distribusi laba. Penyaluran dana tersebut merupakan kelanjutan dari penyaluran dana Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK) Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor : 1232/KMK.013/1989 tanggal 11 Nopember 1989 tentang Pedoman Pembinaan Pengusaha Ekonomi Lemah dan Koperasi, perusahaan telah melaksanakan penyisihan dan penyaluran dana PUKK yang juga bersumber dari distribusi laba berdasarkan suatu prosentase tertentu sesuai keputusan RUPS. Pengelolaan dan administrasi dana tersebut dilakukan secara ekstra komptabel.

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
3. Investasi Jumlah investasi per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 dapat dirinci sebagai berikut : 3.1 Bank Investasi Akun tersebut merupakan saldo kas dalam bentuk giro yang ditujukan untuk tujuan investasi per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 yang terdiri dari : 31 Desember 2004 ( Rp ) Bank Investasi - Dana JHT - Bank Mandiri cabang Kebun Melati - Bank Mandiri cabang Gedung Jamsostek - Bank Mandiri Custody Jumlah Bank Investasi - Dana Non-JHT - Bank Mandiri cabang Kebun Melati Jumlah Bank Investasi 3,206,641,923 803,824,683 59,458,920 4,069,925,526 31 Desember 2003 ( Rp ) 930,866,414 21,606,951 952,473,365

429,910,441 4,499,835,967

384,599,954 1,337,073,319

3.2 Deposito On Call (DOC) Akun tersebut merupakan penanaman dana perusahaan dalam bentuk Deposito On Call yang jatuh temponya paling lama 7 hari, dengan tingkat bunga rata - rata sebesar 6,03% yang terdiri dari : 31 Desember 2004 ( Rp ) - DOC - Dana JHT - DOC - Dana Non JHT Jumlah Deposito On Call 21,936,072,693 7,814,621,813 29,750,694,506 31 Desember 2003 ( Rp ) 16,568,040,196 55,341,617,800 71,909,657,996

3.3 Deposito Berjangka Akun tersebut merupakan penanaman dana deposito JHT dan deposito Non JHT per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 pada bank pemerintah dan bank swasta dalam bentuk Deposito Berjangka dengan jangka waktu rata-rata 3 bulan dan tingkat bunga rata-rata 6,80 % per tahun dengan rincian sebagai berikut : 31 Desember 2004 ( Rp ) Deposito Berjangka Dikelola Perusahaan - Deposito - Dana JHT - Deposito - Dana Non-JHT - Anak Perusahaan Fund Manager - Deposito - Dana JHT - Deposito - Dana Non-JHT Jumlah Anak Perusahaan Jumlah Deposito 31 Desember 2003 ( Rp )

13,483,872,394,110 824,150,741,000 -

12,764,455,832,760 1,099,617,838,464 28,206,017,000

14,308,023,135,110 28,718,440,000 14,336,741,575,110

133,451,565,630 14,025,731,253,854 28,206,017,000 14,053,937,270,854

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
a. Sesuai dengan Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-02/PJ.31/1996, penghasilan bunga atas deposito yang bersumber dari dana JHT tidak dipungut PPh ps. 23. Namun setelah terbitnya KMK/ 217/PJ/2001 yang menyebutkan bahwa dana JHT akan mendapatkan fasilitas bebas pajak jika PKP Dana Pensiun ( termasuk PT. Jamsostek) telah memiliki Surat Keterangan Bebas Pajak (SKB), maka sejak pertengahan tahun 2002 atas sebagian deposito perusahaan oleh beberapa bank-bank dipungut pajak sebesar 20%. Sampai dengan tanggal pelaporan jumlah bunga atas deposito JHT yang dipotong pajak dan telah memperolehSKB dari Dirjen Pajak namun belum dapat dicairkan adalah sebesar Rp13.426.118.888 dengan rincian sebagai berikut :

Tahun Tahun 2002 Tahun 2003 Tahun 2004 TOTAL

Saldo 10,786,111 6,333,636,093 7,081,696,684 13,426,118,888

Pada Tanggal 4 Maret 2005 telah diterima restitusi pajak Tahun 2002 dan 2003 sebesar Rp6.344.422.204. b. Pada Bulan Maret 2004 telah diterima kembali pembayaran dari Tim Likuidasi PT. Bank Andromeda sebesar Rp308.500.000 yang merupakan pelunasan lanjutan dari sebagian deposito Bank Andromeda yang telah dilikudasi pada tahun 1997 dengan total nominal deposito sebesar Rp30.000.000.000 .Sebelumnya bulan Juli 2003 telah diterima pembayaran sebesar Rp2.700.000.000. Seluruh nominal deposito ini telah dihapuskan pada tahun 1998. Atas pembayaran tersebut dicatat sebagai penambah pendapatan lain lain.

c. Deposito Non JHT yang dikelola oleh Fund Manager Panin Sekuritas sesuai Kontrak KPAI No. Per/92/102001 dan No. 001/PerKL/PS-FI/X/2001 merupakan deposito pada BPR PT Eka Bumi Artha (EBA) di Lampung untuk jangka waktu 35 bulan (bulan Oktober 2001 s/d September 2004) dengan tingkat bunga 35% per tahun dan sesuai dengan perjanjian antara Fund Manager dengan PT EBA, bunga akan dibayarkan pada saat jatuh tempo dan langsungmenambah nilai nominal deposito (compound interest ). Total pengakuan pendapatan bunga sampai dengan 31 Desember 2004 dan langsung menambah pokok deposito adalah sebesar Rp62.034.332.000, dari jumlah tersebut sebesar Rp13.907.767.398,53 merupakan pendapatan bunga Tahun 2004. Sesuai Surat dari PT Panin Sekuritas No.011/PS-F1/111/2004 mulai bulan Maret 2004 tingkat bunga deposito telah berubah dari 21% menjadi 17% per tahun. Sampai dengan tanggal laporan, seluruh deposito di BPR EBA telah dilunasi melalui pencairan sejak bulan Februari 2004 secara bertahap yakni masing-masingsebesar Rp12.500.000.000/bulan dan total hingga Bulan September 2004 sebesar Rp87.500.000.000 miliar. Pada tanggal 1 Nopember 2004 telah diterima pencairan terakhir sebesar Rp59.859.322.000 miliar melalui rekening PT. Jamsostek di Bank Mandiri Cabang Kebon Melati. d. Berdasarkan Surat KeputusanGubenur BI No.GUB 7/6/Kep-GBI/2004 tanggal 8 April 2004 Bank Indonesia telah melikuidasi Bank Dagang Bali. Dana PT.Jamsostek yang ditempatkan pada Bank Dagang Bali dalam bentuk deposito JHT sebesar Rp71.400.000.000 dan Non JHT sebesar Rp3.000.000.000. Sampai dengan tanggal laporan jumlah deposito yang telah dicairkan masing-masinguntuk deposito JHT sebesar Rp50.500.000.000 dan deposito Non JHT sebesar Rp3.000.000.000, sehinggasaldo deposito JHT yang belum dapat dicairkan sebesar Rp20.900.000.000. Pada tanggal 2 Maret 2005 deposito pada BDB sebesar Rp20.900.000.000 telah dicairkan dan ditempatkan kembali dalam deposito berjangka pada Bank Kesejahteraan Jakarta e. Pada tangal 13 Desember 2004 Bank Indonesia telah membekukankegiatan usaha PT Bank Global Internasional Tbk dengan Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia No. 6/90/KEP/GBI/2004. Dana PT Jamsostek yang ditempatkan di bank tersebut dalam bentuk deposito JHT adalah sebesar Rp295.502.000.000. Atas dana tersebut tidak dilakukan penyisihan karena telah memenuhi syarat-syarat kepesertaan Program Penjaminan Pemerintah. Pada tanggal 9 Maret 2005 deposito pada Bank Global sebesar Rp295.502.000.000 telah dicairkan dan ditempatkan kembali dalam deposito berjangka pada Bank BNI Kantor Cabang Utama Mayestik Jakarta. Rincian Deposito Berjangka dapat dilihat pada lampiran 3

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
3.4 Instrumen Pasar Uang Lainnya Pos investasi tersebut merupakan saldo per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 yang terdiri dari : 3.4.1 Promes 31 Desember 2004 31 Desember 2003 ( Rp ) ( Rp ) Promes Non JHT - Nominal - Diskonto Jumlah Promes

-

4,000,000,000 (899,781,004) 3,100,218,996

- Saldo Promes per 31 Desember 2003 sebesar Rp. 3.100.218.996,- merupakan nilai tunai Promes BPR Eka Bumi Artha (EBA) dengan nilai Nominal awal Rp9.000.000.000 dengan jangka waktu 35 bulan dan jatuh tempo September 2004. Penempatan dilakukan oleh KPAI Panin Sekuritas selaku Fund Manager sesuai kontrak KPAI No. Per/92/102001 dan No. 001/Per-KL/PSFI/X/2001. - Pada tanggal 15 Mei 2002 berdasarkan laporan KPAJ Panin No.001/F1/PS/V/2002 dilakukan Konversi Promes sebesar Rp5 miliar menjadi deposito pada BPR EBA sebesar Rp2,82 miliar. - Saldo promes BPR EBA per 30 september 2004 sebesar Rp4.000.000.000 telah dilunasi pada tanggal 1 Nopember 2004 melalui Bank Mandiri Kebon Melati bersamaan dengan pelunasan Deposito BPR EBA. Penambahan nilai promes pada tahun 2004 sebesar Rp899.781.004 merupakan amortisasi diskonto promes BPR EBA selama tahun 2004. Dengan demikian, seluruh diskonto promes BPR EBA sudah diamortisasi dan saldo diskonto per 31 Desember 2004 adalah sebesar Rp0.

3.4.2 Commercial Paper 31 Desember 2004 ( Rp ) CP - JHT - Nominal - Cad. Penyisihan CP JHT Jumlah CP 31 Desember 2003 ( Rp )

21,600,000,000 (21,600,000,000) -

21,600,000,000 (21,600,000,000) -

Commercial Paper ( CP ) terdiri dari 14 buah CP yang di-awal oleh PT Bank Pacific dengan nilai Rp36.000.000.000; belum dapat dicairkan pada saat jatuh tempo tanggal 18 Desember 1995. Dalam tahun 1998 pencairan telah dilakukan sebesar 40% atau Rp14.400.000.000; dalam bentuk tanah seluas 187,5 ha berlokasi di desa Cariu Jonggol sehingga saldo per 31 Desember 1998 menjadi Rp21.600.000.000; masih dalam proses penagihan melalui pengadilan. Sesuai keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor : 451/Pdt.G/1998/PN Jak.Sel dan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor : 119/Pdt.G/1999/PB Jkt.Pst untuk tingkat pertama PT Jamsostek dinyatakan menang dan menghukumtergugat PT Bank Pacific dan Ir.Endang Utari Mokodompit membayar senilai nominal CP ditambah bunga 21 % per tahun sejak jatuh tempo dibayar lunas secara tunai seketika dan sekaligus.

Atas putusan tersebut pihak tergugat mengajukan banding dan putusan pada tingkat banding, PT Jamsostek tetap dimenangkan sehingga tergugat mengajukanKasasi di MA dan sampai saat ini belum ada keputusannya.Penyisihan Commercial Paper dilakukan sebesar 100% sesuai dengan SK Direksi Nomor : KEP/143/0497 tanggal 22 April 1997 yang dibebankan sebagai biaya Investasi tahun 1996. Rincian Commercial Paper dapat dilihat pada lampiran 4 3.5 Saham 3.5.1 Saham Akun tersebut merupakan penanaman dana JHT dan Non-JHT per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 dalam bentuk saham dengan rincian sebagai berikut :

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
31 Desember 2004 ( Rp ) Dana - JHT - Saham Tersedia Utk Dijual Dana - Non JHT - Saham Diperdagangkan - Saham Tersedia Utk Dijual Jumlah Saham 31 Desember 2003 ( Rp )

994,794,850,000 994,794,850,000 13,268,750,001 2,150,153,936,301 2,163,422,686,302 3,158,217,536,302

867,146,250,000 867,146,250,000

1,195,581,740,000 1,195,581,740,000 2,062,727,990,000

Nilai saham per 31 Desember 2004 mengalamikenaikan sebesar Rp1.095.489.546.300 dibandingkan nilai saham per 31 Desember 2003. Peningkatan ini selain berasal dari kenaikan nilai pasar saham yang tercermin dari kinerja IHSG pada penutupan per 31 Desember 2004 sebesar 1.000,23 point dibanding posisi pada 31 Desember 2003 yaitu 691,90 point , juga karena terdapat penambahan saham dalam jumlah yang cukup besar antara lain Saham Astra Int'l (AAI), Unilever (UNI), Semen Gresik (SMGR), BRI (BBRI) dan Telkom (TLKM). Pada Tahun 2004 terdapat penjualan saham yang secara umum dilakukan dengan pertimbangan untuk merealisasikan keuntungan (profit taking) antara lain untuk saham Telkom (TLKM) dan Indosat (ISAT). Selain itu terdapat kebijakan cut loss yang dilakukan terutama untuk saham-sahamyang memiliki fundamental kurang baik serta saham-sahamdengan potensial kenaikan (up side) yang terbatas atau tidak ada potensial kenaikan sama sekali antara lain untuk saham Jakarta International Hotel and Development (JIHD). Pada Tanggal 27 Agustus2004 telah terjual warrant " Indosiar Warrant-2 " sebesar Rp2.040.412.393 yang terdiri dari 11.381.149 lembar saham dengan harga per lembar sebesar Rp179,28. Warrant lekat tsb berasal dari bonus pembelian perdana (IPO) saham " Indosiar Visual " pada bulan Agustus 2003 pada kelompok pokok AFS Non JHT. Warrant tersebut tidak dicatat dalam laporan keuangan pokok, namun hanya dicatat secara extra comptable dalam catatan atas laporan keuangan. Atas penjualan ini dicatat sebagai pendapatan lain-lain saham non JHT. Rincian Saham dapat dilihat pada lampiran 5 3.6 Obligasi 3.6.1 Obligasi Akun tersebut merupakan penanamandana JHT dan Non JHT per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 dalam bentuk obligasi yang dikelompokkan dalam tersedia untuk dijual, diperdagangkan dan dimiliki hingga jatuh tempo dengan rincian sebagai berikut :

31 Desember 2004 ( Rp ) Dana - JHT - Obligasi JHT Diperdagangkan - Obligasi JHT Tersedia Untuk Dijual - Obligasi JHT Dimiliki Hingga Jatuh Tempo - Cadangan Penyisihan Obligasi - Premium Obligasi JHT - Diskonto Obligasi JHT Dana - Non JHT - Fund Manager Non JHT - Obligasi Non-JHT Diperdagangkan - Obligasi Non-JHT Tersedia Untuk Dijual - Obligasi Non-JHT Dimiliki Hingga Jatuh Tempo - Premium Obligasi Non-JHT - Diskonto Obligasi Non-JHT - Anak Perusahaan Jumlah Obligasi

31 Desember 2003 ( Rp )

2,253,104,516,846 4,118,222,651,898 6,792,576,000,000 (67,000,000,000) 218,993,010,375 (61,753,635,609) 13,254,142,543,510 477,858,700,000 189,707,140,000 103,200,000,000 818,177 770,766,658,177 5,375,000,000 14,030,284,201,687

1,713,038,526,250 1,824,835,688,400 4,878,150,000,000 168,128,977,483 (33,810,063,866) 8,550,343,128,267 103,200,000,000 10,636,359 103,210,636,359 8,653,553,764,626

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)

- Pada tanggal 13 Desember 2004 Bank Indonesia telah membekukankegiatan usaha PT. Bank Global International Tbk dengan surat keputusan Gubernur Bank Indonesia No. 6/90/KEP/GBI/2004. RUPS Subordinasi I Bank Global tanggal 29 Desember 2004 memutuskan perusahan ini mengalami gagal bayar (default) atas pembayaran pokok dan surat hutang yang diterbitkan sebesar Rp40 miliar. PT Jamsostek memiliki subordinasi obligasi sebesar Rp100 miliar. Berdasarkan memo Direktur Investasi No. M/06/DIRVEST/012005 tanggal 6 Januari 2005, maka atas nilai obligasi tersebut telah dilakukan penyisihan.

- Selama periode Januari s.d. Desember 2004 terdapat beberapa obligasi dalam kelompok HTM yang jatuh tempo dan telah diterima pelunasannya sesuai jadwal, antara lain obligasi VR004 sebesar Rp80 miliar dan VR0005 sebesar Rp200 miliar pada Bulan Mei 2004, obligasi FR006 sebesar Rp440 miliar dan FR007 sebesar Rp1,75 miliar pada Bulan September 2004. - Selama periode Januari s.d. Desember 2004 terdapat pembelian Obligasi dalam jumlah yang cukup siginifikan. Mayoritas obligasi yang dibeli adalah jenis Recap Bond FR, sampai dengan 31 Desember 2004 jumlah prosentase obligasi pemerintah sebesar 79,22 % dari seluruh dana obligasi. Rincian Obligasi dapat dilihat pada lampiran 6 3.7 Medium Term Notes ( MTN ) 3.7.1 MTN 31 Desember 2004 ( Rp ) Dana - JHT - Fund Manager JHT - MTN JHT Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Dana - Non JHT - Fund Manager Non-JHT - Diskonto MTN Non-JHT Jumlah MTN 31 Desember 2003 ( Rp )

113,250,000,000 113,250,000,000 12,800,000,000 12,800,000,000 126,050,000,000

270,000,000,000 273,250,000,000 543,250,000,000 12,800,000,000 12,800,000,000 556,050,000,000

Seperti halnya obligasi, MTN memberikan hasil dalam bentuk kupon dengan tingkat bunga tetap (fixed rate ), kupon dengan bunga mengambang (loat ) atau Floating Rate Notes (FRN) serta memberikan hasil dalam bentuk diskonto discounted ). f (

3.7.2 Rincian MTN yang penempatannya dilakukan oleh Perusahaan : Nilai Tunai 31-12-2004 MTN JHT Dimiliki hingga jatuh Tempo 1. Volgren (JT Juli- 04) 33,250,000,000 2. Surya Indo (JT Juli - 04) 80,000,000,000 113,250,000,000

Saldo Nominal

33,250,000,000 80,000,000,000 113,250,000,000

3.7.3 Rincian MTN yang penempatannya dilakukan oleh Fund Manager (FM) MTN NON JHT PT. Hati Prima Perdasa (JT Oktober -03) Jumlah JHT & Non JHT

12,800,000,000 126,050,000,000

12,800,000,000 126,050,000,000

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
a. MTN PT Hadji Kalla seharusnyajatuh tempo pada Bulan April 2006, namun sejak Bulan Juli 2003 dilakukan percepatan pelunasan dan terakhir telah dilunasi pada Bulan September 2004 sebesar Rp100 miliar. Rincian pelunasan MTN PT Hadji Kalla adalah sebagai berikut: - Juli 2003 - September 2003 - Januari 2004 - Agustus 2004 - September 2004 Rp. 30 Rp. 10 Rp. 50 Rp. 10 Rp. 100 Rp. 200 Miliar Miliar Miliar Miliar Miliar Miliar

Seluruh kupon bunga dibayarkan tepat pada waktunya. b. Sampai dengan tanggal pelaporan PT. Volgren baru membayar kupon bunga I dan II, sementara total tunggakan kupon yang belum dibayarkan sampai dengan tanggal 31 Desember 2004 mencapai Rp18.759.465.278. Dari jumlah tersebut, piutang bunga s.d. 31 Desember 2003 sebesar Rp5.931.430.556 telah disisihkan pada tahun buku 2002, sedangkan sisanya sebesar Rp12.828.034.722 dicatat extra comptable. Adapun pokok MTN sebesar Rp33.250.000.000 dalam tahun buku 2002 telah disisihkan sebesar Rp24.370.000.000. Sesuai Pendapat Kantor Hukum "Lontoh & Kailimang" No. 110/LK-PK/X/04 Tanggal 11 Oktober 2004 , dinyatakan bahwa PT Volgren Indonesia tidak mempunyai itikad baik untuk melakukan pelunasan pokok MTN beserta bunga dan dendanya.

c. MTN Surya Indo menurut jadwal akan jatuh tempo tanggal 30 Juli 2004. Berdasarkan memo Divisi PUPM kepada Kepala Biro Akuntansi No.M/27/DPUPM/012004 tanggal 29 Januari 2004, PT Surya Indo belum memberikan kepastian untuk segera menyelesaikankewajiban pembayaran bunga. Bunga tertunggak sejak 30 Januari s.d. 31 Desember 2003 sebesar Rp13.446.527.778 dinyatakan default . Berdasarkan pertimbangan konservatif, piutang kupon tersebut direklas ke piutang lain dan langsungdisisihkan sebagai beban kerugian tahun 2003. Pendapatan bunga atas MTN sampai dengan 31 Desember 2004 sebesar Rp28.137.361.111. dimana sebesar Rp14.690.833.333,- dicatat secara extracomptable Adapun pokok MTN PT Surya Indo sebesar Rp80 miliar dan dalam tahun buku 2002 telah disisihkan sebesar Rp23.137.643.360. Sesuai Pendapat Kantor Hukum "Lontoh & Kailimang" No.110/LK-PK/X/04 Tanggal 11 Oktober 2004 dan No. 136/LK-SK/IX/04 Tanggal 27 September 2004, dinyatakan bahwa "Aji Wijaya Sunarto Yudo & Co" selaku kuasa hukum PT. Surya Indo mengusulkan pelunasan MTN melalui penyerahan barang persedian (fidusia) sebesar nilai buku per Juni 2004 dan tanah di Jl. Cakung Cilincing seluas 25.963 M2 . Atas usulan ini PT Jamsostek belum memberikanpersetujuan karena masih terdapat perbedaan apraisal mengenai nilai tanah yang dijadikan tambahan jaminan.

d. Berdasarkan surat PT RFAM kepada PT Jamsostek No.145/RFAM-JMS/Dir/X/01 tgl 16 Oktober 2001 PT Arutmin harus membayar redemption sekuritisasi (pelunasan kewajiban) secara bertahap, yaitu tahun pertama pada bulan Oktober 2002 sebesar Rp100.000.000.000, tahun kedua pada bulan Oktober 2003 sebesar Rp100.000.000.000 dan tahun ketiga pada bulan Oktober 2004 sebesar Rp270.000.000.000. Kewajiban pada tahun pertama telah dilunasi dengan dua tahap yaitu tahap pertama sebesar Rp7.350.000.000 dibayar pada tanggal 25 Oktober 2002, sementara tahap kedua sebesar Rp92.650.000.000 dilakukan pada tanggal 20 November 2002. Untuk redemption sekuritasasi tahun kedua sebesar Rp100.000.000.000 pelunasannya juga dilakukan dengan dua tahap yaitu sebesar Rp21.843.750.000 pada tanggal 16 Oktober 2003 dan sebesar Rp78.156.250.000 dibayar pada tanggal 4 November 2003. Atas keterlambatan pelunasan angsuran pokok MTN, telah diterima pembayaran denda keterlambatan pada bulan Desember 2003 sebesar Rp453.925.653 dan dicatat sebagai pendapatan tahun 2003. Selanjutnya pelunasan tahun ketiga sebesar Rp270.000.000.000 pada bulan Agustus 2004 atau lebih cepat 2 bulan dari jadwal pada Bulan Oktober 2004.

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
Sesuai ketentuan dalam perjanjian antara PT Jamsostek dan PT RFAM nomor PER/86/102001 disebutkan bahwa target hasil investasi selain hasil dalam bentuk bunga (kupon), juga berupa 5% dari keuntungan (laba bersih setelah pajak) yang dibayarkan setiap akhir tahun selama masa perjanjian. Sesuai copy surat PT Arutmin kepada PT Rifan FAM No. 655/AI/XII/03 tanggal 16 Desember 2003 tentang Penyelesaian Kewajiban atas MTN Arutmin Indonesia dinyatakan bahwa PT Arutmin akan membayar dividen 5% dari laba bersih perusahaan tahun 2001 dan 2002 kepada PT Jamsostek dalam 3 tahap hingga 15 April 2004. Berdasarkan Memo Divisi PUPM Nomor M/19/DPUPM/012004 tanggal 20 Januari 2004 adalah bagian laba tahun 2002 sebesar Rp7.139.350.103 dan untuk bagian laba Tahun 2001 sebesar US$ 55,601.00 dicatat menambah pendapatan lain MTN.

Atas pembagian dividen tersebut pada bulan Pebruari 2004 telah diterima pelunasan bagian laba tahun 2001 sebesar US$65,502.00 dengan kurs Rp8.420/US$ atau setara dengan Rp551.526.840. Pembayaran sebesar ini sebenarnyamerupakan bagian laba bruto atau belum dipotong pajak penghasilansebesar 15%, sehingga terdapat kelebihan sebesar US$9,926.00 atau setara dengan Rp82.729.026 dan dicatat ke akun Pos Sementara Dalam Penyelesaian (PSDP). Untuk bagi hasil laba tahun 2002 dilunasi dalam 3 tahap masingmasing pada Bulan Februari 2004, April dan Agustus 2004 dengan total sebesar US$843,396.35 atau sebesar Rp7.139.350.102,8. Karena pembayaran dilakukan dalam US $ sedangkanpengakuan pendapatan telah dilakukan pada akhir tahun 2003 dengan kurs per 31 Desember 2003, maka terdapat selisih keuntungan kurs yang dicatat sebagai pendapatan lain-lain MTN sebesar Rp315.026.043,

PT Arutmin dalam pelunasan kupon bunga, bagi hasil dan pokok MTN ini ternyata membayar melebihi dari jumlah yang seharusnya sesuai perjanjian. Sesuai Memo Biro Akuntansi No. M/414/102004 tanggal Oktober 2004 kepada Divisi PUPM, Biro akuntansi telah meminta penjelasan mengenai perlakuan atas kelebihan pembayaran bagi hasil dan pokok dengan total Rp8.022.174.658 yang dicatat ke akun PSDP. Dilain pihak, Sesuai Surat Divisi PUPM No. B/7237/082004 Tanggal 24 Agustus2004, PT Arutmin masih memiliki tunggakan pembayaran bagi hasil Tahun 2003 dan denda keterlambatan dengan total sebesar Rp8.037.494.925 dan telah dicatat sebagai piutang lain. e. Investasi dalam MTN PT Hati Prima Perdasa dikelola oleh fund manager PT. Panin Sekuritas Tbk, pencatatannya dilakukan atas dasar deal confirmation tanggal 1 November 2001 dengan tingkat bunga sebesar 13% p.a. Dalam tahun buku 2002 seluruh pokok MTN ini disisihkan. MTN ini telah jatuh tempo tanggal 8 Nopember 2003 namun sampai dengan tanggal pelaporan belum ada pembayaran. PT. Panin Sekuritas melalui surat No. 116/PS-FI/XI/2004 tanggal 5 Nopember 2004 menyatakan bahwa Kontrak Pengelolaan Asset Investasi (KPAI) antara PT Panin Sekuritas dan PT Jamsostek telah berakhir pada tanggal 31 Oktober 2004 dengan total keseluruhan dana yang dikembalikan sebesar Rp151.359.332.000 tidak termasuk MTN PT Hati Prima Perdasa. f. Dalam tahun 2002 telah dibentuk saldo Cadangan Penyisihan atas MTN yang mengalami Potensial Default dengan perincian sebagai berikut: - Volgreen (73,29 %) - Surya Indo (28,93%) - Hati Prima Perdasa (100%) Rp. Rp. Rp. Rp. 24,370,000,000 23,137,643,360 12,800,000,000 60,307,643,360

Pada tahun 2003 terhadap cadangan penyisihan MTN PT Sapta Prana Jaya sebesar Rp18.785.107.200,- telah dikoreksi atau dihapusbukukan bersamaan dengan dilakukannya penyelesaian pokok MTN melalui mekanisme penyerahan jaminan tanah. Koreksi atas cadangan penyisihan tersebut dicatat sebagai penambah pendapatan investasi lainnya tahun 2003.

3.7.4 Cadangan Penyisihan MTN 31 Desember 2004 ( Rp ) Dana - JHT - Cad. Penyis. MTN JHT HTM Dana - Non JHT - Cad. Penyis. MTN Non-JHT HTM Jumlah Cad. Penyis. MTN (47,507,643,360) (47,507,643,360) (12,800,000,000) (12,800,000,000) (60,307,643,360) 31 Desember 2003 ( Rp ) (47,507,643,360) (47,507,643,360) (12,800,000,000) (12,800,000,000) (60,307,643,360)

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
3.8 Reksadana 3.8.1 Reksadana Akun tersebut merupakan penanaman dana JHT dan Non JHT per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 dalam bentuk Sertifikat Reksadana yang dikelola oleh Fund Manager reksadana dengan rincian sebagai berikut : 31 Desember 2004 ( Rp ) Dana - JHT - Reksadana JHT Diperdagangkan - Reksadana JHT Tersedia Utk Dijual 7,804,025,762 36,361,999,194 44,166,024,956 31 Desember 2004 ( Rp ) 145,957,854,836 88,701,068,175 234,658,923,011 278,824,947,967 31 Desember 2003 ( Rp )

29,890,441,948 29,890,441,948 31 Desember 2003 ( Rp ) 26,072,570,477 75,641,978,640 101,714,549,117 131,604,991,065

Dana - Non JHT - Reksadana Non JHT Diperdagangkan - Reksadana Non JHT Tersedia Utk Dijual Jumlah Sertifikat Reksadana

- Sesuai Memo Divisi Riset Investasi nomor M/394/DRI/122004 tanggal 30 Desember 2004 pada bulan Nopember 2004 telah dilakukan reklasifikasi reksadana dari kelompok AFS ke Trading berdasarkan data portofolio reksadana per 30 Juni 2004. Atas perubahan klasifikasi tersebut telah mengakibatkan perubahan nilai portofolio, SPE, capital gain/loss serta unrealized gain / loss . Reklas tersebut dilakukan dalam rangka penyesuaian pengelompokan reksadana sesuai dengan Surat Keputusan Direksi Nomor: KEP/109/062004 Tanggal 22 Juni 2004 tentang petunjuk teknis pengelolaan dana dalam bentuk surat utang, reksadana, deposito, obligasi dan saham. - Perubahan nilai reksadana pada tahun 2004 antara lain dikarenakan adanya pembelian enam jenis reksadana yaitu Reksadana Bahana Selaras Dinamis Rp20.000.000.000 Portofolio Dinamis Plus Rp5.000.000.000 PNM Syariah Rp5.000.000.000 dan Sinada Dinamis Rp5.000.000.000, Pendapatan Abadi Tetap Rp5.000.000.000 dan Ghanesha Abadi Rp5.000.000.000. - Pada Bulan April 2004 dilakukan switching antara reksadana Pendapatan Abadi Tetap dengan Reksadana Ganesha dari pertukaran tersebut mendapat laba pertukaran sebesar Rp647.765.554. - Pada bulan Agustus 2004 Reksadana BIMA dijual dengan harga Rp2.037.968.359, dari jumlah tersebut sebesar Rp1.973.317.007 dibayar secara tunai dan sisanya sebesar Rp1.485.000.000 dibayar dalam bentuk membership golf , sehingga diperoleh laba pertukaran sebesar Rp6.472.504. Sesuai dengan Memo Kepala Divisi Riset Investasi No:M/03/DRI/012003 Tanggal 17 Januari 2003 tentang evaluasi portofolio reksadana tahun 2002, pertimbangan penjualan reksadana tersebut adalah karena potensi pertumbuhan reksadana BIMA sangat sedikit. Hasil pertukaran berupa membership golf tersebut diklasifikasikan ke dalam kelompok aktiva lain-lain dan direncanakan untuk dijual kembali pada harga yang optimal. Rincian Sertifikat Reksadana dapat dilihat pada lampiran 7 3.9 Penyertaan 3.9.1 Penyertaan Langsung Akun tersebut merupakan penanaman dana Non JHT per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 dalam bentuk Penyertaan dengan rincian sebagai berikut : 31 Desember 2004 ( Rp ) 26,492,009,000 (18,466,453,510) 8,025,555,490 8,025,555,490 31 Desember 2003 ( Rp ) 26,492,009,000 (18,466,453,510) 8,025,555,490 8,025,555,490

- Penyertaan Lgs Minoritas Non-JHT - Cad. Penyis. Penyertaan Lgs Minoritas Non-JHT Jumlah Penyertaan

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
31 Desember 2004 ( Rp ) 26,492,009,000 82,500,000 5,000,000,000 106,509,000 6,678,000,000 14,625,000,000 26,492,009,000 31 Desember 2003 ( Rp ) 26,492,009,000 82,500,000 5,000,000,000 106,509,000 6,678,000,000 14,625,000,000 26,492,009,000

Dana - Non JHT Terdiri dari : - PT Asrindo Arta S. (11 %) - PT Agro Bank (3,27 %) - PT Bank Muamalat (0,20 %) - PT Satria Bali Tama (5,50 %) - PT Marga Mandala Sakti (1,24 %)

(13,975,000,000) (13,975,000,000) (4,491,453,510) (4,491,453,510) (18,466,453,510) (18,466,453,510) - Dalam tahun buku 2003 terdapat penyesuaian nilai penyertaan pada PT Satria Balitama sehubungan dengan adanya penurunan permanen sebesar Rp4.491.453.510. Penurunan tersebut didasarkan pada informasi yang diperoleh dari Laporan Auditor atas Laporan Keuangan PT Satria Balitama tahun buku 2002 yang diaudit oleh auditor lain dimana terdapat ketidakpastian yang signifikan tentang kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan dan oleh karena itu terdapat ketidakpastian signifikan apakah perusahaan akan dapat merealisasikan aktiva dan pembayaran kewajiban dalam bisnis normal perusahaan (industri pariwisata/perhotelan). Nilai penyertaan per 31 Desember 2003 sebesar Rp2.186.546.490 dengan 5.584 lembar saham sehingga nilai per lembar saham sebesar Rp1.195.917 Jumlah penurunan nilai penyertaan didasarkan pada nilai penyertaan per lembar dari nilai ekuitas PT Satria Balitama per 31 Desember 2003 yaitu sebesar Rp39.781.519.367. Jumlah seluruh saham yang diterbitkan oleh PT. Satria Balitama per tanggal tersebut sebanyak 101.594 lembar atau nilai per lembar sebesar Rp391.574,- sehingga terdapat penurunan nilai per lembar saham dari Rp1.195.917 menjadi Rp391.574 atau penurunan sebesar Rp804.343. Dengan demikian, terdapat penurunan nilai penyertaan total (5.584 lembar) sebesar Rp4.491.453.510.

3.9.2 Rincian Penyisihan Penyertaan Lgs Minoritas Non-JHT - Cad. Penyis. Penyertaan Marga Mandala Sakti (2002) - Cad. Penyis. Penyertaan Satria Balitama (2003)

- Pada bulan Juni diterima deviden Bank Muamalat sebesar Rp4.723.674 atas laba tahun 2002-2003. - Pada bulan Juni 2004 dilakukan koreksi (restated ) terhadap pencatatan penurunan penyertaan Satria Balitama ke cadangan penyisihan penyertaan langsung minoritas Non-JHT karena pada tahun 2003 atas penurunan ini langsung dicatatkan sebagai pengurang penyertaan. - Berdasarkan Nota Dinas Direktorat Investasi tanggal 5 Februari 2003 telah dilakukan penurunan permanen penyertaan PT Marga Mandala Sakti pada tahun 2002 dari Rp14.625.000.000; menjadi Rp650.000.000; Dasar pengakuan penurunan mengacu pada perubahan Anggaran Dasar perusahaan tersebut, dimana harga per lembar saham nilai nominalnyaturun dari Rp. 1.000 menjadi Rp. 100. Kerugian penurunan sebesar Rp13.975.000.000 telah dibebankan ke Cadangan Umum. - Selain memiliki sejumlah saham yang bersifat minoritas, PT Jamsostek juga memiliki saham/penyertaan pada PT Binajasa Abadikarya (BIJAK) sebesar 99,98 % (kepemilikan mayoritas). Sampai dengan tanggal laporan jumlah penyertaan pada PT Bijak telah mencapai Rp19.860.500.214 .dan dicatat dengan menggunakan metode Ekuitas, dengan demikian pada saat penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasian terhadap penyertaan ini dilakukan eliminasi. Pada bulan Mei 2004 diterima pembayaran deviden PT Bijak sebsesar Rp599.880.000,- . 3.10 Properti Akun tersebut merupakan saldo per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 dengan rincian sebagai berikut : 31 Desember 2004 ( Rp ) 239,335,182,555 421,041,164,253 3,226,576,210 (44,272,301,796) (1,151,518,060) 618,179,103,162 31 Desember 2003 ( Rp ) 227,245,575,005 417,661,972,355 1,212,959,154 (22,037,595,083) (261,796,068) 623,821,115,363

Tanah Bangunan Aktiva Property - Akm. Penyusutan Bangunan - Akm. Penyusutan Aktiva Property Nilai Buku Properti

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
31 Desember 2004 ( Rp ) 239,335,182,555 165,067,417,112 37,964,657,112 100,000,000,000 27,102,760,000 165,067,417,112 74,267,765,443 363,370,450 1,257,104,018 1,691,886,850 5,626,254,270 12,321,083,555 53,008,066,300 74,267,765,443 239,335,182,555 31 Desember 2003 ( Rp ) 227,245,575,005 165,067,417,112 37,964,657,112 100,000,000,000 27,102,760,000 165,067,417,112 62,178,157,893 363,370,450 1,257,104,018 1,691,886,850 2,191,936,270 3,665,794,055 53,008,066,250 62,178,157,893 227,245,575,005

3.10.1 Tanah Dana - JHT Berlokasi di - Jl. Gatot Subroto - Jaksel - Tanah Dari Penyelesaian MTN SPJ (3.077.791 m2) - Desa Cariu Jonggol Dana - Non JHT Berlokasi di - Cibeunying - Bandung - Jl. Petukangan Utara - Jaksel - Jl. Jend Sudirman - Bekasi - Jl. Imam Bonjol - Batam - Desa Bugel - Tangerang - Jl. Kuningan - Setiabudi Jumlah Tanah

a. Sesuai surat Menteri BUMN N. S-521/MBU/2004 tanggal 11 oktober 2004 perihal junal balik (reversing entry ) piutang lain, maka terdapat pengakuan kembali nilai tanah investasi non-JHT sebesar Rp12.089.607.550,- yang berasal dari penghapusan Piutang menejemen. Pengakuan kembali nilai tanah tersebut terdiri dari : tanah di desa Bugel Tagerang sebesar Rp8.655.289.550 dan tanah di P. Batam sebesar Rp3.434.318.000. b. Tanah investasi JHT bertambah sebesar Rp100.000.000.000 dengan luas 3.077.791 m2 berasal dari penyelesaian MTN SPJ . Tanah tersebut berlokasi di Desa Waringin Jaya,Kab Pandeglang seluas 680.750m2, Desa Sinar Jaya Kab.Pandeglang seluas 894.500m2, Desa Tambak, Kab. Lebak seluas 540.270m2 dan Desa Cikahuripan, Kab. Bogor seluas 962.271m2. Penyerahan tanah tersebut didasarkan pada Akta Berita Acara Penyerahan Jaminan No. 11 tanggal 19 Mei 2003, Akta Berita Acara Penyerahan Aset No. 7 tanggal 11 Juni 2003 dan Akta Berita Acara Penyerahan No. 6 tanggal 15 Desember 2003.

Nilai tanah yang tercatat sebesar nilai pokok MTN PT SPJ yang diselesaikan yaitu sebesar Rp100.000.000.000,- sehingga tidak ada pengakuan keuntungan/kerugian atas penyerahan tanah jaminan sebagai pelunasan MTN tersebut. Nilai wajar atas tanah tersebut tidak tersedia pada saat penyerahan jaminan dan sampai dengan 31 Desember 2003 masih belum tersedia karena belum adanya penilaian independen pada periode penyerahan jaminan tersebut. Nilai tanah yang tersedia adalah nilai tanah posisi per 1 dan 3 Nopember 2001 yaitu sebesar Rp101.518.616.000 sesuai Laporan Appraisal PT Sucofindo tanggal 24 dan 27 Nopember 2001. c. Tanah di Desa Cariu Jonggol seluas 187,5 ha diperoleh dalam tahun 1998 dengan nilai sebesar Rp27.102.760.000 berasal dari penyelesaian investasi Commercial Papers PT. Bank Pasific sebesar 40 % atau sebesar Rp14.400.000.000 sedangkan sisanyasebesar Rp12.702.760.000,- dibayar secara tunai oleh PT Jamsostek. d. Tanah di Jl. Gatot Subroto Jakarta Selatan seluas 16.290 m2 dengan bukti kepemilikan sertifikat HGB No. 129 tanggal 17 Desember 1992, diakui juga oleh PT. Bina Daya Cipta (BDC). PT. BDC telah menggugat PT Jamsostek di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan Nomor Perkara 409/Pdt.G/2001/PN Jak.Sel. Untuk menangani perkara tersebut PT Jamsostek telah menunjuk law office Remy & Darus. Pada tanggal 15 April 2002 telah dilakukan pembayaran sebesar Rp18.500.000.000 sesuai putusan perdamaian dari Pengadilan Negeri Jak.Sel, atas perkara Nomor:409/Pdt.G/2002/PN.Jak.Sel sehingga menambah nilai tanah menjadi Rp37.964.657.112. e. Tanah non-JHT di Jl. Kapt Sumarsono Medan dan di Jl. Jemur Sari Surabaya dengan nilai masing-masingsebesar Rp603,292,000 dan Rp392.260.000 pada bulan Juni 2003 dijual dengan harga (setelah dikurangi marketing fee ) masing-masing sebesar Rp2.935.169.250 dan Rp1.433.737.500 sehingga terdapat keuntungan masing-masing sebesar Rp2.331.877.250 dan Rp1.041.477.500. f. Pada Tahun 2003 terdapat penambahan Nilai Tanah non-JHT di Jl. Jend.Sudirman Bekasi sebesar Rp569,353,600 yang terkait dengan pengurusan Balik Nama Sertifikat Hak Milik (BPHTB) menjadi atas nama PT Jamsostek .

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
g. Nilai Tanah di KuninganSetiabudi sebesar Rp53.003.916.250 berasal dari penyelesaian investasi promes PT Ramako Gerbang Mas melalui penyerahan 3 (tiga) bidang tanah kosong seluas 5.365 M2 di Jl. H.R Rasuna Said Kav 12-14 JakSel. dan sebesar Rp4.150.000 merupakan biaya pemagaran. h. Tanah investasi di Batam berkurang dari Rp4.407.673.979 di tahun 2002 menjadi Rp2.191.936.270 di tahun 2003. Hal ini karena adanya pemisahan pencatatan tanah dan bangunan dalam rangka pemberlakuan perhitungan penyusutan bangunan investasi mulai tahun 2003. Nilai bangunan yang dikurangkan dari nilai tanah sebesar Rp2.215.737.709,-.(lihat penjelasan 1.10.b). Pada bulan November 2004 terdapat pengakuan kembali tanah non-JHT sebesar Rp12.089.607.550,- sesuai surat Menteri BUMN No. S521/MBU/2004 tanggal 11 Oktober 2004 (lihat butir a.). 3.10.2 Bangunan Nilai buku Bangunan - Bangunan JHT - Bangunan Non-JHT - Aktiva Property - Akm. Penyusutan Bangunan JHT - Akm. Penyusutan Bangunan Non-JHT - Akm. Penyusutan Aktiva Property Nilai Buku 3.10.2.1 Bangunan JHT Menara Jamsostek Nilai Perolehan Menara Jamsostek Akumuliasi Peny Menara Jamsostek Nilai Buku 31 Desember 2004 ( Rp ) 378,843,920,607 414,750,556,419 6,290,607,834 3,226,576,210 424,267,740,463 (43,455,210,151) (817,091,645) (1,151,518,060) (45,423,819,856) 378,843,920,607 371,295,346,268 31 Desember 2003 ( Rp ) 396,575,540,357 412,163,782,320 5,498,190,034 1,212,959,154 418,874,931,509 (21,692,830,649) (344,764,435) (261,796,068) (22,299,391,151) 396,575,540,357 390,470,951,672

414,750,556,419 (43,455,210,151) 371,295,346,268

412,163,782,320 (21,692,830,649) 390,470,951,672

Menara Jamsostek merupakan investasi dalam bentuk pembangunangedung untuk usaha penyewaan ruang kantor dengan nilai buku per 31 Desember 2002 sebesar Rp415.154.888.939. Sesuai Memo Direktur Investasi kepada Direktur Utama No. M/247/DIRINVEST/112002 tanggal 12 Nopember 2002 ditegaskan bahwa Menara Jamsostek digunakan untuk disewakan sehingga sejak tahun 2003 mulai diperhitungkan penyusutannyasesuai dengan Pedoman Akuntansi Jamsostek yang mulai diberlakukan tahun buku 2003. Dalam perhitungan penyusutan tersebut, masa manfaat yang digunakan adalah sisa manfaat gedung yaitu 19 tahun karena perlakuan penyusutan dilakukan secara prospektif. Gedung Menara Jamsostek telah selesai 100% dan diserahkan dari Pemimpin Proyek kepada Direktur Investasi Perusahaan pada tanggal 21 Mei 2001 sesuai Berita Acara No.BA/12/MENARA/PIMPRO/2001. Pada bulan Maret 2003, terdapat restitusi PPN Masukan atas bangunan tahun 2000 dan 2001 sebesar Rp2.973.413.605 yang menguranginilai perolehan Gedung Menara Jamsostek. Selain itu, dalam tahun 2003 terdapat koreksi atas pendapatan sewa gedung yang dicatat pada tahun 2001 sebesar Rp1.918.445.450 yang mengurangi nilai perolehan gedung. Hal ini dilakukan sehubungan masih adanya pengeluaran dalam tahun 2001 yang dikapitalisir dalam rangka pekerjaan tambahan dan eskalasi kepada kontraktor sehingga sampai dengan 31 Desember 2001 gedung belum siap secara komersial dan pendapatan sewa yang diterima diperlakukan dengan mengurangi nilai perolehan gedung. Sesuai dengan hasil keputusan rapat antara Divisi Properti dan Penyertaan, Biro Akuntansi, Biro Keuangan dan Biro Pengawasan Intern tanggal 3 September 2003, pengeluaran untuk pekerjaan pembuatan koridor, lantai koridor dan lainnya dalam gedung yang tidak dibongkar kembali dikapitalisir kedalam nilai gedung. Perlakukan PPN atas transaksi pembangunan Menara Jamsostek merupakan PPN masukan yang dapat diperhitungkan dengan PPN keluaran dari penerimaan sewa atau diajukan untuk restitusi. Nilai yang dijadikan dasar penyusutangedung Menara Jamsostek adalah nilai buku per 31 Desember 2003 setelah dikurangi koreksi restitusi PPN Masukan dan koreksi pendapatan sewa tahun 2001 ditambah dengan pengeluaran dalam tahun 2003 yang dikapitalisir yaitu sebesar Rp412.163.782.320.

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
3.10.2.2 Bangunan Non-JHT Harga Perolehan Gedung Kantor Kacab Batam Akm. Penyusutan Nilai Buku 31 Desember 2004 ( Rp ) 6,290,607,834 (817,091,645) 5,473,516,189 31 Desember 2003 ( Rp ) 5,498,190,035 (344,764,435) 5,153,425,600

Sesuai Memo Divisi Property dan Penyertaan No. M/18/DPP/012004 tanggal 14 Januari 2004 telah dilakukan pemindahbukuan renovasi Bangunan Investasi Non JHT dari Kacab. Batam ke Kantor Pusat c.q. Divisi Property dan Penyertaan sebesar Rp3.282.452.325. Gedung Investasi tersebut berupa bangunan di Kacab. Batam yang digunakan untuk usaha penyewaan ruang kantor. Nilai gedung Investasi yang dipindahkan adalah sebesar biaya renovasi gedung yang dilakukan pada tahun 2003. Bangunan tersebut mulai disusutkan dalam tahun 2003. Nilai perolehan bangunan adalah sebesar Rp2.215.737.709 dan siap secara komersial sejak awal tahun 1995. Dalam perhitungan penyusutan yang mulai diberlakukan dalam tahun 2003, masa manfaat yang digunakan adalah masa manfaat yaitu 12 tahun. Berdasarkan memo Biro Perlengkapan dan Saran No. M/298/BPS/032004 tanggal 15 Maret 2004 masa manfaat renovasi gedung Kacab Batam ditaksir bertambah 2 tahun. Dalam tahun 2004 terdapat penambahan nilai gedung atas pekerjaan Mekanikal & Elektrikal sebesar Rp792.417.800. 3.10.2.3 Aktiva Property 31 Desember 2004 ( Rp ) 3,226,576,210 (1,151,518,060) 2,075,058,150 31 Desember 2003 ( Rp ) 1,212,959,154 (261,796,068) 951,163,086

- Aktiva Property JHT - Akm. Penyusutan Aktiva Property JHT Nilai Buku

Aktiva property merupakan akun beban tangguhan pekerjaan pembuatan vertical blind atas gedung investasi Menara Jamsostek. Pekerjaan pembuatan vertical blind dilakukan sesuai dengan kontrak sewa dengan penyewa (tenant ) di Menara Jamsostek yang dilakukan bersamaan dengan pekerjaan fisik gedung lainnya seperti pembuatan partisi, koridor gedung dan sebagainya. Penyusutan diterapkan secara garis lurus sepanjang periode sewa. Rincian aktiva property dapat dilihat pada lampiran 8 4. Aktiva Lancar 4.1 Kas, Bank, Giro Pos dan Uang Dalam Perjalanan 31 Desember 2004 ( Rp ) Kas - Perusahaan - Anak Perusahaan Bank - Perusahaan - Anak Perusahaan Giro Pos Uang Dalam Perjalanan Jumlah Kas, Bank, Giro Pos dan UDP 4.2 Deposit on Call (DOC) Non Investasi Akun tersebut merupakan saldo Deposit On Call Non Investasi 31 Desember 2004 sebesar Rp15.000.000.000,- di Bank Mandiri yang tujuannya untuk menjaga likuiditas Kantor Pusat dengan rata-rata tingkat bunga sebesar 7% per tahun dan jangka waktu 6 hingga 10 hari. 4.3 Piutang Iuran dan Penyisihan Piutang Iuran Akun tersebut merupakan saldo piutang iuran yang meliputi piutang iuran program JKK, JKM, dan JPK dari perusahaan peserta Jamsostek per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 60,924,471 9,525,000 53,524,241,720 280,769,057 25,418,601 89,279,880 53,990,158,729 31 Desember 2003 ( Rp ) 97,858,142 3,303,250 34,965,480,313 1,174,396,947 204,814,116 151,671,075 36,597,523,843

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
31 Desember 2004 ( Rp ) Piutang Iuran Program Paket - Jaminan Kecelakaan Kerja - Jaminan Kematian - Jaminan Pelayanan Kesehatan Jumlah Piutang Iuran Akm. Penyisihan Piutang Iuran Program Paket - Jaminan Kecelakaan Kerja - Jaminan Kematian - Jaminan Pelayanan Kesehatan Jumlah Penyis. Piutang Iuran Jumlah Piutang Iuran Bersih 31 Desember 2003 ( Rp )

41,092,765,910 17,163,827,675 30,997,254,979 89,253,848,564

50,435,004,294 19,928,192,645 40,114,853,823 110,478,050,762

(11,476,495,161) (4,691,332,945) (7,769,477,939) (23,937,306,045) 65,316,542,519

(44,763,707,708) (17,570,252,885) (34,420,251,764) (96,754,212,357) 13,723,838,405

Berdasarkan KeputusanDireksi Nomor : 27/012003 tentang PAJASTEK, perlakuan akuntansi untuk Piutang Iuran pada tahun buku 2004 mengalamiperubahan. Piutang Iuran yang diakru dan dicatat dalam laporan keuangan adalah piutang iuran yang berumur 1 s/d 12 bulan. Sementara untuk Piutang Iuran yang umurnya lebih dari 12 bulan tidak lagi dilaporkan dalam laporan keuangan pokok tetapi disajikan dalam catatan atas laporan keuangan sebagai Aktiva (Piutang) Kontinjensi. Penjabaran lebih lanjut atas pengukuran, pengakuan dan penyajian Piutang Iuran ini terdapat dalam Surat Edaran Direksi Nomor : B/448/012004 tanggal 15 Januari 2004. Sampai dengan 31 Desember 2004 jumlah piutang iuran yang berumur di atas 12 bulan (kontinjensi) sebesar 68.959.237.266 dengan rincian sbb : Uraian Kantor Wilayah I Kantor Wilayah II Kantor Wilayah III Kantor Wilayah IV Kantor Wilayah V Kantor Wilayah VI Kantor Wilayah VII Kantor Wilayah VIII Jumlah Jumlah (Rp) 4,089,886,039.00 6,197,859,838.00 11,756,280,239.00 23,003,781,013.00 3,859,033,191.00 7,593,559,898.00 8,469,257,576.00 3,989,579,472.00 68,959,237,266.00 Rp

Rincian piutang iuran dapat dilihat pada lampiran 9 4.4 Piutang Usaha dan Penyisihan Piutang Usaha Akun tersebut merupakan saldo piutang usaha anak perusahaan per

31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003.

31 Desember 2004 ( Rp ) - Piutang Usaha - Penyisihan Piutang Usaha Piutang Usaha Bersih 6,079,770,551 (5,416,275,000) 663,495,551

31 Desember 2003 ( Rp ) 6,462,297,950 (5,208,610,250) 1,253,687,700

4.5 Pendapatan Yang Masih Harus Diterima Akun tersebut merupakan saldo pendapatan yang masih harus diterima per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 dengan rincian :

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
31 Desember 2004 ( Rp ) Perusahaan - Bunga DOC - Bunga Deposito - Dividen Saham - Bunga Obligasi - Bunga Medium Term Notes - Lain-lain (Ged.Investasi) Anak Perusahaan Jumlah Pendapatan YMH Diterima 4.6 Piutang Investasi 31 Desember 2004 ( Rp ) - Piutang Penjualan Saham Jumlah Piutang Investasi 4,955,194,363 4,955,194,363 31 Desember 2003 ( Rp ) 69,144,925,200 69,144,925,200 58,112,608 42,780,434,312 1,445,379,380 345,402,165,495 1,626,169,092 37,004,540 391,349,265,427 31 Desember 2003 ( Rp ) 11,354,390 62,379,722,743 228,700,748,956 18,634,375,000 8,922,475,672 60,912,406 318,709,589,167

Akun tersebut merupakan saldo piutang investasi Kantor Pusat atas transaksi penjualan efek yang sampai dengan tanggal laporan belum diterima pembayarannya (T+4). Transaksi ini akan selesai pada bulan berikutnya ( outstanding transaction) .

4.7 Uang Muka Pajak Akun tersebut merupakan pajak dibayar dimuka per 31 Desember 2004 dengan rincian sebagai berikut : 31 Desember 2004 ( Rp ) Perusahaan - PPh Fiskal Luar Negeri - PPn Masukan Bangunan Investasi - PPh Atas Pengalihan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan Non JHT Anak Perusahaan Jumlah Uang Muka Pajak 33,000,000 516,809,890 224,046,500 701,463,565 1,475,319,955 31 Desember 2003 ( Rp ) 36,000,000 1,161,918,436 224,046,500 442,715,367 1,864,680,303

4.8 Piutang Pegawai Akun tersebut merupakan saldo piutang pegawai baik di Kantor Pusat, Kantor Wilayah maupun Kantor Cabang pada tanggal 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003. 31 Desember 2004 ( Rp ) - Pinjaman Pegawai - Pinjaman Kendaraan - Tuntutan Ganti Rugi (TGR) Jumlah Piutang Pegawai 4.9 PSL Dibayar Dimuka 31 Desember 2004 ( Rp ) - PSL dibayar dimuka 31 Desember 2003 ( Rp ) 57,491,188,000 99,375,087 99,375,087 31 Desember 2003 ( Rp ) 25,927,616 6,240,000 32,167,616

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
4.10 Piutang Lain-lain 31 Desember 2004 ( Rp ) 22,313,206,209 22,313,206,209 31 Desember 2003 ( Rp ) 18,119,222,147 18,119,222,147

- Piutang Lancar Lainnya - Piutang Lain anak perusahaan Jumlah Piutang Lain-Lain

Akun ini merupakan saldo tagihan non operasional perusahaan kepada pihak ketiga yang belum diselesaikan per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 . Rincian piutang lain perusahaan per 31 Desember 2004 adalah sebagai berikut: - Piutang kepada tenant Menara Jamsostek (MJS) atas Kekurangan pembayaran PPN service charge - Piutang kepada tenant MJS atas beban pengelolaan gedung JHT yang belum dibayar - Piutang lain atas pemotongan pajak Deposito JHT yang belum memiliki SKB - Piutang lain kepada PT. Arutmin atas bagi hasil laba MTN Arutmin Tahun 2003 - Piutang kepada personil PTPN IX Batu Jamus Kerjoarum atas jaminan fiktif di Kacab Solo - Piutang kepada Biro DPKP/ PKBL atas pengadaan alat pengasapan - Lain lain Total 45,384,480.00 276,723,700.00 13,426,118,888.00 8,156,016,150.00 154,424,395 198,000,000 56,538,596 22,313,206,209

4.11 Uang Muka Pegawai (Persekot Kerja) Akun tersebut merupakan saldo persekot kerja dari pegawai untuk keperluan dinas yang belum dipertanggungjawabkan sampai dengan tanggal laporan per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 dengan rincian: 31 Desember 2004 ( Rp ) - Kantor Pusat - Kantor Daerah Jumlah Uang Muka Pegawai Rincian Uang Muka Pegawai dapat dilihat pada lampiran 10 4.12 Beban Usaha Dibayar Dimuka 31 Desember 2004 ( Rp ) Perusahaan : - Beban Sewa Gd Kantor - Beban Sewa Rmh Jabatan - Beban Sewa Lain - Asuransi Barang - Perlengkapan dan Alat Tulis Kantor - Beban Lain Anak Perusahaan Jumlah Beban Usaha Dibayar Dimuka 4,551,928,870 1,129,871,290 58,684,800 455,359,584 1,005,390,677 320,552,855 7,521,788,076 31 Desember 2003 ( Rp ) 4,860,050,127 1,022,006,923 58,333,333 311,047,918 1,844,383,321 828,676,973 148,183,892 9,072,682,487 1,423,589,000 1,060,766,478 2,484,355,478 31 Desember 2003 ( Rp ) 1,771,230,648 147,923,647 1,919,154,295

4.13 Perlengkapan dan Alat Tulis Kantor Akun tersebut merupakan saldo Perlengkapan & ATK baik di Kantor Pusat, Kantor Wilayah maupun Kantor Cabang pada tanggal 31 Desember 2004, sedangkan saldo per 31 Desember 2003 diklasifikasikan sebagai Beban Usaha Dibayar Dimuka (lihat catatan 4.12)

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
31 Desember 2004 ( Rp ) - Barang Cetakan - Materai - Alat Tulis Kantor - Perlengkapan Komputer Habis Dipakai Jumlah Perlengkapan dan ATK 929,329,335 36,114,000 474,352,266 633,805,427 2,073,601,028 31 Desember 2003 ( Rp ) -

5. Aktiva Tetap Akun tersebut merupakan saldo per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 dengan rincian sebagai berikut : 31 Desember 2004 ( Rp ) Perusahaan : Nilai Perolehan Aktiva Tetap - Tanah - Bangunan - Kendaran Dinas - Peralatan Kantor - Peralatan Komputer - Peralatan Lain Jumlah Nilai Perolehan Akumulasi Penyusutan - Bangunan - Kendaran Dinas - Peralatan Kantor - Peralatan Komputer - Peralatan Lain Jumlah Akumulasi Penyusutan Nilai Buku Aktiva - Perusahaan Anak Perusahaan : Nilai Perolehan Akumulasi Penyusutan Nilai Buku Aktiva - Anak Prsh Nilai Buku Konsolidasi 31 Desember 2003 ( Rp )

55,043,317,154 94,153,824,375 75,071,636,666 21,649,803,810 80,037,112,751 33,651,274,310 359,606,969,066 (34,172,574,243) (45,448,952,234) (15,945,673,582) (57,679,338,796) (23,247,278,193) (176,493,817,048) 183,113,152,018 3,851,429,166 (1,072,343,029) 2,779,086,137 185,892,238,155

35,562,252,212 77,404,959,064 62,501,001,490 18,684,117,187 87,702,015,167 28,283,701,892 310,138,047,012 (29,298,148,683) (36,616,446,682) (11,635,076,814) (58,948,723,976) (18,339,669,562) (154,838,065,717) 155,299,981,294 3,935,870,644 (1,073,912,270) 2,861,958,374 158,161,939,669

6. Aktiva Lain Jumlah tersebut merupakan saldo aktiva lain perusahaan pada tanggal 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 yang terdiri dari : 31 Desember 2004 31 Desember 2003 ( Rp ) ( Rp ) 6.1 6.2 6.3 6.4 6.5 6.6 6.7 6.8 Aktiva Dalam Konstruksi Aktiva Tetap Yang Sudah Tidak Digunakan Aktiva Tidak Berwujud Beban Yang Dibayar Di Muka Beban Yang Ditangguhkan Piutang Pegawai Aktiva Pajak Tangguhan Piutang Lain 30,518,577,650 437,796,652 6,541,550,632 1,537,445,836 317,215,333 220,296,801 39,844,841,439 40,257,637,651 119,675,361,994 28,470,224,398 246,602,517 2,114,370,682 315,000,000 212,235,343 73,612,478,225 32,308,498,040 137,279,409,205

6.1

Gedung/ Sarana Dlm Penyelesaian (Aktiva Dlm Konstruksi) Akun tersebut merupakan dana yang telah dibayar per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 untuk pembangunangedung kantor di Kantor Wilayah dan Kantor-kantor Cabang dengan rincian sebagai berikut :

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)

31 Desember 2004 ( Rp ) Aktiva Dlm Konstruksi - Aktiva Dlm Konstruksi JHT - Aktiva Dlm Konstruksi Non JHT Jumlah Aktiva Dlm Konstruksi

31 Desember 2003 ( Rp )

25,281,997,396 5,236,580,254 30,518,577,650 31 Desember 2004 ( Rp )

25,158,997,396 3,311,227,002 28,470,224,398 31 Desember 2003 ( Rp ) 25,158,997,396 671,631,000 100,313,941 1,463,261,577 582,597,400 65,580,000 427,843,084 28,470,224,398

- Kantor Pusat - Kanwil II - Kanwil III - Kanwil IV - Kanwil V - Kanwil VI - Kanwil VII - Kanwil VIII Jumlah Aktiva Dlm Konstruksi

25,674,243,756 753,765,941 2,054,192,885 59,495,435 1,379,279,885 597,599,748 30,518,577,650

Jumlah aktiva dalam konstruksi JHT di Kantor Pusat antara lain merupakan investasi dalam Menara Proteksi sebesar Rp25.158.997.396 dan pembelian gondola untuk Menara Jamsostek sebesar Rp123.000.000. Menara Proteksi diperoleh atas dasar perikatan jual beli antara PT Jamsostek dengan PT Menara Proteksi Indonesia, meliputi 9 lantai ruang kantor di Gedung Menara Proteksi seluas 11.510 m2 dengan nilai US$15,595,810.75 dengan sistem strata title dan diikat dengan akta.

Jumlah pembayaran yang telah dilakukan adalah : Angsuran I : 50,00 % sebesar US$ 7,797,905.37 = Rp. 21.133.055.198 Angsuran II : 8,33 % sebesar US$ 1,299,650.89 = Rp. 3.937.942.198 Jumlah US$ 9,097,556.26 = Rp. 25.070.997.396 Biaya Pengurusan Surat = Rp. 88.000.000 Jumlah = Rp. 25.158.997.396 Kekurangan sebesar US $ 1,299,650 tidak dilaksanakan pembayarannya karena berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 39 tahun 1997 proyek tersebut dinyatakan perlu dikaji ulang. Usulan untuk penghapusan investasi telah diajukan kepada pemegang saham namun tidak mendapat persetujuan. Dalam tahun 1999 PT Jamsostek menunjuk konsultan PT Satya Graha Tara untuk melakukan kajian kelayakan atas proyek Menara Proteksi dan diperoleh hasil bahwa proyek ini tidak layak untuk diteruskan karena tidak memberikan hasil yang positif pada saat ini, walaupun proyek ini sebenarnya merupakan investasi jangka panjang.

Sesuai SPK /54/062002 tanggal 14 Juni 2002 perusahaan menunjuk PT Satyatama Graha Tara untuk melakukan penilaian (appraisal) dalam menentukan nilai pasar (market value) aktiva tetap dari obyek tanah dan bangunan Menara Proteksi. Sesuai laporan dari PT. Satyatama Graha Tara No. 2537-1/PNL/SGT-PST/2002 tanggal 30 Juli 2002 disebutkan bahwa nilai pasar dari aktiva Menara Proteksi per 1 Juli 2002 adalah sebesar Rp37.600.000.000. Atas usulan pengambilalihan obyek tersebut masih dipertimbangkan lebih lanjut. 6.2 Aktiva Yang Sudah Tidak Digunakan Aktiva tersebut merupakan aktiva yang sudah tidak digunakan karena rusak atau hilang per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 masing-masing sebesar Rp437.796.652 dan Rp246.602.517.

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
6.3 Aktiva Tidak Berwujud Akun tersebut merupakan saldo Perangkat Lunak per 31 Desember 2004 sebesar Rp6.541.550.632, sedangkan saldo per 31 Desember 2003 diklasifikasikan sebagai aktiva tetap (perangkat komputer) lihat catatan 5. Dalam jumlah tersebut terdapat pembayaran uang muka konsultan pengawas dan jasa pengembangan aplikasi SIPT dan SIAK dalam rangka penerapan on line system yang akan dilaksanakan pada Tahun 2005. 31 Desember 2004 ( Rp ) - Lisensi Perangkat Lunak - Pengembangan Perangkat Lunak Jumlah Aktiva Tdk Berwujud 1,685,772,864 4,855,777,768 6,541,550,632 31 Desember 2003 ( Rp ) -

Rincian pengembangan perangkat lunak perusahaan per 31 Desember 2004 adalah sebagai berikut: - Pembayaran kepada PT. Magnus Indonesia sebagai Konsultan pengawas - Pembayaran kepada PT. Asaba Computer Center sebagai Pelaksana pengembangan aplikasi SIAK dan SIPT - Uang rapat tim counterpart PT. Magnus Indonesia - Pembayaran kepada PT. Binamadya Persada sebagai pelaksana pengembangan aplikasi Sistem Informasi dokumentasi hukum JUMLAH 6.4 2,077,505,718 2,696,878,800 35,570,000 45,823,250

4,855,777,768

Beban Yang Dibayar Di Muka Akun tersebut merupakan saldo per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 dengan rincian sebagai berikut : 31 Desember 2004 ( Rp ) - Beban Sewa Bangunan Ktr Dibayar Di Muka - Beban Sewa Rumah Jabatan Dibayar Di Muka - Beban Sewa Lain Dibayar Di Muka - Beban Asuransi Barang Dibayar Di Muka Jumlah Beban YD Dimuka 1,119,995,418 379,800,418 37,650,000 1,537,445,836 31 Desember 2003 ( Rp ) 1,806,487,727 299,232,955 8,650,000

2,114,370,682

6.5

Beban Yang Ditangguhkan 31 Desember 2004 ( Rp ) - Beban Yang Ditangguhkan Jumlah Beban Ditangguhkan 317,215,333 317,215,333 31 Desember 2003 ( Rp ) 315,000,000 315,000,000

Jumlah tersebut merupakan beban yang dibayar dimuka beban yang memiliki masa manfaat lebih dari 1 ( satu ) tahun buku yang terdapat di Kantor Wilayah/ Cabang. Beban yang ditangguhkan tersebut diantaranya adalah hak atas tanah dengan jumlah masingmasing per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 sebesar Rp317.215.333 dan Rp315.000.000.

6.6

Piutang Pegawai

220,296,801

212,235,343

Jumlah piutang pegawai per 31 Desember 2004 adalah Rp220.296.801 dan saldo 31 Desember 2003 sebesar Rp212.235.343 yang merupakan TGR saudara Tengku Nasri sesuai dengan SK Direksi No. KEP/25/022004. Sesuai dengan amanat RUPS pengesahan laporan keuangan Tahun 2003 dan sesuai SK Direksi No.KEP/249/102004 tanggal 12 Oktober 2004 telah disetujui penghapusan piutang pegawai a/n Sdr.Tengku Nasri. Rincian Tuntutan Ganti Rugi per 31 Desember 2004 adalah sebagai berikut :

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)

Kantor Kantor Pusat Kanwil IV Kanwil VIII Total

Saldo 71,145,895 121,205,906 27,945,000 220,296,801

6.7

Aktiva Pajak Tangguhan 31 Desember 2004 ( Rp ) - Perusahaan - Anak Perusahaan Jumlah Aktiva Pajak Tangguhan 38,441,499,371 1,403,342,068 39,844,841,439 31 Desember 2003 ( Rp ) 72,200,983,482 1,411,494,743 73,612,478,225

Aktiva Pajak Tangguhan per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 yang timbul dari adanya perbedaan antara dasar pembuku menurut akuntansi dengan pembukuan menurut pajak (fiskal) sebagai akibat beda waktu (temporary difference) dan beda tetap (permanent difference). 6.8 Piutang Lain Akun tersebut merupakan saldo piutang lain per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 dengan rincian : 31 Desember 2004 ( Rp ) Perusahaan - Piutang Koperasi Pegawai - Pos Sementara Dalam Penyelesaian (PSDP) - Jaminan Keanggotaan Golf - Piutang Lain-Lain - Jaminan Pihak Ke III Anak Perusahaan - Cad. Penyis. Piutang Lain-Lain Jumlah Piutang Lain 31 Desember 2003 ( Rp )

195,665,536 35,462,497,134 3,107,810,580 26,546,061,458 1,069,416,987 66,381,451,695 (26,123,814,044) 40,257,637,651

195,665,536 27,963,186,644 1,407,238,080 51,165,085,674 759,627,897 1,138,565,450 82,629,369,280 (50,320,871,240) 32,308,498,040

- Pos Sementara Dalam Penyelesaian (PSDP) Pos Sementara Dalam Penyelesaian merupakan saldo yang belum dapat diselesaikan dan dibukukan pada akun seharusnya sampai akhir periode penyusunan laporan keuangan. Rincian Pos Sementara Dalam Penyelesaian per 31 Desember 2004 adalah sebagai berikut : KANTOR Kantor Pusat Kanwil I Kanwil II Kanwil III Kanwil IV Kanwil V Kanwil VI Kanwil VII Kanwil VIII TOTAL SALDO PSDP 27,460,145,458 9,566,250 11,869,808 427,800 7,096,713,681 576,231,156 222,747,550 84,795,430 35,462,497,134

Pos Sementara Dalam Penyelesaian antara lain berasal dari : - Pengeluaran di Kantor Pusat dalam rangka pembelian tanah dan bangunan Kantor Pusat Perum Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD) sebesar Rp27.300.000.000.

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
Sesuai Surat Direksi Perusahaan kepada Komisaris Perusahaan No.R/815/052003 tanggal 19 Mei 2003, Perusahaan akan turut berpartisipasi dalam rangka penyehatan Perum PPD dengan melakukan pembelian aset Perum PPD. Komisaris memberikan persetujuan atas rencana tersebut melalui surat kepada Direksi No.50/DK/052003 tanggal 23 Mei 2003. Selanjutnya, pada tanggal 3 Juni 2003, Direksi dan Komisris Perusahaan dan Perum PPD menandatangani Nota Kesepakatan untuk Jual Beli Tanah dan Bangunan yang berlokasi di Jl. Halim Perdana KusumaJakarta dengan luas tanah 15.050 m2 dan bangunan 4.122 m2. Berdasarkan Nota Kesepakatan tersebut, pada tanggal 5 Juni 2003, Perusahaan mengeluarkan dana sebesar Rp20.300.000.000 sebagai pembayaran tahap pertama (dari 3 tahap). Pada tanggal 8 Agustus 2003, Direksi Perusahaan dan Perum PPD menandatangani Akta PPJB No. 1 dihadapan Notaris. Berdasarkan Akta tersebut dilakukan pembayaran tahap kedua sebesar Rp7.000.000.000 pada tanggal 8 Agustus2003. Harga jual yang disepakati adalah sebesar Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) atas tanah dan bangunantahun 2003 sebesar Rp34.272.052.000. Sisa pembayaran (tahap ke 3) sebesar Rp6.972.052.000 akan dibayarkan setelah dikeluarkannya sertifikat atas nama Perum PPD (pada saat penandatanganan Akta, tanah belum bersertifikat). Perum PPD diharuskan untuk mengurus sertifikasi tanah tersebut dengan jangka waktu 120 hari sejak Akta PPJB No. 1 ditandatangani atau paling lambat tanggal 6 Desember 2003. Jika pengurusan sertifikasi tersebut tidak berhasil, Perum PPD akan memberikan tanah dan bangunan pengganti yang terletak di Jl. Raya Parung Ciputat (Depo A Perum PPD) seluas 67.875 m2. Berdasarkan surat Direksi Perum PPD kepada Direksi Perusahaan tanggal 8 Oktober 2003, Perum PPD tidak dapat segera menyelesaikan pengurusan sertifikat. Kemudian, pada tanggal 21 Oktober 2003, Menteri BUMN menyampaikan surat kepada Direksi Perusahaan No. S-369/MBU/2003 agar Perusahaan mengalihkan opsi jual beli dari Kantor Pusat Perum PPD ke Depo A Ciputat. Selain itu, sampai dengan 6 Desember 2003, Perum PPD belum dapat menyelesaikan pengurusan sertifikat. Perum PPD berpegang pada surat Menteri BUMN tersebut sehingga bermaksud menjual tanah dan bangunan di Depo A Ciputat. Namun Perusahaan tetap bermaksud membeli tanah dan bangunan Kantor Pusat Perum PPD dengan pertimbangan secara ekonomis lebih prospektif dibanding tanah di Ciputat. Selanjutnya, berdasarkan surat Direksi Perum PPD kepada Direksi Perusahaan No. 55/Sekr/III/2004 tanggal 4 Maret 2004, Direksi Perum PPD dan Direksi Perusahaan telah melakukan pertemuan pada tanggal 4 Maret 2004 dan telah sepakat akan membatalkan Akta PPJB No. 1 dan dana sebesar Rp27.300.000.000 akan dikembalikan kepada Perusahaan. Atas kesepakatan tersebut, belum ada pembatalan/perubahanAkta PPJB No. 1 yang mengaturtentang kewajiban Perum PPD, batas waktu pengembalian dan konsekuensi/imbalan atas pembatalan pembelian tanah dan bangunan. Namun demikian, berdasarkan surat Direksi Perusahaan kepada Direksi Perum PPD No. B/2434/032004 tanggal 16 Maret 2004, Perusahaan tetap akan melaksanakan jual beli atas tanah dan bangunan Kantor Pusat Perum PPD sesuai dengan Akta PPJB No. 1.

- Kelebihan pembayaran JHT pada Kantor Wilayah IV di Kantor Cabang Sukabumi Tahun 2001 s.d. 2004 sebesar Rp7.096.713.681. Kelebihan pembayaran tersebut merupakan penyalahgunaan keuangan yang dibukukan pada pembayaran JHT sebesar Rp7.320.613.696 yang dilakukan oleh Sdr. Ikrom Martha Jumda mantan personil keuangan Kacab Sukabumi. Atas penyalahgunaan tersebut telah diterima pengembalian sebesar Rp223.900.000 sehingga saldo penyalahgunaanyang belum diselesaikan dan dicatat pada akun PSDP per 31 Desember 2004 sebesar Rp7.096.713.681. Atas penyalahgunaankeuangan tersebut sampai dengan tanggal pelaporan belum ada penetapan Tuntutan Ganti Rugi karena masih dalam proses penyidikan oleh Kepolisian. - Kelebihan pembayaran JHT pada Kantor Wilayah V antara lain di Kantor Cabang Magelang sebesar Rp570.107.879,35 Kelebihan pembayaran tersebut merupakan penyalahgunaankeuangan yang dibukukan pada pembayaran JHT pada Tahun 2003 s.d 2004 sebesar Rp570.107.879,35 yang dilakukan oleh Sdr. Trisapto Adiriwibowo mantan personil Pelayanan Kacab Magelang. Atas penyalahgunaan keuangan tersebut sampai dengan tanggal pelaporan belum ada penetapan Tuntutan Ganti Rugi. Jaminan Keanggotaan Golf - Penambahan jaminan keanggotaan golf tahun 2004 sebesar Rp1.700.572.500 berasal dari pembelian membership golf " Taman Dayu Club" pada Bulan April 2004 sebesar Rp215.572.500 dan hasil pertukaran reksadana BIMA dengan membership "Rancamaya" sebesar Rp1.495.000.000. Rincianmembership golf per 31 Desember 2004 adalah sebagai berikut:

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
31 Desember 2004 ( Rp ) - Rancamaya, Bogor - Taman Dayu Golf Club - Cibodas Golf Park - Damai Padang Indonesia Golf - Palm Hill Country - Pan Isi Development - PT. Kokaba Diba Jumlah 1,485,000,000 215,572,500 180,000,000 473,000,000 202,000,000 177,238,080 375,000,000 3,107,810,580 31 Desember 2003 ( Rp ) 180,000,000 473,000,000 202,000,000 177,238,080 375,000,000 1,407,238,080

- Saldo Piutang lain (netto) setelah dikurangi cadangan penyisihannya adalah sebesar Rp422.247.414 dapat dirinci sebagai berikut: 31 Desember 2004 ( Rp ) 1. Jaminan Sewa Gedung Kantor Kanwil III Kantor Cabang Kanwil III Kantor Cabang Setiabudi Kantor Cabang Cilandak Kantor Cabang Cawang Kantor Cabang Pluit Total Kanwil III Kanwil IV Kantor Cabang Cikarang Total Kanwil IV 117,813,497 35,000,000 111,196,000 109,452,000 450,000 373,911,497 2,000,000 2,000,000 31 Desember 2004 ( Rp ) 19,500,000 23,321,517 3,514,400 422,247,414 31 Desember 2003 ( Rp )

31 Desember 2003 ( Rp )

2. Piutang Lain Kanwil VII 3. Piutang Lain JPK Dasar Kanwil VIII 4. Piutang lain Jaminan Pihak ke III Kanwil I Jumlah Piutang Lain

-

- Saldo Cadangan Penyisihan piutang lain sebesar Rp26.123.814.044 di atas dapat dirinci sebagai berikut: 31 Desember 2004 ( Rp ) Piutang Kepada Manajemen 31 Desember 2003 ( Rp ) 24,822,696,217

Piutang manajemen merupakan piutang kepada manajemen atas adanya kerugian perusahaan karena kemahalan harga pengadaan barang dan jasa periode tahun 1989 s.d. 1991 berdasarkan hasil pemeriksaan khusus pengadaan barang dan jasa oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan(BPKP) periode 1989 s.d. 1991 yang laporannya disampaikan kepada Menteri Keuangan pada bulan Juli 1993. Piutang tersebut dibentuk berdasarkan persetujuan Menteri Keuangan melalui surat No.S-510/MK.016/95 tanggal 6 September 1995. Atas piutang tersebut telah disisihkan seluruhnya pada tahun buku 1994 dan 1995.

Pada Tahun 2003, berdasarkan surat Dewan Komisaris Kepada Menteri BUMN No.03/DK/12003, Dewan Komisaris menyetujui permintaan jurnal balik atas piutang manajemensebesar Rp24.822.696.217 masing - masing pos aktiva sebesar Rp12.089.607.500 dan Rp11.126.012.000. Akan tetapi oleh BPK usulan jurnal koreksi atau jurnal balik tersebut belum disetujui dan dikembalikan ke posisi semula.

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
Sesuai surat Menteri BUMN No. S-521/MBU/2004 tanggal 11 Oktober 2004 perihal junal balik (reversing entry) piutang lain telah disetujui usulan penghapusan seluruh piutang manajemen sebesar Rp24.822.696.217. Bersaman dengan penghapusan tersebut maka nilai tanah investasinon-JHT (Kantor Pusat) dan belanja modal (Kantor Cabang) yang nilainya telah diturunkan/dihapusjuga dibalik kembali dengan nilai tanah investasi non JHT sebesar Rp12.089.607.550 dan tanah belanja modal sebesar Rp11.126.012.000. Pengakuan kembali nilai tanah investasi tersebut terdiri dari : tanah di desa Bugel Tangerang sebesar Rp8.655.289.550 dan tanah di P. Batam sebesar Rp3.434.318.000.

Untuk tanah belanja modal masing-masing tanah Kanwil V (905) yang terletak Jl. Pemuda Semarang (L00) sebesar Rp2.247.000.000, tanah Kantor Cabang Cilandak (J06) di Jl. Lingkar Luar Cilandak sebesar Rp5.073.294.000, tanah Kantor Cabang Bogor (K02) di Jl. Pemuda Bogor sebesar Rp532.000.000, tanah Kantor Grogol (J02) di Jl. Daan Mogot Grogol sebesar Rp1.735.718.000 dan tanah Kanwil VII (907) di Jl. Sepinggan Balikpapan sebesar Rp1.538.000.000.

31 Desember 2004 ( Rp )

31 Desember 2003 ( Rp )

BPR Pilar Niaga Kantor Pusat & Salemba

4,955,000,000

4,955,000,000

Piutang lain yang berasal dari deposito pada Bank BPR Pilar Niaga pada Kantor Pusat sebesar Rp. 3.650.000.000 dan Kacab Salemba sebesar Rp. 1,305,000,000 pada akhir Desember 2003 telah dibentuk Cadangan Penyisihan-nya.Deposito tersebut direklas ke piutang lain karena pada tahun 1998 BPR yang bersangkutan telah dilikuidasi sebagai dampak krisis perbankan saat itu.

PT. Suryaindo Pradhana

13,446,527,778

13,446,527,778

Sesuai Memo Divisi PUPM No.M/27/DPUPM/012004 tanggal 29 Januari 2004, MTN PT JHT Suryaindo Pradhana dinyatakan gagal bayar (default) sejak jatuh tempo kupon ke V pada bulan Januari 2004. Dengan demikian seluruh tunggakanatas kupon bunga bulan Januari sampai dengan Desember 2003 sebesar Rp13,446,527,778 dipindahkan ke piutang lain dan langsung disisihkan pada bulan Desember 2003. PT. Volgren Indonesia 5,931,430,556 5,931,430,556

Pada tanggal 31 Desember 2002, pendapatan YMH Diterima bunga MTN PT. Volgren Indonesia dan MTN Sapta Prana Jaya (SPJ) masing - masing sebesar Rp5.931.430.556,- ; dan Rp8.076.164.384 telah dilakukan reklas ke piutang lain-lain dan sekaligus dilakukan penyisihannya. Deposito BPD Timor Timur 1,162,434,421 1,162,434,422

Merupakan penyisihan atas deposito di BPD Timor Timur yang tidak dapat dicairkan dan langsungdisisihkan pada bulan Desember 2003. Piutang Pegawai 2,782,238

Jumlah penyisihan atas piutang pegawai tahun 2003 tersebut merupakan penyisihanatas piutang lain atas nama Soenaryo Sumarsudi personil Kanwil II sebesar Rp2.782.238. Sesuai dengan SK Direksi No. KEP/228/092004 tanggal 27 September 2004 penyisihan piutang lain tersebut disetujui untuk dihapusbukukan pada tahun 2004.

31 Desember 2004 ( Rp ) PT. Harmoni Cipta Selaras -

31 Desember 2003 ( Rp ) 210,000,000

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
Jumlah tersebut merupakan dana yang sudah dibayarkan kepada PT Harmoni Cipta Selaras tahun 2003 atas pekerjaan penyelubunganMenara Jamsostek. Sesuai dengan putusan Pengadilan Negeri Jaksel No. 375/PDT.G/2001/PN.Jaksel pada Tanggal 22 Januari 2002 dan Keputusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta No.452/PDT/2002/PTDKI Tanggal 12 November 2002 dinyatakan bahwa tuntutan PT Jamsostek tidak dikabulkan, sehingga saldo piutang lain tersebut dikoreksi sebagai beban publikasi dan dokumentasi pada tahun 2004.

Piutang Main Provider

-

628,421,259

Jumlah tersebut merupakan piutang kepada Main Provider Jajaran Kanwil III atas pembayaran PPK Tingkat II yang dilakukan oleh PT. Jamsostek. Sesuai Notulen Rapat tanggal 23 Desember 2004 antara Biro Akuntansi,Biro Pengawasan Intern dan Kanwil III diputuskan untuk melakukan penyisihan atas piutang kepada PT Nayaka Era Husada dan YKKP masing-masing sebesar Rp580.537.704 dan Rp47.883.555.

7. Kewajiban Kepada Peserta 7.1 Hutang Jaminan 7.1.1 Hutang Jaminan Jumlah tersebut merupakan saldo hutang jaminan per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 yang telah ditetapkan oleh Kantor Cabang, namun belum dibayarkan kepada peserta 31 Desember 2004 ( Rp ) Jaminan Kecelakaan Kerja Jaminan Kematian Jaminan Pelayanan Kesehatan Jasa Konstruksi Jumlah Hutang Jaminan 6,871,236,777 1,607,300,000 1,603,285,471 246,399,690 10,328,221,938 31 Desember 2003 ( Rp ) 2,110,287,196 94,800,000 370,975,690 158,861,660 2,734,924,546

7.1.2 Jaminan Belum Dicairkan Jumlah tersebut merupakan saldo per 31 Desember 2004, sedangkan saldo per 31 Desember 2003 diklasifikasikan sebagai kewajiban lancar lainnya (lihat catatan 8.7) atas jaminan JHT dan non-JHT yang sudah dibayarkan tetapi belum dicairkan oleh peserta sampai dengan batas waktu berlakunya cek/giro pembayaran . 31 Desember 2004 ( Rp ) - Jaminan Belum Dicairkan 7.2 Hutang Jaminan Diestimasi Jumlah tersebut merupakan klaim jaminan yang belum disetujui/ditetapkan namun besarnya klaim dapat diestimasi berdasarkan jumlah pengajuan klaim yang disampaikan oleh peserta per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 yang terdiri dari : 31 Desember 2004 ( Rp ) - Jaminan Kecelakaan Kerja - Jaminan Kematian - Jaminan Pelayanan Kesehatan Jumlah Hutang Jaminan Diestimasi 286,512,227 24,000,000 402,206,450 712,718,677 31 Desember 2003 ( Rp ) 782,056,559 31 Desember 2003 ( Rp ) -

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)

7.3

Selisih Rekonsiliasi Iuran Jumlah tersebut merupakan penerimaan iuran yang belum dapat dibukukan, dikarenakan tidak jelasnya identitas penyetor dan belum diketahui rincian atas iuran yang dibayarkan per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 31 Desember 2004 ( Rp ) 2,284,225,658 2,284,225,658 31 Desember 2003 ( Rp ) 6,421,227,721 6,421,227,721

- Selisih Rekonsiliasi Iuran Jumlah Selisih Rekonsiliasi Iuran

7.4

Hutang JHT Jatuh Tempo Akun ini merupakan seluruh iuran beserta hasil pengembangannya yang akan jatuh tempo dan harus dibayarkan kepada peserta dal waktu kurang dari satu tahun. 31 Desember 2004 ( Rp ) 282,172,053,835 282,172,053,835 31 Desember 2003 ( Rp ) -

- Hutang JHT Jatuh Tempo Jumlah Hutang Jaminan Jatuh Tempo 7.5 Hutang Jaminan Hari Tua Terinci

Untuk menyelesaikan rekonsiliasi Hutang JHT antara jumlah yang terdapat dalam laporan keuangan dengan PSJHT tahun 2003, maka Direksi telah mengambil langkah untuk melakukan cut off hutang JHT tahun 2003 sesuai dengan Surat Keputusan No: KEP/260/102004 tanggal 18 Oktober 2004. Berdasarkan Memo Direktur Renbang dan Informasi No:M/14/DIRENBANGINF/012005 tanggal 24 Januari 2005, maka hutang JHT tahun 2003 yang sudah dapat dirinci posisi 31 Oktober 2004 sebesar Rp22.436.809.939.784 dan berdasarkan memo no.M/54/ DIRENBANGINF/032005 tanggal 21 Maret 2005 terdapat penambahan sebesar Rp335.536.131.064, sehingga saldo per 31 Desember 2004 sebesar Rp22.772.346.070.848.

31 Desember 2004 ( Rp ) - Hutang Jaminan Hari Tua Terinci Jumlah Hutang Jaminan Hari Tua Terinci 7.6 Hutang Jaminan Hari Tua 22,772,346,070,848 22,772,346,070,848

31 Desember 2003 ( Rp )

-

Jumlah tersebut merupakan total saldo hutang JHT yang belum terinci per 31 Desember 2004 yang merupakan penerimaan iuran JHT tahun 2004 yang sampai dengan tanggal pelaporan belum dapat diselesaikan PSJHT- nya.

31 Desember 2004 ( Rp ) - Hutang Jaminan Hari Tua Belum Terinci - Hutang TKPMP Jumlah Hutang Jaminan Hari Tua 4,022,580,658,390 134,822,134 4,022,715,480,524

31 Desember 2003 ( Rp ) 22,341,217,973,433 125,245,658 22,341,343,219,091

Sesuai SK Direksi No.KEP/322/122004 Pengembalian atas hasil investasi JHT selama tahun 2004 dihitung sebesar 8,5% per tahun

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
7.7 Dana Pengembangan JHT Jumlah tersebut merupakan saldo dari dana pengembanganJHT, Hutang Premi dan Surplus Hak peserta atas hasil investasi JHT per 31 Desember 2004 dam 31 Desember 2003 yang terdiri dari : 31 Desember 2004 ( Rp ) 85,718,967,630 316,627,781,416 345,895,533,464 748,242,282,510 31 Desember 2003 ( Rp ) 79,003,656,802 426,468,641,424 137,181,134,133 642,653,432,359

- Hutang Premi JHT - Dana Pengembangan JHT - Surplus Hak Peserta atas Investasi JHT Jumlah Dana Pengembangan dan Surplus 7.8 Selisih Penilaian Efek

31 Desember 2004 ( Rp ) - Selisih Penilaian Efek Saham JHT - Selisih Penilaian Efek Obligasi JHT - Selisih Penilaian Efek Reksadana JHT Jumlah SPE 470,680,843,076 136,899,592,954 4,498,873,993 612,079,310,023

31 Desember 2003 ( Rp ) 225,506,020,298 (2,586,386,906) 3,534,375,249 226,454,008,641

Jumlah tersebut merupakan saldo akibat kenaikan (penurunan) investasi efek tertentu dalam kelompok AFS (Available for Sales) yang sumber dananya dari JHT, per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003. Dasar penyajian ini sesuai ISAK no. 5 tahun 2003 dan SK Direksi No: KEP/27/0103 tentang Pedoman Akuntansi Jamsostek (PAJASTEK). Rincian perhitungan Selisih Penilaian Efek AFS JHT dapat dilihat pada lampiran 11.1 7.9 Cadangan Teknis dan Catastrophe 31 Desember 2004 ( Rp ) Cadangan Teknis JKK Cadangan Teknis JKM Cadangan Teknis JPK Cadangan Teknis Jasa Konstruksi Cadangan Catastrophe Jumlah Cad. Teknis dan Catastrophe 1,421,438,641,176 876,012,943,187 39,320,064,004 315,306,305,139 25,814,768,450 2,677,892,721,956 31 Desember 2003 ( Rp ) 1,156,275,921,027 751,140,744,148 36,562,849,397 279,121,114,677 23,848,765,250 2,246,949,394,499

8.

Kewajiban Lancar 8.1 Hutang Usaha Jumlah tersebut merupakan uang jaminan yang dibayarkan oleh TKI dan oleh perusahaan PJTKI yang akan dibayarkan kembali kepada KFSB atau kepada TKI sesuai ketentuan yang berlaku. Hutang Usaha per 31 Desember 2004 sebesar Rp21.449.636.950 dan per 31 Desember 2003 sebesar Rp15.147.895.060. 8.2 Hutang Pajak Akun tersebut merupakan saldo hutang pajak kantor pusat, kantor wilayah dan kantor cabang yang belum diselesaikan sampai dengan tanggal 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 :

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
31 Desember 2004 ( Rp ) 31 Desember 2003 ( Rp )

- Hutang Pajak Pph Pasal 21 2,761,457,529 1,404,603,769 - Hutang Pajak Pph Pasal 23 242,747,861 188,910,436 - Pph Psl 26 Atas Penghasilan Wp Luar Negeri 8,636,429 8,619,710 - Hutang Ppn 840,774,126 2,760,657,267 - Hutang Pajak Penghasilan Badan 166,878,048,980 Anak Perusahaan Jumlah Hutang Pajak 170,731,664,925 4,362,791,182 Sesuai dengan Perhitungan PPh Badan untuk tahun buku 2004 sebesar Rp179.907.698.358 dan kredit pajak tahun 2004 yang dapat diperhitungkan dengan PPh Badan adalah sebesar Rp13.029.649.377. Sehingga jumlah PPh badan yang masih terhutang sebesar Rp166.878.048.980. Pada tanggal 23 Maret 2005 telah dilakukan penyetoran pajak ke kas negara sebesar Rp72.326.446.289.

8.3

Beban YMH Dibayar 31 Desember 2004 ( Rp ) Perusahaan - Beban Langganan - Beban Gratifikasi - Tagihan Pihak Ketiga - Beban Ymh Dibayar Investasi Anak Perusahaan Jumlah Beban YMH Dibayar 9,531,835,909 67,200,000,000 2,782,502,444 4,115,549,905 18,377,700 83,648,265,958 31 Desember 2003 ( Rp ) 19,524,542,824 67,933,000,000 10,779,600 87,468,322,424

Akun tersebut merupakan saldo beban yang masih harus dibayar di kantor pusat, kantor wilayah, kantor cabang dan anak perusahaan antara lain meliputi biaya langganan, beban gratifikasi, tagihan pihak ketiga, beban ymh dibayar investasi per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003.

8.4

Kewajiban lain YMH dibayar Pos-pos tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : 31 Desember 2004 ( Rp ) - Gratifikasi ymh Dibayar - Tantiem ymh Dibayar - Dana Pendidikan ymh Dibayar Jumlah Kewajiban YMH Dibayar 1,165,103,387 588,090,373 866,047,711 2,619,241,471 31 Desember 2003 ( Rp ) 927,685,441 401,340,373 866,047,711 2,195,073,525

8.5

Pendapatan Diterima Dimuka 31 Desember 2004 ( Rp ) - Sewa Bangunan Investasi - Sewa Bangunan Belanja Modal Jumlah Pendapatan Diterima Dimuka 9,366,919,174 586,719,421 9,953,638,595 31 Desember 2003 ( Rp ) 3,336,399,769 3,336,399,769

Jumlah tersebut merupakan pendapatan yang diterima dimuka atas Sewa Gedung Investasi dan sewa gedung belanja modal Kantor Pusat per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003.

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
8.6 Hutang Investasi Jumlah tersebut merupakan hutang atas transaksi pembelian saham Non JHT AFS yang akan direalisasi pada bulan berikutnya (T+4) sebesar Rp968.859.998 8.7 Hutang Lancar Lainnya Pos pos tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : 31 Desember 2004 ( Rp ) Perusahaan - Kewajiban Lancar Lainnya - Jaminan Belum Dicairkan - Potongan-Potongan - Kewajiban Diestimasi - lain-lain Anak Perusahaan Jumlah Hutang Lancar Lainnya 547,781,189 340,938,020 11,314,536,000 25,608,000 12,228,863,209 31 Desember 2003 ( Rp ) 297,777,282 206,770,324 8,539,059,307 39,337,500 9,082,944,413

Jumlah terbesar dari hutang lancar lainnya adalah kewajiban diestimasi berkaitan dengan imbal kerja sesuai PSAK no.24 untuk program pesangon dan penghargaan masa kerja. Sesuai dengan surat aktuaria PT Daya Konsulindo no.1624/RS/X/04 tanggal 11 November 2004, besarnya kewajiban diestimasi tersebut adalah sebesar Rp109.107.667.000. Dikarenakan PSAK no. 24 baru diterapkan pada tahun 2004 maka kewajiban diestimasi yang diakui adalah kewajiban tahun 2004 sebesar Rp11.314.536.000, untuk kewajiban diestimasi sebelum tahun 2004 akan diperhitungkan dalam penyusunan RKAP tahun 2006. 9. Kewajiban Lainnya 31 Desember 2004 ( Rp ) 10,305,044,926 9,201,264,688 684,603,252 20,190,912,866 31 Desember 2003 ( Rp ) 8,036,664,330 1,135,521,688 1,797,381,844 10,969,567,861

9.1 Jaminan Sewa 9.2 Pos Sementara Dalam Penyelesaian 9.3 Kewajiban Lainnya 9.4 Anak Perusahaan

Pos- pos tersebut dijelaskan sebagai berikut : 9.1 Jaminan Sewa 31 Desember 2004 ( Rp ) 7,805,527,324 2,410,917,602 88,600,000 10,305,044,926 31 Desember 2003 ( Rp ) 6,307,564,330 1,655,500,000 73,600,000 8,036,664,330

- Jaminan Sewa Bangunan - Jaminan Sewa Telepon - Jaminan Sewa Lainnya Jumlah Jaminan Sewa 9.2

Pos Sementara Dalam Penyelesaian Dalam jumlah tersebut antara lain terdiri dari kelebihan pembayaran kupon bunga MTN PT. Arutmin sebesar Rp4.775.473.390 dan Rp3.246.701.268 dikarenakan PT Arutmin tidak melakukan pemotongan pajak atas pendapatan bunga MTN yang dibayarkan kepada PT Jamsostek. 31 Desember 2004 ( Rp ) 9,201,264,688 9,201,264,688 31 Desember 2003 ( Rp ) 1,135,521,688 1,135,521,688

- Pos Sementara Dalam Penyelesaian Jumlah

9.3 Kewajiban Lainnya Dalam jumlah tersebut terdapat pajak atas bunga FRN Garuda sebesar Rp434.421.928,41 yang belum disetor sampai dengan tanggal pelaporan.

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN(lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
31 Desember 2004 ( Rp ) 684,603,252 684,603,252 31 Desember 2004 ( Rp ) 3,972,895 0 3,972,895 31 Desember 2003 ( Rp ) 1,797,381,844 1,797,381,844 31 Desember 2003 ( Rp ) 4,196,743 0 4,196,743

- Kewajiban Lain Jumlah Kewajiban Lainnya 10. Hak Minoritas

Nilai Aktiva Bersih anak perusahaan % pemilik Minoritas Jumlah Hak Minoritas

Jumlah tersebut merupakan bagian pemilik minoritas atas aktiva bersih anak perusahaan per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 11. Ekuitas Jumlah Modal dan Laba ditahan per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 31 Desember 2004 ( Rp ) Modal Disetor Cadangan Umum Cadangan Tujuan Selisih Penilaian Efek Non-JHT Laba Tahun Berjalan 125,000,000,000 348,925,697,575 185,102,054,225 871,633,499,130 421,064,259,077 1,951,725,510,007

31 Desember 2003 ( Rp ) 125,000,000,000 261,830,965,762 165,593,054,227 214,141,172,014 535,235,395,549 1,301,800,587,552

Jumlah Ekuitas Cadangan Umum Hal yang mempengaruhi saldo cadangan umum yang material antara lain sebagai berikut - Sesuai Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak (SPMKP) No. 0033537 terdapat penambahancadangan umumyang berasal dari penerimaan restitusi PPh Pasal 29 Badan Tahun 2002 sebesar Rp43.951.432.193 pada tanggal 14 Oktober 2004. - Sesuai surat Meneg No S-498/MBU/2004 pada tanggal 17 September 2004 terdapat pengurangan cadangan umum untuk PKBL sebesar Rp5.352.354.000. Selisih Penilaian Efek Non-JHT Saldo Selisih Penilain Efek Non-JHT per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 adalah sebagai berikut 31 Desember 2004 31 Desember 2003 ( Rp ) ( Rp ) - Selisih Penilaian Efek Saham Non-JHT 855,568,909,184 205,379,811,708 - Selisih Penilaian Efek Obligasi Non-JHT 234,140,000 - Selisih Penilaian Efek Reksadana Non-JHT 15,830,449,946 8,761,360,407 871,633,499,130 214,141,172,114 Jumlah tersebut merupakan saldo akibat kenaikan (penurunan) Investasi efek tertentu dalam kelompok AFS (Available for Sales ) yang sumber dananya dari Non JHT. Dasar penyajian ini sesuai ISAK no. 5 tahun 2003 dan SK Direksi No: KEP/27/0103 tentang Pedoman Akuntansi Jamsostek (PAJASTEK). Rincian perhitungan Selisih Penilaian EfekAFS Non JHT dapat dilihat pada lampiran 11.2 Distribusi Laba Tahun 2003 Berdasarkan keputusan RUPS Laporan Keuangan Tahun Buku 2003 tanggal 23 Juni 2004 penggunaan laba tahun 2003 sebesar Rp535.235.395.549 adalah sebagai berikut : Uraian Dana Pengembangan JHT DPKP Cadangan Tujuan Tantiem Dividen Program Kemitraan Bina Lingkungan Cadangan Umum Total Laba Th 2003 Nominal 255,842,519,000.00 26,761,769,000.00 19,509,000,000.00 3,370,000,000.00 133,808,849,000.00 14,986,591,000.00 5,352,354,000.00 75,604,313,549.00 535,235,395,549.00 Persentase 47.80% 5.00% 3.64% 0.63% 25.00% 2.80% 1.00% 14.13% 100%

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
31 Desember 2004 ( Rp ) 1,200,597,511,385 31 Desember 2003 ( Rp ) 1,094,153,169,813

12. Pendapatan Iuran

Jumlah tersebut merupakan pendapatan iuran JKK, JKM, JPK dan Program Jasa Konstruksi untuk periode yang berakhir tanggal 01 Januari s.d. 31 Desember 2004 dan 01 Januari s.d. 31 Desember 2003. Penerimaan iuran JHT tidak dicatat sebagai pendapatan tetapi dicatat sebagai Hutang (Kewajiban) dan penambah pos Kewajiban Kepada Peserta. Rincian pendapatan iuran adalah sbb; 31 Desember 2004 ( Rp ) Pendapatan Iuran Program Paket Jaminan Kecelakan Kerja Jaminan Kematian Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pendapatan Iuran Program Non Paket Pendapatan Iuran Jasa Konstruksi Pendapatan Iuran Sektor Informal 525,184,979,778 234,861,783,922 393,200,640,232 1,153,247,403,932 47,302,112,394 47,995,059 1,200,597,511,385 31 Desember 2003 ( Rp ) 476,386,135,991 208,696,633,297 365,628,493,918 1,050,711,263,206 43,441,906,607 1,094,153,169,813

13. Pendapatan Operasional Anak Perusahaan 31 Desember 2004 ( Rp ) 31 Desember 2003 ( Rp )

6,279,555,874 13,923,083,724 Jumlah tersebut merupakan laba kotor anak perusahaan yaitu selisih antara pendapatan operasional dan biaya operasi langsung yang diterima selama periode 01 Januari s/d 31 Desember 2004 dan 01 Januari s.d. 31 Desember 2003. 31 Desember 2004 ( Rp ) 14. Beban Jaminan (547,683,176,653) 31 Desember 2003 ( Rp ) (488,357,781,826)

Jumlah tersebut merupakan beban yang telah dikeluarkan selama periode 01 Januari s.d. 31 Desember 2004 dan 01 Januari s.d. 31 Desember 2003 . Beban jaminan JHT dicatat sebagai pengurang pos Kewajiban Kepada Peserta. Rincian beban jaminan adalah sbb; 31 Desember 2004 ( Rp ) Beban Jaminan Program Paket Jaminan Kecelakaan Kerja Jaminan Kematian Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Beban Jaminan Program Non-Paket Beban Jaminan Jasa Konstruksi Beban Jaminan Sektor Informal (193,365,275,647) (70,276,100,000) (273,561,860,434) (537,203,236,081) (10,443,940,572) (36,000,000) (547,683,176,653) 31 Desember 2004 ( Rp ) (430,943,327,454) 31 Desember 2003 ( Rp ) (186,847,529,035) (65,768,250,000) (227,287,184,028) (479,902,963,063) (8,454,818,763) (488,357,781,826) 31 Desember 2003 ( Rp ) (377,739,821,490)

15. Beban Cadangan Teknis

Jumlah tersebut merupakan dana yang disisihkan untuk pembayaran jaminan yang diperkirakan akan terjadi pada masa yang akan datang, dengan rincian saldo untuk periode 01 Januari s.d. 31 Desember 2004 dan 01 Januari s.d. 31 Desember 2003 sbb;

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
31 Desember 2004 ( Rp ) Cadangan Teknis JKK Cadangan Teknis JKM Cadangan Teknis JPK Cadangan Teknis Jakons Cadangan Teknis Katastrofa (265,162,720,146) (124,872,199,039) (2,757,214,607) (36,185,190,462) (1,966,003,200) (430,943,327,454) 31 Desember 2004 ( Rp ) 3,372,992,428,875 31 Desember 2004 ( Rp ) 16.1 Pendapatan Bunga Investasi 2,705,097,347,209 31 Desember 2003 ( Rp ) (233,618,761,360) (104,926,655,481) (4,047,930,380) (33,318,331,799) (1,828,142,470) (377,739,821,490) 31 Desember 2003 ( Rp ) 3,480,111,495,560 31 Desember 2003 ( Rp ) 3,006,142,771,917 01

16. Pendapatan Investasi

Hasil investasi yang berasal dari Pendapatan Bunga untuk periode 01 Januari s.d. 31 Desember 2004 dan Januari s.d. 31 Desember 2003 adalah Rp2.705.097.347.209 dan Rp3.006.142.771.917 dengan rincian ; 16.1.1 Pendapatan Bunga Investasi JHT Pendapatan Bank Investasi Pendapatan Budep On Call Rupiah Pendapatan Budep Berjangka Rp Pendapatan Bunga SBI Pendapatan Bunga Obligasi Pendapatan Bunga Mtn 16.1.2 Pendapatan Bunga Investasi Non-JHT Pendapatan Bank Investasi Pendapatan Budep On Call Rupiah Pendapatan Budep Berjangka Rp - Kapu Pendapatan Budep Berjangka Rp - Kacab Pendapatan Budep Berjangka Jakons Rp Pendapatan Bunga Promes Pendapatan Bunga Obligasi Pendapatan Jasa Giro 2,550,588,584,407

2,708,491,894,654

19,459,651,365 1,036,790,334,636 102,632,830 1,435,248,456,098 58,987,509,478 154,508,762,802

12,222,749,298 1,570,771,577,464 926,146,931,450 199,350,636,442 297,650,877,263

2,486,433,936 97,938,930,538 9,922,739,179 16,054,569,256 899,781,003 27,206,308,890 31 Desember 2004 ( Rp )

3,907,734,618 266,948,929,732 7,354,102,813 1,199,699,996 18,211,804,935 28,605,169 31 Desember 2003 ( Rp ) 54,486,320,995 01 Januari s/d 31 Desember 27,470,202,415 27,370,600,000 99,602,415 27,470,202,415 27,016,118,580 26,999,568,904 16,549,676 27,016,118,580

16.2 Pendapatan Dividen Investasi

97,303,252,135

Pendapatan dividen investasi untuk periode 01 Januari s/d 31 Desember 2004 dan 2003 adalah Rp97.303.252.135 dan Rp54.486.320.995. 16.2.1 Pendapatan Dividen Inv JHT Pendapatan Dividen Saham Pendapatan Dividen Reksa Dana 24,866,397,000 24,866,397,000 24,866,397,000 72,436,855,135 70,517,018,598 2,040,412,393 24,514,590 72,436,855,135

16.2.2

Pendapatan Dividen Inv Non-JHT Pendapatan Dividen Saham Penerimaan Inv. Lain - Saham Pendapatan Dividen Penyer. Langsung Minoritas

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
Pendapatan dividen investasi non-JHT sudah termasuk eliminasi atas pengakuan laba rugi PT Bijak (anak perusahan) sebesar Rp145.020.072 yang bersifat mayoritas dan pencatatannya menggunakan metode ekuitas.

16.3 Pendapatan Sewa Investasi

31 Desember 2004 ( Rp ) 37,919,883,218

31 Desember 2003 ( Rp ) 25,255,863,760

Pendapatan Sewa investasi untuk periode 01 Januari s.d. 31 Desember 2004 dan adalah Rp37.919.883.218,- dan Rp25.255.863.760 ,- dengan rincian sbb; 16.3.1 Pendapatan Sewa Inv JHT Pendapatan Sewa Bangunan Investasi

01 Januari s.d. 31 Desember 2003 25,006,259,316 25,006,259,316

37,191,513,460 37,191,513,460

Pendapatan sewa investasi JHT sudah termasuk eliminasi atas pendapatan sewa investasi JHT Kacab Setiabudi sebesar Rp219.100.200. 16.3.2 Pendapatan Sewa Inv Non-JHT Pendapatan Sewa Tanah Investasi Pendapatan Sewa Bangunan Investasi 728,369,758 728,369,758 249,604,444

249,604,444

31 Desember 2004 ( Rp ) 16.4 Laba Pelepasan Investasi 16.4.1 Dana JHT Laba Penjualan Saham Laba Penjualan Obligasi Laba Penjualan MTN Laba Penjualan Reksadana Laba Penjualan Tanah Laba Pertukaran Reksadana 16.4.2 Dana Non-JHT Laba Penjualan Saham Laba Penjualan Obligasi Laba Penjualan Tanah 217,306,311,186 3,601,099,368 220,907,410,554 31 Desember 2004 ( Rp ) 16.5 Rugi Pelepasan Investasi 16.5.1 Dana JHT Rugi Atas Penjualan Saham Rugi Atas Penjualan Obligasi Rugi Atas Penjualan Reksadana 16.5.2 Dana Non-JHT Rugi Atas Penjualan Saham Rugi Atas Penjualan Reksadana (14,755,437,063) (14,755,437,063) (29,641,051,991) 502,778,019,545

31 Desember 2003 ( Rp ) 410,793,071,997

205,199,130,864 74,603,363,925 1,413,876,144 654,238,058 281,870,608,991

100,475,402,538 128,988,937,676 2,647,500,000 9,448,126,831 3,373,354,750 244,933,321,795

162,768,758,386 2,712,077,025 378,914,791 165,859,750,202 31 Desember 2003 ( Rp ) (51,925,775,844)

(14,385,614,928) (500,000,000) (14,885,614,928)

(687,416,393) (29,215,938,095) (86,956,937) (29,990,311,425)

(21,261,957,003) (673,507,416) (21,935,464,419)

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)

16.6

Pendapatan Investasi Lainnya

31 Desember 2004 ( Rp ) 15,444,247,550

31 Desember 2003 ( Rp ) 33,458,960,776

Pendapatan investasi Lainnya untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003 adalah Rp15.406.041.430 ,- dan Rp33.458.960.776 ,- dengan rincian sbb; 16.6.1 Pendapatan Investasi Lainnya JHT Penerimaan Inv. Lain depo. Penerimaan Inv. Lain Reksadana Penerimaan Inv. Lain Property Penerimaan Inv. Lain Obligasi Penerimaan Inv. Lain MTN Penerimaan Investasi Lainnya Pendapatan Jasa Giro Pendapatan Investasi Lainnya Non-JHT Penerimaan Inv. Lain - depo. Penerimaan Inv. Lain - Reksadana Penerimaan Inv. Lain - Obligasi Penerimaan Investasi Lainnya Penerimaan dari anak perusahaan Pendapatan Jasa Giro 15,082,901,113 311,074,384 58,217,650 3,085,404,842 294,333,334 9,889,618,689 1,444,252,214 361,346,437 931,507 128,606,625 8,110,334 223,697,971 11,256,384,561

10,799,415,595 456,968,966 22,202,576,215

16.6.2

22,566,056,754 (363,480,539)

16.7

Keuntungan Atas Kenaikan Investasi 16.7.1 Keuntungan dari Kenaikan Inves. JHT Keuntungan Atas Kenaikan Kurs Valas Keuntungan Atas Kenaikan Nilai Obligasi Keuntungan Atas Kenaikan Nilai Reksadana

230,990,311,424

61,517,260,968

450,797,269 201,817,105,142 581,994,821 202,849,897,232

56,130,535,782

56,130,535,782

16.7.2

Keuntungan dari Kenaikan Inves. Non-JHT Keuntungan Atas Kenaikan Kurs Valas Keuntungan Atas Kenaikan Nilai Saham Keuntungan Atas Kenaikan Nilai Obligasi Keuntungan Atas Kenaikan Nilai Reksadana Keuntungan Kenaikan Nilai Penyer. Mayoritas

28,810,000 5,166,614,848 22,799,998,276 144,991,068 28,140,414,192

2,826,609,670 2,560,115,516 5,386,725,186

16.8

Kerugian Atas Penurunan Nilai Investasi 16.8.1 Kerugian Penurunan Nilai Inves JHT Kerugian Atas Penurunan Kurs Valas Kerugian Atas Penurunan Nilai Saham Kerugian Atas Penurunan Nilai Obligasi Kerugian Atas Penurunan Nilai Reksadana Kerugian Peny. Obligasi Kerugian Peny. MTN

31 Desember 2004 ( Rp ) (186,899,580,216)

31 Desember 2003 ( Rp ) (59,616,979,009)

(15,255,452) (98,303,320,377) (891,155,155) (83,500,000,000) (182,709,730,984)

(32,155,579,000) -

(13,446,527,778) (45,602,106,778)

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
31 Desember 2004 ( Rp ) 16.8.2 Kerugian Penurunan Nilai Inves Non-JHT Kerugian Atas Penurunan Nilai Saham Kerugian Atas Penurunan Nilai Obligasi Kerugian Atas Penurunan Nilai Penyer. lsg (1,552,835,016) (2,637,014,216) (4,189,849,232) 31 Desember 2004 ( Rp ) (103,851,238,708) 31 Desember 2003 ( Rp ) (9,523,418,721) (4,491,453,510) (14,014,872,231) 31 Desember 2003 ( Rp ) (150,744,919,050)

17. Beban Investasi

Beban Investasi untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Deseember 2004 dan 31 Desember 2003 adalah Rp116.838.181.966 dan Rp150.744.919.050 dengan rincian sbb;

17.1 Beban Pajak Atas Kegiatan Investasi 17.1.1 Beban Pajak Atas Keg. Inves. JHT Beban Pph Atas Bunga Doc Rupiah Beban Pph Budep Berjangka Rupiah Kacab Beban Pph Atas Bunga MTN Beban Pph Atas Bunga Jasa Giro Beban Pph Atas Sewa Bangunan Investasi Beban Pph Atas Transaksi Saham Beban Pph Atas Pend. Lain Investasi MTN Beban Pph Atas Pend. Lain Investasi Properti Beban Pbb Tanah Dan Bangunan

(49,586,318,169) (2,852,775,602) (23,585,824) (2) (287,227,848) (4,239,818,980) (602,617,882) (6) (377,275,366) (1,471,411,294) (9,854,712,804)

(95,155,544,351) (31,182,572,871) (2,530,214,059) (391,714,765) -

(34,104,501,695) (827,536,206) (50,533,242,605) (4,203,218,837) (4,049,955,337) (2,306,351) (43,320,444) (1,391,462,876)

17.1.2

Beban Pajak Atas Keg. Inves. Non JHT Beban Pph Atas Bunga Doc Rupiah Beban Pph Budep Berjangka Rupiah Beban Pph Atas Pend. Bunga Obligasi Beban Pph Atas Bunga Jasa Giro Beban Pph Atas Pend. Dividen Beban Pph Atas Pend. Dividen Saham Beban Pph Atas Pend. Div. peny. lgs Beban Pph Atas Sewa Bangunan Investasi Beban Pph Atas Transaksi Saham Beban Pbb Tanah Dan Bangunan

(661,354,411) (21,235,108,869) (5,892,379,620) (51,574,848) (10,451,420,883) (708,551) (32,417,072) (1,102,961,207) (303,679,904) (39,731,605,365) 31 Desember 2004 ( Rp )

(61,051,042,656) 31 Desember 2003 ( Rp ) (4,348,458,225)

17.2 Beban Administrasi atas Kegiatan Investasi 17.2.1 Beban Adm Transaksi Inv JHT Beban Balik Nama Dan Registrasi Beban Penitipan Surat Berharga Beban Bank Investasi

(7,674,154,259)

(953,637) (6,038,274,361) (57,953,300) (6,097,181,298)

(965,642,171) (91,321,752) (1,056,963,923)

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
31 Desember 2004 ( Rp ) 17.2.2 Beban Adm Transaksi Inv Non JHT Beban Split Saham Beban Balik Nama Dan Registrasi Beban Penitipan Surat Berharga Beban Bank Investasi Beban Denda Penalti 31 Desember 2003 ( Rp )

(2,800,000) (1,544,485,556) (3,285,702,268) (27,782,028) (5,792,034) (1,905,377) (1,576,972,961) (3,291,494,302) Beban Penitipan surat berharga meningkat seiring dengan semakin meningkatnya jumlah portofolio obligasi dan saham. 17.3 Beban Investasi Properti 17.3.1 Beban Investasi Properti JHT Beban Pemasaran Bangunan Investasi Beban Pengelolaan Bangunan Investasi Beban Penyusutan Bangunan Investasi Beban Pemeliharaan Tanah Beban Penyusutan Aktiva Property Beban Pbb Tanah Dan Bangunan 17.3.2 Beban Investasi Properti Non-JHT Beban Pemasaran Bangunan Investasi Beban Pengelolaan Bangunan Investasi Beban Penyusutan Bangunan Investasi Beban Pemeliharaan Tanah Beban Pbb Tanah Dan Bangunan (680,503,960) (19,446,307,566) (21,762,379,503) (2,000,000) (889,721,992) (42,780,913,021) (7,480,000) (618,089,085) (472,327,210) (53,652,820) (1,151,549,115) 17.4 Beban Asuransi Investasi 17.4.1 17.4.2 17.5 Beban Asuransi Aset Inves. JHT Beban Asuransi Bangunan Investasi Beban Asuransi Aset Inves. Non-JHT Beban Asuransi Bangunan Investasi (1,072,936,580) (1,064,412,080) (1,064,412,080) (8,524,500) (8,524,500) (645,575,000) (1,387,008,380) (14,733,712,151) (21,692,830,649) (261,796,068) (1,471,415,294) (39,546,762,542) (713,569,749) (344,764,435) (319,522,566) (1,377,856,750) (94,550,090) (94,550,090) (94,550,090) (43,932,462,136) (40,924,619,292)

Beban Manager dan Konsultan Investasi 17.5.1 Beban Manager dan Konsultan Investasi JHT Beban Pengelolaan Inv. Melalui Fm -Saham Beban Pengelolaan Inv. Melalui Fm -Obligasi Beban Manager dan Konsultan Investasi Non JHT Beban Pengelolaan Inv. Melalui Fm -Saham Beban Pengelolaan Inv. Melalui Fm -Obligasi Beban Pengelolaan Inv. Kpai

(51,375,000) (60,475,000) (111,850,000) (116,950,000) (16,775,000) (400,000,000) (533,725,000) (939,792,564) (55,000,000) (243,982,137) (298,982,137)

(10,221,747,091) (5,467,504,810)

17.5.2

17.6

Beban Investasi Lainnya 17.6.1 Beban Investasi Lainnya JHT Beban Penyelesaian Hukum MTN Beban Penyelesaian Hukum Reksadana Beban Penyelesaian Hukum Penyert.Lgs Mayoritas Beban Penyelesaian Hukum Penyert.Lgs Minoritas Beban Investasi Lainnya Beban Pemeliharaan Tanah

(424,732,361) (1,500,000) (5,893,737,171)

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)

31 Desember 2004 ( Rp ) 17.6.2 Beban Investasi Lainnya Non-JHT Beban Pemeliharaan Tanah Beban Penyelesaian Hukum Beban Investasi Lainnya Beban Pemeliharaan Tanah

31 Desember 2003 ( Rp ) (572,297,297) (3,691,583,008) (64,129,615) (4,328,009,920)

(640,810,427) (640,810,427)

18. Beban Usaha 18.1 Beban Manajemen

31 Desember 2004 ( Rp ) (598,827,748,717) (12,224,696,159) 31 Desember 2004 ( Rp ) (9,487,767,554) (2,026,518,115) (11,514,285,669) (710,410,490) (12,224,696,159) 31 Desember 2004 ( Rp ) (85,296,737,645) (7,087,722,627) (44,192,608,936) (1,012,926,844) (17,070,714,870) (7,705,809,134) (3,182,555,176) (80,252,337,587) (5,044,400,058) (85,296,737,645) 31 Desember 2004 ( Rp ) (322,990,472,413) (64,434,578,785) (45,811,968,243) (139,438,502,995) (45,509,739,411) (4,244,130,227) (5,041,698,839) (15,698,287,211) (1,605,440,832) (321,784,346,543) (1,206,125,870) (322,990,472,413)

31 Desember 2003 ( Rp ) (531,333,691,317) (9,956,550,502) 31 Desember 2003 ( Rp ) (7,963,561,382) (1,473,819,332) (9,437,380,714) (519,169,788) (9,956,550,502) 31 Desember 2003 ( Rp ) (65,521,422,891) (7,141,153,454) (29,089,597,972) (257,462,343) (8,827,543,871) (6,685,543,467) (2,074,805,434) (54,076,106,541) (11,445,316,350) (65,521,422,891) 31 Desember 2003 ( Rp ) (285,695,315,419) (58,872,529,953) (43,384,965,910) (131,044,499,489) (34,887,939,502) (3,152,397,847) (3,894,737,828) (7,968,319,468) (1,421,133,464) (284,626,523,461) (1,068,791,958) (285,695,315,419)

18.1.1 Beban Direksi 18.1.2 Beban Komisaris 18.1.3 Anak Perusahaan

18.2 Beban Operasional

18.2.1 18.2.2 18.2.3 18.2.4 18.2.5 18.2.6 18.2.7 18.2.8

Beban Perluasan Kepesertaan Beban Pembinaan Kepesertaan Beban Upaya Penegakan Hukum Beban Humas Beban Perjalanan Dinas Beban Representasi Pejabat Beban Asuransi Pejabat Anak Perusahaan

18.3 Beban Personil

18.3.1 18.3.2 18.3.3 18.3.4 18.3.5 18.3.6 18.3.7 18.3.8 18.3.9

Beb.Gaji Dan Honor Beb.Tunj. Tunj. Pokok Beb.Tunj. Tunj. Tambahan Beb.Jam Sos/JPK Tamb/Pensiunan Beb.Pembinaan Pegawai Beb.Penerimaan Dan Penempatan Beb.Pengembangan SDM Beb.Personil Lainnya Anak Perusahaan

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)
18.4 Beban Administasi & Umum 31 Desember 2004 ( Rp ) (117,238,061,964) (19,446,082,028) (10,986,871,271) (18,728,239,859) (20,445,003,080) (10,643,730,762) (3,510,089,475) (6,926,235,697) (6,399,588,583) (9,113,272,930) (4,383,032,957) (5,941,649,068) (116,523,795,710) (714,266,254) (117,238,061,964) 31 Desember 2004 ( Rp ) (37,140,474,522) (4,743,000,655) (11,553,794,114) (2,575,680,432) (11,699,925,961) (5,235,158,232) (996,436,641) (36,803,996,035) (336,478,487) (37,140,474,522) 31 Desember 2004 ( Rp ) (23,937,306,014) (11,476,416,196) (4,691,332,945) (7,769,556,873) (23,937,306,014) 31 Desember 2003 ( Rp ) (105,052,810,183) (14,471,068,708) (9,862,362,203) (20,466,771,865) (15,110,655,328) (9,256,988,001) (2,967,609,137) (5,508,466,394) (9,832,935,362) (9,558,638,670) (6,307,294,664) (1,458,993,880) (104,801,784,212) (251,025,971) (105,052,810,183) 31 Desember 2003 ( Rp ) (36,986,866,199) (4,932,497,876) (10,780,386,745) (3,381,921,873) (12,882,140,323) (4,635,338,589) (35,000,000) (36,647,285,406) (339,580,793) (36,986,866,199) 31 Desember 2003 ( Rp ) (28,120,726,123) (11,692,726,318) (5,453,208,741) (11,175,191,257) 1,493,750,743 (1,293,350,550) (28,120,726,123)

18.4.1 18.4.2 18.4.3 18.4.4 18.4.5 18.4.6 18.4.7 18.4.8 18.4.9 18.4.10 18.4.11

Beban Perlengkapan Kantor Beban Sewa Beban Langganan Beban Pemeliharaan Dan Pengelolaan Aktiva Beban Rumah Tangga Dan Rapat Beban Pajak Dan Asuransi Atas Aktiva Tetap Beban Kesekretariatan Beban Pengolahan Data Beban Perencanaan Dan Pengembangan Beban Administrasi Keuangan Beban Umum Lainnya

18.4.12 Anak Perusahaan

18.5

Beban Penyusutan Dan Amortisasi 18.5.1 18.5.2 18.5.3 18.5.4 18.5.5 18.5.6 18.5.7 Beban Penyusutan Bangunan Beban Penyusutan Kendaraan Dinas Beban Penyusutan Perabot/ Meubelair Beban Penyusutan Peralatan Komputer Beban Penyusutan Peralatan Lain Beban Amortisasi Anak Perusahaan

18.6 Beban Penyisihan Piutang 18.6.1 18.6.2 18.6.3 18.6.4 18.6.5 Beban Penyisihan Piutang Iuran JKK Beban Penyisihan Piutang Iuran JKM Beban Penyisihan Piutang Iuran JPK Beban Penyisihan Piutang Iuran Jakons Piut. Usaha Anak Perusahaan Lihat penjelasan neraca pos piutang iuran (point 4.3). 19.

Hasil Lain Lain 71,222,648,340 10,666,122,277 Jumlah pendapatan lain lain dan biaya lain lain diluar dari tujuan usaha perusahaandan anak perusahaanselama periode 01 Januari s/d 31 Desember 2004 dan 01 Januari s.d. 31 Desember 2003, dengan rincian sbb; 31 Desember 2004 ( Rp ) 85,062,881,806 31 Desember 2003 ( Rp ) 13,621,297,595

19.1 Pendapatan Lain-lain

Proporsi terbesar dari pendapatan lain selama periode 01 Januari s.d. 31 Desember 2004 antara lain bersumber dari koreksi penyisihan piutang iuran sebesar Rp63.754.623.472 ; pendapatan denda iuran sebesar Rp4.542.990.585 koreksi penyusutan aktiva tetap sebesar Rp3.881.482.592 ; dan pendapatan lain anak perusahaan sebesar Rp2.127.082.466.

PT JAMSOSTEK (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)

19.2 Beban Lain-lain

31 Desember 2004 ( Rp ) (13,840,233,466) 71,222,648,340

31 Desember 2003 ( Rp ) (2,955,175,318) 10,666,122,277

Proporsi terbesar dari beban lain selama periode 01 Januari s.d. 31 Desember 2004 antara lain bersumber dari koreksi perhitungan PSL sebesar Rp7.831.036.000 ; koreksi penyusutan aktiva tetap sebesar Rp1.276.283.363 koreksi kelebihan pembayaran bunga JHTsebesar Rp753.695.414 . 31 Desember 2004 ( Rp ) (2,335,047,029,716) 31 Desember 2003 ( Rp ) (2,518,451,716,329)

20. Bagian Peserta atas Hasil Investasi JHT

Jumlah tersebut merupakan hasil pengembangandana JHT periode 01 Januari s.d. 31 Desember 2004 yang dikembalikan kepada peserta sebesar Rp2.325.421.011.578 dihitung dengan tingkat bunga 8,5%, sebesar Rp109.840.860.008 dialokasikan sebagai pengurang Dana Pengembangandan Hutang Premi JHT, sedangkan sebesar Rp199.088.381.193 dicatat sebagai surplus hak peserta yang belum didistribusi dan dikelompokkan dalam dana pengembangan JHT. 31 Desember 2004 ( Rp ) (179,915,851,033) 31 Desember 2003 ( Rp ) (1,097,402,900)

21.

Pajak Penghasilan Badan

Jumlah tersebut merupakan beban PPh Badan PT Jamsostek dan anak perusahaan untuk tahun buku 2004 dan 2003 dengan rincian seba berikut: 21.1 21.2 21.3 Pajak Penghasilan Badan JHT Pajak Penghasilan Badan Non JHT Pajak Penghasilan Badan Anak Perusahaan (20,746,165,078) (159,161,533,280) (8,152,675) (179,915,851,033) (1,097,402,900.00) (1,097,402,900)

Rincian perhitungan taksiran PPh Badan dapat dilihat pada lampiran 12 31 Desember 2004 31 Desember 2003 ( Rp ) ( Rp ) (33,759,484,111) 4,107,343,938 22. Pendapatan (beban) Pajak Tangguhan Jumlah tersebut merupakan pendapatan (beban) pajak tangguhan PT Jamsostek untuk tahun buku 2004 dan 2003 sebesar Rp33.759.484.111 dan Rp4.107.343.938. 31 Desember 2004 ( Rp ) (29,004) 31 Desember 2003 ( Rp ) (486,852)

23

Hak Minoritas

Jumlah tersebut merupakan hak pemegang saham minoritas dengan persentase kepemilikan sebesar 0,02% atas laba (rugi) bersih anak perusahaan tahun 2004 dan 2003 masing-masing sebesar Rp145.020.072 dan Rp2.434.260.732. 24 Mengingat UU No. 16 Tahun 2001 tentang Yayasan, tidak memperbolehkanpenyelenggaraan program THT karyawan PT Jamsostek oleh Yayasan Kesejahteraan Karyawan maka Yayasan Kesejahteraan Karyawan PT.Jamsostek sejak tanggal 1 Juni 2004 mengalihkan pengelolaan THT dan PKK karyawan PT Jamsostek ke PT AIA Indonesia sesuai dengan perjanjian no. R/58/062004 tentang Program Asuransi Jiwa Care Pack. Dengan adanya pengalihan tersebut, premi pertama yang harus dibayar adalah sebesar Rp122.369.438.561. Sampai dengan 31 Desember 2004 premi pertama yang sudah dibayar adalah sebesar Rp86.760.260.466,46 sehingga premi pertama yang belum dibayar adalah sebesar Rp35.609.178.094,54. Kekurangan premi sebesar Rp35.609.178.094,54 akan ditutup antara lain dengan deposito pada Bank Persarikatan Indonesia dan Bank Asiatic masing-masing sebesar Rp11.800.000.000 dan Rp20.800.000.000 serta tanah senilai Rp3.228.142.145,00 Penyelesaian kewajiban tersebut akan diselesaikan oleh tim likuidasi Yayasan Kesejahteraan Karyawan PT Jamsostek.

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah) 25. PENGUNGKAPAN LAPORAN LABA RUGI JHT & NON JHT PT. JAMSOSTEK (Persero) PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 31 DESEMBER 2003 URAIAN Pendapatan Iuran Beban Jaminan Beban Cadangan Teknis PENDAPATAN BERSIH IURAN PENGHASILAN INVESTASI REALIZED Pendapatan Bunga Pendapatan Bunga Deposito On Call Pendapatan Budep Berjangka Pendapatan Bunga Intrument Pasar Uang lainnya Pendapatan Bunga Obligasi Pendapatan Bunga MTN Pendapatan Dividen Investasi Pendapatan Dividen Saham Penerimaan Inv. Lain Saham Pendapatan Dividen Reksa Dana Pendapatan Dividen Penyertaan Langsung Mayoritas Pendapatan Dividen Penyertaan Langsung Minoritas Pendapatan Sewa Investasi Pendapatan Sewa Bangunan Investasi Pendapatan Investasi Lainnya Penerimaan Inv. Lain Deposito Penerimaan Inv. Lain Obligasi Penerimaan Inv. Lain MTN Penerimaan Inv. Lain Reksadana Penerimaan Inv. Lain Property Pendapatan Jasa Giro Laba Pelepasan Investasi Laba Penjualan Saham Laba Penjualan Obligasi Laba Penjualan MTN Laba Penjualan Reksadana Laba Penjualan Tanah Laba Pertukaran Reksadana Rugi Pelepasan Investasi Rugi Atas Penjualan Saham Rugi Atas Penjualan Obligasi Rugi Atas Penjualan Reksadana UNREALIZED Keuntungan dari Kenaikan Investasi Keuntungan Atas Kenaikan Kurs Valas Keuntungan Atas Kenaikan Nilai Saham Keuntungan Atas Kenaikan Nilai Obligasi Keuntungan Atas Kenaikan Nilai Reksadana Keuntungan Atas Kenaikan Nilai Penyertaan Mayoritas Kerugian dari Penurunan Nilai Investasi Kerugian Atas Penurunan Kurs Valas Kerugian Atas Penurunan Nilai Saham Kerugian Atas Penurunan Nilai Obligasi Kerugian Atas Penurunan Nilai MTN Kerugian Atas Penurunan Nilai Reksadana Kerugian Penyertaan Langsung Mayoritas Kerugian Penyisihan Obligasi PENDAPATAN INVESTASI BRUTO (I) JHT 31 DES 2003 JHT 31 DES 2004 NON JHT 31 DES 2003 1.094.153.169.813 (488.357.781.826) (377.739.821.490) 228.055.566.497 NON JHT 31 DES 2004 1.200.597.511.385 (547.683.176.653) (430.943.327.454) 221.971.007.278 TOTAL 31 DES 2003 1.094.153.169.813 (488.357.781.826) (377.739.821.490) 228.055.566.497 (Dalam Rp) TOTAL 31 DES 2004 1.200.597.511.385 (547.683.176.653) (430.943.327.454) 221.971.007.278

-

2.717.575.620.663 12.222.749.298 1.570.779.901.798 927.060.301.293 207.512.668.274 27.470.202.415 27.370.600.000 99.602.415

2.550.588.584.407 19.459.651.365 1.036.790.334.636 102.632.830 1.435.248.456.098 58.987.509.478 24.866.397.000 24.866.397.000 37.410.613.660 37.410.613.660 15.082.901.113 311.074.384 294.333.334 9.889.618.689 58.217.650 3.085.404.842 1.444.252.214 281.870.608.991 205.199.130.864 74.603.363.925 1.413.876.144 654.238.058 (14.885.614.928) (14.385.614.928) (500.000.000) 202.849.897.232 450.797.269 201.817.105.142 581.994.821 (182.709.730.984) (15.255.452) (98.303.320.377) (891.155.155) (83.500.000.000) 2.915.073.656.491

298.983.850.586 3.907.734.618 275.664.611.037 1.199.699.996 18.211.804.935 29.086.411.921 26.999.568.904 2.070.293.341 16.549.676 817.604.444 817.604.444 19.394.594.951

154.508.762.802 2.486.433.936 123.916.238.973 899.781.003 27.206.308.890 72.581.846.203 70.517.018.598 2.040.412.393 24.415.212 728.369.758 728.369.758 361.346.437 931.507 8.110.334 128.606.625 223.697.971 220.907.410.554 217.306.311.186 3.601.099.368 (14.755.437.063) (14.755.437.063) 28.140.414.192 28.810.000 5.166.614.848 22.799.998.276 144.991.068 (4.189.849.232) (1.552.835.016) (2.637.014.216) 458.282.863.651

3.016.559.471.249 16.130.483.916 1.846.444.512.835 1.199.699.996 945.272.106.228 207.512.668.274 56.556.614.336 27.370.600.000 26.999.568.904 99.602.415 2.070.293.341 16.549.676 27.736.874.698 27.736.874.698 19.853.424.566 18.785.107.200 176.483.952 485.574.134 410.793.071.997 263.244.160.924 131.701.014.701 2.647.500.000 9.827.041.622 3.373.354.750 (51.925.775.845) (21.949.373.396) (29.215.938.096) (760.464.353) 61.517.260.968 2.826.609.670 56.130.535.782 2.560.115.516 (59.616.979.009) (9.523.418.721) (32.155.579.000) (13.446.527.778) (4.491.453.510) 3.481.473.962.960

2.705.097.347.209 21.946.085.301 1.160.706.573.609 1.002.413.833 1.462.454.764.988 58.987.509.478 97.448.243.203 95.383.415.598 2.040.412.393 24.415.212 38.138.983.418 38.138.983.418 15.444.247.550 312.005.891 302.443.668 9.889.618.689 186.824.275 3.085.404.842 1.667.950.185 502.778.019.545 422.505.442.050 78.204.463.293 1.413.876.144 654.238.058 (29.641.051.991) (29.141.051.991) (500.000.000) 230.990.311.424 450.797.269 28.810.000 206.983.719.990 23.381.993.097 144.991.068 (186.899.580.216) (15.255.452) (1.552.835.016) (100.940.334.593) (891.155.155) (83.500.000.000) 3.373.356.520.142

26.919.270.254 26.919.270.254 458.829.615

18.785.107.200 176.483.952 28.605.169 169.233.104.951 162.768.758.385 2.712.077.025 378.914.791 3.373.354.750 (21.935.464.419) (21.261.957.003) (673.507.416) 5.386.725.186 2.826.609.670 2.560.115.516 (14.014.872.231) (9.523.418.721)

456.968.965 241.559.967.046 100.475.402.539 128.988.937.676 2.647.500.000 9.448.126.831

(29.990.311.426) (687.416.393) (29.215.938.096) (86.956.937) 56.130.535.782

56.130.535.782

(45.602.106.778)

(32.155.579.000) (13.446.527.778)

(4.491.453.510) 486.951.955.389

2.994.522.007.571

56

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah) 25. PENGUNGKAPAN LAPORAN LABA RUGI JHT & NON JHT - AUDIT PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 31 DESEMBER 2003 (LANJUTAN) URAIAN BEBAN INVESTASI Beban Pajak Atas Kegiatan Investasi Beban Pph Atas Bunga Doc Rupiah Beban Pph Budep Berjangka Rupiah Kantor Pusat Beban Pph Budep Berjangka Rupiah Kantor Cabang Beban Pph Budep Berjangka Non JHT Kacab Beban Pph Atas Pendapatan Bunga Obligasi Beban Pph Atas Bunga MTN Beban Pph Atas Bunga Jasa Giro Beban Pph Atas Pendapatan Dividen Saham Beban Pph Atas Pendapatan Div. Penyertaan Langsung Beban Pph Atas Sewa Bangunan Investasi Beban Pph Atas Transaksi Saham Beban Pph Atas Transaksi Obligasi Beban Pph Atas Pendapatan Lain Investasi MTN Beban Pph Atas Pendapatan Lain Investasi Properti Beban Pbb Tanah Dan Bangunan Beban Administrasi Atas Kegiatan Investasi Beban Balik Nama Dan Registrasi Saham Beban Balik Nama Dan Registrasi Obligasi Beban Penitipan Sertifikat Deposito Beban Penitipan Saham Beban Penitipan Obligasi Beban Penitipan MTN Beban Bank Investasi Beban Denda Penalti Beban Investasi Properti Beban Pemasaran Bangunan Investasi Beban Pengelolaan Bangunan Investasi Beban Pengelolaan Lain Beban Penyusutan Bangunan Investasi Beban Pemeliharaan Tanah Beban Penyusutan Aktiva Property Beban Asuransi Investasi Beban Asuransi Bangunan Investasi Beban Manager dan Konsultan Investasi Beban Pengelolaan Inv. Melalui Fm -Saham Beban Pengelolaan Inv. Melalui Fm -Obligasi Beban Pengelolaan Inv. KPAI Beban Investasi Lainnya Beban Penyelesaian Hukum MTN Beban Investasi Lainnya BEBAN INVESTASI ( II ) PENDAPATAN INVESTASI NETTO (I) - (II) TOTAL PENDAPATAN USAHA BIAYA USAHA Pendapatan Lain-lain Beban Lain-lain LABA USAHA KOTOR BAGIAN PESERTA ATAS HASIL INVES JHT PAJAK PENGHASILAN BADAN Pendapatan (Beban) Pajak Tangguhan LABA STLH BAG PESERTA ATAS HASIL INV 2.518.451.716.328 (2.518.451.716.328) 2.355.793.194.792 (2.335.047.029.716) (20.746.165.078) (0) 0,00 3.706.391.450 535.235.395.550 (159.161.533.280) (33.759.484.111) 421.064.259.078 (35.575.916.989) (9.854.712.804) (2.852.775.602) (23.585.824) (31.182.572.871) (2) (287.227.848) (4.239.818.980) (602.617.882) (6) (377.275.366) (1.471.411.294) (6.097.181.298) (953.637) (2.461.000) (942.261.955) (5.049.903.575) (43.647.831) (57.953.300) (43.000.013.221) (899.604.160) (19.446.307.566) (21.762.379.503) (2.000.000) (889.721.992) (1.064.412.080) (1.064.412.080) (111.850.000) (51.375.000) (60.475.000) (298.982.137) (55.000.000) (243.982.137) (60.427.151.540) 2.854.646.504.951 2.854.646.504.951 (498.853.310.159) (61.366.128.366) (827.536.206) (50.528.805.750) (39.731.605.365) (661.354.411) (17.203.720.746) (2.594.920.742) (1.436.467.381) (5.892.379.620) (51.574.848) (10.451.420.883) (708.551) (32.417.072) (1.102.961.207) (303.679.904) (1.576.972.961) (50.000) (2.750.000) (322.000) (1.418.576.775) (125.586.781) (27.782.028) (1.905.377) (1.151.549.115) (7.480.000) (618.089.085) (472.327.210) (53.652.820) (8.524.500) (8.524.500) (533.725.000) (116.950.000) (16.775.000) (400.000.000) (640.810.427) (640.810.427) (43.643.187.368) 414.639.676.283 636.610.683.561 (91.962.757.399) 82.935.799.340 (13.598.449.032) 613.985.276.470 (96.942.045.355) (827.536.206) (50.528.805.750) (31.182.572.871) (4.049.955.337) (2.306.351) (2.573.534.503) (1.783.177.640) (4.203.218.837) (1.790.937.860) (4.348.458.226) (1.706.834.093) (2.423.472.545) (121.037.802) (97.113.786) (39.199.311.047) (1.387.008.380) (15.260.665.100) (186.616.800) (22.037.595.084) (65.629.615) (261.796.068) (94.550.090) (94.550.090) (10.156.117.477) (6.039.802.107) (4.116.315.370) (150.740.482.195) 3.330.733.480.765 3.558.789.047.262 (517.183.637.906) 10.316.365.059 (1.941.053.988) 3.049.980.720.427 (2.518.451.716.328) 3.706.391.450 535.235.395.550 (49.586.318.169) (3.514.130.013) (17.203.720.746) (2.618.506.566) (1.436.467.381) (5.892.379.620) (2) (338.802.696) (10.451.420.883) (708.551) (4.272.236.052) (1.705.579.089) (6) (377.275.366) (1.775.091.198) (7.674.154.259) (50.000) (3.703.637) (2.783.000) (2.360.838.730) (5.175.490.356) (43.647.831) (85.735.328) (1.905.377) (44.151.562.336) (907.084.160) (20.064.396.651) (22.234.706.713) (55.652.820) (889.721.992) (1.072.936.580) (1.072.936.580) (645.575.000) (168.325.000) (77.250.000) (400.000.000) (939.792.564) (55.000.000) (884.792.564) (104.070.338.908) 3.269.286.181.234 3.491.257.188.512 (590.816.067.558) 82.935.799.340 (13.598.449.032) 2.969.778.471.262 (2.335.047.029.716) (179.907.698.358) 421.064.259.078 JHT JHT 217.306.311.186 NON JHT NON JHT 217.306.311.186 TOTAL (Dalam Rp) TOTAL 217.306.311.186

(2.530.214.059) (391.714.765)

(4.049.955.337) (2.306.351) (43.320.444) (1.391.462.875) (4.203.218.837)

(1.471.415.294) (3.377.024.020)

(319.522.566) (971.434.206)

(762.856.185) (2.401.808.281) (121.037.802) (91.321.752) (38.076.847.248) (1.387.008.380) (14.655.020.351) (78.691.800) (21.692.830.649) (1.500.000) (261.796.068) (88.701.007) (88.701.007) -

(943.977.908) (21.664.264) (5.792.034) (1.122.463.799) (605.644.749) (107.925.000) (344.764.435) (64.129.615) (5.849.083) (5.849.083) -

(5.892.237.171) (5.467.504.810) (424.732.361) (83.010.726.435) 2.911.511.281.136 2.911.511.281.136 (393.059.564.808)

(4.263.880.306) (572.297.297) (3.691.583.009) (67.729.755.760) 419.222.199.629 647.277.766.126 (124.124.073.097) 10.316.365.059 (1.941.053.988) 531.529.004.100

57

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (lanjutan) Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Rupiah)

26. PENGUNGKAPAN PERUBAHAN KEWAJIBAN KEPADA PESERTA ENTITAS PENYELENGGARA JAMSOSTEK PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 (Dalam Rp) URAIAN Hutang Jaminan 2.734.924.546 Selisih Rekonsiliasi Iuran 6.421.227.721 Hutang Jaminan Hari Tua Jatuh Tempo Hutang Jaminan Diestimasi Hutang Jaminan Hari Tua Terinci Hutang Jaminan Hari Tua Dana Pengembangan Jaminan Hari Tua 642.653.432.359 Selisih Penilaian Efek (SPE) AFS - JHT 226.454.008.641 Cadangan Teknis 2.246.949.394.499 Jumlah Kewajiban Kepada Peserta 3.125.212.987.766

Saldo pada tanggal 31 Desember 2003 Penambahan/pembayaran selama Tahun 2004 : Pembayaran kepada peserta Penerimaan iuran yang sudah dapat diidentifikasi Penambahan (pengurangan) Dana Pengembangan JHT Penerimaan Iuran tahun berjalan Ditentukan untuk hutang JHT dari bagian peserta ats hasil Investasi JHT Koreksi Iuran/ Jaminan Tahun Berjalan Amalgamasi tahun berjalan Kenaikan/ (penurunan) Selisih Penilaian Efek (SPE) Koreksi (Mutasi) Hutang JHT Taspen (TKPMP) dan Premi JHT Koreksi/Mutasi Hutang JHT Jatuh tempo Periode Berjalan Koreksi/Mutasi Hutang Jaminan Diestimasi Periode Berjalan Penambahan cadangan teknis selama tahun berjalan Saldo Kewajiban Kpd Peserta Per 31 Desember 2004

8.375.353.951 (4.137.002.063)

(2.082.801.957.757)

4.022.715.480.524

1.948.288.876.718 (4.137.002.063) 105.588.850.151 105.588.850.151 42.895.739.548.218 4.327.015.263.067 (22.453.460.572.444) 385.625.301.382 385.625.301.382 85.853.789.764 282.172.053.835

42.895.739.548.218 4.327.015.263.067 (22.453.460.572.444)

85.853.789.764 282.172.053.835 712.718.677 430.943.327.457 11.110.278.497 2.284.225.658 282.172.053.835 712.718.677 22.772.346.070.848 4.022.715.480.524 748.242.282.510 612.079.310.023 2.677.892.721.956

712.718.677 430.943.327.457 31.129.555.142.528

58

LAMPIRAN 1.1/1

PT. JAMSOSTEK ( PERSERO ) PERBANDINGAN NERACA AUDIT - GABUNGAN PER 31 DESEMBER 2004 DAN 31 DESEMBER 2003 AKTIVA AKTIVA INVESTASI Bank Investasi Deposito On Call (DOC) Deposito Berjangka Intrumen Pasar Uang Lainnya Cad. Peny. Ins. Psr Uang Lainnya Saham Obligasi Cad. Peny. Obligasi Medium Term Note (MTN) Cad. Penyisihan MTN Reksa Dana Penyertaan Cad. Peny. Penyertaan Langsung Properti Akumulasi Penyusutan Properti TOTAL INVESTASI AKTIVA LANCAR Kas dan Setara Kas Deposit On Call (Doc) Non Investasi Piutang Iuran Akm. Penyisihan Piutang Iuran Pendapatan YMH Diterima Piutang Investasi Uang Muka Pajak Piutang Pegawai PSL Dibayar Dimuka Piutang Lain-Lain Uang Muka Pegawai Beban Usaha Yang Dibayar Dimuka Perlengkapan Dan Alat Tulis Kantor TOTAL AKTIVA LANCAR AKTIVA TETAP Tanah Bangunan Kendaraan Peralatan Kantor Peralatan Komputer Peralatan Lain Jumlah H. Perolehan Aktiva Tetap Akumulasi Penyusutan Aktiva Tetap Total Aktiva Tetap Aktiva Lain-Lain TOTAL AKTIVA 31 DES 2004 PT. JAMSOSTEK (Dalam Rp) 31 DES 2003 PT. JAMSOSTEK

4.499.835.967 29.750.694.506 14.308.023.135.110 21.600.000.000 (21.600.000.000) 3.158.217.536.302 14.091.909.201.687 (67.000.000.000) 126.050.000.000 (60.307.643.360) 278.824.947.967 46.352.509.214 (18.466.453.510) 663.602.923.018 (45.423.819.856) 32.516.032.867.046

1.337.073.319 71.909.657.996 13.997.525.236.856 24.700.218.996 (21.600.000.000) 2.062.727.990.000 8.653.553.764.626 556.050.000.000 (60.307.643.360) 131.604.991.065 47.471.526.033 (18.466.453.520) 646.120.506.514 (22.299.391.151) 26.070.327.477.374

53.699.864.672 15.000.000.000 89.253.848.564 (23.937.306.045) 391.312.260.887 4.955.194.363 773.856.390 99.375.087 22.313.206.209 2.484.355.478 7.201.235.221 2.073.601.028 565.229.491.854

35.419.823.646 110.478.050.762 (96.754.212.357) 318.648.676.761 69.144.925.200 1.421.964.936 32.167.616 57.491.188.000 18.119.222.147 1.919.154.295 8.924.498.596 525.044.641.601

55.043.317.154 94.153.824.375 75.071.636.666 21.649.803.810 80.037.112.751 33.651.274.310 359.606.969.066 (176.493.817.048) 183.113.152.018 117.202.602.939 33.381.578.113.857

35.562.252.212 77.404.959.064 62.501.001.490 18.684.117.187 87.702.015.167 28.283.701.892 310.138.047.012 (154.838.065.717) 155.299.981.295 134.423.555.838 26.885.095.656.107

LAMPIRAN 1.1/2

PT. JAMSOSTEK ( PERSERO ) PERBANDINGAN NERACA AUDIT - GABUNGAN PER 31 DESEMBER 2004 DAN 31 DESEMBER 2003 (Dalam Rp) KEWAJIBAN KEWAJIBAN KEPADA PESERTA Hutang Jaminan Hutang Jaminan Diestimasi Selisih Rekonsiliasi Iuran Hutang Jht Jatuh Tempo Hutang Jaminan Hari Tua Terinci Hutang Jaminan Hari Tua Dana Pengembangan Dana Jht Selisih Penilaian Efek Cadangan Teknis Total Kewajiban Kepada Peserta Kewajiban Lancar Hutang Pajak Beban Yang Masih Harus Dibayar Kewajiban Lain YMH Dibayar Pendapatan Diterima Dimuka Hutang Investasi Kewajiban Lancar Lainnya Total Kewajiban Lancar Kewajiban Lainnya Total Kewajiban Hak Minoritas Ekuitas Modal Disetor Cadangan Umum Cadangan Tujuan Selisih Penilaian Efek Non Jht Laba Tahun Lalu Laba Tahun Berjalan TOTAL EKUITAS TOTAL KEWAJIBAN DAN EKUITAS 170.731.664.925 83.629.888.258 2.619.241.471 9.953.638.595 968.859.998 12.203.255.209 280.106.548.456 20.190.912.866 31.429.852.603.850 3.537.488.808 87.457.542.824 2.195.073.525 3.336.399.769 9.043.606.913 105.769.293.839 10.969.567.861 25.583.295.068.556 31 DES 2004 PT. JAMSOSTEK 31 DES 2003 PT. JAMSOSTEK

11.110.278.497 712.718.677 2.284.225.658 282.172.053.835 22.772.346.070.848 4.022.715.480.524 748.242.282.510 612.079.310.023 2.677.892.721.956 31.129.555.142.528

2.734.924.546 6.421.227.720 22.341.343.219.091 642.653.432.359 226.454.008.641 2.246.949.394.499 25.466.556.206.856

125.000.000.000 348.925.697.575 185.102.054.225 871.633.499.130 421.064.259.077 1.951.725.510.007 33.381.578.113.857

125.000.000.000 261.830.965.763 165.593.054.225 214.141.172.015 535.235.395.549 1.301.800.587.552 26.885.095.656.107

LAMPIRAN 1.2/1

PT. JAMSOSTEK LAPORAN LABA RUGI PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 (Dalam Rp) URAIAN PENDAPATAN IURAN Pendapatan Iuran Jkk Pendapatan Iuran Jkm Pendapatan Iuran Jpk Pendapatan Iuran Jasa Kontruksi Pendapatan Iuran Sektor Informal Total Pendapatan Iuran Total Pendapatan Operasional Beban Jaminan Beban Jaminan Kecelakaan Kerja Beban Jaminan Kematian Beban Jaminan Pelayanan Kesehatan Beban Jaminan Jasa Konstruksi Beban Jaminan Sektor Informal Total Beban Jaminan Beban Cadangan Teknis Beban Cadangan Teknis Jkk Beban Cadangan Teknis Jkm Beban Cadangan Teknis Jpk Beban Cadangan Teknis Jasa Konstruksi Beban Cadangan Katastrofa Total Beban Cadangan Teknis Pendapatan Bersih Iuran Pendapatan Investasi Realized Pendapatan Bunga Pendapatan Dividen Investasi Pendapatan Sewa Investasi Laba Pelepasan Investasi Rugi Pelepasan Investasi Pendapatan Investasi Lainnya Unrealized Keuntungan Atas Kenaikan Investasi Kerugian Atas Penurunan Nilai Investasi Total Penghasilan Investasi Beban Investasi Beban Pajak Atas Kegiatan Investasi Beban Administrasi Atas Kegiatan Investasi Beban Investasi Properti Beban Asuransi Investasi Beban Manager dan Konsultan Investasi Beban Investasi Lainnya Total Beban Investasi Pendapatan Bersih Investasi Total Pendapatan Usaha 31 DES 2004 PT. JAMSOSTEK 525.184.979.778 234.861.783.922 393.200.640.232 47.302.112.394 47.995.059 1.200.597.511.385 1.200.597.511.385 31 DES 2003 PT. JAMSOSTEK 476.386.135.991 208.696.633.297 365.628.493.918 43.441.906.607 1.094.153.169.813 1.094.153.169.813

(193.365.275.647) (70.276.100.000) (273.561.860.434) (10.443.940.572) (36.000.000) (547.683.176.653)

(186.847.529.035) (65.768.250.000) (227.287.184.028) (8.454.818.763) (488.357.781.826)

(265.162.720.146) (124.872.199.039) (2.757.214.607) (36.185.190.462) (1.966.003.200) (430.943.327.454) 221.971.007.278

(233.618.761.360) (104.926.655.481) (4.047.930.380) (33.318.331.799) (1.828.142.470) (377.739.821.490) 228.055.566.497

2.705.097.347.209 97.448.243.203 38.138.983.418 502.778.019.545 (29.641.051.991) 15.444.247.550 230.990.311.424 (186.899.580.216) 3.373.356.520.142

3.004.761.252.404 54.486.320.995 26.023.045.760 410.793.071.997 (51.925.775.844) 35.435.765.690 61.517.260.969 (59.616.979.009) 3.481.473.962.962

(49.586.318.169) (7.674.154.259) (44.151.562.336) (1.072.936.580) (645.575.000) (939.792.564) (104.070.338.908) 3.269.286.181.234 3.491.257.188.512

(95.151.107.497) (4.348.458.225) (40.924.619.292) (94.550.090) (10.221.747.091) (150.740.482.195) 3.330.733.480.767 3.558.789.047.264

LAMPIRAN 1.2/2

PT. JAMSOSTEK LAPORAN LABA RUGI PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 (Dalam Rp) URAIAN 31 DES 2004 PT. JAMSOSTEK 31 DES 2003 PT. JAMSOSTEK

Beban Usaha Beban Manajemen Beban Operasional Beban Personil Beban Administrasi Dan Umum Beban Penyusutan Dan Amortisasi Beban Penyisihan Piutang Iuran Total Beban Usaha Pendapatan Lain-Lain Beban Lain-Lain Pendapatan Bersih Lain Lain Laba Kotor Sebelum Bagian Peserta Bagian Peserta Atas Hasil Inves Jht Laba Sebelum Pajak Taksiran Pajak Penghasilan Badan Pendapatan (Beban) Pajak Tangguhan Laba Bersih Setelah Pajak

(11.514.285.669) (80.252.337.587) (321.784.346.543) (116.523.795.710) (36.803.996.035) (23.937.306.014) (590.816.067.558) 82.935.799.340 (13.598.449.032) 69.337.350.308 2.969.778.471.262 (2.335.047.029.716) 634.731.441.546 (179.907.698.358) (33.759.484.111) 421.064.259.077

(9.437.380.714) (54.076.106.541) (284.626.523.461) (105.568.966.212) (36.647.285.406) (26.827.375.572) (517.183.637.906) 10.316.365.058 (1.941.053.987) 8.375.311.071 3.049.980.720.429 (2.518.451.716.329) 531.529.004.100 3.706.391.450 535.235.395.550

LAMPIRAN 2.1/1

PT. BIJAK NERACA PER 31 DESEMBER 2004 DAN 31 DESEMBER 2003 AKTIVA AKTIVA INVESTASI Deposito Berjangka Obligasi TOTAL INVESTASI AKTIVA LANCAR Kas dan Setara Kas Piutang Usaha Penyisihan Piutang Usaha Pendapatan YMH Diterima Uang Muka Pajak Beban Usaha Yang Dibayar Dimuka TOTAL AKTIVA LANCAR AKTIVA TETAP Tanah Bangunan Kendaraan Peralatan Kantor Peralatan Komputer Peralatan Lain Jumlah H. Perolehan Aktiva Tetap Akumulasi Penyusutan Aktiva Tetap Total Aktiva Tetap Aktiva Lain-Lain TOTAL AKTIVA Kewajiban Lancar Hutang Usaha Hutang Pajak Beban Yang Masih Harus Dibayar Kewajiban Lancar Lainnya Total Kewajiban Lancar Total Kewajiban Ekuitas Modal Disetor Cadangan Umum Cadangan Tujuan Selisih Penilaian Efek Non Jht Laba Tahun Lalu Laba Tahun Berjalan TOTAL EKUITAS TOTAL KEWAJIBAN DAN EKUITAS 21.449.636.950 18.377.700 25.608.000 21.493.622.650 21.493.622.650 5.000.000.000 7.343.717.811 7.375.735.226 145.020.072 19.864.473.109 41.358.095.759 15.147.895.060 825.302.375 10.779.600 39.337.500 16.023.314.535 16.023.314.536 5.000.000.000 6.933.717.811 6.615.735.226 2.434.260.732 20.983.713.769 37.007.028.303 31 DES 2004 (Dalam Rp) 31 DES 2003

28.718.440.000 5.375.000.000 34.093.440.000

28.206.017.000 28.206.017.000

290.294.057 6.079.770.551 (5.416.275.000) 37.004.540 701.463.565 320.552.855 2.012.810.568

1.177.700.197 6.462.297.950 (5.208.610.250) 60.912.406 442.715.367 148.183.892 3.083.199.562

991.795.000 1.510.823.563 574.772.000 633.974.121 109.316.762 30.747.720 3.851.429.166 (1.072.343.029) 2.779.086.137 2.472.759.055 41.358.095.760

991.795.000 1.510.823.563 548.872.000 656.280.846 195.714.185 32.385.050 3.935.870.644 (1.073.912.270) 2.861.958.374 2.855.853.367 37.007.028.303

LAMPIRAN 2.2/1

PT. BIJAK LAPORAN LABA RUGI PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 (Dalam Rp) URAIAN 31 DES 2004 PT. BIJAK 6.279.555.874 6.279.555.874 31 DES 2003 PT. BIJAK 13.923.083.724 13.923.083.724

Pendapatan Operasional Pt. Bijak Total Pendapatan Operasional Pendapatan Investasi Pendapatan Bunga Total Penghasilan Investasi Beban Investasi Beban Pajak Atas Kegiatan Investasi Total Beban Investasi Pendapatan Bersih Investasi Total Pendapatan Usaha Beban Usaha Beban Manajemen Beban Operasional Beban Personil Beban Administrasi Dan Umum Beban Penyusutan Dan Amortisasi Beban Penyisihan Piutang Iuran Total Beban Usaha Pendapatan Lain-Lain Beban Lain-Lain Pendapatan Bersih Lain Lain Laba Kotor Sebelum Bagian Peserta Bagian Peserta Atas Hasil Inves Jht Laba Sebelum Pajak Taksiran Pajak Penghasilan Badan Pendapatan (Beban) Pajak Tangguhan Laba Bersih Setelah Pajak

-

1.838.488.479 1.838.488.479

6.279.555.874

(4.436.855) (4.436.855) 1.834.051.624 15.757.135.348

(710.410.490) (5.044.400.058) (1.206.125.870) (714.266.254) (336.478.487) (8.011.681.159) 2.127.082.466 (241.784.434) 1.885.298.032 153.172.747 153.172.747 (8.152.675)

(519.169.788) (11.445.316.350) (1.068.791.958) (251.025.971) (339.580.793) (1.293.350.550) (14.917.235.410) 3.304.932.537 (1.014.121.331) 2.290.811.206 3.130.711.144 3.130.711.144 (1.097.402.900) 400.952.488 2.434.260.732

145.020.072

LAMPIRAN 3.1/1

PT. JAMSOSTEK (PERSERO) REKAPITULASI DEPOSITO BERJANGKA PER 31 DESEMBER 2004 NO NAMA BANK JHT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 KANTOR PUSAT MANDIRI EKS BEII MANDIRI EKS BDN MANDIRI EKS BBD MANDIRI EKS BAPINDO BNI BRI BTN BPD ACEH BPD BENGKULU BPD BALI BPD DKI BPD JABAR BPD JATIM BPD JATENG BPD JAMBI BPD KALSEL BPD KALTENG BPD KALBAR BPD LAMPUNG BPD MALUKU BPD RIAU BPD SULSEL BPD SULTENG BPD SULTRA BPD SULUT BPD SUMBAR BPD SUMSEL BPD SUMUT BANK AGRO BANK ARTHA GRAHA BANK BUKOPIN BANK BUMI PUTERA BANK BII BANK BTPN BANK CIC BANK DANPAC BANK DAGANG BALI BANK DANAMON BANK EXECUTIFE BANK FINCONESIA BANK GLOBAL BANK KESEJAHTERAAN BANK HIMPUNAN SAUDARA BANK MUAMALAT BANK MEGA BANK NIAGA BANK NISP BANK PERSYARIKATAN BANK SYARIAH MEGA INDONESIA BANK UIB BANK PERMATA ( EKS UNIVERSAL) BANK VICTORIA BANK YUDHA BAKTI PASAR MODAL TOTAL DEPOSITO KANTOR PUSAT TOTAL DEPOSITO KANWIL DEPOSITO ANAK PERUSAHAAN TOTAL DEPOSITO KONSOLIDASI REKAPITULASI NILAI NOMINAL DEPOSITO NON JHT TOTAL PER BANK 165.600.000.000 13.300.000.000 60.500.000.000 9.800.000.000 55.500.000.000 71.100.000.000 375.800.000.000 448.350.741.000 28.718.440.000 852.869.181.000,00 1.533.393.219.552 743.150.000.000 999.307.500.000 701.930.633.084 623.000.000.000 1.012.200.000.000 829.720.158.000 30.000.000.000 20.000.000.000 50.600.000.000 36.400.000.000 1.484.310.528.890 83.000.000.000 65.000.000.000 9.000.000.000 22.500.000.000 2.000.000.000 5.000.000.000 33.500.000.000 14.000.000.000 3.000.000.000 7.000.000.000 5.000.000.000 2.000.000.000 46.800.000.000 6.000.000.000 66.700.000.000 156.950.000.000 172.750.000.000 430.550.000.000 1.272.031.354.585 193.820.000.000 196.000.000.000 34.700.000.000 214.200.000.000 85.600.000.000 20.900.000.000 314.600.000.000 5.000.000.000 33.600.000.000 295.502.000.000 16.700.000.000 33.300.000.000 97.200.000.000 137.500.000.000 612.400.000.000 51.600.000.000 11.500.000.000 18.600.000.000 19.100.000.000 486.400.000.000 64.800.000.000 63.577.000.000 386.280.000.000 13.859.672.394.110 448.350.741.000 28.718.440.000 14.336.741.575.110,00

1.533.393.219.552 743.150.000.000 999.307.500.000 701.930.633.084 623.000.000.000 1.012.200.000.000 829.720.158.000 30.000.000.000 20.000.000.000 50.600.000.000 36.400.000.000 1.318.710.528.890 83.000.000.000 65.000.000.000 9.000.000.000 22.500.000.000 2.000.000.000 5.000.000.000 33.500.000.000 14.000.000.000 3.000.000.000 7.000.000.000 5.000.000.000 2.000.000.000 46.800.000.000 6.000.000.000 66.700.000.000 156.950.000.000 172.750.000.000 417.250.000.000 1.211.531.354.585 193.820.000.000 196.000.000.000 34.700.000.000 214.200.000.000 85.600.000.000 20.900.000.000 304.800.000.000 5.000.000.000 33.600.000.000 295.502.000.000 16.700.000.000 33.300.000.000 97.200.000.000 137.500.000.000 612.400.000.000 51.600.000.000 11.500.000.000 18.600.000.000 19.100.000.000 430.900.000.000 64.800.000.000 63.577.000.000 315.180.000.000 13.483.872.394.110 13.483.872.394.110,00

LAMPIRAN 3.2/1

PT. JAMSOSTEK (PERSERO) REKAPITULASI DEPOSITO BERJANGKA PER 31 DESEMBER 2004 NO. 1 2 3 4 5 6 7 KANWIL I BPD BRI BTN BTPN BUKOPIN MANDIRI MUAMALAT JUMLAH 1 2 3 4 5 6 7 8 KANWIL II AGRO BNI BPD BTPN BUKOPIN MANDIRI MEGA PASAR JUMLAH 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 KANWIL III AGRO BII BNI 46 BPD BTPN BUKOPIN DKI MANDIRI MEGA MUAMALAT NISP PERMATA VICTORIA YUDHA BHAKTI JUMLAH 1 2 3 4 5 6 7 KANWIL IV AGRO BPD BRI BTN BTPN BUKOPIN MANDIRI JUMLAH NAMA BANK NILAI NOMINAL 56.473.200.000,00 2.976.400.000,00 519.000.000,00 19.012.100.000,00 7.390.250.000,00 26.840.391.000,00 630.000.000,00 113.841.341.000,00 2.470.000.000,00 150.000.000,00 21.812.800.000,00 2.380.000.000,00 1.999.000.000,00 25.269.000.000,00 300.000.000,00 100.000.000,00 54.480.800.000,00 7.085.000.000,00 1.125.000.000,00 7.306.100.000,00 32.202.000.000,00 15.870.000.000,00 940.000.000,00 3.110.000.000,00 12.400.000.000,00 3.915.000.000,00 1.675.000.000,00 300.000.000,00 960.000.000,00 1.450.000.000,00 900.000.000,00 89.238.100.000 1.164.000.000,00 24.632.500.000,00 355.500.000,00 1.335.000.000,00 375.000.000,00 2.197.000.000,00 5.658.500.000,00 35.717.500.000,00

LAMPIRAN 3.2/2

PT. JAMSOSTEK (PERSERO) REKAPITULASI DEPOSITO BERJANGKA PER 31 DESEMBER 2004 NO. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KANWIL V LIPPO PASAR BPD BTN BTPN BUKOPIN MANDIRI MEGA MUAMALAT JUMLAH 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KANWIL VI AGRO BNI BPD BTPN BUKOPIN BUMI PUTRA CIC MANDIRI MEGA JUMLAH 1 2 3 4 5 6 7 KANWIL VII BII BPD BRI BTN BUKOPIN MANDIRI MEGA JUMLAH 1 2 3 4 5 6 7 KANWIL VIII BII BNI BPD BRI BTN BTPN MANDIRI JUMLAH TOTAL NAMA BANK NILAI NOMINAL 125.000.000 100.000.000 26.198.500.000 250.000.000 683.500.000 1.140.000.000 14.236.500.000 580.000.000 908.000.000 44.221.500.000 850.000.000,00 673.000.000,00 37.184.000.000,00 1.655.000.000,00 299.000.000,00 200.000.000,00 150.000.000,00 6.659.000.000,00 290.000.000,00 47.960.000.000,00 75.000.000,00 5.928.000.000,00 105.000.000,00 936.000.000 3.161.000.000 13.995.000.000,00 553.000.000,00 24.753.000.000,00 300.000.000,00 700.000.000,00 26.227.500.000,00 45.000.000,00 2.200.000.000,00 255.000.000,00 8.411.000.000,00 38.138.500.000,00 448.350.741.000,00 -

LAMPIRAN 4

PT. JAMSOSTEK (PERSERO) PORTOFOLIO COMMERCIAL PAPER PER 31 DESEMBER 2004 NAMA BANK PT Indopac Perdana PT Indopac Perdana PT Indopac Perdana PT Indopac Perdana NO BILYET 121 124 127 137 JANGKA WAKTU HARI BUNGA 181 184 184 180 NOMINAL 5.000.000.000 2.500.000.000 2.500.000.000 3.000.000.000 13.000.000.000 181 181 180 3.500.000.000 100.000.000 3.600.000.000 5.000.000.000 5.000.000.000 21.600.000.000

24-Juli-95 21-Jan-96 18-Agust-95 19-Peb-96 15-Agust-95 15-Peb-96 27-Sept-95 25-Maret-96

Total CP PT Indopac Perdana Finanace PT Pacific Inti Fin PT Pacific Inti Fin PT Aditya Putra 14-677 14-677 13-Sept-95 12-Maret-96 13-Sept-95 12-Maret-96

Total CP PT Pacific Inti Finance C11 21-Sept-95 19-Maret-96 Total CP PT Aditya Putra Pratama TOTAL COMMERCIAL PAPER

LAMPIRAN 5/1

PT. JAMSOSTEK (PERSERO) PORTOFOLIO SAHAM PER 31 DESEMBER 2004 SALDO AKHIR PER 31 DESEMBER 2004 SAHAM @ RUPIAH HARGA PASAR RUPIAH

NO. A. TERSEDIA UNTUK DIJUAL A.1 JHT 1 2 3 4 5 6

NAMA SAHAM

KODE

@

POTENSIAL GAIN/LOSS

BANK RAKYAT INDONESIA UNILEVER ASTRA INTER. INDOSAT INTERNATIONAL NIKEL IND TELKOM JUMLAH SAHAM JHT UNTUK DIJUAL

BBRI UNVR ASII ISAT INCO TLKM

22.000.000 10.154.500 4.100.000 76.000.000 1.000.000 85.000.000 198.254.500

2.425,00 3.325,00 9.141,73 5.748,95 11.520,02 5.000,00

53.350.000.000 33.763.712.500 37.481.100.000 436.920.260.703 11.520.021.204 425.000.000.000 998.035.094.408

2.875,00 3.300,00 9.600,00 5.750,00 11.550,00 4.825,00

63.250.000.000 33.509.850.000 39.360.000.000 437.000.000.000 11.550.000.000 410.125.000.000 994.794.850.000

9.900.000.000 (253.862.500) 1.878.900.000 79.739.297 29.978.796 (14.875.000.000) (3.240.244.407)

A.2 NON JHT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 ASTRA ARGO LESTARI ASTRA INTER. BANK DANAMON BANK CENTRA ASIA BANK MANDIRI BANK INTERNATIONAL INDONESIA BANK RAKYAT INDONESIA CIPUTRA SURYA BANK NIAGA GUDANG GARAM H M SAMPOERNA INDOFOOD INDOSIAR INDOSAT INDOCEMENT Tbk KALBE FARMA KIMIA FARMA LAPINDO PACKAGING PERUSAHAAN GAS NEGARA SEMEN GRESIK SURYA CITRA MEDIA TAMBANG BATUBARA BUKIT ASAM TELKOM UNILEVER UNITED TRACTOR JUMLAH SAHAM NON JHT UNTUK DIJUAL JUMLAH SAHAM AFS JHT + NON JHT AALI ASII BDMN BBCA BMRI BNII BBRI CTRS BNGA GGRM HMSP INDF IDSR ISAT INTP KLBF KAEF LAPD PGAS SMGR SCMA PTBA TLKM UNVR UNTR 7.000.000 19.000.423 19.798.000 32.000.000 15.000.000 190.000.000 85.000.000 25.000.000 61.000.000 4.850.000 15.750.000 39.000.000 26.500.000 55.000.000 5.000.000 51.004.000 57.000.000 48.429.500 45.000.000 3.650.000 21.440.500 35.000.000 78.500.340 22.000.000 46.000.000 1.007.922.763 1.206.177.263 3.300,00 9.009,29 4.400,00 2.750,00 1.825,00 181,15 2.425,00 1.526,25 462,50 13.350,00 6.750,00 750,00 725,00 5.750,00 2.900,00 620,55 210,00 425,00 1.400,00 12.850,00 700,00 1.424,36 5.000,00 3.325,00 1.999,63 23.100.000.000 171.180.267.006 87.111.200.000 88.000.000.000 27.375.000.000 34.418.799.757 206.125.000.000 38.156.200.000 28.212.500.890 64.747.500.000 106.312.500.000 29.250.000.000 19.212.500.000 316.250.000.000 14.500.000.000 31.650.784.350 11.970.000.000 20.582.537.500 63.000.000.000 46.902.500.000 15.008.350.000 49.852.750.000 392.501.700.000 73.150.000.000 91.982.900.000 2.050.552.989.503 3.048.588.083.910 3.100,00 9.600,00 4.375,00 2.975,00 1.925,00 185,00 2.875,00 1.475,00 460,00 13.550,00 6.650,00 800,00 675,00 5.750,00 3.075,00 550,00 205,00 455,00 1.900,00 18.500,00 725,00 1.525,00 4.825,00 3.300,00 2.275,00 21.700.000.000 182.404.060.800 86.616.250.000 95.200.000.000 28.875.000.000 35.150.000.000 244.375.000.000 36.875.000.000 28.060.000.000 65.717.500.000 104.737.500.000 31.200.000.000 17.887.500.000 316.250.000.000 15.375.000.000 28.052.200.000 11.685.000.000 22.035.422.500 85.500.000.000 67.525.000.000 15.544.362.500 53.375.000.000 378.764.140.500 72.600.000.000 104.650.000.000 2.150.153.936.300 3.144.948.786.300 (1.400.000.000) 11.223.793.794 (494.950.000) 7.200.000.000 1.500.000.000 731.200.243 38.250.000.000 (1.281.200.000) (152.500.890) 970.000.000 (1.575.000.000) 1.950.000.000 (1.325.000.000) 0 875.000.000 (3.598.584.350) (285.000.000) 1.452.885.000 22.500.000.000 20.622.500.000 536.012.500 3.522.250.000 (13.737.559.500) (550.000.000) 12.667.100.000 99.600.946.797 96.360.702.391

LAMPIRAN 5/2

PT. JAMSOSTEK (PERSERO) PORTOFOLIO SAHAM PER 31 DESEMBER 2004 SALDO AKHIR PER 31 DESEMBER 2004 SAHAM @ RUPIAH HARGA PASAR RUPIAH

NO. B. DIPERDAGANGKAN B.1 NON JHT 1 2 3 4 ASTRA INTERNATIONAL BANK RAKYAT INDONESIA INDOSAT TELKOM

NAMA SAHAM

KODE

@

POTENSIAL GAIN/LOSS

ASII BBRI ISAT TLKM

0 0 0 2.750.000 2.750.000 2.750.000 1.208.927.263

0,00 0,00 0,00 4.985,32

0 0 0 13.709.620.007 13.709.620.007 13.709.620.007 3.062.297.703.917

0,00 0,00 0,00 4.825,00

0 0 0 13.268.750.000 13.268.750.000 13.268.750.000 3.158.217.536.302

0 0 0 (440.870.007) (440.870.007) (440.870.007) 95.919.832.384

JUMLAH SAHAM NON JHT DIPERDAGANGKAN JUMLAH SAHAM JHT + NON JHT DIPERDAGANGKAN JUMLAH UNTUK DIJUAL + DIPERDAGANGKAN

LAMPIRAN 6/1

PT JAMSOSTEK (PERSERO) PORTOFOLIO OBLIGASI PER 31 DESEMBER 2004 NO OBLIGASI

PERINGKAT

SALDO AKHIR At Par

%

At Cost

NILAI PASAR 31-Des-04 %
104,00% 102,08% 100,25% 100,25% 106,93% 103,25% 102,00% 101,38% 116,00% 100,34% 104,40% 102,00% 103,75% 113,00% 114,15% 106,17% 102,59% 116,00% 113,50% 104,72% 105,51% 118,00% 105,50% 100,00% 90,15% 118,50% 112,00% 60,13% 102,20% 104,25% 107,50% 111,80% 110,10% 122,17% 114,77% 112,75% 120,05% 121,37% 118,25% 107,77% 103,11% 98,50% 114,50% 0,00% 104,40% 115,00%

Nilai
3.120.000.000 8.166.400.000 9.022.500.000 4.010.000.000 82.332.250.000 8.260.000.000 5.100.000.000 12.165.600.000 11.600.000.000 25.084.000.000 11.484.000.000 18.360.000.000 22.825.000.000 29.380.000.000 63.353.250.000 5.308.300.000 24.612.428.843 23.200.000.000 13.620.000.000 10.471.700.000 27.140.000.000 30.595.000.000 12.000.000.000 14.424.000.000 40.290.000.000 7.840.000.000 7.215.000.000 25.550.000.000 104.250.000.000 116.100.000.000 89.441.600.000 33.030.000.000 91.628.250.000 298.399.400.000 188.292.500.000 270.112.500.000 182.058.000.000 5.912.550.000 16.166.100.000 64.961.190.000 172.374.998.002 11.450.000.000 33.500.000.000 17.748.000.000 1.150.000.000 2.253.104.516.845 (33.500.000.000) 2.219.604.516.845

POTENSIAL GAIN/LOSS

A. TRADING JHT
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Alfa Retailindo I/03 Astra Agro Lestari I/2000 Astra Sedaya Finance V D2 Astra Sedaya Finance V E2 Bank BNI I/2003 Federal International Finance III C PT Federal International Finance IV C H.M Sampoerna I / 2000 H.M Sampoerna II / 2000 H.M Sampoerna III / 2000 Indofood I /2000 Indofood II/2003 Indofood III/2004 Indosat I / 2001 Seri-A Indosat II A / 2002 Idosat III - A/03 Indosiar I/2003 Jasa Marga IX N1 Jasa Marga X Seri O/2002 Jasa Marga XI P/03 PLN VII / 2004 Pegadaian IX/2002 Perum Pegadaian X-A/03 PT. Perkebunan Negara III/2004 PLN VIB Pupuk Kaltim I A1/2002 Pupuk Kaltim I A2/2002 Putra Sumber Utama Timber I-A/03 RCTI / 03 Recap Bonds FR 0004 Recap Bonds FR 0005 Recap Bonds FR 0010 Recap Bonds FR 0012 Recap Bonds FR 0013 Recap Bonds FR 0016 Recap Bonds FR 0017 Recap Bonds FR 0019 Recap Bonds FR 0020 Recap Bonds FR 0021 Recap Bonds FR 0022 Recap Bonds FR 0023 Obligasi Pemerintah FR 0025 Semen Gresik I / 2001 Seri B Subordinasi Bank Global I/03 Surya Citra Televisi I/2003 Telkom Indonesia Cad.penyisihan Obl. Sub Bank Global Total Trading JHT AA+ AAAAAA+ A+ AA+ AA+ AA+ AA AA AA AA+ AA+ AA+ AA+ A+ A+ AAA AA A AA+ A+ BB+ A3.000.000.000 8.000.000.000 9.000.000.000 4.000.000.000 77.000.000.000 8.000.000.000 5.000.000.000 12.000.000.000 10.000.000.000 25.000.000.000 11.000.000.000 18.000.000.000 22.000.000.000 26.000.000.000 55.500.000.000 5.000.000.000 23.990.125.000 20.000.000.000 12.000.000.000 10.000.000.000 23.000.000.000 29.000.000.000 12.000.000.000 16.000.000.000 34.000.000.000 7.000.000.000 12.000.000.000 25.000.000.000 100.000.000.000 108.000.000.000 80.000.000.000 30.000.000.000 75.000.000.000 260.000.000.000 167.000.000.000 225.000.000.000 150.000.000.000 5.000.000.000 15.000.000.000 63.000.000.000 175.000.000.000 10.000.000.000 50.000.000.000 17.000.000.000 1.000.000.000 2.053.490.125.000 (50.000.000.000) 2.003.490.125.000

A AAAA

103,15% 105,10% 100,10% 100,00% 107,10% 104,03% 102,20% 102,48% 115,83% 100,28% 105,50% 105,85% 103,85% 112,90% 113,13% 105,58% 100,64% 114,37% 117,00% 103,50% 0,00% 124,72% 106,20% 100,20% 91,60% 118,13% 117,00% 60,13% 101,82% 104,75% 107,50% 113,00% 110,89% 123,84% 115,16% 114,09% 121,50% 122,34% 119,42% 108,12% 103,40% 98,44% 114,50% 67,00% 104,95% 115,50%

3.094.500.000 8.408.000.000 9.009.000.000 4.000.000.000 82.467.000.000 8.322.400.000 5.110.000.000 12.297.960.000 11.583.100.000 25.068.750.000 11.605.000.000 19.053.000.000 22.847.000.000 29.354.000.000 62.784.500.000 5.278.750.000 24.143.181.998 22.874.600.000 14.040.000.000 10.350.000.000 28.684.450.000 30.798.000.000 12.024.000.000 14.655.200.000 40.162.500.000 8.190.000.000 7.215.000.000 25.455.250.000 104.750.000.000 116.100.000.000 90.400.000.000 33.266.100.000 92.879.250.000 299.412.500.000 190.521.950.000 273.368.250.000 183.511.500.000 5.970.900.000 16.217.850.000 65.138.850.000 172.264.471.208 11.450.000.000 33.500.000.000 17.841.500.000 1.155.000.000 2.266.623.263.206 (33.500.000.000) 2.233.123.263.206

25.500.000 (241.600.000) 13.500.000 10.000.000 (134.750.000) (62.400.000) (10.000.000) (132.360.000) 16.900.000 15.250.000 (121.000.000) (693.000.000) (22.000.000) 26.000.000 568.750.000 29.550.000 469.246.845 325.400.000 (420.000.000) 121.700.000 0 (1.544.450.000) (203.000.000) (24.000.000) (231.200.000) 127.500.000 (350.000.000) 0 94.750.000 (500.000.000) 0 (958.400.000) (236.100.000) (1.251.000.000) (1.013.100.000) (2.229.450.000) (3.255.750.000) (1.453.500.000) (58.350.000) (51.750.000) (177.660.000) 110.526.794 0 0 (93.500.000) (5.000.000) (12.986.636.361) 0 (12.986.636.361)

LAMPIRAN 6/2

PT JAMSOSTEK (PERSERO) PORTOFOLIO OBLIGASI PER 31 DESEMBER 2004 NO OBLIGASI

PERINGKAT

SALDO AKHIR At Par

%

At Cost

NILAI PASAR 31-Des-04 %
112,75% 120,05% 121,37% 102,00% 100,34% 100,25% 100,25% 103,25% 103,75% 105,51% 114,77% 103,11% 98,50% 102,53% 106,93% 106,17% 105,50% 102,20%

Nilai
45.100.000.000 36.015.000.000 36.411.600.000 7.140.000.000 10.033.600.000 3.007.500.000 3.007.500.000 5.162.500.000 24.900.000.000 39.039.070.000 97.553.650.000 41.245.200.000 64.025.000.000 5.126.250.000 22.454.250.000 13.801.580.000 10.550.000.000 13.286.000.000 477.858.700.000 2.697.463.216.845

POTENSIAL GAIN/LOSS

B. TRADING NON JHT 1 Recap Bonds FR 0017 2 Recap Bonds FR 0019 3 Recap Bonds FR 0020 4 Indofood II/2003 5 H.M Sampoerna III / 2000 6 Astra Sedaya Finance V F1 7 Astra Sedaya Finance V F2 8 Federal International Finance III C 9 Indofood III/2004 10 PLN VII / 2004 11 Recap Bonds FR 0016 12 Recap Bonds FR 0023 13 Obligasi Pemerintah FR 0025 14 Recap Bonds FR 0026 15 Bank BNI I/2003 16 Indosat III - A/03 17 Perum Pegadaian X-A/03 18 RCTI / 03 Total Trading NON JHT Total Trading JHT + NON JHT

AA AA+ AAAAA+ AA A-

AAA+ AA A-

40.000.000.000 30.000.000.000 30.000.000.000 7.000.000.000 10.000.000.000 3.000.000.000 3.000.000.000 5.000.000.000 24.000.000.000 37.000.000.000 85.000.000.000 40.000.000.000 65.000.000.000 5.000.000.000 21.000.000.000 13.000.000.000 10.000.000.000 13.000.000.000 441.000.000.000 2.444.490.125.000

113,89% 121,71% 119,93% 105,85% 100,28% 100,00% 100,00% 104,03% 103,85% 103,50% 115,09% 103,45% 98,55% 103,50% 107,10% 105,58% 106,20% 101,82%

45.555.500.000 36.513.105.882 35.979.100.000 7.409.500.000 10.027.500.000 3.000.000.000 3.000.000.000 5.201.500.000 24.924.000.000 38.294.740.000 97.824.375.000 41.378.500.000 64.055.833.333 5.175.000.000 22.491.000.000 13.724.750.000 10.620.000.000 13.236.730.000 478.411.134.216 2.711.534.397.421

(455.500.000) (498.105.882) 432.500.000 (269.500.000) 6.100.000 7.500.000 7.500.000 (39.000.000) (24.000.000) 744.330.000 (270.725.000) (133.300.000) (30.833.333) (48.750.000) (36.750.000) 76.830.000 (70.000.000) 49.270.000 (552.434.216) (13.539.070.577)

LAMPIRAN 6/3

PT JAMSOSTEK (PERSERO) PORTOFOLIO OBLIGASI PER 31 DESEMBER 2004 NO OBLIGASI

PERINGKAT

SALDO AKHIR At Par
2.131.990.125.000 312.500.000.000

%

At Cost
2.311.080.247.149 400.454.150.272

NILAI PASAR 31-Des-04 %

Nilai
2.342.836.141.998 354.627.074.847

POTENSIAL GAIN/LOSS
31.755.894.848 (45.294.965.425) (26.250.000) 13.500.000 2.000.000 55.770.000 21.350.000 (192.500.000) 0 (945.000.000) 149.420.000 (98.720.000) (1.544.450.000) (317.900.000) 0 0 113.700.000 (1.645.000.000) (1.375.000.000) 0 (3.534.100.000) (432.850.000) (2.018.280.000) 42.250.000 (2.647.800.000) (6.632.650.000) (1.645.250.000) (758.550.000) (1.076.400.000) (488.311.200) 0 (10.000.000) 158.670.000 576.500.000 (671.943.940) 89.440.000 (4.676.250.000) 1.000.000.000 (28.514.605.140) 0 (28.514.605.140)

A. AVAILABLE FOR SALE (AFS ) JHT 1 Astra Graphia I / 03 2 Astra Sedaya Finance V D1 3 Astra Sedaya Finance V E1 4 H.M Sampoerna II / 2000 5 H.M Sampoerna III / 2000 6 Indofood II/2003 7 Indosat II A / 2002 8 Jasa Marga X Seri O/2002 9 PT. Medco Energi Internasional 10 Oto Multi Artha III 11 Pegadaian IX/2002 12 PLN VIB 13 Putra Sumber Utama Timber I-A/03 14 Putra Sumber Utama Timber I-B/03 15 RCTI / 03 16 Recap Bonds FR 0002 17 Recap Bonds FR 0004 18 Recap Bonds FR 0005 19 Recap Bonds FR 0010 20 Recap Bonds FR 0012 21 Recap Bonds FR 0013 22 Recap Bonds FR 0016 23 Recap Bonds FR 0017 24 Recap Bonds FR 0019 25 Recap Bonds FR 0020 26 Recap Bonds FR 0021 27 Recap Bonds FR 0022 28 Recap Bonds FR 0023 29 Subordinasi Bank Global I/03 30 Telkom Indonesia 31 Excelcom I-A/03 32 Indosat III - A/03 33 Recap Bonds FR 0024 34 Obligasi Pemerintah FR 0025 35 Recap Bonds FR 0026 36 PT. Perkebunan Negara V/1

AAAAAAA+ AA+ AA AA+ A+ AAAAA ABB+ BB+ A-

AAA A+ AA+

A

7.000.000.000 9.000.000.000 4.000.000.000 33.000.000.000 35.000.000.000 5.000.000.000 15.000.000.000 27.000.000.000 62.000.000.000 16.000.000.000 23.000.000.000 22.000.000.000 12.000.000.000 7.000.000.000 30.000.000.000 235.000.000.000 275.000.000.000 213.000.000.000 295.000.000.000 55.000.000.000 121.000.000.000 25.000.000.000 198.000.000.000 440.000.000.000 235.000.000.000 65.000.000.000 312.000.000.000 173.160.000.000 50.000.000.000 2.000.000.000 9.000.000.000 100.000.000.000 65.174.000.000 104.000.000.000 435.000.000.000 50.000.000.000 3.764.334.000.000

105,03% 100,10% 100,20% 115,83% 100,28% 105,85% 114,15% 117,00% 104,95% 105,05% 124,72% 91,60% 60,13% 60,13% 101,82% 115,20% 104,75% 107,50% 113,00% 110,89% 123,84% 114,60% 114,09% 121,56% 122,07% 119,42% 108,12% 103,40% 67,00% 115,50% 101,92% 105,59% 108,30% 98,41% 103,60% 100,00%

7.351.750.000 9.009.000.000 4.008.000.000 38.224.230.000 35.096.250.000 5.292.500.000 17.122.500.000 31.590.000.000 65.069.000.000 16.808.000.000 28.684.450.000 20.150.900.000 7.215.000.000 4.208.750.000 30.546.300.000 270.720.000.000 288.062.500.000 228.975.000.000 333.350.000.000 60.987.850.000 149.845.190.000 28.650.000.000 225.892.800.000 534.852.650.000 286.869.450.000 77.621.700.000 337.331.280.000 179.038.782.000 33.500.000.000 2.310.000.000 9.172.530.000 105.589.500.000 70.580.835.040 102.350.560.000 450.660.000.000 50.000.000.000 4.146.737.257.040 (33.500.000.000) 4.113.237.257.040

104,65% 100,25% 100,25% 116,00% 100,34% 102,00% 114,15% 113,50% 105,19% 104,43% 118,00% 90,15% 60,13% 60,13% 102,20% 114,50% 104,25% 107,50% 111,80% 110,10% 122,17% 114,77% 112,75% 120,05% 121,37% 118,25% 107,77% 103,11% 0,00% 115,00% 103,68% 106,17% 107,27% 98,50% 102,53% 102,00%

7.325.500.000 9.022.500.000 4.010.000.000 38.280.000.000 35.117.600.000 5.100.000.000 17.122.500.000 30.645.000.000 65.218.420.000 16.709.280.000 27.140.000.000 19.833.000.000 7.215.000.000 4.208.750.000 30.660.000.000 269.075.000.000 286.687.500.000 228.975.000.000 329.815.900.000 60.555.000.000 147.826.910.000 28.692.250.000 223.245.000.000 528.220.000.000 285.224.200.000 76.863.150.000 336.254.880.000 178.550.470.800 33.500.000.000 2.300.000.000 9.331.200.000 106.166.000.000 69.908.891.100 102.440.000.000 445.983.750.000 51.000.000.000 4.118.222.651.900 (33.500.000.000) 4.084.722.651.900

Cad.penyisihan Obl. Sub Bank Global Total AFS JHT

(50.000.000.000) 3.714.334.000.000

LAMPIRAN 6/4

PT JAMSOSTEK (PERSERO) PORTOFOLIO OBLIGASI PER 31 DESEMBER 2004 NO OBLIGASI

PERINGKAT

SALDO AKHIR At Par

%

At Cost

NILAI PASAR 31-Des-04 %
113,50% 105,51% 103,11% 98,50% 106,17% 116,00% 114,77% 112,75%

Nilai
20.430.000.000 21.102.200.000 20.622.600.000 49.250.000.000 4.246.640.000 5.800.000.000 34.430.700.000 33.825.000.000 189.707.140.000 4.274.429.791.900

POTENSIAL GAIN/LOSS

B. AVAILABLE FOR SALE (AFS ) NON JHT 1 Jasa Marga X Seri O/2002 2 PLN VII / 2004 3 Recap Bonds FR 0023 4 Obligasi Pemerintah FR 0025 5 Indosat III - A/03 6 Jasa Marga IX N1 7 Recap Bonds FR 0016 8 Recap Bonds FR 0017 Total AFS NON JHT Total AFS JHT + NON JHT C. HELD TO MATURITY (HTM) OBLIGASI JUMLAH JHT JUMLAH NON JHT TOTAL HTM JHT+ NON JHT TOTAL PT. JAMSOSTEK (PERSERO) TOTAL ANAK PERUSAHAAN TOTAL KONSOLIDASI

A+ A-

AA+ A+

18.000.000.000 20.000.000.000 20.000.000.000 50.000.000.000 4.000.000.000 5.000.000.000 30.000.000.000 30.000.000.000 177.000.000.000 3.891.334.000.000

117,77% 103,51% 101,10% 98,39% 106,00% 115,50% 115,55% 113,56%

21.198.000.000 20.701.400.000 20.220.000.000 49.195.000.000 4.240.000.000 5.775.000.000 34.665.000.000 34.067.000.000 190.061.400.000 4.303.298.657.040

(768.000.000) 400.800.000 402.600.000 55.000.000 6.640.000 25.000.000 (234.300.000) (242.000.000) (354.260.000) (28.868.865.140)

AT PAR 6.792.576.000.000 103.200.000.000 6.895.776.000.000 13.231.600.125.000 -

PREMI (DISKONTO) 6.948.642.197.649 103.245.000.000 7.051.887.197.649,00 14.066.720.252.110 -

NILAI TUNAI OBLIGASI 6.949.815.374.765 103.200.818.182 7.053.016.192.947 14.024.909.201.691 5.375.000.000 14.030.284.201.691

LAMPIRAN 7

PT JAMSOSTEK (PERSERO) PORTOFOLIO REKSADANA PER 31 DESEMBER 2004 SALDO AKHIR NO REKSADANA Unit P/U Rupiah NILAI PASAR 31-Des-04 NAV Nilai POTENSIAL GAIN/LOSS

I. TRADING JHT 1 SI DANA FLEXI 2 DANA SELARAS DINAMIS Jumlah JHT NON JHT ABN AMRO DANA KAS RUPIAH BAHANA DANA PRIMA BNI DANA FLEKSIBEL DANA BERGANDA DANA SELARAS DINAMIS PANIN DANA MAKSIMA PNM SYARIAH DANA WIBAWA KAS SI DANA KAS PLUS (SP) MANULIFE DANA CAMPURAN PORTOFOLIO DINAMIKA PLUS SCHRODER DANA TERPADU SCHRODER DANA PRESTASI PLUS SI DANA DINAMIS Jumlah Non JHT Total Trading AVAILABLE FOR SALE JHT ABN DANA HASIL BERKALA GANESHA ABADI PENDAPATAN TETAP ABADI MEGA DANA OBLIGASI MPF INVESTA LESTARI DUA (SP) REKSADANA GADJAH MADA PANIN DANA UTAMA PLUS Jumlah JHT Non JHT CITIREKSADANA RUPIAH PLUS AAA BOND FUND DANA TETAP OPTIMA DHANA WIBAWA STABIL MEGA DANA OBLIGASI MPF INVESTA LESTARI DUA (SP) PHINISI DANA TETAP P. SCHRO DANA MANTAP PLUS SI DANA OBLIGASI PLUS Jumlah Non JHT Total Available For Sale Total Keseluruhan

832.253 4.371.241 5.203.493

3.271 1.144

2.722.647.716 5.000.000.000 7.722.647.716

3.328 1.152

2.769.886.372 5.034.139.390 7.804.025.762

47.238.656 34.139.390 81.378.046

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

6.038.354 2.152.334 3.375.063 1.576.790 20.061.286 793.336 4.074.581 2.599.644 19.642.336 2.000.000 13.589.349 5.391.484 5.594.186 3.728.987 90.617.729 95.821.222

995 3.035 1.548 1.622 1.140 5.814 1.428 993 994 1.639 1.089 3.290 4.467 1.857

6.008.965.391 6.532.439.971 5.225.406.931 2.557.962.788 22.871.671.649 4.612.788.575 5.819.887.216 2.582.040.127 19.525.951.079 3.278.920.000 14.792.821.454 17.735.663.885 24.990.796.915 6.925.996.206 143.461.312.187 151.183.959.903

1.000 3.140 1.618 1.644 1.152 5.940 1.453 1.000 1.000 1.670 1.103 3.326 4.600 1.914

6.038.354.238 6.758.262.808 5.461.391.308 2.591.958.373 23.103.580.116 4.712.019.040 5.919.429.233 2.599.643.930 19.642.335.910 3.339.980.000 14.990.138.798 17.931.752.156 25.732.362.261 7.136.646.666 145.957.854.837 153.761.880.598

29.388.847 225.822.837 235.984.377 33.995.585 231.908.467 99.230.464 99.542.017 17.603.803 116.384.830 61.060.000 197.317.344 196.088.272 741.565.346 210.650.460 2.496.542.649 2.577.920.695

II. A. 1 2 3 4 5 6 7 B. 1 2 3 4 5 6 7 8 9

4.530.054 5.010.447 1.108.838 2.978.300 9.500.820 3.650.940 1.837.458 28.616.857 4.255.363 4.251.405 4.330.832 2.859.749 3.973.590 10.604.695 14.929.778 9.657.450 11.142.172 66.005.034 94.621.891 190.443.113

1.292 1.058 1.165 1.693 1.156 1.379 1.295

5.853.916.489 5.301.704.710 1.291.430.578 5.042.708.823 10.986.938.540 5.034.189.173 2.380.224.272 35.891.112.584 4.629.451.861 5.059.326.231 5.087.428.677 3.919.400.825 6.727.883.793 12.263.481.253 24.591.583.099 12.277.709.639 13.336.065.654 87.892.331.032 123.783.443.616 274.967.403.519

1.303 1.106 1.178 1.712 1.161 1.392 1.307

5.901.708.554 5.539.650.857 1.305.734.591 5.099.445.440 11.031.212.362 5.083.020.978 2.401.226.413 36.361.999.195 4.647.324.386 5.101.728.468 5.131.559.858 3.944.063.303 6.803.580.682 12.312.899.131 24.982.743.271 12.331.018.764 13.446.150.313 88.701.068.176 125.063.067.370 278.824.947.967

47.792.066 237.946.147 14.304.013 56.736.617 44.273.822 48.831.805 21.002.141 470.886.610 17.872.524 42.402.238 44.131.181 24.662.478 75.696.888 49.417.878 391.160.172 53.309.125 110.084.659 808.737.144 1.279.623.754 3.857.544.450

1.088 1.190 1.175 1.371 1.693 1.156 1.647 1.271 1.197

1.092 1.200 1.185 1.379 1.712 1.161 1.673 1.277 1.207

LAMPIRAN 8

PT JAMSOSTEK (PERSERO) AKTIVA PROPERTI PER 31 DESEMBER 2004 NAMA PENYEWA PT. Anzindo Gratia International PT. Mandiri Abadi Santosa PT. Semen Cibinong PT. Jati Piranti Solusindo PT. Guna Nutrindo Sehat PT. Telkom PT. Hancook Medical PT. Dalle Anugrah Indonesia PT. Wira Pamungkas Pariwara PT. Tomakor Indonesia PT. Bank Mandiri PT. Trimitra Adiyasa PT. Telemarketing PT. Tiyfountex PT. Asuransi AIOI PT. NUTRICIA IND PT. OKAMOTO/HICON CV. INTRANS PT. NUSANTARA SYSTEM PT. TELEMARKETING PT. PANORAMA S PT. SYNOVATE PT. EXELL IND PT. TELKOM PT. WIRA PAMUNGKAS PT. CHEILL SAMSUNG DIRJEN PAJAK PL. GADUNG DIRJEN PAJAK PENJARINGAN PT. SINAR KATEL PT. BPW WINGS PT. QUICK ENGLISH TOTAL PERIODE KONTRAK 01-10-2002 s/d 30-09-2005 23-12-2002 s/d 22-12-2005 01-01-2003 s/d 31-12-2003 01-05-2003 s/d 31-04-2008 17-03-2003 s/d 16-03-2006 01-05-2003 s/d 31-04-2006 01-05-2003 s/d 31-04-2008 01-06-2003 s/d 31-05-2006 15-06-2003 s/d 14-06-2006 30-05-2003 s/d 29-05-2005 01-09-2003 s/d 31-08-2006 01-08-2003 s/d 31-07-2006 01-12-2003 s/d 30-11-2006 01-12-2003 s/d 30-11-2006 01-11-2003 s/d 31-10-2006 15-03-2004 s/d 14-03-2007 15-02-2004 s/d 14-02-2007 01-12-2003 s/d 30-11-2008 15-02-2004 s/d 14-02-2007 20-01-2004 s/d 19-01-2007 03-01-2004 s/d 02-01-2010 02-04-2004 S/D 01-04-2009 01-04-2004 S/D 31-03-2007 01-03-2004 S/D 30-04-2006 15-06-2004 S/D 14-06-2006 01-06-2004 S/D 31-05-2007 01-07-2004 S/D 31-06-2006 01-07-2004 S/D 31-06-2006 10-08-2004 S/D 09-08-2007 26-04-2004 S/D 25-04-2007 20-10-2004 S/D 19-10-2007 PERIODE AMORTISASI (Bulan) 36 36 12 60 36 36 60 36 36 24 36 36 36 36 60 36 36 60 36 36 60 60 36 26 24 36 24 24 36 36 36 AKTIVA PROPERTI 18.950.770 70.273.454 40.118.352 109.290.735 48.297.636 157.503.469 34.146.665 25.980.514 148.419.386 193.118.070 7.507.179 102.645.849 93.644.250 98.580.274 64.482.550 230.968.375 18.985.175 17.919.275 93.467.275 59.634.300 97.567.250 121.040.786 159.716.797 126.792.973 59.423.253 354.368.293 278.376.421 331.238.761 23.033.794 9.269.943 31.814.385 3.226.576.210 B. AMORTISASI s/d DES 2004 Bulan Jumlah 12 12 0 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 10 11 13 11 12 12 9 9 10 7 7 6 6 5 8 2 6.316.923 23.424.485 21.858.147 16.099.212 52.501.156 6.829.333 8.660.171 49.473.129 96.559.035 2.502.393 34.215.283 31.214.750 32.860.091 12.896.510 64.157.882 5.801.026 3.882.510 28.559.445 19.878.100 19.513.450 18.156.118 39.929.199 48.766.528 17.331.782 68.904.946 69.594.105 82.809.690 3.199.138 2.059.987 1.767.466 889.721.991 TOTAL B. AMORTISASI 14.213.078 48.801.010 40.118.352 36.430.245 29.515.222 87.501.927 11.382.222 13.711.938 78.332.454 160.931.725 3.336.524 48.471.651 33.815.979 35.598.432 15.045.928 64.157.882 5.801.026 3.882.510 28.559.445 19.878.100 19.513.450 18.156.118 39.929.199 48.766.528 17.331.782 68.904.946 69.594.105 82.809.690 3.199.138 2.059.987 1.767.466 1.151.518.059 NILAI BUKU AKTIVA PROPERTI 4.737.693 21.472.444 1 72.860.490 18.782.414 70.001.542 22.764.443 12.268.576 70.086.932 32.186.345 4.170.655 54.174.198 59.828.271 62.981.842 49.436.622 166.810.493 13.184.149 14.036.765 64.907.830 39.756.200 78.053.800 102.884.668 119.787.598 78.026.445 42.091.471 285.463.347 208.782.316 248.429.071 19.834.656 7.209.956 30.046.919 2.075.058.152

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

Lantai 4 3 14 16 12 10 3 4 13 22 1 17 18 16 4 19 14 1 17 18 9 17 12 10 12A 21 3&4 5&6 3 3 3

LAMPIRAN 9

PT. JAMSOSTEK (PERSERO) LAPORAN PIUTANG IURAN - AUDITED PER 31 DESEMBER 2004 NO. URAIAN PIUT. LANCAR (1 S/D 3 BULAN PIU. K. LANCAR ( > 3 S/D 6 BULAN ) PIUT. MACET AKTIF > 6 BULAN JUMLAH PIUTANG IURAN AKUM PENYISIHAN PIUTANG IURAN (Dalam Rp) PIUT. MACET NON AKTIF KONTIJENSI

1

KANWIL I PROGRAM PAKET : - JKK - JKM - JPK JUMLAH WILAYAH I :

1.527.135.838 683.436.846 2.128.760.651 4.339.333.335

191.836.278 78.315.854 526.885.981 797.038.113

340.802.113 135.563.290 507.639.177 984.004.581

2.059.774.229 897.315.990 3.163.285.810 6.120.376.029

532.638.391 213.879.144 1.034.525.158 1.781.042.693

3.229.010.095 1.594.161.380 2.860.181.885 7.683.353.359

2

KANWIL II PROGRAM PAKET : - JKK - JKM - JPK JUMLAH WILAYAH II :

2.589.157.265 1.020.515.982 2.673.646.730 6.283.319.977

404.077.845 137.716.002 331.600.540 873.394.387

1.123.694.870 417.362.373 340.374.740 1.881.431.983

4.116.929.980 1.575.594.358 3.345.622.010 9.038.146.348

1.527.772.715 555.078.375 671.975.280 2.754.826.370

3.111.427.275 1.106.783.486 2.647.792.211 6.866.002.972

3

KANWIL III PROGRAM PAKET : - JKK - JKM - JPK JUMLAH WILAYAH III :

10.320.184.198 5.067.742.728 4.004.374.914 19.392.301.840

1.162.929.871 549.790.441 496.846.041 2.209.566.354

721.331.115 475.123.256 287.793.859 1.484.248.230

12.204.445.184 6.092.656.425 4.789.014.815 23.086.116.424

1.884.260.986 1.024.913.697 784.639.901 3.693.814.584

4.578.698.923 2.227.730.423 5.268.171.492 12.074.600.838

4

KANWIL IV PROGRAM PAKET : - JKK - JKM - JPK JUMLAH WILAYAH IV : KANWIL V PROGRAM PAKET : - JKK - JKM - JPK JUMLAH WILAYAH V :

7.056.744.325 2.732.105.651 5.388.361.694 15.177.211.669

1.807.564.691 716.877.341 1.085.313.904 3.609.755.936

1.573.245.695 763.362.264 1.523.553.867 3.860.161.825

10.437.554.711 4.212.345.255 7.997.229.464 22.647.129.430

3.378.875.668 1.482.885.057 2.608.157.036 7.469.917.761

10.615.389.963 4.416.410.943 5.702.435.952 20.734.236.858

5

1.154.017.384 504.077.483 2.133.285.211 3.791.380.078

163.504.022 76.972.493 188.570.607 429.047.121

529.743.049 189.957.751 329.362.811 1.049.063.611

1.847.264.455 771.007.727 2.651.218.628 5.269.490.810

693.247.071 266.930.244 517.933.417 1.478.110.732

1.570.853.407 631.010.679 2.149.591.156 4.351.455.241

6

KANWIL VI PROGRAM PAKET : - JKK - JKM - JPK JUMLAH WILAYAH VI :

4.020.329.882 1.546.688.689 4.275.304.830 9.842.323.401

416.583.940 164.210.814 822.232.020 1.403.026.775

589.822.888 227.606.874 515.002.188 1.332.431.950

5.026.736.710 1.938.506.377 5.612.539.038 12.577.782.125

1.006.406.828 391.817.689 1.337.234.208 2.735.458.725

3.646.943.828 1.392.641.102 3.835.408.698 8.874.993.628

7

KANWIL VII PROGRAM PAKET : - JKK - JKM - JPK JUMLAH WILAYAH VII :

2.142.364.203 669.294.995 1.772.936.685 4.584.595.883

518.955.022 170.237.322 166.923.963 856.116.308

921.335.016 264.441.576 376.764.931 1.562.541.523

3.582.654.242 1.103.973.893 2.316.625.579 7.003.253.714

1.440.290.038 434.678.898 543.688.894 2.418.657.830

7.121.457.650 1.988.501.803 3.765.624.148 12.875.583.601

8

KANWIL VIII PROGRAM PAKET : - JKK - JKM - JPK JUMLAH WILAYAH VIII : SELURUH KANWIL PROGRAM PAKET : - JKK - JKM - JPK TOTAL

804.432.916 251.237.810 850.405.611 1.906.076.337

314.243.445 116.008.404 100.351.018 530.602.867

698.725.019 205.176.436 170.973.026 1.074.874.481

1.817.401.379 572.422.649 1.121.729.656 3.511.553.684

1.012.968.464 321.184.839 271.324.044 1.605.477.348

2.228.364.641 722.205.861 2.159.896.932 5.110.467.434

29.614.366.011 12.475.100.183 23.227.076.327 65.316.542.520

4.979.695.115 2.010.128.671 3.718.724.074 10.708.547.860

6.498.699.765 2.678.593.821 4.051.464.598 13.228.758.184

41.092.760.890 17.163.822.675 30.997.264.999 89.253.848.564

11.478.394.879 4.688.722.492 7.770.188.673 23.937.306.044

36.102.145.783 14.079.445.675 28.389.102.474 78.570.693.932

LAMPIRAN 10

PT.JAMSOSTEK (PERSERO) UANG MUKA PEGAWAI PER 31 DESEMBER 2004 KANWIL KANTOR PUSAT KANWIL I KANWIL II KANWIL III KANWIL IV KANWIL V KANWIL VI KANWIL VII KANWIL VIII JUMLAH (Dalam Rp) JUMLAH UANG MUKA PEGAWAI 1.423.589.000 11.000.577 42.553.650 1.168.280 6.000.000 5.000.000 6.000.000 989.043.971 2.484.355.478

LAMPIRAN 11.1

PT. JAMSOSTEK (PERSERO) LAPORAN KENAIKAN (PENURUNAN) NILAI EFEK JHT PER 31 DESEMBER 2004 SALDO AKHIR (31 DESEMBER 2004) SAHAM @ RUPIAH 22.000.000 10.154.500 4.100.000 76.000.000 1.000.000 85.000.000 198.254.500 2.875,00 3.300,00 9.600,00 5.750,00 11.550,00 4.825,00 63.250.000.000 33.509.850.000 39.360.000.000 437.000.000.000 11.550.000.000 410.125.000.000 994.794.850.000 SALDO PENURUNAN EFEK @ 1.371,18 49,97 1.604,35 3.250,53 253,64 2.189,83

NO 1 2 3 4 5 6

NAMA SAHAM BANK RAKYAT INDONESIA UNILEVER PERUSAHAAN GAS NEGARA INDOSAT INTERNATIONAL NIKEL IND TELKOM Jumlah Saham JHT

SAHAM 22.000.000 10.154.500 4.100.000 76.000.000 1.000.000 85.000.000 198.254.500

Penurunan Efek 30.165.942.150,74 507.454.972,24 6.577.819.201,99 247.040.216.748,32 253.644.590,20 186.135.765.412,32 470.680.843.076

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35

OBLIGASI Astra Graphia I / 03 Astra Sedaya Finance V D1 Astra Sedaya Finance V E1 H.M Sampoerna II / 2000 H.M Sampoerna III / 2000 Indofood II/2003 Indosat II A / 2002 Jasa Marga X Seri O/2002 PT. Medco Energi Internasional Oto Multi Artha III Pegadaian IX/2002 PLN VIB Putra Sumber Utama Timber I-A/03 Putra Sumber Utama Timber I-B/03 RCTI / 03 Recap Bonds FR 0002 Recap Bonds FR 0004 Recap Bonds FR 0005 Recap Bonds FR 0010 Recap Bonds FR 0012 Recap Bonds FR 0013 Recap Bonds FR 0016 Recap Bonds FR 0017 Recap Bonds FR 0019 Recap Bonds FR 0020 Recap Bonds FR 0021 Recap Bonds FR 0022 Recap Bonds FR 0023 Telkom Indonesia Excelcom I-A/03 Idosat III - A/03 Recap Bonds FR 0024 Obligasi Pemerintah FR 0025 Recap Bonds FR 0026 PT. Perkebunan Negara V/1 Jumlah Obligasi JHT

SALDO 31 DESEMBER 2004 NILAI PASAR % Nilai 7.000.000.000 104,65% 7.325.500.000 9.000.000.000 100,25% 9.022.500.000 4.000.000.000 100,25% 4.010.000.000 36.178.250.000 116,00% 38.280.000.000 35.000.000.000 100,34% 35.117.600.000 5.257.500.000 102,00% 5.100.000.000 16.086.000.000 114,15% 17.122.500.000 28.644.250.000 113,50% 30.645.000.000 62.000.000.000 105,19% 65.218.420.000 16.000.000.000 104,43% 16.709.280.000 23.000.000.000 118,00% 27.140.000.000 20.768.500.000 90,15% 19.833.000.000 12.000.000.000 60,13% 7.215.000.000 7.000.000.000 60,13% 4.208.750.000 30.000.000.000 102,20% 30.660.000.000 265.536.115.174 114,50% 269.075.000.000 280.317.500.000 104,25% 286.687.500.000 216.555.056.103 107,50% 228.975.000.000 317.817.420.747 111,80% 329.815.900.000 55.880.000.000 110,10% 60.555.000.000 141.995.660.714 122,17% 147.826.910.000 28.650.000.000 114,77% 28.692.250.000 215.139.000.000 112,75% 223.245.000.000 524.100.000.000 120,05% 528.220.000.000 273.800.000.000 121,37% 285.224.200.000 72.655.000.000 118,25% 76.863.150.000 325.550.000.000 107,77% 336.254.880.000 167.620.305.868 103,11% 178.550.470.800 2.000.000.000 115,00% 2.300.000.000 9.000.000.000 103,68% 9.331.200.000 100.126.000.000 106,17% 106.166.000.000 62.062.758.871 107,27% 69.908.891.100 99.608.264.858 98,50% 102.440.000.000 427.475.458.214 102,53% 445.983.750.000 50.000.000.000 102,00% 51.000.000.000 At Cost 3.947.823.040.550 SALDO AKHIR 4.084.722.651.900

POTENTIAL GAIN (LOSS) 325.500.000 22.500.000 10.000.000 2.101.750.000 117.600.000 (157.500.000) 1.036.500.000 2.000.750.000 3.218.420.000 709.280.000 4.140.000.000 (935.500.000) (4.785.000.000) (2.791.250.000) 660.000.000 3.538.884.826 6.370.000.000 12.419.943.897 11.998.479.253 4.675.000.000 5.831.249.286 42.250.000 8.106.000.000 4.120.000.000 11.424.200.000 4.208.150.000 10.704.880.000 10.930.164.932 300.000.000 331.200.000 6.040.000.000 7.846.132.229 2.831.735.142 18.508.273.390 1.000.000.000 136.899.592.954 SALDO S/D 31 DES 2004 1.418.663.182,30 529.203.454,84 254.171.498,29 99.445.439,78 1.579.393.644,03 83.020.977,62 534.975.796,22 4.498.873.993,08 612.079.310.023,14 4.498.873.992,87 (0)

NO 1 2 3 4 5 6 7

REKSADANA ABN DANA HASIL BERKALA GANESHA ABADI PENDAPATAN TETAP ABADI MEGA DANA OBLIGASI MPF INVESTA LESTARI DUA (SP) REKSADANA GADJAH MADA PANIN DANA UTAMA PLUS Jumlah Reksadana JHT Jumlah SPE JHT

Unit 4.530.053,62 5.010.447,40 1.108.838,19 2.978.300,11 9.500.820,24 3.650.939,83 1.837.457,65 28.616.857,04

P/U 1.302,79 1.105,62 1.177,57 1.712,20 1.161,08 1.392,25 1.306,82

Rupiah 5.901.708.554,44 5.539.650.857,19 1.305.734.590,81 5.099.445.439,78 11.031.212.362,17 5.083.020.977,62 2.401.226.412,58 36.361.999.194,59

LAMPIRAN 11.2

PT. JAMSOSTEK (PERSERO) LAPORAN KENAIKAN (PENURUNAN) NILAI EFEK NON JHT PER 31 DESEMBER 2004 SALDO AKHIR (31 DESEMBER 2004) SAHAM @ RUPIAH 7.000.000 19.000.423 19.798.000 32.000.000 15.000.000 190.000.000 85.000.000 25.000.000 61.000.000 4.850.000 15.750.000 39.000.000 26.500.000 55.000.000 5.000.000 51.004.000 57.000.000 48.429.500 45.000.000 3.650.000 21.440.500 35.000.000 78.500.340 22.000.000 46.000.000 1.007.922.763 3.100,00 9.600,00 4.375,00 2.975,00 1.925,00 185,00 2.875,00 1.475,00 460,00 13.550,00 6.650,00 800,00 675,00 5.750,00 3.075,00 550,00 205,00 455,00 1.900,00 18.500,00 725,00 1.525,00 4.825,00 3.300,00 2.275,00 21.700.000.000 182.404.060.800,00 86.616.250.000,00 95.200.000.000,00 28.875.000.000,00 35.150.000.000,00 244.375.000.000,00 36.875.000.000,00 28.060.000.000,00 65.717.500.000,00 104.737.500.000,00 31.200.000.000,00 17.887.500.000,00 316.250.000.000,00 15.375.000.000,00 28.052.200.000,00 11.685.000.000,00 22.035.422.500,00 85.500.000.000,00 67.525.000.000,00 15.544.362.500,00 53.375.000.000,00 378.764.140.500,00 72.600.000.000,00 104.650.000.000,00 2.150.153.936.300 SALDO PENURUNAN EFEK @ Penurunan Efek 7.000.000 1.039,86 7.279.049.071,33 19.000.423 4.048,30 76.919.492.322,11 19.798.000 1.305,48 25.841.905.745,29 32.000.000 1.192,28 38.163.375.551,23 15.000.000 676,53 10.147.963.525,76 190.000.000 79,34 15.074.849.374,83 85.000.000 1.838,80 156.297.889.248,86 25.000.000 643,39 16.084.749.353,81 61.000.000 41,54 2.533.848.234,90 4.850.000 1.323,34 6.418.184.746,04 15.750.000 1.853,33 29.189.951.274,48 39.000.000 25,95 1.011.894.764,69 26.500.000 (184,45) (4.887.901.638,42) 55.000.000 3.399,67 186.982.061.667,91 5.000.000 1.282,02 6.410.120.418,09 47.500.000 217,03 10.308.746.626,77 57.000.000 (14,29) (814.498.751,97) 48.429.500 5,00 242.147.500,00 45.000.000 292,09 13.144.272.018,68 3.650.000 10.109,90 36.901.123.780,71 21.440.500 (204,36) (4.381.627.913,00) 35.000.000 822,45 28.785.921.147,61 78.500.340 1.828,36 143.527.102.280,71 22.000.000 (9,02) (198.415.201,79) 46.000.000 1.186,67 54.586.704.032,49 855.568.909.181

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

NAMA SAHAM ASTRA ARGO LESTARI ASTRA INTERNATIONAL BANK DANAMON BANK CENTRAL ASIA BANK MANDIRI BANK INTERNATIONAL INDONESIA BANK RAKYAT INDONESIA CIPUTRA SURYA BANK NIAGA GUDANG GARAM H M SAMPOERNA INDOFOOD INDOSIAR INDOSAT INDOCEMENT KALBE FARMA KIMIA FARMA LAPINDO PACKAGING PERUSAHAAN GAS NEGARA SEMEN GRESIK SURYA CITRA MEDIA TAMBANG BATUBARA ASAHAN TELKOM UNILEVER TRACTOR

SAHAM

Saham Non JHT

1.004.418.763 POTENTIAL GAIN (LOSS) (790.500.000) 474.700.000 402.600.000 55.000.000 6.640.000 25.000.000 (234.300.000) 295.000.000 234.140.000 SALDO S/D 31 DES 2004 391.706.155,71 101.728.468,21 131.559.857,82 929.063.303,42 1.778.580.681,41 1.762.899.131,27 4.982.743.270,99 2.331.018.764,31 3.421.150.312,85 15.830.449.945,99 871.633.499.127,11

NO 1 2 3 4 5 6 7 8

OBLIGASI Jasa Marga X Seri O/2002 PLN VII / 2004 Recap Bonds FR 0023 Obligasi Pemerintah FR 0025 Idosat III - A/03 Jasa Marga IX N1 Recap Bonds FR 0016 Recap Bonds FR 0017 Jumlah Obligasi Non JHT

SALDO 31 DESEMBER 2004 NILAI PASAR % Nilai 21.220.500.000 113,50% 20.430.000.000 20.627.500.000 105,51% 21.102.200.000 20.220.000.000 103,11% 20.622.600.000 49.195.000.000 98,50% 49.250.000.000 4.240.000.000 106,17% 4.246.640.000 5.775.000.000 116,00% 5.800.000.000 34.665.000.000 114,77% 34.430.700.000 33.530.000.000 112,75% 33.825.000.000 At Cost 189.473.000.000 SALDO AKHIR P/U 1.092,11 1.200,01 1.184,89 1.379,16 1.712,20 1.161,08 1.673,35 1.276,84 1.206,78 189.707.140.000

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9

REKSADANA CITIREKSADANA RUPIAH PLUS AAA BOND FUND DANA TETAP OPTIMA DHANA WIBAWA STABIL MEGA DANA OBLIGASI MPF INVESTA LESTARI DUA (SP) PHINISI DANA TETAP P. SCHRO DANA MANTAP PLUS SI DANA OBLIGASI PLUS Jumlah Reksadana Non JHT Jumlah SPE Non JHT

Unit 4.255.362,91 4.251.404,96 4.330.832,28 2.859.749,31 3.973.589,93 10.604.694,88 14.929.777,55 9.657.450,24 11.142.171,99 66.005.034,05

Rupiah 4.647.324.385,57 5.101.728.468,21 5.131.559.857,52 3.944.063.303,45 6.803.580.681,57 12.312.899.131,27 24.982.743.270,99 12.331.018.764,31 13.446.150.312,89 88.701.068.175,78

LAMPIRAN 11.2

PT. JAMSOSTEK (PERSERO) LAPORAN KENAIKAN (PENURUNAN) NILAI EFEK NON JHT PER 31 DESEMBER 2004 SALDO AKHIR (31 DESEMBER 2004) SAHAM @ RUPIAH 7.000.000 19.000.423 19.798.000 32.000.000 15.000.000 190.000.000 85.000.000 25.000.000 61.000.000 4.850.000 15.750.000 39.000.000 26.500.000 55.000.000 5.000.000 51.004.000 57.000.000 48.429.500 45.000.000 3.650.000 21.440.500 35.000.000 78.500.340 22.000.000 46.000.000 1.007.922.763 3.100,00 9.600,00 4.375,00 2.975,00 1.925,00 185,00 2.875,00 1.475,00 460,00 13.550,00 6.650,00 800,00 675,00 5.750,00 3.075,00 550,00 205,00 455,00 1.900,00 18.500,00 725,00 1.525,00 4.825,00 3.300,00 2.275,00 21.700.000.000 182.404.060.800,00 86.616.250.000,00 95.200.000.000,00 28.875.000.000,00 35.150.000.000,00 244.375.000.000,00 36.875.000.000,00 28.060.000.000,00 65.717.500.000,00 104.737.500.000,00 31.200.000.000,00 17.887.500.000,00 316.250.000.000,00 15.375.000.000,00 28.052.200.000,00 11.685.000.000,00 22.035.422.500,00 85.500.000.000,00 67.525.000.000,00 15.544.362.500,00 53.375.000.000,00 378.764.140.500,00 72.600.000.000,00 104.650.000.000,00 2.150.153.936.300 SALDO PENURUNAN EFEK @ Penurunan Efek 7.000.000 1.039,86 7.279.049.071,33 19.000.423 4.048,30 76.919.492.322,11 19.798.000 1.305,48 25.841.905.745,29 32.000.000 1.192,28 38.163.375.551,23 15.000.000 676,53 10.147.963.525,76 190.000.000 79,34 15.074.849.374,83 85.000.000 1.838,80 156.297.889.248,86 25.000.000 643,39 16.084.749.353,81 61.000.000 41,54 2.533.848.234,90 4.850.000 1.323,34 6.418.184.746,04 15.750.000 1.853,33 29.189.951.274,48 39.000.000 25,95 1.011.894.764,69 26.500.000 (184,45) (4.887.901.638,42) 55.000.000 3.399,67 186.982.061.667,91 5.000.000 1.282,02 6.410.120.418,09 47.500.000 217,03 10.308.746.626,77 57.000.000 (14,29) (814.498.751,97) 48.429.500 5,00 242.147.500,00 45.000.000 292,09 13.144.272.018,68 3.650.000 10.109,90 36.901.123.780,71 21.440.500 (204,36) (4.381.627.913,00) 35.000.000 822,45 28.785.921.147,61 78.500.340 1.828,36 143.527.102.280,71 22.000.000 (9,02) (198.415.201,79) 46.000.000 1.186,67 54.586.704.032,49 855.568.909.181

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

NAMA SAHAM ASTRA ARGO LESTARI ASTRA INTERNATIONAL BANK DANAMON BANK CENTRAL ASIA BANK MANDIRI BANK INTERNATIONAL INDONESIA BANK RAKYAT INDONESIA CIPUTRA SURYA BANK NIAGA GUDANG GARAM H M SAMPOERNA INDOFOOD INDOSIAR INDOSAT INDOCEMENT KALBE FARMA KIMIA FARMA LAPINDO PACKAGING PERUSAHAAN GAS NEGARA SEMEN GRESIK SURYA CITRA MEDIA TAMBANG BATUBARA ASAHAN TELKOM UNILEVER TRACTOR

SAHAM

Saham Non JHT

1.004.418.763 POTENTIAL GAIN (LOSS) (790.500.000) 474.700.000 402.600.000 55.000.000 6.640.000 25.000.000 (234.300.000) 295.000.000 234.140.000 SALDO S/D 31 DES 2004 391.706.155,71 101.728.468,21 131.559.857,82 929.063.303,42 1.778.580.681,41 1.762.899.131,27 4.982.743.270,99 2.331.018.764,31 3.421.150.312,85 15.830.449.945,99 871.633.499.127,11

NO 1 2 3 4 5 6 7 8

OBLIGASI Jasa Marga X Seri O/2002 PLN VII / 2004 Recap Bonds FR 0023 Obligasi Pemerintah FR 0025 Idosat III - A/03 Jasa Marga IX N1 Recap Bonds FR 0016 Recap Bonds FR 0017 Jumlah Obligasi Non JHT

SALDO 31 DESEMBER 2004 NILAI PASAR % Nilai 21.220.500.000 113,50% 20.430.000.000 20.627.500.000 105,51% 21.102.200.000 20.220.000.000 103,11% 20.622.600.000 49.195.000.000 98,50% 49.250.000.000 4.240.000.000 106,17% 4.246.640.000 5.775.000.000 116,00% 5.800.000.000 34.665.000.000 114,77% 34.430.700.000 33.530.000.000 112,75% 33.825.000.000 At Cost 189.473.000.000 SALDO AKHIR P/U 1.092,11 1.200,01 1.184,89 1.379,16 1.712,20 1.161,08 1.673,35 1.276,84 1.206,78 189.707.140.000

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9

REKSADANA CITIREKSADANA RUPIAH PLUS AAA BOND FUND DANA TETAP OPTIMA DHANA WIBAWA STABIL MEGA DANA OBLIGASI MPF INVESTA LESTARI DUA (SP) PHINISI DANA TETAP P. SCHRO DANA MANTAP PLUS SI DANA OBLIGASI PLUS Jumlah Reksadana Non JHT Jumlah SPE Non JHT

Unit 4.255.362,91 4.251.404,96 4.330.832,28 2.859.749,31 3.973.589,93 10.604.694,88 14.929.777,55 9.657.450,24 11.142.171,99 66.005.034,05

Rupiah 4.647.324.385,57 5.101.728.468,21 5.131.559.857,52 3.944.063.303,45 6.803.580.681,57 12.312.899.131,27 24.982.743.270,99 12.331.018.764,31 13.446.150.312,89 88.701.068.175,78

LAMPIRAN 12

PT. JAMSOSTEK (PERSERO) TAKSIRAN PERHITUNGAN PPH BADAN PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 (Dalam Rp) URAIAN Pendapatan Iuran Beban Jaminan Beban Cadangan Teknis Beban cadangan klaim PENDAPATAN BERSIH IURAN PENGHASILAN INVESTASI REALIZED Pendapatan Bunga Pendapatan Dividen Investasi Pendapatan Sewa Investasi Pend. Kerjasama Operasi (Kso) Pendapatan Investasi Melalui Fm Pendapatan Investasi Lainnya Laba Pelepasan Investasi Rugi Pelepasan Investasi UNREALIZED Keuntungan dari Kenaikan Investasi Kerugian dari Penurunan Nilai Investasi 230.990.311.424 (186.899.580.216) 186.899.580.216 PENDAPATAN INVESTASI BRUTO (I) BEBAN INVESTASI Beban Pajak Atas Kegiatan Investasi Beban Administrasi Atas Kegiatan Investasi Beban Pemasaran dan Pengelolaan Aset Investasi Beban Asuransi Aset Investasi Beban Manager Investasi dan Konsultan Beban Investasi Lainnya BEBAN INVESTASI ( II ) PENDAPATAN INVESTASI NETTO (I) - (II) TOTAL PENDAPATAN USAHA Beban Manajemen (49.586.318.169) (7.674.154.259) (44.151.562.336) (1.072.936.580) (645.575.000) (939.792.564) (104.070.338.908) 3.269.286.181.410 3.491.257.188.688 11.514.285.669 47.811.226.972 7.542.865.723 43.206.187.523 1.072.936.580 245.575.000 99.878.791.797 (3.128.071.774.425) (2.897.383.436.752) 10.470.167.131 Beban Operasional 80.252.337.587 71.003.963.697 Beban Personil Beban Administrasi Dan Umum Beban Penyusutan Dan Amortisasi Beban Penyisihan Piutang Iuran Beban Administrasi Pengelolaan Investasi Jht BIAYA USAHA LABA USAHA Pendapatan Lain-Lain Beban Lain-Lain Pendapatan Bersih Lain Lain ALOKASI BIAYA BERSAMA LABA BERSIH BAGIAN PESERTA ATAS HASIL INVES JHT LABA BERSIH SEBELUM PAJAK 2.969.778.471.438 (2.335.047.029.892) 634.731.441.546 590.816.067.558 2.900.441.121.130 82.935.799.340 13.598.449.032 69.337.350.308 528.868.580.436 (2.368.514.856.316) (2.530.278.818) 1.017.324.889 (1.512.953.929) (2.370.027.810.245) 2.335.047.029.892 (34.980.780.353) 10% 15% 30% Taksiran pajak badan 2004 599.750.661.194 599.750.661.194 5.000.000,00 7.500.000,00 179.895.198.357,96 179.907.698.357,96 12.581.124.143 67.824.396.379 531.926.264.815 80.405.520.522 321.784.346.543 116.523.795.710 36.803.996.035 23.937.306.014 286.606.678.633 103.895.789.291 32.954.675.669 23.937.306.015 61.947.487.122 3.849.320.366 12.628.006.420 35.177.667.909 9.248.373.889 #N/A (4.191.547.109) 141.214.406.986 593.873.751.938 1.044.118.538 3.373.356.520.318 (3.227.950.566.223) 2.705.097.347.209 97.448.243.203 38.138.983.418 15.444.247.726 502.778.019.545 (29.641.051.991) 221.971.007.278 TOTAL 31 DES 2004 1.200.597.511.385 (547.683.176.653) (430.943.327.454)

Koreksi Fiskal
237.371.538.713 (6.683.201.039) 230.688.337.674 (2.645.210.056.728) (24.866.397.000) (38.138.983.418) (2.507.430.315) (502.778.019.545) 29.641.051.991 (230.990.311.424)

SPT PPh Badan 1.200.597.511.385 (547.683.176.653) (193.571.788.741) (6.683.201.039) 452.659.344.952 59.887.290.481 72.581.846.203 12.936.817.411 145.405.954.095 (1.775.091.198) (131.288.536) (945.374.812) (400.000.000) (939.792.564)

BPK-RI
LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

EVALUASI KINERJA PT JAMSOSTEK (PERSERO)
Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2004

Nomor Tanggal

: 14.C/AUDITAMA V/GA/03/2005 : 31 Maret 2005

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Jln. Gatot Subroto No.31 Jakarta pusat 10210 Telp.(021) 5700380, 5738740, 5720957, 5738727 dan 5704395 s.d 9 Pesawat 511. Fax. (021) 5700380 dan 5723995

DAFTAR ISI
Halaman I SIMPULAN EVALUASI 1. Penyusunan dan pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP)..………………………………………………. 2. Tingkat kesehatan perusahaan……………………………………… 3. Perkembangan usaha perusahaan …………………………………... 4. Penilaian atas struktur pengendalian intern ………………….…….. II URAIAN EVALUASI 1. Metodologi, batasan, ruang lingkup dan tanggung jawab ………….
2.

1 3 4 4

7 8

Penyusunan dan pelaksanaan RKAP………………………………. 2.1. Penyusunan RKAP…..………………………………...……… 2.2. Pelaksanaan RKAP…..………………………………...……… 2.2.1. Realisasi pendapatan …………………………………… 2.2.2. Realisasi beban ………………………………………… 2.2.3. Realisasi laba …………………………………….…….. 2.2.4. Portofolio investasi …………………………………….. 2.2.5. Realisasi penambahan peserta baru ……………………. 2.2.6. Kontribusi kepada negara ……………………………… 2.2.7. Pembayaran jaminan dan kontribusi kepada masyarakat tenaga kerja dan lingkungan …………………………… 8 8 9 11 13 13 14 15 15 17 18 18 19 19 19

3. Tingkat kesehatan perusahaan ……………………………….…….. 4. Perkembangan perusahaan ………………………………….…….. 4.1. Analisa kenaikan aktiva perusahaan ………………………….. 4.2. Analisa hasil usaha perusahaan ……………………………….. 4.3. Analisa rasio keuangan perusahaan …………………….……..
5.

Pemahaman atas struktur pengendalian intern ……………………..

LAMPIRAN I. Perbandingan realisasi usaha dan keuangan tahun 2004 dengan tahun sebelumnya

II. Perhitungan nilai bobot kinerja

SIMPULAN EVALUASI Sehubungan dengan audit kami terhadap Laporan Keuangan Konsolidasian PT Jamsostek (Persero) selanjutnya disebut dengan “PT Jamsostek” tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004, dengan ini kami sampaikan pokok-pokok simpulan evaluasi kinerja perusahaan tahun buku 2004 sebagai berikut: 1. Penyusunan dan pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). 1.1. Penyusunan RKAP RKAP disusun berdasarkan Surat Keputusan Menteri Negara BUMN

No.KEP-101/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 dan telah disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tanggal 15 Januari 2004. 1.2. Pelaksanaan RKAP 1.2.1 Realisasi pendapatan Realisasi pendapatan iuran tahun 2004 sebesar Rp1.200.597,51 juta atau 84,20% dari anggarannya sebesar Rp1.425.897,52 juta. Penerimaan iuran program paket mencapai 96,06% dari keseluruhan penerimaan iuran. Program paket terdiri dari Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM) dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK). Realisasi pendapatan investasi bruto mencapai Rp3.372.992,43 juta atau 108,07% dari anggarannya sebesar Rp3.121.000,74 juta yang terjadi terutama karena meningkatnya pendapatan bunga obligasi dan capital gain saham. Realisasi pendapatan lain-lain mencapai Rp71.222,65 juta atau 596,01% dari anggarannya sebesar Rp11.949,92 juta. Hal ini terjadi karena adanya koreksi ke pendapatan lain-lain atas beban penyisihan piutang yang bersaldo negatif.

1

BPK-RI/AUDITAMA V

1.2.2. Realisasi beban Realisasi beban jaminan mencapai Rp547.683,18 juta atau 73,26% dari anggarannya sebesar Rp747.573,43 juta. Realisasi di bawah anggaran karena penurunan jumlah kasus atau klaim ke perusahaan. Realisasi beban usaha mencapai Rp598.827,75 juta atau 93,48% dari anggarannya sebesar Rp640.603,42 juta. 1.2.3. Realisasi laba Realisasi laba sebelum pajak tahun 2004 sebesar Rp634.739,62 juta atau 112,28% dari anggarannya sebesar Rp565.296,23 juta terutama disebabkan karena pendapatan investasi melebihi anggaran dan beban jaminan maupun beban usaha kurang dari anggarannya. 1.2.4. Realisasi investasi Realisasi investasi tahun 2004 sebesar Rp32.530.265,81 juta atau 100,50% dari anggarannya Rp32.369.989,06 juta. Portofolio investasi terbanyak, yaitu pada deposito, obligasi dan saham. 1.2.5. Realisasi penambahan peserta baru 2.2.5.1 Penambahan Kepesertaan Program Paket selama tahun 2004 sebanyak 11.158 perusahaan dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 2.037.754 orang. Penambahan kepesertaan tersebut dibandingkan dengan targetnya sebanyak 10.958 perusahaan dan jumlah tenaga kerja sebanyak 2.119.672 orang, berarti tercapai 101,83% untuk jumlah perusahaan dan 96,14% untuk tenaga kerja. 2.2.5.2 Penambahan Kepesertaan Program Khusus selama tahun 2004 mencapai 1.968.539 tenaga kerja dan dibandingkan dengan target sebanyak 1.600.745 tenaga kerja, berarti penambahan kepesertaan mencapai 122,98%.

2

BPK-RI/AUDITAMA V

1.2.6. Realisasi kontribusi kepada negara Total realisasi kontribusi kepada negara untuk tahun 2004 berupa taksiran pajak penghasilan sebesar Rp179.915,85 juta atau 35.779,94% dari yang dianggarkan sebesar Rp502,51 juta. Kredit pajak tahun 2004 yang dapat diperhitungkan dengan PPh Badan adalah sebesar Rp13.029,65 juta dan PPh badan anak perusahaan Rp8,15 juta sehingga jumlah PPh badan yang masih terhutang sebesar Rp166.878,05 juta. Pada tanggal 23 Maret 2005 telah dilakukan penyetoran pajak ke kas negara sebesar Rp72.326,45 juta. Sisanya sebesar Rp94.551,60 juta disetorkan pada tanggal 4 Mei 2005. 1.2.7. Pembayaran jaminan dan kontribusi kepada masyarakat tenaga kerja dan lingkungan Kontribusi kepada masyarakat tenaga kerja dalam tahun 2004 adalah : (dalam juta rupiah) Pembayaran Jaminan Hari Tua 2.082.802 Pembayaran Jaminan Kematian 70.276 Pembayaran Jaminan Kecelakaan Kerja 193.365 Pemberian bantuan dana bergulir 364 Pinjaman Dana *) 52.749 Bantuan dana tidak bergulir *) 24.014 Kontribusi kepada lingkungan/Bina 2.667 Lingkungan *) *) berdasarkan laporan manajemen DPKP/PKBL unaudited 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 2. Tingkat kesehatan perusahaan. Tingkat kesehatan PT Jamsostek konsolidasian tahun 2004 apabila dihitung berdasarkan kriteria SK Menteri Keuangan No.826/KMK.013/1992 tanggal 24 Juli 1992, dan solvabilitas dihitung sesuai dengan PP No.22 tahun 2004, menunjukkan nilai bobot kinerja sebesar 110,28 yang berarti perusahaan tergolong “SEHAT SEKALI”. Dengan menggunakan acuan yang sama, tingkat kesehatan untuk tahun 2003 “SEHAT”, dengan

3

BPK-RI/AUDITAMA V

nilai bobot 104,99. Perhitungan nilai bobot kinerja perusahaan tahun 2004 seperti terlihat dalam lampiran II. Tingkat kesehatan tersebut hanya memperhitungkan aspek keuangan, sedangkan aspek operasional dan aspek administrasi tidak dipertimbangkan, seperti halnya yang diatur dalam SK Meneg. BUMN No. KEP-100/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 tentang penilaian tingkat kesehatan BUMN. SK Meneg BUMN tersebut belum mengatur penilaian tingkat kesehatan BUMN bidang jasa keuangan, yang akan diatur tersendiri. 3. Perkembangan usaha perusahaan Dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2004, jumlah aktiva konsolidasian mengalami peningkatan, yaitu dari Rp12.601.906,70 juta pada akhir tahun 2000 menjadi Rp33.403.075,71 juta pada akhir tahun 2004 atau mengalami peningkatan 165,06%. Untuk laba sebelum pajak yang diperoleh perusahaan dari tahun 2000 sampai dengan 2004 berfluktuasi, yaitu dari tahun 2000 sampai 2002 menurun, sedangkan tahun 2004 meningkat sebesar Rp102.513,68 juta atau meningkat 19,26% dari tahun 2003. Perkembangan usaha perusahaan Lampiran I. Tingkat likuiditas dan solvabilitas perusahaan, dalam kurun waktu tahun 2000 sampai dengan 2004 berada pada tingkat yang aman yaitu berhasil meraih diatas 100%, kecuali rasio likuiditas tahun 2001 sebesar 83,08 %. Sedangkan tahun 2004 rasio likuiditas dan solvabilitas perusahaan masing-masing sebesar 176,28% dan 356,66%. 4. Penilaian atas struktur pengendalian intern 4.1. Struktur Pengendalian Intern PT Jamsostek belum sepenuhnya memadai, dan masih dijumpai beberapa kelemahan dalam rancangan dan pelaksanaannya, yaitu: 4.1.1 Penempatan deposito berjangka yang dilakukan PT Jamsostek belum sesuai dengan ketentuan; 4.1.2 Transaksi penjualan saham JIHD tahun 2004 belum sepenuhnya dilakukan dengan cermat; dalam lima tahun terakhir, dapat dilihat dalam

4

BPK-RI/AUDITAMA V

4.1.3 PT Jamsostek kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan minimal sebesar Rp1.912,81 juta atas hasil investasi deposito yang tidak optimal; 4.1.4 Pengadaan pengembangan sistem informasi penyusunan anggaran sebesar Rp318,50 juta belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan; 4.1.5 Fungsi Tim Koordinasi Fungsional Pusat tahun 2004 tidak optimal; 4.1.6 Terdapat klaim-klaim Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dari Grup Maspion beserta perusahaan pengerah tenaga kerjanya dan PT Erna Djuliawati yang rasio klaimnya cukup tinggi; 4.1.7 Terdapat Kerja; 4.1.8 Terdapat kelalaian menetapkan tingkat suku bunga JHT sehingga PT Jamsostek kelebihan membayar bunga sebesar Rp753,69 juta; 4.1.9 Pekerjaan perencanaan dan konsultansi pengembangan dan implementasi sistem informasi online PT Jamsostek yang dilaksanakan oleh PT Magnus Indonesia senilai Rp5.595,98 juta belum sepenuhnya dilakukan dengan baik; 4.1.10 Pengendalian dan pembinaan 101,73%; 4.1.11 Pengadaan Gondola untuk menara Jamsostek sebesar Rp676,50 juta belum sepenuhnya sesuai ketentuan; 4.1.12 Terdapat renovasi beberapa gedung kantor Jamsostek belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan; 4.1.13 Pengadaan pekerjaan jasa pemeliharaan server dan database PT Jamsostek sebesar Rp1.955,92 juta belum sepenuhnya mematuhi ketentuan yang berlaku; 4.1.14 Pelaksanaan pengadaan perangkat keras komputer senilai Rp2.831,96 juta oleh CV Fartika Prismatama belum sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan; atas pengelolaan Program JPK Tambahan tidak sesuai dengan ketentuan sehingga rasio klaim tahun 2004 mencapai perusahaan menunggak iuran yang merupakan rekanan PT Jamsostek sehingga merugikan peserta Program Jaminan Sosial Tenaga

5

BPK-RI/AUDITAMA V

4.1.15 Perencanaan dan evaluasi administrasi atas pengadaan Public Service Announcement (PSA) PT Jamsostek sebesar Rp1.568,05 juta belum sepenuhnya sesuai ketentuan; 4.1.16 Sewa gedung KC Belawan sebesar Rp582,00 juta belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan; 4.1.17 Pengadaan kalender dan agenda sebesar Rp943,25 juta belum sepenuhnya sesuai ketentuan yang berlaku; 4.1.18 Pengadaan dan pendistribusian majalah Jamsostek dengan nilai masingmasing sebesar Rp2.211,00 juta dan Rp1.225,54 juta belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan; 4.1.19 Terdapat tindakan berindikasi manipulasi yang dilakukan oleh sejumlah pegawai PT Jamsostek di Kanwil dan KC serta pihak III dengan taksiran kerugian sekitar Rp10.538,88 juta. 4.1.20 Tindak lanjut hasil pemeriksaan tahun-tahun sebelumnya. 4.2. Peranan Satuan Pengawasan Intern (SPI) Dari target pelaksanaan audit tahun 2004 yang direncanakan sebanyak 100 objek, yaitu keuangan 65 objek, operasional 35 objek telah berhasil direalisasikan 83 objek dan terdapat tambahan 25 objek. Demikian kesimpulan evaluasi kinerja PT Jamsostek yang dapat kami sampaikan, sedangkan rincian lebih lanjut dijelaskan pada halaman berikutnya. Auditor Utama Keuangan Negara V Penanggung jawab Audit,

Drs. Misnoto, Ak. MA Register Negara No.D-1416 Jakarta, 31 Maret 2005

6

BPK-RI/AUDITAMA V

URAIAN EVALUASI

1. Metodologi, batasan, ruang lingkup dan tanggung jawab Evaluasi terhadap kinerja PT Jamsostek, kami laksanakan bersama-sama dengan pelaksanaan general audit atas Laporan Keuangan PT Jamsostek untuk tahun buku yang berakhir tanggal 31 Desember 2004. Sumber data yang digunakan untuk evaluasi terhadap kinerja PT Jamsostek tahun buku 2004 (periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2004), kami peroleh dari : 1.1. Laporan Auditor Independen atas laporan keuangan PT Jamsostek untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2000 s.d. 2004. 1.2. 1.3. 1.4. RKAP PT Jamsostek yang telah disahkan dalam RUPS. Rencana Jangka Panjang (RJP) tahun 2004-2008. Laporan intern perusahaan yang secara periodik disusun, antara lain : 1.4.1 Laporan atas kegiatan operasional dan investasi; 1.4.2 Laporan manajemen; 1.4.3 Laporan atas Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta (DPKP); 1.4.4 Laporan atas Pengelolaan, Program Kemitraan dan Bina Lingkungan. Dalam Laporan Kinerja PT Jamsostek, data keuangan perusahaan termasuk nilai penyertaan dan/atau pendapatan dari penyertaan PT Jamsostek pada anak perusahaan, yang diperhitungkan atas dasar metode ekuitas. Evaluasi tingkat kesehatan suatu perusahaan asuransi dilakukan dengan mendasarkan pada Surat Keputusan Menteri Keuangan No.826/KMK.013/1992 tanggal 24 Juli 1992, tentang Penilaian Tingkat Kesehatan BUMN. Sedangkan tingkat solvabilitas dihitung sesuai dengan PP No.22 tahun 2004 tentang Pengelolaan dan Investasi Dana Program Jamsostek. Evaluasi kami laksanakan dengan cara antara lain review, konfirmasi, perhitungan ulang, verifikasi, analisis, dan interpretasi data/informasi yang tersedia. Kami tidak melakukan 7 BPK-RI/AUDITAMA V

perbandingan data industri sejenis yang diperoleh dari pihak eksternal yang kompeten karena keterbatasan dalam ketersediaan data/informasi yang diperlukan. Laporan Kinerja PT Jamsostek dan data lain yang disajikan manajemen merupakan tanggung jawab manajemen perusahaan, sedangkan tanggung jawab kami terbatas pada hasil evaluasi atas Laporan Kinerja PT Jamsostek tersebut. 2. Penyusunan dan pelaksanaan RKAP 2.1. Penyusunan RKAP RKAP disusun berdasarkan Surat Keputusan Menteri Negara BUMN No.KEP-101/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 serta mengacu pada Rencana Jangka Panjang Perusahaan tahun 2004 s.d. 2008. RKAP tersebut telah disahkan dalam RUPS tanggal 15 Januari 2004. Dalam penyusunan RKAP tahun 2004 ditetapkan asumsi-asumsi yang mengacu pada perkembangan ekonomi yang cukup positif, namun tetap konservatif, yaitu asumsiasumsi yang digunakan dalam penetapan RAPBN tahun 2004, antara lain tingkat inflasi 6 % s.d 8%, pertumbuhan ekonomi 4% s.d 5 % dan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) satu tahun 8% s.d 9%. 2.2. Pelaksanaan RKAP Berdasarkan data pada tabel I berikut terlihat bahwa realisasi anggaran tahun 2004 adalah sebagai berikut :

8

BPK-RI/AUDITAMA V

Tabel I : Realisasi pendapatan dan beban tahun 2004 Keterangan PENDAPATAN a. Iuran b. Investasi (Bruto) c. Operasional Anak Perusahaan d. Lain-lain Jumlah BEBAN a. Jaminan b. Cadangan Teknis c. Beban Investasi d. Beban Usaha e. Beban lain-lain f. Bagian Peserta atas Hasil Investasi JHT Jumlah LABA SEBELUM PAJAK 2.2.1 Realisasi pendapatan Realisasi pendapatan iuran dan operasional anak perusahaan berada di bawah anggarannya, tetapi realisasi pendapatan investasi dan pendapatan lain-lain berada di atas anggaran, masing-masing 8,07% dan 584,34% di atas anggarannya, sehingga secara keseluruhan realisasi pendapatan 1,92% di atas anggarannya. Anggaran 1.425.897,52 3.121.000,74 17.904,00 12.429,88 4.577.232,14 (dalam juta rupiah) Realisasi % Pencapaian 1.200.597,51 3.372.992,43 6.279,56 85.062,88 4.664.932,38 84,20 108,07 35,07 684,34 101,92

747.573,43 413.039,69 128.415,74 640.603,42 479,96 2.081.823,67 4.011.935,91 565.296,23

547.683,18 430.943,33 103.851,24 598.827,75 13.840,23 2.335.047,03 4.030.192,76 634.739,62

73,26 104,33 80,87 93,48 2.883,62 112,16 100,46 112,28

9

BPK-RI/AUDITAMA V

2.2.1.1. Realisasi Penerimaan Iuran Tabel II : Realisasi Penerimaan Iuran (dalam juta rupiah)
Jenis Pendapatan Iuran Program paket – diluar JHT Jaminan Kecelakaan Kerja Jaminan Kematian Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Program Khusus Jasa Konstruksi Sektor Informal Total Anggaran
578.905,09 238.321,03 570.722,74 1.387.948,86 37.948,66 1.425.897,52

Realisasi
525.184,98 234.861,78 393.200,64 1.153.247,40 47.302,11 48,00 1.200.597,51

% Pencapaian
90,72 98,55 68,90 83,09 124,65 84,20

Realisasi penerimaan iuran mencapai Rp1.200.597,51 juta atau 84,20% dari anggarannya sebesar Rp1.425.897,52 juta. 2.2.1.2. Realisasi Penerimaan Hasil Investasi Bruto Tabel III : Anggaran dan Realisasi Penerimaan Hasil Investasi (dalam juta rupiah)
Jenis Investasi Bank Investasi Deposit On Call (DOC) Deposito Investasi Pasar Uang Lainnya Saham Reksadana Obligasi Medium Term Notes Penyertaan Tanah & Bangunan Jumlah Anggaran 10.435,00 1.426.006,00 900,00 210.919,00 16.953,00 1.251.208,00 86.595,00 285,74 117.699,00 3.121.000,74 Realisasi 1.667,95 21.946,09 1.161.018,58 1.002,41 489.264,19 24.745,78 1.563.005,06 69.312,67 24,41 41.005,29 3.372.992,43 % pencapaian

210,31 81,42 111,38 231,97 145,97 124,92 80,04 8,54 34,84 108,02

Realisasi penerimaan hasil investasi mencapai Rp3.372.992,43 juta atau 108,02% dari anggarannya sebesar Rp3.121.000,74 juta. Realisasi 10 BPK-RI/AUDITAMA V

penerimaan hasil investasi melebihi anggarannya sebesar 8,02% karena realisasi hasil obligasi, DOC, saham dan reksadana yang melebihi anggarannya. 2.2.1.3. Realisasi hasil operasi anak perusahaan Realisasi hasil operasi anak perusahaan (PT Bijak) pada tahun 2004 adalah sebesar Rp6.279,56 juta atau 35,07% dari anggarannya sebesar Rp17.904,00 juta. 2.2.1.4. Realisasi pendapatan lain-lain bruto Realisasi pendapatan lain-lain mencapai Rp85.062,88 juta atau 684,34% dari anggarannya sebesar Rp12.429,88 juta. 2.2.2. Realisasi beban Perbandingan antara realisasi beban jaminan, beban cadangan teknis, beban investasi dan beban usaha tahun 2004 dengan anggarannya disajikan dalam tabel berikut: Tabel IV : Realisasi beban dibandingkan dengan anggaran (dalam juta rupiah)
Jenis Beban A. Beban jaminan : JKK JKM JPK Progsus Sektor Informal Jumlah Beban Jaminan B. Beban Cadangan Teknis : Beban Cad. Teknis – JKK Beban Cad. Teknis – JKM Beban Cad. Teknis – JPK Beban Cad. Teknis Progsus Beban Cad. Katastrofa Jumlah Beban Cad. Teknis Anggaran 255.682,18 80.461,52 399.505,92 11.923,81 747.573,43 255.039,00 108.938,00 20.629,44 25.579,63 2.853,61 413.039,69 Realisasi 193.365,28 70.276,10 273.561,86 10.443,94 36,00 547.683,18 265.162,72 124.872,20 2.757,21 36.185,19 1.966,00 430.943,33 % Pencapaian 75,63 87,34 68,48 87,60 73,26 103,97 114,63 13,37 141,46 68,90 104,33

11

BPK-RI/AUDITAMA V

C. Beban Investasi : Beban Pajak Investasi Beban Investasi Jumlah Beban Investasi D. Beban Usaha : Beban Manajemen Beban Operasional Beban Personil Beban Adm dan Umum Beban Penyusutan Beban Penyisihan Piutang Jumlah Beban Usaha Total Beban Perusahaan

71.641,83 56.773,91 128.415,74 15.701,40 97.318,85 344.212,82 129.630,12 46.904,59 6.835,64 640.603,42 1.929.632,28

49.586,32 54.264,92 103.851,24 12.224,70 85.296,74 322.990,47 117.238,06 37.140,47 23.937,31 598.827,75 1.785.248,83

69,21 95,58 80,87 77,86 87,65 93,83 90,44 79,18 350,18 93,48 92,52

2.2.2.1. Realisasi beban jaminan Realisasi beban jaminan tahun 2004 mencapai Rp547.683,18 juta atau 73,26% dari anggarannya sebesar Rp747.573,43 juta. Realisasi beban jaminan lebih rendah dari anggarannya karena kecilnya klaim yang diajukan oleh peserta dan keberhasilan perusahaan dalam kampanye standar keselamatan kerja. 2.2.2.2. Realisasi beban cadangan teknis Realisasi beban cadangan teknis tahun 2004 mencapai Rp430.943,33 juta atau 104,33% dari anggarannya sebesar Rp413.039,69 juta. 2.2.2.3. Realisasi beban investasi Realisasi beban investasi tahun 2004 mencapai Rp103.851,24 juta atau 80,87% dari anggarannya sebesar Rp128.415,74 juta. 2.2.2.4. Realisasi beban usaha Realisasi beban usaha tahun 2004 termasuk beban penyusutan dan penyisihan piutang mencapai Rp598.827,75 juta atau 93,48% dari anggarannya sebesar Rp640.603,42 juta. Realisasi beban usaha lebih 12 BPK-RI/AUDITAMA V

rendah dari anggarannya karena keberhasilan manajemen melakukan efisiensi terutama untuk beban manajemen dan operasional. 2.2.3. Realisasi laba Realisasi laba sebelum pajak tahun 2004 sebesar Rp634.739,62 juta atau mencapai 112,28% dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp565.296,23 juta. Realisasi lebih besar tersebut terutama terjadi karena hasil investasi bersih yang mencapai Rp3.269.141,19 juta atau 109,24% di atas anggarannya sebesar Rp2.992.585,01 juta, serta realisasi beban jaminan, beban cadangan teknis dan beban usaha yang di bawah anggaran. 2.2.4. Portofolio investasi Realisasi investasi tahun 2004 sebesar Rp32.530.265,81 juta atau mencapai 100,50% dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp32.369.989,06 juta. Perbandingan realisasi investasi per jenis investasi dengan anggarannya masing-masing dapat dilihat dalam tabel berikut. Tabel V : Portofolio Investasi Tahun 2004 :
(dalam juta rupiah) Jenis Investasi Bank Investasi Deposito On Call (DOC) Deposito Berjangka Intru. Psr Uang Lainnya Saham Obligasi Medium Term Note (MTN) Reksa Dana Penyertaan Tanah dan Bangunan JUMLAH ANGGARAN THN 2004 2.275,31 141.468,00 14.958.248,79 1.948.000,00 13.550.000,00 167.659,00 300.000,00 104.472,96 1.197.865,00 32.369.989,06 REALISASI TH 2004 4.499,84 29.750,69 14.336.741,57 3.158.217,54 14.030.284,20 65.742,36 278.824,95 8.025,56 618.179,10 32.530.265,81 PENCAPAIAN % 197,77 21,03 95,85 162,13 103,54 39,21 92,94 7,68 51,61 100,50

13

BPK-RI/AUDITAMA V

Realisasi portofolio investasi yang berada di atas anggarannya adalah investasi dalam bentuk Bank Investasi (197,77%), Saham (162,13%) dan Obligasi (103,54%), sedangkan portofolio investasi yang lain berada di bawah anggarannya. Realisasi portofolio investasi tahun 2004 secara keseluruhan berada di atas anggarannya yaitu 100,50%. Portofolio investasi pada tahun 2004 lebih dititikberatkan pada deposito sebesar 44,07% dari total investasi dan obligasi sebesar 43,13% dari total investasi. 2.2.5. Realisasi penambahan peserta baru Realisasi penambahan kepesertaan program PT Jamsostek tahun 2004 jika dibandingkan dengan targetnya terlihat sebagai berikut:
Uraian 1 Program paket Progsus Jumlah Satuan 2 Persh. TK TK Persh. TK Tahun 2003 Realisasi 3 7.287 1.592.224 2.034.458 7.287 3.626.682 Tahun 2004 Target 4 10.958 2.119.672 1.600.745 10.958 3.720.417 Realisasi 5 11.158 2.037.754 1.968.539 11.158 4.006.293 % Pencapaian 6=5/4 101,83 96,14 122,98 101,83 107,68 % Pertumbuhan 7=5/3 153,12 127,98 96,76 153,12 110,47

Dari tabel di atas diketahui bahwa untuk program Jamsostek jenis paket, realisasi penambahan peserta perusahaan dalam tahun 2004 mencapai 101,83% dari targetnya, sedangkan untuk penambahan tenaga kerjanya hanya mencapai 96,14% dari targetnya. Penambahan tenaga kerja secara keseluruhan melebihi target disebabkan realisasi tenaga kerja program khusus yang mencapai 122,98% dari target. Sementara itu pertumbuhan peserta dibandingkan dengan tahun 2003 mengalami peningkatan, yaitu untuk perusahaan mengalami pertumbuhan positif 53,12% dan tenaga kerja 10,47% dari target.

14

BPK-RI/AUDITAMA V

Realisasi penambahan kepesertaan untuk masing-masing paket adalah sebagai berikut: 2.2.5.1 Penambahan kepesertaan Program Paket selama tahun 2004 sebanyak 11.158 perusahaan dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 2.037.754 orang. Penambahan kepesertaan tersebut dibandingkan dengan targetnya sebanyak 10.958 perusahaan dan jumlah tenaga kerja sebanyak 2.119.672 orang, berarti tercapai 101,83% untuk jumlah perusahaan dan hanya 96,14% untuk tenaga kerja. 2.2.5.2 Penambahan kepesertaan Program Khusus selama tahun 2004 mencapai 1.968.539 tenaga kerja dan dibandingkan dengan target sebanyak 1.600.745 tenaga kerja, berarti penambahan kepesertaan mencapai 122,98%. 2.2.6. Kontribusi kepada Negara Total realisasi kontribusi kepada negara untuk tahun 2004 berupa taksiran pajak penghasilan sebesar Rp179.915,85 juta atau 35.779,94% dari yang dianggarkan sebesar Rp502,51 juta. Kredit pajak tahun 2004 yang dapat diperhitungkan dengan PPh Badan adalah sebesar Rp13.029,65 juta dan PPh badan anak perusahaan Rp8,15 juta sehingga jumlah PPh badan yang masih terhutang sebesar Rp166.878,05 juta. Pada tanggal 23 Maret 2005 telah dilakukan penyetoran pajak ke kas negara sebesar Rp72.326,45 juta. Sisanya sebesar Rp94.551,60 juta disetorkan pada tanggal 4 Mei 2005. 2.2.7. Pembayaran jaminan dan kontribusi kepada masyarakat tenaga kerja dan lingkungan Kontribusi kepada tenaga kerja dan lingkungan selain menggunakan dana operasional PT Jamsostek, menggunakan pula dana dari laba yang disisihkan yaitu Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta (DPKP) dan Dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Kontribusi kepada masyarakat tenaga kerja dalam tahun 2004 adalah : 15 BPK-RI/AUDITAMA V

2.2.7.1 Kontribusi kepada peserta melalui pembayaran jaminan :
Kontribusi Pembayaran Jaminan Hari Tua Pembayaran Jaminan Kematian Pembayaran Jaminan Kecelakaan Kerja Pembayaran Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pembayaran Jaminan Program Khusus Pembayaran Jaminan Sektor Informal Tenaga Kerja (Kasus) 661.770 11.559 95.418 Jumlah (juta Rp) 2.082.801,96 70.276,10 193.365,28 273.561,86 10.443,94 36,00

2.2.7.2 Kontribusi kepada peserta melalui program DPKP berdasarkan laporan manajemen (unaudited) dalam tahun 2004 :
RINCIAN PENGGUNAAN DANA Dana Bergulir : Investasi Jangka Panjang : - Rumah Susun Sewa - Fasilitas Pelkes Sub Jumlah Pinjaman Dana : - Uang Muka KPR - Koperasi Karyawan - DTMK - Provider Jasa Pelkes Sub Jumlah Total Dana Bergulir Dana Tidak Bergulir : - Rehab/Renov UGD Puskes Pemda - Rehab/Renov IRNA Puskes Pemda - Mobil Ambulan - Peralatan Medis/Non Medis - Kesehatan Cuma-Cuma - Bantuan PPK Tingkat I - Bea Siswa - Pelatihan TK - Rehab/Renov. BLK Pemda - Bantuan PHK Total Dana Tidak Bergulir Total Tahun 2004 Tenaga Kerja (kasus) Jumlah (juta Rp)

-

363,73 363,73 41.382,23 1.440,00 42.822,23 43.185,96

7.752 26 -

10 6 45 13 89 3.824 20 1 2.688

1.215,57 558,03 13.598,49 2.898,34 1.117,57 3.684,69 50,00 21,75 869,75 24.014,19 67.200,15

16

BPK-RI/AUDITAMA V

2.2.7.3 Kontribusi kepada lingkungan melalui Program KBL tahun 2004 berdasarkan laporan manajemen (unaudited) :
Kontribusi Hibah Pendidikan dan latihan, promosi dan pemasaran, Pemagangan serta penelitian dan pengembangan Pinjaman Modal Kerja dan Operasional Total Jumlah Penerima 505 505

dalam

Jumlah (juta Rp) 2.667,09 9.926,50 12.593,59

3. Tingkat kesehatan perusahaan Tingkat kesehatan PT Jamsostek konsolidasian tahun 2004 yang dihitung berdasarkan kriteria SK Menteri Keuangan No.826/KMK.013/1992 tanggal 24 Juli 1992 dan solvabilitas dihitung sesuai PP No.22 tahun 2004, menunjukkan nilai bobot kinerja sebesar 110,28 yang berarti perusahaan tergolong “SEHAT SEKALI”. Dengan menggunakan acuan yang sama, tingkat kesehatan untuk tahun 2003 adalah “SEHAT”, dengan nilai bobot 104,99. Perhitungan nilai bobot kinerja perusahaan tahun 2004 dapat dikemukakan sebagai berikut :
KRITERIA PENILAIAN 1 1. R - L – S RENTABILITAS LIKUIDITAS SOLVABILITAS SATUAN UNIT 2 % % % BOBOT 3 52,50 8,75 8,75 70.00 10,00 10,00 10,00 30,00 TARGET 4 8,71 205,38 256,07 REALISASI 5 9,89 176,28 356,66 NILAI 6=5/4 113,57 85,83 120,00 NILAI BOBOT 7=3X6 59,63 7,51 10,50 78,14 11,49 11,15 10,99 32,64 110,28 Sehat Sekali

2. INDIKATOR TAMBAHAN CLAIM RATIO % EXPENSE RATIO % YOI %

52,43 9,87 10,48

45,62 9,72 11,51

114,93 101,55 109,87

TOTAL NILAI BOBOT KINERJA TH 2004 Keterangan : Nilai maksimum = 120 Nilai minimum = 80

17

BPK-RI/AUDITAMA V

Rincian perhitungan perolehan nilai bobot kinerja perusahaan tahun 2004 disajikan dalam lampiran II. Tingkat kesehatan tersebut hanya memperhitungkan aspek keuangan, sedangkan aspek operasional dan aspek administrasi tidak dipertimbangkan, seperti halnya yang diatur dalam SK Meneg. BUMN No. KEP100/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 tentang penilaian tingkat kesehatan BUMN. SK Meneg BUMN tersebut belum mengatur penilaian tingkat kesehatan BUMN bidang jasa keuangan, yang akan diatur tersendiri. 4. Perkembangan usaha perusahaan Perkembangan perusahaan dalam kurun waktu lima tahun terakhir disajikan dalam lampiran I. Dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2004, jumlah aktiva konsolidasian mengalami peningkatan, yaitu dari Rp12.601.906,70 juta pada akhir tahun 2000 menjadi Rp33.403.075,71 juta pada akhir tahun 2004 atau mengalami peningkatan 165,06%. Sementara itu laba sebelum pajak yang diperoleh perusahaan dari tahun 2000 sampai dengan 2004 berfluktuasi, yaitu dari tahun 2000 sampai 2002 menurun, sedangkan tahun 2004 meningkat sebesar Rp102.513,68 juta atau meningkat 19,26% dari tahun 2003. Perkembangan usaha perusahaan dalam lima tahun terakhir, Lampiran I. 4.1 Analisa kenaikan aktiva perusahaan Aktiva perusahaan tahun 2004 meningkat dibandingkan tahun 2003, 2002, 2001 dan 2000 terutama karena: 4.1.1 Adanya penambahan aktiva operasional lima tahun terakhir yang juga meningkatkan investasi serta meningkatkan pendapatan investasi dan laba perusahaan. 4.1.2 Meningkatnya penerimaan iuran JHT yang menambah hutang jangka panjang perusahaan yang merupakan sumber dana investasi, sehingga meningkatkan nilai investasi perusahaan. dapat dilihat dalam

18

BPK-RI/AUDITAMA V

4.2 Analisa hasil usaha perusahaan Hasil usaha perusahaan tahun 2004 meningkat dibandingkan tahun 2003, 2002, 2001 dan 2000 terutama karena: 4.2.1 Meningkatnya pendapatan iuran karena bertambahnya peserta Jamsostek, meningkatnya Upah Minimum Regional (UMR) dan meningkatnya penghasilan peserta secara umum. 4.2.2 Meningkatnya beban bunga JHT sebanding dengan meningkatnya pendapatan iuran JHT. 4.3 Analisa rasio keuangan perusahaan Rasio keuangan perusahaan tahun 2004 dibandingkan tahun 2003, 2002, 2001 dan 2000 berfluktuasi. Tingkat likuiditas dan solvabilitas perusahaan, dalam kurun waktu tahun 2000 sampai 2004 berada pada tingkat yang aman yaitu berhasil meraih di atas 100%, kecuali rasio likuiditas tahun 2001 sebesar 83,08%. Sedangkan tahun 2004 rasio likuiditas dan solvabilitas perusahaan masing-masing sebesar 176,28% dan 356,66%. 5. Pemahaman atas struktur pengendalian intern 5.1 Struktur Pengendalian Intern PT Jamsostek belum sepenuhnya memadai, sehingga Sistem Akuntansi dan Prosedur Pengendalian yang ada masih perlu penyempurnaan. Beberapa kelemahan dapat dikemukakan sebagai berikut : 5.1.1 Penempatan deposito berjangka yang dilakukan PT Jamsostek belum sesuai dengan ketentuan; 5.1.2 Transaksi penjualan saham JIHD tahun 2004 belum sepenuhnya dilakukan dengan cermat; 5.1.3 PT Jamsostek kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan minimal sebesar Rp1.912,81 juta atas hasil investasi deposito yang tidak optimal; 5.1.4 Pengadaan pengembangan sistem informasi penyusunan anggaran sebesar Rp318,50 juta belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan; 5.1.5 Fungsi Tim Koordinasi Fungsional Pusat tahun 2004 tidak optimal;

19

BPK-RI/AUDITAMA V

5.1.6 Terdapat klaim-klaim Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dari Grup Maspion beserta perusahaan pengerah tenaga kerjanya dan PT Erna Djuliawati yang rasio klaimnya cukup tinggi; 5.1.7 Terdapat Kerja; 5.1.8 Terdapat kelalaian menetapkan tingkat suku bunga JHT sehingga PT Jamsostek kelebihan membayar bunga sebesar Rp753,69 juta; 5.1.9 Pekerjaan perencanaan dan konsultansi pengembangan dan implementasi sistem informasi online PT Jamsostek yang dilaksanakan oleh PT Magnus Indonesia senilai Rp5.595,98 juta belum sepenuhnya dilakukan dengan baik; 5.1.10 Pengendalian dan pembinaan atas pengelolaan Program JPK Tambahan tidak sesuai dengan ketentuan sehingga ratio klaim tahun 2004 mencapai 101,73%; 5.1.11 Pengadaan Gondola untuk menara Jamsostek sebesar Rp676,50 juta belum sepenuhnya sesuai ketentuan; 5.1.12 Terdapat renovasi beberapa gedung kantor Jamsostek belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan; 5.1.13 Pengadaan pekerjaan jasa pemeliharaan server dan database PT Jamsostek sebesar Rp1.955,92 juta belum sepenuhnya mematuhi ketentuan yang berlaku; 5.1.14 Pelaksanaan pengadaan perangkat keras komputer senilai Rp2.831,96 juta oleh CV Fartika Prismatama belum sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan; 5.1.15 Perencanaan dan evaluasi administrasi atas pengadaan Public Service Announcement (PSA) PT Jamsostek sebesar Rp1.568,05 juta belum sepenuhnya sesuai ketentuan; 5.1.16 Sewa gedung KC Belawan sebesar Rp582,00 juta belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan; perusahaan menunggak iuran yang merupakan rekanan PT Jamsostek sehingga merugikan Peserta Program Jaminan Sosial Tenaga

20

BPK-RI/AUDITAMA V

5.1.17 Pengadaan kalender dan agenda sebesar Rp943,25 juta belum sepenuhnya sesuai ketentuan yang berlaku; 5.1.18 Pengadaan dan pendistribusian majalah Jamsostek dengan nilai masingmasing sebesar Rp2.211,00 juta dan Rp1.225,54 juta belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan; 5.1.19 Terdapat tindakan berindikasi manipulasi yang dilakukan oleh sejumlah pegawai PT Jamsostek di Kanwil dan KC serta pihak III dengan taksiran kerugian sekitar Rp10.538,88 juta; 5.1.20 Tindak lanjut hasil pemeriksaan tahun-tahun sebelumnya. 5.2 Peranan Satuan Pengawasan Intern (SPI) Program Kerja Audit Tahunan (PKAT) dan realisasinya pada tahun 2004, adalah sebagai berikut: No. Uraian 1. PKPT 2. Non-PKPT (khusus & tutup buku) Jumlah Target objek 100 100 Realisasi Objek 83 25 108 Realisasi (%) 83% 108%

Dari daftar tersebut diketahui bahwa dari target pelaksanaan audit tahun 2004 yang direncanakan sebanyak 100 objek, yaitu keuangan 65 objek, operasional 35 objek telah berhasil direalisasikan 83 objek dan terdapat tambahan 25 objek.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

21

BPK-RI/AUDITAMA V

Lampiran I PT JAMSOSTEK (PERSERO) PERBANDINGAN REALISASI TAHUN 2004 DENGAN TAHUN SEBELUMNYA (Dalam Jutaan Rupiah) NERACA Aktiva Lancar Investasi Nilai buku Aktiva Tetap Total Aktiva Operasional Aktiva Lain-lain JUMLAH AKTIVA Hutang Lancar (termasuk lancar lainnya) Hutang Jangka Panjang JUMLAH HUTANG Modal JUMLAH KEWAJIBAN DAN MODAL LABA RUGI Pendapatan Iuran Hasil Operasional Anak Perusahaan JUMLAH PENDAPATAN OPERASIONAL Beban Jaminan Beban Cadangan Teknis dan Eskalasi Pendapatan Investasi (-/- beban investasi) Biaya Usaha Hasil Lain-lain - Bersih Bagian Peserta atas hasil investasi LABA SEBELUM PAJAK PAJAK BADAN PENGHASILAN (BEBAN) PAJAK TANGGUHAN LABA SETELAH PAJAK RASIO KEUANGAN (%) Hasil usaha/aktiva operasional Laba bersih/aktiva operasional Likuiditas *) Solvabilitas 2000 157.343 12.289.731 103.337 12.550.411 51.496 12.601.907 113.629 10.810.014 10.923.643 447.672 12.601.907 553.101 19.964 573.065 247.230 307.929 1.134.177 232.861 12.508 725.914 12.508 (2.985) 26.463 35.986 2001 303.592 16.029.645 121.634 16.454.871 81.795 16.536.666 365.434 13.957.799 14.323.233 669.795 16.536.666 2002 378.879 20.675.505 140.458 21.194.842 122.213 21.317.055 210.784 17.932.860 18.143.644 1.304.197 21.317.055 (Dalam Jutaan Rupiah) 2003 2004 527.929 567.242 26.077.554 32.530.266 158.162 185.892 26.763.645 33.283.400 137.279 119.675 26.900.924 33.403.075 132.563 321.791 25.466.854 31.129.555 25.599.123 31.451.346 1.301.801 1.951.729 26.900.924 33.403.075

751.806 19.163 770.969 328.259 313.047 1.922.441 279.130 7.581 1.456.432 7.581 (514) (2.942) 4.125

945.770 18.657 964.427 403.343 325.575 2.966.462 379.991 8.085 1.873.430 8.085 (684) 26.112 33.513

1.094.153 13.923 1.108.076 488.358 377.740 3.329.367 531.334 10.666 2.518.452 532.226 (1.097) 4.108 535.237

1.200.597 6.280 1.206.877 547.683 430.943 3.269.141 598.828 71.223 2.335.047 634.740 (179.916) (33.759) 421.065

0,10 0,29 138,47 115,36

0,05 0,03 83,08 115,45

0,04 0,16 179,75 117,49

1,99 2,00 398,25 105,09

1,91 1,27 176,28 356,66

Lampiran II

PT. Jamsostek (Persero) Rasio-rasio Keuangan Periode Yang Berakhir 31 Desember 2004
No 1 Uraian 2
NERACA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Dana Investasi Aktiva Lancar Aktiva Lancar Non Investasi Aktiva Tetap (Netto) Aktiva Lain-lain Total Aktiva Hutang JHT Hutang Jaminan Cadangan Teknis Kewajiban Kepada Peserta Kewajiban Lancar Total Kewajiban Ekuitas Total Pasiva Aktiva Operasional ( 6 - 5 ) Rata-rata Aktiva Operasional Rata-Rata Dana Investasi LABA (RUGI) 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 Pendapatan Iuran Penerimaan Iuran JHT Pendapatan Operasi PT. Bijak Pembayaran Jaminan Pembayaran Jaminan JHT Beban Cadangan Teknis Pendapatan Investasi (Bruto) Beban Investasi Beban Usaha (diluar Beb Peny & Piutang) Pendapatan Lain Beban Lain Laba Kotor (sblm Bagian Peserta atas Inv) RASIO - RASIO KEUANGAN 1.425.898 4.503.588 17.904 747.573 1.986.375 413.040 3.121.001 128.416 586.863 12.430 480 2.647.120 1.200.598 4.327.298 6.280 547.683 2.082.802 430.943 3.372.992 103.851 537.750 85.063 13.840 2.969.787 32.369.989 476.564 424.186 200.275 333.898 33.380.725 28.795.890 3.098 2.641.012 31.443.359 232.044 245.522 1.459.801 33.380.725 33.046.827 30.389.377 29.793.261 32.530.266 567.242 515.611 185.892 119.675 33.403.076 28.437.555 11.823 2.677.893 31.129.555 321.791 31.451.346 1.951.726 33.403.076 33.283.401 30.019.313 29.303.910

Nilai (dalam jutaan Rp) Target Realisasi 3 4

Nilai Indikator Target Realisasi
5 6

Nilai 7=6/5

Bobot Nilai Bobot 8 9=7x8

Rentabilitas (2 9 / 16 ) Likuiditas ( 2 / 11 ) Solvabilitas ( {1+3} -{7+8+9}) (20% X (8+9))

8,71 205,38 256,07

9,89 176,28 356,66

113,57 52,50% 85,83 120,00 8,75% 8,75%

59,63 7,51 10,50 77,64

Claim Ratio ( 21 / 18 ) Expense Ratio (Real Cost) ( 26/ { 18 + 19 + 20} ) Yield On Investment (YOI - Bruto ) ( 24 / 17 ) Total Nilai Bobot Tingkat Kesehatan

52,43 9,87 10,48

45,62 114,93 9,72 101,55 11,51 109,88

10% 10% 10%

11,49 10,16 10,99 32,64 110,28 Sehat Sekali

*) Berdasarkan SK Menteri Keuangan Nomor 826/KMK.013/1992 Solvabilitas sesuai PP 22 Tahun 2004

1.000.000

32.369.989,41 424.186,04 51.631

28.795.890 3.097,92 2.641.012,49

RKAP 2003 RKAP 2004 rata2 27.216.533,10 32.369.989,41 29.793.261,26 Laba sblm Hak Peserta 2.647.120 8,8850 0,7500 6,66

2.992.585

3.269.141 1,092413749

BPK-RI
LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN PT JAMSOSTEK (PERSERO)
Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2004

KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN dan PENGENDALIAN INTERN

Nomor Tanggal

: 14.B/AUDITAMA V/GA/III/2005 : 31 Maret 2005

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Jln. Gatot Subroto No.31 Jakarta pusat 10210 Telp.(021) 5700380, 5738740, 5720957, 5738727 dan 5704395 s.d 9 Pesawat 511. Fax. (021) 5700380 dan 5723995

DAFTAR ISI I LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN ATAS KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. Laporan Auditor Independen 1 B. Lampiran A 1. Investasi PT Jamsostek pada Obligasi Subordinasi PT Bank Global International Tbk. Sebesar Rp100.000,00 juta dilaksanakan tidak sesuai ketentuan ……………………………………………………. 3 2. PT Jamsostek kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan sebesar Rp682,86 juta dari investasi pada Reksadana Yudistira sebesar Rp10.000,00 juta …………………………………………… 13 3. Prosedur Penempatan Deposito pada PT Bank Global International Tbk. (PT BGIN) dan Bank Dagang Bali (BDB) tidak sesuai ketentuan sehingga Peserta Jamsostek kehilangan kesempatan memperoleh pengembangan dana sebesar Rp6.170,40 juta ……………………… 22 4. Penanaman dana deposito pada Bank Persyarikatan Indonesia (BPI) Sebesar Rp11.500,00 juta tidak dapat dipertanggungjawabkan dan Mempunyai Tingkat Risiko Likuiditas yang Tinggi ……………… 33 5. Pengelolaan dana JHT yang tidak optimal merugikan hak peserta Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja ……………………………… 39 6. Dana cadangan teknis JKM untuk kepentingan fiskal sebesar Rp873.687,15 juta belum diajukan ke Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan (DJLK) untuk disahkan …………………………............... 49 7. Terdapat indikasi penggunaan perangkat lunak oracle yang belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan …………………………………. 50 8. Tindak lanjut hasil pemeriksaan tahun buku 2003 …………………… 52 LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN ATAS KEPATUHAN TERHADAP PENGENDALIAN INTERN A. Laporan Auditor Independen B. Lampiran B 1. Penempatan deposito berjangka yang dilakukan PT Jamsostek belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan ………………………

II

56

59

2. Transaksi penjualan saham JIHD tahun 2004 belum sepenuhnya dilakukan dengan cermat …………………………………………… 3. PT Jamsostek kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan minimal sebesar Rp1.912,81 juta atas hasil investasi deposito yang tidak optimal ……………………………………………………… 4. Pengadaan pengembangan sistem informasi penyusunan anggaran sebesar Rp318.500,00 juta belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan……………………………………………………………. 5. Fungsi Tim Koordinasi Fungsional Pusat Tahun 2004 tidak optimal……………………………………………………………… 6. Terdapat Klaim-klaim Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dari Grup Maspion beserta perusahaan pengerah tenaga kerjanya dan PT Erna Djuliawati yang rasio klaimnya cukup tinggi ………………………. 7. Terdapat perusahaan menunggak iuran yang merupakan rekanan PT Jamsostek sehingga merugikan peserta Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja ……………………………………………………. 8. Terdapat kelalaian menetapkan tingkat suku bunga JHT sehingga PT Jamsostek kelebihan membayar bunga sebesar Rp753,69 juta … 9. Pekerjaan Perencanaan dan konsultansi pengembangan dan implementasi sistem informasi online PT Jamsostek yang dilaksanakan oleh PT Magnus Indonesia senilai Rp5.595,97 juta belum sepenuhnya dilakukan dengan baik ………………………… 10. Pengendalian dan pembinaan atas pengelolaan Program JPK tambahan tidak sesuai dengan ketentuan sehingga ratio klaim tahun 2004 Mencapai 101,73% …………………………………….. 11. Pengadaan Gondola untuk menara Jamsostek sebesar Rp676,50 juta belum sepenuhnya sesuai ketentuan ……………………………… 12. Terdapat renovasi beberapa gedung kantor Jamsostek belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan ……………………………… 13. Pengadaan pekerjaan jasa pemeliharaan server dan database PT Jamsostek sebesar Rp1.955,92 juta belum sepenuhnya mematuhi ketentuan yang berlaku ……………………………………………

67

72

75 79

83

88 90

92

111 114 118

122

14. Pelaksanaan pengadaan perangkat keras komputer senilai Rp2.831,96 juta oleh CV Fartika Prismatama belum sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan ……………………………………… 15. Perencanaan dan evaluasi administrasi atas pengadaan Public Service Announcement (PSA) PT Jamsostek sebesar Rp1.568,05 juta belum sepenuhnya sesuai ketentuan …………………………… 16. Sewa gedung Kantor Cabang Belawan sebesar Rp582,00 juta belum sepenuhnya sesuai ketentuan ……………………………………… 17. Pengadaan kalender dan agenda sebesar Rp943,25 juta belum sepenuhnya sesuai ketentuan yang berlaku……………..………… 18. Pengadaan dan pendistribusian majalah Jamsostek dengan nilai masing-masing sebesar Rp2.211,00 juta dan Rp1.225,54 juta belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan ………….. ………………… 19. Terdapat tindakan berindikasi manipulasi yang dilakukan oleh sejumlah pegawai PT Jamsostek di Kanwi dan KC serta pihak III dengan taksiran kerugian sekitar Rp10.538,89 juta .. 20. Tindak lanjut hasil pemeriksaan tahun-tahun sebelumnya …...………

127

131 135 139

142

148 152

KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Nomor: 14.B/Auditama V/GA/03/2005

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Kami telah mengaudit laporan keuangan konsolidasian PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Persero) (selanjutnya disebut “PT Jamsostek”) dan anak perusahaannya tanggal 31 Desember 2004 dan 2003, dan telah menerbitkan laporan nomor: 14.A/Auditama V/GA/03/2005 tanggal 31 Maret 2005. Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Audit Pemerintahan yang diterbitkan Badan Pemeriksa Keuangan dan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material. Kepatuhan terhadap hukum, peraturan, kontrak, dan bantuan yang berlaku bagi PT Jamsostek merupakan tanggung jawab manajemen. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material, kami melaksanakan pengujian terhadap kepatuhan PT Jamsostek terhadap pasal-pasal tertentu hukum, peraturan, kontrak, dan persyaratan bantuan. Namun, tujuan audit kami atas laporan keuangan adalah tidak untuk menyatakan pendapat atas keseluruhan kepatuhan terhadap pasal-pasal tersebut. Oleh karena itu, kami tidak menyatakan suatu pendapat seperti itu.

BPK-RI / AUDITAMA V

Hasil pengujian kami menunjukkan bahwa, berkaitan dengan unsur yang kami uji, PT Jamsostek mematuhi, dalam semua hal yang material, pasal-pasal yang kami sebut dalam paragraf di atas. Berkaitan dengan unsur yang tidak kami uji, tidak ada satu pun yang kami ketahui yang menyebabkan kami percaya bahwa PT Jamsostek tidak mematuhi dalam semua hal yang material, pasal-pasal tersebut. Kami juga menemukan masalah-masalah tertentu yang tidak material dari ketidakpatuhan PT Jamsostek terhadap pasal-pasal tertentu hukum, peraturan, kontrak, dan persyaratan bantuan disertai saran perbaikannya yang kami kemukakan pada Lampiran A.

Auditor Utama Keuangan Negara V Penanggung jawab Audit,

Drs. Misnoto, Ak., MA Register Negara No. D-1416 Jakarta, 31 Maret 2005

2

BPK-RI / AUDITAMA V

LAMPIRAN A

1. Investasi PT Jamsostek pada Obligasi Subordinasi PT Bank Global International Tbk. sebesar Rp100.000,00 juta dilaksanakan tidak sesuai ketentuan Pengelolaan dan pengembangan kekayaan oleh Badan Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja atau selanjutnya disebut PT Jamsostek dilakukan untuk pemenuhan jaminan, perlindungan dan peningkatan kesejahteraan tenaga kerja beserta keluarganya. Pengelolaan tersebut harus dilakukan secara terarah dan optimal serta hatihati, untuk menjaga keamanan dan keselamatan atas pengembangan kekayaan tersebut. Berdasarkan laporan keuangan tahun 2004 (unaudited), diketahui bahwa portofolio investasi PT Jamsostek per 31 Desember 2004 adalah sebesar Rp32.515.962.818.482,00, yang terdiri dari investasi dan program Jaminan Hari Tua (JHT) sebesar sebesar Rp28.407.161.988.965,00 investasi program Non-JHT

Rp4.108.800.829.516,00 atau masing-masing sebesar 87,36% dan 12,64%, di mana portofolio tersebut terdiri atas instrumen pasar uang, pasar modal dan properti. Atas portofolio tersebut setiap bulan disampaikan oleh Divisi PUPM kepada Direktur Investasi dan ditembuskan kepada Direktur Utama. Salah satu portofolio investasi PT Jamsostek yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) mengenai pengelolaan dan investasi dana Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah dalam bentuk obligasi. Berdasarkan pemeriksaan atas investasi pada tahun 2004 secara uji petik, antara lain diketahui bahwa terdapat investasi program JHT pada PT Bank Global International Tbk (PT BGIN) dalam bentuk obligasi sebesar Rp100.000.000.000,00. PT BGIN didirikan pada tanggal 22 Agustus 1992 dan memulai kegiatan operasionalnya tanggal 23 November 1992 pada segmen ritel dan konsumen, kemudian pada tahun 1997 melakukan penawaran umum saham perdananya kepada publik. Berdasarkan surat Bank Indonesia Nomor.6/38/DPwBI/PwB11/Rahasia tanggal 31 Mei

3

BPK-RI / AUDITAMA V

2004 perihal tingkat kesehatan bank diketahui bahwa tiga bulan terakhir sampai dengan posisi Maret 2004 PT BGIN tergolong sehat. PT BGIN berdasarkan SK Gubernur BI No.7/2/KEP-GBI/2005 tanggal 13 Januari 2005, dicabut ijin usahanya. Hal ini merupakan kelanjutan dari pemberlakuan perlakuan khusus bagi PT BGIN sejak Oktober 2004. Kemudian berdasarkan Rapat Umum Pemegang Obligasi Subordinasi I Bank Global Tahun 2003 pada tanggal 29 Desember 2004 memutuskan perusahaan ini gagal bayar atas pembayaran pokok dan bunganya. Dana PT Jamsostek yang ditempatkan pada PT BGIN sampai dengan pemeriksaan berakhir tanggal 31 Maret 2005 belum atau tidak dapat ditarik dan mengakibatkan kerugian atas investasi tersebut. Berdasarkan pemeriksaan atas permasalahan tersebut diatas, dapat dijelaskan sebagai berikut : Pada tanggal 13 Mei 2003 PT Interasia Securitindo (broker) melalui surat (tidak bernomor) kepada PT Jamsostek (attn:AA/Direktur Investasi) menawarkan obligasi sejumlah Rp100.000.000.000,00 sehubungan dengan rencana penerbitan obligasi subordinasi Global I Tahun 2003. Atas penawaran tersebut di atas Divisi Pasar Uang dan Pasar Modal (PUPM) melalui memo No.M/152/DPUPM/052003 tanggal 14 Mei 2003, meminta kepada Divisi Riset Investasi (DRI) untuk melakukan analisa atas kelayakan investasi pada surat berharga tersebut. Sebagai bahan analisa disertakan surat penawaran, prospektus awal (satu lembar), dan kajian dari PT Artha Pacific Securities sebagai penjamin pelaksana emisi. Kemudian DRI melalui memo No.M/69/DRI/052003 tanggal 19 Mei 2003 kepada Divisi PUPM perihal evaluasi atas penawaran obligasi subordinasi Bank Global I 2003, yang antara lain dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Struktur Penawaran Nilai obligasi Jangka waktu Harga Penawaran : Maksimum 400.000.000.000,00 : 10 tahun : 100% dari nilai nominal obligasi

4

BPK-RI / AUDITAMA V

Rating Indikasi Kupon Pembayaran bunga Jaminan Penggunaan Masa Penawaran b. Hasil evaluasi

: A- dari PT Kasnic Credit Rating Indonesia : Tahun 1-5 : 14,5% pa, Tahun 6-10 : SBI 3 bulan + 4% : triwulanan : Tidak didukung jaminan khusus : Menambah modal kerja dan meningkatkan kualitas pendanaan : 28 Mei s.d 4 Juni 2003.

1) PT BGIN saat ini berkantor pusat di Jakarta, memiliki empat kantor cabang dan delapan kantor kas yang tersebar di Jabotabek. 2) Dilihat dari proyeksi keuangan, asumsi yang digunakan terlihat terlalu optimis, seperti misalnya proyeksi laba bersih tahun 2003, 2004 dan 2005 masing-masing mengalami peningkatan sekitar tiga kali, delapan kali dan 14 kali dari laba bersih tahun 2002. Oleh karenanya, proyeksi keuangan dapat dikatakan cenderung overstated dan tidak menggambarkan kondisi yang sesungguhnya. 3) Surat hutang ini merupakan obligasi subordinasi, apabila dilihat dari senioritas hutangnya, maka obligasi ini merupakan junior debt. Para investor dikhawatirkan akan menanggung risiko yang besar, karena para pemegang senior debt berhak menerima pembayaran penuh seluruh tagihan terlebih dahulu daripada pemegang junior debt apabila terjadi penutupan usaha atau likuidasi bank. 4) Indikasi kupon bunga yang ditawarkan relatif kecil dibandingkan dengan risiko yang dihadapi investor pemegang obligasi subordinasi ini. Selain itu, spread kupon bunga obligasi dibandingkan dengan tingkat bunga deposito maksimal penjaminan BI yang diperoleh PT Jamsostek relatif tipis yakni sekitar 1,50%. 5) Sebagai bank yang memiliki total asset sekitar Rp1.784.000.000.000,00, bank merupakan bank yang relatif kecil dengan cabang yang hanya tersebar di Jabotabek. Oleh karena itu, dengan dimilikinya obligasi subordinasi ini para investor akan memiliki liquidity risk yang besar apabila obligasi tersebut nantinya diperjualbelikan di secondary market.

5

BPK-RI / AUDITAMA V

6) Selain itu, tidak adanya jaminan khusus (clean basis system) atas penerbitan obligasi akan mengakibatkan surat berharga ini menjadi tidak menarik, sehingga dikhawatirkan risiko atas penempatan pada obligasi ini akan menjadi relatif tinggi. c. Rekomendasi Berdasarkan kondisi tersebut di atas, maka atas penawaran obligasi subordinasi Bank Global I tahun 2003 sebaiknya tidak dipertimbangkan sebagai alternatif investasi bagi PT Jamsostek. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut di atas, Direktur Investasi (Sdr. AA) pada tanggal 19 Mei 2003 mengeluarkan disposisi kepada Divisi PUPM/DRI yang isinya Dirinvest tidak berkenan atas evaluasi penawaran tersebut. Kemudian pada tanggal 19 Mei 2003 juga, Divisi PUPM melalui memo No.M/156/DPUPM/052003 kepada Dirinvest menyampaikan kajian (sebagai second opinion, walaupun bukan menjadi tugas dari Divisi PUPM) mengenai Bank Global. Isi kajian tersebut pada kesimpulan dan saran diketahui antara lain sebagai berikut : a. Dilihat dari sisi kupon bunga (14,50%) investasi pada sub debt tersebut cukup menarik, namun bila dilihat dari sisi risiko, baik risiko kondisi perusahaan, industri perbankan, dan risiko jenis efek yang lebih junior dari hutang lain dan dana simpanan pihak ketiga, serta tidak dibolehkannya efek tersebut dijamin oleh aktiva perusahaan, maka investasi pada obligasi subordinasi PT BGIN bukan merupakan instrumen yang dapat dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif investasi. b. Alternatif untuk menurunkan risiko pada investasi tersebut adalah investasi dilakukan dengan tidak melalui pembelian secara langsung melainkan melalui mekanisme Repo atau two outright dengan underlying asset obligasi subordinasi PT BGIN I tahun 2003. Sebagai jaminannya adalah obligasi-obligasi rating A yang dimiliki PT BGIN dengan nilai minimal sama dengan nilai transaksi repo atau two outright tersebut. Dalam transaksi tersebut dapat diterapkan alternatif mekanisme sebagai berikut :

6

BPK-RI / AUDITAMA V

1) Penyelesaian secara bertahap melalui penukaran obligasi dengan deposito berjangka PT BGIN. 2) Atau penjualan obligasi subordinasi ke pasar sekunder oleh PT Jamsostek atau oleh PT BGIN dengan persetujuan kedua belah pihak. Per 31 Desember 2002 efek obligasi yang dimiliki PT BGIN adalah sebesar Rp701.000.000.000,00 yang terdiri atas klasifikasi tersedia untuk dijual sebesar Rp247.000.000.000,00 dan klasifikasi trading sebesar Rp454.000.000.000,00. Atas kajian dari PUPM tanggal 19 Mei 2003 tersebut, Dirinvest pada tanggal 19 Mei 2003 mengeluarkan disposisi kepada Divisi PUPM (Sdr. Y dan Sdr J) yang isinya “lakukan menurut anda yang terbaik bagi perusahaan dan bila perlu batalkan rencana pembelian yang akan dilakukan.” Selanjutnya pada tanggal 26 Mei 2003 terdapat disposisi Kepala Divisi PUPM kepada Kepala Urusan Pasar Modal yang menyatakan bahwa ”buatkan memo tentang kemungkinan-kemungkinan alternatif tersebut, serta cari hal-hal yang positif yang dapat dilakukan.” Akan tetapi, dalam laporan Pemeriksaan Khusus Biro Pengawasan Intern PT Jamsostek tanggal 28 Desember 2004, dinyatakan bahwa disposisi tersebut di atas tidak dilaksanakan, karena kemungkinan dan alternatif yang dimaksud dalam disposisi tersebut telah ada dalam kajian yang dibuat oleh Divisi PUPM sesuai memo tanggal 19 Mei 2003. Kemudian dalam periode tanggal 19 s.d 26 Mei 2003, Divisi PUPM pernah meminta kepada manajemen PT BGIN untuk dapat melakukan repo atau two outright, akan tetapi, PT BGIN tidak menyetujui atas alternatif yang ditawarkan Divisi PUPM. Selanjutnya sesuai Formulir Pemesanan Pembelian Obligasi (FPPO) (tidak bertanggal) pemesanan pembelian obligasi tetap dilakukan sebesar Rp100.000.000.000,00. FPPO tersebut ditandatangani Dirinvest dan diparaf oleh Kepala Divisi PUPM. Pada FPPO tersebut tidak terlihat adanya otorisasi pejabat yang berwenang, yaitu Direktur Utama yang memerintahkan pembelian.

7

BPK-RI / AUDITAMA V

Setelah itu pada tanggal 4 Juni 2003 waktu terakhir masa penawaran obligasi, Direktur Investasi melalui surat No.B/3939/062003 dan No.B/3940/062003 tanggal 4 Juni 2003 yang juga ditandatangani oleh Kepala Divisi PUPM memerintahkan Bank Niaga Custody untuk melakukan transaksi pembelian obligasi subordinasi Bank Global I Tahun 2003 masing-masing sebesar Rp50.000.000.000,00 dengan tanggal settlement yaitu tanggal 5 Juni 2003. Dari penjelasan di atas dapat dikemukakan mengenai pembelian obligasi subordinasi Bank Global I tahun 2003 sebagai berikut : a. Hasil kajian baik dari DRI maupun Divisi PUPM menunjukkan bahwa investasi pada obligasi subordinasi bank Global I Tahun 2003 bukan merupakan instrumen yang dapat dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif investasi. b. Terdapat alternatif menurunkan risiko investasi dengan tidak melalui pembelian secara langsung, melainkan melalui mekanisme repo atau two outright dengan scheme tertentu. Akan tetapi, Divisi PUPM tidak mengetahui bahwa untuk transaksi repo sesuai pedoman pengelolaan investasi hanya boleh untuk obligasi yang mempunyai rating A. Dengan demikian, alternatif investasi yang disarankan Divisi PUPM-pun sebenarnya tidak dapat dilaksanakan. c. Pembelian obligasi tersebut seperti terlihat pada FPPO dan surat No.B/3939/062003 dan No.B/3940/062003 tanggal 4 Juni 2003, terkesan mendadak tanpa dasar kajian yang mendukung investasi tersebut, yang sebelumnya sudah dievaluasi bahwa obligasi subordinasi Bank Global I Tahun 2003 bukan alternatif investasi yang dapat dipertimbangkan. d. Tidak terdapat otorisasi Direktur Utama atas investasi pada obligasi tersebut. Dalam hal ini Dirinvest menetapkan penempatan dananya sendiri melebihi batas kewenangannya, selain itu tidak ada otorisasi dari Direktur Utama dan Direktur Keuangan atas pembayaran transaksi tersebut. Berdasarkan Pedoman Pengelolaan Investasi PT Jamsostek sesuai SK No.KEP/78/042003 tanggal 25 April 2003 seharusnya :

8

BPK-RI / AUDITAMA V

a) Wewenang penempatan dan penjualan dengan nilai nominal lebih besar dari Rp25.000.000.000,00 dilakukan Direktur Utama dan Direktur Investasi. b) Wewenang settlement dengan nominal lebih besar dari Rp25.000.000.000,00 dilakukan Direktur Utama dan Direktur Keuangan & Informasi. Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut atas data yang berkaitan dengan PT BGIN dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Berdasarkan Memo DRI No.M/354/DRI/112004 tanggal 29 November 2004 kepada Direktur Investasi mengenai perbandingan rasio keuangan PT BGIN dengan batasan BI periode Desember 2002 s.d. September 2004 diketahui sebagai berikut :
Rasio CAR Net NPL Rentabilitas : ROA ROE NIM BOPO LDR 1,22% 3,93% 5,76% 89,71% 74,09% 0,51% 2,33% 2,62% 97,65% 32,65% 0,80% 3,61% 1,85% 95,63% 36,68% 0,29% 1,44% 2,45% 99,72% 33,99% >1,5% >8% >6% <92% 85-110% Sept’ 2004 44,84% 0,95% Des’ 2003 42,50% 1,48% Sept’ 2003 30,20% 2,75% Des’2002 29,49% 3,15% Standar BI >8% <5%

b. Peringkat atau rating obligasi Bank Gobal pada penawaran umum obligasi subordinasi sejak tahun 2000 s.d. 2003 adalah sebagai berikut : Juli 2000 Juli 2001 Juli 2002 April 2003 rating BBB rating BBB rating BBB+ rating A-

Kemudian berdasarkan kasnic rating tanggal 9 Agustus 2004 rating obligasi PT BGIN adalah “A-“ dan berdasarkan kasnic rating tanggal 1 Oktober 2004 rating obligasi PT BGIN adalah “A”. Selanjutnya setelah ada permasalahan, rating turun menjadi

9

BPK-RI / AUDITAMA V

BBB, dan turun rating menjadi “D” pada tanggal 13 Januari 2005, saat BI membekukan ijin usaha PT BGIN. c. Berdasarkan laporan Audit KAP Drs. Joseph Susilo No.1005/JS/RN/04 tanggal 5 Maret 2004, Laporan Keuangan PT BGIN pada tahun 2003 mendapat opini “Wajar Tanpa Pengecualian”. d. Berdasarkan informasi dari Majalah InfoBank No.289/Juni 2003/vol.XXV tahun 2003, hasil penilaian Majalah InfoBank memberikan predikat cukup bagus, dan menempatkan urutan ke-60 dari 62 bank berkategori bank dengan aset Rp1.000.000.000.000,00 s.d. Rp20.000.000.000.000,00. Kemudian berdasarkan hasil penilaian Majalah InfoBank No.303/Juni 2004/vol.XXVI tahun 2004, memberikan predikat cukup bagus, dan menempatkan PT BGIN pada urutan ke-75 dari 80 bank berkategori bank dengan modal Rp100.000.000.000,00 s.d. Rp10.000.000.000.000,00. Kedua nilai tersebut di atas dibawah nilai rata-rata nasional. Kondisi tersebut di atas tidak sesuai dengan : a. PP No.28 Tahun 1996 tentang Pengelolaan dan Investasi Dana Program Jamsostek, yang antara lain menetapkan bahwa untuk menjamin pemenuhan hak-hak peserta program jaminan sosial tenaga kerja, maka dana dari iuran peserta perlu diinvestasikan dan dikelola secara terarah dan menganut prinsip kehati-hatian. b. SK Direksi No.KEP/78/042003 tanggal 25 April 2003, tentang pedoman pengelolaan investasi PT Jamsostek, yang antara lain menetapkan bahwa : 1) Tujuan investasi dari masing-masing sumber dana JHT dan Non-JHT dipisah mengingat kedua sumber dana memiliki karakteristik yang berbeda atas kebutuhan likuiditas dan toleransi terhadap risikonya. Adapun tujuan investasi program JHT yaitu mencapai tingkat risiko yang dapat diterima oleh perusahaan yakni konservatif. 2) Filosofi investasi merupakan dasar pemikiran yang menjiwai aktivitas investasi sehari-hari PT Jamsostek yang dinyatakan dalam visi investasi yang prudent.

10

BPK-RI / AUDITAMA V

PT Jamsostek mengedepankan prinsip keamanan, kehati-hatian, dan hasil dalam melakukan aktivitas investasi yang dicerminkan melalui sikap profesional, independen, pengembangan kompetensi sumber daya manusia dan terlaksananya prinsip kepatuhan dari pelaku aktivitas investasi. 3) Salah satu standar kehati-hatian, yaitu prinsip kepatuhan adalah bahwa setiap proses pengambilan keputusan investasi yang dilakukan harus selalu mengacu kepada peraturan hukum yang berlaku, Garis Besar Kebijakan Investasi (GBKI), Strategi alokasi aset serta SOP yang berhubungan dengan aktivitas investasi. Hal tersebut mengakibatkan: a. Penempatan investasi PT Jamsostek pada PT BGIN merugikan minimal sebesar Rp103.625.000.000,00, yaitu minimal sebesar pokok obligasi sebesar Rp100.000.000.000,00 ditambah kupon bunga obligasi sejak tanggal 7/12/2004 s.d. 6/3/2005 sebesar Rp3.625.000.000,00. b. Tujuan investasi pada PT BGIN berupa obligasi, yaitu untuk memberikan peningkatan manfaat bagi peserta dan keluarganya, serta pemegang saham tidak tercapai Kondisi di atas disebabkan : a. Investasi pada obligasi subordinasi Bank Global I tahun 2003 cenderung dipaksakan dan adanya itikad tidak baik untuk tidak mematuhi prosedur dan ketentuan yang berlaku. b. Divisi PUPM yang mengetahui bahwa investasi pada obligasi tersebut tidak layak, tidak mencegah transaksi pembelian obligasi tersebut. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa obligasi subordinasi I PT BGIN dibeli berdasarkan pertimbangan informasi dari penawaran obligasi tersebut yaitu : a. Rating Obligasi “A”, yang berarti surat hutang berkualitas tinggi.

11

BPK-RI / AUDITAMA V

b. Bunga tahun 1 s.d. 5 sebesar 14,50% (lebih tinggi 1,50% dari bunga deposito maksimal penjaminan BI), tahun 6 s.d. 10 mengambang sebesar bunga SBI jangka waktu 3 Bulan + premi 4,00% pertahun. c. Sinking Fund ulang tahun 1 s/d 5 masing-masing sebesar 5% dari total obligasi, ulang tahun ke 6 s/d10 masing-masing sebesar 15,00% dari total obligasi. d. Berdasarkan surat BI tanggal 31 Mei 2004, Bank Global dinyatakan Sehat. e. Majalah InfoBank Juni 2004 mengkategorikan PT BGIN sebagai bank yang Cukup Bagus dan salah satu bank yang melewati krisis tanpa suntikan BLBI. f. Untuk mekanisme repo tidak dilaksanakan karena pihak PT BGIN tidak setuju. Sesuai SK Direksi No.Kep/78/042003 tanggal 25 April 2003, seharusnya ada otorisasi dari Direktur Utama terhadap pembelian Obligasi, tetapi mengingat peraturan tersebut masih relatif baru maka ada kemungkinan pejabat terkait tidak menyadari telah melanggar aturan tersebut. Untuk masa yang akan datang Direktorat Investasi dalam penempatan dananya akan berpedoman pada aturan-aturan yang ada. Sejak November 2004 PT Jamsostek akan menjual obligasi tersebut karena adanya rumor bahwa bank tersebut bermasalah, namun di pasar tidak ada pembeli yang material. Upaya recovery yang maksimal akan ditempuh PT Jamsostek bersama pemegang obligasi lainnya yang berjumlah 29 investor, antara lain telah menunjuk Konsultan Hukum Karimsyah & Patners untuk melakukan upaya hukum. Direktur Utama PT Jamsostek telah memerintahkan BPI melakukan Audit Investigasi, yang laporannya telah diterbitkan tanggal 28 Desember 2004. Tindak lanjut atas hasil audit tersebut, Direksi telah memberikan sanksi berupa penurunan golongan dan grade Mantan Kepala Divisi PUPM, penundaan kenaikan golongan mantan Kepala Urusan Pasar Modal, dan penundaan kenaikan gaji berkala dealer Pasar Modal. Default obligasi PT BGIN disebabkan adanya tindakan manipulasi data/informasi dan window dressing oleh Management PT BGIN. BI tidak cepat mengetahui tindakan tersebut. Gubenur BI dalam rapat kerja dengan Komisi Keuangan dan Perbankan tanggal 14 Februari 2005 menyatakan bahwa mereka gagal mengawasi PT BGIN. Selain itu KAP

12

BPK-RI / AUDITAMA V

Joseph Soesilo tidak dapat mendeteksi kecurangan yang dilakukan PT BGIN, sehingga opini Laporan Keuangan PT BGIN tahun 2003 adalah WTP. Dan Kasnic Rating Agency sebagai lembaga pemeringkat secara kontinyu terus meningkatkan rating dari “BBB-“ tahun 2001, “BBB” tahun 2002, “A-“ tahun 2003 dan “A” tahun 2004. BPK-RI menyarankan agar : a. Menteri BUMN meminta pertanggungjawaban Direksi atas kerugian yang terjadi. b. Di masa yang akan datang dalam melakukakan investasi, Direksi PT Jamsostek harus selalu berpedoman kepada ketentuan-ketantuan yang telah ditetapkan.

2. PT Jamsostek kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan sebesar Rp682,86 juta dari investasi pada Reksadana Yudistira sebesar Rp10.000,00 juta Berdasarkan laporan keuangan tahun 2004 (unaudited), diketahui bahwa portofolio investasi PT Jamsostek per 31 Desember 2004 adalah sebesar Rp32.515.962.818.482,00 yang terdiri atas investasi program JHT sebesar Rp28.407.161.988.966,00 dan investasi program Non-JHT sebesar Rp4.108.800.829.516,00 atau masing-masing sebesar 87,36% dan 12,64%. Portofolio tersebut terdiri atas instrumen pasar uang, pasar modal dan properti. Salah satunya dalam bentuk reksadana, yaitu investasi surat berharga yang dikelola oleh manajer investasi sebesar Rp278.824.947.967,00 atau 92,94% dari RKAP tahun 2004 sebesar Rp300.000.000.000,00. Apabila dibandingkan dengan jumlah reksadana per 31 Desember 2003 sebesar Rp131.604.991.065,00 naik sebesar 111,87%. Berdasarkan pemeriksaan secara uji petik atas portofolio reksadana dari program JHT diketahui bahwa terdapat reksadana Bima yang dikelola oleh manajer investasi PT Pentasena Arthatama (PT PA) yang pada tahun 2004 telah di-redeem atau dijual kembali kepada PT PA. Kronologis penempatan dana dalam reksadana Bima tersebut adalah sebagai berikut :

13

BPK-RI / AUDITAMA V

Pada tahun 1997 PT PA melalui surat No.014/PAT/I/97 tanggal 15 Januari 1997 menyampaikan penawaran kepada PT Jamsostek untuk menjadi sponsor reksadana yang diterbitkan oleh PT PA yaitu reksadana Yudistira, reksadana Bima, dan reksadana Arjuna. Kemudian Divisi Investasi melalui memo Divisi investasi No.M/173/DI/0397 tanggal 20 Maret 1997 kepada Direktur Keuangan dan Investasi tembusan kepada Direktur Utama, mengusulkan untuk ikut berpartisipasi pada reksadana Yudistira, dengan back up sebagian besar efek hutang pasar modal dan sebagian kecil instrumen pasar uang sebesar Rp10.000.000.000,00. Usul tersebut disetujui Direktur Utama sesuai disposisi tanggal 21 Maret 1997, dan pembayarannya pada tanggal 24 Maret 1997 melalui Bank Ekspor Impor masing-masing sebesar Rp3.000.000.000,00, Rp3.500.000.000,00, dan Rp3.500.000.000,00. Kemudian sesuai facsimile PT PA tanggal 1 April 1997, diketahui bahwa kepemilikan PT Jamsostek atas reksadana Yudistira adalah sebagai berikut : a. Tanggal Penempatan b. Nilai Aktiva Bersih/NAV c. Fee d. Jumlah Unit Penyertaan : 25 Maret 1997 : Rp1.005,44/unit : 0,5% : 9.896.412,2735 unit

Selanjutnya pada tanggal 8 April 1998 reksadana Yudistira tersebut dikonversi ke reksadana Bima. Dari surat PT PA No.050/PAT/MKT-SD/IV/98 tanggal 21 April 1998 diketahui mengenai konversi sebagai berikut : a. Penjualan kembali (redemption) reksadana Yudistira : Jumlah unit penyertaan NAV pada saat redemption Nilai penjualan kembali Nilai Pembelian kembali Jumlah unit penyertaan : 9.896.412,2735 : Rp453,41 : Rp4.487.132.288,93 : Rp4.487.132.288,93 : 5.518.209,7878

b. Pembelian kembali (subscription) reksadana Bima NAV pada saat subscription : Rp813,15

14

BPK-RI / AUDITAMA V

Pada tanggal 17 Januari 2003 Divisi Riset Investasi (DRI) melalui memonya No.M/03/DRI/012003 kepada Direktur Investasi menyampaikan evaluasi kinerja instrumen investasi reksadana sampai akhir tahun 2002, yang antara lain menyatakan bahwa terdapat jenis reksadana yang sangat sedikit memiliki potensi pertumbuhan, seperti reksadana Bima yang memberikan hasil 0,65% setahun. Atas reksadana tersebut diusulkan untuk dilakukan pelepasan. Berdasarkan memo DRI tersebut, pada tanggal 23 Januari 2003 PT Jamsostek menjual reksadana Bima sebanyak 1.207.024,4386 unit dari 5.518.209,7878 unit yang dimilikinya dengan harga jual sebesar Rp980,24/unit atau seluruhnya sebesar Rp1.183.173.635,69. Kemudian pada tanggal 8 Desember 2003 PT Jamsostek kembali menjual sisa reksadana sebanyak 4.311.185,3492 unit. PT PA melalui surat No.12/PAT/DIR/XII/2003 tanggal 12 Desember 2003 menyampaikan bahwa pelunasan tahap pertama untuk sejumlah 1.000.000 unit akan dilaksanakan tanggal 22 Desember 2003 dengan NAV per unit tanggal 12 Desember 2003, karena PT PA sedang menjual sebagian besar portofolio reksadana Bima yang berbentuk saham dan juga sambil menunggu masa jatuh tempo deposito yang ditempatkan. Akan tetapi, PT Jamsostek tidak menyetujui usulan PT PA dan menyampaikan usulan pencairan sebagai berikut : Jumlah 20% dari Total NAV 20% dari Total NAV 20% dari Total NAV 20% dari Total NAV 20% dari Total NAV Tanggal NAV 9 Desember 2003 10 Desember 2003 11 Desember 2003 12 Desember 2003 13 Desember 2003 Tanggal Pembayaran 18 Desember 2003 19 Desember 2003 22 Desember 2003 23 Desember 2003 24 Desember 2003

Sesuai surat PT Jamsostek No.B/646/012004 tanggal 20 Januari 2004, diketahui bahwa PT Jamsostek baru menerima hasil penjualan untuk 1.000.000 unit (berdasarkan formulir penjualan kembali tanggal 4 Agustus 2004 harga per unitnya sebesar Rp1.241,48, sehingga diperoleh harga pelunasan sebesar Rp1.229.065.200,00 setelah dikurangi redemption fee 1%). Sedangkan sisanya sebanyak 3.311.185,3492 unit belum diterima. 15 BPK-RI / AUDITAMA V

Pada tanggal 16 Juli 2004 PT PA mengajukan hal-hal mengenai penyelesaian redemption reksadana Bima, antara lain berdasarkan data per tanggal 14 Juli 2004 disebutkan bahwa : Saldo unit penyertaan PT Jamsostek NAV NAV per unit Redemption fee NAV Jamsostek Net - Dana Tunai - Bonus enam golf membership @Rp247.500.000,00 Total Kemudian pada tanggal 30 Juli 2004 : 3.311.185,3492 unit : Rp1.985.949.636,89 : Rp599,77 : Rp19.859.496,00 : Rp1.966.090.141,00 Rp1.966.090.141,00 Rp1.485.000.000,00 Rp3.451.090.141,00 PT Jamsostek melalui surat

Pada saat redemption, PT PA akan menyerahkan sebagai berikut :

No.B/6511/072004 memberitahukan persetujuan skema penyelesaian yang diusulkan oleh PT PA dengan NAV per tanggal 14 Juli 2004 sebesar Rp599,77/unit, dan dana tunai sebesar Rp1.966.090.141,00 akan ditransfer ke rekening PT Jamsostek, sedangkan sisanya sebesar Rp1.485.000.000,00 dalam bentuk enam golf membership atas nama corporate, yaitu lima Direksi dan satu Kepala Divisi. Berdasarkan penjelasan di atas dan pemeriksaan lebih lanjut, diketahui hal-hal sebagai berikut : a. Pada saat terjadi konversi dari reksadana Yudistira kepada reksadana Bima telah terjadi kerugian investasi sebesar Rp5.512.867.711,07 (Rp10.000.000.000,00 Rp4.487.132.288,93) atas penurunan NAV per tanggal konversi 20 April 2004 sebesar Rp4.487.132.288,93 Rp1.005,44/unit). (NAV sebesar Rp453,41/unit) dibandingkan pada saat penempatan awal tanggal 25 Maret 1997 sebesar Rp10.000.000.000,00 (NAV sebesar

16

BPK-RI / AUDITAMA V

Seharusnya berdasarkan PP tentang pengelolaan dan investasi dana program jaminan sosial tenaga kerja antara lain dinyatakan bahwa pengelolaan dana program jaminan sosial tenaga kerja oleh Badan Penyelenggara semata-mata untuk kepentingan peserta. Selanjutnya pengelolaan dana tersebut wajib mempertimbangkan tingkat keamanan, tingkat hasil, dan tingkat likuiditas sesuai dengan kewajiban yang harus dipenuhi. b. Berdasarkan memo DRI No.M/03/DRI/012003 tanggal 17 Januari 2003 perihal evaluasi kinerja instrumen reksadana sampai dengan tahun 2002, antara lain dinyatakan bahwa terdapat jenis reksadana yang sangat sedikit memiliki potensi pertumbuhan, seperti reksadana Bima yang memberikan hasil 0,65% setahun. Atas reksadana tersebut diusulkan untuk dilakukan pelepasan (redemption). Akan tetapi, PT Jamsostek pada bulan Januari 2003 hanya melakukan penjualan sebanyak 1.207.024,4386 unit dari jumlah yang dimilikinya sebanyak 5.518.209,7878 unit dengan harga jual sebesar Rp980,24/unit, lebih tinggi dibandingkan pada NAV per tanggal 20 April 1998 (saat konversi) sebesar Rp813,15/unit. c. Pada saat pengajuan pencairan sesuai formulir penjualan kembali reksadana tanggal 8 Desember 2003 atas sisa sebanyak 4.311.185,3492 unit, yang kemudian sesuai surat PT Jamsostek tanggal 15 Desember 2003 dilunasi secara bertahap yaitu lima tahap sejak tanggal 18 s.d 24 Desember 2003 masing-masing 20% dari NAV. Namun, PT PA hanya melakukan pelunasan atas 1.000.000 unit dengan harga sebesar Rp1.241,48/unit, sehingga apabila sesuai pengajuan penjualan kembali sebanyak 4.311.185,3492 unit dilunasi oleh PT PA, maka PT Jamsostek akan menerima dana pelunasan kurang lebih sebesar Rp5.352.250.387,32 (Rp1.248,48x 4.311.185,3492 unit-fee 1%). Akan tetapi, PT Jamsostek tidak melakukan usaha yang optimal untuk menagih yang menjadi haknya sesuai transaksi yang telah disepakati. d. Pada tanggal 16 Juli 2004 PT PA menyampaikan surat mengenai penyelesaian atas redemption reksadana Bima, atas penyelesaian tersebut diketahui bahwa PT PA menawarkan penyelesaian pada saat harga per unit merosot tajam ke harga Rp599,77. Penyelesaian tersebut mengakibatkan kerugian besar pada PT Jamsostek, karena PT PA tidak dapat memenuhi usulan yang diajukan PT Jamsostek pada bulan

17

BPK-RI / AUDITAMA V

Desember 2003, di mana harga per unit pada bulan Desember 2003 adalah sebesar Rp1.241,48. e. Pada penyelesaian atas redemption reksadana terakhir pada tanggal 30 Juli 2004 sesuai surat PT Jamsostek No.B/6511/072004, diketahui bahwa dana pelunasan yang diterima adalah sebesar Rp1.966.090.141,00 (Rp599,77x3.311.185,3492 unit) berupa dana tunai ditambah dengan enam keanggotaan golf senilai Rp1.485.000.000,00, sehingga realisasi nilai per unit penyertaan adalah sebesar Rp1.042,25 per unit (Rp3.451.090.141/3.311.185,3492). Berdasarkan PP tentang pengelolaan dan investasi dana program jaminan sosial tenaga kerja antara lain dinyatakan bahwa pengelolaan dana program jaminan sosial tenaga kerja oleh Badan Penyelenggara semata-mata untuk kepentingan peserta. Selanjutnya berdasarkan pedoman pengelolaan investasi pada Garis Besar Kebijakan Investasi antara lain ditetapkan bahwa tujuan investasi adalah memberikan peningkatan manfaat bagi peserta dan keluarganya serta pemegang saham. Dana JHT merupakan dana tabungan peserta yang pada dasarnya merupakan hutang kepada peserta, investasi dan hasil pengembangannya diharapkan dapat memberikan kemampuan kepada perusahaan didalam membayar klaim hutang JHT. Sedangkan jaminan keanggotaan golf yang diperuntukkan bagi sebagian pejabat-pejabat yang ada di lingkungan PT Jamsostek, tidak memberikan manfaat bagi peserta. Berdasarkan poin 4, 5 dan 6, PT Jamsostek masih kurang optimal mengusahakan pencairan sesuai usulan bulan Desember 2003, sehingga kurang menerima hasil dari pencairan reksadana Bima sebesar Rp682.858.543,77 {3.311.185,35 x (Rp1.248,48 Rp3.451.090.141,00)}. f. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2003 diketahui bahwa PT Jamsostek telah mempunyai jaminan keanggotaan golf sebesar Rp1.407.238.080,00. Dengan adanya tambahan nilai dan jaminan dari keanggotaan golf tahun 2004 sebesar sebesar Rp215.572.500,00 transaksi penyelesaian reksadana

Rp1.485.000.000,00, maka nilai keanggotaan golf pada tahun 2004 menjadi sebesar

18

BPK-RI / AUDITAMA V

Rp3.107.810.580,00. Hal tersebut dapat mengakibatkan terdapat kelebihan atas jaminan keanggotaan golf dari yang sesungguhnya diperlukan. g. Pada surat PT PA No.009/PAT/DIR/VII/04 tanggal 16 Juli 2004 perihal penyelesaian redemption reksadana Bima, antara lain diketahui bahwa aset dan kewajiban yang dimiliki reksadana Bima adalah sebagai berikut : 1) Obligasi SMDM harga pasar 21% 2) Saham 3) Cash in bank 4) Deposito 5) Piutang Deviden 6) Accrued interest 7) Prepaid tax 8) Kewajiban Total NAV Rp 630.000.000,00 Rp 2.870.700,00 Rp 491.838.147,00 Rp1.005.458.263,00 Rp Rp Rp (Rp 6.460,00 1.349.068,00 25.104.019,00 33.280.770,00)

Rp2.123.345.887,00

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa portofolio investasi reksadana Bima sebagian besar adalah pada deposito yaitu sekitar 47,00%, saham sebesar 0,14% dan pada obligasi sebesar 29,67%. Berdasarkan surat penawaran PT PA pada tanggal 15 Januari 1997 diketahui bahwa karakteristik dari reksadana Bima adalah 100% pada efek ekuitas yang blue chip dan maksimal 20,00% pada efek pendapatan tetap. Selain itu, diketahui bahwa obligasi SMDM adalah obligasi yang telah jatuh tempo tahun 2002. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa PT PA sebagai pengelola reksadana Bima tidak menginvestasikan dana sesuai dengan surat penawaran. Dalam pengelolaan investasi, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: a. Berdasarkan PP tentang pengelolaan dan investasi dana program jaminan sosial tenaga kerja antara lain dinyatakan bahwa pengelolaan dana program jaminan sosial tenaga kerja oleh Badan Penyelenggara semata-mata untuk kepentingan peserta. Selanjutnya

19

BPK-RI / AUDITAMA V

pengelolaan dana tersebut wajib mempertimbangkan tingkat keamanan, tingkat hasil, dan tingkat likuiditas sesuai dengan kewajiban yang harus dipenuhi. b. Berdasarkan pedoman pengelolaan investasi PT Jamsostek dalam SK Direksi No.KEP/78/042003 tanggal 25 April 2003, antara lain tentang Garis Besar Kebijakan Investasi (GBKI) ditetapkan bahwa : 1) Tujuan investasi adalah memberikan peningkatan manfaat bagi peserta dan keluarganya serta pemegang saham. 2) Dana JHT merupakan dana tabungan peserta yang pada dasarnya merupakan hutang kepada peserta, investasi dan hasil pengembangannya diharapkan dapat memberikan kemampuan kepada perusahaan dalam membayar klaim hutang JHT. 3) Filosofi investasi merupakan dasar pemikiran yang menjiwai aktivitas investasi sehari-hari PT Jamsostek yang dinyatakan dalam visi investasi yang prudent. PT Jamsostek mengedepankan prinsip keamanan, kehati-hatian, dan hasil didalam melakukan aktivitas investasi yang dicerminkan melalui sikap profesional, independen, pengembangan kompetensi sumber daya manusia dan terlaksananya prinsip kepatuhan dari pelaku aktivitas investasi. Kondisi di atas mengakibatkan tujuan investasi tidak tercapai, dan PT Jamsostek kehilangan kesempatan menerima pendapatan sebesar Rp682.858.543,77 dari seharusnya diterima jika NAV yang diakui sebesar Rp1.248,48 per unit penyertaan dibandingkan total pencairan yang diterima sebesar Rp3.451.090.141,00. Hal tersebut terjadi karena PT Jamsostek tidak melakukan analisa secara khusus atas penempatan dan penjualan kembali pada reksadana Bima, dan tidak optimal dalam melakukan usaha penjualan kembali reksadana Bima untuk memperoleh keuntungan atau memperkecil kerugian yang terjadi.

20

BPK-RI / AUDITAMA V

Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa pada saat pembelian tahun 1997 PT Jamsostek belum memiliki aturan yang komprehensip seperti PP 22 tahun 2004 dan Pedoman Pengelolaan Investasi sesuai SK Direksi No.KEP/78/042003 tanggal 25 April 2003 yang mengatur GBKI. Reksadana Yudistira di konversi ke Bima karena kinerja reksadana Yudistira sangat menurun dan dikhawatirkan akan mengalami penurunan yang lebih besar lagi, hal ini terbukti seperti dijelaskan pada tabel berikut : Tahun NAV 1998 390,63 1999 440,73 2000 392,84 2001 386,71 2002 279,30 2003 85,75

Usaha penyelamatan telah dilakukan secara maksimal yaitu : a. Redemption jumlah unit sisa telah dilakukan pada tanggal 23 Januari dan 8 Desember 2003, tetapi direalisir sebagian oleh PT PA dengan alasan kesulitan likuiditas. b. PT Jamsostek telah menyurati PT PA tanggal 15 dan 19 Desember 2003 dan 20 Januari 2004, akan tetapi baru dijawab tanggal 16 Juli 2004, pada saat itu NAV Bima sebesar 599,77. Karena NAV tanggal 16 Juli 2004 lebih kecil dibandingkan dengan NAV 22 Desember 2003 sebesar 1.241,48 (redemtion sebelumnya), untuk meminimalkan kerugian dilakukan negosiasi untuk meminta tambahan dana/kompensasi. Hasil negosiasi diberikan enam membership golf dengan nilai Rp1.485.000.000,00. Apabila membership golf tidak diambil, dikhawatirkan akan mengalami kerugian yang lebih besar, karena PT PA tidak memiliki aset lain. Membership golf tersebut adalah untuk korporate, Rancamaya golf mewajibkan terhadap member tersebut ada penanggung jawabnya yang dapat diganti. Membership golf tersebut dapat diperjual belikan, dan PT Jamsostek akan melakukan upaya menjualnya dengan harga yang optimal. Portofolio reksadana Bima yang ada adalah portofolio yang masih tersisa yang dimiliki PT PA. dan harga obligasi SMDM sebesar 21,00% dilihat cukup wajar karena pada tanggal 11 juni 2002 diperdagangkan dengan harga 23,50 %.

21

BPK-RI / AUDITAMA V

Ke depan PT.Jamsostek dalam melakukan penempatan dananya akan berpedoman pada ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek dalam melakukan penjualan atas surat berharga selalu berpedoman kepada ketentuan yang berlaku, antara lain dengan melakukan kajian secara cermat, sehingga dapat dipertanggungjawabkan, memperoleh keuntungan atau meminimalisir kerugian yang terjadi ketika melakukan cut off. Selain itu, untuk jaminan keanggotaan golf agar dilakukan upaya penjualan yang optimal untuk memperoleh harga yang paling baik bagi perusahaan.

3. Prosedur penempatan deposito pada PT Bank Global International Tbk. (PT BGIN) dan Bank Dagang Bali (BDB) tidak sesuai ketentuan sehingga peserta Jamsostek kehilangan kesempatan memperoleh pengembangan dana sebesar Rp6.170,40 juta Pengelolaan dan pengembangan kekayaan Badan Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja atau disebut PT Jamsostek dilakukan untuk pemenuhan jaminan, perlindungan dan peningkatan kesejahteraan tenaga kerja beserta keluarganya. Pengelolaan tersebut harus dilakukan secara terarah dan optimal serta hati-hati, untuk menjaga keamanan dan keselamatan atas pengembangan kekayaan tersebut. Berdasarkan laporan keuangan tahun 2004 (unaudited), diketahui bahwa portofolio investasi PT Jamsostek per 31 Desember 2004 adalah sebesar Rp32.515.962.818.482,00, yang terdiri dari investasi dan program Jaminan Hari Tua (JHT) sebesar sebesar Rp28.407.161.988.965,00 investasi program Non-JHT

Rp4.108.800.829.516,00 atau masing-masing sebesar 87,36% dan 12,64%, di mana portofolio tersebut terdiri dari instrumen pasar uang, pasar modal dan properti. Dari dana investasi JHT tersebut yang ditanamkan dalam bentuk deposito berjangka per 31 Desember 2004 adalah sebesar Rp13.483.872.394.111,00 atau sebesar 40,50% dari seluruh dana investasi JHT.

22

BPK-RI / AUDITAMA V

Pengelolaan investasi di PT Jamsostek dilaksanakan oleh Direktorat Investasi yang dipimpin oleh Direktur Investasi. Untuk penempatan investasi dalam bentuk deposito berjangka dikelola oleh Divisi Pasar Uang dan Pasar Modal (PUPM). a. Penempatan pada PT BGIN Berdasarkan pemeriksaan atas investasi pada tahun 2004 secara uji petik, antara lain diketahui bahwa terdapat investasi program JHT pada PT BGIN dalam bentuk deposito sebesar Rp295.502.000.000,00. PT BGIN didirikan pada tanggal 22 Agustus 1992 dan memulai kegiatan operasionalnya tanggal 23 November 1992 pada segmen ritel dan konsumen, kemudian pada tahun 1997 melakukan penawaran umum saham perdananya kepada publik. PT BGIN berdasarkan SK Gubernur BI No.7/2/KEP-GBI/2005 tanggal 13 Januari 2005, di cabut ijin usahanya. Hal ini merupakan kelanjutan dari pemberlakuan perlakuan khusus bagi PT BGIN sejak Oktober 2004. Untuk deposito pada Bank Global telah dapat dicairkan pada tanggal 9 Maret 2005. Lebih lanjut dari memo Unit Manajemen Risiko No.M/51/UMR/062001 tanggal 8 Juni 2001 yang dibuat oleh analis (Sdr. RH) kepada Dirinvest perihal laporan Evaluasi PT Bank Global International Tbk, antara lain diketahui : 1) Bank Global yang memfokuskan pada segmen ritel dan konsumen ternyata belum maksimal dalam menyalurkan kreditnya, walaupun pada tahun 2000 terjadi peningkatan. 2) Dengan menggunakan ukuran rasio keuangan perusahaan yaitu likuiditas, rentabilitas dan kecukupan modal, menunjukkan kondisi keuangan perusahaan cukup baik, akan tetapi rasio Return On Asset (ROA) mengalami penurunan yaitu 0,44% per 31 Desember 1999 menjadi 0,22% per 31 Desember 2000 dan berada di bawah standar Bank Indonesia yaitu >1,50%. Melihat kondisi tersebut di atas, maka sebaiknya tidak dilakukan penempatan dana baru pada Bank Global. Pada memo diatas diinformasikan bahwa per tanggal 8 Juni 2001 penempatan pada Bank Global adalah sebesar Rp39.450.000.000,00.

23

BPK-RI / AUDITAMA V

Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut atas penempatan deposito Bank Global sejak tahun 2001 s.d. 2004 diketahui bahwa : 1) Terdapat penempatan deposito pada Desember tahun 2001 sebesar Rp95.550.000.000,00, kemudian pada tahun 2002, 2003, dan 2004 masing-masing sebesar Rp268.702.000,00, Rp298.302.000.000,00, dan Rp295.502.000.000,00. Penempatan deposito pada tahun 2002, 2003 dan 2004 berasal dari perpanjangan deposito tahun sebelumnya, perpindahan dari deposito pada bank lain dan adanya penempatan baru. 2) Dilihat dari daftar penempatan deposito diketahui bahwa setelah dikeluarkan memo Unit Manajemen Risiko (UMR) tanggal 8 Juni 2001 di atas masih tetap dilakukan penempatan yang dimulai pada tanggal 11 Juni 2001. Berkaitan dengan hal tersebut dapat dikemukakan bahwa penempatan yang dilakukan setelah dikeluarkannya memo UMR tanggal 8 Juni 2001, tetap dilakukan dengan mengabaikan hasil evaluasinya. Sebelum Memo UMR tanggal 8 Juni 2001 tersebut di atas, terdapat Memo Divisi PUPM No.M/15/DPUPM/032001 tanggal 23 Maret 2001 yang ditandatangani oleh Penjab. Divisi PUPM (Sdr. SRB) kepada Direktur Investasi perihal laporan evaluasi PT BGIN, yang antara lain menyatakan bahwa dengan menggunakan ukuranukuran rasio keuangan perusahaan yaitu likuiditas, rentabilitas dan kecukupan modal, menunjukkan kondisi keuangan PT BGIN secara umum dapat dikatakan baik, maka penempatan deposito pada PT BGIN dapat dipertimbangkan. Akan tetapi, apabila diteliti lebih lanjut bahwa ROA memang terjadi peningkatan yaitu dari 1,16% per 30 September 1999 menjadi 1,35% pada 30 September 2000, tetapi masih di bawah standar BI yaitu sebesar >1,50%. Dengan demikian, disimpulkan bahwa analisa Divisi PUPM belum cukup kuat untuk menyarankan penempatan deposito pada PT BGIN, karena hanya didasarkan pada rasio kecukupan modal yang menurut analisa tinggi sekali, yaitu per 30 September 1999 dan 2000 masing-masing sebesar 71,79% dan 61,21%, sedangkan standar BI hanya sebesar >4,00%.

24

BPK-RI / AUDITAMA V

Selanjutnya DRI melalui Memo No.M/354/DRI/11204 tanggal 29 November 2004 kepada Direktur Investasi antara lain menyatakan mengenai perbandingan rasio keuangan PT BGIN dengan batasan BI periode Desember 2002 s.d. September 2004 diketahui sebagai berikut :
Rasio CAR Net NPL Rentabilitas : ROA ROE NIM BOPO LDR Sept’ 2004 44,84% 0,95% 1,22% 3,93% 5,76% 89,71% 74,09% Des’ 2003 42,50% 1,48% 0,51% 2,33% 2,62% 97,65% 32,65% Sept’ 2003 30,20% 2,75% 0,80% 3,61% 1,85% 95,63% 36,68% Des’2002 29,49% 3,15% 0,29% 1,44% 2,45% 99,72% 33,99% Standar BI >8% <5% >1,5% >8% >6% <92% 85-110%

Selanjutnya bahwa dengan mempertimbangkan kinerja keuangan dilihat dari aspek pendanaan, pertumbuhan aset, rentabilitas bank tersebut sejak Desember 2002 mengalami penurunan dan di bawah standar BI, maka penempatan deposito pada PT BGIN perlu dikurangi secara bertahap. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dari memo-memo analisa di atas, kinerja keuangan berdasarkan rasio-rasio keuangan PT BGIN tidak cukup baik, sehingga keputusan penempatan belum sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan. Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut atas data yang berkaitan dengan PT BGIN dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Berdasarkan surat Bank Indonesia Nomor.6/38/DPwBI/PwB11/Rahasia tanggal 31 Mei 2004 perihal tingkat kesehatan bank diketahui bahwa tiga bulan terakhir sampai dengan posisi Maret 2004 PT BGIN tergolong sehat. b. Berdasarkan laporan Audit KAP Drs. Joseph Susilo No.1005/JS/RN/04 tanggal 5 Maret 2004, Laporan Keuangan PT BGIN tahun 2003 dinyatakan “Wajar Tanpa Pengecualian”. c. Berdasarkan Majalah InfoBank No.289/Juni 2003/vol.XXV tahun 2003, Majalah InfoBank memberikan predikat cukup bagus, dan menempatkan urutan ke-60 dari 62 bank berkategori bank dengan 25 aset Rp1.000.000.000.000,00 s.d

BPK-RI / AUDITAMA V

Rp20.000.000.000.000,00. Kemudian berdasarkan Majalah InfoBank No.303/Juni 2004/vol.XXVI tahun 2004, memberikan predikat cukup bagus, dan menempatkan PT BGIN pada urutan ke-75 dari 80 bank berkategori bank dengan modal Rp100.000.000.000,00 sampai dengan Rp10.000.000.000.000,00. Kedua nilai tersebut di atas dibawah nilai rata-rata nasional. b. Penempatan pada BDB Pemeriksaan secara uji petik lainnya adalah atas deposito berjangka pada BDB sebesar Rp71.400.000.000,00 untuk program JHT dan Rp3.000.000.000,00 untuk program Non-JHT. Penempatan awal deposito pada BDB tidak dapat ditelusuri lebih jauh, karena data tidak tersedia. Sesuai dengan penjelasan dan data dari Divisi PUPM, diketahui bahwa penempatan baru dan perpanjangan deposito di BDB tidak dilakukan analisa atau hanya mendasarkan pada analisa sebelumnya, yaitu sesuai analisa yang dilakukan oleh Unit Manajemen Risiko (UMR) dengan memo No.M/77/UMR/ 072001 tanggal 23 Juli 2001 dan tingkat kesehatan bank dari laporan Bank Indonesia. Rekomendasi dari analisa UMR di atas, yaitu penempatan dana baru pada BDB dapat dilakukan dengan jumlah maksimal Rp10.000.000.000,00. Dari dokumen analisa UMR tersebut juga diketahui bahwa pencapaian Return On Asset (ROA) BDB per 31 Maret 2001 sebesar 0,57% yang berarti jauh dibawah standar BI yaitu >1,50%. Berdasarkan pemeriksaan atas penempatan baru dan pencairan deposito pada BDB tahun 2003 dan 2004 diketahui sebagai berikut : (dalam rupiah)
Bulan Saldo Januari 2003 Mei 2003 Juni 2003 Oktober 2003 Januari 2004 Februari 2004 Total Penempatan Penempatan baru (pencairan) dana JHT 51.700.000.000,00 5.000.000.000,00 1.700.000.000,00 11.000.000.000,00 (3.000.000.000,00) 5.000.000.000,00 71.400.000.000,00 Penempatan baru (pencairan) dana Non-JHT 3.000.000.000,00 3.000.000.000,00

26

BPK-RI / AUDITAMA V

Berdasarkan Surat BI No.5/11/DPwB1/Dpr/Rahasia tanggal 21 Mei 2003, tingkat kesehatan BDB untuk posisi bulan Juni 2002 adalah Sehat, dengan total nilai TKS 85,35. Namun demikian, dari segi rentabilitas dan manajemen, BI memberikan predikat Kurang Sehat. Divisi Riset Investasi (DRI) melalui memo No. M/67/DRI/032004 tanggal 4 Maret 2004, menyampaikan evaluasi atas penempatan dana pada BDB. Dalam memo tersebut DRI merekomendasikan agar tidak dilakukan perpanjangan ataupun penambahan dana investasi pada BDB. Dari memo DRI atas evaluasi BDB juga diketahui bahwa : 1) Rasio Keuangan BDB di bawah standar BI. Rasio Keuangan BDB dibandingkan dengan standar BI selama tahun 2001 s.d. 2003 adalah :
Rasio CAR NPL ROA ROE NIM BOPO LDR Sept 2003 12,16% 3,91% 0,80% 12,84% 2,22% 94,93% 22,17% Des 2002 8,38% 3,05% 0,80% 13,97% 2,79% 95,53% 49,06% Sept 2002 8,13% 1,83% 0,65% 12,45% 1,70% 95,84% 57,79% Des 2001 12,25% 5,36% 1,09% 17,55% 3,57% 93,67% 32,53% Standar BI 8% <5,00% >1,50% >12,00% >6,00% <92,00% 85% - 110%

Dari tahun 2001 s.d September 2003, ROA selalu di bawah standar BI, hal ini menunjukkan bahwa BDB tidak optimal mengelola asetnya. Demikian juga Net Interest Margin (NIM) BDB selalu di bawah standar BI atau kemampuan BDB untuk mengelola aktiva produktifnya dalam rangka memperoleh pendapatan bunga selalu di bawah standar BI. Dari sisi likuiditas, Loan to Deposit Ratio (LDR) jauh di bawah standar BI, mencerminkan BDB belum optimal menyalurkan kreditnya. Sedangkan rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) berada di atas ketentuan BI menunjukkan bahwa BDB kurang efisien dalam operasinya.

27

BPK-RI / AUDITAMA V

2) Penempatan deposito melebihi batas maksimum yang diperkenankan berdasarkan Keputusan Direksi No.150/0695 tanggal 19 Juni 1995 yang menyatakan bahwa batas maksimum penempatan dana yang diperkenankan untuk bank kategori D dengan aset kurang dari Rp 5.000.000.000.000,00 dan ekuitas kurang dari Rp500.000.000.000,00 adalah 75% dari ekuitas. Ekuitas BDB per September 2003 adalah sebesar Rp88.649.000.000,00 dan data ini yang dipakai sebagai dasar evaluasi penempatan ke BDB oleh DRI. Dengan demikian, maksimum penempatan dana yang seharusnya adalah sebesar Rp66.486.750.000,00 (75% x Rp88.649.000.000,00), sehingga total penempatan s.d. Maret 2004 sebesar Rp74.400.000.000,00 atau mencapai 83,93% dari ekuitas BDB berarti telah melebihi maksimum penempatan. Dengan rekomendasi agar tidak dilakukan perpanjangan ataupun penambahan dana investasi pada BDB dari DRI, Divisi PUPM bermaksud mencairkan deposito berjangka pada BDB melalui surat No.R/240/032004 tanggal 1 Maret 2004, dan surat terakhir No.R/359/032004 tanggal 23 Maret 2004. Akan tetapi, BDB melalui surat No.442/SKL/BDB/III/04 tanggal 29 Maret 2004 meminta agar PT Jamsostek memperpanjang deposito karena BDB dalam kesulitan likuiditas. Pada tanggal 8 April 2004 sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Gubernur BI No.6/7/KEP-GBI/2004, ijin usaha BDB dicabut. Sesuai dengan program penjaminan Pemerintah kewajiban bank dijamin oleh Pemerintah. Deposito PT Jamsostek sejumlah Rp74.400.000.000,00 dapat dicairkan pada tanggal 26 Juli 2004 sebesar Rp26.000.000.000,00, tanggal 10 Agustus 2004 sebesar Rp27.500.000.000,00 dan tanggal 2 Maret 2005 sebesar Rp17.500.000.000,00. Deposito BDB sebesar Rp3.400.000.000,00 dicairkan agak terlambat, yaitu pada tanggal 16 Maret 2005, karena kesalahan administrasi oleh Unit Pelaksana Penjaminan Pemerintah (UP3). Berdasarkan pengumuman BI tersebut, bunga atas deposito yang termasuk dalam program penjaminan dihitung sampai dengan tanggal bank dicabut ijinnya, yaitu tanggal 8 April 2004. Dengan demikian, selama 8 April 2004 sampai dengan deposito tersebut dapat dicairkan, PT Jamsostek kehilangan kesempatan memperoleh

28

BPK-RI / AUDITAMA V

hasil bunga sebesar Rp2.863.175.861,11 dengan menggunakan asumsi tingkat bunga deposito penjaminan BI satu bulan yang terdiri dari dana JHT sebesar Rp2.812.184.527,78 dan Non-JHT sebesar Rp50.991.333,33 (lihat lampiran 2). Dalam pengelolaan investasi, hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain adalah sebagai berikut : a. Sesuai dengan PP No.28 Tahun 1996 tentang Pengelolaan dan Investasi Dana Program Jamsostek, dinyatakan bahwa untuk menjamin pemenuhan hak-hak peserta program jaminan sosial tenaga kerja, maka dana dari iuran peserta perlu diinvestasikan dan dikelola secara terarah dan menganut prinsip kehati-hatian. b. Visi investasi PT Jamsostek sesuai dengan Pedoman Pengelolaan Investasi adalah melakukan kegiatan investasi secara prudent untuk memperoleh hasil investasi yang optimal, sehingga dapat memberikan peningkatan manfaat bagi peserta. c. Sesuai dengan Garis Besar Kebijakan Investasi (GBKI), filosofi Investasi PT Jamsostek adalah mengedepankan prinsip keamanan, kehati-hatian, dan hasil. Tujuan investasi Program JHT adalah untuk mencapai tingkat pengembalian investasi tertinggi berdasarkan tingkat risiko yang dapat diterima oleh perusahaan yakni konservatif. d. Sesuai dengan kriteria pemilihan sekuritas pasar uang yang tertuang dalam GBKI, penempatan dana pada suatu produk harus memenuhi kriteria kuantitatif yaitu tingkat suku bunga, Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan, ROA, Return On Equity (ROE), dan Debt Ratio. Sedangkan kriteria kualitatif yang harus dipenuhi antara lain tingkat kesehatan bank, likuiditas, efisiensi, kualitas manajemen bank, permodalan, dan profil bank. Kondisi tersebut di atas mengakibatkan a. Peserta Jamsostek tidak dapat menikmati hasil investasi yang optimal karena kehilangan kesempatan mendapatkan pendapatan bunga deposito yang tidak

29

BPK-RI / AUDITAMA V

dibayarkan sejak PT BGIN dicabut ijin usahanya hingga pelunasan pokok deposito tanggal 9 Maret 2005 sebesar Rp3.307.225.777,78. lihat lampiran 1 b. Peserta Jamsostek tidak dapat menikmati hasil investasi yang optimal karena kehilangan kesempatan untuk memperoleh hasil pengembangan dana atas deposito berjangka JHT pada BDB sebesar Rp2.812.184.527,78. c. PT Jamsostek kehilangan kesempatan memperoleh laba investasi dari program Non-JHT atas deposito berjangka pada BDB sebesar Rp50.991.333,33. d. Tujuan investasi yaitu untuk memberikan peningkatan manfaat bagi peserta dan keluarganya, serta pemegang saham tidak tercapai. Hal tersebut terjadi karena : a. Direktur Investasi PT Jamsostek belum sepenuhnya melaksanakan tugas mengarahkan dan mengendalikan strategi penempatan dana deposito pada Bank Global dan BDB. b. UMR/DRI dalam melakukan analisa penempatan deposito pada Bank Global dan BDB tidak memperhitungkan beberapa rasio keuangan yang jauh di bawah standar BI sebagai faktor risiko atas pengembalian dana investasi JHT yang seharusnya dikelola secara konservatif. c. Divisi PUPM dalam penempatan deposito pada Bank Global dan BDB baik roll over maupun penempatan baru DRI tidak melakukan analisa/evaluasi secara berkala atas penempatan deposito yang ada dan hanya mendasarkan pada analisa awal dengan data sudah tidak up to date lagi. d. Divisi PUPM dalam penempatan dananya pada BDB tidak taat pada Keputusan Direksi, yaitu melebihi batas maksimum penempatan dana. e. Divisi PUPM memperhitungkan risiko yang lebih kecil dan tidak aman karena hanya memperhitungkan bahwa deposito akan aman sebatas BDB mengikuti program penjaminan BI. Divisi PUPM tidak memperhitungkan risiko default yang akan menimbulkan kemungkinan kerugian investasi selama proses likuidasi sampai dengan penjaminan oleh Pemerintah dapat dicairkan.

30

BPK-RI / AUDITAMA V

Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa definisi modal perbankan yang dijadikan acuan perhitungan batas maksimum penempatan yang tertuang dalam KEP/150/0695 tidak sesuai dengan praktek yang lazim. Atas ketidaksesuaian tersebut telah diluruskan melalui Memo DPUPM tanggal 15 September 2004, menurut ketentuan baru batas maksimum penempatan pada Bank adalah 75,00% x (modal inti plus modal pelengkap) atau sebesar 75,00% x Rp119.300.000.000,00 (data September 2002) atau sebesar Rp89.470.000.000,00, sedangkan total deposito per 31 Desember BDB adalah sebesar Rp 74.400.000.000,00. Pada saat itu deposito dipandang sebagai instrumen investasi yang relatif aman karena ada jaminan Pemerintah, dan penampatan deposito pada BDB dan PT BGIN dilakukan berdasarkan analisis dari UMR. Direktorat Investasi menyadari kurangnya kajian berkala untuk kurun waktu 2000 s/d kuartal III 2004, sehingga penambahan dana pada BDB dan PT BGIN didasarkan pada tingkat kesehatan Bank menurut BI serta informasi dari majalah InfoBank, dimana secara umum kinerja BDB untuk tahun 2002 dan 2003, dan PT BGIN untuk tahun 2002 s.d Mei 2004 dikatakan sehat. Tidak dilakukannya kajian berkala disebabkan kurangnya jumlah analis pada DRI saat itu yang secara umum hanya berjumlah dua hingga tiga orang saja, sehingga kurang mendukung aktivitas Divisi PUPM yang mencapai 179 kajian, dan belum termasuk kajian non-rutin. Default obligasi PT BGIN disebabkan adanya tindakan manipulasi data/informasi dan window dressing oleh Manajemen PT BGIN. BI tidak cepat mengetahui tindakan tersebut. Gubenur BI dalam rapat kerja dengan Komisi Keuangan dan Perbankan tanggal 14 Februari 2005 menyatakan bahwa mereka gagal mengawasi PT BGIN. Selain itu, KAP Joseph Soesilo tidak dapat mendeteksi kecurangan yang dilakukan PT BGIN, sehingga opini Laporan Keuangan tahun 2003 adalah WTP. Sejak kuartal III/2004, DRI secara berkala telah melakukan kajian atas kinerja Bank yang ditempatkan. Selain itu, secara bertahap Divisi PUPM juga akan mengurangi exposure pada beberapa bank kecil, bahkan telah dilakukan pencairan seluruh deposito pada Bank UIB dan Bank Eksekutif International. Kedepan, Direktorat Investasi akan

31

BPK-RI / AUDITAMA V

melakukan kajian secara berkala paling tidak enam bulan sekali, sehingga diharapkan dapat informasi yang up to date dan akurat mengenai kinerja bank dan dapat meminimalkan risiko investasi pada deposito berjangka. BPK-RI menyarankan agar PT Jamsostek dalam hal ini Direktur Investasi selalu mematuhi ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan investasi PT Jamsostek, diantaranya yaitu : a. Senantiasa mengarahkan dan mengendalikan strategi penempatan dananya sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan. b. Dalam melakukan analisa penempatan memperhatikan cara pengelolaan dana yang berasal dari JHT dan Non-JHT, melakukan analisa/evaluasi secara berkala atas portofolio investasinya termasuk pada penempatan deposito baru atau perpanjangan tidak hanya mendasarkan pada analisa awal dengan data sudah yang tidak up to date lagi. c. Tidak melebihi batas maksimum penempatan dana, dengan menggunakan ketentuan baru dalam perhitungan modal perbankan dalam analisa yang dilakukan. d. Memperhitungkan risiko yang lebih kecil seperti memperhitungkan risiko default yang akan menimbulkan kemungkinan kerugian investasi selama proses likuidasi sampai dengan penjaminan oleh Pemerintah dapat dicairkan.

4. Penanaman dana deposito pada Bank Persyarikatan Indonesia (BPI) sebesar Rp11.500,00 juta tidak dapat dipertanggungjawabkan dan mempunyai tingkat risiko likuiditas yang tinggi Sebagai satu-satunya badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja di Indonesia, PT Jamsostek mempunyai komitmen untuk mengutamakan pelayanan prima dan manfaat bagi peserta melalui pengembalian seluruh hasil pengembangan dana Jaminan Hari Tua (JHT) kepada peserta. Sumber dana yang berasal dari dana JHT harus

32

BPK-RI / AUDITAMA V

diinvestasikan dan harus dikelola secara terarah dengan menganut prinsip kehati-hatian untuk mencapai hasil yang optimal. Pengelolaan dana investasi harus memperhatikan prinsip likuiditas, prudent, optimal return, dan aspek keamanan dana. Selain itu penempatan dana JHT harus dilakukan secara transparan dan dapat diuji sebagai perwujudan public accountability karena dana yang dikelola adalah milik tenaga kerja. Berdasarkan laporan keuangan (unaudited) PT Jamsostek tahun 2004 diketahui bahwa portofolio investasi PT Jamsostek per 31 Desember 2004 adalah sebesar Rp32.515.962.818.482,00 yang terdiri dari investasi JHT sebesar Rp28.407.161.988.965,00 dan investasi Non-JHT sebesar Rp4.108.800.829.516,00 atau masing-masing sebesar 87,36% dan 12,64%. Dari dana investasi JHT tersebut yang ditanamkan dalam bentuk deposito berjangka per 31 Desember 2004 adalah sebesar Rp13.483.872.394.111,00 atau sebesar 40,50% dari seluruh dana investasi JHT. Pengelolaan investasi di PT Jamsostek dilaksanakan oleh Direktorat Investasi yang dipimpin oleh Direktur Investasi. Untuk penempatan investasi dalam bentuk deposito berjangka dikelola oleh Direktorat Investasi Divisi Pasar Uang dan Pasar Modal (PUPM). Dari pemeriksaan lebih lanjut atas deposito berjangka program JHT antara lain diketahui terdapat penempatkan pada BPI sebesar Rp11.500.000.000,00. Penempatan awal deposito pada BPI dilakukan pada bulan Januari 2003 sebesar Rp5.000.000.000,00 dan Rp3.500.000.000,00 yang pada saat itu bernama Bank Swansarindo International (BSI). Analisa penempatan dana pada deposito BSI dilakukan oleh Divisi PUPM melalui Memo No.M/357/DPUPM/112002 tanggal 28 November 2002 dengan rekomendasi bahwa penempatan dana pada BSI dapat dipertimbangkan sebagai alternatif investasi dengan catatan: a. Tingkat bunga yang diberikan adalah maksimum tingkat bunga penjaminan BI. b. Pola pembagi dalam satu tahun adalah 360 hari bunga. c. Jangka waktu penempatan adalah 3-6 bulan. d. Batas maksimum penempatan dana yang diperkenankan sesuai Keputusan Direksi No.150/0695 tanggal 19 Juni 1995 adalah maksimum sebesar 75% dari modalnya.

33

BPK-RI / AUDITAMA V

Pada

bulan

Juli

2003,

ditempatkan

deposito

baru

dengan

nominal

Rp3.000.000.000,00. Atas penempatan ini tidak dilakukan analisa, tetapi mendasarkan pada analisa penempatan deposito terdahulu. Pada bulan Januari 2004 deposito dengan nominal Rp3.500.000.000,00 dan Rp3.000.000.000,00 dijadikan satu bilyet deposito nominal Rp6.500.000.000,00. Sesuai penjelasan Divisi PUPM dengan mempertimbangkan aspek kesehatan BPI, maka dengan Surat Direktur Investasi No.R/738/062004 tanggal 17 Juni 2004, PT Jamsostek bermaksud mencairkan semua deposito pada BPI, namun demikian, pihak BPI dengan surat No.068/KDM-KP/EL/VI/04 tanggal 16 Juni 2004 tidak dapat memenuhi permintaan PT Jamsostek karena BPI sedang dalam proses due diligence dan meminta agar deposito tersebut diperpanjang selama satu bulan dengan memberikan tingkat bunga sesuai dengan tingkat penjaminan BI. Surat terakhir permohonan pencairan deposito PT Jamsostek No.R/71/012005 dan No.R/72/012005 tanggal 24 Januari 2005 mendapat jawaban dari BPI melalui surat No.036/Kasatker Fund 1-KP/EL/I/05 tanggal 26 Januari 2005 yang menyatakan bahwa pihak bank belum dapat memenuhi permintaan PT Jamsostek untuk mencairkan deposito sebesar Rp11.500.000.000,00 karena sedang mengalami kesulitan likuiditas. Sampai dengan pemeriksaan berakhir tanggal 31 Maret 2005, PT Jamsostek belum dapat mencairkan deposito tersebut, walaupun bunga bulanan atas deposito tersebut diterima oleh PT Jamsostek. Pada tanggal 14 September 2004 BPI telah ditetapkan oleh Bank Indonesia dengan status Bank Dalam Pengawasan Khusus dan telah diperpanjang pada tanggal 17 Desember 2004 karena rasio kecukupan modal (CAR) bank di bawah 8,00% dan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) Bank di bawah 5,00%. Berdasarkan laporan keuangan Triwulan II dan III BPI tahun 2002 yang juga menjadi dasar analisa Divisi PUPM untuk penempatan deposito antara lain diketahui sebagai berikut : a. Ekuitas perusahaan terdiri dari modal disetor sebesar Rp23.900.000.000,00 dan saldo rugi untuk triwulan II dan III masing-masing sebesar Rp18.821.000.000,00 dan Rp15.998.000.000,00. Dari komposisi ekuitas terlihat bahwa perusahaan tidak dapat

34

BPK-RI / AUDITAMA V

menjalankan operasinya dengan baik, sehingga justru ekuitas perusahaan menjadi berkurang. b. Return on Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE) untuk triwulan II masing-masing sebesar negatif 1,34% dan negatif 39,27%, sedangkan untuk triwulan III masingmasing sebesar negatif 1,26% dan negatif 32,45%. Bila dibandingkan dengan rata-rata ROA perbankan menurut standar normal BI yaitu >1,50% dan ROE yaitu >8,00%, berarti ROA dan ROE BPI sangat jauh di bawah standar BI. c. Selanjutnya dari laporan keuangan BPI untuk tahun buku 2002 dan 2003 diketahui bahwa perusahaan mengalami kerugian masing-masing sebesar Rp15.629.000.000,00 dan Rp15.061.000.000,00. Selain itu, tidak terdapat penambahan modal secara riil. Penambahan ekuitas adalah dalam bentuk uang muka setoran modal untuk tahun 2002 dan 2003 masing-masing sebesar Rp33.200.000.000,00 dan Rp43.200.000.000,00, sehingga dapat disimpulkan bahwa penempatan deposito berjangka pada BPI yang terus menerus mengalami kerugian tidak dapat dipertanggungjawabkan sebagai suatu keputusan investasi yang baik. d. Berdasarkan Keputusan Direksi No KEP/150/0695 tanggal 19 Juni 1995 mengenai Pedoman Penempatan Dana dalam Bentuk Deposito Berjangka pada Bank-bank Swasta pasal 4 ayat 1 menyatakan bahwa penempatan dana pada bank swasta dapat dilaksanakan dengan syarat adanya surat keterangan sehat dari Bank Indonesia, sedangkan BPI sesuai dengan tingkat penilaian BI tergolong Cukup Sehat. Dengan demikian, BPI bukan kategori bank Sehat tetapi hanya Cukup Sehat. Dalam pengelolaan investasi dana JHT, hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain adalah sebagai berikut : a. Sesuai dengan PP No.28 Tahun 1996 tentang Pengelolaan dan Investasi Dana Program Jamsostek, dinyatakan bahwa untuk menjamin pemenuhan hak-hak peserta program jaminan sosial tenaga kerja, maka dana dari iuran peserta perlu diinvestasikan dan dikelola secara terarah dan menganut prinsip kehati-hatian.

35

BPK-RI / AUDITAMA V

b.

Visi investasi PT Jamsostek sesuai dengan Pedoman Pengelolaan Investasi adalah untuk melakukan kegiatan investasi secara hati-hati untuk memperoleh hasil investasi yang optimal, sehingga dapat memberikan peningkatan manfaat bagi peserta.

c. Sesuai dengan Garis Besar Kebijakan Investasi (GBKI), filosofi Investasi PT Jamsostek adalah mengedepankan prinsip keamanan, kehati-hatian, dan hasil. Tujuan investasi Program JHT adalah untuk mencapai tingkat pengembalian investasi tertinggi berdasarkan tingkat risiko yang dapat diterima oleh perusahaan yakni konservatif. Kondisi tersebut di atas mengakibatkan a. Penanaman dana pada BPI mempunyai liquidity risk yang tinggi. b. Deposito berjangka sebesar Rp11.500.000.000,00 terancam tidak dapat segera dicairkan. c. Hasil atas penempatan deposito di BPI berjangka pendek (satu bulanan) dari bulan Juni 2004 memberikan bunga yang tidak optimal. Hal tersebut terjadi karena : a. Direktur Investasi PT Jamsostek belum sepenuhnya melaksanakan tugas mengarahkan dan mengendalikan strategi penempatan dana deposito pada BPI. b. Divisi PUPM dalam melakukan analisa awal penempatan deposito di BPI tidak memperhitungkan ROA dan ROE yang negatif atau jauh di bawah standar BI, serta tingkat kesehatan yang di bawah standar sehat sebagai faktor risiko atas pengembalian dana investasi JHT yang seharusnya dikelola secara konservatif. c. Divisi PUPM dalam penempatan deposito di BPI baik perpanjangan maupun tambahan penempatan baru tidak pernah melakukan analisa atau hanya mendasarkan pada analisa awal yang sudah tidak up to date lagi. d. Divisi PUPM memperhitungkan risiko yang lebih kecil dan tidak aman karena hanya memperhitungkan bahwa deposito akan aman sebatas BPI mengikuti program penjaminan BI. Divisi PUPM tidak memperhitungkan risiko default yang akan

36

BPK-RI / AUDITAMA V

menimbulkan kemungkinan kerugian investasi selama proses likuidasi sampai dengan penjaminan oleh Pemerintah dapat dicairkan. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa penempatan pada BPI mengacu pada kajian Memo Divisi PUPM tanggal 28 November 2002, sedangkan perpanjangannya dengan memperhatikan up date laporan tingkat kesehatan BPI oleh BI tanggal 29 April 2003 yang menyatakan BPI cukup sehat, dan ikut program penjaminan Pemerintah. Kajian berkala atas kinerja BPI tidak dilakukan karena saat itu jumlah analis DRI hanya berkisar dua hingga tiga orang saja, sedangkan kajian yang akan dibuat mencapai 179 kajian. Akan tetapi, sejak kuartal III tahun 2004, DRI secara berkala telah melakukan kajian atas kinerja bank yang ditempatkan dan diharapkan dapat meminimalkan risiko investasi pada deposito berjangka. Memperhatikan perkembangan kinerja BPI yang kurang baik hingga semester I tahun 2004, Divisi PUPM segera melakukan upaya pencairan deposito sejak bulan Juni 2004, akan tetapi belum terealisir. BPI hanya dapat membayarkan bunganya saja hingga saat ini sebesar maksimum penjaminan BI. Pada awal tahun 2005 BPI dinyatakan oleh BI telah keluar dari Bank Dalam Pengawasan Khusus per tanggal 15 Maret 2005, dan diharapkan likuiditas dan kinerja BPI kedepan menjadi lebih baik. BPK-RI menyarankan agar PT Jamsostek dalam hal ini Direktur Investasi selalu mematuhi ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan investasi PT Jamsostek, diantaranya yaitu : a. Senantiasa mengarahkan dan mengendalikan strategi penempatan dananya sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan. b. Dalam melakukan analisa penempatan memperhatikan cara pengelolaan dana yang berasal dari JHT dan Non-JHT, melakukan analisa/evaluasi secara berkala atas portofolio investasinya termasuk pada penempatan deposito baru atau perpanjangan, tidak hanya mendasarkan pada analisa awal dengan data yang sudah tidak up to date.

37

BPK-RI / AUDITAMA V

c. Memperhitungkan risiko yang lebih kecil seperti memperhitungkan risiko default yang akan menimbulkan kemungkinan kerugian investasi selama proses likuidasi sampai dengan penjaminan oleh Pemerintah dapat dicairkan. d. Selain itu mengupayakan secara optimal agar dana yang ditempatkan pada deposito BPI dapat dicairkan segera untuk menghindari kerugian yang cukup besar dikemudian hari.

5. Pengelolaan dana JHT yang tidak optimal merugikan hak peserta Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Sesuai dengan PP No. 36 tahun 1995 tanggal 22 September 1995 PT Jamsostek ditetapkan sebagai Badan Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Badan Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. 3 tahun 1992 bertugas untuk menyelenggarakan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) Berdasarkan karakteristiknya, program jaminan sosial yang diselenggarakan PT Jamsostek dikelompokkan menjadi Program JHT dan Program Non-JHT . Pada program JHT, PT Jamsostek bertugas untuk mengelola dana peserta dalam bentuk tabungan yang nantinya akan dikembalikan kepada peserta. Dalam hal ini PT Jamsostek memperlakukan dana tersebut sebagai dana titipan peserta dan harus dapat mengelola dan mengembangkan secara optimal untuk menjaga keamanan dan keselamatan atas pengembangan dana tersebut dengan mempertimbangkan tingkat keamanan, tingkat hasil dan tingkat likuiditas yang semata-mata ditujukan untuk kepentingan peserta. Program Non-JHT adalah program asuransi yang membantu peserta pada saat mengalami kecelakaan kerja, sakit, atau meninggal dunia. Fungsi PT Jamsostek terkait dengan program Non-JHT adalah sebagai badan usaha bisnis yang bertujuan untuk memperoleh laba. Perbedaan karakteristik kedua program tersebut menimbulkan perbedaan perlakuan akuntansi. Iuran yang berasal dari program JHT dicatat sebagai

38

BPK-RI / AUDITAMA V

hutang, karena merupakan tabungan peserta kepada PT Jamsostek. Iuran yang berasal dari program Non-JHT dicatat sebagai pendapatan premi asuransi. Berdasarkan pemeriksaan atas pengelolaan dana JHT dan Non-JHT diketahui hal-hal sebagai berikut: a. Arus dana JHT dan Non-JHT tidak dipisahkan dengan tegas. Penerimaan iuran JHT dan Non-JHT diterima tanpa dipisahkan oleh semua Kantor Cabang (KC) PT Jamsostek di seluruh Indonesia dalam rekening Bank Iuran yang kemudian setiap hari ditransfer secara otomatis ke rekening bank Kantor Pusat (KP). Dari rekening tersebut sebagian dana digunakan untuk pembayaran klaim baik JHT maupun Non-JHT oleh KC dan pembayaran Biaya Umum dan Belanja Modal (BUBM) KP dan KC melalui mekanisme dropping. Sisa dananya merupakan dana yang siap diinvestasikan (investible fund) yang kemudian oleh Biro Keuangan KP dialokasikan dalam investible fund JHT dan Non-JHT dengan proporsi 90:10. Investible Fund akan diinvestasikan dalam portofolio investasi yang pengelolaannya dipisahkan antara Dana Investasi Program JHT dan Dana Investasi Program Non-JHT. Berdasarkan informasi dari Biro Keuangan, penerimaan iuran kadang-kadang tidak dapat menutup pengeluaran atas pembayaran klaim dan BUBM sehingga harus meminjam dana dari rekening investasi baik JHT maupun Non-JHT untuk menutupinya. Pengembalian ke rekening investasi JHT dilakukan melalui mekanisme persentase investible fund menjadi seluruhnya untuk program JHT di bulan berikutnya yang belum tentu dapat menutup dana yang dipinjam. Proses pinjam meminjam dari rekening JHT ke Non-JHT tanpa pengembalian yang jelas dan tanpa memperhitungkan bunga menjadikan pengelolaan dana JHT menjadi tidak tepat. Dari arus dana tersebut terlihat bahwa dana iuran digunakan untuk pembayaran klaim dan BUBM sebelum dana tersebut teridentifikasi dengan jelas berapa dana JHT dan Non-JHT. Selain itu, tidak dapat ditentukan besarnya pembayaran JHT untuk hari yang bersangkutan, apakah penerimaan iuran JHT hari itu dapat menutup seluruh klaim pada hari yang sama, sehingga terdapat sisa dana untuk diinvestasikan. Demikian pula halnya dengan program Non-JHT.

39

BPK-RI / AUDITAMA V

Dari kondisi di atas dapat disimpulkan bahwa PT Jamsostek tidak memisahkan pengelolaan dana program JHT dari program Non-JHT sejak awal iuran diterima, sehingga tidak dapat diidentifikasi dengan jelas besar dana program JHT dan besar dana untuk program Non-JHT. Pengalokasian investible fund dengan perbandingan 90:10 tidak perlu dilakukan apabila PT Jamsostek telah memisahkan pengelolaan dana JHT dari dana Non-JHT sejak awal. b. Dana peserta yang dicatat pada Hutang JHT tidak seluruhnya dicover dengan Dana Investasi JHT sehingga pengelolaan dana peserta menjadi kurang dapat dipertanggungjawabkan. Berdasarkan pemeriksaan atas laporan bulanan Rekonsiliasi Dana Investasi JHT dengan Hutang JHT yang dibuat oleh Biro Akuntansi bulan Maret s.d. Desember 2004, diketahui bahwa terdapat ketidakseimbangan antara dana investasi JHT dan hutang JHT sepanjang tahun seperti terlihat dalam tabel di bawah ini:
Posisi per 31 Agustus 2004 30 September 2004 31 Oktober 2004 30 Nopember 2004 31 Desember 2004 Hutang JHT 26.430.446.393.883,00 26.867.719.844.043,00 27.236.730.967.602,00 27.936.484.739.374,00 28.401.305.663.385,00 Dana Investasi JHT 26.129.811.058.062,00 26.671.934.683.276,00 27.144.580.713.066,00 27.761.274.545.684,00 28.407.161.988.965,00 Selisih (300.635.335.821,00) (195.785.160.767,00) (92.150.254.536,00) (175.210.193.690,00) 5.856.325.580,00

Dari tabel di atas diketahui bahwa sepanjang tahun 2004 dana investasi JHT selalu lebih kecil dari hutang JHT. Untuk menutupi defisit dana investasi JHT per 31 Desember 2004, PT Jamsostek telah melakukan reklas dari deposito Non-JHT menjadi deposito JHT. Reklas deposito dilakukan pada bulan Desember 2004 sebesar Rp116.500,000,000,00 melalui memo Kepala Divisi (Kadiv) Pasar Uang dan Pasar Modal (PUPM) No.M/295/DPUPM/122004 tanggal 31 Desember 2004 dengan tujuan agar tidak terjadi defisit. Namun demikian, PT Jamsostek tidak melakukan reklas terhadap hasil investasi (return) dari deposito yang direklas, dengan demikian, return atau hasil pengembangan dari dana JHT akan terlalu kecil.

40

BPK-RI / AUDITAMA V

c. Terdapat penerimaan restitusi PPh yang bersumber dari dana JHT tetapi digunakan untuk investasi Non-JHT Pada bulan Oktober 2004 terdapat penerimaan restitusi PPh Badan sesuai Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) No.00127/406/02/051/04 tanggal 2 September 2004 atas bunga investasi berikut :
Sumber Restitusi PPh MTN Semen Padang MTN Haji Kalla MTN Danareksa MTN Arutmin Indonesia Kontrak Aset Investasi Rifan Financindo Kontrak Aset Investasi Asjaya Subtotal Promissory Notes Citra Sari Makmur Fiskal Luar Negeri Subtotal Total Restitusi Jumlah (Rp) 5.123.378.332,00 3.705.882.352,00 15.971.324.511,00 26.440.559.896,00 883.627.398,00 962.132.353,00 53.086.904.842,00 450.758.333,00 37.000.000,00 487.758.333,00 53.574.663.175,00 Sumber dana JHT JHT JHT JHT JHT JHT Non-JHT Operasional

Dari data tersebut diketahui bahwa sebagian besar dari restitusi tersebut berasal dari investasi JHT, yaitu sebesar Rp53.086.904.842,00. Namun demikian, penerimaan restitusi tersebut masuk ke dalam rekening bank investasi Non-JHT yang kemudian digunakan untuk investasi Non-JHT berupa pembelian obligasi dan reksadana. Penempatan dana JHT yang berasal dari restitusi ke dalam rekening Non-JHT dilakukan tanggal 14 Oktober 2004. Berdasarkan keterangan dari Biro Keuangan dan Divisi PUPM, dana tersebut dipinjam Non-JHT untuk pembelian obligasi dalam rangka restrukturisasi portofolio Non-JHT. Alasan peminjaman dana tersebut karena investasi Non-JHT tidak memiliki dana likuid dan harus mencairkan deposito yang belum jatuh tempo. Pengembalian atas peminjaman dana tersebut dilakukan melalui mekanisme pengalihan penerimaan iuran yang menjadi hak Non-JHT sebesar 10% dari investible fund menjadi dana investasi JHT pada bulan Oktober 2004, walaupun pada bulan September dan Oktober 2004 telah terjadi defisit dana investasi JHT terhadap hutang JHT yang cukup besar, yaitu masing-masing sebesar Rp195.785.160.767,00 dan Rp92.150.254.536,00.

41

BPK-RI / AUDITAMA V

Sesuai memo Kadiv PUPM No.M/295/DPUPM/122004 tanggal 31 Desember 2004 telah direklas deposito Non-JHT ke deposito JHT untuk menutup defisit dana investasi JHT terhadap Hutang JHT. Seharusnya restrukturisasi portofolio obligasi Non-JHT tidak perlu meminjam dana dari JHT sebesar Rp53.086.904.842,00 apabila restrukturisasi telah direncanakan dengan baik. Berdasarkan Daftar Deposito per 30 September 2004 diketahui pada bulan Oktober 2004 terdapat deposito berjangka NonJHT yang jatuh tempo dengan total nominal Rp71.888.244.648,00 sebagai berikut:
Nama Bank Mandiri Eks BBD Gubeng Sby BTN Harmoni BTN Harmoni Bank Agro Gd Jamsostek Bank Bukopin Bank Bukopin Bank Bukopin Bank Bukopin Bank Bukopin Bank Bukopin Bank Bukopin Bank Bukopin Bank Bukopin Bank Bukopin Bank Bukopin Bank Danpak Bank Danpak Total Nomor Deposito 142-0204044548 1098555.R1 1147432/007183-4 012631/0423-02294-062 2010129684 2010129685 2010125302.R1 2010125336.R1 2010125374.R1 2010125431.R1 2010125486.R1 2010125550.R1 2010125603.R1 2010125633.R1 2010125682.R1 013071 013077 Jatuh Tempo 20-Okt-2004 18-Okt-2004 29-Okt-2004 21-Okt-2004 1-Okt-2004 1-Okt-2004 4-Okt-2004 7-Okt-2004 8-Okt-2004 10-Okt-2004 14-Okt-2004 16-Okt-2004 20-Okt-2004 21-Okt-2004 23-Okt-2004 15-Okt-2004 22-Okt-2004 Nominal (Rp) 9.000.000.000,00 11.000.000.000,00 1.000.000.000,00 3.300.000.000,00 3.500.000.000,00 5.000.000.000,00 2.000.000.000,00 2.700.000.000,00 3.800.000.000,00 2.500.000.000,00 4.000.000.000,00 10.000.000.000,00 3.500.000.000,00 2.000.000.000,00 1.088.244.648,00 6.500.000.000,00 1.000.000.000,00 71.888.244.648,00

Dana JHT yang dipinjam untuk Non-JHT tersebut tidak dikenakan bunga, sehingga merugikan peserta. Kerugian peserta sebagai akibat dari pemakaian dana JHT oleh program Non-JHT dengan asumsi bunga yang digunakan adalah bunga deposito satu bulan adalah seperti terlihat pada tabel berikut :
Restitusi JHT Investible Fund bulan Oktober 2004 Alokasi untuk Non-JHT ( 10% x Investible Fund) Dana yang belum dikembalikan Jumlah hari s.d. memo reklas M/295/DPUPM/122004 ( 19 Desember 2004 - 14 Oktober 2004) Minimal bunga yang seharusnya diterima JHT (7,25% x dana yg belum dikembalikan x jumlah hari/365) Rp 442.408.053,89 Rp193.400.000.000,00 Rp19.340.000.000,00 Rp33.746.904.842,00 66 Rp53.086.904.842,00

42

BPK-RI / AUDITAMA V

Dari data tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa peminjaman dana restitusi PPh milik JHT tidak perlu dilakukan. Pemakaian dana JHT tersebut merugikan peserta JHT sebesar Rp442.408.053,89, karena peminjaman tersebut tidak memperhitungkan bunga dari tanggal 14 Oktober s.d. 19 Desember 2004. d. Dana JHT untuk pembelian obligasi Non-JHT pada bulan November dan Desember 2004 yang bertujuan untuk restrukturisasi portofolio investasi Non-JHT tidak ditujukan untuk kepentingan peserta Pada bulan November dan Desember 2004 terdapat pembelian obligasi Non-JHT kelompok diperdagangkan (trading) dan tersedia untuk dijual (available for sale/AFS) yaitu sebagai berikut : (dalam rupiah)
Bulan November 2004 Desember 2004 Total Obligasi Non-JHT Trading 365.656.850.520 163.371.015.263 529.027.865.783 Obligasi Non-JHT AFS 61.873.000.000 132.062.252.793 193.935.252.793 Total 427.529.850.520 295.433.268.056 722.963.118.576

Sesuai dengan Memo Divisi PUPM No.M/267/DPUPM/112004 tanggal 24 November 2004, pembelian obligasi tersebut dalam rangka pencapaian target laba dan untuk restrukturisasi portofolio Non-JHT. Dalam memo tersebut juga dijelaskan bahwa pembelian obligasi tersebut, sebagian menggunakan dana JHT yang kemudian akan diganti dengan mereklas pencatatan deposito Non-JHT menjadi deposito JHT. Total deposito berjangka yang direklas pada bulan November dan Desember 2004 adalah sebesar Rp282.500.000.000,00. Berdasarkan pemeriksaan terhadap arus kas Bank Niaga Obligasi Non-JHT, diketahui bahwa pembelian obligasi Non-JHT pada bulan November dan Desember berasal dari:

43

BPK-RI / AUDITAMA V

(dalam ribuan rupiah)
Transfer ke rek Tanggal 11/22/2004 11/23/2004 11/24/2004 11/29/2004 12/15/2004 Niaga Obligasi Non-JHT 94.500.000,00 104.500.000,00 71.800.000,00 17.400.000,00 55.000.000,00 343.200.000,00 Iuran 92.000.000,00 20.000.000,00 13.000.000,00 14.900.000,00 43.300.000,00 183.200.000,00 Sumber dana JHT 0,00 83.000.000,00 32.800.000,00 0,00 12.200.000,00 128.000.000,00 Non-JHT 2.500.000,00 5.000.000,00 26.000.000,00 2.500.000,00 36.000.000,00 Pengembalian ke JHT Reklas deposito 94.000.000,00 63.200.000,00 32.800.000,00 36.900.000,00 55.600.000,00 282.500.000,00

Dari tabel di atas diketahui bahwa sumber dana pembelian obligasi Non-JHT berasal dari iuran sebesar Rp183.200.000.000,00, dari pinjaman rekening investasi JHT sebesar Rp128.000.000.000,00, dan dari rekening investasi JHT sebesar Rp36.000.000.000,00. Dari rekening iuran yang seharusnya menjadi dana investasi program JHT adalah sebesar Rp164.880.000.000,00 (90% x 183.200.000.000,00). Jika jumlah ini ditambah dengan pinjaman dari JHT sebesar Rp128.000.000.000,00 maka deposito yang seharusnya direklas menjadi deposito JHT adalah sebesar Rp292.880.000.000,00. Rp10.380.000.000,00. Restrukturisasi portofolio Non-JHT yang dilakukan oleh Divisi PUPM di atas dengan menggunakan dana likuid dari JHT bukan untuk kepentingan peserta. Restrukturisasi portofolio dilakukan tanpa perencanaan yang matang dan hanya ditujukan untuk kepentingan PT Jamsostek, yaitu menaikkan laba perusahaan. Berdasarkan kondisi di atas dapat disimpulkan bahwa PT Jamsostek belum melakukan pemisahan pengelolaan dana investasi setiap program, yakni JHT dan Non-JHT investasi secara jelas dan transparan atau belum maksimal melakukan fungsinya sebagai Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, sehingga merugikan hak peserta program jaminan sosial tenaga kerja. Kekurangan reklas deposito ke JHT adalah

44

BPK-RI / AUDITAMA V

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan dana PT Jamsostek adalah: a. Dalam PP Nomor.22 tahun 2004 tentang Pengelolaan Investasi Dana Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja antara lain dinyatakan bahwa untuk menjamin pemenuhan hak-hak peserta program sosial tenaga kerja, maka dana yang berasal dari iuran peserta perlu diinvestasikan dan dikelola secara terarah dan optimal serta hatihati. Kemudian pada pasal 23 diatur bahwa Badan Penyelenggara wajib melakukan pemisahan pengelolaan kekayaan dan kewjaiban yang bersumber dari Program JHT dan Program Non-JHT, yang sesuai dengan penjelasan pasal tersebut pemisahan pengelolaan dana ini dimaksudkan agar pendanaan untuk kewajiban JHT tidak digunakan untuk pemenuhan kewajiban program jaminan yang lain dan karena karakteristik masing-masing program berbeda. b. Sesuai dengan Surat Edaran Dirjen Pajak No.02/PJ.31/1996 tanggal 5 Juni 1996 pada pasal 7 mengatur bahwa PT Jamsostek wajib menyelenggarakan pembukuan yang terpisah atas kegiatan program JKK, JKM, dan JPK dengan kegiatan program JHT. c. Pedoman Investasi PT Jamsostek antara lain mengatur bahwa Direktur Keuangan mempunyai tugas melakukan analisis kebutuhan modal kerja dan arus kas masuk dan memberitahukan ketersediaan dana yang dapat diinvestasikan kepada Direktur Investasi. Menurut Garis Besar Kebijakan Investasi (GBKI) yang merupakan arahan dari Direktorat Investasi, tujuan investasi dari masing-masing sumber dana JHT dan Non-JHT harus dipisah mengingat kedua sumber tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Kondisi di atas mengakibatkan: a. Pengalokasian investible fund sebesar 90% untuk program JHT dan 10% untuk program Non-JHT menjadi tidak tepat. b. Pemakaian dana hasil restitusi JHT sebagai dana Non-JHT merugikan peserta JHT minimal sebesar Rp442.408.053,89. c. Peserta Jamsostek dirugikan dari reklasifikasi deposito Non-JHT menjadi deposito JHT yang tidak diikuti dengan hasil investasi yang seharusnya diterima.

45

BPK-RI / AUDITAMA V

Hal tersebut terjadi karena : a. PT Jamsostek belum dapat mengimplementasikan kegiatan berdasarkan masingmasing jenis sumber dana/program, yakni JHT dan Non-JHT sesuai PP No.22 tahun 2004. b. Direktur Keuangan belum melakukan analisis arus kas masuk dari masing-masing sumber dana JHT dan Non-JHT. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa : a. Pemisahan secara jelas Dana JHT dan Non-JHT Untuk kondisi sekarang yang paling mendekati ketepatan pemisahan iuran JHT dan Non-JHT adalah pendekatan dari rate masing masing program, yaitu 90% JHT dan 10% Non-JHT. b. Hutang JHT tidak sepenuhnya di-cover dengan dana investasi JHT. Memang ada perbedaan antara hutang dan dana investasi JHT, dimana dapat terjadi hutang JHT lebih rendah dari investasi JHT atau sebaliknya. Kondisi ini disebabkan belum dilakukan pemisahan yang tegas antara dana JHT dan Non-JHT. Upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi perbedaan tersebut adalah melakukan koordinasi antara Biro Akuntansi, Biro Keuangan, dan Divisi PUPM. Divisi PUPM akan menindaklanjuti rekonsiliasi hutang dan portofolio investasi JHT, antara lain melakukan reklas deposito Non-JHT ke deposito JHT jika hutang JHT lebih besar dari portofolio investasi JHT atau sebaliknya. Upaya ini telah dilakukan pasca kuartal III tahun 2004. Rekonsiliasi tidak dapat disajikan tepat waktu, umumnya disajikan satu s.d dua bulan kedepan, sehingga reklas deposito Non-JHT ke JHT tidak tepat waktu. Untuk itu Divisi PUPM dan Biro Akuntansi dan Biro Keuangan berupaya menyeimbangkan hutang dan portofolio investasi lebih awal. Pada bulan Maret 2005 telah dilakukan reklas deposito Non JHT ke JHT sebesar Rp 18.500.000.000,00. Upaya ini untuk mengantisipasi adanya pemakaian dana JHT dan sekaligus diharapkan dapat meminimalkan perbedaan saldo hutang JHT dan portofolio investasi lebih awal.

46

BPK-RI / AUDITAMA V

c. Restitusi PPh dari dana JHT digunakan untuk investasi Non-JHT Pada awal Oktober 2004 disepakati untuk menggunakan dana restitusi pajak untuk pembelian lelang Surat Utang Negara dan Obligasi Pemerintah, serta reksadana program Non-JHT, karena dana Non-JHT yang ada tidak cukup untuk ke transaksi lelang SUN dan Obligasi Pemerintah saat itu. Pengembalian dana tersebut diharapkan sepenuhnya dari iuran Non-JHT selama periode tersebut. Berdasarkan perhitungan ternyata iuran Non-JHT pada periode Oktober 2004 belum mampu sepenuhnya mengkompensasi penggunaan dana hasil restitusi pajak, sehingga digunakan dana JHT yang menyebabkan berkurangnya dana JHT sebesar Rp442 juta, untuk itu pada tahun 2005 akan direklas dana Non-JHT untuk mengcover kekurangan dana JHT tersebut. Ke depan diupayakan untuk melakukan proyeksi cash flow yang lebih baik dan menghindari penggunaan dan peminjaman dana antar program. d. Dana JHT untuk beli obligasi Non-JHT bulan November dan Desember 2004 Karena terbatasnya dana Non-JHT untuk pembelian obligasi seperti yang tertuang dalam prognosa RKAP 2004 dan RKAP 2005, maka dipinjam dana JHT, dengan diiringi reklas/konversi portofolio deposito Non-JHT menjadi deposito JHT. Strategi ini diharapkan akan memberikan yang sama, jika dana JHT tersebut didepositokan pada saat tersebut dengan tingkat bunga pasar, karena deposito yang dikonversi mempunyai tingkat bunga yang sama dengan tingkat bunga pada saat konversi. Sehingga secara ekonomis opportunity loss Program JHT dapat diminimalkan. Kebijakan ini menimbulkan perbedaan antara hutang JHT dan portofolio investasi JHT sebesar Rp10,00 milyar. Menyikapi kondisi ini Divisi PUPM kembali mereklas portofolio Non-JHT pada tanggal 19 Desember 2004, sehingga pada akhir tahun 2004 seluruh portofolio investasi JHT mampu meng-cover hutang JHT pada periode tersebut.

47

BPK-RI / AUDITAMA V

Ke depan, Divisi PUPM bekerja sama dengan Biro Keuangan serta Biro Akuntansi berupaya untuk melakukan proyeksi cash flow dan kebutuhan investasi yang lebih baik dan menghindari penggunaan dan peminjaman dana antar program. BPK-RI menyarankan agar PT Jamsostek melakukan pemisahan yang tegas antara program JHT dan Non-JHT berdasarkan PP No.22 tahun 2004, sehingga kegiatan investasi dapat dilakasanakan berdasarkan masing-masing jenis sumber dana/program, yakni JHT dan Non-JHT. Selain itu Direktur Keuangan hendaknya melakukan analisis arus kas masuk dari masing-masing sumber dana JHT dan Non-JHT tersebut untuk mengetahui jumlah yang seharusnya untuk klaim dan BUBM, sehingga investasi dapat dilakukan berdasarkan masing-masing jenis sumber dana/program.

6. Dana cadangan teknis JKM untuk kepentingan fiskal sebesar Rp873.69 juta belum diajukan ke Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan (DJLK) untuk disahkan. Berdasarkan UU No.3 tahun 1993, PT Jamsostek ditetapkan sebagai Badan Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Program-program yang diselenggarkan yaitu JKK, JKM, JPK dan JHT. Program-program tersebut dalam pelaksanaannya adalah sejenis dengan asuransi kecelakaan, asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. Sedangkan program JHT sejenis dengan dana pensiun, sehingga aturan pajak yang harus ditaati sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk perusahaan asuransi dan dana pensiun. Berdasarkan laporan keuangan (unaudited), posisi cadangan teknis per 31 Desember 2004 antara lain adalah sebagai berikut : (dalam rupiah)
Cadangan Teknis JKM Beban Cadangan 122.546.403.038,00 Saldo Akhir Cadangan 873.687.147.186,00

48

BPK-RI / AUDITAMA V

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa untuk program JKM, dana cadangan sebesar Rp873.687.147.186,00 belum pernah diajukan untuk disahkan oleh DJLK Departemen Keuangan. Sesuai SE Dirjen Pajak No.SE-02/PJ.31/1996 tanggal 6 Mei 1996 point 5.a. mengatur bahwa PT Jamsostek diperkenankan untuk membentuk dana cadangan antara lain bahwa bagi program JKM, besarnya dana cadangan premi sesuai dengan penghitungan aktuaria yang disahkan oleh DJLK Departemen Keuangan. Kondisi tersebut di atas mengakibatkan dasar pembebanan cadangan JKM untuk menghitung PPh badan tidak sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku. Hal tersebut terjadi karena PT Jamsostek belum sepenuhnya mematuhi ketentuan perpajakan khususnya SE Dirjen Pajak No.SE-02/PJ.31/1996 tanggal 6 Mei 1996. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa dana cadangan teknis program JKM sebesar Rp873.687.147.186,00 belum mendapat pengesahan dari Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan (DJLK). Akan tetapi, formulasi dan asumsi perhitungan cadangan teknis program Jamsostek sudah disahkan oleh DJLK melalui surat No.S.1101/MK.17/1994 tanggal 21 Juli 1994. Pada tahun 2004 telah diterbitkan PP No.22 tahun 2004 tentang Pengelolaan Dana Jamsostek, yang antara lain mengatur metode dan asumsi perhitungan cadangan teknis. Metode dan asumsi perhitungan cadangan teknis yang tertuang dalam PP No. 22/2004 masih sesuai dengan surat DJLK No.S.1101/MK/17/1994. Upaya ke depan yang akan dilakukan oleh PT Jamsostek adalah mengajukan surat pengesahan besaran dana cadangan teknis JKM kepada DJLK, sesuai dengan SE Ditjen Pajak No.SE-02/PJ.31/1996. Mengingat karakteristik program Jamsostek adalah asuransi sosial yang berbeda dengan asuransi jiwa/kerugian yang diselenggarakan oleh lembaga asuransi komersial, serta dengan telah diterbitkannya PP No.22 Tahun 2004, PT Jamsostek akan mengajukan

49

BPK-RI / AUDITAMA V

permohonan peninjauan kembali atas SE Ditjen Pajak tersebut, dengan melibatkan Direktorat Jenderal Pajak, DJLK, Kementerian BUMN. BPK-RI menyarankan agar PT Jamsostek segera mengajukan surat pengesahan besaran dana cadangan teknis JKM kepada DJLK.

7. Terdapat indikasi penggunaan perangkat lunak oracle yang belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan. Pada saat ini sebagian besar aplikasi sistem informasi pada PT Jamsostek menggunakan oracle database, berkaitan dengan hal tersebut PT Jamsostek membutuhkan dukungan teknis dan pemeliharaan dari pihak ketiga yang mempunyai kompetensi dalam hal tersebut. Sejak tahun 2002, PT Jamsostek mengadakan kerja sama dengan PT Perkasa Pilar Utama (PT PPU) tentang pekerjaan annual technical support (ATS) dan maintenance oracle database dengan Perjanjian No.PER/70/072002 tanggal 31 Juli 2002 dan Addendum Pertama Perjanjian No.PER/115/102003 tanggal 2 Oktober 2003 yang berakhir pada tanggal 31 Juli 2004. Selanjutnya, berdasarkan surat penawaran PT PPU No.073/SK-PPU/D/R/VII/04 tanggal 28 Juli 2004 dan Memo Direktur Perencanaan, Pengembangan dan Informasi No.M/108/DIRENBANGIN/072004 tanggal 8 Juli 2004, PT Jamsostek dan PT PPU sepakat untuk membuat addendum kedua untuk jangka waktu 31 Juli 2004 s.d. 1 Agustus 2005 yang dituangkan dalam Perjanjian No.PER/09/082004 tanggal 04 Agustus 2004. Berdasarkan pemeriksaan terhadap penggunaan perangkat lunak oracle terdapat yang tidak sesuai dengan Undang-undang No.19 tahun 2002 tentang Hak Cipta. Dalam Memo Direktur Perencanaan, Pengembangan dan Informasi Nomor.M/108/ DIRENBANGINF/072004 tanggal 8 Juli 2004 2004, dinyatakan bahwa lisensi perangkat lunak oracle yang dimiliki oleh PT Jamsostek sebanyak 263, sedangkan pengguna sebenarnya adalah sebanyak 667. Oleh karena itu, terdapat 404 (667-263) pengguna yang

50

BPK-RI / AUDITAMA V

tidak menggunakan lisensi. Dengan berlakunya Undang-undang No.19 tahun 2002 tentang Hak Cipta, terdapat indikasi bahwa PT Jamsostek melakukan pelanggaran undang-undang perlindungan hak cipta. Penggunaan perangkat lunak dan prosedur pengadaan barang dan jasa PT Jamsostek seharusnya memperhatikan Pasal 1 dan Pasal 12 Undang-undang No.19 tahun 2002 yang menyatakan bahwa lisensi dan program komputer merupakan salah satu hak cipta yang dilindungi, sehingga setiap penggunaan program oracle harus mendapat lisensi dari pihak yang berhak. Hal tersebut mengakibatkan PT Jamsostek berpotensi dituntut oleh pihak yang memiliki hak cipta atas perangkat lunak oracle. Kondisi tersebut terjadi karena PT Jamsostek tidak menaati ketentuan yang telah ditetapkan. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa pemenuhan kebutuhan jumlah lisensi oracle sesuai dengan UU No.19/2002 akan dipenuhi secara bertahap dengan mempertimbangkan RKAP yang disetujui setiap tahunnya. Untuk pembayaran biaya lisensi dilakukan setiap tahun dimuka berdasarkan jumlah user yang dimiliki kepada PT Oracle Indonesia dengan menggunakan kurs pasar yang berlaku pada saat akan dituangkannya perjanjian. Sementara biaya pemeliharaan (ATS) dibayarkan kepada perusahaan lokal (Bisnis Partner Oracle Indonesia) dengan kurs lebih rendah karena menggunakan tenaga lokal dan hasil negosiasi oleh BPS. Pembayaran lisensi kepada PT Oracle Indonesia dibayar 2 kali dalam setahun. Sedangkan pembayaran pemeliharaan dimuka menyesuaikan pembayaran lisensi.

51

BPK-RI / AUDITAMA V

BPK-RI menyarankan agar PT Jamsostek mematuhi ketentuan Undang-undang No.19 tahun 2002 tentang Hak Cipta, dan segera berupaya mendapatkan lisensi atas penggunaan perangkat lunak yang belum mendapat ijin, untuk menghindari tuntutan oleh pihak yang memiliki hak cipta atas perangkat lunak oracle.

8. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan TB 2003 a. Status Badan Hukum PT Jamsostek tidak sesuai dengan prinsip pengelolaan jaminan sosial oleh suatu badan penyelenggara yang nirlaba. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek terus mengajukan dan atau mendorong segera terbentuknya suatu badan penyelenggara Jamsostek yang nirlaba, serta mempersiapkan prasarana dan sarana organisasi untuk mendukung hal itu.
Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa dalam pembahasan RUU SJSN

Direksi sebagai anggota Tim, sehingga dalam setiap pembahasan materi RUU SJSN baik di tingkat Pemerintah yang dikoordinasikan oleh Kantor Menko Kesra maupun di DPR , PT Jamsostek telah berpartisipasi secara aktif. RUU SJSN sudah disahkan dan diundangkan pada tanggal 19 Oktober 2004, yaitu UU No.40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Dalam UU SJSN tersebut, PT Jamsostek ditetapkan sebagai Badan Penyelenggara jaminan sosial menurut UU SJSN (pasal 5 ayat (3), dan ditetapkan dalam Pasal 4, antara lain nirlaba. Dalam Ketentuan Peralihan, pasal 52 ayat (2) ditetapkan bahwa “semua ketentuan yang mengatur mengenai Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan dengan UU ini paling lambat 5 (lima) tahun sejak UU ini diundangkan”. prinsip penyelenggaraan SJSN

52

BPK-RI / AUDITAMA V

Dalam rangka penyesuaian dengan UU SJSN, organisasi yang sudah ada saat ini dapat mendukung pelaksanaan tugas dan fungsinya, namun untuk lebih memantapkan implementasi UU SJSN sesuai dengan prinsip penyelenggaraan SJSN akan dilakukan koordinasi dengan instansi/lembaga terkait, antara lain berkaitan dengan ketenagakerjaan, status badan hukum dan sistem keuangan.
Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan karena status badan hukum

masih PT (Persero) yang memiliki kewajiban menyetor deviden kepada Pemerintah..
Temuan ini masih dipantau.

b. Terdapat pengeluaran dalam rangka pembelian tanah dan bangunan Perum PPD sebesar Rp27.300,00 juta yang masih tercatat dalam Pos Sementara Dalam Penyelesaian, karena proses penyelesaian pembelian tanah dan bangunan tersebut berlarut-larut. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek mematuhi ketentuan yang

ada dan tetap melakukan upaya untuk memperoleh tanah dan bangunan Kantor Pusat Perum PPD. Jika dipandang perlu untuk membatalkan pembelian tanah dan bangunan, maka pembatalan tersebut harus dibuatkan perikatan secara hukum dengan memuat klausul antara lain kewajiban Perum PPD, batas waktu pengembalian dan konsekuensi/imbalan atas pembatalan pembelian tanah dan bangunan tersebut. Selain itu, jika dipandang perlu untuk mengalihkan opsi pembelian tanah menjadi tanah yang berlokasi di Depo A Ciputat, maka harga jual yang digunakan sebesar nilai berdasarkan hasil penilaian appraisal, bukan NJOP. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa tetap mengupayakan untuk memperoleh tanah dan bangunan kantor Pusat Perum PPD. Pada tanggal 22 Juni 2004 Direksi PT Jamsotek kembali mengundang Direksi Perum PPD untuk membahas penyelesaiaan transaksi jual beli tanah dan bangunan Kantor Pusat Perum PPD, dimana hasil pertemuan tersebut adalah Perum PPD dikenakan sanksi denda atas

53

BPK-RI / AUDITAMA V

keterlambatan penyelesaian transaksi sebesar Rp100.000.000,00 yang mana pembayarannya sudah diterima PT Jamsostek pada tanggal 23 Juni 2004. Sehubungan dengan keinginan Direksi Perum PPD untuk membatalkan PPJB No.1 dan akan mengembalikan dana sebesar Rp27.300.000.000,00 yang sudah diterima Perum PPD dari PT Jamsostek, Direksi PT Jamsostek meminta Perum PPD membuat jadwal waktu pembayarannya. Sampai saat ini terus dilakukan korespondensi kepada Perum PPD dalam upaya penyelesaian transaksi jual beli tanah dan bangunan tersebut. Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan karena sampai saat ini terus dilakukan korespondensi kepada Perum PPD dalam upaya penyelesaian transaksi jual beli tanah dan bangunan Kantor Pusat Perum PPD. Temuan ini masih dipantau. c. Pelaksanaan Program Jamsostek Sektor Informal/Mandiri pada Kantor Cabang Rawamangun belum dipayungi oleh ketentuan/aturan yang baku. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek memberikan perhatian khusus atas pelaksanaan kegiatan tersebut, dan melakukan koordinasi dengan pihakpihak terkait agar PP dan ketentuan-ketentuan dibawahnya termasuk yang berlaku di lingkungan PT Jamsostek dapat segera diterbitkan. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa telah dilakukan penelitian bersama dengan Depnakertrans dalam rangka menggali/mengumpulkan data tentang karakteristik sektor informal. Hasil penelitian berupa rekomendasi mekanisme program perlindungan untuk sektor informal. Serta sudah ada masukan hasil penelitian dari ILO tentang sektor informal dari berbagai sektor usaha dari beberapa kota di pulau Jawa dan Sumatera. Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan karena sampai saat ini terus

54

BPK-RI / AUDITAMA V

dilakukan penelitian untuk menggali/mengumpulkan data tentang hal-hal yang berkaitan dengan sektor informal. Temuan ini masih dipantau. Temuan-temuan tersebut masih dipantau, karena upaya penyelesaian tindak lanjutnya selain masih dalam proses, ada juga yang terkait dengan pihak-pihak lain.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

55

BPK-RI / AUDITAMA V

KEPATUHAN TERHADAP PENGENDALIAN INTERN

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Nomor: 14.B/Auditama V/GA/03/2005

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Kami telah mengaudit laporan keuangan konsolidasian PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Persero) (selanjutnya disebut “PT Jamsostek”) dan anak perusahaannya tanggal 31 Desember 2004 dan 2003, dan telah menerbitkan laporan nomor: tanggal 31 Maret 2005. Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Audit Pemerintahan yang diterbitkan Badan Pemeriksa Keuangan dan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material. Dalam perencanaan PT Jamsostek dan pelaksanaan audit kami atas laporan keuangan konsolidasian tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2004, kami 14.A/Auditama V/GA/03/2005

untuk

mempertimbangkan pengendalian intern entitas tersebut untuk menentukan prosedur audit yang kami laksanakan untuk menyatakan pendapat kami atas laporan keuangan dan tidak dimaksudkan untuk memberikan keyakinan atas pengendalian intern tersebut.

BPK-RI / AUDITAMA V

Manajemen PT Jamsostek bertanggung jawab untuk menyusun dan memelihara suatu pengendalian intern. Dalam memenuhi tanggung jawabnya tersebut, diperlukan estimasi dan pertimbangan dari pihak manajemen tentang taksiran manfaat dan biaya yang berkaitan dengan pengendalian intern. Tujuan suatu pengendalian intern adalah untuk memberikan keyakinan memadai, bukan keyakinan absolut, kepada manajemen bahwa aktiva terjamin keamanannya dari kerugian sebagai akibat pemakaian atau pengeluaran yang tidak diotorisasi dan bahwa transaksi dilaksanakan dengan otorisasi manajemen dan dicatat semestinya untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Karena adanya keterbatasan bawaan dalam setiap pengendalian intern, kekeliruan atau ketidakberesan dapat saja terjadi dan tidak terdeteksi. Begitu juga, proyeksi setiap evaluasi atas pengendalian intern ke periode yang akan datang mengandung risiko bahwa suatu prosedur menjadi tidak memadai lagi karena perubahan kondisi yang terjadi atau efektivitas desain dan operasi pengendalian intern tersebut telah berkurang. Untuk tujuan laporan ini, kami menggolongkan pengendalian intern signifikan ke dalam kelompok berikut ini: Penerimaan iuran Pembayaran jaminan Pengelolaan Hutang Jaminan Hari Tua (JHT) Pengelolaan investasi Pengelolaan aktiva tetap Beban usaha Untuk semua golongan pengendalian intern tersebut di atas, kami memperoleh pemahaman tentang desain pengendalian intern yang relevan dan apakah pengendalian intern tersebut dioperasikan, serta kami menentukan risiko pengendalian.

57

BPK-RI / AUDITAMA V

Pertimbangan kami atas pengendalian intern tidak perlu mengungkapkan semua masalah dalam pengendalian intern yang mungkin merupakan kelemahan material menurut standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Suatu kelemahan material adalah kondisi yang dapat dilaporkan yang didalamnya desain dan operasi satu atau lebih komponen pengendalian intern tidak mengurangi risiko ke tingkat yang relatif rendah tentang terjadinya kekeliruan dan ketidakberesan dalam jumlah yang akan material dalam hubungannya dengan laporan keuangan auditan dan tidak terdeteksi dalam waktu semestinya oleh karyawan dalam pelaksanaan normal fungsi yang ditugaskan kepadanya. Kami mencatat bahwa tidak ada masalah berkaitan dengan pengendalian intern dan operasinya yang kami pandang memiliki kelemahan material sebagaimana kami definisikan di atas. Kami juga menemukan masalah-masalah tertentu yang tidak material dari kelemahan PT Jamsostek terhadap pengendalian intern dan operasinya disertai saran perbaikannya yang kami kemukakan pada Lampiran B.

Auditor Utama Keuangan Negara V Penanggung jawab Audit,

Drs. Misnoto, Ak., MA Register Negara No. D-1416 Jakarta, 31 Maret 2005

58

BPK-RI / AUDITAMA V

LAMPIRAN B 1. Penempatan deposito berjangka yang dilakukan PT Jamsostek belum sesuai dengan ketentuan Sesuai dengan tujuan perusahaan yaitu untuk memberikan pelayanan prima dan manfaat yang optimal bagi seluruh peserta, PT Jamsostek dalam melakukan pengelolaan dana peserta harus dilakukan secara terarah dengan menganut prinsip kehati-hatian untuk mencapai hasil yang optimal. Dana JHT dan Non-JHT mempunyai karakteristik yang berbeda, sehingga pengelolaan dan hasil yang diharapkan berbeda pula. Investasi dan pengembangan JHT diharapkan dapat memberikan kemampuan kepada perusahaan untuk membayar hutang JHT. Investasi JHT bertujuan untuk mencapai tingkat pengembalian optimal dengan tingkat risiko yang dapat diterima perusahaan yaitu konservatif. Sedangkan investasi dan hasil pengembangan Non-JHT setelah dikurangi kewajiban klaim kepada peserta diharapkan dapat menutup biaya operasional perusahaan dan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan perusahaan. Setiap penempatan dana pada suatu instrumen harus didasarkan pada analisa yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan pedoman investasi yang telah ditetapkan. Analisa penempatan dan pencairan dana investasi dilakukan oleh Direktorat Riset Investasi (DRI) yang bertugas untuk mengumpulkan semua informasi yang berhubungan dengan rencana investasi, menyusun kumpulan investasi yang diperbolehkan, memberikan rekomendasi kepada Direktur Investasi, meninjau secara berkala portofolio investasi dan membantu menyusun rencana investasi serta evaluasi kinerja portofolio investasi. Dengan rekomendasi dari DRI, Divisi Pasar Uang dan Pasar Modal (PUPM) melakukan penempatan atau pencairan dana investasi. Total dana investasi per 31 Desember 2004 (unaudited) sebesar Rp32.515.960.000,00, diantaranya sebanyak 44% dari dana tersebut ditempatkan dalam bentuk deposito berjangka. Dari seluruh dana investasi yang ditempatkan pada deposito berjangka, yang ditempatkan pada bank milik negara 45,94%, Bank Pembangunan Daerah 16,65%, dan Bank Swasta Nasional 37,40%. Jumlah bank swasta nasional sebagai bank 59 BPK-RI / AUDITAMA V

penempatan deposito adalah 26 bank, dua diantaranya telah dilikuidasi, yaitu Bank Dagang Bali (BDB) dan Bank Global. Berdasarkan pemeriksaan secara uji petik terhadap 16 bank swasta nasional atas analisa rasio keuangan yang dipakai sebagai dasar penempatan pada bank-bank tersebut, diketahui bahwa terdapat delapan bank berdasarkan analisa rasio keuangannya seharusnya tidak layak untuk penempatan deposito, yaitu sebagai berikut : a. Bank Artha Graha (Bank AG) Dari analisa kinerja bank sesuai Memo DRI No. M/249/DRI/082004 tanggal 31 Agustus 2004 rasio keuangan Bank AG berdasarkan data laporan keuangan tahun 2002 hingga Juni 2004 adalah:
Rasio CAR NPL ROA ROE NIM BOPO LDR Juni 2004 10,57% 3,62% 1,19% 26,46% 6,13% 94,88% 85,41% Des 2003 10,58% 3,72% 0,47% 12,58% 3,82% 94,08% 83,80% Juni 2003 9,91% 3,63% 0,40% 11,61% 2,43% 94,08% 83,80% Des 2002 9,33% 2,94% 0,32% 9,93% 1,19% 97,87% 72,56% Standar BI 8% <5% >1,5% >12% >6% <92% 85% - 110%

Dari tabel di atas diketahui bahwa Return On Asset (ROA) Bank AG di bawah standar BI, di mana ROA yang rendah menunjukkan bahwa Bank AG kurang mampu mengelola asetnya untuk mendapatkan tingkat pengembalian yang optimal. Demikian juga dengan Net Interest Margin (NIM) yang pada dua tahun terakhir lebih rendah dari standar BI menunjukkan bahwa Bank AG kurang mampu mengelola aktiva produktifnya untuk mendapatkan hasil bunga yang optimal. Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) Bank AG di atas standar BI mengindikasikan bahwa Bank AG tidak efisien dalam melakukan kegiatan operasionalnya. Total penempatan deposito berjangka pada Bank AG per 31 Desember 2004 adalah Rp430.550.000.000,00 terdiri dari deposito JHT sebesar Rp417.250.000.000,00 dan Non-JHT sebesar Rp13.300.000.000,00. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pada tahun 2004 terdapat penempatan dana baru pada bulan Agustus, September, Oktober, November, dan Desember dengan total Rp144.500.000.000,00 untuk JHT 60 BPK-RI / AUDITAMA V

dan Rp13.300.000.000,00 untuk Non-JHT (lihat lampiran 3). Sedangkan ekuitas Bank AG per Juni 2004 adalah Rp285.732.000.000,00. Dengan demikian, penempatan deposito berjangka pada Bank AG adalah 151% (Rp430.550.000.000,00/Rp285.732.000.000,00 x 100%) dari ekuitasnya. Dari kondisi di atas dapat disimpulkan bahwa sebenarnya Direktorat Investasi PT Jamsostek tidak menempatkan dana di Bank AG apabila memperhatikan: 1) Rasio ROA, NIM, dan BOPO tidak sesuai dengan standar BI 2) Total penempatan deposito berjangka PT Jamsostek pada Bank AG telah mencapai 151% dari ekuitasnya atau melebihi batas maksimum penempatan deposito berjangka yaitu sebesar 85% dari ekuitasnya. b. Bank Victoria Dari analisa kinerja bank sesuai Memo DRI No. M/272/DRI/092004 tanggal 22 September 2004 atas rasio keuangan Bank Victoria berdasarkan data laporan keuangan tahun 2002, 2003, dan 2004 adalah sebagai berikut:
Rasio CAR NPL ROA ROE NIM BOPO LDR Juni 2004 14,70% 0% 0,77% 7,60% 4,84% 95,48% 35,27% Des 2003 11,52% 4,05% 0,69% 8,77% 2,44% 95,47% 40,22% Juni 2003 16,50% 2,71% 0,37% 4,68% 1,71% 97,71% 27,62% Des 2002 8,99% 2,14% 0,62% 13,09% 1,98% 96,42% 36,24% Standar BI 8% <5% >1,5% >12% >6% <92% 85% - 110%

Dari rasio keuangan pada tabel di atas, hanya CAR dan NPL Bank Victoria saja yang sesuai dengan standar BI, sehingga dapat disimpulkan bahwa Bank Victoria mempunyai kinerja yang kurang baik. Rekomendasi dari DRI menyatakan bahwa penempatan pada bank ini perlu dikurangi secara bertahap. Total penempatan deposito berjangka pada Bank Victoria per 31 Desember 2004 sebesar Rp64.800.000.000,00 yang seluruhnya dari dana JHT. Sejak tanggal memo sampai dengan 31 Desember 2004 tidak ada pengurangan penempatan deposito berjangka pada Bank Victoria, bahwa terdapat penempatan dana baru sebesar Rp5.000.000.000,00 pada bulan November 2004. (lihat lampiran 3)

61

BPK-RI / AUDITAMA V

c. Bank Bumi Putera (Bank BP) Dari evaluasi berkala kinerja bank sesuai Memo DRI No. M/232/DRI/082004 tanggal 18 Agustus 2004 atas rasio keuangan Bank BP berdasarkan laporan keuangan tahun 2002 s.d Maret 2004 sebagai berikut :
Rasio CAR NPL ROA ROE NIM BOPO LDR Maret 2004 10,03% 2,76% 1,08% 10,37% 7,18% 89,23% 99,6% Des 2003 9,94% 2,50% 1,40% 12,37% 5,64% 90,67% 96,21% Maret 2003 12,79% 3,57% 1,21% 9,30% 5,21% 92,37% 87,27% Des 2002 12,94% 3,67% 1,32% 9,91% 4,89% 92,50% 93,50% Standar BI 8% <5% >1,5% >12% >6% <92% 85% - 110%

Dari data di atas diketahui ROA dan ROE Bank BP di bawah standar BI. Hal ini menunjukkan bahwa Bank BP kurang mampu mengelola asetnya untuk mendapatkan tingkat pengembalian yang optimal. Demikian juga rasio NIM dalam dua tahun terakhir berada di bawah 6% yang mengindikasikan bahwa bank ini kurang mampu mengelola asset produktifnya untuk menghasilkan bunga yang optimal. Deposito berjangka pada Bank BP per 31 Desember 2004 adalah Rp193.820.000.000,00 seluruhnya dari dana JHT atau sebesar 76,002% dari ekuitasnya. Dari penjelasan di atas disimpulkan bahwa rasio ROA, ROE, dan NIM tidak sesuai dengan standar BI, Direktorat Investasi seharusnya tidak lagi menempatkan dananya pada bank BP. Akan tetapi, pada bulan Agustus dan Desember 2004 ada penempatan dana baru sebesar Rp16.000.000.000,00 untuk program JHT. (lihat lampiran 3) d. Bank CIC Dari analisa terakhir DRI No. M/10/DRI/022002 tanggal 6 Februari 2002, rasio keuangan Bank CIC berdasarkan laporan keuangan tahun 1998 s.d 2001 adalah :
Rasio CAR NPL ROA ROE NIM BOPO LDR Des 2001 13,83% n/a 0,41% n/a n/a n/a 52,91% Des 2000 7,07% n/a 1,09% n/a n/a n/a 48,24% Des 1999 0,55% n/a -4,89% n/a n/a n/a 36,83% Des 1998 5,04% n/a -9,88% n/a n/a n/a 31,99% Standar BI 8% <5% >1,5% >12% >6% <92% 85% - 110%

62

BPK-RI / AUDITAMA V

ROA Bank CIC jauh di bawah standar BI. ROA yang rendah menunjukkan bahwa Bank CIC kurang mampu mengelola asetnya untuk mendapatkan tingkat pengembalian yang optimal. Dari segi likuiditas, Bank CIC kurang dapat menyalurkan kreditnya ditandai dengan LDR yang di bawah standar BI. Total penempatan deposito berjangka pada Bank CIC per 31 Desember 2004 sebesar Rp214.200.000.000,00 yang seluruhnya dari dana JHT. Penempatan dana baru dilakukan tahun 2003 sebesar Rp35.400.000.000,00 sedangkan bulan Mei 2004 terdapat pencairan sebesar Rp12.550.000.000,00 (lihat lampiran 3). Menurut penjelasan Divisi PUPM penempatan dana baru tahun 2003 dilakukan dengan mendasarkan pada evaluasi kinerja bank tahun 2002. Dari kondisi di atas dapat disimpulkan bahwa: 1) ROA dan LDR Bank CIC di bawah standar BI 2) Tidak dilakukan analisa evaluasi kinerja bank secara berkala oleh DRI untuk memastikan keamanan investasi. e. Bank Danpac Dari analisa terakhir kinerja bank sesuai Memo DRI No. M/470/DI/112000 tanggal 16 November 2000, rasio keuangan Bank Danpac berdasarkan data laporan keuangan tahun1999 dan 2000 adalah sebagai berikut:
Rasio CAR NPL ROA ROE NIM BOPO LDR Juni 2000 26,41% n/a 1,41% n/a n/a n/a 72,42% Des 1999 31,87% n/a 5,66% n/a n/a n/a 44,01% Juni 1999 18,04% n/a 6,96% n/a n/a n/a 0,59% Standar BI 8% <5% >1,5% >12% >6% <92% 85% - 110%

ROA Bank Danpac jauh di bawah standar BI. ROA yang rendah menunjukkan bahwa Bank Danpac kurang mampu mengelola asetnya untuk mendapatkan tingkat pengembalian yang optimal. Dari segi likuiditas, Bank Danpac kurang dapat menyalurkan kreditnya ditandai dengan LDR yang tidak sesuai standar BI. Total penempatan deposito berjangka pada Bank Danpac per 31 Desember 2004 adalah Rp85.600.000.000,00 yang seluruhnya dari dana JHT. Penempatan dana 63 BPK-RI / AUDITAMA V

baru tahun 2004 dilakukan pada bulan September sebesar Rp10.000.000.000,00 (lihat lampiran 3) untuk program JHT. Menurut rekomendasi dari memo tersebut, maksimum penempatan dana pada Bank Danpac adalah Rp50.000.000.000,00 Dari kondisi di atas dapat disimpulkan bahwa: 1) ROA dan LDR Bank Danpac di bawah standar BI 2) Penempatan deposito berjangka pada Bank Danpac melebihi batas yang direkomendasikan, (Rp85.600.000.000,00-Rp50.000.000.000,00). 3) Tidak dilakukan analisa evaluasi kinerja bank secara berkala oleh DRI untuk memastikan keamanan investasi. Hal-hal yang seharusnya diperhatikan dalam penempatan deposito berjangka: a. Surat Direktur Investasi kepada Kantor Wilayah/Kantor Cabang No.B/7070/082004 tanggal 16 Agustus 2004 tentang Penempatan dana deposito pada Bank Umum Milik Swasta menyampaikan bank-bank umum swasta yang memiliki kinerja keuangan baik dan dapat ditunjuk untuk penempatan dana deposito KC. Bank-bank tersebut adalah BII, Bank Bukopin, Bank Danamon, Bank Niaga, Bank Permata, Bank Mega, Bank NISP, Bank Agro, Bank BTPN, dan Bank Muamalat. Daftar bank swasta nasional yang diijinkan tersebut mempunyai rasio keuangan yang sesuai dengan standar BI. b. Sesuai dengan Garis Besar Kebijakan Akuntansi (GBKI) kriteria pemilihan sekuritas pasar uang adalah : 1) Kriteria kualitatif meliputi profil dan kecenderungan pertumbuhan industri, profil dan sepesifikasi produk dan brand image, profil bank, permodalan, kualitas aktiva produktif, kualitas manajemen, efisiensi, likuiditas, dan tingkat kesehatan bank. 2) Kriteria kuantitatif meliputi tingkat suku bunga, Capital Adequacy Ratio, Non Performing Loan, Return On Asset, Return On Equity, dan Debt Ratio. c. Sesuai dengan Pedoman Investasi, seharusnya dilakukan analisa secara berkala atas penempatan dana pada instrumen investasi. d. Keputusan Direksi PT Jamsostek No KEP/109/062004 tanggal 22 Juni 2004 mengatur batas maksimum penempatan dana pada bank swasta nasional kategori D dengan total asset kurang dari Rp5.000.000.000.000,00 adalah 85% dari total modal.

64

BPK-RI / AUDITAMA V

Kondisi tersebut mengakibatkan: a. Penempatan deposito yang tidak sesuai standar BI dan tidak memenuhi kriteria kualitatif dan kuantitatif sesuai GBKI berisiko/berpotensi merugikan PT Jamsostek dan peserta Jamsostek. b. Pengambilan keputusan untuk menempatkan atau mencairkan dana tanpa disertai analisa dengan data yang up to date kurang dapat dipertanggungjawabkan. c. Penempatan dana pada bank AG melebihi ketentuan sesuai SK Direksi sebesar 66% (151% - 85%) atau sebesar Rp187.677.800.000,00. Hal tersebut terjadi karena: a. Kebijakan Divisi Investasi berkaitan dengan penempatan deposito pada bank swasta nasional di KW dan KC tidak konsisten dengan penempatan deposito di KP b. Pemilihan bank untuk penempatan deposito berjangka tidak sesuai dengan kriteria pemilihan instrumen pasar uang sesuai GBKI c. Beberapa bank tidak dilakukan analisa atau evaluasi kinerja secara berkala untuk menilai kelayakan penempatan investasi. d. Divisi PUPM tidak mematuhi Keputusan Direksi dengan melanggar batas maksimum penempatan deposito. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa definisi modal perbankan yang dijadikan acuan perhitungan batas maksimum penempatan yang tertuang dalam KEP/150/0695 tidak sesuai dengan praktek yang lazim. Atas ketidaksesuaian tersebut telah diluruskan melalui Memo DPUPM tanggal 15 September 2004. Perhitungan modal ini mengacu pada peraturan BI tanggal 14 Desember 2001, yang intinya menegaskan bahwa modal bank memperhitungkan tidak hanya modal inti tetapi ditambah modal pelengkap. Mengacu kepada perubahan tersebut dan ketentuan KEP/109/062004 tanggal 22 Juni 2004, maka batas maksimum penempatan pada bank-bank tersebut tidak terlampaui. Direktorat Investasi menyadari kurangnya kajian berkala mengenai kinerja perbankan sejak tahun 2000 s.d. kuartal III 2004. Hal ini disebabkan kurangnya jumlah analis pada DRI yang hanya berjumlah dua hingga tiga orang saat itu. Sedangkan kajian yang diperlukan mencapai 179 kajian, di luar kajian non-rutin. Sehingga penambahan dana didasarkan pada informasi tingkat kesehatan bank oleh BI serta InfoBank, yang 65 BPK-RI / AUDITAMA V

secara umum kinerja Bank Artha Graha, Bank Bumi Putera, Bank Victoria dikatakan sehat, sedangkan Bank Centuri cukup sehat. Terhitung kuartal III tahun 2004, DRI secara berkala telah melakukan kajian atas kinerja bank yang ditempatkan. Kajian telah memperhitungkan faktor kinerja dalam menghitung batas maksimum penempatan pada satu bank. Semakin tinggi negative deviation kinerja bank dari target BI, semakin rendah maksimum penempatan pada bank tersebut. Ke depan, Direktorat Investasi akan melakukan kajian kinerja bank secara berkala paling tidak enam bulan sekali, sehingga diharapkan dapat informasi yang up to date dan akurat mengenai kinerja bank, sehingga dapat meminimalkan risiko investasi. Selain itu Divisi PUPM juga telah mengurangi exposure pada bank-bank tersebut. Selama kuartal I 2005, Divisi PUPM telah mengurangi deposito pada Bank Centuri sebesar Rp.6,6 milyar dan Rp.25,6 milyar. Penerbitan Surat Direktur Investasi No.R/7070/082004 dibuat terkait dengan program Jasa Konstruksi di KC, mengingat tidak semua bank yang ada saat ini memiliki kantor cabang diseluruh Indonesia, seperti KC PT Jamsostek. Kebijakan ini upaya untuk menyederhanakan jumlah bank swasta sebagai alternatif investasi deposito di KC, serta mempermudah kontrol penempatan pada bank swasta. BPK-RI menyarankan agar PT Jamsostek dalam hal ini Direktorat Investasi dalam menetapkan bank untuk penempatan deposito berjangka sesuai dengan kriteria pemilihan instrument pasar uang pada Garis Besar Kebijakan Investasi, melakukan analisa atau evaluasi kinerja secara berkala untuk menilai kelayakan penempatan investasi. 2. Transaksi penjualan saham JIHD tahun 2004 belum sepenuhnya dilakukan dengan cermat Salah satu portofolio investasi PT Jamsostek adalah dalam bentuk saham, yang terdiri atas saham program JHT dan Non-JHT. Atas saham tersebut juga diklasifikasikan atas saham yang diperdagangkan (trading) dan saham tersedia untuk dijual (Available for sale/AFS). Berdasarkan laporan keuangan (unaudited) PT Jamsostek per 31 Desember 2004, diketahui portofolio saham menduduki peringkat ketiga dari segi jumlah

66

BPK-RI / AUDITAMA V

dibandingkan total investasi per tanggal tersebut yaitu mencapai Rp3.158.217.536.302,00 atau 9,71% dibandingkan total investasi sebesar Rp32.515.962.818.482,00. Berdasarkan pemeriksaan secara uji petik atas transaksi saham diketahui bahwa terdapat saham dengan kode JIHD dari program JHT dan Non-JHT dengan klasifikasi AFS yang pada tahun 2004 telah dijual. Saham JIHD merupakan saham dari PT Jakarta International Hotel & Development Tbk., yaitu perusahaan yang bergerak dibidang hotel, real estate, properti, perkantoran dan pusat perbelanjaan. Aktiva utama perusahan adalah berupa land bank seluas 18 ha (bersih) di daerah segitiga emas Jakarta, yaitu Sudirman Central Business District (SCBD), selain itu aktiva berupa hotel yaitu Hotel Borobudur yang merupakan hotel bintang lima dengan jumlah kamar sebanyak 695 kamar. Menurut laporan bulanan Divisi Pasar Uang dan Pasar Modal (PUPM) untuk bulan Januari 2004 diketahui bahwa jumlah saham JIHD per 1 Januari 2004 adalah sebanyak 44.650.000 lembar saham, dan pada bulan Mei 2004 saham JIHD di stock split menjadi 1:2. Pada tahun 2004 PT Jamsostek melakukan transaksi jual atas saham tersebut dan atas penjualan tersebut PT Jamsostek menderita kerugian yang relatif besar yaitu sebesar Rp15.118.445.909,00 dengan rincian sebagai berikut :
No 1 Bulan Januari Lembar saham 6.650.000 Gain (loss) 182.344.671 Saldo 31/12/03 JHT 44.650.000 lembar NJHT 3.331.500 lembar Dijual JHT 6.650.000 lembar 2 Juli 6.663.000 (1.365.175.651) Pada bulan mei ada stock split JHT 38.000.000x2=76.000.000 lembar NJHT 3.331.500x2=6.663.000 lembar Dijual NJHT 6.663.000 lembar 3 4 Agustus September Total 18.832.000 57.168.000 83.150.000 (3.167.403.834) (10.768.211.095) (15.118.445.909) Dijual JHT 18.832.000 Dijual JHT 57.168.000 Keterangan

Keterangan : Perhitungan terinci lihat lampiran 4

Berdasarkan dokumen yang ada diketahui bahwa penjualan saham JIHD pada bulan Agustus dan September 2004 di atas, sebelumnya telah dievaluasi atau dianalisa 67 BPK-RI / AUDITAMA V

oleh Divisi Riset Investasi (DRI) melalui Memo No.M/214/DRI/082004 tanggal 5 Agustus 2004 kepada Direktur Investasi. Analisa tersebut antara lain menjelaskan bahwa saham tersebut tidak lagi memiliki potensial up side di masa mendatang karena masih rendahnya kinerja perseroan yang ditunjukkan dengan masih rendahnya pencapaian hasil usaha serta masih besarnya porsi hutang. Untuk menghindari kerugian lebih besar DRI merekomendasikan untuk melepaskan saham JIHD yang dimiliki saat ini dan menggantikannya dengan saham lain yang memiliki likuiditas, serta potensi pertumbuhan yang lebih besar. Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut diketahui bahwa : a. Dari memo analisa DRI tersebut diatas antara lain juga disebutkan bahwa : 1) Sumber utama pendapatan perusahaan adalah berasal dari hotel, yaitu 92% (Desember 2003), 93% (Desember 2002), 67% (September 2001), dan 74% (September 2000). Tingkat hunian hotel relatif rendah, sehingga hotel saat ini beroperasi pada tingkat break even point. 2) Sejak tahun 1998 perusahaan tidak dapat membayar bunga atas pinjaman bank sebesar US$ 70,000,000.00 yang digunakan untuk renovasi hotel Borobudur. Pinjaman tersebut telah direstrukturisasi beberapa kali dan sampai saat ini belum terlunasi karena ketiadaan cash flow perusahaan. 3) Proyek pembangunan SCBD dengan pendanaan melalui penerbitan obligasi dan diprediksikan menjadi salah satu sumber utama pendapatan perusahaan mengalami penundaan dan sampai saat ini belum dapat diselesaikan. 4) Adanya rugi operasional selama lima tahun terakhir membuat perusahaan berada pada posisi negatif cash flow. Sampai saat ini perusahaan tidak mempunyai cash flow karena hotel yang dimilikinya tidak menghasilkan laba dan sewa untuk berbagai properti di SCBD tidak memberikan arus kas bagi perusahaan karena hanya dapat menutupi biaya operasionalnya. 5) Prospek perusahaan ke depan relatif kurang menarik karena sebagian besar sumber pendapatannya berasal dari jasa perhotelan yang sangat tergantung pada kondisi perekonomian dan musim.

68

BPK-RI / AUDITAMA V

6) Selama periode Januari s.d. Juli 2004 kinerja saham JIHD selalu di bawah kinerja pasar (BEJ) dengan total return negatif 53,96%. b. Berdasarkan trend harga saham JIHD di pasar untuk Januari s.d. Juli diketahui posisi harga cenderung turun dan pada saat penjualan saham JIHD bulan Agustus dan September 2004 oleh PT Jamsostek, berada pada harga terendah, yaitu antara Rp205,00 s.d Rp225,00, sedangkan posisi harga pada bulan berikutnya cenderung naik. Sedangkan pada bulan Januari tahun 2004 sebelum adanya memo analisa DRI tanggal 5 Agustus 2004, PT Jamsostek menjual saham JIHD pada harga Rp825,00 s.d. Rp850,00. Berdasarkan penjelasan Direktorat Investasi penjualan saham JIHD terkait dengan restrukturisasi saham-saham yang tidak likuid. Penjualan saham JIHD tersebut sesuai analisa DRI diiringi dengan pembelian saham-saham yang memiliki potensi. Untuk saham JIHD dari program JHT yang dijual pada bulan Januari, Agustus dan September 2004, hasil penjualannya dibelikan saham TLKM dengan harga rata-rata untuk bulan Januari, Agustus dan September masing-masing sebesar Rp3.400,00, Rp3.850,00, dan Rp4.200,00 per lembar saham. Harga penutupan saham TLKM pada tanggal 30 Desember 2004 menguat hingga mencapai Rp4.825 per lembar saham. Sedangkan untuk saham JIHD untuk program Non-JHT yang dijual pada bulan Juli, atas hasil penjualan tersebut dibelikan saham ASII dengan harga rata-rata Rp5.550,00 per lembar saham. Sedangkan untuk harga penutupan per 30 Desember 2004 menguat hingga mencapai Rp9.600,00. Untuk kedua saham tersebut di atas sampai dengan akhir 2004 mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yaitu saham TLKM mengalami apresiasi sebesar 36,88% dan saham ASII sebesar 84,62%. Dengan didasarkan atas informasi pada memo analisa DRI tanggal 5 Agustus 2004 dan trend harga saham JIHD di pasar serta penjelasan dari Direktorat Investasi, seharusnya DRI telah melakukan analisa lebih dini (berkala) atas kinerja saham PT JIHD sehingga kebijakan cut loss yang diambil tidak terlambat. Berdasarkan Pedoman Pengelolaan Investasi PT Jamsostek, salah satu tugas Analis pada DRI adalah meninjau secara berkala portofolio investasi yang ada dan 69 BPK-RI / AUDITAMA V

memberikan rekomendasi kepada Direktur Investasi dengan tembusan kepada divisi terkait. Kondisi di atas mengakibatkan PT Jamsostek tidak dapat memberikan hasil yang optimal kepada peserta. Hal tersebut terjadi karena analisa atau evaluasi yang dilakukan DRI tidak dilakukan secara periodik dan tidak pada waktu yang tepat untuk memperkecil kerugian yang terjadi. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa kinerja saham JIHD hingga Juli 2004 mengalami depresiasi sebesar 36,08%, secara fundamental berdasarkan laporan keuangan selama tiga tahun (tahun 2000 s.d. 2003 audited) dan laporan keuangan semester I 2004 JIHD terus mencatatkan kerugian. Memperhatikan kondisi tersebut, untuk saham-saham yang tidak memiliki potensi kenaikan, lebih baik dijual dan hasilnya ditempatkan pada saham-saham yang masih memiliki potensi seperti saham Telkom, dan Astra. Atas saham tersebut sampai dengan akhir 2004 harganya mengalami peningkatan yang signifikan. Pada periode Oktober 2004 saham JIHD nampak mengalami peningkatan tetapi secara fundamental, DRI memandang peningkatan ini belum mempunyai landasan kuat, kenaikan saham JIHD lebih disebabkan emiten berusaha mempengaruhi harga pasar. Mengacu pada prinsip manajemen portofolio, pengelolaan portofolio saham dengan dua orang dealer yang ada, maka jumlah saham ideal yang dimiliki/dikelola adalah pada kisaran 10 hingga 15 saham/emiten. Di sisi lain jumlah portofolio saham dimiliki PT Jamsostek dipandang lebih dari jumlah ideal saham/emiten. Untuk itu dilakukan restrukturisasi jumlah saham, yaitu dengan mengurangi saham-saham yang tidak memiliki potential up side, sehingga manajemen portofolio saham akan menjadi lebih fokus dan memberikan hasil yang optimal. Strategi yang dilakukan manajemen adalah dengan memenuhi target hasil keuntungan saham sesuai dengan ketentuan RKAP 2004. Selanjutnya baru dilakukan cut loss, sehingga secara keseluruhan transaksi tersebut tidak mengganggu target pencapaian hasil investasi saham.

70

BPK-RI / AUDITAMA V

Pada tahun 2000 – semester I 2003, jumlah analis DRI dapat dikatakan kurang memadai, yaitu hanya dua hingga tiga orang. Pada kuartal III tahun 2003 analis DRI ditambah tiga orang, yang masih perlu dilatih untuk melakukan analisis investasi. Ke depan diupayakan untuk melakukan analisa/kajian secara berkala terhadap instrumen investasi baik saham, obligasi, deposito, reksadana, penyertaan dan properti. BPK-RI menyarankan agar PT Jamsostek dalam hal ini Direktorat Investasi melakukan analisa atau evaluasi secara periodik atau berkala atas saham-saham yang dimilikinya. 3. PT Jamsostek kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan minimal sebesar Rp1.912,81 juta atas hasil investasi deposito yang tidak optimal Pengelolaan investasi atas dana yang tersedia di PT Jamsostek untuk diinvestasikan dalam instrumen investasi yang aman dengan hasil maksimal adalah menjadi tugas Direktur Investasi, dimana untuk investasi pasar uang dalam bentuk deposito berjangka dikelola oleh Divisi Pasar Uang dan Pasar Modal (PUPM) yang salah satu tugasnya adalah mencari data bank yang memberikan tingkat bunga deposito maksimal. Pada dasarnya investasi PT Jamsostek dilaksanakan secara sentralisasi, namun dengan adanya otonomi daerah dimungkinkan untuk melakukan investasi di daerah berupa penempatan deposito dengan arahan dari Direktorat Investasi. Ketentuan mengenai hasil investasi sesuai Buku Pedoman Pengelolaan Investasi tahun 2003 secara umum diatur bahwa tujuan investasi yaitu untuk memperoleh hasil investasi yang optimal. Untuk penempatan investasi di daerah sesuai pedoman tersebut diatur harus memenuhi persyaratan antara lain besarnya tingkat bunga deposito berpedoman pada penjaminan BI atau tingkat bunga pasar, dilain pihak persyaratan suku bunga deposito sesuai SK Direksi No.KEP/148/072004 tanggal 20 Juli 2004 adalah minimal suku bunga counter bank bersangkutan. Berdasarkan pemeriksaan secara uji petik atas penempatan deposito di Kantor Pusat dan beberapa Kantor Cabang (KC) pada Kantor Wilayah (Kanwil) I dan VII, diketahui antara lain sebagai berikut : 71 BPK-RI / AUDITAMA V

a. Kantor Pusat Data penempatan deposito di bank milik negara dan swasta selama tahun 2004 menunjukkan bahwa Divisi PUPM untuk bank swasta telah berhasil mengoptimalkan hasil investasi dengan memperoleh hasil bunga maksimal sesuai dengan suku bunga penjaminan BI. Akan tetapi, sebagian penempatan pada bank milik negara belum memberikan hasil yang optimal. Total nilai hasil bunga yang tidak optimal atas penempatan yang suku bunganya di bawah penjaminan BI adalah sebesar Rp1.891.204.241,23 dengan rincian sebagai berikut : (selengkapnya lihat lampiran 5)
Nama Bank BNI Mandiri BRI BTN Total Total Nominal (Rp) 804.798.000.000,00 1.475.223.852.636,00 216.600.000.000,00 207.100.000.000,00 2.703.721.852.636,00 Jumlah Bilyet 19 Bilyet 44 Bilyet 13 Bilyet 21 Bilyet Hasil Bunga Tidak Optimal (Rp) 603.598.500,00 848.889.907,90 192.968.333,33 245.747.500,00 1.891.204.241,23

b. Kantor Cabang Data penempatan deposito berjangka pada Bank Mandiri dan BTN di KC Sumatera Barat, KC Samarinda, KC Kalimantan Barat, KC Tarakan dan KC Balikpapan, menunjukkan masih terdapat penempatan deposito yang hasil bunganya tidak optimal atau di bawah suku bunga penjaminan BI atau hanya sebesar bunga counter bank bersangkutan. Total nilai hasil bunga yang tidak optimal atas penempatan deposito oleh KC-KC tersebut di atas yang suku bunganya di bawah penjaminan BI adalah sebesar Rp21.610.975,00 dengan rincian : (daftar selengkapnya lihat lampiran 6) :
Nama KC Padang Samarinda Kalimantan Barat Tarakan Balikpapan Total Total Nominal (Rp) 300.000.000,00 542.000.000,00 423.000.000,00 219.000.000,00 1.061.000.000,00 2.545.000.000,00 Jumlah Bilyet 1 4 7 6 14 Bunga Tdk Optimal (Rp) 5.250.000,00 6.677.000,00 4.246.300,00 1.630.050,00 3.807.625,00 21.610.975,00

Berkaitan dengan hal ini, Kepala Kanwil I dan VII antara lain menjelaskan bahwa terdapat penempatan deposito di cabang-cabang dengan hasil sebesar tingkat 72 BPK-RI / AUDITAMA V

bunga counter Bank Mandiri pada saat penempatan adalah sesuai dengan arahan yang tertuang dalam SK Direksi No.KEP/148/072004 tanggal 20 Juli 2004 Berdasarkan RUPS tentang pengesahan RKAP 2004 dan pengesahan Laporan Keuangan Tahun Buku 2003 PT Jamsostek, Pemegang Saham memberi arahan untuk bidang investasi antara lain agar memanfaatkan peluang investasi yang ada guna mengoptimalisasikan hasil investasi seiring dengan adanya kecenderungan penurunan tingkat bunga deposito Kondisi di atas mengakibatkan PT Jamsostek kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan hasil investasi deposito yang optimal minimal sebesar Rp1.912.815.216,23 (Rp1.891.204.241,23 + Rp21.610.975,00). Hal tersebut terjadi karena : a. Direktorat Investasi PT Jamsostek tidak maksimal memanfaatkan kesempatan untuk memperoleh hasil bunga deposito yang optimal yaitu sebesar suku bunga penjaminan BI. b. Kebijakan Direksi No.KEP/148/072004 tanggal 20 Juli 2004 yang mensyaratkan KC besarnya tingkat bunga deposito minimal suku bunga counter bank tidak sesuai dengan Pedoman Pengelolaan Investasi yaitu sebesar tingkat bunga penjaminan BI atau tingkat bunga pasar. c. Direksi PT Jamsostek belum sepenuhnya melaksanakan keputusan RUPS. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa penempatan deposito Kantor Pusat pada bank pemerintah sebesar Rp2.713.000.000.000,00 pada periode April-Agustus 2004 di bawah tingkat bunga maksimum penjaminan BI pada kisaran 30 s.d. 110 basis point, disebabkan pada periode tersebut bank pemerintah terjadi over liquidity pasca likuidasi Bank BDB dan Bank Asiatic. Kepercayaan terhadap bank-bank swasta saat itu menurun, sehingga mengalihkan sebagian besar dana yang dimilikinya ke bank pemerintah. Akibat dari over likuiditas tersebut dan kesulitan menyalurkan ke kredit, menyebabkan mereka secara serempak menurunkan tingkat bunganya di bawah tingkat bunga maksimum penjaminan.

73

BPK-RI / AUDITAMA V

Dana tersebut tidak dapat ditempatkan pada bank swasta menengah/kecil karena adanya batas maksimum penempatan pada satu bank. Sedangkan bank swasta besar seperti BCA, LIPPO dan lain-lain juga menawarkan tingkat bunga di bawah maksimum penjaminan BI. Sehingga kebijakan tersebut merupakan alternatif yang paling mungkin dapat dilakukan untuk tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan ketaatan terhadap ketentuan yang ada. Sedangkan untuk penempatan pada Bank Mandiri dan BTN memperoleh rate di bawah tingkat penjaminan BI pada beberapa KC PT Jamsotek karena penempatan yang dilakukan KC umumnya dengan nilai nominal yang relatif rendah, sehingga bargaining power untuk melakukan negosiasi juga tidak terlalu besar. Mengenai perbedaan rate tersebut PT Jamsostek telah melakukan kerjasama dengan Bank Mandiri dan BNI untuk memperoleh single rate untuk seluruh penempatan PT. Jamsostek baik Kantor Pusat maupun KC tanpa melihat besarnya penempatan. Sejauh ini baru Bank Mandiri yang telah memberikan konfirmasi persetujuan tertulis. Adapun Bank BNI masih dalam proses, akan tetapi secara lisan kedua Bank tersebut telah menyetujui usulan single rate yang diajukan PT Jamsostek. Selain itu, dilakukan peningkatan koordinasi investasi dengan KC/Kanwil guna mengoptimalkan tingkat return investasi di Kantor Cabang. Berkaitan dengan SK Direksi No.KEP/148/072004 tanggal 20 Juli 2004 dan SK Direksi No.KEP/78/042003 tanggal 25 April 2003 yang terlihat bertentangan, ke depan akan dilakukan koreksi terhadap SK Direksi No.KEP/148/072004. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek : a. Dalam hal ini Direktorat Investasi berusaha maksimal untuk memperoleh hasil bunga deposito yang optimal sebesar tingkat suku bunga penjaminan BI. b. Merevisi Kebijakan Direksi No.KEP/148/072004 tanggal 20 Juli 2004 yang mensyaratkan KC mengusahakan besarnya tingkat bunga deposito minimal sama dengan suku bunga counter bank agar sesuai dengan Buku Pedoman Pengelolaan Investasi yaitu sebesar tingkat bunga penjaminan BI atau tingkat bunga pasar. c. Sepenuhnya melaksanakan keputusan RUPS yaitu mengoptimalkan hasil investasi.

74

BPK-RI / AUDITAMA V

4. Pengadaan pengembangan sistem informasi penyusunan anggaran sebesar Rp318,50 juta belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan. Dalam rangka meningkatkan efisiensi, akurasi data, kecepatan, serta kemudahan dalam pengerjaan penyusunan anggaran, PT Jamsostek mencanangkan untuk mengadopsi teknologi yang lebih maju. Hal tersebut mengingat aplikasi bantu yang sudah ada saat ini tidak sesuai lagi dengan lingkungan aplikasi di PT Jamsostek karena menggunakan bahasa pemograman foxpro, serta tidak memenuhi beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh alat bantu tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, Biro Teknologi dan Informasi (BTI) menyampaikan kebutuhan tersebut kepada Biro Perlengkapan dan Sarana (BPS) untuk dilakukan proses pengadaannya. Selanjutnya Kepala BPS melalui surat No.B/4313/052004 tanggal 13 Mei 2004 kepada Ketua Panitia Pengadaan Barang dan Jasa meminta agar melakukan proses pengadaan jasa pembangunan aplikasi sistem informasi penyusunan anggaran (SIPA). Menindaklanjuti hal tersebut, Panitia Pengadaan Barang dan Jasa setelah melakukan proses seleksi menetapkan PT Arun Prakarsa Inforindo (PT API) sebagai pemenang untuk melaksanakan pembangunan aplikasi SIPA, yang kemudian dituangkan dalam Perjanjian Kerjasama No.PER/73/062004 tanggal 30 Juni 2004 dengan nilai pekerjaan sebesar Rp318.500.000,00. Berdasarkan pemeriksaan terhadap dokumen terkait dengan pembangunan aplikasi SIPA, diketahui hal-hal sebagai berikut : a. Penggunaan dana sebesar Rp83.270.000,00 tidak melalui perencanaan yang baik. Voucher umum nomor RB01831078 tanggal 18 Januari 2004 menunjukkan bahwa PT Jamsostek telah membayar kepada PT Multi Indo Konsulindo sebesar Rp83.270.000,00 atas pekerjaan penyempurnaan aplikasi SIPA sesuai dengan Surat Perintah Kerja Nomor SPK/114/092003 tanggal 16 September 2003 dan berita acara penyelesaian pekerjaan tanggal 14 Nopember 2003. Berita acara penyelesaian pekerjaan tersebut ditandatangani oleh Kepala Biro Keuangan PT Jamsostek dan Direktur PT Multi Indo Konsulindo. Mengingat pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan pembangunan aplikasi seharusnya serah terima pekerjaan dilakukan oleh BTI karena secara fungsional BTI merupakan satu 75 BPK-RI / AUDITAMA V

unit kerja yang bertanggungjawab atas seluruh pembangunan aplikasi di PT Jamsostek. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penyempurnaan aplikasi SIPA tersebut tidak dikoordinasikan dengan BTI. Lebih lanjut, berdasarkan Kerangka Acuan Kerja pembangunan aplikasi yang dilaksanakan oleh PT API diketahui bahwa pembangunan aplikasi SIPA tersebut sebetulnya dapat dilaksanakan sebelum tahun 2004, karena SIPA yang dibangun oleh PT API terintegrasi dengan Sistem Informasi Pelayanan Terpadu dan Sistem Informasi Keuangan (SIAK) yang selama ini sudah dimiliki oleh PT Jamsostek. Oleh karena itu, pembangunan Aplikasi SIPA yang dilaksanakan oleh PT API seharusnya dilaksanakan sebelum tahun 2004 agar tidak terjadi pengeluaran atas pekerjaan yang sama. b. Proses pengadaan jasa pembangunan SIPA senilai Rp318.500.000,00 belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan. Peserta lelang yang dinyatakan lulus seleksi administrasi adalah tiga perusahaan, yaitu PT API, PT Citra Murni Semesta, dan PT Gapura Nirwana Agung. Akan tetapi, ketiga perusahaan tersebut seharusnya tidak lulus, karena tidak melampirkan ijazah-ijazah yang dimiliki oleh tenaga ahli yang menjadi salah satu syarat penawaran dalam RKS. Selain itu, PT Citra Murni Semesta tidak memiliki Sertifikat Badan Usaha untuk bidang Konsultansi Non-Konstruksi. c. Berdasarkan pemeriksaan atas HPS diketahui bahwa HPS tidak didukung dengan dasar perhitungan mandays dan tarif sehingga diragukan kewajarannya. Pengadaan jasa pembangunan aplikasi SIPA seharusnya memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Setiap pengeluaran dan pekerjaan seharusnya direncanakan dengan baik. b. RKS pembangunan aplikasi SIPA menyatakan syarat-syarat peserta seleksi antara lain adalah : 1) Perusahaan harus memiliki Sertifikat Badan Usaha di Bidang Konsultansi Non-Konstruksi. 2) Melampirkan ijasah tenaga ahli.

76

BPK-RI / AUDITAMA V

c. Surat Keputusan Direksi PT Jamsostek No.KEP/138/072004 tanggal 8 Juli 2004 antara menyatakan bahwa panitia pengadaan barang jasa harus melakukan perhitungan HPS dengan cermat. Hal tersebut mengakibatkan pengeluaran dana sebesar Rp83.270.000,00 tidak memberikan manfaat bagi PT Jamsostek dan pelelangan pengadaan pengembangan aplikasi SIPA belum sepenuhnya dapat diyakini kewajarannya Kondisi tersebut disebabkan Kepala Biro Keuangan tidak melakukan koordinasi dengan Kepala BTI atas pekerjaan yang menjadi tanggung jawab BTI dan Panitia Pengadaan Barang dan Jasa kurang cermat dalam melakukan seleksi administrasi. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa penyempurnaan Aplikasi SIPA Foxpro diperlukan untuk memenuhi kebutuhan penyusunan anggaran tahun 2004 yaitu melakukan break down anggaran hasil penetapan dari Menteri BUMN, dan harus segera dilakukan karena rencana kegiatan penyusunan anggaran break down anggaran nasional paling lambat bulan Desember 2003 telah selesai dilaksanakan. Mengenai tidak adanya koordinasi dengan BTI disebabkan Biro Keuangan beranggapan aplikasi SIPA Foxpro masih belum terintegrasi dengan aplikasi yang telah ada pada PT Jamsostek (SIPT dan GL), dan anggaran yang dipakai untuk pembuatan aplikasi SIPA Foxpro adalah anggaran Biro Keuangan. Ke depan koordinasi akan dilakukan dengan BTI atas pekerjaan yang berkaitan dengan TI. Hasil dari penyempurnaan tersebut adalah break down anggaran tahun 2004 diselesaikan sesuai rencana (RUPS diselenggarakan tanggal 15 Januari 2004 dan breakdown diselesaikan tanggal 21 Januari 2004), data break down anggaran dalam bentuk foxpro dapat dikonversi ke data DMP untuk masuk kedalam aplikasi GL sebagai penetapan anggaran, dan hasil break down dapat dikonversi kedalam akun baru Pajastek. BPK-RI menyarankan agar : a. PT Jamsostek dalam melakukan pengadaan barang atau jasa yang berkaitan dengan teknologi informasi didasarkan pada kajian yang cermat dan menyeluruh; b. Dalam pelaksanaannya dikoordinasikan antara BPS, BTI dan pengguna sebelum diserahkan kepada Panitia Pengadaan Barang dan Jasa;

77

BPK-RI / AUDITAMA V

c. Serah terima barang dan jasa dilakukan oleh pihak yang mengetahui keberadaan barang. d. Direksi memberikan teguran kepada Panitia Pengadaan Barang dan Jasa yang kurang cermat dalam melakukan seleksi administrasi. 5. Fungsi Tim Koordinasi Fungsional Pusat Tahun 2004 tidak optimal Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) No.KEP.222/MEN/2002 tanggal 12 Desember 2002 tentang koordinasi fungsional pelaksanaan program Jamsostek, antara lain menetapkan bahwa Koordinasi Fungsional (KF) adalah kegiatan yang memadukan fungsi yang terkait antara instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan dengan PT Jamsostek dalam pelaksanaan program Jamsostek. RKAP tahun 2004 menetapkan bahwa salah satu strategi Direktorat Operasi dan Pelayanan adalah mengoptimalkan kemitraan dan jaringan cabang dalam rangka pelaksanaan program jamsostek dengan instansi-instansi terkait. Salah satunya adalah kerja sama dengan Depnakertrans melalui Tim KF berdasarkan Kepmenakertrans tersebut. Selanjutnya Direksi PT Jamsostek dengan Sekjen Depnakertrans membentuk Tim KF dengan SKB No.KEP.1156/SJ/XI/2004; MOU/16/112004 tanggal 29 Nopember 2004 tentang Penunjukan Tim KF Tingkat Pusat. Dalam SKB tersebut ditetapkan : a. Personil Tim KF terdiri dari pihak PT Jamsostek dan Depnakertrans sebanyak 42 orang, yaitu pejabat struktural Depnakertrans sebanyak 20 orang, pejabat struktural PT Jamsostek sebanyak 13 orang, dan personil untuk sekretariat Tim KF sebanyak sembilan orang. b. Tugas Tim KF sebagai berikut: 1) Menyusun draft petunjuk teknis pelaksanaan KF setiap tiga tahun; 2) Mensosialisasikan juknis KF ke wilayah; 3) Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan KF setiap tahun; 4) Menyelenggarakan pertemuan KF tingkat nasional setiap tiga tahun; 5) Menyusun bahan kebijakan bagi pimpinan mengenai pelaksanaan program Jamsostek; 78 BPK-RI / AUDITAMA V

6) Menyusun pedoman teknis dan operasional dalam pelaksanaan program Jamsostek; 7) Mengevaluasi pelaksanaan dan masalah-masalah di bidang Jamsostek sebagai bahan penyusunan kebijakan bagi pimpinan. c. Surat Keputusan Bersama berlaku sejak Januari s.d. Desember 2004. Sebelum SKB tersebut, Tim KF Pusat telah dibentuk dengan SKB No.KEP.821/SJ/2003; MOU/03/062003 tanggal 30 April 2003 yang antara lain menetapkan: 1) Personil Tim KF terdiri pihak PT Jamsostek dan Depnakertrans sebanyak 26 orang, yaitu pejabat struktural Depnakertrans sebanyak 14 orang, pejabat struktural PT Jamsostek sebanyak delapan orang, personil untuk sekretariat Tim KF sebanyak empat orang. 2) Tugas Tim KF sebagai berikut: a) Menyusun draft petunjuk teknis pelaksanaan KF setiap tiga tahun; b) Mensosialisasikan juknis KF ke wilayah; c) Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan KF setiap tahun; d) Menyelenggarakan pertemuan KF tingkat nasional setiap tiga tahun. 3) Surat Keputusan Bersama berlaku sejak Januari 2003 s.d. Desember 2005. Salah satu pertimbangan Sekjen Depnakertrans dan Direksi PT Jamsostek menandatangani SKB tahun 2004 adalah SKB tahun 2003 sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi saat ini. Berdasarkan pemeriksaan atas pelaksanaan kegiatan Tim KF diketahui hal-hal sebagai berikut : a. Pada tanggal 27 Desember 2004, PT Jamsostek telah membayar honorarium Tim KF Pusat tahun 2004 sesuai SKB tahun 2004 sebesar Rp460.000.000,00 yaitu untuk 42 orang selama 12 bulan dari Januari s.d Desember 2004, walaupun penetapan jumlah personil tersebut baru dilakukan pada tanggal 29 Nopember 2004. b. Dari Laporan Pelaksanaan dan Evaluasi Kegiatan Tim KF Tingkat Pusat tahun 2003/2004 antara lain diketahui:

79

BPK-RI / AUDITAMA V

1) Tim KF telah melaksanakan kegiatan sosialisasi petunjuk teknis pada delapan Kanwil yang meliputi 27 propinsi. Kegiatan sosialiasi tersebut diikuti oleh Pengawas Ketenagakerjaan, PT Jamsostek, dan Pegawai Perantara yang berdomisili di Ibukota Propinsi dan Kota yang terdapat pada KC PT Jamsostek. Pada tahun 2003 kegiatan sosialisasi juknis dilaksanakan pada bulan Desember meliputi Kanwil I, V, VI, VII, dan VIII, dan pada tahun 2004 dilaksanakan pada bulan Pebruari, Mei dan Juni tahun 2004 meliputi Kanwil II, III, IV, dan VIII. 2) Tim KF melaksanakan pertemuan koordinasi teknis dalam rangka pencapaian target kepesertaan tahun 2004 sebanyak tiga kali yaitu: a) Pertemuan koordinasi teknis pertama antara PT Jamsostek Pusat dengan Pengawas Ketenagakerjaan Pusat tanggal 26 s.d. 28 Agustus 2004 untuk mengefektifkan pelaksanaan pengawasan Progran Jamsostek dan memutuskan hanya dua Kanwil yaitu Kanwil III dan IV menjadi target utama sasaran pencapaian target. Sementara dalam pertemuan ini, Tim KF belum menyusun program kerja yang akan dilaksanakan. b) Pertemuan koordinasi teknis kedua dan ketiga pada Kanwil III dan IV PT Jamsostek tanggal 24 s.d. 25 September dan 27 s.d. 29 September 2004, untuk menyusun rencana kerja terpadu pencapaian target kepesertaan tahun 2004. 3) Tim KF berkoordinasi dengan Disnakertrans DKI dan Kanwil III menindaklanjuti temuan Badan Intelejen Negara (BIN) mengenai Perusahaan Wajib Belum Daftar (PWBD). Hasil tindak lanjut tersebut antara lain menunjukkan bahwa sesuai data dari Kanwil III yang diserahkan kepada Tim KF terdapat + 1300 PWBD diantaranya 800 PWBD memiliki lebih 50 orang tenaga kerja. Kemudian, Tim KF menindaklanjuti dengan membuat surat teguran dan melakukan pemeriksaan lapangan kepada 800 PWBD, dengan hasil sebagai berikut: a) 619 perusahaan sudah ikut program jamsostek, b) 66 perusahaan daftar sebagian TK, c) 19 perusahaan daftar sebagian upah, d) 21 perusahaan daftar sebagian program, e) 11 perusahaan menunggak iuran, dan 80 BPK-RI / AUDITAMA V

f) 50 perusahaan pindah alamat, g) 14 perusahaan belum mendaftar. 4) Berdasarkan monitoring dan evaluasi pelaksanaan koordinasi fungsional di tingkat propinsi diketahui bahwa Kanwil I s.d. VIII telah menyerahkan 6.988 PWBD kepada Tim KF, diantaranya 1152 perusahaan atau 16,48% masuk program Jamsostek. Termasuk Kanwil III telah menyerahkan 1.817 PWBD kepada Tim KF, 58 perusahaan diantaranya masuk program Jamsostek. Dari hal-hal tersebut di atas dan dokumen yang ada, dapat dikemukakan permasalahan sebagai berikut: a. Penugasan sejumlah 42 personil ditetapkan pada tanggal 29 Nopember 2004, sementara ke 42 personil tersebut diberlakukan surut sejak Januari s.d. Desember 2004. Sementara itu, penetapan personil Tim KF tahun 2003 sebanyak 26 orang untuk periode Januari 2003 s.d. Desember 2005. Dengan demikian, pemberlakuan Tim KF 2004 yang berlaku surut dari bulan Januari s.d. Desember 2004 diragukan peranannya dalam lingkup penugasan Tim KF. b. Berdasarkan laporan pelaksanaan dan evaluasi kegiatan koordinasi fungsional tingkat pusat tahun 2003/2004 di atas, TIM KF hanya pada bulan September 2004 melakukan kegiatan terkait dengan peningkatan kepesertaan di Kanwil III dan Kanwil IV. Selain itu, dari 6.988 PWBD yang diserahkan kepada Tim KF, hanya 1.152 perusahaan atau 16,48% masuk program Jamsostek. Dengan demikian, kegiatan KF dalam rangka pencapaian target kepesertaan tahun 2004 belum optimal. c. Terdapat perbedaan laporan realisasi PWBD masuk program Jamsostek antara hasil tindak lanjut BIN dengan monitoring dan evaluasi pelaksanaan Tim KF tingkat propinsi pada Kanwil III, yaitu PWBD masuk program Jamsostek hasil tindak lanjut BIN sebanyak 619 perusahaan, sementara hasil monitoring KF tingkat propinsi sebanyak 58 perusahaan. Dengan demikian, laporan pelaksanaan dan evaluasi kegiatan koordinasi fungsional tingkat pusat tahun 2003/2004 belum sepenuhnya diyakini keakuratannya.

81

BPK-RI / AUDITAMA V

Direktorat Operasi dan Pelayanan pada RKAP tahun 2004 antara lain menetapkan bahwa tolak ukur program kerja sama dengan instansi, lembaga, asosiasi terkait dan serikat pekerja/buruh dalam menyelesaikan PDS TK dan upah adalah tercapainya target kepesertaan (100%) pada tanggal 31 Desember 2004. Kondisi di atas mengakibatkan pembayaran honorarium Tim KF tahun 2004 sebesar Rp460.000.000,00 diragukan kewajarannya dan pelaksanaan program kegiatan tahun 2004 oleh Tim KF terutama kegiatan yang terkait dengan peningkatan kepesertaan tidak optimal. Hal tersebut disebabkan Tim KF dalam melaksanakan tugasnya tidak memiliki landasan penugasan sebelum SKB tahun 2004 ditetapkan dan Tim KF tidak menyusun program kerja pencapaian target kepesertaan. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa Tim KF Pusat pada tahun 2004 diakui belum optimal, karena pada tahun tersebut adalah merupakan masa konsolidasi bagi tim dalam mempersiapkan infrastruktur untuk pelaksanaan penyelenggaraan program Jamsostek. Oleh karena itu, pada tahun 2005 ini PT Jamsostek telah mencanangkan optimalisasi KF dalam rangka pencapaian target perluasan dan pembinaan kepesertaan dan akan melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal tertib administrasi untuk kegiatan KF. Sedangkan penambahan personil pada Tim KF dari 26 orang menjadi 42 orang adalah kebijakan dari Depnakertrans karena adanya fungsi-fungsi yang terkait. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek mengupayakan SKB yang dibuat sebelum pelaksanaan tugas memuat : a. Jumlah personil Tim KF, sebagai landasan dalam pelaksanaan tugasnya dan pembayaran honorarium; b. Program-program beserta targetnya, sebagai acuan dalam melaksanakan tugasnya dan hasil-hasil yang akan dicapai. c. Mekanisme pertanggungjawaban atas program-program yang dijalankan beserta biaya yang dikeluarkan, sebagai acuan agar tertib administrasi

82

BPK-RI / AUDITAMA V

6. Terdapat klaim-klaim Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dari Grup Maspion beserta perusahaan pengerah tenaga kerjanya dan PT Erna Djuliawati yang rasio klaimnya cukup tinggi PT Jamsostek adalah badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja sesuai dengan Undang-undang (UU) No. 3 Tahun 1992 tentang jaminan sosial tenaga kerja. Berdasarkan pasal 6 UU tersebut diketahui salah satu program jaminan sosial yang diselenggarakan oleh PT Jamsostek adalah Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). Dengan adanya program tersebut, tenaga kerja yang mengalami kecelakaan kerja berhak menerima JKK. Berdasarkan pemeriksaan atas pembayaran klaim JKK di beberapa Kantor Cabang (KC), diketahui bahwa terdapat klaim-klaim JKK yang merugikan PT Jamsostek, dengan penjelasan sebagai berikut : a. KC Sidoarjo Pada tahun 2004, pembayaran JKK kepada peserta di KC Sidoarjo adalah sebesar Rp9.366.320.324,49 atau 103,89% dari pendapatan iuran sebesar Rp9.018.321.989,10. Tingginya rasio klaim tersebut berasal dari 136 perusahaan peserta dengan ratio klaim berkisar antara 100% hingga 44.622,19% dengan nilai klaim sebesar Rp6.855.342.417,00 atau 73,19% dari seluruh kalim yang terjadi pada tahun 2004. Sebagian besar klaim yang berada di atas 100% berasal dari satu group yaitu Grup Maspion (GM). Kepesertaan Jamsostek GM dibagi dalam 45 Nomor Pendaftaran Perusahaan (NPP). Klaim yang telah dibayarkan kepada GM selama tahun 2004 mencapai Rp4.154.284.655,00 atau 336,97% dari penerimaan iurannya sebesar Rp1.232.839.057,00 atau 44,36% dari seluruh klaim JKK yang dibayar oleh KC Sidoarjo. Pada tahun 2004 KC Sidoarjo telah melakukan analisa dan upaya tindak lanjut terhadap klaim kecelakaan kerja dari GM yang dilakukan oleh dokter penasehat. Kepala KC Sidoarjo telah menyampaikan laporan analisa dan upaya tindak lanjut klaim kecelakaan kerja dari GM melalui surat No. B/5417/112004 tanggal 24 Nopember 2004 kepada Kepala Kantor Wilayah VI yang menunjukkan bahwa :

83

BPK-RI / AUDITAMA V

1) Klaim JKK untuk GM menunjukkan rasio yang sangat tinggi yaitu pada tahun 2002 dan 2003 masing-masing sebesar Rp3.879.204.736,00 dan Rp3.756.246.933,00 atau mencapai 334,85% dan 305,70% dari iuran JKK yang diterima. 2) Klaim-klaim yang diajukan oleh GM secara keseluruhan patut diduga diragukan kebenarannya. 3) Pembandingan dengan kasus kecelakaan kerja yang sama yang diajukan perusahaan lain dan dirawat di rumah sakit swasta, menunjukkan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan klaim yang diajukan oleh GM. Penanganan (pengobatan dan perawataan) kecelakaan kerja yang dialami oleh tenaga kerja GM dilakukan oleh Maspion Medika (MM) yang mempunyai hubungan istimewa dengan GM. Pembayaran klaim pengobatan dan perawatan diajukan dan dibayarkan kepada GM atas tagihan dari MM. Sesuai dengan surat penunjukan No. 238/SKMP/XI/2004 tanggal 3 Nopember 2004 antara lain menyatakan menunjuk Dr. Ibrahim dhi. Manajer Umum MM menjadi Asisten Dewan Direksi GM Bidang Kesehatan. Dengan demikian, antara GM dan MM mempunyai hubungan istimewa terlihat dari pengurus MM juga pengurus GM. Kerugian yang harus ditanggung PT Jamsostek, yaitu perbandingan nilai klaim dikurangi dengan penerimaan iurannya dari tahun 2002 s.d. 2004 adalah sebesar Rp7.983.450.004,39 dengan rincian untuk tahun 2002 sebesar Rp3.879.204.736,00, tahun 2003 sebesar Rp3.756.246.933,00 dan tahun 2004 sebesar Rp347.998.335,39. Atas terjadinya permasalahan tersebut, selama bulan Desember 2004 s.d. Januari 2005 telah dilakukan beberapa kali pertemuan baik dengan GM, MM maupun Dinas Tenaga Kerja Sidoarjo, akan tetapi belum diperoleh penyelesaian atas permasalahan tersebut. b. KC Karimunjawa Di KC Karimunjawa terdapat kepesertaan PT Perwita Nusaraya (PT PN) yang merupakan perusahaan pengerah tenaga kerja bagi GM yang rasio klaimnya juga melebihi 100%. Kasus klaim JKK PT PN mencapai 283 kasus dan rasio klaimnya mencapai 695,44%, yaitu pembayaran 84 klaim JKK mencapai sebesar

BPK-RI / AUDITAMA V

Rp175.956.872,00 sementara iuran JKK-nya hanya sebesar Rp25.301.491,00, sehingga nilai kerugian yang ditanggung PT Jamsostek adalah sebesar Rp150.655.381,00. Hasil pemeriksaan secara uji petik atas data klaim PT PN tersebut sebanyak 13 berkas menunjukkan bahwa keseluruhan berkas klaim JKK terjadi pada lokasi kerja perusahaan GM. c. KC Kalimantan Barat Beban jaminan JKK sebesar Rp3.028.512.686,48 dan pendapatan iuran JKK sebesar Rp2.311.597.172,10, sehingga rasio klaim JKK terhadap Pendapatan Iuran JKK mencapai 131%. Klaim JKK terbesar berasal dari perusahaan dengan NPP No. PP00092 yaitu PT Erna Djuliawati (PT ED), mencapai sebesar Rp1.242.494.163,76 dengan 400 kasus. Sedangkan iuran yang diperoleh atau dibayar perusahaan tersebut selama tahun 2004 hanya sebesar Rp536.346.329,69, sehingga rasio klaim atas PT ED mencapai sebesar 231,66% atau kerugian yang ditanggung adalah sebesar Rp716.915.514,38. Berdasarkan penjelasan KC Kalimantan Barat diketahui bahwa rasio klaim atas PT ED untuk tahun-tahun sebelumnya diatas 300%, yaitu pada tahun 2002 mencapai 322,29% dengan 252 kasus dan tahun 2003 sampai bulan Juli mencapai 358,71% dengan 232 kasus. Lebih lanjut diketahui bahwa dari klaim-klaim JKK yang dilakukan oleh PT ED terdapat beberapa kasus yang diragukan untuk dijamin oleh PT Jamsostek, dan kasus-kasus tersebut saat ini sedang diproses hingga ke Kantor Pusat PT Jamsostek, yaitu antara lain : 1) Klaim atas kecelakaan kerja pertama yang sudah dibayar klaimnya dan pada masa istirahat dokter kecelakaan kerja pertama, yang bersangkutan klaim kecelakaan kerja kedua. 2) Klaim atas penyakit akibat hubungan kerja yaitu pendengaran terganggu tetapi dokumen pendukung berupa : riwayat pekerjaan, riwayat penyakit, medical record dan pemeriksaan berkala tidak bisa dipenuhi.

85

BPK-RI / AUDITAMA V

3) Klaim atas kecelakaan bukan karena tugas perusahaan yaitu sedang menebang kayu di ladang sendiri yang hasilnya untuk diri sendiri . Atas kasus tersebut di atas telah ditangani pada tingkat pengawas yakni Dinas Tenaga Kerja Propinsi Kalimantan Barat dan Kanwil VII PT Jamsostek. Dengan kondisi tersebut, klaim JKK yang diajukan oleh PT ED seharusnya dilakukan penanganan/penelusuran dan langkah-langkah penyelesaian lebih lanjut secara cepat agar tidak merugikan PT Jamsostek yang pada akhirnya merugikan kepentingan tenaga kerja. Selain itu, rasio klaim yang sangat tinggi tersebut telah terjadi sejak tahun 2002, akan tetapi PT Jamsostek tidak segera melakukan langkahlangkah penyelesaian, sehingga masalah tersebut berlarut-larut. Kondisi tersebut di atas mengakibatkan PT Jamsostek sampai tahun 2004 berpotensi mengalami kerugian sebesar Rp8.851.020.899,77 atas kepesertaan JKK GM di KC Sidoarjo sebesar Rp7.983.450.004,39, kepesertaan PT PN di KC Karimunjawa sebesar Rp150.655.381,00 dan kepesertaan PT ED di KC Kalimantan Barat sebesar Rp716.915.514,38. Hal tersebut disebabkan : a. Kantor Wilayah dan Kantor Pusat belum sepenuhnya memberikan perhatian pada kasus-kasus tersebut dan kurang cepat mengambil langkah-langkah penyelesaian. b. Adanya itikad tidak baik dari GM dan perusahaan pengerah tenaga kerjanya, serta peserta program Jamsostek pada PT ED. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa telah dilakukan upaya-upaya yaitu : a. Menempatkan dua orang dokter dalam rangka memverifikasi klaim, khususnya yang menyangkut biaya perawatan dan pengobatan. b. Berkoordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja setempat dan Dirjen Pengawasan Norma Kerja Depnakertrans R.I. yang memiliki kewenangan untuk menekan kecelakaan kerja khususnya menyangkut pengawasan K3 di perusahaan, serta koordinasi dengan Dinas Kesehatan. c. Pembinaan adiministrasi pelayanan jaminan kepada petugas verifikator untuk meningkatkan ketelitian dalam melakukan verifikasi data klaim. 86 BPK-RI / AUDITAMA V

d. Untuk kasus-kasus kecelakaan kerja yang meragukan selalu dilakukan pengecekan kasus ke lapangan bersama dengan dinas tenaga kerja. e. Secara nasional koordinasi dilakukan dengan DK3N (Dewan Keselamatan & Kesehatan Kerja Nasional) dalam rangka mengevaluasi kasus-kasus yang terjadi di daerah untuk tindakan preventif. Khususnya kasus-kasus penyakit akibat kerja. f. Untuk pembayaran klaim JKK & JK bagi perusahaan menunggak iuran lebih dari tiga bulan, perusahaan diwajibkan membuat surat pernyataan atas kesanggupannya untuk melunasi iuran. Selain itu, PT Jamsostek melimpahkan ke KP2LN bagi perusahaan yang menunggak iuran dengan umur tunggakkan di atas tiga bulan. g. Pembayaran klaim JKK khususnya Group Maspion kepesertaan Kacab Sidoarjo dan Kacab Karimunjawa serta PT Erna Djuliawati kepesertaan Kacab Kalimantan Barat, untuk ke depan verifikasi klaim akan lebih ditingkatkan keakurasiannya dengan upaya menempatkan tenaga medis khususnya yang menyangkut biaya pengobatan dan perawatan. Bila perusahaan tersebut menolak hasil verifikasi, dilanjutkan ke Dinas Tenaga Kerja setempat, dan dapat dilanjutkan ke tingkat Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. h. Untuk klaim-klaim GM yang telah dibayarkan periode tahun 2002 s.d. 2004 perlu dilakukan verifikasi ulang untuk mengetahui kemungkinan adanya mark up biaya perawatan dan pengobatan, namun perlu dilakukan kajian hukum sebelumnya atas kasus tersebut dan dikoordinasikan dengan instansi terkait. BPK-RI menyarankan agar Kantor Wilayah dan Kantor Pusat memberikan perhatian khusus pada kasus-kasus tersebut dan segera mengambil langkah-langkah penyelesaian untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

87

BPK-RI / AUDITAMA V

7. Terdapat perusahaan menunggak iuran yang merupakan rekanan PT Jamsostek sehingga merugikan peserta Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Berdasarkan pemeriksaan atas data kepesertaan PT Magnus Indonesia dengan Nomor Pendaftaran Peserta (NPP) nomor JJ052341 diketahui antara lain: a. PT MI mulai menunggak iuran bulan Maret 2002, dan melunasi tunggakan iuran bulan Maret s.d Desember 2002 tersebut pada Nopember 2002, Desember 2002 dan April 2003. b. Untuk iuran tahun 2003, yaitu iuran bulan Januari s.d. bulan Mei 2003 sebesar Rp142.528.524,84 dan denda Rp60.157.934,10 atau berjumlah Rp202.686.458,94 dibayar pada tanggal 18 Pebruari 2005. c. Tunggakan iuran tahun 2003, yaitu dari bulan Juni s.d. Desember 2003, serta iuran tahun 2004 s.d. bulan Pebruari 2005 belum dibayarkan. d. Iuran bulan Januari s.d. Februari 2005 dibayar tanggal 8 dan 18 Maret 2005 masingmasing sebesar Rp7.682.064,00 dan Rp5.664.360,00. Surat PT MI No.005/MMC/L/BT/I/05 tanggal 12 Januari 2005 kepada KC Setiabudi menjelaskan bahwa sesuai kesepakatan dengan Kantor Pusat PT Jamsostek, penyelesaian tunggakan iuran tahun 2003 dan 2004 sebesar Rp458.359.359,00 termasuk tunggakan diselesaikan dengan komposisi tagihan PT MI (saat ini masih sebagai salah satu rekanan PT Jamsostek) kepada Kantor Pusat PT Jamsostek s.d. tagihan bulan Mei 2005, dengan rincian sebagai berikut: a. Tunggakan iuran bulan Januari s.d. Mei 2003 sebesar Rp202.686.459,00 dipotong dari tagihan bulan Desember 2004. b. Tunggakan iuran bulan Juni s.d. Oktober 2003 sebesar Rp127.962.863,00 dipotong dari tagihan bulan Februari 2005. c. Tunggakan bulan November 2003 s.d. Desember 2004 sebesar Rp127.710.037,00 dipotong dari tagihan bulan Mei 2005. Selain hal tersebut di atas, dari tiga tenaga kerja eks PT MI yang telah klaim JHT, salah satunya tidak sesuai dengan haknya. Dari berkas klaim JHT seorang peserta dengan No.KPJ 99J00140311, diketahui klaim yang diperhitungkan dan dibayarkan s.d. bulan Januari 2003, sesuai bulan non-aktif kepesertaannya. Sementara berdasarkan surat 88 BPK-RI / AUDITAMA V

pemberhentian dari PT MI tanggal 30 September 2003, tenaga kerja yang bersangkutan telah berhenti sejak tanggal surat tersebut. Dari hal-hal tersebut di atas antara lain dapat disimpulkan bahwa: a. PT MI masih mempunyai tunggakan sebesar Rp255.672.900,06 (Rp458.359.359,00Rp202.686.458,94). b. PT MI sebagai rekanan belum secara tertib melakukan pembayaran iuran tahun 2005, yaitu iuran bulan Januari dan Pebruari dibayar pada bulan Maret 2005. Seharusnya salah satu syarat untuk menjadi rekanan PT Jamsostek adalah melakukan tertib administrasi termasuk pembayaran iuran dan melaporkan data pendukung kepesertaan tenaga kerjanya. Selain itu, PT MI sebagai pemberi kerja harus memberikan yang menjadi hak tenaga kerjanya. Hal tersebut mengakibatkan PT Jamsostek tidak dapat memanfaatkan dana sebesar Rp255.672.900,06 tersebut dan tenaga kerja KPJ 99J00140311 tidak menerima haknya dari bulan Januari s.d. September 2003. Hal tersebut disebabkan PT Jamsostek belum cermat melakukan monitoring iuran PT MI. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa ke depan PT Jamsostek akan lebih cermat dalam pengecekan kelengkapan administrasi khususnya mengenai kepesertaan Jamsostek dari peserta pengadaan barang dan jasa di PT Jamsostek, yang merupakan sebagai salah satu syarat menjadi rekanan PT Jamsostek. Tindak lanjut dan monitoring penyelesaian tunggakan PT MI telah diupayakan optimal sejak Juli 2003 melalui surat kepada PT MI, menyerahkan ke KP2LN Jakarta V dan terakhir PT MI melalui surat No.005/MMC/L/BT/I/05 tanggal 12 Januari 2005, akan melunasi iuran tersebut dengan dua kali pembayaran dengan memperhitungkan tagihan dari PT. Jamsostek terkait dengan pekerjaan konsultan. BPK-RI menyarankan agar PT Jamsostek lebih intensif melakukan penagihan atas tunggakan iuran PT MI, dan ke depan PT Jamsostek lebih cermat dalam melakukan seleksi adminsitrasi terutama tentang pembayaran iuran Jamsostek bagi peserta pengadaan barang dan jasa pada PT Jamsostek atau yang menjalin kerjasama dengan PT Jamsostek.

89

BPK-RI / AUDITAMA V

8. Terdapat kelalaian menetapkan tingkat suku bunga JHT sehingga PT Jamsostek kelebihan membayar bunga sebesar Rp753,69 juta. Program Jaminan Hari Tua (JHT) merupakan program jaminan yang sifatnya tabungan peserta, yang nantinya diterima pada saat peserta tersebut pensiun atau sudah mencapai usia 55 tahun atau pada saat terputusnya upah karena tidak lagi bekerja. Besarnya JHT yang diterima peserta adalah keseluruhan iuran yang disetor beserta hasil pengembangannya. PT Jamsostek memberikan hasil pengembangan JHT sesuai dengan hasil investasi dana JHT tersebut. Besarnya hasil investasi ditentukan oleh tingkat bunga investasi yang berlaku pada tahun tersebut. Berdasarkan uji perhitungan bunga pembayaran klaim JHT, diketahui terdapat klaim pembayaran JHT yang perhitungan bunganya berbeda dengan perhitungan bunga menurut SK Direksi No. KEP/248/122003 tanggal 15 Desember 2003, yaitu 23 KC terlambat melakukan update hasil pengembangan untuk penetapan saldo. Tingkat bunga yang diperhitungkan seharusnya di-update menjadi 8% tetapi tetap 12%, yang berarti kelebihan membayar hasil pengembangan iuran JHT tahun 2004 sebesar 4% dengan lama keterlambatan update dari 1 hari sampai 360 hari. Total kelebihan pembayaran bunga selama tahun 2004 sebesar Rp753.695.413,69 (lihat lampiran 7). Kantor Cabang seharusnya melakukan update tingkat suku bunga klaim JHT tahun 2004 sesuai dengan SK Direksi No.KEP/248/122003 tanggal 15 Desember 2003, yaitu sebesar 8%. Kondisi tersebut diatas mengakibatkan PT Jamsostek kelebihan membayar bunga JHT sebesar Rp753.695.413,69. Hal tersebut terjadi karena 23 Kantor Cabang lalai melakukan update tingkat suku bunga hasil pengembangan JHT tahun 2004. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa pada aplikasi SIPT telah tersedia fasilitas set up, antara lain set up bunga JHT. KC seharusnya melakukan set up bunga setiap tahun sesuai dengan keputusan direksi. Pengendalian setup bunga menjadi tanggung jawab kepala kantor dengan menggunakan user admin. Berdasarkan pemantauan sebanyak 87 KC sudah melakukan set up dengan benar. Pada aplikasi SIPT On Line set up akan dilakukan secara terpusat. 90 BPK-RI / AUDITAMA V

BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek memberikan sanksi atas kantor cabang yang lalai melakukan update tingkat suku bunga hasil pengembangan JHT tahun 2004, dan di masa yang akan datang Kantor Pusat memonitor update tingkat suku bunga yang dilakukan oleh setiap kantor cabang. 9. Pekerjaan perencanaan dan konsultansi pengembangan dan implementasi sistem informasi online PT Jamsostek yang dilaksanakan oleh PT Magnus Indonesia senilai Rp5.595,97 juta belum sepenuhnya dilakukan dengan baik. Salah satu keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tanggal 15 Januari 2004 tentang pengesahan RKAP tahun 2004, PT Jamsostek akan melaksanakan pembangunan dan pengembangan Sistem dan Teknologi Informasi sesuai dengan blue print dan master plan yang telah dibuat. Keputusan RUPS tersebut dirinci dalam program kerja Direktorat Perencanaan, Pengembangan dan Informasi antara lain sebagai berikut : a. Melakukan clean up database kantor pusat melalui pendataan ulang data perusahaan dan tenaga kerja di kantor wilayah dan kantor cabang. b. Peningkatan Utilitas dan kemampuan hardware dan jaringan c. Pengembangan sistem on line dengan sentralisasi data. Menindaklanjuti Pelaksana Pekerjaan keputusan Konsultan RUPS Pengawas tersebut, Direksi melalui surat Office No. dan B/652/012004 tanggal 20 Januari 2004 menunjuk PT Magnus Indonesia (PT MI) sebagai Implementasi Program Technical/Quality Assurance. Selanjutnya, PT Jamsostek dan MI membuat perjanjian No.PER/14/022004 tanggal 16 Pebruari 2004 sebesar Rp5.595.975.000,00. Penunjukan PT MI tersebut dilakukan dengan pertimbangan bahwa pada tahun 2003 PT MI telah melakukan perjanjian dengan PT Jamsostek untuk melakukan review terhadap sistem informasi PT Jamsostek . Sesuai perjanjian tersebut, ruang lingkup pekerjaan PT MI dibagi dalam beberapa tahap sesuai dengan tahapan pembangunan secara umum, yaitu tahap persiapan, tahap implementasi I dan tahap implementasi II. Rincian kegiatan pada masing-masing tahap, lihat lampiran 8.

91

BPK-RI / AUDITAMA V

PT MI mulai melaksanakan tahap persiapan, Direktur Utama PT Jamsostek mengeluarkan surat perintah No.SPRINT/34/032004 tanggal 11 Maret 2004 perihal penunjukan beberapa personil PT Jamsostek untuk menjadi tim pengarah (steering committee) dan tim program office. Steering committee diketuai oleh Direktur Perencanaan, Pengembangan dan Informasi dan beranggotakan Direktur Keuangan, Direktur Operasi & Pelayanan dan Direktur Investasi sedangkan tim program office terdiri dari pimpinan program, dewan user dan quality assurance. Selanjutnya, PT MI melakukan tahap persiapan yaitu antara lain ikut dalam persiapan tender dalam pengadaan jasa pengembangan dan implementasi SIPT & SIAK dan penggantian jaringan dan peripheral di kantor pusat. Untuk pengadaan barang dan jasa terkait dengan pengembangan sistem informasi on line memang berbeda dengan proses pengadaan yang selama ini telah dilakukan karena melibatkan pihak ketiga dhi. PT MI dalam proses persiapan dokumen tender dan evaluasi proposal yang diajukan oleh vendor. Selain itu, panitia lelang hanya melakukan evaluasi harga sedangkan evaluasi teknis dilakukan oleh tim program office dan PT MI, akan tetapi penggabungan hasil evaluasi teknis dan evaluasi harga tetap dilakukan oleh panitia lelang. Melalui proses pengadaan tersebut, perusahaan yang ditunjuk sebagai pelaksana pekerjaan pengembangan dan implementasi SIPT dan SIAK adalah PT Asaba Computer Center (PT ACC) yang kemudian dibuat perjanjian antara PT Jamsostek dan PT ACC No.PER/98/092004 tanggal 28 September 2004 dengan nilai pekerjaan sebesar Rp13.484.394.000,00. Sedangkan perusahaan yang ditunjuk sebagai pelaksana pekerjaan penggantian perangkat keras jaringan dan peripheral adalah PT Indo Ventura Sonsang (PT IVS) berdasarkan perjanjian antara PT Jamsostek dan PT IVS No.PER/110/112004 tanggal 29 Nopember 2004 dengan nilai pekerjaan sebesar Rp1.961.231.800,00. Sampai dengan akhir pemeriksaan tanggal 31 Maret 2005, pengembangan dan implementasi sistem informasi online PT Jamsostek masih berlangsung. Berdasarkan pemeriksaan atas pengembangan dan implementasi, diketahui hal-hal sebagai berikut :

92

BPK-RI / AUDITAMA V

a. Tahap persiapan pengembangan dan implementasi Sistem Informasi On line belum sepenuhnya dilakukan secara baik, sehingga pengembangan dan implementasi tersebut mengandung ketidakpastian dan risiko yang cukup tinggi. Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap persiapan yaitu pembuatan struktur tim program office, pemilihan anggota tim program office, pemilihan tim counterpart sub-proyek, perencanaan fasilitas/infrastruktur pendukung proyek, pembuatan rencana umum proyek, review terhadap hasil konsultasi perancangan sistem informasi akuntansi dan keuangan, pembuatan rencana detil program sosialisasi, pembuatan materi teknis program sosialisasi, pembuatan dokumen tender SIPT & SIAK, serta evaluasi proposal teknis SIPT dan SIAK. Hasil pemeriksaan lebih lanjut atas tahap persiapan pengembangan dan implementasi sistem informasi online PT Jamsostek menunjukkan bahwa tahap persiapan pengembangan tersebut tidak dilakukan dengan baik, antara lain sebagai berikut: 1) Review terhadap hasil konsultasi perancangan sistem informasi akuntansi dan keuangan belum dilakukan secara optimal Sesuai dengan perjanjian PT Jamsostek dan PT MI No. PER/14/022004 tanggal 16 Pebruari 2004, pada tahap persiapan salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah review terhadap hasil konsultasi perancangan sistem informasi akuntansi dan keuangan dengan perwakilan dari end-user seluruh Indonesia, di mana diharapkan dapat menjadi masukan bagi penyempurnaan struktur organisasi dan pembuatan materi teknis sosialisasi, serta menjadi dasar perubahan-perubahan yang diperlukan dalam dokumen tender dari sistem yang dikembangkan. Berdasarkan dokumentasi kegiatan proyek diketahui bahwa review tersebut memang telah dilaksanakan, akan tetapi tidak melibatkan perwakilan end user seluruh Indonesia. Oleh karena itu, review yang dilaksanakan tidak memperoleh hasil yang optimal, sehingga dapat menghambat kemajuan pekerjaan secara keseluruhan.

93

BPK-RI / AUDITAMA V

Dengan lingkungan sosial yang berbeda-beda antara kantor cabang satu dengan yang lain, pembahasan dengan end user di seluruh Indonesia merupakan suatu hal yang sangat penting. Hal tersebut dilakukan agar hal-hal mendasar dalam perencanaan pengembangan sistem tersebut yang meliputi antara lain struktur organisasi, sistem dan prosedur benar-benar mendekati kebutuhan PT Jamsostek secara keseluruhan. Oleh karena itu, hal-hal mendasar dalam perencanaan pengembangan sistem tersebut tidak mengalami perubahan signifikan pada saat pengembangan dan implementasi sistem informasi. 2) Penyelesaian pembuatan rencana detil dan materi teknis program sosialisasi tidak sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan Sesuai dengan perjanjian PT Jamsostek dan PT MI, pembuatan rencana detil dan materi teknis program sosialisasi harus diselesaikan pada tahap persiapan, yaitu sampai dengan bulan April 2004. Akan tetapi, berdasarkan dokumentasi kegiatan proyek, pembuatan rencana detil dan materi teknis program sosialisasi baru selesai pada triwulan IV tahun 2004. 3) Pembuatan dokumen tender pengembangan SIPT dan SIAK tidak dilakukan secara cermat sehingga menimbulkan ketidakpastian dan risiko yang cukup tinggi. Sesuai dengan perjanjian PT MI ditugaskan untuk membuat dokumen tender yang meliputi Term of Reference (TOR), Request for Information (RFI) dan Request for proposal (RFP). Pemeriksaan lebih lanjut terhadap TOR menunjukkan bahwa TOR tidak memuat hal-hal sebagai berikut : a) Detil laporan-laporan yang akan dihasilkan oleh sistem aplikasi. b) Penjelasan mengenai sistem yang saat ini telah digunakan oleh PT Jamsostek . c) Penjelasan mengenai sistem dan prosedur yang belum disahkan secara formal atau belum final. Ketiga hal tersebut menjadi indikator yang sangat penting dalam penetapan estimasi jangka waktu proyek, sumber daya (misalnya; mandays) dan biaya yang dibutuhkan secara realistis. Dengan tidak adanya hal-hal tersebut dalam TOR, pengembangan aplikasi SIPT dan SIAK mengandung ketidakpastian dan risiko 94 BPK-RI / AUDITAMA V

yang sangat tinggi. Selain itu, sifat usaha dan proses bisnis PT Jamsostek yang unik tentunya sulit untuk menetapkan benchmarking. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa jangka waktu proyek, sumber daya (misalnya; mandays) dan biaya diragukan kewajarannya. b. Sistem dan prosedur SIPT & SIAK ditetapkan setelah dua bulan perjanjian pekerjaan pengembangan sistem aplikasi SIPT dan SIAK. Sistem dan prosedur merupakan suatu hal yang mendasar untuk pengembangan suatu sistem aplikasi, sehingga sistem dan prosedur tersebut seharusnya telah ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses tender pengadaan dilaksanakan. Perjanjian antara PT Jamsostek dan PT ACC ditandatangani pada tanggal 28 September 2004, sedangkan SK Direksi No.KEP/289/112004 tentang sistem dan prosedur pelayanan terpadu program jaminan sosial tenaga kerja baru ditandatangani tanggal 25 Nopember 2004. c. Perubahan Sistem Aplikasi yang akan dikembangkan tidak memiliki dasar yang memadai Berdasarkan Perjanjian No.PER/14/022004 tanggal 16 Pebruari 2004 antara PT MI dan PT Jamsostek diketahui bahwa salah satu sub-proyek yang akan dikembangkan adalah aplikasi SIPA. Sub-proyek aplikasi SIPA tersebut direncanakan akan dilaksanakan pada implementasi tahap II setelah implementasi tahap I yang membangun sub-proyek SIPT dan SIAK selesai dilaksanakan. Akan tetapi, berdasarkan TOR pelaksanan pengembangan SIPT dan SIAK diketahui bahwa sub-proyek SIPA tersebut merupakan sub-sistem dalam sub-proyek SIPT dan SIAK. Berkaitan dengan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa perencanaan yang dibuat oleh PT MI sangat tidak akurat. Lebih lanjut, berdasarkan dokumen pekerjaan proyek SIPT dan SIAK diketahui bahwa tidak ada dokumentasi yang dapat menjelaskan mengapa hal tersebut berubah. Sebagai informasi pembanding, pada tahun 2004 PT Jamsostek telah mengembangkan aplikasi SIPA yang dilaksanakan oleh PT Arun Prakarsa Inforindo 95 BPK-RI / AUDITAMA V

dengan jangka waktu pelaksanaan pekerjaan selama tiga bulan kalender. Jangka waktu tiga bulan merupakan jangka waktu yang cukup signifikan, sehingga kesalahan dalam perencanaan pada sub-proyek SIPA tentunya sangat berpengaruh pada RKAP PT Jamsostek tahun 2005 dan dapat mempengaruhi pengambilan keputusan lainnya terkait dengan pembangunan sistem informasi on line PT Jamsostek. d. Pengadaan terkait dengan pengembangan dan implementasi sistem informasi on line diragukan kewajarannya Berdasarkan uraian pada point a. di atas diketahui bahwa terdapat perencanaan terkait dengan pengadaan jasa atas pengembangan sistem informasi on line PT Jamsostek yang sangat mempengaruhi kewajaran pengadaan barang dan jasa tersebut. Pengadaan-pengadaan terkait dengan pengembangan sistem informasi on line PT Jamsostek adalah sebagai berikut: 1) Pengadaan pekerjaan jasa pengembangan dan implementasi SIPT dan SIAK Sehubungan dengan kebutuhan PT Jamsostek untuk melakukan perubahan terhadap aplikasi SIPT dan SIAK dari desentralisasi menjadi sentralisasi, tim program Office pengembangan dan implementasi sistem informasi melalui Memo No.M/01/PO/052004 tanggal 28 Mei 2004 mengajukan permintaan kepada Biro Perlengkapan dan Sarana (BPS) untuk melakukan proses pelelangan pengadaan jasa pembuatan dan implementasi SIPT dan SIAK. Selanjutnya, BPS melalui surat No.B/4920/062004 tanggal 4 Juni 2004 meminta kepada ketua panitia pengadaan barang dan jasa untuk melaksanakan pengadaan pengembangan dan implementasi sistem aplikasi dimaksud. Menindaklanjuti permintaan tersebut, panitia lelang segera melakukan proses pelelangan pekerjaan pengembangan dan implementasi SIPT & SIAK dengan mengundang 19 perusahaan. Berdasarkan proses seleksi yang dilaksanakan tersebut PT ACC ditunjuk sebagai pemenang. Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut diketahui bahwa TOR dan HPS yang disusun belum sepenuhnya disusun secara cermat, sehingga pengembangan SIPT dan SIAK mengandung ketidakpastian dan risiko yang cukup tinggi, dengan penjelasan sebagai berikut : 96 BPK-RI / AUDITAMA V

a) Laporan dan form yang akan dihasilkan oleh sistem aplikasi tidak dijelaskan dan disebutkan secara rinci dalam TOR, sehingga menimbulkan ketidakpastian pengembangan aplikasi SIPT dan SIAK. Jangka waktu, biaya dan sumber daya yang digunakan untuk pembangunan aplikasi sangat tergantung pada jumlah laporan dan form yang akan dihasilkan sistem aplikasi tersebut. TOR pengembangan SIPT dan SIAK hanya menyebutkan dan menjelaskan mengenai kelompok laporan yang dihasilkan dan tidak menyebutkan serta menjelaskan form-form yang akan dihasilkan. Berdasarkan data yang diberikan oleh PT ACC sesuai dengan pengembangan aplikasi SIPT dan SIAK yang telah dilakukan sampai dengan akhir pemeriksaan tanggal 31 Maret 2004 menunjukkan bahwa form dan laporan yang dihasilkan oleh sistem aplikasi mencapai 1.288 form dan laporan, sedangkan menurut TOR kelompok laporan yang akan dihasilkan oleh sistem aplikasi hanya sebanyak 124 kelompok form dan laporan. Form dan laporan yang seharusnya dapat diuraikan lebih detil agar TOR lebih mengandung kepastian dan dapat digunakan sebagai indikator untuk menetapkan estimasi waktu, biaya dan sumber daya yang dibutuhkan. b) Kondisi sistem aplikasi dan database yang saat ini digunakan di PT Jamsostek tidak dijelaskan di dalam TOR. Hal tersebut seharusnya dinyatakan dalam TOR agar perusahaan yang mengikuti tender dapat memberikan penawaran yang lebih realistis. Pengembangan yang saat ini dilaksanakan bukan merupakan pengembangan baru, akan tetapi harus tetap mempertimbangkan aplikasi yang selama ini telah digunakan oleh PT Jamsostek. Lebih lanjut, bahwa implementasi tidak dilakukan serentak secara nasional tetapi bertahap, sehingga pada saat implementasi awal, dua sistem aplikasi akan berjalan secara bersamaan. Oleh karena itu, kondisi dan database yang lama harus diungkap di TOR agar perusahaan yang melakukan penawaran dapat menghitung waktu, biaya dan sumber daya yang lebih realistis. c) TOR tidak mengungkapkan bahwa sistem dan prosedur belum disahkan secara formal dan final pada saat TOR disusun. PT Jamsostek seharusnya melakukan 97 BPK-RI / AUDITAMA V

finalisasi terlebih dahulu sistem dan prosedur tersebut agar pengembangan sistem memiliki dasar yang memadai. Lebih lanjut, dengan finalisasi sistem dan prosedur tersebut dimaksudkan agar perusahaan yang melakukan penawaran dapat menghitung waktu, biaya dan sumber daya yang lebih realistis. d) Besarnya mandays rate yang digunakan dalam menghitung HPS adalah sama untuk semua tingkatan keahlian yaitu USD250.00 per mandays. PT MI sebagai pihak yang membuat HPS menjelaskan bahwa penggunaan mandays rate tersebut sebesar USD250.00 per mandays hanya untuk kepraktisan dan apabila menggunakan rate yang sebenarnya total HPS tidak berbeda. Akan tetapi, argumen tersebut kurang kuat karena penggunaan mandays rate rata-rata tersebut tidak jelas manfaatnya, tidak praktis dan tidak transparan. Oleh karena itu, kewajaran proses pengadaan pekerjaan pengadaan jasa pengembangan SIPT dan SIAK diragukan. Dengan demikian, perusahaan-perusahaan yang mengikuti tender pekerjaan pengembangan SIPT dan SIAK tidak dapat melakukan estimasi biaya secara cermat, hal tersebut dapat dilihat dari harga penawaran yang diberikan oleh peserta tender sebagai berikut: Nama Perusahaan PT Swadarma Duta Data PT Asaba Computer Center PT Berca Hardaya Perkasa PT Quadra Solution PT Jati Piranti Solusindo PT PT Mitra Integrasi Informatika PT Elnusa Multi Industri Komputer Harga Penawaran Rp17.037.740.000,00 Rp13.760.821.250,00 Rp 4.824.270.000,00 Rp 5.366.418.750,00 Rp18.780.374.250,00 Rp10.974.700.000,00 Rp 4.514.950.000,00

Dari data tersebut diketahui adanya jarak yang cukup besar antara penawaran tertinggi dan terendah karena TOR dan HPS yang tidak jelas. Lebih lanjut, berdasarkan wawancara dengan PT MI diketahui bahwa PT ACC terlalu underestimate terhadap proyek tersebut, sehingga HPS yang dibuat oleh PT MI-pun underestimate. 98 BPK-RI / AUDITAMA V

2) Pengadaan pekerjaan penggantian jaringan dan peripheral Dalam rangka pemenuhan kebutuhan on line system tahun 2005, program office melaksanakan beberapa proyek pendukung. Salah satu proyek program office adalah pembangunan perangkat keras dan jaringan. Berdasarkan laporan hasil review infrastruktur pendukung tanggal 19 Juli 2004, PT MI sebagai konsultan pengawas memberikan kesimpulan antara lain, bahwa kondisi sistem jaringan yang ada tidak mendukung sistem jaringan on line tahun 2005 dan tidak layak untuk digunakan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Kepala BPS melalui surat tanggal 3 September 2004 meminta Panitia Pengadaan Barang dan Jasa (PPBJ) untuk melakukan pengadaan pekerjaan penggantian perangkat keras jaringan dan peripheral (PPKJP). Namun, PPBJ melalui surat kepada Kepala BPS tanggal 14 September 2004 menyatakan bahwa proses pengadaan tidak dapat dilaksanakan karena Kerangka Acuan Teknis (KAT) tidak memadai. Kemudian, BTI menyempurnakan dan menyelesaikan KAT pada tanggal 24 September 2004. Atas dasar KAT tersebut, Tim PPBJ melakukan proses pengadaan pada tanggal 27 September 2004. Berdasarkan Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) dan KAT, Tim PPBJ melakukan penawaran kepada pihak rekanan. RKS mengatur antara lain dokumen penawaran meliputi dokumen administrasi, dokumen teknis dan dokumen biaya. KAT sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan RKS, memuat ruang lingkup pekerjaan, tahapan pelaksanaan, dan spesifikasi teknis. Berdasarkan laporan akhir pelaksanaan pelelangan PPKJP Tim PPBJ No.19/PPBJ-JAR/112004 tanggal 12 Nopember 2004 dan surat Kepala BPS No.B/10358/112004 tanggal 23 Nopember 2004 menetapkan PT Indo Ventura Sonsang (PT IVS) sebagai pemenang tender untuk melaksanakan pekerjaan PPKJP. Selanjutnya, PT Jamsostek dan PT IVS menandatangani perjanjian No.PER/110/112004 tanggal 29 Nopember 2004 tentang pekerjaan penggantian

99

BPK-RI / AUDITAMA V

perangkat keras jaringan dan peripheral PT Jamsostek dengan nilai pekerjaan sebesar Rp1.961.231.800,00, termasuk PPN 10%. Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut atas dokumen lelang ditemukan halhal berikut: a) Sistem penilaian dokumen teknis tidak dijelaskan kepada seluruh rekanan Berdasarkan RKS diketahui bahwa sistem penilaian dokumen penawaran secara keseluruhan sebesar 100%, meliputi dokumen penawaran harga sebesar 40% dan dokumen teknis sebesar 60%. Berdasarkan dokumen evaluasi penilaian dokumen teknis diketahui bahwa penilaian meliputi penilaian atas pengalaman perusahaan, solusi teknis, manajemen proyek & pelatihan, dan kualifikasi tenaga ahli dengan porsi penilaian masing-masing 20%, 50%, 15% dan 15%. Akan tetapi, porsi penilaian teknis tersebut tidak dijelaskan dalam RKS. Jika porsi penilaian tersebut terdapat di RKS, rekanan seharusnya akan lebih menyajikan konfigurasi dan arsitek jaringan dalam proposalnya. Akan tetapi, tidak demikian dengan seluruh rekanan yang mengikuti lelang. Para rekanan menyajikan proposalnya ada yang sangat sederhana dan ada juga yang terinci. Rekanan menyajikan format proposal sesuai rekayasanya. Dengan demikian, proposal antar rekanan tidak dapat dibandingkan. Perbedaan tersebut terlihat dari penyajian konfigurasi dan arsitektur jaringan. Penyajian rekayasa konfigurasi dan arsitektur jaringan dari rekanan antara lain dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) PT Indo Ventura Sonsang (PT IVS) memaparkan konfigurasi dan arsitektur jaringan secara rinci pada Bab IV, yaitu Gambaran Pengembangan Jaringan yang ditawarkan. Begitu juga dengan pembangunan sistem anti virus pada BAB V, yaitu Symantec Antivirus Enterprise Edition. Untuk kedua hal tersebut, PT IVS dapat menyajikan gambar/peta dan diagram/layout dengan penjelasan yang sangat rinci.

100

BPK-RI / AUDITAMA V

(2) PT Mitracandika Manunggal Karsa (PT MMK) memaparkan secara sangat sederhana pada Bab Tahap Pelaksanaan. PT MMK tidak menyajikan konfigurasi dan arsitek jaringan tetapi berkomitmen untuk mengadakan, mendistribusikan dan memasang perangkat keras dan perangkat lunak di masing-masing lokasi yang telah ditentukan. (3) PT Maxindo Caraka (PT MC) memaparkan secara sederhana pada Bab III, yaitu Solusi Local Area Network dan Bab IV Design Local Network. Pada kedua bab ini PT MC menyajikan layout konfigurasi jaringan juga dengan penjelasan yang lebih ringkas. Begitu juga halnya dengan penyajian sistem anti virus pada Bab V. (4) PT Metrodata Mitra Informatika (PT MMI) memaparkan konfigurasi dan arsitektur jaringan secara rinci baik berupa diagram maupun penjelasannya pada Bab 6, yaitu Kebutuhan Sistem. Namun, dalam pembangunan sistem anti virus, PT MMI tidak menyajikan secara lebih rinci dan jelas. (5) PT Harrisma Informatika Jaya (PT HIJ) memaparkan konfigurasi dan arsitek jaringan berupa sketsa/diagram dengan penjelasan secara menyeluruh dan tidak terinci. Selain itu, pembangunan sistem anti virus disajikan secara ringkas. Dari pemaparan proposal di atas serta berdasarkan hasil evaluasi teknis diketahui bahwa PT IVS memiliki skor tertinggi, yaitu 71,27 mengungguli skor rekanan lainnya sebesar 51,60 s.d. 57,27. PT IVS sangat unggul pada solusi teknis yang mencapai 40,53, sementara rekanan lainnya memperoleh 19,72 s.d. 34,86. b) HPS tidak dapat digunakan sebagai acuan menilai kewajaran harga Berdasarkan RKS dan KAT tersebut di atas, Tim PPBJ, dalam hal ini dibantu oleh Tim Program Office dan Konsultan PT MI, membuat HPS, sementara rekanan membuat dokumen penawaran. Form penawaran harga pada RKS adalah sebagai pedoman rekanan dalam membuat perhitungan harga. Form penawaran harga tersebut, RKS tidak merinci jumlah dan jenis produk yang diinginkan untuk penggantian perangkat 101 BPK-RI / AUDITAMA V

keras jaringan dan peripheral. Selain itu, RKS tidak menyajikan konfigurasi dan arsitek jaringan secara jelas dan rinci. Dengan demikian, para rekanan membuat dokumen penawaran harga atas produk sesuai hasil rekayasa konfigurasi dan arsitek jaringannya. Secara uji petik perbedaan tersebut dapat dilihat pada rincian produk yang ditawarkan, antara lain: (1) Produk Catalyst 4500 Supervisor IV dan Product Catalyst 4507 Supervisor IV, PT HIJ, PT MMK, dan PT IVS menawarkan masing-masing 1 unit. PT MC menawarkan Product Catalyst 4507 Supervisor IV sebanyak 2 unit, dan PT MMI Product Catalyst 4500 Supervisor IV sebanyak 2 unit. (2) Produk GBIC, PT HIJ dan PT MMI menggunakan Catalyst 4500 GE Module server switching 18 ports sebanyak 1 unit, sementara PT MMK, PT IVS, dan PT MC menggunakan Catalyst 4500 GE Module server switching 6 ports sebanyak 4 unit. (3) Produk GBIC multimode only, PT HIJ menggunakan 1000BASE-SX Short wavelength sebanyak 22 Unit, PT MMK, PT IVS, PT MC sebanyak 24 unit, sementara PT MMI hanya 12 unit. (4) Produk distribution switch, PT HIJ, PT MMK, PT IVS, dan PT MC menggunakan model 48 10/100 and 2 1000BASE-SX uplink port sebanyak 10 unit, sementara PT MMI menggunakan 8 Unit. Selain itu, model 24 10/100 ports and w/2 10/100/1000BASE, PT HIJ dan PT MMI menggunakan sebanyak 4 unit, sementara PT MMK, PT IVS, dan PT MC sebanyak 3 unit. (5) Secara keseluruhan harga, PT IVS menawarkan harga tertinggi mencapai sebesar Rp1.961.231.800,00, sementara rekanan lainnya PT HIJ, PT MMI, PT MMK dan PT MC masing-masing sebesar Rp1.903.000.000,00, Rp1.899.000.000,00, Rp1.848.815.100,00, dan Rp1.799.319.500,00. Selain hal tersebut di atas, format HPS yang dibuat oleh Tim Program Office dibantu Konsultan PT MI, tidak sama dengan form penawaran harga pada RKS. HPS tidak menyajikan perhitungan secara rinci, tetapi secara global per sub-item kegiatan. Akan tetapi, form penawaran harga disajikan kebutuhan per 102 BPK-RI / AUDITAMA V

lantai per item kegiatan. Baik HPS maupun form penawaran harga, keduanya tidak menyajikan rincian item product yang dibutuhkan baik secara keseluruhan maupun per lantai. Hal tersebut menunjukkan bahwa Tim Program Office belum sepenuhnya memiliki rancangan konfigurasi dan arsitektur jaringan yang dibutuhkan. Dari hal-hal tersebut di atas dapat disimpulkan antara lain: 1) Penyajian proposal rekayasa konfigurasi dan arsitek jaringan yang relatif sangat berbeda, menunjukkan bahwa rekanan belum sepenuhnya memahami kebutuhan perangkat keras jaringan dan peripheral. 2) Antara rekanan menyajikan konfigurasi dan arsitek jaringan yang sangat berbeda, menunjukkan bahwa rekanan belum sepenuhnya paham aspek dan porsi penilai atas dokumen teknis. 3) Baik HPS dengan dokumen penawaran harga maupun antar dokumen penawaran harga dari rekanan, tidak dapat dibandingkan. e. Realisasi pekerjaan pengawasan oleh PT MI dan pelaksanaan pengembangan dan implementasi oleh PT ACC tidak sesuai dengan target waktu yang telah diperjanjikan Berdasarkan perjanjian pekerjaan pengawasan antara PT Jamsostek dengan PT MI dan perjanjian pekerjaan pelaksanaan pengembangan SIPT dan SIAK antara PT Jamsostek dengan PT ACC diketahui bahwa PT MI dan PT ACC seharusnya menyerahkan hasil pekerjaan (deliverables) sesuai dengan jadwal dalam perjanjian, yaitu tanggal 17 Maret 2004, akan tetapi masih belum ada penyerahan. Dengan memperhatikan kemajuan pekerjaan yang telah dicapai saat ini, penyelesaian pekerjaan kemungkinan akan mundur dalam waktu yang cukup signifikan. Berdasarkan hasil wawancara dengan PT MI, diketahui bahwa penyebab keterlambatan tersebut antara lain sebagai berikut : 1) PT ACC yang terlalu underestimate terhadap proyek SIPT dan SIAK;

103

BPK-RI / AUDITAMA V

2) Manajemen kurang memiliki semangat untuk mengejar jadwal yang telah tertinggal. 3) Sulitnya melakukan penyesuaian dengan kesibukan pejabat-pejabat PT Jamsostek. Penjelasan PT MI tersebut semakin menunjukkan bahwa PT MI kurang melakukan perencanaan yang memadai karena estimasi biaya yang mendekati estimasi HPS yang dibuat PT MI, sehingga HPS yang dibuat oleh PT MI juga underestimate. Kondisi tersebut mengakibatkan hal-hal sebagai berikut : a. Jadwal kemajuan penyelesaian pekerjaan tidak sesuai dengan rencana umum yang telah ditetapkan. b. Risiko pembangunan sistem informasi on line cukup tinggi. c. Besarnya biaya yang diperjanjikan untuk jasa pengembangan SIPT dan SIAK serta pengadaan jaringan peripheral masing-masing sebesar Rp13.484.394.000,00 dan Rp1.961.231.800,00 diragukan kewajarannya. d. Proses pengadaan jasa pengembangan SIPT dan SIAK serta pengadaan jaringan peripheral diragukan kewajarannya. Hal tersebut terjadi karena PT Jamsostek : a. Belum sepenuhnya membuat perencanaan pembangunan sistem informasi online secara cermat. b. Belum sepenuhnya membuat TOR, RKS dan HPS secara cermat. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa : a. Tahap persiapan pengembangan dan implementasi Sistem Informasi Online. Tahap persiapan pengembangan dan implementasi Sistem Informasi Online belum sepenuhnya dilakukan secara baik, namun kami dapat jelaskan sebagai berikut: 1) Review dilakukan antara lain dalam bentuk mengadakan workshop manajemen data yang diikuti oleh perwakilan kantor-kantor cabang seluruh Indonesia, dimana dalam workshop tersebut diminta masukan terhadap rancangan hasil review sistem informasi akuntansi dan keuangan, sehingga diperoleh informasi mengenai kebutuhan dan permasalahan yang timbul di masing-masing kantor cabang di seluruh Indonesia.

104

BPK-RI / AUDITAMA V

2) Pembuatan materi sosialisasi tersebut memang tidak dapat diselesaikan pada bulan April 2004 sesuai dengan perjanjian PT Jamsostek dengan PT MI No.PER/14/022004, hal ini dikarenakan review dan hasil review-nya baru disahkan pada bulan November 2004. Upaya yang akan dilakukan ke depan adalah melakukan addendum terhadap jadwal pekerjaan di perjanjian PT Jamsostek dengan PT MI No.PER/14/022004. 3) Pembuatan dokumen tender pembangunan aplikasi SIPT dan SIAK belum memuat secara detil mengenai laporan, sistem yang digunakan saat ini serta penjelasan mengenai sisdur yang belum disahkan secara formal. Hal tersebut di atas memang menjadi indikator yang penting dalam melakukan estimasi beban pekerjaan, namun penjelasan lainnya di dalam TOR mengenai lingkup pekerjaan, tahapan pekerjaan, hasil akhir (deliverables), gambaran proses bisnis tersebut dinilai telah cukup memberikan gambaran mengenai kompleksitas proyek dan pembangunan aplikasi peserta lelang sudah dapat melakukan estimasi beban pekerjaan dengan baik. Berdasarkan sifat usaha dan proses bisnis PT Jamsostek yang unik dan sulit untuk menetapkan benchmarking, kami membuka kesempatan kepada peserta lelang untuk menggali informasi lebih lanjut guna mendukung proposal solusi yang akan mereka tawarkan. b. Sistem dan prosedur SIPT dan SIAK ditetapkan setelah dua bulan perjanjian pekerjaan pengembangan sistem aplikasi SIPT dan SIAK. Sistem dan prosedur SIPT dan SIAK memang idealnya disahkan terlebih dahulu sebelum proses tender pengadaan dilaksanakan. Namun, pada saat itu sistem dan prosedur tersebut sudah dalam tahap finalisasi akhir dan dalam proses pengesahan melalui memo Biro TI kepada Biro Hukum No.M/305/BTI/092004 tanggal 22 September 2004, sehingga sudah dapat dijadikan acuan pada saat dimulainya pekerjaan pengembangan aplikasi SIPT & SIAK. c. Perubahan Sistem Aplikasi yang akan dikembangkan tidak memiliki dasar yang memadai. Berdasarkan perjanjian No.PER/14/022004 antara PT MI dan PT Jamsostek, sub-proyek aplikasi SIPA Online 105 memang seharusnya dilaksanakan pada

BPK-RI / AUDITAMA V

implementasi tahap II, namun perencanaan tersebut menjadi kurang akurat karena dalam rapat-rapat pembahasan TOR pengembangan dan implementasi aplikasi SIPT & SIAK dirasakan bahwa modul anggaran dimana di dalamnya terdapat sub-modul penyusunan anggaran (SIPA Online) sebaiknya dimasukkan dalam lingkup pengembangan aplikasi SIPT & SIAK agar aplikasi SIAK tersebut dapat lebih terintegrasi dan memberikan manfaat optimal bagi PT Jamsostek. Hal ini telah dibahas dan dilaporkan pada rapat dengan Steering Committee tgl 18 Juni 2004 (Risalah rapat SC tgl 18 Juni 2004 point 7) dan dibahas juga melalui rapat-rapat internal oleh tim program office, namun tidak terdokumentasi dengan baik. d. Pengadaan terkait dengan pengembangan dan implementasi sistem informasi 1) Pengadaan jasa pengembangan dan implementasi SIPT dan SIAK. a) Laporan dan form yang akan dihasilkan oleh sistem aplikasi memang tidak dijelaskan secara rinci dalam TOR. Pertimbangannya adalah jumlah form dan laporan yang sebenarnya baru dapat diidentifikasi secara pasti pada saat dilakukan perancangan aplikasi. Jumlah form dan laporan tersebut, sesuai data yang diberikan oleh PT ACC, dinyatakan mencakup 1.288 form dan laporan, dimana form yang dimaksud, dalam istilah oracle, adalah layar transaksi aplikasi (screen). Banyaknya form ini sangat dipengaruhi oleh pendekatan dan rancangan yang dilakukan oleh pengembang aplikasi dalam memetakan proses bisnis dalam alur transaksi aplikasi. Form-form tersebut antara lain untuk melakukan set up aplikasi (customization), pembuatan master data, transaksitransaksi proses bisnis akuntansi, keuangan, operasi dan pelayanan. Sehingga jumlah form dan laporan ini akan berbeda untuk masing-masing pengembang aplikasi tergantung dari rancangan aplikasi yang dihasilkan. Selain itu, tidak semua informasi termasuk uraian yang rinci mengenai form dan laporan dapat disampaikan dalam TOR karena informasi tersebut bersifat rahasia. b) PT Jamsostek dalam hal ini juga mengharapkan kreativitas dalam perancangan aplikasi, sehingga dapat memberikan opsi-opsi solusi yang terbaik bagi permasalahan PT Jamsostek.

106

BPK-RI / AUDITAMA V

c) Di dalam TOR telah dijelaskan tentang kondisi aplikasi sekarang, yaitu aplikasi SIPT & GL-ORA (SIAK) secara umum (TOR point 3. kondisi saat ini). Informasi secara lebih detil tidak dilakukan didalam TOR berdasarkan pertimbangan antara lain : (1) Rincian kondisi aplikasi sekarang PT Jamsostek merupakan informasi yang bersifat rahasia yang hanya akan disampaikan kepada pihak yang dipilih untuk bekerja sama dengan PT Jamsostek. (2) Tidak semua rekanan yang membeli dokumen lelang mengikuti proses lelang pekerjaan pengembangan aplikasi. d) Meskipun demikian, Panitia Pengadaan Barang dan Jasa PT Jamsostek telah menyediakan kesempatan yang memadai kepada calon peserta lelang pekerjaan tersebut untuk mengajukan pertanyaan baik secara tertulis maupun lisan, serta memperoleh penjelasan yang memadai atas pertanyaan tersebut. Penjelasan dan jawaban memadai secara terbuka juga telah disampaikan kepada semua calon peserta lelang agar para calon peserta lelang dapat melakukan estimasi secara baik. e) Pada saat dilakukan tender pengembangan aplikasi SIPT & SIAK, sistem dan prosedur sudah dalam tahap finalisasi dan dalam proses pengesahan melalui memo Biro TI kepada Biro Hukum No.M/305/BTI/092004 tanggal 22 September 2004. f) Perhitungan HPS bersifat perkiraan berdasarkan pengalaman empiris konsultan PT MI dalam menangani proyek-proyek sejenis. Pada tanggal 30 Juni 2004, HPS didiskusikan bersama-sama oleh PT MI dan Steering Committee pada saat bersamaan dengan pemasukan dokumen lelang oleh para peserta tender, untuk menjaga kerahasiaan HPS tersebut. g) Beberapa alternatif perhitungan HPS dibahas dalam forum tersebut dengan parameter total mandays, mandays rate serta nilai tukar USD. Pada saat itu dipertimbangkan mandays rate rata-rata yang akan digunakan berkisar antara USD200.00 s.d. USD300.00. Rate USD200.00 biasanya digunakan pada proyek pengembangan aplikasi dengan tingkat kesulitan rendah/sedang, 107 BPK-RI / AUDITAMA V

sehingga tidak memerlukan tenaga ahli dengan kualifikasi yang tinggi. Sebaliknya rate USD300.00 biasanya digunakan pada proyek-proyek pengembangan aplikasi yang sangat kompleks, sehingga memerlukan tenaga ahli dengan kualifikasi yang sangat tinggi. Berdasarkan kompleksitas pekerjaan, harga pasar dan tingkat keahlian dari rekanan yang diharapkan, maka rapat Steering Committe memutuskan mandays rate rata-rata yang digunakan untuk perhitungan HPS adalah USD250.00 dengan menggunakan kurs Rp9.400,00 per USD. h) Adanya jarak yang cukup besar antara penawaran tertinggi dan terendah dalam lelang pembangunan aplikasi SIPT & SIAK mencerminkan solusi yang ditawarkan oleh masing-masing peserta lelang. 2) Mengenai pengadaan pekerjaan penggantian jaringan dan peripheral a) Sistem penilaian dokumen teknis tidak dijelaskan kepada seluruh rekanan Penilaian dokumen teknis memang tidak dijelaskan dalam RKS, namun dalam rapat penjelasan pekerjaan telah ditekankan bahwa solusi teknis lebih diutamakan daripada harga, sehingga peserta lelang harus menjelaskan solusi teknis secara komprehensif didalam proposalnya. b) HPS tidak dapat digunakan sebagai acuan menilai kewajaran harga Informasi penawaran harga pada RKS tidak merinci jumlah dan jenis produk yang diinginkan dengan pertimbangan perkembangan teknologi yang cepat, sehingga tidak menutup kemungkinan keluarnya produk baru yang lebih baik. Selain itu vendor dapat memberikan solusi yang terbaik bagi PT Jamsostek. e. Pengawasan oleh PT MI dan pelaksanaan pengembangan oleh PT ACC Pelaksanaan pengembangan dan implementasi tidak sesuai target waktu disebabkan mekanisme monitoring dan pengawasan di lingkungan Jamsostek maupun eksternal (PT Magnus dan PT Asaba) yang belum sepenuhnya dilakukan dengan baik. Langkah-langkah yang ditempuh antara lain membuat addendum perpanjangan, melakukan perbaikan proses mekanisme monitoring dan pengawasan ini dengan menunjuk personil khusus guna melakukan monitoring proyek.

108

BPK-RI / AUDITAMA V

BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek : a. Menegur PT MI sebagai konsultan yang ditugasi membuat perencanaan pembangunan sistem informasi online PT Jamsostek, serta meminta pertanggung-jawaban atas penyelesaian pembangunan sistem informasi online PT Jamsostek selanjutnya; b. Beserta jajarannya sepenuhnya berpartisipasi dalam pembangunan sistem online tersebut, bersama PT MI dan PT Asaba agar pembangunan tersebut dapat diimplementasikan secara cepat dan baik; c. Menegur PT MI agar dalam pembuatan TOR, RKS dan HPS dilakukan secara profesional yang berpedoman pada ketentuan pembuatan HPS sesuai pedoman pengadaan barang dan jasa PT Jamsostek; d. Memberikan arahan kepada pihak-pihak yang kompeten atas pengadaan barang dan jasa yang berkaitan dengan pembangunan sistem informasi online bekerja lebih cermat teliti dan profesional sesuai ketentuan pengadaan barang dan jasa PT Jamsostek; e. Mengenakan sanksi denda atas keterlambatan pekerjaan yang dilaksanakan, dan membuat addendum perjanjian atas perpanjangan waktu. 10. Pengendalian dan pembinaan atas pengelolaan Program JPK Tambahan tidak sesuai dengan ketentuan, sehingga ratio klaim tahun 2004 mencapai 101,73%. Dalam rangka menjamin kesejahteraan karyawan dan pensiunan karyawan PT Jamsostek beserta keluarganya, PT Jamsostek memberikan Program JPK Tambahan. Pelaksanaan pemberian program JPK Tambahan tersebut diatur dengan SK Direksi PT Jamsostek No.KEP/143/092002 tanggal 9 September 2002 tentang Program jaminan pemeliharaan kesehatan tambahan bagi karyawan dan pensiunan karyawan PT Jamsostek. .Pelaksanan pemberian program tersebut dibagi menjadi dua yaitu : a. Pelayanan Program JPK Tambahan bagi peserta Kantor Pusat diserahkan kepada Biro Personalia. Pada saat ini pihak ketiga yang ditunjuk untuk melaksanakan program tersebut adalah PT Nayaka Era Husada b. Pelayanan Program JPK Tambahan bagi peserta di luar Kantor Pusat dilaksanakan oleh masing-masing kantor wilayah atau menunjuk salah satu kantor cabang yang berdekatan. 109 BPK-RI / AUDITAMA V

Mengingat PT Jamsostek melaksanakan sendiri program JPK Tambahan bagi peserta di luar Kantor Pusat, maka beban JPK Tambahan yang menjadi salah satu unsur beban usaha dicatat dengan mengkredit Pendapatan Iuran JPK Tambahan. Pada saat peserta tersebut melakukan klaim, maka akan dicatat sebagai Beban Jaminan JPK Tambahan. Berdasarkan pemeriksaan atas hal tersebut diketahui hal-hal sebagai berikut : a. Perbandingan beban jaminan dan pendapatan iuran JPK Tambahan selama tahun 2002 s.d. tahun 2004 cukup tinggi, dengan rincian masing-masing sebagai berikut :
Uraian Beban Jaminan JPK Tambahan Pendapatan Iuran JPK Tambahan TAHUN 2002 6.981.512.149,83 5.071.629.537,24 TAHUN 2003 8.695.145.392,23 6.595.033.149,76 TAHUN 2004 11.132.761.271,74 7.037.673.133,72

Angka pendapatan iuran JPK Tambahan yang disajikan di laporan keuangan tersebut belum sepenuhnya tepat, karena kantor cabang masih banyak yang salah menghitung beban usaha JPK Tambahan. Berdasarkan perhitungan kembali beban usaha JPK Tambahan tahun 2004, rasio klaim JPK Tambahan adalah sebagai berikut:
Beban Jaminan JPK Tambahan Total Gaji Pegawai Gaji Pegawai Kantor Pusat Gaji Pegawai di luar Kantor Pusat Pendapatan Iuran JPK Tambahan (12% x Gaji) Rasio Klaim JPK Tambahan di luar Kantor Pusat Rp11.132.761.271,74 Rp110.246.547.028,00 Rp 19.052.672.240,36 Rp 91.193.874.787,64 Rp10.943.264.974,52 101,73%

b. Realisasi sebesar

pembayaran

beban atau

jaminan mencapai

JPK 128,13%

Tambahan dari

2004

Rp11.132.761.271,74

anggarannya

sebesar Rp8.688.578.740,00: c. Divisi terkait tidak memahami dan tidak melaksanakan ketentuan mengenai pelaksanaan program JPK Tambahan. Tim Audit BPK-RI telah meminta data terkait dengan pengelolaan program JPK Tambahan kepada Kepala Divisi Pelayanan JPK PT Jamsostek melalui surat nomor 40/ST/GA-KP/02/2005 tanggal 08 Pebruari 2005 yang salah satunya ditembuskan kepada Kepala Biro Personalia. Kemudian Kepala Divisi JPK melaui surat No.B/1232/022005 tanggal 15 Februari 2005 menyatakan bahwa 110 Program JPK

BPK-RI / AUDITAMA V

Tambahan bagi Karyawan dan Pensiunan PT Jamsostek dikelola oleh Biro Personalia, sedangkan Divisi Pelayanan JPK mengelola Program JPK Dasar untuk peserta. Hal tersebut tidak sesuai dengan pasal 4 SK Direksi No.KEP/143/092002 tanggal 9 September 2002, yang antara lain menyatakan bahwa Divisi Pelayanan JPK, Biro Personalia dan Kantor Wilayah PT Jamsostek secara sendiri-sendiri diberi tugas pembinaan dan pengendalian program JPK Tambahan kepada seluruh kantor cabang yang menjadi penyelenggara program JPK Tambahan. Selain itu, pasal 6 ayat 1 menyatakan bahwa seluruh kantor yang melaksanakan Program JPK Tambahan diwajibkan membuat laporan bulanan selambat-lambatnya tanggal 15 bulan berikutnya yang disampaikan kepada Kepala Biro Personalia dengan tembusan kepada Kepala Divisi Pelayanan JPK. Akan tetapi, Biro Personalia dan Divisi Pelayanan JPK tidak menerima laporan tersebut, sehingga pengendalian atas program tersebut tidak sesuai dengan ketentuan. Lebih lanjut, pembagian tugas pembinaan dan pengendalian antara Divisi Pelayanan JPK dan Biro Personalia tidak diatur secara jelas. Setiap SK Direksi seharusnya dilaksanakan secara tertib dan ditaati oleh Divisi/Biro terkait agar sistem pengendalian intern yang telah dibuat dapat berjalan dengan baik. Kondisi tersebut mengakibatkan rasio klaim JPK Tambahan PT Jamsostek pada tahun 2004 mencapai 101,73%. Hal tersebut disebabkan oleh belum efektifnya verifikasi klaim JPK Tambahan di Kantor Cabang, dan belum adanya pemisahan fungsi yang jelas antara Biro Personalia dan Divisi JPK. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa pembinaan dan pengelolaan program kesehatan karyawan, pensiunan dan keluarga belum sepenuhnya dilakukan secara optimal. Faktor pendorong tingginya ratio klaim antara lain terdapat 45 Kantor Cabang dengan jumlah peserta relatif sedikit + 40 jiwa tertanggung (karyawan/pensiunan & keluarga), sehingga tidak dimungkinkan untuk dikerjasamakan secara kapitasi dengan PPK Tk.I/II, selain itu, terdapat beberapa kasus kesehatan karyawan dan pensiunan yang memerlukan biaya perawatan tinggi antara lain, jenis penyakit stroke, hipertensi dll. 111 BPK-RI / AUDITAMA V

Lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa kegiatan koordinasi dan verifikasi pelaksanaan program kesehatan karyawan dan pensiunan telah dilakukan, antara lain mengadakan rapat koordinasi teknis, dengan peserta Biro Personalia, Biro JPK, Biro Keuangan, Biro Akuntansi dan Serikat Pekerja Jamsostek, secara berkala. Diantara hasil rapat koordinasi tersebut adalah terbitnya petunjuk teknis, adanya evaluasi-evaluasi yang pada akhirnya diterbitkan KEP/56/022005 tanggal 23 Februari 2005 sebagai pengganti KEP/143/092002 yang mengatur hal yang sama. Dalam rangka meningkatkan pembinaan dan pengelolaan tersebut, akan dilakukan hal-hal antara lain : a. Lebih diintensifkan kegiatan verifikasi pelaksanaan Program Kesehatan Karyawan, Pensiunan dan keluarganya, pada seluruh unit kerja. b. Dilakukan kajian (dalam proses) untuk menetapkan program yang lebih ideal, khususnya bagi pensiunan yang cenderung membutuhkan biaya tinggi. c. Pemisahan secara jelas, tugas Divisi PPJPK dan Biro Personalia dalam pengelolaan program kesehatan karyawan, pensiunan dan keluarga. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek : a. Melakukan pemisahan fungsi yang jelas antara Biro Personalia dan Divisi JPK, serta fungsi yang ada pada kantor cabang dalam pengelolaan program kesehatan karyawan, pensiunan dan keluarganya. b. Lebih mengintensifkan kegiatan verifikasi pada kantor-kator cabang, dan melakukan kajian atas program yang ideal bagi pensiunan. 11. Pengadaan Gondola untuk menara Jamsostek sebesar Rp676,50 juta belum sepenuhnya sesuai ketentuan Berdasarkan laporan dari Konsultan Properti Menara Jamsostek PT Nusalingga Persada, serta pengecekan dari Divisi Properti dan Penyertaan (DPP) sesuai memo Nomor.M/32/DPP/012004 tanggal 27 Januari 2004 kepada Direktur Investasi diketahui bahwa : a. Gondola yang ada pada Menara Jamsostek sebanyak tiga unit sudah tidak layak dioperasikan, sehingga perlu diadakan perbaikan dan penggantian. 112 BPK-RI / AUDITAMA V

b. Untuk penggantian tersebut, DPP sudah menghubungi PT Mitra Gondola Kreasiprima (PT MGK), dan kemudian PT MGK mengajukan penawaran sebesar Rp678.340.000,00 belum termasuk PPN. Untuk teknis pengadaan diserahkan kepada Biro Prasarana dan Sarana (BPS). Memo tersebut disetujui Direktur Investasi tanggal 27 Januari 2004. Berdasarkan Memo DPP No.M/109/DPP/032004 tanggal 16 Maret 2004 kepada BPS tersebut, DPP meminta BPS untuk melakukan pengadaan berdasarkan taksiran harga penawaran dari PT MGK. BPS melalui suratnya tertanggal 26 Maret 2004 mengundang empat rekanan dan berdasarkan seleksi administrasi, dari empat rekanan tersebut dinyatakan lolos tiga rekanan, yaitu PT MGK, teknis dan harga dimenangkan oleh PT MGK. Setelah dilakukan negosiasi harga, kemudian dibuat SPK No. SPK/47/042004 tanggal 6 April 2004 dengan nilai pekerjaan sebesar Rp676.500.000,00, dengan batas waktu pelaksanaan pekerjaan selama empat bulan kalender atau sampai dengan 5 Agustus 2004. Berdasarkan pemeriksan lebih lanjut atas proses pengadaan gondola tersebut diketahui hal-hal berikut : a. Seleksi administrasi tidak dilakukan dengan cermat, penunjukan PT MGK belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan. Berdasarkan dokumen administrasi dari tiga rekanan yang lolos seleksi administrasi sesuai berita acara pengecekan dokumen tanggal 30 Maret 2004, diketahui bahwa : 1) Tidak ada sertifikasi badan usaha untuk ketiga rekanan. 2) Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) PT KAM Nomor.443/1.824.51 tanggal 17 April 2003 menunjukkan bahwa PT KAM adalah perusahaan kecil. 3) SIUP PT MGK menunjukkan bahwa PT MGK adalah perusahaan kecil. 4) Tidak ada akte pendirian perusahaan untuk PT KAM dan PT KEU. Hal tersebut tidak sesuai dengan Pedoman Pengadaan Barang/Jasa sesuai SK Direksi No.KEP/80/062001 tanggal 29 Juni 2001, yang antara lain mengatur bahwa untuk pekerjaan pengadaan barang dengan nilai diatas Rp500.000.000,00 dilaksanakan oleh 113 BPK-RI / AUDITAMA V PT Karunia Anugerah Mitrautama (PT KAM), dan PT Kinerja Estetika Utama (PT KEU). Selanjutnya berdasarkan seleksi

rekanan kualifikasi menengah (M) yang dibuktikan dengan sertifikasi badan usaha, selain itu, rekanan yang mengikuti seleksi antara lain harus melampirkan akte pendirian perusahan beserta perubahannya yang telah disahkan menteri terkait. Berdasarkan nilai pekerjaan pengadaan barang yang dilakukan sesuai SPK adalah sebesar Rp676.500.000,00, dengan demikian, seharusnya PT MGK tidak dapat ditunjuk sebagai pelaksana pengadaan. b. Jaminan uang muka yang diberikan oleh PT MGK hanya berlaku satu bulan Atas pekerjaan tersebut diatas PT MGK diberikan uang muka sebesar 20% atau sebesar Rp135.300.000,00 yang dibayarkan pada tanggal 30 Juni 2004. Atas uang muka tersebut PT MGK menyerahkan jaminan uang muka yang berlaku satu bulan, yaitu sejak 8 Juni s.d. 8 Juli 2004, sedangkan pekerjaan sampai dengan 7 Maret 2005 belum mencapai 100%. Hal tersebut tidak sesuai dengan Pedoman Pengadaan Barang/Jasa sesuai SK Direksi No.KEP/80/062001 tanggal 29 Juni 2001, antara lain mengatur bahwa uang muka sepenuhnya dipergunakan bagi pelaksanaan pekerjaan, uang muka yang diberikan diperhitungkan berangsur-angsur secara merata pada tahaptahap pembayaran. Uang muka harus telah lunas pada saat pekerjaan mencapai prestasi 100%. c. Tidak ada jaminan pelaksanaan atas pekerjaan yang dilaksanakan. Berdasarkan dokumen yang ada, diketahui bahwa atas pelaksanaan pekerjaaan tersebut di atas, PT MGK tidak memberikan jaminan pelaksanaan. Hal tersebut tidak sesuai dengan Pedoman Pengadaan Barang/Jasa sesuai SK Direksi No.KEP/80/062001 tanggal 29 Juni 2001, yang antara lain mengatur bahwa atas pengadaan barang dan jasa dengan nilai diatas Rp200.000.000,00 sebelum menandatangani surat perjanjian, rekanan pelaksana diwajibkan memberikan jaminan pelaksanaan sebesar 5% dari nilai pekerjaan, berupa surat jaminan pelaksanaan pekerjaan dari bank umum atau perusahaan asuransi kerugian yang memiliki program surety bond. d. Pekerjaan dilaksanakan tidak tepat waktu dan belum dikenakan sanksi denda. Menurut SPK No.SPK/47/042004 tanggal 6 April 2004, batas waktu pelaksanaan pekerjaan s.d. tanggal 5 Agustus 2004, akan tetapi sampai dengan pemeriksaan berakhir tanggal 15 Maret 2005, pekerjaan belum selesai 100%. Sesuai SPK tersebut 114 BPK-RI / AUDITAMA V

di atas diketahui bahwa atas keterlambatan penyelesaian pekerjaan, pihak pelaksana akan dikenakan sanksi denda sebesar 1‰ (satu permil) per hari kalender dengan denda maksimum sebesar 5% dari keseluruhan nilai pekerjaan. Seharusnya PT Jamsostek sudah mengenakan sanksi denda maksimal 5% sebesar Rp33.825.000,00 atas keterlambatan penyelesaian pekerjaan. Hal tersebut di atas mengakibatkan : a. Pengadaan perbaikan dan penggantian gondola belum sepenuhnya dapat diyakini kewajarannya dan dapat dipertanggungjawabkan. b. PT Jamsostek terlambat memperoleh pendapatan denda sebesar Rp33.825.000,00. c. Pekerjaan rutin yang menggunakan gondola pada Menara Jamsostek menjadi terganggu, sehingga pelayanan yang diberikan kepada penyewa menjadi tidak maksimal. Kondisi tersebut disebabkan PT Jamsostek tidak menjalankan ketentuan baik ketentuan pengadaan barang dan jasa maupun ketentuan yang diatur dalam SPK. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa : a. Proses pengadaan gondola memang dilakukan tidak melalui pelelangan, tetapi melalui penunjukan langsung. b. Dari hasil evaluasi dari ketiga rekanan memang hanya satu perusahaan yang memiliki sertifikasi, yaitu PT MGK dengan klasifikasi B, sesuai table harusnya untuk pekerjaan Rp500.000.000,00 s.d. Rp4.000.000.000,00 kualifikasinya M. c. Jaminan uang muka yang diberikan PT MGK memang berlaku hanya satu bulan yang seharusnya berlaku sampai dengan pekerjaan selesai yang dipotong melalui termin pembayaran. Kedepan jaminan uang muka akan menjadi perhatian BPS. d. Dalam hal pengawasan, DPP pada dasarnya tetap dan telah melakukan pengawasan, hal ini dapat dilihat dari hasil pertemuan-pertemuan yang dilakukan dalam rangka pengawasan tersebut dimana dilakukan perbaikan atas kekurangan pekerjaan untuk menjamin kenyamanan & keselamatan kerja, terlampir koreksi atas pekerjaan kontraktor (pengadaan gondola). Akibat dari koreksi dimaksud, maka pekerjaan kontraktor mengalami keterlambatan. 115 BPK-RI / AUDITAMA V

e. Jaminan pelaksanaan sebesar 5% memang tidak kenakan kepada PT MGK karena pelaksanaannya melalui pemilihan langsung, perlu kami tambahkan bahwa pengadaan sarana tersebut bergaransi selama lima tahun dan masa pemeliharaan satu tahun. Ke depan jaminan pelaksanaan pekerjaan akan menjadi perhatian Biro Perlengkapan dan Sarana. f. Denda keterlambatan akan dipertimbangkan setelah ada hasil kajian. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek memberikan sanksi kepada pelaksana yang belum sepenuhnya menjalankan ketentuan, baik ketentuan pengadaan barang dan jasa maupun ketentuan yang diatur dalam SPK, dan memberikan arahan agar di masa depan selalu berpedoman kepada ketentuan yang berlaku, serta menerapkan perjanjian yang disepakati dalam SPK atau kontrak.

12. Terdapat renovasi beberapa gedung kantor Jamsostek belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan a. Renovasi gedung KC Tanjung Priok Pada tahun 2004 PT Jamsostek KC Tanjung Priok membeli gedung untuk kantor cabang di Komplek Gading Bukit Indah Blok I No.5-8, Kelapa Gading, Jakarta Utara senilai Rp6.809.323.150,00 dari PT Mitra Infoparama. Gedung ini dipilih karena kondisi sudah siap pakai, tidak memerlukan perbaikan terlalu banyak, sesuai usulan atau rekomendasi Kepala Cabang Tanjung Priok melalui surat No.B/26/012004 tanggal 21 Januari 2004 kepada Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) III. Selanjutnya, karena masih terdapat sisa anggaran sebesar Rp240.676.850,00 dari total anggaran sebesar Rp7.050.000.000,00, KC Tanjung Priok melalui surat No.B/109/052004 tanggal 6 Mei 2004 kepada Kakanwil III mengusulkan agar sisa anggaran tersebut dapat dipergunakan untuk pembuatan partisi dan tata ulang ruang sesuai dengan kebutuhan kantor cabang. Untuk melaksanakan renovasi tersebut Kepala Kantor Cabang (Kakacab) Tanjung Priok tanggal 26 Mei 2004 memberikan disposisi kepada Kepala Bidang Umum dan Personalia agar mengupayakan beberapa pemborong bekerja sekaligus 116 BPK-RI / AUDITAMA V

karena waktu sudah mendesak sekali. Total renovasi menghabiskan biaya sebesar Rp240.020.000,00. Berdasarkan pemeriksaan atas renovasi tersebut di atas, diketahui hal-hal sebagai berikut : 1) Terjadi pemecahan pekerjaan/kontrak Renovasi gedung KC Tanjung Priok senilai Rp240.020.000,00 dilaksanakan oleh tiga pelaksana/kontraktor yaitu : a) Renovasi lantai I, pelaksana CV Teka Ati Jaya (CV TAJ), SPK No.SPK/01/062004 tanggal 7 Juni 2004 sebesar Rp97.405.000,00. b) Renovasi lantai II, pelaksana CV Sinar Mutiara (CV SM), SPK No.SPK/02/062004 tanggal 11 Juni 2004 sebesar Rp98.615.000,00. c) Renovasi lantai III, IV, V, pelaksana CV Asabahari Sejahtera (CV AS), SPK No.SPK/03/072004 tanggal 1 Juli 2004 sebesar Rp44.000.000,00. Pekerjaan tersebut dilaksanakan dalam waktu yang hampir bersamaan, dan berdasarkan surat Direktur Umum kepada Kakanwil III No.B/4697/052004 tanggal 27 Mei 2004 perihal ijin perbaikan gedung dan surat Kakanwil III No.B/332/062004 tanggal 2 Juni 2004 kepada Kakacab Tanjung Priok antara lain diketahui bahwa dalam pelaksanaan renovasi supaya mengikuti Pedoman Pengadaan Barang/Jasa PT Jamsostek. Akan tetapi, disposisi Kakacab sebelumnya yaitu tanggal 26 Mei 2004 memerintahkan Kabid Umum dan Personalia untuk diupayakan beberapa pemborong bekerja sekaligus. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa atas pekerjaan renovasi tersebut telah terjadi pemecahan pekerjaan untuk menghindari pelelangan. Hal tersebut tidak sesuai dengan ketentuan pengadaan barang dan jasa PT Jamsostek sesuai SK Direksi No.KEP/80/062001 tanggal 29 Juni 2001, yang antara lain mengatur bahwa nilai pengadaan jasa pemborongan di atas Rp100.000.000,00 s.d. Rp400.000.000,00 dilakukan dengan metode pelelangan. 2) Pekerjaan renovasi tidak dapat dipertanggungjawabkan Ketiga pekerjaan renovasi tersebut di atas, tidak direncanakan dengan baik, yaitu atas pekerjaan tersebut tidak ada Bill Quantity (BQ), Rencana Kerja dan 117 BPK-RI / AUDITAMA V

Syarat-syarat (RKS), serta gambar rencana sebagai panduan atas renovasi yang akan dilaksanakan. Selain itu, atas pekerjaan yang dilakukan oleh ketiga pelaksana tersebut tidak diawasi oleh pihak yang kompeten. Sementara pihak KC Tanjung Priok tidak mempunyai keahlian dalam mengawasi pekerjaan renovasi tersebut. Dengan demikian, pekerjaan renovasi gedung tidak dapat diyakini kewajarannya. 3) Pemilihan CV AS tidak sesuai ketentuan Pekerjaan renovasi lantai III, IV, V, dilaksanakan oleh CV AS. Berdasarkan pemeriksaan atas dokumen administrasi diketahui bahwa sesuai sertifikasinya PT AS mempunyai kualifikasi K-2. Hal tersebut tidak sesuai dengan ketentuan pengadaan barang dan jasa tentang klasifikasi dan kualifikasi, yang antara lain mengatur bahwa perusahaan dengan kualifikasi K-2 mengerjakan pekerjaan pemborongan dengan nilai pekerjaan antara Rp100.000.000,00 s.d. Rp400.000.000,00. Sedangkan untuk pekerjaan dengan nilai pekerjaan di bawah Rp100.000.000,00 dikerjakan oleh kontraktor dengan kualifikasi K-3. b. Renovasi gedung arsip di Jalan Raya Narogong Bekasi Dalam rangka memenuhi kebutuhan gedung arsip yang layak, maka pada tahun 2004 PT Jamsostek melakukan renovasi atas gedung arsip yang ada di Jalan Raya Narogong Bekasi. Pekerjaan tersebut dilaksanakan oleh PT Jatimas Dian Kencana (PT JDK) sesuai perjanjian No.PER/38/042004 tanggal 20 April 2004 sebesar Rp860.500.000,00 selama 90 hari kalender terhitung sejak tanggal 13 April s.d.12 Juli 2004. Konsultan perencana adalah PT Pratiwi Adhiguna Konsultan (PT PAK) sesuai SPK No.SPK/131/102003 tanggal 16 Oktober 2003 sebesar Rp34.737.890,00 dan konsultan pengawas adalah PT Rekata Hias Mandiri (PT RHM) sesuai SPK No.SPK/51/042004 tanggal 14 April 2004 sebesar Rp22.000.000,00. Kemudian berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan No.07/JDK.BAPP/082004 tanggal 23 Agustus 2004, diketahui bahwa penyerahan pekerjaan pertama (selesai 100%) adalah tanggal 5 Juli 2004. Hasil pemeriksaan secara uji petik atas evaluasi administrasi yang dilakukan panitia pengadaan menunjukkan bahwa : 1) Evaluasi administrasi belum dilakukan dengan cermat, yaitu : 118 BPK-RI / AUDITAMA V

a) Berdasarkan Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) PT JDK No. 616/1121P/09-05/PB/VIII/97 tanggal 13 Agustus 1997, PT JDK tergolong perusahaan besar, sedangkan harga pekerjaan renovasi gedung arsip adalah sebesar Rp860.500.000,00. Berdasarkan ketentuan, perusahaan besar mengerjakan pekerjaan di atas Rp4.000.000.000,00. b) Surat keterangan domisili Konsultan Perencana PT PAK telah habis masa berlakunya sampai dengan 18 Juli 2003. Seharusnya sesuai dengan ketentuan yang ada, dokumen tersebut harus masih berlaku dan berdasarkan RKS untuk dokumen yang habis masa berlakunya dan masih dalam proses pengurusan perpanjangannya perpanjangannya. Dengan demikian, PT JDK dan PT PAK seharusnya telah gugur pada tahap seleksi administrasi. 2) Gambar sesuai pelaksanaan (As built drawing) dibuat oleh perencana PT PAK yang ditugaskan dan dibayar oleh PT JDK, seharusnya sesuai dengan perjanjian antara PT Jamsostek dengan PT JDK No. PER/38/042004 tanggal 20 April 2004 dan RKS untuk as built drawing dibuat oleh kontraktor pelaksana PT JDK. Kondisi di atas mengakibatkan pelaksanaan pekerjaan renovasi gedung kantor tersebut di atas belum sepenuhnya dapat diyakini kewajarannya. Hal tersebut terjadi karena KC Tanjung Priok belum sepenuhnya mematuhi ketentuan pedoman pengadaan barang dan jasa, serta instruksi dari Direktur Umum dan SDM, dan evaluasi administrasi belum sepenuhnya dilakukan dengan cermat. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa untuk renovasi gedung KC Tanjung Priok, atas kelalaian tersebut akan dilakukan teguran kepada Kepala Kantor Cabang yang bersangkutan. Sedangkan untuk renovasi gedung arsip dapat dijelaskan bahwa dalam RKS salah satu persyaratan adalah SIUP. Dengan berpedoman kepada RKS tersebut, dalam evaluasi pelelangan Panitia Pengadaan Barang dan Jasa memang tidak memperhatikan segi golongan usaha besar, menengah, atau kecil. Untuk itu dalam pelaksanaan pelelangan selanjutnya panitia akan lebih cermat dan akan memperhatikan hal-hal administrasi atas 119 BPK-RI / AUDITAMA V agar dilampirkan juga fotocopy bukti pengurusan

SIUP tersebut, dan atas surat keterangan domisili PT PAK selaku konsultan perencana telah habis masa berlakunya s.d. 18 Juli 2003, tetapi telah diperpanjang masa berlakunya, namun belum dilampirkan dalam dokumen administrasi. Penandatangan as built drawing telah diperbaiki oleh PT JDK, dan ke depan akan menjadi perhatian kami. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek memberikan sanksi kepada pelaksana yang belum sepenuhnya menjalankan ketentuan baik ketentuan pengadaan barang dan jasa, maupun ketentuan yang diatur dalam SPK, dan memberikan arahan agar di masa depan selalu berpedoman kepada ketentuan yang berlaku dan menerapkan perjanjian yang disepakati dalam SPK atau kontrak. 13. Pengadaan pekerjaan jasa pemeliharaan server dan database PT Jamsostek sebesar Rp1.955,92 juta belum sepenuhnya mematuhi ketentuan yang berlaku Dalam rangka meningkatkan produktivitas kerja dan mutu pelayanan kepada peserta di seluruh kantor daerah dengan memanfaatkan sistem komputerisasi, PT Jamsostek membutuhkan sistem pemeliharaan peralatan komputer khususnya server secara terpadu. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut telah dilaksanakan pengadaan jasa pemeliharaan server melalui sistem pelelangan terbuka. Berdasarkan proses pelelangan, PT Gagasan Adinusa (PT GA) ditetapkan sebagai pelaksana pemeliharaan server yang dituangkan dalam perjanjian No.PER/100/102004 tanggal 4 Oktober 2004 tentang pekerjaan jasa pemeliharaan komputer server dan database PT Jamsostek. Hasil pemeriksaan atas proses pengadaan jasa pemeliharaan server tersebut menunjukkan hal-hal sebagai berikut : a. Biro Teknologi dan Informasi (BTI) sebagai unit fungsional tidak melakukan kajian secara cermat dan rinci mengenai kebutuhan pemeliharaan server. Dari Kerangka Acuan Teknis dan Evaluasi & Kajian Pekerjaan oleh BTI yang ditandatangani oleh Kepala Urusan Dukungan Teknis (Sdr.HM) diketahui bahwa evaluasi kajian tidak disusun secara cermat, karena tidak secara detil menguraikan kondisi masing-masing server misalnya umur server, kondisi server selama ini dan 120 BPK-RI / AUDITAMA V

hal-hal lain yang dapat mempengaruhi kebutuhan pemeliharaan yang harus dilaksanakan. Lebih lanjut, diketahui bahwa evaluasi & kajian yang disusun oleh BTI diragukan karena tidak menyebut tanggal yang jelas kapan evaluasi tersebut dilaksanakan Selain itu, terdapat server yang diusulkan untuk dilakukan pemeliharaan, akan tetapi, dalam daftar aktiva tetap tidak ada, yaitu server Sun Enterprise 3000 yang berada di Kantor pusat. b. Harga Perkiraan Sendiri (HPS) tidak dibuat secara cermat, sehingga diragukan efektivitas untuk digunakan dalam melakukan penilaian harga penawaran peserta lelang. Dalam rangka pengadaan jasa pemeliharaan server tersebut, pada tanggal 3 September 2004 panitia lelang pengadaan barang dan jasa yang ditunjuk dengan SK Direksi No.KEP/255/122003 tanggal 22 Desember 2003, telah menyusun HPS senilai Rp2.346.216.000,00. Metode penyusunan HPS tersebut dilakukan dengan meminta penawaran harga pemeliharaan server kepada tiga perusahaan yang bukan merupakan peserta lelang, yaitu PT Mitra Jasa Informatika, PT Asaba Computer Server, dan PT Pacific Agung Trijaya. Dalam surat penawaran harga yang diajukan oleh ketiga perusahaan tersebut dinyatakan bahwa harga belum termasuk biaya akomodasi dan transportasi yang timbul akibat kunjungan ke lokasi pemeliharaan server di kantor cabang di luar Jakarta. Kemudian harga yang digunakan untuk HPS adalah yang diajukan oleh PT Asaba Computer Center tanpa mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut : 1) Penawaran dari dua perusahaan lainnya. 2) Biaya akomodasi dan transportasi. 3) Kondisi server masing-masing kantor cabang. 4) Kajian atas pelaksanaan pemeliharaan server tahun sebelumnya. Pemeriksaan lebih lanjut pada Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) dan berita acara penjelasan pekerjaan (aanwijzing) menunjukkan bahwa biaya akomodasi 121 BPK-RI / AUDITAMA V

dan transportasi, serta kondisi server tidak dibahas pada kedua dokumen tersebut. Biaya transportasi merupakan salah satu variable biaya yang cukup material jika melihat lokasi kantor cabang PT Jamsostek di seluruh Indonesia, sedangkan kondisi masing-masing server juga menjadi hal yang penting untuk dipertimbangkan misalnya semakin lama umur server tentunya mengandung risiko yang lebih besar bagi perusahaan untuk melakukan pemeliharaan. Akan tetapi, sebagian besar perusahaan dapat menawarkan harga di bawah HPS meskipun hal-hal tersebut tidak dibahas dan diperhitungkan dalam RKS dan Berita Acara Aanwijzing. Kondisi tersebut terlihat pada harga yang ditawarkan oleh perusahaan peserta lelang dibandingkan dengan HPS yang disusun panitia pengadaan barang/jasa, yaitu sebagai berikut :
No. 1 2 3 4 Nama Perusahaan PT Indah Puspita Sari PT Gagasan Adinusa PT Harrisma Informatika Jaya PT Wolrdwide Duta HPS 2.346.216.000,00 2.346.216.000,00 2.346.216.000,00 2.346.216.000,00 Harga Penawaran 2.174.393.000,00 1.955.922.000,00 2.138.957.964,00 2.644.217.868,00 Selisih lebih/Kurang 171.823.000,00 390.294.000,00 207.258.036,00 (298.001.868,00)

c. Surat dukungan resmi dari pemegang merek (prinsipal) yang dimiliki oleh PT GA sebagai pelaksana pemeliharaan server diragukan keandalannya. Sesuai dengan RKS, salah satu syarat peserta pelelangan adalah memiliki surat dukungan resmi dari pemegang merek. Merek server yang dimiliki oleh PT Jamsostek terdiri dari empat merek yaitu Compaq, HP, Sun dan IBM. Berdasarkan dokumen lelang diketahui bahwa surat dukungan yang dimiliki oleh PT GA adalah surat dari PT Pacific Agung Trijaya (PT PAT), sebagai penjual (reseller) produk HP dan System Integrator untuk produk Sun, No.109.0904/PAT/LE tanggal 3 September 2004. Untuk produk HP, PT PAT hanya sebagai reseller dan hal itupun tidak didukung dengan surat resmi dari prinsipal HP di Indonesia. Sedangkan untuk produk Sun, PT PAT hanya sebagai system integrator meskipun PT PAT memiliki surat dukungan resmi dari PT Sun Microsystem Indonesia (PT SMI) yang merupakan perusahaan pemegang merek Sun di Indonesia. Pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa periode perjanjian antara PT SMI dan PT PAT hanya sampai dengan 31 Desember 2004, sedangkan perjanjian pemeliharaan server antara PT Jamsostek dan PT GA sampai dengan 30 September 2005. 122 BPK-RI / AUDITAMA V

Selanjutnya untuk produk IBM, PT GA tidak memiliki surat dukungan resmi dari prinsipal IBM di Indonesia. Dari kondisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan PT GA untuk melakukan pemeliharaan server di PT Jamsostek diragukan. d. BTI tidak melaksanakan pengawasan secara tertib atas pekerjaan pemeliharaan server. Sesuai dengan pasal 8 perjanjian antara PT Jamsostek dan PT GA, BTI ditugaskan untuk melakukan pengawasan dalam pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan server. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya BTI tidak membuat laporan pengawasan melainkan BTI hanya membuat rekap server kantor wilayah dan kantor cabang yang telah dilakukan pemeliharaan, serta tidak melakukan teguran kepada PT GA yang tidak menyampaikan laporan berkala untuk setiap kegiatan selama masa pemeliharaan. Selain itu, terdapat pemeliharaan rutin pada beberapa kantor cabang yang tidak dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditentukan dalam perjanjian. Dalam melaksanakan pengadaan jasa pemeliharaan server PT Jamsostek seharusnya memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Sesuai Pedoman Pengadaan Barang/Jasa, rencana pengadaan harus disusun dan meliputi jenis, spesifikasi, jumlah dan waktu yang dibutuhkan. b. SK Direksi PT Jamsostek No.KEP/138/072004 tanggal 8 Juli 2004 antara lain menyatakan bahwa panitia pengadaan barang/jasa harus melakukan perhitungan HPS dengan cermat. c. Pada RKS pengadaan jasa pemeliharaan server, yang mengatur bahwa salah satu syarat peserta lelang adalah memiliki surat dukungan resmi dari prinsipal. d. Perjanjian antara PT Jamsostek dan PT GA yang mengatur : 1) Pasal 2, ruang lingkup pekerjaan PT GA antara lain adalah : a) Melakukan pemeliharaan sesuai dengan jadwal yang diperjanjikan b) Membuat laporan untuk setiap kegiatan yang dilaksanakan selama masa pemeliharaan secara berkala. 2) Pasal 8, pengawasan dalam pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan komputer server dan database dilakukan oleh PT Jamsostek.

123

BPK-RI / AUDITAMA V

Kondisi tersebut mengakibatkan pekerjaan pemeliharaan server tersebut diragukan kewajaran harganya. Hal tersebut disebabkan BTI dan Panitia lelang tidak mematuhi ketentuan yang berlaku. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa : a Biro TI tidak melakukan kajian secara cermat Kajian pemeliharaan server memang belum dilakukan secara cermat. Kajian dilakukan berdasarkan pertimbangan hasil pemeliharaan dan perbaikan server dan database tahun-tahun sebelumnya dan memperhatikan masa garansi yang masih berlaku bagi server-server yang baru dibeli. Tetapi upaya ke depan akan dibuat kajian secara cermat dan rinci mengenai kebutuhan pemeliharaan server. Server Sun E3000 dibeli pada tahun 1997, namun peripheral tersebut belum dicatat dalam Aktiva Tetap. Sampai saat ini Server Sun E3000 masih digunakan untuk operasional proses restore data daerah sebelum diolah untuk diproses ke dalam server Sun Fire 4800, data taspen, workfile, untuk itu perlu juga dilakukan pemeliharaan server. Pengawasan atas pekerjaan pemeliharaan server memang belum secara tertib dilakukan oleh Biro TI, tetapi diupayakan di masa akan datang dibuat SOP pengawasan pemeliharaan server dan database. b HPS tidak dibuat secara cermat Dalam HPS yang dibuat oleh Panitia Pengadaan Barang/Jasa belum dicantumkan biaya transportasi dan akomodasi. Hal ini memang merupakan ketidakcermatan Panitia Pengadaan Barang/Jasa dalam menyusunan HPS tersebut. Untuk itu ke depan dalam penyusunan HPS Panitia akan lebih berhati-hati dan lebih teliti. c Surat dukungan resmi dari pemegang merk (prinsipal) Surat dukungan prinsipal PT Sun Microsystem Indonesia kepada PT PAT telah diperbaharui dan berlaku sampai dengan bulan Oktober 2005. d BTI tidak melaksanakan pengawasan secara tertib Pengawasan yang dilakukan atas pemeliharaan server dan database, antara lain : 124 BPK-RI / AUDITAMA V

1) Menerima report dari rekanan secara rutin per triwulan. 2) Mendorong rekanan agar segera melakukan perbaikan berdasarkan laporan dari KC. 3) Memonitor proses perbaikan tersebut melalui telepon. 4) Menerima laporan dan mempelajari hasil perbaikan tersebut. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek memberikan sanksi kepada pelaksana yang belum sepenuhnya menjalankan ketentuan pengadaan barang dan jasa, dan memberikan arahan agar di masa depan selalu berpedoman kepada ketentuan yang berlaku. Selain itu, PT Jamsostek meminta kepada PT GA untuk mendapatkan surat dukungan dari masing-masing prinsipal. 14. Pelaksanaan pengadaan perangkat keras komputer senilai Rp2.831,96 juta oleh CV Fartika Prismatama belum sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan. Dalam rangka memenuhi kebutuhan perangkat keras komputer baik untuk pengadaan baru maupun upgrade atas perangkat yang sudah ada guna menunjang operasional perusahaan pada kantor pusat maupun kantor cabang, PT Jamsostek pada tahun 2004 melakukan pengadaan atas perangkat keras yang dibutuhkan tersebut melalui proses pelelangan. Dari pelelangan diperoleh pemenang CV Fartika Prismatama sebagai pelaksana pengadaan yang diikat dalam Perjanjian No.PER/63/062004 tanggal 15 Juni 2004, dengan nilai sebesar Rp2.831.964.000,00 mengenai pekerjaan pengadaan perangkat keras yang akan dilaksanakan selama 60 hari kerja termasuk pemasangan, serta instalasinya di masing-masing kantor, atau paling lambat tanggal 14 Agustus 2004. Berdasarkan Berita Acara Serah Terima Barang tanpa nomor tanggal 19 Agustus 2004, perangkat keras komputer diterima antara tanggal 24 Juni s.d. 12 Agustus 2004 di Kantor Pusat. Sedangkan dari berita acara mengenai penyerahan barang dan instalasi di KC di daerah diketahui bahwa penyerahan barang dan instalasinya terakhir dilakukan tanggal 24 Agustus 2004. Hasil pemeriksaan lebih lanjut atas proses pelaksanaan pengadaan perangkat keras tersebut menunjukkan hal-hal berikut : 125 BPK-RI / AUDITAMA V server dan database

a. Kajian yang dibuat untuk kebutuhan upgrade belum dapat diyakini. Salah satu perangkat keras yang dibutuhkan adalah berupa internal hard disk, sesuai Memo Biro Teknologi Informasi (BTI) kepada Biro Perlengkapan dan Sarana (BPS) No.M/110/BTI/042004 tanggal 21 April 2004 perihal perubahan pengadaan perangkat keras sebanyak 18 unit dengan spesifikasi 40 GB, yang pada awalnya akan diusulkan sebanyak 54 unit dengan spesifikasi 80 GB. Hal tersebut kemudian dituangkan dalam Rencana Kerja dan Syarat (RKS), yaitu atas internal hard disk dengan spesifikasi 40 GB (7200 rpm) akan diadakan sebanyak 18 unit untuk 18 KC di daerah. Akan tetapi, realisasinya sesuai kontrak adalah internal hard disk dengan spesifikasi 80 GB (7200 rpm). Kemudian berdasarkan laporan pekerjaan pemeliharaan server tahun 2004/2005 oleh PT Gagasan Adinusa sesuai Perjanjian Kerjasama No.PER/100/102004 tanggal 4 Okober 2004, diketahui bahwa terdapat dua KC yaitu KC Banyuwangi dan KC Blitar yang melakukan penambahan storage disk atau sama dengan internal disk dengan kapasitas 40 GB yang tidak teridentifikasi sebelumnya. Berkaitan dengan program pengembangan dan implementasi sistem informasi pada PT Jamsostek yang sedang berlangsung yang merupakan kelanjutan dari proyek konsultasi rancangan pengembangan sistem akuntansi dan keuangan, akan dilaksanakan pekerjaan yang meliputi pembangunan aplikasi, sosialisasi, pembersihan data, pembangunan data center, dan infra struktur pendukung roll out aplikasi untuk semua KC di Indonesia. Dari penjelasan di atas disimpulkan bahwa : 1) Realisasi pengadaan hard disk dengan kapasitas 80 GB tidak sesuai dengan RKS, yaitu dengan kapasitas 40 GB. 2) Tidak diketahui kebutuhan KC yang sesungguhnya, apakah internal hard disk dengan kapasitas 40 GB sesuai RKS atau 80 GB seperti yang diadakan. 3) Terdapat KC lain (di luar usulan) yang membutuhkan, tetapi tidak teridentifikasi/direncanakan. 4) Kajian server dan tape backup dalam rangka pengadaan upgrade server tidak dilakukan secara cermat dan komprehensif, antara lain kajian atas evaluasi 126 BPK-RI / AUDITAMA V

permasalahan di KC dilakukan melalui telepon dan tidak mengaitkan dengan pembangunan aplikasi. 5) Kajian yang dilakukan tidak diketahui kapan dilaksanakan dan ditetapkan serta tidak diotorisasi oleh Kepala BTI sebagai pejabat yang bertanggungjawab atas pelaksanaan pekerjaan di unitnya. Seharusnya barang yang diadakan disesuaikan dengan kebutuhan yang ada melalui evaluasi atau kajian yang dapat dipertanggungjawabkan. b. Pembuatan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) kurang cermat. HPS hard disk yang disusun oleh Panitia Pengadaan Barang dan Jasa berkapasitas 40 GB dengan harga sebesar Rp3.041.425,00/unit, sedangkan realisasinya adalah hard disk berkapasitas 80 GB dengan harga sebesar Rp3.350.000,00/unit. Dengan membandingkan kapasitas dan harga/unit antara HPS dan realisasi dapat disimpulkan bahwa penyusunan HPS terlalu tinggi/kemahalan atau tidak cermat, sehingga HPS tidak dapat digunakan sebagai alat untuk menilai kewajaran harga penawaran termasuk rinciannya. Seharusnya HPS dibuat secara cermat agar dapat dijadikan pedoman dalam menilai kewajaran harga. c. Terdapat perbedaan part number pada notebook evo NX 9010 dengan part number yang diperjanjikan. Salah satu jenis perangkat keras yang diadakan CV Fartika Prismatama sesuai perjanjian adalah berupa 20 unit notebook Compaq evo NX 9010 dengan part number DG897A. Akan tetapi, berdasarkan pemeriksaan fisik pada tanggal 8 Maret 2004, diketahui bahwa terdapat perbedaan antara part number pada fisik notebook dengan part number notebook menurut perjanjian. Seharusnya part number notebook yang diterima sesuai dengan yang ada diperjanjian. Pedoman Pengadaan Barang/Jasa PT Jamsostek mengatur bahwa RKS antara lain memuat tentang syarat-syarat teknis atas barang atau jasa yang akan diadakan, yang disepakati kemudian pada acara penjelasan pekerjaan yang dilaksanakan sebelum penawaran dilakukan, yang dituangkan dalam suatu berita acara. Pada RKS antara lain spesifikasi teknis yang dipersyaratkan antara lain adalah kapasitas internal disk sebesar 40 127 BPK-RI / AUDITAMA V

GB 7200 rpm, sedangkan part number untuk notebook Compaq evo NX 9010 adalah DG897A. Kondisi di atas mengakibatkan pengadaan perangkat keras komputer belum sepenuhnya dapat diyakini kewajarannya. Hal tersebut terjadi karena : a. Kajian yang dilakukan BTI tidak dilaksanakan secara cermat dan komprehensif, serta belum sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan. b. Pelaksanaan pengadaan perangkat keras belum sepenuhnya memenuhi ketentuanketentuan dan syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam RKS dan perjanjian kerjasama. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa di masa yang akan datang kajian dilakukan secara komprehensif dan diketahui oleh Kepala Biro, dan HPS akan dibuat secara lebih cermat sesuai ketentuan yang ada. Sedangkan untuk perbedaan part number atas notebook Compaq evo NX 9010 dengan part number DG897A adalah karena ada penggantian atas notebook yang diadakan dengan spesifikasi yang lebih tinggi. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek memberikan sanksi kepada pelaksana yang belum sepenuhnya menjalankan fungsinya dengan baik, antara lain kepada BTI yang belum cermat dalam melakukan kajian, kajian tidak didukung oleh data-data yang memadai, serta ditetapkan oleh pejabat yang berwenang, dan kepada Panitia pengadaan barang dan jasa yang belum mempedomani ketentuan pengadaan barang dan jasa dalam pembuatan RKS dan HPS. 15. Perencanaan dan evaluasi administrasi atas pengadaan Public Service

Announcement (PSA) PT Jamsostek sebesar Rp1.568,05 juta belum sepenuhnya sesuai ketentuan Kegiatan Biro Humas dialokasikan untuk mendukung intensifikasi dan ekstensifikasi kepesertaan, sehingga terdapat pertumbuhan kepesertaan baru dan pembentukan citra positif perusahaan, serta membangun sistem dokumentasi dan informasi dalam rangka menjadikan Biro Humas PT Jamsostek sebagai pusat layanan informasi dan dokumentasi mengenai program Jamsostek. Strategi komunikasi korporasi 128 BPK-RI / AUDITAMA V

ditujukan untuk membentuk image, mencakup antara lain peningkatan publikasi dan promosi perusahaan, serta sosialisasi program Jamsostek langsung ke sasaran (peserta perusahaan dan tenaga kerja) guna meningkatkan pemahaman tentang hak dan kewajibannya. Berdasarkan pemeriksaan atas kegiatan Biro Humas tahun 2004, diketahui terdapat pengadaan PSA. Kemudian sesuai dengan laporan Kepala Biro Humas kepada Direktur Utama PT Jamsostek melalui surat No.M/292/BHM/052004 tanggal 13 Mei 2004 antara lain diketahui hal-hal berikut : a. Pada bulan Pebruari 2004 telah dikirim masing-masing lima surat kepada perusahaanperusahaan yang memiliki keahlian dalam pembuatan PSA, dan awal April 2004 telah diterima tiga proposal penawaran dari story board PSA. b. Dengan mempertimbangkan terutama proses kreatif yang memadukan unsur pemahaman program dengan visualisasi yang tepat dan menarik, Biro Humas mengajukan desain PSA dari PT Meganet Communications (PT MC) dan PT Mega Utama (PT MU). c. Mengingat sifat pekerjaan kehumasan yang spesifik dan mendesaknya waktu khususnya untuk memanfaatkan momentum pemilihan langsung presiden tanggal 5 Juli 2004 dan sosialisasi Jamsostek, Kepala Biro Humas meminta persetujuan Direktur Utama untuk dapat dilakukan penunjukan langsung karena apabila dilaksanakan melalui lelang, proses administrasinya membutuhkan waktu dua bulan, sehingga akan kehilangan momentum yang baik untuk sosialisasi Jamsostek. Kemudian penilaian konsep ide dilaksanakan oleh Biro Humas dan Biro Perlengkapan dan Sarana (BPS)/Tim Lelang menilai dari sisi kelayakan harga dan kelengkapan administrasi. Direktur Utama kemudian memberikan disposisi kepada Biro Humas tanggal 19 Mei 2004 yang pada prinsipnya setuju dengan penunjukan langsung. Berdasarkan disposisi Direktur Utama tersebut kemudian Kepala Biro Humas melalui Memo No.M/307/BHM/052004 tanggal 21 Mei 2004 meminta kepada BPS untuk menilai kelayakan harga dan kelengkapan administrasi untuk pengadaan PSA oleh PT MC dan PT MU. 129 BPK-RI / AUDITAMA V

Selanjutnya dibuat Surat Perintah Kerja kepada PT MU dan MC masing-masing dengan No.SPK/81/052004 tanggal 28 Mei 2004 dan No.SPK/82/052004 tanggal 31 Mei 2004 dengan pekerjaaan dan nilainya yaitu : a. PT MU, dengan spesifikasi PSA tentang Jaminan Hari Tua dan Testimony, dengan harga pekerjaan sebesar Rp740.960.000,00. b. PT MC, dengan spesifikasi PSA tentang Pemilihan Presiden Langsung dan TV Corporate Family/Kepastian Harapan, dengan harga pekerjaan sebesar Rp827.090.000,00. Berdasarkan Berita Acara Serah Terima Pekerjaan tanggal 17 Juni dan 11 Juni 2004, diketahui PT MC dan PT MU telah menyelesaikan pekerjaannya dan menyerahkan hasilnya kepada PT Jamsostek. Hasil pemeriksaan selanjutnya atas proses pelaksanaan pengadaan PSA tersebut menunjukkan beberapa hal sebagai berikut : a. Penunjukan langsung tidak sesuai dengan ketentuan. Dalam Memo Kepala Biro Humas No.M/292/BHM/052004 tanggal 13 Mei 2004, antara lain disebutkan alasan pertimbangan penunjukan langsung, yaitu pekerjaan Biro Humas yang spesifik dan waktu mendesak dikaitkan dengan Pemilu 5 Juli 2004. Berkaitan dengan pertimbangan tersebut dinilai : 1) Pekerjaan pembuatan PSA oleh Biro Humas tidak memenuhi kriteria sebagai pekerjaan spesifik, karena : a) Pekerjaan dapat dilakukan bukan hanya oleh PT MC dan PT MU. b) Rekanan yang ditunjuk bukan merupakan penyedia jasa tunggal, dapat diketahui bahwa untuk pekerjaan pembuatan PSA dilakukan oleh dua rekanan. c) PT MC dan PT MU bukan merupakan pihak yang mendapatkan hak paten atau ijin atas pekerjaan pembuatan PSA. 2) Alasan waktu mendesak dan memanfaatkan momentum pemilu untuk menunjuk langsung tidak sepenuhnya tepat, karena : a) Berdasarkan RKAP tahun 2004 yang telah disetujui RUPS tanggal 15 Januari 2004, untuk publikasi program Jamsostek dan korporasi di media cetak dan elektronik telah direncanakan pada program kerja tahun 2004. 130 BPK-RI / AUDITAMA V

b) Berdasarkan pekerjaan empat PSA yang dibuat, yang berkaitan dengan pemilu hanya satu PSA. c) Pekerjaaan pembuatan PSA dibahas pada tahap perencanaan secara bersamaan dengan penerbitan majalah. Berdasarkan data yang ada, perencanaan untuk pembuatan PSA telah dilaksanakan sejak bulan Januari tahun 2004. b. PT MC dan PT MU sesuai ketentuan tidak dapat ditunjuk sebagai pelaksana. Dari dokumen administrasi PT MC dan PT MU, diketahui sebagai berikut : 1) PT MC a) Berdasarkan sertifikasi dari panitia sertifikasi propinsi, PT MC mempunyai kualifikasi K1, seharusnya berdasarkan ketentuan pengadaan barang dan jasa dengan nilai pekerjaan Rp824.090.000,00 dikerjakan oleh rekanan dengan kualifikasi M. b) Surat keterangan domisili perusahaan yang disertakan dalam dokumen administrasi telah habis masa berlakunya sampai dengan 7 Juni 2002. c) Tidak memiliki Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP). d) Tidak memiliki pengalaman kerja yang ditunjukkan dengan perjanjian kerjasama dengan pihak lain sebelumnya. 2) PT MU Tidak menyertakan dokumen sertifikasi badan usaha dalam dokumen administrasi, dan tidak memiliki SIUP. Dengan demikian, PT MC dan PT MU tidak didukung dengan dokumen administrasi yang dipersyaratkan dalam pedoman pengadaan barang dan jasa PT Jamsostek. Selain itu PT MC tidak termasuk dalam Daftar Rekanan Jamsostek (DRJ), sehingga seharusnya PT MC dan PT MU tidak dapat ditunjuk sebagai pelaksana pengadaan pembuatan PSA. c. Tidak ada jaminan pelaksanaan Dalam SPK No.SPK/81/052004 dan No.SPK/82/052004 tanggal 28 dan 31 Mei 2004 tidak dipersyaratkan jaminan pelaksanaan. Hal tersebut tidak sesuai dengan SK Direksi No.KEP/80/062001 tanggal 29 Juni 2001 tentang pedoman pengadaan barang dan jasa, yang antara lain mengatur bahwa untuk pengadaan barang dan jasa dengan 131 BPK-RI / AUDITAMA V

nilai di atas Rp100.000.000,00, pelaksana pekerjaan sebelum menandatangani surat perjanjian diwajibkan memberi jaminan pelaksanaan sebesar 5% dari nilai pekerjaan. Kondisi di atas mengakibatkan pengadaan PSA PT Jamsostek sebesar Rp1.568.050.000,00 diragukan kewajarannya. Hal tersebut terjadi karena : a. Pengadaan tidak direncanakan dengan baik atau tidak memperhitungkan waktu pelaksanaan. b. Evaluasi administrasi tidak dilakukan dengan cermat dan tidak mempedomani ketentuan pengadaan barang dan jasa yang berlaku. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa proses pengadaan PSA memang terkesan mendadak, hal tersebut disebabkan timbulnya wacana untuk menayangkan PSA menjelang Pemilu 2004 ketika rapat pembahasan dengan manajemen tanggal 12 Mei 2004. Dengan menayangkan PSA dalam situasi menjelang Pemilu, maka kita dapat memanfaatkan momentum besar tersebut untuk menarik perhatian masyarakat. PSA dibuat bersamaan karena adanya kaitan satu dengan lainnya dan pertimbangan biaya yang lebih murah bila dibandingkan dengan pembuatan secara terpisah. Hal lain yang menyebabkan bergesernya waktu pengadaan adalah karena adanya perubahan organisasi dan SDM di Biro Humas, sehingga beberapa rencana pekerjaan mengalami penyesuaian waktu atau penundaan dalam pelaksanaannya termasuk pembuatan PSA yang memerlukan waktu cukup panjang karena terkait dengan ide/konsep yang harus sesuai dengan falsafah Jamsostek, kondisi maupun strategi komunikasi yang diterapkan. Dalam pelaksanaan program ini telah dimintakan persetujuan tertulis dari Direksi untuk menunjuk pemenang beauty contest sebagai pelaksana pekerjaan dimaksud. Ke depan akan lebih cermat dan berhati-hati dalam proses seleksi administrasi rekanan, selain itu atas semua pengadaan barang dan jasa yang nilainya di atas Rp100 juta akan dikenakan jaminan pelaksanaan. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek : 132 BPK-RI / AUDITAMA V

a. Memberikan sanksi kepada pelaksana yang terkait dengan pekerjaan tersebut, dan di masa yang akan datang pelaksanaan pengadaan senantiasa berpedoman pada ketentuan yang berlaku, yang dimulai dengan perencanaan, pelaksanaan pengadaan dan penerimaan barang/jasa. b. Penunjukan langsung yang dilaksanakan harus memenuhi kriteria yang telah ditetapkan pada pedoman pengadaan barang dan jasa PT Jamsostek. 16. Sewa gedung KC Belawan sebesar Rp582,00 juta belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan Sehubungan dengan kondisi gedung KC Belawan yang selama ini digunakan sudah tidak memadai dalam rangka pelayanan peserta dan masa sewa berakhir pada tanggal 17 Mei 2004, maka KC Belawan menyewa gedung kantor baru di Jl K.L Yos Sudarso (Gedung Pinus). Usulan sewa gedung kantor tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) I dan telah mendapat persetujuan Direktur Umum dan SDM melalui surat Nomor.B/3486/042004 tanggal 20 April 2004. Perjanjian sewa menyewa ditandatangani antara pemilik gedung (Drs. JY) sebagai pihak I dengan Kepala KC Belawan yang mewakili Kakanwil I sebagai pihak II. Dalam perjanjian sewa menyewa sesuai Akta Notaris Sartono Simbolon, S.H. No.24 tanggal 14 Mei 2004 antara lain diatur : a. Perjanjian sewa dilaksanakan selama tiga tahun, yaitu sejak tanggal 17 Mei 2004 s.d. 17 Mei 2007 atas ruangan seluas 388 M2. b. Harga sewa untuk jangka waktu tiga tahun adalah sebesar Rp582.000.000,00. c. Uang sewa tahun pertama adalah sebesar Rp194.000.000,00 atau sama dengan USD22,558.00. Sedangkan untuk sewa tahun kedua dan ketiga sebesar Rp388.000.000,00 atau sebesar USD45,116.00 yang akan dibayar oleh PT Jamsostek dalam bentuk dolar. Berdasarkan pemeriksaan atas dokumen penyewaan gedung tersebut, diketahui hal-hal sebagai berikut : a. Harga sewa tidak dapat diyakini kewajarannya.

133

BPK-RI / AUDITAMA V

Berdasarkan dokumen yang ada diketahui bahwa KC Belawan tidak melakukan perbandingan atas gedung yang akan disewa. KC Belawan langsung memilih Gedung Pinus di Jl. KL. Yos Sudarso untuk gedung yang akan disewa tanpa melakukan survey atau perbandingan dengan gedung lainnya. Hal tersebut tidak sesuai dengan Pedoman Barang/Jasa PT Jamsostek yang antara lain menetapkan bahwa dalam pengadaan barang atau jasa diatas Rp100.000.000,00 dilakukan dengan pembanding, sehingga kualitas dan harga yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, pengadaan sewa gedung KC Belawan yang dilakukan tanpa pembanding belum dapat diyakini kewajarannya. b. Gedung yang disewa sedang dijaminkan oleh pemilik kepada Bank BNI, sehingga akan dapat mengganggu operasional KC Belawan. Berdasarkan surat Bank BNI Kantor Wilayah 01 Medan No.W01/3.1/2257 R tanggal 14 Mei 2004 kepada pemilik gedung yang merupakan jawaban atas surat permohonan ijin oleh pemilik gedung untuk menyewakan gedung Pinus diketahui bahwa pihak Bank BNI setuju/mengijinkan Gedung Pinus, untuk disewakan dengan syarat antara lain sebagai berikut : 1) Pada perjanjian sewa menyewa harus dicantumkan klausul apabila jaminan tersebut sewaktu-waktu diperlukan oleh pihak Bank BNI, maka PT Jamsostek bersedia mengosongkan/memindahkan barang-barang tanpa merusak bangunan yang ada dan tanpa syarat. 2) Pihak penyewa atau PT Jamsostek bersedia untuk memenuhi ketentuan apabila dikehendaki untuk menghentikan sewa. Atas syarat-syarat yang diminta oleh pihak Bank BNI tersebut di atas, kemudian dimasukkan dalam pasal 14 perjanjian sewa menyewa Akta No.24 tanggal 14 Mei 2004. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan operasional PT Jamsostek akan terganggu bila sewaktu-waktu gedung tersebut harus dikosongkan. c. Pembayaran sewa untuk tahun kedua dan ketiga tidak memiliki kepastian dalam harga sewa

134

BPK-RI / AUDITAMA V

Berdasarkan perjanjian sewa menyewa tersebut di atas diketahui antara lain bahwa untuk sewa tahun kedua dan ketiga sebesar Rp388.000.000,00 atau sebesar USD45,116.00 yang akan dibayar oleh PT Jamsostek dalam bentuk dolar sebagai berikut : 1) Sebesar USD22,558.00 selambat-lambatnya pada tanggal 17 Mei 2005; 2) Sebesar USD22,558.00 selambat-lambatnya pada tanggal 17 Mei 2006. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Pedoman Pengadaan Barang/Jasa PT Jamsostek antara lain mengatur bahwa untuk mendapatkan kepastian dalam nilai perjanjian pengadaan barang/jasa harus menggunakan mata uang rupiah yang dicantumkan dalam perjanjian. Hal tersebut mengakibatkan : a. Pengadaan sewa gedung belum dapat sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan baik kualitas maupun harganya. b. Kegiatan operasional PT Jamsostek berisiko untuk terganggu, apabila sewaktu waktu pihak Bank BNI meminta pengosongan gedung. c. Pembayaran sewa untuk tahun kedua dan ketiga belum diketahui jumlah pastinya dalam rupiah. Kondisi di atas disebabkan : a. Kepala KC Belawan tidak melakukan analisa perbandingan harga sewa dengan gedung lainnya, tidak melakukan kajian atas dokumen bukti kepemilikan gedung yang akan disewa. b. Kepala Kantor Wilayah I dan Biro Perlengkapan Sarana Kantor Pusat serta Direktur Umum dan SDM tidak meneliti secara cermat usulan sewa gedung dari KC Belawan. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa : a. Proses pengadaan sewa gedung Kantor Cabang Belawan memang tidak ada pembandingnya karena di wilayah operasional Kantor Cabang Belawan tidak terdapat bangunan yang layak dan strategis untuk gedung perkantoran, kecuali hanya gedung yang saat ini ditempati/disewa.

135

BPK-RI / AUDITAMA V

b. Dalam perjanjian sewa gedung Kantor Cabang Belawan memang terdapat kekeliruan dalam menetapkan pembayaran sewa tahap ke 2 dan ke 3 menggunakan mata uang Dolar Amerika Serikat (bukan dalam rupiah). Atas kekeliruan tersebut, Direksi akan melakukan teguran kepada Kepala Kantor Cabang Belawan. c. Kepala Kantor Cabang Belawan (B/235/022003) telah mengusulkan kepada pemilik gedung agar pembayaran uang sewa diubah menjadi mata uang rupiah, tetapi pemilik gedung tidak bersedia karena alasan situasi ekonomi yang fluktuatif dan pembayaran kontrak tetap dalam dolar. d. Pemilik menjamin melalui surat No.080/2005 tgl 7 Maret 2005 bilamana bangunan yang dijaminkan tersebut diperlukan oleh pihak Bank BNI, maka pemilik bersedia membayar kompensasi kerugian kepada PT Jamsostek sebesar 25% dari uang sisa sewa yang belum dinikmati oleh PT Jamsostek. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek : a. Memberikan sanksi kepada pelaksana yang terkait dengan sewa gedung Kantor Cabang Belawan karena tidak meneliti secara cermat usulan dan pengadaan sewa gedung tersebut; b. Di masa yang akan datang dalam pengadaan tanah dan bangunan selalu berpedoman kepada ketentuan yang berlaku, seperti melakukan analisa pembanding harga; c. Melakukan kajian atas dokumen bukti kepemilikan gedung yang akan disewa; dan d. Segera membuat pedoman pengadaan barang dan jasa yang diadakan melalui sewa. 17. Pengadaan kalender dan agenda sebesar Rp943,25 juta belum sepenuhnya sesuai ketentuan yang berlaku Sebagai sarana komunikasi dan meningkatkan hubungan kemitraan antara PT Jamsostek dengan para mitra kerjanya , setiap tahun PT Jamsostek membuat kalender dan agenda yang akan didistribusikan kepada para mitra kerja termasuk untuk kalangan pejabat di PT Jamsostek. Pada tahun 2004 telah dilakukan pengadaan kalender dan agenda tahun 2005 sesuai Perjanjian No.PER/109/11204 tanggal 22 November 2004 dengan CV Liras Perkasa sebesar Rp943.250.000,00.

136

BPK-RI / AUDITAMA V

Sebelum pencetakan agenda terlebih dahulu dibuat desain atas kalender dan agenda yang dilaksanakan oleh PT Meganet Dutatama Unggul sesuai Surat Perintah Kerja No.SPK/146/092004 tanggal 15 September 2004 dengan nilai pekerjaan sebesar Rp87.340.000,00. Pada tanggal 11 Oktober 2004 desain tersebut telah diserahkan PT Jamsostek, berupa film separasi dan proof dari kalender dinding, kalender meja, agenda besar dan agenda kecil. Berdasarkan pemeriksaan atas pekerjaan pengadaan kalender dan agenda tersebut di atas dapat diungkapkan hal-hal sebagai berikut : a. Hasil cetak tidak sepenuhnya sesuai dengan desain, yaitu : 1) Ukuran kalender hasil cetak sebesar 59x40 cm lebih kecil dibandingkan ukuran desain dan menurut RKS yaitu 60x40 cm. 2) Berdasarkan desain, bahan yang digunakan untuk isi agenda besar dan agenda kecil HVS 100 gram, sedangkan realisasinya dan pada RKS berubah menjadi HVS 80 gram. 3) Menurut desain, pada agenda kecil spesifikasi teknis salah satunya adalah buku dilubangi, tetapi realisasinya dan di RKS buku dijahit dan dilem. Seharusnya RKS dan realisasi cetak berpedoman kepada desain yang telah ditetapkan, seandainya terdapat perubahan, maka ada pihak yang menyetujui perubahan tersebut. b. HPS belum dibuat secara cermat. Terdapat perhitungan-perhitungan yang dilakukan belum cermat, antara lain : 1) Pada kalender dinding Pada item biaya box packing
Menurut HPS (50.000 x Rp1.000,00)/40 =Rp3.500.000,00 Seharusnya (50.000 x Rp1.000,00)/40 =Rp1.250.000,00

2) Pada kalender meja a) Pada perhitungan biaya bahan, disebutkan bahwa satu lembar kertas ukuran plano 65x100 cm dapat dibuat 21 lembar untuk halaman kalender dengan ukuran 21x13 cm. Seharusnya untuk satu lembar kertas ukuran plano 65x100 cm dapat dibuat 23 lembar untuk halaman kalender dengan ukuran 21x13 cm. 137 BPK-RI / AUDITAMA V

b) Pada perhitungan biaya cetak, yaitu cetak front cover, halaman isi dan back cover/alamat untuk satu eksemplar kalender dihitung :
Menurut HPS 16x4xRp150,00=Rp9.600,00 Seharusnya 14x4xRp150,00=Rp7.800,00

Berdasarkan RKS kalender meja diketahui bahwa jumlah halaman yang dicetak ada 14 halaman bukan 16 halaman. Sedangkan hasil cetakan kalender meja sebanyak 13 halaman. c) Biaya packing Rp1000.000,00 untuk 15.000 eksemplar, jumlah tersebut tidak ada perhitungannya. 3) Pada agenda besar a) Pada perhitungan biaya bahan box Bahan yang digunakan adalah kertas dupleks 400 gram, dengan satu lembar plano ukuran 65x100 cm, digunakan untuk satu box, seharusnya dapat digunakan untuk dua box. b) Perhitungan biaya cetak Pada cetakan corporate display untuk satu eksemplar agenda besar dihitung : Menurut HPS 4x2x4xRp150,00=Rp4.800,00 Seharusnya 4x4xRp150,00=Rp2.400,00

Berdasarkan hasil cetakan diketahui bahwa corporate display yang dicetak adalah empat halaman, bukan empat halaman bolak-balik. Menurut RKS bahwa untuk cetakan corporate display adalah empat halaman. 4) Pada agenda kecil Pada perhitungan biaya bahan box untuk satu eksemplar box diketahui terdapat kesalahan perhitungan sebagai berikut : Menurut HPS 1xRp571.100x105 = Rp120,00 500x2x4 Seharusnya 1xRp571.100x105 = Rp149,92 500x2x4

5) Pada pembuatan HPS terdapat tambahan biaya sebesar 0,05% dari yang seharusnya pada perhitungan biaya bahan (bahan x harga x 105%). Seharusnya

138

BPK-RI / AUDITAMA V

berdasarkan ketentuan yang ada, HPS tidak boleh memperhitungkan biaya tak terduga, biaya lain-lain dan biaya pajak penghasilan barang/jasa. Seharusnya berdasarkan pedoman pengadaan barang/jasa sesuai keputusan Direksi No.KEP/138/072004 tangal 8 Juli 2004 mengenai HPS antara lain dijelaskan : a. HPS digunakan sebagai alat untuk menilai kewajaran harga penawaran termasuk rinciannya. b. HPS merupakan salah satu acuan dalam evaluasi penawaran. c. Perhitungan HPS harus dilakukan dengan cermat, dengan menggunakan data dasar dan mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat dipertimbangkan. Hal tersebut mengakibatkan pengadaan kalender dan agenda belum sepenuhnya dapat diyakini kewajarannya. Kondisi tersebut terjadi karena Panitia Pengadaan Barang dan Jasa tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa Biro Humas bertugas memilih disain yang kemudian di-proof dan diserahkan kepada BPS beserta spesifikasinya. Hasil cetak telah sesuai dengan disain yang diajukan, namun terdapat sedikit perbedaan dalam realisasinya, khususnya yang menyangkut spesifikasi teknis. Selanjutnya dalam pembuatan HPS terjadi kekurangcermatan oleh Panitia, namun hal tersebut pada prinsipnya bukan karena kesengajaan. Di masa yang akan datang dalam pembuatan HPS akan dilakukan lebih berhati-hati dan lebih cermat sesuai ketentuan yang ada. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek memberikan sanksi kepada panitia pengadaan barang dan jasa yang tidak membuat HPS secara cermat dan di masa yang akan datang dalam pembuatan HPS selalu berpedoman pada ketentuan pengadaan barang dan jasa.

139

BPK-RI / AUDITAMA V

18. Pengadaan dan pendistribusian majalah Jamsostek dengan nilai masing-masing sebesar Rp2.211,00 juta dan Rp1.225,54 juta belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan Sehubungan dengan program kerja Biro Humas tahun 2004 yang akan menerbitkan kembali majalah Jamsostek, Kepala Biro Humas melalui surat No.B/4515/052004 tanggal 21 Mei 2004 kepada seluruh Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) dan Kepala Kantor Cabang (Kakacab) meminta bantuan untuk memberikan data perusahaan-perusahaan aktif dan instansi/asosiasi terkait di wilayahnya masingmasing dengan batas waktu penyampaian selambat-lambatnya tanggal 11 Juni 2004 yang dipertegas kembali dengan surat No.B/4833/052004 tanggal 31 Mei 2004. Kemudian Kepala Biro Humas melalui surat No.M/292/BHM/052004 tanggal 13 Mei 2004 melaporkan kepada Direktur Utama sebagai berikut : a. Pada bulan Pebruari telah dikirim masing-masing lima surat kepada perusahaanperusahaan yang memiliki keahlian dalam pembuatan Public Service Announcement (PSA) dan penerbitan majalah. b. Awal April 2004 telah diterima tiga proposal penawaran dan lay out design majalah. c. Dengan mempertimbangkan terutama menyangkut proses kreatif yang memadukan unsur pemahaman program dengan visualisasi yang tepat dan menarik, Biro Humas mengajukan desain majalah dari PT Arthaka Tirtanugraha (PT AT). d. Mengingat sifat pekerjaan kehumasan yang spesifik dan mendesaknya waktu khususnya untuk memanfaatkan momentum pemilihan langsung presiden yang berlangsung 5 Juli 2004 dan sosialisasi Jamsostek, Kepala Biro Humas meminta persetujuan Direktur Utama untuk dapat dilakukan penunjukan langsung atas pekerjaan-pekerjaan dimaksud di atas dengan pertimbangan : 1) Apabila pekerjaan dilaksanakan melalui proses lelang untuk proses administrasinya membutuhkan waktu dua bulan, sehingga akan kehilangan momentum yang baik untuk sosialisasi Jamsostek. 2) Penilaian konsep ide dilaksanakan oleh Biro Humas dan Biro Perlengkapan dan Sarana (BPS)/Tim Lelang menilai dari sisi kelayakan harga dan kelengkapan administrasi. 140 BPK-RI / AUDITAMA V

Direktur Utama kemudian memberikan disposisi kepada Biro Humas tanggal 19 Mei 2004 yang pada prinsipnya setuju dengan penunjukan langsung karena alasan urgensi dan time schedule mendesak, serta supaya memprioritaskan dengan urutan PSA, majalah, dan publikasi digital. Atas disposisi Direktur Utama tersebut, kemudian Kepala Biro Humas membuat memo kepada BPS dengan No.M/308/BHM/052004 tanggal 21 Mei 2004 untuk menilai kelayakan harga dan kelengkapan administrasi untuk pengadaan majalah atas penawaran dari PT AT. Selanjutnya, pada tanggal 9 Juni 2004 dibuat Perjanjian Kerjasama No.PER/61/ 062004 dengan PT AT tentang penerbitan majalah Jamsostek sebesar Rp615.000.000,00 (75.000 eksemplar x Rp8.200,00) belum termasuk pajak dan ongkos kirim, untuk setiap kali penerbitan. Kemudian karena adanya penambahan jumlah eksemplar yang akan diterbitkan, dibuat Addendum Perjanjian No.PER/105/102004 tanggal 25 Oktober 2004 dengan perubahan biaya pekerjaan sebesar Rp780.000.000,00 (100.000 eksemplar x Rp7.800,00) untuk satu kali penerbitan. Untuk tahun 2004 telah diterbitkan tiga edisi, dengan biaya cetak sebagai berikut : a. Edisi b. Edisi c. Edisi I II III sebesar sebesar sebesar Rp676.500.000,00, Rp676.500.000,00, Rp858.000.000,00, ditambah ditambah ditambah biaya biaya biaya distribusi distribusi distribusi sebesar sebesar sebesar Rp393.184.000,00, untuk bulan Juli-Agustus 2004. Rp393.184.000,00, untuk bulan September-Oktober 2004. Rp439.175.907,00, untuk bulan November-Desember 2004. Berdasarkan pemeriksaan atas proses pengadaan jasa penerbitan majalah Jamsostek tersebut, diketahui hal-hal sebagai berikut : a. Proses perencanaan tidak dilakukan dengan cermat. Berdasarkan perjanjian setiap kali penerbitan adalah sebanyak 75.000 eksemplar, yang akan didistribusikan kepada perusahaan-perusahaan peserta Jamsostek yang masih aktif, KC/Kanwil dan Kantor Pusat PT Jamsostek, serta instansi/asosiasi terkait dengan PT Jamsostek.

141

BPK-RI / AUDITAMA V

Dari nota dinas/pengantar intern tanggal 30 Juli 2004 dari Urusan Promosi dan Publikasi kepada Kepala Biro Humas, diketahui distribusi sebanyak 75.000 eksemplar dengan rincian sebagai berikut : 1) Kantor Pusat sebanyak 1.280 eksemplar. 2) Kanwil/Kacab sebanyak 10.022 eksemplar. 3) Perusahaan peserta sebanyak 63.598 eksemplar. 4) Cadangan sebanyak 100 eksemplar. Mengenai data perusahaan-perusahaan aktif yang dikirim oleh Kanwil dan KC terdapat nama dan alamat perusahaan yang di dalamnya termasuk perusahaan non-aktif. Data tersebut tidak diuji kembali oleh Biro Humas, sehingga kebenaran jumlah majalah yang seharusnya dicetak dan didistribusikan belum sepenuhnya dapat diyakini. Seharusnya Biro Humas mengacu pada RKAP dalam menyusun rencana pengadaan yang meliputi jenis, spesifikasi, jumlah dan waktu barang yang dibutuhkan secara cermat agar dapat dipertanggungjawabkan. b. Proses evaluasi administrasi oleh BPS dhi. Panitia Pengadaan tidak dilakukan dengan cermat. Berdasarkan pemeriksaan atas kelengkapan administrasi dari PT AT yang evaluasinya dilakukan oleh BPS, diketahui hal-hal berikut : 1) Surat keterangan domisili perusahaan No.66/1.824/2003 tanggal 24 Maret 2003 telah habis masa berlakunya sampai dengan tanggal 24 Maret 2004. Seharusnya berdasarkan ketentuan pedoman pengadaan barang/jasa, dokumen administratif masanya harus masih berlaku. 2) Sertifikasi untuk sub-bidang jasa kreatif periklanan dan penerbitan dikeluarkan oleh Panitia Bersama Sertifikasi Propinsi DKI Jakarta tanggal 15 Juni 2004 setelah adanya perjanjian kerjasama tanggal 9 Juni 2004, sedangkan sertifikasi yang dimasukkan pada dokumen administrasi adalah sertifikasi yang tidak mempunyai sub-bidang jasa kreatif periklanan dan penerbitan. 3) PT AT sesuai akte pendiriannya berdiri sejak tanggal 3 Maret 2003 dan mendapat pengesahan dari Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia tanggal 17 April 142 BPK-RI / AUDITAMA V

2003. Kemudian sertifikasi untuk sub-bidang jasa kreatif periklanan dan penerbitan baru diperoleh tanggal 15 Juni 2004. Dengan demikian, PT AT merupakan perusahaan yang baru berdiri selama satu tahun hingga perjanjian tanggal 9 Juni 2004 dan belum berpengalaman di bidangnya. Dapat dibuktikan dari tidak adanya bukti kontrak atau perjanjian kerjasama yang disertai dalam dokumen administrasinya. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan pedoman pengadaan barang/jasa PT Jamsostek sesuai SK Direksi No.KEP/80/062001 tanggal 29 Juni 2001, seharusnya BPS melaksanakan tugasnya dengan baik, antara lain dengan melakukan evaluasi atas administrasi secara cermat. c. Pengadaan majalah belum sepenuhnya dapat didistribusikan dengan baik 1) Berdasarkan Perjanjian Kerjasama, PT AT selain menerbitkan majalah juga berkewajiban mendistribusikan majalah tersebut. Akan tetapi, berkaitan dengan hal tersebut, PT AT tidak mempunyai usaha di bidang jasa pengiriman barang atau mempunyai pengalaman dalam bidang distribusi barang, sehingga dalam pelaksanaannya PT AT menyerahkan kepada perusahaan lain. 2) KC tidak mengetahui secara pasti berapa jumlah majalah yang dikirim, karena KC tidak mempunyai copy tanda terima majalah tersebut. Seharusnya tanda terima tersebut dapat dijadikan salah satu alat pengendalian atas barang yang diterima yang dilaporkan oleh PT AT pada saat penagihan pembayaran distribusi majalah. 3) Pada KC Karimunjawa dan beberapa cabang yang dicek mengenai penerimaan dan pengiriman majalah, diketahui terdapat : a) Perusahaan peserta yang tidak menerima ketiga edisi majalah yang telah dikirimkan tersebut, seperti PT Sampurna Printpack, PT Lion Superindo, dan PT Perwita Nusaraya. Namun, berdasarkan penjelasan dari Biro Humas yang merupakan hasil konfirmasi kepada PT AT bahwa untuk PT Sampurna Printpack dan PT Perwita Nusaraya PT Perwita Nusaraya, tidak ada dalam daftar perusahaan yang dikirim.

143

BPK-RI / AUDITAMA V

b) Perusahaan peserta yang menerima salah satu dari ketiga edisi tersebut seperti PT Lestari Karya Makmur dan PT Merpati Wahana Taksi. Namun, berdasarkan penjelasan dari Biro Humas berdasarkan hasil konfirmasi kepada PT AT yang bersumber pada bukti pengiriman diketahui untuk kedua perusahaan di atas telah menerima ketiga edisi majalah yang diterbitkan. c) Majalah yang dikirimkan kepada perusahaan peserta melalui pos yang dimasukkan ke kotak pos KC di daerah, karena perusahaan yang dituju tidak ditemukan. 4) Berdasarkan data rencana distribusi diketahui terdapat perusahaan yang tidak beroperasi lagi seperti Bank Harapan Sentosa (BHS) dan BDNI yang dimasukkan dalam perusahaan peserta yang dikirim majalah. Seharusnya pengadaan dilakukan dengan perencanaan yang baik dan cermat disertai dengan penentuan pola distribusi yang baik, sehingga dapat dipakai sebagai alat kontrol atau pengendalian atas pelaksanaan pengadaan dan distribusinya. Kondisi diatas mengakibatkan proses pengadaan dan distribusi majalah Jamsostek diragukan kewajarannya. Hal tersebut terjadi karena : a. Pihak-pihak yang terkait dalam pengadaaan dan pendistribusian majalah Jamsostek belum sepenuhnya melaksanakan tugasnya dengan cermat . b. Tidak pernah dilakukan evaluasi atas kendala-kendala yang terjadi dalam pelaksanaan di lapangan pada edisi sebelumnya untuk dijadikan perbaikan pada pelaksanaan edisi yang berikutnya. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa penerbitan majalah Jamsostek sebagai sarana sosialisasi, promosi dan publikasi, merupakan salah satu program kerja Biro Humas yang tertuang dalam RKAP 2004. Dalam pelaksanaannya telah diupayakan melalui tahapan proses dengan mengedepankan unsur efisiensi dan efektivitas, khususnya berkaitan dengan percepatan pada proses pengadaannya. Namun demikian, oleh karena pekerjaan penerbitan majalah Jamsostek ini yang telah 7 tahun tidak bisa terbit dan merupakan hal dan pengalaman baru, khususnya bagi jajaran Biro Humas dengan 144 BPK-RI / AUDITAMA V

organisasi dan SDM yang juga relatif baru, maka kami memahami jika dalam pengelolaan majalah baru ini masih terdapat kelemahan dalam pelaksanaan dan evaluasinya. Percepatan proses disebabkan upaya untuk memanfaatkan momentum pemilu, sehingga target sosialisasi, promosi dan publikasi menjadi lebih optimal, dimana menjelang pemilu tersebut Direksi mengeluarkan kebijakan untuk memberikan perlindungan bagi pencoblos peserta Jamsostek ketika menggunakan hak pilih mereka. Kebijakan inilah yang dijadikan topik utama pada majalah Jamsostek Edisi 1. Selanjutnya agar penerbitan majalah Jamsostek tersebut lebih efektif, telah dilakukan upaya-upaya perbaikan khususnya untuk proses distribusi, antara-lain : a. Pembuatan surat penegasan kepada perusahaan distribusi untuk lebih akurat dalam pengirimannya, yaitu dengan mencantumkan Manajer Personalia Perusahaan sebagai alamat penerima dan meminta nama, tanda-tangan & nomor telepon penerima majalah tersebut, agar lebih tepat sasaran dan mudah dikonfirmasi. b. Pembuatan surat ke kantor cabang/wilayah untuk meng-update data perusahaan yang akan dikirimi majalah agar majalah sampai kepada perusahaan aktif yang direkomendasi oleh kantor cabang/wilayah. c. Pembuatan memo ke Biro TI dan Divisi Operasi untuk minta data perusahaan yang up to date sebagai data pembanding dengan data dari kacab/kanwil. d. Membuat analisa terhadap data yang dikirimkan oleh kacab/kanwil. e. Menunda sementara penerbitan majalah sampai data selesai di-up date/konfirmasi f. Pengaturan rencana distribusi melalui Biro Sekretariat Perusahaan Ke depan seleksi administrasi akan dilakukan lebih cermat dan atas distribusi majalah tersebut akan dilakukan melalui Biro Sekretariat Perusahaan. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek : a. Memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang terkait dengan pengadaan dan pendistribusian majalah Jamsostek karena tidak menjalankan fungsinya dengan baik; b. Meminta pertanggungjawaban atas pelaksanaan penerbitan majalah yang sudah dilaksanakan;

145

BPK-RI / AUDITAMA V

c. Pada masa yang akan datang melakukan pemisahaan rekanan yang ditunjuk sebagai pelaksana pengadaan majalah, dan rekanan yang akan mendistribusikan majalah tersebut; d. Dan dalam penunjukan langsung yang dilaksanakan harus senantiasa memenuhi kriteria yang telah ditetapkan pada pedoman pengadaan barang/jasa PT Jamsostek. 19. Terdapat tindakan berindikasi manipulasi yang dilakukan oleh sejumlah pegawai PT Jamsostek di Kanwil dan KC serta pihak III dengan taksiran kerugian sekitar Rp10.538,88 juta Dalam tahun 2004 pada PT Jamsostek telah terjadi tindakan yang berindikasi manipulasi. Tindakan manipulasi tersebut dilakukan oleh sejumlah pegawai PT Jamsostek yang berada di kantor-kantor cabang yang tersebar di berbagai daerah. Berdasarkan pemeriksaan atas laporan-laporan yang berkaitan dengan tindakan manipulasi yang telah diperiksa oleh unit Biro Pengawasan Intern (BPI) PT Jamsostek, diketahui bahwa manipulasi tersebut terjadi pada Kanwil dan KC dengan taksiran nilai kerugian sekitar Rp10.538.878.349,14 dengan rincian sebagai berikut:
No 1 Nama Kanwil/ Cabang KC NTT Indikasi Pengadaan tanah di Jalan W. J. Lalamentik, Kelurahan Oebufu, Kecamatan Oebobo, Kupang senilai Rp730.000.000,00 tidak sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan Penyimpangan pembayaran JHT atas nama 63 eks karyawan PTPN IX (Persero) Batujumus Karanganyar kepada yang tidak berhak periode 4 Maret 2002 s.d 23 Juni 2003 Pemalsuan bukti klaim pembayaran JKK oleh pegawai PT Ranti Brothers dan PT Maha Jaya Raya Kalimantan Barat periode tahun 2000 s.d 2003 dan s.d tanggal 28 Pebruari 2005 telah dikembalikan ke Cabang Kalimantan Barat Klaim JHT fiktif untuk karyawan aktif dan non-aktif PTPN VI periode tahun 1996 s.d 1997 Total Penyimpangan (Rp) 311.950.000,00

2

KC Surakarta

155.712.660,00

3

KC Kalimantan Barat

230.011.350,00

4

KC Jambi

14.848.450,00

146

BPK-RI / AUDITAMA V

5 6 7 8

9

10 11 12

Penyimpangan pembayaran jaminan dan telah dikembalikan oleh yang bersangkutan sejumlah yang sama KC Pangkalpinang Kelalaian dalam melakukan penyimpanan dan administrasi penggunaan meterai KC Sukabumi Penyalahgunaan keuangan yang dibukukan sebagai pembayaran JHT mulai bulan Januari 2002 s.d Juni 2004 Kanwil Makassar a. Pemalsuan SSP/Penggelapan Pajak b. Setoran dana fiktif ke rekening bank program DPKP. c. Pembelian barang fiktif dengan menggunakan kuitansi palsu sebesar Rp31.812.500,00 dan pertanggungjawaban persekot kerja dengan bukti fiktif sebesar Rp135.000.000,00 KC Makassar a. Pembelian barang fiktif dengan menggunakan kuitansi palsu b. Pemalsuan SSP/Penggelapan Pajak c. Pembayaran JHT Fiktif KC Bali Pembelian dan pembayaran uang muka genset sebesar Rp54.950.000,00 bermasalah KC Magelang Penyimpangan pembayaran klaim JHT amalgamasi dengan cara mark up saldo JHT peserta sejak Maret 2003 s.d Oktober 2004 KC Karawang Penyalahgunaan uang iuran peserta Jamsostek tetapi tidak disetorkan ke rekening perusahaan tetapi untuk kepentingan pribadi selama periode Agustus s.d Nopember 2004 Total Penyimpangan

KC Gresik

48.799.727,00 8.652.000,00 7.320.613.696 396.865.027,73 6.250.000,00

166.812.500,00 27.945.000,00 611.983.665,81 534.483.506,84 17.495.000,00 565.249.805,76 121.205.960,00

10.538.878.349,14

Dari data di atas diketahui bahwa penyimpangan tersebut terjadi dalam waktu yang relatif lama bahkan ada yang melebihi satu tahun. Hal tersebut menunjukkan lemahnya sistem pengendalian intern karena sistem yang sudah dirancang tidak dapat mendeteksi penyimpangan yang terjadi lebih dini. Dari jumlah perkiraan kerugian yang ditanggung oleh PT Jamsostek dalam tahun 2004 sebesar Rp10.538.878.349,14, sebagian diantaranya telah dapat diselamatkan sampai dengan pemeriksaan berakhir tanggal 31 Maret 2005, yaitu sebesar Rp278.811.077,00 atau 2,65 % yaitu di KC Kalimantan Barat sebesar Rp230.011.350,00 dan Gresik sebesar

147

BPK-RI / AUDITAMA V

Rp48.799.727,00. Dengan demikian, sisa kerugian yang masih belum dapat diselamatkan yaitu sebesar Rp10.260.067.277,14 atau 97,35 %. Selanjutnya dari 16 kasus yang berindikasi manipulasi yang tersebar pada satu Kanwil dan 11 KC tersebut, diantaranya sebanyak tiga kasus di Kanwil dan KC Makassar telah diserahkan oleh PT Jamsostek kepada pihak berwajib dan pelakunya sedang dalam proses hukum. Sisanya sebanyak 13 kasus di 10 KC dan satu Kanwil telah diselesaikan secara internal PT Jamsostek dengan hasil yang terlibat telah diberikan sanksi berupa peringatan tertulis, PHK, diturunkan golongannya atau ditunda kenaikan golongannya. Sedangkan dua kasus masih dalam proses yaitu KC Magelang dan KC Karawang. Terjadinya kondisi di atas disebabkan oleh masih lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh atasan langsung dari pegawai yang bersangkutan, dan masih adanya sikap mental yang kurang baik dari pegawai PT Jamsostek. Kondisi di atas mengakibatkan terhambatnya usaha untuk menciptakan perusahaan yang bersih (clean corporate) dan dapat merusak citra PT Jamsostek di mata masyarakat. Selain itu, adanya manipulasi yang dilakukan oleh beberapa pegawai tersebut, PT Jamsostek dirugikan sebesar Rp10.260.067.277,14 yang merupakan sisa kerugian yang belum dapat dikembalikan. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa untuk menanggulangi manipulasi yang dilakukan oleh sejumlah Pegawai di Kantor Wilayah dan Kantor Cabang, PT Jamsostek telah mengambil langkah-langkah sebagai berikut : a. Atasan langsung dari pegawai yang melakukan manipulasi telah diberikan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku (Perjanjian Kerjasama Bersama) dan sebagian dimutasikan ke Jabatan Non-Struktural. b. Para Kepala Kantor Cabang telah diikutkan dalam Diklat Kepemimpinan (Leadership). c. Setiap Pejabat Struktural Kantor Daerah dan Kantor Pusat menandatangani Kontrak Manajemen pada awal tahun dan akan diadakan penilaian pada akhir tahun d. Terhadap pegawai yang melakukan manipulasi akan diberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku (Perjanjian Kerjasama Bersama ) dan jika yang bersangkutan tidak dapat menyelesaikan tanggung jawabnya akan diproses secara hukum. 148 BPK-RI / AUDITAMA V

e. Upaya Tuntutan Ganti Rugi (TGR), dikenakan terhadap pegawai yang melakukan manipulasi. f. Kekosongan formasi Jabatan Struktural dan Job Title telah diisi secara bertahap, sehingga dapat dihindarkan jabatan rangkap. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek memberikan sanksi kepada pegawai-pegawai yang melakukan manipulasi tersebut, dan melaporkan kepada yang berwajib atas tindakan kriminal yang dilakukan, lebih mengoptimalkan BPI dalam menciptakan early warning system, serta memperkuat pengendalian intern, sehingga usaha untuk menciptakan perusahaan yang bersih (clean corporate) dan meningkatkan citra PT Jamsostek di mata masyarakat dapat dicapai. 20. Tindak lanjut hasil pemeriksaan tahun-tahun sebelumnya a. Tindak lanjut hasil pemeriksaan tahun buku 2003 Berdasarkan hasil pemeriksaan BPK-RI atas Laporan Keuangan PT Jamsostek Tahun Buku 2003 dan tindak lanjut hasil pemeriksaan tahun-tahun sebelumnya terdapat 35 temuan yang masih dipantau dan sesuai dengan hasil pemeriksaan atas penyelesaian tindak lanjut temuan tersebut pada tahun buku 2004, maka dari 35 temuan tersebut terdapat 16 temuan telah selesai ditindaklanjuti. Sisanya sebanyak 19 temuan masih diikuti perkembangan tindaklanjutnya (dipantau), yaitu : 1) Sistem alokasi penerimaan iuran ke Dana Investasi JHT dan Non-JHT belum sepenuhnya akurat BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek melakukan penyempurnaan sistem alokasi penerimaan iuran ke dalam investible fund JHT dan Non-JHT secara tepat setiap waktu dan Biro Akuntansi melakukan pengungkapan yang memadai atas reklasifikasi/pemindahan deposito Non-JHT ke deposito JHT pada catatan atas laporan keuangan.
Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa Biro Akuntansi telah melakukan

Rekonsiliasi Dana JHT setiap bulan. Atas perhitungan Rekonsiliasi Hutang JHT tersebut dibandingkan dengan portofolio JHT jika terdapat selisih lebih/kurang maka dilakukan reklasifikasi. 149 BPK-RI / AUDITAMA V

Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan karena sampai saat ini belum ditemukan sistem alokasi yang tepat setiap waktu untuk alokasi penerimaan iuran kedalam investible fund JHT dan Non-JHT. Temuan ini masih dipantau. 2) Rekonsiliasi iuran secara bulanan belum dilaksanakan secara optimal BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek melakukan evaluasi pedoman pelaksanaan rekonsiliasi iuran dan penilaian kinerja petugas lapangan, dan meningkatkan monitoring para atasan di masing-masing KC terhadap para petugas pelaksana, serta meningkatkan sosialisasi kepada perusahaan (peserta) mengenai pentingnya rekonsiliasi iuran bulanan. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa Divisi Operasi sudah melakukan beberapa tindak lanjut, antara lain : a) Menerbitkan Surat Direktur Operasi dan Pelayanan Nomor.B/7085/082004 tanggal 18 Agustus 2004 tentang rekonsiliasi iuran dan penagihan piutang iuran. b) Menerbitkan Surat Direktur Operasi dan Pelayanan Nomor.B/9853/082004 tanggal 3 Nopember 2004 tentang penerimaan iuran dan pelaporan mutasi upah dan tenaga kerja. c) Pendidikan untuk meningkatkan kualitas Account Officer dan Kepala Bidang Pemasaran untuk Kantor Cabang di Kantor Wilayah III dan IV yang pelaksanaannya bekerjasama dengan Biro Pendidikan dan Latihan pada bulan 23 Nopember 2004 s.d. 12 Desember 2004. d) Direktur Operasi dan Pelayanan dan Direktur Umum dan SDM mengeluarkan Surat Edaran Nomor.SE/09/102004 tentang Penilaian Kinerja Account Officer Tahun 2004, dimana ada 3 faktor pengurang yang salah satunya adalah Rekonsiliasi Iuran Bulanan. e) Terbitnya Keputusan Direksi PT Jamsostek Nomor.KEP/38/022005 tentang Pedoman Penilaian Kinerja Account Officer Tanggal 04 Maret 2005 Divisi

150

BPK-RI / AUDITAMA V

Operasi membuat memo ke Biro Teknologi Informasi Nomor.M/122/DO/ 032005 tentang Report Rekonsiliasi Bulanan. Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan karena menunggu hasil evaluasi/penilaian kinerja para Account Officer secara nasional. masih dipantau. 3) Terdapat prosedur pengajuan Surat Ketetapan Bebas Pajak Deposito JHT yang menyulitkan dan upaya penyederhanaan prosedur yang diajukan PT Jamsostek kepada Dirjen Pajak belum memperoleh tanggapan. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek melakukan penyempurnaan sistem administrasi pengelolaan deposito yang mengakomodasi peraturan pajak mengenai mekanisme pembebasan pajak bunga deposito dan lebih intensif melakukan upaya untuk menyederhanakan mekanisme pengajuan SKB kepada Direktorat Jenderal Pajak tanpa mengurangi fungsi kontrol mekanisme yang telah ada untuk pendapatan negara dari sektor pajak. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa PT Jamsostek bersama dengan PT Asabri, PT Taspen dan Asosiasi Dana Pensiun telah melakukan pembahasan mengenai Surat Keterangan Bebas Pajak atas deposito JHT dengan Dirjen Pajak, namun dalam pembahasan tersebut pihak Dirjen Pajak masih mempertimbangkan bentuk pengawasan dalam rangka menyederhanakan permohonan SKB deposito JHT. Selama ini ketentuan permohonan SKB diberlakukan untuk seluruh penyelenggara dana pensiun (dipersamakan). Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan karena sampai saat ini belum ada keputusan Dirjen Pajak untuk penyederhanaan permohonan SKB eposito JHT, Pihak Dirjen Pajak masih mempertimbangkan bentuk pengawasanya.Temuan ini masih dipantau. Temuan ini

151

BPK-RI / AUDITAMA V

4) Jaminan tanah yang diserahkan oleh PT SPJ belum sepenuhnya bersertifikat dan belum dibalik atas nama PT Jamsostek serta nilai tanah yang diakui sebesar Rp100.000,00 juta belum dilakukan penilaian kembali. BPK-RI menyarankan agar Direksi meningkatkan pemantauan atas proses pengalihan hak dan pengurusan sertifikat, serta segera menyelesaikan penilaian/ appraisal atas tanah tersebut dan menjajagi kemungkinan menjual tanah tersebut untuk segera mendapatkan dana yang bisa diinvestasikan kembali. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa untuk tanah-tanah yang berada di Desa Waringin Jaya, Desa Sinar Jaya dan Desa Tambak sertifikatnya telah diserahkan kepada PT Jamsostek dan pada tanggal 26 Oktober 2004 telah dilakukan penyerahan kembali 77 sertifikat atas tanah yang terletak di Desa Cikahuripan, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, memang terhadap tanah-tanah tersebut belum dilakukan balik nama ke atas nama PT Jamsostek, hal ini dilakukan dengan pertimbangan karena menyangkut 2 kali beban biaya BPHTB apabila dikonversikan ke atas nama PT Jamsostek dan untuk itu PT Jamsostek akan memegang surat kuasa jual terhadap tanah-tanah tersebut. Sampai dengan saat ini DPUPM belum memiliki hasil penilaian/appraisal ulang, hal tersebut terjadi dikarenakan ada kendala teknis dari pihak PT SPJ, sehingga Manajemen PT Jamsostek memutuskan untuk memfokuskan penyelesaiaan pensertifikasian tanah-tanah tersebut, dan kami telah meminta bantuan Biro Perlengkapan dan Sarana untuk menunjuk appraisal agar melakukan penilaian kembali terhadap tanah-tanah tersebut sesuai dengan Memo Divisi PUPM Nomor.M/122/DPUPM/ 032005 tanggal 7 Maret 2005. Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan karena sampai saat ini PT Jamsostek belum melakukan penilaian/appraisal kembali atas tanah tersebut. Temuan ini masih dipantau.

152

BPK-RI / AUDITAMA V

5) Terdapat pembebanan Hak Tanggungan atas tanah jaminan MTN PT Volgren Indonesia sebesar Rp10.000,00 juta yang belum didasarkan pada penilaian yang wajar BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek meminta Divisi PUPM segera memproses penilaian jaminan dan meninjau kembali/mengoreksi nilai tanggungan pada Sertifikat Hak Tanggungan setelah terbit hasil penilaian jaminan. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa berdasarkan Legal Opini yang diberikan oleh Law Office Remi & Darus No.Ref.711/J.3.11/HG-YH/VII/03 tanggal 4 Juli 2003 dapat disimpulkan bahwa apabila hasil lelangnya (penjualan) lebih besar dari hak tanggungan yang dipasang, maka kelebihan hasil lelang akan dikembalikan kepada PT. Volgren Indonesia, agar hal tersebut tidak terjadi, maka perlu dipasang hak tanggungan yang lebih besar, guna mengantisipasi terjadinya hal tersebut diatas. Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan karena PT Jamsostek masih akan mengoreksi kembali nilai tanggungan yang akan dipasang. Pada tanggal 26 Juli 2004 MTN PT Volgreen Indonesia sudah jatuh tempo. Temuan ini masih dipantau. 6) Data warehouse, operasional data store dan sistem informasi manajemen yang telah dibayar senilai Rp464,99 juta belum dimanfaatkan secara optimal BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek dalam melaksanakan pembangunan sistem informasi direncanakan terlebih dahulu secara matang dengan mempertimbangkan aspek sarana, prasarana, dan dukungan SDM-nya, serta melakukan langkah-langkah tertentu untuk mengantisipasi adanya kendala mengoptimalkan pemanfaatan data ware house tersebut. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa pembangunan sistem informasi telah dilakukan secara matang dengan menggunakan atau dibantu pihak ketiga baik untuk perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasan melalui tim Program 153 BPK-RI / AUDITAMA V

Office yang dibentuk berdasarkan Surat Perintah No. SPRIN/268/102004 tanggal 22 Oktober 2004. Pembangunan data ware house akan dilanjutkan tahun 2006 setelah implementasi aplikasi SIPT online selesai. Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan menunggu pemanfaatan data ware house secara optimal. Temuan ini masih dipantau. 7) Terdapat pertanggungjawaban persekot kerja yang belum sesuai dengan ketentuan BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek melaksanakan ketentuan secara tegas dan konsekuen, serta memberikan sanksi kepada karyawan yang tidak mematuhi ketentuan tentang pertanggungjawaban persekot kerja. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa berdasarkan Memo Biro Keuangan yang telah dikirimkan kepada seluruh unit kerja di Kantor Pusat dengan tembusan kepada masing masing personil yang belum mempertanggungjawabkan persekot kerjanya. Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan karena pada hasil pemeriksaan TB 2004 masih ditemukan adanya pelanggaran atas ketentuanketentuan berkaitan dengan pertanggungjawaban persekot kerja. Temuan Tahun Buku 2004 tersebut diinformasikan ke BPI PT Jamsostek. Temuan ini masih dipantau. 8) Saldo Hutang JHT pada neraca belum sepenuhnya didukung oleh data yang akurat BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek : a) Memberikan arahan kepada Tim Penyelesaian untuk meningkatkan upaya penyelesaian selisih Hutang JHT.

154

BPK-RI / AUDITAMA V

b) Memberikan arahan kepada Divisi Operasi dan Biro Teknologi Informasi agar bekerja sama untuk menyajikan data pada D/PSJHT sesuai dengan posisi neraca yang diperbandingkan. c) Menentukan batas waktu tertentu untuk melakukan cut off data hutang JHT di neraca yang sudah teridentifikasi dan belum teridentifikasi, untuk selanjutnya melakukan penelusuran lebih lanjut terhadap yang belum teridentifikasi. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa berdasarkan Keputusan Direksi Nomor.KEP/59/042004 tanggal 16 April 2004 membentuk Tim Cut Off Penyelesaian SJHT tahun 2004 dengan batas waktu penyelesaian 31 Juli 2004. Hasil Tim Cut Off diterbitkan Keputusan Direksi Nomor.KEP/260/102004 tanggal 18 Oktober 2004, yaitu saldo JHT tahun 2003 per Juni 2004 sebesar Rp21.341.217.973.433,00, Rp22.341.217.973.433,00. Akan tetapi, berdasarkan hasil pemeriksaan TB 2004 masih ditemukan di beberapa KC yang penyajian PSJHT-nya belum akurat. Temuan ini diinformasikan ke BPI PT Jamsostek. Dengan pertimbangan ini atas temuan tersebut masih dipantau. 9) Jumlah Daftar Nama Tertanggung Program JPK hasil proses SIPT sampai dengan tahun 2003 diragukan keandalannya. BPK-RI menyarankan agar PT Jamsostek : a) Melakukan evaluasi dan menyempurnakan aplikasi yang saat ini digunakan untuk mengurangi pembayaran yang lebih besar di masa yang akan datang. b) Melakukan pembersihan data (clean up) data yang terkait dengan program JPK. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa perbaikan aplikasi SIPT terus menerus dilakukan dengan mengirimkan modul perbaikan melalui service pack. Pengiriman SIPT 3.06 (3 Desember 2003), SP2 (25 Februari 2004), SP3(10 Mei 2004) , SP4 (4 Agustus 2004) dan SP5 (10 Desember 2004). Dalam setiap SP terlihat jelas penambahan/perbaikan modul yang dikoreksi/ditambah. Data DNT 155 BPK-RI / AUDITAMA V dan saldo Akuntasi tahun 2003 sebesar

sudah dapat dikeluarkan dari aplikasi SIPT dengan benar semenjak SP4 dan SP5. Selain itu, pembersihan data kepesertaan JPK dan DNT sudah dimulai sejak instalasi SIPT 3.06 dan terus dilakukan melalui proses data cleaning tahap I sejak Agustus sampai dengan Desember 2004. Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan karena : a) Pembersihan data kepesertaan JPK dan DNT belum diselesaikan secara tuntas, baru berada pada tahap I yang dilakukan sejak Agustus s.d Desember 2004. b) Hasil pemeriksaan TB 2004 masih ditemukan pada beberapa cabang, DNT yang berkaitan dengan JPK yang belum akurat. Temuan Tahun Buku 2004 diinformasikan ke BPI PT Jamsostek. Temuan ini masih dipantau. 10) Manajemen Sistem Informasi belum sepenuhnya mengandung Sistem pengendalian intern yang memadai. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek segera menyusun kebijakan dan standar & prosedur berkaitan dengan sistem informasi yang belum dimiliki, agar pengendalian terhadap pembangunan, pengembangan dan penggunaan sistem informasi dapat diyakini keandalan dan keakuratannya. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa TOR penyusunan SOP Pengelolaan Teknologi Informasi telah disusun dan disampaikan kepada beberapa lembaga perguruan tinggi untuk dilakukan kerjasama penyusunan SOP di tahun anggaran 2005. Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan karena TOR penyusunan SOP Pengelolaan Teknologi Informasi baru disusun dan disampaikan kepada beberapa lembaga perguruan tinggi untuk dilakukan kerjasama penyusunan SOP di T.A. 2005. Temuan ini masih dipantau.

156

BPK-RI / AUDITAMA V

11) Terdapat beberapa kelemahan pengendalian intern dalam Sistem Informasi Peserta Terpadu PT Jamsostek. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek segera melakukan evaluasi terhadap sistem aplikasi yang digunakan saat ini dan melakukan perbaikan yang diperlukan untuk mendapatkan sistem aplikasi (SIPT) yang andal dan akurat, serta mengambil langkah antisipasi yang mudah disesuaikan dengan mempertimbangkan rencana jangka panjang yang telah disusun. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa evaluasi terhadap sistem aplikasi telah dilakukan dengan beberapa tahapan. Dimulai dengan evaluasi bisnis proses, evaluasi sistem aplikasi SIPT dan SIAK, evaluasi pengelolaan data (antara lain cut off hutang JHT Juni 2004 atas PSJHT 2003) dan evaluasi infrastruktur; termasuk persiapan SDM, sosialisasi perubahan budaya kerja, dan struktur organisasi (lampiran KEP.289/112004, hasil kajian Magnus mengenai sentralisasi data dan aplikasi, workshop manajemen data). Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan karena pada pemeriksaan TB 2004 masih ditemukan adanya temuan yang berkaitan dengan output SIPT yaitu pada piutang. Temuan Tahun Buku 2004 yang berkaitan dengan masalah ini disampaikan ke BPI PT Jamsostek. Temuan ini masih dipantau. 12) Terdapat pengalihan peserta dari PT Taspen ke PT Jamsostek yang tidak didukung dengan data kepesertaan dan saldo hutang JHT yang akurat. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek segera menindaklanjuti isi Keputusan Bersama tanggal 14 Maret 2003 dengan mempertimbangkan masa kerja tim yang telah berakhir tanggal 14 Maret 2004 dan berkoordinasi dengan Direksi PT Taspen untuk menerbitkan Petunjuk Pelaksanaan Rekonsiliasi Data Kepesertaan. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa : a) Telah dilakukan perubahan Keputusan Bersama Direksi PT. Taspen dan Direksi PT Jamsostek Nomor.SK-41A/DIR/2003 dan Nomor.KEP/15/KKB/ 157 BPK-RI / AUDITAMA V

102004 tanggal 12 Oktober 2004 sebagai perubahan Keputusan Bersama Direksi PT Taspen dan Direksi PT Jamsostek Nomor.SK-13/DIR/2003 dan Nomor.KEP/01/KKB/032003 tentang Rekonsiliasi Data Kepesertaan Program JHT Eks Peserta PT Taspen. b) Menerbitkan Surat Edaran bersama antara PT Taspen (Persero) dengan PT Jamsostek Nomor.SEB-15/DIR/2004 dan SE/10/102004 tentang Petunjuk Teknis Rekonsiliasi Data Kepesertaan Program JHT Eks Peserta PT Taspen . Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan menunggu hasil rekonsiliasi data kepesertaan program JHT eks peserta PT Taspen. Temuan ini masih dipantau. 13) Perpindahan data kepesertaan atas sentralisasi peserta PT Taspen ke KC Kebon Sirih belum didukung oleh data yang akurat dan belum tercatat pada laporan keuangan KC Kebon Sirih Tahun Buku 2003 BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek lebih aktif meminta KC Kebon Sirih berkoordinasi dengan Kanwil III dan Kantor Pusat, serta KC lain yang terkait untuk melakukan rekonsiliasi/validasi data kepesertaan yang dipindahkan dan segera melakukan pencatatan pada laporan keuangan. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa : a) Divisi Operasi juga memfasilitasi untuk kegiatan Rekonsiliasi Kepesertaan Eks PT Taspen antara Kantor Cabang di Wilayah III dan Wilayah II dengan perusahaan peserta dan PT Taspen, kegiatan ini dilakukan untuk mempercepat penyelesaian rekonsiliasi tersebut untuk dapat dicatat pembukuannya. b) Untuk Kanwil III khususnya pada kepesertaan Kantor Cabang Kebon Sirih telah dilakukan sosialisasi dan saat ini sedang melakukan rekonsiliasi data . Telah dihasilkan berita acara terhadap rekonsiliasi untuk sebanyak sepuluh perusahaan.

158

BPK-RI / AUDITAMA V

Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan menunggu hasil rekonsiliasi diselesaikan secara tuntas. Temuan ini masih dipantau. b. Tindak lanjut hasil pemeriksaan TB 2002 1) Terdapat ketidakpastian pelunasan MTN PT Hati Prima Perdasa (PT HPP) sebesar Rp12.800,00 juta dalam target penerimaan hasil investasi melalui KPAI PT Panin Sekuritas (PT PS). BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek mempertegas keberadaan MTN PT HPP kepada PT PS, dan meminta agar dilakukan penagihan bunganya, serta meminta jaminan yang minimal senilai dengan MTN tersebut. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa PT Jamsostek telah membentuk cadangan penyisihan MTN sebesar 100% atau seluruh pokok MTN. Usaha penagihan terus dilakukan dan DPUPM sedang menjajaki untuk menyerahkan masalah MTN PT HPP kepada Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara (KP2LN). Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan karena DPUPM masih melakukan usaha penagihan dan sedang menjajaki untuk menyerahkan masalah MTN PT HPP kepada Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara (KP2LN). Temuan ini masih dipantau. 2) PT Jamsostek belum melakukan pemantauan secara optimal terhadap Pajak Penghasilan (PPh) atas pendapatan bunga dan acrrued pendapatan bunga FRN/MTN yang transaksinya melalui Bank Niaga Custody. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek menginstruksikan: a) Divisi PUPM melengkapi kembali bukti potongan atas pendapatan bunga Floating Rate Notes (FRN) Garuda dan MTN Pegadaian V/2000, serta capital gain atas penjualan MTN Pegadaian V/2000. Jika atas pendapatan bunga tersebut tidak diperoleh bukti 159 potongannya, maka PT Jamsostek

BPK-RI / AUDITAMA V

mengembalikan kepada pembayar bunga sebesar jumlah PPh yang seharusnya dipotong. b) Divisi PUPM untuk selanjutnya meningkatkan pemantauan terhadap PPh atas pendapatan bunga yang diterima melalui Niaga Custody. c) Biro Keuangan memperoleh akses dan informasi yang memadai atas transaksi Bank Niaga Custody untuk melakukan pemantauan PPh. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa pada tanggal 18 Maret 2003 PT Jamsostek Indonesia, yang telah mengirim surat kepada Bank Niaga Custody dengan kemudian dijawab oleh Niaga Custody dengan surat Nomor.B/1821/032003 perihal Permintaan Informasi Perpajakan FRN PT Garuda No.280/CA/CSD/2003 yang intinya mereka belum mempunyai informasi yang jelas mengenai perpajakan FRN Garuda, karena mereka menerima bunga dari paying agent tidak dikenakan pajak dan mereka juga melampirkan prospektus FRN Garuda yang telah langsung kami serahkan kepada BPK. Pada bulan November tahun 2003 staf Divisi PUPM dan Bagian Perpajakan Biro Keuangan PT Jamsostek, bersama dengan staf Bank Niaga Custody (Ibu Adjani Sugiharjo) mendatangi PT Garuda Indonesia Bagian General Manager Taxation yaitu Bapak Herman untuk meminta penjelasan masalah ini dan mereka memberikan jawaban bahwa penghasilan atas bunga FRN yang diterima seluruh investor tidak dikenakan pajak karena surat berharga ini didaftarkan di bursa Luxemburg. Berdasarkan informasi tersebut, maka PT Jamsostek mengirim surat kepada Vice President Treasury PT Garuda Indonesia dengan No.B/8922/122003 tertanggal 4 Desember 2003 perihal Permintaan Konfirmasi Perpajakan atas FRN PT Garuda Indonesia dan sampai dengan saat ini pihak PT Garuda Indonesia tidak memberikan jawaban padahal posisi PT Garuda Indonesia adalah sebagai WAPU. Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan karena PT Garuda Indonesia sampai dengan saat ini belum memberikan jawaban atas surat

160

BPK-RI / AUDITAMA V

PT Jamsostek kepada Vice President Treasury PT Garuda Indonesia No.B/8922/122003 tanggal 4 Desember 2003. Temuan ini masih dipantau. 3) Terdapat beberapa Kantor Cabang yang kurang tertib dan cermat dalam penyusunan dan pencatatan selisih rekonsiliasi bank. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek membuat kebijakan untuk meningkatkan ketertiban dan kecermatan penyusunan dan pencatatan selisih rekonsiliasi bank. Khusus untuk KC Bangkalan, KC Tanjung Perak, KC Karawang, KC Balaraja dan KC Cirebon diinstruksikan untuk segera menyelesaikan kertas kerja rekonsiliasi bank per 31 Desember 2002. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa Biro Akuntansi sudah menurunkan tim yang terdiri dari personil Biro Akuntansi dan Kanwil IV pada tanggal 25 Agustus s.d. 08 September 2004 sesuai Surat Perintah Perjalanan Dinas Direktur Keuangan Nomor.SPPD/718/082004 dengan hasil sebagai berikut : a) Saldo terakhir rekonsiliasi sebesar Rp1.045.363.486,00. Jumlah tersebut akan diusulkan menjadi koreksi audit pada Desember 2004. Hasil identifikasi, jumlah tersebut merupakan iuran yang sudah dicatat pada Kartu Iuran, tetapi belum dibukukan pada aplikasi GL. b) Kenaikan jumlah saldo rekonsiliasi disebabkan adanya sejumlah faktor penambah dan pengurang pada kertas kerja rekon yang sudah dibukukan. Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan karena pada General Audit tahun buku 2004 masih ditemukan adanya temuan mengenai rekon bank. Temuan Tahun Buku 2004 disampaikan ke BPI PT Jamsostek. Temuan ini masih dipantau.

161

BPK-RI / AUDITAMA V

4) Biro Perlengkapan Sarana belum memiliki daftar peralatan kantor yang akurat. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek mengambil kebijakan penertiban pengelolaan aktiva tetap, menyempurnakan dan menerapkan SIAT secara menyeluruh, serta meminta Biro Perlengkapan Sarana (BPS) agar selalu mempedomani dan melaksanakan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Direksi. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa BPS sudah menyelesaikan penyusunan daftar barang inventaris yang telah direkonsiliasi dengan data akuntansi per 31 Desember 2003 untuk setiap unit kerja Kantor Wilayah/Kantor Cabang, termasuk aktiva tetap Kantor Wilayah II dan VIII yang telah diselesaikan. Untuk akurasi pelaporan barang inventaris, maka Pedoman Pengelolaan Barang Inventaris telah disempurnakan dengan Keputusan Direksi Nomor.KEP/139/072004 tanggal 8 Juli 2004, sedangkan aplikasi SIAT sebagai sarana penunjang pelaksanaan administrasinya masih dalam proses pembangunan pada tahun anggaran 2005. Data base barang inventaris saat ini masih dalam bentuk file excell yang dapat dikonversi pada aplikasi SIAT. Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan karena menunggu hasil rekonsiliasi antara data akuntansi data BPS secara nasional selesai. Serta aplikasi SIAT masih dalam proses pengembangan. Temuan ini masih dipantau. c. Tindak lanjut hasil pemeriksaan TB 2001/2002 1) Prosedur investasi pada saham sebesar Rp200.726,25 juta dilaksanakan tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, telah merugikan perusahaan dan berpotensi mengalami kerugian yang lebih besar, yaitu: Investasi pada saham PT BR sebesar Rp120.000,00 juta; Pembelian saham PT LAPD sebesar Rp22.500,00 juta; Pembelian saham PT Kopi sebesar Rp50.762,36 juta. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek dalam mengambil kebijakan selalu menaati ketentuan yang berlaku dan melaksanakan prinsip 162 BPK-RI / AUDITAMA V

kehati-hatian/keamanan dana dalam investasi. Selain itu, agar Pemegang Saham/Menteri BUMN meminta pertanggungjawaban Komisaris dan Direksi PT Jamsostek. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa PT Jamsostek akan selalu menaati kententuan yang berlaku dan upaya yang telah dilakukan yaitu : a) Investasi pada saham PT Bumi Resources senilai Rp120.000,00 juta telah dijual seluruhnya pada tanggal 17 Oktober 2001 sebesar Rp70.000,00 juta dan tanggal 22 Oktober 2002 sebesar Rp50.000,00 juta dengan keuntungan yang diberikan berupa saham bonus sebanyak 26.667.000 lembar yang telah dijual dengan harga Rp1.091.680.000,00. Sedangkan saham Bumi lainnya yang dimiliki PT Jamsostek telah pula dijual seluruhnya untuk seluruh porsi Trading dan Available For Sale sampai dengan 31 Desember 2002. Dengan demikian, masalah investasi dalam saham Bumi telah selesai, serta telah diterima hasil penjualannya dan PT Jamsostek tidak memiliki saham Bumi per 31 Desember 2002. b) Sampai dengan 30 Desember 2004, saham PT Lapindo Packaging Tbk (PT LAPD) telah terjual sebanyak 1.570.500 saham, sehingga saldo saham PT LAPD yang masih dimiliki PT Jamsostek sebanyak 48.429.500 saham. PT Jamsostek masih terus berupaya untuk mengurangi portofolio saham PT LAPD dan untuk langkah pengawasan serta pengamanan, maka Direksi PT Jamsostek melalui surat nomor.B/7512/082004 tanggal 30 Agustus 2004 meminta menempatkan satu orang Komisaris perwakilan PT Jamsostek di PT LAPD dan melalui surat nomor.067/LAP/IX/04 tanggal 13 September 2004, Direksi PT LAPD berusaha mengapresiasikan keinginan PT Jamsostek tersebut dengan mengajukan rencana pengangkatan/perubahan susunan komisaris sebagai salah satu Agenda RUPS di tahun 2005. c) Saham PT Kopitime DotCom Tbk (PT KOPI) dibeli untuk porsi trading oleh PT Jamsostek, yaitu pada tanggal 5, 8 dan 11 Juni 2001 sebanyak 27.316.000 saham dan dijual seluruhnya dari tanggal 6 s.d. 12 Juni 2001 dan menghasilkan keuntungan sebesar Rp514.685.649,00, kemudian pada tanggal 19 juli 2001 163 BPK-RI / AUDITAMA V

dilakukan pembelian lagi untuk porsi trading sebanyak 14.500.000 saham atau senilai Rp9.802.072.080,00 dan telah dijual pada tanggal 9 April 2002 sebanyak 4.500.000 saham & 26 November 2002 sebanyak 10.000.000 saham, karena telah di-adjustment, maka menghasilkan keuntungan Rp2.586.100.000,00, dan total keuntungan selama trading adalah sebesar Rp3.100.785.649,00, tetapi untuk porsi saham trading unrelease gain/loss tahun 2001 dan 2002 yang di-adjustment 3 bulanan dan telah diakui sebesar (Rp9.549.568.042,00), maka setelah dikurangi keuntungan menjadi loss sebesar (Rp6.448.782.393,00). Sementara untuk porsi AFS memiliki 33.250.000 saham dan telah dijual pada tanggal 19 april 2002 sebanyak sebanyak 10.000.000 23.250.000 saham saham sehingga dan dan total mengalami mengalami kerugian kerugian kerugian di AFS sebesar sebesar sebesar (Rp3.977.700.000,00) dan pada tanggal 26 November 2002 dijual kembali (Rp12.721.773.313,00),

(Rp16.699.473.313,00), jadi total kerugian saham PT KOPI porsi Trading dan AFS adalah sebesar (Rp23.148.255.706,00) perhitungan terlampir. Untuk selanjutnya PT Jamsostek dalam pelaksanaan investasinya akan selalu mengacu pada PP No.22/2004. Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini menunggu surat Menteri BUMN tentang permintaan pertanggungjawaban kepada Direksi dan Komisaris PT Jamsostek. Temuan ini masih dipantau. 2) Investasi dalam MTN sebesar Rp781.085,80 juta prosedur pembeliannya tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, merugikan perusahaan dan berpotensi mengakibatkan kerugian yang lebih besar, yaitu: 1) Investasi pada MTN PT SPJ sebesar Rp100.000,00 juta dan PT AI sebesar Rp470.000,00 juta melalui Fund Manager PT RFAM; 2) Investasi pada MTN PT Volgren Sebesar Rp33.250,00 juta; 3) Investasi pada MTN PT SP sebesar Rp80.000,00 juta; 4) Investasi pada MTN PT Dahana sebesar Rp97.835,80 juta.

164

BPK-RI / AUDITAMA V

BPK-RI menyarankan agar: a) Pemegang Saham/Menteri BUMN meminta pertanggungjawaban Komisaris dan Direksi PT Jamsostek atas penyimpangan yang terjadi. b) Direksi PT Jamsostek melakukan tindakan pengamanan dengan melakukan pengikatan jaminan, menambah jaminan yang belum memadai dan melakukan monitoring atas kegiatan usaha penerbitan MTN. c) Direksi PT Jamsostek tidak melakukan investasi pada MTN karena belum diatur dalam PP No.28 Tahun 1996. d) Direksi PT Jamsostek dalam mengambil kebijakan selalu menaati ketentuan yang berlaku. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa sejak tahun 2003 tidak melakukan penempatan dalam bentuk MTN dan instrumen lain yang tidak disarankan oleh Peraturan Pemerintah Nomor.28 Tahun 1996. PT Jamsostek senantiasa berupaya untuk melakukan kegiatan investasi yang prudent dan sesuai dengan pedoman yang telah ada. Dengan diterbitkannya Pedoman Pelaksanaan Investasi melalui Keputusan Direksi No.KEP/78/042003 tanggal 25 April 2003 ditambah dengan telah diterbitkannya PP Nomor.22 tahun 2004 tentang Pengelolaan Dan Investasi Dana Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja dimana dimungkinkan untuk membeli MTN dengan persyaratan-persyaratan tertentu, saat ini mengacu pada ketentuan tersebut. Selain itu, telah melakukan upaya-upaya pengamanan antara lain : a) Terhadap kepemilikan MTN PT Sapta Prana Jaya dimana telah dilakukan penyerahan sertifikat untuk tanah-tanah di Desa Waringin Jaya , Desa Sinar Jaya , Desa Tambak dan juga telah diserahkan sebagian sertifikat di Desa Cikahuripan, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor dimana sisanya sedang dalam proses. b) PT Arutmin telah melakukan pelunasan pada tanggal 12 Agustus 2004. c) PT Volgreen dari pihak PT Jamsostek telah memakai jasa pengacara Kantor Hukum Lontoh & Kailimang dan pada tanggal 1 Maret 2005 telah dilakukan penyitaan eksekusi terhadap tanah dan bangunan yang menjadi jaminan yang 165 BPK-RI / AUDITAMA V

terletak di Subang, Jawa Barat dengan Berita Acara Penyitaan Eksekusi Nomor.07/B.A.Pdt.Eks/Grose Akta/PN.Sbg d) PT Suryaindo Pradana sedang dilakukan negosiasi antar pengacara PT Jamsostek, yaitu Lontoh & Kailimang dengan pengacara pihak PT Suryaindo, yaitu tahap pertama untuk mengambil alih tanah yang berada di Cakung sebagai jaminan tambahan. e) Sedang mengenai penyelesaian MTN PT Dahana (Persero) dapat dijelaskan bahwa investasi pada MTN PT Dahana (Persero) diyakini sebuah alternatif dalam melakukan investasi dana milik PT Jamsostek, karena selain perusahaan tersebut adalah BUMN dan merupakan salah satu perusahaan industri strategis, serta memiliki aspek bisnis yang menguntungkan. f) MTN PT Dahana sebesar Rp130.000.000.000,00 dibeli dengan harga Rp97.853.802.959,00 yang berarti diperoleh diskonto sebesar Rp32.146.197.041,00, sampai dengan saat penjualan MTN tanggal 2 Oktober 2001, diskonto MTN tersebut telah diamortisasi dan diakui menjadi pendapatan sebesar Rp2.680.349.753,00. Pada saat penjualan nilai tunai MTN tersebut adalah Rp98,125 milyar, sehingga mengalami kerugian sebesar Rp2.391.152.712,00. Dengan pengakuan pendapatan dan kerugian di atas, PT Jamsostek masih membukukan pendapatan netto sebesar Rp289.197.041,00 (Rp2.680.349.753,00–Rp2.391.152.712,00). Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan karena menunggu proses penyelesaiannya hingga tuntas. Temuan ini masih dipantau. d. Tindak lanjut hasil pemeriksaan TB 1999/2000 1) Keputusan tukar tambah CP senilai Rp36.000.000.000,00 dengan tanah seluas 187,06 ha di Desa Sirna Sari Jonggol senilai Rp41.152.760.000,00 tidak didasarkan pada analisa yang memadai dan kepemilikan atas tanah tersebut diragukan keabsahannya.

166

BPK-RI / AUDITAMA V

BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek menaati ketentuan yang berlaku dan segera menyelesaikan status tanah tersebut, serta meneliti kebenaran penilaian konsultan yang sudah ditunjuk. Direksi PT Jamsostek menjelaskan, bahwa atas Putusan Mahkamah Agung No.1143.K./Pdt2001 tanggal 17 Oktober 2002 namun pihak lawan memenangkan PT Jamsostek, mengajukan PK. PT Jamsostek sudah mengajukan

permohonan eksekusi pada bulan Nopember 2003, selain itu juga sedang dilakukan pencarian aset-aset pihak Indopac Perdana Finance, Bank Pacific (DL), Ir. Endang Utari Mokodompit, sebagai pihak yang dikalahkan. Terhadap perkara perdata No.2699/K/Pdt/2001 saat ini masih dalam proses kasasi di Mahkamah Agung RI. Putusan di tingkat Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi DKI, PT Jamsostek memenangkan perkara ini. Dengan penjelasan Direksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa saran belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Pertimbangan ini diberikan karena menunggu proses penyelesaiannya hingga tuntas. Perkara sudah sampai tingkat PK atau tingkat kasasi, Sedangkan tindak lanjut untuk menyelesaikan status tanah belum ditindaklanjuti. Temuan ini masih dipantau.
Temuan-temuan tersebut di atas masih dipantau, karena upaya penyelesaian tindak lanjutnya selain masih dalam proses ada juga yang terkait dengan pihak-pihak lain.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

167

BPK-RI / AUDITAMA V

LAMPIRAN

Lampiran 8

TAHAPAN PENGEMBANGAN ONLINE SISTEM

A. Tahap Persiapan 1 Membuat Struktur Tim Program Office 2 Membuat Rencana Umum Proyek 3 Melakukan Review Rancangan Sistem Informasi Akuntansi dan Keuangan Jamsostek 4 Membuat usulan struktur organisasi kantor cabang/wilayah/pusat dalam kaitannya dengan Sistem Informasi Pelayanan Terpadu (SIPT) dan Sistem Informasi Akuntansi Keuangan (SIAK) yang baru 5 Membuat rencana detail dan strategi sosialisasi 6 Membuat materi teknis sosialisasi 7 Membuat dokumen tender (TOR & RFP) sub proyek SIPT & SIAK 8 Membuat evaluasi proposal & rekomendasi vendor 9 Membuat laporan mingguan status dan kemajuan proyek 10 Progress Report per 3 bulan per aktifitas. B. Implementasi tahap I 1 Membuat Prosedur dan template pelaporan untuk perencanaan sub proyek, monitoring sub proyek, perubahan lingkup kerja, quality assurance dsb. 2 Membuat dokumen tender (TOR & RFI/RFP) untuk sub proyek data cleaning, data replication & data center. 3 Membuat laporan evaluasi proposal dan rekomendasi vendor 4 Membuat rencana detil sub-proyek data cleaning, data replication & data center 5 Membuat Laporan Quality Assurance untuk setiap tahap pengembangan aplikasi 6 Membuat Laporan permintaan perubahan lingkup proyek(apabila diperlukan) 7 Membuat Laporan Mingguan status dan kemajuan proyek 8 Membuat Progress Report per 3 bulan per aktifitas C. Implementasi tahap II 1 Membuat Dokumen tender (TOR & RFP) untuk sub Proyek SIAT, SIPERSO, SIJAKA, SIPA & SIINVEST 2 Membuat laporan evaluasi proposal dan rekomendasi vendor 3 Membuat rencana detil sub proyek SIAT, SIPERSO, SIJAKA & SIINVEST 4 Membuat laporan quality assurance untuk setiap tahap pengembangan aplikais 5 Membuat laporan permintaan perubahan lingkup proyek (jika diperlukan) 6 Membuat mingguan status dan kemajuan proyek untuk proyek tahap II maupun proyek tahap I yang masih berjalan 7 Membuat Progress Report per 3 bulan per aktifitas

BPK - RI LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

PENGELOLAAN DANA PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN (PKBL)

PT JAMSOSTEK (PERSERO)
Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2004 dan 2003

Nomor Tanggal

: 14.D/AUDITAMA V/GA/4/2005 : 29 April 2005

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Jln. Gatot Subroto No. 31 Jakarta Pusat 10210 Telp. (021)5700380, 5738740, 5720957, 5738727 dan 5704395 s.d. 9 Pesawat 511 Fax. (021) 5700380, 5723995

DAFTAR

ISI Halaman

SIMPULAN HASIL AUDIT………………………………………………….. 1. Pengelolaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL)…. 2. Sumber dan penggunaan dana………………………………............ 3. Laporan keuangan program kemitraan…………………………….. 4. Laporan keuangan program bina lingkungan………………............. 5. Hal-hal yang perlu diperhatikan…………………………………….. 6. Tindak lanjut hasil audit tahun sebelumnya………………………… 7. Rekomendasi………………………………………………………… URAIAN HASIL AUDIT…………………………………………………… 1. Dasar Penugasan……………………………………………………… 2. Sifat dan Tujuan Audit……………………………………………… 3. Ruang Lingkup dan Periode Audit……………………………............ 4. Organisasi……………………………………………………………… 5. Tujuan Program……………………………………………………….. 6. Dasar Hukum dan Kebijakan Penetapan dan Penggunaan Dana…….. 7. Anggaran dan Realisasi Program……………………………………… 8. Laporan Keuangan ……………………………...…………………….. 9. Hal-hal yang perlu diperhatikan……………………………………….. 10. Tindak Lanjut Audit tahun sebelumnya………………………………. Lampiran-lampiran

1 1 3 3 4 5 11 13 16 16 16 16 17 17 18 19 38 64 93

SIMPULAN AUDIT

Kami telah mengaudit laporan keuangan dan pengelolaan dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Persero) (selanjutnya disebut PT Jamsostek) untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2004 periode 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2004. Laporan keuangan dan pengelolaan PKBL merupakan tanggung jawab manajemen. Tanggung jawab kami terletak pada hasil penilaian atas laporan keuangan dan hasil pengelolaan PKBL. Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Audit Pemerintahan yang diterbitkan Badan Pemeriksa Keuangan dan aturan lainnya yang diberlakukan oleh Pemerintah terhadap PKBL. Standar tersebut mengharuskan kami memberikan penilaian atas efektivitas, efisiensi, keekonomisan dan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku. Pelaksanaan audit meliputi evaluasi terhadap bukti-bukti, review dan analisis terhadap kebijakan, perencanaan, sistem pengendalian manajemen dan pelaksanaan operasi program. Audit dilaksanakan dari tanggal 1 April 2005 sampai dengan tanggal 29 April 2005. Simpulan atas audit tersebut adalah sebagai berikut : 1. Pengelolaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) Dalam melakukan pengelolaan PKBL PT Jamsostek, diketahui hal-hal sebagai berikut : a. Efektivitas kegiatan manajerial. 1) Proses perencanaan dan persiapan program Secara umum perencanaan dan persiapan program di Kantor Pusat telah dilakukan dengan baik, dimana setiap kegiatan dituangkan dalam rencana tahunan perusahaan dan disampaikan pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), sedangkan rencana alokasi ke propinsi (daerah) binaan terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri BUMN. Proses perencanaan dan persiapan program yang menyangkut

penentuan besarnya jumlah alokasi pada masing-masing wilayah belum sepenuhnya mengacu pada ketentuan yang berlaku. Penentuan besarnya jumlah alokasi untuk Kantor Wilayah/Cabang tidak dikaitkan dengan data yang dibuat oleh Kantor Departemen Koperasi dan Pembinaan Usaha Kecil dan Menengah setempat. Jumlah alokasi tersebut belum mencerminkan kondisi usaha kecil dan koperasi sebenarnya yang akan dibina. Penentuan jumlah mitra binaan dan besarnya jumlah dana yang akan disalurkan oleh Kantor Pusat belum melalui suatu analisa yang memadai terhadap kondisi daerah binaan. 2) Unit organisasi PKBL Direksi PT Jamsostek telah membuat ketetapan formal yang menyangkut penunjukan unit organisasi pengelola beserta uraian tugas dan tanggung jawab pengelola pada Kantor Pusat berdasarkan Surat Keputusan Direksi PT Jamsostek No.KEP/97/082001 tanggal 20 Agustus 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja

PT Jamsostek, sedangkan untuk Kantor Wilayah/Cabang dibentuk dengan SK Direksi No. KEP/140/072004 tanggal 8 Juli 2004 tentang Penyempurnaan Struktur Organisasi PT Jamsostek Kantor Wilayah dan SK Direksi No.KEP/141/072004 tanggal 9 Juli 2004 tentang Pembentukan Bidang Program Khusus di Kantor Cabang PT Jamsostek yang berkedudukan di ibukota propinsi. b. Ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyisihan laba tersebut telah sesuai dengan Keputusan Menteri BUMN No. KEP236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 yang menetapkan batasan dana program kemitraan sebesar 1% - 3% dari seluruh laba setelah pajak sedangkan dana program bina lingkungan maksimum 1%. Penyisihan laba untuk program Bina Lingkungan yang mencapai 2% telah mendapat persetujuan Menteri BUMN melalui surat No.S498/MBU/2004 tanggal 17 September 2004. Sedangkan prosedur penyaluran dan besarnya dana yang diberikan kepada beberapa mitra binaan dan penerima hibah belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

2

BPK-RI/ AUDITAMA V

c. Anggaran dan realisasi PKBL Rencana penyaluran dana Program Kemitraan sebesar Rp22.500,00 juta yang akan disalurkan dalam bentuk pinjaman sebesar Rp18.000,00 juta kepada 600 mitra binaan, dan dalam bentuk hibah sebesar Rp4.500,00 juta kepada 2.040 mitra binaan. Realisasi penyaluran dana Program Kemitraan tahun 2004 sebesar Rp12.383,60 juta atau 55,04% dari anggaran sebesar Rp22.500,00 juta dengan rincian dalam bentuk pinjaman sebesar Rp9.981,50 juta untuk 505 mitra binaan dan hibah sebesar Rp2.402,10 juta untuk 96 mitra binaan. Sedangkan realisasi penyaluran dana Program Bina Lingkungan sebesar Rp9.517,10 juta atau 96,62% dari anggarannya sebesar Rp9.850,00 juta. 2. Sumber dan penggunaan dana Jumlah kumulatif sumber dana Program Kemitraan dari tahun 1989 s.d. 31 Desember 2004 sebesar Rp101.998,94 juta, sedangkan jumlah kumulatif penggunaan dana sebesar Rp81.253,84 juta. Sisa dana yang belum disalurkan per 31 Desember 2004 setelah dikurangi biaya-biaya operasional adalah sebesar Rp16.175,96 juta yang disimpan pada rekening bank dan deposito atas nama Biro DPKP/PUKK dan Kantor Wilayah/Kantor Cabang PT Jamsostek. Jumlah kumulatif sumber dana Program Bina Lingkungan s.d. 31 Desember 2004 sebesar Rp14.124,70 juta, sedangkan jumlah kumulatif penggunaan dana sebesar Rp13.065,90 juta. Sisa dana yang belum disalurkan per 31 Desember 2004 sebesar Rp1.314,13 juta yang disimpan pada rekening bank atas nama Biro DPKP/PUKK dan Kantor/ Wilayah/Kantor Cabang PT Jamsostek. 3. Laporan keuangan program kemitraan Laporan keuangan Program Kemitraan disajikan untuk tujuan analisis tambahan atas Laporan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan. Laporan keuangan Program Kemitraan tersebut telah menjadi objek prosedur audit yang kami terapkan dalam audit atas laporan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan, dan menurut pendapat kami, disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai dengan pedoman penyusunan laporan keuangan yang ditetapkan oleh Menteri BUMN. Laporan Keuangan Pokok Program Kemitraan terdiri dari Neraca, Laporan Aktivitas, Arus Kas dan Laporan Akumulasi Dana sebagai berikut: 3 BPK-RI/ AUDITAMA V

a. Neraca Program Kemitraan PT Jamsostek per 31 Desember 2004 dan 2003 ditutup dengan jumlah aktiva dan pasiva (kewajiban dan ekuitas) masing-masing sebesar Rp41.607,39 juta dan Rp48.857,02 juta. b. Laporan Aktivitas Program Kemitraan PT Jamsostek menunjukkan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 ditutup dengan posisi defisit sebesar Rp4.121,24 juta sedangkan per 31 Desember 2003 ditutup dengan posisi surplus sebesar Rp1.103,18 juta. c. Laporan Arus Kas Program Kemitraan PT Jamsostek untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003, ditutup dengan saldo kas dan setara kas sebesar Rp16.175,96 juta dan Rp10.433,51 juta. d. Laporan Akumulasi Dana Program Kemitraan PT Jamsostek untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004, ditutup dengan jumlah akumulasi sumber dan penyaluran dana sampai dengan tahun 2004 masing-masing sebesar Rp101.998,94 juta dan Rp81.253,84 juta. 4. Laporan keuangan program bina lingkungan Laporan keuangan Program Bina Lingkungan disajikan untuk tujuan analisis tambahan atas Laporan Program Bina Lingkungan. Laporan keuangan Program Bina Lingkungan tersebut telah menjadi objek prosedur audit yang kami terapkan dalam audit atas laporan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan, dan menurut pendapat kami, disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai dengan pedoman penyusunan laporan keuangan yang ditetapkan oleh Menteri BUMN. Laporan Keuangan Pokok Program Bina Lingkungan terdiri atas Laporan Aktivitas dan Laporan Akumulasi Dana sebagai berikut: a. Laporan Aktivitas Program Bina Lingkungan PT Jamsostek menunjukkan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 ditutup dengan posisi defisit sebesar Rp91,13 juta. b. Laporan Akumulasi Dana Program Bina Lingkungan PT Jamsostek untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004, ditutup dengan jumlah akumulasi sumber dan penyaluran dana sampai dengan tahun 2004 masing-masing Rp14.124,70 juta dan Rp13.065,90 juta.

4

BPK-RI/ AUDITAMA V

5. Hal-hal yang perlu diperhatikan. BPK-RI telah melakukan pemeriksaan atas laporan keuangan PKBL dan pengelolaan dana PKBL secara uji petik meliputi Kantor Pusat dan Kantor Wilayah beserta beberapa Kantor Cabang di sekitarnya. Hasil pemeriksaan menunjukkan hal-hal sebagai berikut : a. Prosedur penempatan deposito pada Bank Asiatic tidak dilakukan sesuai ketentuan sehingga Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan sebesar Rp263,01 juta. Biro DPKP/PKBL telah melakukan penempatan deposito berjangka pada Bank Asiatic sebesar Rp4.000,00 juta tanpa melakukan evaluasi atas penempatan tersebut. Berdasarkan pedoman pengelolaan PKBL, Kepala Biro DPKP/PKBL seharusnya melakukan evaluasi atas usulan penempatan deposito tersebut. Pada saat jatuh tempo deposito tersebut tidak dapat dicairkan dan terus diperpanjang, akan tetapi pada tanggal 8 April 2004 Bank Indonesia mencabut ijin usaha PT Bank Asiatic. Deposito beserta bunganya telah dicairkan pada tanggal 4 Maret 2005. Dengan demikian, dari tanggal 8 April 2004 s.d. 4 Maret 2005, Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek kehilangan kesempatan untuk memperoleh hasil investasi atas dana tersebut. Menggunakan asumsi tingkat bunga deposito penjaminan BI untuk jangka waktu satu bulan, Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek kehilangan kesempatan untuk memperoleh hasil investasi minimal sebesar Rp263,01 juta. Kondisi tersebut di atas mengakibatkan Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan bunga deposito sebesar Rp263,01 juta. Hal tersebut terjadi karena Biro DPKP/PKBL tidak mematuhi SK Menteri BUMN No.KEP-236/MBU/2003 dan SK Direksi No.KEP/169/102002 dengan tidak melakukan analisa penempatan deposito berjangka maupun evaluasi penempatan.

5

BPK-RI/ AUDITAMA V

b. Penempatan dana PKBL PT Jamsostek sebesar Rp4.252,00 juta di Bank Mandiri sebagai program Pemerintah tidak menguntungkan PT Jamsostek Sesuai dengan surat Menteri BUMN No.290/MBU/2004 tanggal 4 Juni 2004 kepada Direksi BUMN Pembina Program Kemitraan tentang Penjaminan Dana Program Kemitraan Untuk Kredit Usaha Mikro, sebagian dana Program Kemitraan BUMN Pembina agar ditempatkan sebagai dana jaminan pada bank-bank penyalur kredit usaha mikro. Dana yang ditempatkan sesuai ketentuan tersebut di atas dituangkan dalam perjanjian antara BUMN dengan pihak bank penyalur mengenai hak dan kewajiban serta tanggung jawab masing-masing pihak dengan memenuhi azas-azas formal. Berdasarkan pemeriksaan diketahui bahwa perjanjian No.DIR.PKS/011/2004 tanggal 18 Juni 2004 hanya menguntungkan pihak Bank Mandiri dan tidak menguntungkan PT Jamsostek. Hal tersebut mengakibatkan : 1) Dana penjaminan yang ditempatkan pada rekening giro belum sepenuhnya memberikan hasil yang maksimal dan tidak diketahui berapa hasil jasa gironya. 2) Jumlah dan nilai pinjaman nasabah kredit mikro yang dijamin oleh PT Jamsostek tidak dapat diketahui. 3) Apabila terjadi klaim, tidak dapat diketahui dana BUMN mana yang berkurang. 4) PT Jamsostek harus menanggung risiko penjaminan tanpa diimbangi dengan pendapatan atas risiko tersebut. Kondisi tersebut terjadi karena Biro PKBL PT Jamsostek dalam menandatangani perjanjian No.DIR.PKS/011/2004 tanggal 18 Juni 2004 belum sepenuhnya memperhatikan azas-azas formal perjanjian berkaitan dengan penentuan hak dan kewajiban serta tanggung jawab masing-masing pihak. c. Pengendalian penyaluran dana PKBL belum sepenuhnya tertib. Berdasarkan pemeriksaan atas rekening bank program Kemitraan, Bina Lingkungan dan DPKP diketahui bahwa Kantor Wilayah/Cabang belum sepenuhnya terpisah dalam menggunakan rekening 6 bank masing-masing program.

BPK-RI/ AUDITAMA V

Penggunaan/pengeluaran dana dari rekening bank tersebut dicatat sebagai Pos Sementara Dalam Penyelesaian (PSDP) masing-masing program. Atas hal tersebut, Biro DPKP/PKBL telah memberitahukan kepada Kantor Wilayah/Cabang untuk menyelesaikan masalah tersebut. Akan tetapi, penyelesaiannya perlu dipantau. Sesuai SK Menteri BUMN No.KEP-236/MBU/2003 tentang program kemitraan BUMN dengan usaha kecil dan program bina lingkungan tanggal 17 Juni 2003, pada pasal 8 point (6) menetapkan bahwa pembukuan dana PKBL dilaksanakan secara terpisah dari pembukuan BUMN Pembina. Dengan demikian seharusnya penyaluran/penggunaan dana program kemitraan dan bina lingkungan dipisahkan dengan program yang lain agar pengendalian dan penggunaan dana masing-masing program tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Kondisi di atas mengakibatkan adanya saldo PSDP PKBL sebesar Rp431,67 juta. Hal tersebut disebabkan kantor cabang/wilayah belum sepenuhnya tertib dalam penggunaan rekening bank program DPKP dan PKBL. d. Sistem pengendalian intern atas pengelolaan kas PKBL tidak memadai. Dalam rangka memperlancar operasional PKBL, Biro DPKP/PKBL mengelola kas dalam perusahaan. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2004, saldo kas program DPKP dan PKBL masing-masing sebesar Rp7,17 juta dan Rp1,76 juta. Berdasarkan pemeriksaan fisik kas yang dikelola oleh Biro DPKP/PKBL pada tanggal 9 Mei 2005 dapat disimpulkan bahwa sistem pengendalian intern pengelolaan kas oleh Biro DPKP/PKBL tidak memadai.
Hal tersebut mengakibatkan sistem pengendalian intern pengelolaan kas oleh Biro DPKP/PKBL tidak memadai dan terdapat peminjaman kas bon oleh beberapa staf Biro DPKP/PKBL sebesar Rp5,30 juta yang tidak segera diselesaikan.

7

BPK-RI/ AUDITAMA V

Hal tersebut disebabkan Biro DPKP/PKBL tidak tertib dalam pengelolaan kas perusahaan. e. Pengadaan ambulan tahun 2004 yang berasal dari dana PKBL tidak dianggarkan dalam RKA dan ketentuan beserta pelaksanaannya belum memadai Pada tahun 2004 telah diadakan mobil ambulan melalui penunjukan langsung kepada PT Sarandi Karya Nugraha (PT SKN) melalui lima Surat Perintah Kerja (SPK), dengan nilai pekerjaan sebesar Rp14.976,29 juta. Dari nilai pekerjaan itu terdapat dua SPK yang sumber dananya berasal dari DPKP dan PKBL, yaitu sebesar Rp900,76 juta. Sebesar Rp598,47 juta dibebankan pada dana PKBL. Berdasarkan hasil pemeriksaan atas pengadaan ambulan tersebut di atas diketahui beberapa hal sebagai berikut : − Pengadaan ambulan tidak dianggarkan dalam RKA tahun 2004 − Penunjukan PT SKN belum didukung dengan ketentuan yang memadai Kondisi di atas mengakibatkan : 1) Terjadinya pengeluaran dana diluar RKA yang telah disahkan dalam RUPS sebesar Rp598,47 juta. 2) Pengadaan ambulan belum sepenuhnya sesuai ketentuan. Hal tersebut terjadi karena : 1) Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek belum sepenuhnya mematuhi keputusan yang telah ditetapkan dan RUPS serta keputusan Direksi. 2) Pengawasan dan pengendalian anggaran oleh Biro DPKP/PKBL belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. 3) Pedoman pengadaan barang dan jasa PT Jamsostek belum mengatur secara rinci tentang syarat-syarat administrasi ketentuan.

8

BPK-RI/ AUDITAMA V

f. Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek belum memungut serta menyetorkan PPh pasal 23 atas pekerjaan jasa instalasi dan training dalam rangka pengadaan ambulan Program Bina Lingkungan. Berdasarkan pemeriksaan atas pengadaan ambulan diketahui bahwa Biro DPKP/PKBL tidak melakukan pemungutan PPh pasal 23 sebesar 15% kali Dasar Pemotongan Pajak (DPP) sebesar 40% atau tarif efektif sebesar 6% dari jumlah bruto, yaitu senilai Rp1,13 juta (DPKP sebesar Rp0,32 juta dan PKBL sebesar Rp0,81 juta). Hal ini mengakibatkan kehilangan penerimaan negara dari PPh 23 sebesar Rp0,81 juta yang tidak dipungut dan disetorkan dari transaksi PKBL. Keadaan ini terjadi karena Biro DPKP/PKBL belum sepenuhnya memahami dan melaksanakan ketentuan pajak yang berlaku.

g. Sistem pengendalian intern proyek pembangunan rumah baca belum sepenuhnya memadai. Berdasarkan notulen rapat rencana pembangunan rumah baca antara Deputi Menteri BUMN Bidang Logistik dan Pariwisata dengan 13 Direktur Utama BUMN tanggal 7 Januari 2004, Program Bina Lingkungan dalam tahun 2004 telah merencanakan pembangunan rumah baca di 20 lokasi yang berada di wilayah Kantor Cabang PT Jamsostek dengan anggaran sebesar Rp5.000,00 juta, dan telah direalisasikan di 17 Kantor Cabang dengan nilai sebesar Rp2.840,55 juta. Berdasarkan pemeriksaan atas dokumen terkait dengan proyek rumah baca diketahui hal-hal sebagai berikut : − Pembangunan rumah baca kurang direncanakan dengan baik. − Kepala Kantor Wilayah/Cabang yang melaksanakan pembangunan rumah baca belum membuat laporan pertanggungjawaban penggunaan dana. − Kantor Wilayah/Cabang yang melaksanakan pembangunan rumah baca tidak disiplin dan tertib dalam penggunaan dana. − Penanggung jawab beban pengelolaan rumah baca belum jelas.

9

BPK-RI/ AUDITAMA V

Hal tersebut mengakibatkan pertanggungjawaban penggunaan dana untuk pembagunan rumah baca belum sepenuhnya diyakini. Hal tersebut terjadi karena : 1) Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek tidak merencanakan secara memadai pembangunan rumah baca tersebut . 2) Kantor Cabang/Wilayah belum sepenuhnya tertib dalam penggunaan rekening bank program DPKP, program Kemitraan dan program Bina Lingkungan h. Pelaksanaan kegiatan Jamsostek peduli mudik lebaran yang dilaksanakan oleh PKBL belum sepenuhnya sesuai ketentuan. Dalam rangka kepedulian PT Jamsostek kepada tenaga kerja dan keluarganya yang akan merayakan Hari Raya Idul Fitri ke kampung halamannya, PT Jamsostek melalui PKBL melakukan kegiatan Jamsostek Peduli Mudik Lebaran (JPML). Dalam rangka kegiatan tersebut, Direktur Operasi dan Pelayanan melalui Memo No.44/DIROP/112004 tanggal 1 Nopember 2004 mengajukan proposal tentang JPML kepada Direktur Utama PT Jamsostek. Kegiatannya antara lain berupa pelayanan kesehatan/pengobatan cuma-cuma dan memberikan bingkisan kepada tenaga kerja yang sedang mudik. Memo tersebut disetujui oleh Direktur Utama sesuai disposisi tanggal 1 Nopember 2004. Berdasarkan hasil pemeriksaan atas kegiatan pelayanan kesehatan cuma-cuma mudik lebaran tersebut diketahui beberapa hal sebagai berikut : − Menurut dokumen yang ada, pada rencana kegiatan tidak diketahui berapa target pasien yang akan dilayani. − Terdapat selisih yang tidak dapat dipertanggungjawabkan karena seharusnya terdapat obat-obatan dan makanan kecil yang masih tersisa. − Terdapat perbedaan pembayaran atas biaya pengobatan di lokasi dengan yang dibayarkan kepada Dinas Kesehatan pada beberapa titik lokasi.

10

BPK-RI/ AUDITAMA V

Selain melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan cuma-cuma kepada pekerja yang mudik lebaran, juga dilaksanakan kegiatan berupa pemberian bingkisan kepada tenaga kerja yang sedang mudik dan panti asuhan, berupa paket mudik dan paket panti. Berdasarkan laporan distribusi atas paket yang telah disalurkan sebanyak 3.000 paket. Bingkisan yang masih tersisa berupa tas sebanyak 2.000 buah dan sarung sebanyak 1.975 buah. Keadaan tersebut mengakibatkan : 1) Tujuan penyelenggaraan program JPML belum sepenuhnya dapat tercapai. 2) Laporan pertanggungjawaban belum sepenuhnya dapat diyakini kewajarannya. Kondisi tersebut di atas disebabkan karena Pelaksana kegiatan tidak melaksanakan kegiatan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggungjawab. 6. Tindak lanjut hasil audit tahun sebelumnya a. Tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK-RI Masih terdapat empat temuan pemeriksaan BPK-RI tahun 2003 yang belum selesai ditindaklanjuti, yaitu : 1) Piutang macet mencapai 43,51% dari saldo pinjaman per 31 Desember 2003. 2) Pemberian pinjaman dana Program Kemitraan pada Kanwil III sebesar Rp890,00 juta tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 3) Penyaluran pinjaman sebesar Rp100,00 juta kepada Koperasi Serba Usaha DKI Jakarta diragukan kewajarannya 4) Terdapat penyaluran pinjaman kepada 27 mitra binaan yang tidak didukung dengan syarat kuantitatif, kualitatif dan kelengkapan dokumen Masih terdapat enam temuan pemeriksaan BPK-RI tahun 2002 yang belum selesai ditindaklanjuti, yaitu : 1) 2) Pengembalian pinjaman dana PUKK dari Koperasi Pondok Pesantren KH Abdurrahman Ambo Dalle sebesar Rp200,00 juta mengalami kemacetan. Pengembalian pinjaman dana PUKK dari Induk Koperasi Wirausaha Nasional sebesar Rp1.145,00 juta mengalami kemacetan. 11 BPK-RI/ AUDITAMA V

3) 4) 5)

Pengembalian pinjaman dana PUKK dari Koperasi Melati Muda sebesar Rp1.125,00 juta mengalami kemacetan. Pengembalian pinjaman dana PUKK dari Kopkar PT Kong Thai Indonesia Shoes Manufacturing sebesar Rp50,00 juta mengalami kemacetan. Penyaluran dana PUKK kepada Yayasan Pengembangan Agrobisnis Indonesia Timur sebesar Rp500,00 juta tidak diikat dengan perjanjian pinjaman dan pengembaliannya mengalami kemacetan.

6)

Tingkat penyaluran pinjaman kepada mitra binaan tahun 2002 masih rendah dan terdapat pinjaman PUKK yang macet per 31 Desember 2002 sebesar Rp17.187,73 juta atau sebesar 51,80% dari saldo pinjaman.

Atas permasalahan tersebut di atas, PT Jamsostek masih melakukan proses penyelesaian. b. Tindak lanjut hasil pemeriksaan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Masih terdapat temuan pemeriksaan BPKP tahun 2002 dan 2001 yang belum selesai ditindaklanjuti, yaitu : 1) Tahun 2002 a) Saldo piutang dalam laporan keuangan PUKK per 31 Desember 2002 belum akurat. b) Belum adanya petunjuk teknis atas Job Description yang telah dibakukan sehingga pelaksanaan tugas kurang optimal. c) Administrasi PUKK belum tertib. d) Terdapat penggunaan dana PUKK yang tidak sesuai dengan peruntukan dalam perjanjian pinjaman dan duplikasi pemberian pinjaman kepada mitra binaan yang sama. e) Penggunaan dana hibah di Cabang Sumatera Barat tidak sesuai dengan ketentuan. f) Saldo akhir dana per 31 Desember 2002 tidak seluruhnya didukung dengan bukti rekonsiliasi dan rekening koran.

12

BPK-RI/ AUDITAMA V

2) Tahun 2001 a) Pemberian modal kerja kepada YPAIT di Makasar sebesar Rp 500,00 juta tidak diikat dengan perjanjian. b) Pinjaman modal kerja kepada 2 mitra binaan ternyata kegiatannya macet, yaitu CV Mulya Ternak dengan surat perjanjian No.92/PUKK/0699 tanggal 14 Juni 1999 dan CV Awali dengan surat perjanjian No.94/PUKK/0699 tanggal 14 Juni 1999 masing-masing sebesar Rp20,00 juta. c) Pinjaman PUKK yang realisasi penggunaannya tidak sesuai dengan proposal, yaitu pinjaman kepada pengrajin keramik Kasongan Subur Ceramics sebesar Rp300,00 juta. d) Terdapat penyaluran pinjaman dana PUKK yang angsurannya macet yaitu kepada CV Margasari Utama sebesar Rp112,50 juta, CV Atam’s Cipta Sarana sebesar Rp20,00 juta, dan Apotek Tri Mulya sebesar Rp10,00 juta Atas permasalahan tersebut di atas, PT Jamsostek masih melakukan proses penyelesaian. 7. Rekomendasi Terhadap permasalahan di atas, BPK-RI merekomendasikan agar : a. Berkaitan dengan penempatan deposito dana program kemitraan, Direksi PT Jamsostek dalam penempatan dananya senantiasa berpedoman pada ketentuan yang berlaku dan menyusun kebijakan, sistem dan prosedur investasi PKBL yang terintegrasi dengan kebijakan, system, dan prosedur investasi yang dilakukan oleh Direktorat Investasi PT Jamsostek. b. Berkaitan dengan program penjaminan KUM-LTA, Direksi PT Jamsostek meminta arahan Menteri BUMN untuk mendapat kejelasan mengenai hak dan kewajiban PT Jamsostek dan PT Bank Mandiri dalam program KUM-LTA ini. c. Berkaitan dengan penyelesaian PSDP, Direksi PT Jamsostek melalui Biro DPKP/PKBL menginstruksikan kembali kepada Kanwil dan KC agar menggunakan rekening bank DPKP, rekening Program Kemitraan dan rekening program Bina Lingkungan secara terpisah dan menyelesaikan PSDP yang ada di Kanwil dan KC dimaksud.

13

BPK-RI/ AUDITAMA V

d. Berkaitan dengan pengelolaan kas, Direksi PT Jamsostek menata kembali fungsi pengelolaan kas pada Biro DPKP/PKBL, agar diperoleh pengendalian intern yang memadai, selain itu menginstruksikan kepada pihak pengelola kas agar menjalankan fungsinya dengan tertib. e. Berkaitan dengan pelaksanaan pengadaan ambulan : 1) Direksi PT Jamsostek mempertanggungjawabkan pengeluaran dana di luar RKA kepada pemegang saham. 2) Direksi PT Jamsostek senantiasa melakukan pengawasan dan pengendalian atas anggaran yang telah ditetapkan. 3) Melakukan revisi atas Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa PT Jamsostek yang belum mengatur secara rinci tentang syarat-syarat administrasi dari penyedia barang yang ditunjuk melalui penunjukan langsung. f. Berkaitan dengan pengenaan PPh pasal 23, Direksi PT Jamsostek memperhitungkan PPh pasal 23 terhutang tersebut dengan tagihan pada termin/pelunasan berikutnya. Menginstruksikan kepada Biro DPKP/PKBL agar memahami dan melaksanakan dengan sungguh-sungguh ketentuan-ketentuan yang berlaku di lingkup kegiatan organisasinya. g. Berkaitan dengan pembangunan dan pengelolaan rumah baca: 1) Sebelum melaksanakan suatu kegiatan senantiasa didahului dengan perencanaan yang baik, seperti menentukan jumlah yang akan diadakan dan disesuaikan dengan RKA, bagaimana cara pengadaannya, dan pengelolaannya, sehingga terbangun suatu sistem pengendalian intern yang memadai atas pembangunan rumah baca. 2) Melalui Biro DPKP/PKBL meminta pertanggungjawaban pembangunan rumah baca kepada KC yang belum melaporkan pertanggungjawabannya dan meneliti lebih lanjut penggunaan dana untuk rumah baca yang masih diragukan pertanggungjawabannya pada Kantor Cabang Makassar. 3) Menginstruksikan kepada Kantor Wilayah/Cabang agar selalu tertib dalam penggunaan rekening bank Program DPKP, Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan yang sudah dipisahkan.

14

BPK-RI/ AUDITAMA V

4) Membuat kejelasan atas penanggungjawab beban pengelolaan rumah baca tersebut. h. Berkaitan dengan kegiatan peduli mudik, Direksi PT Jamsostek dalam melaksanakan kegiatan baik pada PKBL maupun DPKP yang dikelola dalam satu unit kerja, direncanakan dan dikoordinasikan dengan cermat dan baik untuk menghindari terjadinya pemborosan biaya, serta dalam pelaksanaannya supaya berpedoman pada ketentuan dan peraturan yang berlaku, sehingga kegiatan tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Atas sisa kegiatan paket mudik lebaran yaitu paket ibadah dan pendidikan agar segera ditentukan langkah selanjutnya. i. Berkaitan dengan temuan audit tahun sebelumnya, Direksi mengupayakan secara optimal penyelesaiannya, baik atas temuan BPK-RI maupun BPKP. Auditor Utama Keuangan Negara V Penanggung Jawab Audit,

Drs. Misnoto, Ak, MA Register Negara No. D – 1416 Jakarta, 29 April 2005

15

BPK-RI/ AUDITAMA V

URAIAN HASIL AUDIT

1. Dasar Penugasan a. Undang-undang Dasar 1945, pasal 23 E, 23 F dan 23 G; b. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1973 tentang Badan Pemeriksa Keuangan; c. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. d. Surat Tugas Badan Pemeriksa Keuangan No.71/ST/VII-XV.3/10/2004 tanggal 5 Oktober 2004, perihal Audit atas Laporan Keuangan PT Jamsostek (Persero), Program Kemitraan dan Bina Lingkungan, dan Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta Tahun Buku 2004 di Kantor Pusat Jakarta dan Kantor Wilayah/Cabang di Jakarta dan Daerah; e. Surat Tugas Badan Pemeriksa Keuangan No.20/ST/VII-XV.3/01/2005 tanggal 19 Januari 2005, perihal penugasan untuk melakukan audit atas Laporan Keuangan PT Jamsostek (Persero) Tahun Buku 2004 serta Program Kemitraan dan Bina Lingkungan dan Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta Tahun Buku 2004 di Kantor Pusat Jakarta.

2. Sifat dan Tujuan Audit Pemeriksaan yang kami lakukan merupakan pemeriksaan operasional atas pengelolaan PKBL dengan tujuan untuk menilai efektivitas dan efisiensi pengelolaan PKBL, menilai kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, menilai keakuratan dan kesesuaian laporan keuangan terhadap prinsip akuntansi yang berlaku umum, serta memberi rekomendasi perbaikan.

3. Ruang Lingkup dan Periode Audit Ruang lingkup kegiatan pemeriksaan mencakup laporan keuangan dan pengelolaan PKBL yang dilaksanakan oleh PT Jamsostek selaku BUMN Pembina. BPK-RI melakukan pemeriksaan secara uji petik meliputi Kantor Pusat dan Kantor Wilayah beserta beberapa Kantor Cabang di sekitarnya. 16 BPK-RI/ AUDITAMA V

Pemeriksaan atas Pengelolaan PKBL dilakukan untuk periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2004.

4. Organisasi Berdasarkan Keputusan Direksi PT Jamsostek No.130/092000 tanggal 11 September 2000 tentang Struktur Organisasi Kantor Pusat PT Jamsostek menetapkan bahwa Direktur Utama PT Jamsostek bertanggung jawab secara langsung urusan DPKP dan PUKK. Selanjutnya, berdasarkan Surat Keputusan Direksi PT Jamsostek No.KEP/97/082001 tanggal 20 Agustus 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja PT Jamsostek ditetapkan sebagai berikut: a. Kepala Biro DPKP/PUKK bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama. b. Kepala Biro DPKP/PUKK membawahi tiga Kepala Urusan: 1) Kepala Urusan DPKP; 2) Kepala Urusan PUKK; 3) Kepala Urusan Administrasi Keuangan. c. Kepala Urusan membawahi beberapa staf dengan tugas sebagai berikut : 1) Administrator Beasiswa dan Bantuan Fasilitas Kesehatan; 2) Administrator Papan dan Permodalan; 3) Administrator Koperasi dan Usaha Kecil; 4) Administrator Bina Lingkungan Usaha; 5) Pembukuan DPKP; 6) Pembukuan PUKK; 7) Administrasi Umum dan Dokumentasi; 8) Kasir DPKP/PUKK.

5. Tujuan Program Berdasarkan Keputusan Menteri BUMN No.KEP-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 dinyatakan bahwa :

17

BPK-RI/ AUDITAMA V

1) Program Kemitraan BUMN dengan usaha kecil yang selanjutnya disebut Program Kemitraan adalah program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. 2) Program Bina Lingkungan adalah program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN di wilayah usaha BUMN tersebut melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. 6. Dasar Hukum dan Kebijakan Penetapan dan Penggunaan Dana a. Keputusan Menteri Keuangan RI No.316/KMK.016/1994 tanggal 27 Juni 1994 tentang Pedoman Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi melalui dana dari Bagian Laba BUMN dan Keputusan Menteri Keuangan RI No.60/KMK.016/1996 tanggal 9 Pebruari 1996 tentang perubahan pasal 3 Keputusan Menteri Keuangan RI No.316/KMK.016/1994 tanggal 27 Juni 1994. Berdasarkan keputusan tersebut, BUMN diwajibkan melakukan pembinaan terhadap usaha kecil dan koperasi dengan menggunakan dana yang bersumber dari: 1) Bagian Pemerintah atas laba BUMN sebesar 1% - 3% dari seluruh laba perusahaan setelah pajak. 2) Pengembalian pinjaman dan bunga dari mitra binaan. 3) Hasil bunga yang berasal penempatan dana pembinaan yang belum disalurkan. b. Keputusan Menteri Negara Pemberdayaan BUMN/ Kepala Pembina BUMN No.Kep216/P-BUMN/1999 tanggal 28 September 1999 tentang Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (KBL) BUMN. c. Berdasarkan Keputusan Menteri BUMN No.KEP-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 dinyatakan bahwa ketentuan-ketentuan tersebut di atas tidak berlaku mulai tanggal 17 Juni 2003, selanjutnya dana Program Kemitraan bersumber dari : 1) Penyisihan laba setelah pajak sebesar 1 % - 3%. 2) Hasil bunga pinjaman, bunga deposito dan atau jasa giro dari dana Program Kemitraan setelah dikurangi beban operasional. 3) Pelimpahan dana Program Kemitraan dari BUMN lain, jika ada. 18 BPK-RI/ AUDITAMA V

Sedangkan dana program Bina Lingkungan bersumber dari : 1) Penyisihan laba setelah pajak maksimal sebesar 1%. 2) Hasil bunga deposito dan atau jasa giro dari dana Program Bina Lingkungan. d. Berdasarkan Keputusan Menteri BUMN No.KEP-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 dinyatakan bahwa ketentuan-ketentuan tersebut di atas tidak berlaku mulai tanggal 17 Juni 2003, selanjutnya dana Program Kemitraan dapat disalurkan dalam bentuk : 1) Pinjaman untuk membiayai modal kerja dan atau pembelian aktiva tetap dalam rangka meningkatkan produksi dan penjualan 2) Pinjaman khusus 3) Hibah. Sedangkan dana Program Bina Lingkungan disalurkan dalam bentuk : 1) Korban bencana alam 2) Pendidikan dan atau pelatihan 3) Peningkatan kesehatan 4) Pengembangan prasarana dan sarana umum 5) Sarana ibadah 7. Anggaran dan Realisasi Program a. Evaluasi Anggaran Kemitraan 1) Evaluasi Sumber Dana Realisasi sumber dana Program Kemitraan Tahun 2004 adalah sebesar Rp32.998,84 juta atau 108,70 % dari anggaran sebesar Rp30.357,00 juta, dengan rincian sebagai berikut:

19

BPK-RI/ AUDITAMA V

(dalam jutaan rupiah) No. 1 1 Uraian 2 Sumber Dana Pembinaan: a. Saldo Awal b. Bagian Laba c. Penerimaan Jasa Giro & Budep (net) d. Penerimaan Lain-Lain Sub Jumlah 1 Sumber Dana Pengembalian: a. Pengembalian Pokok Pinjaman b. Pengembalian Bunga Pinjaman Sub Jumlah 2 TOTAL Realisasi 2003 3 Tahun 2004 Anggaran Realisasi 4 5 (%) 6 (5:4) 7 (5:3)

8.714,64 9.826,65 666,91 0,00 19.208,20 5.597,01 761,55 6.358,56 25.566,76

5.427,00 15.000,00 700,00 0,00 21.127,00 8.505,00 725,00 9.230,00 30.357,00

10.628,82 14.986,59 449,42 214,48 26.179,31 6.045,89 773,64 6.819,53 33.098,84

195,85 99,91 49,92 123,93 71,09 106,71 73,88 108,70

121,91 152.51 52,39 136,29 108,02 101,59 107,25 129,07

2

Tingginya realisasi sumber dana tersebut disebabkan adanya kenaikan saldo awal. 2) Penetapan Wilayah Binaan a) Propinsi wilayah binaan PT Jamsostek sejak tahun 1991 s.d. 1994 ditetapkan oleh Tim Kantor Pusat dan belum ada pengaturan pembagian wilayah binaan. b) Sejak tahun 1995 telah diatur provinsi wilayah binaan setiap BUMN oleh Menteri Keuangan dan wilayah binaan untuk PT Jamsostek, penetapan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan jumlah propinsi wilayah binaan. c) PT Jamsostek dalam tahun 2004 mendapat penugasan untuk 29 propinsi dengan alokasi dana sebagai berikut:

20

BPK-RI/ AUDITAMA V

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29

Provinsi NAD Sumut Sumbar Riau Sumsel Babel Jambi Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DIY Jawa Timur Bali NTB NTT Kaltim Kalteng Kalsel Kalbar Sulsel Sulut Sulteng Sultra Gorontalo Maluku Papua Kantor Pusat Jumlah

Pinjaman 600.000.000 1.200.000.000 900.000.000 600.000.000 900.000.000 2.700.000.000 1.200.000.000 900.000.000 600.000.000 1.200.000.000 600.000.000 600.000.000 600.000.000 1.200.000.000 900.000.000 900.000.000 600.000.000 300.000.000 900.000.000 300.000.000 300.000.000 18.000.000.000

Penetapan Alokasi (Rp) Hibah Biaya Ops. 103.750.000 217.500.000 333.750.000 252.500.000 101.250.000 57.500.000 187.500.000 106.250.000 107.500.000 186.250.000 138.750.000 70.000.000 221.250.000 57.500.000 105.000.000 55.000.000 55.000.000 55.000.000 223.750.000 103.750.000 220.000.000 60.000.000 392.500.000 146.250.000 55.000.000 43.750.000 62.500.000 43.750.000 43.750.000 693.750.000 4.500.000.000 22.500.000 56.500.000 107.750.000 72.000.000 21.500.000 8.750.000 46.000.000 24.000.000 24.250.000 42.500.000 25.000.000 14.250.000 58.000.000 8.750.000 23.000.000 7.500.000 7.500.000 7.500.000 59.250.000 22.500.000 57.250.000 10.000.000 134.000.000 28.000.000 7.500.000 2.500.000 11.250.000 2.500.000 2.500.000 85.500.000 1.000.000.000

Jumlah 726.250.000 1.474.000.000 441.500.000 324.500.000 1.022.750.000 666.250.000 233.500.000 1.030.250.000 131.750.000 2.928.750.000 1.363.750.000 984.250.000 279.250.000 666.250.000 1.328.000.000 662.500.000 662.500.000 662.500.000 1.483.000.000 1.026.250.000 277.250.000 970.000.000 526.500.000 174.250.000 662.500.000 346.250.000 973.750.000 346.250.000 346.250.000 779.250.000 23.500.000.000

3)

Evaluasi Penggunaan Dana Realisasi penggunaan dana Program Kemitraan tahun 2004 adalah sebagai berikut :
(dalam jutaan rupiah) No. 1 1 Pinjaman: a. b. c. d. e. f. g. h. Industri Perdagangan Pertanian Peternakan Perkebunan Perikanan Jasa Lainnya Sub Jumlah 1 2.151,00 3.761,00 0,00 1.086,50 60,00 257,50 1.528,00 4.046,50 12.890,50 3.780,00 6.480,00 900,00 180,00 180,00 360,00 5.220,00 900,00 18.000,00 1.821,00 3.130,50 0,00 765,00 75,00 355,50 1.291,00 2.543,50 9.981,50 425,00 41,67 98,61 24,73 282,56 55,45 48,17 48,32 84,66 83,25 0,00 70,38 125,00 137,60 84,49 62,84 77,42 Uraian 2 Realisasi Tahun 2003 3 Tahun 2004 Anggaran 4 Realisasi 5 % 6 (5:4) Persentase % 7 (5:3)

21

BPK-RI/ AUDITAMA V

2

Hibah Pendidikan & a. Pelatihan Pemasaran & b. Promosi c. d. Pemagangan Penelitian & Pengembangan Sub Jumlah 2 TOTAL

1.422,06 300,11 0,00 0,00 1.722,17 14.612,67

2.260,00 1.740,00 0,00 500,00 4.500,00 22.500,00

956,16 1.445,94 0,00 0,00 2.402,10 12.383,60

42,30 83,10 53,38 55,04

67,23 481,83 139,49 84,73

Dari tabel di atas diketahui bahwa realisasi penyaluran dana Program Kemitraan tahun 2004 adalah sebesar Rp12.383.596.068,00 atau baru mencapai 55,04% dari anggaran yang telah ditetapkan sebesar Rp22.500.000.000,00. Masih minimumnya realisasi tersebut disebabkan : a) Kantor Wilayah/Cabang Pembina belum seluruhnya memiliki petugas yang khusus menangani Program Kemitraan. b) Belum adanya ketentuan penilaian kinerja yang konkrit bagi Kantor Pembina Program Kemitraan yang berhasil. c) Kantor Pembina terlalu berhati-hati dan selektif dalam menyalurkan pinjaman, mengingat kemacetan. 4) Evaluasi Penggunaan Dana Berdasarkan Wilayah Binaan a) Penyaluran Dana Pinjaman Realisasi penyaluran dana pinjaman berdasarkan wilayah binaan tahun 2004 adalah sebagai berikut: banyak penyaluran pinjaman tahun sebelumnya mengalami

22

BPK-RI/ AUDITAMA V

(dalam jutaan rupiah) No. 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 Provinsi Wilayah Binaan 2 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Sumatera Selatan Bangka Belitung Jambi Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali NTB NTT Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Papua Jumlah Realisasi 2003 3 750,00 1.043,50 606,00 750,00 4.289,00 562,50 319,50 150,00 1.015,00 55,50 140,00 999,00 750,00 750,00 10,00 208,00 493,00 12.890,50 4 600,00 1.200,00 900,00 600,00 900,00 2.700,00 1.200,00 900,00 600,00 1.200,00 600,00 600,00 600,00 1.200,00 900,00 900,00 600,00 300,00 900,00 300,00 300,00 18.000,00 Tahun 2004 Anggaran Realisasi 5 535,00 587,00 355,00 690,00 915,00 325,00 800,00 362,00 800,00 160,00 95,00 1.188,00 735,00 877,00 545,00 300,00 712,50 9.981,50 Persentase % 6 (5:4) 89,17 48,92 39,44 115,00 101,67 12,04 66,67 40,22 133,33 13,33 15,83 99,00 81,67 97,44 90,83 100,00 79,17 55,45 % 7 (5:3) 71,33 56,23 122,00 142,10 113,13 285,71 77,43

Dari tabel di atas diketahui hal-hal sebagai berikut: (1) Realisasi penyaluran pinjaman Program Kemitraan Tahun 2004 sebesar Rp9.981.500.000,00 atau baru mencapai 55,45% dari anggaran sebesar Rp18.000.000.000,00. (2) Propinsi wilayah binaan yang belum menyalurkan dana pinjaman Program Kemitraan per 31 Desember 2004 adalah NTB, NTT, Maluku, dan Papua.

23

BPK-RI/ AUDITAMA V

b) Penyaluran Dana Hibah Realisasi penyaluran dana hibah tahun 2004 adalah sebagai berikut :
(dalam jutaan rupiah) No.
1

Provinsi W ilayah Binaan
2

Realisasi Tahun 2004 Tahun 2003 Anggaran Realisasi
3 4 5

%

Persentase %
7 (5:3)

6 (5:4)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Sumatera Selatan Kep. Bangka Belitung Jambi Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali NT B NT T Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Papua Kantor Pusat Jumlah

31,72 145,78 236,95 202,02 7,75 104,37 50,00 133,25 169,68 15,78 17,95 174,59 0,51 7,39 89,08 21,64 302,40 -

11,30 1.722,16

103,75 217,50 333,75 252,50 101,25 57,50 187,50 106,25 107,50 186,25 138,75 70,00 221,25 57,50 105,00 55,00 55,00 55,00 223,75 103,75 220,00 60,00 392,50 146,25 55,00 43,75 62,50 43,75 43,75 693,75 4.500,00

91,40 21,39 69,89 243,15 21,34 5,20 113,85 66,00 100,49 206,15 49,36 60,33 54,15 59,74 35,59 54,70 14,41 20,88 147,86 80,84 65,08 46,67 194,67 32,81 56,95 489,19 2.402,09

88,10 9,83 20,94 96,30 21,08 9,04 60,72 62,12 93,48 110,68 35,57 86,19 24,47 103,90 33,90 99,45 26,20 37,96 66,08 77,92 29,58 77,78 49,60 74,99 91,12 70,51 53,38

14,67 29,50 120,36 109,08 132,00 75,41 31,02 28.992,16 1.093,91 73,06 215,67 -

4.329,12 139,48

Dari tabel di atas diketahui bahwa wilayah binaan yang belum menyalurkan dana hibah Program Kemitraan pada tahun 2004 adalah Propinsi Sulut, Sulteng, Maluku, dan Papua.

24

BPK-RI/ AUDITAMA V

5)

Evaluasi Beban Operasional Realisasi Beban Operasional Program Kemitraan Tahun 2004 adalah sebesar Rp563.262.325,10 atau 56,33% dari anggarannya sebesar Rp1.000.000.000,00. Rincian biaya operasional masing-masing provinsi wilayah binaan sebagai berikut:
(dalam ribuan rupiah)
No. 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Provinsi Wilayah Binaan 2 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Sumatera Selatan Kep. Bangka Belitung Jambi Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali NTB NTT Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Papua Kantor Pusat Jumlah Realisasi Tahun 2003 3 10.271 36.721 37.419 16.195 8.716 1.965 11.902 12.741 17.305 26.801 10.680 83.889 4.728 17.030 2.298 27.956 153.876 4 22.500 56.500 107.750 72.000 21.500 8.750 46.000 24.000 24.250 42.500 25.000 14.250 58.000 8.750 23.000 7.500 7.500 7.500 59.250 22.500 57.250 10.000 134.000 28.000 7.500 2.500 11.250 2.500 2.500 85.500 1.000.000 Tahun 2004 Anggaran Realisasi 5 27.556 2.985 67.453 17.771 7.131 2.436 15.027 20.148 2.758 19.728 5.133 1.405 16.114 11.329 13.062 474 739 405 29.362 9.221 6.514 7.286 60.234 9.636 160 2.546 11.530 195.119 563.262 Persentase % 6 (5:4) 122,47 5,28 62,60 24,68 33,17 27,84 32,67 83,95 11,37 46,42 20,53 9,86 27,78 129,47 56,79 6,32 9,85 5,40 49,56 40,98 11,38 72,86 44,95 34,41 2,13 101,84 102,49 228,21 56,33 % 7 (5:3) 268,29 8,13 180,26 109,73 158,14 15,94 48,06 172,41 401,26 23,30 39,14 -

199.811 680.304

97,65 82,80

25

BPK-RI/ AUDITAMA V

Biaya Operasional tersebut digunakan oleh Kantor Pusat dan Kantor Wilayah/ Cabang dalam rangka proses penyaluran dan pembinaan kepada mitra binaan untuk kegiatan: a) Melakukan survei lapangan atas proposal yang masuk untuk dilakukan kajian atas proposal calon mitra binaan tersebut. b) Melakukan penagihan terhadap mitra binaan yang bermasalah dan macet pengembaliannya. c) Melakukan kunjungan berkala dalam rangka pembinaan berkesinambungan kepada mitra binaan oleh Kantor Pusat maupun Kantor Wilayah/Cabang d) Mengikuti rapat koordinasi di forum koordinasi di tingkat I, II dan Pusat. e) Kegiatan pembinaan khususnya terhadap mitra binaan yang menunggak pembayaran angsuran dan belum diketahui penyebabnya. Kegiatan ini belum dilakukan dengan optimal karena terbatasnya biaya operasional kemitraan yang ada saat ini. f) Penerapan aplikasi Program Kemitraan di Kantor Wilayah dan Kantor Cabang sesuai dengan wilayah binaan yang telah ditetapkan. 6) Evaluasi Tingkat Kolektibilitas a) Akumulasi Penyaluran Pinjaman Akumulasi penyaluran pinjaman pokok dan bunga berdasarkan sektor sampai dengan 31 Desember 2004 adalah sebesar Rp78.724.036.495,69 dengan rincian sebagai berikut:
NO SEKTOR POKOK 1 2 3 4 5 6 7 8 INDUSTRI PERDAGANGAN PERTANIAN PETERNAKAN PERKEBUNAN PERIKANAN JASA LAINNYA TOTAL 10.526.626.752,00 25.011.875.666,67 2.911.700.000,00 2.313.000.000,00 157.500.000,00 1.368.217.000,00 28.386.113.333,00 828.500.000,00 71.503.532.751,67 PINJAM AN BUNGA 1.008.989.128,20 2.443.675.477,50 268.924.200,00 278.679.000,00 21.168.750,00 156.675.780,00 2.945.618.658,32 96.772.750,00 7.220.503.744,02

JUM LAH 11.535.615.880,20 27.455.551.144,17 3.180.624.200,00 2.591.679.000,00 178.668.750,00 1.524.892.780,00 31.331.731.991,32 925.272.750,00 78.724.036.495,69

26

BPK-RI/ AUDITAMA V

b) Akumulasi Pengembalian Angsuran Pinjaman Akumulasi pengembalian angsuran pinjaman pokok dan bunga berdasarkan sektor usaha sampai dengan 31 Desember 2004 adalah sebesar Rp33.331.097.261,70 dengan rincian sebagai berikut:
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 SEKTOR INDUSTRI PERDAGANGAN PERTANIAN PETERNAKAN PERKEBUNAN PERIKANAN JASA LAINNYA TOTAL POKOK 5.002.229.255,54 8.459.451.843,89 1.061.575.525,47 253.866.775,95 42.501.366,00 360.563.014,99 14.526.659.027,00 117.801.479,49 29.824.648.288,32 ANGSURAN BUNGA 512.604.916,94 1.039.183.327,62 121.630.480,40 48.416.861,36 5.090.415,99 42.929.555,69 1.720.545.928,17 16.047.487,21 3.506.448.973,38

JUMLAH 5.514.834.172,48 9.498.635.171,51 1.183.206.005,87 302.283.637,31 47.591.781,99 403.492.570,68 16.247.204.955,17 133.848.966,70 33.331.097.261,70

c) Total Sisa Pinjaman Total sisa pinjaman pokok dan bunga sebesar Rp45.392.939.233,99 terdiri dari saldo pinjaman yang belum dan telah jatuh tempo, serta pinjaman bermasalah berdasarkan sektor usaha dengan rincian sebagai berikut:
POKOK 1 2 3 4 5 6 7 8 INDUSTRI PERDAGANGAN PERTANIAN PETERNAKAN PERKEBUNAN PERIKANAN JASA LAINNYA TOTAL 5.524.397.496,46 16.552.423.822,78 1.850.124.474,53 2.059.133.224,05 114.998.634,00 1.007.653.985,01 13.859.454.306,00 710.698.520,51 41.678.884.463,35 BUNGA 496.384.211,26 1.404.492.149,88 147.293.719,60 230.262.138,64 16.078.334,01 113.746.224,31 1.225.072.730,15 80.725.262,79 3.714.054.770,64 JUMLAH 6.020.781.707,72 17.956.915.972,67 1.997.418.194,13 2.289.395.362,69 131.076.968,01 1.121.400.209,32 15.084.527.036,15 791.423.783,30 45.392.939.233,99

d) Pinjaman Bermasalah Total sisa pinjaman yang telah direklasifikasikan sebagai pinjaman bermasalah sebanyak 234 mitra binaan dengan jumlah sebesar Rp5.001.547.899,00 dengan rincian sebagai berikut: 27 BPK-RI/ AUDITAMA V

NO

SEKTOR POKOK

PINJAMAN BERMASALAH BUNGA

JUMLAH

A Hasil Pemeriksaan Khusus BPKP Industri Jasa Lainnya Perdagangan Perikanan Jumlah B Rekomendasi Kantor Meneg BUMN Industri Jasa Lainnya Perdagangan Perikanan Peternakan Jumlah C Penyerahan ke KP2LN Industri Jasa Lainnya Perdagangan Perikanan Peternakan Jumlah Total

147.620.000,00 152.250.000,00 10.000.000,00 309.870.000,00

8.857.200,00 9.135.000,00 600.000,00 18.592.200,00

156.477.200,00 161.385.000,00 10.600.000,00 328.462.200,00

42.000.000,00 273.333.334,00 51.666.667,00 625.633.334,33 44.166.666,67 1.036.800.002,00

3.587.500,00 22.831.250,00 4.475.000,00 72.206.250,00 4.287.500,00 107.387.500,00

45.587.500,00 296.164.584,00 56.141.667,00 697.839.584,33 48.454.166,67 1.144.187.502,00

142.500.000,00 242.425.000,00 217.457.000,00 2.168.872.962,00 548.178.333,00 84.900.000,00 3.404.333.295,00 4.751.003.297,00

7.620.000,00 11.892.000,00 2.580.000,00 81.936.900,00 20.536.002,00 124.564.902,00 250.544.602,00

150.120.000,00 254.317.000,00 220.037.000,00 2.250.809.862,00 568.714.335,00 84.900.000,00 3.528.898.197,00 5.001.547.899,00

e) Kolektibilitas Pengembalian Pinjaman (1) Aging Schedule Saldo Pinjaman per 31 Desember 2004 dapat dirinci sebagai berikut:
No Uraian Pokok 18.234.512.227,53 88.997.230,53 2.107.424.455,36 1.966.836.799,98 19.281.113.749,95 23.444.372.235,82 41.678.884.463,35 Bunga 2.014.428.035,45 6.387.751,68 148.288.358,27 185.541.371,82 1.359.409.253,42 1.699.626.735,19 3.714.054.770,64 Jumlah 20.248.940.262,98 95.384.982,21 2.255.712.813,63 2.152.378.171,80 20.640.523.003,37 25.143.998.971,01 45.392.939.233,99

1 Belum Jatuh Tempo 2 Pinjaman Telah Jatuh Tempo a. Lancar b. Kurang Lancar c. Ragu-Ragu d. Macet Jumlah Pinjaman Jatuh Tempo Total Sisa Pinjaman

28

BPK-RI/ AUDITAMA V

(2) Rata-rata Tertimbang Kolektibilitas Pinjaman adalah sebagai berikut:
No. Uraian Perhitungan Kolektibilitas Pinjaman Bobot (%) Nilai x Bobot Nilai (Rp) 20.248.940.262,98 95.384.982,21 2.255.712.813,63 2.152.378.171,80 20.640.523.003,37 25.143.998.971,01 45.392.939.233,99 100 100 75 50 20.248.940.262,98 95.384.982,21 1.691.784.610,22 1.076.189.085,90 2.863.358.678,33 23.112.298.941,31

1 Pinjaman Belum Jatuh Tempo 2 Pinjaman Telah Jatuh Tempo: a. Lancar b. Kurang Lancar c. Ragu-Ragu d. Macet Sub Jumlah Jumlah

(3) Tingkat Kolektibilitas Pinjaman
Rata-rata Tertimbang Kolektibilitas Pinjaman Jumlah Pinjaman 23.112.298.941,31 45.392.939.233,99
= 50,92%

x 100%

x 100%

b.

Evaluasi Pencapaian RKA Program Bina Lingkungan 1) Evaluasi Sumber Dana Sumber dana Program Bina Lingkungan diperoleh dari penyisihan laba PT Jamsostek ditambah dengan sisa dana Program Bina Lingkungan tahun sebelumnya. a) Penyisihan Laba PT Jamsostek
No. 1 2 3 Laba Tahun Buku 2001 2002 2003 Jumlah % 0,25 0,25 2,00 Jumlah Laba (Rp) 320.665.441.193,00 982.665.418.943,00 535.235.395.549,00 1.838.566.255.685,00 Penyisihan Laba PBL (Rp) 828.901.500,00 2.500.000.000,00 10.704.708.000,00 14.033.609.500,00

29

BPK-RI/ AUDITAMA V

Berdasarkan RUPS atas Laporan Keuangan PT Jamsostek tahun buku 2003, ditetapkan alokasi penyisihan laba untuk Program Bina Lingkungan 1% dari laba PT Jamsostek Rp5.352.354.000,00. Selanjutnya berdasarkan Surat Menteri BUMN No.S-498/MBU/2004 Tanggal 17 September 2004, alokasi penyisihan laba untuk Program Bina Lingkungan dinaikkan menjadi 2% dari laba PT Jamsostek tahun 2003 Rp535.235.395.549,00 atau sebesar Rp10.704.708.000,00. Kenaikan alokasi penyisihan laba tersebut disebabkan adanya penambahan program, yaitu Pembangunan Rumah Baca bagi masyarakat. b) Dana Tersedia Jumlah dana tersedia untuk Program Bina Lingkungan tahun anggaran 2004 adalah sebesar Rp10.835.293.517,00. Jumlah dana tersebut berasal dari sisa dana Program Bina Lingkungan tahun 2003 ditambah dengan penyisihan laba tahun berjalan dengan rincian sebagai berikut: tahun 2003 Rp535.235.395.549,00 atau sebesar

No. 1 2

Uraian Saldo Awal Penyisihan Laba Jumlah

Tahun 2004 130.585.517,00 10.704.708.000,00 10.835.293.517,00

Tahun 2003 480.227.700,00 2.500.000.000,00 2.980.227.700,00

2)

Evaluasi Penggunaan Dana a) Evaluasi Penggunaan Dana sesuai Unit Kerja Realisasi penyaluran dana Program Bina Lingkungan tahun 2004 sebesar Rp9.517,10 juta atau sebesar 96,62% dari total anggaran sebesar Rp9.850,00 juta dengan rincian sebagai berikut:

30

BPK-RI/ AUDITAMA V

N o. 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9

U n it K er ja 2 K a n w il I K a n w il II K a n w il III K a n w il IV K a n w il V K a n w il V I K a n w il V II K a n w il V III K a n tor P u sa t J um la h

R ea lisa si 2003 3 2 2 6 .1 1 5 4 7 6 .7 5 4 7 4 7 .9 8 8 5 7 1 .2 5 0 1 9 1 .6 7 3 1 4 3 .3 0 0 8 6 .0 2 5 1 0 2 .1 0 5 6 5 4 .9 0 3 3 .2 0 0 .1 1 3

T ah un 2004 A n g g a ra n R ea lisa si 4 5 9 9 0 .0 0 0 1 .2 4 0 .0 0 0 1 .0 2 5 .0 0 0 1 .9 5 0 .0 0 0 7 0 5 .0 0 0 1 .4 5 0 .0 0 0 9 2 0 .0 0 0 9 2 0 .0 0 0 6 5 0 .0 0 0 9 .8 5 0 .0 0 0 7 2 0 .2 4 2 1 .0 2 4 .7 5 4 6 0 8 .0 0 0 1 .0 7 1 .1 9 4 5 3 7 .4 6 0 3 0 0 .8 3 3 4 2 8 .8 0 3 7 4 6 .7 2 2 4 .0 7 9 .0 9 2 9 .5 1 7 .1 0 0

(d a la m rib u a n ru p ia h ) P er sen ta se % % 6 = (5 :4 ) 7 = (5 :3 ) 7 2 ,7 5 8 2 ,6 4 5 9 ,3 2 5 4 ,9 3 7 6 ,2 4 2 0 ,7 5 4 6 ,6 1 8 1 ,1 7 6 2 7 ,5 5 9 6 ,6 2 3 1 8 ,5 3 2 1 4 ,9 4 8 1 ,2 8 1 8 7 ,5 2 2 8 0 ,4 0 2 0 9 ,9 3 4 9 8 ,4 6 7 3 1 ,3 3 6 2 2 ,8 5 2 9 7 ,4 0

Penyaluran dana Program Bina Lingkungan yang melebihi anggaran terdapat pada Kantor Pusat, terutama disebabkan oleh : (1) Bantuan bencana alam untuk korban gempa dan tsunami di Propinsi Aceh dan Sumatera Utara sebesar Rp2.112,50 juta (2) Partisipasi dalam acara Jambore Penanggulangan Bencana dan Gelar Akbar Kesetiakawanan Sosial Nasional 2004 yang diselenggarakan Kementerian Sosial RI sebesar Rp300,00 juta. b) Evaluasi Penggunaan Dana Sesuai Kegiatan Realisasi penggunaan dana Program Bina Lingkungan sesuai kegiatan dapat dirinci sebagai berikut:
No. 1 1 2 3 4 5 Uraian 2 Bencana A lam Pendidikan & Pelatihan Peningkatan Kes ehatan Pras arana & Sarana Umum Sarana Ibadah Jumlah Realis as i 2003 3 195.456 91.497 608.280 1.296.364 1.008.516 3.200.113 Tahun 2004 A nggaran Realis as i 4 5 970.000 5.970.000 970.000 970.000 970.000 9.850.000 2.560.872 2.823.794 1.203.350 1.635.933 1.293.151 9.517.100 (dalam ribuan rupiah) Pers entas e % % 6=(5:4) 7=(5:3) 264,01 47,30 124,06 168,65 133,31 96,62 1.310,20 3.086,21 197,83 126,19 128,22 297,40

oleh

31

BPK-RI/ AUDITAMA V

Realisasi terbesar penyaluran dana Program Bina Lingkungan digunakan untuk Bantuan Pendidikan dan Pelatihan khususnya Program Pembangunan Rumah Baca bagi masyarakat sebanyak 14 unit. Uraian mengenai Program Rumah Baca disajikan tersendiri dalam butir 4. 3) Akumulasi Penggunaan Dana Akumulasi penggunaan dana Program Bina Lingkungan sampai dengan 31 Desember 2004 sebesar Rp13.065,90 juta, dengan rincian sebagai berikut:
(ribuan rupiah) No. 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Unit Kerja 2 Kanwil I Kanwil II Kanwil III Kanwil IV Kanwil V Kanwil VI Kanwil VII Kanwil VIII Kantor Pusat Jumlah Realisasi s.d 2003 3 226.115 538.604 753.488 599.750 191.673 206.148 126.007 102.105 804.910 3.548.800 Realisasi 2004 4 720.242 1.024.754 608.000 1.071.194 537.460 300.833 428.803 746.722 4.079.092 9.517.100 Total 5=3+4 946.357 1.563.358 1.361.488 1.670.944 729.133 506.981 554.810 848.827 4.884.002 13.065.900

4)

Pembangunan Rumah Baca a) Dasar Pelaksanaan (1) Notulen Rapat Rencana Pembangunan Rumah Baca antara Deputi Menteri BUMN Bidang Logistik dan Pariwisata dengan 13 Direktur Utama BUMN tanggal 7 Januari 2004. (2) Keputusan Direksi PT Jamsostek No.KEP/23/022004 tanggal 25 Februari 2004 tentang Bantuan Pembangunan Rumah Baca untuk Masyarakat. (3) Surat Direktur Utama PT Jamsostek No.B/1702/022004 tanggal 25 Februari 2004 tentang Pembangunan Rumah Baca.

32

BPK-RI/ AUDITAMA V

(4) Surat Direksi dan Dewan Komisaris PT Jamsostek kepada Menteri BUMN No.R/928/072004 tanggal 16 Juli 2004 tentang Usulan Penggunaan Laba Tahun Buku 2003 untuk Program Bina Lingkungan. b) Anggaran Pembangunan Rumah Baca Berdasarkan dasar pelaksanaan tersebut maka anggaran Pembangunan Rumah Baca ditetapkan sebagai berikut : (1) Penetapan Rapat Umum Pemegang Saham atas RKA PKBL Tahun 2004 pada tanggal 15 Januari 2004 bahwa anggaran Bina Lingkungan sebesar Rp5.000,00 juta belum termasuk untuk anggaran Pembangunan Rumah Baca. (2) Berdasarkan kebijakan Direksi PT Jamsostek bahwa anggaran Pembangunan Rumah Baca ditetapkan 17 lokasi @Rp150,00 juta dengan total anggaran Rp2.550,00 juta (3) Mengingat penetapan anggaran Pembangunan Rumah Baca tidak ada Kebijakan/Penjelasan dari Kementerian BUMN sebelumnya, dalam pelaksanaan Pembangunan Rumah Baca mencapai realisasi antara Rp200,00 juta s.d. 250,00 juta. (4) Oleh karena itu, Direksi & Dewan Komisaris PT Jamsostek melalui Surat No.R/928/072004 mengajukan usulan kepada Menteri BUMN untuk tambahan anggaran Pembangunan Rumah Baca sebanyak 20 Rumah Baca @ Rp250,00 juta sebesar Rp 5.000,00 juta. c) Kebijakan konstribusi Pembangunan Rumah Baca Dalam rangka Pembangunan Rumah Baca para pihak terkait yang memberikan kontribusi adalah sebagai berikut - Penyediaaan tanah - Peralatan komputer dan buku-buku - Biaya pengelolaan dan pemeliharaan : Pemerintah Daerah/Instansi lain : Yayasan Taman BacaanIndonesia : - PT Jamsostek - Yayasan Taman Bacaan - Pembangunan Rumah Baca dan furniture : PT Jamsostek

33

BPK-RI/ AUDITAMA V

- Pemerintah Daerah d) Pengelolaan Rumah Baca Berdasarkan Pengarahan Ketua I Yayasan Taman Bacaan Indonesia, Bapak Ferdinand Nainggolan pada tanggal 13 April 2004 dan diperkuat pada pertemuan antara Direktur Utama dengan Ketua Umum Yayasan Taman Bacaan Indonesia Ny. Retty Laksamana Sukardi pada tanggal 24 Juni 2004 bahwa konsep pengelolaan rumah baca adalah sebagai berikut : (1) Perjanjian kerjasama pembangunan Rumah Baca di mana Badan Usaha Milik Negara menyerahkan uang atau pembangunan Rumah Baca dan gaji pegawai Rumah Baca kepada Yayasan Taman Bacaan Indonesia. (2) Perjanjian kerjasama pinjam pakai tanah di mana Pemerintah Daerah/BUMN/instansi lain yang memiliki lokasi tanah Rumah Baca menyerahkan kepada Yayasan Taman Bacaan Indonesia sebagai hak pinjam pakai tanah. (3) Hingga saat ini belum ada penjelasan/kebijakan dari Kementerian BUMN terhadap beban Biaya Pengelolaan Rumah Baca yang meliputi: Gaji pegawai Rumah Baca Biaya telepon, listrik dan air Biaya pemeliharaan Rumah Baca

34

BPK-RI/ AUDITAMA V

5)
No

Penetapan dan Persetujuan Anggaran Pembangunan Rumah Baca
Lokasi Rumah Baca 1. Jl. Tuar 13 Blok XI, Medan 2. Jl. By Pass Km. 8,5 Kec. Kuranji Padang, Sumbar Kantor Cabang Medan Sumbar Status Tanah Milik Pemda Pemda Persetujuan Direksi Nomor Tanggal B/5517/062004 B/5517/062004 24 Juni 2004 24 Juni 2004

Kanwil Provinsi Kanwil I Sumut Sumbar

1 2

3 4

Kanwil II Sumsel Kep. Riau

3. Di Areal SLP 12 Muara Enim 4. Kel. Bandar Agung, Lahat 5. Rusunawa Bumi Lancang Kuning Jl. Duyung, Batu Ampar, Batam

Muara Enim Muara Enim Batam

Pemda Pemda PT Jamsostek (Persero)

B/3749/042004 B/5517/062004 B/216/012004

27 April 2004 24 Juni 2004 09 Jan. 2004

5

Kanwil III DKI Jakarta

6. 7.

Kanwil III Kanwil III

-

-

-

6

Kanwil IV Jawa Barat

8. Rusunawa Jababeka Cikarang Jl. Kedasih 4 Blok P1 No.1 9. Pondok Pesantren Al Ash Riyyah Nurul Iman, Desa Waru Jaya Parung, Bogor Rt. 01/01 No. 1 . 10. Jl. KH. Abdul Halim Majalengka 11. Dusun Cikalama Sumedang 12. Kaka Singawinata Purwakarta

Cikarang Bogor

PT Jamsostek (Persero) Ponpes

B/6062/072004

14 Juli 2004

Cirebon Cirebon Purwakarta

Pemda Wakaf Pontren Cikalama Pemda

B/2811/032004 31 Maret 2004 B/2811/032004 31 Maret 2004 B/5517/062004 24 Juni 2004

7

Kanwil V Jawa Tengah 13. Rusun Bandar Harjo Semarang

Semarang

Pemda

B/5517/062004

24 Juni 2004

Kanwil VI 8 Jawa Timur 14. Jl. Bratang Wetan No.36 Sby 9 Bali 15. Jl. Mataram No. 3 Denpasar 10 NTB 16. Desa Tente Bima Kanwil VII 11 Kaltim 12 Kalbar

Karimunjawa Bali NTB

Pemda Pemda Pemda

B/5517/062004 B/5517/062004 -

24 Juni 2004 24 Juni 2004 -

17. Jl. Cipto Mangunkusuno Samarinda 18. Pontianak

Samarinda Kalbar

Pemda Pemda

B/2958/042004 B/5517/062004

6 April 2004 24 Juni 2004

Kanwil VIII 13 Sulsel 19. Asrama Pekerja KIMA Jl. Kupasa Raya Tamanlarea Mks. 14 Gorontalo 20. Gorontalo

Makassar Gorontalo

Pemda Pemda

B/216/012004 B/5517/062004

9 Jan. 2004 24 Juni 2004

35

BPK-RI/ AUDITAMA V

6)
No Kanwil Provinsi Kanwil I 1 Sumut 2 Sumbar

Perbandingan Anggaran dan Realisasi Pembangunan Rumah Baca
Lokasi Rumah Baca 1. Jl. Tuar 13 Blok XI, Medan 2. Jl. By Pass Km. 8,5 Kec. Kuranji Padang, Sumbar Kantor Cabang Medan Sumbar Sub Total Muara Enim Muara Enim Batam Sub Total Perbandingan (ribu rupiah) Anggaran Realisasi 250.000 250.000 500.000 250.000 250.000 250.000 750.000 250.000 250.000 500.000 150.000 150.425 300.425 194.825 183.216 204.775 582.816 % 60 60,17 60,09 77,93 73,29 81,91 77,71

Kanwil II 3 Sumsel

3. Di Areal SLP 12 Muara Enim 4. Kel. Bandar Agung, Lahat 5. Rusunawa Bumi Lancang Kuning Jl. Duyung, Batu Ampar, Batam

4 Kep. Riau

Kanwil III 5 DKI Jakarta

6. 7.

Kanwil III Kanwil III Sub Total

Kanwil IV 6 Jawa Barat

8. Rusunawa Jababeka Cikarang Jl. Kedasih 4 Blok P1 No.1 9. Pondok Pesantren Al Ash Riyyah Nurul Iman, Desa Waru Jaya Parung, Bogor Rt. 01/01 No. 1 . 10. Jl. KH. Abdul Halim Majalengka 11. Dusun Cikalama Sumedang 12. Kaka Singawinata Purwakarta

Cikarang Bogor

250.000 250.000

192.094 180.000

76,84 72,00

Cirebon Cirebon Purwakarta Sub Total Semarang Sub Total Karimunjawa Bali NTB Sub Total Samarinda Kalbar Sub Total

250.000 250.000 250.000 1.250.000 250.000 250.000 250.000 250.000 250.000 750.000 250.000 250.000 500.000

149.850 150.000 671.944 149.475 149.475 149.971 149.927 299.898

59,94 60,00 53,76 59,79 59,79 59,99 59,97 59,98

Kanwil V 7 Jawa Tengah Kanwil VI 8 Jawa Timur 9 Bali 10 NTB Kanwil VII 11 Kaltim 12 Kalbar Kanwil VIII 13 Sulsel 14 Gorontalo

13. Rusun Bandar Harjo Semarang

14. Jl. Bratang Wetan No.36 Sby 15. Jl. Mataram No. 3 Denpasar 16. Desa Tente Bima

17. Jl. Cipto Mangunkusuno Samarinda 18. Pontianak

19. Asrama Pekerja KIMA Jl. Kapasa Raya Tamanlarea Mks. 20. Gorontalo

Makassar Gorontalo Sub Total Grand Total

250.000 250.000 500.000 5.000.000

179.898 206.096 385.994 2.390.552

71,96 82,44 77,20 47,81

36

BPK-RI/ AUDITAMA V

c.

Kinerja Program Kemitraan dan Bina Lingkungan Kinerja Program Kemitraan PT Jamsostek telah diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.198/KMK.016/1998 tanggal 24 Maret 1998 tentang penilaian tingkat kesehatan BUMN, tetapi kinerja Program Bina Lingkungan belum diatur. Berdasarkan Keputusan Menteri tersebut, kinerja Program Kemitraan PT Jamsostek sebagai berikut : 1) Penilaian terhadap efektivitas penyaluran dana PKBL Efektivitas penyaluran dana diukur dengan membandingkan antara jumlah dana yang disalurkan dengan jumlah dana yang tersedia. Jumlah dana yang disalurkan pada tahun 2004 adalah sebesar Rp12.383.596.068,00 yang terdiri dari :
- Penyaluran pinjaman - Penyaluran hibah Jumlah Rp9.981.500.000,00 Rp 2.402.096.068,00 Rp12.383.596.068,00

Sedangkan jumlah dana tersedia tahun 2004 adalah sebesar Rp33.098.894.576,96 yang terdiri dari :
Saldo awal dana Alokasi Peyisihan Laba yang Diterima Penerimaan pengembalian pokok pinjaman Bunga pinjaman, jasa giro, bunga deposito dan pendapatan lain-lain Jumlah Rp10.628.816.433,09 Rp14.986.591.000,00 Rp6.045.894.699,07 Rp1.437.592.444,80 Rp33.098.894.576,96

Berdasarkan data tersebut di atas, efektivitas penyaluran dana adalah sebesar 37,41% atau dengan skor 0, karena tingkat penyalurannya di bawah 80%.

2) Ketaatan terhadap Ketentuan dan Peraturan Perundang-undangan Penyisihan laba PT Jamsostek Tahun 2003 untuk Program Kemitraan sebesar Rp14.986.591.000,00 atau 2,80% dari laba tahun buku 2003 setelah dikurangi PPh Badan. Sedangkan penyisihan laba tahun 2003 untuk Program Bina Lingkungan

37

BPK-RI/ AUDITAMA V

sebesar Rp10.704.708.000,00 atau 2,00% dari laba tahun buku 2003 setelah dikurangi PPh Badan. Penyisihan laba tersebut telah sesuai dengan Keputusan Menteri BUMN No.KEP236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 yang menetapkan batasan dana program kemitraan sebesar 1% - 3% dari seluruh laba setelah pajak sedangkan dana program bina lingkungan maksimum 1%. Penyisihan laba untuk program Bina Lingkungan yang mencapai 2% telah mendapat persetujuan Menteri BUMN melalui surat No.S498/MBU/2004 tanggal 17 September 2004. Realisasi penyaluran dana PKBL bersifat pinjaman tahun 2004 sebesar Rp9.981.500.000,00 disalurkan kepada Usaha Kecil dan Koperasi atau sebesar 55,45% dari total dana yang telah ditetapkan sebesar Rp18.000.000.000,00. Sedangkan realisasi penyaluran dana bersifat hibah sebesar Rp2.402.096.068,00 atau 53,38% dari total dana yang telah dianggarkan sebesar Rp4.500.000.000,00. Prosedur penyaluran dan besarnya dana yang diberikan kepada beberapa mitra binaan dan penerima hibah belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

8. Laporan Keuangan
a. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI

1) Dasar Penyajian Laporan Keuangan Implementasi Kebijakan Akuntansi pada PKBL pada prinsipnya mengacu pada Keputusan Menteri BUMN No.KEP-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan dan standar akuntansi yang berlaku umum sebagaimana yang telah diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) diterbitkan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), proses penyusunan laporan keuangan perusahaan juga mengacu kepada Pedoman Akuntansi Program Kemitraan dan Bina Lingkungan yang

38

BPK-RI/ AUDITAMA V

disahkan berdasarkan Keputusan Direksi PT Jamsostek No.KEP/321/122004 tentang Pedoman Akuntansi Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan. Laporan Keuangan Program Kemitraan dan Laporan Keuangan Program Bina Lingkungan merupakan laporan yang terpisah. Laporan keuangan disusun berdasarkan konsep biaya perolehan. Laporan keuangan disusun menggunakan dasar akrual (accrual basis), kecuali untuk laporan arus kas. Laporan arus kas disusun dengan menggunakan metode langsung dan menyajikan perubahan dalam kas dan setara kas dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. 2) Pinjaman kepada Mitra Binaan Pinjaman diakui saat Surat Penetapan dari Unit PKBL telah ditetapkan atau surat perjanjian dana program kemitraan antara unit PKBL dengan mitra binaan ditandatangani. Pinjaman yang sudah ditetapkan atau sudah dibuat surat perjanjiannya namun belum dibayarkan sampai dengan akhir periode pelaporan diklasifikasikan sebagai Kewajiban YMH Dibayar (pada awal periode berikutnya dijurnal balik). Pinjaman dinilai berdasarkan nilai nominal yang disalurkan kepada mitra binaan sebesar pembayaran angsuran bunga tidak termasuk bunga. 3) Deposito Berjangka Investasi dalam deposito berjangka disajikan sebesar nilai nominalnya. 4) Penyisihan Pinjaman Penyisihan pinjaman diterapkan secara penuh pada Laporan Keuangan tahun 2004. Penyisihan dilakukan terhadap pinjaman pokok dan bunga pinjaman dengan estimasi penyisihan disesuaikan dengan klasifikasi umur pinjaman sebagai berikut :

39

BPK-RI/ AUDITAMA V

Klasifikasi a. Lancar b. Kurang Lancar c. Ragu-ragu d. Macet

Kriteria Tepat waktu Menunggak 1 s.d 180 hari Menunggak 181 s.d 360 hari Menunggak diatas 360 hari

Estimasi Penyisihan 0% 25 % 50 % 100 %

Perbedaan (selisih) yang timbul atas perubahan estimasi penyisihan tersebut, akan dialokasikan pada laporan periode berjalan. Perubahan estimasi penyisihan pinjaman pokok dan bunga yang akan diterapkan secara retrospektif karena hal tersebut lebih praktis. Oleh karena itu, beban penyisihan pokok pinjaman tahun lalu dikoreksi pada tahun berjalan dengan mengurangi saldo awal ekuitas. 5) Pinjaman Bermasalah Pinjaman bermasalah diakui saat pengalihan pinjaman dengan kualitas macet yang telah diupayakan pemulihannya, namun tidak terpulihkan, bila memenuhi salah satu kondisi sebagai berikut: a) Surat peringatan atau somasi telah diterbitkan sampai dengan yang ke-3 atau; b) Rescheduling ataupun reconditioning telah dilakukan namun gagal; c) Masuk dalam kategori macet lebih dari atau sama dengan dua tahun 6) Saldo Awal Ekuitas Saldo awal ekuitas adalah nilai aktiva bersih yang telah diterima dan dihasilkan oleh Program Kemitraan ataupun Program Bina Lingkungan. Saldo awal ekuitas merupakan jumlah akumulasi alokasi bagian laba sejak pertama penyaluran ditambah akumulasi surplus (defisit) sejak tahun pertama penyaluran.
b. LAPORAN KEUANGAN PROGRAM KEMITRAAN

Laporan Keuangan Program Kemitraan per 31 Desember 2004 meliputi Neraca (Posisi Keuangan), Laporan Aktivitas, Laporan Arus Kas dan Laporan Akumulasi Dana

40

BPK-RI/ AUDITAMA V

1) NERACA
LAPORAN NERACA PROGRAM KEMITRAAN PER 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 AKTIVA 1. Aktiva Lancar Kas dan Setara Kas Deposito Piutang Bunga Pinjaman Akum. Penyisihan Piutang Bunga Pendapatan Yg Msh Harus Diterima Persekot Kerja Piutang Lain-Lain Jumlah Aktiva Lancar Pinjaman Pinjaman Sektor Industri Pinjaman Sektor Perdagangan Pinjaman Sektor Pertanian Pinjaman Sektor Peternakan Pinjaman Sektor Perkebunan Pinjaman Sektor Perikanan Pinjaman Sektor Jasa Pinjaman Sektor Lainnya Jumlah Pinjaman Akum. Penyisihan Pinjaman Aktiva Tetap Bangunan Kendaraan Inventaris Kantor Akum. Penyusutan Aktiva Tetap Nilai Buku Aktiva Tetap Aktiva Lain-lain Pos sementara dalam penyelesaian Pinjaman Bermasalah Akum. Penyisihan Pinjaman Bermasalah Penempatan Dana Yang Dibatasi Penggunaannya Jumlah Aktiva Lain-lain JUMLAH AKTIVA 31 Des 2004 31 Des 2003

12.175.960.417,37 4.000.000.000,00 1.699.626.735,20 (1.489.252.028,90) 6.381.369,86 13.122.800,00 38.087.100,00 16.443.926.393,53 6.142.274.178,99 12.892.601.362,32 12.000.000,00 1.955.149.890,37 112.498.634,00 1.663.138.160,35 6.331.385.858,81 7.832.106.323,06 36.941.154.407,90 (16.040.384.966,78)

6.233.513.463,70 4.200.000.000,00 1.615.031.105,34 (1.615.031.105,34) 56.890.776,81 44.621.600,00 565.437.601,00 11.100.463.441,51 5.451.158.456,62 11.292.363.927,76 1.348.264.458,08 60.000.000,00 1.537.668.894,75 6.492.287.990,86 6.823.805.378,90 33.005.549.106,97

2.

3.

10.698.000,00 4.751.003.297,00 (4.751.003.297,00) 4.252.000.000,00 4.262.698.000,00 41.607.393.834,65

4.751.003.297,00 4.751.003.297,00 48.857.015.845,48

4.

41

BPK-RI/ AUDITAMA V

PASSIVA 1. KEWAJIBAN Kewajiban Lancar Hutang Pajak Beban Yang Masih Harus Dibayar Hutang Lain-lain Jumlah Kewajiban Lancar Kewajiban Lain-lain Pos Sementara Dalam Penyelesaian Selisih Rekonsiliasi Bank Hutang lainnya Jumlah Kewajiban Lain-lain JUMLAH KEWAJIBAN 2. EKUITAS Saldo Awal Ekuitas Koreksi Surplus (Defisit) tahun lalu Saldo Awal Ekuitas Setelah Koreksi Bagian Laba Tahun Berjalan Hibah Tahun Berjalan Surplus (Defisit) tahun Berjalan JUMLAH EKUITAS

31 Des 2004

31 Des 2003

3.079.369,00 81.115.458,00 381.227.587,00 465.422.414,00

7.029.772,73 101.516.500,00 214.959.649,00 323.505.921,73

2.563.650,00 343.320.210,04 345.883.860,04 811.306.274,04

216.783.809,33 216.783.809,33 540.289.731,06

48.316.726.114,42 (15.983.896.734,59) 32.332.829.379,83 14.986.591.000,00 (2.402.096.068,00) (4.121.236.751,22) 40.796.087.560,61

39.109.056.264,70 39.109.056.264,70 9.826.654.200,00 (1.722.167.582,00) 1.103.183.231,72 48.316.726.114,42

JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS

41.607.393.834,65

48.857.015.845,48

42

BPK-RI/ AUDITAMA V

2) L a p o r a n A k t i v i t a s
LAPORAN AKTIVITAS PROGRAM KEMITRAAN UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR PADA 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 URAIAN A. DANA YANG TERSEDIA Saldo Awal Dana Alokasi Penyisihan Laba yang Diterima Penerimaan Pengembalian Pokok Pinjaman Jumlah Dana Yang Tersedia B. PENGGUNAAN DANA Pinjaman Sektor Sektor Sektor Sektor Sektor Sektor Sektor Sektor Industri Perdagangan Pertanian Peternakan Perkebunan Perikanan Jasa Lainnya 1.821.000.000,00 3.130.500.000,00 765.000.000,00 75.000.000,00 355.500.000,00 1.291.000.000,00 2.543.500.000,00 9.981.500.000,00 2.151.000.000,00 3.761.000.000,00 1.086.500.000,00 60.000.000,00 257.500.000,00 1.528.000.000,00 4.046.500.000,00 12.890.500.000,00 10.628.816.433,09 14.986.591.000,00 6.045.894.699,07 31.661.302.132,16 8.714.638.063,02 9.826.654.200,00 5.597.008.520,35 24.138.300.783,37 TAHUN 2004 TAHUN 2003

Jumlah Pinjaman Hibah Pendidikan dan Pelatihan Promosi dan Pameran Pemagangan Penelitian dan Pengembangan Jumlah Hibah

956.160.980,00 1.445.935.088,00 2.402.096.068,00

1.422.058.958,00 300.108.624,00 1.722.167.582,00

Jumlah Penggunaan Dana C. SISA DANA YANG TERSEDIA

12.383.596.068,00 19.277.706.064,16

14.612.667.582,00 9.525.633.201,37

43

BPK-RI/ AUDITAMA V

URAIAN D. PENDAPATAN Bunga Pinjaman Jasa Giro Bunga Deposito Pendapatan Lain-lain Jumlah Pendapatan E. BEBAN BEBAN OPERASIONAL PROGRAM Beban Survei Beban Monitoring Beban Penagihan Beban Umum dan Administrasi Jumlah Beban Operasional Program BEBAN OPERASIONAL NON PROGRAM Beban Penyusutan Aktiva tetap Beban Penyisihan Pokok Pinjaman Beban Penyisihan Piutang Bunga Beban Penghapusan Pinjaman Macet Beban Penghapusan Aktiva Tetap Jumlah Beban Operasional Nonprogram BEBAN INVESTASI Beban PPh Jasa Giro Beban PPH Bunga Deposito Jumlah Beban Investasi BEBAN LAIN-LAIN Beban lainnya Jumlah Beban Lain-lain Jumlah Beban F. G. SURPLUS (DEFISIT) = (D) - (E) SALDO AKHIR DANA = (C) + (F)

TAHUN 2004

TAHUN 2003

773.639.161,45 368.693.899,59 80.781.743,05 214.477.640,71 1.437.592.444,80

761.549.310,93 326.737.837,00 340.169.343,32 1.799,53 1.428.458.290,78

46.910.350,00 335.553.946,00 50.992.812,00 129.805.217,10 563.262.325,10

10.848.117,00 10.848.117,00

4.807.491.529,20 88.028.264,24

4.895.519.793,44

192.373.728,38 192.373.728,38

73.783.846,60 26.263.230,00 100.047.076,60

65.374.760,58 56.678.453,10 122.053.213,68

0,88 0,88 5.558.829.196,02 (4.121.236.751,22) 15.156.469.312,94

325.275.059,06 1.103.183.231,72 10.628.816.433,09

44

BPK-RI/ AUDITAMA V

3) L a p o r a n A r u s K a s
LAPORAN ARUS KAS PROGRAM KEMITRAAN PER 31 DESEMBER 2004 DAN 2003

No. I. 1

Uraian ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN Penerimaan a. Setoran Laba Tahun Berjalan b. Penerimaan Pengembalian Pokok Pinjaman c. Penerimaan Bunga Pinjaman d. Penerimaan Bunga Deposito & Jasa Giro e. Penerimaan Lain-Lain Pengeluaran a. Penyaluran Pinjaman b. Penyaluran Hibah c. Beban Operasional d. Penempatan dana utk Kredit Usaha Mikro e. Pengeluaran Lain-lain

31 Des 2004

31 Des 2003

14.986.591.000,00 6.045.894.699,21 689.043.531,45 443.649.828,34 7.521.514.516,60 29.686.693.575,60

9.826.654.200,00 5.594.728.520,35 569.175.582,55 487.963.189,83 112.831.060,92 16.591.352.553,65 (12.890.500.000,00) (1.620.651.082,00) (10.848.118,97) (350.477.952,00)

2

(9.981.500.000,00) (2.377.584.852,55) (651.572.364,59) (4.252.000.000,00) (6.681.589.404,79) (23.944.246.621,93)

(14.872.477.152,97) 1.718.875.400,68 8.714.638.063,02 10.433.513.463,70

II.

ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASIONAL

5.742.446.953,67 10.433.513.463,70 16.175.960.417,37

III. ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI Kenaikan (Penurunan) Kas Saldo Kas & Setara Awal Tahun KAS & SETARA KAS AKHIR TAHUN

45

BPK-RI/ AUDITAMA V

4) L a p o r a n A k u m u l a s i D a n a
LAPORAN AKUMULASI DANA PROGRAM KEMITRAAN UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR PADA 31 DESEMBER 2004

URAIAN I. AKUMULASI SUMBER DANA Akumulasi Alokasi Penyisihan Laba Akumulasi Pengembalian Pokok Pinjaman Akumulasi Penerimaan Pendapatan Bunga Pinjaman Bunga Deposito Jasa Giro Pendapatan Lain-lain Jumlah Akumulasi Sumber Dana

JUMLAH (Rp) S.D. 31 DES 2003

JUMLAH (Rp) TAHUN 2004

JUMLAH (Rp) S.D. 31 DES 2004

48.265.623.329,00 23.810.480.347,70

14.986.591.000,00 6.045.894.699,07

63.252.214.329,00 29.856.375.046,77

2.830.561.101,40 1.840.169.343,32 2.782.025.225,00 7.452.755.669,72 79.528.859.346,42

773.639.161,45 80.781.743,05 368.693.899,59 214.477.640,71 1.437.592.444,80 22.470.078.143,87

3.604.200.262,85 1.920.951.086,37 3.150.719.124,59 214.477.640,71 8.890.348.114,52 101.998.937.490,29

II. AKUMULASI PENYALURAN DANA Akumulasi Penyaluran Dana Pinjaman Sektor Sektor Sektor Sektor Sektor Sektor Sektor Sektor Industri Perdagangan Pertanian Peternakan Perkebunan Perikanan Jasa Lainnya 10.313.746.752,00 19.554.255.666,67 1.568.000.000,00 60.000.000,00 3.961.917.000,00 15.806.280.000,00 10.257.833.333,00 61.522.032.751,67 1.821.000.000,00 3.130.500.000,00 765.000.000,00 75.000.000,00 355.500.000,00 1.291.000.000,00 2.543.500.000,00 9.981.500.000,00 12.134.746.752,00 22.684.755.666,67 2.333.000.000,00 135.000.000,00 4.317.417.000,00 17.097.280.000,00 12.801.333.333,00 71.503.532.751,67

Jumlah Pinjaman Hibah Pendidikan dan Latihan Pemasaran dan Promosi Pemagangan Litbang Jumlah Hibah Jumlah Akumulasi Penyaluran Dana

5.722.583.958,00 1.625.631.624,00 7.348.215.582,00 68.870.248.333,67

956.160.980,00 1.445.935.088,00 2.402.096.068,00 12.383.596.068,00

6.678.744.938,00 3.071.566.712,00 9.750.311.650,00 81.253.844.401,67

46

BPK-RI/ AUDITAMA V

5) PENJELASAN POS-POS NERACA Per 31 Des 2004 (Rp) Per 31 Des 2003 (Rp)

(1)

Kas dan Setara Kas

12.175.960.417,37

6.233.513.463,70

Saldo Kas dan Setara Kas per 31 Desember 2004 dan 2003 merupakan saldo dana Program Kemitraan yang terdiri dari kas di tangan dan rekening giro bank dengan rincian sebagai berikut :
a. b. c. d. e. f. g. Kas di tangan Bank Mandiri BNI BRI BPD Bukopin Bank Agro Jumlah 1.755.973,00 9.489.559.974,73 773.804.804,00 665.951.055,36 1.000.010.212,96 235.104.390,70 9.774.006,62 12.175.960.417,37 3.661.381.895,45 932.568.631,88 808.131.281,02 264.990.005,99 556.829.623,74 9.612.025,62 6.233.513.463,70

Per 31 Des 2004 (Rp) (2) Deposito 4.000.000.000,00

Per 31 Des 2003 (Rp) 4.200.000.000,00

Saldo Deposito per 31 Desember 2004 merupakan penempatan dana Program Kemitraan Kantor Pusat pada Deposito Bank Asiatic sebesar Rp4.000.000.000,Per 31 Des 2004 (Rp) (3) Piutang Bunga Pinjaman 1.699.626.735,20 Per 31 Des 2003 (Rp) 1.615.031.105,34

Saldo piutang bunga pinjaman per 31 Desember 2004 dan 2003 merupakan bunga pinjaman yang telah jatuh tempo namun belum dibayar oleh mitra binaan. Piutang bunga pinjaman tersebut adalah piutang bunga pinjaman yang masuk dalam kelompok kolektibilitas kurang lancar, diragukan dan macet . Berdasarkan sektor usahanya, piutang bunga pinjaman tersebut dikelompokkan sebagai berikut:

47

BPK-RI/ AUDITAMA V

Piutang Bunga-Sektor Industri Piutang Bunga-Sektor Perdagangan Piutang Bunga-Sektor Pertanian Piutang Bunga-Sektor Peternakan Piutang Bunga-Sektor Perkebunan Piutang Bunga-Sektor Perikanan Piutang Bunga-Sektor Jasa Piutang Bunga-Sektor Lainnya Jumlah

236.704.811,43 642.804.414,13 114.045.082,48 28.517.263,64 374.209,01 57.553.474,31 605.713.774,23 13.913.705,97 1.699.626.735,20

248.131.010,81 601.696.932,22 19.779.959,62 192.961.685,87 294.437.159,08 258.024.357,74 1.615.031.105,34

Per 31 Des 2004 (Rp) (4) Akum. Penyisihan Piutang Bunga (1.489.252.028,90)

Per 31 Des 2003 (Rp) (1.615.031.105,34)

Atas piutang bunga dilakukan penyisihan sebesar 25% dari jumlah piutang bunga kelompok kurang lancar, 50% untuk jumlah piutang bunga diragukan, dan sebesar 100% untuk jumlah piutang bunga kategori macet. Akumulasi penyisihan piutang bunga pinjaman per 31 Desember 2004 dan 2003 sebesar Rp1.489.252.028,90 dan Rp1.615.031.105,34 dengan rincian :
Akum. Peny. Piutang Bunga Sektor Industri Akum. Peny. Piutang Bunga Sektor Perdagangan Akum. Peny. Piutang Bunga Sektor Pertanian Akum. Peny. Piutang Bunga Sektor Peternakan Akum. Peny. Piutang Bunga Sektor Perkebunan Akum. Peny. Piutang Bunga Sektor Perikanan Akum. Peny. Piutang Bunga Sektor Jasa Akum. Peny. Piutang Bunga Sektor Lainnya Jumlah 206.078.619,62 572.858.720,79 107.984.657,70 17.777.327,06 204.510,59 54.079.624,41 523.358.245,42 6.910.323,32 1.489.252.028,90 248.131.010,81 601.696.932,22 19.779.959,62 192.961.685,87 294.437.159,08 258.024.357,74 1.615.031.105,34

Per 31 Des 2004 (Rp) (5) Pendapatan Yang Masih Harus Diterima 6.381.369,86

Per 31 Des 2003 (Rp) 56.890.776,81

Pendapatan yang masih harus diterima merupakan pengakuan (accrue) pendapatan bunga deposito Program Kemitraan tahun 2004, yang penerimaannya baru akan terjadi pada tahun 2005. 48 BPK-RI/ AUDITAMA V

Saldo pendapatan deposito yang masih harus diterima per 31 Desember 2004 terdapat pada Kantor Pusat sebesar Rp6.381.369,86 Per 31 Des 2004 (Rp) (6) Persekot Kerja 13.122.800,00 Per 31 Des 2003 (Rp) 44.621.600,00

Saldo Persekot Kerja (PK) tersebut merupakan pengambilan uang muka kegiatan Program Kemitraan yang belum dipertanggungjawabkan dengan rincian sebagai berikut: a. b. c. d. e. Kanwil III Kanwil VII Kacab DIY Kanwil VIII Kantor Pusat Jumlah 5.700.000,00 7.422.800,00 13.122.800,00 Per 31 Des 2004 (Rp) (7) Piutang Lain-Lain 38.087.100,00 2.600.000,00 22.402.000,00 19.619.600,00 44.621.600,00 Per 31 Des 2003 (Rp) 565.437.601,00

Saldo piutang lain-lain per 31 Desember 2004 dan 2003 merupakan piutang kepada Program Bina Lingkungan/DPKP sebagai talangan dana kegiatan Bina Lingkungan/DPKP yang terdapat pada kantor sebagai berikut : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Kacab NAD Kanwil I Kanwil II Kacab Bengkulu Kanwil III Kanwil IV Kanwil V Kanwil VII Kanwil VIII Kantor Pusat Jumlah 5.250.000,00 500.000,00 2.600.000,00 27.500,00 28.800.000,00 909.600,00 38.087.100,00 46.093.098,00 121.596.250,00 56.631.448,00 135.770.405,00 205.346.400,00 565.437.601,00

49

BPK-RI/ AUDITAMA V

Per 31 Des 2004 (Rp) (8) Pinjaman Kepada Mitra Binaan 36.941.154.407,90

Per 31 Des 2003 (Rp) 33.005.549.106,97

Saldo pinjaman per 31 Desember 2004 dan 2003 merupakan saldo pinjaman kepada mitra binaan yang dikelompokkan berdasarkan sektor usaha dengan rincian sebagai berikut:
Pinjaman Sektor Industri Pinjaman Sektor Perdagangan Pinjaman Sektor Pertanian Pinjaman Sektor Peternakan Pinjaman Sektor Perkebunan Pinjaman Sektor Perikanan Pinjaman Sektor Jasa Pinjaman Sektor Lainnya Jumlah 6.142.274.178,99 12.892.601.362,32 12.000.000,00 1.955.149.890,37 112.498.634,00 1.663.138.160,35 6.331.385.858,81 7.832.106.323,06 36.941.154.407,90 5.451.158.456,62 11.292.363.927,76 1.348.264.458,08 60.000.000,00 1.537.668.894,75 6.492.287.990,86 6.823.805.378,90 33.005.549.106,97

Per 31 Des 2004 (Rp) (9) Akum. Penyisihan Pinjaman 16.040.384.966,78

Per 31 Des 2003 (Rp) 0,00

Atas saldo pinjaman jatuh tempo per 31 Desember 2004 dilakukan penyisihan sebesar 25% dari jumlah pinjaman kelompok kurang lancar, 50% untuk jumlah pinjaman diragukan, dan sebesar 100% untuk jumlah pinjaman kategori macet. Akumulasi penyisihan pinjaman per 31 Desember 2004 sebesar Rp16.040.384.966,78 dengan rincian sebagai berikut:
Akum. Peny. Pinjaman S. Industri Akum. Peny. Pinjaman S. Perdagangan Akum. Peny. Pinjaman S. Pertanian Akum. Peny. Pinjaman S. Peternakan Akum. Peny. Pinjaman S. Perkebunan Akum. Peny. Pinjaman S. Perikanan Akum. Peny. Pinjaman S. Jasa Akum. Peny. Pinjaman S. Lainnya Jumlah 2.138.638.761,56 6.673.404.521,42 540.456.276,20 188.822.413,96 2.603.825,17 492.248.593,99 6.000.333.732,77 3.876.841,71 16.040.384.966,78 -

50

BPK-RI/ AUDITAMA V

Atas saldo pinjaman per 31 Desember 2003, belum dilakukan penyisihan. Penyisihan dilakukan pada tahun 2004 sebesar Rp15.983.851.734,59 dengan rincian per sektor sebagai berikut:
1. Sektor Industri 2. Sektor Perdagangan 3. Sektor Pertanian 4. Sektor Peternakan 5. Sektor Perkebunan 6. Sektor Perikanan 7. Sektor Jasa 8. Sektor Lainnya Jumlah 2.530.436.569,27 6.157.610.458,44 197.634.885,52 1.788.238.926,51 2.851.944.882,11 2.457.986.012,74 15.983.851.734,59

Penyisihan pinjaman tahun 2003 dibukukan sebagai pengurang ekuitas tahun 2003 sebesar Rp15.983.851.734,59. Per 31 Des 2004 (Rp) (10) Pos Sementara dalam Penyelesaian 10.698.000,00 Per 31 Des 2003 (Rp) 0,00

Pos sementara dalam penyelesaian per 31 Desember 2004 dan 2003 merupakan pengeluaran yang sementara belum diselesaikan pada :
a. Kacab. NTT b. Kacab. Yogya Jumlah 3.578.000,00 7.120.000,00 10.698.000,00 Per 31 Des 2004 (Rp) (11) Pinjaman Bermasalah 4.751.003.297,00 Per 31 Des 2003 (Rp) 4.751.003.297,00 -

Pinjaman Bermasalah merupakan reklasifikasi pinjaman macet dari akun Pinjaman Kepada Mitra Binaan yang telah diupayakan pemulihannya kembali namun tidak berhasil. Berdasarkan sektor usahanya, pinjaman bermasalah Program Kemitraan dikelompokkan sebagai berikut:

51

BPK-RI/ AUDITAMA V

Pinjaman Bermasalah-Sektor Industri Pinjaman Bermasalah-Sektor Perdagangan Pinjaman Bermasalah-Sektor Pertanian Pinjaman Bermasalah-Sektor Peternakan Pinjaman Bermasalah-Sektor Perkebunan Pinjaman Bermasalah-Sektor Perikanan Pinjaman Bermasalah-Sektor Jasa Pinjaman Bermasalah-Sektor Lainnya Jumlah

332.120.000,00 2.220.539.629,00 129.066.667,00 1.183.811.667,00 242.425.000,00 643.040.334,00 4.751.003.297,00

332.120.000,00 2.220.539.629,00 129.066.667,00 1.183.811.667,00 242.425.000,00 643.040.334,00 4.751.003.297,00

Tidak terdapat penambahan maupun pengurangan pinjaman bermasalah selama tahun 2004. Per 31 Des 2004 (Rp) (12) Penempatan Dana Yang dibatasi Penggunaannya 4.252.000.000,00 Per 31 Des 2003 (Rp) 0,00

Saldo penempatan dana yang dibatasi penggunaannya per 31 Desember 2004 tersebut merupakan penempatan dana pada bank sebagai penjaminan atas Program Kredit Usaha Mikro-Kredit Layak Tanpa Agunan (KUM-KLTA) yang terdapat pada Bank Mandiri sebesar Rp4.252.000.000,00. Penjaminan dilaksanakan berdasarkan Surat Menteri BUMN No.S-290/MBU/2004 tanggal 4 Juni 2004 tentang Penjaminan Dana Program Kemitraan untuk Kredit Usaha Mikro. Per 31 Des 2004 (Rp) (13) Hutang Pajak 3.079.369,00 Per 31 Des 2003 (Rp) 7.029.772,73

Saldo hutang pajak per 31 Desember 2004 dan 2003 tersebut merupakan pemungutan/pemotongan pajak yang dilakukan dan belum dilakukan penyetoran yang terdiri dari:
a. b. c. Hutang PPh Pasal 21 Hutang PPh Pasal 23 Hutang PPN Jumlah 346.369,00 33.000,00 2.700.000,00 3.079.369,00 2.324.318,18 4.705.454,55 7.029.772,73

52

BPK-RI/ AUDITAMA V

Per 31 Des 2004 (Rp) (14) Beban Yang Masih Harus Dibayar 81.115.458,00

Per 31 Des 2003 (Rp) 101.516.500,00

Saldo Beban Yang Masih Harus Dibayar per 31 Desember 2004 dan 2003 terdiri dari :
a. b. c. BYHD-Hibah Pameran BYHD-Hibah Diklat BYHD-Beban Operasional Jumlah 6.541.690,00 54.000.000,00 20.573.768,00 81.115.458,00 1.850.000,00 99.666.500,00 101.516.500,00

Per 31 Des 2004 (Rp) (15) Hutang Lain-lain 381.227.587,00

Per 31 Des 2003 (Rp) 214.959.649,00

Saldo Hutang Lain-lain per 31 Desember 2004 dan 2003 merupakan Hutang Program Kemitraan kepada Program Bina Lingkungan dan DPKP dengan rincian sebagai berikut : a. b. Hutang kepada PBL Hutang kepada DPKP Jumlah 180.227.587,00 201.000.000,00 381.227.587,00 214.959.649,00 214.959.649,00

Per 31 Des 2004 (Rp) (16) Pos Sementara Dalam Penyelesaian 2.563.650,00

Per 31 Des 2003 (Rp) 216.783.809,33

Saldo pos sementara dalam penyelesaian per 31 Desember 2004 dan 2003 tersebut merupakan penerimaan angsuran DPKP yang masuk di rekening Program Kemitraan pada Kantor Wilayah VIII.

53

BPK-RI/ AUDITAMA V

Per 31 Des 2004 (Rp) (17) Selisih Rekonsiliasi Bank 343.320.210,04

Per 31 Des 2003 (Rp) -

Saldo Selisih Rekonsiliasi Bank per 31 Desember 2004 merupakan penerimaan angsuran pinjaman mitra binaan yang belum jelas penyetornya. Per 31 Des 2004 (Rp) (18) Ekuitas 40.796.087.560,61 Per 31 Des 2003 (Rp) 48.316.726.114,42

Saldo ekuitas per 31 Desember 2004 dan 2003 terdiri atas:

Saldo awal ekuitas Koreksi surplus (defisit) tahun lalu Saldo awal ekuitas setelah koreksi Setoran laba tahun berjalan Hibah tahun berjalan Surplus (defisit) Jumlah

48.316.726.114,42 (15.983.896.734,59) 32.332.829.379,83 14.986.591.000,00 (2.402.096.068,00) (4.121.236.751,22) 40.796.087.560,61

39.109.056.264,70 39.109.056.264,70 9.826.654.200,00 (1.722.167.582,00) 1.103.183.231,72 48.316.726.114,42

Saldo ekuitas per 31 Desember 2003 berkurang sebesar Rp15.983.896.734,59 dari Rp48.316.726.114,42 menjadi Rp32.332.829.379,83 dengan perhitungan sebagai berikut:
Saldo Awal Ekuitas Pengurangan: Akumulasi Peny. Pinjaman tahun 2003 yang belum Dibukukan Saldo Ekuitas Tahun 2003 setelah koreksi (15.983.896.734,59) 32.332.829.379,83 48.316.726.114,42

54

BPK-RI/ AUDITAMA V

6) PENJELASAN POS-POS AKTIVITAS

2004 (Rp) (1) Penerimaan Dana 31.661.302.132,16

2003 (Rp) 24.138.300.783,37

Penerimaan dana pada tahun 2004 dan 2003 terdiri dari:
a. Saldo awal dana 10.628.816.433,09 14.986.591.000,00 6.045.894.699,07 31.661.302.132,16 8.714.638.063,02 9.826.654.200,00 5.597.008.520,35 24.138.300.783,37

b. Alokasi penyisihan laba yang diterima c. Penerimaan pengembalian Pokok Pinjaman Jumlah dana yang tersedia

Saldo awal dana sebesar Rp10.628.816.433,09 merupakan sisa dana sampai dengan 31 Desember 2003. Alokasi penyisihan laba yang diterima tahun 2004 sebesar Rp14.986.591.000,00 merupakan bagian penyisihan laba PT Jamsostek tahun 2003 untuk pelaksanaan Program Kemitraan tahun 2004. Penerimaan pengembalian pokok pinjaman sebesar Rp6.045.894.699,07 berasal dari pembayaran angsuran pokok pinjaman mitra binaan selama tahun 2004. 2004 (Rp) (2) Penggunaan Dana 12.383.596.068,00 2003 (Rp) 14.612.667.582,00

Penggunaan dana pada tahun 2004 terdiri dari :
a. b. Penyaluran Pinjaman Penyaluran Hibah Jumlah Penggunaan Dana 9.981.500.000,00 2.402.096.068,00 12.383.596.068,00 12.890.500.000,00 1.722.167.582,00 14.612.667.582,00

55

BPK-RI/ AUDITAMA V

2004 (Rp) (3) Pendapatan 1.437.592.444,80

2003 (Rp) 1.428.458.290,78

Jumlah pendapatan Program Kemitraan tahun 2004 dan 2003 terdiri dari:
a. b. c. d. Bunga pinjaman Jasa giro Bunga deposito Pendapatan lain Jumlah Pendapatan 773.639.161,45 368.693.899,59 80.781.743,05 214.477.640,71 1.437.592.444,80 761.549.310,93 326.737.837,00 340.169.343,32 1.799,53 1.428.458.290,78

Pendapatan bunga pinjaman tahun 2004 dan 2003 per sektor usaha dapat disajikan sebagai berikut :
Pendapatan bunga- sektor industri Pendapatan bunga- sektor perdagangan Pendapatan bunga- sektor pertanian Pendapatan bunga- sektor peternakan Pendapatan bunga- sektor perkebunan Pendapatan bunga- sektor perikanan Pendapatan bunga- sektor jasa Pendapatan bunga- sektor lainnya Jumlah 106.222.870,83 235.625.365,21 114.045.082,48 47.841.208,33 4.264.625,00 (112.500.713,19) 450.334.476,94 (72.193.754,15) 773.639.161,45 159.714.378,21 203.126.690,38 10.136.338,80 22.451.090,51 229.409.829,10 136.710.983,93 761.549.310,93

Pendapatan lain sebesar Rp214.477.640,71 merupakan koreksi atas beban penyisihan piutang bunga pinjaman tahun 2003 akibat perubahan estimasi tarif penyisihan piutang bunga.
2004 (Rp) 2003 (Rp)

(4)

Beban Beban tahun 2004 dan 2003 terdiri dari:
a. b. c. d. Beban operasional program Beban operasional non program Beban investasi Beban lain-lain Jumlah

5.558.829.196,02
563.262.325,10 4.895.519.793,44 100.047.076,60 0,88 5.558.829.196,02

325.275.059,06
10.848.117,00 192.373.728,38 122.053.213,68 325.275.059,06

56

BPK-RI/ AUDITAMA V

Beban operasional program tahun 2004 sebesar Rp 563.262.325,10 terdiri dari:
a. b. c. d. Beban survey Beban Pembinaan Beban Penagihan Beban Umum dan Administrasi Jumlah 46.910.350,00 335.553.946,00 50.992.812,00 129.805.217,10 563.262.325,10

10.848.117,00 10.848.117,00

Beban operasional non program tahun 2004 sebesar Rp4.895.519.793,44 terdiri dari :
a. b Beban penyisihan pokok pinjaman Beban penyisihan piutang bunga Jumlah 4.807.491.529,20 88.028.264,24 4.895.519.793,44 192.373.728,38 192.373.728,38

Beban investasi tahun 2004 sebesar Rp100.047.076,60 terdiri dari :
a. b. Beban PPh Jasa giro Beban PPh Bunga Deposito Jumlah 73.783.846,60 26.263.230,00 100.047.076,60 65.374.760,58 56.678.453,10 122.053.213,68

Beban lain-lain sebesar Rp0,88 merupakan angka pembulatan.
2004 (Rp) (5) Surplus / (Defisit) Tahun Berjalan (4.121.236.751,22) 2003 (Rp) 1.103.183.231,72

Saldo defisit tahun 2004 sebesar Rp4.121.236.751,22 merupakan jumlah pendapatan tahun 2004 dikurangi jumlah beban tahun 2004.
c. LAPORAN KEUANGAN PROGRAM BINA LINGKUNGAN

Laporan Keuangan Program Bina Lingkungan per 31 Desember 2004 meliputi Laporan Aktivitas dan Laporan Akumulasi Dana.

57

BPK-RI/ AUDITAMA V

1) L a p o r a n A k t i v i t a s
LAPORAN AKTIVITAS PROGRAM BINA LINGKUNGAN UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR PADA 31 DESEMBER 2004 URAIAN A. DANA YANG TERSEDIA Saldo Awal Dana Alokasi Penyisihan Laba yang Diterima Penerimaan Lain Jumlah Dana Yang Tersedia PENGGUNAAN DANA Program Bina Lingkungan : a. Bencana Alam b. Pendidikan dan Pelatihan c. Peningkatan Kesehatan d. Prasarana dan Sarana Umum e. Sarana Ibadah Jumlah penyaluran dana Pengeluaran Lain Jumlah pengeluaran lain Jumlah Penggunaan Dana C. D. SISA DANA YANG TERSEDIA PENDAPATAN Jasa Giro Bunga Deposito Pendapatan Lain-lain Jumlah Pendapatan BEBAN BEBAN OPERASIONAL Beban Survei Beban Penagihan Beban Pembinaan Beban Umum & Administrasi Beban Pph Jasa Giro Beban Pengelolaan Rumah Baca Jumlah Beban Operasional BEBAN LAIN-LAIN Jumlah Beban Lainnya Jumlah Beban F. G. SURPLUS (DEFISIT) = (D) - (E) SALDO AKHIR DANA = (C) + (F) TAHUN 2004

130.592.517,00 10.704.708.000,00 277.355.963,00 11.112.656.480,00

B.

2.560.872.098,00 2.823.794.400,00 1.203.349.500,00 1.635.932.500,00 1.293.151.000,00 9.517.099.498,00 190.292.187,00 190.292.187,00 9.707.391.685,00 1.405.264.795,00 91.088.841,84 1,97 91.088.843,81

E.

13.268.570,00 76.174.753,00 48.351.504,05 18.210.442,18 26.215.000,00 182.220.269,23 182.220.269,23 (91.131.425,42) 1.314.133.369,58

58

BPK-RI/ AUDITAMA V

2) L a p o r a n A k u m u l a s i D a n a
LAPORAN AKUMULASI DANA PROGRAM BINA LINGKUNGAN UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR PADA 31 DESEMBER 2004
JUMLAH (Rp) S.D. 31 DES 2003 JUMLAH (Rp) TAHUN 2004 JUMLAH (Rp) S.D. 31 DES 2004

URAIAN I. AKUMULASI SUMBER DANA Akumulasi Alokasi Penyisihan Laba Akumulasi Penerimaan Pendapatan Bunga Deposito Jasa Giro Pendapatan Lain-lain

3.328.901.500,00

10.704.708.000,00 91.088.841,84 1,97 91.088.843,81 10.795.796.843,81

14.033.609.500,00 91.088.841,84 1,97 91.088.843,81 14.124.698.343,81

Jumlah Akumulasi Sumber Dana 3.328.901.500,00

II. AKUMULASI PENYALURAN DANA Bencana Alam Pendidikan dan Pelatihan Peningkatan Kesehatan Prasarana dan Sarana Umum Sarana Ibadah Jumlah Akumulasi Penyaluran Dana 195.706.500,00 109.104.000,00 780.488.435,00 1.341.214.000,00 1.122.288.000,00 3.548.800.935,00 2.560.872.098,00 2.823.794.400,00 1.203.349.500,00 1.635.932.500,00 1.293.151.000,00 9.517.099.498,00 2.756.578.598,00 2.932.898.400,00 1.983.837.935,00 2.977.146.500,00 2.415.439.000,00 13.065.900.433,00

59

BPK-RI/ AUDITAMA V

3) PENJELASAN POS-POS AKTIVITAS

2004 (Rp) (1) Penerimaan Dana Penerimaan dana pada Tahun 2004 terdiri dari:
a. Saldo Awal Dana 1 Januari 2004 b. Alokasi Penyisihan Laba yang Diterima c. Penerimaan Lain Jumlah Dana Yang Tersedia 130.592.517,00 10.704.708.000,00 277.355.963,00 11.112.656.480,00

11.112.656.480,00

Saldo awal dana sebesar Rp130.592.517,00 merupakan sisa dana sampai dengan 31 Desember 2003. Alokasi penyisihan laba yang diterima tahun 2004 sebesar Rp10.704.708.000,00 merupakan bagian penyisihan laba PT Jamsostek tahun 2003 untuk pelaksanaan Program Bina Lingkungan tahun 2004. Penerimaan lain sebesar Rp277.355.963,00 merupakan pinjaman dana dari Program Kemitraan/DPKP dengan rincian sebagai berikut :

a. b.

Hutang kepada Kemitraan Hutang kepada DPKP

32.837.100,00 244.518.863,00 277.355.963,00
2004 (Rp)

Jumlah

(2)

Penggunaan Dana Penggunaan dana pada tahun 2004 terdiri dari : a. Penyaluran Bina Lingkungan b. Pengeluaran Lain Jumlah Penggunaan Dana

9.707.391.685,00

9.517.099.498,00 190.292.187,00 9.707.391.685,00

60

BPK-RI/ AUDITAMA V

Penyaluran Bina Lingkungan sebesar Rp9.517.099.498,00 merupakan penggunaan dana untuk penyaluran bantuan Bina Lingkungan selama tahun 2004 dengan rincian sebagai berikut :
a. b. c. d. e. Bencana Alam Pendidikan dan Pelatihan Peningkatan Kesehatan Prasarana dan Sarana Umum Sarana Ibadah Jumlah 2.560.872.098,00 2.823.794.400,00 1.203.349.500,00 1.635.932.500,00 1.293.151.000,00 9.517.099.498,00

Penyaluran bantuan Pendidikan dan Pelatihan sebesar Rp2.823.794.400,00 merupakan penggunaan dana untuk pembangunan rumah baca sebesar Rp2.390.552.300,00 dan bantuan pendidikan dan pelatihan lainnya sebesar Rp433.242.100,00. Pengeluaran lain merupakan penggunaan dana Bina Lingkungan untuk penyaluran kegiatan Program Kemitraan / DPKP dengan rincian sebagai berikut :
a. Piutang kepada Kemitraan b. Piutang kepada DPKP Jumlah 180.227.587,00 10.064.600,00 190.292.187,00

2004 (Rp) (3) Pendapatan Jumlah pendapatan Program Bina Lingkungan tahun 2004 terdiri dari: a. Jasa Giro b. Pendapatan Lain Jumlah 91.088.841,84 1,97 91.088.843,81 2004 (Rp) (4) Beban terdiri dari: 182.220.269,23 91.088.843,81

Beban tahun 2004 sebesar Rp182.220.269,23 merupakan beban operasional program

61

BPK-RI/ AUDITAMA V

a. Beban Survei b. Beban Penagihan c. Beban Pembinaan d. Beban Umum & Administrasi e. Beban PPh Jasa Giro f. Beban Pengelolaan Rumah Baca Jumlah

13.268.570,00 76.174.753,00 48.351.504,05 18.210.442,18 26.215.000,00 182.220.269,23 2004 (Rp)

(5)

Surplus /(Defisit) Tahun Berjalan

(91.131.425,42)

Saldo defisit tahun 2004 sebesar Rp91.131.425,42 merupakan jumlah pendapatan tahun 2004 dikurangi jumlah beban tahun 2004. 2004 (Rp) (6) Saldo Dana Saldo dana Program Bina Lingkungan per 31 1.314.133.369,58 Desember 2004 sebesar

Rp1.314.133.369,58 merupakan dana yang tersedia pada tahun 2004 dikurangi dengan penggunaan dana pada tahun 2004. 4) PENJELASAN POS-POS AKUMULASI DANA Per 31 Des 2004 (Rp) (1) Akumulasi Sumber Dana a. Alokasi Penyisihan Laba b. Penerimaan Jasa Giro c. Penerimaan Lain Jumlah Akumulasi Sumber Dana 14.033.609.500,00 91.088.841,84 1,97 14.124.698.343,81 14.124.698.343,81

Akumulasi sumber dana per 31 Desember 2004 sebesar Rp14.124.698.343,81 terdiri dari:

62

BPK-RI/ AUDITAMA V

Alokasi penyisihan laba yang diterima sebesar Rp14.033.609.500,00 merupakan bagian penyisihan laba PT Jamsostek tahun 2002, 2003, dan 2004 untuk pelaksanaan Program Bina Lingkungan. Penerimaan jasa giro sebesar Rp91.088.841,84 merupakan pendapatan jasa giro atas dana Bina Lingkungan selama tahun 2002 sampai dengan 2004. Penerimaan lain sebesar Rp1,97 merupakan angka pembulatan. Per 31 Des 2004 (Rp) (2) Akumulasi Penyaluran Dana 13.065.900.433,00

Akumulasi penyaluran dana per 31 Desember 2004 sebesar Rp13.065.900.433,00 merupakan penggunaan dana untuk penyaluran bantuan Bina Lingkungan tahun 2002 sampai dengan tahun 2004 dengan rincian sebagai berikut :
a. b. c. d. e. Bencana Alam Pendidikan dan Pelatihan Peningkatan Kesehatan Prasarana dan Sarana Umum Sarana Ibadah Jumlah 2.756.578.598,00 2.932.898.400,00 1.983.837.935,00 2.977.146.500,00 2.415.439.000,00 13.065.900.433,00

63

BPK-RI/ AUDITAMA V

9. Hal-hal yang perlu diperhatikan Berdasarkan hasil pemeriksaan atas laporan keuangan dan pengelolaan PKBL ditemukan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu : a. Program Kemitraan
1) Prosedur penempatan deposito pada Bank Asiatic tidak dilakukan sesuai

ketentuan sehingga Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan sebesar Rp263,01 juta. Dalam pedoman pengelolaan dana PKBL d.h. PUKK & BL PT Jamsostek antara lain ditetapkan bahwa penempatan dana dalam bentuk deposito bertujuan memanfaatkan saldo dana program yang belum digunakan, sehingga menghasilkan bunga bagi program tersebut. Berdasarkan laporan keuangan PKBL tahun 2004 diketahui bahwa portofolio deposito per 31 Desember 2004 adalah sebesar Rp4.000.000.000,00, yang ditempatkan pada Bank Asiatic dengan jangka waktu tiga bulan mulai 31 Oktober 2003 s.d. 31 Januari 2004, tingkat bunga 8,43% per tahun, dan diperpanjang dari tanggal 31 Januari s.d. 30 April 2004 dengan suku bunga 6,47%. Penempatan deposito berjangka tidak didasarkan pada analisa penempatan yang memadai. Selain itu diketahui bahwa Direktorat Investasi PT Jamsostek tidak melakukan penempatan deposito pada Bank Asiatic. Hal ini menunjukkan bahwa penempatan deposito tidak pula berdasarkan konfirmasi dari Direktorat Investasi. Gubernur BI melalui SK No 6/6/KEP-GBI/2004 tanggal 8 April 2004 mencabut ijin usaha Bank Asiatic. Sesuai dengan program penjaminan Pemerintah, bunga atas deposito termasuk dalam program penjaminan dan dihitung s.d. tanggal pencabutan ijin usaha bank. Deposito beserta bunganya telah dicairkan tanggal 4 Maret 2005. Dengan demikian, dari tanggal 8 April 2004 s.d. 4 Maret 2005, PKBL PT Jamsostek kehilangan kesempatan untuk memperoleh hasil investasi atas dana tersebut. Menggunakan asumsi tingkat bunga deposito penjaminan BI untuk jangka waktu satu

64

BPK-RI/ AUDITAMA V

bulan, PKBL PT Jamsostek kehilangan kesempatan untuk memperoleh hasil investasi minimal sebesar Rp263.013.333,33 dengan rincian sebagai berikut :
Bulan
April-04 Mei-04 Juni – 04 Juli – 04 Agus-04 Sept-04 Okt-04 Nop-04 Des-04 Jan-05 Febr-05 Mar-05

Nominal
4.000.000.000,00 4.000.000.000,00 4.000.000.000,00 4.000.000.000,00 4.000.000.000,00 4.000.000.000,00 4.000.000.000,00 4.000.000.000,00 4.000.000.000,00 4.000.000.000,00 4.000.000.000,00 4.000.000.000,00

Lama Hari
22 31 30 31 31 30 31 30 31 31 28 4 Jumlah

Suku Bunga
6,11 7,25 7,24 7,25 7,25 7,25 7,25 7,25 7,25 7,25 7,25 7,25

Jml Bunga
14.935.555,56 24.972.222,22 24.133.333,33 24.972.222,22 24.972.222,22 24.166.666,67 24.972.222,22 24.166.666,67 24.972.222,22 24.972.222,22 22.555.555,56 3.222.222,22 263.013.333,33

Dalam memperhatikan:

mengelola

dana

deposito,

Biro

DPKP/PKBL

seharusnya

a) SK Menteri BUMN No.KEP-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 pasal 8 yang antara lain menetapkan bahwa dana program kemitraan bersumber dari hasil bunga, bunga deposito, dan atau jasa giro dari dana program kemitraan setelah dikurangi beban operasional. Dengan demikian, penempatan deposito seharusnya dilakukan dengan hati-hati mengingat hasil deposito merupakan salah satu sumber dari program kemitraan. Hasil bunga yang tidak optimal berarti dana yang disalurkan kepada mitra binaan menjadi tidak optimal juga. b) SK Direksi No.KEP/169/102002 tanggal 8 Oktober 2002 tentang Pedoman Akuntansi PKBL yang antara lain menetapkan bahwa dalam prosedur penempatan investasi lancar, Kepala Biro DPKP/PUKK melakukan evaluasi atas usulan dana yang akan ditempatkan pada deposito. Kondisi tersebut di atas mengakibatkan Biro PKBL PT Jamsostek kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan bunga deposito sebesar Rp263.013.333,33. Hal tersebut terjadi karena Biro PKBL tidak mematuhi SK Menteri BUMN No. KEP-236/MBU/2003 dan SK Direksi No.KEP/169/102002 dengan tidak melakukan analisa penempatan deposito berjangka maupun evaluasi penempatan.

65

BPK-RI/ AUDITAMA V

Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa dapat memahami hasil temuan BPK-RI dan akan kami tindak lanjuti bersama dengan reorganisasi yang sedang dilakukan oleh manajemen PT Jamsostek. Terkait dengan pelaksanaan investasi dana PKBL, pengelolaan Investasi tersebut akan menjadi satu kesatuan dengan sistem dan prosedur investasi yang dilaksanakan oleh Direktorat Investasi PT Jamsostek. Untuk masa yang akan datang penempatan deposito akan dilaksanakan secara lebih hati-hati dan diprioritaskan pada Bank Pemerintah. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Jamsostek agar dalam penempatan dananya dalam bentuk deposito senantiasa berpedoman pada ketentuan yang berlaku dan menyusun kebijakan, sistem dan prosedur investasi PKBL yang terintegrasi dengan kebijakan, sistem, dan prosedur investasi yang dilakukan oleh Direktorat Investasi PT Jamsostek.
2) Penempatan dana PKBL PT Jamsostek sebesar Rp4.252,00 juta di Bank

Mandiri sebagai program Pemerintah tidak menguntungkan PT Jamsostek Sesuai dengan surat Menteri BUMN No.290/MBU/2004 tanggal 4 Juni 2004 kepada Direksi BUMN Pembina Program Kemitraan tentang Penjaminan Dana Program Kemitraan Untuk Kredit Usaha Mikro, yang menyatakan antara lain dalam rangka meningkatkan optimalisasi penyaluran dana Program Kemitraan BUMN Pembina dan untuk mempercepat pemberdayaan usaha mikro dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi kerakyatan, maka sebagian dana Program Kemitraan BUMN Pembina agar ditempatkan sebagai dana jaminan pada bank-bank penyalur kredit usaha mikro. Dana yang ditempatkan sesuai ketentuan tersebut di atas dituangkan dalam perjanjian antara BUMN dengan pihak bank penyalur mengenai hak dan kewajiban, serta tanggung jawab masing-masing pihak dengan memenuhi azas-azas formal. Selanjutnya dengan surat Menteri BUMN No.307/MBU/2004 tanggal 15 Juni 2004 perihal penetapan jumlah dana Program Kemitraan yang ditempatkan untuk jaminan kredit usaha mikro pada Bank Mandiri atau Bank Artha Graha sebagai

66

BPK-RI/ AUDITAMA V

rekening

giro

atau

deposito,

untuk

PT

Jamsostek

ditetapkan

sebesar

Rp4.252.000.000,00. Selanjutnya diadakan kesepakatan antara PT Jamsostek sebagai Pihak Pertama dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebagai Pihak Kedua yang dituangkan dalam perjanjian No.DIR.PKS/011/2004 tanggal 18 Juni 2004 tentang Kredit Usaha Mikro Layak Tanpa Agunan (KUM-LTA), yang isinya mengatur antara lain : a) Penempatan dana Pihak Pertama ditempatkan pada rekening giro dan/atau deposito di Pihak Kedua sebagai penjaminan atas pokok dan bunga kredit mikro yang disalurkan oleh Pihak Kedua sesuai ketentuan Pihak Kedua, dan diberikan jasa giro dan/atau bunga oleh Pihak Kedua. Sedangkan penyetorannya telah dilakukan pada tanggal 27 Juli 2004 ke rekening Penampungan Dana Penjaminan KUM-LTA No.070-00-0423544-1 sebesar Rp4.252.000.000,00. Jasa giro penempatan tersebut ditampung dalam rekening nomor 070-00-0423545-8. b) Atas penempatan dana Pihak Pertama pada rekening giro dan/atau deposito di Pihak Kedua akan diberikan jasa giro dan/atau bunga oleh Pihak Kedua. c) Dana penjaminan yang ditempatkan Pihak Pertama tersebut tidak dapat ditarik kembali oleh Pihak Pertama selain untuk keperluan klaim Pihak Kedua, dan dapat ditarik apabila ada kebijakan lain dari pemerintah atas dana penjaminan dimaksud. d) Pihak Kedua wajib memberikan laporan realisasi penyaluran kredit mikro kepada Pihak Pertama setiap tiga bulan, dan untuk pertama kali dilakukan laporan posisi per 30 September 2004. e) Jangka waktu perjanjian selama tiga tahun sejak ditandatanganinya perjanjian ini, dan setiap tahun akan dievaluasi, serta dapat dilakukan perpanjangan sesuai kesepakatan kedua pihak. f) Penempatan dana Pihak Pertama pada Pihak Kedua sebagai penjaminan kredit dengan rasio 1 : 10. g) Penggunaan dana tersebut untuk membayar klaim jika terjadi wanprestasi oleh debitur Pihak Kedua sebagai akibat risiko usaha yang diajukan secara tertulis oleh 67 BPK-RI/ AUDITAMA V

Pihak Kedua selama-lamanya 90 hari sejak terjadinya wan-prestasi setelah dilakukan verifikasi oleh Pihak Pertama melalui Kantor Akuntan Publik apabila diperlukan. Sedangkan cara yang dilakukan yaitu mendebet rekening giro Penampungan Dana Penjaminan KUM-LTA. Selanjutnya sesuai dengan surat Menteri BUMN No.S-405/MBU/2004 bulan Agustus 2004 tentang pemindahan dana penjaminan program kemitraan dalam rangka KUM-LTA, ditetapkan bahwa mekanisme pemindahan dana penjaminan diikat dalam suatu perjanjian masing-masing pihak (antara Bank Mandiri dengan bank lain yang menerima jaminan). Sedangkan dalam perjanjian yang sudah disepakati antara Bank Mandiri dengan PT Jamsostek bahwa dana yang ditempatkan hanya digunakan untuk menjamin penyaluran kepada debitur oleh Bank Mandiri. Selain itu, dalam surat Bank Mandiri kepada PT Jamsostek No.CMB.SML/1667/2004 tanggal 22 Nopember 2004 perihal jasa giro atas dana penjaminan dalam rangka KUM-LTA , diinformasikan bahwa sampai dengan saat ini ketentuan dari Kantor Menteri BUMN untuk mentransfer jasa giro ke masing-masing BUMN atas penempatan dana penjaminan belum diatur. Sesuai dengan surat Bank Mandiri kepada PT Jamsostek No.SBM.SMD/356/2005 bulan April 2005 perihal Laporan Realisasi Penyaluran dan Penempatan Dana Penjaminan KUM-LTA posisi per 31 Maret 2005, diketahui bahwa total penempatan dana dari 74 BUMN adalah sebesar Rp188.572.000.000,00 yang ditampung dalam satu rekening dan jasa giro sebesar Rp4.321.801.332,53 yang juga ditampung dalam satu rekening, tanpa dirinci lagi ke dalam rekening untuk masing-masing BUMN. diketahui. Dari kondisi yang dikemukakan bahwa Isi Perjanjian No.DIR.PKS/011/2004 tanggal 18 Juni 2004 tentang KUM-LTA belum sepenuhnya memenuhi azas-azas formal perjanjian berkaitan dengan penentuan hak dan kewajiban, serta tanggung jawab masing-masing pihak yaitu antara lain: Selain itu, juga diketahui bahwa rincian debitur yang dijamin oleh Bank Mandiri dan besarnya nilai jaminan masing-masing BUMN tidak

68

BPK-RI/ AUDITAMA V

a) Dalam perjanjian kerja sama dengan Bank Mandiri tidak ditentukan secara spesifik apakah dana tersebut ditempatkan dalam bentuk deposito atau giro, tetapi dari laporan setiap tiga bulan diketahui bahwa dana tersebut memperoleh jasa giro, sehingga dapat disimpulkan bahwa dana tersebut ditempatkan dalam giro yang besarnya jasa giro tidak diatur dalam perjanjian. Penentuan pemilihan bentuk penempatan sangat diperlukan mempengaruhi besarnya hasil bunga atas penempatan tersebut dimana deposito akan memberikan tingkat bunga yang lebih tinggi dari pada giro. b) Di dalam laporan tiga bulanan Bank Mandiri tidak dijelaskan besarnya jasa giro bagian masing-masing BUMN karena Bank Mandiri melaporkannya dalam bentuk kumpulan untuk seluruh BUMN, sehingga besarnya hak jasa giro bagi PT Jamsostek tidak diketahui. c) Dana yang ditempatkan oleh PT Jamsostek kepada Bank Mandiri akan digunakan oleh Bank Mandiri sebagai jaminan jika kredit yang disalurkan macet. Hal tersebut menunjukkan adanya risiko yang dialihkan oleh Bank Mandiri kepada PT Jamsostek, tetapi risiko yang ditanggung PT Jamsostek tersebut, tidak ada imbalan yang diterima. Dengan demikian, sesuai perjanjian, Bank Mandiri diuntungkan tanpa memberikan keuntungan bagi PT Jamsostek. Sementara itu risiko yang ditanggung PT Jamsostek semakin besar karena PT Jamsostek sebagai penjamin kredit mikro yang disalurkan oleh Bank Mandiri tidak diberi kewenangan untuk menilai kelayakan kredit yang disalurkan tersebut dan apabila macet, besarnya klaim yang harus dibayarkan kepada Bank Mandiri mencakup hutang, bunga, denda dan biaya-biaya lainnya sesuai perhitungan Bank Mandiri. d) Klaim Bank Mandiri tidak dapat ditolak jika kredit yang disalurkan oleh Bank Mandiri terjadi wanprestasi oleh debitur karena risiko bisnis. Di dalam perjanjian tidak dijelaskan lebih lanjut definisi wanprestasi dan risiko bisnis tersebut, sehingga dapat menimbulkan perselisihan jika terjadi klaim. e) Adanya hak PT Jamsostek untuk melakukan verifikasi atas klaim yang diajukan Bank Mandiri menjadikan perlunya data yang jelas mengenai debitur yang ditanggung PT Jamsostek, sehingga klaimnya dapat dibebankan kepada dana 69 BPK-RI/ AUDITAMA V

yang berasal dari PT Jamsostek. Dengan tidak adanya pemisahan dana dan data yang jelas mengenai debitur yang dijamin oleh masing-masing BUMN akan mempersulit proses verifikasi tersebut dan besarnya risiko yang harus ditanggung oleh masing-masing pihak. f) Adanya pasal rasio penjaminan terhadap total kredit yang dijamin adalah 1 : 10 dikaitkan dengan apabila debitur wanprestasi dan pihak Bank Mandiri boleh mengajukan klaim, tidak jelas apakah besarnya klaim juga diperhitungkan dengan rasio 1 : 10 dari total kredit debitur yang wanprestasi untuk memperhitungkan besarnya risiko yang harus ditanggung oleh pihak BUMN dan Bank Mandiri. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa Perjanjian No.DIR.PKS/011/2004 tanggal 18 Juni 2004 hanya menguntungkan pihak Bank Mandiri dan tidak menguntungkan PT Jamsostek. Hal tersebut mengakibatkan : a) Dana penjaminan yang ditempatkan pada rekening giro belum sepenuhnya memberikan hasil yang maksimal dan tidak diketahui berapa hasil jasa gironya. b) Jumlah dan nilai pinjaman nasabah kredit mikro yang dijamin oleh PT Jamsostek tidak dapat diketahui. c) Apabila terjadi klaim, tidak dapat diketahui dana BUMN mana yang berkurang. d) PT Jamsostek harus menanggung risiko penjaminan tanpa diimbangi dengan pendapatan atas risiko tersebut. Kondisi tersebut terjadi karena Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek dalam menandatangani perjanjian No.DIR.PKS/011/2004 tanggal 18 Juni 2004 belum sepenuhnya memperhatikan azas-azas formal perjanjian berkaitan dengan penentuan hak dan kewajiban, serta tanggung jawab masing-masing pihak. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa penempatan dana PKBL pada Bank Mandiri dalam rangka Program Penjaminan KUM-LTA pada prinsipnya sesuai dengan Instruksi Menteri BUMN selaku RUPS melalui Surat No.S-290/MBU/2004 tanggal 4 Juni 2004, No.S-307/MBU/2004 tanggal 15 Juni 2004, dan No.S405/MBU/2004 tanggal 10 Agustus 2004. Selanjutnya, PT Jamsostek akan meminta 70 BPK-RI/ AUDITAMA V

arahan mengenai ketentuan program penjaminan KUM-LTA kepada Menteri BUMN. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Jamsostek supaya meminta arahan Menteri BUMN untuk mendapat kejelasan mengenai hak dan kewajiban PT Jamsostek dan PT Bank Mandiri dalam program KUM-LTA ini.
3) Pengendalian penyaluran dana PKBL belum sepenuhnya tertib.

Dalam rangka pengelolaan program DPKP dan PKBL, PT Jamsostek telah memisahkan rekening bank untuk masing-masing program tersebut, yaitu : a) Rekening Bank DPKP : khusus untuk menampung dan menyalurkan dan program DPKP-Bergulir dan Tidak Bergulir termasuk biaya operasional DPKP. b) Rekening Bank Kemitraan : khusus untuk menampung dan menyalurkan dana Program Kemitraan bersifat pinjaman dan hibah serta biaya operasional kegiatan kemitraan c) Rekening Bina Lingkungan : khusus untuk menampung dan menyalurkan dana program lingkungan (hanya bersifat hibah) Berdasarkan pemeriksaan atas pengeluaran-pengeluaran dari rekening bank masing-masing program diketahui, hal-hal sebagai berikut : a) Kantor Wilayah/Cabang belum sepenuhnya terpisah dalam menggunakan rekening bank masing-masing program tersebut. Ketidaktertiban tersebut terlihat pada uraian sebagai berikut : (1) Penyaluran/penggunaan dana program kemitraan didebet dari rekening bank program DPKP atau sebaliknya penyaluran DPKP didebet dari rekening bank Kemitraan. (2) Penyaluran/penggunaan dana program Bina Lingkungan dari rekening bank program DPKP atau Kemitraan (3) Penyaluran/penggunaan dana program Bina Lingkungan ditransfer ke rekening Bank DPKP pada kantor cabang atau rekening bank kemitraan.

71

BPK-RI/ AUDITAMA V

(4) Pendebetan dari rekening Operasional PT Jamsostek/Rekening Kantor Wilayah/Cabang untuk penyaluran/penggunaan program DPKP atau Kemitraan atau Bina Lingkungan. (5) Saldo dana pada rekening bank untuk masing-masing program tidak mencukupi dan tidak segera meminta tambahan dropping Kantor Pusat atau Kantor Wilayah. (6) Dan lain-lain penggunaan anggaran dengan mendebet dari rekening bank yang tidak sesuai dengan pos mata anggaran masing-masing program. b) Penggunaan/pengeluaran dana dari rekening bank yang tidak sebagaimana mestinya tersebut dicatat sebagai Pos Sementara Dalam Penyelesaian (PSDP) masing-masing program. PSDP pada masing-masing program tersebut dicatat pada dua akun yaitu PSDP aktiva (Piutang pada program lain) dan PSDP pasiva (hutang pada program lain). Dengan adanya penggunaan dana dari rekening bank yang tidak sebagaimana mestinya tersebut menimbulkan saldo pada PSDP dengan rincian sebagai berikut : (1) PSDP DPKP : - Aktiva - Pasiva (2) PSDP PKBL - Aktiva - Pasiva Jumlah Rp47.875.500,00 Rp383.791.237,00 Rp932.251.023,00 Rp409.444.476,00 Rp91.139.810,00

c) Dalam rangka penyelesaian masalah tersebut, Biro DPKP/PKBL melalui surat No. B/2108/032005 tanggal 16 Maret 2005 kepada seluruh kepala Kantor Wilayah memberitahukan bahwa dana program DPKP dan PKBL harus terpisah. Akan tetapi, pemberitahuan Biro DPKP dan PKBL tersebut belum diketahui perkembangan tindak lanjut dan efektifitasnya.

72

BPK-RI/ AUDITAMA V

d) Lebih lanjut, Kepala Biro Akuntansi melalui Memo No.M/145/AK/032005 tanggal 10 Maret 2005 meminta konfirmasi dana DPKP dan PKBL pada rekening Program Jamsostek Kantor Wilayah VIII dan Kacab Makasar. Atas memo tersebut, Biro DPKP dan PKBL belum memberikan jawaban konfirmasi sehingga adanya dana sebesar Rp2.541.667,00 dan Rp44.988.720,00 pada Kantor Cabang Makasar dan Rp6.739.550,00 pada Kantor Wilayah VII belum dapat diyakini. Sesuai SK Menteri BUMN No.KEP-236/MBU/2003 tentang program kemitraan BUMN dengan usaha kecil dan program bina lingkungan tanggal 17 Juni 2003, pada pasal 8 point (6) menetapkan bahwa pembukuan dana PKBL dilaksanakan secara terpisah dari pembukuan BUMN Pembina. Dengan demikian seharusnya penyaluran/penggunaan dana program kemitraan dan bina lingkungan dipisahkan dengan program yang lain agar pengendalian dan penggunaan dana masing-masing program tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Kondisi di atas mengakibatkan adanya saldo PSDP PKBL sebesar Rp431.666.737,00 (Rp47.875.500,00 + Rp383.791.237,00). Hal tersebut disebabkan kantor cabang/wilayah belum sepenuhnya tertib dalam penggunaan rekening bank program DPKP dan PKBL. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa Biro DPKP & PKBL akan terus memonitor penyelesaian masalah PSDP, dengan mengirim petunjuk pelaksanaan penyelesaiannya dan pembinaan langsung dengan membentuk Tim untuk menyelesaikan PSDP pada kepada kantor Wilayah/Cabang yang dimaksud. Terhadap Memo Kepala Biro Akuntansi No.M/145/AK/032005, tentang konfirmasi dana DPKP & PKBL pada Rekening Program Jamsostek Kantor Wilayah VIII dan Kacab Makassar, telah diberikan penjelasan sesuai dengan Memo No.M/117/BDP/052005 tanggal 20 Mei 2005 kepada Biro Akuntansi yang intinya telah sesuai dengan Memo Biro Akuntansi diatas dan meminta kepada Biro Akuntansi untuk menyelesaikannya.

73

BPK-RI/ AUDITAMA V

BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek melalui Biro DPKP/PKBL menginstruksikan kembali kepada Kanwil dan KC agar menggunakan rekening bank DPKP, rekening Program Kemitraan dan rekening program Bina Lingkungan secara terpisah dan menyelesaikan PSDP yang ada di Kanwil dan KC dimaksud.
4) Sistem pengendalian intern atas pengelolaan kas PKBL tidak memadai.

Dalam rangka memperlancar operasional PKBL serta DPKP, Biro DPKP/PKBL mengelola kas dalam perusahaan. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2004, saldo kas program DPKP dan PKBL masing-masing sebesar Rp7.169.002,00 dan Rp1.755.973,00. Berdasarkan pemeriksaan fisik kas yang dikelola oleh Biro DPKP/PKBL pada tanggal 9 Mei 2005 diketahui hal-hal sebagai berikut : a) Biro DPKP/PKBL tidak melakukan pemisahan penyimpanan antara kas Program DPKP dan PKBL. b) Penutupan saldo harian kas tidak dilakukan secara periodik. c) Sistem aplikasi yang baru belum dapat diterapkan dengan sempurna. d) Terdapat beberapa peminjaman kas bon oleh beberapa staf Biro DPKP/PKBL dengan total nilai sebesar Rp5,30 juta yang tidak segera diselesaikan. e) Petugas kasir merangkap sebagai petugas pembukuan pengeluaran kas. Biro DPKP/PKBL seharusnya melakukan praktik pengelolaan kas dengan sistem pengendalian intern yang memadai dengan memisahkan pengelolaan kas milik DPKP dan PKBL.

74

BPK-RI/ AUDITAMA V

Hal tersebut mengakibatkan sistem pengendalian intern pengelolaan kas oleh Biro DPKP/PKBL tidak memadai dan terdapat peminjaman kas bon oleh beberapa staf Biro DPKP/PKBL sebesar Rp5.300.000,00 yang tidak segera diselesaikan. Hal tersebut disebabkan Biro DPKP/PKBL tidak tertib dalam pengelolaan kas perusahaan. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa : (a) Tidak memadainya pengendalian intern atas pengelolaan kas Program DPKP dan PKBL dikarenakan adanya perangkapan tugas kasir/pemegang kas sebagai petugas pembukuan, hal tersebut disebabkan kekurangan personil pada Biro DPKP/PKBL. (b) Sementara belum ada kasir yang definitif, tugas kasir dibebankan kepada salah satu staf yang menangani tugas-tugas keuangan yang terpisah dengan fungsi pembukuan. Selanjutnya akan kami usulkan personil khusus yang menangani tugas kasir. (c) Untuk selanjutnya akan dilakukan pembenahan Struktur Organisasi pada Biro DPKP/PKBL. BPK-RI menyarankan Direksi PT Jamsostek agar menata kembali fungsi pengelolaan kas pada Biro DPKP/PKBL, agar diperoleh pengendalian intern yang memadai, selain itu menginstruksikan kepada pihak pengelola kas agar menjalankan fungsinya dengan tertib. b. Program Bina Lingkungan 1) Pengadaan ambulan tahun 2004 yang memadai Pada tahun 2004 telah diadakan mobil ambulan yang diadakan melalui penunjukkan langsung kepada PT Sarandi Karya Nugraha (PT SKN) melalui lima Surat Perintah Kerja (SPK), dengan nilai pekerjaan tersebut sebesar Rp14.976.292.800,00. Dari nilai pekerjaan sebesar itu terdapat dua SPK yang sumber berasal dari dana PKBL tidak dianggarkan dalam RKA dan ketentuan beserta pelaksanaannya belum

75

BPK-RI/ AUDITAMA V

dananya berasal dari DPKP dan PKBL yaitu sebesar Rp900.759.000,00, dengan rincian sebagai berikut :
No. 1 SPK SPK/133/082004 Tgl 19 Agust 04 Nilai 900.759.000,00 Unit 4 Jenis 1 unit TC 2 unit biasa 1 jenazah Sumber Dana DPKP sebesar Rp302.289.000,00 PKBL sebesar Rp598.470.000,00

Dari

tabel

diatas

diketahui

bahwa

nilai

pekerjaan

sebesar

Rp900.759.000,00, yang sumber pendanaannya berasal dari DPKP adalah sebesar Rp302.289.000,00, sedangkan sebesar Rp598.470.000,00 dibebankan pada dana PKBL. Berdasarkan hasil pemeriksaan atas pengadaan ambulan tersebut diatas diketahui beberapa hal sebagai berikut : (a) Pengadaan ambulan tidak dianggarkan dalam RKA tahun 2004 Berdasarkan pemeriksaan atas SPK tersebut di atas diketahui bahwa pada tahun 2004 telah dilakukan pengadaan ambulan sebanyak tujuh unit yang terdiri atas dua unit ambulan biasa, satu unit ambulan jenazah dan empat unit ambulan bersalin yang dibebankan pada dana PKBL sebesar Rp598.470.000,00 yang termasuk kedalam SPK No.SPK/133/082004 tanggal 19Agustus 2004. Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut atas pengadaan ambulan yang diadakan oleh PT SKN tahun 2004 diketahui bahwa atas pengadaan ambulan tersebut tidak dianggarkan dalam RKA untuk Program Bina Lingkungan (PBL) tahun 2004. Sesuai dengan RKA PBL diketahui antara lain PBL melaksanakan penyaluran dana program sebanyak 485 bentuk bantuan sebesar Rp4.850.000.000,00. Penggunaan dana tersebut untuk bencana alam, pendidikan/pelatihan, peningkatan kesehatan, sarana umum, dan sarana ibadah. Pemegang saham di dalam RUPS RKA PKBL tahun 2004 antara lain meminta, Direksi untuk memperhatikan diantaranya RKA yang disahkan dan RKA sebagai pedoman dalam menjalankan kegiatan usaha tahun 2004, sehingga harus dilaksanakan secara disiplin. Direksi diminta komitmennya untuk menjaga agar

76

BPK-RI/ AUDITAMA V

kegiatan-kegiatan yang tidak direncanakan dan berdampak pada pengeluaran biaya dapat dihindari. (b) Penunjukan PT SKN belum didukung dengan ketentuan yang memadai Pelaksanaan pengadaan ambulan tahun 2004 oleh Biro DPKP/PKBL dilakukan dengan menunjuk langsung PT SKN sebagai pelaksana pengadaan. Proses tersebut pada tahun 2004 diawali dengan adanya kebutuhan untuk diadakannya ambulan TC sesuai Memo Direktur Operasi dan Pelayanan No.M/70/DIROP/122003 tanggal 31 Desember 2003 sebanyak empat ambulan TC dan satu ambulan non-TC. Berdasarkan Memo Direktur Keuangan No.M/42/DIRKEU/022004 tanggal 9 Februari 2004 kepada Direktur Utama diketahui bahwa penunjukan PT SKN didasarkan : (1) Perbandingan harga berdasarkan surat penawaran beberapa rekanan. (2) PT SKN telah memiliki sertifikat desain industri untuk perangkat mobil ambulan dan aksesorisnya. Selanjutnya pengadaan diikat melalui SPK No.SPK/01/012004 tanggal 9 Januari 2004. Proses pengadaan ambulan berikutnya selama tahun 2004 dilakukan dengan langsung menunjuk PT SKN yang disetujui Direktur Utama. Lebih lanjut dari hasil pemeriksaan diketahui hal-hal berikut: − Perbandingan harga dari beberapa rekanan (Memo No.M/42/DIRKEU/022004 tanggal 9 Februari 2004) dilakukan hanya dengan membandingkan harga dari surat penawaran rekanan meskipun spesifikasi teknis ambulan yang ditawarkan berbeda. − Memo Direktur Keuangan No.M/42/DIRKEU/022004 tanggal 9 Februari 2004 kepada Direktur Utama perihal pelaksanaan pekerjaan pengadaan ambulan dan assesoris untuk TC, antara lain menyampaikan draft surat penunjukkan dan Perintah Kerja kepada PT SKN untuk ditandatangani, baru disetujui Direktur Utama tanggal 13 Februari 2004. Sedangkan SPK yang ada yaitu SPK No.SPK/01/012004 bertanggal 9 Januari. Dengan demikian SPK

77

BPK-RI/ AUDITAMA V

ditanda tangani sebelum ada usulan Direktur Keuangan dan persetujuan dari Direktur Utama. − Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa PT SKN memiliki pengalaman dalam pekerjaan sejenis. Hal tersebut ditunjukkan dengan tidak adanya dokumen perjanjian/kontrak atas pekerjaan pembuatan/pengadaan ambulan yang merupakan bukti atas pengalaman telah melakukan pekerjaan yang sejenis. PT SKN mendapat ijin produksi alat kesehatan dari Departemen Kesehatan pertama tanggal 29 Nopember 1999 dan terakhir tanggal 14 Maret 2003, akan tetapi mendapat sertifikat beberapa desain industri dari departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia pada tahun 2003 dan atas perangkat mobil ambulan dan asesorisnya pada tanggal 11 Desember 2003. − Belum dapat diketahui kinerja perusahaan tiga tahun terakhir, karena tidak ada laporan audit tiga tahun terakhir dari Auditor Independen. − PT SKN tidak memiliki sertifikasi kualifikasi/klasifikasi yang dikeluarkan asosiasi perusahaan/profesi yang bersangkutan, yang merupakan bukti keahlian, pengalaman, kemampuan teknis dan manajerial dalam bidang usahanya. Berdasarkan pedoman pengadaan barang dan jasa PT Jamsostek sesuai SK Direksi No.KEP/80/062001 tanggal 29 Juni 2001 yang diperbaharui dengan SK No.KEP/138/072004 tanggal 8 Juli 2004, antara lain mengatur bahwa pengadaan barang/jasa tertentu dapat langsung ditunjuk penyedia barang/jasanya, walaupun nilainya sudah di atas batasan nilai penunjukan langsung antara lain pengadaan barang oleh perusahaan yang hak paten dari barang tersebut adalah milik perusahaan itu sendiri. Akan tetapi, atas penunjukan langsung tersebut tidak mengatur syarat-syarat administrastif yang harus dipenuhi oleh penyedia barang dan jasa, sehingga evaluasi adminsitratif yang dilakukan oleh BPS sebagai pelaksana pengadaan melalui penunjukan langsung tidak dilakukan.

78

BPK-RI/ AUDITAMA V

Dari kondisi diatas dapat disimpulkan bahwa proses pengadaan ambulan yang dilakukan oleh PKBL tahun 2004 yang dilakukan melalui penunjukan langsung, tidak didukung oleh ketentuan yang mengatur mengenai syarat syarat administrasi yang harus dipenuhi untuk mendukung penunjukan langsung rekanan tersebut, sehingga pada proses penunjukkannya tidak didukung oleh evaluasi adminsitrasi untuk mendapatkan keyakinan bahwa PT SKN mampu melaksanakan pekerjaan tersebut. Kondisi di atas mengakibatkan : (a) Terjadinya pengeluaran dana diluar RKA yang telah disyahkan dalam RUPS sebesar Rp598.470.000,00. (b) Pengadaan ambulan belum sepenuhnya sesuai ketentuan. Hal tersebut terjadi karena : (a) Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek belum sepenuhnya mematuhi keputusan yang telah ditetapkan dan RUPS dan keputusan Direksi. (b) Pengawasan dan pengendalian anggaran oleh Biro DPKP/PKBL belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. (c) Pedoman Pengadaan barang dan jasa PT Jamsostek belum mengatur secara rinci tentang syarat-syarat administrasi dari penyedia barang. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa sebagai berikut : (a) Pengadaan ambulan tidak dianggarkan dalam RKA tahun 2004 Pengadaan ambulan memang tidak dianggarkan dalam RKA tahun 2004, dengan demikian pengadaan ambulan menggunakan anggaran pos Peningkatan Kesehatan tetapi secara total realisasi Bina Lingkungan tidak melampaui anggaran. Di masa yang akan datang, pengadaan ambulan tidak kami bebankan dalam Program Bina Lingkungan tetapi dalam Program DPKP. (b) Penunjukan PT SKN sebagai pelaksana pengadaan belum didasarkan pada ketentuan yang memadai

79

BPK-RI/ AUDITAMA V

Pedoman pengadaan yang berkaitan dengan penunjukan langsung sesuai SK Direksi No.KEP/138/072004 akan dilakukan penyempurnaan. BPK-RI menyarankan agar : 1) Direksi PT Jamsostek mempertanggungjawabkan pengeluaran dana di luar RKA kepada pemegang saham. 2) Direksi PT Jamsostek senantiasa melakukan pengawasan dan pengendalian atas anggaran yang telah ditetapkan. 3) Melakukan revisi atas Pedoman Pengadaan barang dan jasa PT Jamsostek yang belum mengatur secara rinci tentang syarat-syarat administrasi dari penyedia barang yang ditunjuk melalui penunjukan langsung. 2) Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek belum memungut serta menyetorkan PPh pasal 23 atas pekerjaan jasa instalasi dan training dalam rangka pengadaan ambulan Program Bina Lingkungan. Program Bina Lingkungan yang termasuk dalam PKBL dimaksudkan untuk meningkatkan kepedulian PT Jamsostek terhadap pembinaan lingkungan masyarakat terutama disekitar lokasi PT Jamsostek berada, dengan beberapa bentuk kegiatan yang telah ditetapkan diantaranya bantuan peningkatan kesehatan masyarakat. Pada tahun 2004 telah diadakan mobil ambulan melalui penunjukan langsung kepada PT Sarandi Karya Nugraha (PT SKN) melalui enam Surat Perintah Kerja (SPK), dengan nilai pekerjaan tersebut sebesar Rp14.976.292.800,00. Dari Nilai pekerjaan sebesar itu terdapat dua SPK yang sumber dananya berasal dari DPKP dan PKBL yaitu sebesar Rp900.759.000,00, dengan rincian sebagai berikut :
SPK SPK/133/082004 Tgl 19 Agust 04 Nilai 900.759.000,00 Unit 4 Jenis 1 unit TC 2 unit biasa 1 jenazah Sumber Dana DPKP sebesar Rp302.289.000,00 PKBL sebesar Rp598.470.000,00

80

BPK-RI/ AUDITAMA V

Dari pada dana PKBL.

tabel

di

atas

diketahui

bahwa

nilai

pekerjaan

sebesar

Rp900.759.000,00, sumber pendanaannya sebesar Rp598.470.000,00 dibebankan

Harga pengadaan ambulan tersebut terdiri dari harga ambulan beserta peralatan medisnya ditambah dengan instalasi, training dan biaya kirim, serta pajak. Dari harga pengadaan ambulan sebesar di atas, termasuk didalamnya sebesar Rp38.600.000,00 (DPKP sebesar Rp8.900.000,00 dan PKBL sebesar Rp29.700.00,00) adalah berupa biaya instalasi, training, dan biaya kirim. Berdasarkan pemeriksaan atas pengadaan ambulan tersebut diketahui bahwa atas pemungutan PPh pasal 23, Biro DPKP/PKBL tidak melakukan pemotongan atas pajak tersebut yaitu sebesar 15% kali Dasar Pemotongan Pajak (DPP) sebesar 40% atau tarif efektif sebesar 6% dari jumlah bruto, yaitu senilai Rp1.134.000,00 (DPKP sebesar Rp324.000,00 dan PKBL sebesar Rp810.000,00 (perhitungan lihat lampiran 1). Hal tersebut tidak sesuai dengan UU No.17 Tahun 2000 tentang PPh pasal 23 menetapkan antara lain bahwa “Atas penghasilan dengan nama dan bentuk apapun yang dibayarkan atau terutang oleh badan pemerintah, subjek pajak dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada wajib pajak dalam negeri atau badan usaha tetap, dipotong oleh pihak yang wajib membayarkan atas imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong pajak penghasilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21”. Hal ini mengakibatkan terdapat kehilangan penerimaan negara dari PPh pasal 23 sebesar Rp810.000,00 yang tidak dipungut dan disetorkan dari transaksi PKBL. Keadaan ini terjadi karena Biro DPKP/PKBL belum sepenuhnya memahami dan melaksanakan ketentuan pajak yang berlaku. Direksi PT Jamsostek menjelaskan sebagai berikut : 81 BPK-RI/ AUDITAMA V

(a) Terhadap PPh pasal 23 terhutang tersebut akan kami perhitungkan dengan tagihan pada termin/pelunasan berikutnya sesuai kesepakatan dengan PT SKN masingmasing SPK tersebut. (b) Masalah pajak akan menjadi perhatian Biro DPKP/PKBL di masa yang akan datang. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Jamsostek supaya

memperhitungkan PPh Pasal 23 terhutang tersebut dengan tagihan pada termin/pelunasan berikutnya. Menginstruksikan kepada Biro DPKP/PKBL agar memahami dan melaksanakan dengan sungguh-sungguh ketentuan-ketentuan yang berlaku di lingkup kegiatan organisasinya. 3) Sistem pengendalian intern proyek Pembangunan Rumah Baca belum sepenuhnya memadai. Dalam tahun 2004, Program Bina Lingkungan telah merencanakan pembangunan rumah baca di 20 lokasi yang berada di wilayah Kantor Cabang PT Jamsostek dengan anggaran sebesar Rp5.000.000.000,00, dan telah direalisasikan di 17 Kantor Cabang dengan nilai sebesar Rp2.840.552.300,00. Pembangunan rumah baca tersebut mengacu kepada: (a) Notulen rapat rencana pembangunan rumah baca antara Deputi Menteri BUMN Bidang Logistik dan Pariwisata dengan 13 Direktur Utama BUMN tanggal 7 Januari 2004. (b) Keputusan Direksi PT Jamsostek No. KEP/23/022004 tanggal 25 Februari 2004 tentang bantuan pembangunan rumah baca untuk masyarakat. (c) Surat Direktur Utama PT Jamsostek No.B/1702/022004 tanggal 25 Februari 2004 tentang Pembangunan rumah baca. Mengingat pembangunan rumah baca tersebut belum dianggarkan maka Direksi dan Dewan Komisaris PT Jamsostek mengajukan surat kepada Menteri BUMN dengan No.R/928/072004 tanggal 16 Juli 2004 tentang tambahan anggaran Pembangunan Rumah Baca sebanyak 20 Rumah Baca @ Rp250.000.000,00 sebesar 82 BPK-RI/ AUDITAMA V

Rp5.000.000.000,00.

Menteri

BUMN

selaku

RUPS

melalui

surat

No.S-

498/MBU/2004 tanggal 17 September 2004 telah menyetujui penambahan anggaran PKBL sebesar Rp5 milyar yang diambil dari Cadangan Umum. Kebijakan konstribusi pembangunan rumah baca adalah sebagai berikut : - Penyediaaan tanah - Peralatan komputer dan buku-buku - Biaya pengelolaan dan pemeliharaan : : : Pemerintah Daerah/Instansi lain PT Jamsostek Yayasan Taman Bacaan Indonesia - PT Jamsostek - Yayasan Taman Bacaan - Pemerintah Daerah Berdasarkan pemeriksaan atas dokumen terkait dengan proyek rumah baca diketahui hal-hal sebagai berikut : (a) Pembangunan rumah baca kurang direncanakan dengan baik. Keputusan Direksi PT Jamsostek No.KEP/23/022004 tanggal 25 Februari 2004 tentang bantuan pembangunan rumah baca untuk masyarakat menyatakan bahwa bantuan pembangunan rumah baca yang diberikan adalah sebanyak 14 unit akan tetapi Surat Direktur Utama PT Jamsostek No.B/1702/022004 tanggal 25 Februari 2004 tentang Pembangunan rumah baca menyatakan bahwa rumah baca yang akan dibangun adalah sebanyak 17 unit. Dengan adanya perbedaan jumlah rumah baca yang akan dibangun tersebut memperlihatkan bahwa PT Jamsostek belum merencanaan secara baik pembangunan rumah baca. Selain itu, perencanaan yang kurang baik tersebut terlihat pada realisasi pembangunan baca yang hanya mencapai 14 rumah baca dari 20 rumah baca yang diajukan ke Menteri BUMN. (b) Kepala Kantor Wilayah/Cabang yang melaksanakan pembangunan rumah baca belum membuat laporan pertanggungjawaban penggunaan dana. Sampai dengan akhir pemeriksaan tanggal 31 Maret 20005, Kepala Kantor Wilayah/Cabang yang melaksanakan 83 pembangunan rumah baca belum - Pembangunan rumah baca dan furniture :

BPK-RI/ AUDITAMA V

memberikan laporan pertanggungjawaban realisasi penggunaan dana. Oleh karena itu, Biro DPKP/PKBL Kantor Pusat tidak dapat melakukan pengendalian penggunaan dana tersebut dibandingkan dengan perencanaan yang diajukan masing-masing Kepala Kantor Wilayah/Cabang ke Biro DPKP/PKBL (c) Kantor Wilayah/Cabang yang melaksanakan pembangunan rumah baca tidak disiplin dan tertib dalam penggunaan dana. Dalam pembangunan rumah baca tersebut, kantor wilayah/cabang menggunakan dana yang berasal dari program kemitraan dan DPKP meskipun Biro DPKP/PKBL telah memberikan dana (dropping) terkait ke masing-masing kantor wilayah/cabang. Pengeluaran dari rekening DPKP maupun Kemitraan untuk pembangunan rumah baca tersebut, dicatat sebagai Pos Sementara Dalam Penyelesaian pada masingmasing pembukuan program DPKP maupun Kemitraan. Oleh karena itu, penggunaan dana dari program lain tersebut menimbulkan adanya pos sementara dalam penyelesaian pada laporan keuangan program DPKP maupun Kemitraan. Selain itu, dengan tidak tertibnya kantor cabang/wilayah menggunakan dana tersebut menimbulkan adanya pengeluaran pada Kantor Cabang Makasar yang diragukan pertanggungjawabannya sebesar Rp57.810.313,00. Pembayaran atas pekerjaan rumah baca tersebut sebenarnya telah dikeluarkan melalui rekening Program Bina Lingkungan namun dikeluarkan lagi dari rekening bank Program DPKP dengan nilai yang sama. (d) Penanggung jawab beban pengelolaan rumah baca belum jelas Berdasarkan Pengarahan Ketua I Yayasan Taman Bacaan Indonesia pada tanggal 13 April 2004 dan diperkuat pada pertemuan antara Direktur Utama dengan Ketua Umum Yayasan Taman Bacaan Indonesia pada tanggal 24 Juni 2004, diketahui bahwa konsep pengelolaan rumah baca adalah sebagai berikut: Perjanjian kerjasama pembangunan rumah baca di mana BUMN menyerahkan uang atau pembangunan rumah baca dan gaji pegawai rumah baca kepada Yayasan Taman Bacaan Indonesia.

84

BPK-RI/ AUDITAMA V

Perjanjian

kerjasama

pinjam

pakai

tanah

dimana

Pemerintah

Daerah/BUMN/instansi lain yang memiliki lokasi tanah rumah baca menyerahkan kepada Yayasan Taman Bacaan Indonesia sebagai hak pinjam pakai tanah. Hingga saat ini belum ada kebijakan dari Kementerian BUMN terhadap beban biaya pengelolaan rumah baca yang meliputi: Gaji pegawai rumah baca Biaya telepon, listrik dan air Biaya pemeliharaan rumah baca Dari kebijakan kontribusi tersebut tidak jelas siapa yang akan menanggung biaya pengelolaan dan pemeliharaan rumah baca untuk masa yang akan datang, sedangkan pengeluaran biaya pengelolaan rumah baca per 31 Desember 2004 sebesar Rp26.215.000,00 dibebankan pada Program Bina Lingkungan. Pembangunan rumah baca seharusnya memperhatikan antara lain hal-hal sebagai berikut: (a) penerapan fungsi-fungsi utama manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian agar terbangun suatu sistem pengendalian intern atas pembangunan rumah baca yang memadai. (b) Penyaluran/penggunaan dana masing-masing program baik DPKP, Kemitraan maupun Bina Lingkungan harus terpisah agar pengendalian lebih mudah dilaksanakan. (c) Sebelum dan atau pada saat pembangunan rumah baca, dibuat perjanjian dengan Yayasan Taman Bacaan Indonesia yang mengatur pengelolaan rumah baca yang telah selesai dibangun. Hal tersebut mengakibatkan pertanggungjawaban penggunaan dana untuk pembangunan rumah baca belum sepenuhnya diyakini. Hal tersebut terjadi karena : (a) Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek tidak merencanakan secara memadai pembangunan rumah baca tersebut . 85 BPK-RI/ AUDITAMA V

(b) Kantor Cabang/Wilayah belum sepenuhnya tertib dalam penggunaan rekening bank program DPKP, program Kemitraan dan program Bina Lingkungan Direksi PT Jamsostek menjelaskan sebagai berikut : (a) Pembangunan Rumah Baca kurang direncanakan dengan baik. Sesuai persetujuan Menteri BUMN selaku RUPS dengan surat No.S498/MBU/2004 tanggal 17 September 2004 bahwa anggaran Pembangunan Rumah Baca sebesar Rp5.000,00 juta untuk 20 unit. Realisasi rumah baca hanya sebanyak 14 unit ditambah 1 unit dalam proses pembangunan dengan lokasi di Bima, NTB, sedangkan sisa anggaran Bina Lingkungan (anggaran Rumah Baca) telah digunakan untuk bantuan korban bencana gempa bumi dan tsunami di NAD. (b) Kepala Kantor Wilayah / Cabang yang melaksanakan pembangunan rumah baca belum membuat laporan pertanggungjawaban penggunaan dana. Pelaksanaan pembangunan rumah baca pada prinsipnya dilakukan oleh masingmasing Kantor Wilayah/Cabang yang mendapat penugasan dan telah diminta pertanggungjawabannya sebagai contoh surat yang dikirim kepada Kantor Wilayah VII surat No.B/10344/112004 tanggal 23 Nopember 2004 perihal Pembangunan Rumah Baca Kacab Kalbar. Sebagai penegasan kembali atas pertanggungjawaban pembangunan Rumah Baca, Biro DPKP/PKBL telah mengirim surat No.B/3215/042005, dan yang sudah mengirim laporan pertanggungjawaban seperti Kantor Cabang Kalbar, Kantor Cabang Bogor, Kantor Cabang Belawan, dan Kanwil V Jawa Tengah. (c) Kantor Wilayah/Cabang yang melaksanakan pembangunan Rumah Baca tidak disiplin dan tertib dalam penggunaan dana. Atas penggunaan dana yang diragukan pertanggungjawabannya oleh BPK-RI sebesar Rp57.810.313,00 akan dilakukan penelitian lebih lanjut ke Kantor Cabang Makassar. (d) Penanggung jawab beban pengelolaan Rumah Baca belum jelas

86

BPK-RI/ AUDITAMA V

Rumah Baca yang telah dibangun sebanyak 15 unit dengan rincian 11 unit sudah selesai 100%, sebanyak tiga unit selesai 90%, dan satu unit dalam proses pembangunan. Penanggung jawab dan pengelolaan Rumah Baca sebagai berikut: dua unit milik PT Jamsostek dan dikelola oleh Yayasan Manca dua unit milik Pemda dan dikelola oleh Yayasan Manca sembilan unit milik dan dikelola oleh Pemda dua unit milik dan dikelola Pesantren Khusus Rumah Baca sebanyak dua unit milik PT Jamsostek tersebut di atas, yang dibangun di lingkungan Rusunawa Program DPKP akan dialihkan kepemilikannya dan merupakan asset DPKP. Untuk selanjutnya, terhadap beban pengelolaan Rumah Baca akan dibuat perjanjian bahwa beban tersebut menjadi tanggung jawab pengelola. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek : (1) Sebelum melaksanakan suatu kegiatan senantiasa didahului dengan perencanaan yang baik, seperti menetukan jumlah yang akan diadakan disesuaikan dengan RKA, bagaimana cara pengadaannya, dan pengelolaannya, sehingga terbangun suatu sistem pengendalian intern atas pembangunan rumah baca yang memadai (2) Melalui Biro DPKP/PKBL meminta pertanggungjawaban pembangunan rumah baca kepada KC yang belum melaporkan pertanggungjawabannya, dan meneliti lebih lanjut atas penggunaan dana untuk rumah baca yang masih diragukan pertanggungjawabannya pada Kantor Cabang Makassar. (3) Menginstruksikan kepada Kantor Wilayah/Cabang agar selalu tertib dalam penggunaan rekening bank Program DPKP, Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan yang sudah dipisahkan.

87

BPK-RI/ AUDITAMA V

(4) Membuat kejelasan penaggungjawab atas beban pengelolaan rumah baca tersebut. 4) Pelaksanaan kegiatan Jamsostek peduli mudik lebaran yang dilaksanakan oleh PKBL belum sepenuhnya sesuai ketentuan. Dalam rangka kepedulian PT Jamsostek kepada tenaga kerja dan keluarganya yang akan merayakan Hari Raya ‘Idul Fitri ke kampung halamannya PT Jamsostek melalui Program PKBL melakukan kegiatan Jamsostek Peduli Mudik Lebaran (JPML). Dalam rangka kegiatan tersebut, Direktur Operasi dan Pelayanan melalui Memo No.44/DIROP/112004 tanggal 1 Nopember 2004 mengajukan proposal tentang JPML kepada Direktur Utama PT Jamsostek. Kegiatannya antara lain berupa pelayanan kesehatan/pengobatan cuma-cuma dan memberikan bingkisan kepada tenaga kerja yang sedang mudik. Atas memo tersebut disetujui oleh Direktur Utama sesuai disposisinya tanggal 1 Nopember 2004. Pelaksanaan atas kegiatan tersebut sesuai proposal akan dilaksanakan tiga hari sebelum Hari Raya Idul Fitri (h-3). Berdasarkan pelaksanaan kegiatan tersebut diatas dapat dijelaskan sebagai berikut: (a) Kegiatan pelayanan kesehatan cuma-cuma Pada tanggal 11 s.d 13 Nopember telah diadakan kegiatan Jamsostek peduli mudik 2004 oleh PKBL pada Kanwil III. Sesuai laporan pertanggungjawaban persekot kerja dalam rangka kegiatan tersebut diketahui untuk pos kesehatan/pengobatan di lokasi adalah sebesar Rp100.269.000,00 dengan rincian biaya sebagai berikut : − Terminal Pulo Gadung − Terminal Lebak Bulus − Terminal Kp Rambutan − Stasiun KA Senen − Pelabuhan Tanjung Priok − Ambulan keliling Rp19.350.000,00 Rp19.350.000,00 Rp19.350.000,00 Rp19.350.000,00 Rp10.000.000,00 Rp12.869.000,00

88

BPK-RI/ AUDITAMA V

Berdasarkan laporan pelaksanaan kegiatan tersebut tanggal 22 Nopember 2004, diketahui realisasi total pasien keseluruhan adalah 934 orang, dengan rincian sebagai berikut : − Terminal Pulo Gadung − Terminal Lebak Bulus − Terminal Kp Rambutan − Stasiun KA Senen − Pelabuhan Tanjung Priok − Ambulan keliling = 157 orang = 229 orang = 239 orang = 105 orang = 126 orang = 78 orang

Berdasarkan hasil pemeriksaan lebih lanjut atas kegiatan pelayanan kesehatan cuma-cuma mudik lebaran tersebut diketahui beberapa hal sebagai berikut : (1) Berdasarkan dokumen yang ada, pada rencana kegiatan tidak diketahui berapa target pasien yang akan dilayani. Target sebanyak 3.600 orang pasien/pekerja yang dilayani ditemukan pada laporan pelaksanaan kegiatan tanggal 22 Nopember 2004. Pada laporan pelaksanaan diketahui bahwa target 3.600 orang dilayani pada empat titik. Sedangkan sesuai dengan proposal pelaksanaan kegiatan dilaksanakan pada lima titik, dan realisasi pelaksanaan pada laporan ada di enam titik (termasuk ambulan keliling). Dengan target 3.600 orang pasien untuk enam lokasi (rata-rata untuk satu lokasi targetnya adalah 600 orang pasien) realisasinya hanya tercapai 25,94% dari target. Artinya realisasi yang dicapai sangat jauh dari yang diprediksi sebelumnya. Sehingga disimpulkan bahwa perencanaan kegiatan belum dilakukan dengan cermat, dan laporan pelaksanaan kegiatan yang dibuat belum sepenuhnya memberikan informasi yang tepat. (2) Berdasarkan dokumen pembayaran atas pertanggungjawaban persekot kerja diketahui bahwa empat kuitansi masing-masing sebesar Rp19.350.000,00

89

BPK-RI/ AUDITAMA V

atau dengan total Rp77.400.000,00 dibayarkan kepada Yayasan Mas Isman Klinik Medika Bintaro (YMIMB) untuk pembayaran biaya pengobatan cuma-cuma dan makanan kecil di Terminal Lebak Bulus, Kampung Rambutan, Pulo Gadung dan Stasiun KA Senen (empat titik lokasi). Sesuai dengan target bahwa pembayaran tersebut diberikan untuk melayani 2.400 orang (3.600 orang/6 lokasi x 4 titik lokasi), sedangkan realisasi hanya mencapai 730 orang atau 31,41% dari target. Sehingga terdapat selisih yang tidak dapat dipertanggungjawabkan karena seharusnya terdapat obat-obatan dan makanan kecil yang masih tersisa. (3) Terdapat perbedaan pembayaran atas biaya pengobatan dilokasi antara yang dibayarkan kepada dinas kesehatan pada titik lokasi Tanjung Priok sebesar Rp10.000.000,00, dibandingkan dengan empat titik lokasi di Pulo Gadung, Lebak Bulus, Kampung Rambutan dan Senen masing-masing sebesar Rp19.350.000,00 yang dibayarkan kepada YMIMB. Atau pembayaran kepada YMIMB hampir dua kali lipat yang dibayarkan kepada Dinas Kesehatan. (4) Berdasarkan pemeriksan atas kelengkapan dokumen pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan antara lain diketahui bahwa hanya terdapat daftar pasien yang dilayani oleh ambulan keliling yang melayani lokasi Kawasan Berikat Nusantara (KBN) yaitu sebanyak 82 pasien yang dilayani (dari total sebanyak 934 orang). Daftar pasien untuk titik lokasi lainnya tidak ditemukan. Akan tetapi, berdasarkan laporan pelaksanaan kegiatan diketahui bahwa realisasi pelayanan oleh ambulan kelililing hanya sebanyak 78 pasien atau lebih kecil jika dibandingkan daftar pasien yang dilayani hanya oleh KBN sebanyak 82 pasien. (5) Berdasarkan pemeriksaan atas kegiatan yang sama yang dilaksanakan oleh Program DPKP, diketahui bahwa atas empat titik lokasi yang dilaksanakan oleh YMIMB pada PKBL, juga dilaksanakan oleh Program DPKP. Dengan

90

BPK-RI/ AUDITAMA V

demikian dapat disimpulkan bahwa terjadi kegiatan yang sama pada tempat dan waktu yang sama dengan pelaksana kegiatan yang sama yaitu YMIMB. (6) Realisasi kegiatan Program DPKP dan PKBL untuk beberapa titik lokasi dilakukan pada waktu yang bersamaan yang apabila dilaksanakan oleh satu program saja sudah cukup mengingat realisasi dari Program DPKP dan PKBL (termasuk pelabuhan Tanjung Priok dan ambulan keliling) jauh di bawah target, yaitu masing-masing hanya 18,27 % dan 25,94%. Titik lokasi yang kegiatannya dilakukan bersamaan tersebut yaitu : Lokasi Terminal Lebak Bulus Terminal Kp Rambutan Terminal Pulo Gadung Stasiun Senen Jumlah Jumlah Pasien Program DPKP 167 213 131 147 658 Jumlah Pasien PKBL 229 239 157 105 730 Total Jumlah Pasien 396 452 288 252 1388

Apabila yang melaksanakan PKBL saja dengan target 3.600 orang pasien dengan jumlah total pasien 1.388 (dua program), maka realisasinyapun masih jauh di bawah target yaitu hanya 38,56%. Dengan demikian Program DPKP tidak perlu melaksanakan kegiatan tersebut, sehingga menghemat biaya sebesar Rp194.079.600,00. (b) Kegiatan paket mudik (pendidikan dan ibadah) Selain melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan cuma-cuma kepada pekerja yang mudik lebaran, juga dilaksanakan kegiatan berupa pemberikan bingkisan kepada tenaga kerja yang sedang mudik dan panti asuhan, berupa paket mudik dan paket panti. Berdasarkan laporan pertanggungjawaban kegiatan pelaksanaan antara lain diketahui untuk paket pendidikan berupa tas, buku tulis, bolpoint, dan tempat pensil terealisasi sebesar Rp55.000.000,00, sedangkan untuk paket ibadah berupa sarung terealisasi sebesar Rp75.000.000,00 atau masing-masing 100% dari yang direncanakan.

91

BPK-RI/ AUDITAMA V

Atas kedua paket tersebut di atas, sesuai penjelasan penanggungjawab kegiatan, bahwa paket dibagikan baik secara langsung oleh PT Jamsostek maupun tidak langsung antara lain melalui serikat pekerja kepada panti-panti asuhan dan anak-anak sekolah menjadi satu paket yang isinya antara lain tas,sarung, tempat pensil, pulpen dan buku tulis. Berdasarkan laporan distribusi atas paket yang telah disalurkan sebanyak 3.000 paket. Atas distribusi tersebut masih tersisa sebanyak tas sebanyak 2.000 buah dan sarung sebanyak 1.975 buah. Sedangkan untuk alat tulis habis tersalurkan. Dalam pelaksanaan kegiatan baik pada PKBL maupun Program DPKP yang dikelola dalam satu unit kerja seharusnya direncanakan dan dikoordinasikan dengan cermat dan baik untuk menghindari terjadinya pemborosan biaya. Keadaan tersebut mengakibatkan : (a) Tujuan penyelenggaraan program JPML belum sepenuhnya dapat tercapai. (b) Laporan pertanggungjawaban belum sepenuhnya dapat diyakini kewajarannya. Kondisi tersebut diatas disebabkan karena pelaksana kegiatan tidak melaksanakan kegiatan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggungjawab. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa akan menindaklanjuti dengan memberikan surat teguran untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut, meskipun pelaksanaan kesehatan cuma-cuma dalam rangka mudik lebaran masyarakat pekerja yang dilakukan oleh pihak penyelenggara dengan anggaran dari program Bina Lingkungan Kantor Pusat telah dipertanggungjawabkan secara formal. Untuk masa yang akan datang, penyaluran dana Program Bina Lingkungan dalam rangka pelayanan kesehatan cuma-cuma bagi masyarakat umum yang melaksanakan mudik lebaran akan lebih terkendali dan hati-hati (prudent) serta dapat dipertanggungjawabkan.

92

BPK-RI/ AUDITAMA V

Terhadap sisa tas sebanyak 2.000 buah dan sarung sebanyak 1.975 buah akan segera disalurkan ke Panti Asuhan. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Jamsostek supaya dalam pelaksanaan kegiatan baik pada PKBL maupun Program DPKP yang dikelola dalam satu unit kerja direncanakan dan dikoordinasikan dengan cermat dan baik untuk menghindari terjadinya pemborosan biaya. Dan dalam pelaksanaannya supaya berpedoman pada ketentuan dan peraturan yang berlaku sehingga kegiatan tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Atas sisa kegiatan paket mudik lebaran yaitu paket ibadah dan pendidikan agar segera ditentukan langkah selanjutnya. 10. Tindak Lanjut Audit tahun sebelumnya Terdapat temuan pemeriksaan tahun-tahun sebelumnya yang masih dipantau, yaitu : a. Hasil Audit BPK RI Hasil pemeriksaan tahun 2003 1) Piutang macet mencapai 43,51% dari saldo pinjaman per 31 Desember 2003 BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek melakukan upaya pengembalian atas pinjaman macet dan diragukan, dan melakukan monitoring untuk yang lancar dan kurang lancar serta meningkatkan kualitas pemberian pinjaman program PUKK. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa : (a) Pinjaman macet serbesar pertama sebanyak 204 Rp3.819.085.277,00 (b) Dari jumlah tersebut yang sudah diserahkan kepada KP2LN dengan surat No.B/8130/112003 tanggal 4 Nopember 2003 sebanyak 62 mitra binaan dengan nilai Pinjaman sebesar Rp1.788.418.960,00 dan yang sudah dinyatakan KP2LN sebagai Piutang Negara Sementara Belum Dapat Ditagih (PSBDT) sebanyak 52 mitra binaan dengan nilai pinjaman sebesar Rp1.595.981.000,00. Rp16.427.946.635,76 sudah dilaksanakan somasi mitra binaan dengan nilai pinjaman sebersar

93

BPK-RI/ AUDITAMA V

(c) Terhadap pinjaman macet yang dinyatakan PSBDT sebanyak 52 mitra binaan dengan nilai pinjaman Rp1.595.981.000,00 dengan surat No.B/10106/112004 Direksi sudah mengirimkan surat kepada Menteri BUMN untuk dihapusbuku untuk dicatat ke dalam Pos Pinjaman Bermasalah. (d) Dari 204 mitra binaan yang sudah disomasi sisanya sebanyak 152 mitra binaan (204 – 52) dalam status : Lunas Resceduling Proses penyetahan ke KP2LN Penelitian Bersama Koreksi Jumlah 20 MB 12 MB 113 MB 7 MB 152 MB Rp Rp Rp Rp Rp Rp 187.708.000,00 242.221.000,00 1.748.337.317,00 38.877.000,00 6.560.000,00 2.223.103.317,00

(e) Direksi PT Jamsostek sudah mengirim surat kepada Kantor Wilayah dan Kantor Cabang No.B/7934/2003/102003 perihal Penyerahan Berkas Piutang Macet PUKK kepada KP2LN untuk segera menyelesaikan proses penyerahan berkas Pinjaman Macet kepada KP2LN. (f) Direksi PT Jamsostek sudah mengirim surat kepada Kantor Wilayah dan Kantor Cabang No. B/883/012004 perihal Penyelesaian Piutang Macet Program PUKK Tahun buku 2003. (g) Direksi PT Jamsostek telah mengirim surat ke Kantor Wilayah dan Kantor Cabang melalui surat No.B/4144/052004 tanggal 10 Mei 2004 perihal Peningkatan Kinerja Program Kemitraan supaya monitoring dan meningkatkan kualitas pinjaman. Berdasarkan tindak lanjut yang telah dilakukan, maka temuan ini masih dipantau karena belum memenuhi saran yang diberikan oleh BPK-RI. 2) Pemberian pinjaman dana Program Kemitraan pada Kanwil III sebesar Rp890,00 juta tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek memberi sanksi kepada petugas yang bertanggungjawab atas penyaluran Program Kemitraan di Kanwil III dan meningkatkan pengawasan pelaksanaan penyaluran kepada mitra binaan di 94 BPK-RI/ AUDITAMA V

masa yang akan datang, mengambil langkah-langkah penyelamatan atas dana yang dipinjamkan dengan meminta agunan/jaminan aset dari perusahaan-perusahaan tersebut. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa : (a) PT Jamsostek sedang melakukan penelitian yang mendalam terhadap penyaluran pinjaman tersebut sebagai dasar pemberian sanksi jika terjadi penyimpangan. (b) Upaya-upaya penagihan terhadap debitur terus dilaksanakan dan Kantor Wilayah III telah mengirimkan surat kepada Tim PUKK & DPKP PT Jamsostek Kantor Wilayah III supaya melengkapi persyaratan penyaluran PUKK/DPKP melalui surat No.B/250/04/2004 tanggal 21 April 2004. Berdasarkan tindak lanjut yang telah dilakukan, maka masih dipantau tindak lanjutnya karena belum memenuhi saran BPK-RI. 3) Penyaluran pinjaman sebesar Rp100,00 juta kepada Koperasi Serba Usaha DKI Jakarta diragukan kewajarannya BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek memberi sanksi kepada petugas yang bertanggungjawab atas penyaluran Program Kemitraan di Kanwil III PT Jamsostek dan meningkatkan pengawasan pelaksanaan penyaluran kepada mitra binaan di masa yang akan datang. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa : (a) PT Jamsostek sedang melakukan penelitian yang mendalam terhadap penyaluran pinjaman tersebut sebagai dasar pemberian sanksi jika terjadi penyimpangan. (b) Upaya-upaya penagihan terhadap debitur terus dilaksanakan dan Kantor Wilayah III telah mengirimkan surat kepada Tim PUKK & DPKP PT Jamsostek Kantor Wilayah III supaya melengkapi persyaratan penyaluran PUKK/DPKP melalui surat No.B/250/04/2004 tanggal 21 April 2004. Berdasarkan tindak lanjut yang telah dilakukan, maka masih dipantau tindak lanjutnya karena belum memenuhi saran BPK-RI.

95

BPK-RI/ AUDITAMA V

4) Terdapat penyaluran pinjaman kepada 27 mitra binaan yang tidak didukung dengan syarat kuantitatif, kualitatif dan kelengkapan dokumen BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek memberi sanksi kepada petugas yang bertanggungjawab atas penyaluran Program Kemitraan di Kanwil III dan meningkatkan pengawasan pelaksanaan penyaluran kepada mitra binaan di masa yang akan datang. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa : (a) PT Jamsostek sedang melakukan penelitian yang mendalam terhadap penyaluran pinjaman tersebut sebagai dasar pemberian sanksi jika terjadi penyimpangan. (b) Upaya-upaya penagihan terhadap debitur terus dilaksanakan dan Kantor Wilayah III telah mengirimkan surat kepada Tim PUKK & DPKP PT Jamsostek Kantor Wilayah III supaya melengkapi persyaratan penyaluran PUKK/DPKP melalui surat No.B/250/04/2004 tanggal 21 April 2004. Berdasarkan tindak lanjut yang telah dilakukan, maka masih dipantau tindak lanjutnya karena belum memenuhi saran BPK-RI. Hasil pemeriksaan tahun-tahun sebelumnya 1) Pengembalian pinjaman dana PUKK dari Koperasi Pondok Pesantren KH Abdurrahman Ambo Dalle sebesar Rp200,00 juta mengalami kemacetan BPK-RI menyarankan agar Biro DPKP/PUKK lebih meningkatkan tertib administrasi, lebih intensif melakukan pengawasan/monitoring dan penagihan piutang kepada mitra binaan. Selain itu, agar Menteri BUMN dalam mengambil kebijakan penyaluran bantuan berupa instruksi kepada Direksi tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku. Atas permasalahan tersebut, Direksi memberikan penjelasan: (a) Telah dilakukan kunjungan kepada Mitra Binaan tersebut sesuai dengan laporan hasil kunjungan tanggal 29 September 2003, bahwa Mitra Binaan tersebut tidak dapat diketahui lagi alamat yang baru, sehingga upaya penagihan (Surat

96

BPK-RI/ AUDITAMA V

Peringatan) tidak dapat dilakukan lagi, untuk selanjutnya akan diserahkan kepada KP2LN. (b) Berkas Pinjaman Macet sudah diserahkan kepada KP2LN Jakarta V untuk dilakukan penelitian bersama surat No.B/40/012005 tanggal 4 Januari 2005 perihal Penelitian Lapangan Piutang Macet Program DPKP & PKBL. (c) Berdasarkan hasil penelitian bersama dari KP2LN Jakarta V, Mitra Binaan atas nama KH. Abdulrahman Ambo Dalle dinyatakan sulit ditagih berdasarkan surat KP2LN Jakarta V No.S-224/WPL.03/KP.05/2005 tanggal 17 Februari 2005 Lampiran 3. Berdasarkan tindak lanjut yang telah dilakukan, maka masih dipantau tindak lanjutnya karena belum memenuhi saran BPK-RI. 2) Pengembalian pinjaman dana PUKK dari Induk Koperasi Wirausaha Nasional sebesar Rp1.145,00 juta mengalami kemacetan BPK-RI menyarankan agar Biro DPKP/PUKK meningkatkan tertib administrasi dan monitoring data mitra binaan, dan lebih intensif melakukan penagihan pinjaman-nya. Selain itu, Menteri BUMN agar meminta pertanggungjawaban Direksi atas pemberian pinjaman yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan meminta kepada pihak lain agar tidak membuat kebijakan di luar kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan Menteri BUMN tentang pengelolaan PUKK. Atas permasalahan tersebut Direksi memberikan penjelasan: (a) Induk Koperasi Wirausaha Nasional (INKOWINA) sampai dengan saat ini baru membayar cicilan sebesar Rp 40.421.969,70. (b) Terhadap saldo pinjaman, PT Jamsostek sudah memberikan surat peringatan kepada INKOWINA No.B/7020/092003 tanggal 29 September 2003, No.B/1214/022004 tanggal 11 Februari 2004, dan No.B/2826/032004 tanggal 31 Maret 2004. (c) PT Jamsostek sudah menyerahkan berkas pinjaman macet Inkowina kepada KP2LN Jakarta V untuk dilakukan penelitian bersama surat No.B/40/012005 97 BPK-RI/ AUDITAMA V

tanggal 4 Januari 2005 perihal Penelitian Lapangan Piutang Macet Program DPKP & PKBL. (d) Berdasarkan hasil penelitian bersama dari KP2LN Jakarta V, Mitra Binaan atas nama INKOWINA dinyatakan sulit ditagih sesuai surat KP2LN Jakarta V No.S224/WPL.03/KP.05/2005 tgl. 17 Februari 2005 Lampiran 2. Berdasarkan tindak lanjut yang telah dilakukan, maka masih dipantau tindak lanjutnya karena belum memenuhi saran BPK-RI. 3) Pengembalian pinjaman dana PUKK dari Koperasi Melati Muda sebesar Rp1.125,00 juta mengalami kemacetan BPK-RI menyarankan agar Biro DPKP/PUKK lebih meningkatkan tertib administrasi dan monitoring data mitra binaan, dan penagihan pinjamannya. Selain itu, Menteri BUMN agar meminta pertanggungjawaban Direksi atas pemberian pinjaman yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan meminta kepada pihak lain agar tidak membuat kebijakan di luar kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan Menteri BUMN tentang pengelolaan PUKK. Atas permasalahan tersebut Direksi memberikan penjelasan: (a) PT Jamsostek sudah memberikan surat peringatan kepada Koperasi Melati Muda : • Surat peringatan pertama No.B/7020/092003 tanggal 29 September 2003 tentang Surat Peringatan I. • Surat Peringatan kedua No.B/1215/022004 tanggal 11 Februari 2004 tentang Surat Peringatan II. • Surat Peringatan ketiga No.B/2829/032004 tanggal 31 Maret 2004 tentang Surat Peringatan III (terakhir). (b) PT Jamsostek telah menyerahkan berkas Pinjaman Macet Koperasi Melati Muda kepada KP2LN Jakarta V untuk dilakukan penelitian bersama surat No.B/40/012005 tanggal 4 Januari 2005 perihal Penelitian Lapangan Piutang Macet Program DPKP & PKBL.

98

BPK-RI/ AUDITAMA V

(c) Berdasarkan hasil penelitian bersama dari KP2LN Jakarta V, Mitra Binaan atas nama Koperasi Melati Muda dinyatakan sulit ditagih sesuai surat KP2LN Jakarta V No.S224/WPL.03/KP.05/2005 tanggal 17 Februari 2005 Lampiran 3 Berdasarkan tindak lanjut yang telah dilakukan, maka masih dipantau tindak lanjutnya karena belum memenuhi saran BPK-RI. 4) Pengembalian pinjaman dana PUKK dari Kopkar PT Kong Thai Indonesia Shoes Manufacturing sebesar Rp50,00 juta mengalami kemacetan BPK-RI menyarankan agar Biro DPKP/PUKK lebih meningkatkan tertib administrasi, monitoring data mitra binaan dan mengupayakan secara optimal atas pengembalian pinjaman tersebut. Atas permasalahan tersebut Direksi memberikan penjelasan bahwa: (a) PT Jamsostek telah memberikan surat peringatan kepada Kopkar PT Kong Thai : • Surat peringatan pertama No.B/7020/092003 tanggal 29 September 2003 tentang Surat Peringatan I. • Surat Peringatan kedua No.B/1245/022004 tgl. 11 Februari 2004 tentang Surat Peringatan II. (b) PT Jamsostek telah menyerahkan berkas Pinjaman Macet Kopkar PT Kong Thai kepada KP2LN Jakarta V untuk dilakukan penelitian bersama surat No.B/40/012004 tanggal 4 Januari 2004 perihal Penelitian Lapangan Piutang Macet Program DPKP & PKBL. (c) Berdasarkan hasil penelitian bersama dari KP2LN Jakarta V, Mitra Binaan atas nama Kopkar PT Kong Thai dinyatakan sulit ditagih sesuai surat KP2LN Jakarta V No.S-224/WPL.03/KP.05/2005 tanggal 17 Februari 2005 Lampiran 3. Berdasarkan tindak lanjut yang telah dilakukan, maka masih dipantau tindak lanjutnya karena belum memenuhi saran BPK-RI.

99

BPK-RI/ AUDITAMA V

5) Penyaluran dana PUKK kepada YPAIT sebesar Rp500,00 juta tidak diikat dengan perjanjian pinjaman dan pengembaliannya mengalami kemacetan BPK-RI menyarankan agar Biro DPKP/PUKK lebih meningkatkan tertib administrasi, lebih intensif melakukan pengawasan/monitoring dan penagihan piutang kepada mitra binaan. Selain itu, agar Menteri BUMN dalam mengambil kebijakan penyaluran bantuan berupa instruksi kepada Direksi tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa : (a) Berkas pinjaman macet sudah diserahkan kepada KP2LN Jakarta V untuk dilakukan penelitian bersama surat No.B/40/012005 tanggal 4 Januari 2005 perihal Penelitian Lapangan Piutang Macet Program DPKP & PKBL. (b) Berdasarkan hasil penelitian bersama dari KP2LN Jakarta V, Mitra Binaan Koperasi Ponpes Ambodalle, Inkowani, Koperasi Melati Muda, Kopkar PT Kong Thai, dan YPAIT, dinyatakan sulit ditagih berdasarkan surat KP2LN Jakarta V No.S-224/WPL.03/KP.05/2005 tanggal 17 Februari 2005. (c) Berdasarkan surat No.B/1864/032005 tanggal 9 Maret 2005 kepada Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara tentang Usulan pertimbangan penghapusbukuan piutang macet enam mitra binaan sebesar Rp3.691.938.121,26. Berdasarkan tindak lanjut yang telah dilakukan, maka masih dipantau tindak lanjutnya karena belum memenuhi saran BPK-RI. 6) Tingkat penyaluran pinjaman kepada Mitra Binaan tahun 2002 masih rendah dan terdapat pinjaman PUKK yang macet per 31 Desember 2002 sebesar Rp17.187,73 juta atau sebesar 51,80% dari saldo pinjaman. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Jamsostek memerintahkan kepada Biro DPKP/PUKK untuk lebih intensif melakukan sosialisasi dan pembinaan kepada petugas pengelola DPKP di Kantor Pusat, Kanwil dan Cabang; melakukan pembenahan organisasi dan penambahan pengelola DPKP/PUKK di Kanwil dan Cabang, dan Biro DPKP/PUKK lebih meningkatkan tertib administrasi dan lebih

100

BPK-RI/ AUDITAMA V

intensif melakukan pengawasan/monitoring, serta penagihan piutang kepada mitra binaan. Atas permasalahan tersebut Direksi memberikan penjelasan bahwa: (a) Dengan adanya penyempurnaan struktur organisasi sesuai SK Direksi No.KEP/140/072004 tentang Penyempurnaan Struktur Organisasi PT Jamsostek Kantor Wilayah, diharapkan terjadi peningkatan pengawasan, tertib administrasi dan peningkatan penagihan piutang di Kantor Wilayah dan Kantor Cabang. (b) Pada tanggal 14 s/d 18 Desember 2004 petugas pelaksana Program PUKK (Kemitraan) di Kantor Wilayah dan Kantor Cabang diberikan Diklat Teknis Analisis Program DPKP dan PKBL sebanyak 29 petugas. (c) Direksi mengirimkan surat kepada Kantor Wilayah dan Kantor Cabang No.B/358/012005 menganjurkan kepada Kantor Wilayah dan Kantor Cabang dalam melaksanakan Program Kemitraan supaya mendayagunakan petugas yang sudah mengikuti Diklat Teknis Analisis. Berdasarkan tindak lanjut yang telah dilakukan, maka masih dipantau tindak lanjutnya karena belum memenuhi saran BPK-RI.

b. Hasil Audit BPKP Sesuai dengan berita acara pemutakhiran temuan BPKP Program PUKK tahun buku 2000 s.d. 2002, temuan yang masih dipantau adalah: a. Tahun 2002 Terdapat penggunaan dana PUKK yang tidak sesuai dengan peruntukan dalam perjanjian pinjaman dan duplikasi pemberian pinjaman kepada mitra binaan yang sama. Kepada Direksi PT Jamsostek disarankan agar:
(1) Memberikan peringatan kepada Kepala Kantor Wilayah VIII Makassar agar tidak

terulang kembali pemberian pinjaman kepada mitra binaan yang sama.
(2) Memerintahkan Kepala Kanwil VIII Makassar untuk tetap melakukan penagihan

kepada debitur yang macet tersebut.

101

BPK-RI/ AUDITAMA V

Biro DPKP/PUKK memberikan tanggapan bahwa:
(1) Tidak diketahuinya perubahan/ pengalihan usaha mitra binaan dimaksud karena

tidak aktifnya petugas PUKK setempat untuk memantau dan evaluasi pembayaran mitra binaan di wilayahnya.
(2) Sedangkan terjadinya pemberian fasilitas pinjaman dana PUKK pada mitra binaan

yang sama disebabkan karena adanya rekomendasi dari Kantor Meneg BUMN, sesuai surat No.S-47/DU/2/PBUMN/99 tanggal 30 Maret 1999 tentang Alokasi dana PUKK.
(3) Penagihan debitur macet akan diserahkan kepada KP2LN setempat. (4) Dalam tahun 2003 seluruh piutang macet mitra binaan sudah disomasi dan

melakukan kunjungan, karena petugas dan biaya pembinaan masih transisi.
(5) Tahapan-tahapan penyelesaian piutang macet PUKK sudah menyampaikan

kepada Kanwil dan Kacab sesuai Surat Direksi No.B/883/012004 tanggal 28 Januari 2004 tentang penyelesaian piutang macet program PUKK tahun buku 2003.
(6) Surat peringatan kepada Kanwil VIII sudah disampaikan melalui Surat No.

B/3477/04/2004 tanggal 20 April 2004 tentang klarifikasi bantuan pinjaman dan perjanjian PUKK. b. Tahun 2001 a) Pemberian Modal Kerja kepada YPAIT di Makassar sebesar Rp 500,00 juta tidak diikat dengan perjanjian. Sampai saat pemeriksaan berakhir, mitra binaan belum menandatangani perjanjian serta belum pernah mengangsur. Pihak Manajemen telah membuat teguran melalui surat:
(1) No.R/2841/042000 tanggal 27 April 2000 dan No.R/97/052000 tanggal 19

Mei 2000 isinya menyebutkan bahwa draf perjanjian antara YPAIT dengan PT Jamsostek agar segera ditindak lanjuti.
(2) No.B/27542002 tanggal 2 April 2002 kepada YPAIT untuk menyampaikan

laporan pertanggung jawaban penggunaan dana dan membayar anggsuran.

102

BPK-RI/ AUDITAMA V

b) Pinjaman Modal Kerja kepada 2 mitra binaan ternyata kegiatannya macet, yaitu CV Mulya Ternak dengan surat perjanjian No.92/PUKK/0699 tanggal 14 Juni 1999 dan CV Awali dengan surat perjanjian No.94/PUKK/0699 tanggal 14 Juni 1999 masing-masing sebesar Rp20,00 juta. Sudah dilakukan kunjungan oleh Ketua Tim PUKK Kanwil VIII dan sudah dibuat pernyataan untuk mengangsur, namun belum ada tindak lanjutnya. c) Pinjaman PUKK yang realisasi penggunaannya tidak sesuai dengan proposal, yaitu pinjaman kepada pengrajin keramik Kasongan Subur Ceramics sebesar Rp300,00 juta. Atas pinjaman tersebut telah disetujui penjadualan kembali sesuai Surat Kanwil V No.B/331/032004 tanggal 10 Maret 2004. Sisa pinjaman adalah sebesar Rp49,15 juta. d) Terdapat penyaluran pinjaman dana PUKK yang angsurannya macet yaitu kepada: – CV Margasari Utama sebesar Rp112,50 juta – CV Atam’s Cipta Sarana sebesar Rp20,00 juta – Apotek Tri Mulya sebesar Rp10,00 juta Terhadap ketiga mitra binaan dimaksud telah diserahkan kepada KP2LN setempat sesuai Surat Direksi No.B/883/012004 tanggal 28 Januari 2004 tentang penyelesaian piutang macet program PUKK tahun buku 2003. Atas permasalahan tersebut di atas, PT Jamsostek masih melakukan proses penyelesaian. Temuan-temuan tersebut masih dipantau, karena upaya penyelesaian tindak lanjutnya, selain masih dalam proses ada juga yang terkait dengan pihak-pihak lain. BPK-RI menyarankan agar Direksi mengupayakan secara maksimal penyelesaian temuan pemeriksaan tahun-tahun sebelumnya baik atas temuan BPK-RI maupun BPKP.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

103

BPK-RI/ AUDITAMA V

Lampiran : 1/1

PENGADAAN AMBULANCE TAHUN 2004 DPKP DAN PKBL
NO SPK NILAI JENIS UNIT

PERUNTUKAN SORONG BOGOR SERANG LHOKSEUMAWE SORONG BOGOR SERANG LHOKSEUMAWE IMAM PRASOJO YAYASAN IBU DAN ANAK

HARGA /UNIT

AMBULAN PPN BBN

SUB TOTAL 292.000.000 292.000.000 292.000.000 292.000.000 250.000.000

KIRIM

BIAYA KIRIM, INSTALASI DAN TRAINING INSTAL &TRAIN SUB TOTAL PPN 16.400.000 1.800.000 2.500.000 15.000.000 1.640.000 180.000 250.000 1.500.000 35.700.000 3.570.000

SUBTOTAL 18.040.000 1.980.000 2.750.000 16.500.000 39.270.000

TOTAL

ANGGAR AN

BEBAN PPh Ps 23

Keterangan

1 SPK/01/012004 TGL 9 Januari 2004 1.457.270.000

TC 310.040.000 293.980.000 294.750.000 308.500.000 NON-TC 250.000.000 1.457.270.000

4 310.040.000 293.980.000 294.750.000 308.500.000 DPKP DPKP DPKP DPKP Tidak dapat dihitung karena tidak pisah antara biaya instalasi dan training dan biaya kirim

1 DKI

250.000.000 DPKP 1.457.270.000 -

TC 18 BINJAI PADANG MUARA ENIM DUMAI BATAM DKI DKI DKI SURAKARTA TANJUNG PERAK NTT NTB SAMARINDA KALSEL PONRIANAK PALANGKARAYA MAKASAR AMBON BINJAI PADANG MUARA ENIM DUMAI BATAM GROGOL BEKASI TANGERANG SURAKARTA TANJUNG PERAK NTT NTB SAMARINDA KALSEL PONRIANAK PALANGKARAYA MAKASAR AMBON 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 4.622.580.000

-

-

1.418.000.000

2 SPK/44/042004 TGL 1 APRIL 2004

5.481.117.000

305.799.000 305.799.000 304.776.000 305.799.000 307.845.000 294.975.000 294.975.000 294.975.000 305.799.000 305.799.000 307.845.000 307.845.000 306.822.000 306.822.000 305.799.000 307.845.000 304.776.000 306.822.000 5.481.117.000 TC 310.485.000 305.799.000 310.485.000 304.776.000 306.327.000 295.250.000 295.250.000 295.250.000 295.250.000 295.250.000 295.250.000 3.309.372.000 379.050.000,00 GIGI 1 11

25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 462.258.000

10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 180.162.000

292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 5.265.000.000

6.240.000 6.240.000 5.760.000 6.240.000 7.200.000 6.240.000 6.240.000 7.200.000 7.200.000 6.720.000 6.720.000 6.240.000 7.200.000 5.760.000 6.720.000 97.920.000

5.850.000 5.850.000 5.400.000 5.850.000 6.750.000 2.250.000 2.250.000 2.250.000 5.850.000 5.850.000 6.750.000 6.750.000 6.300.000 6.300.000 5.850.000 6.750.000 5.400.000 6.300.000 98.550.000

12.090.000 12.090.000 11.160.000 12.090.000 13.950.000 2.250.000 2.250.000 2.250.000 12.090.000 12.090.000 13.950.000 13.950.000 13.020.000 13.020.000 12.090.000 13.950.000 11.160.000 13.020.000 196.470.000

1.209.000 1.209.000 1.116.000 1.209.000 1.395.000 225.000 225.000 225.000 1.209.000 1.209.000 1.395.000 1.395.000 1.302.000 1.302.000 1.209.000 1.395.000 1.116.000 1.302.000 19.647.000

13.299.000 13.299.000 12.276.000 13.299.000 15.345.000 2.475.000 2.475.000 2.475.000 13.299.000 13.299.000 15.345.000 15.345.000 14.322.000 14.322.000 13.299.000 15.345.000 12.276.000 14.322.000 216.117.000

305.799.000 305.799.000 304.776.000 305.799.000 307.845.000 294.975.000 294.975.000 294.975.000 305.799.000 305.799.000 307.845.000 307.845.000 306.822.000 306.822.000 305.799.000 307.845.000 304.776.000 306.822.000 5.481.117.000

DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP

351.000 351.000 324.000 351.000 405.000 135.000 135.000 135.000 351.000 351.000 405.000 405.000 378.000 378.000 351.000 405.000 324.000 378.000 5.913.000

3 SPK/89/062004 TGL 15 JUNI 2004 3.309.372.000

BANDA ACEH KISARAN BATAM II BENGKULU TARAKAN DKI DKI DKI DKI DKI DKI

BANDA ACEH KISARAN BATAM II BENGKULU TARAKAN DKI DKI DKI DKI DKI DKI

256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 2.824.910.000

25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 282.491.000

10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 110.099.000

292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 3.217.500.000

10.500.000 6.240.000 10.500.000 5.760.000 6.720.000 39.720.000

5.850.000 5.850.000 5.850.000 5.400.000 5.850.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 43.800.000

16.350.000 12.090.000 16.350.000 11.160.000 12.570.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 83.520.000

1.635.000 1.209.000 1.635.000 1.116.000 1.257.000 250.000 250.000 250.000 250.000 250.000 250.000 8.352.000

17.985.000 13.299.000 17.985.000 12.276.000 13.827.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000 91.872.000

310.485.000 305.799.000 310.485.000 304.776.000 306.327.000 295.250.000 295.250.000 295.250.000 295.250.000 295.250.000 295.250.000 3.309.372.000

DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP

351.000 351.000 351.000 324.000 351.000 150.000 150.000 150.000 150.000 150.000 150.000 2.628.000

4 SPK/113/072004 TGL 28 JULI 2004

DKI

DKI

-

-

-

-

-

-

-

-

-

379.050.000 DPKP 379.050.000

BPK-RI/AUDITAMA V

Lampiran : 1/2

NO

SPK

NILAI

JENIS

UNIT

PERUNTUKAN

HARGA /UNIT

AMBULAN PPN BBN

SUB TOTAL

KIRIM

BIAYA KIRIM, INSTALASI DAN TRAINING INSTAL &TRAIN SUB TOTAL PPN

SUBTOTAL

TOTAL

ANGGAR AN

BEBAN PPh Ps 23

Keterangan

5 SPK/133/082004 TGL 19 AGUST 2004 900.759.000

TC 302.289.000

1 BATU RAJA 2 NTT LAHAT 1 LAHAT BATU RAJA NTT LAHAT LAHAT 256.810.000 167.000.000 167.000.000 164.000.000 754.810.000 25.681.000 16.700.000 16.700.000 16.400.000 75.481.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 40.036.000 292.500.000 193.709.000 193.709.000 190.409.000 870.327.000 3.500.000 7.200.000 4.500.000 4.500.000 19.700.000 5.400.000 4.500.000 4.500.000 4.500.000 18.900.000 8.900.000 11.700.000 9.000.000 9.000.000 38.600.000 890.000 1.170.000 900.000 900.000 3.860.000 9.790.000 12.870.000 9.900.000 9.900.000 42.460.000 302.290.000 DPKP 206.579.000 PKBL 203.609.000 PKBL 200.309.000 PKBL 912.787.000 324.000 270.000 270.000 270.000 1.134.000

202.570.000 BIASA 199.600.000 196.300.000 JENAZAH 900.759.000

6 SPK/134/082004 TGL 19 AGUST 2004 3.448.724.800

TC-PLUS 325.250.000 325.250.000 325.250.000 325.250.000 325.250.000 447.258.700 BERSALIN 453.308.700 460.953.700 460.953.700 3.448.724.800 14.976.292.800,00 14.377.822.800 598.470.000

5 DKI DKI DKI DKI DKI DKI DEMAK NTB NTB DKI DKI DKI DKI DKI DKI DEMAK NTB NTB 284.083.000 284.083.000 284.083.000 284.083.000 284.083.000 395.000.000 395.000.000 395.000.000 395.000.000 3.000.415.000 11.202.715.000 28.408.300 28.408.300 28.408.300 28.408.300 28.408.300 39.500.000 39.500.000 39.500.000 39.500.000 300.041.500 1.120.271.500 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 90.081.000 420.378.000 322.500.300 322.500.300 322.500.300 322.500.300 322.500.300 444.509.000 444.509.000 444.509.000 444.509.000 3.390.537.500 14.161.364.500 3.500.000 7.200.000 7.200.000 17.900.000 175.240.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 4.500.000 7.750.000 7.750.000 35.000.000 196.250.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 8.000.000 14.950.000 14.950.000 52.900.000 407.190.000 377.490.000 29.700.000 250.000 250.000 250.000 250.000 250.000 250.000 800.000 1.495.000 1.495.000 5.290.000 40.719.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000 8.800.000 16.445.000 16.445.000 58.190.000 447.909.000 325.250.300 325.250.300 325.250.300 325.250.300 325.250.300 447.259.000 453.309.000 460.954.000 460.954.000 3.448.727.500 14.988.323.500 DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP 150.000 150.000 150.000 150.000 150.000 150.000 270.000 465.000 465.000 2.100.000 11.775.000 10.965.000 810.000

Beban DPKP Beban PKBL

BPK-RI/AUDITAMA V

104

BPK-RI/ AUDITAMA V

BPK - RI LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

PENGELOLAAN DANA PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PESERTA (DPKP)

PT JAMSOSTEK (PERSERO)
Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2004 dan 2003

Nomor Tanggal

: 14.E/Auditama V/GA/04/2005 : 29 April 2005

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Jln. Gatot Subroto No. 31 Jakarta Pusat 10210 Telp. (021)5700380, 5738740, 5720957, 5738727 dan 5704395 s.d. 9 Pesawat 511 Fax. (021) 5700380, 5723995

DAFTAR

ISI Halaman

SIMPULAN AUDIT……………………………………………………….. 1. Hasil audit laporan keuangan dan pengelolaan dana program DPKP….. a. Sumber dan penggunaan dana………………………………………. b. Laporan Keuangan DPKP…………………………………………... c. Rencana dan Realisasi Program DPKP……………………………... d. Hal-hal yang perlu diperhatikan…………………………………….. e. Tindak Lanjut Temuan Auditor Tahun Sebelumnya……………….. 2. Rekomendasi……………………………………………………………. URAIAN HASIL AUDIT………………………………………………….. 1. Dasar Penugasan……………………………………………………. 2. Sifat dan Tujuan Audit……………………………………………... 3. Ruang Lingkup dan Periode Audit…………………………………. 4. Organisasi…………………………………………………………… 5. Pengertian dan Pelaksanaan Penggunaan DPKP…………………… 6. Sumber dan Penggunaan Dana……………………………………... 7. Rencana dan Realisasi Anggaran Program DPKP…………………. 8. Laporan Keuangan Program DPKP………………………………... 9. Hal-hal yang perlu diperhatikan……………………………………. 10. Tindak Lanjut Audit tahun sebelumnya……………………………. Lampiran-lampiran

1 1 2 2 3 3 14 16 19 19 19 19 20 20 21 23 31 61 105

SIMPULAN AUDIT Kami telah mengaudit laporan keuangan dan pengelolaan Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta (DPKP) PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Persero) (selanjutnya disebut PT Jamsostek) untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2004 periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2004. Laporan keuangan dan pengelolaan Dana Program DPKP merupakan tanggung jawab manajemen. Tanggung jawab kami terletak pada hasil penilaian atas laporan keuangan dan pengelolaan DPKP berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Audit Pemerintahan yang diterbitkan Badan Pemeriksa Keuangan dan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia, serta aturan lainnya yang diberlakukan Pemerintah terhadap pengelolaan Dana Program DPKP. Standar tersebut menjadi dasar bagi kami untuk memberikan penilaian atas keakuratan dan kesesuaian laporan keuangan terhadap prinsip akuntansi yang berlaku umum, efektivitas, efisiensi, keekonomisan dan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku. Pelaksanaan audit meliputi evaluasi terhadap bukti-bukti, review dan analisis terhadap kebijakan, perencanaan, sistem pengendalian manajemen dan pelaksanaan operasi program DPKP. Audit dilaksanakan dari tanggal 1 April 2005 sampai dengan 29 April 2005. Simpulan atas audit tersebut adalah sebagai berikut : 1. Hasil audit laporan keuangan dan pengelolaan dana program DPKP Dari hasil audit atas laporan keuangan dan pengelolaan Dana Program DPKP PT Jamsostek untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2004, diketahui hal-hal sebagai berikut:

a. Sumber dan penggunaan dana 1) Sumber Dana a) Saldo awal per 1 Januari 2004 b) Penyisihan laba tahun 2003 c) Jasa Giro & Bunga Deposito (bersih) d) Investasi Jangka Panjang e) Angsuran Pokok & Bunga Pinjaman f) Penerimaan non-program Jumlah Dana Tersedia Penggunaan dana : a) Dana Bergulir : Investasi Jangka Panjang Pinjaman b) Dana Tidak Bergulir Bidang Kesehatan Bidang Pendidikan Bantuan PHK Lainnya Pengeluaran non-program Jumlah Penggunaan Dana Sisa Dana per 31 Desember 2003 (dalam Rp juta ) 342.444,17 26.761,77 17.349,74 1.208,27 25.955,32 18.907,24 432.626,51 363,73 42.822,23 43.185,96 19.388,00 3.888,56 869,75 2.341,70 26.488,01 16.994,22 86.668,19 345.958,32

2)

c)

b. Laporan Keuangan DPKP Laporan keuangan Program DPKP disajikan untuk tujuan analisis tambahan atas Laporan Program DPKP. Laporan keuangan Program DPKP tersebut telah menjadi objek prosedur audit yang kami terapkan dalam audit atas laporan Program DPKP, dan menurut pendapat kami, disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Laporan keuangan DPKP terdiri dari Laporan Posisi Keuangan, Laporan Aktivitas, dan Laporan Arus Kas sebagai berikut: 1) Neraca Program DPKP PT Jamsostek per 31 Desember 2004 dan 2003 ditutup dengan jumlah aktiva dan pasiva (kewajiban dan aktiva bersih) masing-masing sebesar Rp507.543,58 juta dan Rp516.295,83 juta. 2) Laporan Aktiva Bersih Program DPKP PT Jamsostek untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2004 dan 2003 ditutup jumlah aktiva bersih masing-masing sebesar Rp492.178,74 juta dan Rp503.396,74 juta.

2

BPK-RI/AUDITAMA V

3) Laporan arus kas Program DPKP PT Jamsostek untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2004 dan 2003 ditutup dengan saldo kas dan setara kas masing-masing sebesar Rp345.958,33 juta dan Rp342.444,17 juta. c. Rencana dan Realisasi Program DPKP Dalam tahun 2004, realisasi sumber dana sebesar Rp432.626,51 juta di atas anggarannya sebesar Rp411.823,77 juta atau 105,05%. Realisasi hasil pengembangan (bunga deposito dan jasa giro) sebesar Rp17.349,74 juta melebihi anggarannya sebesar Rp16.800,00 juta atau 103,27% dari anggarannya. Realisasi hasil pengembalian investasi jangka panjang dan pinjaman, serta bunga pinjaman sebesar Rp27.163,59 juta di bawah anggarannya sebesar Rp37.496,00 juta atau 72,44% dari anggarannya. Dalam tahun 2004, realisasi penggunaan dana sebesar Rp86.668,19 juta masih di bawah anggarannya sebesar Rp251.125,00 juta atau 34,51% dari anggarannya. Realisasi dana bergulir sebesar Rp43.185,96 juta di bawah anggarannya sebesar Rp225.000,00 juta atau 19,19% dari anggarannya. Realisasi dana tidak bergulir sebesar Rp26.488,01 juta di atas anggarannya sebesar Rp26.125,00 juta atau 101,39% dari anggarannya. d. Hal-hal yang perlu diperhatikan BPK-RI mengarahkan pemeriksaan atas laporan keuangan dan pengelolaan DPKP tahun buku 2004 dengan melakukan penilaian atas keakuratan dan kesesuaian laporan keuangan terhadap Standar Akuntansi Keuangan dan Pedoman Akuntansi DPKP, manajemen penyaluran dana dan penerimaan angsuran, dan ketaatan terhadap ketentuan yang berlaku dan perjanjian kerja sama. Berdasarkan pemeriksaan diketahui bahwa jumlah penyaluran DPKP tahun 2004 sebesar Rp86.668,19 juta atau 34,51% dari anggarannya sebesar Rp251.125,00 juta. Apabila dibandingkan dengan realisasi penyaluran DPKP tahun 2003 sebesar Rp68.516,73 juta, maka realisasi penyaluran DPKP tahun 2004 sebesar 126,49% dari tahun 2003. Dari hasil pemeriksaan secara uji petik atas laporan keuangan dan penyaluran DPKP tahun 2004, diketahui hal-hal berikut: 3 BPK-RI/AUDITAMA V

1) PT Jamsostek tidak memungut serta menyetorkan Pajak Penghasilan (PPh) pasal 23 atas pekerjaan jasa instalasi dan training ambulan. Pada tahun 2004 PT Jamsostek menunjuk PT Sarandi Karya Nugraha (PT SKN) untuk pengadaan 48 mobil ambulan, dengan enam Surat Perintah Kerja (SPK) senilai sebesar Rp14.976,29 juta. Dari nilai tersebut termasuk biaya instalasi, training, dan biaya kirim sebesar Rp407,19 juta (DPKP sebesar Rp337,09 juta dan PKBL sebesar Rp70,10 juta). Berdasarkan pemeriksaan atas pengadaan tersebut, diketahui bahwa PT Jamsostek tidak melakukan pemungutan PPh pasal 23 atas jasa instalasi dan training minimal sebesar Rp10,97 juta. Seharusnya berdasarkan UU No.17/2000 tentang PPh pasal 23 antara lain menetapkan bahwa PPh 23 dipotong oleh pihak yang wajib membayarkan atas imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong pajak penghasilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21. Hal ini mengakibatkan kehilangan penerimaan negara dari PPh pasal 23 minimal sebesar Rp10,97 juta yang tidak dipungut dan disetorkan. Keadaan ini terjadi karena Biro DPKP/PKBL belum sepenuhnya memahami dan melaksanakan ketentuan-ketentuan yang berlaku. 2) Penggunaan gedung kantor Pasar Minggu milik Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek oleh pihak III dan pembebanan biaya pemeliharaannya belum sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dari hasil pemeriksaan atas penggunaan gedung kantor milik Biro DPKP/PKBL di Pasar Minggu diketahui hal-hal sebagai berikut : a) Gedung Kantor Pasar Minggu telah digunakan oleh Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (DPP-KSPSI) sejak tahun 1997. Atas penggunaan gedung tersebut tidak dibuat perjanjian sebagai dasar hukumnya. b) Terdapat biaya pemeliharaan pengelolan Gedung Kantor Pasar Minggu tahun 2004 sebesar Rp374,24 juta dibebankan kepada Biro DPKP/PKBL yang belum 4 BPK-RI/AUDITAMA V

mendapat persetujuan RUPS atau Menteri Keuangan, dan pertanggungjawaban rutin ditandatangani oleh Sekjen DPP-KSPSI yang juga menjabat sebagai Komisaris PT Jamsostek. c) Terdapat pembayaran langganan telepon, listrik dan PBB untuk kepentingan DPP-KSPSI untuk tahun 2004 sebesar Rp160,27 juta dan diketahui masih atas nama PT Gelora Mitra Tiga (pemilik lama) dan bukan atas nama PT Jamsostek. d) Dari hasil uji petik atas voucher pengeluaran biaya pengelolan gedung, diketahui nominalnya berbeda dengan bukti pendukungnya. Kondisi tersebut di atas mengakibatkan : a) Bantuan biaya pengelolaan Gedung Kantor Pasar Minggu kepada DPP-KSPSI tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. b) Sarana telepon, listrik dan Pajak Bumi Bangunan belum didukung bukti kepemilikan sebagai milik PT Jamsostek. c) Pengeluaran untuk pengelolaan gedung tidak dapat diyakini kewajarannya. Hal tersebut terjadi karena Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek dalam mengelola Gedung Kantor Pasar Minggu tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku dan kurang melindungi kepentingan PT Jamsostek. 3) Prosedur penempatan deposito pada Bank Global, Bank Dagang Bali (BDB), dan Bank Asiatic dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan sehingga Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan sebesar Rp3.031,80 juta. Berdasarkan Laporan Keuangan per 31 Desember 2004, terdapat deposito Biro DPKP/PKBL sebesar Rp328.800,00 juta. Dari jumlah tersebut sebesar Rp83.000,00 juta merupakan deposito pada bank yang telah dibekukan operasinya oleh Bank Indonesia, yaitu pada Bank Global, Bank Asiatic, dan BDB masingmasing sebesar Rp30.000,00 juta, Rp35.000,00 juta dan Rp18.000,00 juta. Penempatan dana dalam bentuk deposito seharusnya dikelola secara hati-hati dan diusahakan memperoleh hasil yang optimal. 5 BPK-RI/AUDITAMA V

Kondisi tersebut di atas mengakibatkan DPKP PT Jamsostek kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan bunga deposito sebesar Rp3.031,80 juta. Hal tersebut terjadi karena Biro DPKP/PKBL : a) Tidak mematuhi Surat Menteri Keuangan No.S-521/MK.01/2000 tanggal 27 Oktober 2000 dan SK Direksi No.KEP-166/102002 tanggal 8 Oktober 2002. b) Tidak mempunyai kebijakan dan pedoman investasi. 4) Penggunaan penasehat hukum untuk pencairan deposito Bank Asiatic belum memiliki dasar yang memadai. Per 31 Desember 2004 deposito Biro DPKP/PKBL adalah sebesar Rp328.800,00 juta, diantaranya terdapat deposito Bank Asiatic sebesar Rp35.000,00 juta yang ijin operasinya telah dibekukan oleh Bank Indonesia pada tanggal 8 April 2004. Untuk percepatan pencairan deposito tersebut, PT Jamsostek menunjuk Kantor Pengacara C.A.W & Partners sebagai penasehat hukum. Berdasarkan pemeriksaan atas proses pencairan deposito tersebut diketahui hal-hal berikut: a) Biro DPKP/PKBL tidak memberikan informasi yang memadai kepada Direktur Utama untuk pengambilan keputusan penunjukan penasehat hukum. b) Penggunaan jasa penasehat hukum tersebut tidak memiliki dasar yang memadai dan tidak sesuai arahan UP3 sebagai instansi yang mewakili Pemerintah dalam penjaminan Pada tanggal 4 Maret 2005 deposito Program DPKP sebesar Rp35.000,00 juta dan PKBL sebesar Rp4.000,00 juta telah dibayar atau kurang lebih 3 bulan setelah penunjukan penasehat hukum, dan pada tanggal 7 Maret 2005 Program DPKP telah membayar success fee sebesar Rp643,50 juta (Rp39.000,00 juta x 1,5% + PPN 10%). Keadaan tersebut di atas mengakibatkan pengeluaran biaya yang lebih besar dari Program DPKP sebesar Rp726,00 juta (Rp82,50 juta + Rp643,50 juta). Hal tersebut terjadi disebabkan hal-hal sebagai berikut :

6

BPK-RI/AUDITAMA V

a) PT Jamsostek tidak memperhatikan arahan UP3 untuk tidak terpancing berhubungan dengan pihak-pihak yang mengaku dapat mempercepat atau mengurus pembayaran tagihan/klaim. b) Biro DPKP/PKBL tidak melakukan analisa yang lengkap atas penggunaan Penasehat Hukum. 5) Pengendalian atas penyaluran dana program Dana Peningkatan

Kesejahteraan Peserta belum sepenuhnya tertib. Dalam rangka pengelolaan Program DPKP dan PKBL, PT Jamsostek telah memisahkan rekening bank untuk masing-masing program tersebut. Berdasarkan pemeriksaan atas pengeluaran dari rekening bank masing-masing program tersebut diketahui hal-hal sebagai berikut : a) Kantor Wilayah/Cabang belum sepenuhnya menggunakan rekening bank secara terpisah untuk masing-masing program tersebut. b) Penggunaan/pengeluaran dana dari rekening bank yang tidak sebagaimana mestinya tersebut dicatat sebagai Pos Sementara Dalam Penyelesaian (PSDP) masing-masing program. PSDP pada masing-masing program tersebut dicatat pada dua akun yaitu PSDP aktiva (piutang pada program lain) dan PSDP pasiva (hutang pada program lain), dan menimbulkan saldo pada PSDP sebesar Rp696,08 juta. Penyaluran/penggunaan dana Program DPKP seharusnya dipisahkan dengan program yang lain agar pengendalian dan penggunaan dana masing-masing program tersebut dapat lebih mudah mempertanggungjawabkannya. Kondisi di atas mengakibatkan adanya saldo PSDP DPKP sebesar Rp682,82 juta yang belum dapat ditelusuri. Hal tersebut terjadi karena kantor wilayah/cabang belum sepenuhnya tertib dalam penggunaan rekening bank Program DPKP, Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan.

7

BPK-RI/AUDITAMA V

6) Terdapat penggunaan DPKP tidak bergulir tahun 2004 yang belum sepenuhnya sesuai ketentuan. Berdasarkan data buku besar DPKP tahun buku 2004 diketahui bahwa total realisasi penggunaan DPKP yang sudah disalurkan tahun 2004 adalah sebesar Rp69.673,97 juta yaitu, dana bergulir dan dana tidak bergulir termasuk beban operasional masing-masing sebesar Rp43.185,97 juta (61,98%) dan Rp26.488,01 juta (38,02%). Seharusnya persentase alokasi penggunaan DPKP program dana bergulir dan tidak bergulir masing-masing minimal 80% dan maksimal 20%. Kondisi tersebut mengakibatkan dana tidak bergulir termasuk beban operasional program digunakan melebihi pagu yang telah ditetapkan yaitu, sebesar Rp12.553,22 juta atau lebih l8,02% dari rasio sesuai ketentuan yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Hal tersebut terjadi karena : a) Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek tidak mematuhi Surat Menteri Keuangan No.S-521/MK.01/2000. b) Direksi dan Komisaris PT Jamsostek belum sepenuhnya melaksanakan amanat RUPS dalam menjaga rasio penyaluran DPKP dana bergulir dan tidak bergulir. 7) Terdapat pemborosan biaya sebesar Rp194,08 juta atas kegiatan Jamsostek Peduli Mudik Lebaran 2004 oleh Biro DPKP/PKBL dan proses pengadaannya belum sesuai ketentuan. Dalam rangka mudik Lebaran, PT Jamsostek memberikan bantuan pelayanan kesehatan cuma-cuma. Salah satu kanwil yang melaksanakan kegiatan tersebut adalah Kanwil III, dengan dana sebesar Rp321,35 juta (DPKP sebesar Rp194,08 juta dan PKBL sebesar Rp127,27 juta). Untuk program DPKP dilaksanakan dengan menunjuk Yayasan Mas Isman Medika Bintaro (YMIMB) melalui Surat Perintah Kerja tanggal 27 Oktober 2004 dengan nilai pekerjaan sebesar Rp194,08 juta, sedangkan PKBL melalui

8

BPK-RI/AUDITAMA V

mekanisme persekot kerja kepada Tim Koordinator, yang selanjutnya diserahkan ke Kanwil III, dan Kanwil III mendistribusikannya ke KC yang ditunjuk. Berdasarkan pemeriksaan atas kegiatan tersebut diketahui hal-hal berikut: a) Penggunaan dana sebesar Rp321,35 juta tidak efisien. (1) Estimasi jumlah pemudik yang mendapat pelayanan sebanyak 3.600 orang tidak akurat hak ini terbukti jumlah realisasi pasien untuk PKBL dan DPKP masing-masing hanya 934 dan 658 orang atau 25,94% dan 18,27% dari target masing-masing 3.600 orang. (2) Estimasi 3.600 orang mengandung ketidakpastian, akan tetapi Kanwil III tidak melakukan antisipasi, ditunjukkan pada syarat pembayaran SPK yang menyatakan dibayar penuh dan tetap pada jumlah 3.600 orang. (3) Adanya dana dari PKBL sebesar Rp127,27 juta tidak dikoordinasikan dengan kegiatan yang sama yang dilaksanakan oleh program DPKP sehingga terdapat indikasi overlapping penggunaan dana. (4) Makanan/snack dalam proposal dan laporan pelaksanaannya tidak disebutkan peruntukannya sehingga jumlah 4.800 paket dapat diragukan kewajarannya, minimal untuk peruntukan pasien saja dari perhitungan realisasi pasien yang dilayani terdapat kerugian sebesar Rp14,71 juta. b) Penunjukan YMIMB belum sesuai prosedur, yaitu atas penawaran ketiga rekanan tidak dilakukan kegiatan pembukaan penawaran, yang dibuktikan dengan tidak adanya berita acara pembukaan penawaran harga. Selain itu, tidak dilakukan kegiatan evaluasi penawaran, yang dibuktikan dengan tidak adanya berita acara evaluasi administrasi dan harga, sehingga penunjukan tersebut hanya formalitas untuk melengkapi administrasi. c) Uang muka yang diberikan tidak sesuai ketentuan yaitu sebesar 50% dari nilai pekerjaan dan atas uang muka tersebut tidak ada jaminan uang muka. d) Kanwil III tidak membuat HPS atas pekerjaan yang akan dilaksanakan sebagai pembanding untuk menilai kewajaran harga yang ditawarkan oleh rekanan. Selain itu, tidak ada rincian biaya pada SPK, dan pada berita acara negosiasi harga tidak dijelaskan satuan-satuan biaya yang berubah. 9 BPK-RI/AUDITAMA V

e) Terdapat kelebihan pembayaran biaya tenaga medis kepada YMIMB sebesar Rp18,60 juta, dan atas pembayaran biaya tenaga medis sebesar Rp32,40 juta tidak dipungut PPh pasal 23 sebesar Rp1,94 juta. Keadaan tersebut mengakibatkan : a) Terjadi pemborosan biaya sebesar Rp194,08 juta dalam pelaksanaan kegiatan yang sama dalam waktu yang sama. b) Penunjukan YMIMB sebagai pelaksana kegiatan Jamsostek Peduli Mudik Lebaran 2004 Program DPKP belum sepenuhnya sesuai ketentuan. Hal tersebut di atas terjadi karena : a) Kanwil III dalam melaksanakan kegiatan posko mudik lebaran tidak menyusun perencanaan dan koordinasi dengan baik. b) Kanwil III belum sepenuhnya mengikuti prosedur pengadaan barang dan jasa yang telah ditetapkan. c) Biro DPKP/PKBL Kantor Pusat belum maksimal melakukan monitoring kegiatan Kanwil III dalam rangka Jamsostek Peduli Mudik Lebaran 2004. 8) Penggunaan beban operasional DPKP belum sepenuhnya sesuai ketentuan. Pada tahun 2004 realisasi penyaluran DPKP sebesar Rp69.673,97 juta (Rp43.185,95 juta dana bergulir dan Rp26.488,01 juta tidak begulir termasuk beban operasional sebesar Rp2.334,50 juta). Sehingga rasio beban operasional dibandingkan alokasi penyaluran adalah 3,47%. Penyaluran tersebut di atas dialokasikan untuk program Traumatic Centre (TC) dan Non-Traumatic Centre (NTC) masing-masing sebesar Rp15.721,29 juta dan Rp53.952,68 juta termasuk beban operasional sebesar Rp2.334,50 juta (TC sebesar Rp694,53 juta dan NTC sebesar Rp1.639,97 juta). Berdasarkan pemeriksaan atas beban operasional tersebut diketahui antara lain : a) Terdapat inefisiensi atas beban operasional untuk mendukung pelaksanaan program TC dan NTC. Dimana beban operasional untuk program TC mencapai sebesar Rp694,53 juta atau sebesar 4,62% dari Rp15.026,76 juta, dan beban operasional untuk program NTC mencapai sebesar Rp1.639,97 juta atau 3,13% dari Rp52.312,71 juta. 10 BPK-RI/AUDITAMA V

b) Beban operasional tidak efisien dan tidak memberikan hasil yang proporsional dengan realisasi penyaluran dana program DPKP. Dimana realisasi penyaluran sebesar Rp67.339,46 juta atau hanya mencapai 27,20% dari target sebesar Rp247.550,00 juta, sedangkan beban operasional mencapai Rp2.334,50 juta mencapai 94,30% dari anggaran sebesar Rp2.475,50 juta. Dalam mengelola DPKP, Biro DPKP/PKBL seharusnya berpedoman pada: a) RKAP tahun 2004 memutuskan antara lain kepada Direksi dan Komisaris diminta melaksanakan rencana kerja secara efektif dan dengan biaya yang efisien, serta selalu bersikap hati-hati. b) Surat Menteri Keuangan No.S-521/MK.01/2000 tanggal 27 Oktober 2000, yang dipertegas dengan keputusan Direksi PT Jamsostek tanggal 28 Maret 2002 yang menyebutkan bahwa besarnya beban operasional per tahun maksimum sebesar 1% dari alokasi DPKP. Kondisi di atas mengakibatkan : a) Realisasi beban operasional yang mencapai 3,47% dari realisasi kegiatan program DPKP melebihi ketentuan sebesar Rp1.661,11 juta. b) Biro DPKP/PKBL belum optimal menyalurkan dananya. c) Terdapat penggunaan beban operasional yang mencapai 94,30% dari anggarannya tidak efisien dibandingkan dengan realisasi dana program yang hanya mencapai 27,20% dari anggarannya. Hal tersebut terjadi karena Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek tidak efisien dalam penggunaan beban operasional dan tidak menaati pedoman pengelolaan dana, serta Direksi dan Komisaris PT Jamsostek belum sepenuhnya melaksanakan hasil keputusan RUPS RKAP tahun 2004. 9) Pengadaan ambulan tahun 2004 yang berasal dari DPKP melampaui anggaran dan ketentuan serta pelaksanaannya belum memadai. Pada tahun 2004 telah diadakan mobil ambulan, baik ambulan TC maupun Non TC yang diadakan melalui penunjukan langsung kepada PT Sarandi Karya Nugraha (PT SKN) dengan enam Surat Perintah Kerja (SPK). Total nilai pekerjaan 11 BPK-RI/AUDITAMA V

tersebut sebesar Rp14.976,29 juta (beban DPKP Rp14.377,82 juta, dan PKBL sebesar Rp598,47 juta). Dari pemeriksaan atas pengadaan ambulan tersebut diketahui beberapa hal berikut : a) Berdasarkan RKA DPKP tahun 2004 yang disahkan oleh RUPS telah dianggarkan biaya untuk bantuan ambulan sebesar Rp5.400,00 juta, sedangkan realisasinya mencapai Rp13.998,77 juta atau mencapai 234,17% dari RKA tahun 2004. b) Proses pengadaan ambulan yang dilakukan melalui penunjukan langsung kepada PT SKN, tidak didukung oleh ketentuan yang mengatur mengenai syarat-syarat administrasi yang harus dipenuhi untuk mendukung penunjukan langsung rekanan tersebut, sehingga pada proses penunjukannya tidak didukung oleh evaluasi adminsitrasi untuk mendapatkan keyakinan bahwa PT SKN mampu melaksanakan pekerjaan tersebut. c) Terdapat peruntukan ambulan yang tidak sesuai ketentuan, yaitu untuk Yayasan Nurani Dunia, Universitas Mustopo Beragama, Kantor Wakil Presiden, dan Depnakertrans. d) Berdasarkan lampiran Berita Acara Serah Terima ambulan TC tanggal 20 April 2004 terdapat dua unit ambulan yang telah diserahkan sebelum SPK tersebut ditandatangani. e) Perencanaan pengadaan ambulan TC dilaksanakan sesuai standarisasi kualitas pengadaan sarana TC berupa peralatan medis dan ambulan dengan spesifikasi yang ditentukan dengan satuan biaya untuk satu unit TC adalah sebesar Rp300,00 juta. Pada tahun 2004 terdapat pengadaan ambulan TC Plus sebanyak enam unit dengan harga sebesar Rp322,50 juta per unit yang belum didukung oleh perencanaan mengenai standarisasi spesifikasi, kualitas dan harga. f) Terdapat bantuan ambulan bersalin kepada empat tempat pelayanan kesehatan yang diketahui tidak terdapat kajiannya apakah bantuan telah sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pada pedoman DPKP. 12 BPK-RI/AUDITAMA V

Kondisi di atas mengakibatkan terjadinya pengeluaran dana di luar RKA yang telah disahkan oleh RUPS sebesar Rp8.977,82 juta, dan pengadaan ambulan belum sepenuhnya sesuai ketentuan. Hal tersebut terjadi karena : a) Biro DPKP/PKBL belum sepenuhnya mematuhi keputusan yang telah ditetapkan dalam RUPS dan keputusan Direksi PT Jamsostek. b) Pengawasan dan pengendalian anggaran oleh Biro DPKP/PKBL belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. c) Biro DPKP/PKBL tidak mematuhi ketentuan mengenai syarat pemberian bantuan ambulan. d) Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa PT Jamsostek belum mengatur secara rinci tentang syarat-syarat administrasi dari penyedia barang. 10) Sistem pengendalian intern atas pengelolaan kas DPKP dan PKBL tidak memadai. Berdasarkan pemeriksaan fisik kas tanggal 9 Mei 2005 yang dikelola oleh Biro DPKP/PKBL, diketahui hal-hal sebagai berikut. a) Biro DPKP/PKBL tidak melakukan pemisahan penyimpanan antara kas Program DPKP dan PKBL. b) Penutupan saldo harian kas tidak dilakukan secara periodik. c) Sistem aplikasi yang baru belum dapat diterapkan dengan sempurna. d) Terdapat beberapa peminjaman kas bon oleh beberapa staf Biro DPKP/PKBL dengan total nilai sebesar Rp5,30 juta yang tidak segera diselesaikan. e) Petugas kasir merangkap sebagai petugas pembukuan pengeluaran kas. Biro DPKP/PKBL seharusnya melakukan praktik pengelolaan kas dengan sistem pengendalian intern yang memadai dengan memisahkan pengelolaan kas milik DPKP dan PKBL.

13

BPK-RI/AUDITAMA V

Hal tersebut mengakibatkan sistem pengendalian intern pengelolaan kas oleh Biro DPKP/PKBL tidak memadai dan terdapat peminjaman kas bon oleh beberapa staf Biro DPKP/PKBL sebesar Rp5.300.000,00 yang tidak segera diselesaikan. Hal tersebut disebabkan oleh Biro DPKP/PKBL yang tidak tertib dalam pengelolaan kas perusahaan. e. Tindak Lanjut Temuan Auditor Tahun Sebelumnya 1) Tindak Lanjut Temuan BPK-RI a) Hasil Pemeriksaan Tahun 2003 Hasil audit tahun sebelumnya sebanyak lima temuan masih perlu dipantau tindak lanjutnya, karena penyelesaiannya masih dalam proses, yaitu: (1) Terdapat pembayaran angsuran pinjaman yang belum jelas pengirim dan jenis pinjamannya sebesar Rp8.978,94 juta. (2) Terdapat pemberian pinjaman sebesar Rp3.793,75 juta kepada beberapa Koperasi Karyawan tidak sesuai dengan ketentuan. (3) Terdapat penyaluran pinjaman Koperasi Karyawan sebesar Rp600,00 juta yang tidak sesuai dengan ketentuan. (4) Terdapat keterlambatan penyetoran PPN atas pembelian Rusunawa Pekerja Jamsostek di Jababeka Cikarang sebesar Rp1.233,93 juta. (5) Pengadaan peralatan medis sebesar Rp2.850,56 juta belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan. b) Hasil Pemeriksaan Tahun 2002 Hasil audit tahun sebelumnya sebanyak satu temuan masih perlu dipantau tindak lanjutnya, karena penyelesaiannya masih dalam proses, yaitu Perjanjian kerjasama pembangunan Asrama Pekerja Makassar sebesar Rp6.000,00 juta tidak mengatur hak kepemilikan & pengelolaan. c) Hasil Pemeriksaan Tahun 2001/2000 Hasil audit tahun sebelumnya sebanyak satu temuan masih perlu dipantau tindak lanjutnya, karena penyelesaiannya masih dalam proses, yaitu:

14

BPK-RI/AUDITAMA V

pemberian pinjaman sebesar Rp13.453,17 juta dan hibah sebesar Rp4.200,00 juta kepada koperasi pekerja tidak sesuai dengan ketentuan, yaitu: (1) Pemberian bantuan pinjaman sebesar Rp8.000,00 juta kepada Induk Koperasi Rokok Tembakau Makanan dan Minuman (Inkop RTMM). (2) Pemberian bantuan Pinjaman Uang Muka Perumahan kepada Kopkar JHI sebesar Rp2.580,00 juta. (3) Pinjaman kepada PT Havilah sebesar Rp2.075,17 juta yang digunakan untuk membayar PHK dan gaji. (4) Pemberian bantuan pinjaman tambahan uang muka perumahan kepada YAPPARI sebesar Rp798,00 juta. Sedangkan penyaluran hibah sebesar Rp4.200,00 juta kepada Inkop RTMM dan Koperasi Anggota SBSI, Menteri BUMN melalui surat No.S464/MBU/2004 tanggal 8 September 2004 menyetujui penyaluran hibah tersebut. d) Hasil Pemeriksaan Tahun 2000/1999 Hasil audit tahun sebelumnya sebanyak satu temuan masih perlu dipantau tindak lanjutnya, karena penyelesaiannya masih dalam proses, yaitu: Pemberian pinjaman Dana Talangan Modal Kerja (DTMK) kepada kontraktor sebesar Rp3.176,08 juta tidak sesuai dengan tujuan pedoman umum DPKP. 2) Temuan Pemeriksaan BPKP a) Pemberian pinjaman sebesar Rp8.000,00 juta kepada Induk Koperasi RTMM tidak sesuai dengan ketentuan. b) Pemberian PUMP kepada Koperasi Karyawan Jakarta Hilton (Perjanjian No.PER/11/122000 tanggal 20 Desember 2000) didukung dengan dokumen penunjang palsu. c) Pemberian Pinjaman Uang Muka Perumahan kepada YAPPARI senilai Rp789,00 juta diindikasikan fiktif.

15

BPK-RI/AUDITAMA V

d) Pinjaman Dana Talangan Modal Kerja (DTMK) kepada kontraktor anggota Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (GAPENSI) masih menunggak. Atas permasalahan tersebut di atas, berdasarkan rekapitulasi berita acara pemutakhiran temuan BPKP s.d. bulan Oktober 2004, PT Jamsostek masih melakukan proses penyelesaian. 2. Rekomendasi Terhadap permasalahan di atas, BPK-RI merekomendasikan kepada Direksi PT Jamsostek agar: a. Berkaitan dengan pemungutan dan penyetoran PPh pasal 23, menginstruksikan kepada Biro DPKP/PKBL supaya memperhitungkan PPh pasal 23 yang terhutang tersebut dengan tagihan pada termin/pelunasan berikutnya. Menginstruksikan kepada Biro DPKP/PKBL agar memahami dan melaksanakan dengan sungguh-sungguh ketentuanketentuan yang berlaku di lingkup kegiatan organisasinya. b. Berkaitan dengan penggunaan gedung kantor oleh pihak ketiga, agar membuat perjanjian penggunaan gedung dengan DPP KFSPSI dengan memuat hak dan kewajiban masing-masing pihak secara jelas, menyelesaikan proses balik nama atas semua dokumen yang seharusnya milik PT Jamsostek, dan menyelesaikan perbedaan voucher dan bukti pendukungnya. c. Berkaitan dengan penempatan deposito, dalam penempatan dananya dalam bentuk deposito senantiasa berpedoman pada ketentuan dan menyusun kebijakan, sistem dan prosedur investasi DPKP yang terintegrasi dengan kebijakan, sistem dan prosedur investasi yang dilakukan oleh Direktorat Investasi PT Jamsostek. d. Berkaitan dengan penggunaan jasa pihak ketiga, memberikan teguran kepada Biro DPKP/PKBL karena tidak memberikan kajian yang lengkap atas penggunaan penasehat hukum dan untuk yang akan datang lebih mengoptimalkan fungsi Biro Hukum. e. Berkaitan dengan pengendalian dan penyaluran dana program yang belum tertib, melalui Biro DPKP/PKBL mengingatkan kembali kepada Kanwil dan KC atas 16 BPK-RI/AUDITAMA V

penggunaan rekening bank DPKP, rekening Program Kemitraan dan rekening program Bina Lingkungan secara terpisah, dan menyelesaikan PSDP yang ada di Kanwil dan KC dimaksud. f. Berkaitan dengan penggunaan dana tidak bergulir yang tidak sesuai dengan ketentuan, supaya bersama-sama Komisaris PT Jamsostek mengupayakan agar rasio penyaluran DPKP bergulir dan tidak bergulir sesuai dengan ketentuan. g. Berkaitan dengan pemborosan kegiatan Jamsostek Peduli Mudik Lebaran, supaya menegur pelaksana kegiatan yang tidak merencanakan dan melaksanakan kegiatan PT Jamsostek mudik lebaran tersebut dengan baik, dan untuk masa yang akan datang, setiap kegiatan agar senantiasa direncanakan dengan baik dan cermat sehingga pelaksanaan kegiatan dapat dilakukan secara tepat guna dan tepat sasaran dan dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku. h. Berkaitan dengan penggunaan beban operasional belum sesuai ketentuan, supaya memperhatikan ketentuan yang berlaku tentang penggunaan biaya operasional dalam melaksanakan kegiatan DPKP, dan dalam mengeluarkan biaya operasional diupayakan sesuai rencana kerja seperti yang diamanatkan RUPS RKAP. i. Berkaitan dengan pengadaan ambulan, agar Direksi PT Jamsostek melakukan revisi atas Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa PT Jamsostek yang belum mengatur secara rinci tentang syarat-syarat administrasi dari penyedia barang yang ditunjuk melalui penunjukan langsung. j. Berkaitan dengan pengendalian intern kas yang tidak memadai, supaya menata kembali fungsi pengelolaan kas pada Biro DPKP/PKBL, sehingga diperoleh pengendalian intern yang memadai, selain itu menginstruksikan agar pihak pengelola kas agar menjalankan fungsinya dengan tertib.

Berkaitan dengan temuan audit tahun-tahun sebelumnya, BPK-RI merekomendasikan kepada: a. Menteri BUMN meminta pertanggungjawaban Direksi atas penyaluran dana yang menyimpang dari ketentuan dan Menteri meminta agar tidak ada pihak lain yang 17 BPK-RI/AUDITAMA V

membuat kebijakan diluar yang ditetapkan oleh Menteri BUMN tentang pengelolaan DPKP. b. Direksi mengupayakan secara maksimal penyelesaiannya, baik atas temuan BPR-RI maupun BPKP.

Auditor Utama Keuangan Negara V Penanggung jawab Audit,

Drs. Misnoto, Ak., MA Register Negara No. D-1416 Jakarta, 29 April 2005

18

BPK-RI/AUDITAMA V

URAIAN HASIL AUDIT 1. Dasar Penugasan a. Undang-undang Dasar 1945, pasal 23 E, 23 F dan 23 G; b. Undang-undang Republik Indonesia No.5 tahun 1973 tentang Badan Pemeriksa Keuangan; c. Undang-undang Republik Indonesia No.15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. d. Surat Tugas Badan Pemeriksa Keuangan No.71/ST/VII-XV.3/10/2004 tanggal 5 Oktober 2004, perihal Audit atas Laporan Keuangan PT Jamsostek, Program Kemitraan dan Bina Lingkungan, dan Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta Tahun Buku 2004 di Kantor Pusat Jakarta dan Kantor Wilayah/Cabang di Jakarta dan Daerah; e. Surat Tugas Badan Pemeriksa Keuangan No.20/ST/VII-XV.3/01/2005 tanggal 19 Januari 2005, perihal penugasan untuk melakukan audit atas Laporan Keuangan PT Jamsostek Tahun Buku 2004 serta Program Kemitraan dan Bina Lingkungan dan Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta Tahun Buku 2004 di Kantor Pusat Jakarta. 2. Sifat dan Tujuan Audit Pemeriksaan yang kami lakukan merupakan pemeriksaan operasional atas pengelolaan DPKP dengan tujuan untuk menilai efektivitas dan efisiensi pengelolaan DPKP, menilai kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, menilai keakuratan dan kesesuaian laporan keuangan terhadap prinsip akuntansi yang berlaku umum, serta memberi rekomendasi perbaikan. 3. Ruang Lingkup dan Periode Audit Ruang lingkup kegiatan pemeriksaan mencakup laporan keuangan dan pengelolaan Program DPKP yang dilaksanakan oleh PT Jamsostek. BPK-RI melakukan pemeriksaan secara uji petik meliputi Kantor Pusat dan Kantor Wilayah beserta beberapa Kantor Cabang di sekitarnya. Pemeriksaan atas Pengelolaan DPKP dilakukan untuk periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2004. 19 BPK-RI/AUDITAMA V

4. Organisasi Berdasarkan Keputusan Direksi PT Jamsostek No.130/092000 tanggal 11 September 2000 tentang Struktur Organisasi Kantor Pusat PT Jamsostek menetapkan bahwa Direktur Utama PT Jamsostek bertanggungjawab secara langsung urusan DPKP dan PUKK. Selanjutnya, berdasarkan Surat Keputusan Direksi PT Jamsostek No.KEP/97/082001 tanggal 20 Agustus 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja PT Jamsostek ditetapkan sebagai berikut: a. Kepala Biro DPKP/PUKK bertanggungjawab langsung kepada Direktur Utama. b. Kepala Biro DPKP/PUKK membawahi 3 Kepala Urusan 1) Kepala Urusan DPKP 2) Kepala Urusan PUKK 3) Kepala Urusana Administrasi Keuangan c. Kepala Urusan membawahi beberapa staf dengan job title sebagai berikut: 1) Administrator Beasiswa dan Bantuan Fasilitas Kesehatan. 2) Administrator Papan dan Permodalan. 3) Administrator Koperasi dan Usaha Kecil. 4) Administrator Bina Lingkungan Usaha 5) Pembukuan DPKP. 6) Pembukuan PUKK. 7) Administrator Umum dan Dokumentasi. 8) Kasir DPKP/PUKK. 5. Pengertian dan Pelaksanaan Penggunaan DPKP a. Pengertian DPKP Pengertian DPKP sesuai dengan surat Menteri Keuangan No.S-521/MK.01/2000 tanggal 27 Oktober 2000 adalah dana yang dihimpun dan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja peserta program PT Jamsostek dan atau keluarganya yang dikategorikan kurang mampu menurut ketentuan yang berlaku dan membantu usaha kecil yang mempunyai keterkaitan dengan PT Jamsostek yang bersifat padat karya. 20 BPK-RI/AUDITAMA V

DPKP tidak dimaksudkan untuk memupuk laba, sehingga pengelolaan keuangan DPKP berpedoman kepada ketentuan-ketentuan pengelolaan organisasi nirlaba. b. Pelaksanaan Penggunaan DPKP Pelaksanaan penyaluran DPKP berpedoman pada Surat Menteri Keuangan No.S-521/MK.01/2000 tanggal 27 Oktober 2000 dan Risalah RUPS tentang pengesahan RKAP PT Jamsostek tahun buku 2004. 6. Sumber dan Penggunaan Dana a. Dasar hukum dan kebijaksanaan penyediaan dan pembentukan dana Dasar hukum dan kebijaksanaan penyediaan dan pembentukan dana adalah: 1) Surat Menteri Keuangan RI No.S-521/MK.01/2000 tanggal 27 Oktober 2000 tentang Pedoman Umum Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta; dan 2) Keputusan Direksi PT Jamsostek b. Sumber Dana Berdasarkan Surat Menteri Keuangan No. S-521/MK.01/2000 tanggal 27 Oktober 2000 perihal Pedoman Umum DPKP, Pasal 3 tentang Sumber Dana, dinyatakan bahwa DPKP dihimpun sesuai ketentuan yang berlaku, yaitu bersumber dari: 1) Bagian laba PT Jamsostek sesuai dengan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS); 2) Hasil pengembangan DPKP; 3) Hasil pengembalian DPKP yang sifatnya bergulir; 4) Sumber dana lainnya yang disetujui RUPS. c. Penggunaan Dana Berdasarkan Surat Menteri Keuangan No. S-521/MK.01/2000 tanggal 27 Oktober 2000, sifat penyaluran DPKP dibagi dua yaitu bergulir (pinjaman/revolving fund) dan tidak bergulir (hibah). Alokasi penggunaan DPKP setiap tahunnya ditetapkan minimal 80% dialokasikan untuk DPKP yang bersifat bergulir dan maksimal 20% dialokasikan untuk DPKP yang sifatnya tidak bergulir termasuk untuk beban operasional. Penggunaan DPKP yang sifatnya bergulir diprogramkan untuk : 21 BPK-RI/AUDITAMA V No.KEP/33/032002 tanggal 28 Maret 2002 tentang Pedoman Pengelolaan DPKP PT Jamsostek.

1) Pemberian pinjaman dana sebagian uang muka Kredit Pemilikan Rumah Sederhana (KPRS) atau Rumah Sangat Sederhana (RSS) bagi peserta Jamsostek, pinjaman dana kepada Koperasi Tenaga Kerja pada perusahaan peserta program Jamsostek dengan syarat belum mendapat pinjaman dari dana Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK), pinjaman dana talangan modal kerja kepada perusahaan kecil dan menengah sektor jasa konstruksi yang mengerjakan proyek fisik bersifat padat karya yang dibiayai dari anggaran Pemerintah, dan pinjaman kepada provider bidang jasa pelayanan kesehatan milik swasta yang telah bekerja sama dengan PT Jamsostek. 2) Investasi jangka panjang berupa pembangunan rumah susun sewa dan pembangunan fasilitas pelayanan kesehatan di daerah-daerah yang tergolong padat industri. Penggunaan DPKP yang sifatnya tidak bergulir merupakan bagian DPKP yang diprogramkan untuk menunjang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh PT Jamsostek terutama bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dan bidang pendidikan dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia (SDM). Selain itu, dana tidak bergulir juga dapat digunakan untuk memberikan bantuan keuangan bagi tenaga kerja peserta Jamsostek yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Program Bidang Kesehatan berupa : 1) Bantuan kepada Pusat Pelayanan Kesehatan (PPK) milik Pemerintah yang bekerja sama dengan PT Jamsostek untuk membangun/merehabilitasi/merenovasi ruangan, dengan tujuan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan terutama bagi peserta program Jamsostek dan atau keluarganya dan warga masyarakat sekitarnya. 2) Bantuan mobil ambulan kepada PPK milik Pemerintah yang telah bekerja sama dengan PT Jamsostek. 3) Bantuan peralatan medis kepada PPK milik Pemerintah yang telah bekerja sama dengan PT Jamsostek. 4) Pelayanan kesehatan cuma-cuma di daerah padat industri atau lingkungan kumuh. 22 BPK-RI/AUDITAMA V

Program Bidang Pendidikan berupa: 1) Bantuan beasiswa bagi anak tenaga kerja peserta program Jamsostek yang berprestasi. 2) Bantuan pelatihan bagi tenaga kerja peserta program Jamsostek dalam rangka alih profesi. 3) Bantuan latihan. 7. Rencana dan Realisasi Anggaran Program DPKP Rencana Kerja dan Anggaran Program DPKP tahun 2004 telah disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada tanggal 15 Januari 2004. Rencana dan Realisasi Anggaran Program DPKP tahun 2004 adalah sebagai berikut: a. Sumber Dana Realisasi sumber dana tahun 2004 sebesar Rp432.626.512.339,64 di atas anggarannya sebesar Rp411.823.769.000,00 (Rp385.062.000.000,00 + Rp26.761.769.000,00) atau 105,05%, dengan rincian sebagai berikut: kepada Balai Latihan Kerja (BLK) milik Pemerintah untuk merehabilitasi/merenovasi ruangan atau asrama BLK atau menambah peralatan

23

BPK-RI/AUDITAMA V

No

URAIAN

ANGGARAN *)1 (Rp)

TAHUN 2004 REALISASI (Rp) 342.444.169.199,72 26.761.769.000,00 26.761.769.000,00 16.506.129.401,40 843.610.652,82 17.349.740.054,22

% 103,53 105,81 70,30 103,27

1. 2.

Sisa Tahun Lalu Penyisihan Laba : - Penyisihan Laba Tahun 2003 Hasil Pengembangan : - Bunga Deposito (bersih) - Jasa Giro (bersih) Hasil Pengembalian: Investasi Jangka Panjang : - Hasil Rumah Susun Sewa - Hasil Fasilitas Pelkes Pinjaman Perumahan Pekerja : - Pokok Pinjaman - Bunga Pinjaman Pinjaman Koperasi Karyawan : - Pokok Pinjaman - Bunga Pinjaman Pinjaman DTMK : - Pokok Pinjaman - Administrasi DTMK Provider Jasa Pelkes : - Pokok Pinjaman - Bunga Pinjaman

330.766.000.000,00 PM

3.

15.600.000.000,00 1.200.000.000,00 16.800.000.000,00

4.

1.366.000.000,00 1.366.000.000,00 25.000.000.000,00 5.000.000.000,00 5.000.000.000,00 600.000.000,00 500.000.000,00 30.000.000,00 36.130.000.000,00 385.062.000.000,00 + PM
*)2

1.208.275.000,00 1.208.275.000,00 19.529.198.219,55 3.361.421.756,32 2.613.679.394,54 225.018.095,76 201.931.429,92 24.071.907,63 25.955.320.803,72 18.907.238.281,98 432.626.512.339,64

88,45 88,45 78,12 67,23 52,27 37,50 40,39 80,24 71,84 105,05

5.

Penerimaan Non Program JUMLAH SUMBER DANA *)3

Keterangan : *) 1 Belum termasuk perkiraan penerimaan bagian laba tahun 2003 (PM) 2 PM=realisasi laba tahun 2003 sebesar Rp26.761.769.000,00 3 Persentase sudah termasuk penambahan Rp26.761.769.000,00.

24

BPK-RI/AUDITAMA V

Realisasi sumber dana di atas anggaran karena: 1) Penyisihan laba PT Jamsostek tahun 2003 direalisasikan tahun 2004. 2) Realisasi hasil pengembangan sebesar Rp17.349.740.054,22 di atas anggarannya sebesar Rp16.800.000.000,00 atau 103,27%. 3) Realisasi 88,45% hasil dan pengembalian 71,84% dari atas anggaran investasi sebesar dan pinjaman sebesar dan Rp1.208.275.000,00 dan Rp25.955.320.803,69 di bawah anggarannya, yaitu Rp1.366.000.000,00

Rp36.130.000.000,00 atau 71,84%. 4) Realisasi Penerimaan non program sebesar Rp18.907.238.281,98 yang tidak dianggarkan sebelumnya. b. Penggunaan Dana Realisasi penggunaan dana tahun 2004 sebesar Rp86.668.187.012,78 tidak mencapai anggarannya sebesar Rp251.125.000.000,00 atau 34,51%, dengan rincian sebagai berikut:
No URAIAN ANGGARAN (Rp) TAHUN 2004 REALISASI (Rp) %

1

Dana Bergulir : Investasi Jangka Panjang : - Rumah Susun Sewa - Fasilitas Pelkes Pinjaman Dana : - Uang Muka KPR - Koperasi Karyawan - DTMK - Provider Jasa Pelkes Total Dana Bergulir

40.000.000.000,00 100.000.000.000,00 140.000.000.000,00 75.000.000.000,00 10.000.000.000,00 85.000.000.000,00 225.000.000.000,00

363.733.600,00 363.733.600,00 41.382.226.350,00 1.440.000.000,00 42.822.226.350,00 43.185.959.950,00

0,91 0,26 55,18 14,40 50,38 19,19

25

BPK-RI/AUDITAMA V

No 2

URAIAN Dana Tidak Bergulir : Bidang Kesehatan: - Rehab/Renov UGD Puskes Pemda - Rehab/Renov IRNA Puskes Pemda - Mobil ambulan - Peralatan Medis/Non Medis - Kesehatan Cuma-Cuma - Bantuan PPK Tingkat I Bidang Pendidikan: - Bea Siswa - Pelatihan TK - Rehab/Renov. BLK Pemda Bantuan PHK Lainnya: - Bantuan SP & As. Pengusaha - Beban Lain-lain Total Dana Tidak Bergulir

ANGGARAN (Rp)

TAHUN 2004 REALISASI (Rp)

%

1.800.000.000,00 2.700.000.000,00 5.400.000.000,00 4.500.000.000,00 1.200.000.000,00 2.000.000.000,00 17.600.000.000,00 3.100.000.000,00 450.000.000,00 3.550.000.000,00 1.400.000.000,00 3.575.000.000,00 3.575.000.000,00 26.125.000.000,00 251.125.000.000,00

1.215.566.495,00 558.033.127,18 13.598.491.460,00 2.898.342.235,00 1.117.567.993,00 19.388.001.310,18 3.684.690.000,00 182.120.000,00 21.747.150,00 3.888.557.150,00 869.750.000,00 7.200.000,00 2.334.500.458,00 2.341.700.458,00 26.488.008.918,18 16.994.218.144,60 86.668.187.012,78

67,53 20,67 251,82 64,41 93,13 110,16 118,86 40,47 109,54 62,13 65,30 65,50 101,39 34,51

3 4

Pengeluaran Non Program JUMLAH PENGGUNAAN DANA

Selanjutnya dari tabel tersebut diketahui bahwa realisasi dana bergulir sebesar Rp43.185.959.950,00 atau sebesar 19,19% dari anggarannya sebesar Rp225.000.000.000,00. Penyaluran dana bergulir tersebut terdiri dari pinjaman sebesar Rp42.822.226.350,00 atau 50,38% dari anggarannya dan investasi jangka panjang sebesar Rp363.733.600,00 atau 0,26% dari anggarannya. Selain itu, dari anggaran dana tidak bergulir sebesar Rp26.125.000.000,00, tersalurkan sebesar Rp26.488.008.918,18 atau 101,39% dari anggarannya. Penyaluran dana tidak bergulir tersebut terdiri dari bantuan bidang kesehatan sebesar Rp19.388.001.310,18 atau 110,16%, bantuan bidang pendidikan sebesar Rp3.888.557.150,00 atau 109,54% 26 BPK-RI/AUDITAMA V

dari anggarannya, bantuan PHK sebesar Rp869.750.000,00 atau 62,13% dari anggarannya, dan lainnya berupa bantuan serikat pekerja dan asosiasi pengusaha serta beban lain sebesar Rp2.341.700.458,00 atau 65,50% dari anggarannya. Tidak tercapainya anggaran penggunaan dana tersebut antara lain dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut: 1) Rencana pembangunan rumah susun sewa. a) Rencana pembangunan rumah susun sewa (Rusunawa) atas kerjasama dengan PT JIEP terdapat hambatan karena Dewan Komisaris PT Jamsostek tidak setuju atas Sistem BOT yang ditawarkan. b) Rencana pembangunan rusunawa atas kerjasama dengan Pemerintah Propinsi Jawa Timur, lokasi tanah yang disepakati di Kawasan Industri Margo Mulyo Surabaya, masih terbentur kepada penyelesaian pengalihan status tanah dari Departemen Kimpraswil kepada Pemerintah Propinsi Jawa Timur. 2) Rencana pembangunan fasilitas pelayanan kesehatan (Rumah Sakit). a) Rumah Sakit Krakatau Steel dinyatakan layak, tetapi belum ada kesepakatan terhadap harga antara kedua belah pihak. b) Rumah Sakit Hosana International masih dalam proses kajian studi kelayakan. 3) Penggunaan dana tidak bergulir untuk bidang kesehatan. a) Pengadaan 45 unit ambulan telah dilaksanakan selama tahun 2004. b) Kantor Cabang belum sepenuhnya melaksanakan renovasi UGD dan Ruang Rawat Inap, karena pelaksanaannya dilakukan secara selektif sesuai yang ditetapkan oleh Tim Trauma Center. c) Pelaksanaan seleksi atas jenis peralatan medis, dimana pengajuan dari rumah sakit yang tidak memenuhi standar yang ditetapkan, tidak dapat disetujui. 4) Beban pengelolaan investasi jangka panjang untuk rusunawa. a) Belum dioperasionalkannya Rusunawa Makassar. b) Perubahan sistem biaya pengelolaan Rusunawa Batam yang semula mencantumkan pendapatan dan beban, mulai bulan Mei 2003 dilaksanakan dengan sistem Master Lease (Penerimaan Hasil Neto), sehingga unsur beban tidak dibukukan. 27 BPK-RI/AUDITAMA V

c. Komposisi Anggaran dan Realisasi Penggunaan Dana Komposisi realisasi penggunaan dana tahun 2004 sebesar Rp86.668.187.012,78 atau 20,03% dari realisasi sumber dana sebesar Rp432.626.512.339,64 tidak mencapai target komposisi anggarannya sebesar Rp251.125.000.000,00 atau 65,22% dari sumber dananya sebesar Rp385.062.000.000,00, dengan rincian sebagai berikut:
No 1 2 URAIAN SUMBER DANA Dana Bergulir : Investasi Jangka Panjang : - Rumah Susun Sewa - Fasilitas Pelkes Pinjaman Dana : - Uang Muka KPR - Koperasi Karyawan - DTMK - Provider Jasa Pelkes Total Dana Bergulir 75.000.000.000,00 10.000.000.000,00 85.000.000.000,00 225.000.000.000,00 22,07 58,43 19,48 2,60 41.382.226.350,00 1.440.000.000,00 42.822.226.350,00 43.185.959.950,00 9,57 0,33 9,90 9,98 40.000.000.000,00 100.000.000.000,00 140.000.000.000,00 10,39 25,97 36,36 363.733.600,00 363.733.600,00 0,08 0,08 TAHUN 2004 ANGGARAN 385.062.000.000,00 % REALISASI % 100 100 432.626.512.339,64

28

BPK-RI/AUDITAMA V

No 1 3

URAIAN SUMBER DANA Dana Tidak Bergulir : Bidang Kesehatan: - Rehab/Renov UGD Puskes Pemda - Rehab/Renov IRNA Puskes Pemda - Mobil ambulan - Peralatan Medis/Non Medis - Kesehatan Cuma-Cuma - Bantuan PPK Tingkat I Bidang Pendidikan: - Bea Siswa - Pelatihan TK - Rehab/Renov. BLK Pemda Bantuan PHK Lainnya: - Bantuan SP & As. Pengusaha - Beban Lain-lain Total Dana Tidak Bergulir

TAHUN 2004 ANGGARAN 385.062.000.000,00 % 100 REALISASI 432.626.512.339,64 % 100

1.800.000.000,00 2.700.000.000,00 5.400.000.000,00 4.500.000.000,00 1.200.000.000,00 2.000.000.000,00 17.600.000.000,00 3.100.000.000,00 450.000.000,00 3.550.000.000,00 1.400.000.000,00 3.575.000.000,00 3.575.000.000,00 26.125.000.000,00 -

0,47 0,70 1,40 1,17 0,31 0,52 4,57 0,81 0,12 0,92 0,36

1.215.566.495,00 558.033.127,18 13.598.491.460,00 2.898.342.235,00 1.117.567.993,00 19.388.001.310,18 3.684.690.000,00 182.120.000,00 21.747.150,00 3.888.557.150,00 869.750.000,00 7.200.000,00

0,28 0,13 3,14 0,67 0,26 4,48 0,85 0,04 0,90 0,20 0,54 0,54 6,12

0,93 0,93 6,78

2.334.500.458,00 2.341.700.458,00 26.488.008.918,18

4 5 6

Pengeluaran Non Program JUMLAH PENGGUNAAN DANA SISA DANA

251.125.000.000,00 65,22 133.937.000.000,00 34,78

16.994.218.144,60 3,93 86.668.187.012,78 20,03 345.958.325.326,86 79,97

Dari tabel di atas diketahui bahwa dalam tahun 2004, komposisi penggunaan dana baik anggaran maupun realisasi belum sesuai dengan Surat Menteri Keuangan Nomor. S-521/ MK.01/2000 tanggal 27 Oktober 2000, dimana disebutkan bahwa alokasi penggunaan DPKP setiap tahunnya ditetapkan minimal 80% dialokasikan untuk DPKP yang bersifat bergulir dan maksimal 20% dialokasikan untuk DPKP yang sifatnya tidak bergulir termasuk untuk beban operasional.

29

BPK-RI/AUDITAMA V

Dari tabel di atas, anggaran untuk dana bergulir sebesar 58,43% dari anggaran sumber dana, dan untuk dana tidak bergulir sebesar 6,78% dari sumber dana. Komposisi lainnya adalah sisa dana yaitu sebesar 34,78% dari sumber dana. Realisasi untuk dana bergulir hanya sebesar 9,98% dari realisasi sumber dana, untuk dana tidak bergulir sebesar 6,12% dari sumber dana. Komposisi lain adalah pengeluaran non-program sebesar 3,93% dan yang terbesar adalah sisa dana yaitu sebesar 79,97% dari sumber dana.

30

BPK-RI/AUDITAMA V

8. Laporan Keuangan Program DPKP a. Laporan Keuangan 1) Laporan Posisi Keuangan Per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003.
URAIAN AKTIVA Aktiva Lancar : Kas dan Bank Deposito Piutang Atas Pendapatan Inv. Jangka Panjang Piutang Bunga Deposito Piutang Bunga Pinjaman Akumulasi Penyisihan Piutang Bunga Pinjaman Beban Dibayar Dimuka Persekot Kerja Piutang Lain-lain Jumlah Aktiva Lancar Pinjaman : Pinjaman Uang Muka Perumahan Pinjaman Koperasi Karyawan Pinjaman Dana Talangan Modal Kerja Pinjaman Provider Pelkes Akumulasi Penyisihan Pinjaman Jumlah Pinjaman Investasi Jangka Panjang : Tanah Bangunan Peralatan Pra Operasi Akumulasi Penyusutan Rusun Jumlah Investasi Jangka Panjang Aktiva Tetap Bangunan Peralatan Komputer Peralatan Lain Total Harga Perolehan Akumulasi Penyusutan Aktiva tetap Nilai Buku Aktiva Tetap Aktiva Lain-lain : Pos Sementara Dalam Penyelesaian Rumah Susun Dalam Pengerjaan Jumlah Aktiva Lain-lain Pos Perantara 31 DESEMBER 2004 (Rp) 31 DESEMBER 2003 (Rp)

17.158.325.326,86 328.800.000.000,00 33.104.839,00 587.842.876,79 4.261.198.655,46 (1.600.682.728,28) 3.974.225,33 17.805.000,00 80.619.688,01 349.342.187.883,18 106.428.242.238,97 13.401.920.671,29 1.003.131.373,00 576.969.585,98 121.410.263.869,24 (14.739.691.615,65) 106.670.572.253,59 2.036.112.180,00 49.146.006.170,00 3.370.854.725,00 1.953.207.213,00 56.506.180.288,00 (10.119.578.486,00) 46.386.601.802,00 6.800.931.500,00 299.560.000,00 79.249.700,00 7.179.741.200,00 (2.608.724.360,50) 4.571.016.839,50 573.197.225,38 573.197.225,38 507.543.576.003,64

21.274.169.199,72 321.170.000.000,00 112.200.000,00 533.016.986,30 2.920.119.854,84 3.974.225,33 21.005.000,00 346.034.485.266,19 85.009.187.689,21 16.171.438.449,61 1.140.706.500,00 778.901.015,90 103.100.233.654,72 103.100.233.654,72 2.036.112.180,00 49.139.762.570,00 3.370.854.725,00 1.595.717.213,00 56.142.446.688,00 56.142.446.688,00 6.489.062.000,00 293.810.000,00 6.782.872.000,00 (2.185.638.278,17) 4.597.233.721,83 431.510.640,88 5.989.916.500,00 6.421.427.140,88 516.295.826.471,62

JUMLAH AKTIVA

31

URAIAN

31 DESEMBER 2004 (Rp)

31 DESEMBER 2003 (Rp)

KEWAJIBAN DAN AKTIVA BERSIH KEWAJIBAN Kewajiban Lancar Hutang Pajak Beban Yang Masih Harus Dibayar Jumlah Kewajiban Lancar Kewajiban Lain-lain Pos Sementara Dalam Penyelesaian Selisih Rekonsiliasi Bank Hutang Lain-lain Jumlah Hutang Lain-lain JUMLAH KEWAJIBAN AKTIVA BERSIH Aktiva Bersih Terikat Permanen Aktiva Bersih Terikat Temporer Aktiva Bersih Tidak Terikat Koreksi Kenaikan (Penurunan) Aktiva Bersih Tahun Lalu Aktiva Bersih Tidak Terikat Setelah Koreksi Perubahan Aktiva Bersih JUMLAH AKTIVA BERSIH Pos Perantara JUMLAH KEWAJIBAN DAN AKTIVA BERSIH

110.329.989,93 1.086.615.812,29 1.196.945.802,22 109.619.810,00 14.050.338.944,71 7.934.148,83 14.167.892.903,54 15.364.838.705,76

159.544.745,93 3.885.207.942,00 4.044.752.687,93 20.026.436,13 8.833.326.249,67 976.528,00 8.854.329.213,80 12.899.081.901,73

503.396.744.569,89 (14.917.662.633,96) 488.479.081.935,93 3.699.655.361,95 492.178.737.297,88

325.645.744.672,87 677.854.465,36 326.323.599.138,23 177.073.145.431,66 503.396.744.569,89 516.295.826.471,62

507.543.576.003,64

32

2)

Laporan Aktivitas Per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003.
URAIAN 31 DESEMBER 2004 (Rp) 31 DESEMBER 2003 (Rp)

PERUBAHAN AKTIVA BERSIH TIDAK TERIKAT Penambahan : Penyisihan Laba Untuk Beban Operasional Program Pengalihan dari Aktiva Bersih Terikat Temporer Program Tidak Bergulir Jumlah Penambahan Pengurangan : Bantuan Renovasi Fasilitas Pelkes Bantuan Mobil Ambulance Bantuan Peralatan Medis/Non Medis Bantuan Kesehatan Cuma-Cuma Bantuan Beasiswa Bantuan Pelatihan Tenaga Kerja Bantuan Renovasi BLK Bantuan PHK Bantuan asosiasi Serikat Pekerja Beban Operasional Program Bantuan Kemitraan Koreksi Pengurangan Aktiva Bersih Jumlah Pengurangan Kenaikan (Penurunan) Aktiva Bersih Tidak Terikat PERUBAHAN AKTIVA BERSIH TERIKAT TEMPORER Penambahan : Penyisihan Atas Bagian Laba untuk Dana Tidak Bergulir Jumlah Penambahan Pengurangan : Pengalihan kepada Aktiva Bersih Tidak Terikat untuk Penyaluran Dana Tidak Bergulir Jumlah Pengurangan Kenaikan (Penurunan) Aktiva Bersih Terikat Temporer PERUBAHAN AKTIVA BERSIH TERIKAT PERMANEN Penambahan : Penyisihan Bagian Laba untuk Program Bergulir : Pendapatan Bunga PUMP Pendapatan Bunga Pinjaman Kopkar Pendapatan Bunga Pinjaman DTMK Pendapatan Bunga Pinjaman Provider Pelkes Pendapatan Bunga Deposito (Net) Pendapatan Bunga Jasa Giro (Net) Pendapatan Investasi Rusun Pendapatan Lain-lain Jumlah Penambahan Pengurangan : Beban Pengelolaan Investasi Rusun Beban Penyusutan Beban Penyisihan Pokok Pinjaman Beban Penyisihan Bunga Pinjaman Beban Pemeliharaan Gedung Beban Lain-lain Jumlah Pengurangan Kenaikan (Penurunan) Aktiva Bersih Terikat Permanen Kenaikan (Penurunan) Aktiva Bersih AKTIVA BERSIH AWAL TAHUN
Koreksi Kenaikan (Penurunan) Aktiva Bersih Tahun Lalu

26.807.453.931,51 26.807.453.931,51 1.812.529.296,18 14.577.822.800,00 2.898.342.235,00 1.124.067.993,00 3.725.790.000,00 185.801.000,00 5.928.551.265,79 869.750.000,00 2.147.514.405,50 7.200.000,00 33.277.368.995,47 (6.469.915.063,96)

164.203.391.000,00 164.203.391.000,00 2.341.967.675,00 4.517.475.000,00 110.795.998,60 668.656.781,00 3.345.522.000,00 296.356.163,00 157.853.500,00 538.650.000,00 357.105.246,00 1.188.079.015,53 13.522.461.379,13 150.680.929.620,87

-

-

-

-

4.510.507.767,82 497.112.195,24 32.625.156,06 16.632.208.442,57 843.610.652,82 1.135.044.839,00 264.020,68 23.651.373.074,18 1.132.038.158,80 3.802.391.753,33 7.467.773.597,09 692.428.439,05 374.237.700,00 12.933.000,00 13.481.802.648,27 10.169.570.425,91 3.699.655.361,95 503.396.744.569,89 (14.917.662.633,96) 492.178.737.297,88

5.090.281.419,95 804.610.252,15 14.554.091,03 48.624.082,87 19.012.239.189,99 1.247.265.973,64 953.509.413,00 27.171.084.422,63 426.177.907,67 352.690.704,17

AKTIVA BERSIH AKHIR TAHUN

778.868.611,84 26.392.215.810,79 177.073.145.431,66 325.645.744.672,87 677.854.465,36 503.396.744.569,89

33

3) Laporan Arus Kas Per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003.
URAIAN 31 DESEMBER 2004 31 DESEMBER 2003

ALIRAN KAS DARI AKTIVITAS OPERASI Penerimaan Kas dari Angsuran Pinjaman Perumahan Pekerj Kas dari Angsuran Pinjaman Koperasi Pekerj Kas dari Angsuran Dana Talangan Modal Kerj Kas dari Angsuran Pinjaman Provider Pelke Kas dari Bunga Pinjaman Perumahan Pekerj Kas dari Bunga Pinjaman Koperasi Karyawa Kas dari Administrasi Dana Talangan Modal Kerj Kas dari Bunga Pinjaman Provider Pelke Kas dari Bunga Deposito Kas dari Jasa Giro Kas dari Pungutan PPh Pasal 21 Perorangan Kas dari Pungutan PPh Pasal 22 Barang & Jasa Kas dari Pungutan PPh Pasal 23 Jasa Teknis & Manajemen Kas dari Pungutan PPN Kas dari Pengembalian PK Kas dari Lainnya Sub Jumlah Penerimaan Pengeluaran Kas untuk Pinjaman Perumahan Pekerja Kas untuk Pinjaman Koperasi Pekerj Kas untuk Pinjaman Provider Pelke Kas untuk Renovasi Rumah Saki Kas untuk Bantuan Mobil Ambulanc Kas untuk Bantuan Peralatan Medi Kas untuk Kesehatan Cuma-Cuma Kas untuk Beasiswa Kas untuk Pelatihan Tenaga Kerja Kas untuk Pembangunan BLK Kas untuk Bantuan PHK Kas untuk Kegiatan Serikat Pekerja Kas untuk Biaya Operasiona Kas untuk Setoran PPh Pasal 21 Perorangan Kas untuk Setoran PPh Pasal 22 Barang & Jasa Kas untuk Setoran PPh Pasal 23 Jasa Teknis & Manajemen Kas untuk Setoran PPN Kas untuk Pajak Jasa Giro Kas untuk Pajak Bunga Deposito Kas untuk PPh Bunga Pinjaman Kas untuk Persekot Kerja Kas untuk Lainnya Sub Jumlah Pengeluaran : Kas Bersih yang diterima (digunakan) untuk Aktivitas Operasi

19.529.198.219,55 2.613.679.394,54 201.931.429,92 3.361.421.756,32 225.018.095,76 24.071.907,63 16.506.129.401,40 1.078.424.295,91 32.214.172,00 85.999.097,00 310.491.765,00 2.284.034.400,00 16.194.498.847,98 62.447.112.783,01 (41.382.226.350,00) (1.440.000.000,00) (1.773.599.622,18) (13.598.491.460,00) (2.898.342.235,00) (1.117.567.993,00) (3.684.690.000,00) (182.120.000,00) (21.747.150,00) (869.750.000,00) (7.200.000,00) (2.323.000.178,00) (35.570.022,00) (65.913.726,00) (422.015.845,00) (234.813.643,09) (11.500.280,00) (2.377.491.484,00) (12.979.192.293,80) (85.425.232.282,07) (22.978.119.499,06)

13.383.772.573,38 2.518.314.114,06 62.400.000,00 170.473.884,14 2.629.580.470,01 398.395.936,54 759.091,00 28.209.590,95 18.518.448.187,44 1.554.344.062,23 18.708.997,00 28.425.162,72 1.746.777.255,85 1.385.259.200,00 8.662.946.810,25 51.106.815.335,57 (41.359.775.625,00) (4.904.950.000,00) (489.375.000,00) (1.173.276.875,00) (2.534.058.068,00) (1.297.779.632,80) (686.362.781,00) (3.345.522.000,00) (296.356.163,00) (157.853.500,00) (538.650.000,00) (357.105.246,00) (1.502.074.915,53) (22.854.143,00) (36.621.028,57) (1.709.918.862,37) (303.593.086,49) (44.450.150,42) (18.415.236,00) (1.271.955.050,00) (3.379.975.520,68) (65.430.922.883,86) (14.324.107.548,29)

34

URAIAN

31 DESEMBER 2004

31 DESEMBER 2003

ALIRAN KAS DARI INVESTASI Penerimaan Kas dari Pendapatan Investasi Jangka Panjang Kas dari Penjualan Aktiva Tetap Sub Jumlah Penerimaan Pengeluaran Kas untuk Pengelolaan Investasi Jangka Panjan Kas untuk Investasi Jangka Panjang Kas untuk Pembelian Aktiva Tetap Sub Jumlah Pengeluaran Kas Bersih yang diterima (digunakan) untuk aktivitas Investasi ALIRAN KAS DARI PENDANAAN Penerimaan Kas dari Penyisihan Laba Kas dari Transfer Dropping Sub Jumlah Penerimaan Pengeluaran Kas untukTransfer Dropping Sub Jumlah Pengeluaran Kas Bersih yang diterima (digunakan) untuk Aktivitas Pendanaan Kenaikan (Penurunan) bersih dalam Kas & Setara Ka Kas dan Setara Kas Awal Tahun Kas dan Setara Kas Akhir Tahun Kas dan Setara Kas akhir tahun terdiri dari Kas dan Bank Deposito

1.208.275.000,00 1.208.275.000,00 (1.114.034.773,80) (363.733.600,00) (1.477.768.373,80) (269.493.373,80)

838.412.219,00 838.412.219,00 (3.452.269.527,00) (3.452.269.527,00) (2.613.857.308,00)

26.761.769.000,00 44.052.431.775,00 70.814.200.775,00 (44.052.431.775,00) (44.052.431.775,00) 26.761.769.000,00 3.514.156.127,14 342.444.169.199,72 345.958.325.326,86 17.158.325.326,86 328.800.000.000,00 345.958.325.326,86

211.195.619.500,00 211.195.619.500,00 211.195.619.500,00 194.257.654.643,71 148.186.514.556,01 342.444.169.199,72 21.274.169.199,72 321.170.000.000,00 342.444.169.199,72

35

b. Kebijakan Akuntansi Untuk memberikan dasar yang memadai dalam penyusunan laporan keuangan DPKP, manajemen telah menetapkan beberapa kebijakan akuntansi yang penting sebagai berikut : 1) Dasar Penyusunan Laporan Keuangan Berdasarkan surat Menteri Keuangan No.S.521/MK.01/2000 tanggal 27 Oktober 2000 tentang Pedoman Umum Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta bahwa Laporan Keuangan DPKP disusun berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.45 tentang Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba. Laporan Keuangan DPKP meliputi Laporan Posisi Keuangan pada akhir periode laporan, Laporan Aktivitas serta Laporan Arus Kas untuk suatu periode laporan, dan catatan atas Laporan Keuangan. 2) Laporan Posisi Keuangan a) Laporan Posisi Keuangan menyajikan total aktiva, kewajiban dan aktiva bersih. b) Kas atau aktiva lain yang dibatasi penggunaannya harus disajikan terpisah dari kas dan aktiva lain yang tidak terikat penggunaannya. c) Aktiva disajikan berdasarkan urutan likuiditasnya dan dikelompokkan ke dalam aktiva lancar dan tidak lancar. d) Kewajiban 3) Kas dan Bank a) Kas Kas diakui pada saat terjadinya sebesar nilai nominalnya dan disajikan pada urutan pertama pada aktiva lancar. b) Bank Bank diakui saat diterimanya nota debet/kredit dari bank atas mutasi yang terjadi pada rekening giro atau pada saat diterima/dikeluarkan uang sesuai dengan rekening koran bank. disajikan berdasarkan tanggal jatuh tempo dan dikelompokkan ke dalam jangka pendek dan jangka menegah.

36

Bank disajikan dalam neraca pada kelompok pos aktiva lancar sebesar saldo yang ada setelah rekonsiliasi bank antara buku harian bank dengan saldo rekening koran bank 4) Deposito a) Deposito On Call (DOC) DOC diakui pada saat penempatan dana sebesar nilai nominalnya. Pendapatan bunga DOC diakui pada saat munculnya hak untuk memperoleh bunga secara proporsional sesuai dengan jangka waktu yang telah dilewati. Biaya materai, provisi, administrasi, pajak yang dibebankan oleh bank, dicatat sebagai beban umum dan administrasi. DOC disajikan dalam neraca pada kelompok pos investasi lancar sebesar nilai nominalnya. b) Deposito Berjangka Deposito berjangka diakui sebesar nilai nominal, yaitu nilai yang tercatat pada sertifikat deposito. Pendapatan bunga deposito berjangka diakui pada saat munculnya hak untuk memperoleh bunga secara proporsional sesuai dengan jangka waktu yang telah dilewati. Beban penalti karena pencairan sebelum jatuh tempo diakui sebagai beban umum dan administrasi sebesar dendanya. Deposito berjangka disajikan di laporan posisi keuangan dalam kelompok pos aktiva lancar sebesar nilai nominalnya. 5) Piutang atas Bagian Laba Piutang atas bagian laba diakui pada saat bagian laba yang akan dialokasikan telah dapat diperhitungkan berdasarkan hasil keputusan RUPS. Piutang atas bagian laba dari PT. Jamsostek dihitung/dinilai sesuai dengan jumlah yang akan diterima pelaporan. Piutang atas bagian laba disajikan dalam kelompok aktiva lancar di bawah pos investasi lancar. atau sisa yang belum diterima sampai dengan tanggal

37

6) Piutang atas Pendapatan Investasi Jangka Panjang Timbulnya pos ini merupakan konsekuensi dari penerapan basis akrual dalam pengakuan pendapatan dan beban sebagaimana diatur dalam standar akuntansi keuangan. Piutang atas Pendapatan Inv. Jangka Panjang diakui dan dicatat pada saat pendapatan atas Pendapatan Inv. Jangka Panjang yang terjadi telah dapat diperhitungkan sebagai pendapatan atas Inv. Jangka Panjang pada tanggal laporan posisi keuangan. 7) Piutang Bunga Deposito Piutang bunga diakui dan dicatat pada saat pendapatan bunga atas deposito yang dilakukan telah dapat diperhitungkan sebagai pendapatan bunga pada tanggal laporan posisi keuangan. 8) Piutang Bunga Pinjaman Piutang bunga pinjaman diakui dan dicatat pada saat pendapatan bunga atas pinjaman yang dilakukan telah dapat diperhitungkan sebagai pendapatan bunga pinjaman pada tanggal laporan posisi keuangan. 9) Akumulasi Penyisihan Piutang Bunga Pinjaman Pos ini merupakan saldo dari akumulasi beban penyisihan yang diukur dan dicatat melalui jurnal penyesuaian berdasarkan analisis atas kemungkinan kolektibilitas pinjaman dan piutang bunga pinjaman pada akhir periode, dengan perhitungan : Kategori Lancar Kurang Lancar Ragu-ragu Macet % 0 25 75 100 Keterangan ≤ 6 Bulan 6< x ≤ 9 Bulan 9< x ≤ 12 Bulan > 12 Bulan, pailit/force majeur

Penerapan kebijakan baru pada tahun 2004, akumulasi penyisihan piutang bunga pinjaman dilakukan secara retrospektif dan mengoreksi saldo aktiva bersih tahun lalu. Hal tersebut dilakukan karena data perperiode tahun lalu tidak dapat disajikan secara akurat sehingga penyajian kembali menjadi tidak praktis.

38

10) Beban Dibayar Dimuka Akun ini baru mulai dicatat pada tanggal laporan posisi keuangan dengan menggunakan ayat jurnal penyesuaian. Ayat jurnal penyesuaian yang dibuat adalah dengan memindahkan sebagian jumlah yang telah tercatat dalam pos biaya operasional yang bersangkutan ke pos beban dibayar dimuka. 11) Persekot Kerja Persekot kerja dicatat pada saat terjadinya penyerahan uang sebagai persekot kerja kepada pegawai Unit DPKP yang bersangkutan. Persekot kerja yang telah dipertanggungjawabkan secara sah akan ditutup dan dipindahkan ke pos-pos beban usaha yang berkaitan. 12) Piutang Lain-lain Piutang Lain-Lain diakui pada saat timbulnya hak Unit DPKP untuk menagih kepada pihak lain atau antar program misalnya pinjaman dana oleh PKBL. Besarnya nilai yang diakui sebagai Piutang Lain-Lain ditetapkan berdasarkan jumlah uang yang bersedia dibayar oleh pihak ketiga yang bersangkutan. 13) Pinjaman Pinjaman untuk program bergulir dikelompokkan menjadi : a) Pinjaman Uang Muka Perumahan (PUMP) b) Pinjaman Dana Koperasi Karyawan/Pekerja c) Pinjaman Dana Talangan Modal Kerja (DTMK) d) Pinjaman Dana Sektor Jasa Pelayanan Kesehatan Pinjaman diakui pada saat telah terjadi penyaluran dana bergulir DPKP yang ditandai dengan adanya perjanjian/penetapan dan transfer dana kepada debitur dan atau jika pada tanggal Laporan Posisi Keuangan perjanjian pinjaman telah disetujui namun belum ada penyaluran dana kepada debitur. Terhadap perjanjian pinjaman yang telah disetujui namun belum ada penyaluran dana kepada debitur akan diklasifikasikan sebagai Kewajiban Yang Masih Harus Dibayar dan pada awal periode berikutnya dilakukan jurnal balik. Pinjaman dinilai berdasarkan nilai nominal yang disalurkan atau akan disalurkan kepada debitur. Jadi walaupun jatuh tempo pinjaman melebihi satu tahun tetap

39

dilakukan pencatatan sebesar nilai nominal yang disalurkan pada awal perjanjian/transaksi. 14) Akumulasi Penyisihan Pinjaman Pos ini merupakan saldo dari akumulasi beban penyisihan yang diukur dan dicatat melalui jurnal penyesuaian berdasarkan analisis atas kemungkinan kolektibilitas pinjaman pada akhir periode, dengan perhitungan sebagai berikut : Kategori Lancar Kurang Lancar Ragu-ragu Macet % 0 25 75 100 Keterangan ≤ 6 Bulan 6< x ≤ 9 Bulan 9< x ≤ 12 Bulan > 12 Bulan, pailit/force majeur

Penerapan kebijakan baru pada tahun 2004, akumulasi penyisihan pinjaman dilakukan secara retrospektif dan mengoreksi saldo aktiva bersih tahun lalu. Hal tersebut dilakukan karena data perperiode tahun lalu tidak dapat disajikan secara akurat sehingga penyajian kembali menjadi tidak praktis. 15) Investasi Jangka Panjang Perolehan tanah diakui dan dicatat pada tanggal terjadinya transaksi perolehan tersebut. Harga perolehan tanah meliputi seluruh biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka untuk memperoleh tanah sehingga dalam keadaan siap untuk dipergunakan sesuai dengan tujuan penggunaan yang telah ditetapkan sebelumnya. 16) Akumulasi Penyusutan Pos akumulasi penyusutan investasi jangka panjang merupakan akumulasi beban penyusutan yang diperhitungkan secara berkala terhadap masing-masing akun bangunan, peralatan, dan pra operasi dari investasi jangka panjang. Penyusutan atas bangunan dan peralatan dibebankan dengan secara merata setiap tahun menurut umur ekonomis bangunan atau peralatan tersebut. Sedangkan investasi jangka panjang dalam bentuk aktiva pra operasi akan diamortisasi secara proporsional sesuai dengan manfaat yang dihasilkannya dalam beberapa periode mendatang.

40

Metode penyusutan dan amortisasi yang digunakan adalah metode garis lurus dengan masa manfaat atau masa penyusutan dan amortisasi sebagai berikut : a) Bangunan, masa penyusutan 20 tahun b) Peralatan, masa penyusutan 4 tahun c) Pra operasi, masa amortisasi 4 tahun Penerapan kebijakan baru pada tahun 2004, akumulasi penyusutan dilakukan secara retrospektif dan mengoreksi saldo aktiva bersih tahun lalu. Hal tersebut dilakukan karena data perperiode tahun lalu tidak dapat disajikan secara akurat sehingga penyajian kembali menjadi tidak praktis. 17) Aktiva Tetap Pada awal perolehan aktiva berwujud yang memenuhi kualifikasi sebagai aktiva tetap diakui berdasarkan biaya perolehan. Harga perolehan aktiva tetap tanah yang dibangun sendiri merupakan akumulasi seluruh biaya perolehan dan pengembangan tanah. Harga perolehan suatu aktiva tetap terdiri dari harga belinya, termasuk biaya impor dan PPN Masukan Tak Boleh Restitusi (non-refundable), dan setiap biaya yang dapat dikaitkan langsung sehingga aktiva tersebut siap digunakan, serta dikurangi potongan pembelian jika ada. Contoh biaya yang dapat dikaitkan langsung adalah: a) biaya persiapan tempat, b) biaya pengiriman awal (initial delivery), c) biaya simpan dan bongkar muat (handling cost), d) biaya pemasangan (installation costs), dan e) biaya profesional seperti arsitek dan insinyur. 18) Akumulasi Penyusutan Aktiva Tetap Akun-akun yang tergabung dalam pos ini merupakan akumulasi beban penyusutan masing-masing akun aktiva tetap (kecuali tanah) yang diperhitungkan secara merata menurut umur ekonomisnya. Saldo akun akumulasi penyusutan akan dihapuskan seiring dengan penghapusan aktiva tetap terkait.

41

Metode penyusutan yang digunakan adalah metode garis lurus dengan masa manfaat atau masa penyusutan sebagai berikut: a) Bangunan, masa penyusutan 20 tahun; b) Kendaraan Dinas, masa penyusutan 5 tahun; c) Peralatan Kantor, masa penyusutan 4 tahun; d) Peralatan Komputer, masa penyusutan 4 tahun; e) Peralatan Lain, masa penyusutan 4 tahun. Akumulasi Penyusutan Aktiva Tetap disajikan sebagai kontra pos Aktiva Tetap. 19) Aktiva Lain-lain (Pos Sementara Dalam Penyelesaian) Pos Sementara Dalam Penyelesaian diakui pada saat akhir periode dengan jurnal penyesuaian terhadap angsuran-angsuran program DPKP yang masuk dalam rekening PT Jamsostek dan dicatat senilai pembayaran yang belum ditransfer ke rekening DPKP pada tanggal Laporan Posisi Keuangan. Pos Sementara Dalam Penyelesaian dikelompokan dalam Pos Aktiva Lain-Lain disajikan di bawah pos Akumulasi Penyusutan Aktiva Tetap. 20) Laporan Aktivitas Laporan aktivitas menyajikan perubahan jumlah aktiva bersih selama suatu periode. Perubahan aktiva bersih dalam laporan aktivitas tercermin pada aktiva bersih atau ekuitas dalam laporan posisi keuangan. Laporan aktivitas menyajikan jumlah perubahan untuk masing-masing aktiva bersih, yaitu aktiva bersih terikat permanen, terikat temporer dan tidak terikat dalam suatu periode. 21) Pendapatan dan Beban Pendapatan dan beban pada laporan aktivitas disajikan secara bruto dan dikelompokkan untuk masing-masing jenis aktiva bersih. 22) Pendapatan dari Bagian Laba Penerimaan dari bagian laba untuk DPKP dicatat sebagai bagian dari pendapatan yang akan menambah : a) Aktiva Bersih Terikat Permanen untuk yang dialokasikan kepada program bergulir.

42

b) Aktiva Bersih Terikat Temporer untuk yang dialokasikan kepada program tidak bergulir. c) Aktiva Bersih Tidak Terikat untuk yang dialokasikan untuk biaya operasional. 23) Beban Operasional Pengeluaran untuk operasional DPKP dikelompokkan menjadi beban operasional dan beban dari Aktiva Bersih Tidak Terikat. Besarnya beban operasional per-tahun maksimum sebesar 1% dari alokasi DPKP setiap tahunnya. 24) Laporan Arus Kas Laporan Arus Kas disajikan sesuai dengan PSAK No.2 tentang Laporan Arus Kas. Penerimaan dan pengeluaran kas untuk operasional dikelompokkan pada aktivitas operasional. Penerimaan dan pengeluaran uang untuk investasi pada aktiva tetap dan peralatan dikelompokkan pada aktivitas investasi. Penerimaan dan pengeluaran kas untuk pelaksanaan program bergulir dan tidak bergulir dikelompokkan pada aktivitas pendanaan.

43

c. Penjelasan atas Laporan Keuangan 1) Laporan Posisi Keuangan Per 31 Desember 2004 dan 31 Desember 2003. Laporan posisi keuangan Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta per 31 Desember 2004 dan 2003 ditutup seimbang antara Aktiva dengan Kewajiban & Aktiva Bersih masing-masing sebesar Rp507.543.576.003,64 dan Rp516.295.826.471,62, dengan penjelasan sebagai berikut:
31 Desember 2004 (Rp) 17.158.325.326,86 31 Desember 2003 (Rp) 21.274.169.199,72

a) Kas dan Bank Saldo Kas dan Bank per 31 Desember 2004 dan 2003 tersebut berupa saldo fisik kas tunai ditangan, kas dalam perjalanan dan saldo giro bank yang terinci sebagai berikut:
31 Desember 2004 (Rp) 31 Desember 2003 (Rp)

Kas di tangan Kas dalam Perjalanan Rekening giro bank Jumlah (1) Kas di tangan

7.169.002,00
17.151.156.324,86 17.158.325.326,86

17.663.911,00 8.250.000,00
21.248.255.288,72 21.274.169.199,72

Saldo kas di tangan per 31 Desember 2004 dan 2003 berada pada masingmasing Kantor Pusat dan Kantor Wilayah dengan rincian sebagai berikut:
31 Desember 2004 (Rp) 31 Desember 2003 (Rp)

Kanwil II Kanwil IV Kanwil V Kanwil VIII Kantor Pusat Jumlah (2) Rekening Giro Bank

50.000,00 193.825,00 1.888.278,00 313.900,00 4.722.999,00 7.169.002,00

8.900.000,00 183.825,00 4.859.765,00 3.720.321,00 17.663.911,00

Saldo giro bank per 31 Desember 2004 dan 2003 merupakan saldo giro bank pada masing-masing Kantor Wilayah dan Kantor Pusat berdasarkan rekonsiliasi bank dengan rincian sebagai berikut:

44

Kanwil I Kanwil II Kanwil III Kanwil IV Kanwil V Kanwil VI Kanwil VII Kanwil VIII Kantor Pusat Jumlah

31 Desember 2004 (Rp) 741.200.502,01 463.487.358,72 3.758.762.083,57 1.348.283.553,17 335.506.970,21 654.569.515,74 274.585.363,90 356.461.408,84 9.218.299.568,70 17.151.156.324,86 31 Desember 2004 (Rp)

31 Desember 2003 (Rp) 518.577.584,58 1.380.184.259,38 2.885.354.478,70 4.022.266.269,67 1.124.003.558,88 1.024.135.010,67 1.070.894.239,75 900.681.139,27 8.322.158.747,82 21.248.255.288,72 31 Desember 2003 (Rp) 321.170.000.000,00

328.800.000.000,00 b) Deposito Saldo deposito per 31 Desember 2004 dan 2003 tersebut merupakan penempatan deposito berjangka yang jatuh temponya kurang dari 1 (satu) tahun dengan rincian sebagai berikut :

Kanwil I Kanwil II Kanwil IV Kanwil VIII Kantor Pusat Jumlah

31 Desember 2004 (Rp) 500.000.000,00 300.000.000,00 3.000.000.000,00 325.000.000.000,00 328.800.000.000,00

31 Desember 2003 (Rp) 420.000.000,00 300.000.000,00 450.000.000,00 320.000.000.000,00 321.170.000.000,00

Rincian penempatan deposito per 31 Desember 2004 Rp328.800.000.000,00 berdasarkan bank adalah sebagai berikut : Bank Jumlah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Bank Mandiri BRI BNI ’46 Bukopin BPD Sumatera Utara BPD Sumatera Selatan Bank Agro Bank Victoria Bank Yudha Bhakti Bank Asiatic Bank Global Jumlah 105.000.000.000,00 55.000.000.000,00 23.000.000.000,00 50.000.000.000,00 500.000.000,00 300.000.000,00 13.000.000.000,00 10.000.000.000,00 7.000.000.000,00 35.000.000.000,00 30.000.000.000,00 328.800.000.000,00

sebesar

45

Pada tanggal 3 Maret 2005, deposito Bank Asiatic telah dicairkan melalui rekening giro DPKP PT Jamsostek (Persero) berikut bunga sebesar Rp35.080.425.616,00, dan deposito Bank Global dicairkan tanggal 15 Maret 2005 berikut bunga sebesar Rp30.245.277.869,00. 31 Desember 2004 31 Desember 2003 (Rp) (Rp) 33.104.839,00 112.200.000,00 c) Piutang Atas Pendapatan Inv. Jangka Panjang Jumlah tersebut merupakan piutang dari sewa kamar Rumah Susun Sewa per 31 Desember 2004 dan 2003, yaitu: 31 Desember 2004 31 Desember 2003 (Rp) (Rp) Sewa Rusunawa Batam 28.024.839,00 63.000.000,00 Sewa Rusunawa Cikarang 5.080.000,00 49.200.000,00 Jumlah 33.104.839,00 112.200.000,00 31 Desember 2004 31 Desember 2003 (Rp) (Rp) 587.842.876,79 533.016.986,30 d) Piutang Bunga Deposito Jumlah tersebut berupa piutang bunga atas pendapatan deposito yang telah diakui s/d. akhir 31 Desember 2004 dan 2003, yaitu sebagai berikut: 31 Desember 2004 31 Desember 2003 (Rp) (Rp) Kantor Pusat 584.800.000,00 529.298.630,14 Kantor Wilayah I 730.000,00 2.209.315,07 Kantor Wilayah II 932.054,79 932.054,79 Kantor Wilayah IV 1.380.822,00 Kanwil VIII 576.986,30 Jumlah 587.842.876,79 533.016.986,30 31 Desember 2004 31 Desember 2003 (Rp) (Rp) 4.261.198.655,46 2.920.119.854,84 e) Piutang Bunga Pinjaman Jumlah piutang bunga pinjaman per 31 Desember 2004 dan 2003 tersebut merupakan pendapatan bunga pinjaman yang sudah diakui s/d. 31 Desember 2004 dan 2003 yang terdiri dari :

46

PUMP KOP. KARYAWAN DTMK PROVIDER PELKES Jumlah

31 Desember 2004 (Rp) 3.546.213.191,90 672.222.723,18 13.795.000,03 28.967.740,35 4.261.198.655,46

31 Desember 2003 (Rp) 2.479.116.185,94 406.794.176,95 13.795.000,03 20.414.491,92 2.920.119.854,84

Saldo piutang bunga pinjaman sebesar Rp 4.261.198.655,46, telah dikurangkan dengan pembayaran bunga pinjaman PUMP dan Kopkar masingmasing sebesar Rp50.108.639,95 dan Rp1.309.606,86 yang belum dapat diketahui debiturnya. 31 Desember 2004 (Rp) 31 Desember 2003 (Rp)

(1.600.682.728,28) f) Akumulasi Penyisihan Piutang Jumlah tersebut merupakan akumulasi penyisihan piutang bunga pinjaman atas kemungkinan kolektibilitas piutang bunga pinjaman yang telah jatuh tempo pada tanggal laporan posisi keuangan dan kecil kemungkinan tertagih yang dicatat dan diukur dengan menggunakan kriteria sesuai kebijakan akuntansi yang ditetapkan. Sehubungan dengan penerapan kebijakan akuntansi tersebut, perhitungan beban penyisihan s.d tahun 2004 adalah sebagai berikut : 31 Desember 2004 Akumulasi peny. piutang bunga PUMP Akumulasi peny. piutang bunga Kopkar Akumulasi penyi. piutang bunga DTMK Akumulasi peny. piutang bunga Provider Pelkes (Rp) 1.167.287.968,30 411.477.529,85 13.795.000,03 8.122.230,09 1.600.682.728,28

31 Desember 2004 31 Desember 2003 (Rp) (Rp) 3.974.225,33 3.974.225,33 g) Beban Dibayar Dimuka Beban dibayar dimuka per 31 Desember 2004 dan 2003 sebesar Rp3.974.225,33 merupakan beban asuransi yang dibayar dimuka.

47

31 Desember 2004 31 Desember 2003 (Rp) (Rp) 17.805.000,00 21.005.000,00 h) Persekot Kerja Jumlah tersebut merupakan saldo persekot kerja per 31 Desember 2004 dan 2003 yang belum dipertanggungjawabkan atas kegiatan DPKP tahun 2004 dan 2003. 31 Desember 2004 31 Desember 2003 (Rp) (Rp) 80.619.688,01 i) Piutang Lain-lain Jumlah tersebut merupakan piutang lain-lain per 31 Desember 2004 antara lain: 31 Desember 2004 (Rp) Piutang pada Merpati Nusantara 25.240.879,00 Piutang pada PTPN VII 25.240.879,00 Piutang pada PT Gas Negara 25.240.879,00 Piutang PTBA 4.897.051,01 80.619.688,01 31 Desember 2004 (Rp) 31 Desember 2003 (Rp)

121.410.263.869,24 103.100.233.654,72 j) Pinjaman Jumlah Pinjaman per 31 Desember 2004 dan 2003 merupakan saldo-saldo pinjaman para peserta Jamsostek atas program DPKP dalam upaya meningkatkan kesejahteraan peserta dengan rincian berdasarkan jenis pinjaman sebagai berikut: 31 Desember 2004 (Rp) 106.428.242.238,97 13.401.920.671,29 1.003.131.373,00 576.969.585,98 121.410.263.869,24 31 Desember 2003 (Rp) 85.009.187.689,21 16.171.438.449,61 1.140.706.500,00 778.901.015,90 103.100.233.654,72

PUMP KOP. KARYAWAN DTMK PROVIDER PELKES Jumlah

(1) Pinjaman Uang Muka Perumahan Perkembangan posisi PUMP per 31 Desember 2004 dan 2003 sebagai berikut :

48

Saldo Awal Koreksi Saldo Awal Penyaluran Angsuran Saldo Akhir

31 Desember 2004 (Rp) 85.009.187.689,21 41.382.226.350,00 126.391.414.039,21 (19.963.171.800,24) 106.428.242.238,97

31 Desember 2003 (Rp) 53.627.737.239,64 3.401.864.064,66 41.359.775.625,00 98.389.376.929,30 (13.380.189.240,09) 85.009.187.689,21

(2) Pinjaman Koperasi Karyawan Perkembangan posisi pinjaman Kopkar per 31 Desember 2004 dan 2003 sebagai berikut : 14.109.351.780,70 16.171.438.449,61 Saldo Awal 760.227,64 Koreksi Saldo Awal 1.440.000.000,00 4.904.950.000,00 Penyaluran
17.611.438.449,61 19.015.062.008,34 (4.209.517.778,32) (2.843.623.558,73) Angsuran 13.401.920.671,29 16.171.438.449,61 Saldo Akhir (3) Pinjaman Dana Talangan Modal Kerja Perkembangan posisi pinjaman DTMK per 31 Desember 2004 dan 2003 sebagai berikut : Saldo Awal 1.140.706.500,00 1.177.275.340,00 Koreksi Saldo Awal (137.575.127,00) 25.831.160,00 Penyaluran 1.003.131.373,00 1.203.106.500,00 Angsuran (62.400.000,00) Saldo Akhir 1.003.131.373,00 1.140.706.500,00 (4) Pinjaman Provider Pelayanan Kesehatan Perkembangan posisi pinjaman Provider Pelkes per 31 Desember 2004 dan 2003 sebagai berikut : Saldo Awal 778.901.015,90 466.666.566,70 Koreksi Saldo Awal (3.333.333,33) Penyaluran 489.375.000,00 778.901.015,90 952.708.233,37 Angsuran (201.931.429,92) (173.807.217,47) Saldo Akhir 576.969.585,98 778.901.015,90

49

k) Akumulasi Penyisihan Pinjaman Per 31 Desember 2004 dibentuk penyisihan atas pinjaman program DPKP dengan rincian sebagai berikut :
PUMP KOP. KARYAWAN DTMK PROVIDER PELKES Jumlah 31 Desember 2004 (Rp) 7.564.572.938,48 6.121.189.198,08 996.931.373,01 56.998.106,08 14.739.691.615,65 31 Desember 2004 (Rp) 46.386.601.802,00 31 Desember 2003 (Rp) 56.142.446.688,00

31 Desember 2004 (Rp) (14.739.691.615,65)

31 Desember 2003 (Rp) -

l) Investasi Jangka Panjang Investasi Jangka Panjang tersebut merupakan nilai perolehan investasi dalam bentuk pembangunan Rumah Susun Sewa Peserta Jamsostek per 31 Desember 2004 dan 2003 yang terdiri dari :
No 1 2 3 4 5 Uraian Tanah Bangunan Peralatan Biaya Pra Operasi Harga Perolehan Akum Penyusutan Nilai Buku Per 31 Desember 2004 Batam Cikarang 123.024.600 1.913.087.580 37.825.443.050 11.320.563.120 2.231.235.625 1.139.619.100 1.486.263.551 466.943.662 41.665.966.826 (8.621.414.977) 33.044.551.849 14.840.213.462 (1.498.163.509) 13.342.049.953 Total 2.036.112.180 49.146.006.170 3.370.854.725 1.953.207.213 56.506.180.288 (10.119.578.486) 46.386.601.802 Per 31 Desember 2003 Batam Cikarang 123.024.600 1.913.087.580 37.825.443.050 11.314.319.520 2.231.235.625 1.139.619.100 1.486.263.551 109.453.662 41.665.966.826 41.665.966.826 14.476.479.862 14.476.479.862 Total 2.036.112.180 49.139.762.570 3.370.854.725 1.595.717.213 56.142.446.688 56.142.446.688

(1) Investasi Rusun Sewa Batam Nilai perolehan investasi jangka panjang Rusun Batam per 31 Desember 2004 sebesar Rp41.665.966.826,00 berupa investasi dalam bentuk Pembangunan Rumah Susun Sewa yang dikelola untuk disewakan pada pekerja peserta Program Jamsostek, dengan nama Rumah Susun Sewa “Bumi Lancang Kuning” yang terletak:

50

Jl. Duyung Batu Ampar Pulau Batam Sub Wilayah Pengembangan Batu Ampar. Luas Tanah : 20.004,27 M 2 : Rp120.024.000,00 Uang Wajib Tahunan Sertifikat / HGB : Keputusan Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam No.901/KPFS/KA-AT/2000 tanggal 31 Oktober 2000. : 17.202 M 2 Luas Bangunan : Rp Harga Perolehan 41.665.966.826,00 (Kapitalisasi Investasi Jangka Panjang sampai dengan 31 Desember 2004). (2) Investasi Rusun Sewa Cikarang Nilai perolehan investasi jangka panjang per 31 Desember 2004 sebesar Rp14.840.213.462,00 berupa investasi dalam bentuk Pembangunan Rumah Susun Sewa yang dikelola untuk disewakan pada pekerja peserta Program Jamsostek, dengan nama Rumah Susun Sewa Jababeka Cikarang yang terletak: : Jl Kedasih No. 4 Jababeka II Cikarang Lokasi Gedung : 7.480 M 2 Luas Tanah Luas Bangunan : 5.720 M 2 : Rp 14.840.213.462,00 (Kapitalisasi Harga Perolehan Investasi Jangka Panjang sampai dengan 31 Desember 2004). Sesuai PSAK No 17 tentang Penyusutan dan Pedoman Akuntansi Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta (DPKP) PT Jamsostek, mulai tahun 2004 telah dilakukan penyusutan atas aktiva investasi rumah susun sewa Batam dan rumah susun sewa Cikarang. Penyusutan atas aktiva investasi tersebut dilakukan secara retroaktif sejak tahun perolehannya. Penyusutan aktiva investasi rusunawa Batam dan rusunawa Cikarang tahun 2004 masing-masing sebesar Rp2.523.212.237,00 dan Rp856.093.434,00 dibukukan sebagai beban penyusutan dan amortisasi aktiva investasi (rumah susun), sedangkan penyusutan rusunawa Batam beban tahun 2001, 2002, 2003 sebesar Rp6.098.202.740,00 dan penyusutan rusunawa Cikarang tahun 2003 sebesar Rp642.070.075,00 dibukukan sebagai pengurang Aktiva Bersih Tidak Terikat tahun lalu (tahun 2003). Lokasi Gedung :

51

m Aktiva Tetap Saldo Aktiva Tetap per 31 Desember 2004 sebesar Rp4.571.016.839,50 merupakan nilai buku dari Aktiva Tetap dalam bentuk Bangunan, Komputer dan peralatan lain dengan nilai perolehan dan akumulasi penyusutan sebagai berikut:
No 1) 2) 3) 4) 5) 6) Uraian Gedung Kantor Pasar Minggu Bangunan Ruko Batam Bangunan Rumah Baca Batam Bangunan Rumah Baca Cikaran Komputer Peralatan Lain JUMLAH Nilai Perolehan Perolehan 6.164.447.000,00 324.615.000,00 150.000.000,00 161.869.500,00 299.560.000,00 79.249.700,00 7.179.741.200,00 Akumulasi Penyusutan 2.388.723.213,00 25.698.687,00 7.500.000,00 8.093.475,00 158.896.560,50 19.812.425,00 2.608.724.360,50 Nilai Buku 3.775.723.787,00 298.916.313,00 142.500.000,00 153.776.025,00 140.663.439,50 59.437.275,00 4.571.016.839,50

31 Desember 2004 (Rp) 4.571.016.839,50

31 Desember 2003 (Rp) 4.597.233.721,83

(1) Gedung Kantor Pasar Minggu Saldo gedung kantor per 31 Desember 2004 sebesar Rp3.775.723.787,00 merupakan pengadaan gedung kantor pada tahun 1997 yang digunakan untuk DPP-FSPSI dengan penjelasan sebagai berikut : Lokasi Gedung : Jl. Raya Pasar Minggu, Jaksel Luas Tanah : 940 M2 Sertifikat / HGB : HGB No. 391 Kalibata, 13 Mei 1990 : No. 6565/IMB/1991, 5 Agustus 1991 IMB : Rp6.164.447.000,00 Harga Perolehan (2) Bangunan Ruko Batam Saldo Bangunan Ruko Batam per 31 Desember 2004 sebesar Rp298.916.313,00 merupakan penyerahan Ruko Batam sebagai pembayaran Pinjaman Kopkar pada Kopkarjam Batam sesuai Berita Acara Penyerahan Aset dari Koperasi Karyawan Jamsostek (Kopkarjam) Batam kepada PT Jamsostek No.BA/04/062003, tanggal 05 Juni 2003 dengan penjelasan sebagai berikut: : Komplek Perumahan Puri Malaka, Batam Lokasi Gedung : 102 M2 Luas Tanah Bukti Kepemilikan : SK.OB No : 1192/SKEP/KA-AT/X/1996 IMB : No. KTPS.72/IMB/XI/2002 Luas Bangunan : Lantai I 14 x 4 M & Lantai II 16 x 6 M (3) Bangunan Rumah Baca Batam Saldo Bangunan Rumah Baca yang berada dilokasi Rusun Batam per 31 Desember 2004 sebesar Rp142.500.000,00 merupakan rumah baca yang sumber dananya berasal dari Program Bina Lingkungan.

52

(4) Bangunan Rumah Baca Cikarang Saldo Bangunan Rumah Baca yang berada dilokasi Rusun Cikarang per 31 Desember 2004 sebesar Rp153.776.025,00 merupakan rumah baca yang sumber dananya berasal dari Program Bina Lingkungan. (5) Komputer Saldo komputer per 31 Desember 2004 sebesar Rp140.663.439,50 merupakan pengadaan sarana dan prasarana komputer yang dibeli dari dana DPKP, yang terdiri atas:
No Tahun Unit Perolehan Harga Perolehan Akumulasi Penyusutan Nilai Buku

1 2 3 4 5 6 7

1999 2000 2001 2003 2003 2003 2004 Jumlah

3 2 1 8 6 1

45.000.000,00 19.820.000,00 15.095.000,00 74.800.000,00 55.770.000,00 83.325.000,00 5.750.000,00 299.560.000,00

44.999.999,00 19.819.999,00 12.893.645,83 21.816.666,67 16.266.250,00 41.662.500,00 1.437.500,00 158.896.560,50

1,00 1,00 2.201.354,17 52.983.333,33 39.503.750,00 41.662.500,00 4.312.500,00 140.663.439,50

(6) Peralatan Lain Saldo peralatan lain per 31 Desember 2004 sebesar Rp59.437.275,00 merupakan pengadaan Furniture untuk Rumah Baca pada Rusun Batam dan Cikarang, yang sumber dananya berasal dari Program Bina Lingkungan dengan penjelasan sebagai berikut : (a) Peralatan lain (Furniture) Rumah Baca Batam
Tahun Perolehan 2004 Nilai Perolehan Akumulasi Penyusutan 13.693.750,00 Nilai Buku

41.081.250,00 54.775.000,00 (b) Peralatan lain (Furniture) Rumah Baca Cikarang Tahun Nilai Perolehan Akumulasi Nilai Buku Perolehan 2.004,00 24.474.700,00 6.118.675,00 18.356.025,00 31 Desember 2004 (Rp) 573.197.225,38 31 Desember 2003 (Rp) 6.421.427.140,88

n) Aktiva Lain-lain Jumlah tersebut merupakan saldo Pos Sementara Dalam Penyelesaian per 31 Desember 2004 dan 2003 yang sampai dengan 31 Desember 2004 dan 2003 belum diselesaikan, dengan rincian sebagai berikut:

53

PSDP Rusun Dalam Pengerjaan 5.989.916.500,00 Jumlah 573.197.225,38 6.421.427.140,88 Penurunan saldo Rusun dalam pengerjaan tahun 2004 sebesar Rp5.989.916.500,00 dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Pengalihan hak atas Rusun Makassar kepada Pemda Sulawesi Selatan sebesar Rp5.904.916.500,00 sesuai Surat Menteri BUMN No.S464/MBU/2004 tanggal 8 September 2004 tentang Pengesahan Pertangungjawaban dan Pengelolaan Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta (DPKP) Tahun Buku 2001, 2002 & 2003, dan dicatat sebagai bantuan renovasi balai latihan kerja. (2) Biaya studi kelayakan untuk Rusun Rancaekek dan Gedebage sebesar Rp85.000.000,00 dicatat sebagai biaya survei, karena Dewan Komisaris PT Jamsostek tidak menyetujui sistem BOT dalam pengelolaan Rusun tersebut. 31 Desember 2004 31 Desember 2003 (Rp) (Rp) 159.544.745,93 110.329.989,93 o) Hutang Pajak Jumlah kewajiban (hutang pajak) yang belum terselesaikan per 31 Desember 2004 sebesar Rp110.329.989,93 dengan rincian sebagai berikut:
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 UNIT KERJA KANTOR PUSAT KANWIL II KACAB LAMPUNG KACAB PALEMBANG KACAB TANJUNG PINANG KACAB BENGKULU KACAB BATAM KANWIL III KACAB SALEMBA 2.693.182,00 1.985.318,00 5.865.749,00 1.125.000,00 36.327.350,00 JENIS HUTANG PAJAK PPh Pasal 21 895.000,00 24.800,00 3.820.949,00 PPh Pasal 23 PPN JUMLAH (Rp) 27.429.683,93 1.524.800,00 5.244.412,00 958.050,00 2.717.818,00 9.065.361,00 958.050,00 3.804.945,00 25.416.300,00 1.125.000,00 36.327.350,00 2.693.182,00 1.985.318,00

31 Desember 2004 (Rp) 573.197.225,38

31 Desember 2003 (Rp) 431.510.640,88

8.138.408,45 18.396.275,48 1.087.127,00 25.416.300,00 1.500.000,00

10 KANWIL IV 11 KACAB SAMARINDA TOTAL

39.320.335,45 65.143.905,48 110.329.989,93

54

31 Desember 2004 31 Desember 2003 (Rp) (Rp) 1.086.615.812,29 3.885.207.942,00 p) Beban Yang Masih Harus Dibayar Jumlah tersebut merupakan Beban Yang Masih Harus Dibayar per 31 Desember 2004 sebesar Rp1.086.615.812,29 dengan rincian sebagai berikut:
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 11 12 13 KETERANGAN BYMH atas gaji Out Sorching Biro DPKP & PKBL bulan Desember 2004 BYMH atas realisasi biaya 18 (delapan belas) unit Ambulance SPK/44/042004 BYMH atas realisasi biaya 11 (sebelas) unit Ambulace SPK/89/062004 BYMH atas beban air minum & retribusi lingkungan Rusun Cikarang bln Nov 2004 BYMH atas realisasi biaya 1 (satu) unit Ambulance gigi SPK/113/072004 BYMH atas realisasi biaya 1 (satu) unit Ambulance SPK/133/082004 BYMH atas realisasi biaya 9 (sembilan) unit Ambulance SPK/134/082004 BYMH atas beban air minum & retribusi lingkungan Rusun Cikarang bln Des 2004 BYMH atas pengelolaan Rusunwa Cikarang (pembayaran ke-7) PER/66/062004 BYMH atas tagihan listrik Rusunwa Cikarang BYMH atas Manajemen Konstruksi PT Indah Karya BYMH atas honor Tim Trauma Center BYMH atas renovasi IRNA RS M. Djamil Padang BYMH atas sisa tagihan pengelolaan Rusun Batam BYMH atas pekerjaan renovasi BLK Kab. Banggai Jumlah JUMLAH ( Rp ) 3.283.571,50 262.801.200,00 149.929.450,00 8.111.100,00 379.050.000,00 15.114.450,00 172.436.240,00 8.098.000,00 33.537.750,00 9.017.800,00 4.207.335,00 2.500.000,00 14.346.300,00 22.295.000,00 1.887.615,79 1.086.615.812,29

31 Desember 2004 31 Desember 2003 (Rp) (Rp) Pos sementara dalam penyelesaian q) 109.619.810,00 20.026.436,13 Pos Sementara Dalam Penyelesaian merupakan pos penampung sementara yang bersifat hutang sampai dengan 31 Desember 2004 yang belum diselesaikan sebesar Rp109.619.810,00 dengan rincian sebagai berikut :
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 KANTOR KANWIL I KC BATAM KC BOGOR KC TASIKMALAYA KC CIREBON KC SERANG KC PURWAKARTA KC UNGARAN KC SEMARANG KC SURAKARTA KC YOGYAKARTA KC NTT KC BALI KANWIL VII KC BALIKPAPAN KC KALSEL KC SORONG KC TERNATE KC SULUT KC MAKASSAR KANWIL III TOTAL JUMLAH ( Rp ) 9.473.369,00 145.000,00 17.500,00 464.000,00 10.300,00 47.500,00 2.372.124,00 2.400.000,00 850.000,00 726.000,00 1.000.000,00 204.104,00 2.000.000,00 630.913,00 849.000,00 65.000.000,00 1.275.000,00 25.000,00 900.000,00 2.750.000,00 18.480.000,00 109.619.810,00

55

31 Desember 2004 (Rp)

31 Desember 2003 (Rp)

14.050.338.944,71 8.833.326.249,67 r) Selisih Rekonsiliasi Bank Jumlah rekonsiliasi bank per 31 Desember 2004 sebesar Rp14.050.338.944,71 merupakan saldo pinjaman yang belum dapat diidentifikasikan nama debiturnya. 31 Desember 2004 (Rp) 31 Desember 2003 (Rp)

7.934.148,83 976.528,00 s) Hutang Lain-lain Jumlah hutang lain-lain per 31 Desember 2004 sebesar Rp 7,934,148.83 tersebut terinci sebagai berikut :
Hutang PT Sangu Hutang BNI ’46 976.528,00 6.957.620,83 7.934.148,83 31 Desember 2004 (Rp) 492.178.737.297,88 31 Desember 2003 (Rp) 503.396.744.569,89

t) Aktiva Bersih Jumlah aktiva bersih tersebut merupakan saldo aktiva bersih per 31 Desember 2004 dan 2003 yang terdiri dari :
Aktiva bersih tidak terikat Koreksi kenaikan (penurunan) aktiva Perubahan aktiva bersih 31 Desember 2004 (Rp) 503.396.744.569,89 (14.917.662.633,96) 3.699.655.361,95 492.178.737.297,88 31 Desember 2003 (Rp) 325.645.744.672,87 677.854.465,36 177.073.145.431,66 503.396.744.569,89

Pada tahun 2004 terdapat koreksi saldo aktiva bersih tidak terikat tahun lalu sebesar Rp14.917.662.633,96 dengan rincian sbb :
No KETERANGAN 1 Beban Penyisihan Pinjaman Tahun 2003 2 Beban Penyisihan Bunga Pinjaman Tahun 2003 3 Beban Amortisasi Biaya Pra-operasi Rusun Batam Tahun 2001-2003 4 Beban Amortisasi Biaya Pra-operasi Rusun Cikarang Tahun 2003 5 Beban Penyusutan Bangunan & Peralatan Rusun Batam Tahun 2001-2003 6 Beban Penyusutan Bangunan & Peralatan Rusun Cikarang Tahun 2003 7 Piutang Pinjaman Tahun 2000 8 Kelebihan Catat Bunga Deposito Tahun 2003 9 Biaya Pra-operasi (Biaya Survey) Rusun Bandung Tahun 2003 yang tidak jadi dibangun JUMLAH (Rp) 7.271.918.018,55 908.254.289,23 179.590.180,00 4.104.512,00 5.918.612.560,00 637.965.563,00 140.075.127,00 116.938.082,19 85.000.000,00 16.784.514,00 41.117.930,00 (396.869.200,00) (5.828.942,01) 14.917.662.633,96

10 Beban Pajak Tahun 2003 yang belum dibukukan 11 BYMH Dibayar Rusun Cikarang Tahun 2003 12 Beban pembangunan Rumah Baca, Komputer dan peralatan lain pada Rusun Cikarang & Batam 13 Lainnya JUMLAH

56

Penjelasan lebih lanjut perubahan kenaikan (penurunan) Aktiva Bersih sebagaimana penjelasan dari laporan aktivitas. 2) Penjelasan Laporan Aktivitas Tahun 2004 dan 2003 Aktiva Bersih per 31 Desember 2004. sebesar Rp492.178.737.297,89 diperoleh dari perubahan kenaikan (penurunan) tahun 2004 dan Aktiva Bersih awal tahun yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
31 Desember 2004 (Rp) a) Penambahan Aktiva Bersih dari : (1) Pencairan bagian laba tahun lalu (2) Hasil pengembangan Penambahan Aktiva Bersih b) Pengurangan Aktiva Bersih : (1) Program tidak bergulir (2) Biaya Pengelolaan Pengurangan Aktiva Bersih Penambahan Riil Aktiva Bersih c) Aktiva Bersih awal tahun d) Koreksi Saldo Awal Aktiva Bersih akhir tahun 26.807.453.931,51 23.651.373.074,18 50.458.827.005,69 33.277.368.995,47 13.481.802.648,27 46.759.171.643,74 3.699.655.361,95 503.396.744.569,89 (14.917.662.633,96) 492.178.737.297,88 31 Desember 2004 (Rp) 50.458.827.005,69 31 Desember 2003 (Rp) 164.203.391.000,00 27.171.084.422,63 191.374.475.422,63 13.522.461.379,13 778.868.611,84 14.301.329.990,97 177.073.145.431,66 325.645.744.672,87 677.854.465,36 503.396.744.569,89 31 Desember 2003 (Rp) 191.374.475.422,63

a) Penambahan Aktiva Bersih Penambahan Aktiva Bersih tahun 2004 dan 2003 tersebut antara lain dari hasil pengembangan berupa bunga pinjaman dan bunga penanaman dana dalam bentuk deposito dan giro masing-masing sebesar Rp23.651.373.074,18 dan Rp27.171.084.422,63, dengan rincian sebagai berikut:
31 Desember 2004 (Rp) 31 Desember 2003 (Rp) 5.090.281.419,95 804.610.252,15 14.554.091,03 48.624.082,87 5.958.069.846,00 19.012.239.189,99 1.247.265.973,64 20.259.505.163,63

(1) Pendapatan Bunga Pinjaman
PUMP Kopkar DTMK Provider Pelkes 4.510.507.767,82 497.112.195,24 32.625.156,06 5.040.245.119,11 16.632.208.442,57 843.610.652,82 17.475.819.095,39

(2) Pendapatan Bunga Deposito dan Jasa Giro
Bunga Deposito ( net ) Jasa Giro ( net ) Jumlah

57

(3) Pendapatan Investasi Rusun Rusun Batam Kamar Rusun Cikarang Kantin Rusun Cikarang Mini Market (4) Pendapatan lain-lain

710.629.839,00 421.791.000,00 2.624.000,00 1.135.044.839,00 264.020,68 23.651.373.074,18 31 Desember 2004 (Rp)

726.462.263,00 221.015.500,00 2.461.650,00 3.570.000,00 953.509.413,00 0,00 27.171.084.422,63 31 Desember 2003 (Rp)

46.759.171.643,74 14.301.329.990,97 b) Pengurangan Aktiva Bersih Pengurangan Aktiva Bersih tahun 2004 dan 2003 tersebut adalah penggunaan dana untuk program tidak bergulir dan biaya pengelolaan dengan rincian sebagai berikut:

31 Desember 2004 (Rp)

31 Desember 2003 (Rp)

(1) Penggunaan dana untuk Program Tidak Bergulir, adalah untuk program sebagai berikut:
Bantuan Renovasi Fasilitas Pelkes Bantuan Mobil Ambulance Bantuan Peralatan Medis & NonMedis Bantuan Kesehatan Cuma-Cuma Bantuan Beasiswa Bantuan Pelatihan Tenaga Kerja Bantuan Renovasi BLK Bantuan PHK Bantuan Asosiasi Serikat Pekerja Beban Operasional Program Bantuan Kemitraan 1.812.529.296,18 14.577.822.800,00 2.898.342.235,00 1.124.067.993,00 3.725.790.000,00 185.801.000,00 5.928.551.265,79 869.750.000,00 2.147.514.405,50 7.200.000,00 33.277.368.995,47 2.341.967.675,00 4.517.475.000,00 110.795.998,60 668.656.781,00 3.345.522.000,00 296.356.163,00 157.853.500,00 538.650.000,00 357.105.246,00 1.188.079.015,53 13.522.461.379,13

(2) Biaya pengelolaan adalah pengelolaan investasi rusun, penyusutan aktiva, penyisihan piutang, dan beban lain-lain dengan rincian sebagai berikut :
Beban Pengelolaan Investasi Rumah Beban Penyusutan Aktiva Tetap Beban Penyisihan Pokok Pinjaman Beban Penyisihan Bunga Pinjaman Beban Pemeliharaan Gedung Beban lain-lain 1.132.038.158,80 3.802.391.753,33 7.467.773.597,09 692.428.439,05 374.237.700,00 12.933.000,00 13.481.802.648,27 426.177.907,67 352.690.704,17 778.868.611,84

58

(a) Jumlah penggunaan dana untuk Investasi Rusun Sewa Jababeka

Cikarang sejak per 31 Desember Rp1.132.038.158,80 yang terdiri dari:
Beban Pengelolaan Fee Pengelolaan Beban Listrik Beban Air Beban PBB Beban Asuransi Jumlah Rp

2004

berjumlah

Rp (b) Jumlah beban penyusutan tahun 2004 sebesar Rp3.802.804.671,00

831.161.885,00 13.773.100,00 148.592.355,00 97.908.300,00 26.135.950,00 14.466.568,80 1.132.038.158,80

terdiri dari:
Beban Penyusutan Bangunan Pasar Minggu Beban Penyusutan Bangunan Rumah Baca Batam Beban Penyusutan Bangunan Rumah Baca Cikarang Beban Penyusutan Peralatan Kantor Beban Penyusutan Peralatan Lain Beban Penyusutan Investasi Rusun Batam Beban Penyusutan Investasi Rusun Cikarang Beban Amortisasi Biaya Pra-Operasi Batam Beban Amortisasi Biaya Pra-Operasi Cikarang Jumlah 324.453.100,00 7.500.000,00 8.093.475,00 63.640.000,00 19.812.425,00 2.449.081.059,00 850.620.751,00 74.131.178,00 5.472.683,00 3.802.804.671,00

(c) Jumlah beban penyisihan pinjaman pokok tahun 2004 sebesar

Rp7.467.773.597,09. (d) Jumlah beban penyisihan bunga pinjaman tahun 2004 sebesar Rp692.428.439,05. (e) Beban pemeliharaan gedung adalah untuk pemeliharaan gedung Pasar Minggu yang sampai dengan 31 Desember 2004 berjumlah Rp374.237.700.00. 3) Pada tahun 2004, selisih rekonsiliasi bank yang pada tahun sebelumnya dicatat pada akun PSDP, dipisahkan menjadi akun tersendiri dan disajikan terpisah.

59

d. Laporan Sumber & Penggunaan Dana Konsolidasi Tahun 2004 & 2003.
No URAIAN I SUMBER DANA Sisa Tahun Lalu Penyisihan Laba : - Penyisihan Laba Tahun 2001 - Penyisihan Laba Tahun 2002 - Penyisihan Laba Tahun 2003 Hasil Pengembangan : - Bunga Deposito (Net) - Jasa Giro (Net) Investasi Jangka Panjang : - Hasil Rumah Susun Sewa - Hasil Fasilitas Pelkes Pinjaman Perumahan Pekerja : - Pokok Pinjaman - Bunga Pinjaman Pinjaman Koperasi Karyawan : - Pokok Pinjaman - Bunga Pinjaman Pinjaman DTMK : - Pokok Pinjaman - Administrasi DTMK Provider Jasa Pelkes : - Pokok Pinjaman - Bunga Pinjaman Penerimaan Non-Program JUMLAH SUMBER DANA II PENGGUNAAN DANA : Dana Bergulir : Investasi Jangka Panjang : - Rumah Susun Sewa - Fasilitas Pelkes Pinjaman Dana : - Uang Muka KPR - Koperasi Karyawan - DTMK - Provider Jasa Pelkes Dana Tidak Bergulir : - Renovasi Rumah Sakit - Mobil Ambulance - Peralatan Medis/Non-Medis - Kesehatan Cuma-Cuma - Bea Siswa - Pelatihan TK - Rehab/Renov. BLK Pemda - Bantuan PHK - Bantuan SP & As. Pengusaha - Beban Lain-lain Pengeluaran Non-Program JUMLAH PENGGUNAAN DANA III SISA DANA TAHUN 2004 342.444.169.199,72 26.761.769.000,00 26.761.769.000,00 16.506.129.401,40 843.610.652,82 17.349.740.054,22 1.208.275.000,00 1.208.275.000,00 19.529.198.219,55 3.361.421.756,32 2.613.679.394,54 225.018.095,76 201.931.429,92 24.071.907,63 25.955.320.803,72 18.907.238.281,98 432.626.512.339,64 TAHUN 2003 148.186.514.556,01 46.992.228.500,00 164.203.391.000,00 211.195.619.500,00 18.473.998.037,02 1.250.750.975,74 19.724.749.012,76 838.412.219,00 838.412.219,00 13.365.357.337,38 2.629.580.470,01 2.518.314.114,06 398.395.936,54 62.400.000,00 759.091,00 170.473.884,14 28.209.590,95 19.173.490.424,08 11.842.117.425,82 410.960.903.137,67

363.733.600,00 363.733.600,00 41.382.226.350,00 1.440.000.000,00 42.822.226.350,00 1.773.599.622,18 13.598.491.460,00 2.898.342.235,00 1.117.567.993,00 3.684.690.000,00 182.120.000,00 21.747.150,00 869.750.000,00 7.200.000,00 2.334.500.458,00 26.488.008.918,18 16.994.218.144,60 86.668.187.012,78 345.958.325.326,86

3.452.269.527,00 3.452.269.527,00 41.359.775.625,00 4.904.950.000,00 489.375.000,00 46.754.100.625,00 1.173.276.875,00 2.534.058.068,00 1.297.779.632,80 686.362.781,00 3.345.522.000,00 296.356.163,00 157.853.500,00 538.650.000,00 357.105.246,00 1.502.074.915,53 11.889.039.181,33 6.421.324.604,62 68.516.733.937,95 342.444.169.199,72

60

9. Hal-hal yang perlu diperhatikan BPK-RI mengarahkan pemeriksaan atas laporan keuangan dan pengelolaan DPKP tahun buku 2004 dengan melakukan penilaian atas keakuratan dan kesesuaian laporan keuangan terhadap Standar Akuntansi Keuangan dan Pedoman Akuntansi DPKP, manajemen penyaluran dana dan penerimaan angsuran, dan ketaatan terhadap ketentuan yang berlaku dan perjanjian kerja sama. Berdasarkan pemeriksaan diketahui bahwa jumlah penyaluran DPKP tahun 2004 sebesar Rp86.668.187.012,78 atau 34,51% dari anggarannya sebesar Rp251.125.000.000,00. Apabila dibandingkan dengan realisasi penyaluran DPKP tahun 2003 sebesar Rp68.516.733.937,95, maka realisasi penyaluran DPKP tahun 2004 sebesar 126,49% dari tahun 2003. Dari hasil pemeriksaan secara uji petik atas laporan keuangan dan penyaluran DPKP tahun 2004, diketahui hal-hal berikut: a. PT Jamsostek tidak memungut serta menyetorkan Pajak Penghasilan (PPh) pasal 23 atas pekerjaan jasa instalasi dan training ambulan Berdasarkan lampiran surat Menteri Keuangan No.S-521/MK.01/2000 tanggal 27 Oktober 2000, perihal Pedoman Umum Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta (DPKP) PT Jamsostek, dan pedoman pengelolan DPKP sesuai SK Direksi No.KEP/33/032002 tanggal 28 Maret 2002 diatur bahwa salah satu penggunaan DPKP tidak bergulir antara lain adalah untuk bidang kesehatan diantaranya berupa bantuan mobil ambulan dengan maksud membantu rumah sakit atau Pusat Pelayanan Kesehatan (PPK) milik Pemerintah atau kawasan industri dalam menyediakan sarana kesehatan terutama bidang mobilisasi pasien dari PPK I ke PPK II atau sebaliknya. Selanjutnya atas mobil ambulan bantuan dari DPKP dibagi atas dua kategori yaitu mobil ambulan untuk Traumatic Center (TC) untuk penanggulangan kecelakaan kerja peserta Jamsostek dan Non TC. Pada tahun 2004 telah diadakan mobil ambulan baik ambulan TC maupun Non TC yang diadakan melalui penunjukan langsung kepada PT Sarandi Karya Nugraha (PT SKN) dengan lima Surat Perintah Kerja (SPK) yang total nilai pekerjaan sebesar Rp14.976.292.800,00 dengan rincian sebagai berikut :

61

BPK-RI/AUDITAMA V

No. 1 2 3 4 5 6

SPK SPK/01/012004 Tgl 9 Januari 04 SPK/44/042004 Tgl 1 April 04 SPK/89/062004 Tgl 15 Juni 04 SPK/113/072004 Tgl 28 Juli 04 SPK/133/082004 Tgl 19 Agust 04 SPK/134/082004 Tgl 19 Agust 04 Jumlah

Nilai 1.457.270.000,00 5.481.117.000,00 3.309.372.000,00 379.050.000,00 900.759.000,00 3.448.724.800,00 14.976.292.800,00

Unit 5 18 11 1 4 9 48

Jenis 4 unit TC 1 unit Non TC TC TC Ambulan gigi 1 unit TC 2 unit biasa 1 jenazah 5 unit TC plus 4 unit Bersalin

Sumber Dana DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP sebesar Rp302.289.000,00 PKBL sebesar Rp598.470.000,00 DPKP

Dari tabel di atas, diketahui dari nilai pekerjaan sebesar Rp14.976.292.800,00, sumber pendanaannya berasal dari DPKP adalah sebesar Rp14.377.822.800,00, dan sebesar Rp598.470.000,00 dibebankan pada dana PKBL. Harga pengadaan ambulan tersebut terdiri dari harga ambulan beserta peralatan medisnya ditambah dengan instalasi, training dan biaya kirim, serta pajak. Dari harga pengadaan ambulan sebesar Rp14.976.292.800,00, termasuk didalamnya sebesar Rp407.190.000,00 (DPKP sebesar Rp377.490.000,00 dan PKBL sebesar Rp29.700.000,00) adalah berupa biaya instalasi, training, dan biaya kirim. Berdasarkan pemeriksaan secara uji petik atas pengadaan mobil ambulan TC dan Non-TC pada tahun 2004, diketahui bahwa PPh pasal 23 atas pekerjaan instalasi dan training tidak dipungut. Berdasarkan keenam SPK pengadaan ambulan tersebut, dengan nilai pekerjaan seluruhnya sebesar Rp14.976.292.800,00 diketahui di dalamnya termasuk biaya instalasi, training, dan (DPKP ongkos sebesar kirim yang jumlah seluruhnya dan PKBL sebesar sebesar Rp407.190.000,00 Rp377.490.000,00

Rp29.700.000,00). Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut atas pemungutan PPh pasal 23 atas jasa instalasi dan training diketahui bahwa Biro DPKP/PKBL tidak melakukan pemungutan atas pajak tersebut minimal sebesar Rp10.965.000,00 (perhitungan lihat lampiran 1). Seharusnya berdasarkan Undang-undang Nomor.17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan pasal 23 menetapkan antara lain bahwa “Atas penghasilan dengan nama

62

BPK-RI/AUDITAMA V

dan bentuk apapun yang dibayarkan atau terutang oleh badan pemerintah, subjek pajak dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada wajib pajak dalam negeri atau badan usaha tetap, dipotong oleh pihak yang wajib membayarkan atas imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong pajak penghasilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21”. Hal ini mengakibatkan kehilangan penerimaan negara dari PPh pasal 23 minimal sebesar Rp10.965.000,00 yang tidak dipungut dan disetorkan. Keadaan ini terjadi karena Biro DPKP/PKBL belum sepenuhnya memahami dan melaksanakan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa dapat memahami hasil temuan BPKRI dan akan ditindaklanjuti yaitu, terhadap PPh pasal 23 terhutang tersebut akan diperhitungkan dengan tagihan pada termijn/pelunasan berikutnya sesuai kesepakatan dengan PT SKN masing-masing SPK. Selanjutnya masa yang akan datang masalah pajak akan menjadi perhatian Biro DPKP/PKBL. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Jamsostek supaya memperhitungkan PPh pasal 23 yang terhutang tersebut dengan tagihan pada termin/pelunasan berikutnya. Menginstruksikan kepada Biro DPKP/PKBL agar memahami dan melaksanakan dengan sungguh-sungguh ketentuan-ketentuan yang berlaku di lingkup kegiatan organisasinya. b. Penggunaan Gedung Kantor Pasar Minggu milik Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek oleh pihak III dan pembebanan biaya pemeliharaannya belum sesuai dengan ketentuan yang berlaku Berdasarkan laporan keuangan DPKP per 31 Desember 2004 diketahui terdapat Gedung Kantor Pasar Minggu yang digunakan oleh pihak III yaitu Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (DPP-KSPSI).

63

BPK-RI/AUDITAMA V

Dari hasil pemeriksaan lebih lanjut antara lain diketahui sebagai berikut :
1) Tidak ada perjanjian penggunaan Gedung Kantor Pasar Minggu

Berdasarkan penjelasan dari Pjs. Kepala Biro DPKP/PKBL, Gedung Kantor Pasar Minggu telah digunakan oleh DPP-KSPSI sejak tahun 1997. Atas penggunaan gedung tersebut tidak dibuat perjanjian, sehingga pemberian ijin penggunaan gedung tersebut tidak mempunyai dasar hukum. Seharusnya penggunaan gedung milik Biro DPKP/PKBL oleh pihak lain dilengkapi dokumen perjanjian untuk menghindari terjadinya perselisihan antar pihak dikemudian hari.
2) Terdapat biaya pemeliharaan pengelolan Gedung Kantor Pasar Minggu sebesar

Rp374.237.700,00 dibebankan kepada Biro DPKP/PKBL. a) Setiap bulan Biro DPKP/PKBL memberikan bantuan biaya pemeliharaan kepada DPP-KSPSI yang pada bulan berikutnya dipertanggungjawabkan dengan mengirimkan laporan keuangan rutin yang ditandatangani oleh Sekjen DPP-KSPSI (yang juga menjabat sebagai Komisaris PT Jamsostek) dan Wakil Bendahara. Pada tahun 2004 jumlah biaya pemeliharaan tersebut sebesar Rp374.237.700,00 dan belum mendapat persetujuan RUPS atau Menteri Keuangan. Hal tersebut tidak sesuai dengan lampiran Surat Menteri Keuangan No.S.521/MK.01/2000 tanggal 27 Oktober 2000, pada pasal 6, yang mengatur bahwa penggunaan DPKP tidak bergulir dialokasikan untuk menunjang kegiatan bidang kesehatan dan pendidikan, serta bantuan keuangan bagi tenaga kerja peserta Jamsostek yang terkena PHK. Penggunaan untuk bidang lainnya hanya dapat dilaksanakan setelah terlebih dahulu mendapatkan persetujuan RUPS atau Menteri Keuangan. Hubungan antara PT Jamsostek dhi. Biro DPKP/PKBL dan DPP-KSPSI dapat menimbulkan benturan kepentingan secara langsung (sebagai Sekjen DPPKSPSI dan Komisaris PT Jamsostek) berkaitan dengan pertanggungjawaban biaya pemeliharaan Gedung Kantor Pasar Minggu mengingat Sekjen DPP-

64

BPK-RI/AUDITAMA V

KSPSI juga menjabat sebagai Komisaris PT Jamsostek dapat menimbulkan benturan kepentingan secara langsung atau tidak langsung. Selain itu juga tidak sesuai dengan Perubahan Anggaran Dasar PT Jamsostek yang dituangkan dalam Akta Notaris Imas Fatimah No.45 tanggal 28 Mei 2002, pasal 15 ayat 17.b, yang mengatur bahwa para Komisaris tidak boleh merangkap jabatan lainnya yang dapat menimbulkan benturan kepentingan secara langsung atau tidak langsung dengan Perseroan yang diawasinya dan/atau yang bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. b) Terdapat pembayaran langganan telepon (dua nomor telepon), listrik dan Pajak Bumi & Bangunan untuk kepentingan DPP-KSPSI untuk tahun 2004 sebesar Rp160.274.643,00 dengan rincian sebagai berikut: - Langganan telepon (dua nomor pesawat) - Langganan listrik - Pajak Bumi & Bangunan Jumlah : Rp 19.971.643,00 : Rp126.436.760,00 : Rp 13.866.240,00 : Rp160.274.643,00

Dari bukti pembayaran telepon, listrik dan Pajak Bumi & Bangunan, diketahui masih atas nama PT Gelora Mitra Tiga (pemilik lama) dan belum diubah atas nama PT Jamsostek, sedangkan sertifikat tanahnya sudah dibalik nama. Seharusnya kepemilikan telepon, dan pembebanan biaya listrik serta Pajak Bumi & Bangunan atas nama PT Jamsostek. c) Dari hasil uji petik atas voucher pengeluaran biaya pengelolan gedung, diketahui nominalnya berbeda dengan bukti pendukungnya, yaitu sebagai berikut:
Bulan Jan & Febr Mar & Apr Sep & Okt Tgl 26/3/2004 17/5/2004 21/12/2004 Voucher Nomor RB101-39506 RB101-39507 RB101-39002 Jum lah 33.662.200 52.710.000 64.206.791 Bukti Pendukung 34.561.888 52.619.979 64.666.791 Selisih Lebih (Kurang) (899.688) 90.021 (460.000)

Seharusnya semua voucher pengeluaran biaya pemeliharaan gedung didukung dengan bukti-bukti pendukung yang lengkap dan akurat.

65

BPK-RI/AUDITAMA V

Kondisi tersebut di atas mengakibatkan :
1) Peminjaman dan bantuan biaya pengelolaan Gedung Kantor Pasar Minggu kepada

DPP-KSPSI tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2) Sarana telepon, listrik dan Pajak Bumi Bangunan belum didukung bukti

kepemilikan sebagai milik PT Jamsostek.
3) Pengeluaran untuk pengelolaan gedung tidak dapat diyakini kewajarannya.

Hal tersebut terjadi karena Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek dalam mengelola Gedung Kantor Pasar Minggu tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku dan kurang melindungi kepentingan PT Jamsostek. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa dapat memahami hasil temuan BPKRI dan akan ditindaklanjuti sebagai berikut : 1) Penggunaan Gedung Kantor Pasar Minggu oleh DPP KFSPSI akan segera ditindaklanjuti dengan perjanjian penggunaan gedung. 2) PT Jamsostek akan mengatur lebih tegas dan jelas mengenai pengeluaran yang terkait dengan serikat-serikat pekerja, dengan mempertimbangkan kontribusi masing-masing serikat pekerja terhadap kepesertaan tenaga kerja dalam program Jamsostek. 3) Pembayaran langganan telepon, listrik dan PBB memang masih atas nama pemilik lama (PT Gelora Mitra Tiga) dan saat ini sedang dalam proses Balik Nama ke PT Jamsostek oleh Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan Jakarta Selatan,Telkom dan PLN. 4) Perbedaan antara voucher dengan bukti pendukung yang disebabkan karena kekeliruan perhitungan pada saat pertanggungjawaban, akan diselesaikan. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Jamsostek supaya: 1) Membuat perjanjian penggunaan gedung dengan DPP KFSPSI dengan memuat hak dan kewajiban masing-masing pihak secara jelas. 2) Menyelesaikan proses balik nama atas semua dokumen yang seharusnya milik PT Jamsostek.

66

BPK-RI/AUDITAMA V

3) Menyelesaikan perbedaan voucher dan bukti pendukungnya. c. Prosedur penempatan deposito pada Bank Global, Bank Dagang Bali (BDB), dan Bank Asiatic dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan sehingga Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan sebesar Rp3.031,80 juta Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta (DPKP) adalah dana yang dihimpun dari penyisihan laba PT Jamsostek atau sumber lainnya, dan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja peserta program Jamsostek dan atau keluarganya yang dikategorikan kurang mampu menurut ketentuan yang berlaku, dan membantu usaha kecil yang mempunyai keterkaitan dengan PT Jamsostek yang bersifat padat karya, serta pihak-pihak lainnya yang terkait dengan keberadaan PT Jamsostek maupun penyelenggaraan program Jamsostek. Sisa alokasi dana yang tidak digunakan oleh Biro DPKP/PKBL ditanamkan dalam bentuk deposito baik pada bank Pemerintah maupun bank swasta. Berdasarkan konfirmasi kepada Biro DPKP/PKBL, diketahui bahwa penempatan deposito pada bank-bank tersebut tidak dilakukan melalui analisa dan alternatif perbandingan dengan bank lain, namun hanya berdasarkan konfirmasi lisan dari Direktorat Investasi, karena Biro DPKP/PKBL tidak mempunyai pedoman analisa investasi dan tidak mempunyai analis investasi. Berdasarkan pemeriksaan atas laporan keuangan (unaudited) DPKP PT Jamsostek tahun 2004 diketahui bahwa portofolio deposito per 31 Desember 2004 adalah sebesar Rp328.800.000.000,00. Sedangkan pendapatan bunga deposito bersih untuk tahun 2004 adalah sebesar Rp16.138.030.533,44. Dari portofolio deposito, diantaranya sebesar Rp83.000.000.000,00 merupakan deposito pada bank yang telah dibekukan operasinya oleh Bank Indonesia, dengan rincian sebagai berikut.
1) Deposito Bank Global sebesar Rp30.000.000.000,00

Pada tanggal 2 Agustus 2004 PT Bank Global International, Tbk (PT BGIN) menawarkan kepada Direksi PT Jamsostek untuk melaksanakan penambahan dana

67

BPK-RI/AUDITAMA V

deposito baru dengan bunga sebesar bunga penjaminan BI. Atas penawaran tersebut melalui surat No.R/1104/082004 tanggal 4 Agustus 2004 atas nama Direksi PT Jamsostek, Direktur Utama dan Kepala Biro DPKP/PKBL menyetujui penempatan deposito berjangka atas nama DPKP sebesar Rp30.000.000.000,00 dengan jangka waktu tiga bulan yaitu sejak 4 Agustus s.d. 4 Nopember 2004 dengan tingkat bunga 7,30%. Kemudian melalui surat No.R/1105/082004 tanggal 4 Agustus 2004 Direktur Utama dan Kepala Biro DPKP/PKBL memerintahkan Bank Mandiri Cabang Gedung Jamsostek Jakarta untuk membayarkan atas beban rekening giro No.070-0098666535 sebesar Rp30.000.000.000,00 untuk penempatan deposito pada PT BGIN. Berkaitan dengan deposito tersebut, Biro DPKP/PKBL menjelaskan bahwa penempatannya tidak didasarkan analisa yang memadai karena Biro DPKP/PKBL tidak mempunyai pedoman investasi dan tidak mempunyai analis investasi, sehingga hanya berdasarkan konfirmasi lisan dari Direktorat Investasi PT Jamsostek, dan surat keterangan bahwa PT BGIN ikut serta dalam program penjaminan Pemerintah sampai dengan 31 Januari 2005. Selanjutnya, sebelum jatuh tempo deposito pada tanggal 4 Nopember 2004, Biro DPKP/PKBL bermaksud untuk mencairkan deposito yang akan jatuh tempo tanggal 4 Nopember 2004, akan tetapi tidak disetujui oleh Direktur Utama PT Jamsostek dan diperintahkan secara lisan untuk memperpanjang deposito tersebut (surat pencairan belum diberi nomor dan tanggal). Kemudian melalui surat No.R/1869/11204 tanggal 4 Nopember 2004 yang ditandatangani Direktur Utama dan Kepala Biro DPKP/PKBL penempatan deposito tersebut diperpanjang untuk tiga bulan sampai tanggal 4 Pebruari 2005. Pada tanggal 13 Januari 2005 melalui Surat Keputusan Gubernur BI No.7/2/KEP.GBI/2005 tanggal 13 Januari 2005, ijin usaha Bank Global dicabut dan sesuai program penjaminan Pemerintah kewajiban bank dijamin oleh Pemerintah. Bunga deposito termasuk dalam program penjaminan, sehingga akan dibayarkan dan dihitung sampai dengan tanggal bank dicabut ijinnya yaitu tanggal 13 Januari 2005.

68

BPK-RI/AUDITAMA V

Deposito beserta bunganya telah dicairkan pada tanggal 14 Maret 2005. Dengan demikian, dari tanggal 13 Januari s.d. 14 Maret 2005, DPKP PT Jamsostek kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hasil investasi atas dana tersebut. Dengan menggunakan asumsi tingkat bunga deposito penjaminan BI untuk jangka waktu satu bulan, DPKP PT Jamsostek kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendapatan minimal sebesar Rp362.500.000,00 (perhitungan lihat lampiran 2). Deposito Bank Asiatic sebesar Rp35.000.000.000,00 Penempatan deposito pada Bank Asiatic dilakukan pada tahun 2003 dengan rincian sebagai berikut:
No. 1. 2. 3. 4. No. Bilyet 008115 008431 008451 008496 008832 Nominal (Rp) 5.000.000.000 5.000.000.000 10.000.000.000 10.000.000.000 10.000.000.000 Jangka waktu 3 bulan 12 bulan 6 bulan 6 bulan 6 bulan 3 bulan 6 bulan 3 bulan Masa deposito 28/4/03 s.d. 28/7/03 28/7/03 s.d. 28/7/04 31/7/03 s.d. 31/1/04 31/1/04 s.d. 31/7/04 15/8/03 s.d. 15/2/04 15/2/04 s.d. 15/3/04 26/9/03 s.d. 26/3/04 26/3/04 s.d. 26/6/04 Rate 13,59% 11,39% 11,39% 6,51% 10,02% 6,16% 9% 6,14% Keterangan Penempatan I Perpanjangan Penempatan I Perpanjangan Penempatan I Perpanjangan Penempatan I Perpanjangan

Berkaitan dengan deposito tersebut, Biro DPKP/PKBL menjelaskan bahwa penempatannya tidak didasarkan pada analisa penempatan. Selain itu, diketahui bahwa Direktorat Investasi PT Jamsostek tidak melakukan penempatan deposito pada Bank Asiatic. Hal ini menunjukkan bahwa penempatan deposito tidak pula berdasarkan konfirmasi dari Direktorat Investasi. Gubernur BI melalui SK No.6/6/KEP-GBI/2004 tanggal 8 April 2004 mencabut ijin usaha Bank Asiatic. Sesuai dengan program penjaminan Pemerintah, bunga atas deposito termasuk dalam program penjaminan dan dihitung s.d. tanggal pencabutan ijin usaha bank. Deposito beserta bunganya telah dapat dicairkan tanggal 4 Maret 2005. Dengan demikian, dari tanggal 8 April 2004 s.d. 4 Maret 2005, DPKP PT Jamsostek kehilangan kesempatan untuk memperoleh hasil investasi atas dana tersebut. Menggunakan asumsi tingkat bunga deposito penjaminan BI untuk jangka waktu

69

BPK-RI/AUDITAMA V

satu bulan, DPKP PT Jamsostek kehilangan kesempatan untuk memperoleh hasil investasi minimal sebesar Rp2.301.366.666,67 (perhitungan lihat lampiran 2).
2) Deposito BDB sebesar Rp18.000.000.000,00

Penempatan deposito pada BDB tidak didasarkan analisa yang memadai karena Biro DPKP/PKBL tidak mempunyai pedoman investasi dan analis investasi, sehingga hanya berdasarkan konfirmasi lisan dari Direktorat Investasi PT Jamsostek. Gubernur BI melalui SK No.6/7/KEP-GBI/2004 tanggal 8 April 2004 mencabut ijin usaha BDB. Sesuai dengan program penjaminan Pemerintah, bunga atas deposito termasuk dalam program penjaminan pencabutan ijin usaha bank. Deposito beserta bunganya telah dapat dicairkan tanggal 23 Juli 2004. Dengan demikian, dari tanggal 8 April s.d. 23 Juli 2004, DPKP PT Jamsostek kehilangan kesempatan untuk memperoleh hasil investasi atas dana tersebut. Menggunakan asumsi tingkat bunga deposito penjaminan BI untuk jangka waktu satu bulan, DPKP PT Jamsostek kehilangan kesempatan untuk memperoleh hasil investasi minimal sebesar Rp367.935.000,00. (rincian terlampir) Penempatan dana dalam bentuk deposito seharusnya memperhatikan :
1) SK Menteri Keuangan No.S-521/ML.01/2000 tanggal 27 Oktober 2000 tentang

dan dihitung s.d. tanggal

Pedoman Umum DPKP dalam pasal 4 ayat (3), yang menetapkan bahwa terhadap sisa alokasi DPKP yang tidak diprogramkan penggunaannya setiap tahun, harus dikelola secara hati-hati dan diusahakan memperoleh hasil yang optimal.
2) SK Direksi No.KEP-166/102002 tanggal 8 Oktober 2002 tentang Pedoman

Akuntansi DPKP, yang mengatur bahwa Kaur Administrasi Keuangan bertugas membuat usulan besarnya dana yang akan diinvestasikan termasuk jangka waktu dan banknya kemudian Kepala Biro DPKP/PKBL melakukan evaluasi atas usulan tersebut.

70

BPK-RI/AUDITAMA V

Kondisi tersebut di atas mengakibatkan DPKP PT Jamsostek kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan bunga deposito sebesar Rp3.031.801.666,67 (Rp362.500.000,00 + Rp2.301.366.666,67 + Rp367.935.000,00). Hal tersebut terjadi karena Biro DPKP/PKBL :
1) Tidak mematuhi SK Menteri Keuangan No.S-521/ML.01/2000 dan SK Direksi

No. KEP-166/102002.
2) Tidak mempunyai kebijakan dan pedoman analisa investasi.

Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa dapat memahami hasil temuan BPKRI dan akan ditindaklanjuti bersama dengan reorganisasi yang sedang dilakukan oleh manajemen PT Jamsostek. Terkait dengan pelaksanaan investasi dana program DPKP, pengelolaan Investasi tersebut akan menjadi satu kesatuan dengan sistem dan prosedur investasi yang dilaksanakan oleh Direktorat Investasi PT Jamsostek. Untuk masa yang akan datang penempatan deposito akan dilaksanakan secara lebih hati-hati dan diprioritaskan pada bank pemerintah. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Jamsostek supaya dalam penempatan dananya dalam bentuk deposito senantiasa berpedoman pada ketentuan dan menyusun kebijakan, sistem dan prosedur investasi DPKP yang terintegrasi dengan kebijakan, sistem dan prosedur investasi yang dilakukan oleh Direktorat Investasi PT Jamsostek. d. Penggunaan penasehat hukum untuk pencairan deposito Bank Asiatic belum memiliki dasar yang memadai Dalam laporan keuangan unaudited DPKP PT Jamsostek tahun 2004 diketahui bahwa portofolio deposito per 31 Desember 2004 adalah sebesar Rp328.800.000.000,00, dari jumlah tersebut diantaranya terdapat deposito Bank Asiatic sebesar Rp35.000.000.000,00 yang ijin operasinya telah dibekukan oleh Bank Indonesia pada tanggal 8 April 2004 sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur BI No.6/6/KEP-GBI/2004, dan sesuai dengan program penjaminan Pemerintah kewajiban bank dijamin oleh Pemerintah. Untuk percepatan penyelesaian pencairan deposito

71

BPK-RI/AUDITAMA V

tersebut, PT Jamsostek menunjuk Kantor Pengacara C.A.W & Partners sebagai penasehat hukum. Berdasarkan pemeriksaan atas dokumen proses pencairan deposito tersebut diketahui bahwa : 1) Biro DPKP/PKBL tidak memberikan informasi yang memadai kepada Direktur Utama untuk pengambilan keputusan penunjukan penasehat hukum. Pjs. Kepala Biro DPKP/PKBL melalui Memo Nomor.M/405/BDP/122004 tanggal 9 Desember 2004 kepada Direktur Utama tentang penyelesaian deposito Bank Asiatic, antara lain menjelaskan bahwa : a) Masalah penempatan deposito Bank Asiatic telah diserahkan oleh Unit Pelaksana Penjaminan Pemerintah (UP3) Departemen Keuangan kepada Mabes Polri untuk proses penyidikan, untuk memberikan rekomendasi layak atau tidaknya untuk dibayar. b) Untuk percepatan penyelesaian, maka diusulkan melalui beberapa opsi, yaitu : (1) Biro DPKP/PKBL yang menyelesaikan, tetapi membutuhkan sumber daya dan waktu, serta kemungkinan membutuhkan dana yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. (2) Pengacara yang memiliki akses yang luas yang menyelesaikan dengan pertimbangan bahwa : (a) Asosiasi Dana Pensiun Indonesia yang terkait dengan deposito Bank Asiatic dan YKK Jamsostek telah menunjuk pengacara. (b) Perkiraan tarif pengacara adalah professional fee Rp100.000.000,00 dan success fee 1,5% s.d. 2% dari penempatan deposito. (c) Nilai fee cukup signifikan, tetapi disisi lain jika deposito ini tidak segera dapat dicairkan, maka akan kehilangan kesempatan memperoleh hasil. Atas dasar memo tersebut, Direktur Utama melalui disposisi No.4479 tanggal 9 Desember 2004 menyetujui pengajuan biaya & perjanjiannya dapat ditandatangani Karo DPKP/PKBL.

72

BPK-RI/AUDITAMA V

Pengumuman Departemen Keuangan c.q. UP3 terkait dengan pencabutan izin usaha PT Bank Asiatic tanggal 10 April 2004, menyatakan antara lain bahwa : a) Kewajiban pembayaran PT Bank Asiatic kepada penyimpan/kreditur dijamin oleh Pemerintah. b) Pembayaran akan dilakukan setelah dilakukan verifikasi oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Selain itu, Peraturan Bank Indonesia No.6/11/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 menyatakan bahwa Bank Indonesia dan Menteri Keuangan mengumumkan bahwa simpanan nasabah baik dalam rupiah maupun valuta asing US Dollar pada Bank Umum dengan tingkat suku bunga lebih tinggi dari suku bunga maksimum yang diumumkan oleh Bank Indonesia untuk masing-masing jangka waktu, tidak disediakan jaminan Pemerintah untuk keseluruhan jumlah nominal dan bunga simpanan tersebut. Berkaitan dengan hal-hal tersebut di atas, Biro DPKP/PKBL melalui Memo No.M/405/BDP/122004 tanggal 9 Desember 2004 tersebut seharusnya memberikan analisa yang memadai mengenai pemenuhan syarat-syarat pencairan deposito tersebut, dengan memberikan informasi antara lain mengenai hal-hal sebagai berikut : a) tingkat suku bunga deposito tersebut tidak melebihi maksimum suku bunga penjaminan pemerintah; b) penempatan deposito tersebut telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku; c) deposito tersebut mendapat penjaminan pemerintah, sehingga pembayarannya hanya menunggu waktu saja. Dengan tidak memberikan informasi tersebut, maka Direktur Utama dapat melakukan kesalahan dalam pengambilan keputusan. 2) Penggunaan jasa penasehat hukum tersebut tidak memiliki dasar yang memadai dan tidak sesuai arahan UP3 sebagai instansi yang mewakili Pemerintah dalam penjaminan, dengan pertimbangan sebagai berikut :

73

BPK-RI/AUDITAMA V

a) UP3 melalui press release tanggal 14 Mei 2004, menghimbau agar para nasabah Bank Asiatic untuk tidak terpancing oleh pihak-pihak yang mengaku dapat mempercepat atau mengurus pembayaran tagihan/klaim. b) UP3 melalui Press release tentang perkembangan penanganan penjaminan menyatakan bahwa terdapat permasalahan indikasi rekening deposito milik deposan Bank Asiatic terkait excess rate yang ditangani oleh Kepolisian Republik Indonesia. Proses tersebut diperlukan untuk mendapatkan kesimpulan ada atau tidak adanya bukti rekening deposito terkait excess rate dan diharapkan proses penanganan tersebut dapat diselesaikan dan deposito yang dinyatakan dijamin dapat segera dibayarkan. c) Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia No.6/6/KEP-GBI/2004 tanggal 8 April 2004 menetapkan bahwa : (1) Kewajiban pembayaran PT Bank Asiatic kepada para nasabah penyimpan/kreditur dijamin oleh Pemerintah. (2) Pembayaran tagihan nasabah penyimpan/kreditur yang berstatus bukan pihak terkait dengan bank dan tidak mempunyai utang/kewajiban pembayaran kepada bank, akan dilakukan dengan prioritas sebagai berikut : (a) Tahap I : bagi nasabah penyimpan yang memiliki tagihan layak bayar berupa tabungan, giro, deposito berjangka, deposit on call, dan atau setoran jaminan nasabah, pembayaran dilakukan segera setelah UP3 menerima hasil verifikasi dari BPKP. (b) Tahap II : bagi nasabah penyimpan/kreditur yang memiliki tagihan layak bayar dalam bentuk sekain tersebut pada huruf a, pembayaran dilakukan setelah verifikasi diselesaikan secara menyeluruh. Berdasarkan pengumuman dari UP3 tersebut, PT Jamsostek seharusnya tidak menggunakan penasehat hukum untuk mempercepat pencairan deposito tersebut, akan tetapi melakukan upaya proaktif untuk memenuhi persyaratan-persyaratan pencairan deposito tersebut.

74

BPK-RI/AUDITAMA V

Dalam rangka mencairkan deposito tersebut, PT Jamsostek seharusnya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1) Pengambilan keputusan seharusnya didukung dengan data dan analisa yang

memadai
2) Press release UP3 tanggal 14 Mei 2004 yang menghimbau agar para nasabah

Bank Asiatic untuk tidak terpancing oleh pihak-pihak yang mengaku dapat mempercepat atau mengurus pembayaran tagihan/klaim.
3) Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia No.6/6/KEP-GBI/2004 tanggal 8 April

2004 menetapkan antara lain bahwa kewajiban pembayaran PT Bank Asiatic kepada para nasabah penyimpan/kreditur dijamin oleh Pemerintah.
4) Direksi dan Komisaris diminta komitmennya untuk menjaga agar kegiatan-

kegiatan yang tidak direncanakan dan berdampak pada pengeluaran biaya dapat dihindari.
5) Direksi dan Komisaris diminta melaksanakan disiplin anggaran dan menghindari

penyaluran dana yang tidak dianggarkan dan tidak diatur dalam pedoman umum DPKP. Keadaan tersebut di atas mengakibatkan pengeluaran biaya yang lebih besar dari program DPKP sebesar Rp726.000.000,00 (Rp82.500.000,00 + Rp643.500.000,00). Hal tersebut disebabkan hal-hal sebagai berikut :
1) PT Jamsostek tidak memperhatikan arahan UP3 untuk tidak terpancing

berhubungan dengan pihak-pihak yang mengaku dapat mempercepat atau mengurus pembayaran tagihan/klaim.
2) Biro DPKP/PKBL tidak melakukan analisa yang lengkap atas penggunaan

penasehat hukum. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa dapat memahami hasil temuan BPKRI, akan tetapi Direksi merasa perlu menggunakan jasa penasehat hukum untuk mengantisipasi dan menyelesaikan proses pencairan deposito tidak berlangsung lama dan dapat dipastikan waktu pencairannya.

75

BPK-RI/AUDITAMA V

Pada prinsipnya permasalahan tersebut terkait dengan belum adanya sistem dan prosedur investasi dana program DPKP, sehingga akan ditindaklanjuti bersama dengan perbaikan sistem dan prosedur investasi Biro DPKP/PKBL sesuai reorganisasi yang sedang dilakukan oleh manajemen PT Jamsostek. Untuk masa yang akan datang penggunaan penasehat hukum, akan dikaji lebih dahulu dengan mengoptimalkan fungsi Biro Hukum PT Jamsostek, sehingga diharapkan bila terjadi permasalahan sejenis dapat diselesaikan dengan lebih cermat. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Jamsostek supaya memberikan teguran kepada Biro DPKP/PKBL karena tidak memberikan kajian yang lengkap atas penggunaan penasehat hukum dan untuk yang akan datang lebih mengoptimalkan fungsi Biro Hukum. e. Pengendalian atas penyaluran dana program DPKP belum sepenuhnya tertib Dalam rangka pengelolaan program DPKP dan PKBL, PT Jamsostek telah memisahkan rekening bank untuk masing-masing program tersebut, yaitu:
1) Rekening Bank DPKP: khusus untuk menampung dan menyalurkan dan program

DPKP Bergulir dan Tidak Bergulir termasuk biaya operasional DPKP.
2) Rekening Bank Kemitraan: khusus untuk menampung dan menyalurkan dana

Program Kemitraan bersifat pinjaman dan hibah serta biaya operasional kegiatan kemitraan
3) Rekening Bina Lingkungan: khusus untuk menampung dan menyalurkan dana

program lingkungan (hanya bersifat hibah) Berdasarkan pemeriksaan atas pengeluaran-pengeluaran dari rekening bank masing-masing program diketahui hal-hal sebagai berikut :
1) Kantor Wilayah/Cabang belum sepenuhnya menggunakan rekening bank secara

terpisah untuk masing-masing program tersebut. Ketidaktertiban tersebut terlihat pada uraian sebagai berikut : a) Penyaluran/penggunaan dana Program Kemitraan didebet dari rekening bank program DPKP atau sebaliknya penyaluran DPKP didebet dari rekening bank Kemitraan.

76

BPK-RI/AUDITAMA V

b) Penyaluran/penggunaan dana program Bina Lingkungan dari rekening bank program DPKP atau Kemitraan c) Penyaluran/penggunaan dana program Bina Lingkungan ditransfer ke rekening Bank DPKP pada kantor cabang atau rekening bank kemitraan. d) Pendebetan dari rekening Operasional PT Jamsostek/Rekening Kantor Wilayah/Cabang untuk penyaluran/penggunaan program DPKP atau Kemitraan atau Bina Lingkungan. e) Saldo dana pada rekening Bank untuk masing-masing program tidak mencukupi dan tidak segera meminta tambahan dropping Kantor Pusat atau Kantor Wilayah. f) Dan lain-lain penggunaan anggaran dengan mendebet dari rekening bank yang tidak sesuai dengan pos mata anggaran masing-masing program.
2) Penggunaan/pengeluaran dana dari rekening bank yang tidak sebagaimana

mestinya tersebut dicatat sebagai Pos Sementara Dalam Penyelesaian (PSDP) masing-masing program. PSDP pada masing-masing program tersebut dicatat pada dua akun, yaitu PSDP aktiva (Piutang pada program lain) dan PSDP pasiva (hutang pada program lain), dan menimbulkan saldo pada PSDP dengan rincian sebagai berikut : 1) PSDP DPKP : - Aktiva - Pasiva 2) PSDP PKBL - Aktiva - Pasiva Jumlah Saldo Per 31 Desember 2004 (Rp) 573.197.225,38 109.619.810,00 10.698.000,00 2.563.650,00 696.078.685,38

3) Dalam rangka penyelesaian masalah tersebut, Biro DPKP/PKBL melalui surat

No.B/2108/032005 tanggal 16 Maret 2005 kepada seluruh Kepala Kantor Wilayah memberitahukan bahwa dana program DPKP, program Kemitraan dan program Bina Lingkungan harus terpisah. Akan tetapi, pemberitahuan Biro DPKP/PKBL tersebut belum diketahui perkembangan tindak lanjut dan efektivitasnya.

77

BPK-RI/AUDITAMA V

4) Lebih lanjut, Kepala Biro Akuntansi melalui Memo No.M/145/AK/032005 tanggal

10 Maret 2005 meminta konfirmasi dana DPKP/PKBL pada rekening Program Jamsostek Kantor Wilayah VIII dan Kacab Makassar. Atas memo tersebut, Biro DPKP/PKBL belum memberikan jawaban konfirmasi sehingga adanya dana sebesar Rp2.541.667,00 dan Rp44.988.720,00 pada Kantor Cabang Makassar dan Rp6.739.550,00 pada Kantor Wilayah VII belum dapat diyakini. Penyaluran/penggunaan dana program DPKP seharusnya dipisahkan dengan program yang lain agar pengendalian dan penggunaan dana masing-masing program tersebut dapat lebih mudah mempertanggungjawabkannya. Kondisi di atas mengakibatkan adanya saldo PSDP DPKP sebesar

Rp682.817.035,38 yang belum dapat ditelusuri. Hal tersebut terjadi karena kantor cabang/wilayah belum sepenuhnya tertib dalam penggunaan rekening bank program DPKP, Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa dapat memahami hasil temuan BPKRI, Biro DPKP/PKBL akan terus memonitor penyelesaian masalah PSDP, dengan mengirim petunjuk pelaksanaan penyelesaiannya dan pembinaan langsung dengan membentuk tim untuk menyelesaikan PSDP pada kantor Wilayah/Cabang yang dimaksud. Terhadap Memo Kepala Biro Akuntansi No.M/145/AK/032005, tentang konfirmasi dana DPKP & PKBL pada Rekening Program Jamsostek Kantor Wilayah VIII dan Kacab Makassar, telah diberikan penjelasan sesuai dengan Memo No.M/117/BDP/052005 tanggal 20 Mei 2005 kepada Biro Akuntansi yang intinya telah sesuai dengan Memo Biro Akuntansi di atas dan meminta kepada Biro Akuntansi untuk menyelesaikannya.

78

BPK-RI/AUDITAMA V

BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Jamsostek melalui Biro DPKP/PKBL supaya menginstruksikan kembali kepada Kanwil dan KC agar menggunakan rekening bank DPKP, rekening Program Kemitraan dan rekening program Bina Lingkungan secara terpisah, dan menyelesaikan PSDP yang ada di Kanwil dan KC dimaksud. f. Terdapat penggunaan DPKP tidak bergulir tahun 2004 yang belum sepenuhnya sesuai ketentuan Berdasarkan Pedoman Umum DPKP PT Jamsostek, DPKP adalah dana yang dihimpun dan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja peserta program Jamsostek dan atau keluarganya yang dikategorikan kurang mampu menurut ketentuan yang berlaku dan membantu usaha kecil yang mempunyai keterkaitan dengan PT Jamsostek yang bersifat padat karya. Menurut sifat penyalurannya DPKP dibagi menjadi dua, yaitu dana bergulir (pinjaman/revolving fund) dan dana tidak bergulir (hibah). Dana bergulir dialokasikan untuk pemberian pinjaman dan investasi jangka panjang. Pemberian pinjaman berupa:
1) Pinjaman dana sebagian uang muka Kredit Pemilikan Rumah Sederhana atau

Rumah Sangat Sederhana bagi peserta Jamsostek.
2) Pinjaman dana kepada Koperasi Tenaga Kerja pada perusahaan peserta program

Jamsostek.
3) Pinjaman dana talangan modal kerja kepada perusahaan kecil dan menengah

sektor jasa konstruksi yang mengerjakan proyek fisik bersifat padat karya yang dibiayai anggaran Pemerintah.
4) Pinjaman kepada provider bidang jasa pelayanan kesehatan milik swasta yang

telah bekerjasama dengan PT Jamsostek. Dana bergulir investasi jangka panjang meliputi rumah susun sewa dan fasilitas pelayanan kesehatan. Sedangkan DPKP tidak bergulir merupakan bagian DPKP yang dialokasikan untuk menunjang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh PT Jamsostek, terutama bidang kesehatan dan pendidikan. Bantuan bidang kesehatan berupa bantuan renovasi/rehabilitasi/membangun Pusat Pelayanan Kesehatan milik Pemerintah, bantuan mobil ambulan, bantuan peralatan medis, dan bantuan pelayanan

79

BPK-RI/AUDITAMA V

kesehatan cuma-cuma. Bantuan bidang pendidikan meliputi bantuan beasiswa bagi anak peserta Jamsostek, pelatihan bagi peserta Jamsostek dan bantuan kepada Balai Latihan Kerja milik Pemerintah. Berdasarkan data buku besar DPKP tahun buku 2004 diketahui bahwa total realisasi penggunaan DPKP yang sudah disalurkan tahun 2004 adalah sebesar Rp69.673.968.868,18, dengan rincian sebagai berikut: Program Dana Bergulir Dana Tidak Bergulir Operasional Program Total Penggunaan dana termasuk Beban 26.488.008.918,18 69.673.968.868,18 38,02 100,00 Penggunaan Dana (Rp) 43.185.959.950,00 Persentase (%) 61,98

Alokasi penggunaan DPKP setiap tahunnya telah diatur dalam Pedoman Umum DPKP sesuai Surat Menteri Keuangan No.S-521/MK.01/2000 tanggal 27 Oktober 2000 sebagai berikut:
1) minimal 80% dialokasikan untuk DPKP yang sifatnya bergulir. 2) maksimal 20% dialokasikan untuk DPKP yang sifatnya tidak bergulir termasuk

untuk beban operasional. Sesuai dengan risalah RUPS PT Jamsostek tentang pengesahan RKAP tahun 2004 tanggal 15 Januari 2004, pada point 6 antara lain diatur bahwa dalam melaksanakan RKAP DPKP tahun 2004, kepada Direksi dan Komisaris diminta untuk menjaga rasio penyaluran DPKP bergulir dan tidak bergulir sesuai dengan ketentuan. Kondisi tersebut mengakibatkan dana tidak bergulir termasuk beban operasional program digunakan melebihi pagu yang telah ditetapkan, yaitu sebesar Rp12.553.215.144,56 {Rp26.488.008.918,18 – ( 20% x Rp69.673.968.868,18)} atau lebih l8,02% dari rasio sesuai ketentuan yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Hal tersebut terjadi karena :
1) Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek tidak mematuhi Surat Menteri Keuangan No.S-

521/MK.01/2000.

80

BPK-RI/AUDITAMA V

2) Direksi dan Komisaris PT Jamsostek belum sepenuhnya melaksanakan amanat

RUPS dalam menjaga rasio penyaluran DPKP bergulir dan tidak bergulir. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa dapat memahami hasil temuan BPKRI dengan penjelasan bahwa rendahnya realisasi penyaluran dana bergulir disebabkan tidak terealisasinya rencana investasi jangka panjang dan tidak optimalnya penyaluran pinjaman dana antara lain:
1) Rencana pembangunan rumah susun sewa dengan sistem BOT dengan PT JIEP

Pulogadung tidak disetujui Dewan Komisaris.
2) Rencana pembangunan rumah sakit pekerja di Cikarang kerjasama dengan PT

Hosana Internasional tidak disetujui Dewan Komisaris.
3) Rencana kerjasama dengan rumah sakit Krakatau Medika belum disetujui Dewan

Komisaris.
4) Penyaluran Pinjaman Uang Muka Perumahan (PUMP) belum optimal dikarenakan

faktor eksternal. Untuk masa yang akan datang, penyaluran akan diupayakan sesuai rasio yang telah ditetapkan. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Jamsostek supaya bersama-sama Komisaris PT Jamsostek mengupayakan agar rasio penyaluran DPKP bergulir dan tidak bergulir sesuai dengan ketentuan. g. Terdapat pemborosan biaya sebesar Rp194,08 juta atas kegiatan Jamsostek Peduli Mudik Lebaran 2004 oleh Biro DPKP/PKBL dan proses pengadaannya belum sesuai ketentuan Dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terutama para pekerja dan keluarganya yang melakukan mudik Lebaran, PT Jamsostek memberikan bantuan pelayanan kesehatan cuma-cuma untuk pos komando (posko) mudik Lebaran melalui program DPKP/PKBL. Salah satu kantor wilayah (Kanwil) PT Jamsostek yang melaksanakan kegiatan Jamsostek Peduli Mudik Lebaran 2004 adalah Kanwil III. Dana yang digunakan untuk 81 BPK-RI/AUDITAMA V

kegiatan pelayanan kesehatan cuma-cuma melalui posko mudik lebaran adalah sebesar Rp321.348.600,00 yang bersumber dari program DPKP/PKBL masing-masing sebesar Rp194.079.600,00 dan Rp127.269.000,00. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal yang sama yaitu 11 s.d 13 Nopember 2004, dengan tujuan kegiatan yang sama yaitu kepedulian PT Jamsostek terhadap para pekerja yang akan melakukan mudik lebaran dengan memberikan bantuan pengobatan cuma-cuma. Penjelasan mengenai kegiatan dari masing-masing program adalah sebagai berikut : 1) Pelaksanaan pada Program DPKP Dalam rangka menindaklanjuti keputusan rapat pimpinan Kanwil III, pada tanggal 19 Oktober 2004 Ka Kanwil III melalui surat No.B/791/102004 (nomor surat sama) mengundang tiga rekanan, yaitu Yayasan Mas Isman Medika Bintaro Klinik 24 jam (YMIMB), Yayasan Bina Program Husada, dan Klinik Indosehat untuk mengajukan penawaran harga dengan spesifikasi pekerjaan antara lain sebagai berikut : a) Jumlah yang akan dapat pelayanan pengobatan cuma-cuma selama tiga hari adalah 3600 orang. b) Jadwal pelaksanaan tanggal 11 s.d 13 Nopember 2004 dengan dua shift (pagi dan malam). c) Kegiatan akan diselenggarakan pada empat lokasi yaitu : terminal bus Pulo Gadung, Kampung Rambutan, Lebak Bulus dan Stasiun KA Senen. Dari ketiga rekanan tersebut YMIMB mengajukan penawaran harga terendah yaitu sebesar Rp199.056.000,00. Setelah dilakukan negosiasi sesuai dengan Berita Acara Negosiasi Harga (tanpa nomor) tanggal 25 Oktober 2004 diperoleh kesepakatan harga sebesar Rp194.079.600,00 atau turun sebesar Rp4.976.400,00. Akan tetapi, dari negosiasi harga tersebut tidak dibuat revisi rincian biaya, sehingga tidak diketahui harga untuk bagian pekerjaan mana yang dikurangi biayanya .

82

BPK-RI/AUDITAMA V

Atas kesepakatan tersebut dibuat Surat Perintah Kerja (SPK) No.SPK/24/102004 tanggal 27 Oktober 2004 yang ditandatangani oleh Kakanwil III dan Direksi Yayasan Mas Isman Medika Bintaro dengan harga pekerjaan Rp194.079.600,00 yang antara lain mengatur : a) Harga pekerjaan adalah sebesar Rp176.436.000,00 dan PPN 10% sebesar Rp17.643.600,00 sehingga totalnya sebesar Rp194.079.600,00. b) Pembayaran dilakukan setelah SPK ditandatangani sebesar 50% dari nilai SPK dan 50% setelah pekerjaan selesai dilaksanakan, yang didukung dengan berita acara pekerjaan serta dibayar penuh dan tetap berdasarkan pada jumlah 3.600 orang tidak terpengaruh kurang atau lebih pada frekuensi kunjungan pasien. Mudik Lebaran 2004 tanggal 22 Nopember 2004 yang dibuat oleh YMIMB antara lain menyebutkan Selanjutnya dari dokumen yang diperoleh diketahui bahwa sesuai Memo Kabag Progsus No.M/01/Progsus/112004 tanggal 1 Nopember 2004 perihal kegiatan Jamsostek Peduli Mudik Lebaran telah dilaporkan kepada Kakanwil III mengenai rencana kegiatan pelayanan terhadap peserta Jamsostek pada saat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1425 H/tahun 2004. Kemudian Kakanwil III memberikan disposisi tanggal 1 Nopember 2004 yang antara lain menyebutkan agar dibuat perencanaan yang matang, dicari pembanding yang lain minimal tiga, diminta membuat proposal yang jelas, mengundang peserta untuk menawarkan biaya, dan memproses sesuai dengan ketentuan. Laporan Pelaksanaan Jamsostek Peduli bahwa : a) Realisasi jumlah pasien yang minta pelayanan kesehatan sebanyak 658 orang atau hanya 18,27 % dari target sebanyak 3.600 orang pekerja dengan rincian sebagai berikut : No 1 2 3 4 Lokasi Terminal Lebak Bulus Terminal Kampung Rambutan Terminal Pulo Gadung Stasiun Senen Jumlah Pasien (orang) 167 213 131 147 658

83

BPK-RI/AUDITAMA V

b) Realisasi dari absensi kehadiran pelaksana yang tidak sesuai dengan proposalnya yaitu: Uraian - Dokter - Perawat - Administrasi Realiasi 8 orang/hari 4 orang/hari 4 orang/hari

Pembayaran atas kegiatan tersebut telah dilakukan sebesar Rp194.079.600,00 melalui dua tahap yaitu : a) Uang muka (tahap I) tanggal 3 Nopember 2004 sebesar Rp88.218.000,00 dengan kuitansi No.015/KW/YMB/XI/2004. b) Tahap II tanggal 22 Nopember 2004 sebesar Rp105.861.600,00 dengan kuitansi No.025/KW/YMIMB/IX/2004. 2) Pelaksanaan pada PKBL Dalam rangka menindaklanjuti surat Direksi No.B/9805/112004 tanggal 2 Nopember 2004, PT Jamsostek membentuk Tim Koordinator kegiatan yang akan melakukan koordinasi kegiatan Jamsostek Peduli Mudik Lebaran 2004 secara nasional. Dalam rangka melaksanakan kegiatan tersebut di Kanwil III, pada tanggal 3 Nopember 2004 Biro DPKP/PKBL memberikan dana sebesar Rp127.269.000,00 kepada tim koordinator tersebut melalui mekanisme porsekot kerja atas nama Drg. Endro Sucahyono (tim koordinator). Tim Koordinator selanjutnya menyerahkan dana tersebut ke Kanwil III, kemudian Kanwil III mendistribusikan dana tersebut ke kantor-kantor cabang yang ditunjuk sebagai koordinator lokasi pelaksanaan kegiatan secara kas. Sesuai laporan pertanggungjawaban persekot kerja dalam rangka kegiatan tersebut diketahui untuk pos kesehatan/pengobatan di lokasi adalah sebesar Rp127.269.000,00 dengan rincian biaya sebagai berikut : a) Terminal Pulo Gadung b) Terminal Lebak Bulus c) Terminal Kp Rambutan d) Stasiun KA Senen 84 Rp22.650.000,00 Rp22.650.000,00 Rp22.650.000,00 Rp28.650.000,00 BPK-RI/AUDITAMA V

e) Pelabuhan Tanjung Priok f) Kacab Grogol (bantuan keamanan) g) Ambulan keliling

Rp13.150.000,00 Rp6.000.000,00 Rp11.519.000,00

Berdasarkan laporan pelaksanaan kegiatan tersebut diketahui realisasi total pasien keseluruhan adalah sebanyak 934 orang, dengan rincian sebagai berikut: a) Terminal Pulo Gadung b) Terminal Lebak Bulus c) Terminal Kp Rambutan d) Stasiun KA Senen e) Pelabuhan Tanjung Priok f) Ambulan keliling = 157 orang = 229 orang = 239 orang = 105 orang = 126 orang = 78 orang

Dengan target 3.600 orang pasien untuk enam lokasi di atas (secara rata-rata untuk satu lokasi targetnya adalah 600 orang pasien) realisasinya hanya tercapai 25,94% dari target. Berdasarkan pemeriksaan atas kegiatan Jamsostek Peduli Mudik Lebaran 2004 di Kanwil III diketahui hal-hal sebagai berikut : 1) Penggunaan dana sebesar Rp321.348.600,00 tidak efisien. Penjelasan atas hal tersebut adalah sebagai berikut : a) Jumlah estimasi pemudik yang mendapat pelayanan kesehatan sebanyak 3.600 orang tidak memiliki dasar yang memadai. Surat Permintaan Penawaran Harga dari Kepala Kanwil III kepada YMIMB No.B/791/102004 tanggal 19 Oktober 2004, yang menyebutkan spesifikasi pekerjaan antara lain adalah jumlah pasien yang akan mendapat pelayanan kesehatan cuma-cuma per lokasi per hari ± 300 orang atau 3.600 orang untuk empat lokasi selama tiga hari, akan tetapi penggunaan data tersebut tidak didukung dengan data-data yang dapat dipertanggungjawabkan. Memo Kabag Progsus No.M/01/PROGSUS/112004 terkait dengan rencana pelaksaan kegiatan tersebut yang baru disampaikan tanggal 1 Nopember 2004 atau 13 hari setelah surat permintaan penawaran harga antara lain melaporkan

85

BPK-RI/AUDITAMA V

bahwa data jumlah pasien yang akan mendapat pelayanan per hari per lokasi adalah sebanyak ± 100 s.d 150 orang atau 1.200 s.d 1.800 orang untuk empat lokasi selama tiga hari. Evaluasi lebih lanjut menunjukkan bahwa penggunaan estimasi sebanyak 300 orang per hari per lokasi merupakan estimasi yang sangat optimis. Dengan asumsi 300 orang per hari per lokasi oleh empat orang dokter dengan dua kali shift, berarti satu orang dokter melayani 75 orang selama 12 jam atau terdapat satu pasien setiap 10 menit. Ketidakakuratan estimasi yang digunakan oleh Kanwil III juga ditunjukkan pencapaian realisasi pasien hanya 934 orang untuk PKBL atau 25,94% dari target 3.600 orang dan 658 orang atau 18,27% dari target 3.600 orang untuk DPKP. Dengan kondisi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan data 3.600 orang sangat mengandung ketidakpastian, akan tetapi Kanwil III tidak melakukan antisipasi yang memadai atas ketidakpastian tersebut. Hal tersebut ditunjukkan pada penentuan syarat pembayaran dalam SPK antara Kanwil III dengan YMIMB yang menyatakan dibayar penuh dan tetap pada jumlah 3.600 orang tidak terpengaruh oleh adanya ketidakpastian tersebut. b) Penambahan dana dari PKBL sebesar Rp127.269.000,00 untuk kegiatan Jamsostek Peduli Mudik Lebaran 2004 tidak dikoordinasikan kegiatan yang sama yang dilaksanakan oleh program DPKP sehingga terdapat indikasi overlapping penggunaan dana. Berdasarkan kronologis kegiatan tersebut yang dilaksanakan baik oleh program DPKP/PKBL di Kanwil III, kegiatan Jamsostek Peduli Mudik Lebaran 2004 yang dilaksanakan oleh program DPKP merupakan kegiatan yang berdasarkan rapat pimpinan Kanwil III dan telah dimulai sejak tanggal 18 Oktober 2004 sedangkan kegiatan Jamsostek Peduli Mudik Lebaran 2004 yang dilaksanakan oleh program PKBL merupakan kegiatan yang berdasarkan surat Direksi No.B/9805/112004 tanggal 2 Nopember 2004 dan dimulai baru pada tanggal 3

86

BPK-RI/AUDITAMA V

Nopember 2004. Akan tetapi, Kanwil III tidak melakukan koordinasi yang memadai atas kegiatan yang sama yang sumber dananya berasal dari program DPKP/PKBL. Oleh karena itu, terdapat indikasi overlapping antara program PKBL dengan program DPKP untuk proyek, tanggal dan tujuan pelaksanaan yang sama di empat titik lokasi yaitu terminal Lebak Bulus, Kampung Rambutan, Pulo Gadung dan Stasiun KA Senen, dengan target 2400 orang pasien. Realisasi atas target tersebut adalah 730 orang atau 31,41%. Panitia pelaksana kegiatan tersebut dibentuk berdasarkan Surat Perintah Kakanwil III No. SPRIN/78/112004 tanggal 12 Nopember 2004 yang secara keseluruhan berjumlah 13 orang, akan tetapi pelaksanaan kegiatan Jamsostek Peduli Mudik Lebaran telah dilaksanakan dari tanggal 11 s.d 13 Nopember 2004. c) Makanan/snack dalam proposal dan laporan pelaksanaannya tidak disebutkan peruntukannya sehingga jumlah 4800 paket dapat diragukan kewajarannya, minimal untuk peruntukan pasien saja dari perhitungan realisasi jumlah pasien yang dilayani terdapat kerugian sebesar Rp14.710.000,00 {(3.600658)xRp5.000,00/paket)}. d) Sesuai rincian penawaran YMIMB terdapat pengajuan biaya untuk Tim Medis yang terdiri dari Dokter, Perawat, paramedis. Akan tetapi dalam laporan pelaksanaannya oleh YMIMB untuk paramedis (selain dokter dan perawat) dengan biaya sebesar Rp3.600.000,00 diganti dengan tenaga adminsitrasi. 2) Penunjukan YMIMB belum sepenuhnya sesuai prosedur yang berlaku. Berdasarkan dokumen yang ada diketahui bahwa YMIMB sebagai pelaksana kegiatan sesuai SPK No.SPK/24/102004 tanggal 27 Oktober 2004 dengan nilai pekerjaan sebesar Rp194.079.600,00. Penunjukan YMIMB tersebut dilakukan dengan membandingkan tiga penawaran yaitu YMIMB, Yayasan Bina Program Husada, dan Klinik Indosehat, yang diundang melalui surat No.B/791/102004 tanggal 19 Oktober 2004 (nomor surat sama).

87

BPK-RI/AUDITAMA V

Berdasarkan pemeriksaan atas dokumen yang ada diketahui bahwa atas penawaran tersebut tidak dilakukan kegiatan pembukaan penawaran harga sesuai dengan ketentuan, yang dibuktikan dengan tidak adanya berita acara pembukaan penawaran harga. Selain itu, tidak dilakukan kegiatan evaluasi atas administrasi dan harga penawaran sesuai ketentuan, yang dibuktikan dengan tidak adanya berita acara evaluasi administrasi dan harga. Berdasarkan SK Direksi No.KEP/138/072004 tanggal 8 Juli 2004 tentang pedoman pengadaan barang/jasa di lingkungan PT Jamsostek yang ruang ringkup berlakunya termasuk pengadaan barang/jasa yang pembiayaannya dibebankan pada RKA DPKP/PKBL, untuk pengadaan yang dilakukan melalui pemilihan langsung antara lain mengatur : a) Kegiatan penawaran, antara lain melakukan pembukaan dokumen penawaran dan membuat Berita Acara Pembukaan Penawaran (BAPP). b) Kegiatan evaluasi dan negosisasi harga, antara lain melakukan evaluasi terhadap penawaran yang diajukan oleh penyedia barang/jasa tersebut dengan membuat berita acara hasil evaluasi. 3) Pemberian uang muka tidak sesuai ketentuan yang berlaku dan tidak ada jaminan uang muka. Berdasarkan SPK No.SPK/24/102004 tanggal 27 Oktober 2004, antara lain diatur bahwa pembayaran uang muka sebesar 50% dari nilai pekerjaan setelah SPK ditandatangani. Realisasi uang muka dibayarkan pada uang muka (tahap I) tanggal 3 Nopember 2004 sebesar Rp88.218.000,00 dengan kuitansi No.015/KW/YMB/XI/2004. Sedangkan kegiatan dilaksanakan pada tangal 11 s.d 13 Nopember. Atas uang muka tersebut tidak diberikan jaminan uang muka. Hal tersebut tidak sesuai dengan Keputusan Direksi No.KEP/138/072004 tanggal 8 Juli 2004 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa di Lingkungan PT Jamsostek, yang antara lain menyatakan bahwa uang muka yang diberikan maksimal 30% dari nilai pekerjaan bagi golongan Usaha Kecil dan Koperasi dan sebesar 20% bagi bukan golongan UKK. Pembayaran uang muka dilakukan setelah penyedia

88

BPK-RI/AUDITAMA V

barang/jasa menyerahkan surat jaminan uang muka yang dikeluarkan oleh Bank Umum atau perusahaan asuransi kerugian yang memiliki program surety bond dan nilai jaminan uang muka sekurang-kurangnya sebesar uang muka yang diberikan. 4) Kanwil III tidak membuat Harga Perkiraan Sendiri (HPS) atas pekerjaan yang akan dilaksanakan. Berdasarkan pemeriksaan diketahui bahwa Kanwil III tidak membuat HPS atas pekerjan yang akan dilaksanakan sebagai pembanding untuk menilai kewajaran harga yang ditawarkan oleh rekanan. Hal tersebut tidak sesuai dengan Keputusan Direksi No.KEP/138/072004 tanggal 8 Juli 2004 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa di Lingkungan PT Jamsostek, yang antara lain menyatakan bahwa pada persiapan penunjukan langsung diantaranya pejabat pengadaan yang mengadakan pemilihan langsung yaitu Kabag Umum dan SDM pada Kantor Wilayah menyusun Harga Perkiraan Sendiri (HPS) yang dikalkulasikan secara teliti, cermat dan akurat. Dengan demikian, disimpulkan bahwa harga yang ditawarkan dan disepakati dengan YMIMB tidak dapat diyakini kewajarannya. Hal ini juga terlihat dari tidak adanya rincian biaya pada SPK, dan pada berita acara negosiasi harga tidak dijelaskan satuan-satuan biaya yang berubah. 5) Terdapat kelebihan pembayaran biaya tenaga medis dan PPh pasal 23 tidak dipotong. Berdasarkan pelaksanaan kegiatan yang ada, diketahui bahwa terdapat rencana pekerjaan yang dilakukan oleh dokter, perawat dan paramedis dengan biaya sebagai berikut. Tenaga Medis - Dokter - Perawat - Paramedis 16 orang/hari Rp400.000,00/hari 16 orang/hari Rp200.000,00/hari 8 orang/hari Rp150.000,00/hari Total 19.200.000,00 9.600.000,00 3.600.000,00 32.400.000,00

89

BPK-RI/AUDITAMA V

Realisasi pekerjaan yang dilaksanakan adalah : Uraian Dokter Perawat Administrasi 8 orang/hari 4 orang/hari 4 orang/hari Realisasi

Akan tetapi yang dibayarkan tetap seperti yang direncanakan, sehingga terjadi kelebihan pembayaran kepada Yayasan Mas Isman Medika Bintaro sebesar Rp18.600.000,00 dengan rincian : a) Biaya dokter sebesar Rp9.600.000,00 {(16-8)x3 harixRp400.000,00} b) Biaya perawat sebesar Rp7.200.000,00 {(16-4)x3 harixRp200.000,00} c) Biaya tenaga administrasi sebesar Rp1.800.000,00 {(8-4)x3 harixRp150.000,00} Lebih lanjut diketahui bahwa atas pembayaran biaya tenaga medis sebesar Rp32.400.000,00 tidak dipotong PPh pasal 23 sebesar 6,00% yaitu sebesar Rp1.944.000,00 (6% x Rp32.400.00,00). Keadaan tersebut mengakibatkan : 1) Terjadi pemborosan biaya sebesar Rp194.079.600,00 dalam pelaksanaan kegiatan yang sama dalam waktu yang sama. 2) Penunjukan YMIMB sebagai pelaksana kegiatan Jamsostek Peduli Mudik Lebaran 2004 Program DPKP belum sepenuhnya sesuai ketentuan. Hal tersebut di atas terjadi karena : 1) Kanwil III dalam melaksanakan kegiatan posko mudik lebaran tidak menyusun perencanaan dan koordinasi dengan baik. 2) Kanwil III belum sepenuhnya mengikuti prosedur pengadaan barang dan jasa yang telah ditetapkan. 3) Biro DPKP/PKBL Kantor Pusat belum maksimal dalam melakukan monitoring kegiatan Kanwil III dalam rangka Jamsostek Peduli Mudik Lebaran 2004. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa dapat memahami hasil temuan BPKRI dan akan ditindaklanjuti dengan memberikan surat teguran untuk menyelesaikan

90

BPK-RI/AUDITAMA V

permasalahan-permasalahan tersebut, meskipun pelaksanaan kesehatan cuma-cuma dalam rangka mudik lebaran masyarakat pekerja yang dilakukan oleh Kanwil III dengan anggaran dari program DPKP dan program BL Kantor Pusat telah dipertanggungjawabkan secara formal. Untuk masa yang akan datang, penyaluran dana program Bina Lingkungan dalam rangka pelayanan kesehatan cuma-cuma bagi masyarakat umum dipertanggungjawabkan. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Jamsostek supaya menegur pelaksana kegiatan yang tidak merencanakan dan melaksanakan kegiatan PT Jamsostek mudik lebaran tersebut dengan baik, dan untuk masa yang akan datang, setiap kegiatan agar senantiasa direncanakan dengan baik dan cermat sehingga pelaksanaan kegiatan dapat dilakukan secara tepat guna dan tepat sasaran dan dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku. h. Penggunaan beban operasional DPKP belum sepenuhnya sesuai ketentuan Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta (DPKP) adalah dana yang dihimpun dari penyisihan laba PT Jamsostek atau sumber lainnya dan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja peserta program Jamsostek dan atau keluarganya melalui program dana bergulir maupun tidak bergulir. Berdasarkan Laporan Arus Kas DPKP Tahun 2004 diketahui terdapat realisasi penyaluran DPKP sebesar Rp69.673.968.868,18 dengan rincian Rp43.185.959.950,00 untuk program dana bergulir dan Rp26.488.008.918,18 untuk program dana tidak begulir dan sebesar Rp2.334.500.458,00 untuk beban operasional. Dengan demikian, rasio antara beban operasional program dengan realisasi alokasi penyaluran DPKP setelah dikurangkan beban operasional program tersebut adalah 3,47% {Rp2.334.500.458,00 : (Rp69.673.968.868,18- Rp2.334.500.458,00 )}. Penyaluran dana bergulir dan tidak begulir dialokasikan untuk program Traumatic Centre (TC) dan Non-Traumatic Centre (NTC) masing-masing sebesar yang melaksanakan mudik lebaran akan lebih terkendali dan hati-hati (prudent) serta dapat

91

BPK-RI/AUDITAMA V

Rp15.721.285.310,18 dan Rp53.952.683.558,00 termasuk beban operasional sebesar Rp2.334.500.458,00 yang terdiri dari TC dan NTC masing-masing sebesar Rp694.530.228,00 dan Rp1.639.970.230,00. Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut atas beban operasional tersebut di atas diketahui antara lain : 1) Terdapat beban operasional yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan program TC dan NTC tidak efisien. a) Program TC Beban operasional untuk program TC mencapai sebesar Rp694.530.228,00 atau sebesar 4,62% dari total beban program TC setelah dikurangkan dengan beban operasionalnya. Beban operasional tersebut sebagian besar digunakan untuk beban peresmian TC sebesar Rp568.464.130,00 dan beban pembinaan sebesar Rp82.463.690,00. Diantara beban pembinaan, terdapat biaya perjalanan dinas yang terkait dengan peresmian program TC mencapai sebesar Rp50.613.590,00. Dengan demikian, total beban operasional yang terkait dengan peresmian kegiatan program TC sebesar Rp619.077.720,00 (Rp568.464.130,00 + Rp50.613.590,00) atau mencapai sebesar 89,14% dari beban operasional program TC. b) Program NTC Beban operasional untuk program NTC mencapai sebesar Rp1.639.970.230,00 atau 3,13% dari total beban program NTC setelah dikurangkan dengan beban operasionalnya. Dengan demikian, beban operasional TC dan NTC yang masing-masing mencapai 4,62% dan 3,13% dari penyelenggaraan programnya mengindikasikan terjadi penggunaan dana yang tidak efisien. 2) Beban operasional tidak efisien dan tidak memberikan hasil yang proporsional dengan realisasi penyaluran dana program DPKP Berdasarkan RKA DPKP tahun 2004 dan realisasi alokasi dana DPKP program bergulir dan tidak bergulir diketahui sebagai berikut :

92

BPK-RI/AUDITAMA V

Jenis RKA (Rp) 1. Program Bergulir 225.000.000.000,00 2. Program Tidak Bergulir 22.550.000.000,00 Total Penyaluran 247.550.000.000,00 3. Beban Operasional Program 2.475.500.000,00 Total Dana Program 251.125.000.000,00 Dari hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa :

Realisasi (Rp) 43.185.959.950,00 24.153.508.460,18 67.339.468.410,18 2.334.500.458,00 69.673.968.868,18

1) Realisasi alokasi kegiatan program bergulir dan tidak bergulir masing-masing sebesar Rp43.185.959.950,00 dan Rp24.153.508.460,18 mencapai 19,19% dan 107,11% dari target alokasi tahun 2004 sebesar Rp225.000.000.000,00 dan Rp22.550.000.000,00 Rp67.339.468.410,18 Rp247.550.000.000,00. 2) Realisasi beban operasional program untuk kegiatan program DPKP Tahun 2004 sebesar Rp2.334.500.458,00 mencapai 94,30% dari anggaran sebesar Rp2.475.500.000,00. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dengan pencapaian realisasi kegiatan program bergulir dan tidak bergulir yang hanya 27,20% berarti Biro DPKP/PKBL belum optimal menyalurkan dana DPKP. Selain itu, penggunaan beban operasional tidak efisien karena mencapai 94,30% dari anggarannya karena tidak proporsinal dengan realisasi alokasi dana hanya tercapai 27,20% dari anggarannya. Dalam mengelola DPKP, Biro DPKP/PKBL seharusnya berpedoman pada: 1) Risalah RUPS PT Jamsostek tanggal 15 Januari 2004 tentang Pengesahan RKAP Tahun 2004 memutuskan antara lain kepada Direksi dan Komisaris diminta melaksanakan rencana kerja secara efektif dan dengan biaya yang efisien serta selalu bersikap hati-hati. 2) Surat Menteri Keuangan No.S-521/MK.01/2000 tanggal 27 Oktober 2000, pada pasal 9 antara lain mengatur bahwa beban operasional yang berkaitan dengan pelaksanaan program DPKP dibebankan sebagai beban operasional DPKP maksimum sebesar 1% dari alokasi DPKP setiap tahunnya dan menjadi bagian alokasi DPKP tidak bergulir. Ketentuan tersebut dipertegas dengan keputusan atau hanya secara keseluruhan 27,20% realisasinya dari target sebesar sebesar mencapai

93

BPK-RI/AUDITAMA V

Direksi PT Jamsostek No.KEP/33/032002 tanggal 28 Maret 2002 yang menyebutkan bahwa besarnya beban operasional per tahun maksimum sebesar 1% dari alokasi DPKP. Kondisi di atas mengakibatkan :
1) Realisasi biaya operasional yang mencapai 3,47% dari realisasi kegiatan program

DPKP melebihi ketentuan sebesar Rp1.661.105.773,90 {Rp2.334.500.458,00 (1%x Rp67.339.468.410,18)}.
2) Biro DPKP/PKBL belum optimal menyalurkan dana DPKP untuk meningkatkan

kesejahteraan tenaga kerja peserta program Jamsostek.
3) Terdapat penggunaan beban operasional yang mencapai 94,30% dari anggarannya

tidak efisien dibandingkan dengan realisasi dana program yang hanya mencapai 27,20% dari anggarannya. Hal tersebut terjadi karena :
1) Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek tidak efisien dalam penggunaan biaya

operasional DPKP dan tidak mentaati pedoman pengelolaan dana DPKP.
2) Direksi dan Komisaris PT Jamsostek belum sepenuhnya melaksanakan hasil

keputusan RUPS RKAP Tahun 2004. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa realisasi beban operasional atas penyaluran tahun 2004 melebihi ketentuan karena beban operasional DPKP juga termasuk realisasi biaya operasional atas penyaluran tahun sebelumnya, antara lain :
1) Seremonial/peresmian penyerahan bantuan program DPKP yaitu

bantuan

ambulan, bantuan peralatan medis, bantuan renovasi ruang perawatan kepada rumah sakit, bantuan beasiswa Jamsostek dsb.
2) Biaya pembinaan dan penagihan atas penyaluran pinjaman pada tahun–tahun

sebelumnya. Untuk masa yang akan datang, penggunaan beban operasional program DPKP akan lebih prudent dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

94

BPK-RI/AUDITAMA V

BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Jamsostek supaya memperhatikan ketentuan yang berlaku tentang penggunaan biaya operasional dalam melaksanakan kegiatan DPKP, dan ke depan dalam membuat rencana kegiatan dilakukan dengan lebih cermat, sehingga biaya operasional tidak melampaui RKA yang ditetapkan RUPS. i. Pengadaan Ambulan tahun 2004 yang berasal dari DPKP melampaui anggaran dan ketentuan serta pelaksanaannya belum memadai Berdasarkan pedoman pengelolan DPKP tersebut dalam SK Direksi No.KEP/33/032002 tanggal 28 Maret 2002 diatur bahwa salah satu penggunaan DPKP tidak bergulir adalah untuk bidang kesehatan diantaranya berupa bantuan mobil ambulan dengan maksud membantu rumah sakit atau Pusat Pelayanan Kesehatan (PPK) milik Pemerintah atau kawasan industri dalam menyediakan sarana kesehatan terutama bidang mobilisasi pasien dari PPK I ke PPK II atau sebaliknya. Mobil ambulan bantuan tersebut dibagi atas dua kategori yaitu mobil ambulan untuk Traumatic Center (TC) untuk penaggulangan kecelakaan kerja peserta Jamsostek dan Non TC. Pada tahun 2004 telah diadakan mobil ambulan, baik ambulan TC maupun NonTC yang diadakan melalui penunjukan langsung kepada PT Sarandi Karya Nugraha (PT SKN) dengan lima Surat Perintah Kerja (SPK). Total nilai pekerjaan tersebut sebesar Rp14.976.292.800,00 dengan rincian sebagai berikut :
No. 1 2 3 4 5 6 SPK SPK/01/012004 Tgl 9 Januari 04 SPK/44/042004 Tgl 1 April 04 SPK/89/062004 Tgl 15 Juni 04 SPK/113/072004 Tgl 28 Juli 04 SPK/133/082004 Tgl 19 Agust 04 SPK/134/082004 Tgl 19 Agust 04 Jumlah Nilai 1.457.270.000,00 5.481.117.000,00 3.309.372.000,00 379.050.000,00 900.759.000,00 3.448.724.800,00 14.976.292.800,00 Unit 5 18 11 1 4 9 48 Jenis 4 unit TC 1 unit Non TC TC TC Ambulan gigi 1 unit TC 2 unit biasa 1 jenazah 5 unit TC plus 4 unit Bersalin Sumber Dana DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP: Rp302.289.000,00 PKBL : Rp598.470.000,00 DPKP

95

BPK-RI/AUDITAMA V

Dari tabel di atas, diketahui dari nilai pekerjaan sebesar Rp14.976.292.800,00, sumber pendanaannya berasal dari DPKP adalah sebesar Rp14.377.822.800,00, dan sebesar Rp598.470.000,00 dibebankan pada dana PKBL. Hasil pemeriksaan atas pengadaan ambulan tersebut di atas menunjukkan beberapa hal sebagai berikut : 1) Jumlah ambulan yang diadakan jauh melebihi RKA yang disahkan RUPS Berdasarkan RKA DPKP tahun 2004 yang disahkan pada RUPS tanggal 15 Januari 2004, PT Jamsostek menganggarkan biaya untuk bantuan ambulan sebesar Rp5.400.000.000,00 untuk keperluan rumah sakit, puskesmas, dan klinik yang melayani para peserta Jamsostek. Pengadaannya dilakukan oleh Kantor Pusat, dan telah diterima oleh pihak Kantor Wilayah Indonesia. Lebih lanjut mengenai pengadaan ambulan tahun 2004 kepada PT SKN diketahui bahwa pengadaan dilakukan melalui enam SPK dengan nilai sebesar Rp14.976.292.800,00 (DPKP sebesar Rp14.377.822.800,00 dan PKBL Rp598.470.000,00), sehingga terdapat pelampauan dari RKA sebesar 166,26%. Pemegang Saham dalam RUPS RKA tahun 2004 antara lain mengamanatkan untuk melaksanakan disiplin anggaran dan menghindari penyaluran dana yang tidak dianggarkan dan tidak diatur dalam Pedoman Umum DPKP. 2) Penunjukan PT SKN belum sepenuhnya didukung ketentuan yang memadai. Sesuai SK Direksi No.KEP/98/072002 tanggal 9 Juli 2002, pengadaan sarana TC telah dilakukan standarisasi, telah ditentukan spesifikasi teknis atas peralatan medis dan ambulan TC yang dibutuhkan sebagai pedoman dalam pengadaan. Pelaksanaan pengadaan ambulan tahun 2004 oleh Biro DPKP/PKBL dilakukan dengan menunjuk langsung PT SKN sebagai pelaksana pengadaan. Proses tersebut pada tahun 2004 diawali dengan adanya kebutuhan untuk diadakannya ambulan TC sesuai Memo Direktur Operasi dan Pelayanan No.M/70/DIROP/122003 tanggal 31 Desember 2003 sebanyak empat ambulan TC dan satu ambulan NonTC. dan Kantor Cabang di seluruh

96

BPK-RI/AUDITAMA V

Berdasarkan Memo Direktur Keuangan No.M/42/DIRKEU/022004 tanggal 9 Februari 2004 kepada Direktur Utama, diketahui bahwa penunjukan PT SKN didasarkan atas : a) Perbandingan harga berdasarkan surat penawaran beberapa rekanan. b) PT SKN telah memiliki sertifikat desain industri untuk perangkat mobil ambulan dan assesoris-nya. Selanjutnya pengadaan diikat melalui SPK No.SPK/01/012004 tanggal 9 Januari 2004. Proses pengadaan ambulan berikutnya selama tahun 2004 dilakukan dengan langsung menunjuk PT SKN yang disetujui Direktur Utama. Lebih lanjut diketahui hal-hal berikut : a) Perbandingan harga dari beberapa rekanan (Memo No.M/42/DIRKEU/022004 tanggal 9 Februari 2004) dilakukan hanya dengan membandingkan harga dari surat penawaran rekanan meskipun spesifikasi teknis ambulan yang ditawarkan berbeda. b) Memo Direktur Keuangan No.M/42/DIRKEU/022004 tanggal 9 Februari 2004 kepada Direktur Utama perihal pelaksanaan pekerjaan pengadaan ambulan dan assesoris untuk TC, antara lain menyampaikan draft surat penunjukan dan perintah kerja kepada PT SKN untuk ditandatangani, baru disetujui Direktur Utama tanggal 13 Februari 2004. Sedangkan SPK yang ada yaitu SPK No.SPK/01/012004 Direktur Utama. c) Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa PT SKN memiliki pengalaman dalam pekerjaan sejenis. Hal tersebut ditunjukkan dengan tidak adanya dokumen perjanjian/kontrak atas pekerjaan pembuatan/pengadaan ambulan yang merupakan bukti atas pengalaman telah melakukan pekerjaan yang sejenis. PT SKN mendapat ijin produksi alat kesehatan dari Departemen Kesehatan pertama tanggal 29 Nopember 1999 dan terakhir tanggal 14 Maret 2003, akan tetapi mendapat sertifikat beberapa desain industri dari departemen Kehakiman bertanggal 9 Januari. Dengan demikian, SPK ditandatangani sebelum ada usulan Direktur Keuangan dan persetujuan dari

97

BPK-RI/AUDITAMA V

dan Hak Asasi Manusia pada tahun 2003 dan atas perangkat mobil ambulan dan asesorisnya pada tanggal 11 Desember 2003. d) Belum dapat diketahui kinerja perusahaan tiga tahun terakhir, karena tidak ada laporan audit tiga tahun terakhir dari auditor independen. e) PT SKN tidak memiliki sertifikasi kualifikasi/klasifikasi yang dikeluarkan asosiasi perusahaan/profesi yang bersangkutan, yang merupakan bukti keahlian, pengalaman, usahanya. Berdasarkan pedoman pengadaan barang dan jasa PT Jamsostek sesuai SK Direksi No.KEP/80/062001 tanggal 29 Juni 2001 yang diperbaharui dengan SK No.KEP/138/072004 tanggal 8 Juli 2004, antara lain mengatur bahwa pengadaan barang/jasa tertentu dapat langsung ditunjuk penyedia barang/jasanya, walaupun nilainya sudah diatas batasan nilai penunjukan langsung antara lain pengadaan barang oleh perusahaan yang hak paten dari barang tersebut adalah milik perusahaan itu sendiri. Akan tetapi atas penunjukan langsung tersebut tidak mengatur syarat-syarat administratif yang harus dipenuhi oleh penyedia barang dan jasa, sehingga evaluasi adminsitratif yang dilakukan oleh BPS sebagai pelaksana pengadaan melalui penunjukan langsung tidak dilakukan. Dari kondisi di atas dapat disimpulkan bahwa proses pengadaan ambulan yang dilakukan oleh Program DPKP tahun 2004 yang dilakukan melalui penunjukan langsung, tidak didukung oleh ketentuan yang mengatur mengenai syarat syarat administrasi yang harus dipenuhi untuk mendukung penunjukkan langsung rekanan tersebut, sehingga pada proses penunjukannya tidak didukung oleh evaluasi adminsitrasi untuk mendapatkan keyakinan bahwa PT SKN mampu melaksanakan pekerjaan tersebut. 3) Terdapat peruntukan ambulan yang tidak sesuai ketentuan, yaitu : a) Untuk Yayasan Nurani Dunia, ambulan tersebut menurut Berita Acara Penyerahan Ambulan tanggal 2 Maret 2004 adalah untuk penanganan darurat kemampuan teknis dan manajerial dalam bidang

98

BPK-RI/AUDITAMA V

perlindungan perempuan dan anak. Sedangkan berdasarkan surat permohonan bantuan dari Yayasan Nurani Dunia No.193/YND/E/XI/2003 tanggal 10 November 2003 adalah untuk penanganan darurat terhadap TKI yang menjadi korban kekerasan yang tiba di Bandara Sukarno-Hatta b) Untuk Universitas Mustopo Beragama, menurut surat No.201/D/FKG/III/2004 tanggal 15 Maret 2004, perihal permohonan bantuan mobil ambulan, diketahui mobil ambulan akan digunakan untuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan pekerja dalam lingkungan industri. c) Untuk Kantor Wakil Presiden, menurut surat dari sekretaris Wakil Presiden No.B-461 tanggal 2 April 2004 perihal bantuan satu unit ambulan diketahui untuk mendukung operasional dari unit kesehatan yang sedang dibangun yang melayani karyawan beserta keluarga yang jumlahnya diperkirakan 1000 orang. d) Untuk Depnakertrans. Seharusnya berdasarkan Pedoman Pengelolaan DPKP sesuai SK Direksi No.KEP/33/032001 tanggal 28 Maret 2002 antara lain diatur bahwa maksud bantuan mobil ambulan adalah membantu rumah sakit atau PPK milik Pemerintah atau kawasan industri dalam menyediakan sarana kesehatan terutama bidang mobilisasi pasien dari PPK I ke PPK II atau sebaliknya. Sedangkan tujuannya adalah meningkatkan mutu pelayanan terhadap pasien peserta Jamsostek dan masyarakat umum. Sedangkan persyaratannya adalah : a) Rumah Sakit atau PPK yang terikat perjanjian kerjasama dengan PT Jamsostek dalam program JKK dan JPK dengan memperhatikan : (1) Kepesertaan yang dilayani minimal 10.000 tertanggung untuk PPK I (2) Kepesertaan yang dilayani minimal 20.000 tertanggung untuk PPK II (3) Angka kunjungan PPK I mencapai 12,00%-17,00% per bulan (4) Angka rawat jalan PPK II dari PPK I 0,60%-0,80%. (5) Angka rawat inap PPK II 0,20%-0,30% dari tertanggung. b) Dibuatkan perjanjian dengan rumah sakit atau PPK bahwa bantuan ambulan digunakan untuk kepentingan peserta Jamsostek.

99

BPK-RI/AUDITAMA V

4) Terdapat ambulan yang diserahkan sebelum SPK ditandatangani. Berdasarkan lampiran Berita Acara Serah Terima ambulan TC tanggal 20 April 2004 sebanyak sembilan unit dari 18 unit yang diadakan sesuai SPK No.SPK/44/042004 tanggal 1 April 2004, diketahui bahwa terdapat dua unit ambulan yang telah diserahkan sebelum SPK tersebut ditandatangani, yaitu : No 1. 2. No. Chasis/ No. Mesin MHCNH55EY4J009695/ M009695 MHCNH55EY4J009368/ M009368 Dikirim ke lokasi KC RSUD Kota 23 Februari Dumai Dumai 2004 12 Februari KC Puskesmas Samarinda Plus Tanjung 2004 ilir Tujuan Pemakai

5) Pengadaan ambulan TC Plus tidak didukung oleh perencanaan yang memadai Perencanaan pengadaan ambulan TC dilaksanaakan sesuai SK Direksi No.KEP/98/072002 tanggal 9 Juli 2002 tentang standarisasi pengadaan sarana TC menetapkan standarisasi kualitas pengadaan sarana TC berupa peralatan medis dan ambulan dengan spesifikasi yang ditentukan. Kemudian berdasarkan SK Direksi No.KEP/27/032004 tanggal 1 Maret 2004 tentang penetapan RKA DPKP Tahun 2004, penetapan satuan biaya untuk satu unit TC diantaranya ambulan adalah sebesar Rp300.000.000,00 per unit. Berdasarkan pemeriksaan atas pengadaan ambulan tahun 2004, diketahui bahwa selain pengadaan ambulan TC juga terdapat pengadaan ambulan TC Plus sesuai SPK No.SPK/134/082004 tanggal 19 Agustus 2004 sebanyak enam unit dengan harga sebesar Rp322.500.000,00 per unit. Atas pengadaan ambulan TC Plus tersebut belum didukung oleh perencanaan mengenai standarisasi spesifikasi, kualitas dan harga. 6) Terdapat bantuan ambulan bersalin yang tidak sesuai ketentuan Berdasarkan SPK No.SPK/134/082004 tanggal 19 Agustus 2004 diadakan sembilan ambulan yaitu lima ambulan TC Plus dan empat ambulan bersalin.

100

BPK-RI/AUDITAMA V

Ambulan bersalin tersebut diperuntukkan bagi Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok, RSUD Sunan Kalijaga, Puskesmas Kecamatan Cakra NTB, dan Puskesmas Kecamatan Sambalia NTB. Atas bantuan ambulan bersalin kepada empat tempat pelayanan kesehatan tersebut, diketahui bahwa tidak terdapat kajian atas bantuan tersebut apakah keempat tempat pelayanan kesehatan tersebut telah memenuhi persyaratan untuk memperoleh bantuan ambulan. Seharusnya berdasarkan Pedoman Pengelolaan DPKP sesuai SK Direksi No.KEP/33/032001 tanggal 28 Maret 2002 antara lain diatur bahwa maksud bantuan mobil ambulan adalah membantu rumah sakit atau PPK milik Pemerintah atau kawasan industri dalam menyediakan sarana kesehatan terutama bidang mobilisasi pasien dari PPK I ke PPK II atau sebaliknya. Sedangkan tujuannya adalah meningkatkan mutu pelayanan terhadap pasien peserta Jamsostek dan masyarakat umum. Sedangkan persyaratannya adalah : a) Rumah Sakit atau PPK yang terikat perjanjian kerjasama dengan PT Jamsostek dalam program JKK dan JPK dengan memperhatikan : (1) Kepesertaan yang dilayani minimal 10.000 tertanggung untuk PPK I (2) Kepesertaan yang dilayani minimal 20.000 tertanggung untuk PPK II (3) Angka kunjungan PPK I mencapai 12,00%-17,00% per bulan (4) Angka rawat jalan PPK II dari PPK I 0,60%-0,80%. (5) Angka rawat inap PPK II 0,20%-0,30% dari tertanggung. b) Dibuatkan perjanjian dengan rumah sakit atau PPK bahwa bantuan ambulan digunakan untuk kepentingan peserta Jamsostek. Kondisi di atas mengakibatkan : 1) Terjadinya pengeluaran dana di luar RKA DPKP yang telah disahkan dalam RUPS sebesar Rp8.977.822.800,00 (Rp14.377.822.800,00 - Rp5.400.000.000,00). 2) Pengadaan ambulan belum sepenuhnya sesuai ketentuan.

101

BPK-RI/AUDITAMA V

Hal tersebut terjadi karena : 1) Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek belum sepenuhnya mematuhi keputusan yang telah ditetapkan dalam RUPS dan keputusan Direksi. 2) Pengawasan dan pengendalian anggaran oleh Biro DPKP/PKBL belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. 3) Biro DPKP/PKBL PT Jamsostek tidak mematuhi ketentuan mengenai syarat pemberian batuan ambulan 4) Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa PT Jamsostek belum mengatur secara rinci tentang syarat-syarat administrasi dari penyedia barang. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa dapat memahami hasil temuan BPKRI, dan atas masing-masing permasalahan yang diungkap dalam hasil pemeriksaan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : 1) Jumlah ambulan yang diadakan jauh melebihi RKA yang disahkan RUPS. Terhadap jumlah ambulan yang melebihi RKA, dapat dijelaskan sebagai berikut : a) Adanya pembentukan TC tahun 2003 yang menjadi beban anggaran tahun 2004 sebesar Rp 2.160.000.000,00 akan tetapi tidak dianggarkan pada RKA 2004. b) Realokasi anggaran pembentukan TC tahun 2004 dilakukan atas dasar permintaan Pemerintah Daerah dan untuk memenuhi azas pemerataan sehingga realisasinya menjadi 26 unit TC. c) Adanya permintaan bantuan ambulan dari Menakertrans dan Sekretaris Wakil Presiden RI. Untuk masa yang akan datang, pengadaan ambulan akan berdasarkan anggaran yang telah ditetapkan oleh RUPS. 2) Penunjukan PT SKN sebagai pelaksana pengadaan belum sepenuhnya didukung dengan ketentuan yang memadai Pedoman pengadaan yang berkaitan dengan penunjukan langsung sesuai SK Direksi No.KEP/138/072004 akan dilakukan penyempurnaan.

102

BPK-RI/AUDITAMA V

3) Terdapat peruntukan ambulan yang tidak sesuai ketentuan. Peruntukan ambulan tersebut memang tidak sesuai dengan ketentuan, akan tetapi dapat dijelaskan sebagai berikut : a) Penyerahan ambulan dalam bentuk Non-TC juga diberikan kepada lembagalembaga lain yang dipandang berkaitan dengan penanganan kesehatan dan kemanusiaan dengan pertimbangan permintaan khusus dari Menteri Tenaga Kerja dan Sekretaris Wakil Presiden RI. b) Penyerahan Ambulan kepada Yayasan Nurani Dunia terkait dengan penanganan darurat perlindungan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan serta TKI, sehingga dirasa perlu dilakukan penyerahan bantuan tersebut. 4) Terdapat ambulan yang diserahkan sebelum SPK ditandatangani. Terhadap penyerahan ambulan yang SPK-nya belum ditandatangani, hal tersebut disebabkan oleh adanya perubahan peruntukan. 5) Penetapan TC Plus tidak didukung oleh kebijakan yang memadai. Penetapan TC Plus (ambulan bersalin) dilaksanakan dengan pertimbangan bahwa pada lokasi tersebut angka kematian relatif tinggi pada kasus persalinan, dimana mereka adalah keluarga dari peserta Jamsostek. Untuk selanjutnya bila dirasa perlu akan dibuatkan kebijakan secara formal yang mengatur tentang TC Plus tersebut. 6) Terdapat bantuan ambulan bersalin yang tidak sesuai ketentuan Dokumen kelengkapan ambulan bersalin untuk kepentingan peserta Jamsostek dan keluarganya akan dilengkapi secepatnya. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Jamsostek supaya melakukan revisi atas Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa PT Jamsostek yang belum mengatur secara rinci tentang syarat-syarat administrasi dari penyedia barang yang ditunjuk melalui penunjukan langsung.

103

BPK-RI/AUDITAMA V

j. Sistem pengendalian intern atas pengelolaan kas DPKP dan PKBL tidak memadai Dalam rangka memperlancar pengelolaan dana Program DPKP/PKBL, Biro DPKP/PKBL mengelola kas dalam perusahaan. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2004, saldo kas program DPKP/PKBL masing-masing sebesar Rp7.169.002,00 dan Rp1.755.973,00. Berdasarkan pemeriksaan fisik kas tanggal 9 Mei 2005 yang dikelola oleh Biro DPKP/PKBL, diketahui hal-hal sebagai berikut. 1) Biro DPKP/PKBL tidak melakukan pemisahan penyimpanan antara kas Program DPKP dan PKBL. 2) Penutupan saldo harian kas tidak dilakukan secara periodik. 3) Sistem aplikasi yang baru belum dapat diterapkan dengan sempurna. 4) Terdapat beberapa peminjaman kas bon oleh beberapa staf Biro DPKP/PKBL dengan total nilai sebesar Rp5,30 juta yang tidak segera diselesaikan. 5) Petugas kasir merangkap sebagai petugas pembukuan pengeluaran kas. Biro DPKP/PKBL seharusnya melakukan praktik pengelolaan kas dengan sistem pengendalian intern yang memadai dengan memisahkan pengelolaan kas milik DPKP/PKBL. Hal tersebut mengakibatkan sistem pengendalian intern pengelolaan kas oleh Biro DPKP/PKBL tidak memadai dan terdapat peminjaman kas bon oleh beberapa staf
Biro DPKP/PKBL sebesar Rp5.300.000,00 yang tidak segera diselesaikan.

Hal tersebut disebabkan oleh Biro DPKP/PKBL yang tidak tertib dalam pengelolaan kas perusahaan. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa : 1) Tidak memadainya pengendalian intern atas pengelolaan kas Program DPKP, Program Kemitraan dan Bina Lingkungan dikarenakan adanya perangkapan tugas

104

BPK-RI/AUDITAMA V

kasir/pemegang kas sebagai petugas pembukuan, hal tersebut disebabkan kekurangan personil pada Biro DPKP/PKBL. 2) Sementara belum ada kasir yang definitif, tugas kasir dibebankan kepada salah satu staf yang menangani tugas-tugas keuangan yang terpisah dengan fungsi pembukuan. Selanjutnya akan diusulkan personil khusus yang menangani tugas kasir. 3) Untuk selanjutnya akan dilakukan pembenahan Struktur Organisasi pada Biro DPKP/PKBL. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Jamsostek supaya menata kembali fungsi pengelolaan kas pada Biro DPKP/PKBL, agar diperoleh pengendalian intern yang memadai, selain itu menginstruksikan agar pihak pengelola kas agar menjalankan fungsinya dengan tertib. 10. Tindak Lanjut Temuan Auditor Tahun Sebelumnya Terdapat temuan pemeriksaan tahun-tahun sebelumnya yang masih dipantau, yaitu: a. Tindak Lanjut Temuan BPK-RI 1) Hasil Pemeriksaan Tahun 2003 Hasil audit tahun 2003 sebanyak lima temuan masih perlu dipantau tindak lanjutnya, karena penyelesaiannya masih dalam proses, yaitu: a) Terdapat pembayaran angsuran pinjaman yang belum jelas pengirim dan jenis pinjamannya sebesar Rp8.978,94 juta. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Jamsostek melalui Biro DPKP/PKBL untuk menelusuri pembayaran angsuran yang tidak jelas pengirim dan jenis pinjamannya. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa : (a) Direksi PT Jamsostek melalui Biro DPKP/PKBL sudah melakukan upaya meminimalisir Pos Sementara Dalam Penyelesaian (PSDP) dengan mengirimkan surat konfirmasi ke 182 debitur dengan nilai saldo pinjaman sejumlah Rp8.200.428.545,17.

105

BPK-RI/AUDITAMA V

(b) Terhadap Pos Sementara Dalam Penyelesaian (PSDP) tersebut telah diselesaikan sejumlah Rp297.503.942,64. (c) Sehingga Saldo PSDP berdasarkan Temuan Auditor setelah dikurangi dengan yang telah diselesaikan menjadi Rp 7.902.924.602,53. (d) Terhadap saldo Pos Sementara Dalam Penyelesaian (PSDP) sebesar Rp 7,9 milyar tersebut akan diupayakan penyelesaiannya dalam tahun 2005 ini. Terhadap permasalahan tersebut masih perlu dipantau tindak lanjutnya karena Pos Sementara Dalam Penyelesaian masih akan diupayakan penyelesaiannya dalam tahun 2005, sehingga belum memenuhi saran BPK-RI. b) Terdapat pemberian pinjaman sebesar Rp3.793,75 juta kepada beberapa Koperasi Karyawan tidak sesuai dengan ketentuan. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Jamsostek supaya memberi sanksi kepada petugas yang bertanggung jawab dalam penyaluran pinjaman tersebut dan meningkatkan pengawasan pelaksanaan penyaluran pinjaman di masa yang akan datang, mengambil langkah-langkah penyelamatan atas dana yang dipinjamkan dengan meminta agunan/jaminan aset dari penerima pinjaman. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa : (a) PT Jamsostek sedang melakukan penelitian yang lebih mendalam terhadap penyaluran pinjaman tersebut sebagai dasar pemberian sanksi, jika terjadi penyimpangan. (b) Telah dilaksanakan upaya penagihan dalam bentuk peneguran secara tertulis kepada debitur yang menunggak angsuran dalam rangka mengusahakan pengembalian pinjaman dan permintaan jaminan/agunan, sesuai surat No.B/422/072004 dan No.B/423/072004 tgl. 02 Juli 2004. (c) Sebagai tindak lanjut dari surat peneguran tersebut, salah satu debitur yaitu Yayasan Bina Program Husada yang mempunyai pinjaman sebesar Rp289.375.000,00 memberikan agunan berupa sebidang tanah seluas 1200 m2 di Kuningan, Jawa Barat (sertifikat terlampir).

106

BPK-RI/AUDITAMA V

(d) Upaya penagihan kepada debitur lainnya yang menunggak angsuran terus dilaksanakan sampai tuntas. Terhadap permasalahan tersebut masih perlu dipantau tindak lanjutnya karena sedang dilakukan penelitian yang mendalam terhadap penyaluran pinjaman sebagai dasar pemberian sanksi, sehingga belum memenuhi saran BPK-RI. c) Terdapat penyaluran pinjaman Koperasi Karyawan sebesar Rp600,00 juta yang tidak sesuai dengan ketentuan BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Jamsostek supaya memberi sanksi kepada petugas yang bertanggungjawab dalam penyaluran pinjaman tersebut dan meningkatkan pengawasan pelaksanaan penyaluran pinjaman di masa yang akan datang, mengambil langkah-langkah penyelamatan atas dana yang dipinjamkan dengan meminta agunan/jaminan aset dari penerima pinjaman. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa : (a) PT Jamsostek sedang melakukan penelitian yang lebih mendalam terhadap penyaluran pinjaman tersebut sebagai dasar pemberian sanksi, jika terjadi penyimpangan. (b) Telah dilaksanakan upaya penagihan dalam bentuk peneguran secara tertulis kepada debitur yang menunggak angsuran dalam rangka mengusahakan pengembalian pinjaman dan permintaan jaminan/ agunan, sesuai surat No.B/425/072004 dan No.B424/072004 tanggal 02 Juli 2004. (c) Sebagai tindak lanjut dari surat peneguran tersebut, dua debitur yaitu Tunggal Cipta Koperasi sudah melaksanakan pembayaran angsuran sebesar Rp9.163.700 pada tanggal 19 Juli 2004 dan Piramid Tunggal Koperasi sebesar Rp22.350.000 pada tanggal 30 Juli 2004. (d) Upaya penagihan kepada debitur yang menunggak angsuran terus dilaksanakan. (e) Telah dilakukan pembenahan struktur organisasi dengan membentuk Bagian Program Khusus di Kanwil III yang antara lain bertugas menangani program DPKP & PKBL sesuai dengan pedoman yang ditetapkan

107

BPK-RI/AUDITAMA V

berdasarkan SK Direksi No.KEP/140/072004 tanggal 8 Juli 2004 tentang Penyempurnaan Struktur Organisasi PT Jamsostek sebagaimana terlampir. Dengan adanya penyempurnaan Struktur Organisasi diharapkan dapat melakukan pengawasan secara intensif atas penyimpangan pinjaman di masa yang akan datang. Terhadap permasalahan tersebut masih perlu dipantau tindak lanjutnya karena sedang dilakukan penelitian yang mendalam terhadap penyaluran pinjaman sebagai dasar pemberian sanksi, sehingga belum memenuhi saran BPK-RI. d) Terdapat keterlambatan penyetoran PPN atas pembelian Rusunawa Pekerja Jamsostek di Jababeka Cikarang sebesar Rp1.233,93 juta. BPK-RI menyarankan di kepada Direksi akan PT Jamsostek datang melalui Biro DPKP/PKBL masa yang untuk mencatat,

membayar/menyetorkan PPN sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku dan menyetor denda keterlambatan sebesar Rp197.428.800,00. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa PPN Rusun telah dibayar,

sedangkan denda atas keterlambatan pembayaran PPN dimaksud akan dilaksanakan setelah adanya Surat Ketetapan Pajak (SKP). Terhadap permasalahan tersebut masih perlu dipantau tindak lanjutnya karena denda akan dibayar setelah adanya SKP, sehingga belum memenuhi saran BPK-RI. e) Pengadaan peralatan medis sebesar Rp2.850,56 juta belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Jamsostek supaya memberikan sanksi kepada pelaksana yang melakukan pengadaan tidak sesuai dengan ketentuan dan Biro DPKP/PKBL sebagai pelaksana program melakukan koordinasi dengan divisi terkait, serta melakukan monitoring yang lebih baik atas pengadaan barang yang berkaitan dengan pelaksanaan programnya dan BPS mematuhi ketentuan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa.

108

BPK-RI/AUDITAMA V

Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa proses pengadaan barang dan jasa sudah dilaksanakan melalui koordinasi Divisi/Biro terkait dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Terhadap permasalahan tersebut belum ada tindak lanjutnya karena sanksi kepada pelaksana pengadaan belum dilaksanakan, sehingga saran BPK-RI belum dilaksanakan. 2) Hasil Pemeriksaan Tahun 2002 Hasil audit tahun 2002 sebanyak satu temuan masih perlu dipantau tindak lanjutnya, karena penyelesaiannya masih dalam proses, yaitu: perjanjian kerjasama pembangunan Asrama Pekerja Makassar senilai Rp6.000,00 juta tidak mengatur hak kepemilikan & pengelolaan. BPK-RI menyarankan agar: a) Menteri BUMN minta pertanggungjawaban Direksi atas penyaluran dana DPKP yang belum dimintakan persetujuan Menteri. b) RUPS menetapkan penyelesaian status aset dan memintakan persetujuan Menteri BUMN. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa : a) Direksi PT Jamsostek sudah menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada RUPS melalui Surat No.B/4266/062002 tanggal 27 Juni 2002; B/3536/052003 tanggal 27 Mei 2003 dan B/5025/062004 tanggal 7 Juni 2004 tentang penyampaian laporan manajemen/keuangan DPKP & PUKK/PKBL tahun 2001, 2002 & 2003. b) Menteri BUMN melalui Surat No.S-464/MBU/2004 tanggal 8 September 2004 telah mengesahkan pertanggungjawaban atas pengelolaan Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta (DPKP) Tahun Buku 2001, 2002, & 2003 antara lain menyetujui penghibahan bangunan Asrama Pekerja Makassar kepada Pemda Sulsel.

109

BPK-RI/AUDITAMA V

c) Saat ini masih dalam proses penyerahan melalui Berita Acara Penyerahan Hibah. Terhadap permasalahan tersebut masih perlu dipantau tindak lanjutnya karena Berita Acara Penyerahan Hibah masih dalam proses, sehingga belum memenuhi saran BPK-RI. 3) Hasil Pemeriksaan Tahun 2001/2000 Hasil audit tahun 2003 sebanyak satu temuan masih perlu dipantau tindak lanjutnya, karena penyelesaiannya masih dalam proses, yaitu pemberian pinjaman sebesar Rp13.453,17 juta dan hibah sebesar Rp4.200,00 juta kepada koperasi pekerja tidak sesuai dengan ketentuan, sebagai berikut: a) Pemberian bantuan pinjaman sebesar Rp8.000,00 juta dan hibah sebesar Rp3.000,00 juta kepada Induk Koperasi Rokok Tembakau Makanan dan Minuman (Inkop RTMM). b) Pemberian hibah sebesar Rp1.200,00 juta kepada Kopag SBSI c) Pemberian bantuan pinjaman uang muka perumahan kepada Kopkar JHI sebesar Rp2.580,00 juta. d) Pinjaman kepada PT Havilah sebesar Rp2.075.170.196,00 yang digunakan untuk membayar PHK dan gaji. e) Pemberian bantuan pinjaman tambahan uang muka perumahan kepada YAPPARI sebesar Rp798,00 juta BPK-RI menyarankan kepada Pemegang Saham/Menteri BUMN supaya meminta pertanggungjawaban Direksi, dan atas dana yang dipinjamkan agar Direksi terus mengupayakan penagihannya serta meminta jaminan yang memadai. Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa : INKOP RTMM : a) Inkop RTMM telah menyampaikan Surat No.026/Inkop.RTMM/IV/2003 tanggal 15 April 2004 tentang restrukturisasi pembayaran pinjaman. b) Dewan Komisaris telah menyampaikan pendapat melalui Surat No.36/DK/042004 tanggal 22 April 2004, menyetujui pinjaman sebesar Rp 8

110

BPK-RI/AUDITAMA V

Milyar kepada Inkop RTMM, dengan pertimbangan untuk penambahan kepesertaan di sektor rokok. c) Direksi PT Jamsostek sudah menyampaikan pertanggungjawaban kepada RUPS melalui Surat No.B/4266/062002 tanggal 27 Juni 2002; B/3536/052003 tanggal 27 Mei 2003 dan B/5025/062004 tanggal 7 Juni 2004 tentang penyampaian laporan manajemen /keuangan DPKP & PUKK/PKBL tahun 2001, 2002 & 2003. d) Menteri BUMN melalui Surat No.S-464/MBU/2004 tanggal 8 September 2004 tentang pengesahan pertanggungjawaban atas pengelolaan Program DPKP tahun 2001, 2002 dan 2003. sebesar Rp 3 milyar. e) Terhadap penyaluran yang bersifat pinjaman, Pihak RTMM secara resmi telah meminta rescheduling melalui surat No.066/-INKOP-RTMM/XII/2004 tanggal 6 Desember 2004. f) Terhadap saldo pinjaman Inkopkar RTMM PT Jamsostek akan tetap menindaklanjuti dengan melakukan rescheduling. KOPAG SBSI : Menteri BUMN melalui Surat No.S-464/MBU/2004 tanggal 8 September 2004 tentang pengesahan pertanggungjawaban atas pengelolaan Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta (DPKP), tahun 2001, 2002 dan 2003 yang pada prinsipnya dapat menyetujui penyaluran dana Program DPKP bersifat hibah kepada KOPAGSBSI untuk pembangunan BLK Non-Pemerintah. PT HAVILAH : a) Pinjaman kepada PT Havilah telah dikembalikan oleh Tim Percepatan Penyelesaian PHK Massal PT Havilah Citra Footwear. Sesuai Surat Direktur Utama PT Jamsostek No.B/9410/102004 tanggal 20 Oktober 2004 tentang Penyelesaian atas Pinjaman Dana PT Havilah Citra Footwear dan dituangkan dalam Perjanjian antara PT Jamsostek dengan Tim Percepatan Penyelesaian Dalam pengesahan tersebut telah disetujui penyaluran dana program DPKP bersifat hibah kepada Inkopkar RTMM

111

BPK-RI/AUDITAMA V

PHK Massal PT Havilah Citra Footwear No.PER/107/112004, jumlah yang dikembalikan adalah sebesar Rp1.550.000.000,00 (satu milyar lima ratus lima puluh juta rupiah). b) Sisanya sejumlah Rp525.170.196,00 akan diusulkan kepada RUPS untuk di write off, karena tidak mungkin ditagih kembali. KOPKAR JAKARTA HILTON : a) PT Jamsostek telah menyampaikan surat Nomor.B/2535/042003 tanggal 15 April 2003, kepada Sdr.Mardiano tentang penyelesaian pinjaman DPKP, bahwa apabila tidak dapat dipenuhi, maka akan diserahkan kepada DJPLN. b) Atas Piutang macet ini telah diserahkan kepada KP2LN berdasarkan Surat PT Jamsostek Nomor.B/2855/042004 tgl. 1 April 2004 tentang Penyerahan Piutang macet Program DPKP & PUKK. c) Telah dilaksanakan Penelitian Lapangan atas Piutang Macet ini bersama KP2LN Jakarta V sesuai dengan surat No.B/40/012005 tanggal 4 Januari 2005. d) Berdasarkan hasil penelitian lapangan sesuai surat Kepala KP2LN Jakarta V Nomor. S-224/WPL.03/KP.05/2005 tanggal 17 Februari 2005, Terhadap Piutang Macet ini Sdr. Mardiano menyatakan akan menyelesaikan hutangnya secara langsung di PT Jamsostek Kantor Pusat. e) Pada tanggal 22 Februari 2005 Sdr.Mardiano hadir di Kantor Pusat PT Jamsostek dan siap menyerahkan tanah sebagai pengganti hutangnya kepada PT Jamsostek dan akan menyampaikan surat permohonan untuk menyelesaikan pinjamannya dengan sebidang tanah. YAPPARI : a) Ketua YAPPARI (Sdr.Sudarno) selaku penanggung jawab pinjaman uang muka perumahan bagi karyawan hotel-hotel di Jakarta telah meninggal pada bulan Agustus 2001 disamping itu YAPPARI saat ini sudah bubar. Dengan demikian, akan menjadi sulit untuk melakukan penagihan atas pinjaman dimaksud.

112

BPK-RI/AUDITAMA V

b) Atas piutang macet ini telah diserahkan kepada KP2LN berdasarkan surat Nomor. B/2847/042004 tanggal 01 April 2004 tentang Penelitian Lapangan terhadap Mitra Binaan PUKK. c) Telah dilaksanakan Penelitian Lapangan atas piutang macet ini bersama KP2LN Jakarta V sesuai dengan surat No.B/40/012005 tanggal 4 Januari 2005. d) Berdasarkan hasil penelitian lapangan sesuai surat Kepala KP2LN Jakarta V No.S-224/WPL.03/KP.05/2005 tanggal 17 Februari 2005 piutang macet ini dinyatakan sulit ditagih karena alamat tidak diketemukan, yang selanjutnya dapat diusulkan untuk penghapusbukuan di DJPLN. Terhadap permasalahan tersebut masih perlu dipantau tindak lanjutnya karena pinjaman kepada Inkop RTMM, Kopkar JHI, YAPPARI belum selesai, dan sisa pinjaman PT Havilah akan diusulkan kepada RUPS untuk di write off karena tidak mungkin ditagih kembali, sehingga belum memenuhi saran BPK-RI. Sedangkan penyaluran hibah sebesar Rp4.200,00 kepada Inkop RTMM dan Kopag SBSI, Menteri BUMN melalui surat No.S464/MBU/2004 tanggal 8 September 2004 menyetujui penyaluran hibah tersebut. 4) Hasil Pemeriksaan Tahun 2000/1999 Pemberian pinjaman Dana Talangan Modal Kerja (DTMK) kepada kontraktor sebesar Rp3.176,08 juta tidak sesuai dengan tujuan pedoman umum DPKP. BPK-RI menyarankan agar: a) Direksi selalu berpedoman pada ketentuan yang berlaku dalam mengambil kebijakan yang berhubungan dengan Program DPKP. b) Terhadap piutang dana talangan modal kerja yang belum dilunasi agar terus dilakukan penagihan melalui kerjasama dengan pihak Departemen Pekerjaan Umum dan Gapensi. c) Mekanisme pengembalian Dana Talangan Modal Kerja dari kontraktor disempurnakan dengan melibatkan pihak Departemen PU dan Gapensi, serta dilaksanakan secara konsisten.

113

BPK-RI/AUDITAMA V

Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa : a) Pada saat ini PT Jamsostek telah melaksanakan program DPKP sesuai dengan ketentuan yang berlaku. b) Pada saat pemberian DTMK memang melibatkan Departemen Pekerjaan Umum dan Gapensi, tetapi saat ini Departemen PU di daerah tidak ada lagi. c) Sehubungan dengan penjelasan butir b) di atas Direksi PT Jamsostek telah mengusahakan penagihan melalui KP2LN dengan memerintahkan kepada Kantor Wilayah untuk berkoordinasi dengan KP2LN setempat melalui surat Nomor. B/8622/092004 tanggal 28 September 2004 . Terhadap permasalahan tersebut masih perlu dipantau tindak lanjutnya karena pengembalian pinjaman tersebut masih macet, sehingga belum memenuhi saran BPK-RI. Sedangkan penyaluran hibah sebesar Rp4.200,00 juta kepada Inkop RTMM dan Koperasi Anggota SBSI, Menteri BUMN melalui surat No.S-464/MBU/2004 tanggal 8 September 2004 menyetujui penyaluran hibah tersebut. b. Tindak Lanjut Temuan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Perkembangan tindak lanjut temuan-temuan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan dan analisa atas upaya-upaya penyelesaiannya diketahui bahwa berdasarkan rekapitulasi berita acara pemutakhiran temuan BPKP atas program DPKP tahun 2000 s.d. 2002 sebanyak 13 temuan sembilan temuan diantanya disimpulkan tuntan. Selanjutnya empat temuan lainnya Direksi PT Jamsostek masih melakukan upaya penyelesaian, yaitu:
1) Temuan tahun 2001

Pemberian pinjaman sebesar Rp8.000.000.000,00 kepada Induk Koperasi Pekerja Rokok, Tembakau, Makanan dan Minuman (RTMM) yang beralamat Jl. Panjang No.10, Kebun Jeruk Jakarta Barat yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku karena sebelum menerima bantuan tidak mempunyai asset sama sekali. Terhadap permasalahan diatas Direktur Utama PT Jamsostek harus mempertanggungjawabkan penyimpangan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). penyimpangan yang terjadi dalam

114

BPK-RI/AUDITAMA V

Direksi PT Jamsostek menjelaskan bahwa Direksi PT Jamsostek sudah menyampaikan kepada RUPS Laporan Keuangan tahun 2001, dan hingga saat ini belum mendapat pengesahan dari RUPS. Menteri BUMN melalui surat No.S-464/MBU/2004 tanggal 8 September 2004 menyetujui penyaluran hibah kepada KOPAG SBSI dan Inkop RTMM masingmasing sebesart Rp1.200,00 juta dan Rp3.000,00 juta.
2) Temuan Tahun 2000 a) Pemberian pinjaman uang muka perumahan (PUMP) kepada Koperasi

Karyawan Jakarta Hilton (Perjanjian No.PER/11/122000 tanggal 20 Desember 2000) belum dipertanggung jawabkan karena bermasalah yaitu perjanjian pinjaman didukung dengan dokumen penunjang palsu.
b) Pemberian pinjaman uang muka perumahan kepada Koperasi Karyawan

Pekerja

Pariwisata

Indonesia

(YAPPARI)

senilai

Rp789.000.000,00

diindikasikan fiktif
c) Pinjaman Dana Talangan Modal Kerja (DTMK) kepada kontraktor anggota

Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (GAPENSI) per 31 Desember 2001 senilai Rp1.284.112.500,00 untuk 55 kontraktor/proyek telah diangsur sebesar Rp106.837.160,00 sehingga saldo pinjaman DTMK per 31 Desember 2002 adalah sebesar Rp1.177.275.340,00. Direksi PT Jamsostek menjelaskan sebagai berikut:
a) Atas Piutang macet kepada Koperasi Karyawan Jakarta Hilton (Sdr. Mardiano)

telah diserahkan kepada KP2LN berdasarkan Surat No. B/2855/042004 tanggal 1 April 2004 tentang Penyerahan Piutang macet Program DPKP & PUKK
b) Atas Piutang macet kepada Koperasi Karyawan YAPPARI telah diserahkan

kepada KP2LN berdasarkan surat No.B/2847/042004 tanggal 01 April 2004 tentang Penelitian Lapangan terhadap Mitra Binaan PUKK
c) Pinjaman Dana Talangan Modal Kerja (DTMK) kepada GAPENSI telah

dilakukan verifikasi kembali atas pelunasan DTMK Tahun 2000 s/d 2002, dan posisi DTMK per 31 Desember 2003 sebesar Rp1.178.206.500,00. Terhadap

115

BPK-RI/AUDITAMA V

saldo tersebut akan diprioritaskan untuk dilaksanakan penagihan melalui kerjasama dengan DJPLN / KP2N. Temuan-temuan tersebut masih dipantau karena upaya penyelesaian tindak lanjutnya selain masih dalam proses ada juga yang terkait dengan pihak-pihak lain. BPK-RI menyarankan kepada Direksi lebih maksimal mengupayakan penyelesaian temuan-temuan pemeriksaan tersebut di atas. BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

116

BPK-RI/AUDITAMA V

Lampiran : 1/1

PENGADAAN AMBULANCE TAHUN 2004 DPKP DAN PKBL
NO SPK NILAI JENIS UNIT

PERUNTUKAN SORONG BOGOR SERANG LHOKSEUMAWE SORONG BOGOR SERANG LHOKSEUMAWE IMAM PRASOJO YAYASAN IBU DAN ANAK

HARGA /UNIT

AMBULAN PPN BBN

SUB TOTAL 292.000.000 292.000.000 292.000.000 292.000.000 250.000.000

KIRIM

BIAYA KIRIM, INSTALASI DAN TRAINING INSTAL &TRAIN SUB TOTAL PPN 16.400.000 1.800.000 2.500.000 15.000.000 1.640.000 180.000 250.000 1.500.000 35.700.000 3.570.000

SUBTOTAL 18.040.000 1.980.000 2.750.000 16.500.000 39.270.000

TOTAL

ANGGAR AN

BEBAN PPh Ps 23

Keterangan

1 SPK/01/012004 TGL 9 Januari 2004 1.457.270.000

TC 310.040.000 293.980.000 294.750.000 308.500.000 NON-TC 250.000.000 1.457.270.000

4 310.040.000 293.980.000 294.750.000 308.500.000 DPKP DPKP DPKP DPKP Tidak dapat dihitung karena tidak pisah antara biaya instalasi dan training dan biaya kirim

1 DKI

250.000.000 DPKP 1.457.270.000 -

TC 18 BINJAI PADANG MUARA ENIM DUMAI BATAM DKI DKI DKI SURAKARTA TANJUNG PERAK NTT NTB SAMARINDA KALSEL PONRIANAK PALANGKARAYA MAKASAR AMBON BINJAI PADANG MUARA ENIM DUMAI BATAM GROGOL BEKASI TANGERANG SURAKARTA TANJUNG PERAK NTT NTB SAMARINDA KALSEL PONRIANAK PALANGKARAYA MAKASAR AMBON 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 4.622.580.000

-

-

1.418.000.000

2 SPK/44/042004 TGL 1 APRIL 2004

5.481.117.000

305.799.000 305.799.000 304.776.000 305.799.000 307.845.000 294.975.000 294.975.000 294.975.000 305.799.000 305.799.000 307.845.000 307.845.000 306.822.000 306.822.000 305.799.000 307.845.000 304.776.000 306.822.000 5.481.117.000 TC 310.485.000 305.799.000 310.485.000 304.776.000 306.327.000 295.250.000 295.250.000 295.250.000 295.250.000 295.250.000 295.250.000 3.309.372.000 379.050.000,00 GIGI 1 11

25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 462.258.000

10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 180.162.000

292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 5.265.000.000

6.240.000 6.240.000 5.760.000 6.240.000 7.200.000 6.240.000 6.240.000 7.200.000 7.200.000 6.720.000 6.720.000 6.240.000 7.200.000 5.760.000 6.720.000 97.920.000

5.850.000 5.850.000 5.400.000 5.850.000 6.750.000 2.250.000 2.250.000 2.250.000 5.850.000 5.850.000 6.750.000 6.750.000 6.300.000 6.300.000 5.850.000 6.750.000 5.400.000 6.300.000 98.550.000

12.090.000 12.090.000 11.160.000 12.090.000 13.950.000 2.250.000 2.250.000 2.250.000 12.090.000 12.090.000 13.950.000 13.950.000 13.020.000 13.020.000 12.090.000 13.950.000 11.160.000 13.020.000 196.470.000

1.209.000 1.209.000 1.116.000 1.209.000 1.395.000 225.000 225.000 225.000 1.209.000 1.209.000 1.395.000 1.395.000 1.302.000 1.302.000 1.209.000 1.395.000 1.116.000 1.302.000 19.647.000

13.299.000 13.299.000 12.276.000 13.299.000 15.345.000 2.475.000 2.475.000 2.475.000 13.299.000 13.299.000 15.345.000 15.345.000 14.322.000 14.322.000 13.299.000 15.345.000 12.276.000 14.322.000 216.117.000

305.799.000 305.799.000 304.776.000 305.799.000 307.845.000 294.975.000 294.975.000 294.975.000 305.799.000 305.799.000 307.845.000 307.845.000 306.822.000 306.822.000 305.799.000 307.845.000 304.776.000 306.822.000 5.481.117.000

DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP

351.000 351.000 324.000 351.000 405.000 135.000 135.000 135.000 351.000 351.000 405.000 405.000 378.000 378.000 351.000 405.000 324.000 378.000 5.913.000

3 SPK/89/062004 TGL 15 JUNI 2004 3.309.372.000

BANDA ACEH KISARAN BATAM II BENGKULU TARAKAN DKI DKI DKI DKI DKI DKI

BANDA ACEH KISARAN BATAM II BENGKULU TARAKAN DKI DKI DKI DKI DKI DKI

256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 256.810.000 2.824.910.000

25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 25.681.000 282.491.000

10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 110.099.000

292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 292.500.000 3.217.500.000

10.500.000 6.240.000 10.500.000 5.760.000 6.720.000 39.720.000

5.850.000 5.850.000 5.850.000 5.400.000 5.850.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 43.800.000

16.350.000 12.090.000 16.350.000 11.160.000 12.570.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 83.520.000

1.635.000 1.209.000 1.635.000 1.116.000 1.257.000 250.000 250.000 250.000 250.000 250.000 250.000 8.352.000

17.985.000 13.299.000 17.985.000 12.276.000 13.827.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000 91.872.000

310.485.000 305.799.000 310.485.000 304.776.000 306.327.000 295.250.000 295.250.000 295.250.000 295.250.000 295.250.000 295.250.000 3.309.372.000

DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP

351.000 351.000 351.000 324.000 351.000 150.000 150.000 150.000 150.000 150.000 150.000 2.628.000

4 SPK/113/072004 TGL 28 JULI 2004

DKI

DKI

-

-

-

-

-

-

-

-

-

379.050.000 DPKP 379.050.000

BPK-RI/AUDITAMA V

Lampiran : 1/2

NO

SPK

NILAI

JENIS

UNIT

PERUNTUKAN

HARGA /UNIT

AMBULAN PPN BBN

SUB TOTAL

KIRIM

BIAYA KIRIM, INSTALASI DAN TRAINING INSTAL &TRAIN SUB TOTAL PPN

SUBTOTAL

TOTAL

ANGGAR AN

BEBAN PPh Ps 23

Keterangan

5 SPK/133/082004 TGL 19 AGUST 2004 900.759.000

TC 302.289.000

1 BATU RAJA 2 NTT LAHAT 1 LAHAT BATU RAJA NTT LAHAT LAHAT 256.810.000 167.000.000 167.000.000 164.000.000 754.810.000 25.681.000 16.700.000 16.700.000 16.400.000 75.481.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 40.036.000 292.500.000 193.709.000 193.709.000 190.409.000 870.327.000 3.500.000 7.200.000 4.500.000 4.500.000 19.700.000 5.400.000 4.500.000 4.500.000 4.500.000 18.900.000 8.900.000 11.700.000 9.000.000 9.000.000 38.600.000 890.000 1.170.000 900.000 900.000 3.860.000 9.790.000 12.870.000 9.900.000 9.900.000 42.460.000 302.290.000 DPKP 206.579.000 PKBL 203.609.000 PKBL 200.309.000 PKBL 912.787.000 324.000 270.000 270.000 270.000 1.134.000

202.570.000 BIASA 199.600.000 196.300.000 JENAZAH 900.759.000

6 SPK/134/082004 TGL 19 AGUST 2004 3.448.724.800

TC-PLUS 325.250.000 325.250.000 325.250.000 325.250.000 325.250.000 447.258.700 BERSALIN 453.308.700 460.953.700 460.953.700 3.448.724.800 14.976.292.800,00 14.377.822.800 598.470.000

5 DKI DKI DKI DKI DKI DKI DEMAK NTB NTB DKI DKI DKI DKI DKI DKI DEMAK NTB NTB 284.083.000 284.083.000 284.083.000 284.083.000 284.083.000 395.000.000 395.000.000 395.000.000 395.000.000 3.000.415.000 11.202.715.000 28.408.300 28.408.300 28.408.300 28.408.300 28.408.300 39.500.000 39.500.000 39.500.000 39.500.000 300.041.500 1.120.271.500 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 10.009.000 90.081.000 420.378.000 322.500.300 322.500.300 322.500.300 322.500.300 322.500.300 444.509.000 444.509.000 444.509.000 444.509.000 3.390.537.500 14.161.364.500 3.500.000 7.200.000 7.200.000 17.900.000 175.240.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 4.500.000 7.750.000 7.750.000 35.000.000 196.250.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 8.000.000 14.950.000 14.950.000 52.900.000 407.190.000 377.490.000 29.700.000 250.000 250.000 250.000 250.000 250.000 250.000 800.000 1.495.000 1.495.000 5.290.000 40.719.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000 8.800.000 16.445.000 16.445.000 58.190.000 447.909.000 325.250.300 325.250.300 325.250.300 325.250.300 325.250.300 447.259.000 453.309.000 460.954.000 460.954.000 3.448.727.500 14.988.323.500 DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP DPKP 150.000 150.000 150.000 150.000 150.000 150.000 270.000 465.000 465.000 2.100.000 11.775.000 10.965.000 810.000

Beban DPKP Beban PKBL

BPK-RI/AUDITAMA V

Lampiran : 2/1
PERHITUNGAN BUNGA

Bank BANK ASIATIC

Bulan Apr-04 Mei-04 Jun-04 Jul-04 Agust-04 Sep-04 Okt-04 Nop-04 Des-04 Jan-05 Feb-05 Mar-05

Nominal Lama hari Suku Bunga 35.000.000.000,00 22 6,11 35.000.000.000,00 31 7,25 35.000.000.000,00 30 7,24 35.000.000.000,00 31 7,25 35.000.000.000,00 31 7,25 35.000.000.000,00 30 7,25 35.000.000.000,00 31 7,25 35.000.000.000,00 30 7,25 35.000.000.000,00 31 7,25 35.000.000.000,00 31 7,25 35.000.000.000,00 28 7,25 35.000.000.000,00 4 7,25 Sub jumlah 30.000.000.000,00 30.000.000.000,00 30.000.000.000,00 Sub jumlah 18.000.000.000,00 18.000.000.000,00 18.000.000.000,00 18.000.000.000,00 Sub jumlah Jumlah seluruhnya 18 28 14 7,25 7,25 7,25

Jml Bunga 130.686.111,11 218.506.944,44 211.166.666,67 218.506.944,44 218.506.944,44 211.458.333,33 218.506.944,44 211.458.333,33 218.506.944,44 218.506.944,44 197.361.111,11 28.194.444,44 2.301.366.666,67 108.750.000,00 169.166.666,67 84.583.333,33 362.500.000,00 67.210.000,00 112.375.000,00 108.600.000,00 79.750.000,00 367.935.000,00 3.031.801.666,67

BANK GLOBAL

Jan-05 Feb-05 Mar-05

BANK DAGANG BALI

Apr-04 Mei-04 Jun-04 Jul-04

22 31 30 22

6,11 7,25 7,24 7,25

BPK-RI/AUDITAMA V