Anda di halaman 1dari 9

Pengumpulan Data Geofisik Kimia pada Study AMDAL Pada study AMDAL, pengumpulan dan analisis data terhadap

parameter-parameter dari berbagai komponen lingkungan dilakukan untuk : 1. Menelaah, mengamati, dan mengukur rona lingkungan awal yang diprakirakan akan terkena dampak besar dan penting dari kegiatan pembangunan/Industri . 2. Menelaah, mengamati, dan mengukur komponen rencana kegiatan yang diprakirakan akan terkena dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Aspek Hidrologi Metoda Pengumpulan Data : Lingkup studi komponen lingkungan hidrologi meliputi komponen-komponen sebagai berikut : Air Permukaan, diukur menggunakan air limpasan (surface run off), dengan menilai kualitas air sungai (fisik, kimia, dan mikrobiologi). Sedangkan parameter lain adalah Air Tanah, dengan mengukur kuantitas air tanah (sumur penduduk & mata air). Selain parameter tersebut juga digunakan parameter Erosi dan Sedimentasi. Pengukuran debit aliran Deskripsi Singkat Debit aliran merupakan satuan untuk mendekati nilai-nilai hidrologis proses yang terjadi di lapangan. Kemampuan pengukuran debit aliran sangat diperlukan untuk mengetahui potensi sumberdaya air di suatu wilayah DAS. Debit aliran dapat dijadikan sebuah alat untuk memonitor dan mengevaluasi neraca air suatu kawasan melalui pendekatan potensi sumberday aair permukaan yang ada. Pengukuran Kecepatan Arus Sungai Perlu diingat bahwa distribusi kecepatan aliran di dalam alur tidak sama arah horisontal maupun arah vertikal. Dengan kata lain kecepatan aliran pada tepi alur tidak sama dengan tengah alur, dan kecepatan aliran dekat permukaan air tidak sama dengan kecepatan

pada

dasar

alur.

Distribusi A : teoritis

Kecepatan

Aliran

B : dasar saluran kasar dan banyak tumbuhan C : gangguan permukaan (sampah) D : aliran cepat, aliran turbulen pada dasar E : aliran lambat, dasar saluran halus F : dasar saluran kasar/berbatu Ada beberapa metode pengukuran debit aliran sungai yaitu :

Area-velocity method Tracer method Slope area method Weir dan flume Volumetric methodArea

Velocity Method

Pada prinsipnya adalah pengukuran luas penampang basah dan kecepatan aliran. Penampang basah (A) diperoleh dengan pengukuran lebar permukaan air dan pengukuran kedalaman dengan tongkat pengukur atau kabel pengukur. Kecepatan aliran dapat diukur dengan metode : metode current-meter dan metode apung.

Current meter adalah alat untuk mengukur kecepatan aliran (kecepatan arus). Ada dua tipe current meter yaitu tipe baling-baling (proppeler type) dan tipe canting (cup type). Oleh karena distribusi kecepatan aliran di sungai tidak sama baik arah vertikal maupun horisontal, maka pengukuran kecepatan aliran dengan alat ini tidak cukup pada satu titik. Debit aliran sungai dapat diukur dengan beberapa metode. Tidak semua metode pengukuran debit cocok digunakan. Pemilihan metode tergantung pada kondisi (jenis sungai, tingkat turbulensi aliran) dan tingkat ketelitian yang akan dicapai. Pengukuran Debit dengan Cara Apung (Float Area Methode) Jenis-jenis Prinsip :

pelampung

dapat

dilihat

pada

Gambar

30.

kecepatan aliran (V) ditetapkan berdasarkan kecepatan pelampung (U) luas penampang (A) ditetapkan berdasarkan pengukuran lebar saluran (L) dan kedalaman saluran (D)

debit sungai (Q) = A x V atau A = A x k dimana k adalah konstanta = A x k x U

Q = debit (m3/det) U = kecepatan pelampung (m/det) A = luas penampang basah sungai (m2) k = koefisien pelampung

Pengukuran Prinsip :

Debit

dengan

Current-meter

kecepatan diukur dengan current meter luas penampang basah ditetapkan berdasarkan pengukuran kedalaman air dan lebar permukaan air. Kedalaman dapat diukur dengan mistar pengukur, kabel atau tali.

Pengukuran : Ada 4 cara pengukuran kecepatan aliran yang disajikan dalam Tabel berikut : Cara Pengukuran Kecepatan Aliran Keterangan :

Vs di ukur 0,3 m dari permukaan air Vb di ukur 0,3 m di atas dasar sungai

Kecepatan aliran dihitung berdasarkan jumlah putaran baling-baling per waktu putarannya (N = putaran/dt). Kecepatan aliran V = aN + b dimana a dan b adalah nilai kalibrasi alat current meter. Hitung jumlah putaran dan waktu putaran baling-baling (dengan stopwatch). Pengukuran Debit dengan Metode Kontinyu Current meter diturunkan kedalam aliran air dengan kecepatan penurunan yang konstant dari permukaan dan setelah mencapai dasar sungai diangkat lagi ke atas dengan kecepatan yang sama. Pengukuran Debit dengan Metode Kontinyu

Current meter diturunkan kedalam aliran air dengan kecepatan penurunan yang konstant dari permukaan dan setelah mencapai dasar sungai diangkat lagi ke atas dengan kecepatan yang sama.

sumber dari : http://mayong.staff.ugm.ac.id Menurut Limbong (2008), air permukaan adalah air hujan yang mengalir di permukaan bumi. Sedangkan menurut Soegianto (2005), air permukaan adalah air yang berasal dari hujan yang jatuh ke permukaan tanah, sebagian menguap dan sebagian lainnya mengalir ke sungai, saluran air, lalu disimpan di dalam danau, waduk dan rawa-rawa yang terdapat dalam suatu wilayah yang disebut watershed atau drainage basin (daerah aliran sungai atau DAS). Pada umumnya air permukaan akan mendapat pengotoran selama pengalirannya, misalnya oleh lumpur, batang-batang kayu, daun-daun, kotoran industri kota, dan sebagainya.

Pemantauan parameter-parameter kualitas air perlu dilakukan dalam melakukan pengelolaan kualitas air pada suatu air permukaan, seperti Daerah Aliran Sungai (DAS). Menurut Erianto, E.W. dan B. Machbub (2004) pada umumnya pemantauan kualitas air dilakukan baik secara berkelanjutan maupun berkala (time series) tergantung kebutuhan dan dana yang ada. Pemantauan kualitas air tersebut, diharapkan dapat memberikan gambaran tentang kondisi umum kualitas air secara cepat, sehingga data dapat disajikan secara tepat waktu (real time).

Klasifikasi mutu air ditetapkan menjadi 4 (empat) kelas (Pasal 8 dalam PP Nomor 82, 2001): 1. Kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang memper-syaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; 2. Kelas dua, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau

peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; 3. Kelas tiga, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;

4. Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

Metoda Pengambilan Contoh Air Tanah SNI 6989.58:2008 Air dan air limbah Bagian 58: Metoda pengambilan contoh air tanah. Dalam rangka menyeragamkan teknik pengambilan contoh air limbah sebagaimana telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 37 Tahun 2003 tentang Metode analisis pengujian kualitas air permukaan dan pengambilan contoh air permukaan, maka dibuatlah Standar Nasional indonesia (Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang), Air dan air limbah Bagian 58: Metode pengambilan contoh air tanah. SNI ini diterapkan untuk teknik pengambilan contoh air limbah sebagaimana yang tercantum di dalam Keputusan Menteri tersebut.

Metoda ini digunakan untuk pengambilan contoh air guna keperluan pengujian sifat fisika dan kimia air tanah. PENENTUAN TITIK PENGAMBILAN CONTOH Titik pengambilan contoh Titik pengambilan contoh ditentukan berdasarkan pada tujuan pemeriksaan. Titik pengambilan contoh air tanah harus memperhatikan pola arah aliran air tanah, dapat berasal dari air tanah bebas (tak tertekan) dan air tanah tertekan. Air tanah bebas (akuifer tak tertekan)

Titik pengambilan contoh air tanah bebas dapat berasal dari sumur gali dan sumur pantek atau sumur bor dengan penjelasan sebagai berikut: a. di sebelah hulu dan hilir sesuai dengan arah aliran air tanah dari lokasi yang akan di pantau; b. di daerah pantai dimana terjadi penyusupan air asin dan beberapa titik ke arah daratan, bila diperlukan; c. tempat-tempat lain yang dianggap perlu tergantung pada tujuan pemeriksaan. Air tanah tertekan (akuifer tertekan) Titik pengambilan contoh air tanah tertekan dapat berasal dari sumur bor yang berfungsi sebagai: a. sumur produksi untuk pemenuhan kebutuhan perkotaan, pedesaan, pertanian, industri dan sarana umum. b. sumur-sumur pemantauan kualitas air tanah. c. sumur observasi untuk pengawasan imbuhan. d. sumur observasi di suatu cekungan air tanah artesis. e. sumur observasi di wilayah pesisir dimana terjadi penyusupan air asin. f. sumur observasi penimbunan atau pengolahan limbah domestik atau limbah industri.

Keterangan gambar: 1. Sumur observasi untuk pemantauan dampak pencemaran pertanian 2. Sumur observasi untuk pemantauan dampak pencemaran industri 3. Sumur observasi untuk pemantauan dampak pencemaran intrusi air laut Infiltrasi Deskripsi Singkat

Infiltrasi dari segi hidrologi penting, karena hal ini menandai peralihan dari air permukaan yang bergerak cepat ke air tanah yang bergerak lambat dan air tanah. Kapasitas infiltrasi suatu tanah dipengaruhi oleh sifat-sifat fisiknya dan derajat kemampatannya, kandungan air dan permebilitas lapisan bawah permukaan, nisbi air, dan iklim mikro tanah. Air yang berinfiltrasi pada sutu tanah hutan karena pengaruh gravitasi dan daya tarik kapiler atau disebabkan juga oleh tekanan dari pukulan air hujan pada permukaan tanah. Infiltrasi adalah proses masuknya air dari permukaan ke dalam tanah. Perkolasi adalah gerakan aliran air di dalam tanah (dari zone of aeration ke zone of saturation). Infiltrasi berpengaruh terhadap saat mulai terjadinya aliran permukaan dan juga berpengaruh terhadap laju aliran permukaan (run off). Faktor yang Berpengaruh Terhadap Laju Infiltrasi Beberapa faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi laju infiltrasi adalah : 1. Dalamnya genangan di atas permukaan tanah dan tebal lapisan yang jenuh. 2. Kelembaban tanah 3. Pemampatan tanah oleh curah hujan 4. Penyumbatan oleh bahan yang halus (bahan endapan) 5. Pemampatan oleh orang dan hewan 6. Struktur tanah 7. Tumbuh-tumbuhan 8. Udara yang terdapat dalam tanah 9. Topografi 10. Intensitas hujan 11. Kekasaran permukaan 12. Mutu air 13. Suhu udara 14. Adanya kerak di permukaan.