Anda di halaman 1dari 3

Setelah sempat mendapat sorotan tajam dari berbagai pihak akibat raibnya 'ayat tembakau', UndangUndang No.

36 Tahun 2009 tentang Kesehatan kembali mendapat ujian. Kali ini giliran perawat yang mempersoalkan UU tersebut, khususnya Pasal 108. Adalah Misran, Kepala Puskesmas Pembantu di pedalaman Kuala Samoja, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, yang pertama kali mempermasalahkan Pasal 108 tersebut. Tidak tanggung-tanggung, bersama 12 perawat lainnya, Misran mengajukan permohonan judicial review atau uji materi atas Pasal 108 UU Kesehatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Mereka meminta pasal tersebut dihapus karena tidak sesuai dengan konstitusi. Sidang uji materi itu telah digelar pada 6 Mei. Permohonan uji materi tersebut dilakukan sebagai wujud kekecewaan Misran karena merasa diperlakukan tidak adil. Dia divonis hukuman 3 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Tenggarong pada 19 November 2009 karena memberikan obat keras atau obat daftar G kepada pasiennya. Yang bersangkutan dianggap melanggar Pasal 108 Ayat (1) yang menyebutkan bahwa praktik kefarmasian hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Putusan PN Tenggarong ini telah dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Samarinda. Misran berargumentasi bahwa tindakan itu terpaksa dilakukan karena di wilayah tempat dia praktik tidak ada tenaga kefarmasian/apoteker dan dokter yang bertugas, karena lokasinya terpencil. Jika obat tidak diberikan, dikhawatirkan nyawa pasien akan terancam. Perjuangan Misran mendapat dukungan dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Menurut Ketua Umum PPNI Achiryani S Hamid, UU Kesehatan Pasal 108 sangat merugikan perawat, khususnya yang bertugas di daerah terpencil. Ketua Umum IDI Prio Sidi Pratomo berpendapat ketentuan yang menyebutkan bahwa hanya tenaga kefarmasian yang boleh memberikan obat dapat merugikan masyarakat. Dia pun meminta pemerintah merevisi penjelasan UU Kesehatan Pasal 108 Ayat (1) tersebut. "Pasal ini tidak bertentangan dengan konstitusi. Tapi penjelasan pasal tersebut harus direvisi demi melindungi masyarakat dan melindungi tenaga medis secara hukum," ujar Prio. Namun, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) justru berpendapat berbeda. Menurut Ketua Umum IAI Dani Pratomo, Pasal 108 UU Kesehatan sudah benar dan sesuai dengan konstitusi. Dia malah khawatir jika Pasal 108 dicabut akan berakibat sangat luas, yaitu praktik kefarmasian menjadi

tidak terkendali. "Jika Pasal 108 dicabut, berarti semua orang bisa memberikan obat berbahaya, tidak ada lagi kontrol dan pengawasan. Kalau sudah begini, yang dirugikan adalah masyarakat dan pasien," tuturnya. Racun bermanfaat Dekan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Prof. Achmad Syahrani mengingatkan untuk tidak bermain-main dengan yang obat. "Obat adalah racun yang bermanfaat. Artinya, obat akan bermanfaat jika diberikan dalam dosis yang tepat. Namun, obat bisa menjadi racun yang mematikan jika tidak sesuai dengan dosis," ujarnya. Itulah sebabnya obat harus ditangani oleh tenaga kesehatan yang ahli dan berkompeten, dalam hal ini apoteker. Menurut dia, tenaga kesehatan (apoteker, dokter, perawat, dan ahli nutrisi) punya peran dan fungsi masing-masing, tidak bisa dicampuradukkan satu sama lain seperti diatur dalam UU Kesehatan. Wewenang apoteker bahkan telah diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 51/2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. PP ini dengan tegas menyatakan tenaga kesehatan yang berwenang melakukan pekerjaan kefarmasian adalah apoteker. Dengan demikian, jangankan perawat atau mantri, dokter sekalipun tidak diperkenankan melakukan praktik kefarmasian. Kewenangan dokter diatur terpisah dalam UU No. 29/2004. Namun, dokter diperkenankan melakukan praktik kefarmasian secara terbatas dalam kondisi tertentu. Adapun, aturan tentang perawat juga sudah ada, yakni SK Menteri Kesehatan No. 1239/2001 tentang Registrasi dan Praktik Perawat. Dengan SK tersebut, perawat memiliki legitimasi dalam menjalankan praktik profesinya. Paradigma perawat pun mulai bergeser dari sekadar perpanjangan tangan dokter menjadi mitra sejajar dokter. Menurut anggota Dewan Penasihat IAI Ahaditomo, perangkat aturan yang ada saat ini, baik UU Kesehatan maupun UU Praktik Kedokteran dan PP 51 tentang pekerjaan kefarmasian sudah lengkap dan komprehensif, termasuk aturan mengenai kondisi darurat antara lain bencana dan daerah terisolasi seperti di daerah tempat Misran menjalankan praktiknya. IAI menengarai ada pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan kasus Misran ini untuk tujuan tertentu, yaitu ingin mengobok-obok PP No. 51/2009. Sebab, jika MK mengabulkan permohonan Misran dan kawan-kawan, dengan membatalkan Pasal 108 berikut penjelasannya, keberadaan PP 51 tentu terancam dicabut, atau paling tidak harus direvisi. Lalu, bagaimana jika MK menolak permohonan Misran dan kawan-kawan? "Tetap masih ada celah yang bisa dimanfaatkan," kata Ahaditomo.

Celah dimaksud adalah menyangkut status dari PP 51 itu sendiri. PP 51/2009 merupakan peraturan pelaksanaan dari Pasal 63 UU No. 23/1992 tentang Kesehatan yang sudah dinyatakan tidak berlaku lagi dan diganti dengan UU No. 36/2009. Adapun, peraturan pelaksanaan dari UU No. 36/2009 khususnya Pasal 108 hingga kini belum ada. Namun, berhubung substansi yang terkandung dalam PP 51 pada dasarnya masih sejalan dengan Pasal 108 UU No. 36/2009, dan tetap dianggap sah secara hukum karena diperkuat oleh Pasal 203 UU itu, maka celah yang bisa dimanfaatkan hanyalah sebatas pada penyesuaian atau peralihan peraturan pelaksanaan dari Pasal 63 UU No. 23/1992 kepada Pasal 108 UU No. 36/2009. IAI tidak keberatan jika ada penyesuaian, sepanjang tidak mengubah substansinya. IAI berharap penyesuaian hanya pada sistem penomoran PP, dari 51 menjadi 52 misalnya, dan penyesuaian judul PP dari 'pekerjaan kefarmasian' menjadi 'praktik kefarmasian'. "Namun, jika ada pihak-pihak yang berupaya mengintervensi pemerintah yang mengakibatkan terjadinya perubahan secara substansi dari PP 51, ini sungguh naf, persoalan kecil bisa mengubah peraturan yang levelnya begitu tinggi," tutur Ahaditomo. Padahal kasus yang dialami Misran sebenarnya tidak perlu terjadi andai saja dia memiliki surat izin yang disebut surat simpan obat atau SIMO. "Jadi bukan undang-undangnya yang salah, melainkan pelaksananya yang tidak mematuhi aturan." Agar kasus Misran tidak terulang, pemerintah perlu melakukan langkah konkret, tanpa harus merevisi UU Kesehatan. Langkah dimaksud pertama, pembenahan pada implementasi di lapangan. Menteri Kesehatan dan jajaran dinas kesehatan provinsi dan kabupaten diharapkan memperbaiki tata cara pelayanan kefarmasian, khususnya menyimpan dan melakukan pelayanan kefarmasian kepada pasien berdasarkan tata cara yang berlangsung selama ini.

Beri Nilai