Anda di halaman 1dari 3

Labyrinthitis Labyrinthitis adalah peradangan dari telinga bagian dalam yang bertulang atau berselaput (labyrinth).

Ingat bahwa telinga bagian dalam terbentuk dari komponen-komponen keseimbangan (vestibular) dan pendengaran (auditory). Labyrinth yang bertulang melingkungi dan melindungi labyrinth berselaput yang lembut. Pada umumnya, infeksiinfeksi bakteri mempengaruhi labyrinth bertulang dan infeksi-infeksi virus mempengaruhi labyrinth berselaput. Bacterial labyrinthitis: Ada tiga tipe-tipe dari infeksi-infeksi bakteri yang dapat menjurus pada labyrinthitis: toxic labyrinthitis, acute suppurative (mengandung nanah) labyrinthitis, dan syphilitic labyrinthitis. Pada toxic labyrinthitis, racun-racun bakteri dari telinga bagian tengah menyerang telinga bagian dalam dengan melewati (diffusing) melalui jendela yang bulat dari telinga bagian dalam. Kehilangan pendengaran dan ketidakseimbangan kedua-duanya dapat terjadi. Perawatan termasuk antibiotik-antibiotik yang diarahkan pada bakteri-bakteri, sayatan dari gendang telinga, dan pengaliran dari ruang telinga bagian tengah. Suppurative labyrinthitis adalah relatif tidak umum. Ia adalah infeksi bakteri yang dikarakteristikan oleh penimbulan yang tiba-tiba (akut) dari vertigo yang berhubungan dengan kehilangan pendengaran. Ia seringkali adalah akibat dari infeksi-infeksi telinga bagian tengah yang kronis yang menciptakan massa yang mengeras dari puing-puing dan kolesterol (cholesteatoma). Massa yang keras mengikis kepadatan yang mengelilingi tulang dari telinga bagian dalam, dengan demikian memaparkan telinga bagian dalam pada infeksi. Sumber lain dari suppurative labyrinthitis adalah dari peradangan selaput otak (meninges) yang disebut meningitis. Syphilitic labyrinthitis juga adalah infeksi bakteri dari telinga bagian dalam. Ia dapat hadir pada kelahiran (congenital) atau diperoleh. Gejala-gejala biasanya berfluktuasi dan berkembang secara perlahan. Namun ada kemajuan yang tak menaruh kasihan ke kehilangan pendengaran dan keseimbangan yang sangat besar atau total. Episode yang tiba-tiba (akut) dari ketulian atau dizziness (kepeningan), bagaimanapun, mugkin terjadi. Bentuk bawaan (sejak lahir) dari syphilitic labyrinthitis mungkin mempunyai penimbulanpenimbulan gejala-gejalanya dimanapun dari kelahiran sampai umur 70 tahun. Kejadian puncak adalah antara umur 30 dan 50 tahun. Tanda-tanda lain dari congenital syphilis seringkali juga hadir, seperti peradangan mata (interstitial keratitis) yang kronis pada 90% dari pasien-pasien, Hutchinson's notched teeth, hidung bentuk pelana atau sadel, dan pembengkakan dahi (frontal bossing). Syphilitic labyrinthitis seringkali dikacaukan dengan penyakit Meniere. Diagnosis dari syphilis ditegakan dengan menemukan tes penyerapan serum antibodi fluorescent treponemal pada pasien dengan sejarah klinis yang khas dari kehilangan pendengaran dan vertigo yang berfluktuasi dan progresif. Hasil tes serum Venereal Disease Research Laboratory (VDRL) adalah positif pada hanya 75% dari kasus-kasus, membuatnya pengujian yang tak dapat dipercaya untuk syphilitic labyrinthitis. Pemeriksaan dari cairan cerebrospinal (cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang), bagaimanapun, mungkin menunjukan tes VDRL yang positif atau kehadiran dari tipe tertentu dari sel darah putih (lymphocytes) dalam cairan. Perawatan adalah dengan dosis penicillin yang tinggi dan obat-obat tipe cortisone.

Viral labyrinthitis (vestibular neuronitis): Labyrinthitis yang disebabkan oleh infeksi virus adalah kondisi yang umum. Ia biasanya dirujuk sebagai vestibular neuronitis, viral labyrinthitis, atau viral neurolabyrinthitis. Meskipun penyebab virus untuk penyakit ini masih belum dibuktikan dengan tegas, banyak studi-studi populasi (epidemiological) dan jaringan microscoscopy (histopathological) yang dilakukan dengan baik mendukung penyebab virus. Secara khas, penimbulan yang berangsur-angsur dari vertigo, mual, dan muntah terjadi melalui waktu beberapa jam. Gejala-gejala mencapai puncak dalam waktu 24 jam dan kemudian berangsur-angsur membaik melalui waktu beberapa hari. Kebanyakan pasienpasien mempunyai kesembuhan sepenuhnya dalam waktu 6 minggu. Perawatan diarahkan pada penekanan gejala-gejala. Ini termasuk vestibular suppressants sepertidiazepam (Valium), latihan-latihan vestibular, dan hidrasi. Beberapa bukti menyarankan bahwa obatobat dosis tinggi tipe cortisone yang diberikan pada awal penyakit dengan atau tanpa antiviral agents mungkin bermanfaat.

Perilymphatic Fistula Cairan perilymphatic merendam struktur-struktur yang berselaput (vestibule, semicircular canals, dan cochlea) dari telinga bagian dalam. (Struktur-struktur ini diisi dengan cairan lain yang disebut endolymph). Perilymphatic fistula terjadi ketika ada kebocoran cairan perilymphatic dari lubang antara bagian dari telinga bagian dalam dan telinga bagian tengah atau mastoid. Lubang ini dapat berakibat dari operasi, trauma, infeksi, kelainan perkembangan (sebelum lahir), atau perubahan yang tiba-tiba dalam tekanan. Pada situasisituasi yang jarang, ia dapat terjadi tanpa segala penyebab yang jelas. Pasien-pasien dengan perilymphatic fistula biasanya mengeluh timbulnya yang tiba-tiba dari vertigo atau dizziness. Pada lebih dari 50% dari pasien-pasien, kehilangan pendengaran sepenuhnya juga terjadi. Diagnosis hanya dapat dikonfirmasikan pada operasi ketika lubang terlihat secara aktual. Meskipun kebanyakan perilymphatic fistulas akan sembuh secara spontan dengan beristirahat, pada beberapa situasi-situasi, operasi dilakukan untuk menambal lubang.

Labyrinthitis and Vestibular Neuritis Labyrinthitis and vestibular neuritis are disorders resulting from an infection that inflames the inner ear or the vestibulo-cochlear nerve (the eighth cranial nerve), which connects the inner ear to the brain. Vertigo, dizziness, and difficulties with balance, vision, or hearing may result. Infections of the inner ear are usually viral; less commonly, the cause is bacterial. Although the symptoms of bacterial and viral infections may be similar, the treatments are very different, so proper diagnosis by a physician is essential. Such inner ear infections are not the same as middle earinfections, which are the type of bacterial infections common in childhood affecting the area around the eardrum.

Neuritis (inflammation of the nerve) affects the vestibular branch of the vestibulo-cochlear nerve, resulting in dizziness or vertigo but no change in hearing. The term neuronitis is also used. Labyrinthitis (inflammation of the labyrinth) occurs when an infection affects both branches of the nerve, resulting in hearing changes as well as dizziness or vertigo. An inner ear viral infection may be the result of a systemic viral illness (one affecting the rest of the body, such as infectious mononucleosis or measles); or the infection may be confined to the labyrinth or the vestibulo-cochlear nerve. Usually, only one ear is affected. Symptoms of neuritis can be mild or severe, ranging from subtle dizziness to a violent spinning sensation (vertigo). They can also include nausea, vomiting, unsteadiness and imbalance, difficulty with vision, and impaired concentration. Sometimes the symptoms can be so severe that they affect the ability to sit up, stand, or walk. Labyrinthitis may produce the same symptoms, along with tinnitus (ringing or noises in the ear) and/or hearing loss. The onset is usually very sudden, with severe dizziness developing abruptly during routine daily activities. In other cases, the symptoms are present upon awakening in the morning. After a period of gradual recovery that may last several weeks, some people are completely free of symptoms. Others have chronic dizziness, if the virus has damaged the vestibular nerve. No specific tests exist to diagnose vestibular neuritis or labyrinthitis. When other illnesses have been ruled out, medications are often prescribed to control nausea and to suppress dizziness during the acute phase. Examples include Benadryl (diphenhydramine), Antivert (meclizine), Phenergen (promethazine hydrochloride), Ativan (lorazepam), and Valium (diazepam). Other medications that may be prescribed are steroids (e.g., prednisone), an antiviral drug (e.g., Acyclovir), or antibiotics (e.g., amoxicillin) if a middle ear infection is present.

Beri Nilai