P. 1
Drama Bahasa Indonesia : Legenda Candi Prambanan

Drama Bahasa Indonesia : Legenda Candi Prambanan

3.75

|Views: 23,627|Likes:
Dipublikasikan oleh bruh
An Indonesian drama text, of the legend of candi prambanan.
An Indonesian drama text, of the legend of candi prambanan.

More info:

Published by: bruh on Oct 12, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX or read online from Scribd
See more
See less

09/06/2015

original

Drama Bahasa Indonesia Legenda Candi Prambanan

Tokoh – Tokoh (karakter) :
       Roro Jonggrang : Putri 8E / 6 Bandung Bondowoso : Raymond 8E / 3 Prabu Baka : Ryan 8E / Jin : David 8E / Patih Gupolo : Yana 8E / 13 Dayang 1 : Dhita 8E / 32 Dayang 2, dan Rakyat : Tesya 8E / 40

Cerita Asli
Alkisah pada zaman dahulu kala di Jawa Tengah terdapat dua kerajaan yang bertetangga, Kerajaan Pengging dan Kerajaan Baka. Pengging adalah kerajaan yang subur dan makmur, dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Prabu Damar Maya. Prabu Damar Maya memiliki putra bernama Raden Bandung Bandawasa, seorang ksatria yang gagah perkasa dan sakti. Sedangkan kerajaan Baka dipimpin oleh raja denawa (raksasa) pemakan manusia yang kejam bernama Prabu Baka. Dalam memerintah kerajaannya, Prabu Baka dibantu oleh seorang Patih bernama Patih Gupala yang juga adalah raksasa. Akan tetapi meskipun berasal dari bangsa raksasa, Prabu Baka memiliki putri yang sangat cantik jelita bernama Rara Jonggrang. Prabu Baka berhasrat memperluas kerajaannya dan merebut kerajaan Pengging, karena itu bersama Patih Gupala mereka melatih balatentara dan menarik pajak dari rakyat untuk membiayai perang. Setelah persiapan matang, Prabu Baka beserta balatentaranya menyerbu kerajaan Pengging. Pertempuran hebat meletus di kerajaan Pengging antara tentara kerajaan Baka dan tentara kerajaan Pengging. Banyak korban jatuh dari kedua belah pihak. Akibat pertempuran ini rakyat Pengging menderita kelaparan, kehilangan harta benda, banyak di antara mereka yang tewas. Demi mengalahkan para penyerang, Prabu Damar Moyo mengirimkan putranya, Pangeran Bandung Bondowoso untuk bertempur melawan Prabu Baka. Pertempuran antara keduanya begitu hebat, dan berkat kesaktiannya Bandung Bondowoso berhasil mengalahkan dan membunuh Prabu Baka. Ketika Patih Gupolo melihat kematian junjungannya, ia segera melarikan diri mundur kembali ke kerajaan Baka. Pangeran Bandung Bondowoso mengejar Patih Gupolo hingga kembali ke kerajaan Baka. Ketika Patih Gupolo tiba di Keraton Baka, ia segera melaporkan kabar kematian Prabu Baka kepada Putri Rara Jongrang. Mendengar kabar duka ini sang putri bersedih dan meratapi kematian ayahandanya. Setelah kerajaan Baka jatuh ke tangan balatentara Pengging, Pangeran Bandung Bondowoso menyerbu masuk ke dalam Keraton (istana) Baka. Ketika pertama kali melihat Putri Rara Jonggrang, seketika Bandung Bondowoso terpikat, terpesona kecantikan sang putri yang luar biasa. Saat itu juga Bandung Bondowoso jatuh cinta dan melamar Rara Jonggrang untuk menjadi istrinya. Akan tetapi sang putri menolak lamaran itu, tentu saja karena ia tidak mau menikahi pembunuh ayahandanya dan penjajah negaranya. Bandung Bondowoso terus membujuk dan memaksa agar sang putri bersedia dipersunting. Akhirnya Rara Jonggrang bersedia dinikahi oleh Bandung Bondowoso, tetapi sebelumnya ia mengajukan dua syarat yang mustahil untuk dikabulkan. Syarat pertama adalah ia meminta dibuatkan sumur yang dinamakan sumur Jalatunda, syarat kedua adalah sang putri minta

Bandung Bondowoso untuk membangun seribu candi untuknya. Meskipun syarat-syarat itu teramat berat dan mustahil untuk dipenuhi, Bandung Bondowoso menyanggupinya. Segera dengan kesaktiannya sang pangeran berhasil menyelesaikan sumur Jalatunda. Setelah sumur selesai, dengan bangga sang Pangeran menunjukkan hasil karyanya. Putri Rara Jonggrang berusaha memperdaya sang pangeran dengan membujuknya untuk turun ke dalam sumur dan memeriksanya. Setelang Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur, sang putri memerintahkan Patih Gupolo untuk menutup dan menimbun sumur dengan batu, mengubur Bondowoso hidup-hidup. Akan tetapi Bandung Bondowoso yang sakti dan kuat gagah perkasa berhasil keluar dengan mendobrak timbunan batu itu. Sang pangeran sempat dibakar kemarahan akibat tipu daya sang putri, akan tetapi berkat kecantikan dan bujuk rayunya, sang putri berhasil memadamkan kemarahan sang pangeran. Untuk mewujudkan syarat kedua, sang pangeran bersemadi dan memanggil makhluk halus, jin, setan, dan dedemit dari dalam bumi. Dengan bantuan makhluk halus ini sang pangeran berhasil menyelesaikan 999 candi. Ketika Rara Jonggrang mendengar kabar bahwa seribu candi sudah hampir rampung, sang putri berusaha menggagalkan tugas Bondowoso. Ia membangunkan dayang-dayang istana, Patih Gupolo, dan perempuan-perempuan desa untuk mulai menumbuk padi. Ia kemudian memerintahkan agar membakar jerami di sisi timur. Mengira bahwa pagi telah tiba dan sebentar lagi matahari akan terbit, para makhluk halus lari ketakutan bersembunyi masuk kembali ke dalam bumi. Akibatnya hanya 999 candi yang berhasil dibangun dan Bandung Bondowoso telah gagal memenuhi syarat yang diajukan Rara Jonggrang. Ketika mengetahui bahwa semua itu adalah hasil kecurangan dan tipu muslihat Rara Jonggrang, Bandung Bondowoso amat murka dan mengutuk Rara Jonggrang menjadi batu. Maka sang putri pun berubah menjadi arca yang terindah untuk menggenapi candi terakhir. Menurut kisah ini situs Keraton Ratu Baka di dekat Prambanan adalah istana Prabu Baka, sedangkan 999 candi yang tidak rampung kini dikenal sebagai Candi Sewu, dan arca Durga di ruang utara candi utama di Prambanan adalah perwujudan sang putri yang dikutuk menjadi batu dan tetap dikenang sebagai Lara Jonggrang yang berarti "gadis yang ramping".

Naskah Drama
Narator : Alkisah pada zaman dahulu kala di Jawa Tengah terdapat dua kerajaan yang bernama Kerajaan Pengging dan Kerajaan Baka. Kerajaan Pengging dipimpin oleh Prabu Damar Maya. Ia memiliki putra bernama Raden Bandung Bandawasa, seorang ksatria yang gagah perkasa dan sakti. Sedangkan kerajaan Baka dipimpin oleh raja denawa bernama Prabu Baka. Ia memiliki patih bernama Patih Gupala yang juga adalah raksasa. Prabu Baka memiliki putri bernama Roro Jonggrang. Prabu Baka ingin memperluas kerajaannya dan merebut kerajaan Pengging.
Patih Gupolo : Tuan, saya datang. Mengapa engkau memanggil hamba? Prabu Baka : Patih Gupolo, aku berencana untuk memperluas wilayah kerajaan kita, hingga Kerajaan Pengging! Tetapi, bagaimanakah caranya? Roro Jonggrang : Ayah, maaf atas kelancanganku, tetapi, menurutku, satu – satunya cara supaya bisa menguasai Kerajaan Pengging, adalah untuk mengadakan perang melawannya! Prabu Baka : Jika itu satu – satunya cara, baiklah. Kita akan melakukannya. Tetapi, kita tidak punya persiapan yang cukup! Baiklah, Patih Gupolo, segera beritahukan kepada para prajurit, untuk segera mengumpulkan pajak dari rakyat, dan serahkan semuanya kepadaku! Bagi yang melawan, maka ia akan ku hukum. Patih Gupolo : Baiklah, tuanku.

Narator : Patih Gupolo dan para prajurit pun segera pergi, dan menarik pajak dari rakyat.
Patih Gupolo : Berikan uangmu untuk rajamu, Prabu Baka! Rakyat : Saya tidak memiliki apa – apa! Patih Gupolo : Pembohong! *menendang sebuah tong* Lalu, mengapa ada uang di sini?! Rakyat : Ampunilah hamba, tuan! Aku tidak memiliki apa – apa lagi! Aku dan keluargaku bisa meninggal tanpanya! Kumohon, jangan ambil uang itu!

Patih Gupolo : Kau masih berani melawan?! Tuanku, Prabu Baka, apa sebaiknya hukuman yang harus diberikan kepada orang ini? Prabu Baka : Hmmm…. Ambil setengah harta yang dimilikinya! Dan ambil semua uang itu! Rakyat : Tuan, tolong jangan! Aku tidak bisa hidup tanpanya! Patih Gupolo : Jadi, bagaimana, tuanku? Prabu Baka : Bawa ia ke istana. Biar tahu rasa! Rakyat : Ampun, tuanku! Jangan! Patih Gupolo : *mendorong rakyat, memaksa untuk pergi ke istana*

Narator : Semua harta dan uang dari pajak diberikan kepada Prabu Baka. Setelah persiapan matang, Prabu Baka bersama pasukannya pergi melawan Kerajaan Pengging. Dari Kerajaan Pengging, Prabu Damar Maya mengutus putranya untuk melawan Prabu Baka.
Prabu Baka : Patih Gupolo, kau pergi saja dan lawan yang lain, aku akan melawan Prabu Damar Maya. Dengan begini, kita bisa mengalahkan Kerajaan Pengging lebih cepat. Patih Gupolo : Baik, tuanku. Bandung Bondowoso : Hai Prabu Baka! Beraninya kau menyerang kerajaan ayahku! Jika kau ingin melawannya, lawan aku dulu! Prabu Baka : Berani sekali kau menentang raja Kerajaan Baka! Baiklah, aku akan melawanmu! *melawan Bandung Bondowoso*

Narator : Tetapi Prabu Baka terbunuh, dan Bandung Bondowoso menang dalam perang itu.
Bandung Bondowoso : Hahaha! Aku telah mengalahkannya! Patih Gupolo : B – bagaimana b – bisa?! K – Kita mundur! *member isyarat untuk mundur kembali ke Kerajaan Baka*

Narator : Patih Gupolo pun kembali ke Kerajaan Baka. Tetapi, ia tidak menyadari, bahwa ia dikejar oleh Bandung Bondowoso. Sesampainya di Kerajaan Baka, Patih Gupolo menceritakan kematian ayahnya pada Roro Jonggrang.

Patih Gupolo : Roro Jonggrang, ayahmu… Meninggal, ketika melawan Bandung Bondowoso. Roro Jonggrang : Ayah?! Tidaaakk…. *menangis* Patih Gupolo : Jangan khawatir, putri. Aku akan menjaga istana ini, dan menjadi pengikutmu. Tuan putri, keadaan mungkin akan memburuk. Sebaiknya, kau pergi bersembunyi. Dayang – dayang, lindungilah tuan putri! Dayang 1 : Baiklah. Tuan putri, ikuti aku. Kami akan menjagamu! Roro Jonggrang : Baiklah. Terima kasih banyak, Patih Gupolo.

Narator : Pada saat yang sama, pasukan Bandung Bondowoso sudah berada di luar kerajaan Baka, dan mereka menyerang balik Kerajaan Baka. Bandung Bondowoso akhirnya menduduki Kerajaan Baka.
Bandung Bondowoso : Wahai rakyat Kerajaan Baka! Mulai sekarang, akulah pemimpin kalian! Kalian harus mengikuti perintahku! Bagi yang melawan, akan kuhukum berat!

Narator : Ketiak Bandung Bondowoso sedang berkeliling istana, ia terkejut melihat perempuan yang sangat cantik, yang rupanya adalah Roro Jonggrang. Ia pun jatuh cinta padanya.
Bandung Bondowoso : Kau cantik sekali, siapakah, namamu? Roro Jonggrang : Roro Jonggrang, putri Prabu Baka. Bandung Bondowoso : Wahai Roro Jonggrang, kau sangat cantik! Maukah kau menjadi istriku? Roro Jonggrang : Tidak, karena kau telah membunuh ayahku, dan menghancurkan Kerajaan Baka! Bandung Bondowoso : Aku memohon padamu, akan ku kabulkan permintaanmu, apa saja yang kau minta! Roro Jonggrang : Baiklah! Akan kuberikan 2 syarat, yang harus kau penuhi. Bandung Bondowoso : Baiklah, apakah syarat – syarat itu? Harta yang berlimpah? Istana yang megah?

Roro Jonggrang : Tidak, tetapi buatkanlah aku sebuah sumur, namakanlah sumur itu Jalatunda, serta 1000 candi. Lakukanlah semua itu dalam 1 malam. Bandung Bondowoso : Itu memang berat, tetapi aku bersedia melakukannya.

Narator : Bandung Bondowoso pun segera membuat sumur Jalatunda. Tak lama kemudian, sumur itu pun jadi.
Bandung Bondowoso : Lihatlah, Roro Jonggrang! Sumur yang kau minta, sudah ku selesaikan! Roro Jonggrang : Hmmm… Tapi, coba kau lihat, seberapakah dalamnya sumur itu? Bagaimana kalau kau memeriksanya? Bandung Bondowoso : Baiklah, aku akan ke bawah sumur untuk memeriksanya. Roro Jonggrang : Patih Gupolo, segeralah tutup sumur itu dengan batu! Supaya ia tidak bisa keluar! Patih Gupolo : Ya, tuan putri!

Narator : Patih Gupolo pun menimbun sumur itu dengan batu. Tetapi, Bandung Bondowoso mendobraknya karena kesaktiannya.
Bandung Bondowoso : Hai Roro Jonggrang, beraninya kau menutup sumur ini, menguburku hidup – hidup! Roro Jonggrang : Tenang dulu, Bandung Bondowoso! Aku hanya menguji kesaktianmu. Bandung Bondowoso : Baiklah, aku mengampunimu. Roro Jonggrang : Bandung Bondowoso, bagaimana dengan 1000 candi? Kau belum memenuhi syarat tersebut. Bandung Bondowoso : Baiklah, setelah matahari terbenam, aku akan membuat 1000 candi. Dan besok pagi, kau sudah melihat 1000 candi berdiri megah di sana!

Narator : Ketika matahari sudah terbenam, Bandung Bondowoso bertapa, dan memanggil pasukan jin – nya untuk membantunya.
Bandung Bondowoso : Wahai pasukan jin, keluarlah dari dalam bumi! Bantulah aku!

Jin : Tuanku, Bandung Bondowoso, apa yang bisa hamba lakukan untuk tuan? Bandung Bondowoso : Aku ingin kau dan yang lainnya membantuku membuat 1000 candi. Selesaikanlah malam ini juga! Jin : Baiklah tuanku, hamba akan melaksanakannya.

Narator : Dibantu oleh kekuatan para jin, Bandung Bondowoso menyelesaikan 999 candi dengan cepat. Roro Jonggrang yang mengawasi dari kejauhan, takut jika Bandung Bondowoso berhasil menyelesaikan candi ke – 1000. Maka, ia membangunkan dayang – dayangnya, serta Patih Gupolo pun dipanggilnya.
Dayang 1 : Tuan putri, mengapa engkau memanggil kami larut malam seperti ini? Roro Jonggrang : Aku harus menggagalkan rencana Bandung Bondowoso! Dayang 1 : Tetapi…. Bagaimana caranya, tuan putri? Roro Jonggrang : Bakarlah padi di sebelah timur istana, dan tumbuklah padi, supaya kelihatan seperti sudah pagi. Patih Gupolo : Tetapi, untuk apa? Roro Jonggrang : Supaya para jin yang membantu Bandung Bondowoso pergi! Mereka tidak bisa hidup dengan adanya cahaya matahari. Dayang 2 : Baiklah tuan putri, kami akan segera melakukannya. Dayang 1, 2, Patih Gupolo : *membakar padi dan menumbuk padi*

Narator : Karena merahnya langit dan suara tumbukan padi, ayam pun berkokok.
Roro Jonggrang : Tolong lanjutkan menumbuk dan membakar padi, sampai aku selesai bercakap – cakap dengan Bandung Bondowoso.

Narator : Para jin yang membantu Bandung Bondowoso melihat langit yang kemerahan, mendengar suara tumbukan padi, serta suara ayam yang berkokok. Mereka pun takut, dan kabur kembali ke dalam bumi.
Jin : Cahaya matahari! Ayo, kita pergi sebelum terbakar! Bandung Bondowoso : Tunggu! Kalian belum menyelesaikan candi ke – 1000!

Narator : Tetapi, sudah terlambat. Para jin sudah pergi. Bandung Bondowoso pun terpaksa menyelesaikan candi ke – 1000 sendiri. Tetapi, ia kehabisan waktu, dan ia tidak berhasil. Roro Jonggrang pun menghampirinya.
Roro Jonggrang : Bandung Bondowoso, apakah kau sudah selesai membangun candi – candi yang ku minta? Bandung Bondowoso : Sudah! Lihatlah, 1000 candi megah sesuai permintaanmu!

Narator : Roro Jonggrang pun menghitung jumlah candi. Tetapi….
Roro Jonggrang : 997, 998, 999…. Candinya kurang satu, Bandung Bondowoso! Karena kau tidak berhasil memenuhi syarat yang kuberikan, maka aku tidak bersedia menjadi istrimu. Bandung Bondowoso : Wahai Roro Jonggrang, beraninya kau menipuku! Supaya genap 1000, maka kau akan ku kutuk menjadi batu untuk candi yang ke – 1000! Roro Jonggrang : Tidaaakkk!!! *lama kelamaan menjadi batu*

Narator : Karena murka, Bandung Bondowoso pun mengubah Roro Jonggrang menjadi batu. Ia menyelesaikan candi yang ke – 1000, dan menaruh Roro Jonggrang yang telah menjadi batu di dalamnya. Dengan demikian, genap 1000 candi. Candi itu pun dinamakan candi Prambanan, atau lebih sering disebut candi ‘sewu’, yang berarti 1000 dalam bahasa jawa.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->