Anda di halaman 1dari 18

33

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Tahapan Penelitian Penelitian yang telah kami lakukan secara garis besar terdiri dari tiga tahap yaitu blank test, aktivasi katalis, dan reaksi Catalytic Hydrocracking. Variasi yang digunakan adalah temperatur reaksi, rasio massa katalis/MGB, dan waktu reaksi di mana proses dilakukan secara batch dengan tekanan initial tetap pada fasa cair.

4.2 Pengaruh Tahapan Proses 4.2.1 Tahap Blank Test Tahap blank test ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan sifat-sifat minyak goreng bekas (MGB) yang akan digunakan sebagai pembanding dengan MGB setelah reaksi. MGB yang akan digunakan disaring terlebih dahulu untuk menghilangkan pengotor-pengotor dari hasil penggorengan. Karakteristik yang dianalisa adalah densitas dan viskositas yang ditunjukkan pada tabel 4.2. Tabel 4.2 Sifat Fisik MGB Parameter Densitas (gr/ml) Viskositas (P) MGB 0.89 0.665

Temperatur reaksi Catalytic Hydrocracking ditentukan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Moh. Agus dkk (2010). Berdasarkan penelitian awal diperoleh titik didih minyak goreng bekas pada temperatur 428 C sehingga variasi temperatur reaksi yang digunakan adalah 380 C, 400 C, dan 420 C. Temperatur reaksi divariasikan tidak lebih dari 428 C karena reaksi dilakukan pada fase cair, jika melebihi temperatur tersebut fraksi berat dalam MGB sudah mulai teruapkan. Diharapkan, pada

Angga Resala Perdana

Teknik Kimia-UNTIRTA

34

temperatur reaksi tersebut hanya teruapkan fraksi ringan (Light oil) yang terkandung dalam MGB dan yang merupakan hasil perengkahan. Dalam penelitian ini digunakan kondisi standar untuk mengetahui pengaruh temperatur reaksi, rasio massa KATALIS/MGB, dan waktu reaksi terhadap produk yang dihasilkan. Kondisi standar ini yaitu reaksi Catalytic Hydrocracking dilakukan pada temperatur 400 C ; tekanan initial 8 MPa ; waktu reaksi 60 menit ; dan rasio massa KATALIS/MGB adalah 1 : 100.

4.2.2. Tahap Aktivasi Katalis (Catalyst Activation Steps) Katalis yang digunakan pada Catalytic Hydrocracking ini adalah zeolit alam Bayah. Zeolit yang masih berbentuk bongkahan diperkecil sampai ukuran 100 mesh kemudian diaktivasi dengan H2SO4 4N selama 1 jam dan dipanaskan dengan oven pada temperatur 110 C selama 15 jam, setelah itu disimpan di dalam desikator untuk menghindari masuknya uap air ke dalam pori - pori katalis. Aktivasi katalis ini diharapkan mampu memperluas luas

permukaan katalis zeolit alam yang digunakan untuk merengkah senyawa rantai hidrokarbon panjang pada MGB sehingga dihasilkan fraksi biosolar. Katalis zeolit alam yang telah diaktivasi kemudian dianalisa dengan metoda analisa BET. Dari hasil analisa BET diketahui bahwa luas permukaan katalis zeolit alam setelah diaktivasi mengalami peningkatan. Hal ini membuktikan bahwa kativasi dapat memperluas ukuran permukaan katalis.

Tabel 4.3 Hasil analisa BET katalis Zeolit Alam Bayah Parameter Luas Permukaan Spesifik (m2/g)
*Analisa dilakukan di BATAN PUSPITEK

Sebelum Aktivasi 18,09

Sesudah Aktivasi 30,28

Dari Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa terjadi kenaikan luas permukaan spesifik seperti yang diharapkan dimana terbukti bahwa aktivasi katalis
Angga Resala Perdana Teknik Kimia-UNTIRTA

35

yang dilakukan mampu memperluas luas permukaan katalis zeolit alam Bayah sebesar 12,19 m2/g atau 67,39% dari 18,09 menjadi 30,28 (m2/g).

4.2.3. Tahap Reaksi Catalytic Hydrocracking Pada tahap ini reaktan MGB yang digunakan sebanyak 300 gram beserta katalis dimasukkan ke dalam Autoclave 1 L, kemudian dimasukkan gas hydrogen dengan tekanan initial 8 MPa dan dipanaskan sampai temperatur yang telah ditentukan. Ketika temperatur reaksi yang diinginkan tercapai maka temperatur dijaga tetap selama 60 menit. Waktu reaksi adalah waktu yang digunakan untuk reaksi Catalytic Hydrocracking pada temperatur reaksi. Waktu reaksi ini dapat dilihat pada Gambar 4.1 di bawah ini melalui beberapa titik yang membentuk garis horizontal pada range temperatur 400 OC.

Holding time selama


450 400 350 Temperatur (C) 300 250 200 150 100 50 0 0 30 60 90 120 150 180 200 220 240 260 280 300 320 t (menit)

60 menit

Gambar 4.1 Profil kenaikan temperatur terhadap waktu

Angga Resala Perdana

Teknik Kimia-UNTIRTA

36

Dari Gambar 4.1 diatas, temperatur reaksi tercapai pertama kali pada saat waktu pemanasan 90 menit, kemudian dilakukan pencatatan data setiap 10 menit sampai waktu reaksi 60 menit tercapai. Setelah itu maka heater dimatikan dan dibiarkan hingga mencapai temperatur kamar. Gas yang diperoleh dianalisa dengan Yamaco Gas Chromatograph GC2800)untuk GC-FID, dan Simadzu Gas Chromatograph GC-2014) untuk GC-TCD, seta melakukan analisa sifat fisik produk liquid sebelum dilakukan filtrasi untuk memisahkan produk liquid dengan katalis. 4.3. Pengaruh Kondisi Reaksi 4.3.1 Terhadap Konversi 1) Pengaruh Temperatur terhadap Konversi Pada temperatur 400 oC konversi liquid 91.07 %, gas 8.93 %. Ketika temperatur dinaikkan menjadi 420 oC konversi liquid didapatkan sebesar 87.75 %, gas sebesar 12.25 %. Kemudian saat temperatur diturunkan menjadi 380 oC konversi liquid menjadi 93.34 %, gas 5.66 %. Dapat diproyeksikan dalam bentuk grafik seperti berikut.
95

Konversi (%)

90

85

80 380 400 Temperatur Reaksi (OC) 420

Gambar 4.2 Grafik pengaruh temperatur terhadap konversi

Dari Gambar 4.2 tersebut dapat diketahui bahwa konversi paling besar didapatkan pada temperatur 380 oC. Hal ini terjadi karena semakin tinggi
Angga Resala Perdana Teknik Kimia-UNTIRTA

37

temperatur yang dioperasikan, maka semakin sedikit konversi produk liquid yang didapat sedangkan untuk produk gas konversinya semakin besar. Reaksi perengkahan merupakan reaksi yang endotermis sehingga kenaikan temperatur akan meningkatkan jumlah produk ringan berupa gas yang dihasilkan karena rantai hidrokarbon panjang pada struktur trigliserida MGB yang dapat direngkah akan lebih banyak.

2) Pengaruh Waktu terhadap Konversi Pada saat waktu reaksi yang dioperasikan selama 60 menit, didapatkan konversi liquid sebesar 91.38 %, gas 8.62 %. Sedangkan ketika waktu reaksi dinaikkan menjadi 90 menit konversinya menjadi 90.47 % untuk liquid, dan 9.53 % untuk gas. Seperti terlihat pada gambar 4.3 dibawah ini.
95

Konversi (%)

90

85

80 60 90 Waktu Reaksi (menit)

Gambar. 4.3 Grafik pengaruh waktu reaksi terhadap konversi

Hal ini menjadi sebuah tanda bahwa semakin lama waktu reaksi yang dioperasikan, maka konversi akan memiliki nilai semakin kecil karena reaktan dalam fasa liquid semakin banyak yang teruapkan.

Angga Resala Perdana

Teknik Kimia-UNTIRTA

38

Penyebabnya ialah energi yang diberikan seiring semakin lama waktu operasi menjadi semakin besar sehingga perengkahan katalitik terhadap MGB dapat menghasilkan lebih banyak produk ringan berupa produk gas sehingga konversi produk liquid mengalami penurunan.

3) Pengaruh Rasio Katalis terhadap Konversi Rassio massa katalis : MGB turut mempengaruhi besaran konversi yang dicapai. Pada saat Rasio Kat : MGB bernilai 1:75, didapat harga konversi untuk liquid sebanyak 91.51 %, untuk gas 8.49 %. Dan ketika perbandingannya 1:100, diperoleh konversi liquid 91.07 %, gas 8.93 %. Perhatikan gambar 4.4 berikut.

92

Konversi (%)

91

90 1/100 1/75 Rasio Massa KATALIS/MGB

Gambar. 4.4 Grafik pengaruh Katalis terhadap konversi

Dari Gambar 4.4 Grafik pengaruh katalis terhadap konversi di atas, dapat disimpulkan bahwa semakin kecil perbandingan Kat : MGB maka
Angga Resala Perdana Teknik Kimia-UNTIRTA

39

semakin banyak katalis yang bereaksi sehingga konversi untuk produk gas meningkat. Hal ini disebabkan karena jumlah katalis yang semakin tinggi berarti terdapat sisi aktif yang lebih banyak sehingga perengkahan yang terjadi menghasilkan konversi gas yang lebih besar. Kenaikan konversi produk gas secara langsung mengakibatkan penurunan terhadap konversi produk liquid.

4.3.2 Terhadap Viskositas 1) Pengaruh Temperatur terhadap Viskositas Pada temperatur 400 oC viskositas produk liquid sebesar 9.78 cP. Ketika temperatur dinaikkan menjadi 420 oC viskositas produk bernilai sebesar 5.02 cP. Sedangkan saat temperatur diturunkan menjadi 380 oC nilai viskositas tidak dapat diukur karena produk liquid menggumpal kemudian memadat. Perbandingan grafiknya dapat dilihat dalam Gambar 4.5 di bawah ini.

10

Viskositas (cP)

0 400 Temperatur Reaksi 420 (OC)

Gambar. 4.5 Grafik pengaruh temperatur terhadap viskositas

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa viskositas akan semakin kecil jika temperatur mengalami kenaikan. Fenomena ini selaras dengan hasil uji
Angga Resala Perdana Teknik Kimia-UNTIRTA

40

densitas produk reaksi perengkahan dan pendapat yang menyatakan terjadinya peningkatan densitas suatu fluida diikuti dengan peningkatan viskositas fluida tersebut. Sama halnya dengan alasan pada hasil observasi densitas yang menunjukkan semakin tingginya temperatur reaksi

mengakibatkan semakin banyak pula tumbukan yang terjadi antara molekul reaktan dengan katalis yang menghasilkan produk perengkahan yang lebih ringan. Secara empiris, viskositas suatu fluida berbanding lurus dengan densitas fluida tersebut.

2) Pengaruh Waktu terhadap Viskositas Untuk running dengan kondisi T=400 oC dan rasio Kat : MGB =1 : 100, pada saat waktu reaksi yang dioperasikan selama 60 menit, didapatkan viskositas produk sebesar 9.78 cP. Sedangkan ketika waktu reaksi dinaikkan menjadi 90 menit viskositasnya menjadi 3.26 cP. Hal ini dapat kita lihat melalui Gambar 4.6 seperti berikut ini.

10

Viskositas (cP)

0 60 Waktu (menit) 90

Gambar 4.6 Grafik pengaruh waktu reaksi terhadap viskositas produk liquid

Angga Resala Perdana

Teknik Kimia-UNTIRTA

41

Dari Gambar 4.6 tersebut terlihat perbedaan tinggi grafik yang diperoleh untuk tiap waktu reaksi. Hal ini menjadi sebuah tanda bahwa semakin lama waktu reaksi yang dioperasikan, maka viskositas akan memiliki nilai semakin rendah. Ini terjadi karena semakin lamanya waktu yang terjadi pada reaksi perengkahan katalitik, mengakibatkan pemanasan berjalan semakin lama dan semakin banyak pula tumbukan yang terjadi antara molekul reaktan dengan permukaan katalis yang menghasilkan produk perengkahan yang lebih ringan.

3) Pengaruh Katalis terhadap Viskositas Untuk running dengan kondisi operasi T=400 oC dan waktu= 60 menit. Rassio massa katalis : MGB turut mempengaruhi harga viskositas yang dicapai. Pada saat Rasio Kat : MGB bernilai 1:75, didapat harga viskositas sebesar 7.40 cP. Dan ketika perbandingannya 1:100, diperoleh viskositas sebesar 9.78 cP. Hal tersebut dapat diproyeksikan seperti dalam Gambar 4.7 berikut.

12 10 Viskositas, (cP) 8 6 4 2 0 1/100 1/75 Rasio Katalis/MGB

Gambar 4.7 Grafik pengaruh Rasio Kat : MGB terhadap viskositas produk liquid
Angga Resala Perdana Teknik Kimia-UNTIRTA

42

Dari Gambar 4.7 diatas terlihat bahwa pada kondisi standar, rasio 1/100, suhu 400oC, dan tekanan 8 MPa diperoleh nilai viskositas produk cair sebesar 9.78 cP. Viskositas produk cair pada rasio katalis 1/75, suhu 400oC, tekanan initial 8 MPa mengalami kenaikan menjadi 10.05 Cp. Semakin kecil perbandingan yang digunakan maka viskositas yang diperoleh menjadi semakin tinggi, karena jika perbandingannya kecil otomatis katalis yang digunakan semakin banyak. Viskositas yang semakin besar pada produk reaksi perengkahan dipengaruhi oleh deposit karbon yang dihasilkan selama proses perengkahan dalam reactor berlangsung. deposit karbon menyebabkan hambatan pada aliran fluida pada viskometer yang menyebabkan penunjukan viskometernya semakin besar. secara kasat mata produk reaksi perengkahan ini terlihat lebih kental. .

Angga Resala Perdana

Teknik Kimia-UNTIRTA

43

4.3.3 Terhadap Densitas 1) Pengaruh Temperatur terhadap Densitas Temperatur memberikan pengaruh terhadap harga densitas produk liquid catalytic hydrocracking. Hal ini dapat kita amati melalui Gambar 4.8 berikut ini.

0.85

0.8 Densitas () 0.75 0.7 400 Temperatur Reaksi 420 (OC)

Gambar 4.8 Grafik pengaruh temperatur terhadap densitas Dari Gambar 4.8 di atas dapat diketahui pada temperatur 400 oC densitas produk liquid sebesar 0.82 gr/ml. Ketika temperatur dinaikkan menjadi 420
o

C densitas produk bernilai sebesar 0.805 gr/ml. Sedangkan saat temperatur

diturunkan menjadi 380 oC nilai densitas tidak dapat diukur karena produk menggumpal dan memadat. Perbedaan densitas yang didapat tidak terlalu besar, bahkan relative kecil karena selisih temperaturnya pun kecil hanya 20
o

C. Namun adanya perbedaan tersebut menunjukkan bahwa temperatur

mempunyai pengaruh terhadap densitas.

Angga Resala Perdana

Teknik Kimia-UNTIRTA

44

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa densitas akan semakin besar jika temperatur reaksi yang digunakan digeser ke arah yang semakin kecil, begitu pula sebaliknya. Hal ini terjadi karena kenaikan temperatur menyebabkan gaya kohesi antara molekul-molekul fluida semakin berkurang. Dan hal ini membuktikan bahwa temperatur berbanding terbalik dengan densitas.

2) Pengaruh Waktu terhadap Densitas Pada saat waktu reaksi yang dioperasikan selama 60 menit, didapatkan densitas produk sebesar 0.821 gr/ml. Sedangkan ketika waktu reaksi dinaikkan menjadi 90 menit densitasnya menjadi 0.81 gr/ml.
0.85

Densitas, (gr/ml)

0.8

0.75 60 90 Waktu Reaksi (menit)

Gambar 4.9 Grafik pengaruh waktu terhadap densitas produk liquid Hal ini menjadi sebuah tanda bahwa semakin lama waktu reaksi yang dioperasikan, maka densitas akan memiliki nilai semakin besar. Pada waktu reaksi 60 menit, suhu 400oC, tekanan initial 8 MPa dan rasio katalis 1/100 diperoleh densitas produk cair sebesar 0.82 gr/ml sedangkan untuk waktu reaksi 90 menit, suhu 400oC, tekanan initial 8 MPa dan rasio katalis 1/100 densitas produk cair mengalami penurunan sebesar 1,6% menjadi 0.81 gr/ml. Penurunan nilai densitas produk cair hasil perengkahan katalitik dikarenakan
Angga Resala Perdana Teknik Kimia-UNTIRTA

45

dengan semakin lama berlangsungnya reaksi perengkahan, menyebabkan semakin banyaknya jumlah tumbukan yang terjadi antara molekul reaktan dengan permukaan katalis yang memungkinkan terjadinya peningkatan reaksi pemutusan rantai karbon sehingga dihasilkan senyawa dengan berat molekul yang semakin kecil.

3) Pengaruh Katalis terhadap Densitas Rassio massa Kat : MGB turut mempengaruhi harga viskositas yang dicapai. Setelah dilakukan proses perengkahan katalitik, dapat diperoleh hubungan rasio katalis terhadap densitas produk cair. Pada kondisi standar, rasio 1/100, suhu 400oC, dan tekanan initial 8 MPa didapat nilai densitas sebesar 0.827 gr/ml sedangkan pada rasio katalis 1/75, suhu 400oC, tekanan initial 8 MPa diperoleh densitas produk cair mengalami kenaikan sebesar 0,33% menjadi 0.83 gr/ml.
0.85

Densitas, (gr/ml)

0.8

0.75 1/100 1/75 Rasio katalis/MGB (w/w)

Gambar 4.10 Grafik pengaruh Rasio Kat : MGB terhadap densitas produk liquid

Dari Gambar 4.10 terlihat bahwa semakin kecil perbandingan yang digunakan maka densitas yang diperoleh menjadi semakin besar. Hal ini menandakan bahwa semakin rendah perbandingan Kat : MGB maka semakin banyak
Angga Resala Perdana Teknik Kimia-UNTIRTA

46

katalis yang bereaksi, menyebabkan densitas produk semakin meningkat. Ini disebabkan oleh terbentuknya deposit karbon berupa endapan pada reaksi perengkahan sehingga berat molekul dari senyawa yang dianalisis meningkat.

4.3.4 Terhadap Yield Biosolar 1) Pengaruh Temperatur terhadap Yield Biosolar Perubahan temperatur sedikit banyak mempengaruhi konversi, densitas dan viskositas produk liquid catalytic hydrocracking. Selain itu ternyata temperatur turut pula mempengaruhi yield biosolar yang diperoleh. Hal ini tertuang dalam gambar berikut, dimana kondisi reaksinya yaitu : a) 400 oC, 1:100, 8 MPa, 60 menit b) 420 oC, 1:100, 8 MPa, 60 menit
30

Yield biosolar (%)

25

20 400 Temperatur (oC) 420

Gambar 4.11. Grafik pengaruh temperatur terhadap yield biosolar Dari Gambar 4.11 diatas, dapat diketahui bahwa pada temperatur 400 oC yield biosolar yang didapat sebesar 27.71%. Ketika temperatur dinaikkan menjadi 420 oC yield biosolar yang didapatkan sebesar 26.54%. Kenaikkan temperatur reaksi berbanding lurus dengan energy. Kenaikkan suhu reaksi
Angga Resala Perdana Teknik Kimia-UNTIRTA

47

menunjukkan seberapa besar energi yang diberikan pada reaksi perengkahan ini dimana pada suhu reaksi yang lebih tinggi maka akan diberikan energi yang lebih besar sehingga hidrokarbon dalam MGB akan lebih banyak terengkah menjadi fraksi yang lebih ringan. Itulah mengapa diperoleh yield yang menurun untuk biosolar.

2) Pengaruh Waktu terhadap Yield Biosolar Waktu reaksi memberikan pengaruh tersendiri bagi yield biosolar yang dihasilkan pada penelitian ini. Dapat kita cermati melalui Gambar 4.12 yang merupakan grafik pengaruh waktu reaksi terhadap yield biosolar. Berikut grafiknya.
28

Yield biosolar (%)

26

24

22

20 60 90 waktu reaksi (minutes)

Gambar. 4.12. Grafik pengaruh waktu reaksi terhadap yield biosolar Yield kali ini dihitung berdasarkan kondisi dimana T = 400 oC dan rasio Kat : MGB = 1:100, Initial pressure 8 MPa. Pada saat waktu reaksi yang dioperasikan selama 60 menit, didapatkan yield biosolar sebesar 27.71 %. Sedangkan ketika waktu reaksi yang dioperasikan selama 90 menit diperoleh yield sebesar 24.00 %.

Angga Resala Perdana

Teknik Kimia-UNTIRTA

48

3) Pengaruh Katalis terhadap Yield Biosolar Rassio massa Kat : MGB turut mempengaruhi yield biosolar yang dihasilkan. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 4.13 berikut ini, dengan kondisi reaksi : a) 400 oC, 8 MPa, 60 menit, 1:100 b) 400 oC, 8 MPa, 60 menit, 1:75

30

25

Yield biosolar (%)

20

15

10

0 1/100 Rasio Kat/MGB 1/75

Gambar 4.13 Grafik pengaruh Rasio katalis terhadap yield biosolar

Pada saat rasio Kat : MGB bernilai 1:75, mempunyai yield sebesar 19.12%. Dan ketika perbandingannya 1:100, diperoleh yield biosolar sebesar 27.71 %. Semakin kecil perbandingan Kat : MGB maka semakin banyak katalis yang bereaksi sehingga yield biosolar menurun. Hal ini disebabkan karena jumlah katalis yang semakin tinggi berarti terdapat sisi aktif yang lebih banyak sehingga perengkahan yang terjadi menghasilkan fraksi ringan selain biosolar yang lebih besar.

Angga Resala Perdana

Teknik Kimia-UNTIRTA

49

4.4 Analisa GC-MS Analisa GC MS bertujuan untuk mengetahui komposisi senyawa yang terkandung di dalam produk biosolar. Analisa ini dilakukan di FMIPA UGM Yogya menggunakan GCMS-QP2010S SHIMADZU kolom Rastek RXi5MS, panjang kolom 30 meter, ID 0,25 mm, dan Gas Pembawa Helium dengan kondisi Column Oven Temp 60oC, Column Flow 0,50 mL/min, Linear Velocity 25,8 cm/sec, injection temperatur 300oC, total flow 80 L/min. Analisa Produk biosolar yang dianalisis hanya satu yaitu biosolar hasil distilasi produk blank test reaksi catalytic hydrocracking, yaitu pada kondisi suhu 400 oC, tekanan inisial 8MPa dalam waktu 60 menit. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, senyawa karbon yang masuk ke dalam fraksi biosolar memiliki jumlah atom karbon sebanyak 16 sampai dengan 22.

Instrumen GC dilakukan untuk mencari kesesuaian rentang peak produk biosolar yang dihasilkan dengan bensin komersial. Analisa GC dilakukan di LPB PTPSE PUSPIPTEK Serpong menggunakan Yamaco Gas Chromatograph GC-2800, Column initial temp 40oC, hold time 5 min, Column Final Temp 329 oC, detector FID.
uV(x10,000) 5.0 Chromatogram 4.5 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 -0.5

10

20

30

40

50

min

Gambar 4.14 Hasil analisa GC solar komersial 1 L


Angga Resala Perdana Teknik Kimia-UNTIRTA

50

Gambar 4.14 menunjukkan peak bensin komersial. Pada kromatogram bensin, terlihat peak-peak yang menunjukkan besarnya fraksi senyawaan penyusunnya pada rentang waktu antara 20 sampai dengan 40 menit. Rentang waktu keluarnya peak ini dipengaruhi oleh berat molekul senyawa yang terdapat di dalamnya. Semakin besar berat molekul sampel maka waktu retensi (waktu keluarnya peak, tR) akan semakin besar pula. Oleh karena itu, jika pada produk uji selain bensin muncul peak yang berada pada rentang waktu retensi antara 20sampai dengan 40 menit, produk ini memiliki senyawa yang berat molekulnya sesuai dengan rentang berat molekul senyawa dalam bensin.

Analisa GC ini dilakukan untuk mengetahui jumlah produk biosolar yang terkandung dalam produk cair catalytic hydrocracking . Gambar 4.15 berikut ini menunjukkan hasil analisa GC-FID produk cair catalytic hydrocracking.
uV(x 10, 000) 5. 0 C hrom at ogram 4. 5

4. 0

3. 5

3. 0

2. 5

2. 0

1. 5

1. 0

0. 5

0. 0

-0. 5

10

20

30

40

50

m in

Gambar 4.15 Hasil analisa GC produk Catalytic Hydrocracking

Gambar 4.15 diatas merupakan salah satu contoh hasil analisa GC produk liquid yang dilakukan di BPPT. Terlihat peak yang muncul selama retention time 0-40 menit. Yield biosolar dihitung berdasarkan luasan peak pada rentang waktu antara 20 sampai dengan 40 menit.
Angga Resala Perdana Teknik Kimia-UNTIRTA