Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM ANALISIS TANAH, AIR, PUPUK DAN TANAMAN

Nama NIM

Disusun Oleh : : Fahlian Johansyah : 11142

JURUSAN ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2010

HALAMAN PENGESAHAN Laporan Praktikum Analisis Tanah, Air, Pupuk dan Tanaman ini telah disahkan pada: Hari, Tanggal : Senin, 28 Juni 2010 Tempat : Laboratorium Fisika Tanah Disusun oleh : Fahlian Johansyah (11142) Yogyakarta, 28 Juni 2010

Suci Handayani, SP. MP.

INTISARI Praktikum Analisis Tanah, Air, Pupuk, dan Tanaman ini dilaksanakan pada tanggal 2-8 Juni 2010 di Laboratorium Kimia Tanah, Kuningan dan Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Sampel yang di analisis adalah Tanah Entisol, Ultisol, dan Gambut; air sungai Code, Gajah Wong, dan Opak; Pupuk Urea dan Pupuk Kandang; serta daun padi, mangga, dan kangkung. Penentuan hasil analisis dengan metode gravimetric dan menggunakan AAS. Unsur hara yang diukur konsentrasinya adalah S, Fe, Ca, Na, Mn, Cu, Mg, dan Zn. Konsentrasi hara pada setiap tanaman berbeda-beda, konsentrasi air pada ketiga sungai memenuhi syarat bahan baku air minum karena di bawah batas maksimum, pupuk kandang memiliki konsentrasi hara lebih tinggi dibandingkan pupuk urea karena urea sebagian besar mengandung N, dan konsetrasi hara pada setiap daun tanaman berbeda karena kebutuhan setiap tanaman akan hara berbeda.

I. Pendahuluan A. Latar Belakang Dalam bidang pertanian, tanah memiliki arti yang lebih khusus dan penting sebagai media tumbuh tanaman darat. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan bercampur dengan sisa bahan organik dari organisme (vegetasi atau hewan) yang hidup di atasnya atau di dalamnya. Sehingga tanah memiliki berbagai macam unsur hara yang berguna bagi pertumbuhan tanaman. Air merupakan kebutuhan utama bagi proses kehidupan di muka bumi ini. Untuk mendapatkan air yang baik sesuai dengan standar tertentu, saat ini menjadi barang yang mahal karena air sudah banyak yang tercemar oleh bermacammacam limbah. Limbah tersebut berasal dari kegiatan industri, rumah tangga maupun dari rumah sakit. Semua tanaman hijau memerlukan seperangkat dasar hara mineral yang sama dan berbagai unsur digunakan oleh tanaman yang berbeda untuk menghasilkan tujuan akhir yang sama. Tanaman tingkat tinggi membutuhkan 13 jenis hara esensial yang terdiri atas kelompok hara makro dan mikro, meskipun pengelompokan tersebut masih diperdebatkan karena hara mikro tertentu dapat menjadi hara makro untuk tanaman lain, dimana kebutuhan tanaman yang satu dengan yang lainnya akan unsur hara berbeda-beda. Pupuk sangat penting dalam budidaya tanaman karena pupuk dapat menjaga kesuburan tanah agar pertumbuhan tanaman. Ada dua jenis pupuk yaitu pupuk majemuk dan pupuk tunggal. Kandungan unsur hara setiap pupuk

berbeda-beda tergantung konsentrasi, seringkali konsentrasi unsur hara yang terkandung dalam suatu pupuk tidak sesuai dengan label. Hal ini tentu perlu perhatian khusus. B. Tinjauan Pustaka Teknik Spektroskopi Serapan Atom menjadi alat yang canggih dalam analisis. Ini disebabkan diantaranya oleh kecepatan analisisnya, ketelitiannya sampai tingkat runut, tidak memerlukan pemisahan pendahuluan. Kelebihan kedua adalah kemungkinannya untuk menentukan konsentrasi semua unsur pada konsentrasi runut. Ketiga, sebelum pengukuran tidak selalu memerlukan pemisahan unsur yang ditentukan karena kemungkinan penentuan satu unsur dengan kehadiran unsur lain dapat dilakukan asalkan katoda berongga yang diperlukan tersedia. AAS dapat digunakan sampai 61 logam (Harvey and David, 2000). Untuk menentukan metode analisis P yang tepat dilakukan uji korelasi antar kadar P yang terekstrak dari masing-masing metode dengan berat kering tajuk dan serapan P tanaman. Dalam analisis jaringan tanaman dapat digunakan metode pengabuan kering yang relative sederhana, tidak berbahaya dan lebih murah dibandingkan dekstruksi basah (Mukhlis, 2007). Perubahan kadar unsur pada sungai Code dapat disebabkan beberapa hal, salah satunya ondisi pada saat dilakukan sampling. Suhu lingkungan membuat air menguap, sehingga mempertinggi kadar unsur yang ada. Selain itu, sampling yang dilakukan di musim pancaroba mengakibatkan adanya sampel yang diambil ketika hujan turun sepanjang minggu, sehingga menambah volume air sungai dan merendahkan kadar unsur. Sementara, sampel yang diambil ketika sepanjang minggu cerah lebih pekat karena menguap secara terus-menerus dan penambahan volume airnya sedikit (Hanim et al, 2007).
Prosedur analisis yang digunakan dipilih yang valid. Validasi prosedur dapat dilakukan dengan mengevaluasi linieritas deret standar, limit deteksi, keterulangan (repeatibility) dan perolehan kembali (recovery). Semuanya dilakukan minimal dengan tujuh ulangan. Metode yang baik memiliki linieritas deret standar dengan

nilai koefisien determinasi (R2) minimal 0,99. Limit deteksi dihitung sebagai nilai rata-rata konsentrasi analit yang sesuai dengan blanko contoh ditambah tiga kali simpangan baku. Keterulangan dinyatakan dalam simbangan baku relatif (%). Nilai ini bertambah besar dengan menurunnya konsentrasi analit (Sulaeman et al, 2005).

Untuk memutuskan apakah suatu tanah perlu dipupuk (dengan dosis tertentu) atau tidak maka batas kritis (critical level) suatu hara untuk tanaman pada tanah tertentu perlu ditetapkan terlebih dahulu. Batas kritis adalah kadar hara di dalam tanah dimana produksi atau kualitas tanaman akan menurun bila hara tersebut ditambahkan ke dalam tanah. Bila kadar hara tanah lebih rendah daripada batas kritis maka tanaman akan memberikan respon yang tinggi terhadap pemberian pupuk. Sebaliknya bila kadar hara lebih tinggi daripada batas kritis maka tanaman tidak respon terhadap pemberian pupuk. Salah satu cara untuk menentukan batas kritis tanah dan kebutuhan pupuk suatu tanaman pada tanah tertentu adalah melalui penelitian uji tanah (Nursyamsi, 2006). Unsur hara dapat dibedakan menjadi hara makro dan hara mikro. Hara makro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang banyak, sedangkan unsur hara mikro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah sedikit, kalau banyak dapat menjadi racun bagi tanaman. Unsure hara makro terdiri dari: C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, dan S. Unsur hara mikro terdiri dari: Fe, Mn, B, Cl, Cu, Zn, dan Mo. Unsur hara tersebut ada yang berasal dari udara dan ada yang berasal dari tanah (Efendi, 2006). C. Tujuan Mengetahui metode analisis tanah, air, pupuk, dan tanaman serta pengukuran cepat menggunakan AAS dan kandungan unsur hara pada sampel tanah, air, pupuk, dan tanaman.

II. Prinsip Metode Praktikum analisis tanah, air, pupuk, dan tanaman ini dilaksanakan pada tanggal 2-8 Juni 2010 di Laboratorium Kimia Tanah Kuningan dan Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 1. Analisis Tanah a. Penetapan Sulfat Tersedia Bentukan S dalam tanah dapat berupa S-Organik. Penentuan s dalam tanah pada prinsipnya dengan mengoksidasi sulfur tersebut menjadi senyawa sulfur oksida. Hasil dari oksidasi S (SO4-2) direaksikan dengan bahan yang mempunyai valensi sama sehingga membentuk senyawa gel yang kemudian ditentukan dengan gravimetri. Alat yang digunakan adalah erlenmeyer, gelas piala, timbangan elektrik, labu ukur, mesin pengocok, dan muffle furnace. Sedangkan bahan yang digunakan adalah larutan BaCl2 10%, H2O2 30%, dan kertas saring Whatman No. 42. Cuplikan tanah kering udara berdiameter 0,5 mm ditimbang seberat 10 g dalam Erlenmeyer 250 ml. ditambahkan 25 ml larutan H2O2 30% ditutup dengan stopper karet dan dikocok suspense selama 1 jam, dibiarkan sampai mengendap. Ditambahkan 10 ml BaCl2 10% pada suspense kemudian disaring. Kemudian hasil saringan dimasukkan dalam oven pada suhu 1050 C selama 4 jam (sampai berat konstana), kemudian beratnya ditimbang. b. Penetapan Kation Tertukar Tanah Kation-kation Na, Ca, dan Mg diekstrak dengan menggunakan 1 N NH4OAc pH7 (McLean and Watson, 1985). Alat yang digunakan adalah Erlenmeyer, gelas piala, timbangan elektrik, labu ukur, mesin pengocok, dan AAS. Sedangkan bahan yang digunakan adalah larutan NH4C2H3O2, NaCl, CaCO3, dan MgSO4.7H2O serta aquades. Cuplikan tanah ditimbang seberat 5 g, ditambahkan 50 ml NH4OAc 1 N. kemudian digojok selama 1 jam. Filtrat disaring dengan kertas saring.

Dipipet 5 ml filtrate tanah dan blanko ke dalam labu ukur 25 ml. konsentrasi K, Mg, Na, dan Ca ditetapkan dalam seri larutan standar, filtrate tanah dan blanko dengan AAS. c. Penetapan Unsur Mikro Tersedia Tanah Dalam melakukan analisis hara mikro karena memiliki kissaran antara kondisi kurang, kecukupan, dan kelebihan sangat kecil sehingga mempunyai kisaran yang sempit perlu menggunakan bahan pengikat dari khelat. Reaksi bahan kelat dengan logam akan membentuk senyawa komplek yang kemudian dideteksi seberapa besar hara mikronya. Untuk penentuan Fe, Zn, Cu dengan menggunakan penekstrak Amonium Acetat-EDTA (AA-EDTA) pH 4,65 (Lindsay and Norvell, 1978). Alat yang digunakan adalah Erlenmeyer, gelas piala, timbangan elektrik, labu ukur, mesin pengocok, dan AAS. Sedangkan bahan yang digunakan adalah larutan NH4OAc-EDTA pH 4,65, larutan Fe, Zn, dan Cu. Cuplikan tanah ditimbang seberat 5 g dan ditambahkan 50 ml AAEDTA pH 4,65. Kemudian digojok selama 1 jam. Filtrate disaring dengan kertas saring. Dipipet 5 ml filtrate tanah dan blanko ke dalam labu ukur 25 ml. Konsentrasi Fe, Zn, dan Cu ditetapkan dalam seri larutan standar, filtrate tanah dan blanko dengan AAS. 2. Analisis Air a. Penentuan Sulfat Terlarut Bentukan S dalam air dapat berupa S-organik. Penentuan S dalam air pada prinsipnya dengan mengoksidasi. Hasil dari oksidasi S (SO4-2) direaksikan dengan bahan yang mempunyai valensi sama sehingga membentuk senyawa gel yang kemudian ditentukan dengan gravimetri. Alat yang digunakan adalah Erlenmeyer, gelas piala, labu ukur, mesin pengocok, dan muffle furnace. Sedangkan bahan yang digunakan adalah BaCl2 10%, H2O2 30%, dan kertas saring Whatman No. 42. Cuplikan air dipipet sebanyak 25 ml ke dalam Erlenmeyer 250 ml. ditambahkan 5 ml H2O2 30%. Ditambahkan 10 ml BaCl2 10% pada suspense kemudian disaring. Kemudian hasil saringan dimasukkan oven pada suhu

1100 C selama 4 jam (sampai berat konstan). Kemudian ditimbang berat keringnya. b. Penentuan Kation Terlarut Kation-kation Na, K, Ca, dan Mg dalam air dapat langsung dibaca dengan pembacaan AAS (Houba et al, 1995). Alat yang digunakan adalah Erlenmeyer, gelas piala, labu ukur, mesin pengocok, dan AAS. Bahan yang digunakan adalah larutan NaCl, CaCO3, dan MgSO4 serta aquades. Cuplikan air yang telah disaring sebanyak 25 ml diambil ke dalam labu ukur 50 ml. konsentrasi Mg, Na, dan Ca ditetapkan dalam seri larutan standar, air difiltrasi dengan AAS. c. Penentuan Unsur Mikro Terlarut Dalam melakukan analisis hara mikro dalam air untuk penentuan Fe, Zn, dan Cu dapat langsung menggunakan AAS (Houba et al, 1995). Alat yang digunakan adalah erkenmeyer, gelas piala, timbangan elektrik, labu ukur, mesin pengocok, dan AAS. Sedangkan bahan yang dipakai adalah larutan Fe, Zn, dan Cu serta Aquades. Cuplikan air yang telah disaring sebanyak 25 ml dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml. Konsentrasi Fe, Zn, dan Cu ditetapkan dalam seri larutan standar, air difiltrasi dengan AAS. 3. Analisis Pupuk a. Pupuk Organik Alat yang digunakan adalah pemijar carbolite, kjeltec system 1026, AAS Shimadzu AA-660, oven, cepuk porselin, labu ukur, dan Erlenmeyer. Sedangkan bahan yang digunakan adalah pupuk kandang, HClO4 60%, dan NHO3 65%. 1 g contok pupuk kering agin 0,5 mm dimasukkan ke dalam labi destruksi, ditambahkan 8 ml HClO4 60% (pa, pekat), dan ditambahkan 4 ml NHO3 65% (pa, pekat), digoyang pelan-pelan dan dibiarkan semalam. Selanjutnya dipanaskan pada rak digester sampai asap hilang dan cairan tidak berwarna, diangkat da dibiarkan dingin. Kemudian cairan dipindahkan ke

dalam labu ukur 50 ml, dibilas dengan aquades dan ditambahkan dengan aquades sampai tanda, digojok sampai homogen. Filtrat hasil destruksi basah dibaca menggunakan AAS. b. Pupuk Anorganik Alat yang digunakan adalah AAS Shimadzu AA-660, oven, cepuk porselin, labu ukur, Erlenmeyer, dan pipet. Sedangkan bahan yang dipakai adalah pupuk urea, HCl 36 %, dan HNO3 65 %. 5 g contoh pupuk dimasukkan ke dalam Erlenmeyer, ditambahkan 25 ml aquades,digojok selama 2 jam. Cairan dipindahkan ke dalam labu ukur 50 ml dan ditambahkan aquades sampai tanda, digojok hingga homogen. kemudian filtrat dari pupuk dibaca dengan menggunakan AAS. 4. Analisis Jaringan Tanaman a. Penentuan Unsur Ca, Na, Mg, Fe, Zn, dan Cu. Alat yang digunakan adalah pemijar carbolite furnace CSF, kjeltec system 1026, AAS Shimadzu AA-660, oven, cepuk porselin, labu ukur, dan Erlenmeyer. Sedangkan bahan yang digunakan adalah daun tanaman padi, mangga, dan kangkung, H2O4, dan H2O2. 1 g contoh tanaman dimasukkan ke dalam labu destruksi, ditambahkan 10 ml H2SO4 (pa, pekat), digoyang pelan-pelan dan dibiarkan semalam. Dipanaskan pada rak digester pada suhu 3000 C selama 1 jam. Didinginkan, ditambah H2O2 pekat, dipanaskan lagi selama 1 jam. Langkah sebelumnya dilakukan sebanyak 3x. pemanasan sampai keluar asap asap putih dan didapat ekstrak jernih sekitar 1-2 ml. Tabung diangkat dan dibiarkan dingin. Ekstrak dipindahkan ke dalam labu ukur 50 ml, dibilas dengan aquades dan ditambahkan aquades sampai tanda, digojok hingga homoge. Filtrat hasil destruksi dibaca dengan menggunakan AAS. b. Penentuan Unsur S Filtrat hasil destruksi ditambah larutan BaCl2 10 %, hasilnya dihitung seperti pada penentuan S dalam tanah.

III. Hasil Analisis dan Pembahasan Analisis tanah, air, pupuk, dan tanaman sangat berguna untuk mengatahui kandungan unsur hara pada tanah, air, pupuk, dan tanaman serta besar konsentrasinya. Hasil analisis yang di dapat dapat dimanfaatkan untuk bidang pertanian dan juga kesehatan, misalnya hasil analisis air untuk mengetahui apakah air pada suatu sumber (sungai, air tanah, danau, dll) dapat digunakan sebagai bahan baku air minum dengan syarat di bawah batas maksimum tanpa mengganggu kesehatan tubuh manusia. Ada beberapa metode penentuan hasil analisis mulai dari yang sederhana menggunakan metode gravimetric, hingga menggunakan alat spektrofotometer dan yang paling canggih yaitu AAS (Atomic Absorbtion Spectrofotometer) karena hasil pengukuran konsentrasi hara dapat disajikan secara cepat yang dibantu computer sehingga data dan perhitungannya dapat dicetak. Tingakt ketelitian AAS lebih tinggi dibandingkan spectrometer. Praktikum analisis tanah, air, pupuk, dan tanaman ini mayoritas menggunakan AAS, meskipun ada beberapa yang menggunakan gravimetri. A. Analisis Tanah Sulfat Tersedia No. Jenis Tanah 1 Entisol 2 Ultisol 3 Gambut Sulfat Tersedia 0.0308685 0.016463 0

Berdasarkan data tabel di atas dapat diketahui kadar sulfat tesedia tertinggi pada tanah entisol. Hal ini dikarenakan tanah entisol dekat dengan pantai dan pH nya lebih tinggi daripada Ultisol dan Gambut. Kadar sulfat tersedia pada tanah gambut adalah nol atau tidak ada karena tanah gambut pH nya rendah, lebih banyak mengandung Fe serta tidak ada pasokan Fe dari luar. Konsentrasi Fe

No. 1 2 3

Jenis Tanah Entisol Ultisol Gambut

Konsentrasi Aktual (ppm) 0.872467 1.107321 3.100316

Konsentrasi Fe tertinggi berdasarkan tabel di atas adalah pada tanah gambut dan yang terendah pada tanah entisol. Seperti yang telah diketahui bahwa tanah gambut memiliki pH yang asam dimana di dalamnya terdapat pirit yang banyak mengandung Fe (penyebab pH asam). Sedangkan tanah entisol pH nya tinggi dan pasokan Fe dari luar sangat sedikit. Konsentrasi Ca tertukar No. 1 2 3 Jenis Tanah Entisol Ultisol Gambut Konsentrasi Aktual (meq/100) 0.01165804 0.06811717 -0.001058

Melihat tabel di atas yang menunjukkan bahwa konsentrasi Ca tertukat paling tinggi pada tanah ultisol dan terendah pada tanah gambut. Melihat bahan induk ultisol yang berasal dari batuan kapur wajar jika konsentrasi Ca tertukarnya lebih tinggi kemudian ditambah Ca yang berasal dari pelapukan sisa-sisa tanaman dan organisme lain. Sedangkan tanah gambut justru mengalami defisit Ca karena meilhat pH nya yang asam dan lokasinya yang jauh dari laut dan tidak ada gunung berapi sehingga tidak ada pasokan Ca dari luar, kalaupun ada tidak dapat diserap tanaman. Konsentrasi Na tertukar No. 1 Jenis Tanah Entisol Konsentrasi Aktual (meq/100) -0.5190192

2 3

Ultisol Gambut

0.49279089 0.27814328

Dari tabel di atas diketahui konsentrasi Na tertukar tertinggi pada tanah gambut dan terendah pada tanah Entisol. Hal ini menunjukkan bahwa pada gambut terdapat unsur Na yang dapat diserap lebih banyak. Sedangkan pada entisol tidak Na tertukar berarti tidak dapat dimanfaatkan tanaman sehingga butuh tambahan pupuk Na.

Konsentrasi Mg tertukar No. 1 2 3 Jenis Tanah Entisol Ultisol Gambut Tabel Konsentrasi Aktual (meq/100) 1.221397 0.792086 1.331229 di atas menunjukkan bahwa gambut memiliki konsentrasi

Mg tertukar paling tinggi, kemudian entisol dan paling rendah pada tanah ultisol. Itu menunjukkan unsur Mg pada tanah gambut paling mudah diserap akar tanaman dan bahan organiknya tinggi. Konsentrasi Cu No. 1 2 3 Jenis Tanah Entisol Ultisol Gambut Konsentrasi Aktual (ppm) 0.42126 0.176928 0.290562

Melihat tabel di atas dapat diketahui bahwa tanah entisol memiliki konsentasi Cu paling tinggi, bisa jadi dikarenakan pada tanah tersebut berasal dari batuan yang banyak mengandung Cu dan sedikit vegetasi (bahan organik). Pada tanah ultisol bisa jadi batuan pembentuknya sedikit mengandung Cu.

Konsentrasi Zn No. 1 2 3 Jenis Tanah Entisol Ultisol Gambut Konsentrasi Aktual (ppm) 0.7752 0.7686 4.5744

Tabel di atas menunjukkan bahwa konsentrasi Zn teringgi pada tanah gambut dan terendah pada tanah ultisol, selish antara ultisol dan entisol sangat sedikit sekali. Dengan kandungan Zn yang tinggi sehingga pH gambut menjadi lebih rendah, maka dari itu jika ditanami, tanaman yang tidak toleran akan mengalami keracunan. Tanah ultisol dan entisol selisijnya sangat sedikit atau bisa dikatakan sama secara umum karena pH nya yang lebih tinggi dan belum terusik. Konsentrasi Mn No. 1 2 3 Jenis Tanah Entisol Ultisol Gambut Konsentrasi Aktual (ppm) 1.1877 0.0609 0.6445

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa tanah entisol memiliki konsentrasi hara Mn paling tinggi, hal ini bisa jadi dikarenakan berasal dari batuan yang memiliki kandungan Mn yang lebih tinggi dan tidak hilang karena terlindi ataupun penguapan. Sedangkan tanah ultisol paling rendah bahkan hampir tidak ada karena banyal yang terlindi. B. Analisis Air Sulfat Tersedia No. Jenis Air 1 Code 2 Gajah Wong 3 Opak Sulfat Tersedia 0 0 0.004116

Berdasarkan tebel di atas dapat diketahui bahwa hanya sungai opak yang memiliki kandungan sulfat tersedia sedangkan sungai code dan gajah wong tidak ada. Bisa jadi air pada sungai opak mendpat pasokan sulfat dari batuan yang terlapuk di hulu atau limbah rumah tangga. Namun kandungan Sulfat pada sungai opak masih di bawah batas maksimum untuk bahan air minum yaitu 0,4 g/L. Konsentrasi Ca No. 1 2 3 Jenis Air Code Gajah Wong Opak Konsentrasi Aktual (%) 1.23463E-05 8.68686E-06 1.08785E-05

Melihat tabel di atas dapat diketahui konsentrasi Ca tertinggi pada sungai gajah wong dan yang paling rendah sungai opak dengn selisih yang sedikit dengan sungai code meskipun presentasinya tetap sangat kecil. Kandungan Ca dapat berasal dari pelapukan batuan di hulu, limbah pertanian, dan limbah rumah tangga. Air pada ketiga sungai tersebut masih dapat dijadikan bahan baku air minum karena masih di bawah batas maksimum kandungan Ca yaitu 0,1875%. Konsentrasi Na No. 1 2 3 Jenis Air Code Gajah Wong Opak Konsentrasi Aktual (%) 0.002197 0.001749 0.002179

Tabel di atas menunjukkan bahwa sungai Code memiliki konsentrasi Na paling tinggi dan terendah pada sungai Gajah Wong, selisih antara ketiga sungai tersebut hanya kecil. Na dapat berasal dari limbah pertanian, industry kecil maupun rumah tangga. Secara umum kandungan Na pada ketiga sungai tersebut masih di bawah maksimal

yang diperbolehkam yaitu 0,5% sehingga masih aman untuk bahan baku air minum. Konsentrasi Mg No. 1 2 3 Jenis Air Code Gajah Wong Opak Konsentrasi Aktual (%) 0.0037975 0.002845 0.0034375

Brdasarkan tabel di atas, sungai Code memiliki konsentrasi Mg paling banyak, selanjutnya sungai Opak, dan yang paling rendah adalah sungai Gajah Wong. Batas maksimal kandungan Mg dalam air yang diperbolehkan adalah 0,3% sehingga ketiga sungai tersebut dapat dijadikan bahan baku air minum. Mg dapat berasal dari pelapukan batuan, limbah industri kecil, pertanian maupun rumah tangga. C. Analisis Pupuk Konsentrasi Ca No. 1 2 Jenis Pupuk Urea Pukan Konsentras Aktual (%) 0.0020888 0.0284571

Dari data tabel di atas diketahui bahwa konsentrasi Ca tertinggi pada pupuk kandang, bisa jadi karena dalam tubuh hewan banyak mengandung Ca yang banyak dan hewan sangat membutuhkan Ca terutama dalam pembentukan tulang. Sedangkan pupuk urea sedikit mengandung Ca karena sejatinya urea adalah pupuk N yang kandungannya mecapai 40%. Konsentrasi Na No. 1 Jenis Pupuk Urea Konsentras Aktual (%) 0.00977

Pukan

0.42361

Seperti yang ditunjukkan oleh tabel di atas, pupuk kandang memiliki konsentrasi Na yang lebih tinggi, dikarenakan berasal dari hewan maka hara makro yang dikandung lebig banyak daripada urea yang mayoritas mengandung hara N sedangkan hara lainnya hanya sedikit. Konsentrasi Mg No. 1 2 Jenis Pupuk Konsentras Aktual (%) Urea 0.001731 Pukan 0.008056 Pada tabel di atas menunjukkan konsentrasi Mg pada kedua

pupuk memiliki selisih yang jauh, dimana pupuk kandang lebih besar. Tubuh hewan mengandung Mg yang banyak untuk pembentuka tulang dan gigi sehingga Mg merupakan hara esensial bagi hewan. Kotorannya pun mengandung banyak Mg karena tidak semua Mg digunakan.

D. Analisis Jaringan Tanaman Konsentrasi Ca No. 1 2 3 Jenis Tanaman Padi Mangga Kangkung Konsentrasi Aktual (%) 0.001657488 0.031752 0.029929725

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa mangga memilik konsentrasi Ca paling tinggi dan terendah pada tanaman padi. Hal ini menunjukkan tanaman manggamembutuhkan Ca lebih banyak dikarenakan mangga jenis tanaman berkayu agar dapat tumbuh kokoh. Sedangkan tanaman padi kurang membutuhkan Ca karena lebih banyak menyerap Si agar tumbuhnya kokoh.

Konsentrasi Na No. 1 2 3 Jenis Tanaman Padi Mangga Kangkung Konsentrasi Aktual (%) 0.217474625 0.370736 0.567936

Tabel di atas menunjukkan bahwa konsentrasi Na tertinggi pada kangkung paling tinggi dan yang terendah adalah padi. Berarti kangkung menyerap Na yang banyak karena serapan air nya juga banyak. Padi membutuhkan Na lebih sedikit daripada tanaman lain karena kondisi lahanya yang tergenang sehingga penyerapan hara Na yang bukan esensial lebih rendah.

Konsentrasi Mg No. 1 2 3 Jenis Tanaman Padi Mangga Kangkung Konsentrasi Aktual (%) 0.0039345 0.004817 0.006505

Seperti yang ditunjukkan pada tabel di atas kangkung memiliki konsentrasi Mg paling tinggi dan paling rendah tetap tanaman padi. Kangkung mengandung Mg lebih tinggi untuk pembentukan batang dan daun. Karena itulah batang dan daun kangkung sangat bagus untuk diikonsumsi. Sedangkan tanaman lain kebutuhan Mg lebih rendah, bisa jadi karena unsur hara lain lebih dominan dibutuhkan.

IV. Kesimpulan 1. Penentuan hasil analisis dapat menggunakan metode gravimetri dan serapan atom dengan AAS. 2. Penggunaan AAS dalam menentukan hasil analisis lebih mudah, cepat, dan akurat. 3. Konsentrasi unsur hara setiap tanah berbeda-beda karena asal terbentuk, proses terbentuk, dan lokasinya yang berbeda. 4. Sampel air dari Sungai Code, Gajah Wong, dan Opak, konsentrasi S, Ca, Na, dan Mg nya di bawah batas maksimum untuk bahan baku air minum. 5. Pupuk kandang konsentrasi haranya lebih tinggi dibandingkan pupuk urea karena pupuk kandang termasuk pupuk majemuk dan pupuk urea adalah pupuk N. 6. Konsentrasi hara setiap tanaman berbeda karena jumlah kebutuhan unsur hara setiap tanaman pun berbeda. V. Ucapan Terimakasih Bersama dengan selesainya laporan praktikum analisis tanah, air, pupuk dan tanaman ini. Saya mengucapkan terimakasih kepada: 1. Allah SWT. atas rahmat dan anugerah-Nya yang tidak terhingga. 2. Orang Tua saya yang selalu member support dan doa setiap saat. 3. Bapak Suci Handayani atas bimbingannya dan memberikan tambahan ilmu. 4. Mbak Ita yang telah menjadi asisten yang baik dan sabar sehingga praktikum ini berjalan lancar.

5. Teman-teman sesama praktikan karena dukungan dan kerjasamanya sehingga laporan ini dapat selesai tepat waktu. 6. Serta teman-teman lain yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

DAFTAR PUSTAKA Efendi, B. 2006. Ilmu Tanah. Universitas Sumatera Utara, Medan. Hanim, A., Azam, M., and Elin, N. Penentuan kandungan unsur alumunium, mangan, dan silikon dalam air sungai code terhadap waktu sampling dengan metode AANC. Berkala Fisika Vol. 10 (1): 25-30. Harvey and David. 2000. Modern Analytical Chemistry. McGraw-Hill, New York. Houba, V. J. G., J. J. Van Der Lee, and I. Novazamzky. 1995. Soil and Plant Analysis. A series of syllabi. Part 5B Soil Analysis Procedures. 6th edition. Department of Soil Science and Plant Nutrition. Wageningen Agricultural University, Netherland. Lindsay, W. L., and W. A. Norvell. 1978. Development of DTPA soil test for zinc, iron, manganese, and copper. Soil Sci. Soc. Am. J. 42: 421-428. McLean, E. O., and M. E. Watson. 1985. Soil measurements of plant-available potassium. In: Potassium in Agriculture, R. D. Munson (ed). Am. Soc. Agronomy, Madison, WI. Mukhlis. 2007. Analisis Tanah dan Tanaman. USU Press, Medan. Nursyamsi, D. 2006. Kebutuhan hara kalium tanaman kedelai di tanahultisol. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 6 (2): 71-81. Sulaeman, Suparto, dan Eviati. 2005. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai Penelitian Tanah, Bogor.