Anda di halaman 1dari 21

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perancangan Sistem Kerja Penelitian kerja dan analisis metode kerja, pada dasarnya akan memusatkan perhatiaannya pada bagaimana (how) suatu macam pekerjaan akan diselesaikan. Dengan mengaplikasikan prinsip dan teknik pengaturan kerja yang optimal dalam sistem kerja tersebut, maka akan diperoleh alternative metode pelaksanaan kerja yang dianggap memberikan hasil yang paling efektif dan efisien. Suatu pekerjaan akan dikatakan diselesaikan dengan efisien apabila waktu penyelesaiannya berlangsung paling singkat. Waktu tersebut, didapatkan dari suatu pengukuran kerja, yaitu metode penetapan keseimbangan antara kegiatan manusia yang dikontribusikan denganunit output yang dihasilkan. (Modul Praktikum Perancangan Teknik Industri 2011 - 2012)

2.2 Pengukuran Waktu Kerja Pengukuran waktu kerja adalah pekerjaan mengamati dan mencatat waktu. Waktu kerjanya baik setiap elemen ataupun siklus dengan menggunakan alat-alat yang telah disiapkan. Pada pengukuran kerja ada waktu-waktu yang digunakan yaitu waktu baku dan waktu gerakan.Waktu merupakan elemen yang sangat menentukan dalam merancang atau memperbaiki suatu sistem kerja. Peningkatan efisiensi suatu sistem kerja mutlak 3 berhubungan dengan waktu kerja yang digunakan da1am berproduksi. Pengukuran waktu (time study) pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menentukan lamanya waktu kerja yang dibutuhkkan oleh seorang operator (yang sudah terlatih) untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang spesifik, pada tingkat kecepatan kerja yang normal,serta dalam lingkungan kerja yang terbaik pada saat itu. Dengan demikian pengukuran waktu ini merupakan suatu proses kuatitatif, yang diarahkan untuk mendapatkan suatukriteria yang obyektif. Study mengenai pengukuran waktu kerja dilakukan untuk dapat melakukan perancangan atau perbaikan dari suatu sistem kerja. Untuk keperluan tersebut, dilakukan penentuan waktu baku, yaitu waktu yang Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011 1

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

diperlukan dalam bekerja dengan telah mempertimbangkan faktor-faktor diluar elemen pekerjaan yang dilakukan. Secara umum, teknik-teknik pengukuran waktu kerja dapat dikelompokkan atas dua kelompok besar : 1. Secara Langsung Cara pertama disebut demikian karena pengukurannnya dilakukan secara langsung yaitu ditempat dimana pekerjaan yang bersangkutan dijalankan. Pengukuran Kerja Langsung termasuk: Pengukuran waktu dengan jam henti (Stop Watch Jam ) Metoda ini terutama sekali baik diaplikasikan untuk pekerjaan-pekerjaan yang berlangsung singkat dan berulang-ulang(repetitive). Sampling pekerjaan ( Work Sampling ) Sampling atau dalam bahasa asingnya sering disebut dengan work sampling,Ratio Delay Study,atau Random Observation Method adalah suatu teknik untuk mengadakan sejumlah besar pengamatan terhadap aktivitas kerja dari mesin,proses dan pekerja/operator.Pengukuran kerja dengan metoda sampling kerja ini seperti halnya dengan pengukuran kerja dengan Jam henti (stop watch time study) diklasifikasikan sebagai pengukuran secra langsung karena pelaksanaan secara langsung ditmpat kerja diteliti.Metoda sampling sangat cocok digunakan dalam melakukan pengamatan atas pekerjaan yang sifatnya tidak berulang dan memilki siklus,waktu yang relatif panjang. 2. Secara Tidak Langsung Sebaliknya secara tidak langsung melakukan perhitungan waktu tanpa harus berada ditempat pekerjaan yaitu dengan membaca table-tabel yang tersedia asalkan mengetahui jalannya pekerjaan melalui elemen-elemen gerakan dengan salah satu dari cara-cara ini. Disini aktivitas dilakukan hanya melakukan perhitungan waktu kerja dengan membaca tabel-tabel waktu yang tersedia asalkan mengetahui jalannya pekerjaan melalui elemen-elemen pekerjaan atau elemen-elemen gerakan.Cara ini bisa dilakukan dengan: Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011 2

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

Data Waktu Baku (Standard Data) Metoda standard data tujuannya untuk mengurangiaktivitas-aktivitas tertentu mempercepat proses yang diperlukan untuk menetapkan waktu baku dan cenderung memberikan ketelitian dan konsistensi terhadap waktu baku yang dibutuhkan penyelesaian pekerjaan Data Waktu Gerakan (Predetermined time system) terdiri dari setiap operasi kerja suatu kumpulan data waktu dan prosedur sistematik dengan menganalisa dan membagi-bagi setiap operasi kerja (manual) yang dilaksanakan oleh operator ke dalam gerakan-gerakan kerja, gerakan-gerakan anggota tubuh (body movements) ataupun elemen-elemen gerakan manual lainnya dan kemudian menetapkan nilai waktu masing-masing berdasarkan waktu yang ada.Berbagai cara pembagian suatu pekerjaan atas elemen-elemen gerakan telah melahirkan metoda penentuan waktu baku sintesa.Terdapat diantaranya: Analisa Waktu Gerakan (Motion Time Analysis) Waktu Gerakan Dimensi(Dimension Motion Time) Faktor-Faktor Kerja (Work Faktor ) Pengukuran Waktu Gerakan(Motion Time Measurement) Pengukuran Waktu Gerakan Dasar(Basic Motion Time)

Keuntungan Pokok dari Predetermined Time System dibandingkan dengan metoda pengukuran kerja lainnya ialah babwa sistem inibisa dipakai untu menetapkan waktu baku suatu operasi kerja bilamana pola geakan kerja diketahui.Kelebihan Predetemined System diantaranya: Karena setiap elemen gerakan sudah diketahi waktunya(data dikumpulkan dalam tabel-tabel), maka waktu penyelesaian suatu opersi kerja dapat ditentukan sebelum operasi itu sendiri. Wakutu baku untuk setiap operasi kerja dapat ditentukan secara cepat karena hanya sekedar menyintesa waktu-waktu dari elemen-elemen gerakannya. Untuk mengembangkan metoda yang ada,maka disni perlu dievaluasi waktu dari metoda lama dan dikembangkan metoda baru.

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

Untuk membantu perancangan produk.Bila ternyata kondisi fisik produk (berat,bentuk,dan lain-lain). (Wignjosoebroto, Sritomo. Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu)

KELEBIHAN PENGUKURAN LANGSUNG PRAKTIS, mencatat waktu saja tanpa harus menguraikan pekerjaan ke dalam elemen-elemen pekerjaannya. KEKURANGAN PENGUKURAN LANGSUNG Dibutuhkan waktu lebih lama utk memperoleh data waktu yg banyak tujuannya: hasil pengukuran yg Teliti dan Akurat. Biaya lebih mahal Karena harus pergi ketempat dimana pekerjaan pengukuran kerja langsung

KELEBIHAN PENGUKURAN TIDAK LANGSUNG Waktu Relatif Singkat,hanya mencatat elemen-elemen gerakan pekerjaan satu kali saja. Biaya lebih murah

KEKURANGAN PENGUKURAN TIDAK LANGSUNG Belum ada data waktu gerakan berupa tabel-tabel waktu gerakan yang menyeluruh dan rinci.Tabel yang digunakan tidak cocok buat orang indonesia. Dibutuhkan teliti yang tinggi untuk seorang pengamat pekerjaan karena berpengaruh terhadap hasil perhitungan. Data waktu gerakan harus disesuaikan dengan kondisi pekerjaan.Misal:Elemen Pekerjaan Kantor tidak sama dengan Elemen pekerjaan Pabrik. Dalam Pelaksanaan pengukuran kerja pembagian operasi menjadi elemen elemen kerja harus dilakukan terlebih dahulu.Pembagian tersebut perlu dilakukan agar pengukuran menjadi lebih terperinci.Awal dan akhir dari masing-masing elemen kerja harus ditetapkan dengen jelas untuk mempermudah dan menyeragamkan pengukuran waktu kerja.

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

Ada tiga aturan yang harus diikuti Wignosoebroto,Sritomo (1995) untuk membagi Aktivitas suatu operasi menjadi elemen-elemen kerja: 1. Elemen-elemen kerja dibuat sedetail dan sependek mungkin akan tetapi masih memungkinkan untuk diukur dengan teliti. 2. Handling time seperti loading dan unloading harus disahkan dari machining time.Handling time merupakan pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan secara manual oleh operator dan aktivitas pengukuran kerja akan berkonsentrasi disini. 3. Elemen-elemen kerja yang konstan harus dipisahkan elemen-elemen kerja variabel.Elemen-elemen kerja konstan adalah elemen-elemen kerja yang bebas adri pengaruh ukuran,berat,panjang dan lain-lain. (http://dian.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/3665/PENGUKURAN++WAK TU+KERJA.pdf)

2. 3 Peta-Peta Kerja Peta kerja adalah salah satu alat analisis dan komunikasi yang sistematis dan logis guna menganalisis proses kerjayang dialami suatu objek (benda kerja) sejak awal proses sampai menjadi produk akhir untuk merancang dan memperbaiki sistem kerja. (Modul Praktikum Perancangan Teknik Industri 2011 - 2012)

2.3.1 Peta Kerja Setempat Peta kerja setempat yaitu menganalisa kondisi kerja untuk satu area atau sebagian area kerja. Macam-macam peta kerja setempat yaitu : a. MMPC Man Machine Process Chart (Peta Kerja & Mesin) Untuk menganalisa keseimbangan waktu kerja antara kerja manusia (operator) dan kerja mesin Disebut juga string diagram Berguna untuk menentukan beban operator / menghitung jumlah mesin yang dapat dilayani tiap operator dan menentukan strategi pengupahan. Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011 5

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

Gambar 2.1 Peta Kerja MMPC

b. GPC Gang Process Chart (Peta Kelompok Kerja) Yaitu peta untuk pekerjaan yang memerlukan kerja sama yang baik dari sekelompok pekerja: pergudangan, pemeliharaan, atau pekerjaan-pekerjaan pengangkutan material. Tujuan dari peta kerja ini adalah meminimumkan waktu menunggu sehingga bisa mengurangi ongkos produksi atau proses dan mempercepat waktu penyelesaian produksi atau proses.

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

Gambar 2.2 peta kerja GPC

c. LRPC/OrPC Left Right Hands Process Chart / Operator Process Chart (Peta Tangan Kiri dan Kanan) Menggambarkan keseimbangan gerak antara tangan kiri dan tangan kanan Memetakan gerakan dalam elemen therbligh sehingga dapat diidentifikasi gerakan produktif dan tidak produktif.

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

Gambar 2.3 Peta kerja LRPC

2.3.2 Peta Kerja Keseluruhan Peta kerja keseluruhan yaitu menganalisis kondisi kerja pada seluruh area lantai produksi. Macam-macam peta kerja menyeluruh adalah : 1. OPC Operation Process Chart (Peta Proses Operasi) Diadram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang akan dialami bahan baku (urutan operasi dan pemeriksaan) sampai menjadi produk jadi ataupun komponen. Kegunaannya adalah : Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011 8

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

a. bisa mengetahui kebutuhan mesin dan penganggarannya. b. bisa memperkirakan kebutuhan akan bahan baku c. sebagai alat untuk menentukan tata letak pabrik.

d. Sebagai alat untuk melakukan perbaikan cara kerja yang sedang dipakai. e. Sebagai alat untuk latihan kerja, dan lain-lain. W 0N IN M = = = = WAKTU OPERASI/INSPEKSI (MENIT/JAM) Nomor urut kegiatan operasi Nomor urut kegiatan inspeksi Nama mesin atau lokasi kerja dimana kegiatan operasi atau K pemeriksaan dilaksanakan

= Komponen yang tidak diproses tapi tinggal dirakit saja

Gambar 2.4 Material yang dikerjakan dan dirakit

2. MPPC Multiple Product Process Chart (Peta Produk Proses Banyak) Peta untuk menganalisis aliran process dari berbagai macam/banyak produk yang menggunakan mesin proses yang sama tapi dengan urutan proses yang berbeda beda Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011 9

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

Tata letak fasilitas dikelompokkan menurut jenis proses (Process lay-out)

Gambar 2.5 MPPC

3. FPC Flow Process Chart (Peta Aliran Proses) Diagram yang menunjukkan urutan-urutan dari operasi, waktu yang dibutuhkan dan jarak pemindahan yang terjadi selama satu proses atau prosedur berlangsung. Tipe aluiran proses yang di gunakan adalah pekerja, material dan mesin. Kegunaanya adalah : mengetahui aliran bahan atau aktivitas orang mulai dari awal masuk dalam suatu proses sampai aktivitas terakhir. memberikan informasi waktu penyelesaian suatu proses mengetahui jumlah kegiatan yang dialami bahan atau dilakukan oleh orang selama proses berlangsung. sebagai alat untuk melakukan perbaikan-perbaikan proses atau metode kerja.

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011

10

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

Gambar 2.6 Tipe Aliran Proses

4. FD Flow Diagram (Diagram Aliran) Diagram aliran merupakan suatu gambaran menurut skala dari susunan lantai dan gedung yang menunjukkan lokasi dari semua aktivitas yang terjadi dalam Peta Aliran Proses. Kegunaan dari Diagram Aliran adalah sebagai berikut : a. Lebih memperjelas suatu Peta Aliran Proses, apalagi jika arah aliran merupakan faktor yang penting. b. Menolong dalam perbaikan tata letak tempat kerja.

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011

11

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

Gambar 2.8 Diagram aliran

(Wignjosoebroto, Sritomo. Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu) 2. 4 Gerakan Fundamental (Therbligs) Elemen therblig adalah penggolongan elemen kerja ke dalam beberapa kelompok elemen, yang diperkenalkan pertama kali oleh Gilbert. Elemen therblig ini berkaitan dengan pembuatan peta tangan kanan dan tangan kiri. Peta tangan kiri -tangan kanan adalah peta kerja setempat yang bermanfaat untuk menganalisis gerakan tangan operator dalam melakukan pekerjaan yang bersifat manual. Peta ini akan menggambarkan semua kegiatan Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011 12

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

ataupun delay yang terjadi yang dilakukan oleh tangan kanan maupun tangan kiri secara detail sesuai dengan elemen therblig yang membentuk gerakan tersebut. Mempermudah penganalisaan terhadap gerakan-gerakan yang akan dipelajari dahulu gerakan-gerakan dasar yang membentuk kerja dan dasar kerja yang dikenal dengan nama Therbligh. Disini menguraikan gerakan-gerakan dasar kerja ke dalam 17 gerakan dasar Therbligh. Diantaranya: 1. RE = Reach (menjangkau) 2. M = Move (Membawa) 3. G = Grasp (Memegang) 4. RL = Release (Melepas) 5. PP = Pre-position (Pengarahan Sementara) 6. U = Use (Memakai) 7. A = Assemble (Merakit) 8. DA = Disassemble (Lepas rakit) 9. S = Search (Mencari) 10. SE = Select (Memilih) 11. P = Position (pengarahan) 12. I = Inspect (Memeriksa) 13. PL = Plan (Merencanakan) 14. UD = Unavoidable delay (Kelambatan yang tak terhindarkan) 15. AD = Avoidable delay (Kelambatan yang dapat dihindarkan) 16. R = Rest (Istrirahat) 17. H = Hold (memegang untuk memakai) Keterangan: RE = Reach (menjangkau)

Mencari adalah elemen dasar pekerja untuk menentujan lokasi suatu obyek. Gerakan kerja dalam hal ini dilakukan oleh mata. Gerakan dimulai pada saat mata bergerak mencari obyek dan berakhir ketika obyek tersebut telah ditemukan. Elemen gerakan ini sedapat mungkin Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011 13

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

dieliminir dengan cara meletakkan bahan dan peralatan pada lokasi yang tetap sehingga proses kerja mencari dapat dihindari. M = Move (membawa)

Membawa adalah elemen gerakan Therblig yang menggambarkan tangan berpindah tempat baik gerakan menuju atau menjahui obyek atau lokasi tujuan lainnya dan berakhir segera saat tangan berhenti bergerak setelah mencapai tujuannya. G = Grasp (memegang)

Memegang adalah elemen greakan tangan yang dilakukan dengan menutup jari-jari tangan obyek yang dikehendaki dalam suatu operasi kerja. Biasanya didahului oleh gerakan menjangkau dan dilanjutkan dengan gerakan membawa. RL = Release (Melepas)

Elemen gerakan melepas terjadi saat tangan operator melepaskan kembali terhadap obyek yang dipegang sebelumnya. Dengan demikian elemen gerakan ini diawali sesaat gerakan tangan membuka melepas obyek yang dibawa dan berakhir begitu semua jari jelas tidak menyentuh atau memegang obyek lagi. PP = Pre-positon (Pengarahan Sementara)

Elemen gerakan mengarahjkan awal adalah elemen kerja Therblig yang mengarahkan obyek pada suatu tempat sementara sehingga pada saat kerja mengarahkan obyek benar-benar dilakukan maka obyek tersebut dengan mudah akan bisa dipegang dan dibawa ke arah tujuan yang dikehendaki. U = Use (Memakai)

Memakai adalah elemen gerakan Therblig dimana salah satu atau kedua tangan digunakan untuk memakai atau mengontrol suatu alat atau obyek untuk tujuan-tujuan tertentu selama kerja berlangsung.

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011

14

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

= Assemble (Merakit)

Elemen gerakan therblig untuk menghubungka dua objek atau lebih menjadi satu kesatuan. DA = Disassemble (Lepas Rakit)

Elemen ini kebalikan dari elemen merakit. Disini dilakukan gerakan memisahkan atau menguraikan dua objek yang tergabung satu mnjadi objek-objek terpisah. S = Search (mencari)

Elmen dasar gerakan pekerja untuk menentukan lokasi suatu objek. Gerakan dasar dalam hal ini dilakukan oleh mata. SE = Select (Memilih)

Elemen Therbligs yang merupakan gerakan kerja untuk menentukan / memilih suatu objek diantara dua atau lebih objek yang sama lainnya. P = Position (pengarahan)

Elemen gerakan therbligs yang terdiri dari menempatkan objek pada lokasi yang dituju secara tepat. I = Inspect (Memeriksa)

Elemen ini njamin bahwa objek telah memenuhi persyaratan kualitas yang ditetapkan. PL = Plan (Merencanakan)

Elemen therblig merencana ini merupakan proses mental dimana operator berhenti sejenak bekerja dan memikir untuk menentukan tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya. UD = Unvoidable delay (kelambatan yang tak terhindarkan)

Kondisi ini diakibatkan oleh hal-hal yang diluar control dari operator dan merupakan interupsi terhadap proses kerja yang sedang berlangsung. AD = Avoidable delay ( kelambatan yang dapat dihindarkan)

Setiap waktu menganggur yang terjadi pada siklus kerja yang berlangsung mrupakan tanggung jawab operator baik secara sengaja

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011

15

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

maupun tidak sengaja akan diklasifikasikan sebagai kelambatan yang bisa dihindarkan. R = Rest (istirahat)

Elemen ini tidak terjadi pada setiap siklus keja akan tetapi berlangsung secara periodik H = Hold (memegang untuk memakai) ini terjadi bilamana tangan memegang objek tanpa

Elemen

menggerakkan objek tersebut. (http://diyan.staff.umm.ac.id/2010/02/26/elemen-therblig/)

2.5 Melakukan pengukuran waktu Waktu adalah hal yang sangat diperhatikan dalam dunia rekayasa maupun ilmu pengetahuan. Konsep pengukuran waktu pekerjaan manusia merupakan alat pengendalian hasil pekerjaan pekerja di dunia industri. Pengukuran waktu ditunjukkan juga untuk mendapatkan waktu baku dari penyelesain suatu pekerjaan.

2.5.1 Waktu siklus Waktu siklus merupakan waktu yang dibutuhkan seorang operator untuk menyelesaikan 1 siklus pekerjaannya termasuk untuk melakukan kerja manual dan berjalan. Waktu siklus (Tc) biasanya diatur atau dipengaruhi oleh output (Q) yang dikehendaki selama periode waktu produksi (P). Tc =

2.5.2 Performance Rating dengan Metode Westing House dan waktu normal Maksud dan tujuan melakukan performance rating adalah agar waktu kerja lebih tepatnya kondisi kerja yang diamati waktunya dapat dibawa ke kondisi normal. Ketidak normalan dari kerja yang diakibatkan oleh operator yang bekerja secara kurang wajar yaitu bekerja dalam tempo atau kecepatan 16

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

yang lambat.

tidak semestinya, suatu saat dirasakan terlalu cepat dan disaat lain terlalu Westing House Systems Rating merupakan sistem yang diperkenalkan

oleh Westing House Company (1927) lebih lengkap dariBedaux. Disini rating didasarkan oleh empat faktor, yaitu :

1) Keterampilan (Skill) Keterampilan didefenisikan sebagai kemampuan mengikuti cara kerja yang ditetapkan. Keterampilan debagi dalam 6 kelas yaitu : super skill, excellent, good, average, fair dan poor skill. 2) Usaha (Effort) Usaha merupakan kesungguhan yang ditunjukkan oleh operator ketika melakukan pekerjaan. Usaha juga terbagi dalam 6 kelasa, yaitu :Excessive, Excelent, Good, Avarage, Fair dan Poor. 3) Kondisi kerja (Working condition) Kondisi kerja adalah kondisi fisik lingkungan kerja, seperti pecahnya, temperatur dan kebisingan ruangan. Kondisi ini juga terbagi atas enam kelas yaitu : Ideal, Excellent, Good, Avarage, Fair dan Poor. Pada dasarnya kondisi ideal adalah kondisi paling cocok untuk pekerjaan yang bersngkutan, yaitu yang memungkinkan performance maksimal dari operator. 4) Keajegan (consistency) Keajegan diperlukan karena pada kenyataannya pada setiap pengukuran waktu angka angka yang dicatat tidak pernah sama. Rating factor pada dasarnya diaplikasikan untuk menormalkan waktu kerja yang diperoleh dari pengukuran waktu kerja akibat kecepatan kerja operator yang berubah ubah. Waktu normal adalah waktu yang diperlukan oleh karyawan normal untuk menyelesaikan satu unit pekerjaan tanpa adanya cadangan waktu apabila terdapat kerusakan-kerusakan kecil, penundaan proses dan lain sebagainya

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011

17

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

Waktu normal = waktu pengamatan x

2.5.3 Allowance dan Waktu Baku Allowance adalah waktu kelonggaran yang dibutuhkan oleh operator untuk menghentikan kerja, misalnya untuk istirahat, dan untuk ke belakang. Waktu longgar yang dibutuhkan dan akan menginterupsi proses produksi bisa diklasifikasikan menjadi: a. Personal allowance Kelonggaran waktu untuk kebutuhan yang bersifat pribadi. Misalnya untuk pekerjaan yang ringan selama 8 jam akan dibutuhkan waktu istirahat sekitar 10 24 menit. b. Fatigue Allowance Kelonggaran waktu yang digunakan untuk melepas lelah dan waktu yang diperlukan untuk menghilangkan lelah sangat bergantung dari individu itu sendiri. c. Delay Allowance Delay Allowance merupakan kelonggaran waktu karena keterlambatan keterlambatan,misalnya kerusakan pada mesin kerja. Keterlambatan yang terlalu lama tidak akan dipertimbangkan dalam penentuan waktu baku. Waktu baku adalah waktu kerja dengan mempertimbangkan factor penyesuaian dan faktor kelonggaran (allowance ). Manfaat Waktu Baku : Penjadwalan produksi (Production Schedulling ) Perencanaan kebutuhan tenaga kerja ( Man Power Planning ) Perencanaan sistem kompensasi Menunjukkan kemampuan pekerja berproduksi Mengetahui besaran - besaran performansi sistem kerja berdasar data produksi aktual Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011 18

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

2.5.4 Perhitungan Waktu Baku Waktu Baku dapat diperoleh dari:

Waktu Baku= Waktu Normal + ( waktu normal x % allowance) Atau Waktu baku = Waktu normal x

2.6 Presedence Diagram Prosedur keseimbangan lintasan bertujuan meminimalkan harga balance delay dari lintasan untuk nilai waktu siklus yang ditetapkan. Jumlah ini diharapkan dapa pula meminimalkan jumlah stasiun kerja. Prosedur dasar yang dilaksanakan adalah dengan menambahkan elemen-elemen aktivitas dengan setiap stasiun kerja sampai jumlahnya mendekati sama, tetapi tidak melebihi harga waktu siklus. Biasanya juga akan dijumpaihambatan-hambatan dari elemen-elemen aktivitas yang ditempatkan dalam suatu stasiun kerja. Untuk itu yang terpenting adalah tetap memperhatikan the presedence constraint. Presedence constraint (atau bisa diistilahkan dengan ketentuan hubungan suatu aktivitas untuk mendahului aktivitas yang lain) bisa digambarkan dalam bentuk "presedence diagram", dimana secara sederhana diagram ini akan bisa dimanfaatkan sebagai prosedur dasar untuk mengalokasikan elemen-elemen aktivitas. Contoh Presedence diagram:

Gambar 2.5 Contoh Presedence Diagram 1. 2. Menentukan output dari assembly line yang dibutuhkan. Menentukan waktu total yang tersedia untuk memproduksi output itu.

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011

19

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

3.

Menghitung cycle time yang dibutuhkan, misalnya, waktu di antara penyelesaian produk yang dibutuhkan untuk menyelesaikan output yang diinginkan dalam batas toleransi dari waktu (batas waktu yang diijinkan).

4. 5.

Memberikan tugas-tugas kepada pekerja dan mesin. Menetapkan minimum banyaknya stasiun kerja (work station) yangdibutuhkan untuk memproduksi output yang diinginkan.

6. 7.

Menilai efektifitas dan efisiensi dari solusi. Mencari terobosan-terobosan untuk perbaikan proses terusmenerus

(continous process improvement).

(Wignjosoebroto, Sritomo. Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu)

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011

20

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 2 Perancangan dan Standarisasi Sistem Kerja Kelompok 22

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik 2011

21