Anda di halaman 1dari 11

RESPONSI ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN RSAL Dr.

RAMELAN SURABAYA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HANG TUAH


I. IDENTITAS PENDERITA Nama Umur Jenis kelamin Alamat Pekerjaan Agama Suku/Bangsa Tanggal Pemeriksaaan : An. R O : 8 tahun : Laki-laki : Jalan Pagesangan Surabaya :: Islam : Jawa/Indonesia : 22 September 2011

II.

ANAMNESA 1. Keluhan Utama Luka pada lutut kanan

2. Keluhan Tambahan Gatal pada daerah luka

3. Riwayat Penyakit Sekarang Penderita datang ke poli Kulit dan Kelamin RSAL Dr. Ramelan dengan keluhan luka pada lutut kanan, luka disertai gatal sejak kurang lebih 7 hari yang lalu, gatal terus menerus. Pada awalnya hanya timbul bintil kecil dan terasa gatal, yang kemudian digaruk oleh penderita sehingga menimbulkan luka dan keluar

cairan. Beberapa hari kemudian bintil kecil tersebut menjadi luka yang bernanah lalu mengering dan menyebar disekitar luka tersebut. Luka tidak didahului oleh panas badan, dan tidak ada nyeri. Penderita sering main di luar rumah dan menurut orang tua penderita bermainnya di tempat yang kurang bersih. Tidak ada riwayat trauma pada kaki.

4. Riwayat Penyakit Dahulu Penderita pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya Riwayat alergi makanan

5. Riwayat Penyakit Keluarga Keluhan yang sama pada keluarga disangkal Riwayat alergi, pada ibu penderita

6. Riwayat Psikososial Penderita mandi teratur 2 kali sehari dengan sabun dan menggunakan air PDAM Lingkungan tempat tinggal penderita cukup bersih Penderita sering bermain di luar rumah dan kurang bersih bermainnya ditempat yang

III.

PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Kesadaran Status Gizi : Baik : Compos mentis : Cukup

1. Status Generalis Kepala / Leher Thorax Abdomen Ekstremitas : Dalam batas normal : Dalam batas normal : Dalam batas normal : Dalam batas normal

2. Status Dermatologi Lokasi Efloresensi : Genu dextra

: Didapatkan Multiple lesi sircumskrip dengan

ukuran bervariasi berbentuk teratur dan anular, tampak krusta tebal berwarna kuning dan kecoklatan, diatas kulit yang eritematus dengan batas yang tegas.

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Tidak dilakukan

V.

RESUME Anamnesa Penderita laki laki, 8 tahun, keluhan luka pada lutut kanan disertai gatal sejak 7 hari yang lalu. Awal luka, timbul vesikel yang kemudian pecah dan mengering menjadi krusta. Tidak ada panas dan nyeri, tidak ada riwayat trauma sebelumnya. Penderita sering bermain diluar rumah dan ditempat yang kurang bersih Penderita pernah sakit seperti ini sebelumnya.

Pemeriksaan fisik Status generalis : Dalam batas normal Status dermatologi Lokasi Efloresensi : : Genu dextra

: Didapatkan Multiple lesi sircumskrip

dengan ukuran bervariasi berbentuk teratur dan anular, tampak krusta tebal berwarna kuning dan kecoklatan, diatas kulit yang eritematus dengan batas yang tegas. pemeriksaan penunjang Tidak dilakukan

VI.

DIAGNOSA KERJA Ektima

VII.

DIAGNOSA BANDING Impetigo Krustosa

VIII.

PENATALAKSANAAN 1. Planning Diagnosis 1. Dilakukan pelepasan krusta

2. Planning Terapi Non medikamentosa : Jaga kebersihan, jangan bermain di tempat yang kotor Lesi tidak boleh digaruk Minum obat teratur : Krim antibiotic topikal : mupirosin 2 %, oleskan sehari 2 3 kali Melepas krusta. Bila krusta melekat kuat, dikompres lebih dahulu dengan NaCl 0,9%. Krusta perlu dilepas agar obat topical efektif bekerja. Antibotik sistemik : Amoksisilin 20 mg/kgBB/hari, sehari 3 kali CTM 3 x 0,5 tab

Medikamentosa

IX.

PROGNOSIS Baik jika pengobatan dilakukan rutin dan konsisten

EKTIMA

I.

DEFINISI Ektima ialah ulkus superfisial dengan krusta di atasnya yang disebabkan infeksi oleh streptococcus.

II.

ETIOLOGI Streptococcus B hemolyticus

III.

EPIDEMIOLOGI Ektima dapat ditemui diseluruh dunia dan paling banyak di daerah tropis. Angka kejadian lebih sering terjadi pada anak anak, laki laki dan perempuan sama saja.

IV.

PERJALANAN PENYAKIT Lesi awal berupa vesikel atau vesikopustula diatas kulit yang eritematousa, membesar dan pecah, terbentuk krusta tebal dan kering yang sukar dilepas dari dasarnya. Jika krusta dilepas terdapat ulkus dangkal. Jika keadaan umum baik akan sembuh sendiri dalam waktu sekitar 3 minggu, meninggalkan jaringan parut yang tidak berarti. Jika keadaan umum buruk dapat menjadi gangren.

V.

MANIFESTASI KLINIS

1.

Anamnesis Keluhan penderita adalah ada luka dengan disertai rasa gatal dan nyeri yang bersifat ringan di ekstremitas bawah, yaitu tempat yang relatif banyak terjadi trauma.

2.

Pemeriksaan fisik Efloresensi tampak krusta tebal berwarna kuning jika diangkat ternyata lekat dan tampak ulkus dangkal.

VI.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Mencari etiologi dari sekret / kerokan kulit. Pada kasus yang kronis dan susah sembuh bisa di lakukan kultur jaringan dan biopsi.

VII.

DIAGNOSIS Diagnosa di tegakkan berdasarkan anamnesis pemeriksaan fisik dengan melihat gambaran klinis dan lokasi terjadinya lesi serta pemeriksaan penunjang dengan kerokan kulit.

VIII.

DIAGNOSIS BANDING Impetigo krustosa

Definisi Bentuk pioderma yang paling sederhana. Menyerang epidermis, gambaran yang dominan ialah krusta yang khas, berwarna kuning kecoklatan seperti madu yang berlapis lapis.

Etiologi Streptococcus B hemolyticus

Epidemiologi Sering terjadi didaerah tropis, umumnya terjadi pada anak anak, frekuensi terkenanya antara laki laki dan perempuan sama.

Manifestasi klinis Keluhan utamanya adalah gatal. Lesi awal berupa makula erimatosa berukuran 1 2 mm, segera berubah menjadi vesikel atau bula. Karena dinding vesikel tipis, mudah pecah dan mengeluarkan sekret seropurulen kuning kecoklatan. Selanjutnya mengering membentuk krusta yang berlapis lapis. Krusta mudah dilepaskan, di bawah krusta terdapat daerah erosif yang mengeluarkan sekret sehingga krusta kembali menebal.

Penatalaksanaan Jika krusta sedikit, dilepaskan dan di beri salep antibiotik. Kalau banyak di beri pula antibiotik sistemik.

IX.

PENATALAKSANAAN Jika terdapat sedikit, krusta di angkat lalu di olesi dengan salep antibiotik. Kalau banyak, juga diobati dengan antibiotik sistemik. Bermacam macam obat topikal dapat digunakan untuk pengobatan pioderma dalam hal ini ektima. Obat topikal antimikrobial hendaknya yang tidak di pakai secara sistemik agar kelak tidak terjadi resistensi dan hipersensitivitas. Basitrasin Antibiotik ini dihasilkan oleh strain tertentu B. Subtilis dan bersifat bakterisid terhadap kuman-kuman gram positif dan Neisseria. Basitrasin tidak aktif terhadap kuman gram negatif lainnya dan beberapa strain Staphylococcus. Obat ini sekarang hanya digunakan secara topikal untuk berbagai infeksi kulit karena pada pemberian sistemik bersifat nefrotoksik. Reaksi alergi jarang terjadi pada penggunaan topikal. Basitrasin tersedia dalam bentuk salep kulit yang mengandung 500 unit / g. Garam seng basitrasin juga sering dicampur dengan neomisin sulfat, polimiksin B sulfat dan lain -lain untuk penggunaan topikal. Kombinasi ini dianggap rasional karena obat - obat ini relatif aman pada penggunaan

topikal dan tidak praktis untuk melakukan identifikasi kuman setiap kali. Basitrasin stabil dalam bentuk salep, tetapi tidak stabil dalam bentuk kream. Mupirosin ( natrium fusidat ) Obat ini bekerja dengan menghambat enzim isoleusit t - RNA sintetase pada kuman. Kebanyakan stafilokokkus ( termasuk S. epidermidis dan S. aureus yang resisten terhadap metisilin ) dan sterptokokkus ( kecuali S. faecalis ) peka terhadap mupirosin. Kuman gram negati tertentu ( E. coli, H. influensa, N. meningitidis, N. gonorrhoe ) juga peka terhadap obat ini. Mupirosin tidak mempunyai efek yang berarti terhadap klamidia, jamur, dan flora normal kulit. Obat ini bersifat bakterisidal dalam bentuk salep 2% dengan vehikulum polietilen glikol. Namun vehikulm ini sendiri dapat diserap terlalu banyak pada lesi yang luas hingga menimbulkan efek nefrotoksik. Pada umumnya pemberian topikal mupirosin dapat ditoleransi dengan baik. Jarang sekali dapat terjadi iritasi kulit. Mupirosin topikal diindikasikan untuk berbagai infeksi kulit (baik primer maupun sekunder) yang disebabkan oleh stafilokokkus aureus dan streptokokkus piogenes. Untuk infeksi kulit yang luas diperlukan pemberian antimikroba sistemik. Neomisin Neomisin tersedia untuk penggunaan topikal dan oral, penggunaan parenteral tidak lagi di benarkan karena toksisitasnya. Untuk topikal fremisetin sulfat ini (neomisin B ) tersedia hanya untuk penggunaan topikal sebagai salep dengan kadar 1%.

Untuk obat sistemik. Berbagai obat dapat digunakan sebagai pengobatan pioderma terutama dalam hal ini ektima. Berikut ini disebutkan contoh contohnya. 1. Penisillin G prokain dan semisintetiknya a. Penisilin G prokain Dosisnya 1,2 juta perhari, i.m. Obat ini tidak dipakai lagi karena tidak praktis, diberikan i.m. dengan dosis tinggi, dan makin sering terjadi syok anafilaktik.

b. Ampisilin Dosisnya 4x500 mg, diberikan sejam sebelum makan. c. Amoksislin Dosisnya sama dengan ampisilin, kelebihannya lebih praktis karena dapat diberikan setelah makan. Juga cepat diabsorbsi dibandingkan dengan ampisilin sehingga konsentrasi dalam plasma lebih tinggi. d. Golongan obat penisilin resisten-penisilinase Yang termasuk golongan ini, contohnya : oksasilin, kloksasilin, dikloksasilin, flukloksasilin. Dosis kloksasilin 3x250 mg per hari sebelum makan. Golongan obat ini mempunyai kelebihan karena juga berkhasiat bagi Staphilococcus aureus yang telah membentuk penisilinase. 2. Linkomisin dan klindamisin Dosis linkomisin 3 x 500 mg sehari. Klindamisin diabsorbsi lebih baik karena itu dosisnya lebih kecil yakni 4 x 150 mg sehari per os. Pada infeksi berat dosisnya 4 x 300 - 450 mg sehari. Obat ini efektif untuk pioderma untuk disamping golongan obat penisilin resisten - penisilinase. Efek samping yang disebut kepustakaan berupa kolitis pseudomembranosa. Belum pernah penulis temukan. Linkomisin agar tidak dipakai lagi dan diganti dengan klindamisin karena potensi antibakterinya lebih besar, efek sampingnya lebih sedikit, pada pemberian per oral tidak terlalu dihambat oleh adanya makanan dalam lambung.

3. Eritromisin Dosisnya 4 x 500 mg sehari per os. Efektivitasnya kurang dibandingkan dengan linkomisin / klindamisin dan golongan obat penisilin resisten penisilinase. Obat ini cepat menyebabkan resistensi. Sering memberi rasa tak enak di lambung. 4. Sefalosporin Pada pioderma yang berat atau yang tidak memberi respons dengan obat-obat tersebut diatas, dapat dipakai sefalosporin.

10

Ada empat generasi yang berkhasiat untuk kuman positif - Gram ialah generasi I, juga generasi IV. Contohnya sefadroksil dari generasi I dengan dosis untuk orang dewasa 2 x 500 mg atau 2 x 1000 mg sehari.

X.

KOMPLIKASI Infeksi dapat menyebar ke bagian tubuh yang lain. Dapat merusak kulit sehingga timbul scar.

11