Anda di halaman 1dari 4

PUSAT PELATIHAN & INFORMASI ISLAM DAN HAK-HAK PEREMPUAN

Jumat, 04 Pebruari 2011Selasa, 04 Desember 2007


Home l Profil l Perpustakaan l Swara Rahima l Foto l Web Lain
Assalamu'alaikum l Surat Pembaca l Fokus l Opini l Fikrah l Tafsir al-Quran l Dirasah Hadis l Teropong Dunia
Akhwatuna l Potret l Kiprah l Info l Khazanah l Cerpen l Tanya Jawab l Refleksi

Hijrah dalam Al Quran:


Refleksi bagi Kebangkitan Perempuan

Oleh: KH. Hussein Muhammad

Tanggal 1 Muharram dalam kalender kaum muslimin sedunia telah tercatat


sebagai hari
bersejarah dalam kehidupan mereka. Pada 1426 tahun lalu Umar bin Khattab,
khalifah kedua telah mencanangkan 1 Muharram sebagai awal kalender kaum
muslimin. Khalifah paling kreatif ini merenung dan memandang dengan seluruh
ketajaman nurani dan pikirannya, hari-hari yang pernah dilalui bersama
Rasulullah SAW. Dia juga melihat peristiwa kehadiran Nabi yang agung itu sejak
beliau lahir ke muka Bumi. Pikiran dan permenungan sang pemimpin visioner
itu diperlukan untuk menentukan kapan kalender kaum muslimin harus dimulai.
Pilihan itu pada akhirnya jatuh pada moment sejarah kehidupan Nabi yang
paling menentukan bagi masa depan Islam dan kaum muslimin yaitu Hijrah.

Umar agaknya mengingat dengan tingkat kesadaran yang utuh bagaimana Nabi
yang mulia dan para pengikutnya yang setia berada dalam kondisi yang sangat
kritis. Nabi telah kehilangan orang-orang yang mencintai dan dicintainya, orang
yang melindungi dan membela perjuangannya. Istri tercintanya, Khadijah dan
pamannya, Abu Thalib, telah meninggalkannya untuk selamanya. Sejarah kaum
muslimin menyebutnya sebagai ‘am al huzn, tahun duka nestapa. Sementara
sikap kaum yang membencinya telah kehilangan cara untuk menghentikan
dakwah profetik dan monoteistik. Beberapa cara dan strategi busuk telah
dilakukan termasuk politik pengucilan dan pembiaran agar mati kelaparan.
Satu-satunya cara yang tersisa adalah menghabisi nyawanya. “Muhammad
harus mati”, teriak mereka.

Pada malam yang kelam mereka telah siap untuk mengakhiri hidup Muhammad.
Dengan begitu, pikir mereka, akan berakhir pula riwayat kepercayaan baru yang
merusak tradisi dan kepercayaan politeistik (syirik) mereka.

Tetapi apa yang terjadi? Rencana mereka gagal total. Muhammad yang mereka
cari telah pergi tanpa diketahui jejaknya. Tuhan telah mengaturnya dengan
amat cermat dan menggagalkannya. “Ingatlah (hai Muhammad), ketika orang-
orang kafir Quraisy itu berkomplot membuat rencana terhadapmu, untuk
menangkap atau membunuh atau mengusirmu. Mereka membuat rencana dan
Allah adalah Perencana terbaik”. (Q.S. 8:30).

Nabi didampingi seorang sahabat setianya, Abu Bakar al Shiddiq, hijrah ke


Madinah menyusul para pengikut yang berangkat lebih dahulu. Ada sejumlah
pendapat mengenai tanggal Nabi hijrah. Al Najm Umar bin Fahd Muhammad bin
Muhammad berpendapat bahwa itu terjadi pada tanggal 4 Rabi’al Awal.
Sementara Abd al Fattah al Matsnawi mengatakan hijrah terjadi pada tanggal 1
Rabi’ al awal/13 September 622 M dan tiba di Yatsrib (Madinah) pada Senin 12
Rabi’ al Awal/24 September 622M.

Hakekat Hijrah
Secara literal hijrah berasal dari kata hajara. Al Mu’jam al Wasith menyebutkan
: hajara berarti taraka min makan ila makan, berpindah dari satu tempat ke
tempat lain dalam arti fisikal atau berarti i’tazala, memisahkan diri atau
tabaa’ada, menjauhkan diri. Ia juga bisa berarti taraka wathanahu, dia
meninggalkan tanah airnya. Mengenai makna ini, Al Qur-an menyatakan: “Dan
orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman
sebelum (kedatangan) mereka (muhajirin) mereka mencintai orang yang
berhijrah ke tempat mereka”. (Q.S. al Hasyar, 59:9).

Ayat lain yang menunjuk arti perpindahan tempat juga disebutkan dalam Q.S.
Al Ankabut, 29: 26 : “Maka Luth membenarkan kenabian Ibrahim. Dan dia
(Ibrahim) berkata: “Sesungguhnya aku harus berpindah ke (tempat yang
diperintahkan) Tuhan kepadaku”.

Sementara al Raghib al Isfahani dalam Mufradat Alfazh al Qur-an menyatakan


bahwa kata hajara berarti “mufaraqah al insan ghairahu imma bi al badan aw bi
al lisan aw bi al qalb (meninggalkan orang lain baik secara fisik, ucapan, atau
hati). Ini menunjukkan bahwa hijrah memiliki makna yang lebih luas dari
sekadar perpindahan fisik. Hijrah berarti juga mendiamkan atau membiarkan. Al
Isfahani selanjutnya mengemukakan makna terminologis hijrah sebagaimana
dipahami banyak orang dewasa ini. Hijrah adalah keluar dari rumah atau
wilayah kafir (dar al kufr) menuju rumah atau wilayah iman (dar al iman)
seperti hijrah dari Makkah ke Madinah.

Di sini tampak bahwa hijrah mengandung makna teologis, sebuah sikap


meninggalkan keyakinan yang mengingkari Tuhan berikut misi-misi yang
disampaikan-Nya menuju kepada sikap mempercayai Tuhan berikut seluruh
misi-Nya. Pemaknaan ini diambil dari sejumlah ayat al Qur-an. Misalnya : “Dan
orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizhalimi, pasti Kami
menyediakan untuk mereka tempat yang baik di dunia”.(Q.S. al Nahl,16: 41)
atau “O-rang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan
Allah...”(Q.S.al Anfal, 8:74) dan masih banyak ayat yang lain.

Dalam banyak pandangan ayat-ayat tentang hijrah di atas dapat menunjuk


pada makna-makna yang terkait dengan dimensi moralitas dan religius. Mereka
mengatakan bahwa hijrah berarti “hujran al syahawat wa al akhlaq al dzamimah
wa al khathaya (meninggalkan keinginan-keinginan yang rendah, moralitas yang
buruk, dan kekeliruan-kekeliruan) menuju kepada kehidupan yang lebih religius
dan bermoral mulia.

Demikianlah, jelas bahwa hijrah tidak dapat dimaknai secara sederhana sebagai
perpindahan tempat, melainkan sebuah langkah yang mengandung dimensi-
dimensi kehidupan yang lebih luas dan strategis. Sebagai seorang Rasul (utusan
Tuhan), misi utama Nabi Muhammad SAW adalah menyebarkan prinsip
monoteisme, keadilan, dan kerahmatan untuk seluruh umat manusia. Dengan
begitu langkah hijrah Nabi SAW adalah dalam kerangka melanjutkan misi
teologis, spiritual, dan moral kemanusiaan di tempat dan audiens yang lebih
menghargai nilai-nilai kemanusian yang luhur.

Hal yang menarik adalah bahwa hampir semua teks suci al Qur-an yang
menyebutkan kata hijrah diikuti dengan kata “jihad”. Dalam terminologi Islam,
jihad diartikan sebagai perjuangan dengan mengerahkan seluruh potensi dan
kemampuan yang dimiliki manusia; moral, intelektual, dan spiritual untuk
sebuah tujuan yang mulia. Pada umumnya tujuan jihad adalah membebaskan
tirani (kezaliman), pikiran-pikiran dan perilaku-perilaku yang sesat (batil) dan
mengubahnya menjadi kebenaran, kebaikan, keadilan, kemuliaan dan
kedamaian. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa hijrah dan jihad adalah
dua hal yang berjalan secara simultan. Hijrah merupakan langkah melepaskan
diri dari kondisi dan situasi kehidupan yang anti-Tuhan dan sarat kezaliman
menuju perwujudan masyarakat baru yang humanistik. Seluruh langkah ini
harus dilakukan dengan seluruh kesungguhan intelektual, moral, dan spiritual
yang dimiliki manusia beriman.

Makna Hijrah bagi Perempuan


Makna-makna hijrah di atas tampaknya menemukan relevansinya yang sangat
kuat dengan problem-problem kehidupan masyarakat muslim dewasa ini. Satu
dari sekian banyak problem tersebut adalah nasib perempuan yang masih
belum cukup mendapatkan statusnya sebagai manusia yang setara dengan
kaum laki-laki. Tuntutan kaum perempuan untuk diperlakukan secara adil lebih
banyak masih dalam tataran retorika. Praktik-praktik kehidupan masih
memarjinalkan kaum perempuan dalam skala yang cukup masif. Kekerasan
yang dialami kaum perempuan masih menyergap di mana-mana.

Kekerasan terhadap perempuan (di dalam maupun di luar rumah tangga)


menunjukkan angka yang terus membesar. Bahkan kecenderungan baru
memperlihatkan praktik-praktik masyarakat Arabia pra Islam terhadap
perempuan, yaitu perempuan semakin banyak diperlakukan bagai budak belian.
Ini muncul dalam kasus trafficking in women (perdagangan perempuan) yang
semakin hari semakin meningkat secara eskalatif. Trafficking perempuan
mengambil bentuk penipuan,kebohongan, dan eksploitasi baik dalam proses
migrasi maupun untuk pekerja rumahtangga dalam negeri. Secara singkat kita
dapat mengatakan bahwa hak-hak asasi perempuan belum mendapatkan respon
yang lebih progresif dalam sistem sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan kita.

Memahami makna substantif dari hijrah sebagaimana dikemukakan seharusnya


menuntut orang-orang yang beriman untuk menghijrahkan mereka dari ruang
keterpurukan dan ketertindasannya. Pandangan-pandangan dan sikap-sikap
yang merendahkan, memarjinalkan, mendiskriminasi, dan mengekspoitasi tubuh
dan eksistensi kaum perempuan sebagaimana yang pernah dilakukan orang-
orang kafir Quraisy Makkah sebelum hijrah harus ditinggalkan. Mereka tidak
boleh dikembalikan lagi pada sistem kebudayaan lama (jahiliyah). Al Qur-an
menyatakan : “Wahai orang-orang yang beriman (kepada Allah Yang Maha
Esa), apabila perempuan-perempuan yang beriman datang berhijrah kepadamu,
hendaklah kamu uji keimanan mereka. Allah lebih mengetahui keimanan
mereka. Jika kamu telah mengetahui bahwa mereka benar-benar beriman,
janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir”. (Q.S. al
Mumtahanah, 60 ; 10).

Ayat ini menjelaskan bahwa kaum perempuan yang ikut hijrah bersama Nabi
dan memiliki tekad yang kuat untuk setia kepada perjuangan Nabi harus
diperlakukan secara baik. Mereka tidak boleh dibiarkan kembali ke tangan
orang-orang kafir Quraisy yang biasa memperlakukan mereka dengan
pandangan mata yang merendahkan dan mengajak kepada kekufuran. Pada
ayat selanjutnya dinyatakan: “Wahai Nabi, apabila perempuan-perempuan
beriman datang kepadamu untuk mengadakan baiat (janji setia) bahwa mereka
tidak akan menyekutukan sesuatu apapun dengan Allah, tidak akan mencuri,
tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berdusta
dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji-
setia mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sungguh
Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”.(Q.S. al Mumtahanah, 60 ; 12).

Demikianlah, sesampainya Nabi di Madinah, upaya-upaya ke arah perwujudan


cita-cita yang pernah dicanangkan di Makkah mulai dilakukan. Al Qur-an dan
Sunnah Nabi dalam banyak tempat secara jelas menghargai peran dan status
perempuan dibandingkan dengan kondisinya pada masa pra Islam atau ketika
masih di Makkah dengan menekankan kesetaraan spiritual dan moral laki-laki
dan perempuan. Meskipun sejumlah aturan-aturan sosial dan ekonomi tertentu
dalam al Qur-an masih memperlihatkan kepemihakan kepada laki-laki dan
menunjukkan ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan, namun hal itu harus
dipahami sebagai langkah transformasi kultural dalam tahapannya yang awal.
Dengan sangat menarik, Khalid Abou el Fadl mengatakan: “Aturan-aturan
hukum yang bersifat khusus (partikular, -pen.) bisa saja dianggap sebagai
moral. Akan tetapi hal itu karena aturan-aturan tersebut lebih diterima sebagai
solusi yang bersifat ilahiyah atas problem partikular yang ada dalam sebuah
kondisi tertentu. Dengan berubahnya kondisi, aturan-aturan hukum yang
bersifat khusus itu bisa saja gagal memenuhi tujuan-tujuan moralnya dan oleh
karena itu perlu dipikirkan ulang”. (Melawan Tentara Tuhan, hal. 158).

Hal lain yang seharusnya menjadi fokus perhatian kita adalah bahwa Nabi SAW
pada suatu hari yang bersejarah melakukan langkah transformasi kebudayaan
dan politik secara spektatuler melalui apa yang disebutnya sebagai “Watsiqah
Madinah” (Traktat Madinah) yang berisi diktum-diktum tentang persamaan,
persaudaraan, dan penegakan keadilan. Para sarjana muslim maupun
nonmuslim mengakui Piagam Madinah tersebut sebagai deklarasi hak-hak asasi
manusia. Ini adalah cita-cita besar Nabi SAW. yang patut kita wujudkan dalam
kehidupan kita hari ini. Cita-cita ini masih diulangi lagi pada kesempatan yang
terakhir sebelum Nabi wafat. Di sebuah bukit di Arafah, Nabi berpidato kepada
seluruh dunia : “Wahai manusia, perhatikan dengan sungguh-sungguh. Aku
berpesan kepadamu agar kamu memper lakukan kaum perempuan dengan
baik, karena mereka (dalam realitas kebudayaan kamu) masih dianggap seperti
tawanan. Kamu tidak mempunyai hak apa-apa atas mereka, kecuali
memperlakukan mereka dengan baik”. Dan dalam kalimatnya yang lain Nabi
juga mengatakan: “Sungguh, darahmu, hartamu, dan kehormatanmu adalah
suci, sesuci hari ini dan bulan ini sampai datang masanya kamu menghadap
Tuhan. Dan pasti kamu akan menghadap Tuhan, pada waktu itu kamu dimintai
pertanggungjawaban atas segala perbuatanmu”. ]

Rahima Jl. Pancoran Timur IIA No. 10 Perdatam Pasar Minggu Jakarta Selatan
Telp./Fax. +62.21. 798 4165 e-mail: rahima2000@cbn.net.id CopyRight © Rahima 2001