Anda di halaman 1dari 49

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Persaingan bisnis yang semakin kompleks dan ketat telah menghadirkan tantangan baru bagi perusahaan. Kecepatan menjadi masalah yang patut diperhatikan yaitu bagaimana cara perusahaan atau organisasi untuk mendapatkan dan mengevaluasi informasi dengan segera, dan untuk kemudian menggunakan informasi tersebut untuk merespon setiap kejadian dan masalah secara cepat dan tepat pula. Karena itu kecepatan menjadi faktor penting dalam menumbuhkan nilai kompetitif suatu perusahaan atau organisasi. Pada beberapa tahun terakhir telah banyak perusahaan yang memanfaatkan solusi dengan teknologi informasi (TI) untuk mengoptimasi proses bisnis yang dimilikinya, bisnis dapat dengan cepat menerima informasi tentang apa saja yang berhubungan dengan bisnisnya. Oleh karena itu, bisa dikatakan saat ini adalah era informasi. Informasi menjadi salah satu faktor pertumbuhan di era globalisasi ini. Terapi tiap manajer belum tentu dapat memanfaatkan semua informasi yang ada. Tantangannya adalah mrngumpulkan, menyimpan, memproses, melaporkan, dan menggunakan informasi yang paling relevan untuk membuat keputusan yang lebih efektif. Dalam hal pemetaan proses bisnis ini digunakan IDEF0 karena IDEF0 merupakan teknik pemodelan fungsional yang telah dikenal luas dalam organisasi manufaktur dimana model fungsional tersebut akan membantu dalam memahami tindakan, aktivitas, keputusan, ataupun hubungan informasional yang diperlukan untuk mendukung fungsi-fungsi dari suatu organisasi manufaktur serta dapat memberikan masukan kepada pihak manajemen perusahaan dalam melakukan upaya peningkatan kinerja dan tingkat integrasi sistem produksi, baik yang berhubungan dengan aliran material maupun aliran informasi. Proses pemodelan perusahaan harus mempunyai tujuan tertentu, misalnya membuat model untuk membentuk sistem manufaktur yang baru, melakukan analisis

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

performansi dari suatu unit manufaktur tertentu, melakukan analisis biaya ataupun melakukan re-desain dari sistem informasi. Setiap model mempunyai tujuan tersendiri dan mencakup bagian dari keseluruhan perusahaan atau dapat dikatakan setiap model menggambarkan aspek-aspek perusahaan secara detail dilihat dari sudut pandang tertentu. Namun demikian perlu dijaga tingkat konsistensi di antara model-model yang ada sehingga tujuan integrasi perusahaan tetap dapat tercapai.

1.2

Perumusan Masalah Bagaimana pemetaan proses bisnis yang dilakukan oleh PT. Tami Jaya agar dapat mengimplementasikan keilmuan Teknik Industri dalam perusahaannya sehingga dapat mengoptimalkan profit.

1.3

Tujuan Praktikum 1. Mahasiswa mampu menganalisis dan memetakan proses-proses bisnis dalam suatu perusahaan. 2. Mahasiswa mengenal berbagai pendekatan dalam memodelkan informasi dalam perusahaan. 3. Mahasiswa mampu mendesain suatu model informasi dengan menggunakan salah satu pendekatan yang ada. 4. Mahasiswa mampu menggunakan suatu alat pemodelan informasi untuk menciptakan dan mendekomposisikan proses bisnis. 5. Mahasiswa mampu memetakan proses bisnis dalam manajemen produksi dan meterial pada khususnya dan proses bisnis perusahaan secara keseluruhan pada umumnya ke dalam suatu model informasi.

1.4

Pembatasan Masalah dan Asumsi Pada praktikum kali ini masalah dibatasi pada proses bisnis secara

keseluruhan yang dilakukan oleh PT. Tami Jaya, dengan harapan agar perusahaan tersebut dapat menciptakan produk yang lebih baik sehingga mampu

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

menghasilkan laba yang optimal. Kemudian proses-proses bisnis tersebut dipetakan dengan menggunakan pendekatan metode IDEF0, Context Diagram, dan DFD.

1.5

Sistematika Penulisan Laporan ini disusun dengan sistematika sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Berisi tentang Latar Belakang, Tujuan Praktikum, dan Sistematika Penulisan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Berisi tentang Pengertian Sistem, Pemodelan Sistem, Jenis-Jenis Model, Proses Bisnis, Sistem Informasi, Pelaku Dalam Sistem Informasi, Klasifikasi Sistem Informasi, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, Alat/ Teknik Desain Sistem. BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM Berisi metode-metode yang digunakan dalam praktikum BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Berisi data-data dan hasil dari data yang telah diolah BAB V PEMBAHASAN Berisi mengenai pembahasan dan analisa dari pemodelan fungsi bisnis perusahaan. BAB VI PENUTUP Berisi tentang kesimpulan dan saran dari hasil praktikum yang telah dilakukan.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sistem Pengertian sistem berasal dari bahasa Latin (systma) dan bahasa Yunani (sustma) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi. Istilah ini sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi, di mana suatu model matematika seringkali bisa dibuat. Syarat- syarat sistem : 1. Sistem harus dibentuk untuk menyelesaikan masalah. 2. Adanya hubungan diantara elemen sistem. 3. Elemen sistem harus mempunyai rencana yang ditetapkan. 4. Unsur dasar dari proses (arus informasi, energi dan material) lebih penting dari pada elemen sistem. 5. Tujuan organisasi lebih penting dari pada tujuan elemen.

Elemen-elemen sistem: Ada beberapa elemen yang membentuk sebuah sistem, yaitu : tujuan, masukan, proses, keluaran, batas, mekanisme pengendalian dan umpan balik serta lingkungan. Berikut penjelasan mengenai elemen-elemen yang membentuk sebuah sistem : 1. Tujuan Setiap sistem memiliki tujuan (Goal), entah hanya satu atau mungkin banyak. Tujuan inilah yang menjadi pemotivasi yang mengarahkan sistem. Tanpa tujuan, sistem menjadi tak terarah dan tak terkendali. Tentu saja, tujuan antara satu sistem dengan sistem yang lain berbeda. 2. Masukan Masukan (input) sistem adalah segala sesuatu yang masuk ke dalam sistem dan selanjutnya menjadi bahan yang diproses. Masukan dapat berupa hal-hal yang

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

berwujud (tampak secara fisik) maupun yang tidak tampak. Contoh masukan yang berwujud adalah bahan mentah, sedangkan contoh yang tidak berwujud adalah informasi (misalnya permintaan jasa pelanggan). 3. Proses Proses merupakan bagian yang melakukan perubahan atau transformasi dari masukan menjadi keluaran yang berguna dan lbih bernilai, misalnya berupa informasi dan produk, tetapi juga bisa berupa hal-hal yang tidak berguna, misalnya saja sisa pembuangan atau limbah. Pada pabrik kimia, proses dapat berupa bahan mentah. Pada rumah sakit, proses dapat berupa aktivitas pembedahan pasien. 4. Keluaran Keluaran (output) merupakan hasil dari pemrosesan. Pada sistem informasi, keluaran bisa berupa suatu informasi, saran, cetakan laporan, dan sebagainya. 5. Batas Yang disebut batas (boundary) sistem adalah pemisah antara sistem dan daerah di luar sistem (lingkungan). Batas sistem menentukan konfigurasi, ruang lingkup, atau kemampuan sistem. Sebagai contoh, tim sepakbola mempunyai aturan permainan dan keterbatasan kemampuan pemain. Pertumbuhan sebuah toko kelontong dipengaruhi oleh pembelian pelanggan, gerakan pesaing dan keterbatasan dana dari bank. Tentu saja batas sebuah sistem dapat dikurangi atau dimodifikasi sehingga akan mengubah perilaku sistem. Sebagai contoh, dengan menjual saham ke publik, sebuah perusahaan dapat mengurangi keterbasatan dana. 6. Mekanisme Pengendalian dan Umpan Balik Mekanisme pengendalian (control mechanism) diwujudkan dengan

menggunakan umpan balik (feedback), yang mencuplik keluaran. Umpan balik ini digunakan untuk mengendalikan baik masukan maupun proses. Tujuannya adalah untuk mengatur agar sistem berjalan sesuai dengan tujuan. 7. Lingkungan Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada diluar sistem. Lingkungan bisa berpengaruh terhadap operasi sistem dalam arti bisa merugikan atau

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

menguntungkan sistem itu sendiri. Lingkungan yang merugikan tentu saja harus ditahan dan dikendalikan supaya tidak mengganggu kelangsungan operasi sistem, sedangkan yang menguntungkan tetap harus terus dijaga, karena akan memacu terhadap kelangsungan hidup sistem.

Istilah pemodelan adalah terjemahan bebas dari istilah "modelling". Untuk menghindari berbagai pengertian atau penafsiran yang berbeda-beda, maka istilah "pemodel-an" dapat diartikan sebagai suatu rangkaian aktivitas pembuatan model. Sebagai landasan untuk lebih memahami pengertian pemodelan maka diperlukan suatu penelaahan tentang "model" secara spesifik ditinjau dari pendekatan sistem. Dalam konteks terminologi penelitian operasional (operation research), secara umum model didefinisikan sebagai suatu perwakilan atau abstraksi dari suatu obyek atau situasi aktual. Model melukiskan hubungan-hubungan langsung dan tidak langsung serta kaitan timbal-balik dalam terminologi sebab akibat. Oleh karena suatu model adalah abstraksi dari realita, maka pada wujudnya lebih sederhana dibandingkan dengan realita yang diwakilinya. Model dapat disebut lengkap apabila dapat mewakili berbagai aspek dari realita yang sedang dikaji. Kebanyakan para pengguna analisis sistem menjumpai kesukaran untuk mengimplementasikan notasi-notasi matematika ke dalam format konsepsi disiplin ilmunya. Mereka kemudian memilih alternatif pembuatan model konsepsi (conceptual model) yang sifatnya informal karena terasa lebih mudah. Bagaimanapun juga, para ahli sistem berpendapat bahwa keuntungan lebih besar dibandingkan dengan biaya yang diperlukan dalam megkaji permasalahan penelitian secara matematis. Hal ini disebabkan adanya daya guna yang berlipat ganda pada proses rancang bangun dan analisis dalam bentuk bahasa matematika yang sangat penting dalam teori ekonomi, keteknikan, ilmu alam hingga ilmu-ilmu sosial. Meskipun teknik-tekniknya sangat beragam dan filosofinya masih

dipandang kontraversi namun ide dasarnya adalah sederhana yaitu menjabarkan keterkaitan-keterkaitan yang ada dalam dunia nyata menjadi operasi-operasi matematis. (Prof Dr Soemarno, Pendekatan dan Pemodelan Sistem,hal 6-7)

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

2.2 Jenis-Jenis Model Pengelompokkan model akan mempermudah upaya pemahaman akan makna dan kepentingannya. Model dapat dikatagorikan menurut jenis, dimensi, fungsi, tujuan, pokok kajian, atau derajat keabstrakannya. Kategori umum yang sangat praktis adalah jenis model yang pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi ikonik, analog, dan simbolik. 2.2.1 Model Ikonik (Model Fisik) Model ikonik pada hakekatnya merupakan perwakilan fisik dari beberapa hal, baik dalam bentuk ideal maupun dalam skala yang berbeda. Model ikonik ini mempunyai karakteristik yang sama dengan hal yang diwakilinya, dan terutama amat sesuai untuk menerangkan kejadian pada waktu yang spesifik. Model ikonik dapat berdimensi dua (foto, peta, cetak-biru) atau tiga dimensi (prototipe mesin, alat, dan lainnya). Apabila model berdimensi lebih dari tiga tidak mungkin lagi dikonstruksi secara fisik sehingga diperlukan kategori model simbolik. 2.2.2 Model Analog (Model Diagramatik) Model analog dapat digunakan untuk mewakili situasi dinamik, yaitu keadaan yang berubah menurut waktu. Model ini lebih sering digunakan daripada model ikonik karena kemampuannya untuk mengetengahkan karakteristik dari kejadian yang dikaji. Model analog sangat sesuai dengan penjabaran hubungan kuantitatif antara sifat dari berbagai komponen. Dengan melalui transformasi sifat menjadi analognya, maka kemampuan untuk membuat perubahan dapat ditingkatkan. Contoh dari model analog ini adalah kurva permintaan, kurva distribusi frekuensi pada statistik, dan diagram alir. Model analog digunakan karena kesederhanaannya namun efektif pada situasi yang khas, seperti pada proses pengendalian mutu dalam industri (operating characteristic curve). 2.2.3 Model Simbolik (Model Matematik) Pada hakekatnya, ilmu sistem memusatkan perhatian pada model simbolik sebagai perwakilan dari realita yang dikaji. Format model simbolik dapat

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

berupa bentuk angka, simbol dan rumus. Jenis model simbolik yang umum dipakai adalah suatu persamaan (equation). Bentuk persamaan adalah tepat, singkat dan mudah dimengerti. Simbol persamaan tidak saja mudah dimanipulasi didbandingkan dengan kata-kata, namun juga lebih cepat dapat ditanggap maksudnya. Suatu persamaan adalah

bahasa yang universal pada penelitian operasional dan ilmu sistem, dimana di dalamnya digunakan suatu logika simbolis.

2.3 Proses Bisnis Definisi Proses adalah sekumpulan tindakan mulai dari masukan, kemudian menambahkan nilai untuk mendapatkan keluaran yang diinginkan. Ada awal, ada akhir, serta masukan dan keluaran didefinisikan dengan jelas. Definisi Bisnis : untuk menciptakan hasil yang memiliki nilai (value) untuk seseorang konsumen) yang membutuhkan hasil tersebut. Proses Bisnis adalah Sekumpulan tugas atau aktivitas untuk mencapai tujuan yang diselesaikan baik secara berurut atau paralel, oleh manusia atau sistem, baik di luar atau di dalam organisasi.

Gambar 2.1 Proses Bisnis

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

Karakteristik proses bisnis yang baik adalah : 1. Adanya proses owner, yaitu orang yang ditunjuk langsung oleh manajemen untuk bertanggung jawab terhadap performansi proses agar efektif dan efisien. 2. Batasan batasan yang jelas akan proses bisnis yang ada. 3. Kejelasan hubungan internal dan pertanggung jawabannya. 4. Prosedur, tugas kerja, kebutuhan training terdokumentasi dengan baik 5. Memiliki ukuran-ukuran dan system feedback pada setiap aktivitas. 6. Memiliki ukuran-ukuran dan target yang berhubungan dengan kepuasan user. 7. Waktu siklus dari setiap aktivitas diketahui dengan jelas. 8. Mempunyai perumusan atau perubahan prosedur. 9. Mengetahui tentang bagaimana langkah langkah selanjutnya agar menjadi lebih baik.

2.4 Sistem Informasi Sistem didefinisikan sebagai kumpulan elemen yang saling berinteraksi dalam satu lingkungan tertentu untuk menampilkan fungsi fungsi apapun yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan sistem tersebut. Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi para penerimanya. Pengolahan tersebut dapat berupa pengurutan, pengelompokan, konversi dan sebagainya. Sistem informasi adalah pengaturan sekelompok elemen elemen yang terdiri atas sekelompok orang, proses, data dan teknologi informasi yang saling berinteraksi untuk mendukung dan meningkatkan kegiatan operasional bisnis maupun penyelesaian masalah dan pembuatan keputusan. Istilah data mengacu pada fakta mentah yang belum diolah, sementara informasi adalah fakta yang sudah diolah, diorganisasikan, dapat memberi arti dan relevan dengan tujuan pengolahannya. Sedangkan proses merupakan bagian yang melakukan perubahan atau transfromasi dari masukan menjadi keluaran yang berguna.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

Masukan (Data)

Proses (Model)

Keluaran (Informasi)

Data (Ditangkap) Basis Data

Penerima

Hasil Tindakan

Tindakan Keputusan

Gambar 2.2 Siklus Informasi

(Sriyanto, ST.MT., Buku Ajar Sistem Informasi,hal 1)

2.5

Pelaku dalam Sistem Informasi Berikut adalah pelaku pelaku dalam sistem informasi : 1. System Owners Membiayai pembangunan dan perawatan sistem. Mereka memiliki sistem, menetukan prioritas sistem, dan menentukan kebijakan penggunaannya. Dalam bebrapa kasus, system owners juga merupakan system users. 2. System Users Pengguna sebenarnya dari sistem untuk mendukung atau menyeleseaikan dari suatu pekerjaan. System users mendefinisikan kebutuhan bisnis dan ekspektasi performansi sistem yang akan dibangun. 3. System Designers Spesialis teknis yang merancang sistem sesuai dengan kebutuhan user. Dalam bebrapa kasus, system designers adalah juga system builders. 4. System Builders Spesialis teknis yang mengkonstruksi, menguji dan membuat sistem dapat beroperasi. 5. System Analyst Memfasilitasi pembangunan sistem informasi dan aplikasi komputer dengan menjembatani celah komunikasi antara pelaku nonteknis (owners dan users) dan teknis (designers dan builders).

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

10

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

6. IT Vendors dan Consultant Menyediakan perangkat keras, perangkat lunak, dan pelayanan berkaitan dengan sistem informasi yang dibangun. (Sriyanto, ST.MT., Buku Ajar Sistem Informasi,hal 4)

2.6

Klasifikasi Sistem Informasi Secara umum, sistem informasi dapat diklasifikasikan sebagai : 1. Transaction Processing System Aplikasi sistem informasi yang memproses data transaksi bisnis. Penggunaannya pada level operasional dan berfokus pada data. 2. Management Information System Aplikasi sistem informasi yang bertujuan memberikan informasi yang digunakan di bidang manajemen. 3. Decision Support System Aplikasi sistem informasi yang menyediakan decision oriented information dan khususnya pada situasi saat pengambilan keputusan. Pada tingkat eksekutif sering disebut sebagai Excutive Information System. (Sriyanto, ST.MT., Buku Ajar Sistem Informasi)

2.7

Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Analisis sistem adalah salah satu teknik pemecahan masalah yang mendekomposisi sistem menjadi komponen komponen yang lebih kecil dengan tujuan mempelajari kinerja dan interaksi yang terjadi antar komponen komponen tersebut untuk mencapai tujuan. Perancangan sitem adalah teknik pemecahan masalah yang melengkapi analisis sistem, merakit ulang komponen komponen sistem yang telah didekomposisi menjadi satu sistem yang lengkap, yang diharapkan telah lebih baik. (Sriyanto, ST.MT., Buku Ajar Sistem Informasi,hal 10)

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

11

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

2.8

Alat / Teknik Desain Sistem Dalam melakukan desain sistem informasi terdapat berbagai alat atau perangkat yang dapat digunakan, yaitu : a. ICAM Definition (IDEF0 Method) IDEF0 merupakan suatu teknik pemodelan fungsional yang telah dipakai secara luas dalam organisasi manufaktur. Tujuan pengembangan IDEF0 adalah untuk menyediakan suatu perangkat yang dapat

mendeskripsikan sebuah sistem manufaktur sedemikian rupa, sehingga dapat meningkatkan pemahaman, komunikasi dan analisis terhadap sistem tersebut. Metode IDEF0 merupakan suatu metode pemodelan fungsional yang dirancang untuk memodelkan keputusan, tindakan dan aktivitas dari suatu organisasi atau sistem. Sebagai alat analis, IDEF0 membantu perancang membuat identifikasi fungsi fungsi tersebut, apa kebaikan dari sistem yang ada, dan apa kekurangan dari sistem yang ada. Maka model IDEF0 sering dibuat sebagai pekerjaan awaldari upaya pengembangan atau perbaikan suatu sistem. Dalam perspektif pemodelan IDEF, suatu sistem manufaktur dapat dimodelkan dari tiga sudut pandang yang berbeda. Ketiga metode pemodelan yang masuk dalam suatu kelompok atau keluarga pemodelan tersebut adalah pemodelan fungsional (IDEF0), pemodelan informasi (IDEF1), dan pemodelan dinamis (IDEF2). Metode pemodelan lain yang juga termasuk dalam kelompok metode ini antara lain adalah IDEF3, IDEF4, dan IDEF5. Kelebihan IDEF 0 adalah sebagai berikut : Penggunaan metode IDEF0 akan memudahkan untuk melakukan evaluasi kinerja dari sistem. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi pemicu timbulnya ide ataupun upaya yang berorientasi pada peningkatan kinerja dan perwujudan integrasi sistem.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

12

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

IDEF0 merupakan suatu teknik pemodelan fungsional yang telah dipakai secara luas dalam organisasi manufaktur dimana tujuan pengembangan metode IDEFo adalah untuk menyediakan suatu perangkat yang dapat mendeskripsikan sebuah sistem manufaktur sedemikian rupa, sehingga dapat meningkatkan pemahaman, komunikasi, dan analisis terhadap sistem tersebut. Metode IDEF0 merupakan suatu metode pemodelan fungsional yang dirancang untuk memodelkan keputusan, tindakan, dan aktivitas dari suatu organisasi atau sistem. Sebagai alat komunikasi, IDEF0 meningkatkan keterlibatan dan konsensus pengambilan keputusan dari domain pakar melalui perangkat berupa grafik yang sederhana. Sebagai alat analisis, IDEF0 membantu perancang membuat identifikasi fungsi-fungsi apa yang harus dilaksanakan, apa yang diperlukan untuk melaksanakan fungsi-fungsi tersebut, apa kebaikan dari sistem yang ada, dan apa kekurangan dari sistem yang ada. Karenanya seringkali model IDEF0 dibuat sebagai pekerjaan awal dari upaya pengembangan atau perbaikan suatu sistem. Kelemahan IDEF 0 adalah sebagai berikut : Salah satu permasalahan dalam IDEF0 adalah anggapan bahwa IDEF0 dipresentasikan sebagai sequence dari kumpulan aktivitas. Padahal IDEF0 tidak dimaksudkan sebagai model activity sequence. Aktivitas dapat ditempatkan kiri ke kanan dekomposisi dan dihubungkan dalam aliran. Hal ini mungkin saja, karena satu aktivitas dapat menjadi output suatu proses, dan kemudian menjadi input proses selanjutnya. Jadi penggambarannya harus benar-benar jelas. Kasus sequence ini sering sekali dimasukkan oleh pembuat ke dalam model IDEF0, padahal hal ini tidak benar karena bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar IDEF0, dan dapat melenceng dari tujuan utama dibuatnya IDEF0. Kelemahan ini yang kemuadian disempurnakan oleh IDEF3.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

13

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

Mekanisme IDEF 0 : Konstruksi pemodelan IDEF0 terdiri dari sebuah hierarki dari diagram diagram yang saling berhubungan. Komponen dasar dari setiap diagram adalah beberapa kotak dan anak panah yang digunakan untuk menghubungkan kotak kotak tersebut, yang diatur dari pojok kiri atas turun sampai pojok kanan bawah dari diagram tersebut. Kotak-kotak tersebut disebut juga kotak fungsi atau aktivitas yang merepresentasikan fungsi-fungsi yang dideskripsikan dengan kata kerja aktif dan dituliskan di dalam kotak. Anak panah merepresentasikan berbagai macam hubungan antara fungsi-fungsi tersebut dalam bentuk informasi atau obyek yang diperlukan, digunakan ataupun dihasilkan oleh fungsi-fungsi tersebut. Struktur dari sebuah kotak tersebut adalah :

Kontrol ( C)

Input (I)

AKTIVITAS

Output (O)

Mekanisme ( M )

Gambar 2.2 Struktur Kotak Fungsi IDEF0

Secara detail, kotak aktivitas tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : i. Input merupakan obyek yang akan diproses ataupun akan mengalami transformasi, dimana input ini dapat berupa obyek fisik atau informasi. ii. Kontrol merupakan bentuk obyek obyek informasi yang digunakan untuk mengatur atau mensinkronisasikan pelaksanaan fungs/proses tertentu.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

14

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

iii. Mekanisme merupakan sumber daya yang bertugas melaksanakan fungsi /proses tertentu. Mekanisme dapat berupa sumber daya fisik maupun informasi. iv. Output merupakan obyek yang dihasilkan oleh fungsi atupun proses transformasi tertentu. Output dari suatu fungsi dapat menjadi input untuk fungsi yang lain. Anak panah merepresentasikan tipe dan aliran obyek di antara fungsi / aktivitas, namun tidak dapat menunjukkan waktu terjadinya aliran tersebut. Sebuah model IDEF0 dapat diperluas menjadi beberapa level yang lebih detail. Sebuah balok fungsi dalam suatu sistem dapat diuraikan ke dalam blok blok fungsi yang lebih detail sesuai dengan tingkatan hirarki yang terdapat didalam sistem tersebut. Blok fungsi pada level yang paling atas menggambarkan tujuan utama dari sistem, sedangkan blok fungsi yang lebih rendah menggambarkan sub sub sistem yang ada dan digunakan untuk mendukung atau memenuhi kebutuhan blok fungsi yang berada diatasnya. Pada level paling atas, sebuah blok fungsi akan menggunakan label A0. Jika A0 terdiri atas 3 subfungsi maka masing-masing sub-fungsi akan diberi label A1, A2, dan A3. Apabila sub fungsi ini akan diuraikan lagi ke dalam bentuk yang lebih detail maka label yang digunakan adalah
A12,..., A11,

A21, A22,...., A31, A32,....dst. Squiggle adalah sebuah garis bergerigi kecil yang dapat digunakan

untuk mengaitkan label dengan segmen panah tertentu atau untuk mengaitkan catatan model dengan komponen diagram. Squiggle akan digunakan untuk menghubungkan panah dengan label yang terkait, kecuali panah / hubungan label yang telah jelas. Tunneled Arrow adalah sebuah panah (dengan notasi khusus) yang tidak mengikuti persyaratan normal bahwa setiap panah pada diagram harus berkorespondensi dengan tanda panah pada diagram orang tua dan anak. Sebuah Tunneled Arrow digunakan untuk memberikan informasi
Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 15

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

pada tingkat tertentu dan tidak diperlukan dekomposisi untuk memahaminya pada beberapa tingkat lain. Tunneled Arrow dapat menghubungkan pada setiap tingkat yang dipilih. Dengan menggunakan notasi kurung, tunneled arrow yang menghubungkan kesamping kotak berarti bahwa data atau objek diungkapkan oleh panah yang tidak diperlukan untuk pemahaman tingkat berikutnya (s) dekomposisi, dan dengan demikian tidak akan ditampilkan pada anak diagramnya. ( Fatima Brazao, Functional Modelling, Hal. 12 )

Tabel 2.1 Macam-macam IDEF Jenis IDEF0 Fungsi Metode dalam mendesain yang digunakan untuk mengambil keputusan, aksi yang dilakukan (action) dan kegiatan yang dikenakan pada organisasi ataupun system IDEF1 Metode dalam mendesain untuk mengidentifikasi informasi apa saja yang dapat digunakan dalam mengatur organisasi, untuk menentukan factor mana yang menyebabkan terjadinya masalah yang disebabkan oleh kekurangan informasi dari pihak management, untuk menentukan informasi yang lebih detail mana yang akan diimplementasikan IDEF1X Metode untuk merancang database relasional dengan Alat yang ampuh untuk model data meskipun ada banyak Tidak cocok untuk sistem relasional nonEfektif untuk mendokumentasikan kebutuhan informasi suatu perusahaan krena memberikan landasan desain database, memberikan definisi dari struktur informasi, dan memberikan pernyataan persyaratan yang mencerminkan kebutuhan informasi dasar Terlalu disiplin dan menggunakan teknik terstruktur untuk mengungkap informasi dan aturan bisnis yang digunakan oleh sebuah organisasi sehingga memberikan kekakuan pada metode untuk menguraikan tantangan yang kompleks mengenai pemodelan informasi organisasi Kelebihan Membantu dalam analisis sistem pengorganisasian dan mempromosikan komunikasi yang efektif antara analis dan pelanggan melalui perangkat grafis yang disederhanakan Kekurangan Hanya digunakan untuk penggambaran aktivitas dan ICOM suatu sistem

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

16

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

sintaks yang dirancang untuk mendukung konstruksi semantik diperlukan dalam mengembangkan skema konseptual IDEF2 Metode yang mewakili perilaku berbagai sumber daya dalam sistem manufaktur, menyediakan sebuah kerangka kerja untuk spesifikasi model matematika berdasarkan simulasi

data lainnya termasuk metode pemodelan ER dan ENALIM, salah satu kekuatan IDEF1X terletak pada akar-akarnya

implementasi dan harus memiliki modeler untuk menciptakan model yang baik.

Dapat membedakan antara deskripsi tentang apa sebuah sistem (ada atau yang diusulkan) yang seharusnya dilakukan dan perwakilan model simulasi yang akan memprediksi apa yang akan dilakukan sistem

Program membutuhkan model simulasi alat

IDEF3

Metode yang digunakan untuk mendeskripsikan mana yang didahulukan antara situasi maupun kejadian nyata yang diimplementasikan kedalam domain ahli untuk pembangunan dari model struktur dengan menuangkan pengetahuan mengenai bagaimana system akan dibangun, bagaimana prosesnya, ataupun bagaimana organisasinya bekerja.

Menentukan dampak dari sumber daya informasi organisasi di skenario operasi besar suatu perusahaan, membuat desain sistem dan desain analisis trade-off, dan menyediakan model simulasi generasi

Terstruktur membangun deskripsi, tidak seperti simulasi bahasa (misalnya, Siman, SLAM, GPSS, SAKSI) yang membangun model matematika prediksi

IDEF4

Metode yang digunakan sebagai petunjuk atau penuntun dalam memeriksa atau mengawasi jalannya kebenaran dari system

Desain berorientasi objek sebagai bagian dari kerangka pengembangan sistem yang lebih besar, daripada sebuah analisa yeng berorientasi objek dan metode desain yang segalanya bagi semua orang.

Mengadaptasi pola pemodelan object dimana seperti menggunakan larger system development framework

IDEF5

Metode rekayasa perangkat lunak yang digunakan untuk

Memiliki tiga komponen utama yaitu sebuah bahasa

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

17

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

membangun ontologi dengan menangkap pernyataan tentang dunia nyata benda, sifat mereka, dan hubungan mereka.

grafis untuk mendukung analisis ontologi konseptual, bahasa teks yang terstruktur untuk rincian ontologi karakterisasi, dan prosedur yang sistematis yang menyediakan pedoman untuk pengambilan ontologi efektif

IDEF6

Sebuah metode untuk memfasilitasi akuisisi, representasi, dan manipulasi dasar pemikiran desain yang digunakan dalam pengembangan sistem enterprise

Sebuah metode dengan kemampuan representasional sistem informasi untuk menangkap dasar pemikiran desain dan mengasosiasikan bahwa dasar pemikiran dengan model desain dan dokumentasi sistem akhir

Prosedur pengambilan alasan biasanya diterapkan dalam simulasi / pelaksanaan kegiatan dari desain yang terus berkembang

IDEF7

Merupakan sistem informasi auditing, belum dikembangkan lebih jauh dari definisi awal mereka

IDEF8

Metode untuk menghasilkan desain berkualitas tinggi dari interaksi yang terjadi antara pengguna dan sistem operasi mereka, dimana pengguna dapat berinteraksi dengan sistem apapun, tidak harus program computer

Menyediakan perpustakaan metafora untuk membantu pengguna dan desainer menentukan perilaku yang diinginkan dalam hal bendabenda lain yang perilakunya lebih akrab. Metafora menyediakan model konsepkonsep abstrak dalam keakraban, objek konkret dan pengalaman

Interaksi sistem manusia dirancang pada tiga tingkat spesifikasi

IDEF9

Metode untuk membantu dalam penemuan dan analisis kendala dalam suatu sistem bisnis

Alat yang sangat diperlukan usaha-insinyur, seperti dengan membantu apakah mungkin untuk menentukan bagaimana sistem akan bekerja dan persyaratan yang harus

Persyaratan semacam sistem hubungan antara bagian-bagian, harus wajib ada pada kondisi set yang diberikan (konteks)

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

18

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

dipenuhi untuk bekerja sesuai dengan sistem proyek IDEF10 Pelaksanaan arsitektur modeling, belum dikembangkan lebih jauh dari definisi awal mereka IDEF11 Informasi artefak Modeling, belum dikembangkan lebih jauh dari definisi awal mereka IDEF12 Organisasi Modeling, belum dikembangkan lebih jauh dari definisi awal mereka IDEF13 Tiga Skema Pemetaan Desain, belum dikembangkan lebih jauh dari definisi awal mereka IDEF14 Metode yang menargetkan pada pemodelan dan perancangan komputer dan jaringan komunikasi yang membantu desainer jaringan bekerja dengan jaringan potensial desain dan desain dokumen rasional Dapat digunakan untuk model yang sudah ada ( "sebagaimana adanya") jaringan komputer atau membayangkan ( "menjadi") jaringan komputer Hanya menyangkut desain jaringan -

(www.wikipedia.org)

Fungsi IDEF0 yaitu metode dalam mendesain yang digunakan untuk mengambil keputusan, aksi yang dilakukan (action) dan kegiatan yang dikenakan pada organisasi ataupun system. Kelebihannya membantu dalam analisis sistem pengorganisasian dan mempromosikan komunikasi yang efektif antara analis dan pelanggan melalui perangkat grafis yang disederhanakan. Karena grafis yang sederhana dan mudah dalam

berkomunikasi dengan pelanggan oleh sebab itu mengapa IDEF 0 biasanya

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

19

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

digunakan dalam proses bisnis seperti pada praktikum perancangan teknik industri modul 1 ini berbicara tentang proses bisnis pada PT. Tamijaya.

b. Diagram Konteks ( Context Diagram/CD) Diagram konteks adalah diagram yang terdiri dari suatu proses dan menggambarkan ruang lingkup suatu sistem. Diagram konteks merupakan level tertinggi dari DFD yang menggambarkan seluruh input ke sistem atau output dari sistem. Ia akan memberi gambaran tentang keseluruhan sistem. Sistem dibatasi oleh boundary (dapat digambarkan dengan garis putus). Dalam diagram konteks hanya ada satu proses. Tidak boleh ada store dalam diagram konteks.

Diagram konteks berisi gambaran umum (secara garis besar) sistem yang akan dibuat. Secara kalimat, dapat dikatakan bahwa diagram konteks ini berisi siapa saja yang memberi data (dan data apa saja) ke sistem, serta kepada siapa saja informasi (dan informasi apa saja) yang harus dihasilkan sistem.

c. Rich Picture Diagram (RPD) Rich picture merupakan gambar menyerupai kartun yang

menggambarkan keseluruhan sistem yang rumit sehingga mudah dibaca dari berbagai sudut pandang dengan segala aspek yang terkandung pada saat itu guna menjadi referensi secara instant. Pembuatan Rich picture diagram merupakan rangkuman dari sebuah pemikiran panjang dan bukan pada awal observasi. Sebuah rich picture baik diagram maupun konsep bukanlah merupakan penjelasan mengenai sistem. Suatu sistem yang baku mengindikasikan adanya keterkaitan yang teratur dan tidak terjadi dalam waktu yang bersamaan. Mengekspresikan sebuah masalah dalam bentuk rich picture diagram merupakan salah satu jalan menyimpulkan sebuah situasi.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

20

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

Misal,sebuah operasi manufaktur mungkin akan sangat baik bila digambarkan dengan diagram alir yang menjelaskan bagaimana material berpindah dari satu proses ke proses yang lainnya. Tiga komponen utama yang digunakan dalam rich picture
o o o

Elemen-elemen dari struktur Elemen elemen dari proses Hubungan antara struktur dan proses serta antar proses

Penggunaan rich picture 1. Rich picture merupakan alat yang ideal untuk berkomunikasi mengenai situasi yang rumit dan bermasalah 2. Keterkaitan antar elemen serta hubungan yang terjalin, langsung maupun tidak lebih mudah dilihat. 3. Memudahkan identifikasi pemilik masalah dan membantu dalam mengidentifikasi potensi masalah dan konflik. 4. Membantu dalam mebuatan batasan dan cakupan masalah. Tidak ada hubungan antar item yang tergambar dalam rich picture dan deskripsi sistem. Sehingga rich picture tidak harus mendeskripsikan sebuah sistem. Proses pengayaan rich picture dan penghalusan definisi

sistem biasanya dilakukan secara manual satu dengan yang lainnya saling mengisi.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

21

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM


Arus prosedur pelaksanaan praktikum adalah sebagai berikut :
Mulai

Observasi Lapangan

Studi Pustaka

Perumusan Masalah

Tujuan Praktikum

Identifikasi entitas, aliran informasi dan data

Pembuatan Context Diagram dan IDEF0

Analisis Proses Bisnis

Selesai

Gambar 3.1 Metodologi Praktikum

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

22

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA


4.1 Identifikasi Aktivitas di PT. Tami Jaya 1. Merekrut SDM dan Merancang Struktur Organisasi Menentukan kebutuhan tenaga kerja Melakukan perekrutan karyawan Melakukan training karyawan Mengatur seluruh urusan administrasi dan kepegawaian, antara lain: surat menyurat ke instansi perusahaan lain, transfer gaji karyawan, urusan surat perjanjian kerja, penyediaan peralatan kantor dan sebagainya. Menempatkan karyawan sesuai keahliannya

2. Melakukan Riset Meriset kebutuhan konsumen Melakukan pengembangan produk Pengembangan sistem informasi perusahaan Membuat spesifikasi produk lebih detail

3. Merencanakan dan Mengontrol Inventori Material Merencanakan penjadwalan produksi Meramalkan kebutuhan material Pengaturan kapasitas produksi perusahaan Mengontrol inventori material Menentukan jumlah kebutuhan mesin Membeli material Menyimpan material sebelum digunakan dalam proses produksi Melakukan distribusi material ke lantai produksi

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

23

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

4. Melakukan Proses Produksi Menerima bahan mentah dari warehouse Melakukan proses inspeksi terhadap material yang akan digunakan Melakukan proses perakitan Melakukan proses inspeksi terhadap mini 4 WD yang telah dirakit Melakukan pengemasan produk Melakukan proses inspeksi terhadap barang yang siap dijual Menyalurkan produk yang siap dijual ke departemen logistik

5. Memasarkan produk Menganalisis trend yang sedang terjadi dalam masyarakat Menganalisis pesaing Merencanakan strategi pemasaran Mempromosikan produk Melakukan penjualan produk

6. Mengelola Keuangan Melakukan pencatatan transaksi keuangan perusahaan setiap harinya Membuat laporan keuangan laba-rugi perusahaan setiap tahun Menganalisis biaya-biaya yang terjadi dalam perusahaan Mengaudit keuangan Menjaga aliran uang masuk dan uang keluar perusahaan

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

24

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

4.2 IDEF0 LEVEL 0

Visi & Misi

Modal Bahan baku Restrukturisasi Implementasi Sistem PT. TI Holding, co. A0

Keuntungan Produk jadi Sistem Modern

SDM

NON SDM

Gambar 4.1 IDEF0 level 0

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

25

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

4.1 IDEF0 LEVEL 1

Manajemen SDM

( )
Peluang Pasar Modal

Mengelola SDM A1

Tenaga Ahli Tenaga Ahli

Melakukan Riset
Informasi Riset

Material Control Supplier Control

A2 ( ) Mengelola Logistik A3 ( )
SOP Standar Kualitas Kondisi Lapangan Pangsa Pasar

Bahan Baku Yang Diperlukan

( ) Melakukan Proses Produksi A4 ( ) Melakukan Proses Marketing


Hasil Produksi Hasil Penjualan Finish Product

Raw Material

( ) Mengelola Keuangan (Finance) A6


Keuntungan

A5

Hasil Pemasaran

Staff

Fasilitas Perusahaan

NODE:

A0

TITLE:

PROSES BISNIS HOLDING PT TAMI JAYA

NO.:

Gambar 4.2 IDEF0 level 1


Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 26

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

4.2 IDEF0 LEVEL 2 MENGELOLA SDM

Kriteria SDM

Jumlah SDM

( )

( )

Merekrut SDM A1.1


SOP SDM Standar SDM Training

( )

( )

Employee

( )

( )

( )
Employee Siap Kerja Keahlian

Memberdayakan SDM A1.2

( )

( )

( ) ( )
Menempatkan SDM A1.3 Pengaturan SDM

( )

Traineer

Karyawan HRD
Kmputerisasi

( )

( )

NODE:

A1

TITLE:

Melakukan Perekrutan

NO.:

Gambar 4.3 IDEF0 level 2 Mengelola SDM


Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 27

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

4.3 DEF0 LEVEL 2 MELAKUKAN RISET

Permintaan pelanggan

Ekspektasi pelanggan

( )
Data Pelanggan Menganalisis Ekspektasi Pelanggan A2.1 Trend product Spesifikasi Produk

( )

( )

( )

( )
mengembangkan Riset Produk A2.2 Standar Prototipe Perusahaan

( )

( )

( )
Menganalisis Prototipe A2.3

( )

( )
Mengelompokkan Spesifikasi A2.4

Hasil riset

( )

( )
Tenaga ahl analisis & riset Komputerisasi

( )

NODE:

A2

TITLE:

Melakukan Riset

NO.:

Gambar 4.4 IDEF0 level 2 Melakukan Riset

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

28

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

4.4 DEF0 LEVEL 2 MENGELOLA LOGISTIK

Kemampuan Kebijakan Membeli Perusahaan

( )
Hasil Riset

Kebijakan Inspeksi Cheek sheet

Menyediakan Bahan Baku A3.1

Supllier Staff Bagian Pemeesanan Kendaraan transportasi Bahan Baku Layak Produksi

( ) ( ) Mendataan & Mengelompokan Bahan Baku A3.2 ( )

Standar Penyimpanan Kapasitas Gudang

( )
Program Staff komputer Bagiab Pendataan

( )
Bahan Baku Siap Pakai

Spesifikasi Bahan

Menyimpan dan Memelihara Inventory ( ) A3.3 ( )

Staff Bagiab Gudang

Inspektor

NODE:

A3

TITLE:

MENGELOLA LOGISTIK

NO.:

Gambar 4.5 IDEF0 level 2 Mengelola Logistik


Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 29

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

4.5 IDEF0 LEVEL 2 MELAKUKAN PROSES PRODUKSI

Agregat Planning Jumlah Kebutuhan Bahan

Bahan Baku Siap Pakai

( ) Merencanakan Produksi ( )

Data Material Perbandingan Kapasitas Bahan MRP JIP Hasil Produksi Standar Perusahaan ( ) Melakukan Pengendalian Kualitas ( ) A4.4 ( ) Produk Layak Jual

A4.1 ( )

( ) merencanakan Pengadaan Material ( )

A4.2 ( )

( )

( )

Melakukan Perakitan ( ) A4.3 ( )

List Produk

( ) Menyimpan Produk ( ) A4.5 ( )

Produk Jadi

( )

Tenaga Ahli Produksi Alat Angkut

NODE:

A4

TITLE:

Mleakukan Produksi

NO.:

Gambar 4.6 IDEF0 level 2 Melakukan Proses Produksi


Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 30

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

4.6 DEF0 LEVEL 2 MELAKUKAN PEMASARAN

Pangsa Pasar

Hasil Produksi

Melakukan Rencana Pemasaran A5.1 ( )

Stategi Pemasaran
Strategi Pemasaran

Positioning

( ) Melakukan Aktifitas Promo A5.2 ( ) ( ) ( )


Hasil Penjualan

Hasil Promo
Penetapan Harga Situasi Pasar

Program Komputer

Data Promo

Melakukan Penjualan
Transportasi
Permintaan Produk

Management Pelayanan

( )

A5.3

( ) Melakukan Pelayanan Setelah Penjualan A5.4 ( )


Costumer Service Informasi complain

Transportasi

Timbal Balik

Staff Pemasaran

NODE:

A5

TITLE:

MELAKUKAN PEMASARAN

NO.:

Gambar 4.7 IDEF0 level 2 Melakukan Pemasaran

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

31

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

4.7 IDEF0 LEVEL 2 MENGELOLA KEUANGAN (FINANCE)

Laporan Penerimaan & Pembayaran

( )
Hasil Penjualan

Mencatat Transaksi Keuangan A6.1 ( )

Standar Pembuatan Laporan

Rekap Data Keuangan

( ) Membuat Laporan Keuangan ( ) A6.2 ( )


Akuntan

Neraca Keuangan

Laporan Keuangan

( ) Mengaudit Keuangan Perusahaan ( ) A6.3 ( )


Auditor

Keuntungan

Staff Keuangan Fasilitas (komputerisasi)

NODE:

A6

TITLE:

MENGELOLA KEUANGAN

NO.:

Gambar 4.8 IDEF0 level 2 Mengelola Keuangan

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

32

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

4.8 IDEF0 LEVEL 3 MELAKUKAN PEMESANAN RAW MATERIAL

Kebijakan Pembelian

Kemampuan Beli

( )
Hasil riset

Merencanakan Pembelian A3.1.1

Kapasitas Supllier

( )
Jumlah Pemesanan Material

Bagian Perencanaan Pemesanan

Membeli Raw Material A3.1.2 ( )

Material Pesanan

Standar Kelayakan Kebijakan pemeriksaan

Transportasi

Distributor

Bagian Pemesanan Bahan Baku

( ) ( ) Memeriksa Kelayakan Bahan Baku A3.1.3 ( )


Inspektor Staff Pemeriksaan

Bahan baku layak produksi

NODE:

A3.1

TITLE:

IDEF 0 LEVEL 3 PEMESANAN RAW MATERIAL

NO.:

Gambar 4.9 IDEF0 level 3 Melakukan Pemesanan Raw Material


Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 33

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

4.9 IDEF0 LEVEL 3 MERENCANAKAN PRODUKSI


Kebijakan perusahaan

Riset & Data Masa lalu

( ) Melakukan Forecasting ( ) A4.1.1 ( )

Data peramalan Kapasita Tingkat s Persediaan Produksi ( ) ( ) merencanakan Pengadaan Material ( ) A4.2 ( )

Data Hasil Agregat Struktur Produk Data Hasil Penjadwalan Pemesanan ( ) Melakukan JIP A4.1.3 ( ) Kapasitas produksi ( ) Melakukan CRP A4.1.4 ( )

Tenaga ahli analisis Produksi Komputerisasi

( )

( )

Data Validasi BOM ( ) Data Peramalan Jumlah Produksi

( )

Menghitung MRP A4.1.5 ( )

( )

( )

NODE:

A4.1

TITLE:

Melakukan Peramalan

NO.:

Gambar 4.10 IDEF0 level 3 Merencanakan Produksi

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

34

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

4.10

IDEF0 LEVEL 3 MELAKUKAN PENGENDALIAN KUALITAS

Standar Kualitas Material

Raw Material

( ) Melakukan Uji Kualitas Raw Material ( ) A4.4.1 ( ) Material Pilihan

( )

Standar Kualitas Produk

SOP

( ) ( ) Melakukan uji Kualitas Work In Process ( ) A4.4.2 ( )

Produk Jadi

Standar Kualitas Produk Jadi

SOP

( ) ( ) Melakukan Uji Kualitas Produk Jadi ( ) A4.4.3 ( )

Finish Produk

( )

Tenaga ahli Inspeksi Alat Inspeksi (mesin uji)

NODE:

A4.4

TITLE:

Melkaukan Pengujian

NO.:

11

Gambar 4.11 IDEF0 level 3 Melakukan Pengendalian Kualitas

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

35

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

4.11

IDEF0 LEVEL 3 MENYIMPAN PRODUK

SOP Packaging Produk Kemasan ( ) Produk Jadi Melakukan Packaging ( ) A4.5.1 ( ) List Product Produk Siap Kirim

( )

( ) Melakukan Penyimpanan ( ) A4.5.2 ( )

Jadwal Distribusi

( ) Melakukan Distribusi ( ) A4.5.3 ( ) Produk Siap Kirim

( )

Karyawan Gudang Alat angkut (forklift & tru)

NODE:

A4.5

TITLE:

Melakukan penyimpanan

NO.:

12

4.3 Gambar 4.10 IDEF0 level 3 Menyimpan Produk


Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 36

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

BAB V PEMBAHASAN

5.1 IDEF0 LEVEL 0 Pada IDEF0 level 0 menunjukkan proses bisnis utama dalam perusahaan PT TI HOLDING. Perusahaan yang memiliki kegiatan menyelamatkan perusahaan non-modern dengan cara membeli saham ini akan mengiplementasikan sistem baru dari restrukturisasi managemen di PT TAMI JAYA. Dalam pelaksanaannya dibutuhkan modal sebagai penunjang kegiatan, bahan baku untuk proses produksi dan rencana restrukturisasi sistem yang baru dengan mengacu pada visi dan misi kedua perusahaan agar tidak terjadi kesenjangan sistem yang terlalu berlebihan sehingga memudahkan karyawan lama untuk beradaptasi. Agar proses

restrukturisasi dapat berjalan dengan baik, dibutuhkan sejumlah penunjang dari SDM dan non SDM seperti fasilitas perusahaan itu sendiri. Tujuan utama dari proses ini adalah agar perusahaan dapat menghasilkan keuntungan lebih dan produk yang lebih baik dengan sistem modern yang telah diterapkan.

5.2 IDEF0 LEVEL 1 IDEF0 level 1 di atas merupakan breakdown dari idef0 level 0 yang menunjukkan aktivitas proses bisnis PT TI HOLDING menjadi enam kegitan utama di dalamnya, yaitu : Node A1 menunjukkan aktivitas mengelola SDM. Kegiatan yang berlangsung di aktivitas ini adalah perekrutan karyawan dan melakukan training dan follow up bagi seluruh karyawan agar tujuan restrukturisasi manajemen perusahaan menjadi lebih baik dapat tercapai. Node A2 menunjukkan aktivitas melakukan riset. Kegiatan yang dilakukan adalah mengumpulkan data dan mengolahnya menjadi informasi yang

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

37

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

berguna bagi pengembangan perusahaan yang diperoleh dari lingkungan pasar dan pesaing. Node A3 adalah aktivitas mengelola logistik perusahaan. Terdiri dari kegiatan purchasing yang menyangkut pemesanan barang kepada supplier, pengujian kelayakan dan warehouse yang menyangkut penyimpanan inventory. Node A4 menunjukkan aktivitas melakukan proses produksi. Pada proses ini bahan baku yang telah melalui bagian logistik diolah menjadi produk jadi sesuai dengan standar pembuatan dan sesuai demand yang dating pada periode tersebut untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Node A5 adalah melakukan proses marketing. Kegiatan yang dilakukan adalah menjual hasil produksi melalui promosi atau langsung didistribusikan pada stakeholder. Node A6 adalah mengelola keuangan dari hasil penjualan yang bertujuan untuk mengolahnya sedemikian rupa dan diharapkan didapatnya

keuntungan.

5.3 IDEF0 LEVEL 2 Analisis Mengelola SDM Node A1.1 menunjukkan aktivitas perekrutan SDM, perusahaan merekrut SDM yang sesuai dengan kebutuhan untuk menjalankan perusahaan. Dalam perekrutan SDM ,perusahaan menentukan berapa jumlah karyawan sesuai dengan aktivitas perusahaan yang ada. Aktivitas Perekrutan SDM mencakup kriteria SDM yang sesuai dengan job yang desk yang sudah ditentukan. Didalam perekrutan SDM terdapat mekanisme staaf tenaga ahli perekrutan SDM yang melakukan perekrutan calon pegawai yang akan bekerja di perusahaan sehingga diharapkan didapatkan pegawai yang sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan oleh perusahaan tersebut.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

38

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

Node A1.2

menunjukkan aktivitas pemberdayaan SDM, yaitu

menciptakan pegawai yang berkompeten. Didalam perbedayaan SDM mempunyai input pegawai yang telah diterima dan mempunyai mekanisme staaf tenaga ahli perbedayaan SDM dan trainer sebagai pelatih dari pegawai yang baru diterima. Didalam pemberdayaan memiliki kontrol SOP SDM, standar SDM dan training yang merupakan salah satu cara perusahaan untuk menghasilkan pegawai yang diharapkan. Di dalam pemberdayaan SDM outputnya meiliki pegawai yang siap bekerja dengan kemampuan yang baik dalam perusahaan. Node A1.3 menunjukkan aktivitas penempatan SDM sesuai dengan

keahlian yang dimiliki. Didalam penempatan SDM dibutuhkan keahlian yang dimiliki oleh pegawai yang baru ditempatkan. Disamping mempunyai keahlian juga mempunyai staaf penempatan SDM dan mempunyai output yang digunakan sebagai pengaturan SDM yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Analisis Melakukan Riset Node A2.1 merupakan penganalisaan ekspektasi pelanggan yang memerlukan input data pelanggan yang merupakan informasi dari pelanggan yang mengkonsumsi barnang dari perusahaan, biasanya berisi tentang nama, alamat, dll. Didalam penganalisaan eskpektasi pelanggan memiliki permintaan pelanggan yang menjadi dasar bagi perusahaan dalam produksi barang. Barang yang diproduksi biasanya sesuai dengan keinginan pelanggan agar semua kepuasaan pelanggan dapat tercapai. Dalam penganalisaan ekspektasi pelanggan mempunyai mekanisme berupa SDM dan Non SDM, Perusahaan menyediakan pekerja untuk

mengumpulkan berbagai informasi dari pelanggan dan mempunyai informasi barang yang sesuai dengan keinginan dari pelanggan.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

39

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

Node A2.2 menunjukkan aktivitas mengembangkan riset produk yang memiliki yang memiliki input ekspektasi dari pelanggan yang merupakan hasil riset dari perusahaan. Didalam mengembangkan riset produk memiliki kontrol yang digunakkan sebagai trend produk yang biasanya perusahaan hanya akan memproduksi barang yang sesuai dengan trend yang berkembang dalam masyarakat. Disamping memiliki kontrol juga dalam mengembngkan riset produk juga mempunyai mekanisme SDM dan Non SDM, didalam perusahaan menyediakan tenaga ahli yang khusus bekerja dalam bidang pengembangan produk sehingga menghasilkan produk sesuai dengan keinginan pelanggan yang outputnya memiliki spesifikasi produk yang merupakan hasil dari pengembangan desain produk yang telah dilakukan.

Node A2.3 menunjukkan aktivitas menganalisa prototipe dari desain yang telah dikembangkan oleh tenaga ahli. Hal ini dilakukan untuk menguji seberapa baik kulitas barang yang dihasilkan sesuai denagn standart yang telah ditetapkan oleh perusahaan yang menjadi kontrolnya. Didalam menanalisa prototipe juga memiliki mekanisme SDM dan Non SDM yang telah disediakan oleh perusahaan dan mempunyai output yang prototipe barangnya yang akan di produksi dalam perusahaan.

Node A2.4 menunjukkan aktivitas pengelompokkan spesifikasi yang didalamnya mempunyai prototype dan spesifikasi produk. Didalam pengelompokan spesifikasi memilki kontrol checklist perusahaan,

perusahaan itu sendiri akan memproduksi barang yang sesuai dengan permintaan dari pelanggan. Disamping memliki kontrol juga mempunyai mekanisme SDM dan Non SDM dan hasil risetnya secara keseluruhan dilakukan oleh perusahaan. Kegiatan ini sangat penting dilakukan karena dengan cara ini perusahaan dapat mengetahui bagaimana model barang

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

40

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

yang diinginkan oleh pelanggan sehingga perusahaan dapat terus berjalan dengan lancar dan baik. Analisis Mengelola Logistik Pada proses pengelolaan logistik menyangkut pada proses pemesanan bahan baku dan penyimpanannya. Pada IDEF0 level 2 tersebut didapat tiga aktivitas utama, yaitu ditunjukkan dengan : Node A3.1 menerangkan proses pertama dalam mengelola logistik, aktivitas ini menyangkut kemampuan perusahaan dalam menyediakan bahan baku yang sesuai standard dengan jumlah yang mencukupi untuk proses produksi. Barang yang dipesan harus dipikirkan dan

dipertimbangkan dulu sebelum benar-benar lolos uji kelayakan untuk diproduksi karena tidak ingin mendapatkan hasil produk yang gagal. Dalam pemesanannya harus sesuai dengan kempuan beli perusahaan yang menyangkut anggaran biaya yang sudah disediakan, dan kebijakan perusahaan untuk menentukan kelayakan bahan baku. Aktivitas ini dilakukan oleh staff bagian pemesanan yang dipekerjakan untuk membuat keputusan pemesanan, supplier sebagai pemenuh kebutuhan perusahaan dan transportasi sebagai alat penunjang aktivitas. Node A3.2 menerangkan proses pendataan dan pengelompokkan bahan baku layak produksi untuk menghasilkan beberapa golongan bahan baku sesuai dengan spesifikasinya. Untuk membantu mensinkronkan dengan standar yang sudah ditetapkan, perusahaan menggunakan check sheet dan kebijakan inspeksi perusahaan yang berguna untuk membantu pembagian bahan baku menjadi beberapa golongan yang dibutuhkan. Kegiatan ini dilakukan oleh para staff bagian pendataan yang melakukan penggolongan dibantu dengan perangkat komputer untuk menyimpan database bahan baku sesuai spesifikasinya.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

41

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

Node A3.3 menunjukkan proses penyimpanan dan perawatan bahan baku yang telah dipesan, melewati uji kelayakan dan penggolongan sesuai spesifikasinya. Dalam melakukan aktivitas ini perlu meninjau kapasitas gudang yang menentukan jumlah maksimal penyimpanan dalam gudang dan standar penyimpanan yang mengatur bagaimana prosedur terbaik untuk menjaga kualitas bahan baku. Kegiatan ini dilakukan oleh staff bagian gudang yang berfungsi sebagai operator gudang dan inspektor untuk menjaga kelayakan prosedur yang sedang diterapkan.

Analisis Melakukan Proses Produksi IDEF 0 level 2 Perencanaan produksi terdiri dari lima aktivitas yaitu merencanakan produksi, merencanakan pengadaan material, melakukan perakitan, melakukan pengendalian kualitas dan penyimpanan produk. Node A4.1 menggunakan bahan baku siap pakai untuk merencanakan produksi dengan menghitung agregat planning pada prosesnya. Aktivas tersebut dilakukan oleh tenaga ahli produksi dan alat pengangkut barang sebagai fasilitas yang digunakan kemudian menghasilkan jumlah kebutuhan bahan baku. Node A4.2 dengan data material yang ada digunakan untuk menetapkan perencanaan pengadaan material. Kegiatan perencanaan pengadaan material dilakukan oleh tenaga ahli produksi sebagai pengolahnya dan menghasilkan perbandingan kapasitas untuk aktivitas selanjutnya. Node A4.3 melakukan perakitan dengan MRP dan JIP sebagai penetapannya dan menghasilkan hasil produksi. Dalam melakukan aktivitas tersebut perlu adanya tenaga ahli produksi untuk melalukan perakitan tersebut. Node A4.4 setelah melalui aktivitas perakitan produk yang sudah jadi dipisahkan menurut kualitasnya yaitu dengan melakukan pengendalian kualitas produk. Produk-produk tersebut harus sesuai dengan standar

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

42

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

kualitas perusahaan yang telah ditetapkan setelah itu menghasilkan produk yang layak dijual. Node A4.5 Produk yang layak dijual tersebut dimasukan kedalam tempat penyimpanan produk dengan menggunakan alat pengangkut barang dan tenaga ahli produksi sebagai operatornya. Setelah itu produk jadi siap untuk dipasarkan ke toko, pasar ataupun agen-agen tertentu.

Analisis Melakukan Proses Marketing IDEF 0 level 2 perencanaan pemasaraan terdapat empat aktivitas didalamnya yaitu melakukan rencana pemasaran, melakukan aktivitas promo, melakukan penjualan, dan melakukan pelayanan setelah penjualan. Node A5.1 melakukan perencanaan pemasaran dengan menghasilkan strategi pemasaran dengan hasil produksi sebagai masukan dari aktivitas tersebut dan pangsa pasar sebagai acuan untuk mempertimbangkan strategi pemasaran yang akan digunakan. Node A5.2 melakukan aktivitas promo dari data promo yang dan strategi yang dilakukan oleh staff marketing dan sarana transportasi dan sarana promosi sebagai fasilitas yang digunakan. Dari aktivitas promosi tersebut didapatkan hasil promo dan permintaan produk dari konsumen yang ditawarkan, dalam hal ini positioning sangat penting dalam penetapan aktivitas promosi. Node A5.3 melakukan penjualan dengan penetapan harga pasar dan situasi pasar sebagai control dari aktivitas tersebut. Dengan strategi yang tepat dan permintaan dari pelangan atas produk yang dimiliki, produk dapat dijual dengan mudah dan memberikan timbal balik yaitu suatu informasi. Node A5.4 melakukan pelayanan setelah melakukan penjualan

memberikan timbal balik dan timbal balik tersebut menghasilkan suatu respon informasi komplain atau loyalitas dari pelanggan tentang produk
Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro 43

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

yang dibuat dan manajemen pelayanan sebagai fungsi control dalam melakukan pelayanan tersebut. Analisis Mengelola Keuangan IDEF 0 level 2 transaksi keuangan ada tiga aktivitas yaitu pencatatan transaksi keuangan, pcembuatan laporan keuangan dan pengauditan keuangan perusahaan. Node A6.1 pada Aktivitas pencatatan transaksi keuangan dalam pembukuan yang dilakukan oleh ahli keuangan. Dalam pencatatan transaksi keuangan diperoleh data dari hasil penjualan dengan laporan penerimaan dan pembayarannya sebagai suatu acuan. Node A6.2 pada aktivitas pembuatan laporan keuangan yang sangat diperlukan oleh perusahaan diperoleh rekap data keuangan dari aktivitas sebelumnya untuk diolah menjadi laporan keuangan oleh akuntan dan komputerisasi sebagai fasilitasnya. Untuk membentuk suatu laporan keuangan yang baik ditetapkan standar pembuatan laporan sebagai ketetapan tertentu. Node A6.3 yaitu pengauditan keuangan perusahaan yang dilakukan oleh auditor dengan laporan keuangan sebagai sumber kegiatan dengan neraca keuangan sebagai ketetapan agar kegiatan pengauditan tidak keluar batas kebijakan perusahaan yang telah ditetapkan. Kegiatan tersebut dilakukan oleh auditor dengan fasilitas komputerisasi agar dapat menghitung keuntungan maksimal yang akan diperoleh oleh oleh perusahaan.

5.4 IDEF0 LEVEL 3 Analisis Pengelolaan Raw Material Proses pengelolaan Raw Material ini merupakan bagian dari proses mengelola logistik. Terdapat tiga aktivitas yang ditunjukkan dengan :

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

44

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

Node A3.1.1 merupakan langkah pertama dalam melakukan pemesanan bahan baku, yaitu perencanaan pembelian agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan namun tidak melenceng dari kebijakan perusahaan berupa kemampuan beli perusahaan yang sudah dianggarkan dan kebijakan pembelian yang ditetapkan. Staff bagian perencanaan pemesanan dipekerjakan untuk membuat keputusan pemesanan dan seterusnya dilanjutkan ke bagian pemesanan.

Node A3.1.2 menunjukkan proses pembelian bahan baku. Setelah jumlah pesanan ditentukan, pembelian material ini dilakukan dengan

mempertimbankan kemampuan supplier dalam memenuhi permintaan. Aktivitas ini dilakukan oleh staff bagian pemesanan, distributor dan alat transportasi untuk pendistribusian bahan baku. Node A3.1.3 merupakan proses pemeriksaan bahan baku yang telah dipesan agar sesuai dengan standar kelayakan dan kebijakan perusahaan yang dijadikan standar pengujian. Staff pemeriksaan dan inspektor berfungsi untuk melakukan uji kelayakan, mengelompokkan bahan baku layak pakai dan menghasilkan bahan baku yang layak untuk diproduksi. Analisis Merencanakan Produksi Dalam melakukan proses produksi kita harus melakukan melakukan peramalan jumlah yang harus diproduksi tiap harinya. Pertama kita harus melakukan forecasting terlebih dahulu yang berda pada node A4.1.1. untuk melakukan hal tersebut kita membutuhkan riset dan data yang telah lalu sebagai inputnya. Data tersebut akan diolah oleh tenaga ahli produksi dan ahli analisis dengan cara komputerisasi. Cara pengolahan dilakukan sesuai dengan aturan kebijakan perusahaan.Data yang diolah akhirnaya akan mejadi data peramalan yang akan diolah dalm proses selanjutnya.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

45

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

Setelah melakukan forecasting, data hasil olahan tersebut yang berupa data peramalan akan digunakan untuk merencanakan pengadaan material pada node A4.1.2. Data digunakan oleh tenaga ahli gudang untuk kemudian membeli material menggunakan kompuetr melalui internet (pemesanan online). Pembeliannya didasarkan pada tingkat persediaan yang ada digudang dan kesesuaian terhadap kapasiatas produksi. Selanjutnya ahli analisis melakukan tugasnya membuat data agregat material.

Proses selanjutnya melakukan JIP yang dilakukan oleh ahli-ahli analisis produksi menggunakan komputerisasi dengan memanfaatkan data agregat material. Para ahli menggunakan struktur produk yang akan diproduksi sebagai acuannya. Dari proses tersebut maka dihasilkan data hasil penjadwalan peramalan.

Disini, data hasil penjadwalan peramalan digunakan untuk melakukan CRP. Dengan mempertimbangkan kapasitas produksi, ahli analisis produksi melkukan komputerisasi data tersebut sehingga menghasilkan data validasi yang akan digunakan untuk menghitung peramalan jumlah produksi.

Langkah selanjutnya, data validasi akan digunakan oleh para ahli dibantu dengan computer untuk menghitung MRP. Dalam menghitung MRP, para ahli memang patokan bahwa BOM sebagai kontrolnya. Sehingga dari perhitungan tersebut dihasilkan date peramalan jumlah produksi.

Analisis Melakukan Pengendalian Kualitas Setelah maupun sebelum melakukan produksi kita harus melakukan uji terhadap material maupun produk yang telah jadi. Pada node A4.4.1 kita aka melakukan uji kualitas raw material terlebih dulu. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan bahan yang berkualitas untuk diproduksi. Disini tenaga ahli inspeksi bahan baku sangat berperan penting. Dengan mamakai acuan

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

46

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

standar kualitas material, inspector menggunakan mesin uji untuk menguji bahan baku tersebut. Maka, setelah pengujian selesai didapatkan material pilihan yang sesuai dengan produk. Kemudian material pilihan tersebut kan masuk dalam proses uji kualitas work in process. Pada tahap ini material yang diproses diamati dan diuji oleh para ahli inspeksi work in process sesuai dengan standar kualitas produk dan SOP perusahaan. Setelah material melalui proses yang panjang, mak didaptkanlah produk yang telah jadi. Tidak sampai disitu saja, produk yang telah jadi tersebut kemudian akan menjalani uji kualitas produk jadi oleh inspector produk menggunakan mesin yang drancang kusus untuk menguji kualitas produk. Pengujian tersebut berlandaskan oleh standar kualitas produk jadi dan SOP perusahaan. Setealh prose situ selesai maka finish product sudah dapat dipasarkan. Analisis Menyimpan Produk Setelah produk jadi melalui proses pengujian, proses selanjutnya adalah melakukan penyimpanan sebelum didistribusikan. Yang pertama, produk yang telah lolos uji kualitas masuk kedalam tahap packaging. Disin, karyawan gudang akan melakukan packaging sesuai dengan SOP packaging. Setelah itu produk yang telah dikemas diangkut menggunakan forklift untuk disimpan dan ditata digudang. Setelah memasuki kawasan penyimpanan,karyawan akan melakukan penyimpanan produk kemasan tersebut dan ditata sesuai dengan list produk oleh karyawan dibantu dengan forklift untuk membawa dan menata ditempat-tempat yang tinggi. Selanjutnya tenaga gudang akan melakukan distribusi terhadap produkproduk yang siap untuk dikirimkan. Pendistribusian produk siap kirim

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

47

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

dilakukan oleh karyawan gudang berdasarkan jadwal pendistribusian yang telah disusun menggunakan truk.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

48

Laporan Praktikum Perancangan Teknik Industri Modul 1 Pemetaan Proses Bisnis Kelompok 20

BAB VI PENUTUP
6.1 Kesimpulan Pada pembuatan laporan ini dapat disimpulkan bahwa : 1. Kami mampu menganalisis dan memetakan proses-proses bisnis dalam suatu perusahaan. 2. Kami mengenal berbagai pendekatan dalam memodelkan informasi dalam perusahaan. 3. Kami mampu mendesain suatu model informasi dengan menggunakan salah satu pendekatan yang ada. 4. Kami mampu menggunakan IDEF 0 untuk menciptakan dan

mendekomposisikan proses bisnis pada perusahaan pembuatan tamiya. 5. Setelah membuat peta proses bisnis dari perusahaan pembuatan tamiya diharapkan peta proses bisnis tersebut dapat membantu memperlancar proses pembuatan tamiya pada perusahaan tersebut.

6.2 Saran Saran yang dapat diberikan untuk praktikum selanjutnya : 1. 2. Praktikan harus lebih teliti dalam mengerjakan laporan ini. Praktikan lebih kritis dalam menganalisis proses bisnis perusahaan.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro

49