Anda di halaman 1dari 3

Made in China

Dua tahun yang lalu, di bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Ketika aku mau berangkat ke
Mesir, adikku memesan barang yang khas Mesir asli bikinan pribumi. Ah, itu masalah
gampang. Aku langsung mengiyakan tanpa pikir panjang.

Sekarang aku berpikir lagi. O...ternyata tidak semudah yang aku kira. Ternyata mencari
souvenir yang asli buatan orang pribumi tidak segampang yang aku bayangkan. Sama
saja. Barang-barang yang aku temui hampir di setiap toko dan di tempat penjualan barang
kerajinan ternyata bukan milik pribumi.

"lho, kok kamu tahu?" tanya seorang teman pada suatu ketika.

"Bagaimana aku tidak tahu, lha wong dibelakangnya sudah ada stempelnya. Atau kalau
barang
mainannya itu kecil, ada bandrol-nya"

"Hah..Apa itu?"temanku mengejar.

"Halah...nggak penting"

"Ih, busuk kau. Jangan gitu ah. Bikin penasaran orang saja. Apa sih?" Ia tetap mengejar.

Aku diam sejenak. Kuperhatikan air mukanya sangat serius memandangku. Lalu pelan-
pelan tapi mantap, aku menjawab.

"Made in China"

"Hahahahaha..." temanku tertawa lepas. Keras sekali.

"Kenapa kamu? Kan sudah kubilang, itu tidak penting"

Ia berusaha mengakhiri tertawa lepasnya. Tapi ia tidak mampu menahan kegeliannya.

"Nggak, H..ha.ha..Nggak. Yang bener aja, kok bisa begitu. Lucu." Ia berbicara sambil
tetap menahan kegeliannya.

"Lho, kamu ini bagaimana sih? Hal semacam itu saja kau anggap lucu. Selera humormu
rendah."

"Justru sebaliknya, selera humormu yang rendah. Hanya orang yng berselera humor
tinggi yang bisa tertawa di saat orang lain tidak bisa tertawa, Hahahaa" ia kembali
tertawa.

Aku tidak tertawa. Senyum pun tidak. Menyebalkan. Tapi tiba-tiba ia memandangku
dengan serius. Mungkin karena melihat mukaku yang sudah sangat kusut.
"Begini friend. Bukan maksudku menyinggung perasaanmu. Aku tertawa bukan karena
perkataanmu itu aku anggap lucu. Tapi karena aku mengingat guyonan teman-teman di
rumahnya teman."

Kulihat ia lebih serius dari yang tadi.

"Apa itu?" Kali ini aku yang bertanya.

"Sama seperti ceritamu itu. Ceritanya ada orang yang ingin membawa oleh-oleh yang
khas dari Mesir ke Indonesia. Kamu kan tahu, bahwa neagara Arab itu terkenal dengan
onta. Jadilah orang ini beli boneka-boneka-an onta. Karena harganya yang relatif murah,
tanpa pikir panjang, ia membeli banyak tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Namun sial,
setelah boneka-boneka-an itu sampai di tanah air, satu keponakannya yang paling cerdas
bilang '"Om, kalau yang tulisannya begini sih banyak di sini, Om. Nih, maenan Alif
merk-nya sama semua." Ups, kontan muka orang itu memerah. Malu."

Aku tersenyum. Kulihat ia akan menjelaskan sesuatu.

"Tapi ada juga yang serius. Bener-bener serius"

"Apa itu?"

"Ini berhubungan dengan ilmu astronomi"

"Kok bisa?"

"Kamu kenal Galileo Galilei?"

"Iya, aku tahu. Kenapa? Bapak astronomi itu, bukan?"

"That's right. Iya, Orang yang divonis hukuman mati karena pemikirannya bertentangan
dengan gereja. Ia divonis hukuman mati karena pemikirannya yang mengatakan bahwa
matahari adalah pusat tata surya."

"Trus apa hubungannya dengan cerita yang barusan."

"Iya, ada. Ceritanya, ketika Galileo pergi ke luar angkasa, ia mendapatkan ilham karena
bisa mendengarkan suara adzan dari bumi."

"Halah, mitos. Ada-ada saja"

"Lho, ini beneran. Tapi ada yang lebih hebat dari galileo."

"Siapa itu?"
"Hayyah..Katanya orang IPA. Hal semudah itu saja kau tidak tahu. Itu, si Albert
Madhechin"

"Emang apa hebatnya si Albert?"

"Ia pergi ke luar angkasa untuk mengamati bumi. Dan hasil pengamatannya itu sangat
menakjubkan."

"Kenapa? Kok aku belum tahu."

"Wah, kamu emang bener-bener manusia IPA yang ketinggalan jaman. Kemarin kan rame
banget di berbagai media massa."

"Masa sih? Emang hasil pengamatan si Albert Madhecin ini bagaimana sih?"

"Hasil pengamatan Albert Madhecin, itu sangat spektakuler. Ia melihat bahwa bentuk
bumi itu bulat, sejalan dengan pemikiran Christopher Columbus. Cuman menurut Albert
Madhecin Ada yang belum disentuh oleh Columbus. Dan Columbus tidak tahu itu, karena
ia tidak melihat dari luar angkasa. Albert Madhecin menambahi, bahwa dari luar angkasa,
benua-benua terlihat membentuk sebuah tulisan yang sangat masyhur."

"Emang apa tulisannya?" Aku mengejar.

Ia menatapku tajam. Dingin. Lalu ia menjawab.

"Made in China"