Anda di halaman 1dari 14

[JANS HENDRY & SUMARNA]] October 14, 2011 Integral Romberg Untuk Menilai Pengaruh Toleransi Nilai Komponen

Pasif (R dan C) Terhadap Unjuk Kerja Rangkaian Elektronis

A.

Pendahuluan

Dalam kalkulus dinyatakan bahwa integral dari suatu fungsi adalah menghitung luas bidang di bawah kurva fungsi tersebut dalam batas-batas yang ditentukan. Secara simbolis matematis pernyataan tersebut dapat dituliskan sebagai : I =

f ( x)dx
a

(1)

di mana I adalah luas bidang di bawah kurva f(x) antara x = a dan x= b. Metode integrasi numeris lahir karena dilatarbelakangi oleh: 1. Adanya fungsi f(x) yang sulit bahkan tidak bisa diselesaikan secara analitis seperti yang biasa digunakan. 2. Fungsi f(x) tersebut diberikan dalam bentuk tabel.

Metode Trapesium
Untuk menjelaskan bahwa I adalah luas dapat diperoleh dengan membagi bidang di bawah kurva f(x) antara x = a dan x = b menjadi pita-pita tipis berbentuk trapesium yang lebarnya h seperti tampak pada Gambar-1 berikut. y

f(xi+1) f(a) f(xi) h a xi xi+1

f(b) f(x)

Gambar-1

Luas pita ke i yang terletak antara xi dan xi+1 adalah :

[Sumarna, M.Eng & Jans Hendry, M.Eng]

Page 1

[JANS HENDRY & SUMARNA]] October 14, 2011


Ai =
h [f(xi) + f(xi+1)] 2 (2)

Jika antara x = a dan x = b ada n buah pita trapesium, maka jumlah luasnya adalah : A= h h h [f(x1) + f(x2)] + [f(x2) + f(x3)] + + [f(xn) + f(xn+1)] 2 2 2 (3)

Secara umum tampak bahwa f(x1) = f(a) dan f(xn+1) = f(b) maka persamaan (3) dapat dituliskan menjadi : A= h [f(a) + 2f(x2) + 2f(x3) +2f(x4) + + 2f(xn) +f(b)] 2 (4)

Pendekatan suatu kurva dengan garis lurus seperti pada metode trapesium di atas akan menimbulkan kesalahan dalam perhitungan nilai integralnya (luasannya). Seberapa besar kesalahan yang ditimbulkan melalui pendekatan ini dapat ditinjau bagian kurva yang terletak antara xi dan xi+1 yang luasnya adalah :
xi +1

Ii =

f ( x)dx

= F(xi+1) F(xi)

(5)

xi

Jika F(xi+1) diuraikan ke dalam deret Taylor di sekitar xi diperoleh : 1 1 F(xi)h2 + F(xi)h3 + ... 2 6 dengan h = xi+1 xi, sehingga persamaan (5) menjadi : F(xi+1) = F(xi) + F(xi)h + 1 1 F(xi)h2 + F(xi)h3 + ... 2 6 Luas pita trapesium yang bersangkutan adalah : Ii = F(xi)h + 1 h [f(xi) + f(xi+1)]. (6) 2 Kemudian f(xi+1) juga diuraikan ke dalam deret Taylor di sekitar xi dan diperoleh : Ai = f(xi+1) = f(xi) + f(xi)h + maka persamaan (6) menjadi : Ai = f(xi)h + 1 1 1 f(xi)h2 + f(xi)h3 + f(xi)h4 + ... 2 4 12 (8) 1 1 f(xi)h2 + f(xi)h3 + ... 2 6 (7)

Karena f(xi) = F(xi), f(xi)h = F(xi) dan seterusnya, dengan mengabaikan suku-suku yang lain karena h sangat kecil, maka :
[Sumarna, M.Eng & Jans Hendry, M.Eng] Page 2

[JANS HENDRY & SUMARNA]] October 14, 2011

Ei = Ai - Ii

1 f(xi)h3. 12

(9)

Jika antara x = a dan x = b terdapat n buah trapesium, maka kesalahan totalnya ET adalah
ET =

1 f(xi)nh3. 12 1 M(b-a)h2. 12

(10)

ET =

(11)

dengan M adalah nilai maksimum turunan ke dua f(x) antara x = a dan x = b.

Metode Trapesium Majemuk

Aturan trapesium dengan pias tunggal ternyata masih menghasilkan galat relatif yang cukup besar, sehingga dikembangkan pendekatan lain dengan memberikan sekat berupa trapesium dengan jumlah yang banyak pada f(x). Hal ini dikenal dengan Trapesium Majemuk. Rumusannya adalah dengan menjumlahkan semua pias dengan aturan trapesium tunggal, n 1 h I = f (x0 ) + 2 f(xi ) + f (xn ) (12) 2 i =1 Dengan galat pemotongan sebesar: h 3 n1 | Et |= f'' (i ) (13) 12 i =0
Metode Simpson 1/3

Kesalahan yang relatif besar pada persamaan (11) disebabkan karena kurva antara x = a dan x = b didekati dengan potongan-potongan garis lurus. Kesalahan tersebut dapat diperkecil dengan cara menggantikan potongan garis lurus dengan potongan yang berbentuk kurva lain, misalnya berupa parabola atau polinom oerde dua. Untuk menurunkan rumusnya, xi+1 ditempatkan di x = 0, sehingga xi berada di x = - x dan xi+2 berada di x = x. Bila persamaan parabola yang digunakan adalah
f(x) = a 2 x 2 + a1 x + a 0

maka luas pasangan pita di bawah parabola itu adalah


x

A =

(a

x 2 + a1 x + a 0 )dx

1 1 a 2 x 3 + a1 x 2 + a 0 x 3 2
Page 3

[Sumarna, M.Eng & Jans Hendry, M.Eng]

[JANS HENDRY & SUMARNA]] October 14, 2011

2 a 2 (x) 3 + 2a 0 (x) 3

(14)

Nilai fungsi pada tiga titik f(xi), f(xi+1) dan f(xi+2) adalah f(xi) = a2(- x)2 + a1(- x) + a0 f(xi+1) = a0 f(xi+2) = a2( x)2 + a1( x) + a0.
Dari ketiga persamaan tersebut dapat diperoleh koefisien parabola sebagai berikut a2 =

a1

a0

f ( xi ) 2 f ( xi +1 ) + f ( xi + 2 ) 2(x) 2 f ( xi + 2 ) f ( xi ) = 2(x) = f ( xi +1 )

Dengan demikian persamaan (14) menjadi : Ai+1 =


1 x[ f ( xi ) + 4 f ( xi +1 ) + f ( xi + 2 )] 3

Maka luas semua pasangan pita adalah A = 1 x[ f ( x1 ) + 4 f ( x 2 ) + f ( x3 )] 3 1 + x[ f ( x3 ) + 4 f ( x 4 ) + f ( x5 )] + ... 3 + atau A = 1 x[ f ( x1 ) + 4 f ( x2 ) + 4 f ( x 4 ) + 4 f ( x6 ) + 4 f ( x8 ) + ... 3 + 2 f ( x3 ) + 2 f ( x5 ) + 2 f ( x7 ) + ... + f ( x n )] . 1 x[ f ( xn 2 ) + 4 f ( xn 1 ) + f ( x n )] 3

(15)

Metode Simpson juga memiliki kesalahan karena suatu kurva didekati dengan sekumpulan parabola. Untuk memperkirakan kesalahan tersebut ditinjau pasangan pita yang terletak antara x = xi-1 dengan x = xi dan antara x = xi dengan x = xi+1. Nilai integral antara x = xi-1 dengan x = xi+1 adalah

[Sumarna, M.Eng & Jans Hendry, M.Eng]

Page 4

[JANS HENDRY & SUMARNA]] October 14, 2011


xi +1

Ii

f ( x)dx = F ( x

i +1

) F ( xi 1 )

(16)

xi 1

Kemudian menguraikan F(xi+1) dan F(xi-1) ke dalam deret Taylor di sekitar x = xi, hasilnya adalah : F(xi+1) = F(x1) + F(x1)h + 1 F(x1)h2 + ... 2 1 F(xi-1) = F(x1) - F(x1)h + F(x1)h2 - ... 2

dengan h = xi-1 xi maka persamaan (16) dapat dituliskan sebagai : Ii = 2 F(x1)h + 1 1 F(x1)h3 + F(x1)h5 + ... 3 60 (17)

Tetapi f(x1) = F(x1), f(x1) = F(x1) dan seterusnya, maka persamaan (17) menjadi Ii = 2 f(x1)h + 1 1 f(x1)h3 + f(x1)h5 + ... 3 60 (18)

Selanjutnya menghitung luas pasangan pita di bawah parabola, sebagai berikut : 1 Ai = h[ f ( xi 1 ) + 4 f ( xi ) + f ( xi +1 )] (19) 3 Menguraikan f(xi+1) dan f(xi-1) ke dalam deret Taylor di sekitar x = xi, hasilnya adalah : f(xi+1) = f(x1) + f(x1)h + 1 f(x1)h2 + ... 2 1 f(xi-1) = f(x1) - f(x1)h + f(x1)h2 - ... 2

Maka persamaan (19) dapat dituliskan menjadi : Ai = 2 f(x1)h + 1 1 f(x1)h3 + f(x1)h5 + ... 3 36 (20)

Selisih antara persamaan (18) dan (20) merupakan kesalahan untuk pasangan pita yang sedang dibahas, tentunya dengan mengabaikan suku-suku yang lain karena h sangat kecil. Ei = Ai Ii
1 f(xi)h5 90 (21)

[Sumarna, M.Eng & Jans Hendry, M.Eng]

Page 5

[JANS HENDRY & SUMARNA]] October 14, 2011


Jika antara x = a dan x = b terdapat n buah pita atau n/2 pasang pita, maka kesalahan totalnya ET adalah :

ET

1 f(xi)nh5 180

ET =

1 M(b-a)h4. 180

(22)

di mana M adalah nilai maksimum dari turunan ke empat f(x) di x a b.


Metode Simpson 1/3 Majemuk

Metode ini kemudian dikembangkan dengan pias yang lebih banyak. Tujuannya adalah untuk memperkecil galat pada hasil akhir hampiran. Perhatikan gambar di bawah yang menunjukkan aturan simpson 1/3 dengan banyak pias dengan panjang interval yang sama: ba x= (23) n

Gambar : Metode Simpson 1/3 dengan Pias Banyak

Luas total diperoleh dengan menjumlahkan semua pias seperti pada gambar di atas:
b

f ( x) dx = A1 + A3 + ... + An 1
a

(24)

Yang perlu diperhatikan bila menggunakan metode ini, jumlah pias harus genap. Sehingga bila persamaan (19) disubstitusikan ke dalam persamaan (24), diperoleh: b x x x ( f 0 + 4 f1 + f 2 ) + ( f1 + 4 f 2 + f 3 ) + ... + ( fn 2 + 4 fn 1 + fn ) (25) f ( x) dx = 3 3 3 a atau

[Sumarna, M.Eng & Jans Hendry, M.Eng]

Page 6

[JANS HENDRY & SUMARNA]] October 14, 2011


b

f ( x) dx =
a

n 1 n2 x f (a ) + f (b) + 4 f ( xi ) + 2 f ( xi ) i =1 i=2 3

(26)

Untuk metode Simpson 1/3 Majemuk perkiraan kesalahan totalnya ET adalah: ET = 1 M(b-a)h4. 180 (27)

di mana M adalah nilai maksimum dari turunan ke empat f(x) di x a b.

Metode Simpson 3/8


Telah diuraikan sebelumnya bahwa Simpson 1/3 didekati dengan sekumpulan parabola, artinya penyelesaian pada kurva menggunakan 3 titik. Namun, pendekatan lain menawarkan sebuah hasil hampiran yang cukup baik bila dibandingkan dengan Simpson 1/3. Metode tersebut membutuhkan 4 titik pada kurva sehingga membentuk polinomial orde 3. Solusi ini disebut sebagai Metode Simpson 3/8. Metode Simpson 3/8 diturunkan dengan cara penurunan yang sama dengan Simpson 1/3. Sehingga diperoleh:
b a b a

I = f ( x ) dx f 3 ( x ) dx

I=

3 x [ f ( x0 ) + 3 f ( x1 ) + 3 f ( x2 ) + f ( x3 )] 8

(28)

dengan lebar tiap pias

x =

ba 3

(29)

Tampak bahwa terdapat perbedaan perhitungan lebar pias antara Simpson 1/3 dan Simpson 3/8, dimana konstanta pembagi menyatakan jumlah pias pada tiap metode. Simpson 1/3 memiliki konstanta pembagi untuk lebar pias adalah 2 yang berarti memiliki 2 pias dengan 3 titik, sedangkan Simpson 3/8 memiliki konstanta pembagi untuk lebar pias adalah 3 yang berarti memiliki 3 pias dengan 4 titik. Metode Simpson 3/8 mempunyai kesalahan pemotongan sebesar: |ET|= 3 x5 f(xi) 80 (30)

[Sumarna, M.Eng & Jans Hendry, M.Eng]

Page 7

[JANS HENDRY & SUMARNA]] October 14, 2011


Namun, metode Simpson 1/3 ternyata lebih banyak digunakan karena mencapai ketelitian orde 3 dan hanya memerlukan 3 titik, dibandingkan metode Simpson 3/8 yang membutuhkan 4 titik. Bila ingin menggunakan Simpson 1/3 untuk jumlah pias yang banyak, maka jumlah pias nya harus genap. Namun, bila ditemukan bahwa jumlah pias tersebut ganjil, maka penyelesaian dapat dilakukan dengan 2 cara: 1. Menggunakan Simpson 1/3 untuk jumlah pias n-1 (yang berarti jumlah pias yang dilibatkan untuk Simpson 1/3 pasti genap), lalu 1 pias terakhir menggunakan aturan Trapesium 1 pias. 2. Menggunakan Simpson 1/3 untuk jumlah pias n-3 (yang berarti jumlah pias yang dilibatkan untuk Simpson 1/3 pasti genap), lalu 3 pias terakhir menggunakan aturan Simpson 3/8. Cara ke dua lebih disarankan karena hasil Simpson 3/8 lebih teliti dibandingkan dengan Trapesium.

Metode Simpson 3/8 Majemuk


Sama halnya dengan metode Simpson 1/3 majemuk, Simpson 3/8 juga bisa diperbanyak pias nya. Metode ini kemudian dikenal dengan Simpson 3/8 majemuk. Bila diperhatikan pada gambar di bawah

Gambar : Metode Simpson 3/8 dengan banyak pias

tampak bahwa rumusan untuk aturan ini adalah:

f ( x)dx = A + A
1 a

+ ... + An 1

(31)

Begitu juga dengan kesalah pemotongan adalah jumlah total dari kesalahan pemotongan atau galat untuk tiap luasan. Aturan ini tidak terlalu umum digunakan karena penggunaan titik yang cukup banyak namun hasilnya tidak jauh berbeda dengan ketelitian bila menggunakan aturan Simpson 1/3. Perlu dicatat, bahwa untuk menggunakan Simpson 3/8 untuk pias banyak, yang perlu diperhatikan adalah jumlah pias harus bisa dibagi dengan 3.

[Sumarna, M.Eng & Jans Hendry, M.Eng]

Page 8

[JANS HENDRY & SUMARNA]] October 14, 2011

B.

Metode Romberg

1 M(b-a)h2 tampak bahwa kesalahan pada 12 metode trapesium sebanding dengan h2, sehingga bila Ei adalah kesalahan untuk metode trapesium untuk i buah pita dan E2i adalah kesalahan untuk metode trapesium dengan 2i buah pita, maka Pada persamaan (11) ET = Ei 4E2i. Misalkan I adalah nilai integral yang sebenarnya, Ti adalah nilai integral yang dihitung secara numerik menggunakan metode trapesium dengan i buah pita, dan T2i adalah nilai integral yang sama tetapi dihitung dengan menggunakan 2i buah pita, maka Ti I 4( T2i I ) atau I
4T2i Ti ( = T2i1) 3

(32)

Untuk i = 1, maka T2(1) =

4T2 T1 3

(33)

Misalkan bidang di bawah kurva f(x) antara x = a dan x = b dibagi menjadi dua buah pita yang masing-masing lebarnya w, jika bidang tersebut diisi dengan sebuah pita maka lebarnya adalah 2w. Sehingga : T1 dan T2 w w [f(a) + f(c)] + [f(c) + f(b)] 2 2 w = [f(a) + 2f(c) + f(b)] 2 = = 2w [f(a) + f(b)] = w[f(a) + f(b)] 2

dengan x = c adalah tengah-tengah antara x = a dan x = b. Bila T1 dan T2 disubstitusikan ke dalam persamaan (33) akan diperoleh : w [f(a) + 4f(c) + f(b)] 3 yang sama dengan rumus Simpson untuk sepasang pita, S2. Jadi T2(1) = S2. T2(1) =
[Sumarna, M.Eng & Jans Hendry, M.Eng] Page 9

[JANS HENDRY & SUMARNA]] October 14, 2011

Persamaan (32) dapat diperluas, yaitu dengan mengambil 2 pita dan 4 pita, hasilnya adalah : T4(i1) = 4T4i T2i = S4i. 3 (34)

Untuk 4 pita dan 8 pita akan diperoleh :


( T8i1) =

4T8i T4i = S8i, dan seterusnya. 3

Menurut persamaan (32), kesalahan yang timbul dari 2i buah pita bila dibandingkan dengan kesalahan yang timbul dari 4i pita adalah : E2i 16 E4i . Bila I adalah nilai integral yang sebenarnya, maka : S2i I 16 (S4i I) atau I 16S 4i S 2i 15 (35)

Berdasarkan persamaan (34) dan perluasannya, maka persamaan (35) dapat dituliskan sebagai : 16T2(i1) T2(i1) ( 2) T4i = 15 Dengan melanjutkan prosedur di atas, maka akhirnya diperoleh bentuk umum sebagai berikut :
T2(i j ) =

4 j T2(i j 1) Ti ( j 1) 4 ( j 1) 1

(36)

Dengan j = 1, 2, 3, ..., i dan proses tersebut dinamakan integrasi Romberg.

C.

Aplikasi

Banyak dijumpai peralatan yang menggunakan rangkaian elektronik. Setiap rangkaian pada dasarnya dibangun dari komonen-komponen elektronik yang nilainya dapat berubah-ubah oleh karena variasi material, manufaktur, dan kondisi operasi. Sebagai contoh sebuah kapasitor nilainya dapat berubah-ubah dengan toleransi hingga 20% dari kapasitansi nominalnya. Perubahan kapasitansi tersebut dapat berpengaruh
[Sumarna, M.Eng & Jans Hendry, M.Eng] Page 10

[JANS HENDRY & SUMARNA]] October 14, 2011


terhadap kinerja rangkaian elektronik yang bersangkutan. Jika sifat-sifat statistik dari distribusi nilai kapasitansi dan resistansi diketahui, maka metode stokastik dapat digunakan untuk menghitung pengaruhnya akibat toleransi dari nilai nominal komponenkomponennya. Sayang sekali hal tersebut jarang dipertimbangkan dalam menentukan seberapa besar pengaruhnya terhadap kinerja rangkaian. Tujuan mempertimbangkan pengaruh dari toleransi nilai suatu komponen adalah menentukan tingkat kepercayaan ketika membangun rangkaian secara acak dengan komponen-komponen tertentu. Sebagai contoh hendak membangun suatu osilator gelombang persegi dengan Op-Amp yang rangkaiannya seperti tampak pada gambar berikut.

R + C R3 R2 R1 D2

D1

Gambar : Osilator Gelombang Persegi Perilaku kinerja rangkaian tersebut dideskripsikan dengan periode T atau frekuensi keluarannya yang dapat dinyatakan sebagai berikut :

T = 2RC ln (1 + 2

R2 ). R1

Periode atau frekuensi rangkaian tersebut cukup rentan terhadap variasi semua komponen kecuali Op-Amp, R3, dan dioda (zener). Bagaimana kemudian menentukan perilaku yang mungkin akibat dari kombinasi variasi nilai-nilai R, R1, R2, dan C. Jika diasumsikan bahwa distribusi statistik dari kinerja rangkaian adalah normal, tes interval konvidensi dua-ekor dapat digunakan untuk menentukan kemungkinan kinerja rangkaian yang dapat diterima. Interval konvidensi tersebut dapat dibangun dengan z-test. Untuk ukuran sampel n dan standar deviasi dapat ditentukan konvidensi (1 ) yang nilai ukurnya akan terletak di antara jangkauan berikut : x - z(/2) < nilai < x + z(/2)

dengan x adalah rerata sampel nilai terukur. Jika = 0,05 berarti tingkat kepercayaannya (konvidensi) 90%, artinya 90% rangkaian yang dibuat akan berada di dalam jangkauan tersebut, yaitu di sekitar kinerja (nilai) reratanya. Interpretasi dari konvidensi (1 ) adalah luasan di bawah kurva distribusi probabilitas di dalam jangkauan yang dikehendaki. Luasan tersebut sering digambarkan secara grafis sebagai berikut :

Interval [Sumarna, M.Eng & Jans Hendry, M.Eng]

(1- )

Page 11

Gambar : Interval konvidensi (1- )

[JANS HENDRY & SUMARNA]] October 14, 2011

Nilai dari z(/2) adalah sedemikian hingga ketika kurva distribusi normal tersebut diintegralkan dari - z(/2) hingga z(/2) menghasilkan luas (1 ). Berdasarkan fungsi kurva distribusi normal, maka :
z ( / 2 )

(1 ) =

z ( / 2 )

1 2

x2 2

dx

Persoalannya adalah tidak ada solusi bentuk tertutup terhadap integral distribusi normalnya. Penanganannya secara khusus dengan melihat tabel pada distribusi kumulatif dari - hingga z. Dalam hal komputasi interval konvidensi pada umunya diketahui kecuali untuk z(/2). Tetapi dalam hal rangkaian, analisis tersebut dapat dibalik untuk menentukan berapa konvidensi kelakuan rangkaian rerata yang ada dalam interval tertentu. Sebagai contoh dari suatu data statistik dengan jumlah sampel n = 25 rangkaian generator gelombang persegi, perode rerata keluaran x = 0,995 ms, standar deviasi = 0,02 ms. Kemudian periode atas 1 = 1,053 ms dan periode bawah 2 = 0,952 ms. Dengan kumpulan komponen tersebut dapat dihitung kemungkinan osilator itu mengeluarkan frekuensi 1 kHz dengan kesalahan 5%. Kemungkinan tersebut dapat dicari dengan menentukan luasan di bawah kurva distribusi normal dengan batas-batas dari : z(2 /2) =

2 x (0,952 0,995) = = - 2,15 0,02 1 x (1,053 0,995) = = 2,9 0,02


2 ,9

hingga :
z(1 /2) =

Integral yang dicari adalah : (1 ) =

2 ,15

1 2

x2 2

dx

D.

Kesimpulan

Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik adalah: 1. Metode integrasi numeris lahir karena dilatarbelakangi oleh: a. Adanya fungsi f(x) yang sulit bahkan tidak bisa diselesaikan secara analitis seperti yang biasa digunakan. b. Fungsi f(x) tersebut diberikan dalam bentuk tabel. 2. Aturan trapesium merupakan aturan yang membagi luasan menjadi sekat-sekat trapesium, rumusan nya adalah : h Ai = [f(xi) + f(xi+1)] 2
[Sumarna, M.Eng & Jans Hendry, M.Eng] Page 12

[JANS HENDRY & SUMARNA]] October 14, 2011


Galat nya adalah: 1 ET = M(b-a)h2 12 3. Aturan trapesium majemuk merupakan pengembangan dari trapesium pias tunggal untuk mendapatkan ketelitian yang lebih. Perumusannya adalah:
n 1 h f (x0 ) + 2 f(xi ) + f (xn ) 2 i =1 Galat nya adalah:

I=

| ET |=

h 3 n1 f'' (i ) 12 i =0

4. Pada Trapesium untuk mendekati nilai yang sesungguhnya dengan cara menambah pias (=n), tetatpi dengan resiko beban komputasi semakin berat dan jumlah pias bisa genap atau ganjil. 5. Aturan Simpson 1/3 membagi f(x) menjadi 3 titik sehingga membentuk parabola. Rumusannya adalah: 1 ba Ai+1 = x[ f ( xi ) + 4 f ( xi +1 ) + f ( xi + 2 )] dan x= 3 n Galatnya adalah: 1 f(xi)h5 ET = 90 6. Aturan Simpson 1/3 kemudian dikembangkan menjadi Simpson 1/3 majemuk, tapi jumlah pias nya harus genap. Rumus integral nya: b n 1 n2 x f ( x) dx = f (a ) + f (b) + 4 f ( xi ) + 2 f ( xi ) i =1 i=2 3 a Galatnya: 1 ET = M(b-a)h4 180 7. Aturan Simpson 3/8 dikembangkan dengan menggunakan 4 titik sehingga membentuk polinomial orde 3. Rumus integralnya adalah: 3 x I= [ f ( x0 ) + 3 f ( x1 ) + 3 f ( x2 ) + f ( x3 )] dan x = b a 8 3 Galatnya: 3 |ET|= x5 f(xi) 80 8. Simpson 3/8 bisa digunakan untuk menghitung banyak pias layaknya aturan Simpson 1/3 majemuk. Tapi perlu diingat bahwa jumlah pias nya harus dapat dibagi dengan 3. 9. Untuk Simpson 1/3 Majemuk jumlah pias (=n) adalah genap, untuk Simpson 3/8 jumlah pias kelipatan 3. Jika kedua syarat tersebut tidak terpenuhi harus digunakan kombinasi. 10. Untuk mendapatkan hasil yang lebih teliti dan beban komputasi lebih kecil, maka dikembangkanlah aturan Romberg dengan menggunakan Ekstrapolasi Richardson. Rumus integral Romberg adalah:
[Sumarna, M.Eng & Jans Hendry, M.Eng] Page 13

[JANS HENDRY & SUMARNA]] October 14, 2011


4 j T2(i j 1) Ti ( j 1) dengan j = 1, 2, 3, ..., i 4 ( j 1) 1 11. Galat yang dihasilkan Aturan Romberg lebih baik (mengecil) daripada metode trapesium dan beban komputasi menjadi lebih kecil karena aturan rekursifnya yang dihasilkan dari extrapolasi richardson.

T2(i j ) =

E.

Daftar Pustaka

Ferzige, Joel H., 1981, Numerical Methods for Engineering Application, John Wiley & Sons, New York. Gerald, Curtis F., 1978, Applied Numerical Analysis, Addison-Wesley Publishing Company, Menlo Park. Rajaraman, V., 1987, Computer Oriented Numerical Methods, Prentice-Hall of India Private Limited, New Delhi. Rida, A. 2009, Teknik Komputasi, Teknik Elektro, Fakultas Teknik, UGM, Yogyakarta. Scheid, F., 1989, Theory and Problems of Numerical Analysis, 2/ed, Schaums Outline Series, McGraw-Hill Book Company, New York. Soegeng, R., 1993, Komputasi Numerik Dengan Turbo Pascal, Andi Offset, Yogyakarta. Sahid, M.sc. Drs. , Pengantar Komputasi Numerik dengan MATLAB, 2005, Andi Offset Referensi Digital Welch, Henry, 2009, http://numericalmethods.eng.usf.edu/.

http://www.csc.uvic.ca/courses/csc349a/200909/Handout32.pdf http://www.tat.physik.uni-tuebingen.de/~kokkotas/Teaching/Num_Methods_files /Comp_Phys5.pdf http://mathworld.wolfram.com http://www.efunda.com

[Sumarna, M.Eng & Jans Hendry, M.Eng]

Page 14